Anda di halaman 1dari 15

MANUSIA KEGELISAHAN DAN HARAPAN

2.1 KEGELISAHAN
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram
di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya),tidak sabar lagi
(menanti),cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan perasahan,khawati,
cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang
menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.
Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisah. Kegelisan ini,
apabila cukup lama hinggap pada manusia, akan menyebabkan suatu gangguan
penyakit. Kegelisahan (ancienty) yang cukup lama aka menghilangkan kemampuan
untuk merasa bahagia.
Kegelisahan selalu menunjukan kepada suasana negatif atau ketidak sempurnaan,
tetapi mempunyai harapan. Dikatakan negatif atau ketidaksempurnaan karena
menyentuh nilai –nilai kemanusiaan yang menimbulkan kerugian. Kegelisahan
menunjukan kepada suasana positif dan optimis karena masih ada harapan bebas dari
kegelisahan, yang mendorong manusia mencari kesempurnaan dan mendorong manusia
supaya kreatif.
Tragedi dunia modern tidak sedikit menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin
akibat kebutuhan hidup yang meningkat rasa individualistis dan egoisme,persaingan
dalam hidup, kadaan yang tidak stabil, dan seterusnya. Kegelisahan dalam konteks
budaya dapatlah dikatakan sebagai akibat adanya insting manusia untuk
berbudaya,yaitu sebagai upaya mencari “kesempurnaan“. atau, dari segi batin manusia,
gelisah sebagai akibat dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat kegelisahan
seseorang, sekaligus membuat orang lain menjadi korbannya.
Penyebeb kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk
membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan
mereka gelisah. Mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya
kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam
menjalankan tugas (hidup), sering ditimpa kegelisahan. Kegelisahan yang demikian
sifatnya abstrak sehingga disebut kegelisan murni, yaitu merasa gelisah tanpa
mengetahui apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.
Ini berbeda dengan kegelisahan “terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupan
sehari-hari, seperti kegelisahan karena anaknya sampaimalam belum pulang, orang tua
yang sakit keras, istrinya yang sedang melahirkan, diasingkan oleh orang-orang
sekitarnya, melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya.
Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati
dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan
ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan,
kegembiraan dalam kehidupan manusia. Persaan seseorang yang sedang gelisah, ialah
hatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.
Perasaan cemas menurut Sigmun Freud ada tiga macam, yaitu:
1.Kecemasan obyektif, kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti
anaknya yang belum pulang, orang tua yang sedang sakit keras, dan sebagainya.
2.Kecemasan neurotik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari
naluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasatakut yang irasional
semacam fobia, rasa gugup, dan sebagainya.
3.Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki,
dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.
Uraian tentang penderitaan disini dianalogikan dengan perasaan gelisah
(kegelisahan hati) sebagai akibat kecemasan moral. Untuk mengatasi kegelisahan ini
(dalam ajaran islam), manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan
amal shaleh. Seperti difirmankan : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh
kesah lagi kikir, apabila ditempa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila ia
mendapatkan kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
mereka yang tetap mengrjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia
bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang-orang yang
mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya.’’
Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia
akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal
dengan Tuhan, tetepi juga melalui hubungan horizontal dengan sesame manusia
sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan sendiri.
Tentang kecemasan ini Sigmund freud membedakan menjadi tiga macam:
kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neurotic, dan kecemasan moral
2.2 Sebab-sebab orang gelisah
Selanjutnya bila kita kaji, sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada
hakikatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari sesuatu
ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Secara lentur, kegelisahan bisa dikatakan sebagai rasa tidak tenteram, rasa selalu
khawatir, rasa tidak tenang, rasa tidak sabar, cemas, dan semacamnya. Yang jelas
kegelisahan berkaitan dengan rasa yang berkembang dalam diri manusia.
Dari penjelasan diatas kita dapat memahami bahwa kegelisahan merupakan bagian
hidup manusia. Tiap manusia dengan tidak mempedulikan latar belakang dan
kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau lama, relative
ringan atau berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia
memiliki hati dan perasaan.
Sebagai fenomena yang universal, artinya mampu mendera manusia yang
manapun juga, kegelisahan itu bisa muncul lantaran faktorpenyebab yang berbeda-beda.
Dengan meminjam teori Sigmund Freud, kendatipunia secara khusus berbicara tentang
kecemasan, kita bisa melihat adanya tiga macam kegelisahan (baca: kecemasan), yaitu
obyektif, neurotik, dan moral. Yang pertama obyektif, bersumber pada sesuatu kekuatan
yang ada diluar diri manusia. Kegelisahan semacam ini bisa muncul dari antisipasi
seseorang, dengan berdasar kepada pengalaman perasaannya, terhadap kemungkinan
adanya bahaya yang mengganggu dirinya.
Yang kedua atau neurotic, dalam satu dan lain kasus lebih disebabkan
kepribadianoleh bisikan naluri seseorang. Kegelisaan semacam ini bisa saja muncul
akibat munculnya rasa takut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan,
mumcul rasa takut yang irrasional atau yang biasa disebut fobia, dan kecenderungan
seseorang untuk selalu gugup atau tergagap dalam menyikapi sesuatu persoalan yang
dihadapi. Dan kegelisahan moral biasanya diakibatkan oleh munculnya perasaan
bersalah satu malu yang sebenarnya dikendalikan oleh hati nuraninya. Jadi, kegelisahan
moral lebih bersumber pada struktur kepribadian seseorang.
Upaya mengidentifikasiakn adanya berbagai macam kegelisahan atau kecemasan
seperti disebut di atas tidaklah semata-mata menjadi kapasitas dunia keilmuan, yang
dalam konteks ini diwakili oleh pemikiran Freud, dokter Australia yang gema
pengaruhnya mampu menembus disiplin-disiplin psikologi, psikiatri, sosiologi,
antropologi, bahkan filsafat. Akan dengan cara bertutur yang berbeda upaya identifikasi
tersebut sudah pula dilakukan oleh para seniman. Ini boleh jadi lantaran kegelisahan,
termaksuk kecemasan didalamnya, boleh dibilang fenomen yang paling lengket dalam
diri seniman.
Seniman memandang alam berbeda dengan pandangan seseorang yang bukan
seniman. Kadang-kadang satu hal yang sepele menurut orang biasa, tetapi lewat garapan
imajinasi seorang seniman sesuatu tadi menjadi lebih berarti. Namun demikian satu hal
tidak bisa dipungkiri bahwa setiap seniman adalah seorang pencari yang tak pernah
ketemu, atau seperti seseorang pejalan yang tak pernah sampai. Dalam pencarian itu ia
gelisah mencari dan terus mencari. Ia mencari kedalam alam fisik, dan terutama
kedalam alam rohani. Ia merambah waktu dan jaman. Dan ia membuka simpul-simpul
kerahasiaan. Seperti manusia umumnya, seniman pun ditengah pencariaannya merasa
gelisah. Merasa adanya ketidaktenangan ditengah pencariaannya selalu merasa gelisah.
Merasa adanya ketidaktenangan ditenga ketenangan yang dicarinya. Ini bisa dimengerti
mengingat seniman bagaimanapun adalah bagian dari masyarakat yang juga
memikirkan situasi masyarakat sekitarnya.
Kesabaran amat penting guna mencar ketentraman batin. Sabar diperlukan dalam
menghadapi berbagai cobaan serta hal-hal yang tidak menyenangkan. Untuk
memperoleh sifat sabar itu diperlukan latihan dan pembiasaan, serta perlu dukungan
permohonan Allah.
Freud, sebagaimana disinggung diatas, melihat kondisi obyektif yang ada disekitar
manusia bisa menjadi penyebab kegelisahannya. Dalam dunia seni dan sastra,suatu
kondisi obyektif tidak hanya berpengaruh terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan
seseorang melaui karya-karya seni dan sastranya. Akan tetapi lebih luas dari itu bahkan
kondisi-kodisi tertentu ikut berpengaruh terhadap proses kreatifitas sang seniman.

2.2.1 Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing.
Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan
dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi, keterasingan berarti hal-
hal yanga berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang
lain.
Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atua lama
orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar
yang berbeda satu sama lain.
Terasingan atau keterasingan adalah merupakan bagian hidup manusia. Lama atau
sebentar orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan atau hidup dalam
pengasingan,yang pernah dialami oleh para pejuang kemerdekaan, yang kemudian
ditangkap oleh kaum kolonialis serta dibuang ke tempat pengasingan. Hal ini banyak
dialami pejuang-pejuang kemerdekaan kita
Sebab-sebab keterasingan
Kesimpulan orang hidup dalam keterasingan , pertama karena sifat-sifat/sikap
yang tidak dapat diterima, dan kedua karena perbuatannya. Jadi, keduanya juga karena
perbuatan, hanya berbeda sifatnya.
Bila kita simpulkan, kedua sebab hidup keterasingan itu bersumber pada:
1.Perbuatan yang tidak diterima oleh masyarakat. Perbuatan itu antara lain : mencuri,
bersikap angkuh, sombong atau kaku.
2.Sikap rendah diri
Sikap yang sejenis dengan angkuh atau sombong ialah sikap kaku, pemarah, dan suka
berkelahi. Sikap seperti itu juga menjauhkan kawan dan mendekatkan lawan. Orang
segan berkawan denagn orang bersikap seperti itu, sebab takut terjadi kontak fisik.
Umumnya orang tidak senang akan konflik fisik, karenahal itu merupakan perbuatan
anak kecil.
Sikap rendah diri menurut alex gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini
menganggap atau dirinya merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang
laku, tidak atau kurang mampu di hadapan orang lain.sikap ini juga disebut sikap
minder. Jadi bukan orang lain yang memandang dirinya rendah, tetapi justru dirinya
sendiri, tetapi juga tidak baik bagi masarakat. Sikap rendah diri itu ada sebab-sebabnya,
mungkin cacat fisik, mungkin karena social-ekonominya, mungkin juga rendah
pendidikan, mungkin pula karena kesalahan perbuatannya.
Kekurangan pada diri seseorang dapat juga menempatkannya dalam keterasingan.
Dalam hal ini, bukan masyarakat yang membuat orang itu terasing. Melainkan dirinya
sendiri karena karena ketidakmampuannya. Ketidakmampuan itu berpengaruh pada
nama baik atau harga diari atau martabat orang yang bersangkutan. Ketidakmampuan
disini meliputi rendahnya tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan bahasa ilmu
pengetahuan. Hal inin disebabkan taraf pendidikan yang belum sampai pada taraf
tertentu yang di hadapi kini. Dengan demikian, orang yang bersangkutan mampu
menyesuaikan diri dengan masyarakat ilmiah yang dihadapinya. Karena itu, dia merasa
gelisah dan terasing.,

2.2.3 Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi.artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang
dan kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tidak ada apa-apa, dan
sebagainya, kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena kesepian merupakan bagian
hidup manusia. Lama atau sebentar, perasaan ini tergantung kepada mental orang dan
kasus penyebabnya.
Sebab-sebab terjadinya kesepian
Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasipun dapat
mengakibatkan kesepian. Yang bersangkutan tidak mau diganggu, ia lebih senang
dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri.
Bila kita perhatikan sepintas lalu mungkin keterasingan dan kesepian serupa, tapi
sebenarnya tidak sama, tetapi ada hubungannya. Beda antara kedua hanya terletak pada
sebab akibat. Kesepian itu akibat dari keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, kaku,
keras kepala, sehingga di jauhi kawan-kawan sepergaulan. Karena kawan-kawan
menjauhi, maka orang yang dijauhi atau orang yang bersikap sombong dan sebagainya
itu hidupterasing, terpencil dari keramaian hidup sehingga akibatnya kesepian.
Sebaliknya, orang yang frustasi itu bersikap rendah diri, disengaja menjauhi
pergaulan ramai, kebalikan dari orang yang sombong. Orang yang bersikap rendah diri,
pemalu ,minder, merasa dirnuya kurang berharga dibanding orang lain, maka orang itu
lebih suka mnyendiri. Karena menyendiri itu akibatnya kesepian.
Hidup dalam keterasingan yang akibatnya kesepian pada hakikatnya disebabkan
karena orang itu juga takut kehilangan hak-haknya, kecuali Pangeran Sidharta yang
mencari kebenaran hidup.

Hidup kesepian akibat takut kehilangan Hak Kenamaan


Nama baik merupakan harapan setiap orang. Bahkan orang tak takut mati demi
menjaga nama baik. Meskipun sudah berhati-hati menjaganya mungkin juga orang
masih berbuat salah, sehingga cemar nama baiknya. Untuk ini seringkali yang
bersangkutan terpaksa hidup mengasingkan diri, akibatnya kesepian.
Kesepian dapat melanda siapa saja,tidak peduli miskin atau kaya. Kebetulan hal
ini terjadi dalam lingkungan keluarga kaya,yang sudah pasti ada factor penyebab
terjadinya kesepian yang menyentuh nilai-nilai kemanusiaannya.
Dalam kehidupan manusia, kesepian tidak selalu mengubah jalan kehidupan
manusia kea rah yang negatif, yang merugikan, ataupun yang menyengsarakan. Bahkan,
dapat sebaliknya, membuat manusia tenang dan betah tinggal dirumah sendiri.
Ketengan di rumah sendiri bebas dari hiruk-pikuk manusia dapat mendorong manusia
menjadi kreatif dan mencipta dan berkarya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

2.2.4 Ketidak pastian


Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya)
atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu
semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi, ketidakkonsentrasian itu
disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau.
Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang
pernah mengalaminya, misalnya ketika anak kecil ditinggalakn ibunya, ia menangis
kebingungan. Kebingungan itu menunjukkan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam
yang kehilangan induknya.
Ketidakpastian masih member harapan kepada arang yang mengalaminya karena
ketidakpastian itu dia berusaha mencari kesempurnaan supaya bebas dari kegelisahan.
Budi darma(1981) member contoh pelukis terkenal Leonardo da vinci (1452-1519)
yang selalu gelisah, melukis wanita cantik yang bernama “medusa” sebagai manusia
gelisah. Namun, anehnya, Leonardo da vinci sendiri tidak tahu bahwa wanita cantik
gelisah bernama medusa itu”menakutkan dan menjijikan”. Leonardo da vinci terus
berusaha mencari kesempatan melalui lukisannya, sehingga dia di pandang sebagai
pelukis besar karena kegelisahannya.
Sebab-sebab Terjadinya ketidakpastian
Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat lagi berpikir secara teratur, logis
ataupun mengambil kesimpulan. Dalam berpikir ia selalu menerima rangsangan-
rangsangan lain, sehingga jalan pikirannya menjadi kacau oleh rangsang-rangsang baru.
Kalau toh ia dapat berpikir baik, akan memakan waktu yang cukup lama dan sukar.
Mereka menampakkan tanda-tanda obsesi phobis delusi, gerakan-gerakan gemetar
(buyuten), kehilangan pengertian (sparis), kehilangan kemampuan untuk menangkap
sesuatu (agnesis). Menurut Siti Maechati dalam bukunya Kesehatan Mental ada
beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu adalah:
1.obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu
yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tidak menyenangkan, atau sebab-
sebabnya tidak diketahui oleh penderita. Misalnya: selalu berpikiran ada orang yang
ingin menjatuhkan dia.
2.phobie
Ialah rasa takut yang tidak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau
kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.orang yang dilanda ketakutan itu tidak dapat
berpikir. Pikirannya tidak pasti, tidak menentu.
3.kompulsi
Ialah adanya keragu-raguanyang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan,
sehingga ada dorongan yang tak disadari untk selalu melakukan perbuatan-prerbuatan
yang serupa berulang kali(neurose)
4.histeria
Ialah neurosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan,pengalaman
pahit yang menekan, kelemahan syaraf tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari
sikap orang lain.
5.delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan
palsu.tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar keyakinan dan tidak sesuai
dengan pengalaman.
Delusi ini ada tiga macam,yakni:
a.Delusi persekusi :menganggap adanya keadaan yang jelek disekitarnya.
b.Delusi keagungan :menganggap dirinya orang penting atau orang besar.orang seperti
ini biaasanya gila hormat. Menganggap orang disekitarnya sebagai orang-orang yang
tidak penting. Akhirnya semua orang menjahui juga.jadi, hamper sama dengan delisi
persekusi.yang jelas akibatnya sama,ialah dijahui semua orang.
.Delusi melancholis : merasa dirinya bersalah, hina dan berdosa. Hal ini dapat
menyebabkan buyutan atau dikenal dengan namadelirium tremens, hilangnya kesadaran
dan ingatannya sama sekali, mengalami tensi tinggi dan mengingat sesutau yang belum
pernah terjadi.
6.halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra.seperti [para prewangan
(medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi.dengan sugesti diri orang
dapat juga berhalusinasi. Halusinasi buatan, misalnya oleh orang mabuk atau pemakai
obat bius. Kadang-kadang karena halusinasi orang merasa mendapat tekanan-tekanan
terhadap dorongan-dorongan itu menemukan sasarannya. Ini Nampak dalam perbuatan-
perbuatan penderita (penderita itu dapat menyadari perbuatannya itu, tetapi tidak dapat
menahan rangsangan khayalan sendiri).
7.keadaan emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang sangat berpengaruh oleh emosinya ia sampai
pada keseluruhan pribadinya: gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah,
nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi\lemah. Sikapnya dapat apatis atau terlalu
gembira dank arena itu dilepaskan di dalam gerakan-gerakan lari-larian,nyanyian,
ketawa atau berbicara. Sikap ini dapat pula berupakesedihan menekan, tidak bernafsu,
tidak bersemangat, gelisah resah, suka mengeluh, tidak mau berbicara, diam seribu
bahasa, termenung, menyendiri, jelas kepada kita orang yang demikian itu tidak
mungkin dapat berpikir dengan tenang, dan dengan baik.
Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari
penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya tetap masih sakit, penderita perlu
diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog.
Orang yang sombong, angkuh dan sebagainya telah menderita atau kena musibah
mungkin akan menyadari kesombongannya atau keangkuhannya. Tetapi kesepian
karena gangguan mental harus pergi ke psikolog, tidak ada jalan lain atau perbuatan lain
yang dapat menyembuhkannya.

6. MANUSIA DAN KEGELISAHAN


Gelisah tergolong penyakit batin, istimewanya penyakit ini dapat menyerang siapa
saja, darin golongan apa, dan bangsa apapun. Bila dibandingkan dengan rasa takut,
daerah operasionalnya lebih luas. Sebab orang yang pemberani, tak mungkin diserang
rasa takut, atau orang yang mempunyai obat penangkal takut tidak akan dijemahnya.
Umpamanya orang yang tidak pernah mengerjakan perbuatan salah sudah pasti tidak
akan takut dituntut. Begitu pula orang yang kaya, pasti tidak akan takut kelaparan, dan
sebagainya. Tetapi walaupun benar,kaya, pandai, jujur, dan sebagainya.pasti akan
terlanda perasaan gelisah.
Betapapun siapnya seorang mahasiswa, pasti masih akan merasa gelisah bila akan
menghadapi ujian. Apalagi bila ujian sudah akan diumumkan hasilnya, betapapun ia
tahu akan lulus, namun perasaan gelisah tetap menghantuinya.
Tentu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga nilainya. Mengapa, sebab
gelisah merupakan siksaan bagi yang mengalaminya. Duduk tak tenang, makanpun tak
enak, tidur tak lelap, sungguh merupakan siksaan yang sulit dilukiskan dengan kata-
kata.
Jawaban yang paling tepat adalah kita kembali pada “iman”. Sebagai oran yang
beriman kita kembalikan kepada tuhan, sebab sudah pasti hanya kepada-NYA semua
perkara kita kembalikan.

2.3 MANUSIA DAN HARAPAN


Harapan berasal dari kata harap, artinya keinginan supaya sesuatu terjadi. Yang
mempunyai harapan atau keinginan itu hati.putus harapan berarti putus asa.
Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang mempunyai
harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia. Manusia yang tidak
mempunyai harapan berarti tidak dapat diharapkan lagi.
Menurut kodratnya dalam diri manusia ada dorongan yakni dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berkata,
berpikir, bercinta, mempunyai keturunan, dan sebagainya.
Kebutuhan hidup ialah kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani ialah
pangan, sandang, dan papan.sedangkan kebutuhan rohani ialah meliputi kebahagian,
kesejahteraan, kepuasan hiburan dan sebagainya.
Dalam mencukupi kebutuhan itu, baik kebutuhan kodrat maupun kebutuhan hidup
manusia tak dapat mencapai sendiri, melainkan harus dengan bantuan orang lain.
Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup itu, maka orang
mengharapkan agar kebutuhan hidup itu terpenuhi.sehubungan dengan kebutuhan-
kebutuhan manusia itu, Abraham maslow mengatagorikan kebutuhan manusia menjadi
lama macam. Lima kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia.lima macam
harapan itu ialah:
1) harapan untuk memperoleh kelangsunmgan hidup(survival).
2) harapan untuk memperoleh keamanan(safety).
3) harapan untuk memperoleh hak dan kewajiban untuk mencintai dan di
cintai(boliving and love).
4) harapan memperoleh status atau untuk diterima atau di akui lingkungan.
5) harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita(self actualization).
Khusus mengenai kebutuhan individu dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut :
1.Kebutuhan organic individu:
a.Kebutuhan organik individu bernilai positif:
a.Makan dan minum
b.Istirahat dan tidur
c.Sex
d.Keseimbangan suhu
e.Buang hajat
f.Bernafas
b.Kebutuhan organic individu bernilai negative:
a.Makan dan minum tidak lezat
b.Istirahat dan tudur terganggu
c.Kegagalan sex
d.Ketidak seimbangan suhu
e.Kesulitan buang hajat
f.Bernafas sesak
2.Kebutuhan psikologi individu:
a. Kebutuhan Psikologi individu bernilai positif :
b.Pengendoran ketegangan dan bersantai
c.Kemesraan dan bercinta
d.Kepuasan altruistic:kesempatan berbuat baik
e.Kepuasan ego
f.Kehormatan
g.Kepuasan dan kebanggaan mencxapai tujuan
2.3.1 KEPERCAAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan
kebenaran. Kapercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan atau
pengakuan akan kebenaran.
Ada jenis pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan karena merupakan hasil
penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari orang lain, kebenaran pengetahuan yang
didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena orang lain itu tidak percaya.
Kekeliruan adalah bukan obyek etika dank arena kekeliruan orang tidak dianggap
buruk, lain halnya berdusta atau bihing adalah tindakan yang etis yang buruk. Jelas
kebenaran atau tindakan itu timbul dari manusia.
Berbagai kepercayaan dan usaha meningkatkannya kepercayaan itu dapat
dibedakan
1.Kepercayaan pada diri sendiri.
2.kepercayaan kepada orang lain
3.kepercayaan kepada pemerintahan
4.kepercayaan kepada tuhan

2.3.2 MANUSIA DAN HARAPAN


Kita ingat akan ibarat demikian, “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati
sebelum ajal”, artinya orang yang tidak suka atau tidak mempunyai cita-cita atau
harapan itu tak cita-cita atau harapan. Jadi harapan itu sifatnya manusiawi dimiliki oleh
siapapun dan dari golongan apapun.
Bila kita tinjau dari wujudnya dapat dikatakan tidak terhingga, namun bila dilihat
dari tujuannya hanya ada satu, ialah hidup bahagia. Bahagia dunia dan akhirat.
Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan itu
sebagai berikut:
1.Harapan seperti apa yang baik
2.Bagaimana cara mencapai harapan itu
3.Bagaimana bila harapan itu tidak tercapai
Sebab sering kita saksikan banyak orang tua terlalu mengharapkan kepada anak-
anaknya bagar menjadi dokter, insinyur, pendek kata mendapatkan jabatan atau pangkat
yang tinggi. Menurut dugaaan bahwa semua pangkat, jabatan yang tinggi mampu
memberikan kebahagiaan. Padahal belum tentu demikian. Justru orang yang
berpangkat, kaya, kelihatan terpandang hatinya gundah, pikirannya kusut dan bingung.
Sebliknya orang yang hidupnya serba sederhana kalau tidak mau dikatakan kekurangan
hatinya selalu bahagia, tenang, damau. Mengapa demikian?
Bila kita ingat dengan kehidupan itu tidak hanya di dunia saja, namun juga di
akhirat, bahkan kehidupan disana lebih abadi. Maka sudah selayaknya “harapan” untuk
hidup bahagia di kedua tempat itu sudah kita niati.
Orang yang hanya mengharapkan niatnya hidup kaya, cenderung mudah sekali
terseret ke jalan yang kurang baik. Sering orang yang seperti itu kurang
memperhitungkan dari aturan permainan dalammendapatkan kekayaan itu. Tidak jarang
klalu “menghalalkan cara”. Pegangan seperti itu mulai dilaksanakan sejak yang
bersangkutan duduk dibangku pendidikan. Dilanjutkan pada saat mencari jabatan atau
pekerjaan, dan disempurnakan pada waktu sudah menduduki suatu jabatan.
Akjirnya bila sudah kaya, semata-semata semuanya itu hanya untuk memuaskan
kehendaknya, memuaskan hawa nafsunya. Karena kepuasan dilandasi hawa nafsu, maka
selanya tidak akan merasa puas. Dan akhirnya tidak akan dapat merasakan bahagia.
Tidak aneh orang itu nantinya akan melakukan hal-hal yang tidak terpuji, asal
kehendaknya terpenuhi.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang ada pada dirinya hanyalah titipan
Tuhan. Banyak atau sedikitnya tidak dirisaukannya sehingga ia akan ikhlas
mengeluarkannya, untuk kepentingan-kepentingan yang disenangi Tuhan; seperti
membayar zakat, berkorban, membantu pembangunan masjid, memelihara anak yatim,
dan sebagainya.
Seandainya harapan belum berhasil atau belum tercapai ia akan tetap bersabar
tanpa mengurangi usahanya; sebab ia yakin Tuhan tidak akan mengubah nasibnya, bila
ia sendiri tidak mau berusaha pada perubahan itu. Tidak ada kaumus putus asa, sebab
tahun putus asa adalah perbuatan orang-orang yang ingkar pada Tuhan. Bila harapannya
berhasil maka ia akan meningkatkan rasa syukurnya namun bila belum berhasil maka ia
akan tetap bersabar dan bertawakal.
Berharap agar hari esok lebih baik daripada hari ini memang hak dan kewajiban
kita. Namun kita harus selalu sadar bahwa harapan tak selamanya menjadi
kenyataan.Yang penting marilah kita selalu ingat pesan Nabi Muhammad saw. :
“Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya; dan
berusahalah untuk urusan akhiratamu seolah-olah kamu akan mati esok pagi”.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegelisahan artinya perasaan perasahan,khawati, cemas atau takut dan jijik. Rasa
gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah
itu dihantui rasa khawatir atau takut. Yang jelas kegelisahan berkaitan dengan rasa yang
berkembang dalam diri manusia. Penyebeb kegelisahan dapat pula dikatakan akibat
mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan.
3.2 Saran
Menulis membutuhkan pola fikir yang kreatif dimana mata analisis penulisnya
harus tertuju pada teori dan realita, pada cita dan fakta. Tidak lupa pula penulis
memohon maaf apabila ada kesalahan, baik dalam pembahasan atau penulisan yang
tidak sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia (EYD) dan penulis berharap
adanya tegur sapa yang semuanya bersifat kritik membangun dari pembaca demi
sempurnanya karya tulis ini.
DAFTAR PUSTAKA

Notowidagdo, Rohiman. 2000. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al Qur'an dan Al


hadist. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Widyasiswoyo, Supartono. 1993. Ilmu Budaya Dasar. Bogor Selatan: Ghalia


Indonesia

Muhammad, Abdulkadir. 2005. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Bandung: PT. Citra
Aditya Bhakti

Widhagdo, Djoko dkk. 2008. Imu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara

Munandar Soelaiman MS, IR, M. 1992. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar.
Bandung: PT Eresco