Anda di halaman 1dari 16

Budidaya Tanaman Kedelai Tanpa Olah Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM

Oleh :
Kelompok 12
1. Moch Azam Baihaqi
2. Erza Sigit S.
3. Miftahul Imron
4. Gita Gratia M. S.
5. Festi Retno
6. Nurul Marta
7. Bintang K.
8. Dede S.
9. Moh Ali Muhdor
10. Riza Rahma Putri

(131510501185)
(121510501131)
(131510501091)
(131510501154)
(131510501182)
(131510501244)
(131510501250)
(131510501253)
(131510501280)
(131510501287)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kedelai (Glycine max L.) merupakan tanaman asli dari negara Cina dan
telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2.500 SM. Awal mula penyebaran dan
pembudidayaan tanaman kedelai di Indonesia yaitu Pulau Jawa, kemudian
berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya. Tanaman kedelai
dapat tumbuh di berbagai agroekosistem dengan jenis tanah, kesuburan tanah,
iklim, dan pola tanam yang berbeda sehingga kendala satu agroekosistem dengan
agroekosistem yang lain akan berbeda pula. Hal tersebut dapat mengindikasikan
adanya suatu spesifikasi dalam cara berbudidaya tanaman kedelai. Tanaman
kedelai di Indonesia pada umumnya dibudidayakan di lahan sawah ataupun di
lahan tegalan. Kegiatan yang dilakukan sebelum berbudidaya tanaman kedelai
yaitu melakukan persiapan lahan yang salah satu di dalamnya ialah mengolah
tanah.
Olah tanah merupakan suatu kegiatan mengolah tanah dengan cara
membalik lapisan bawah tanah yang ditujukan untuk menciptakan kondisi tanah
yang cocok untuk tanaman. Olah tanah dapat dibagi menjadi tiga macam, antara
lain olah lahan sempurna, olah lahan minimum, dan tanpa olah tanah. Tingkatan
perubahan di suatu areal lahan budidaya akan sangat ditentukan cara atau metode
pengolahan tanah tersebut. Secara umum, teknik budidaya tanaman kedelai di
lahan sawah dan di lahan tegalan hampir sama. Namun, terdapat beberapa
perbedaan terutama dalam penggunaan varietas unggul, seperti persiapan lahan,
dan pemberian kapur atau bahan organik.
Pada budidaya tanaman kedelai yang menggunakan sistem tanpa olah tanah
(TOT) biasanya digunakan untuk mengantisipasi terbatasnya tenaga kerja
sehingga dapat menghemat pengeluaran. Selain itu, penggunaan sistem tanpa olah
tanah (TOT) pada budidaya tanaman kedelai juga dapat memanfaatkan sisa-sisa
ketersediaan air tanah setelah panen tanaman padi dilakukan. Pada lahan sawah
yang menggunakan sistem olah tanah terdapat lapisan yang memiliki kadar unsur
hara Besi (Fe) dan Mangan (Mn) yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan
ketersediaan air tanah akan terbatas pada bagian atas lapisan tanah. Apabila
dilakukan pengolahan tanah setelah penanaman tanaman padi yang ditujukan
untuk budidaya kedelai dapat mengakibatkan menguapnya air tanah sehingga

dikhawatirkan tanah akan cepat mengering dan terhambatnya pertumbuhan serta


perkembangan dari tanaman kedelai.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai membutuhkan beberapa
macam tambahan nutrisi yang harus terpenuhi untuk mendapatkan hasil produksi
yang memuaskan. Pemenuhan berbagai macam nutrisi tersebut dapat diberikan
melalui kegiatan pemupukan. Pemupukan merupakan salah satu kegiatan yang
erat dengan kaitannya pemenuhan nutrisi pada suatu tanaman sehingga
pertumbuhan dan produksi akan maksimal. Pemberian pupuk sendiri dapat
diberikan secara langsung melalui tanah yang kemudian akan diserap oleh akar
tanaman ataupun melalui penyemprotan pada bagian daun.
Penyemprotan pupuk secara langsung pada bagian daun tanaman atau juga
dikenal dengan istilah foliar feeding. Teknik penyemprotan pupuk melalui daun
sudah biasa diterapkan oleh berbagai pihak terutama untuk upaya memenuhi
kebutuhan nutrisi mikro maupun makro pada tanaman. Saat ini, para petani masih
lebih terbiasa melakukan kegiatan pemupukan melalui tanah untuk pemenuhan
nutrisi bagi tanaman. Pemberian pupuk melalui tanah kadangkala dinilaikurang
efektif dan efesien dikarenakan unsur hara yang diberikan tidak dapat diserap
langsung atau secara maksimal oleh perakaran tanaman yang disebabkan oleh
berbagai macam faktor, sedangkan pemupukan yang sekarang dipandang lebih
efektif dan efesien yaitu menggunakan teknik pemupukan melalui daun. Oleh
karena itu, pemberian pupuk melalui bagian daun dengan menggunakan sistem
tanpa olah tanah (TOT) perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif dan
efesien terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai tersebut.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui efektivitas sistem Tanpa Olah Tanah pada pertanaman kedelai.
2. Mengetahui efektivitas dari perpaduan sistem Tanpa Olah Tanah tanaman
kedelai dengan pemberian pupuk daun (foliar feeding).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


Tanaman kedelai (Glycine max L.) merupakan anggota dari keluarga
Papilionaceae atau disebut legum. Tanaman ini memiliki durasi pertumbuhan
yang relatif pendek dikarenakan kepekaan terhadap hari panjang maupun hari
pendek di daerah yang beriklim tropis. Tanaman kedelai tersebar luas di sebagian
besar belahan dunia yang sampai saat ini memiliki banyak potensi di benua
Afrika. Tanaman kedelai dapat berkembang dengan baik di tanah yang memiliki
tekstur liat berpasir atau liat dengan jenis tanah alluvial serta memiliki kesuburan
yang baik. pH tanah yang optimal untuk membudidayakan tanaman kedelai yaitu
berkisar 6,0-6,5 (Akparobi, 2013). Menurut Zakiah (2011), tanaman kedelai
merupakan salah satu komoditas yang dinilai cukup strategis, akan tetapi
kontradiktif dalam sistem usahatani di Indonesia. Diketahui, luas pertanaman
tanaman kedelai di Indonesia didapati hanya kurang dari 5% dari keseluruhan luas
areal tanaman pangan, meskipun demikian komoditas ini memegang posisi sentral
dalam seluruh kebijakan pangan nasional dikarenakan peranannya yangdinilai
cukup penting. Sejak awal, kedelai telah dikenal sebagai sumber protein nabati
bagi penduduk Indonesia, namun komoditas ini tidak pernah menjadi tanaman
pangan utama seperti halnya padi.
Supriyadi et al., (2011) menambahkan bahwa kebutuhan akan produk
kedelai senantiasa meningkat sejalan dengan perkembangan serta peningkatan
mutu gizi makanan yang diperlukan oleh penduduk Indonesiasehingga komoditas
tanaman kedelai tersebut cukup penting untuk dikembangkan. Indonesia dikenal
sebagai negara penghasil kedelai, namun produktivitasnya masih dinilai rendah
yaitu rata-rata hanya berkisar 1,2 ton/ha. Dukungan dalam pencapaian potensi
produktivitas tanaman kedelai hingga mencapai 3 ton/ha yang dimiliki Indonesia
yaitu sumberdaya alam seperti lahan dan iklim, serta sumber daya manusia dalam
hal pemuliaan tanaman sehingga diharapkan capaian tersebut dapat diperoleh.
Penangkaran benih kedelai perlu memahami adanya fase atau stadium
pertumbuhan pada tanaman kedelai yang akan diusahakan. Pemahaman terhadap
stadium pertumbuhan tanaman tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk

merekayasa agar tanaman berproduksi dengan maksimal. Pola pertumbuhan pada


tiap-tiap tanaman kedelai di lapangan berbeda-beda tergantung dengan jenis
varietasnya. Menurut umurnya, tanaman kedelai dapat dikelompokkan menjadi
tiga jenis, antara lain tanaman kedelai yang berumur panjang atau lebih dari 90
hari, tanaman kedelai yang berumur sedang atau antara 85-90 hari, dan tanaman
kedelai yang berumur pendek atau antara 75-85 hari. Namun demikian,
pertumbuhan pada tiap-tiap jenisnya memiliki karakteristik utama yang hampir
sama (Pitojo, 2003).
Menurut Muis et al. (2013), kedelai termasuk tanaman yang membutuhkan
air yang cukup banyak terutama pada beberapa stadium, seperti awal
pertumbuhan, masa pembungaan, dan pembentukan serta pengisian polong.
Penghambatan pertumbuhan pada tanaman kedelai dapat terjadi apabila pada
stadium-stadium tersebut mengalami kekurangan air sehingga dapat menurunkan
hasil produksi. Kekurangan air pada stadium pengisian polong akan
mengakibatkan beberapa gejala, seperti biji yang dihasilkan lebih kecil,
mempercepat gugurnya daun, dan memperpendek periode pengisian polong. Pada
umumnya kedelai di Indonesia ditanam di lahan sawah dan tegalan. Kedua jenis
lahan tersebut berpotensi mengalami keterbatasan air. Penyebab rendahnya
ketersediaan air di lahan sawah dapat disebabkan oleh rendahnya curah hujan
terutama pada akhir musim hujan dan awal musim kemarau, sedangkan penyebab
kekeringan di lahan tegalan dapat disebabkan oleh rendahnya kadar lengas tanah.
Kekurangan air dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
dikarenakanpenghambatan proses fotosintesis akan terjadiserta dapat menghambat
proses penyerapan hara dari dalam tanah oleh akar tanaman.
Rukmana dan Yuniarsih (1996) menambahkan bahwa tanaman kedelai yang
mengalami kekeringan, terutama ketika memasuki peride pertumbuhan vegetatif
akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. Demikian pula, ketika
tanaman kedelai mengalami kekeringan pada saat fase berbunga atau pengisian
polong akan berakibat gagalnya panen. Selain mencukupi kebutuhan air yang
cukup pada tiap-tiap stadiumnya, tanaman kedelai juga membutuhkan beberapa

unsur hara yang nantinya dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan


perkembangannya melalui kegiatan pemupukan.
Berdasarkan cara penggunannya, pemberian pupuk pada tanaman tidak
hanya dapat diaplikasikan ke dalam tanah di sekitar perakaran tanaman,
melainkan dapat juga dilakukan pemberian pada bagian daun dengan
memanfaatkan pupuk daun. Pupuk daun merupakan pupuk yang cara
pemberiannya dapat dilarutkan dengan menggunakan air dan disemprotkan pada
areal permukaan daun. Kelebihan penggunaan pupuk daun dibandingkan dengan
pupuk akar ialah penyerapan hara melalui mulut daun atau stomata berjalan
dengan cepat, sehingga perbaikan tanaman cepat terlihat. Adapun kekurangan
pemberian pupuk daun yaitu apabila pemberian dosis yang diberikan terlalu besar
maka daun akan mengalami kerusakan (Hanadyo et al, 2013).
Nasaruddin dan Rosmawati (2011) menambahkan bahwa pemberian pupuk
melalui bagian daun lebih didapati lebih cepat dalam melakukan penyerapan
haran yang diberikan dibandingkan dengan pemberian melalui bagian perakaran
tanaman. Pupuk daun dapat telah diberikan diharapkan dapat menambah
persediaan hara pada tanaman, walaupun pemberian unsur hara yang telah
diberikan dalam jumlah yang relatif sedikit, tetapi bersifat kontinu. Efisiensi
pemberian pupuk yang optimal dapat dicapai apabila pupuk yang diberikan dalam
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Apabila pupuk yang diberikan
melebihi dosis atau jumlah yang optimum, maka dapat dikhawatirkan dapat
mengakibatkan terjadinya keracunan pada tanaman tersebut.
Unsur hara yang diberikan melalui daun tanaman dapat masuk dikarenakan
adanya proses difusi dan osmosis pada bagian mulut daun atau stomata. Daun
memiliki mekanisme kerja dalam proses membuka dan menutup stomata menurut
kebutuhan yang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Pada kondisi lingkungan
yang basah, stomata atau mulut daun akan membuka dan apabila dalam kondisi
lingkungan yang kering, stomata atau mulut daun akan tertutup. Pada proses dan
mekanisme kerja bagian daun tersebut, maka pemberian pupuk melalui bagian
daun harus disemprotkan dengan ujung sprayer yang mengarah ke sisi bagian
daun bagian bawah. Pemberian pupuk melalui bagian daun tidak terlalu ditujukan

untuk pemenuhan dari seluruh kebutuhan unsur hara. Hal tersebut dikarenakan
pemberian pupuk melalui bagian daun hanya ditujukan sebagai pelengkap dari
pemupukan yang telah diberikan melalui media tanam. Pemberian pupuk melalui
daun tersebut dilakukan bertujuan untuk memberikan unsur-unsur hara yang sifat
kebutuhannya dalam jumlah yang cukup rendah. Sebagai tanaman budidaya,
terdapat beberapa organisme pengganggu yang nantinya dapat berpengaruh
terhadap proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tumbuhan liar atau disebut
dengan gulma yang tumbuh pada petakan tanaman kedelai dapat dilakukan
pengendalian dengan cara teknik penyiangan. Hal tersebut ditujukan karena gulma
atau tumbuhan liar dikhawatirkan melakukanpersainganan terhadap tanaman
kedelai dalam berbagai macam kebutuhan, seperti air, unsur hara, sinar matahari,
dan juga kemungkinan menjadi tanaman inangdari hama maupun penyakit.
Meminimalisir terjadinya hal tersebut, maka perlu dilakukannya kegiatan
pengolahan tanah (Sudarmono, 1997).
Menurut Prasetyo et al. (2014), kegiatan yang meliputi membalik,
memotong, menghancurkan, dan meratakan tanah merupakan kegiatan mengolah
tanah. Tujuan dilakukan kegiatan mengolah tanah yaitu pemberian aliran irigasi,
memperbaiki kondisi tanah agar perakaran tanaman dapat melakukan penetrasi,
pemberian areal aerasi dan infiltrasi air, serta pengendalian beberapa macam
organisme pengganggu tanaman. Kegiatan mengolah tanah dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu olah tanah minimal atau olah tanah terbatas dan olah
tanah maksimal. Olah tanah minimal atau olah tanah terbatas merupakan kegiatan
mengolah tanah secara seminimal mungkin dan tetap mempertahankan beberapa
sisa-sisa tanaman yang dulu telah dipanen, sedangkan olah tanah secara maksimal
adalah kegiatan mengolah tanah secara sempurna yang terdiri dari beberapa
proses, seperti pembajakan, pencangkulan, dan penggaruan.
Penggunaan sistem tanpa olah tanah dalam melakukan suatu budidaya
tanaman dapat mengurangi terjadinya suatu erosi di lahan tersebut serta
pengurangan pencemaran sedimen dari permukaan tanah (Donald et al., 2011).
Grandy et al., (2012) menambahkan bahwa berbudidaya tanaman dengan
menggunakan sistem tanpa olah tanah (TOT) sudah lama diterapkan sejak

beberapa tahun yang lalu. Penggunaan sistem olah tanah tersebut ditujukan untuk
mengurangi adanya erosi tanah, memperbaiki struktur fisika tanah, konservasi air
tanah, dan memulihkan bahan-bahan organik. Akhir-akhir ini diketahui terjadi
peningkatan penggunaan sistem tanpa olah tanah yang telah diterapkan di negara
Amerika Serikat dari 13,7 % meningkat ke 22,6% atau sekitar 9,5 juta hektar.
Pada lahan budidaya tanaman daerah tropis maupun subtropis yang
menggunakan sistem tanpa olah tanah dengan disertai teknik rotasi tanaman
merupakan salah satu langkah kombinasi dua teknik yang cukup strategis dalam
meningkatkan keberlanjutan dari lahan pertanian tersebut. Selain itu, penggunaan
kombinasi kedua teknik tersebut dapat mengurangi terjadinya erosi yang
menyebabkan hilangnya lapisan dan nutrisi tanah. Penggunaan kedua teknik
tersebut telah dilakukan di negara Brazil dengan bukti terjadinya peningkatan
kualitas tanah di areal budidaya tanaman sekitar 90 juta hektar (Caires et al.,
2012).

BAB 3. METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Teknologi Inovasi Produksi Pertanian acara Budidaya Tanaman
Kedelai Tanpa Olah Tanah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 22 September
2015,pukul 06.00 sampai dengan selesai bertempat di Agrotechnopark Jubung,
Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Tanaman kedelai dengan sistem Tanpa Olah Tanah.
2. Pupuk daun.
3.2.2 Alat
1. Timba.
2. Penggaris.
3. Sprayer ukuran besar.
3.2 Cara Kerja
1. Menyediakan lahan tanaman kedelai dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT).
2. Memetakan lahan tanaman kedelai yang diberikan tambahan pupuk daun dan
yang tidak diberikan pupuk daun.
3. Mengaplikasikan pupuk daun pada tanaman kedelai yang akan berbunga.
4. Melakukan perawatan setiap hari pada pertanaman kedelai.
5. Melakukan pengamatan setiap minggu hingga waktu panen.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Grafik pengamatan budidaya tanaman kedelai sistem Tanpa Olah Tanah (TOT)

Grafik Tinggi Tanaman

Grafik Jumlah Daun

0 ml

2 ml

4 ml

6 ml

TSM 1

Bayfolan 1

TSM 2

Bayfolan 2

Pagi 1

Pagi 2

Pagi 3

Pagi 4

100
80
60
40
20
0

Minggu 1

Gambar 01. Grafik pengamatan tinggi tanaman


kedelai pada minggu ke-1 sampai ke-4

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Gambar 02. Grafik pengamatan jumlah daun


tanaman kedelai pada minggu ke-1 sampai ke-4

Grafik Jumlah Cabang


40
30
20
10
0

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Gambar 03. Grafik pengamatan jumlah cabang tanaman kedelai


sistem TOT minggu ke-1 sampai ke-4

Grafik Jumlah Polong


150
106
78
72
100
52
44
39
32
29
29
50
15 16 16
0

Grafik Polong yang Membuka


30
20
10 1
0

25
4

3
0

3
0

Perlakuan

Perlakuan

Gambar 04. Grafik pengamatan jumlah polong


kedelai pada minggu ke-4

Gambar 05. Grafik pengamatan jumlah polong


kedelai yang membuka pada minggu ke-4

Grafik Jumlah Biji


300
200
100 51 28 48
0

Grafik Berat Biji (gram)


214

116

22 35 35

93

86 114

20
12.1
15
10
5 2.30.55
0

18.5
12.8
9.9 9.9
2.21.030.551.2
0

Perlakuan

Perlakuan

Gambar 06. Grafik pengamatan jumlah biji


kedelai pada minggu ke-4

Gambar 07. Grafik pengamatan berat biji polong


kedelai pada minggu ke-4

Nb: Berat biji kedelai sesi 1 (sore) perlakuan TSM Sore 1 = 5,9 gr; Sore 2 = 7,93
gr; Sore 3 = 8,47 gr; dan Sore 4 = 8,83 gr.
4.2 Pembahasan
Pada praktikum mata kuliah Teknologi Inovasi Produksi Pertanian dengan
berbudidaya tanaman kedelai menggunakan kombinasi sistem TOT dan teknik
pemupukan melalui daun dengan parameter pengamatan pertumbuhan, antara lain
tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang. Berdasarkan hasil pengamatan
yang telah dilakukan pada praktikum selama empat minggu diketahui bahwa pada
hasil parameter tinggi tanaman kedelai masing-masing perlakuan didapati
semakin meningkat mulai minggu ke-1 sampai minggu ke-4 dari berbagai
tingkatan konsentrasi pupuk daun sehingga tinggi tanaman masing-masing
mengalami peningkatan secara optimal. Berdasarkan hasil pengamatan pada
minggu ke-4 diketahui parameter tinggi tanaman kedelai yang paling tinggi yaitu
perlakuan pagi 4 (8 ml) dengan nilai 83 cm, sedangkan paling rendah yaitu
perlakuan 6 ml dengan nilai 52,6 cm. Asnijar et al., (2013) menyatakan bahwa hal
tersebut berkaitan dengan tingkat dosis pemupukan pada tanaman tersebut.
Tanaman menyerap suatu unsur berbeda-beda dan dengan tingkat konsentrasi
yang berbeda. Pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh unsur hara yang
tersedia dalam keadaan optimum dan seimbang. Akan tetapi, diketahui terdapat
hasil yang berbeda pada beberapa perlakuan, seperti 2 ml, 4 ml, 6 ml, TSM 1,
TSM 2, Bayfolan 2, Pagi 2, dan Pagi 3 yang menunjukkan data fluktuatif dalam

tinggi tanaman. Salah satu penyebab dari data yang fluktuatif tersebut adalah
ketidak cermatnya praktikan dalam melakukan pengamatan pada tanaman kedelai.
Berdasarkan hasil pengamatan pada parameter jumlah daun dengan berbagai
perlakuan yang telah diberikan diketahui bahwa jumlah daunnya mengalami
peningkatan mulai dari minggu ke-1 sampai ke-4. Berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan pada minggu ke-4 diketahui bahwal jumlah daun yang paling
tinggi yaitu pada perlakuan 6 ml dengan jumlah daun 78, sedangkan hasil yang
paling rendah yaitu perlakuan TSM 1 dengan jumlah daun 32. Apabila
pemupukan dengan tingkat konsentasi rendah maka hasil yang diperoleh juga
akan rendah, begitupun sebaliknya. Akan tetapi, pemberian pupuk dengan
konsentrasi yang tidak tepat akan merugikan tanaman. Konsentrasi yang terlalu
tinggi akan meracuni tanaman, sedangkan konsentrasi yang terlalu rendah tidak
akan memberikan respon yang baik bagi tanaman (Asnijar et al., 2013). Perlakuan
2 ml, 4 ml, TSM 1, Bayfolan 1, TSM 2, Bayfolan 2, Pagi 1, Pagi 2, dan Pagi 3
diketahui hasil yang fluktuatif atau terjadi pengurangan jumlah daun. Hal tersebut
kemungkinan daun berkurang karena sel-sel yang berada pada bagian daun
tersebut sudah tua atau mati sehingga terjadinya pengguguran. Farooq et al.,
(2009) berpendapat bahwa pertumbuhan dicapai dengan melalui proses
pembelahan dan pembesaran sel, diferensiasi yang mempengaruhi genetik,
fisiologis, ekologi, dan morfologi. Sel-sel pada tanaman yang telah mati akan
digantikan dengan sel-sel yang baru melalui pembelahan dan pembesaran sel
kembali sehingga akan tumbuhnya organ dari tanaman yang baru.
Berdasarkan hasil pengamatan pada parameter jumlah cabang pada tanaman
kedelai dengan berbagai perlakuan yang telah diberikan diketahui bahwa jumlah
cabang mengalami peningkatan mulai dari minggu ke-1 sampai ke-4. Berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan pada minggu ke-4 diketahui bahwal jumlah
cabang yang paling tinggi yaitu pada perlakuan 6 ml dengan jumlah cabang 22,
sedangkan hasil yang paling rendah yaitu perlakuan 0 ml, 4 ml, dan TSM 1
dengan jumlah cabang 11. Perlakuan 0 ml, 2 ml, 4 ml, TSM 1, Bayfolan 1, TSM
2, Bayfolan 2, Pagi 2, Pagi 3, dan Pagi 4 diketahui hasil yang fluktuatif atau
terjadi pengurangan jumlah cabang. Seperti halnya bagian daun, kemungkinan

besar pengurangan jumlah cabang diakibatkan oleh sel-sel yang berada pada
bagian cabang tersebut sudah tua atau mati sehingga mengalami kerontokan.
Parameter pemanenan tanaman kedelai pada acara praktikum kali ini, antara
lain jumlah polong, polong yang membuka, jumlah biji, dan berat biji (gram)
dengan masih-masing perlakuan mengambil 3 (tiga) sampel yang terbaik.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa pada
parameter jumlah polong tiap perlakuan didapati memiliki jumlah yang berbedabeda. Berdasarkan parameter berat biji diketahui bahwa pada pemberian
perlakuan pupuk anorganik bayfolan 0 6 ml yang tertinggi yaitu 4 ml sebesar
12,1 gram. Kemungkinan pemberian dosis pupuk bayfolan telah sesuai dengan
kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi sehingga dapat tumbuh dan
berproduksi dengan baik. Menurut Asnijar dkk. (2013), konsentrasi pupuk
bayfolan untuk tanaman hortikultura yaitu 1-3 g L -1. Perlakuan antara pemberian
pupuk organik (TSM) dengan pupuk anorganik (bayfolan) diketahui tertinggi pada
pemberian TSM 1 sebesar 2,2 gram. Hal tersebut kemungkinan pupuk organik
lebih mudah diserap oleh tanaman kedelai sehingga kebutuhan akan nutrisi lebih
tercukupi.
Berdasarkan parameter berat biji dengan perbandingan perlakuan TSM pada
pagi dan sore hari diketahui bahwa nilai tertinggi yaitu perlakuan TSM pada pagi
hari dengan nilai perlakuan Pagi 1 12,8 gr; Pagi 2 18,5 gr; Pagi 3 9,9 gr; dan Pagi
4 9,9 gr, sedangkan perlakuan TSM sore diketahui sebesar. Hal tersebut
kemungkinan pupuk daun yang diberikan pada tanaman kedelai lebih banyak
terserap pada waktu pagi hari, sehingga kebutuhan nutrisinya akan tercukupi dan
mengakibatkan pertumbuhan dan daya produksi yang lebih optimal. Menurut
Haryanti dan Meirina (2009), stomata akan membuka pada pagi hari karena
cahaya matahari akan merangsang sel penutup untuk menyerap ion K + dan air
serta jam biologis memicu serapan ion pada waktu pagi hari sehingga stomata
membuka, sedangkan malam hari terjadi pembasan ion yang menyebabkan
stomata menutup. Pemberian pupuk daun pada waktu sore hari tidak terlalu
dianjurkan, dikarenakan dekat dengan malam hari yang saat itu stomata akan
menutup.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum mata kuliah Teknologi Inovasi Produksi
Pertanian acara Budidaya Tanaman Kedelai Tanpa Olah Tanah, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Tingkat keefektifitas penggunaan sistem tanpa olah tanah pada tanaman kedelai
dirasa masih belum optimal, dikarenakan terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi seperti sukarnya dalam perawatan mengenai penyiangan gulma
dan pengendalian hama sehingga tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dan
berproduksi dengan maksimal.
2. Pemberian perlakuan pemupukan melalui daun pada sistem TOT pada tanaman
kedelai yang efektif yaitu menggunakan pupuk daun jenis anorganik
(Bayfolan) dengan dosis mendekati 1-3 ml/14 liter atau menggunakan pupuk
daun jenis organik (TSM) dengan dosis 8 ml/14 liter dan dilakukan pada pagi
hari.
5.2 Saran
Pada saat praktikum sebaiknya praktikan melakukan suatu perawatan yang
baik dan pengamatan yang teliti agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh
secara optimal dan mendapatkan data hasil yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Akparobi, S. O. 2013. Evaluation of Six Cultivars of Soybean Under The Soil of
Rainforest Agro-Ecological Zones of Nigeria. Scientific Research, 4(1): 6-9.
Asnijar, E., Kesumawati dan Syammiah. 2013. Pengaruh Varietas dan Konsentrasi
Pupuk Bayfolan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai
(Capsicum annum L.). Agrista, 17(2): 60-66.
Caires, E. F., F. J. Garbuio, S. Churka, G. Barth and J. C. L. Correa. 2012. Effects
of Soil Acidity Amelioration by Surface Liming on No-till Corn, Soybean,
and Wheat Root Growth and Yield. Agronomy, 28(1): 57-64.
Donald, W. W., N. R. Kitchen and K. A. Sudduth. 2011. Between-Row Mowing +
Banded to Control Annual Weeds and Reduce Herbicide Use in No-till
Soybean (Glycine max) and Corn (Zea mays). Weed Technology, 15(2): 576584.
Farooq, M., A. Wahid, N. Kobayashi and S. M. A. Basra. 2009. Plant Drought
Stress: Eects, Mechanisms and Management. Agron Sustain Dev, 29(08):
185-212.
Grandy, A. S., G. P. Robertson and K. D. Thelen. 2012. Do Productivity and
Environmental Trade-offs Justify Periodically Cultivating No-tillCropping
Systems.Agron, 98(2): 1377-1383.
Hanadyo, R., T. Hadiastono dan M. Martosudiro. 2013. Pengaruh Pemberian
Pupuk Daun Cair terhadap Intensitas Serangan Tobacco Mosaic Virus
(TMV), Pertumbuhan, dan Produksi Tanaman Tembakau (Nicotiana
tabacum L.). Hama Penyakit Tumbuhan, 1(2): 28-36.
Haryanti, S. dan Meirina, T. 2009. Optimalisasi Pembukaan Porus Stomata Daun
Kedelai (Glycine max (L.) merril) pada Pagi Hari dan Sore. BIOMA, 13(1):
11-16.
Muis, A., D. Indradewa dan J. Widada. 2013. Pengaruh Inokulasi Mikaoriza
Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max L.)
MerrillAt Various pada Berbagai Inetrval Penyiraman. Vegetalika, 2(2): 720.
Nasaruddin dan Rosmawati. 2011. Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Hasil
Fermentasi Daun Gamal, Batang Pisang, dan Sabut Kelapa terhadap
Pertumbuhan Bibit Kakao. Agrisistem, 7 (1): 29-37.
Pitojo, S. 2003. Benih Kedelai. Yogyakarta: Kanisius.

Prasetyo, R. A., A. Nugroho dan J. Moenandir. 2014.Pengaruh Sistem Olah Tanah


dan Berbagai Mulsa Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai
(Glycine max (L.) Merr.) var. Grobogan. Produksi Tanaman, 1(6): 486-495.
Rukmana, R. dan Yuniarsih, Y. 1996. Kacang Hijau Budidaya dan Pasca Panen.
Yogyakarta: Kanisius.
Sudarmono, A. S. 1997. Mengenal dan Merawat Tanaman Hias Ruangan.
Yogyakarta: Kanisius.
Supriyadi, H., Y. Koesmaryono dan L. H. Sibuce. 2011. Model Dinamika
Penilaian Kesesuaian Agroklimat Tanaman Kedelai. Agromet Indonesia, 21
(1): 55-64.
Zakiah, 2011. Dampak Impor terhadap Produksi Kedelai Nasional. Agrisep, 12(1):
1-10.