Anda di halaman 1dari 9

PERCOBAAN IX

INJEKSI AMINOPHILLIN 2,4 %


I.

Tujuan
Mahasiswa

mengetahui,

memahami,

menguasai

dan

mampu mengimplementasikan teori, konsep dan prinsip


formulasi sediaan steril.
II.

Dasar Teori
Injeksi merupakan sediaan steril yang disuntikkan
dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
selaput

lendir.

Injeksi

dapat

berupa

larutan,

emulsi,

suspensi atau serbuk steril yang harus dilarutkan atau


disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Syarat syarat obat suntik :

Aman
Harus jernih
Tidak berwarna
Sedapat mungkin isohidris
Sedapat mungkin isotonis
Harus steril
Bebas pirogen
Wadah untuk injeksi dibuat dari gelas plastik tidak boleh

bereaksi dengan obat atau mempengaruhi khasiat obat,


tidak

mengeluarkan

partikel

kecil

dan

memudahkan

memeriksa isinya.
( Anief Moh., 2008 )
Injeksi aminofilin adalah larutan steril aminofilin
dalam air untuk injeksi, atau larutan steril teofilin untuk
injeksi yang dibuat dengan penambahan etilendiamina.
Tiap ml mengandung aminofilin setara dengan tidak kurang
dari 93,0 % dan tidak lebih dari 107,0 % teofilin anhidrat,

C7H8N4O2 dari jumlah yang tertera pada etiket. Injeksi


aminofilin

boleh

mengandung

etilendiamina

berlebih,

tetapi tidak boleh ditambahkan zat lain untuk pengaturan


pH.
( Depkes RI., 1995 )
Cara sterilisasi sediaan injeksi :
a.
b.
c.
d.
steril

Pemanasan dalam autoclaf


Pemanasan dengan bakterisida
Penyaringan
Pemanasan kering
Teknik aseptik adalah cara pengurusan bahan
menggunakan

kemungkinan
seminimum

teknik

terjadinya
mungkin.

yang

dapat

cemaran
Teknik

memperkecil

kuman

hingga

aseptikdimaksudkan

digunakan dalam pembuatan injeksi yang tidak dapat


dilakukan proses sterilisasi akhir karena ketidakmampuan
zatnya.
( Depkes.RI., 1979 )
III.

ALAT DAN BAHAN


Alat : Autoclave
Inkubator
Glassware
Ampul

Baha
n:

Theophyllin

adsorben
Metilen blue
Fenol
2.0 g

Etilendiamin

0.55 g

Aqua p.i

ad 100 ml

Timbangan
Formula : R/

Theopyllin
Etilendiamin
Aqua p.i
Karbo

1. Bahan yang ditimbang


a. Theophyllin : 2,0 gram
b. Etildiamin : 0,55 gram

10 gram
100 mL

0,55 gram
x

x=

0,55 gram x 100 mL


10 gram

x = 5,5 mL
Perhitungan tonisitas
fA
MA x a +
1,5
198,18

fB
MB

x 2,0 +

x b = 0,28
1,5
78,1

x 5,5 = 0,28

0,051+0,106= 0,28

0,21 < 0,28 ( hipotonis )


NaCl yang ditambahkan
= 32 x ( 0,28 0,21 )
= 32 x 0,159
= 5,08 g/L 0,508 g / 100 mL
IV.

CARA KERJA
Dihitung tonisitas larutan yang akan dibuat

Dibuat aqua bebas CO2

Dilarutkan teofilin dengan sebagian aqua bebas CO2

Dicampurkan etilendiamin dengan sebagian aquadest

Larutan etilendiamin dimasukkan sedikit demi sedikit ke


dalam larutan theophyllin hingga jernih (pH antara 9,5-9,6)

Digojog dengan karbo adsorben 0,1% yang telah diaktifkan


selama 5-10 menit

Didiamkan kemudian disaring hingga jernih

Dimasukkan larutan ke dalam ampul dan dilas, disterilkan


pada 1200C selama 20

Diperiksa pH, kebocoran, partikel, sterilitas, pyrogen dll


Kontrol kualitas
a. Uji pH
Diambil larutan sebanyak 10 ml

Diukur pH larutan dengan pH eter yang sudah dikalibrasi

Dicatat hasilnya
b. Uji kebocoran dengan larutan warna (Dye Bath Test)
Dibuat larutan metilen blue 0,0025% b/v dalam larutan phenol
0,0025% b/v sebanyak 250 ml

Direndam ampul ke dalam larutan tersebut

Dimasukkan dalam bejana vaku sampai 70 mmHg (0,96 kg/


cm) dan dijaga selama tidak kurang dari 15 menit

Diamati hasilnya. Ampul yang bervarna biru harus dibuang


c. Uji adanya partikel asing
Dipegang lehernya sejumlah wadah (ampul, vial) yang belum
berlabel

Dibalikkan perlahan untuk mencegah terjadinya gelembung


udara kemudian putar sedikit untuk memutar isi larutan
di dalamnya. Kemudian wadah dipegang secara
horizontal

Dilakukan pemeriksaan larutan dalam wadah dengan latar


belakang hitam putih selang-seling

Dipisahkan wadah yang berisi larutan yang tercemar partikel


asing atau wadah rusak

jika jumlah wadah yang tercemar melebihi batas persyaratan,


pemeriksaan diulang atau produk ditolak
V.

Pembahasan Cara Kerja


Tonisitas larutan yang akan dibuat dihitung terlebih
dahulu yang bertujuan agar mengetahui apakah larutan
injeksi yang dibuat sudah isotonis atau belum.Kemudian
membuat air bebas CO2 . Theophyllin dilarutkan dengan
sebagian air bebas CO2. Karena hal ini berpengaruh
terhadap pH kelarutan teophyllin, karena jika larutan yang
dibuat mengandung CO2 maka larutan akan bersifat asam
yang

akan

membentuk

H2CO3

sehingga

dapat

mempengaruhi pH larutan injeksi. Kemudian mencampur


etilen

diamin

dengan

sebagian

aquadest.

Larutan

etilendiamin dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam


larutan theophyllin hingga jernih (pH antara 9,5-9,6).
Penambahan etilendiamin untuk meningkatkan kelarutan
teophyllin yang sukar larut dalam air. Larutan digojok
dengan karbo adsorben 0,1 % yang sudah diaktifkan
selama 5 10 menit, diamkan dan disaring hingga jernih.
Bertujuan untuk menyerap partikel partikel asing yang
terdapat dalam

sediaan.

Pengaktifan carbo

adsorben

dengan cara dioven. Kemudian larutan dimasukkan ke


dalam ampul sesuai volume yang diminta, ditutup dan
disterilkan dalam autoclave 1100 C selama 30 menit, atau

1200 C selama 20 menit. Metode ini dipilih berdasarkan


sifat bahan yang digunakan dan alat yang digunakan yang
tahan

terhadap

pemanasan.

Lalu,

diperiksa

larutan

terhadap : pH, kebocoran, partikel, sterilitas, pyrogen, dll.


Kontrol Kualitas
a. Uji pH
Larutan diambil sebanyak 10 mL, kemudian diukur pH
dengan pH meter yanag sudah dikalibrasi. Catat hasil
yang diperoleh.
b. Uji Kebocoran dengan Larutan Warna ( dye Bath Test )
Dibuat larutan metilen blue 0,0025 % ( b/v ) sebanyak
250 mL. Kemudian ampul injeksi theophyllin direndam di
dalamnya. Dimasukkan ke dalam bejana vakum sampai
70 mmHg ( 0,96 kg/cm2 ) dan dijaga selama tidak kurang
dari 15 menit. Hasil diamati, bila ada ampul yang
berwarna biru harus dibuang.
c. Uji Adanya Partikel Asing
Sejumlah wadah yang belum

berlabel

dipegang

lehernya, dibalik perlahan untuk mencegah terjadinya


gelembung
memutar

udara,
isi

dipegang

kemudian

larutan

secara

diputar

didalamnya.

hozontal.

sedikit

Kemudian

Pemeriksaan

untuk
wadah
larutan

dilakukan dengan menggunakan latar belakang hitam


putih selang seling. Wadah yang tercemar partikel
asing atau wadah rusak dipisah, bia wadah yang
tercemar melebihi batas persyaratan maka pemeriksaan
diulang atau produk ditolak.
VI.

PEMBAHASAN
Injeksi adalah penyemprotan larutan atau suspense
ke dalam tubuh untuk tujuan terapeutik atau diagnostic.
Bahan dasar yang digunakan adalah theophylline dan
etilendiamin. Theophylline merupakan suatu alkaloida yang
banyak terdapat pada daun teh dan memiliki sejumlah

khasiat

seperti

spasmolitik

terhadap

otot

polos,

menstimulasi jantung, stimulan SSP dan pernapasan serta


mempunyai efek diuretik lemah. Efek bronkodilatasinya
tidak berkorelasi baik dengan dosis dan memiliki indeks
terapi yang sempit.
Aminophyllin merupakan garam teofilin-etilendiamin,
yang jika berada dalam darah akan membebaskan teofilin
kembali.

Injeksi

aminophyllin

adalah

sediaan

steril

parenteral yang biasanya digunakan untuk mengatasi


serangan asma sebagai injeksi intravena. Garam ini
bersifat basa dan sangat merangsang selaput lendir,
sehingga secara oral sering mengakibatkan gangguan
lambung (mual, muntah).
Dilakukan perhitungan tonisitas larutan yang akan
dibuat. Bertujuan untuk mengetahui apakah larutan injeksi
yang dibuat sudah isotonis atau masih dalam keadaan
hipotonis ataupun hipertonis. Isotonis adalah keadaan
dimana tekanan osmosis dari larutan injeksi sama dengan
tekanan osmosis pada cairan tubuh. Apabila larutan injeksi
tidak isotonis maka dapat menyebabkan rasa nyeri karena
perbedaan tekanan osmosis larutan injeksi dengan cairan
tubuh. Tonisitas dihitung menggunakan faktor disosiasi
seperti pada perhitungan. Larutan dikatakan isotonis jika
pada perhitungan mendapatkan hasil 0,28. Dari hasil
perhitungan didapat hasil 0,121 sehingga dapat dikatakan
larutan hipotonis. Oleh karena itu perlu penambahan zat
pengisotonis. Hal ini disebabkan karena pada saat kondisi
hipotonis, konsentrasi caira dalam plasma lebih besar
dibandingkan dengan caira ekstra sel shg cairan ekstra sel
cenderung

akan

mengencrkan

mauk

plasma

ke
sel

dalam
sehingga

plasma

untuk

menyebabkan

terjadinya lisis atau pecahnya sel. Zat pengisotonis yang


digunakan Nacl sebanyak 0,508 g/ 100mL.
Pada pembuatannya, theophyllin dilarutkan dengan
sebagian aqua bebas CO2. Digunakan pelarut aqua bebas
CO2 berpengaruh pada pengukuran pH dan kelarutan
theophyllin karena jika dalam larutan terdapat CO2 maka
larutan akan bersifat asam shg membentuk H2CO3 dari
reaksi antara H2O dan CO2. Selain itu untuk meningkatkan
kelarutan theophylin digunakan juga etilendiamin yang
berfungsi

sebagai

solubilizer.

Solubilizer

adalah

zat

tambahan yang berfungsi untuk menambah kelarutan zat


aktif.pencampurn antara theophyllin dengan etilendiamin
ini kemudian membentuk garam yang disebut dengan
aminophyllin yang mudah larut dalam air.
Carbo absorben digunakan untuk menyerap partikel
partikel asing pada sediaan. Pemanasan dilakukan di
autoklaf untuk mensterilkan larutan dan ampul.
Kontrol

kualitas

sediaan

meliputi

uji

pH,

uji

kebocoran, uji pyrogen atau partikel asing. Pada uji pH


didapatkan pH setelah autoklaf adalah 8. Hasilnya tidak
memenuhi syarat karena yang diinginkan adalah pH 9,59,6. Uji kebocoran dengan merendam ampul dalam larutan
metylen blue-phenol. Hasilnya hanya ada 1 ampul yang
tidak bocor dari 3 ampul yang diuji. Uji pyrogen didapatkan
hasil dr 3 ampul yang diuji, ada 2 ampul yang mengandung
partikel asing. Hal ini disebabkan karena pada saat
pembuatan larutan tersebut tidak steril.

VII.

KESIMPULAN

Aminofilin merupakan bentuk garam dari teofilin


(teofilin-etilendiamin) dan pada darah akan kembali

terurai menjadi teofilin.


Etilendiamin berfungsi sebagai solubilizer.
Larutan injeksi yang dibuat tidak memenuhi syarat
karena terjadi perubahan pH larutan, ada partikel

VIII.

asing dan ampul masih bocor.


DAFTAR PUSTAKA
DepKes RI, 1979, farmakope Indonesia edisi III, DepKes RI :
Jakarta
DepKes RI, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, DepKes RI:
Jakarta
Anief. Moh, 2008, Ilmu Meracik Obat, Universitas Gajah
Mada Press: Jogjakarta