Anda di halaman 1dari 12

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI UMUM
TEKNIK ENUMERASI MIKROBA
Teknik Sampling & Hitungan Cawan

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

: Linggar Puri Galuh Ajeng


: 145100101111019
: A3
:A
:

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian


Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Brawijaya
2015

Tanggal Praktikum
Praktikum 3.1

23 Maret 2015
TEKNIK SAMPLING

PRELAB
1. Bagaimana cara pengambilan sampel sayuran seperti bayam, sawi yang akan dianalisis total
E.coli? Jelaskan tahapannya!
Metode I (Saraswati, 2007) :
Menyiapkan wadah erlenmeyer yang telah diaseptis.
Pisau yang akan digunakan diaseptiskan terlebih dahulu, dengan disemprot alkohol
70% dan dibakar pada bunsen.
Menyiapkan sayur bayam, sawi yang telah ditimbang seberat 5 gram, kemudian
dipotong-potong.
Memasukkan potongan sayuran kedalam 45 ml pepton.
Metode II (Pasalu, 2006) :

Menyiapkan wadah erlenmeyer yang telah diaseptis.


Pisau yang akan digunakan diaseptiskan terlebih dahulu, dengan disemprot alkohol
70% dan dibakar pada bunsen.
Memotong sayuran sawi dan bayam dengan ukuran sebesar 5 x 5 cm.
Menyiapkan cotton wool swab yang dicelupkan dalam larutan pengencer pepton.
Permukaan sayuran dioles dengan menggunakan cotton wool swab sebanyak 3 kali.

2. Jelaskan peranan teknik sampling dalam pengujian mikrobiologi? Jelaskan!

Peranan teknik sampling dalam pengujian mikrobiologi adalah untuk mendapatkan


hasil yang mewakili sampel yang akan digunakan dan untuk memudahkan dalam
melakukan analisis jumlah mikroba sampel yaitu dengan mendapatkan hasil yang
mewakili populasi sampel yang digunakan. Teknik sampling mempunyai peranan yang
besar dalam menentukan keberhasilan riset untuk menghasilkan kemampuan prediksi
yang kuat, serta generalisasi hasil riset kedalam populasi (Umar, 2005).

3. Jelaskan perbedaan tahapan pengambilan sampel cair dan padat untuk pengujian mikrobiologi?
Jelaskan tahapannya !
Sampel Cair : sebelum diambil sampel harus diaduk (dihomogenkan). Kemudian sampel diambil
sebanyak 100-500 ml, ditempatkan pada botol steril. Lalu dibawa ke laboratorium ( Wibowo, 2009).
Sampel Padat : digunakan pisau, sendok atau alat lain untuk mengambil sampel. Pengambilan
dilakukan pada permukaan maupun bagian dalam. Kemudian diamati beberapa bagian dari tempat
yang berbeda kira-kira 100 gram. Lalu ditulis tanggal pengambilan, nama sampel, dan lokasi. Lalu
dibawa ke laboratorium (Wibowo, 2009).

DIAGRAM ALIR

1. Pengambilan sampel padat


Sampel Padat
Dipotong secara aseptis sebanyak 5 gram
Dihancurkan
Dilarutkan dalam pepton 45 ml
(pengenceran 10-1)
Diinokulasikan pada cawan petri dengan metode pour dan spread
3 pengenceran terakhir (PCA, VRBA)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
Dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada media
HASIL

2. Pengambilan sampel cair

Sampel cair
(susu, sirup, dan es krim)
dihomogenisasikan
Diambil sampel sebanyak 100-500 ml
Ditempatkan di botol steril
Dibawa ke laboratorium
HASIL

3. Pengambilan sampel permukaan


Surface Slice
Dicuci dan dibilas
Diusap (swab) dengan menggunakan cotton-wool swab
3

Adhesive tape (ditempel dan ditanam ke media)


Impression plates
HASIL
4. Pengambilan sampel anaerob
Bahan (daging bagian dalam)
Dicuci dan dibilas
Diusap (swab) dengan menggunakan cotton-wool swab
Adhesive tape (ditempel dan ditanam ke media)
Impression plates
HASIL
5. Transportasi dan penyimpanan sampel
Sampel
Dipelihara hingga dilakukan tes laboratorium
Makanan yang bisa dibekukan disimpan dalam freezer menggunakan CO2 padat (solid
carbon dioxide)
Makan yang tidak dibekukan disimpan dalam refrigerator 4oC
Disimpan dalam pendingin tidak lebih dari 3 hari

6. Penanganan sampel di laboratorium

HASIL

Riwayat sampling dan transportasi serta penyimpanan


Dicatat
Diberi label (tanggal penerimaan, nama, jenis dan asal sampel)
Sampel diperiksa sesuai dengan prosedur mikrobiologi
HASIL
4

DAFTAR PUSTAKA
Pasalu, Deviyanti, Saifuddin Sirajuddin, Ulfah Najamuddin. 2006. Analisis Total Mikroba
Dan Jenis Mikroba Patogen Pada Jajanan Anak. Makasar : Universitas Hasanuddin
Makassar.
Saraswati, Rasti. 2007. Metode Analisa Biologi Tanah. Bogor : Balai Besar Penelitian Dan
Pengembangan Sumber Daya Pertanian.
Umar, Husein. 2005. Teknik Sampling. Jurnal Mikrobiologi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Wibowo, Marlia Singgih. 2009. Prinsip Dan Pelaksanaan Pengambilan Sampel (Sampling).
Bandung : ITB.
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Harmita. 2008. Buku Ajar Hayati Ed : 3. Jakarta : Kedokteran Egc
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi Jilid I. Bandung : Yrama Widya
Team Penyusun Lab Biologi. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam : Universitas Jendral Soedirman

Tanggal Praktikum
Praktikum 3.3

23 Maret 2015
HITUNGAN CAWAN

PRELAB
1. Jelaskan prinsip dari metode hitungan cawan !

Prinsip dari metode hitungan cawan adalah jumlah mikroba yang masih hidup
ditumbuhkan pada medium agar, mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk
koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan
mikroskop. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk
menghitung jumlah mikroba (Anggraini, 2010).
2. Apakah metode hitungan cawan dapat menghitung jumlah sel? Menurut anda mengapa demikian?
Jelaskan!

Tidak bisa, karena metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk
menentukan jumlah mikroba, hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut (Irianto, 2006) :
1. Hanya sel yang masih hidup saja yang dapat dihitung.
2. Bebebrapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus.
3. Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, karena koloni yang
terbentuk mungkin berasal dari suatu mikroba yang mempunyai penampakan
pertumbuhan secara spesifik.
3. Apakah yang dimaksud dengan metode pour plate dan spread plate pada hitungan cawan?
Jelaskan!

Metode pour plate : sampel yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam cawan petri,
kemudian ditambahkan agar cair steril yang telah diinginkan (47-50 oC) sebanyak 15-20
ml dan digoyangkan supaya menjadi homogen. Metode pour plate ini mempunyai
kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang lama dan bahan yang relatif banyak tetapi
tidak memutuhkan keterampilan tinggi (Tim Penyusun Lab Biologi, 2008).
Metode spread plate : dilakukan dengan menyemprotkan 0,1 ml suspensi yang telah
diencerkan ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan
spreader secara aseptis. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual,
kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal. Keunggulan spread plate adalah
memisahkan mikroba yang aerob dengan mikrob yang lainnya dan mikroba yang tumbuh
dapat tersebar secara merata pada bagian permukaan media agar (Waluyo, 2007).

4. Jelaskan prinsip pengujian biru metilen pada produk susu!

Uji reduktase metilen biru pada produk susu digunakan untuk mengukur aktifitas bakteri
yang terdapat didalam susu, dan dapat pula digunakan untuk memperkirakan jumlah
bakteri dalam produk susu. Uji reduktase ini didasarkan atas aktivitas mikroba dalam susu
sehingga menghasilkan senyawa pereduksi yang dapat mengubah warna biru pada metilen
biru menjadi warna putih jernih. Semakin lama perubahan warna dari biru menjadi putih
berarti aktivitas bakteri kecil atau jumlah bakteri sedikit dan susu mempunyai mutu yang
baik. Sehingga dalam pengujian ini dikategorikan menjadi 4, yaitu :
7

1. Mutu sangat baik jika lama reduktase lebih dari 8 jam dengan perkiraan jumlah
bakteri kurang dari 500 ribu/ml.
2. Mutu susu baik jika lama reduktase terjadi antara 6 sampai 8 jam dengan
perkiraan jumlah bakteri 1 sampai 4 juta/ml.
3. Mutu susu cukup baik jika lama reduktase terjadi antara 2 sampai 6 jam dengan
perkiraan jumlah bakteri 4 sampai 20 juta/ml.
4. Susu bermutu rendah jika lama reduktase kurang dari 2 jam dengan perkiraan
jumlah bakteri lebih dari 29 juta/ml.
(Niemi, 2009).

Paraf Asisten

Nama:

DIAGRAM ALIR

1. Sampel Daging/Ikan
Mikroba pada permukaan daging/ikan
Diswab sebanyak 3 kali
Swab direndam dalam pengencer
Swab diputar-putar dan diperas pada dinding tabung
Dilakukan pengenceran hingga 10-5
Diinokulasikan pada cawan petri dengan metode pour dan spread
3 pengenceran terakhir (SSA, NA)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
Dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada media
HASIL
2. Sampel Sayuran
Sayuran
Dipotong secara aseptis seluas 2 x 2,5 cm
Potongan dicelupkan ke dalam erlenmeyer berisi 25 ml larutan
pengencer
Dikocok sebanyak 25 kali
Dilakukan pengenceran hingga 10-4
Diinokulasikan pada cawan petri dengan metode pour dan spread
3 pengenceran terakhir (MRSA, NA)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
Dihitung koloni yang tumbuh dan dihitung jumlah koloni mikroba per cm2 permukaan
sayur
HASIL

3. Sampel Telur
a. Perlakuan bahan
Telur
9

Dicuci dengan air sabun sampai bersih, ditiriskan, dicelupkan ke dalam


alkohol 70% selama 10 menit, ditiriskan lagi
Diletakkan diatas pinggan alumunium, dipijarkan bagian ujung yang runcing
Dilubangi bagian ujung yang runcing, dilakukan diatas api sebentar, dan
dituangkan seluruh isinya ke dalam gelas piala steril
b. Pengenceran
Telur
Dipecahkan, dikocok dengan sendok atau spatula steril
Pipet 10 ml atau ditimbang 10 gram ke dalam 90 ml larutan pengencer berisi butiran
gelas, sehingga diperoleh pengenceran 10-1
Dikocok sebanyak 25 kali
Dibuat pengenceran 10-2
c. Penumbuhan
Telur
Dilakukan penumbuhan duplo
Dituangkan media cair ke dalam cawan dan digoyangkan supaya merata
Agar memadat, diinkubasi dengan posisi terbalik pada suhu 23-32oC selama 2-3 hari

Dihitung jumlah koloni yang tumbuh

HASILSampel Padat
Dipotong secara aseptis sebanyak 5 gram
Dihancurkan

4. Sampel Padat
Dilarutkan dalam pepton 45 ml
(pengenceran 10-1)
Diinokulasikan pada cawan petri dengan metode pour dan spread
3 pengenceran terakhir (PCA, VRBA)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
Dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada media

10
HASIL

5. Sampel Cair (Susu, Air Mineral)


Sampel cair
(susu, sirup, dan es krim)
Diencerkan hingga 10-1
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml akuadest yang telah
disterilisasikan
Dikocok dengan vortex
Dibuat pengenceran 10-2, 10-3 dan dilakukan duplo
Diambil masing-masing 1 ml dan ditanam dalam cawan petri dengan media
PCA yang telah disterilisasi
Diinkubasi pada suhu 30-32oC selama 2-3 hari
Dihitung koloni yang tumbuh
HASIL

11

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Sri. 2010. Populasi dan Sampel. Jurnal Kimia. Jakarta : Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia. Vol : 1.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi Jilid I. Bandung : Yrama Widya.
Niemi, R.M dan S.I Niemala. 2009. Measurment Uncertainty Microbiological Cultivatin
Methods. Berlin : University Berlin.
Tim Penyusun Lab Biologi. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. Purwokerto :
Universitas Jendral Soedirman.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Pers.
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Lay, Bibiana W, Hastowo, Sugyo. 2006. Mikrobiologi Edisi I. Jakarta : Rajawali Press
Madigan, M. T, and Martinko, J. M. 2006. Biology of Microorganisms. New Jersey :
Prentice-Hall,
Manurung, Soraya. 2011. Metode Perhitungan Mikrobiologi. Yogyakarta : Universitas Gajah
Mada
Mukhlis. 2008. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Purwoko, T. 2007. Fisiologi Mikroba. Jakarta : Penerbit PT Bumi Aksara