Anda di halaman 1dari 241

BAB E

URAIAN

TEKNIS, METODOLOGI

DAN PROGRAM KERJA

E.1. UMUM
Supaya rencana dan Spesifikasi Teknis yang telah disiapkan dan berjalan sesuai
dengan rencan maka diperlukan konsultan supervisi untuk

Pekerjaan Supervisi

Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh), secara
umum dilakukan untuk menjamin agar penyelesaian Peningkatan Embung Geunang
Uyat ini selesai tepat pada waktunya, sesuai dengan mutu yang disyaratkan, serta
tidak menyimpang dari spesifikasi yang telah ditetapkan. Dalam pekerjaan
pembangunan Peningkatan Embung Geunang Uyat ada beberapa bagian yang perlu
dipertimbangkan meliputi:

BAB E 1-1

a. Tubuh

embung

berfungsi

untuk

menutup

lembah

atau

cekungan,

sehingga air dapat tertampung di sebelah hulunya.


b. Kolam embung berfungsi untuk menampung air hujan yang masuk.
c. Kolam embung berfungsi untuk menampung air hujan yang masuk.
d. Bangunan pelimpah berfungsi untuk mengalirkan air banjir dari kolam
ke lembah dan untuk mengamankan tubuh embung terhadap peluapan.
e. Kolam jebakan air berfungsi untuk menangkap air yang tersisa pada musim
kemarau, agar air terkumpl pada kolam embung.
f. Kolam jebakan lumpur digunakan untuk menangkap sedimentasi yang
masuk ke kolam embung, agar efektifitas embung tetap terjaga.
g. Jaringan irigasi atau distribusi dapat berupa rangkaian saluran terbuka
atau pipa yang berfungsi membawa air dari kolam embung ke daerah irigasi
atau ke bak penampung air harian yang terletak dekat pemukiman (bila
hal

ini memungkinkan) secara gravitasi dan bertekanan dengan cara

pemberian air tidak kontinyu.

BAB E 1-2

E.2. PENTINGNYA KETERLIBATAN KONSULTAN SUPERVISI INDONESIA


UNTUK KOMPETENSI BIDANG EMBUNG
Di Indonesia, pembangunan embung sudah dilaksanakan dalam beberapa
dekade terakhir, baik itu embung kecil, menengah sampai dengan embung besar
dengan tingkat kesulitan yang cukup besar.
Pada hampir semua embung menengah sampai besar yang sudah dilaksanakan di
Indonesia, umumnya pelaksanaan supervisi pembangunan embung dilakukan dengan
Konsultan Supervisi utama dari Konsultan Supervisi asing dengan pendamping
Konsultan Supervisi lokal dengan kemampuan yang bisa dibilang setara, disertai
dengan alih/transfer pengetahuan selama proses konstruksi berlangsung.
Dengan makin maraknya kompetensi keahlian, dimana keahlian, kompetensi
dan kemampuan tenaga Konsultan Supervisi Indonesia dan tenaga Konsultan
Supervisi asing sudah setara, maka sudah saatnya pelaksanaan Pembangunan
Embung Geunang Uyat ini diserahkan kepada putera-putera terbaik Indonesia yang
sudah mempunyai kompetensi, kemampuan dan keahlian yang cukup memadai,
sehingga tenaga-tenaga Konsultan Supervisi Indonesia akan bisa lebih berkibar
dan bisa lebih bersaing di dunia konstruksi internasional.

BAB E 1-3

E.3. PENDEKATAN OPERASIONAL


Untuk pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat
Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh), ini CV. ROXY ENGINEERING akan melibatkan
tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan proyek Supervisi
Peningkatan Embung Geunang Uyat dan pelaksanaan embung, sesuai dengan
ketetapan personil pada Kerangka Acuan Kerja. Untuk mempertancar tugas,
pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh fasilitas penunjang berupa peralatan
yang memadai dan sistem kerja yang seefisien mungkin.

E.3.1.

Pemanfaatan Pengalaman Pekerjaan Sejenis

CV. ROXY ENGINEERING telah berpengalaman cukup dalam proyek


peningkatan embung, untuk berbagai tahapan proyek sejak dari studi kelayakan,
detail desain sampai dengan pengawasan konstruksi. Uraian detail atas pengalaman
perusahaan dalam pekerjaan yang sejenis dengan proyek pembangunan supervisi
peningkatan embung geunang uyat ini dapat dilihat pada Bab B Daftar
Pengalaman Kerja Sejenis.
Akumulasi pengalaman para Konsultan, sangat bermanfaat dalam penyusunan
strategi pendekatan dan metodologi penanganan Pekerjaan Supervisi Pelaksanaan
Pekerjaan Pembangunan embung geunang uyat. Pengendalian pekerjaan akan dapat
berjalan dengan lancar karena konsep pengendalian, metode kerja, konsep alur
BAB E 1-4

koordinasi, dan format-format pengendalian setiap tahapan pekerjaan, telah


dimiliki oleh Konsultan Supervisi berdasarkan akumulasi pengalaman tersebut,
seperti akan diuraikan dalam subbab-subbab berikut.

E.3.2.

Koordinasi

Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, CV. ROXY ENGINEERING akan selalu


berhubungan

dengan

Direksi

Pekerjaan,

Direksi

Pekerjaan

Lapangan

dan

Kontraktor Pelaksana sebagai Pelaksana Pekerjaan Konstruksi. Kordinasi dengan


pihak-pihak yang terkait akan sangat diperlukan demi kelancaran pelaksanaan
pekerjaan, mulai dari tahap Pra Konstruksi, Pelaksanaan Konstruksi maupun Pasca
Konstruksi.

E.3.3.

Tenaga Ahli yang sesuai

Tenaga Ahli merupakan unsur utama dalam pekerjaan Supervisi Peningkatan


Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh). Agar diperoleh hasil
kerja yang baik CV. ROXY ENGINEERING akan menempatkan tenaga ahli dari
berbagai disiplin ilmu sesuai dengan kerangka acuan kerja dan yang sudah
berpengalaman dalam menangani proyek-proyek embung yang sejenis. Untuk
menangani pekerjaan ini CV. ROXY ENGINEERING memilih tenaga ahli yang
memenuhi kriteria sebagai berikut:
BAB E 1-5

Mempunyai

latar belakang

pendidikan

yang

sesuai

dengan

bidang

tugasnya,

mempunyai kemampuan yang baik terhadap bidang tugasnya,

mempunyai latar belakang pengalaman kerja bidang embungan,

bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Tenaga Ahli


yang akan ditugaskan untuk menangani proyek ini akan dipimpin oleh seorang
Pimpinan Tim (Team Leader) yang akan membawahi sejumlah tenaga ahli, dan
tenaga pendukung.

E.3.4.

Sistem Manajemen Proyek

Pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat


(Otsus Aceh) yang akan dilaksanakan oleh Kontraktor. Hubungan interkoneksi
antara satu pihak/pekerjaan dengan yang lainnya yang sangat kompleks dimana
target waktu penyelesaian suatu pekerjaan dapat mempengaruhi sebagian atau
seluruh target yang telah ditetapkan menjadi dasar pemikiran pentingnya
menetapkan suatu Sistem Manajemen Proyek yang komprehensif.
Sistem Manajemen Proyek harus dibentuk sebagai sarana pencapaian target
pelaksanaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat
(Otsus Aceh) yaitu mendapatkan suatu produk yang memenuhi kualitas, tepat

BAB E 1-6

waktu, dan tepat biaya (ekonomis). Untuk itu sistem manajemen proyek yang telah
ditetapkan harus diterapkan secara tegas dan konsekwen.
Untuk menjaga agar progres kerja tetap dalam schedule dalam keadaan
mutu terkendali, selamat dan ekonomis, dan untuk mengatur progress dan schedule
pekerjaan yang terkait, suatu manajemen proyek yang baik harus dipilih dengan
memperhatikan program kerja, monitoring progres/pekerjaan, melaksanakan rapat
koordinasi dengan seluruh pihak, kontrol pekerjaan tambah, kontrol potensi klaim,
dan memberikan rekomendasi teknis yang cepat dan tepat terhadap permasalahan
lapangan yang timbul.
Manajemen proyek selama proses supervisi dan konstruksi merupakan fungsi dari
pada monitoring, perencanaan dan kontrol dari Proyek, sehingga proyek dapat
selesai dengan kualitas yang memadai, tepat waktu dan tepat biaya.
Kendali mutu akan diwujudkan melalui memeriksa dan menyetujui Gambar
Konstruksi, Gambar Kerja dan Shop Drawing yang diajukan oleh Kontraktor
Pelaksana Pelaksana, inspeksi harian dan supervisi terhadap kegiatan konstruksi
melalui kendali pekerjaan yang akan dicapai dengan perantara Spesifikasi, proses
pengujian/testing/start-up/pengoperasian awal peralatan. Metode pengendalian
mutu akan dijelaskan dalam pasal pasal selanjutnya.
Kendali waktu akan diwujudkan dalam bentuk kendali rencana/program konstruksi
yang diajukan Kontraktor Pelaksana Pelaksana, pengajuan gambar Konstruksi oleh
BAB E 1-7

Engineer, rencana waktu kerja yang diajukan Kontraktor Pelaksana Pelaksana yang
kemudian akan direview oleh Konsultan Supervisi dan rekomendasi teknis selama
proses konstruksi, review metode konstruksi dan manajemen harian melalui
inspeksi harian dan supervise pekerjaan, yang akan diuraikan lebih lanjut dalam
pasal berikut.
Kontrol terhadap biaya konstruksi akan diwujudkan melalui pengecekan dan
pengukuran harian terhadap semua dimensi sebagaimana yang tertera pada
Gambar Konstruksi dengan dasar Spesifikasi Teknis, pencatatan yang baik
terhadap progress pembayaran dan proses surat menyurat, pemahaman/
interpretasi yang benar terhadap item pembayaran sebagaimana tercantum dalam
Dokumen Kontrak. Hal-hal tersebut akan dikemukakan lebih lanjut dalam pasal
berikut.
Sistem Manajemen Proyek yang akan diterapkan adalah yang berbasis
komputer (Computer Based Project Management Sistem) untuk memenuhi
berbagai keperluan sebagaimana diuraikan diatas. dan akan terdiri antara lain :
Data base korespondensi, Database Gambar-Gambar, Sistem Monitoring Kemajuan
Pekerjaan, dan Sistem Kontrol Biaya, dan lain-lain.
1. Database korespondensi
Sistem ini akan dioperasikan dengan software yang umum terdapat, dengan
fungsi utama:
BAB E 1-8

memonitor tanggapan dari waktu ke waktu yang memerlukan


tanggapan dari Engineer,

untuk mengurut korespodensi berdasarkan kategori, nomor surat,


judul, atau sumbemya,

mempersiapkan list korespodensi yang dilampirkan pada progress


kerja,

2. Database Gambar-Gambar
Sistem ini, akan dioperasikan dengan software yang umum, dengan
fungsiutama antara lain:

Untuk mengidentifikasikan status Gambar-Gambar (construction


drawing/shop drawing/fabrication drawing, as built drawing) mulai dari
penerimaan,

persetujuan,

pengiriman

kembali,

perbaikan,

untuk

memonitor proses antara persiapan dan kelengkapan gambar

Untuk membuat urutan sesuai dengan kategori, tanggal dan judul.

3. Sistem Monitoring Kemaiuan Pekerjaan


Sistem ini, bisa mempergunakan program yang umum dipakai mulai dari
Excel, Microsoft Project, Timeline, Primavera atau program lain yang
sejenis, dengan tujuan:

BAB E 1-9

Untuk menganalisa dan memonitor kemajuan pekerjaan Kontraktor


Pelaksana Pelaksana yang dibuat dalam bentuk CPM maupun Bar Chart,

Untuk

mempersiapkan

dan

memonitor

rencana

kerja

secara

keseluruhan dan dikombinasikan dengan schedule dengan skala yang lebih


detail.

4. Sistem Kontrol Biaya


Sistem ini bisa diperasikan dengan Microsoft Excel atau program sederhana
lainnya dengan tujuan :

Untuk membuat database mengenai volume pekerjaan dan progress


kemajuan konstruksi yang meliputi biaya untuk perlode waktu bulanan
dengan jumlah yang diakumulasikan sesuai dengan yang tertera dalam Bill
of Quantity,

Untuk mempersiapkan besaran progres biaya konstruksi yang sudah


dicapai oleh Kontraktor Pelaksana Pelaksana dan membandingkannya
dengan volume awal yang tertera pada BOQ,

Untuk mempersiapkan besaran volume pekerjaan tambah (apabila ada)


untuk mempersiapkan backup untuk keperluan klaim dari Kontraktor
Pelaksana Pelaksana.

BAB E 1-10

Konsultan Supervisi Supervisi akan merencanakan, mempersiapkan dan


menerapkan Sistem Manajemen Proyek sejak tahap awal pekerjaan. Untuk dapat
menerapkan sistem manajemen proyek ini, harus dibentuk struktur organisasi dan
diadakan rapat-rapat koordinasi gabungan seperti akan dijelaskan dalam sub bab
di bawah ini.

E.3.4.

Pertemuan (Rapat)

Untuk memfasilitasi manajemen proyek, rapat-rapat koordinasi akan


dilaksanakan antara Konsultan Supervisi, Dinas Pengairan Aceh, Kontraktor
Pelaksana Pelaksana dan berbagai pihak/instansi lain yang terkait dan sesuai
keperluan, dengan berbagai tujuan rapat.

1. Rapat Koordinasi
Tujuan rapat ini adalah untuk membahas masalah-masalah yang timbul
berkaitan dengan rencana kerja pelaksanaan, sasaran proyek dan program
kerja. Rapat ini dihadiri oleh pihak Pemberi Tugas, Konsultan Pengawas,
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Pihak Kedua dan pihak-pihak lain
yang terkait dengan pekerjaan.
2. Rapat Lapangan

BAB E 1-11

Tujuan rapat ini adalah untuk membahas semua masalah teknis yang timbul
dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan. Rapat ini dihadiri oleh staf/wakil
dari Pemberi Tugas, Konsultan Pengawas yang bertugas di lapangan, Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Pihak Kedua dan pihak-pihak lain yang
terkait dengan pekerjaan.
3. Rapat Intern Konsultan
Rapat ini akan dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan personil yang
terkait baik yang ada di kantor maupun lapangan. Tujuan rapat ini adalah
untuk mengevaluasi dan mencari pemecahan atas penyimpangan/perubahan
dari perencanaan semula yang mungkin terjadi di lapangan menyangkut
substitusi bahan, metode pelaksanaan, serta untuk melengkapi kekurangan
detail perencanaan.

E. 4. TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN


Tahap pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat
Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh) ini secara keseluruhan adalah :

1.

TAHAP 1
Pada tahap ini pekerjaan yang bisa ditangani untuk kegiatan dari
Konsultan Supervisi adalah:
BAB E 1-12

1. Pekerjaan Design, diantaranya:


1.

Pengukuran daerah embung & tapak embung (seting out )


Kegiatan pengukuran & setting out dilakukan untuk mendapatkan
gambaran detail kondisi awal tapak bangunan embung dan daerah
genangan, sehingga dapat diketahui apabila terjadi perubahan
antara design konstruksi dengan kondisi eksisting site. Selain itu
gambaran kondisi awal tersebut juga digunakan untuk estimasi
volume konstruksi yang akan dilaksanakan serta estimasi perilaku
daerah genangan berkaitan dengan proses sediment transport di
Embung geunang uyat kab. Aceh Barat.
Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan dibiayai oleh
Konsultan Supervisi di bawah tanggung jawab ketua tim dan
Tenaga inspector. Pelaksanaan kegiatan ini waktunya bisa dioverlap-kan

dengan

kegiatan

review

desain

dan

kegiatan

investigasi geoteknik.

2.

Review Desain
Kegiatan investigasi geologi diperlukan untuk cek ulang terakhir
kondisi geologi tapak bangunan sebelum dilakukan pelaksanaan
konstruksi. Sehingga bisa diketahui apabila terjadi perbedaan
BAB E 1-13

dengan desain. Investigasi geologi dilakukan pada tapak konstruksi


diversion dan konstruksi lokasi tapak spillway. Selain pengeboran
inti, investigasi geologi juga akan melakukan uji test pit untuk
mencari material borrow area untuk timbunan tubuh embung.
Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan dibiayai oleh
Konsultan Supervisi di bawah tanggung jawab Ketua Tim,

dan

Inspector.

2. TAHAP 2
Pekerjaan pada tahap dua ini yaitu lanjutan pekerjaan fisik dimulai dari
konstruksi cofferdam, pekerjaan pondasi, instrumentasi, galian dan
timbunan.
Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:
1.

Lanjutan konstruksi diversion


Pekerjaan konstruksi diversion pada Tahap II ini merupakan lanjutan
pelaksanaa dari Tahap I.
Tenaga Ahli Embung akan dibantu dengan Tenaga Ahli Kontruksi
dalam pengawasan pelaksanaan konstruksi diversion tersebut.

2.

Clearing tapak embung

BAB E 1-14

Kegiatan ini merupakan pembersihan tapak lokasi embung utama


termasuk dengan cofferdam. Pembersihan ini dilakukan untuk
menghilangkan top soil eksisting di tapak konstruksi terutama dari
material organik yang ada.
3.

Galian pondasi tubuh embung


Galian pondasi yang dimaksud adalah galian untuk menyiapakan
konstruksi pondasi tubuh embung termasuk kontruksi cofferdam.
Rencana galian pondasi dilaksanakan sesuai dengan design termasuk
pelaksanaan perbaikan pondasi dengan mengganti tanah galian dengan
timbunan material pilihan (selected material) yang menjadi pondasi
dari tubuh embung.

Ketua Tim Ahli Bendungan dibantu dengan Inspector akan bertanggung


jawab terhadap pelaksanaan galian pondasi dan perbaikan tanah pondasi
tubuh embung tersebut.
4.

Konstruksi horizontal drain


Merupakan fasilitas dalam tubuh embung untuk mematuskan aliran
seepage (rembesan). Konstruksi horizontal drain merupakan hamparan
material yang mempunyai nilai permeabilitas cukup besar (maksimal 10-3),
dalam hal ini adalah material pasir atau kerikil.

BAB E 1-15

5.

Konstruksi cofferdam
Kontruksi cofferdam merupakan satu kesatuan sistem fungsi dengan
konstruksi diversion, dimana konstruksi cofferdam yang dibuat dari
timbunan tanah homogen fungsinya adalah untuk menahan serta
melindungi area lokasi tubuh embung dan mengarahkan aliran sungai
eksisting menuju ke saluran diversion. Rencananya sesuai dengan design,
konstruksi cofferdam dibuat menyatu dengan konstruksi tubuh embung
sehingga proses dan metode pelaksanaannya harus sesuai dengan kriteria
pelaksanaan konstruksi tubuh embung.
Dalam pelaksanaan ini Tenaga Ahli Embung bertanggung jawab terhadap
kuantitas, kualitas dan waktu konstruksi yang dilaksanakaan oleh
Kontraktor Pelaksana Pelaksana.

6.

Pemasangan instrumentasi di pondasi embung


Adapun beberapa peralatan instrumentasi yang akan dipasang setelah
palaksanaan perbaikan pondasi tubuh embung dan horizontal drain, sesuai
dengan kebutuhan adalah :
-

Instrument piezometer untuk pondasi, untuk mengetahui tekanan air


pori di pondasi tubuh embung mengingat kondisi geologi eksisting
adalah soft soil. Tujuannya pembacaan tekan air pori tersebut (pure

BAB E 1-16

water pressure) guna menentukan proses penimbunan bertahap


(stagging process)
-

Inklinometer multilayer, untuk mengetahui pergerakan horizontal


tubuh embung.

Settlement plate, untuk mengetahui besar penurunan selama masa


konstruksi

yang

berkaitan

dengan

volume

material

timbunan

terpasang.
7.

Timbunan tubuh embung


Konstruksi tubuh embung merupakan kegiatan yang cukup kompleks
dalam proses pelaksanaannya yang melibatkan banyak kegiatan dan
banyak personil, dimana di dalam kegiatan tersebut termasuk di
dalammnya adalah:
-

kegiatan pemilihan dan pengambilan material timbunan dari borrow


area ke lokasi tapak tubuh embung.

Proses penghamparan material timbunan

Proses pemadatan material tubuh embung per layer

Inspeksi kepadatan timbunan (sandcone test)

Kegiatan ini diawasi inspector khusus untuk timbunan tubuh embung.

BAB E 1-17

8.

Konstruksi beton spillway termasuk galian pondasi


Konstruksi spillway merupakan bagian penting dari sistem embung, yang
berfungsi untuk melimpaskan debit banjir yang masuk dalam waduk.
Bangunan spillway dibuat dari konstruksi beton dengan karakteristik
tertentu. Pada tahap ke II ini, pelaksanaan pekerjaan konstruksi spillway
di mulai dari bagian hulu, yaitu lantai apron dinding spillway dan spillway.
Metode dan tahapan pekerjaan konstruksi spillway adalah :
-

Galian pondasi sesuai dengan peil rencana serta perbaikan struktur


tanah pondasi apabila diperlukan

Pemasangan under drain (perforated drain) untuk minimalisasi gaya


uplift

Konstruksi lantai kerja (beton mutu B-0)

Pembesian beton dan pemasangan bekisting

Pengecoran atau pembetonan

Tenaga Ahli Konstruksi di bantu dengan Pengawas Pekerjaan dan Quality


Enginner akan bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan
konstruksi spillway.

BAB E 1-18

3. TAHAP 3
Pekerjaan pada tahap III ini, yaitu lanjutan pekerjaan fisik dari tahap II,
dimulai dari timbunan tubuh embung, intake, bangunan pelimpah,
instrumentasi, dan bangunan fasilitas lainya.
Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:
1.

Timbunan tubuh embung


Pada tahap III pelaksanaan pekerjaan timbunan tubuh embung
merupakan lanjutan dari pekerjaan pada tahap II. Adapun proses dan
tahapan pekerjaan sama dengan pada tahap II

2.

Pembetonan spillway
Pada tahap III konstruksi spillway merupakan lanjutan dari pekerjaan
konstruksi spillway sebelumnya, pada tahap ini akan dilaksanakan
konstruksi pada salauran transisi, saluran peluncur dan kolam olak
termasuk saluran outlet/ tailrace. Proses dan tahapan pelaksanaan
pekerjaan sama dengan kegiatan konstruksi spillway pada tahap ke II.

Diharapkan sesuai dengan jadwal pelaksanaan konstruksi pelaksanaan


pekerjaan spillway sudah bisa diselesaikan 100% pada tahap ke III ini.
3.

Konstruksi Intake
Konstruksi intake merupakan bangunan pengambilan air dari waduk,
konstruksi

ini

direncanakan

dari

konstruksi

beton.

Proses

dan

BAB E 1-19

pelaksanaan pekerjaan ini sama dengan pekerjaan pada konstruksi


spillway.
4.

Pipa Intake
Instalasi pipa intake merupakan bagian dari bangunan intake, namun pada
konstruksi ini material yang akan dipasang adalah pipa galvanis lengkap
dengan aksesorisnya termasuk pintu/gate yang diperlukan.
Tenaga Ahli Konstruksi dan Mechanical Engineer akan bertanggung jawab
terhadap pengawasan pada pekerjaan tersebut.

5.

Bangunan Fasilitas Embung


Yang dimaksud dengan bangunan pelengkap embung antara lain adalah :
-

Bangunan Rumah Dinas

Bangunan Rumah Jaga

Bangunan Menara Sadap (Intake Tower)

Rumah Pintu Katup

Gardu Pandang

Kantor Pengelola dan lainnya

Dimana bangunan-bangunan seperti tersebut di atas akan dilaksanakan


sesuai dengan design dan akan langsung diawasi oleh Konsultan Supervisi.

BAB E 1-20

4. TAHAP 4
Pekerjaan pada tahap empat ini, yaitu lanjutan pekerjaan fisik dari tahap
tiga, dimulai pekerjaan dari

timbunan tubuh embung, intake, bangunan

pelimpah, instrumentasi, dan bangunan fasilitas lainya. Diharapkan pada


tahap terakhir ini 5 bulan sebelum kontrak berakhir pekerjaan kegiatan
konstruksi sudah selesai dilaksanakan, sehingga Konsultan Supervisi
Supervisi bisa membuat Laporan MC ke Pengguna Jasa untuk serah terima
pekerjaan.
Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:
1.

Pengukuran genangan dan tapak embung


Pekerjaan ini bersifat kontrol terhadap tapak lokasi bangunan-bangunan
yang telah dilaksanakan

2.

Pengadaan quickbird
Pengadaan foto udara pada lokasi embung sesaat setelah di konstruksi

3.

Instrumentasi
Pemasangan instrumentasi yang dilaksanakan setelah tubuh embung
selesai dilaksanakan adalah :
-

Instrument standpipe piezometer, untuk mengetahui ketinggian aliran


rembesan di dalam tubuh embung. Dipasang di bagian lereng hulu dan
bagian lereng hilir tubuh embung.
BAB E 1-21

Patok geser tubuh embung


Tenaga

Ahli

Instrumentasi

akan

bertanggung

jawab

terhadap

pengawasan dan pemasangan instrumentasi tersebut,


4.

Pekerjaan tubuh embung


Pada tahap IV ini pelaksanaan pekerjaan tubuh embung bersifat
bangunan-bangunan pelengkap, seperti pemasangan blok beton untuk rip
rap di bagian lereng tubuh embung bagian hulu, gebalan rumput di lereng
sebelah hilir, saluran V- Notch dan lain-lain.

5.

Intake dan pipa intake


Pekerjaan ini merupakan lanjutan dari pekerjaan system intake yang
dilakukan pada tahap ke III

6.

Pembuatan Manual OP dan Imponding


Pembuatan Laporan Manual O&P merupakan bagian dari pelaksanaan
pengawasan kegiatan konstruksi embung setelah pelaksanaan selesai.
Selain membuat laporan terhadap konstruksi yang telah dibuat, pada
kegiatan ini juga akan mengumpulkan data-data dan laporan hasil bacaan
instrumentasi yang telah dipasang pada awal konstruksi. Hal tersebut
dilakukan untuk mengetahui perilaku tubuh embung setelah konstruksi
selesai dilaksanakan berkaitan dengan kondisi tanah pondasi (penurunan)
dan rembesan.
BAB E 1-22

Konsultan Supervisi Supervisi selaku perwakilan Direksi Pekerjaan di


lapangan berkewajiban untuk melakukan pengawasan dan pengujian kuantitas
dan kualitas konstruksi dengan berpedoman kepada spesifikasi teknis yang
telah ditetapkan pada saat tahap perencanaan detail Embung Geunang Uyat.

E. 5. PENDEKATAN TEKNIS
E. 5.1. Review Data / Laporan dan Gambar Desain yang ada
Segera setelah memobilisasi personil, Konsultan Supervisi akan melakukan
pengenalan kondisi lokasi pekerjaan untuk mendapatkan gambaran umum akan
kondisi topografi, lingkungan area kerja dan lainnya yang dapat membantu
Konsultan Supervisi memahami karakteristik proyek.
Selanjutnya Konsultan Supervisi akan melakukan review atas semua data, laporan
perencanaan terakhir, dan gambar-gambar desain yang ada. Hal ini akan mutlak
dilakukan agar para tenaga ahli dari Konsultan Supervisi yang terlibat dapat
memahami secara teknis pekerjaan yang akan dihadapi.
Kontrak konstruksi dengan Kontraktor Pelaksana Pelaksana juga akan segera
dipelajari untuk dapat mengerti persyaratan dan kondisi kontrak konstruksi yang
berlaku pada proyek ini.

BAB E 1-23

Dari hasil review ini juga Konsultan Supervisi akan memberi rekomendasi
pekerjaan tambahan (jika ada) yang pengadaannya mungkin akan dilakukan secara
sublet seperti disyaratkan dalam KAK.

E. 5.2. Memeriksa dan Menyetujui Jadwal Pelaksanaan


Dengan mempertimbangkan karakteristik, skala dan lingkup pekerjaan maka
dibutuhkan suatu metode monitoring jadwal yang sistematik dan menguraikan
inter-relasi antar kegiatan pekerjaan/aktifitas sehingga dimungkinkan diambil
langkah langkah pencegahan/ koreksi untuk menjaga kemajuan pekerjaan secara
keseluruhan. Untuk kepertuan ini, metode Critical Path Method Network (CPM
Network) adalah metode yang paling sesuai dalam menyusun jadwal pelaksanaan.

Berdasarkan Condition of Particular Application, maka dalam waktu pelaksanaan


selama 168 (seratus enam puluh delapan ) hari kalender Kontraktor Pelaksana
Pelaksana wajib menyerahkan Jadwal Pelaksanaan menyeluruh atas semua
pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam pembangunan Embung Geunang Uyat ini.
Konsultan Supervisi Supervisi akan memeriksa secara detail ketepatan, kebenaran
inter-relasi setiap aktifitas pekerjaan, dan jalur-jalur kritis (critical path) yang
terjadi selama berlangsungnya pekerjaan.

BAB E 1-24

Jadwal pelaksanaan akan didiskusikan dalam suatu rapat yang harus dihadiri oleh
Pemberi Tugas, Kontraktor Pelaksana Pelaksana dan Konsultan Supervisi dan
pihak-pihak lain yang berkepentingan. Selanjutnya akan ditetapkan Keydates /

milestone atas pekerjaan-pekerjaan utama. Untuk pembangunan Embung Geunang


Uyat ini yang merupakan pekerjaan yang berjangka waktu panjang, sangat
dipengaruhi oleh kondisi cuaca atau banyak peralatan/ equipment dari pekerjaan
Hydromechanical yang perlu pemesanan dan fabrikasi dalam waktu lama, maka
penetapan keydates/milestone sebagai sasaran antara berguna untuk mengontrol
kepastian ketepatan jadwal pelaksanaan keseluruhan.
Keydates/milestone untuk pekerjaan pembangunan Embung Geunang Uyat dapat
berupa penetapan:
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan saluran pengelak (diversion

channel),
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan bendungan utama (main dam),
Pekerjaan-pekerjaan penting lainnya

Jadwal pelaksanaan secara keseluruhan beserta keydates/milestone selanjutnya


akan dituangkan dalam sebuah Berita Acara dan mengikat pihak Pemberi Tugas
dan Kontraktor Pelaksana Pelaksana. Selanjutnya monitoring dan pengendalian
kemajuan pekerjaan Kontraktor Pelaksana Pelaksana dilakukan berdasarkan jadwal
BAB E 1-25

pelaksanaan

tersebut. Penilaian kemajuan pekerjaan Kontraktor

Pelaksana

Pelaksana berikut konsekwensinya (denda, pengalihan pekerjaan, pemutusan


kontrak, dll) seperti diurai dalam Condition of Particular Applicationdan General

Condition dapat dilakukan berdasarkan keydates/milestone yang telah disepakati.


Kondisi perkembangan pekerjaan sepanjang waktu pelaksanaan dapat berubah
akibat perubahan atau variasi pekerjaan atau akibat situasi lainnya. Hal ini
mengakibatkan CPM network haruslah selalu diperbaharui dan dipertahankan upto-date, sesuai dengan perkembangan atau kondisi pekerjaan yang ada agar selalu
dapat menjadi sarana pengendalian kemajuan pekerjaan.
Selanjutnya, Kontraktor Pelaksana Pelaksana juga harus menyerahkan dokumendokumen sebagai berikut :
1.

Program kerja detail untuk 3 (tiga) bulan ke depan dalam bentuk bar chart

2.

Construction method secara detail

3.

Daftar construction plant yang akan didirikan dan skedulnya

4.

Estimasi kebutuhan total tenaga kerja (labour) yang dibutuhkan

5.

Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana Pelaksana

Berdasarkan CPM network yang telah disetujui, Konsultan Supervisi Supervisi akan
memeriksa ketepatan dokumen-dokumen tersebut.

BAB E 1-26

E. 5.2. Memeriksa dan Menyetujui Jadwal Pelaksanaan


Dengan mempertimbangkan karakteristik, skala dan lingkup pekerjaan maka
dibutuhkan suatu metode monitoring jadwal yang sistematik dan menguraikan
inter-relasi antar kegiatan pekerjaan/aktifitas sehingga dimungkinkan diambil
langkah langkah pencegahan/koreksi untuk menjaga kemajuan pekerjaan secara
keseluruhan. Untuk kepertuan ini, metode Critical Path Method Network (CPM
Network) adalah metode yang paling sesuai dalam menyusun jadwal pelaksanaan.

Berdasarkan Condition of Particular Application, maka dalam waktu 6,0 (enam


koma nol) bulan Kontraktor Pelaksana Pelaksana wajib menyerahkan Jadwal
Pelaksanaan menyeluruh atas semua pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam
pembangunan

Embung Geunang Uyat

ini. Konsultan Supervisi Supervisi akan

memeriksa secara detail ketepatan, kebenaran inter-relasi setiap aktifitas


pekerjaan, dan jalur-jalur kritis (critical path) yang terjadi selama berlangsungnya
pekerjaan.
Jadwal pelaksanaan akan didiskusikan dalam suatu rapat yang harus dihadiri oleh
Pemberi Tugas, Kontraktor Pelaksana Pelaksana dan Konsultan Supervisi Supervisi
dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Selanjutnya akan ditetapkan Keydates /

milestone atas pekerjaan-pekerjaan utama. Untuk pembangunan Embung Geunang


Uyat

ini yang merupakan pekerjaan yang berjangka waktu panjang, sangat


BAB E 1-27

dipengaruhi oleh kondisi cuaca atau banyak peraiatan/equipment dari pekerjaan


Hydromechanical yang perlu pemesanan dan fabrikasi dalam waktu lama, maka
penetapan keydates/milestone sebagai sasaran antara berguna untuk mengontrol
kepastian ketepatan jadwal pelaksanaan keseluruhan.
Keydates/milestone untuk pekerjaan pembangunan Embung Geunang Uyat dapat
berupa penetapan:
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan saluran pengelak (diversion

channel),
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan bendungan utama (main dam),
Pekerjaan-pekerjaan penting lainnya

Jadwal pelaksanaan secara keseluruhan beserta keydates/milestone selanjutnya


akan dituangkan dalam sebuah Berita Acara dan mengikat pihak Pemberi Tugas
dan Kontraktor Pelaksana Pelaksana. Selanjutnya monitoring dan pengendalian
kemajuan pekerjaan Kontraktor Pelaksana Pelaksana dilakukan berdasarkan jadwal
pelaksanaan

tersebut. Penilaian kemajuan pekerjaan Kontraktor

Pelaksana

Pelaksana berikut konsekwensinya (denda, pengalihan pekerjaan, pemutusan


kontrak, dll) seperti diurai dalam Condition of Particular Applicationdan General

Condition dapat dilakukan berdasarkan keydates/milestone yang telah disepakati.

BAB E 1-28

Kondisi perkembangan pekerjaan sepanjang waktu pelaksanaan dapat berubah


akibat perubahan atau variasi pekerjaan atau akibat situasi lainnya. Hal ini
mengakibatkan CPM network haruslah selalu diperbaharui dan dipertahankan upto-date, sesuai dengan perkembangan atau kondisi pekerjaan yang ada agar selalu
dapat menjadi sarana pengendalian kemajuan pekerjaan.
Selanjutnya, Kontraktor Pelaksana Pelaksana juga harus menyerahkan dokumendokumen sebagai berikut :
1. Program kerja detail untuk 3 (tiga) bulan ke depan dalam bentuk bar chart
2. Construction method secara detail
3. Daftar construction plant yang akan didirikan dan skedulnya
4. Estimasi kebutuhan total tenaga kerja (labour) yang dibutuhkan
5. Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana Pelaksana
Berdasarkan CPM network yang telah disetujui, Konsultan Supervisi Supervisi akan
memeriksa ketepatan dokumen-dokumen tersebut.

E. 5.3. AS Buiil Drawing


As built drawing adalah gambar bangunan setelah dinyatakan selesai 100%
(mutual check 100%), gambar ini disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana dengan
acuan dan ukuran sesuai dengan hasil pemeriksaan di lapangan. Gambar yang di

BAB E 1-29

buat secara detail ini harus diserahkan Kontraktor Pelaksana kepada pemberi
tugas, yang kemudian atas prosedur harus dilakukan pemeriksaan oleh Konsultan
Supervisi terlebihdahulu, dan bila terdapat keraguan maka harus dilakukan
pengechekan kembali dilapangan. Dan bila memang ada ketidak sesuaian, maka
Kontraktor Pelaksana harus memperbaikinya. As Built drawing ini tidak saja
menunjukkan gambar yang tampak tetapi juga harus menunjukkan bangunan

substructure (bangunan bawah tanah/ tertanam). As Built drawing ini harus


diserahkan sebelum Provisional hand over (PHO).
Manfaat As built drawing ini adalah bila setelah Final Hand Over (FHO) pada
bangunan tersebut memerlukan perubahan/ rehabilitasi/ renovasi, maka dengan
adanya as built drawing ini akan lebih memudahkan dalam menentukan jenis/
bentuk perubahannya dan akan sangat membantu bila disuatu saat akan ada
bangunan baru di sekitamya, maka akan lebih mudah untuk diketahui stabilitasnya
akan terganggu apa tidak. Oleh karena itu as built drawing ini harus tersimpan
dengan baik.

E. 6. METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN


Setelah mempelajari Dokumen lelang berikut spesifikasi yang direncanakan
yang telah dijelaskan pada Aanwijzing kantor serta Aanwijzing lapangan. Dengan

BAB E 1-30

memperhitungkan waktu pelaksanaan yang tersedia maka kami dapat membuat


Metode Pelaksanaan yang nantinya akan dijadikan pedoman penyelesaian pekerjaan
yang akan kami lakukan :

a. Pekerjaan Pendahuluan
Terbagi atas beberapa kegiatan pekerjaan yaitu :
Berkaitan dengan Direksi
1. Mengadakan rapat persiapan pelaksanaan (Pre ward Meeting)dimana rapat
ini

dilaksanakan

selambat&lambatnya

hari

sejak

tanggal

diterbitkannya SPMK. Beberapa hal yang biasanya disepakati dalam


rapat adalah :
Organisasi Kerja
Tata cara pengaturan pekerjaan
Jadwal pelaksanaan pekerjaan
Jadwal pengadaan bahan
Mobilisasi peralatan dan personil
Penyusunan rencana pemekrisaan lapangan
Waktu sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah
setempat
Penyusunan program mutu
BAB E 1-31

2. Mengajukan rencana Mutu kontrak (Quality Plan)


3. Persiapan penerapan prosedur pelaksanaan audit mutu internal dan prosedur
kaji ulang manajemen
4. Persiapan kontrak dan seluruh administrasi kontrak

Tujuan rapat ini adalah untuk :


Team Building : membangun tim proyek agar seluruh petugas

sesuai

dengan struktur organisasi dan uraian kerja., memahami benar tugas


yang menjadi tanggung jawab masing masing personil.
Menyamakan persepsi tentang jadwal% kualitas dan anggaran proyek.
Menyatukan

langkah

agar

masing-masing

unit

tidak

berjalan

sendiri&sendiri dalam pelaksanaan proyek.


Menetapkan SOP (Standard Operating Sistem)
Agenda rapat adalah sebagai berikut :
1.

Penjelasan menyeluruh dari manejer proyek tentang :


- Target Biaya proyek
- Target waktu penyelesaian proyek
- Target mutu yang sudah ditetapkan

2.

Target kerja jangka pendek

3.

Pembagian tugas pekerjaan


BAB E 1-32

4.

Menyusun SOP (Standar Operating Sistem)

5.

Membuat Perencanaan Site Plan


yang

termasuk

dalam

perencanaan

site

plan

pada

p r i n s i p n y a a d a l a h perencanaan tata letak atau lay out


dari

fasilitas&fasilitas

yang

diperlukan

selama pelaksanaan

proyek, fasilitas tersebut antara lain :


a.

Kantor proyek/direksi keet

b.

Gudang material (strorage)

c.

Base camp proyek dan barak pekerjaan

d.

Los kerja

e.

Penempatan peralatan

Dalam membuat lay out untuk pekerjaan persiapan ini, perlu


diperhitungkan

secara

cermat

penempatan

masing&masing fasilitas dan sarana yang diperlukan


untuk

pelaksanaan

proyek.

Dengan

memperhatikan

k o n d i s i lapangan yang ada dan disesuaikan dengan proyek yang


akan dikerjakan, penempatan fasilitas dan sarana proyek nantinya akan
dapat berfungsi secara optimal sesuai perencanaan.

BAB E 1-33

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan lay out


fasilitas dan sarana yang diperlukan untuk pelaksanaan suatu proyek
antara lain :
Menempatkan semua fasilitas proyek diluar dari bagian areal
proyek

yang

akan

dikerjakan

sedemikian

rupa

a g a r t i d a k m e n g g a n g g u pelaksanaan proyek.
Menempatkan

material

material

yang

harus

t e r l i n d u n g d a r i c u a c a seperti > Semen ditempatkan dalam


gudang tertutup
Menempatkan los kerja tidak jauh dari penumpukan material.
Menempatkan barak kerja dan base camp staf proyek yang
tidak jauh dari lokasi proyek
6.

Pembuatan Shop Drawing


Shop drawing atau gambar kerja merupakan acuan bagi pelaksanaan
pekerjaan dilapangan. Dengan adanya gambar kerja, maka pekerjaan
lapangan menjadi mudah dilaksanakan dan terkendali secara teknis baik dari
segi waktu maupun mutu kerja. Gambar kerja dibuat dengan berpedoman
pada perencanaan.

7.

Pengadaan Material untuk pekerjaan persiapan

BAB E 1-34

Untuk pekerjaan persiapan belum begitu banyak membutuhkan material,


terutama hanya untuk kebutuhan pembuatan perakitan kantor proyek,
kantor konsultan / pengawas, gudang, barak kerja, base camp staf dan
lainnya.
8.

Persiapan Jadwal Waktu Pelaksanaan (Time Schedule) untuk Pedoman


Pelaksanaan

9.

Pembuatan dan pemasangan plank proyek

10.

Mobilisasi

seluruh

tenaga

yang

dibutuhkan sesuai

dengan schedule

tenaga.
11.

Mobilisasi Bahan/Material

Sebelum kami memasukkan material kami akan menyusun schedule material


terlebih dahulu Jumlah volume bahan yang kami masukkan sesuai dengan jumlah
kebutuhan yang sudah diestimasi untuk seluruh penyelesaian pekerjaan.

Setiap bahan yang didatangkan kelokasi proyek harus sesuai dengan kualitas yang
direncanakan. Kami akan menugaskan bagian Quality Control untuk memeriksa
seluruh material yang didatangkan ke proyek sesuai dengan persetujuan Direksi
lapangan.

BAB E 1-35

Bahan dan material yang didatangkan kelokasi proyek juga dicatat dan
didokumentasikan kedalam buku material Record.
b. Pekerjaan Persiapan
Pengukuran/ Uzetten
Pada pelaksanaan pengukuran ini kami akan menyediakan tenaga juru ukur
yang telah berpengalaman dalam proyek.

Atas persetujuan Direksi kami akan menyiapkan titik tetap pembantu (Neut)
untuk digunakan sebagi titik utama dalam pelaksanaan dan pemeriksaan.
Jumlah titik tetap ini akan disiapkan sebanyak kebutuhan dan petunjuk
teknis dari direksi pengawas.
Titik tetap pembantu ini kami buat sedemikian rupa agar kedudukannya
tidak berubah.
Teknis pelaksanaan :
1. Menyediakan Patok dan pemasangan patok untuk menentukan elevasi sebagai
pedoman kerja selanjutnya.
2. Pembersihan lahan
3. Penggambaran

BAB E 1-36

1. Foto Dokumentasi

Foto Dokumentasi
Foto dokumentasi ini dilakukan pada awal pelaksanaan pekerjaan, saat
pertengahan/pekerjaan sedang dilakukan dan pada saat pekerjaan telah
selesai dikerjakan ( 0%, 50%, 100%)

Pengambilan foto dokumentasi untuk pekerjaan dilakukan pada titik dan arah yang
sama agar bisa dilihat keadaan sebelum dan sesudah pekerjaan selesai
dilaksanakan.

2. Mobilisasi dan Demobilisasi Alat Berat


Sebelum mendatangkan excavator ke lokasi pekerjaan ada hal hal yang
perlu dipersiapkan untuk kelancaran pelaksanaan dan acces masuk ke lokasi
proyek.

Menetapkan jumlah alat yang akan didatangkan

Menentukan ruas jalan yang akan dilewati

Melakukan sosialisasi dengan pemilik lahan untuk acces road.

BAB E 1-37

Setelah semua dipersiapkan dengan matang, maka alat didatangkan dari pool
alat dan diangkut menggunakan truck tronton ke lokasi.
Alat diturunkan di daerah yang agak luas dan bebas macet. Saat menurunkan
alat pengawas, operator dan mekanik harus benar benar memperhatikan kondisi
alat dan kondisi truck tronton agar tidak terjadi kecelakaan kerja.

Selanjutnya excavator bergerak kearah lokasi pekerjaan dengan melewati


jalan setapak dan rintisan jalan yang sudah mendapatkan persetujuan pemilik lahan.
Saat rolling alat harus mendapatkan pengawalan mekanik, pelaksana dan pengawas
sehingga alat benar benar sudah bisa sampai kelokasi pekerjaan dengan selamat
dan stand by untuk melakukan kegiatan. Jika terjadi kerusakan baik tanaman dan
bangunan masyarakat setempat akibat pekerjaan mobilisasi ini, maka kami akan
siap menanggulanginya dari pihak penyedia jasa.

Sementara untuk pekerjaan Demobilisasi, alat akan dikembalikan ke pool


alat setelah pekerjaan benar benar selesai dan mendapatkan persetujuan direksi.

3. Kisdam dan Dewatering


Pekerjaan pemasangan kisdam ini dilaksanakan setelah pekerjaan galian
tanah berbatu selesai dikerjakan. Tanggul tanggul dibuat dari batuan yang
BAB E 1-38

disusun serta dipasang karung plastik yang diisi tanah dan pasir. Selanjutnya
karung karung plastik tersebut disusun memanjang sepanjang daerah yang
akan dikeringkan. Selanjutnya bagian tengah antara karung dan karung
tersebut diisi dengan tanah sebagai tanggul kisdam untuk menghindari agar
kisdam benar benar bisa kering dari rembesan air.

Pekerjaan ini dibantu dengan alat pompa air untuk pengeringan setelah
kisdam

tersebut dipasang. Pengeringan dilaksanakan selama dibutuhkan

saat pemasangan batu kali, plester dan pekerjaan beton dalam air.

4. Pembuatan dan Pemasangan Slogan dari rangka / plat baja


Papan nama proyek bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat
perihal tentang proyek yang sedang dilaksanakan.

5. Pengadaan,Penanaman, Pemupukan dan Pagar Tanaman Penghijauan


Penanaman dilakukan setelah pekerjaan selesai sesuai dengan intruksi yang
telah ditetapkan.

b. Pekerjaan Jalan Masuk ke Lokasi / Acces Road


1. Pek. Galian tanah dengan menggunakan alat berat
BAB E 1-39

Untuk pekerjaan galian tanah dengan menggunakan alat berat membutuhkan


tenaga seperti operator arat berat dan mandor. Sedangkan peralatan yang
kami pergunakan seperti Excavator. excavator melakukan kegiatan galian
tanah sesuai gambar yang disyaratkan dalam spesifikasi teknis. Kapasitas
produksi alat excavator dihitung mengacu kepada perhitungan P.5 dengan
memperhitungkan semua job factor termasuk factor kesulitan serta umur
ekonomis alat berat yang akan mengurangi kapasitas produksi serta dapat
memperhitungkan tingkat keberhasilan pekerjaan ini.Untuk mengetahui
ataupun galian tersebut siap maka kami akan meminta izin dari Direksi
pekerjaan tersebut, apakah pekerjaan dapat dilanjutkan atau tidak.

2. Pek. Galian tanah dengan tenaga manusia


Pekerjaan galian tanah biasa ini akan kami mulai pelaksanaannya dengan
melakukan pemasangan bouplank terlebh dahulu. Untuk pemasangan bouplank
ini akan dilakukan secara bersama sama dengan direksi pada lokasi yang
telah ditetapkan dalam MC0. Sehingga nanti akan didapat Actual Check
sesuai dengan yang telah direncanakan. Setelah dilaksanakan pemasangan
bouplank

maka

pekerjaan

galian

akan

segera

kami

mulai

setelah

mendapatkan izin pelaksanaan dari pengawas lapangan. Untuk pekerjaan


galian tanah biasa ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga
BAB E 1-40

manusia seperti pekerja dan mandor. Sedangkan peralatan yang kami


pergunakan seperti linggis , cangkul, keranjang batu serta linggis dan baling.
Untuk mengetahui ataupun galian tersebut siap maka kami akan meminta izin
dari Direksi pekerjaan tersebut, apakah pekerjaan dapat dilanjutkan..

3.

Pek. Galian timbunan bekas galian


Pekerjaan timbunan tanah dilaksanakan pada tahap akhir pekerjaan.
Pekerjaan dengan manual ini dilakukan dengan cara bertahap lapis demi lapis
lalu dipadatkan atau ditimbris dengan alat yang terbuat dari besi atau beton
atau bahan lain yang beratnya + 15 Kg. sesuai dengan Spesifikasi Teknik dan
petunjuk Direksi.

4.

Urugan sirtu da dipadatkan

1.Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan urugan sirtu bawah lantai seperti
yang disebutkan/ditunjukkan pada gambar.
2.Urugan bawah pondasi tebal 10 cm atau sesuai gambar dipasang dalam
kondisi padat.

BAB E 1-41

3.Urugan sirtu dilaksanakan diatas lantai existing/dibawah lantai baru


dengan ketebalan disesuikan dengan gambar kepadatan urugan didapatkan
dengan cara disiram air sampai jenuh.
4.Lapisan pekerjaan diatas urugan pair/sirtudapat dikerjakan bila mendapat
persetujuan dari pihak Direksi Lapangan.
5. Pasangan Batu Kali camp. 1 : 4
Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan setelah pekerjaan galian tanah
siap dilaksanakan. Sebelum memulai pekerjaan pemasangan batu kali harus
ada izin dari pihak pengawas pekerjaan dan untuk mengambil foto
dokumentasi sebagai bukti nyata. Pekerjaan pasangan batu kali 1 : 4 ini
dilaksanakan dengan secara manual dengan menggunakan tenaga pekerja,
tukang batu , kepala tukang batu dan mandor. Bahan bahan yang akan dipakai
didatangkan terlebih dahulu dan bahan tersebut harus bersih . Dalam
melakukan adukan spesi dipergunakan Beton Molen untuk mendapatkan hasil
adukan yang lebih baik dan merata, air yang digunakan untuk pengadukan
spesi harus bersih dan tidak terkontaminasi oleh zat lain yang dapat
merusak kualitas pekerjaan dan supaya mutu pekerjaan yang direncanakan
tercapai. Sebaiknya dalam setiap kali pemasangan , pengawas pekerjaan
lapangan harus berada dilokasi pekerjaan atau yang mewakili untuk

BAB E 1-42

mengikuti lancarnya pekerjaan sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan


rencana.

Adapun material sebagai campuran yang akan kami gunakan untuk pekerjaan
ini adalah :

Batu kali adalah batu gunung, berongga dan keras dengan tegangan
komprensi minimum 400 Kg/m2

Pasir yang akan kami gunakan untuk pasangan batu kali adalah pasir
sungai yang bersih, berbutir keras dan tidak terkontaminasi oleh zat
lain yang dapat merusak mutu pekerjaan.

Semen yang kami gunakan adalah semen PC type I

Air yang digunakan adalah air yang bersih.

Batu dipasang sesuai benang profil agar pasangan benar benar lurus dan
rapi. Tidak dibenarkan ada peraduan antara batu dengan batu lainnya,
Semua rongga batu ditutupi dengan semen campuran dan tidak boleh ada
lobang

besar

yang

menganga. Sementara setiap akan meninggalkan

pekerjaan pasangan harus ditutup dengan kertas semen, untuk menjaga agar
pasangan batu tidak mengering dan bersentuhan langsung dengan sinar
BAB E 1-43

matahari. Dan setiap akan memulai pekerjaan kembali maka sambungan


dibersihkan terlebih dahulu dan disiram dengan air semen (acian).

6. Pekerjaan Plesteran camp. 1 : 3


Untuk pelaksanaan pekerjaan plesteran camp. 1 : 3 terlebih dahulu harus
ada izin dari pengawas pekerjaan lapangan. Pekerjaan ini harus dilaksanakan
dengan serapi mungkin dan sebaiknya menggunakan rol. Pekerjaan ini
dilaksanakan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia seperti :
pekerja, tukang batu, kepala tukang batu dan mandor yang trampil dan
memakai alat bantu seperti cangkul, sekop, sendok semen. Untuk pengadukan
spesi maka kita akan membuat bak takaran, material yang digunakan harus
bersih. Dan pekerjaan siap untuk dimulai sesuai dengan spesifikasi yang
diminta.

Semua

sambungan

sambungan

dan

permukaan

batu

harus

dibersihkan dan dibasahi terlebih dahulu. Terakhir kita harus mengambil


foto dokumentasi lagi.
7. Pengadaan dan Pemasangan Pipa Resapan PVC 2 inch + ijuk
Pengadaan pipa dilakukan sebelum pipa resapan dipasangkan sesuai dengan
spesifikasi dan instruksi dari pengawas.

BAB E 1-44

8. Beton mutu K-225.


Setelah pembesian selesai dan disetujui oleh pengawas barulah pelaksanaan
pekerjaan beton dimulai, dan bahan yang dipakai sudah ada dilokasi. Material
yang dipakai sesuai dengan spesifikasi dan bebas dari segala kotoran.
Setelah itu material dengan komposisi yang tepat diaduk dengan mesin
pengaduk. Lama pengadukan dengan molen lebih kurang 2-4 menit. Kemudian
adukan diangkut dengan gerobak sorong atau dengan bak adukan ketempat
lokasi pekerjaan. Untuk pemadatan beton tersebut dipakailah vibrator agar
tidak ada celah celah udara pada bidang beton tersebut yang akan
mengakibatkan beton keropos. Untuk masa pemeliharaan beton harus selalu
disiram/ dibasahi agar tahap perkerasannya stabil.

9. Pekerjaan Pembesian
Pembesian disini besi yang dipakai harus memenuhi syarat dan spesifikasi
teknis sebab besi disini digunakan untuk tulangan beton maka ukuran yang
akan

dipasang

penyimpanan

disesuaikan
bahan

logam

dengan
ini

Peraturan

harus

Beton Indonesia. Dan

diperhatikan

sebab

waktu

pemasangannya tidak boleh ada karat ataupun organik lainnya supaya beton

BAB E 1-45

tetap homogen dengan baja tulangan. Adapun ketentuan lain yang harus
diperhatikan adalah :

Besi tulangan untuk beton harus seperti ditunjukkan dalam gambar dan
memenuhi PBI 71.

Tulangan

harus

dibersihkan

sesaat

sebelum

pemasangan

untuk

menghilangkan kotoran, lumpur, karat dan percikan adukan atau lapisan


lain yang dapat mengurangi atau merusak perelat dengan beton.

Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat


pengikat sehingga tidak tergeser waktu operasi pengecoran.

Besi tulangan bulat biasa, harus sesuai dengan ketentuan standar.

Besi tulangan harus mempunyai diameter dan penampang melintang sama


disetiap bagian besi tulangan itu. Diameter rata rata besi tulangan
yang digunakan dilokasi pekerjaan tidak boleh lebih besar atau lebih
kecil dari 2 (dua) persen diameter yang telah ditentukan. Besi tulangan
harus bersih dari serpihan, minyak, kotoran dan cat cat pembuatannya.

Pemotongan dan pembengkokkan tulangan mengikuti daftar yang dibuat


terlebih dahulu berdasarkan gambar kerja yang sudah disetujui oleh
Direksi.

Pembengkokkan

tulangan

harus

dilakukan

diatas

meja

pembengkokkan dengan menggunakan kunci penekuk yang cocok dengan


BAB E 1-46

setiap besi tulangan serta harus mengikuti aturan dan pemasangan


penyusunannya harus sesuai dengan gambar kerja / kontrak.

Tekukan besi tidak boleh retak dan apabila pada saat pembengkokkan terjadi
keretakan pada tekukan, maka besi harus diganti, Sambungan besi / overlap ujung
sambungan besi harus paling sedikit 40 x diameter besi.

10. Cetakan Beton ( bekisting)


Setelah Pasangan batu kali selesai maka kami mulai menyiapkan bekisting,
namun sebelum pekerjaan beton cor dilaksanakan kita harus membuat
cetaknnya dengan kayu yang sesuai dengan kelas kayu yang tercantum dalam
kontrak / bestek. Dibuat dari kayu lapis harus kuat/kaku tidak berubah
sampai dibuka dan tidak bocor dengan ketentuan sebagai berikut :

Bekisting dan perancah dapat dibuat dari kayu yang cukup kokoh untuk
mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan
dan perawatannya.

Kayu yang tidak dihaluskan dapat dipergunakan pada permukaan yang


tidak tampak pada struktur akhir, sedangkan untuk permukaan beton

BAB E 1-47

yang tampak harus menggunakan kayu yang dihaluskan dengan tebal dan
merata.

Bekisting dan perancah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat


dibongkar tanpa merusak beton.

11. Penyediaan dan pemasangan gebalan rumput.


1.

Setelah pekerjaan timbunan tubuh embung selesai, tubuh embung


bagian hilir diberi gebalan rumput agat tidak longsor.

2.

Sebelum penanaman rumput tanah harus dibuat gembur terlebih


dahulu dengan cara menyiram dan memberi pupuk organik atau
anorganik

3.

Kemudian Dibiarkan beberapa hari baru gebalan rumput diletakkan di


atas muka tanah yang telah diolah sebelumnya.

4.

Gebalan rumput berupa lembaran segi empat dengan ukuran 30 x 30


cm, dan meletakannya agar tidak bergeser dariposisinya maka
digunakan tusuk bambu.

E. 7. Pemasangan ruji, batang pengikat dan tulang pelat


A.

Ruji (Dowel)
Ruji harus terbuat dari batang baja polos dan memenuhi spesifikasi
untuk batang polos AASHTO M 31-81, AASHTO M 42-81 atau
BAB E 1-48

AASHTO M 31-81. Ruji harus polos, tidak kasar atau tidak memiliki
tonjolan sehingga tidak mengurangi kebebasan pergerakan ruji dalam
beton. Apabila digunakan topi pelindung muai yang terbuat dari logam
(metal expansion cap pelindung tersebut harus menutupi bagian ujung
ruji dengan jarak 5 cm - 7 cm. Pelindung harus memberikan ruang
pemuaian yang cukup, dan harus cukup kaku sehingga pada waktu
pelaksanaan tidak rusak.
Batang ruji harus ditempatkan di tengah ketebalan pelat. Kepadatan
beton di sekeliling ruji harus baik agar ruji bisa berfungsi secara
sempurna. Bagian batang ruji yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi
dengan bahan pencegah karat. Sesudah bahan pencegah karat kering,
maka bagian ini harus dilapisi dengan dengan cat atau diolesi dengan
bahan anti lengket sebelum ruji dipasang pelindung muai. Ujung
batang ruji yang dapat bergerak bebas harus dilengkapi dengan
tupi/penutup topi pelindung muai. Pelapis ruji dari jenis plastik atau
jenis lain dapat digunakan sebagai pengganti bahan anti lengket.
Ruji atau batang pengikat dan komponen perlengkapan ruji seperti
dudukan untuk penyangga tulangan, yang diletakkan pada pondasi
bawah harus cukup kuat untuk menahan pergeseran atau deformasi
sebelum dan selama pelaksanaan.
BAB E 1-49

B.

Pemasangan dudukan ruji


Dudukan ruji harus ditempatkan pada lapis pondasi bawah atau tanah
dasar yang sudah dipersiapkan. Perlengkapan ruji harus ditempatkan
tegak lurus sumbu jalan, kecuali ditentukan lain pada Gambar
Rencana. Ruji harus ditempatkan dengan kuat pada posisi yang telah
ditetapkan

sehingga

tekanan

beton

tidak

akan

mengganggu

kedudukannya. Pada tikungan yang diperlebar, sambungan memanjang


pada sumbu bangunan harus diatur sedemikian rupa sehingga
mempunyai jarak sama dari tepi-tepi pelat.
Susunan batang ruji dan dudukannya harus dipasang pada garis dan
elevasi yang diperlukan dan harus dipegang kuat pada posisinya
dengan menggunakan patok-patok. Apabila susunan batang ruji dan
dudukannya dibuat secara bagian demi bagian maka susunan tersebut
harus merupakan satu kesatuan.
C.

Batang pengikat (Tie Bars)


Batang pengikat harus terbuat dari batang baja ulir yang memenuhi
spesifikasi untuk batang tulangan, mutu minimum BJTU-24 dan
berdiameter minimum 16 mm. Apabila digunakan batang pengikat dari
jenis baja lain, maka baja tersebut harus dapat dibengkokkan dan
diluruskan kembali tanpa mengalami kerusakan.
BAB E 1-50

D.

Tulangan
Baja tulangan harus bebas dari kotoran, minyak, lemak atau bahanbahan organik lainnya yang

bisa mengurangi lekatan dengan beton

atau yang dapat menimbulkan kerugian lainnya. Pengaruh karat, kerak,


atau gabungan dari keduanya terhadap ukuran, berat minimum, serta
sifat-sifat fisik yang dihasilkan melalui pengujian benda uji dengan
sikat kawat, tidak memberikan nilai yang lebih kecil dari yang
disyaratkan.
1)

Persyaratan bahan
Jenis baja tulangan dan perlengkapannya harus sesuai dengan
spesifikasi sebagai berikut :
a. Baja tulangan berbentuk anyaman dari kawat yang memenuhi
persyaratan AASHTO M 35-81, atau AASHTO M 221-81 untuk
tulangan dari kawat baja berulir;
b. Anyaman batang baja yang memenuhi AASHTO M 54-81;
c. Batang tulangan harus memenuhi persyaratan AASHTO M 4281 dan AASHTO M 53-81.

2)

Pemasangan tulangan
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemasangan
tulangan adalah sebagai berikut :
BAB E 1-51

a. Pada perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan,


tulangan harus terdiri atas anyaman kawat di las atau anyaman
batang baja; Lebar dan panjang anyaman kawat atau anyaman
batang baja harus diatur sedemikian rupa, sehingga pada waktu
anyaman tersebut dipasang, kawat/batang baja yang paling luar
terletak 7,5 cm dari tepi/sambungan pelat.
b. Batang-batang baja pada setiap persilangan harus diikat kuat.
Batang-batang baja yang disambung, bagian ujung-ujungnya
harus berimpit dengan panjang tidak kurang dari 30 kali
diameternya.
c. Anyaman batang baja yang dibuat di pabrik dengan cara
mengelas pada tiap persilangan batang-batang tersebut, bagian
ujung-ujung batang memanjang harus berimpit dengan panjang
minimal 30 kali diameternya; Pola anyaman harus sedemikian
rupa sehingga batang-batang baja harus mempunyai jarak tidak
kurang dari 5 cm.
d. Ujung lembar anyaman kawat baja harus ditumpang tindihkan
sebagaimana yang tercantum

pada Gambar Rencana. Lembar

anyaman harus diikat kuat untuk mencegah pergeseran;

BAB E 1-52

e. Apabila pelat (slab) dibuat dengan dua kali mengecor, maka


permukaan lapis pertamaharus

rata dan terletak pada

kedalaman tidak kurang dari 5 cm di bawah permukaan akhir


pelat. Tulangan ditempatkan di atas lapis pertama pengecoran;
Penghamparan lapisan pertama harus mencakup seluruh lebar
pengecoran dengan panjang yang cukup untuk memungkinkan
agar anyaman dapat digelar pada posisi

akhir tanpa terjadi

kelebihan penulangan yang terlalu jauh. Untuk mencegah


pergeseran, anyaman tulangan yang berdampingan harus diikat;
Dalam pengecoran lapisan berikutnya, adukan dituangkan di
atas tulangan. Untuk jangka waktu tertentu permukaan beton
lapis pertama tidak boleh dibiarkan terbuka lebih dari 30
menit, terutama pada keadaan cuaca panas atau berangin.
Selama

penghamparan pemasangan tulangan harus selalu

diperiksa

dan

apabila

dipandang

perlu

harus

dilakukan

perbaikan.
f. Pada perkerasan beton semen menerus dengan tulangan, maka
tulangan harus dipasang sedemikian dengan kedalaman selimut
beton adalah tebal pelat + 2,5 cm dan tulangan melintangnya
tidak boleh terletak di bawah tengah-tengah tebal pelat. Pada
BAB E 1-53

beton

dengan

penghamparan

satu

lapis,

tulangan

harus

diletakkan pada dudukan agar pada saat pengecoran tulangan


tersebut dapat ditahan pada posisi yang telah ditentukan;
Bahaya kerusakan sambungan tulangan pada umur muda dapat dikurangi
dengan cara mengatur pola sambungan secara miring atau bertangga dari
satu tepi perkerasan ketepi lainnya seperti terlihat pada Gambar 5.
Batang baja yang disambung, bagian ujungnya harus berimpit satu sama
lainnya dengan panjang minimum 30 kali diameternya, tetapi tidak boleh
kurang dari 40 cm.

E. 7. 1 .

Prosedur Pengawasan Pekerjaan Pembetonan

Beton yang dihasilkan harus memenuhi kekuatan sesuai dengan yang ditentukan
dalam perencanaan. Kandungan udara harus masih dalam batas yang dianjurkan
sesuai dengan ukuran agregat dan daerah di mana beton akan digunakan. Beton
harus mempunyai faktor air semen yang tidak lebih besar dari yang dianjurkan
untuk mengatasi kondisi lingkungan yang mungkin terjadi.
A.

Sifat-sifat beton semen


Campuran beton yang dibuat untuk perkerasan beton semen harus memiliki
kelecakan yang baik agar memberikan kemudahan dalam pengerjaaan tanpa

BAB E 1-54

terjadi segregasi atau bliding dan setelah beton mengeras memenuhi


kriteria kekuatan, keawetan, kedap air dan keselamatan berkendaraan.
a)

kadar air dan kandungan udara;

Kadar air harus dijaga serendah mungkin (dalam batas kemudahan kerja)
untuk mendapatkan beton yang padat dan awet dengan kandungan udara
yang sesuai dengan persyaratan.
b)

mutu agregat;

Untuk mendapatkan kualitas beton yang diinginkan mutu agregat harus tetap
dijaga.
c)

bahan tambah (Admixtures);

Bahan tambah baru boleh digunakan hanya apabila sudah dilakukan penilaian
dan pengujian lapangan yang teliti.
d) kekesatan.
Faktor air semen yang rendah sangat membantu dalam mempertahankan
kekesatan permukaan perkerasan beton.
B.

Bahan beton semen

a)

Sumber bahan
Bahan yang digunakan harus berasal dari sumber yang telah diketahui dan
dibuktikan telah memenuhi persyaratan dan ketentuan dalam pedoman ini,
baik mutu maupun jumlahnya. Bila kondisi setempat tidak memungkinkan,
BAB E 1-55

maka

dapat

dilakukan

perubahan/penyesuaian

terhadap

persyaratan

tersebut tanpa mengurangi mutu hasil pekerjaan.


b)

Agregat
Persyaratan mutu
Agregat yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) mutu agregat sesuai SK SNI S-04-1989-F;
b) ukuran maksimum agregat harus
1/3 tebal pelat atau jarak bersih
minimum antar tulangan.
Cara pengelolaan
agregat harus dikelola untuk mencegah pemisahan butir, penurunan mutu,
pengotoran atau pencampuran antar fraksi dari jenis yang berbeda. Bila bahan
mengalami pemisahan butir, penurunan mutu atau pengotoran, maka sebelum
digunakan harus diperbaiki dengan cara pencampuran dan penyaringan ulang,
pencucian atau cara-cara lainnya
agregat harus dibentuk lapis demi lapis dengan ketebalan maksimum 1,0 m.
Masing-masing lapis agar ditumpuk dan dibentuk

sedemikian rupa dan

penumpukan lapisan berikutnya dilakukan setelah lapisan sebelumnya selesai dan


dijaga agar tidak membentuk kerucut
agregat yang berbeda sumber dan ukuran serta gradasinya tidak boleh di
satukan
BAB E 1-56

semua agregat yang dicuci harus didiamkan terlebih dahulu minimum 12 jam
sebelum digunakan
waktu penumpukan lebih dari 12 jam harus dilakukan untuk agregat yang
berkadar air tinggi atau kadar air yang tidak seragam
pada waktu agregat dimasukkan ke dalam mesin pengaduk, agregat tersebut
harus mempunyai kadar air yang seragam
agregat halus/pasir harus diperiksa kadar airnya. Volume agregat yang
mempunyai kadar air bervariasi lebih dari 5%, harus dikoreksi. Pada penakaran
dengan berat, banyaknya agregat setiap fraksi harus ditimbang terpisah.
Agregat harus diperiksa kadar airnya, berat agregat yang mempunyai kadar air
bervariasi lebih dari 3% harus dikoreksi.
Semen
Semen yang akan digunakan untuk pekerjaan beton semen harus sesuai dengan
SNI 15-2049-1994. Semen harus dipilih dan diperhatikaan sesuai lingkungan
dimana perkerasan digunakan serta kekuatan awalnya harus cukup untuk
pemotongan sambungan dan ketahanan abrasi permukaan.
Cara penyimpanan semen harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :
i.

semen disimpan di ruangan yang kering dan tertutup rapat

BAB E 1-57

ii.

semen ditumpuk dengan jarak setinggi minimum 0,30 meter dari

lantai

ruangan, tidak menempel /melekat pada dinding ruangan dan maksimum


setinggi 10 zak semen
iii.

tumpukan zak semen disusun sedemikian rupa sehingga tidak terjadi


perputaran udara di antaranya dan mudah untuk diperiksa

iv.

semen dari berbagai jenis/merk harus disimpan secara terpisah sehingga


tidak mungkin tertukar dengan jenis/merek yang lain

v.

semen yang baru datang tidak boleh ditimbun di atas timbunan semen yang
sudah ada dan penggunaannya harus dilakukan menurut urutan pengiriman

vi.

apabila mutu semen diragukan atau telah disimpan lebih dari 2 bulan maka
sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu bahwa semen tersebut
memenuhi syarat

vii.

pada penggunaan semen curah, suhu semen harus kurang dari 70 0 C

Semen produksi pabrik dalam kantong yang telah diketahui beratnya tidak
perlu ditimbang ulang. Semua semen curah harus diukur dalam berat.

BAB E 1-58

Gambar 5.8.. Gudang Penyimpanan Semen


Air
Air yang digunakan untuk campuran atau perawatan harus bersih dan bebas
dari minyak, garam, asam, bahan nabati, lanau, lumpur atau bahan-bahan lain
yang dalam jumlah tertentu dapat membahayakan. Air harus berasal dari
sumber yang telah terbukti baik dan memenuhi persyaratan sesuai SK SNI S04-1989-F.

BAB E 1-59

Air harus diukur dalam volume atau berat dengan alat ukur yang mempunyai
akurasi 2%.
Akurasi alat ukur harus diperiksa setiap hari.
Bahan tambah (Admixtures)
Penggunaan bahan tambah dapat dilakukan untuk maksud :
i.

kemudahan pekerjaan (workability) yang lebih tinggi, atau

ii.

pengikatan beton yang lebih cepat, agar penyelesaian akhir (finishing),


pembukaan acuan dan pembukaan jalur lalu-lintas dapat dipercepat, atau

iii.

pengikatan yang lebih lambat, misalnya pada pembetonan yang lebih jauh

Proporsi bahan tambah dalam campuran harus didasarkan atas hasil percobaan.
Setiap bahan tambah yang digunakan harus memenuhi spesifikasi sebagai
berikut :
a)
b)

SNI 03-2495 1991 Bahan tambah untuk beton;


SNI

03-2496-1991

Spesifikasi

bahan

tambah

pembentukan

gelembung udara;
c)

ASTM C-618 Spesifikasi untuk Fly Ash atau Calcined Natural


Pozzolan yang digunakan dalam Beton Semen Portland;

d)

AASHTO M 144-78 Spesifikasi untuk Calcium Chloride.

BAB E 1-60

Beberapa jenis bahan tambah dan kegunaannya seperti diperlihatkan pada


Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Jenis dan kegunaan bahan tambah
No

Jenis

Kegunaan

Maksud

Air

Kemudahan pengerjaan

Memasukkan gelembung

Entrainment

kedap

udara (0,03 -

air

dan

keawetan.

0,08 mm) secara merata


ke dalam beton.

Water

Mempertahankan slump

Mengurangi

Reducer

dan

air dan semen.

kemudahan

penggunaan

pengerjaan
3

Retarder

Menyesuaikan

waktu

pelaksanaan

Memperlambat

waktu

pengikatan.

pembetonan.
4

Accelerator

Kuat awal tinggi dalam

Mempercepat

waktu relatip singkat.

pengikatan.

waktu

Tidak boleh digunakan


bersamaan

dengan

Air Entrainment.

BAB E 1-61

No

Jenis

Kegunaan
Sering

Maksud

mengandung

Calcium
Chlorida

yang

menimbulkan

korosi

dan

alkali-

reaksi

agregat.
Catatan :
Lebih

aman

bila

digunakan :
-

Semen

kuat

awal

tinggi.
- Beton mutu tinggi.
- Pemanasan uap.
5

Plasticizer

Meningkatkan

Bila proporsi campuran

kemudahan dan mutu

dan

pengerjaan

kurang

baik,

(workability).

kurang

workable.

Bila

bentuk

jarak

agregat
adukan

tulangan

BAB E 1-62

No

Jenis

Kegunaan

Maksud
rapat.

C.

Lain-lain

Mengendalikan

Pozolan

dalam

suhu

beton

dan

Beton masif (mutu dan


cara uji semen

mencegah reaksi alkali-

pozolan

sesuai

agregat.

SII 0132-75).

dengan

Penentuan proporsi campuran beton semen


Penentuan proporsi campuran awal diperoleh berdasarkan perhitungan
rancangan dan percobaan campuran di laboratorium. Proporsi rencana
campuran akhir harus didasarkan pada percobaan penakaran skala penuh
pada awal pekerjaan.
Apabila ketentuan kadar semen minimum diterapkan, maka disarankan untuk
menggunakan semen minimum 335 kg/m3, kecuali bila pengalaman setempat
menunjukkan bahwa nilai tersebut dapat diturunkan.
Disarankan

kuat tarik lentur

beton yang

ditentukan untuk tujuan

perencanaan dan keawetan pada umur 28 hari tidak boleh lebih kecil dari 4
MPa (40 kg/cm2).

BAB E 1-63

Bila dalam perencanaan dimasukkan parameter lain dari beton, maka


kebutuhan semen per m3 beton berdasarkan metoda semen minimum, harus
dinaikkan atau diturunkan berdasarkan pengalaman. Dalam hal apapun kadar
semen tidak boleh lebih kecil dari 280 kg/m3

D.

Pengadukan beton semen


Unit penakaran (Batching Plant)
Unit penakaran terdiri atas bak-bak atau ruangan-ruangan terpisah untuk
setiap fraksi agregat dan semen curah. Alat ini harus dilengkapi dengan bak
penimbang (weighting hoppers), timbangan (scales) dan pengontrol takaran
(batching controls).
Semen curah harus ditimbang pada bak penimbang yang terpisah, dan tidak
boleh ditimbang kumulatif dengan agregat.
Timbangan harus cukup mampu untuk menimbang bahan satu adukan dengan
sekali menimbang.
Alat penimbang harus dapat menimbang semua bahan secara teliti.
Ketelitian timbangan harus diperiksa sebelum digunakan dan secara berkala
selama
pelaksanaan.
Pengukuran dan penanganan bahan
BAB E 1-64

Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :


a)

semen curah maupun semen kemasan dapat digunakan, asalkan


menggunakan cara penakaran yang sama. Semen yang berbeda merek
tidak boleh digunakan pada pencampuran yang bersamaan. Semen
harus ditimbang dengan penyimpangan maksimum 1%. Apabila digunakan
semen kemasan, maka jumlah semen dalam satu adukan beton harus
merupakan bilangan bulat dalam zak;

b)

agregat ditimbang dengan penyimpangan maksimum 2 %;

c)

air pencampur dapat ditakar berdasarkan volume atau berat.


Toleransi penakaran maksimum 1%;

d)

bahan tambah yang digunakan harus dicampur ke dalam air sebelum


dituangkan ke dalam

mesin pengaduk. Bahan tambah dapat ditakar

dalam berat atau volume, dengan toleransi penakaran maksimum 3%.


Bila digunakan bahan tambah pembentuk udara (air entraining
admixture) bersamaan dengan bahan kimia, maka masing-masing bahan
tambah harus ditakar dan ditambahkan kedalam adukan secara
terpisah;
e)

abu terbang (fly ash) atau pozolan lainnya harus ditakar dalam berat
dengan batas ketelitian 3 %.

Cara pengadukan beton semen


BAB E 1-65

Pengadukan beton semen merupakan bagian paling penting dari tahapantahapan, harus menghasilkan beton semen yang homogen, seragam dan
ekonomis. Untuk memperoleh hasil yang seperti itu, pemilihan tipe alat dan
pengoperasiannya harus dilakukan secara tepat, demikian juga penempatan
alat pengaduk dan material bahan campuran beton.
Bahan tambah yang berupa cairan harus dicampur ke dalam air sebelum
dituangkan ke dalam mesin pengaduk. Seluruh air campuran harus sudah
dimasukkan ke dalam mesin pengaduk sebelum seperempat masa pengadukan
selesai.
Lama waktu pencampuran (mixing time) yang diperlukan ditetapkan dari hasil
percobaan campuran. Waktu pencampuran tidak boleh kurang dari 75 detik,
kecuali ada data untuk mencampur minimum 60 detik.
Apabila digunakan beton siap campur (Ready-mixed Concrete), pelaksanaan
pencampuran beton harus sesuai dengan persyaratan Pd. S-02-1996-03.
a)

Cara masinal
Dalam mengerjakan pengadukan beton sebaiknya digunakan peralatan
yang telah memenuhi semua persyaratan yang bisa dikendalikan secara
otomatis, baik dalam hal penimbangan atau penakaran material maupun
pengadukannya.

BAB E 1-66

Mesin pengaduk harus dilengkapi dengan petunjuk dari pabrik yang


menyatakan kapasitas dan jumlah putaran per menit yang dianjurkan.
b)

Cara semi masinal


Apabila cara masinal tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya, pengadukan
beton dapat dikerjakan dengan cara semi masinal, yaitu dengan peralatan
atau mesin yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan secara otomatis
(beton molen). Kondisi pelaksanaan seperti ini harus disertai dengan
pengawasan yang lebih baik.

c)

Cara manual
Untuk pekerjaan bagian-bagian tertentu dengan jumlah kecil atau dalam
hal

kondisi

darurat,

pengadukan

dengan

tangan

(hand

mixing)

menggunakan sekop dan cangkul boleh dilakukan.


E.

Pengangkutan adukan beton


Pengangkutan adukan beton ke lokasi pengecoran dapat menggunakan antara
lain : tipping trucks, truck mixers atau agitators, sesuai dengan pertimbangan
ekonomis dan jumlahnya beton yang diangkut. Pengangkutan harus dapat
menjaga campuran beton tetap homogen, tidak segregasi, dan tidak
menyebabkan perubahan konsistensi beton.
Apabila beton diangkut dengan peralatan yang tidak bergerak (non-agitating),
rentang waktu terhitung mulai semen dimasukkan ke dalam mesin pengaduk
BAB E 1-67

hingga selesai pengangkutan ke lokasi tidak boleh melebihi 45 menit untuk


beton normal dan tidak boleh melebihi 30 menit.
untuk beton yang memiliki sifat mengeras lebih cepat atau temperatur beton
30 C. Apabila digunakan truck mixers atau truck agitators, rentang waktu
pengangkutan dapat diijinkan hingga 60 menit untuk beton normal tetapi harus
lebih pendek lagi jika untuk beton yang mengeras lebih cepat atau temperatur
beton 30 C.

F.

Pengecoran, penghamparan, dan pemadatan


Pengecoran
Pengecoran

beton harus dilakukan secara hati-hati agar

tidak terjadi

segregasi. Tinggi jatuh adukan beton harus diperhatikan antara 0,90 m


1,50 m tergantung dari konsistensi adukan.
Apabila dalam pengecoran digunakan mesin pengaduk di tempat, penuangan
adukan beton dapat dilakukan menggunakan baket (bucket) dan talang.
Untuk beton tanpa tulangan adukan beton dapat dituangkan di atas
permukaan yang telah disiapkan di depan mesin penghampar. Harus
diusahakan agar penumpahan adukan beton dari satu adukan ke adukan
berikutnya

berlangsung

secara

berkesinambungan

sebelum

terjadi

pengikatan akhir (final setting).


BAB E 1-68

Pengecoran pada cuaca panas


Bila pelaksanaan perkerasan dilakukan pada cuaca panas dan bila temperatur
beton basah (fresh concrete) di atas 240 C, pencegahan penguapan harus
dilakukan. Air harus dilindungi dari panas sinar matahari, dengan cara
melakukan pengecatan tanki air dengan warna putih dan mengubur pipa
penyaluran atau dengan cara lain yang sesuai. Temperatur agregat kasar
diturunkan dengan menyemprotkan air. Pengecoran beton harus dihentikan
bila temperatur beton pada saat dituangkan lebih dari 320 C.
Kehilangan kadar air yang cepat dari permukaan perkerasan akan
menghasilkan kekakuan yang lebih awal dan mengurangi waktu yang tersedia
untuk menyelesaikan pekerjaan akhir.
Dalam keadaan seperti ini tidak diperbolehkan menambahkan air ke
permukaan pelat. Pada kondisi yang sangat terpaksa berkurangnya kadar air
bisa diimbangi dengan melakukan pengkabutan.
Penghamparan
Ada dua metoda penghamparan beton semen.
a)

metoda menerus;
Pada metoda ini beton dicor secara menerus. Sambungan-sambungan
melintang dapat dibuat

ketika beton masih basah atau dengan cara

digergaji sebelum retak susut terjadi.


BAB E 1-69

b)

metoda panel-berselang.
Pada metoda ini beton dicor dengan sistem panel-panel berselang. Panelpanel yang kosong di antara panel-panel yang sudah dicor, pengecorannya
dikerjakan setelah 4 7 hari berikutnya.
Pada pekerjaan besar harus disediakan penghampar jenis dayung
(paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah
(hopper) dan ulir, kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir.
Pada mesin penghampar acuan gelincir, peralatan penghampar biasanya
sudah menyatu. Semua peralatan harus dioperasikan secara seksama.
Pada pekerjaan yang lebih kecil, penghamparan dapat dilakukan dengan
cara manual.
Beton harus dihampar dengan ketebalan yang sesuai dengan tipe dan
kapasitas alat pemadat.
Apabila perkerasan beton menggunakan tulangan, pemasangan tulangan
harus diperkuat oleh dudukan kemudian beton dicor dan dipadatkan dari
atas.

Pemadatan
Adukan beton harus dipadatkan dengan sebaik-baiknya. Ada dua metoda
untuk memadatkan beton yaitu : pemadatan dengan tangan dan pemadatan
dengan getaran.
BAB E 1-70

a)

pemadatan dengan tangan (hand tamping);


Alat ini

biasanya digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan kecil. Alat ini

dapat dibuat dari balok kayu berukuran 22,5 x 7,5 mm2 dengan panjang
sesuai lebar jalur yang dicor.
Bagian bawah tepi balok kayu diperkuat dengan pelat besi tebal 5 mm
seperti diperlihatkan pada Gambar 5.9.
Untuk memadatkan beton, mula-mula alat ini dipasang mendatar di atas
permukaan beton, kemudian diangkat dan dijatuhkan secara berulangulang. Setelah pemadatan selesai, alat ini bisa sekaligus dipakai untuk
meratakan dan merapikan permukaan beton.

b)

pemadatan dengan getaran yang dioperasikan dengan tangan (Handoperated vibrating beam).
Alat ini berupa balok yang bertumpu di atas acuan-acuan samping.
Kepadatan beton
dicapai

dengan

menggetarkan

satu

unit

balok

penggetar

yang

dioperasikan secara manual


Sebagai tambahan untuk pemadatan bagian-bagian tepi atau sudut,
dapat digunakan

BAB E 1-71

alat pemadat yang dibenamkan ke dalam beton (immersion vibrator).


Pemadatan beton
harus dihentikan sebelum terjadi bliding (bleeding) pada permukaan
beton, dan harus
sudah selesai sebelum pengikatan awal terjadi.
Untuk daerah di sekitar ruji dan dudukan, pada tepi-tepi dan sudut-sudut
sekitar fasilitas
drainase, dan pada pelat-pelat tidak beraturan, pada jalan masuk dan
persimpangan,
diperlukan penanganan khusus untuk mencapai kepadatan yang baik.

E.8.
A.

Prosedur Perlindungan dan Perawatan Beton


Perlindungan
Setelah beton dicor dan dipadatkan, hingga berumur beberapa hari, beton
harus

dilindungi

terhadap

kerusakan

yang

disebabkan

oleh

faktor

lingkungan.
a) pencegahan retak susut plastis;
Retak susut plastis adalah retak yang terjadi pada permukaan beton
basah dan pada saat masih plastis.

BAB E 1-72

Penyebab utama dari retak tipe ini adalah pengeringan permukaan beton
yang terlalu cepat yang dipengaruhi oleh kelembaban relatif, temperatur
beton dan udara serta kecepatan angin.
Tingkat penguapan akan sangat tinggi bila kelembaban relatif kecil,
temperatur beton lebih tinggi dari temperatur udara, dan bila angin
bertiup pada permukaan beton.
Bilamana terjadi kombinasi panas, cuaca kering dan angin yang kencang
akan mengakibatkan hilangnya kelembaban yang lebih cepat dibandingkan
dengan pengisian kembali rongga oleh proses aliran air. Pengeringan yang
cepat juga terjadi pada cuaca dingin, jika temperatur beton pada saat
pengecoran adalah lebih tinggi dari pada temperatur udara.
Jika laju penguapan air lebih dari 1,0 kg/m2 per jam, pencegahan harus
dilakukan untuk menghindari terjadinya retak susut plastis. Besarnya laju
penguapan dapat diestimasi dengan menggunakan nomogram seperti
diperlihatkan pada Gambar 5.11.
Prosedur untuk meminimalkan retak akibat susut plastis :
buat pelindung angin untuk mengurangi pengaruh angin dan atau sinar
matahari terhadap permukaan beton semen
kendalikan perbedaan temperatur yang berlebihan antara beton dan
udara baik cuaca panas maupun dingin
BAB E 1-73

hindari keterlambatan penyelesaian akhir setelah pengecoran beton


rencanakan waktu antara pengecoran dan permulaan perawatan
dengan

memperhatikan

prosedur

pelaksanaan,

apabila

terjadi

keterlambatan, lindungi beton dengan penutup sementara


lindungi beton selama beberapa jam pertama setelah pengecoran dan
pembuatan tekstur permukaan untuk meminimalkan penguapan
b) perlindungan terhadap hujan;
Untuk melindungi beton belum berusia 12 jam, harus ditutup dengan
bahan seperti plastik, terpal atau bahan lain yang sesuai.
c) perlindungan terhadap kerusakan permukaan.
Perkerasan harus dilindungi terhadap lalu-lintas umum dan proyek,
dengan pemasangan rambu lalu-lintas, penerangan lampu, penghalang,
dan lain sebagainya.

BAB E 1-74

Gambar 5.11. Nomogram penentuan besar laju penguapan

B.

Perawatan
Perawatan perlu dilakukan dengan seksama karena sangat menentukan mutu
akhir beton.
Setelah pelaksanaan akhir dan pengteksturan seluruh permukaan beton
harus dirawat.
Salah satu perawatan yang baik adalah dengan cara penyemprotan bahan
larutan yang sesuai, seperti pigmen putih (white-pigmented), bahan dasar
resin (resin-based) atau bahan dasar karet klorinat (chlorinated-rubberBAB E 1-75

base), selaput kompon yang sesuai dengan ASTM C309.

Kompon harus

disemprotkan dengan jumlah 0,3 ltr/m2 (3,75 m2/ltr) untuk tebal pelat
12,5 cm dan 0,2 ltr/m2 (2,5 m2/ltr) untuk tebal pelat < 12,5 cm.
Bidang-bidang tepi perkerasan harus segera dilapisi paling lambat 60 menit
setelah acuan dibongkar. Apabila pada masa perawatan terjadi kerusakan
lapisan

perawatan,

maka

lapisan

perawatan

tersebut

harus

segera

diperbaiki.
Metoda perawatan yang lain seperti dengan lembaran plastik putih dapat
dilakukan bilamana perawatan dengan selaput kompon tidak memungkinkan.
Penempatan lembaran plastik putih harus dilaksanakan pada saat permukaan
beton masih basah. Jika permukaan terlihat kering sebelum beton
mengeras, harus dibasahi dengan cara pengkabutan sebelum lembaran
plastik tersebut dipasang. Sambungan lembaran penutup harus dipasang
tumpang tindih selebar 50 cm dan harus dibebani sedemikian rupa sehingga
tetap lekat dengan permukaan perkerasan beton. Lembaran penutup harus
dilebihkan pada tepi perkerasan beton dengan lebar yang cukup sehingga
dapat menutup sisi samping dari permukaan pelat beton setelah acuan
samping

dibuka. Lembaran tersebut hendaknya masih berada pada

tempatnya selama waktu perawatan.

BAB E 1-76

Penggunaan karung goni yang lembab untuk menutup permukaan beton dapat
dipergunakan, lembar penutup harus diletakkan sedemikian rupa sehingga
menempel pada permukaan beton, tetapi tidak boleh diletakkan sebelum
beton

cukup

mengeras

guna

mencegah

pelekatan.

Penutup

harus

dipertahankan dalam keadaan basah dan pada tempatnya selama minimal 7


hari.

C.

Kelandaian yang curam


Pada kelandaian yang curam (> 6%) diperlukan alur yang lebih dalam untuk
memberikan kekesatan yang lebih tinggi.
Prosedur pelaksanaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) arah penghamparan perkerasan harus selalu dimulai dari bagian yang
rendah;
b) pada sambungan melintang lidah alur, balok pembuat alur harus dipasang
pada acuan tepi atas dari panel bagian bawah. Balok pembuat alur
terlebih dahulu harus dicabut sebelum panel atasnya dicor, untuk
mendapatkan sambungan yang kuat;
c) harus dibuat angker panel (Gambar 12) dan angker blok (Gambar 13)
sesuai keperluan;

BAB E 1-77

d) kelecakan dari campuran beton harus disesuaikan dengan kemiringan


untuk mengurangi campuran beton mengalir kebawah selama pemadatan.

Penggunaan adukan beton yang kental memerlukan balok penggetar untuk


memadatkannya,

atau

dengan

menggunakan

pemadat

tangan,

namun

memerlukan usaha yang lebih keras.


Penggunaan metoda panel berselang memungkinkan aliran beton bisa terjadi
yang akan menyebabkan naiknya ketinggian pada sambungan dengan pelat
sebelumnya. Hal ini bisa diatasi dengan melakukan perataan kembali dari
beton yang masih plastis disekitar sambungan dalam waktu 30 menit sejak
penyelesasian akhir.

Gambar 5.12. Angker panel

Gambar 5.13. Angker blok

BAB E 1-78

E.9.

Prosedur Pengendalian Mutu

A. Kegiatan pengontrolan yang harus dilakukan selama pelaksanaan


Hal-hal utama yang harus dilakukan dalam pengawasan selama pelaksanaan
perkerasan beton semen sebagai berikut :
a) pekerjaan awal;
mempelajari gambar rencana dan spesifikasi
pemahaman lebih dalam terhadap lokasi proyek, lajur dan kemiringan
peralatan dan Organisasi Kontraktor Pelaksana
penentuan tugas dan tanggung jawab
menentukan pengujian, pencacatan dan laporan yang diperlukan
peralatan dan fasilitas untuk pemeriksaan, pengujian dan pengendalian
b) bahan;
Semua bahan harus diidentifikasi mengenai sumber, jumlah dan
kesesuaian

dengan

persyaratan,

penanganan,

penimbangan

dan

pembuangan bahan yang ditolak. Bahan tersebut meliputi :


semen
agregat
air
bahan tambah
tulangan, ruji, dan bahan pengikat
BAB E 1-79

material perawatan beton


bahan sambungan
c) perbandingan campuran;
pengujian agregat meliputi : gradasi, berat jenis, penyerapan, kadar
lempung
data perencanaan campuran meliputi : kadar semen, proporsi agregat,
air, rongga udara, kelecakan dan kekuatan
volume takaran meliputi : ukuran takaran, berat material dalam
takaran dan koreksi kadar air agregat
d) unit penakar / penimbang meliputi;
pemeriksaan peralatan untuk menimbang dan mengukur : semen,
agregat, air dan bahan tambah
pemeriksaan peralatan untuk penanganan material, pengangkutan dan
skala timbangan
e) unit pencampur ;
Pemeriksaan

peralatan

pencampur,

lama

waktu

pencampuran,

alat

pengatur waktu dan penghitungan jumlah takaran sebelum pengecoran


beton semen ;

acuan : kecocokan acuan, alinemen, kemiringan dan ruji

tanah dasar : kerataan, pemeriksaan permukaan akhir dan kadar air


BAB E 1-80

sambungan muai : bahan sambungan, lokasi, alinemen, dudukan dan ruji


f) pembetonan ;

persiapan : bahan, perlengkapan peralatan, tenaga kerja dan bahan


pelindung cuaca
pencampuran : jenis peralatan, konsistensi, kadar udara, pemisahan
butir (segregasi) dan keterlambatan
pengangkutan : batas waktu, pengecekan pemisahan butir dan
perubahan konsistensi
pengecoran : penempatan adukan, pemisahan

butir, tinggi jatuh,

penyebaran, pemadatan, penggetaran, penempatan sambungan dan


pemeriksaan sambungan
penyelesaian akhir : melintang dan memanjang, kelurusan dan
kerataan, lingkungan, pengteksturan dan perapihan tepi
pembentukan sambungan susut : pembentukan sambungan, alinemen,
perapihan tepi dan pemeriksaan permukaan sambungan
g) setelah pembetonan ;
waktu pembongkaran acuan : kerusakan agar dihindari
perawatan : metoda, peralatan dan bahan, keseragaman, waktu mulai
perawatan dan lama waktu perawatan

BAB E 1-81

perlindungan : beton basah, hujan, lalu-lintas, cuaca dingin, cuaca


panas dan pencatatan temperatur
sambungan yang digergaji : peralatan, waktu penggergajian dan
pelebaran bagian atas pada sambungan
penutup

sambungan

peralatan,

temperatur,

bahan

penutup,

pembersihan sambungan dan penutupan


pemeriksaan permukaan : kelurusan dan kerataan, perbaikan atau
penggantian
h) pengujian beton semen.
campuran beton basah

: pengujian kelecakan (dengan slump) dan

kadar udara.
pengujian kekuatan : pengambilan contoh, pembuatan benda uji,
penyimpanan dan perawatan benda uji, pengujian kuat tekan,
pengujian

kuat

tarik

lentur,

pengambilan

contoh

inti

dan

penggergajian perkerasan untuk pengujian kuat tarik lentur.

B. Toleransi penyimpangan
a)

kerataan permukaan baik melintang atau memanjang;

Penyimpangan kerataan permukaan, dari garis lurus bisa ditentukan


dengan menggunakan mistar perata (straight edge) dengan panjang 3
meter. Toleransi permukaan pada jalan dengan volume lalu lintas ringan
BAB E 1-82

untuk jalan perkotaan dengan kecepatan rendah ialah 6 mm, sedangkan


untuk kecepatan tinggi 3 mm dengan menggunakan mistar perata 3
meter.
b)

ketebalan.

Perkerasan beton harus dilaksanakan sesuai tebal yang diinginkan. Jika


dipandang perlu untuk menentukan ketebalan perkerasan setelah
penghamparan, bisa dilakukan dengan mengukur contoh inti ( core drill)
dari perkerasan. Satu bor inti harus diambil dari setiap 140 m2
perkerasan yang dihamparkan pada setiap lajur. Masing masing hasil
pengeboran harus diukur sesuai dengan ASTM C 174. Penerimaan
pekerjaan harus didasarkan pada hasil pengujian contoh inti

yang

diambil dari pekerjaan yang telah selesai.


Bilamana hasil pengukuran bor inti meragukan diperlukan dua contoh inti
tambahan yang diambil dengan jarak 10 meter (satu sebelumnya dan
satu lagi sesudahnya) dari lokasi pengambilan bor inti yang pertama,
lubang bekas pengeboran harus ditutup kembali dengan sempurna.
Pertimbangan yang diperlukan sebagai dasar penerimaan pekerjaan
sehubungan dengan toleransi tebal, sesuai dengan spesifikasi yang
berlaku.

BAB E 1-83

E.10. Pasangan Batu


a.

Umum

Pasangan batu akan digunakan dalam pembangunan berbagai bangunan


dan pendukungnya yang mencakup namun tidak terbatas kepada,
bangunan hidraulik, pelapis saluran dan bangunan pelindung, saluran
drainase, dinding penahan (retaining walls), penahan lereng, pondasi
untuk bangunan, pembatas jalan, dan lain sebagainya. Semua pekerjaan
pasangan batu harus dilaksanakan berdasarkan persyaratan yang
tersebut dalam bab ini, dan juga kepada persyaratan garis, level, gradasi
dan dimensi sebagaimana yang ditentukan dalam Gambar maupun yang
disyaratkan oleh Direksi Pekerjaan.
Bahan dan metode konstruksi untuk pasangan batu harus memenuhi
standar yang disebutkan dalam bab Spesifrkasi Umum. Peraturan
Indonesia yang berlaku untuk material adalah PUBI-1982 (Peraturan
Umum Baran Bangunan di Indonesia). Selain itu spesifikasi juga harus
mengacu kepada Standar Perencanaan Irigasi yang diterbitkan oleh
Dirjen Pengairan, Departemen Pemukiman dan Pengembangan Prasarana
Wilayah, Republik Indonesia.

BAB E 1-84

b.

Material Pasangan Batu


Material yang harus digunakan dalam pasangan batu adalah sebagai
berikut :
1.

Batu
Batu pasangan berasal batuan sungai maupun hasil pemecahan
sebagaimana yang disetujuil oleh Direksi Pekerjaan, tidak
saling melekat satu sama lainnya dan tidak memiliki cacat
lainnya.
Batu harus memiliki spesific gravity tidak kurang dari 2,5.
Batu pasangan harus terdiri dari ukuran yang beragam,
dipasang dengan batuan pemukulan dengan palu sehinggga saling
berdekatan dan tidak ada siar besar diantaranya. Setiap batu
harus memiliki berat antara 6 hingga 25 kg. Batu yang lebih
kecil dapat digunakan, namun harus memperoleh persetujuan
dari Direksi Pekerjaan terlebih dahulu. Ukuran maksimum batu
harus dibatasi hingga 2/3 ketebalan plat atau dinding yang
akan dibangun, atau tidak boleh lebih besar dari pada 30 cm.
Kecuali diijinkan oleh Direksi Pekerjaan, penggunaan batu
bulat, hanya diijinkan dalam jumlah yang terbatas dengan

BAB E 1-85

pencampuran dengan batu bersudut, dan tidak boleh digunakan


untuk dinding dengan ketebalan kurang dari 40 cm.
Batu pasangan yang disimpan di lokasi proyek harus dijaga agar
pada saat akan dipasang berada dalam keadaan basah.
2.

Adukan semen untuk perekat


Adukan semen untuk perekat pasangan batu harus terdiri dari
campuran semen Portland dan agregat/pasir halus yang sesuai
dengan persyaratan bahan. Tiga jenis adukan yang akan
digunakan sebagaimana tercantum dalam gambar maupun atas
arahan Direksi Pekerjaan, adalah seperti berikut :
-

1 bagian semen dengan 2 bagian agregat/pasir halus

untuk bangunan berkekuatan tinggi,


-

1 bagian semen dengan 3 bagian agregat/pasir halus

untuk pasangan batu yang terkena aliran air,


-

1 bagian semen dengan 4 bagian agregat/pasir halus

untuk pasangan batu pondasi dan bangunan yang

tidak

terkena aliran air.


Adukan harus dicampur dengan air secukupnya hingga menghasilkan
adukan yang konsisten.

BAB E 1-86

c. Pemasangan Dan Penyusunan Batu


Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan secara menyeluruh terhadap
kotoran tanah, pasir, dan kotoran lainnya. Selain itu batu juga harus
dipasang dalam keadaan basah.
Dalam pemasangan, batu harus ditata dengan tangan sebagian rupa
sehingga permukaan rata dari batu, tegak lurus terhadap arah tegangan
utama dan seluruh adukan semen melekat di seluruh pertemuan
permukaan batu. Penataan lebih lanjut dilakukan dengan pemukulan palu
baja.

Apabila pemukulan ini menimbulkan kerusakan pada batu, maka

batu tersebut harus diambil, dibersihkan, dan dipasang kembali dengan


adukan semen baru. Setiap celah pertemuan batu harus dipenuhi dengan
adukan. Harus diyakinkan pula bahwa seluruh permukaan batu terlapisi
oleh adukan semen.
Jarak siar antar batu tidak boleh kurang dari 10 kilometer dan tidak
boleh lebih dari 50 milimeter dan tidak diperbolehkan adanya permukaan
batu yang bersentuhan langsung dengan batu lainnya. Ukuran dan
distribusi batu harus sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh
penyediaan volume adukan semen yang sedikit mungkin. Pemasangan batu
harus dilakukan berselang-seling sehingga setiap titik pertemuan batu

BAB E 1-87

memiliki arah vertikal dan horizontal. Harus dihindarkan pula adanya


bidang pertemuan batu yang lurus horizontal dan sambung menyambung.
d. Sambungan Kontraksi dan Sambungan Sendi (Contraction

Joint dan False Joint)


1.

Sambungan Kontraksi
Sambungan kontraksi harus dipasang pada dinding batu, struktur
penahanan dan pelapis saluran, sebagaimana ditentukan dalam
gambar atau yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, atau pada
interval tidak lebih dari 20 meter. Kecuali ditentukan lain oleh
Direksi Pekerjaan, sambungan kontraksi pada pasangan batu
harus dibuat sebagaimana sambungan kontraksi pada struktur
beton, sebagaimana dalam bab pekerjaan Beton pada Spesifikasi
Teknis ini. Sambungan kontraksi pada pasangan batu dan struktur
penahan harus berupa bidang vertikal atau tegak lurus terhadap
arah aliran, sejauh memungkinkan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Sambungan kontraksi pada permukaan horizontal dan
lantai struktur batu harus tegak lurus dan/atau sejajar dengan
dimensi utama dari struktur atau dengan arah aliran sejauh
memungkinkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

BAB E 1-88

2.

Sambungan Sendi
Sambungan

sendi

harus

dipasang

pada

batu

yang

bukan

merupakan struktur penahan air sebagaimana ditunjukkan dalam


gambar atau yang ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan. Sambungan
sendi harus dipasang pada setiap bagian struktur yang mengalami
perubahan dimensi secara brsar atau secara tiba-tiba, atau pada
bagian dimana perbedaan penurunan diramalkan akan terjadi.
Sambungan sendi dibuat
sehingga

adukan

semen

dengan menata batu sedemikian rupa


akan

membentuk

bidang

datar

bersambung sepanjang tinggi pasangan batu tersebut, termasuk


batu mukanya. Jika diperlukan, semacam bekisting sementara
dapat dipergunakan selama pekerjaan pasangan batu untuk
mengendalikan lokasi dan sambungan dari sambungan sendi.

3.

Filter Drainase Sambungan


Di balik seluruh jenis sambungan pada pekerjaan pasangan batu,
termasuk sambungan kontraksi dan sambungan sendi, harus
dipasang batu pecah yang bergradasi atau filter kerikil sepanjang
tinggi sambungan. Filter yang bergradasi ini harus terdiri dari
batu pecah pilihan dan krilil dan gradasi yang baik untuk
BAB E 1-89

mencegah teralirkannya material filter dan/atau material pondasi


dan harus dilapisi lagi dengan lapisan filter geotekstilsintetis
seperti dalam gambar atau yang ditunjukkan oleh Direksi
Pekerjaan. Penggunaan ijuk dan material organik yang dapat
melapuk lainnya tidak diijinkan kecuali mendapatkan ijin khusus
dari Direksi Pekerjaan.
e. Pekerjaan Pasangan Batu Muka dan Siar Pasangan Batu Muka
Kecuali gambar atau Direksi Pekerjaan menunjukkan lain, batu-batu muka
pada pasangan batu yang biasa harus terdiri dari batu yang berukuran
acak dengan penempatan batu header (bond stone) paling sedikit sebuah
tiap satu meter persegi. Batu header

harus masuk pada kedalaman

paling sedikit dua kali ketebalan pasangan batu muka ke arah pasangan
batu belakang. Batu muka harus dipilih dan ditata dengan baik sehingga
permukaan luarnya membentuk bidang rata dan permukaan luar antar
batu tersebut berjarak sedekat mungkin tapi tidak kurang dari 10
milimeter dan tidak melebihi 20 milimeter, dan titik pertemuan terbagi
ke arah vertikal dan horizontal. Pada sudut dan tepi luar dinding
pasangan harus dipasang batu yang telah dibentuk kotak dan membentuk
garis tepi sudut.

BAB E 1-90

Distribusi jenis batu dan ukuran batu pada muka pasangan harus
sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil permukaan pasangan batu yang
rapi, rata dan memiliki penanpilan seragam, tanpa adanya daerah dengan
permukaan batu-batu muka berukuran jauh lebih besar atau jauh lebih
kecil dari daerah-daerah lainnya, ataupun berbeda warna dan teksturnya.
Pada pekerjaan-pekerjaan khusus yang ditunjukkan oleh Gambar atau
Direksi Pekerjaan, muka pasangan batu harus dibuat dari batu segi enam
atau dari batu candi.
Pasangan batu muka harus sedemikian supa sehingga penaikan-nya
bersamaan dengan penaikan batu belakang sehingga batu header dapat
dipasang dengan baik dan menghasilkan sambungan adukan semen antara
pasangan batu muka dan batu belakang yang baik dan kuat.
Semua batu yang terbuka harus diberikan siar muka pasangan.
Sebelum pemberian siar muka pasangan (pointing), adukan semen pada
sambungan batu harus dikorek sedalam 30 milimeter atau potongan
(chiselled out) pada sambungan lamanya, kemudian sambungan itu harus
dibersihkan dari pasir dengan sikat kawat hingga bersih, kemudian
adukan semen dibasahkan.

BAB E 1-91

Pasangan siar muka pasangan dapat berupa :


Siar muka pasangan cekung :

berupa pengisian muka sambungan

dengan adukan semen hingga kedalaman kurang lebih 10 milimeter ke


arah dalam dari permukaan batu muka,
Siar muka pasangan rata : berupa pengisian muka sambungan dengan
adukan semen rata dengan permukaan batu muka,
Siar muka pasangan cembung :

berupa pengisian muka sambungan

dengan adukan semen kurang lebih 10 milimeter ke arah luar


permukaan batu muka.
Kecuali ditentukan oleh gambar atau Direksi Pekerjaan, semua pasangan
siar muka pasangan harus berjenis siar adukan semen rata.
Adukan semua untuk siar ini harus memiliki perbandingan 1:3, kecuali
ditentukan lain oleh gambar atau Direksi Pekerjaan.
Permukaan batu muka harus dibersihkan dengan baik dari kelebihan
adukan semen setelah pekerjaan pemasangan siar muka pasangan selesai.
f. Lubang Drainase (Drainage Holes) dan Lubang Buangan Air
(Wheep Holes)
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi Pekerjaan, bagian
miring atau vertikal dari pasangan dinding penahan, pelapis saluran,
saluran buang, dan pasangan pengukuh dan pelindung lereng, harus
BAB E 1-92

diberikan lubang drainase atau kubang buangan air pada interval satu
setiap 4 meter persegi dari permukaan pasangan yang terbuka atau yang
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi Pekerjaan,

lubang

drainase dan lubang buangan air harus dibuat dari pipa PVC 50 milimeter.
Pada lubang drainase dan lubang buangan air pada pasangan penahan air
harus dipasang katup bola (ball valves) atau katup buka tutup (flap

valves) yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditunjukkan oleh


gambar atau Direksi Pekerjaan.
1. Plesteran
Plesteran pasangan batu harus dipasang pada dinding, lantai, pelapis
saluran, dan pasangan batu lainnya sebagaimana yang ditunjukkan pada
gambar atau oleh Direksi Pekerjaan dengan mengikuti aturan sebagai
berikut :
2. Permukaan terbuka
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi Pekerjaan, plesteran
harus dipasang pada permukaan atas seluruh struktur pasangan batu
seperti dinding, pilar, tumpuan dan lain-lain dan pada 10 centimeter
dibawah

permukaan

atas

dari

struktur-struktur

tersebut

dan

mernbentuk tudung.
BAB E 1-93

Plesteran harus menggunakan adukan semen dengan perbandingan 1


bagian pasir dalam besaran volume.
Sebelum plesteran, adukan semen pada sambungan batu harus dikerok
atau dipotong sedalam 30 millimeter, kemudian permukaan pasangan
batu dan sambungannya harus dibersihkan dari semua kotoran adukan
semen atau kotoran lainnya dengan sikat kawat dan dibasahi sebelum
dipasang plester.
Plester harus dipasang dalarn dua lapis dengan ketebalan total kurang
leblh 20 millimeter dan harus diselesaikan dengan sendok tembok baja
untuk mendapatkan hasil akhir yang bersesuaian dengan hasil akhir
beton dengan kelas U3 seperti yang tersebut pada bab Pekerjaan
Beton.
3. Urugan di Belakang pasangan Batu
Kecuali ditunjukkan lain oleh gambar atau hal lainnya yang telah
disetujui oleh Direksi Pekerjaan, sebelum pengurugan bagian belakang
pasangan batu yang tidak akan terlihat dari luar, pasangan batu harus
diberi plester kasar dengan campuran adukan semen 1 bagian semen
dan 4 bagian pasir dalam besaran volume dengan ketebalan 20
millimeter.

BAB E 1-94

Harus diperhatikan agar plesteran kasar tersebut tidak menutupi atau


buangan air lubang drainase dan dinding lainnya yang telah dlbuat pada
pekerjaan pasangan batu, dan pengurugan tidak boleh dimulai sebelum
perneriksaan pemberian persetujuan oleh Direksl pada saat pekerjaan
pasangan batu dan plesteran selesai dilaksanakan.
4. Perlindungan dan Perawatan
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu pada cuaca yang tldak
baik,

dan

perlindungan

dan

perawatan

pekerjaan

yang

telah

selesaiKontraktor Pelaksana harus merujuk kepada kondisi yang sama


untuk pekerjaan beton.
Pekerjaan pasangan batu tidak boleh dilakuk:an pada kondisi hujan
yang lebat atau lama yang akan sanggup melarutkan adukan semen dari
pasangan batu. Adukan semen yang telah terpasang dan terlarut oleh
hujan harus diambil kembali dan diganti sebelum pekerjaan diteruskan.
Para pekerja, peralatan konstruksi, atau lalu lintas konstruksi tidak
diperbolehkan melintasi pasangan batu sebelum terpasang dengan
sempurna dan telah mencapai kekuatan penuhnya, dan jika ada
pasangan batu yang rusak akibat hal tersebut di atas, harus dibongkar
dan diganti sebagai tanggungan Kontraktor Pelaksana.

BAB E 1-95

Pasangan batu harus dilindungi dari sinar matahari dan harus dijaga
agar selalu dalam keadaan basah selama kurang lebih tiga (3) hari atau
selama waktu sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan, setelah pekerjaan
pasangan batu selesai.

5. 1 . 1 .

Pekerjaan Timbunan Tanah

5. 1 . 1 . 1 . Umum
A. Cakupan Pekerjaan
Pekerjaan yang tercakup dalam kegiatan ini dengan judul di atas meliputi
semua pekerjaan tanah dan pekerjaan yang terkait yang merupakan
permanen atau diperlukan dalam kaitannya dengan pekerjaan permanen
yang tidak secara khusus diuraikan pada sub bab sebelumnya.
Pekerjaan ini meliputi:
Penimbunan dan pemadatan tubuh bendungan dan cutoff,
Penimbunan kembali bangunan,
Pekerjaan restorasi termasuk penggalian dan atau penimbunan,
pemasangan tanah penutup (topsoiling) dan penanaman rumput
Pembuatan

dan

pemeliharaan

tempat

penimbunan

dan

tempat

pembuangan sisa galian

BAB E 1-96

Pekerjaan tanah lain seperti ditunjukkan dalam gambar atau


diperintahkan Direksi Pekerjaan.
B. Bahan
Bahan untuk pekerjaan tanah umum berasal dari hasil galian dari
berbagai bagian pekerjaan permanen, tempat pengambilan tanah (borrow

area), tanah residual, endapan aluvium dan koluvium, atau kombinasinya.


Klasifikasi tingkat pelapukan batuan dan klasifikasi penggalian yang
dipakai dalam Bab ini harus mengikuti klasifikasi yang berlaku dalam
Spesifikasi Teknis ini.

C. Pekerjaan Sampai
Ditentukan

Garis,

Permukaan

dan

Elevasi

yang

Kontraktor Pelaksana harus mengerjakan semua pekerjaan tanah sampai


mencapai garis, permukaan, elevasi atau dimensi yang ditunjukkan dalam
gambar atau seperti diperintahkan atau disetujui Direksi Pekerjaan.
Rincian pekerjaan ini tidak selalu ditunjukkan secara lengkap dalam
gambar Kontrak, dalam hal itu rinciannya harus mengikuti perintah
Direksi Pekerjaan dalam bentuk gambar Kerja Tambahan atau perintah
tertulis di lapangan sesuai dengan ketentuan dan Spesifikasi Umum dan
Syarat-syarat Kontrak; atau sesuai dengan usulan Kontraktor Pelaksana

BAB E 1-97

yang disampaikan kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui berupa


gambar rinci atau spesifikasi tertulis, sesuai dengan Spesifikasi Umum
dan Syarat-Syarat Kontrak, dan disetujui Direksi Pekerjaan, dan bisa
diubah atau dimodifikasi bilamana perlu menurut pendapat Direksi
Pekerjaan.

D. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran butir-butir dari pekerjaan tanah dan
penimbunan kembali dilakukan dengan cara dan dalam satuan pengukuran
seperti ditentukan dalam berbagai butir yang akan diuraikan di bawah ini
atau seperti ditentukan Direksi Pekerjaan.

Pembayaran untuk butir-

butir dari pekerjaan tanah dan penimbunan kembali dilakukan berdasar


harga satuan yang relevan atau sebagai harga jumlah bulat (lump sum)
seperti ditetapkan atau disetujui Direksi Pekerjaan sesuai dengan
ketentuan yang tertera dalam Syarat-syarat Kontrak Kerja.

BAB E 1-98

5. 1 . 1 . 2. Bahan Timbunan Tanah


A. Jenis Tanah
Yang dimaksud dengan timbunan tanah adalah semua timbunan tanah baik
untuk tubuh bendungan,maupun di luar timbunan untuk bendungan,
termasuk cutoff.
Timbunan tanah terdiri dari bahan aluvium, bahan batuan lapuk residual
dari galian, tanah dari tempat pengambilan tanah atau kupasan tanah
penutup.
Gradasi Tanah Timbunan harus bergradasi baik (well graded) dalam
batas-batas berikut :
Tidak mengandung butiran berukuran 5 cm, kecuali kalau ditentukan
lain,
Bahan harus mengandung bagian yang lolos Saringan No. 200 (0,074
mm) tidak kurang dari 40%,
Bahan harus mengandung butiran berukuran lempung (0,002 mm)
tidak kurang dari 30%.

Indeks Plastisitas (PI) bahan yang ditentukan dengan ASTM Standards


D 423 dan D 424, tidak kurang dari 25%. Berdasarkan pengujian
BAB E 1-99

konsistensi Atterberg, tanah material urugan embung tersebut dapat


diklasifikasikan sebagai CH - MH, yaitu lanau lempungan, plastisitas
sedang-tinggi, warna coklat kekuningan. Material ini dijumpai di Borrow

Area pada kedalaman antara 1 m sampai dengan 2 m, dibawahnya jenis


tanah berubah menjadi lanau pasiran yang lebih porus. Untuk itu,
Kontraktor Pelaksana harus hati-hati untuk menggalinya dan harus
dipandu oleh teknisi lapangan yang berpengalaman dalam bidang mekanika
tanah.

B. Penyiapan Pondasi
Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar atau diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan, pondasi pekerjaan urugan (embankment) atau timbunan harus
dibersihkan, dibongkar dan dikupas sesuai dengan ketentuan mengenai
pekerjaan tersebut yang ditentukan dalam Spesifikasi ini.
Semua bagian ketidak-teraturan, dan rongga di pondasi dan bekas-bekas
sumuran uji atau galian lain yang lebih dalam dari galian yang ditunjukkan
gambar, harus ditimbun kembali sesuai perintah Direksi Pekerjaan
dengan bahan yang sama dengan timbunan di atasnya, dan dipadatkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk timbunan yang bersangkutan

BAB E 1-100

Menjelang penghamparan lapisan pertama bahan timbunan, permukaan


pondasi

harus

dibersihkan

dari

semua

tanah

yang

mengandung

gambut/humus, bahan-bahan lepas dan benda-benda lain yang tidak pada


tempatnya. Semua air yang ada di tempat tersebut harus disingkirkan
dengan cara yang disetujui Direksi Pekerjaan. Apabila perlu, permukaan
pondasi harus dibasahi sebelum ditimbun untuk memperoleh ikatan yang baik
dengan lapisan timbunan pertama.

Berdasarkan hasil analisa design timbunan tubuh Embung Geunang Uyat ,


mengingat kondisi tanah pondasi tapak bendungan yang berupa soft soil
maka proses penimbunan tubuh bendungan dilakukan secara bertahap
(staging fill embankment) dengan ketinggian timbunan yang dilaksanakan
pertahapnya dilakukan berdasarkan simulasi kekuatan tekanan air pori tanah
di tapak tubuh bendungan.
Setiap pekerjaan penimbunan untuk pekerjaan permanen hanya boleh
dimulai setelah mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan.

BAB E 1-101

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan


Kandungan air bahan timbunan sebelum dan selama pemadatan harus
seragam untuk setiap lapisan. Kecuali bi!a ditentukan lain oleh Direksi
Pekerjaan kandungan air bahan timbunan menurut ASTM Standard D
2216 harus dalam kisaran minus 2% (-2%) dan plus 2% (+2%) dari
Kandungan Air Optimum (Omc) yang diperoleh dari Uji Pemadatan
Standar (Standard Compaction Test) menurut ASTM Standard' D 698.
Khusus untuk lapisan cutoff hulu dan selimut lempung hulu, kadar air
harus lebih basah

4% sampai dengan 5% di atas OMC, untuk

memperoleh sifat yang kedap air.


Penyiapan kandungan air bahan timbunan untuk. mencapai kandungan air
yang ditentukan, harus dilakukan sebelum pengangkutan ke tempat
penimbunan yaitu di tempat pengambilan bahan timbunan, di tempat
pengumpulan atau tempat lain. Metode untuk mencapai kandungan air
yang ditentukan, menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana dan
harus mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan. Penambahan air mungkin
perlu dilakukan di tempat penimbunan. Tetapi hal ini hanya boleh
dilakukan atas persetujuan Direksi Pekerjaan, dan pelaksanaannya harus
menggunakan alat atau dengan cara yang disetujui Direksi Pekerjaan.

BAB E 1-102

Kecuali ada ketentuan lain atau diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan,
kepadatan kering (dry density) bahan timbunan setelah pemadatan tidak
kurang dari 90% dari Kepadatan Kering Maksimum (Maximum Dry

Density) kalau diuji dengan prosedur ASTM Standard Proctor.

Kandungan air harus diuji langsung di lapangan menggunakan alat yang


dengan cepat dapat mengetahui kadar air lapangan, misalnya speedy

moisture tester. Yang secara berkala di chek dengan menggunakan


metode oven di laboratorium lapangan. Kepadatan Kering tanah yang
dipadatkan juga akan diperiksa oleh Direksi Pekerjaan secara berkala
dengan uji kontrol lapangan dan laboratorium terhadap contoh yang
diambil secara acak. Apabila kandungan air atau kepadatan kering tanah
yang telah dipadatkan temyata tidak masuk dalam kisaran yang
ditentukan, Direksi Pekerjaan akan memerintahkan Kontraktor Pelaksana
membongkar bahan tersebut, atau mengolahnya kembali sedemikian rupa
sehingga kandungan air dan kepadatannya mencapai syarat-syarat yang
yang ditentukan yang dibuktikan dengan serangkaian pengujian.

BAB E 1-103

Pengambilan dan penentuan uji kepadatan di lapangan dilakukan pada


setiap 100 m2 atau setiap lapis pemadatan atau kapan dan dimana seperti
yang diminta oleh Direksi Pekerjaan.
Direksi Pekerjaan berhak merubah batas-batas kandungan air dan
kepadatan timbunan setiap waktu selama pelaksanaan, dan perubahan
semacam itu tidak merubah harga satuan untuk pembayaran.

D. Penempatan
Pemilihan,

penempatan

dan

penghamparan

bahan

timbunan

harus

sedemikian rupa sehingga sebaran (distribution) dan gradasinya di


seluruh timbunan bebas dari lensa, kantong atau lapisan bahan yang
tekstur, gradasi, kandungan air atau kepadatannya sangat berbeda
dengan bahan di sekitarnya.
Penempatan bahan timbunan harus sedemikian rupa sehingga sebarannya
bisa sebaik mungkin dan harus disetujui Direksi Pekerjaan, dan bilamana
perlu untuk mencapai tujuan ini Direksi Pekerjaan dapat menentukan
tempat penempatan bahan timbunan.
Apabila menurut pendapat Direksi Pekerjaan, permukaan pondasi atau
permukaan yang dipadatkan dari salah satu lapisan terlalu kering atau
BAB E 1-104

terlalu licin sehingga tidak bisa terjadi ikatan dengan lapisan berikutnya,
maka permukaan tersebut harus dikasarkan dengan alat sampai
kedalaman tertentu sehingga terbentuk permukaan ikatan yang baik
sebelum timbunan berikutnya ditempatkan.
Bahan timbunan harus ditempatkan di urugan atau di timbunan berupa
lapisan menerus yang horizontal, dengan ketebalan sedemikian rupa
sehingga bisa dicapai kepadatan yang direncanakan sesuai dengan cara
pemadatan yang dituangkan dalam dokumen spesifikasi teknis di samping
itu tebal lapisan sebelum dipadatkan tidak boleh lebih dari 30 cm,
kecuali bila ditentukan atau disetujui lain oleh Direksi Pekerjaan. Semua
permukaan

lapisan

harus

miring

1:30

untuk

keperluan

drainase

mengalirkan air permukaan.


Direksi Pekerjaan berhak merubah ketebalan timbunan berdasar
informasi dari hasil pengujian; perubahan yang ditimbulkannya tidak
merubah harga satuan untuk pembayaran.

BAB E 1-105

E. Pemadatan Tanah
Segera setelah penempatan setiap lapisan, timbunan harus dipadatkan
menggunakan ''selfpropelled tamping roller"atau sheepfoot roller atau
alat sepadan sehingga menjadi lapisan yang seragam kepadatannya.
Jumlah Iintasan alat pemadat akan ditentukan Direksi Pekerjaan
berdasarkan hasil percobaan timbunan (trial embankment). Namun
demikian, Direksi Pekerjaan tetap berhak merubah jumlah Iintasan alat
pemadat setiap saat selama konstruksi, tergantung hasil uji kontrol.
Tidak akan ada penyesuaian pembayaran untuk bahan kalau Direksi
Pekerjaan memerintahkan penambahan atau pengurangan jumlah lintasan.
Jenis alat pemadat yang akan dipakai Kontraktor Pelaksana harus
disetujui Direksi Pekerjaan, beban, operasi dan kecepatan alat tersebut
harus dapat mencapai tingkat keseragaman dan kepadatan sesuai
ketentuan Direksi Pekerjaan.
Apabila digunakan lebih dari satu alat pemadat, maka alat pemadat yang
dipakai harus sejenis dengan berat, dimensi dan ciri operasi yang sarna.
Jika pekerjaan penimbunan diberhentikan karena akan turun hujan,
permukaan timbunan atau urugan harus dimiringkan dan dihaluskan untuk
melancarkan drainase. Sebelum penempatan dan pemadatan lapisan
BAB E 1-106

selanjutnya, permukaannya harus digaru dan diatur kandungan airnya


sesuai ketentuan yang berlaku.

F. Percobaan Timbunan (Trial Embankment)


Sebelum melakukan pekerjaan penimbunan dan pemadatan, khusus untuk
tubuh embung, Kontraktor Pelaksana harus melaksanakan percobaan
penimbunan dan pemadatan langsung di lapangan di tempat yang akan
dilakukan penimbunan tubuh embung. Luas daerah percobaan minimal

m x 10 m atau ditentukan bersama-sama dengan tim supervisi dan


Direksi Pekerjaan. Sebelumnya, Kontraktor Pelaksana harus menyiapkan
tanah bahan urugan, peralatan penghampar dan pemadat yang akan
digunakan, serta alat-alat pengujian kadar air dan kepadatan langsung di
lapangan.
Setelah tanah yang kadar airnya telah diperiksa mendekati OMC sesuai
dengan persyaratan dihampar dengan ketebalan 30 cm, tanah dipadatkan
dengan alat pemadat sheepfoot roller tanpa digetarkan. Dengan banyak
lintasan 2 x, 4 x, 6 x, 8 x, dan 10 kali, dilakukan pengujian.
Kepadatan tanah menggunakan drive cylinder yang telah disetujui Direksi
Pekerjaan. Pada setiap banyak Iintasan tersebut dihitung kepadatan
BAB E 1-107

tanah dan tingkat kepadatan tanahnya, hasilnya kemudian dibuat grafik


hubungan antara kepadatan kering dengan banyak lintasan. Grafik
tersebut kemudian dianalisisoleh tim supervisi dan Direksi Pekerjaan
untuk menentukan banyak lintasan yang

akan digunakan sebagai

pedomandalam pelaksanaan timbunan tubuh embung selanjutnya.

G. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran bahan timbunan tanah atau pekerjaan
timbunan

dilakukan

berdasar

volume

dalam

meter

kubik

bahan

terpadatkan di urugan atau timbunan yang telah selesai sampai garis,


permukaan atau ketinggian yang ditunjukkan dalam gambar atau seperti
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

Pembayaran untuk bahan timbunan tanah di pekerjaan urugan atau


timbunan dilakukan menurut harga satuan per meter Kubik seperti
ditetapkan dalam syarat-syarat Kontrak.

BAB E 1-108

5. 1 . 1 . 3. Timbunan Kembali
A. Umum
Yang dimaksud timbunan disini adalah timbunan kembali (backfill).
Kontraktor Pelaksana harus menimbun macam-macam bangunan baik
bangunan permanen maupun pekerjaan lain seperti ditunjukkan dalam
gambar atau seperti diperintahkan Direksi Pekerjaan.
Penimbunan kembali dilakukan dengan bahan yang bisa dibagi dalam 2
(dua) jenis tergantung lokasi, jenis fungsi bangunan atau pekerjaan yaitu
:
1. Timbunan Acak (Random Backfill; Ordinary Backfill),
2. Timbunan Lulus Air (Free Draining Backfill).
Bahan timbunan harus dari jenis, dan dengan permukaan dan dimensi
seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti diperintahkan Direksi
Pekerjaan sesuai dengan ketentuan berikut.
Apabila jenis bahan timbunan tertentu tidak ditentukan dalam Gambar
atau bahannya hanya ditentukan sebagai "Timbunan" atau "Timbunan
Biasa" maka bahan seperti itu harus diartikan sebagai Timbunan Acak
seperti ditentukan berikut.

BAB E 1-109

B. Bahan-bahan
Persyaratan bahan harus memenuhi ketentuan berikut, kecuali apabila
ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan :
1. Timbunan Acak
Tlmbunan Acak terdiri atas bahan yang sesuai dengan persyaratan
untuk timbunan tanah, yaitu mempunyai ukuran maksimum 5 cm, tanah
granular berupa pasir lanauan lempungan campur kerikil berupa tanah
bekas galian intake dan spillway. Jenis tanah ini dapat digunakan
sebagai tanah backfill.
2. Timbunan lulus Air
Timbunan Lulus air harus diseleksi dari bahan tanah granular yang
bisa didapat dari kerikil sungai yang bersih atau hancuran batu dari
lombong, dicuci dan diayak bila perlu, sampai bergradasi baik dengan
batas ukuran butir berikut :

Ukuran butir maksimum 15 cm,

Bagian yang lolos dari Saringan No.4 (4,76 mm) tidak kurang
dari 15% dan tidak lebih dari 75%,

BAB E 1-110

Bagian yang lolos dari Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih
dari 5%

Bahan ini harus bebas dari lempung dan hanya digunakan di


daerah di luar embung atas perintah Direksi Pekerjaan.

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan


1. Timbunan Acak
Persyaratan kandungan air dan kepadatan bahan ini harus sama
dengan ketentuan dalam Sub-Bab 4.2.4
2. Timbunan lulus Air
Timbunan lulus air tidak terikat ketentuan kandungan air tertentu,
namun demikian bahan ini harus ditempatkan dalam keadaan terbasahi
seluruhnya sesuai persetujuan Direksi Pekerjaan. Pembasahan bahan
timbunan jenis ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pemadatannya.
Kecuali ditentukan atau diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan,
Timbunan Lulus Air harus dipadatkan sampai mencapai Kepadatan
Relatif sekurang-kurangnya 70% kalau ditentukan menurut ASTM

Standard D 2049 atau USBR Earth Manual Test Designation E 12.

BAB E 1-111

Kandungan air bahan timbunan yang telah dihampar di lapangan harus


diperiksa langsung di lapangan menggunakan alat yang dengan cepat
dapat mengetahui kandungan airnya. Alat ini secara berkala harus di
chek dan dibandingkan dengan hasil pengujian di laboratorium
lapangan dengan cara oven.

Kepadatan kering dari tanah yang telah dipadatkan dilakukan dengan


menggunakan alat sand replacement atau drive cylinder langsung di site,
sehingga pada waktu itu juga dapat diperoleh tingkat kepadatan tanah
yang dicapai. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai pedoman
dalam menilai kualitas dari pemadatan tanah yang telah dilakukan, apakah
telah memenuhi persyaratan.

D. Penempatan dan Pemadatan


Pemilihan, penempatan dan penyebaran bahan timbunan harus sedemikian
rupa sehingga penyebaran dan gradasi timbunan seluruhnya tidak
mengandung lensa, kantong atau lapisan yang terdiri atas bahan yang
tekstur, gradasi, kandungan air atau kepadatannya sangat berbeda
dengan bahan di sekitarnya.

BAB E 1-112

Timbunan harus dipadatkan dengan menggunakan alat yang sesuai dengan


ruang kerja yang tersedia dan alat yang digunakan harus mendapat
persetujuan Direksi Pekerjaan.
Bahan timbunan harus ditempatkan secara menerus, kurang lebih
horizontal dengan ketebalan yang memungkinkan tercapainya kepadatan
di seluruh lapisan. Ketebalan lapisan sebelum dipadatkan tidak boleh
lebih dari 35 cm, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan.

E. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran bahan timbunan dilakukan berdasar
volume dalam meter kubik bahan terpadatkan di tempat timbunan sesuai
garis, permukaan dan elevasi yang ditunjukkan dalam Gambar atau
seperti diperintahkan Direksi Pekerjaan.
Pembayaran bahan timbunan dilakukan dengan harga satuan dalam meter
kubik yang ditentukan sesuai dengan syarat-syarat Kontrak.

BAB E 1-113

5. 1 . 1 . 4. Lantai Kerja
A. Umum
Kontraktor Pelaksana harus memasang lantai kerja untuk pekerjaan
beton, pasangan batu kali, pasangan batu kosong, bronjong kawat,
bantalan, pekerjaan pipa atau pekerjaan lain seperti ditunjukkan dalam
gambar sesuai Spesifikasi, atau seperti diperintahkan Direksi Pekerjaan.
Bahan lantai kerja bisa dibagi dalam 4 (empat) macam tergantung lokasi,
jenis dan fungsi dari bangunan atau pekerjaan yaitu :
1. Pecahan Batu,
2. Pasir,
3. Filter Kasar,
4. Filter Halus.
Lantai kerja dari pecahan batu dan pasir digunakan di bangunan atau
pekerjaan dimana aliran air-tanah akibat rembesan dan/atau drainase
bisa diabaikan.
Lantai kerja filter kasar dan halus dipasang di bawah bangunan air atau
pekerjaan drainase atau pekerjaan lain di atas urugan tanah atau batuan
lapuk yang perlu drainase, dan dimana aliran air-tanah akibat rembesan

BAB E 1-114

dan/atau drainase diperkirakan cukup besar sehingga ada potensi erosi


dan kehilangan butiran halus dari bahan pondasi atau urugan.
Bahan lantai kerja harus dari jenis dan dipasang dan dipadatkan menurut
garis, permukaan, elevasi dan dimensi yang ditunjukkan dalam gambar
atau seperti diperintahkan Direksi Pekerjaan sesuai ketentuan berikut.

B. Bahan-Bahan
Bahan-bahan lantai kerja harus terdiri atas campuran kerikil dan pasir
atau pecahan batu bergradasi baik yang bebas dari bahan organik,
lempung atau bahan merusak lainnya.

Persyaratan ukuran butir dan gradasi untuk bermacam jenis bahan lantai
kerja adalah sebagai berikut, kecuali ditentukan lain oleh Direksi
Pekerjaan
1. Lantai Kerja Hancuran Batu
Lantai kerja hancuran batu terdiri atas hancuran batu bergradasi
baik dari mesin pemecah batu (crusher'), dengan ukuran butir
maksimum 75 mm dan butiran yang lebih lolos dari Saringan No. 16
(1,19 mm) tidak lebih dari 20%.
BAB E 1-115

2.

Lantai Kerja Pasir


Lantai Kerja pasir terdiri atas pasir alam bersih atau hasil mesin
pemecah batu dengan ukuran butir maksimum 5 mm dan butiran yang
lebih halus dari Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih dari 20%.
3.

Lantai Kerja Filter Kasar

Lantai kerja filter kasar terdiri atas campuran pasir dan kerikil atau
hasil pecahan mesin pemecah batu dengan ketentuan berikut :
Ukuran butir maksimum 50 mm,
Bagian yang lolos Saringan 19,4 mm tidak kurang dari 70% sampai
100%,
Bagian yang lolos Saringan NO.4 (4,75 mm) tidak kurang dar 20%
dan tidak lebih dari 65%,
Bagian yang lolos Saringan No. 16 (1,19 mm) tidak lebih dari 20%
4. Lantai Kerja Filter Halus
Lantai kerja filter halus terdiri atas pasir atau pecahan batu dari
mesin pemecah batu dengan ketentuan berikut :
Ukuran butir maksimum 5 mm,
Bagian yang lolos Saringan No. 16 (1,19 mm) tidak kurang dari 60%
sampai 100%,

BAB E 1-116

Bagian yang lolos Saringan No. 50 (0,3 mm) tidak kurang dari 20%
dan tidak lebih dari 65%,
Bagian yang lolos Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih dari
20%.

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan


Tidak ada persyaratan khusus mengenai kandungan air bahan lantai kerja
ini, tetapi bahan ini harus dibasahi secara merata sebelum dipasang atas
persetujuan Direksi Pekerjaan, agar pemadatannya sempurna.

Kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, bahan ini dipadatkan


sampai mencapai Kepadatan Relatif tidak kurang dari 70% kalau diukur
menurut ASTM Standard D 2049

atau USBR Earth Manual Test

Designation E 12.

D. Penempatan dan Pemadatan


Pemilihan, penempatan dan penyebaran bahan lantai kerja ini harus
sedemikian rupa sehingga sebaran dan distribusinya di seluruh lapisan
bebas dari lensa, kantong, atau lapisan yang mempunyai tekstur, gradasi,

BAB E 1-117

kandungan air atau kepadatan yang sangat berbeda dengan bahan


sekitarnya.
Bahan lantai kerja harus dipadatkan dengan alat yang sesuai dengan
kondisi

tempatnya.

Jenis

alat

yang

digunakan

harus

mendapat

persetujuan Direksi Pekerjaan.


Bahan lantai kerja harus ditempatkan secara menerus menjadi lapisan
horizontal dengan ketebalan yang memungkinkan pemadatannya mencapai
kepadatan sesuai dengan ketentuan Sub-Bab 4.4.3 dari Bab ini di seluruh
lapisan, disamping itu ketebalan lapisan sebelum dipadatkan tidak lebih
dari 15 cm, kecuali kalau diperintahkan atau disetujui lain oleh Direksi
Pekerjaan.

E. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran bahan lantai kerja ini dilakukan
berdasar volume dalam meter Kubik bahan terpadatkan sesuai dengan
garis, permukaan dan elevasiyang ditunjukkan dalam gambar atau
seperti diperintahkan Direksi Pekerjaan.
Pembayaran bahan lantai kerja dilakukan menurut harga satuan dalam
meter kubik sesuai ketentuan dalam Sub-Bab 4.1.4.

BAB E 1-118

5. 1 . 1 . 5. Pekerjaan Penyimpanan Sementara dan Pembuangan


A. Umum
Kontraktor Pelaksana harus mengelola tempat-tempat pembuangan dan
penyimpanan sementara untuk bahan galian yang tidak bisa dipakai yang
berasal dari penggalian, tempat pengambilan tanah atau lombong batu atau
tempat untuk menyimpan sementara bahan galian yang akan dipakai untuk
pekerjaan yang tidak dapat secara spesifik dimasukkan dalam pekerjaan
tertentu. Tempat dan luas daerah pembuangan dan penyimpanan sementara
tersebut

harus

seperti

ditunjukkan

dalam

gambar

atau

seperti

diperintahkan atau disetujui Direksi Pekerjaan.


Tempat pembuangan atau penyimpanan sementara yang ditunjukkan dalam
Gambar atau diperintahkan Direksi Pekerjaan harus dibersihkan dari
tanaman dan tanah penutup dengan cara yang berlaku dalam Spesifikasi
Teknik ini.
Pengupasan hanya perIu dilakukan apabila dianggap perlu oleh Kontraktor
Pelaksana,

atau

diperintahkan

Direksi

Pekerjaan

untuk

mencegah

kontaminasi terhadap bahan atau untuk menjamin stabilitas buangan


dan/atau simpanan sementara. Apabila diperlukan, pengupasan harus

BAB E 1-119

dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai pengupasan yang berlaku dalam


Spesifikasi Teknik ini.
Daerah pembuangan dan penyimpanan umumnya harus diratakan dan
dipotong sehingga terbentuk permukaan yang teratur sesuai dengan
ketentuan Direksi Pekerjaan.
Bahan buangan atau simpanan harus diletakkan sedemikian rupa sehingga
terbentuk timbunan yang rapih dan teratur yang tidak mengganggu kegiatan
atau fasilitas pekerjaan lain.
Bahan buangan atau simpanan harus diletakkan dan dilindungi sedemikian
rupa sehingga tidak tererosi hujan atau aliran permukaan.
Buangan atau simpanan sementara di dekat sungai, alurf saluran atau
bangunan drainase permanen harus terlindung dari erosi oleh aliran sungai
atau air permukaan, disamping itu harus disediakan sarana untuk mengatur
atau membelokkan aliran untuk mencegah kontaminasi di jalan air tersebut.

Pekerjaan itu meliputi tetapi tidak terbatas pada pembuatan saluran


gendong (catch drain), saluran elak, mulut saluran-buang (outfall) talang
dan gorong-gorong

untuk drainase

di

sekitar

atau melalui

daerah

pembuangan dan penyimpanan.

BAB E 1-120

Bangunan pelindung erosi di tempat pembuangan permanen harus berupa


bangunan permanen.
Tempat buangan harus dibangun sesuai gambar atau seperti perintah
Direksi Pekerjaan. Apabila ditentukan, ditunjukkan dalam gambar atau
diperintahkan Direksi Pekerjaan bahan buangan harus ditempatkan
secara berlapis-Iapis secara teratur dan dipadatkan dengan alat
pemadat atau dengan cara yang diperintahkan atau disetujui Direksi
Pekerjaan.
Permukaan buangan permanen yang sudah selesai diurug harus rata dan
rapih dan harus dimiringkan untuk drainase sesuai perintah atau
persetujuan Direksi Pekerjaan; dan harus dirawat agar rapih dan
teratur, serasi dengan bentang alam sekitarnya.
Apabila ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan Direksi Pekerjaan,
tempat buangan permanen harus ditutupi tanah penutup dan ditanam
rumput, semak atau pohon

B. Pengukuran dan Pembayaran


Kecuali apabila ditentukan secara spesifik dalam Spesifikasi dan
dimasukkan dalam Daftar Volume Pekerjaan, tidak ada pembayaran
khusus untuk penyiapan, drainase, perawatan dan rehabilitasi daerahBAB E 1-121

daerah buangan dan simpanan sementara. Semua biaya yang terkait


dianggap sudah termasuk dalam harga satuan dan harga jumlah bulat

(lump sum) yang terkait seperti tercantum dalam Daftar Volume


Pekerjaan untuk beraneka-macam butir pekerjaan galian dan urugan.

5. 1 . 1 . 6. Rehabilitasi Daerah Kerja


A. Umum
Setelah pekerjaan selesai, tempat kerja dan tempat pengambilan bahan
galian

(borrow

area),

lombong

batu,

tempat

pembuangan

dan

pengumpulan, jalan hantar sementara dan semua daerah kerja lainnya


yang ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan Direksi Pekerjaan,
kecuali daerah yang akan terendam air waduk, harus direhabilitasi sesuai
perintah Direksi Pekerjaan. Tempat-tempat tersebut harus bersih,
rapih, ber-drainase baik dengan lereng galian yang stabil, sehingga bisa
diterima Direksi Pekerjaan.
Apabila Direksi Pekerjaan memandang perlu, Kontraktor Pelaksana harus
melandaikan lereng buangan (spoilbank), permukaan bahan timbunan, dan
galian sementara menjadi sekurang-kurangnya vertikal : horizontal = 1 :
2,5 ; dan/atau menstabilkannya dengan cara-cara lain; dan/atau membuat
drainase permanen tambahan yang mungkin diperlukan.
BAB E 1-122

Di tempat yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan Direksi


Pekerjaan, Kontraktor Pelaksana harus memasang kembali tanah penutup
yang dikupas pada waktu mulai pekerjaan atau pengambilan bahan galian
dan/atau menyebar campuran benih rumput yang disetujui Direksi
Pekerjaan. Tanah penutup harus dihamparkan menjadi lapisan-Iapisan
yang ketebalan dan pengerjaannya menggunakan alat yang sesuai dengan
perintah Direksi Pekerjaan.

B. Pengukuran dan Pembayaran


Kecuali

apabila

secara

spesifik

ditentukan

dalam

Spesifikasi

dan

dicantumkan dalam Daftar Volume Pekerjaan, tidak ada pembayaran khusus


untuk pekerjaan yang termasuk dalam Pasal ini. Semua biaya yang terkait
harus dianggap sudah dimasukkan dalam harga satuan dan harga jumlah
bulat untuk butir-butir pekerjaan konstruksi yang tercantum dalam Daftar
Volume Pekerjaan.
E.11. Konstruksi
Konstruksi pembangunan embung dilakukan oleh pelaksana yang telah
ditunjuk (kelompok tani) dan dilaksanakan secara padat karya agar petani
mampu mengembangkan embung dan merasa ikut memiliki sejak dini.

BAB E 1-123

Pelaksanaaan pembuatan embung dilakukan dalam beberapa tahap antara lain


:
1. Bentuk permukaan embung

Gambar 1. Bentuk Permukaan Embung


a. Bentuk permukaan embung disesuaikan dengan kondisi di lapangan
b. Volume galian merupakan volume air yang akan ditampung. Besaran volume
yang dibuat minimal 170 m3. Besaran volume embung ini akan tergantung
kepada konstruksi embung yang akan digunakan atau ada partisipasi dari

BAB E 1-124

masyarakat. Embung dengan kontruksi sederhana (tanpa memperkuat


dinding) dimungkinkan akan lebih luas dari volume minimal tersebut.

Gambar 2. Sketsa Bentuk Embung Tampak Atas Dan Samping

BAB E 1-125

2. Menggali Tanah
Penggalian dapat pula dilakukan di dekat alur alami/saluran drainase/mata
air untuk dapat dijadikan sebagai sumber pengisian air ke dalam embung.
3. Dinding pinggir embung
Dinding pagar embung dibuat miring atau tegak dengan kedalaman 2 s/d 2,5
m (tergantung kondisi lapangan). Tanggul dibuat agak tinggi untuk
menghindari kotoran yang terbawa air limpasan.
4. Memperkokoh dinding embung
a. Prinsip tahapan ini adalah agar embung tidak mudah retakdan air yang
telah berada embung tidak bocor. Jika struktur tanah yang ada kuat dan
memungkinkan air di embung tidak bocor, maka kegiatan ini tidak
diperlukan. Penguatan dinding embung ini juga dapat dilakukan pada bagianbagian tertentu yang rawan bocor.
b. Untuk memperkokoh dinding embung, ada beberapa bahan yang bisa
digunakan tergantung dari bahan/material yang mudah diperoleh di lokasi
dan biaya yang tersedia. Adapun bahan/material yang dapat dipakai untuk
dinding embung antara lain pasangan batu bata, pasangan batu kali, pasangan
beton. Proses pembuatan dinding embung seperti membangun kolam,
BAB E 1-126

kemudian permukaan dinding embung dapat dilapisi dengan adukan pasir dan
semen.
c. Jika diperlukan dasar embung dapat dipasangi batu bata/batu kali yang
dilapisi semen agar tidak bocor.
d. Untuk mengurangi longsor pada dinding embung, dapat dibuat tangga atau
undakan

di

sekeliling

dinding

selain

dapat

juga

berfungsi

untuk

mempermudah pengambilan air.


4. Pembuatan saluran pemasukan ( inlet).
Pembuatan saluran pemasukan berupa sudetan dari saluran air ke embung
sangatlah penting. Saluran pemasukan dibuat untuk mengarahkan aliran air
yang masuk ke dalam embung, sehingga tidak merusak dinding/tanggul.
Saluran pemasukan ini dapat dilengkapi dengan pintu pembuka/penutup
berupa sekat balok yang mudah dibuka dan ditutup.
5. Membuat pelimpas air/saluran pembuangan ( outlet).
Pelimpas air sangat diperlukan bagi embung yang dibuat pada alur alami atau
saluran drainase. Hal ini untuk melindungi bendung sekaligus mengalirkan air
berlebih. Demikian pula pembuatan saluran pembuangan bagi embung. Secara
skematis embung dapat direpresentasikan pada gambar berikut:
BAB E 1-127

Gambar 5. Desain Sederhana Embung


H. Pengawasan
Aparat Dinas Pengairan Aceh sebagai penanggung jawab kegiatan harus
melakukan pengawasan selama proses pembangunan sejak perencanaan
hingga konstruksi selesai.

BAB E 1-128

I. Pembiayaan
Biaya disediakan melalui sumber anggaran APBA 2015,

untuk Rangkaian

kegiatan pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab.


Aceh Barat (Otsus Aceh). Untuk pelaksanaan kegiatan ini diperkirakan
biaya Rp. 260.000.000,- (Dua Ratus Enam Puluh Juta Rupiah) termasuk
PPN.
J. Form form pengawasan
Untuk lebih memperlancar jalannya pengawasan dari pekerjaan yang akan
dilakukan

oleh

Kontraktor

Pelaksana,

berikut

adalah

form-form

pengawasan/supervisi yang akan dipakai di dalam pelaksanaan pengawasan


pekerjaan.

5. 1 . 2. Kontrol Pelaksanaan Program Keselamatan Konstruksi


Keselamatan dianggap sesuatu yang utama pada semua jenis pekerjaan
konstruksi. Konsultan Supervisi mengharuskan Kontraktor Pelaksana untuk
mengambil semua tindakan yang mungkin untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja maupun kejahatan-kejahatan terhadap area pekerjaan,
peralatan dan material, dan seluruh pekerja.

BAB E 1-129

Kendali keselamatan pada masa konstruksi terdiri dan beberapa unsur


kegiatan sebagai berikut:
1.

Orgasinasi Pengendalian Keselamatan (Safety Comitte)

2.

Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan

3.

Program Pengendalian Keselamatan

1. Organisasi Pengendalian Keselamatan


Kontraktor Pelaksana diwajibkan membentuk Organisasi Pengendalian
Keselamatan yang terdiri dan unsur Otoritas Keamanan, Pemilik Proyek,
Konsultan Supervisi dan Kontraktor Pelaksana. Kontraktor Pelaksana juga
menugaskan pelaksana senior mereka sebagai petugas pengendali
keselamatan. Pelaksana senior tersebut bertanggungjaawab terhadap
ketentuan

Kontraktor

Pelaksana.

Kontraktor

Pelaksana

akan

menyampaikan bagan organisasi pengendalian keselamatan dan merinci


program keselamatan kerja kepada pihak pemilik proyek untuk dievaluasi.
2. Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan
Segera setelah pembentukan organisasi pengendalian keselamatan,
Konsultan Supervisi melaksanakan rapat organisasi yang dihadiri semua
unsur terkait diatas. Didalam rapat tersebut diuraikan kondisi/informasi
yang ada diiingkungan pekerjaan, sistem transportasi pelaksanaan
BAB E 1-130

pekerjaan, prinsip pokok metode pelaksanaan pekerjaan Kontraktor


Pelaksana dan keselamatan lokal. Pengendali Keselamatan dan pihak
Kontraktor Pelaksana wajib menyampaikan ketersediaan perangkat yang
menunjang program keselamatan sesuai peraturan yang berlaku di
Indonesia.
3. Program Pengendalian Keselamatan
Program

Pengendalian

Keselamatan akan ditinjau oleh

Konsultan

Supervisi. Program pengendalian keselamatan ini meliputi:


Sarana transportasi menuju jalan umum,
Pengendalian lalulintas di lokasi pekerjaan,
Stabilitas alam dan lereng hasil galian,
Pekerjaan konstruksi di/dalam air,
Pekerjaan Pengelasan,
Lampu kerja di malam hari,
Pengendalian untuk meminimalkan dampak lingkungan sepanjang masa
pekerjaankonstruksi merupakan tujuan utama.

BAB E 1-131

5. 1 . 3. Pengawasan dan Evaluasi Pekerjaan Investigasi tambahan


Seluruh kegiatan investigasi tambahan diluar volume yang tercantum dalam
Kerangka Acuan Kerja kegiatan Supervisi Peningkatan Embung Geunang
Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh) akan menjadi beban dan tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi hanya membantu pihak
Pemilik Proyek dalam memberikan saran dan pengawasan dan evaluasi teknis.
Sepanjang pekerjaan investigasi tambahan dirasa pertu dan disetujui oleh
Pemilik Pekerjaan, maka Konsultan Supervisi akan membantu Pemilik Proyek
dalam pengawasan investigasi tambahan yang dilakukan oleh Kontraktor
Pelaksana menyangkut hal-hal sebagai berikut:

Pencarian altenatif Borrow / Quarry Area

Pencarian altenatif source material untuk pekerjaan beton, dan

Hal-hal lain yang dipandang pertu oleh Pihak Pemilik

Konsultan Supervisi akan membantu pihak Pemilik Proyek dalam pekerjaanpekerjaan yang disebut diatas dengan tanggung jawab hasil pekerjaan ada di
pihak Kontraktor Pelaksana.

5. 1 . 4. Inspeksi, Testing, dan Kontrol Pengiriman selama proses Fabrikasi


Salah satu tanggung jawab personil Konsultan Supervisi, dalam hal ini
Mekanikal & Elektrikal Engineer atau engineer lainnya, apabila dianggap
BAB E 1-132

perlu oleh pihak Pemilik Proyek adalah mengadakan inspeksi, pengujian dan
monitoring selama proses pembuatan di tempat fabrikasi.
Konsultan

Supervisi

akan

mengimplementasikan

pekerjaan

ini

untuk

meyakinkan bahwa pekerjaan Kontraktor Pelaksana berasal dari sumber


yang memenuhi pekerjaan disyaratkan.

1.

E.3. ORGANISASI DAN PERSONIL


Berfungsinya sistem manajemen proyek sangat tergantung oleh struktur

organisasi yang jelas. Hubungan kerja diantara PU, Konsultan Supervisi,


Kontraktor Pelaksana dan badan lain yang berkaitan dalam proyek pembangunan
Embung Geunang Uyat ini dapat digambarkan pada Gambar 5.28 berikut.
Hubungan kerja yang jelas juga akan mempermudah Konsultan Supervisi
dalam menyiapkan berbagai prosedur, mendistribusikan berbagai informasi,
menyelenggarakan berbagai rapat yang dibutuhkan sepanjang periode pekerjaan.
Ketiga belah pihak utama dalam organisasi proyek terdiri Pemilik/Engineer,
Konsultan Supervisi sebagai Wakil Engineer (Engineer Representative), dan
Kontraktor Pelaksana sebagai Pelaksana.
Organisasi

Konsultan

Supervisi

sebagai

Wakil

Engineer

(Engineer

Representative) akan diuraikan secara detail pada Gambar 5.29. Secara singkat

BAB E 1-133

organisasi Konsultan Supervisi akan dipimpin oleh seorang Ketua Tim yang
membawahi berbagai tenaga ahli dengan berbagai keahlian yang dibutuhkan.
Adapun uraian tugas dan tanggung jawab setiap tenaga ahli akan diuraikan dalam
bagian G.

BAB E 1-134

Ketua Tim

PPK Pembangunan
Embung Geunang Uyat

Inspector

Gambar 5. 35 :Hubungan Kerja diantara Pemilik Pekerjaan, Konsultan


Supervisi, Kontraktor Pelaksana

BAB E 1-135

1.

Khusus
Untuk mencapai kerja yang maksimal dan dapat tercapai kondisi kerja yang

baik, maka diperlukan koordinasi yang baik antara konsultan supervisi dengan
lembaga-lembaga yang terkait dengan proyek itu, serta hubungan antara konsultan
dengan instansi lainnya yang membantu Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Dinas

Pengairan Aceh. Konsultan sebagai pihak pengawas dan kontraktor sebagai pihak
pelaksana, masing-masing merupakan bagian yang tak terpisahkan di dalam
penentuan lancar tidaknya pelaksanaan proyek. Selain itu Konsultan harus dapat
bekerja sama sepenuhnya dengan lembaga pemerintah lainnya yang terkait dengan
pekerjaan.
Tugas-tugas yang akan didelegasikan adalah berupa tugas-tugas yang
berkaitan dengan masalah teknis dan kontrak, dimana tugas-tugas tersebut
diuraikan dalam sub bab lain dari dokumen usulan teknis ini.
Agar diperoleh hasil pengawasan pekerjaan yang maksimal dalam pekerjaan
Supervisi Konstruksi ini, Tim Supervisi akan melaksanakan sistem pengawasan dan
pembagian kerja yang sistematis dan terencana sebagaimana prinsip-prinsip dalam
manajemen konstruksi. Untuk itu pemilihan personil yang berpengalaman dan
pengelompokan personil dalam tim merupakan hal yang tak dapat dipisahkan untuk
BAB E 1-136

mencapai sasaran diatas.


Pemahaman atas lingkup supervisi yang akan dilaksanakan sangat mutlak
diperlukan, khususnya jenis pekerjaan dalam kategori Task Concept.
Kategori Task Concept

akan menuntut peranan dan tanggung jawab

Konsultan yang lebih mendalam dan berwenang penuh untuk penanganan supervisi
pelaksanaan pekerjaan mencakup diantaranya pekerjaan perencanaan dan review

design (jika diperlukan) berikut penyiapan gambar design dan estimasi biaya
konstruksinya serta terhadap pengawasan pekerjaan agar hasil akhir mutu
pekerjaan sesuai dengan yang disyaratkan. Disamping itu pada akhir pekerjaan
menyiapkan manual operasi dan pemeliharaan (jika diperlukan).
Sedangkan kategori Assistance Concept, Konsultan cenderung akan lebih
banyak membantu Pihak Proyek untuk pekerjaan pengawasan / supervisi dalam
usaha menyelesaikan pekerjaan kontruksi sesuai dengan standar teknis yang
diinginkan.
Tugas / sasaran utama dalam pelaksanaan supervisi konstruksi adalah
mencapai sasaran yang diinginkan, yakni mencakup :
a.

Tercapainya Kualitas Pekerjaan, dimana hasil pelaksanaan pekerjaan sesuai


dengan kualitas teknik yang diinginkan.

BAB E 1-137

b.

Fungsi Bangunan yang Optimal, dalam hal ini bangunan konstruksi yang dibuat
sesuai dengan dimensi yang direncanakan dan dapat berfungsi sebagaimana
yang diharapkan.

c.

Pengendalian Ketepatan Waktu Pelaksanaan, dimana pelaksanaan pekerjaan


sesuai dengan jadwal kontrak yang telah ditetapkan.

d.

Pengendalian

Biaya

Pekerjaan,

dimana

konsultan

supervisi

turut

mengendalikan sehingga biaya pekerjaan sesuai dengan kuantitas dan kualitas


bangunan yang dibuat dan secara keseluruhan tidak melampauai dana yang
telah disediakan.
e.

Ketepatan Cara Pelaksanaan, dilakukan dengan cara yang tepat.

f.

Terjaminnya Keselamatan Kerja, dapat terjaga dengan baik.

g.

Hasil Akhir Pelaksanaan, diselesaikan dengan rapih.

h.

Diterima Lingkungan, tidak mengganggu lingkungan.


Disamping tugas utama tersebut, konsultan supervisi juga akan melaksanakan

kegiatan :

review design (jika diperlukan),

on the job training kepada staff proyek (jika diperlukan),

checking gambar konstruksi yang dibuat kontraktor,

evaluasi BOQ dan estimasi biaya konstruksi,

monitoring kemajuan pekerjaan dan pembayaran,


BAB E 1-138

checking as built drawing,

dokumentasi dan pengarsipan pelaksanaan konstruksi

dan lain-lain.

Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam kegiatan Pengawasan /


supervisi adalah :
A

Aspek Umum
1) Melakukan kaji ulang dan memberikan persetujuan terhadap semua usulan
rencana, jadual dan dokumen terkait pekerjaan konstrksi dan pelaksanaan
proyek yang telah dibuat oleh kontraktor.
2) Melakukan

penngecekan

untuk

memastikan

pertanggung

jawaban

kontraktor terhadap jadual dan rencana kerja yang telah disetujui.


3) Melakukan pengecekan dan memberikan persetujuan terhadap desain dan
perhitungan desain yang disiapkan oleh kontraktor.
4) Melakukan pengecekan dan inspeksi kualitas dan kuantitas pekerjaan.
5) Melakukan pengawasan tambahan penyelidikan / penelitian lapangan
(sesuai dengan keperluan)
6) Memberikan saran dan persetujuan terhadap jadual pengadaan dan jumlah
bahan konstruksi seperti semen, dan lain-lain yang diusulkan oleh
kontraktor.
BAB E 1-139

7) Meberikan saran dan persetujuan terhadap metode pengukuran dan


perhitungan

volume

pekerjaan

dan

membantu melakuka

verifikasi

kemajuan kontrak dan pembayaran.


8) Melakukan inspeksi ke pabrik pembuat peralatan dan bahan-bahan
konstruksi (sesuai dengan keperluan bila diperlukan).
9) Menyiapkan laporan-laporan inspeksi dan kegiatan pegawasan
10) Melakukan pangawasan dan persetujuan gambar purna laksana (as built

drawing) yang telah dibuat dan diserahkan oleh kontraktor.


B

Aspek Khusus (Modifikasi Desain)


Aspek khusus (modifikasi desain) bangunan yang perlu dikaji adalah :
1.

Aspek Ukuran/ Dimensi Bangunan bangunan.

2. Aspek Pemilihan bahan / material yang digunakan.


3. Aspek Kekuatan konstruksi.
4. Aspek Stabilitas.
1.

Siklus dalam Pekerjaan Pengawasan


Kegiatan pengawasan (supervisi) dapat digambarkan berupa siklus dari suatu
aktivitas ataupun sub aktivitas, seperti yang digambarkan dalam gambar
dibawah ini.

BAB E 1-140

Pe
nja

De
fini
Ev
alu
asi
Te

Ta
rg
et

Sk
em
a

De
fini

Dia
gra
m
Bal

Per
uba
han
P

An
alis
is

Pen
ga
mbil
an
K

Alo
kas
i
S

La
po
Me
tod
e
Ko

An
ali
Pe
nga
ma

Pe
ngo
ntr

Ko
mp

Ar
us

Gambar E -1 Siklus dalam pekerjaan pengawasan yang berbasis pada


fungsi Manajemen Konstruksi

2.

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Konsultan Supervisi

Bagan alir (flow chart) pekerjaan Supervisi Konstruksi dari Konsultan disajikan
pada gambar dibawah ini.

BAB E 1-141

Mulai

PEKERJAAN
PERSIAPAN

Persiapan Administrasi
Penyusunan Sistem Organisasi
Koordinasi Intern Tim Pelaksana
Penyusunan Rencana Kerja
Penempatan Tenaga Ahli
Dukungan Kantor Pusat
Ketepatan Waktu Pelaksanaan

PEKERJAAN
PENDAHULUAN
Pengumpulan data Kontrak dan
Dokumen Pelelangan

PENINJAUAN LOKASI/
FIELD ENGINEERING

TASK CONCEPT

Identifikasi jenis-jenis kegiatan yang perlu dilakukan


untuk masing-masing konstruksi
inventarisasi kondisi bangunan existing
Klarifikasi kebutuhan konstruksi yang diperlukan.
Review data dan masukan teknis dari SID
Klarifikasi modifikasi desain
Penajaman rencana kerja konsultan.
Rangkuman evaluasi
- sketsa desain
- estimasi kuantitas bahan
- estimasi biaya

EVALUASI DAN KAJI ULANG HASIL SID


Membandingkan kondisi di lapangan dengan hasil Survei,
investigasi dan desain (SID)

Perbedaan
signifikan?

KOORDINASI DENGAN TIM


TEKNIS

PENENTUAN JENIS DAN


MACAM REVIEW DESAIN

Penentuan dimensi dan analisa stabilitas struktur


Penggambaran bangunan hasil review desain
Perhitungan volume dan biaya pelaksanaan konstruksi
Penyusunan spesifikasi teknis
Usulan Addendum

PRA KONSTRUKSI

Pre Construction Meeting


Evaluasi Rencana Mutu Pekerjaan (RMP) atau Rencana Mutu Kontrak (RMK)
Penyusunan Rencana Konstruksi (Construction Plan)
Penyusunan Pedoman Kendali Mutu Pekerjaan
Evaluasi Mutual Check 0% (MC-0).

PELAKSANAAN KONSTRUKSI

ASSISTANCE CONCEPT

Melakukan pengukuran/ Uitzet


Checking PM dan CP
Evaluasi gambar kerja dan hasil analisis
Check List Pengawasan Pekerjaan
Pengendalian jadwal pelaksanaan
Evaluasi rencana kerja dengan implementasi pelaksanaan
Optimalisasi Volume dan biaya konstruksi
Menyiapkan format Laporan Harian, Mingguan, Bulanan dan
Menetapkan metode
testing material dan alat
Inspeksi dan kontrol kualitas material dan peralatan
Kontrol kualitas pekerjaan
Mengevaluasi kerja tambah/kurang
Memberikan peringatan/ teguran/ sangsi
Evaluasi usulan pembayaran termyn
On the job training thd staff proyek
Menyiapkan laporan progress

RUNNING TEST

MUTUAL CHECK (MC) 100%

PEMELIHARAAN
Supervisi selama masa pemeliharaan

SERAH TERIMA PEKERJAAN/ FINAL HAND OVER

Selesai

Gambar 6.2

Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Supervisi Pembangunan Bendung dan


Jaringan Irigasi Daerah Irigasi Lhok Guci Kabupaten Aceh Barat

Gambar E -2 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Supervisi


BAB E 1-142

3.

Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan merupakan tahap awal dari pelaksanaan pekerjaan yang

akan dilakukan oleh Konsultan Supervisi. Pekerjaan ini lebih bersifat intern
Konsultan dan dimaksudkan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya
akan dapat mendukung kelancaran pekerjaan.
Pekerjaan persiapan ini diantaranya adalah :

a.

Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi merupakan kegiatan paling awal dari Konsultan setelah

menerima Surat Perintah Mulai Kerja (SPK) / Kontrak dari Pemberi Kerja.
Persiapan administrasi tersebut mencakup :

pembuatan dokumen kontrak,

pengurusan surat ijin ke instansi terkait,

pembuatan surat tugas kepada personil yang akan terlibat dalam penanganan
proyek,

surat permohonan data dan sebagainya.


Persiapan administrasi tersebut diusahakan dapat diselesaikan sesegera

mungkin sehingga tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan berikutnya.


Pekerjaan persiapan ini akan dilaksanakan oleh seorang administrasi teknik
yang telah cukup berpengalaman dalam menangani pekerjaan yang sejenis, sehingga

BAB E 1-143

diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang disediakan untuk itu.
Segala sesuatu yang terkait dengan masalah administrasi tersebut akan selalu di
bawah pengawasan Tim Leader yang bertanggung jawab atas penyelesaian seluruh
pekerjaan.

b.

Sistem Pengorganisasian
Agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai

target yang diinginkan, maka konsultan akan menyusun struktur organisasi


pelaksanaan pekerjaan yang mencerminkan :

Tugas dan tanggung jawab

Sistem koordinasi

Keterlibatan, maupun

Jalur komunikasi dan lain-lain


Dibawah pimpinan Tim Leader seluruh kegiatan diatur seefektif mungkin

sehingga tercipta tim work yang padu dan solid, serta bertanggung jawab penuh
terhadap semua hal yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan Supervisi Konstruksi
ini.

c. Koordinasi Intern Tim Pelaksana


Diskusi intern antar seluruh tim pelaksana dilakukan dibawah pimpinan Tim
Leader. Diskusi intern akan membahas :

Semua masalah yang ada


BAB E 1-144

Kemungkinan masalah yang timbul

Merumuskan pemecahannya

Tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan

Prosedur pelaksanaan supervisi konstruksi serta menampung usulan-usulan tim


pelaksana sebagai bahan masukan dan evaluasi pelaksanaan.

d. Penyusunan Rencana Kerja


Tingkat keberhasilan suatu proyek tidak hanya tergantung atas kemampuan
dari para Tenaga Ahli yang menangani, akan tetapi faktor perencanaan (kerja)
akan memegang peranan kunci yang akan menentukan kelancaran dan kesempurnaan
hasil yang akan dicapai.
Dengan adanya rencana kerja diharapkan tidak ada kerancuan dan tumpang
tindih pelaksanaan kegiatan, sehingga dukungan dari masing-masing personil akan
memberikan hasil yang optimal.
Mengingat pentingnya rencana kerja ini, Tim Leader akan memimpin langsung
untuk membicarakan dan mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan :

Jadwal pelaksanaan supervisi pekerjaan

Jadwal penugasan masing-masing personil

Uraian tugas dari masing-masing personil

Hubungan kerja antar personil maupun dengan proyek dan kontraktor.


BAB E 1-145

Peralatan yang akan dibutuhkan

Dukungan pendanaan

Dan sebagainya.

e. Penempatan Tenaga Ahli


Konsultan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menugaskan tenaga ahli
yang cukup berpengalaman sesuai dengan bidang disiplin ilmu masing-masing untuk
mengawasi, mengkoordinasi dan menganalisa aktivitas pekerjaan agar diperoleh
standar kualitas yang cukup tinggi.

f. Dukungan Kantor Pusat


Kantor pusat konsultan di Jakarta sepenuhnya akan mendukung pelaksanaan
pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat
(Otsus Aceh) dengan menyiapkan :

Tenaga ahli supervisi

Finansial yang memadai

Dukungan administrasi

Sistem komunikasi, dan lain-lain

BAB E 1-146

g. Ketepatan Waktu Pelaksanaan


Evaluasi dan analisa semua aktivitas kegiatan pelaksanaan konstruksi akan
dilakukan

konsultan

supervisi

secara

kontinyu

sehingga

ketepatan

waktu

pelaksanaan sesuai dengan jadwal yang telah disediakan.


Mengingat pelaksanaan pekerjaan cukup padat yakni harus sudah dapat
diselesaikan dalam waktu 168 (seratus enam puluh delapan) hari, maka diperlukan
suatu menejemen pengelolaan yang cermat dengan memperhatikan faktor-faktor
yang dapat menghambat aktifitas pelaksanaan pekerjaan.
Pengenalan terhadap item-item pekerjaan serta urut-urutan kerja serta
keterkaitan item satu dengan yang lain harus dipahami. Dari hasil evaluasi dan
analisa semua aktivitas kegiatan selanjutnya dituangkan dalam jadwal pelaksanaan
pekerjaan.
4.

Pekerjaan Pendahuluan
Dalam Pekerjaan Pendahuluan kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi hal-

hal sebagai berikut :


-

Penyusunan Bagan Organisasi Pekerjaan Supervisi

Pengumpulan data

Peninjauan kondisi lapangan

Evaluasi hasil Survai, Investigasi dan Desain (SID)

BAB E 1-147

Melakukan kajian ulang (review design) tahap awal

a.

Penyusunan Bagan struktur Organisasi Pekerjaan Supervisi


Bagan struktur organisasi dimaksudkan agar semua pelaksanaan pekerjaan

dapat berjalan dengan baik karena telah terdifinisi masing-masing tugas,


wewenang dan tanggung jawab antara semua pihak yang terkait, dalam hal ini
pelaksanaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat
(Otsus Aceh).
Secara garis besar, pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan konstruksi ini
adalah :
1.

PPTK

2.

Instansi terkait

3.

Konsultan Supervisi.

4.

Kontraktor Pelaksana.
Bagan Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan yang akan diusulkan oleh Konsultan

Supervisi dalam pelaksanaan pekerjaan ini sebagaimana ditunjukkan dalam Sub Bab
Organisasi dan Personil akan mencerminkan :

Hubungan kerja

Tugas, wewenang dan tanggung jawab

Mekanisme Kerja
BAB E 1-148

Jalur instruksi

Jalur koordinasi

Jalur komunikasi

b.

Hubungan Kerja dan koordinasi dengan Proyek


Tim Supervisi yang terdiri dari Ketua Tim, Tenaga Inspektor, Tenaga Teknis

(staff teknis) dan Tenaga Penunjang akan berada dan berkantor di dekat lokasi
pekerjaan sebagai upaya untuk dapat memonitor secara langsung dan terus
menerus mengenai perkembangan dan kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan oleh
kontraktor serta mengupayakan agar segala pekerjaan yang dihasilkan sesuai
dengan standard mutu dan persyaratan/ spesifikasi teknis yang ada. Tim supervisi
akan membuat laporan kemajuan yang akan disampaikan kepada Pemimpin Proyek
yang mencakup aktivitas konsultan sendiri maupun aktivitas Kontraktor sebagai
pelaksana fisik.
Pekerjaan-pekerjaan ini juga mencakup hal-hal seperti :

pembuatan rekayasa lapangan,

Contract Change Order,

Menganalisa klaim Kontraktor,

BAB E 1-149

memeriksa pengajuan Sertifikasi Pembayaran Bulanan (Monthly Certificate)


lengkap dengan back up datanya,

serta penyiapan Professional Hand Over (PHO).


Disamping itu Konsultan Supervisi akan membantu Pemimpin Proyek dalam

menyelesaikan perbedaan pendapat yang mungkin timbul dengan Kontraktor dan


memberikan pendapat yang diminta atau tidak berdasarkan pertimbangan dan
analisa obyektif terhadap semua tuntutan yang mungkin diajukan oleh Kontraktor.
Koordinasi kegiatan Tim Pengawasan Lapangan akan dilaksanakan oleh Tim
Supervisi yang dalam hal ini akan diwakili oleh Ketua Tim bersama-sama dengan

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Dinas Pengairan Aceh.


c.

Hubungan Kerja dan koordinasi dengan Kontraktor


Hubungan koordinasi dengan kontraktor dilakukan melalui Pemimpin Proyek

atau Direksi yang ditunjuk. Dalam hubungan ini konsultan bertindak sebagai wakil
dari Pengguna jasa atau biasa disebut dengan Engineer Representative. Konsultan
di dalam melaksanakan tugasnya akan memberikan saran-saran kepada Kontraktor
mengenai masalah-masalah yang berkaitan dan timbul di dalam pelaksanaan
pekerjaan.
Selain itu konsultan akan membantu kontraktor dengan memberikan saransaran mengenai metode kerja, organisasi pelaksanaan, pemilihan dan penempatan
staf/tenaga, pemilihan dan penempatan peralatan kerja yang digunakan dan
BAB E 1-150

membantu monitoring pelaksanaan kerja dll.


Terhadap

masalah-masalah

yang

diperkirakan

akan

timbul

di

dalam

pelaksanaan pekerjaan, akan didiskusikan secara bersama-sama antara konsultan,


kontraktor, dan direksi lapangan termasuk di dalamnya apabila diperlukan adanya
revisi desain (review design) ataupun design ulang. Konsultan akan memberikan
saran, alternatif pemecahan masalah serta rekomendasi di dalam upaya untuk
pengambilan keputusan, dimana keputusan ini nantinya harus disetujui oleh
Pengguna jasa (diwakili oleh Tim Teknis) sebelum dilaksanakan di lapangan.
Periodik meeting, sedikitnya dilakukan sekali dalam seminggu.

Diadakan

bersama-sama dengan Kontraktor dan bilamana perlu dengan Pengguna jasa untuk
mengevaluasi pelaksanaan kerja minggu sebelumnya, serta membuat program kerja
minggu berikutnya.

d.

Pengumpulan Data (Dokumen Kontrak dan dokumen lain) dan Pendalaman


terhadap Dokumen Kontrak dan Dokumen Lain yang Terkait
Konsultan Supervisi akan melakukan pengumpulan data dan dokumen yang

terkait dengan pelaksanaan pekerjaan, dalam hal ini yang utama adalah dokumen
pelelangan dan dokumen kontrak.
Disamping itu Konsultan juga akan mengumpulkan pedoman-pedoman dan
standar pelaksanaan bangunan sipil dan perpipaan yang akan mendukung kelancaran
dan peningkatan kualitas pekerjaan.
BAB E 1-151

Beberapa

kegiatan

yang

akan

dilaksanakan

pada

tahap

ini

adalah

memngumpulkan, memahami dan mempelajari:


1.

Kerangka Acuan Kerja (KAK) Pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung


Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh).

2. Laporan

hasil

Soil

Investigation

dilokasi

Pekerjaan

Supervisi

Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh)


3. Gambar Kerja, Spesifikasi Teknik Pekerjaan Supervisi Peningkatan
Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh)
4. Dokumen Perjanjian Pemborongan (Kontrak) pekerjaan fisik yang
menjadi lingkup tugasnya.
5. Dokumen-dokumen lain yang terkait.

5.

Peninjauan Kondisi Lapangan / Field Engineering


Pada awal pelaksanaan pekerjaan, konsultan supervisi akan melaksanakan

Survei lapangan untuk mengetahui kondisi existing. Survei pendahuluan ini, disebut
sebagai Field Engineering atau Rekayasa Lapangan.
Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Rekayasa Lapangan oleh
tim supervisi diantaranya sebagai berikut :

BAB E 1-152

Melakukan identifikasi lapangan jenis-jenis kegiatan yang perlu dilakukan


untuk masing-masing konstruksi disesuaikan dengan hasil SID

Melakukan inventarisasi masalah-masalah di bangunan existing (jika ada)


serta melakukan klarifikasi terhadap kebutuhan konstruksi yang diperlukan.

Melakukan kajian kembali terhadap data dan masukan teknis dari SID yang
pernah dilakukan serta melakukan klarifikasi dengan kondisi existing untuk
dapat mengevaluasi apakah diperlukan modifikasi desain atau tidak.

Melakukan penajaman rencana kerja konsultan.


Selanjutnya Tim Supervisi akan membuat rangkuman evaluasi dengan

menampilkan sketsa desain serta estimasi kuantitas bahan yang diperlukan untuk
konstruksi termasuk estimasi biayanya.

6.

Evaluasi Hasil SID


Berdasarkan hasil peninjauan kondisi lapangan yang dilengkapi dengan

catatan mengenai karakteristik konstruksi yang perlu dibangun untuk masingmasing lokasi, selanjutnya dibandingkan dengan hasil Survei, investigasi dan desain
(SID) untuk mengevaluasi apakah terdapat perbedaan yang cukup signifikan
sehingga diperlukan adanya review desain terhadap beberapa konstruksi yang
relatif vital.

BAB E 1-153

7.

Redesain / Kajian Ulang


Tim Supervisi akan berkoordinasi dengan Direksi untuk menentukan jenis

dan macam Review Desain yang akan dilakukan.


Tim` Supervisi akan melaksanakan kegiatan Review Desain jika didapatkan
beberapa hal sebagai berikut :
-

Jika jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan belum ada Survei, investigasi
dan desainnya.

Jika terdapat perbedaan kondisi lapangan dengan data yang terdapat dalam
hasil SID.

Jika dipandang perlu dilakukan perubahan type dan konstruksi berdasarkan


pertimbangan teknis.
Konsultan

supervisi

dalam

melaksanakan

review

desain

akan

selalu

berkonsultasi dengan direksi (Tim Teknis) yang ditunjuk oleh Kepala Pejabat

Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pengairan Aceh.


a.

Review Desain

1.1.1.1.1. Elevasi mercu bendung


Elevasi mercu bendung ditentukan berdasarkan muka air rencana pada

BAB E 1-154

bangunan sadap. Disamping itu kehilangan tinggi energi perlu ditambahkan untuk
alat ukur, pengambilan, saluran primer dan pada kantong Lumpur.

Lebar Efektif bendung


Lebar efektif bendung di sini adalah jarak antar pangkalpangkalnya
(abutment), menurut kriteria lebar bendung ini diambil sama dengan lebar ratarata sungai yang setabil atau lebar rata-rata muka air banjir tahunan sungai yang
bersangkutan atau diambil lebar maksimum bendung tidak lebih dari 1,2 kali lebar
rata-rata sungai pada ruas yang stabil.
Berikut adalah persamaan lebar bendung :

Dimana :
Be

= Lebar efektif bendung (m).

= Jumlah pilar

Kp

= Koefisien kontraksi pilar.

Ka

= Koefisien kontraksi pangkal bendung

H1

= Tinggi energi diatas mercu (m).

BAB E 1-155

Tinggi Muka Air Banjir di Atas mercu Bendung


Persamaan tinggi energi di atas mercu (H1) menggunakan rumus debit bendung
dengan mercu bulat, yaitu :

Dimana :
Q = debit (m3/det)
Cd = koefisien debit
g = percepatan gravitasi (m/det2)
Be = lebar efektif bendung (m)
H1 = tinggi energi di atas mercu (m)

Tinjauan gerusan di Hilir bendung


Tinjauan terhadap gerusan bendung digunakan untuk menentukan tinggi dinding
halang (koperan) di ujung hilir bendung. Untuk mengatasi gerusan tersebut
dipasang apron yang berupa pasangan batu kosong sebagai selimut lintang bagi
tanah asli. Batu yang dipakai untuk apron harus keras, padat, awet dan mempunyai

BAB E 1-156

berat jenis 2,4 Ton/m3. untuk menghitung kedalaman gerusan digunakan metode
Lacey.

Dimana :
R
Dm

= kedalaman gerusan di bawah permukaan air banjir (m)


= diameter rata-rata material dasar sungai (mm)

= debit yang melimpah di atas mercu (m3/det)

= faktor lumpur Lacey


Menurut

Lacey,

kedalaman

gerusan

bersifat

empiris,

maka

dalam

penggunaannya dikalikan dengan angka keamanan sebesar 1,5.

Gambar E -20 sketsa gerusan di Hilir bendung

BAB E 1-157

Perhitungan Daya Dukung Tanah


Untuk menghitung daya dukung tanah digunakan Metode Terzaghi dengan
persamaan sebagai berikut :

Pondasi Menerus :
Qu = C.Nc. + D.Nq + 0,5. .B.N

Pondasi Bujur Sangkar :


Qu

= 1,3 . C . Nc . + . D . Nq + 0,4 . . B . N

Qa

= Qu / SF

dimana :
Qu

= daya dukung tanah (ton/m2)

= kohesi tanah (ton/m2)

= berat isi tanah efektif (ton/m3)

= dalam pondasi (m)

= lebar pondasi (m)

Nc, Nq, N =

faktor daya dukung tanah

Qa

= daya dukung yang diijinkan (ton/m2)

SF

= faktor keamanan, diambil sebesar 3

BAB E 1-158

Perhitungan daya dukung tanah ini untuk mengetahui apakah terjadi keruntuhan
atau tidak bila dibangun pintu, bangunan pompa, gorong-gorong, jembatan dan
tanggul.

Stabilitas Lereng
Dalam analisa stabilitas lereng terhadap bahaya longsor (gelincir) digunakan
metode irisan bidang luncur, Methode Fellenius. Persamaan dari Metode Fellenius
ini dirumuskan sebagai berikut :

Fs

(c . l + (N U Ne) tan )
( T + Te)

Fs

>

1,1 (pembebanan tetap)

Fs

>

1,2 (pembebanan sementara)

dengan :
Fs

faktor keamanan

beban komponen vertikal yang timbul dari berat setiap irisan


bidang luncur (ton/m)

beban komponen tangemsial yang timbul dari berat setiap irisan


bidang luncur (ton/m)

BAB E 1-159

tekanan air pori yang bekerja pada setiap irisan bidang luncur
(ton/m)

Ne

komponen horisontal beban seismic yang bekerja pada setiap irisan


bidang luncur (ton/m)

Te

komponen tangensial beban seismic yang bekerja pada setiap irisan


bidang luncur (ton/m)

panjang busur (m)

sudut geser dalam bahan yang membentuk dasar setiap irisan


bidang luncur

angka kohesi tanah pembentuk dasar setiap irisan bidang luncur


(ton/m3)

berat isi dari setiap bahan pembentuk irisan bidang luncur (ton/m3)

Gambar E -21 Gaya-Gaya Yang Bekerja Pada Bidang Luncur


BAB E 1-160

Ne dan Te bernilai 0 bila perhitungan dalam kondisi normal (tidak ada gempa).

Analisa Penurunan Tanah


Penurunan tanah (settlement) pada tanah dasar akibat dari adanya beban diatas
seperti tanggul, bangunan pompa dan lain-lain akan diestimasi dengan menggunakan
Rumus Terzaghi sebagai berikut :

h
k +k
Ln
C
k

penurunan (m)

tebal lapisan yang dapat dimampatkan (m)

modulus kemampatan

tegangan butiran awal ditengah lapisan (kg/m2)

tambahan tegangan butiran akibat beban (kg/m2)

dimana :

8.

Tahap Pelaksanaan Supervisi Konstruksi


Tim supervisi yang dipimpin oleh Tim Leader akan secara kontinyu melakukan

supervisi atas pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor, dimana


BAB E 1-161

seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan yang disyaratkan di dalam dokumen
kontrak pekerjaan fisik (spesifikasi).
Sebelum pelaksanaan pekerjaan supervisi konstruksi dimulai, Konsultan
Supervisi terlebih dahulu akan membuat suatu pedoman dasar pelaksanaan
konstruksi agar pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat berjalan lancar dan sesuai
dengan standar mutu yang diinginkan, hal ini mencakup antara lain :

a.

Penyusunan Rencana konstruksi (Construction Plan)


Maksud dari penyusunan rencana konstruksi adalah agar pelaksanaan

konstruksi dapat berjalan lancar sesuai dengan schedule yang telah dibuat yang
didukung oleh :

Sarana jalan masuk dan jembatan yang memadai (kekuatan, kapasitas maupun
lebar jalan/jembatan) untuk transportasi bahan dan peralatan konstruksi.
Jika diperlukan rencana perbaikan yang dibutuhkan.

Terdifinisinya lokasi, kuantitas dan kualitas material konstruksi yang akan


digunakan.

Tersedianya peralatan konstruksi yang diperlukan baik itu jenis, kapasitas


maupun jumlahnya.

BAB E 1-162

Tersedianya sumber daya manusia (manpower) dalam jumlah yang cukup serta
mempunyai kemampuan teknis sebagaimana tuntutan jenis pekerjaan yang
akan ditangani.

Terdifinisinya bangunan sementara yang diperlukan.


Rencana Konstruksi ini akan dijabarkan lebih jauh dalam rangka membuat :

Rencana perbaikan jalan dan jembatan yang diperlukan

Rencana pembuatan bangunan sementara yang diperlukan

Jadwal Pelaksanaan Konstruksi

Jadwal, Jumlah dan Jenis Peralatan yang akan digunakan

Rute/rencana jalur pengangkutan material konstruksi

Jadwal, Jumlah dan Kualifikasi Tenaga Kerja yang dibutuhkan

Rencana Alokasi Pemakaian Bahan Konstruksi

Dengan adanya Rencana Konstruksi ini diharapkan dapat dihindari berbagai


hal mencakup :

Terkonsentrasinya

puncak

kegiatan

konstruksi

pada

satu

waktu

tertentu.

Terjadinya Idle peralatan konstruksi

Terlalu padatnya trafik pengangkutan material konstruksi

BAB E 1-163

Dapat dihindari kerusakan jalan kerja serta gangguan terhadap


lingkungan.

Kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dapat direduksi sekecil


mungkin

b.

Dimungkinkan efisiensi biaya pelaksanaan konstruksi

Dan lain sebagainya.

Monitoring dan Kontrol Jadual Pelaksanaan Konstruksi


Pada saat ini dikenal beberapa cara untuk mengontrol dan memonitor

jadwal kemajuan proyek antara lain:


a) Diagram balok
b) Diagram garis
c) Teknik jaringan kerja
d) Kurva - S
e) Diagram skala waktu.
Beberapa cara tersebut dapat dipakai bersama-sama atau dikombinasikan.
Misalnya pembuatan master network plan cocok untuk kontrol jadwal seluruh
proyek, sedangkan diagram balok dan diagram garis dapat dipergunakan untuk

BAB E 1-164

aktivitas pekerjaan yang lebih mendetail dan terperinci. Variasi penggunaan caracara tersebut diatas dapat dikembangkan secara optimal.

c.

Monitoring dan Kontrol Jadual Keselamatan Kerja


Pencegahan kecelakaan perlu diperhatikan didalam manajemen konstruksi.

Tidak hanya keselamatan manusia saja tetapi juga terhadap kondisi kerja yang
mempengaruhi prestasi kerja dan pada akhirnya terhadap biaya proyek.
Di negara-negara yang sudah maju masalah keselamatan amat ditekankan dan
seringkali dicantumkan dalam spesifikasi oleh pihak pemilik.
Secara umum ada beberapa prinsip dasar yang dapat dipergunakan pada
setiap lokasi pekerjaan misalnya:
memakai mesin dan peralatan yang baik.
mempergunakan mesin/ peralatan yang sesuai dengan instruksi
pembuatnya/pabriknya, dan tidak membebani lebih dari kapasitasnya.
bekerja dengan teratur, hati-hati dan tidak simpang siur.
meyakinkan diri bahwa semua instruksi harus diberikan secara singkat,
jelas dan mudah dimengerti .
tidak memperkenankan pekerja melakukan kegiatannya ditempat yang
berbahaya tanpa alat peIindung/ pengamanan yang tepat.
BAB E 1-165

memakai pertimbangan yang logis sebelum menugaskan suatu aktivitas


kepada bawahan.
mengadakan check dan recheck, apakah semua instruksi yang diberikan
sudah ditaati.
Atau dapat pula ditempatkan seorang Safety Engineer. Tugasnya adalah
mengamati dan melokalisir akan kemungkinan timbulnya bahaya, sebelum, sedang
dan sesudah pekerjaan selesai, misalnya untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sementara seperti konstruksi acuan, jembatan-jembatan penolong, dimana
para kontraktor cenderung sering mengabaikan kekokohannya. Kadang-kadang
konstruksi bangunan sementara tersebut runtuh atau rusak sehingga dapat
mengakibatkan kecelakaan. Disinilah peranan Safety Engineer diharapkan dapat
membantu

mendeteksi

dan

melihat

kemungkinankemungkinan

akan

bahaya

keruntuhan konstruksi. Untuk ini dipertimbangkan adanya Asuransi Tenaga


Kerja.

d.

Monitoring dan Kontrol Tata letak dan ukuran konstruksi


Aspek ini mencakup dimana bangunan tersebut harus dibuat, apakah titik

tetap, koordinat dan levelnya sudah sesuai dengan rencana. Pengawasan terha-

BAB E 1-166

dap letak sesuatu bangunan/konstruksi bisa dari yang amat sederhana


sampai kepada yang paling rumit.
Dalam hal-hal yang khusus seperti ini peran ahli geodesi dan topography
sangat

menentukan.

Disamping

itu bangunan-bangunan konstruksi

harus

diperiksa kebenaran dimensi ukurannya. Apakah lebar, panjang dan tingginya


cocok dengan gambar kerja. Untuk pekerjaan yang memiliki unsur-unsur
bahan yang tak terlihat seperti ukuran ketebalan urugan.pasir, diameter
tulangan

dan

jarak

jaraknya,

seorang

pengawas

wajib

meningkatkan

pengawasannya untuk mencegah "pencurian " ukuran. Pekerjaan yang sudah


selesai dan ternyata tidak cocok dengan bestek harus dibongkar. Disini
faktor integritas dari pengawas lapangan amat menentukan sekali.

e.

Kontrol Kuantitas (Quantity Control) dan Pengerjaan (Workmanship)


Kontrol bahan mencakup produk-produk bahan dari alam maupun produk

produk bahan yang diolah oleh manusia (artificial). Semua persyaratanpersyaratan bahan diuji kualitasnya terhadap spesifikasi yang telah ditentukan
dalam dokumen kontrol.
Bilamana hasilnya dibawah standar dari apa yang telah ditetapkan di dalam
dokumen kontrol, maka bahan produk pekerjaan seyogyanya tidak diterima,
BAB E 1-167

dibongkar dan diulangi lagi sehingga memenuhi standar kualitas yang seharusnya.
Dalam hal ini para pengawas lapangan harus mempunyai angka toleransi dalam
melakukan Quantity control tersebut.
Batasan toleransi tersebut dapat diangkapkan kepada pihak kontraktor
atau dapat pula diatur secara tertulis, dimana pada periode- periode tertentu
batasan tersebut dapat ditinjau kembali.

Quantity control akan dilakukan dengan pengujian bahan/ material


dilapangan atau pengujian-pengujian tersebut dapat pula diselenggarakan di
laboratorium dan akan dihadiri oleh pihak pengawas. Atau pengujian bahan/
material dapat pula dilakukan dengan peralatan-peralatan laboratorium yang
dapat dibawa ke lapangan. Pada umumnya pekerjaan-pekerjaan pengujian
diselenggarakan atas permintaan pihak pemilik pekerjaan. Seperti halnya
dengan aspek sebelumnya, integritas kontraktor dan pengawas merupakan
faktor yang paling utama dalam pengawasan ini.

f.

Aspek Administratif
Selain pekerjaan pengawasan di lapangan, tim pengawas lapangan juga akan

mengatur dan menyusun pekerjaan administrasi di kantor. Pekerjaan pokok di


kantor adalah membuat laporan-laporan secara periodik dan tertulis sebagai
bahan untuk pertemuan dan bahan untuk pemecahan masalah.

BAB E 1-168

Pada dasarnya ada beberapa bagian tata usaha administrasi yang perlu
ditangani, antara lain:
Meninjau dan menginterpretasikan gambar-gambar kerja dan membuat
koreksi seperlunya.
Mendokumentasikan pekerjaan tambah dan pekerjaan kurang.
Membuat laporan kemajuan pekerjaan secara berkala.
Memeriksa dan menyetujui permintaan pembayaran angsuran .
Mengadakan inspeksi total sebelum berita acara penyerahan .
Mengatur segala sesuatunya menjelang penyerahan akhir dan tindak
lanjut pada waktu masa pemeliharaan.

g.

Kontrol yang Sistematis Terhadap Kegiatan di Lapangan


Dalam konteks yang lebih luas, pekerjaan supervisi mengemban juga fungsi

kontrol manajamen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan,


perlu diperiksa dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan
setengah-setengah

atau

dengan

cara

perencanaan

yang

mendadak

akan

mengakibatkan hasil kerja yang tidak memuaskan. Untuk menanggulangi masalah


ini, diperlukan suatu kontrol yang sistimatik. Pengawas lapangan harus mengerti
bagaimana cara menerapkan sistim kontrol yang baik dilapangan.

BAB E 1-169

Kontrol yang sistimatis terhadap kegiatan dilapangan memiliki tiga tujuan


yaitu:
Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa
bidang kegiatan pokok. Bilamana terdapat kekurangan yang terjadi,
maka harus dikembangkan sasaran jangka pendek dan program kerja
untuk mengatasinya.
Memastikan bahwa. pekerjaan pengawasan berjalan secara benar
sehingga peringatan secara dini dapat diberikan apabila terjadi suatu
kesalahan.
Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan tidak dilampaui.
Informasi keuangan dari laporan proyek dapat memberikan indikasi
akan beres tidaknya pelaksanaan proyek di lapangan dan segi
pemakaian/ pengeluaran uang.
Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu
peninjauan dilapangan yaitu :
pencapaian target kemajuan fisik
pencapaian target keuangan
pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
penempatan dan peranan sub-kontraktor, perencanaan dan kontrol.
BAB E 1-170

pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektivitas dan


efisiensi kerja lapaagan .
pemantapan kerja sama antar pekerja proyek dari seluruh bagian
hubungan dengan pihak pemilik
Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai
atau menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.
Apakah target yang ditentukan tiap bulannya terpenuhi atau tidak, salah satu
cara mengevaluasinya seperti dijabarkan dalam format pada Tabel dibawah ini :
Format pada table dibawah ini dapat dipakai secara efektif bilamana target
yang ditentukan dapat dinyatakan dengan angka secara jelas. Tentunya tidak
semua hal dapat dikuantitatifkan seperti misalnya bidang sasaran kegiatan pokok
hubungan dengan pihak pemilik. Namun demikian pada kolom "Target Bulan Ini"
dapat disusun pertanyaan-pertanyaan, yang
didisain sedemikian rupa sehingga jawabannya bisa dikategorikan dari sangat
baik, baik, sedang, kurang dan akhirnya kurang baik. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut didisain sedemikian rupa dengan maksud mengemukakan kejadian
aktual di lapangan. Paling tidak pengungkapan status yang sebenarnya akan
situasi dan keadaan proyek dapat tergambarkan dengan jelas.

BAB E 1-171

Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalahnya dengan benar, maka langkahlangkah yang diambil untuk mengatasinya akan lebih tepat dan efektif.

h.

Alokasi Sumber Daya


Pelaksanaan suatu proyek umumnya terdiri dari beberapa atau banyak

aktivitas atau kegiatan, dimana semua aktivitas tersebut memerlukan waktu,


dana dan sumber-sumber daya. Sumber-sumber daya yang dimaksudkan dapat
merupakan tenaga manusia, alat-alat, bahan-bahan yang diperlukan dan lain-lain.
Pada umumnya dalam suatu jaringan kerja dimana penentuan lintasan
kritisnya berdasarkan pada kendala waktu, masih diperlukan adanya pengaruh
alokasi sumber daya tadi, sehingga mungkin dapat mempengaruhi lintasan kritis.
Sebagai contoh suatu jadwal aktivitas-aktivitas menurut dasar mulai yang
paling awal (earliest Start) dapat dilihat bahwa untuk setiap periode waktu
terdapat satu atau beberapa aktivitas yang harus dilaksanakan. Oleh karena
aktivitas itu aktivitas tersebut membutuhkan waktu dan sumber daya, maka
pada setiap periode waktu di dalam jadwal dibutuhkan pula sumber daya yang
dibutuhkan oleh semua aktivitas yang harus dilaksanakan pada periode waktu
tersebut.
BAB E 1-172

Bila

terdapat

konflik

(kebutuhan

somber

melampaui

kemampuan

penyediaannya) antara aktivitas A dan B, maka antara kedua aktivitas tersebut


ditambahkan hubungan ketergantungan, dimana satu aktivitas bergantung
pada aktivitas yang lain. Jika terdapat lebih dari dua aktivitas yang
konflik, maka dipilih dua buah aktivitas saja yang harus ditambahkan hubungan
ketergantungannya. Bilamana hal ini belum juga teratasi, maka cara tersebut
diulang beberapa kali sampai tidak ada lagi aktivitas-aktivitas yang mengalami
konflik. Dengan demikian penambahan waktu akibat alokasi somber terbatas
tadi dapat diminimumkan.
Misalnya

pertambahan

waktu penyelesaian proyek yang

diakibatkan

pertambahan hubungan ketergantungan diantara dua aktivitas yang mengalami


konflik adalah IPD (Increase In Project Duration) maka IPDAB dapat dihitung
sebagai berikut
IPD AB = EFA + DB LFB
= EFA (LFB DB )
Atau
IPD AB = EFA LS B
Iterasi diatas dilakukan :

BAB E 1-173

i)

bila IPDAB = x > 0, berarti waktu penyelesaian proyek akan


bertambah selama periode x.

ii)

bila IPDAB = x < 0, berarti waktu penyelesaian proyek tidak


bertambah, karena kelonggaran waktu dari aktivitas B belum
terlampaui.

Secara logika dapat dicari IPDAB yang minimum, apabila :


a)

EFA minimum dan

b)

LSB maksimum

Oleh karena itu dipilih aktivitas A yang mempunyai EFA yang minimum dan
aktivitas B yang mempunyai LSB maksimum; kemudian ditentukan bahwa
aktivitas B bergantung pada aktivitas A atau aktivitas A harus dilaksanakan
mendahului aktivitas B.
Untuk jelasnya perlu diberikan contoh sederhana alokasi sumber-daya
terbatas ini dengan menuliskan terlebih dahulu langkah-langkah pelaksanaannya
sebagai berikut :
1)

Menyusun jadwal dasar proyek dengan EF dan LS tiap-tiap aktivitas

2)

Menentukan harga EFmin dan LSmaks dari aktivitas-aktivitas yang


mengalami konflik, dan menambahkan hubungan ketergantungan

BAB E 1-174

diantara kedua aktivitas yang bersangkutan.


3)

Menyusun network yang baru dengan memperhatikan pula tambahan


hubungan ketergantungan seperti tersebut pada butir 2.

4)

Menyusun jadwal yang baru berdasarkan network yang telah disusun


pada langkah 3 menurut jadwal dasarnya

5)

Jika masih terdapat aktivitas yang konflik, langkah butir 2 sampai


dengan 4 diulangi kembali sampai teratasi seluruhnya yang berarti
alokasi sumber terbatas ini telah mencapai optimum

i.

Analisa Time Cost Trade Off


Pada sub bab diatas telah diuraikan bagaimana membuat jadwal alokasi

sumber daya dihubungkan dengan jaringan kerja yang direncanakan, namun


belurn mengetengahkan masalah hubungan antara waktu dengan biaya (cost).
Dalam bab ini akan dikemukakan di dalam perencanaan awal suatu proyek di
samping varlabel waktu dan sumber daya, maka variabel biaya (cost) tak dapat
dilupakan peranan pentingnya. Biaya (cost) merupakan salah satu aspek yang
penting dalam manajemen, dimana biaya yang mungkin timbul harus dikendalikan
seminimum mungkin. Pengendalian biaya harus memperhatikan faktor waktu,

BAB E 1-175

karena terdapat hubungan yang erat antara waktu penyelesaian proyek dengan
biaya-biaya proyek yang bersangkutan atau aktivitas pendukungnya.
Sering terjadi suatu proyek harus diselesaikan lebih cepat daripada waktu
normalnya dalam hal ini pengawas dihadapkan kepada masalah bagaimana
mengawasi penyelesaian proyek dengan biaya yang minimal. Oleh karena itu perlu
dipelajari terlebihb dahulu hubungan antara waktu dan biaya (cost)/(time cost

relation ship). Dan analisa mengeanai pertukaran antara waktu dan biaya
disebut analisa pertukatran waktu dan biaya (Cost)/(Time Cost Trade Off

Analysis atau disingkat TCTO analysis).


a)

Hubungan antara Waktu (Time) dan Biaya (Cost)


Seperti telah kita kenal ada dua macam biaya proyek yaitu :
a.

Biaya langsung (Direct Cost) yaitu semua biaya yang dapat


dinyatakan keterlibatannya secara langsung didalam aktivitasaktivitas proyek seperti biaya bahan, pekerja dan peralatan.

b.

Biaya tak langsung (Indirect Cost) yaitu semua biaya proyek


yang tidak dapat dinyatakan ketsrlibatannya secara langsung
didalam aktivitas-aktivitas pendukung proyek seperti upah/ gaji,
bunga investasi, bonus dan lain-lain.

BAB E 1-176

Gambar E -22 Hubungan Antara Waktu Dengan Biaya

Apabila waktu penyelesaian suatu aktivitas dipercepat, maka biaya


langsung akan bertambah sedangkan biaya langsung akan berkurang.
Hubungan antara Waktu dan Biaya
Pertambahan biaya langsung (direct cost) untuk mempercepat suatu
aktivitas persatuan waktu disebut Cost-slope sehingga :

Cost Slope

= biaya ( cost ) per satu satuan waktu, untuk memperpendek


penyelesaian proyek/ aktivitas
=

perbandingan antara pertambahan biaya dengan percepatan


waktu penyelesaian

crash cost - normal cost


normal duration - crash duration
BAB E 1-177

Cost Slope =

b)

C
t

Hal-hal khusus mengenai hubungan antara waktu dan biaya (cost)


Gambar dibawah ini menunjukkan perilaku hubungan antara waktu dan

biaya. Dalam hal ini kurva perkiraan digambarkan sebagal suatu garis lurus dan
kurva yang sebenarnya digambarkan sebagai suatu garis yang terputus-putus.
Dalam hal ini waktu dapat dikurangi dengan tambahan biaya yang relatif rendah.
Waktu yang dibutuhkan untuk proyek ini dapat dikurangi dari titik L meajadi
titik Vu, sedangkan biaya naik dari titik P hingga titik Q.

Gambar E -23
Hubungan Antara Waktu Dengan Biaya, Dimana waktu
Dapat Dikurangi Dengan Penambahan Biaya Yang relative rendah

BAB E 1-178

Untuk menentukan bentuk kurva waktu dan biaya yang sebenarnya (yang
digambarkan oleh garis putus-putus) terutama dalam proyekproyek yang
mempunyai ribuan aktivitas adalah rumit. Berdasarkan alasan ini maka
dipergunakanlah garis perkiraan linier, yaitu garis lurus yang menghubungkan
titik normal (normal point) dengan titik cepat/jenuh (crash point). Meskipun hal
ini mengandung ketidak tepatan kesalahan ini tidak besar artinya .
Gambar E.23 memberikan perilaku hubungan waktu dan biaya yang
sebaliknya dari yang ditunjukkan dalam Gambar E.22. Disini pengurangan waktu
dari titik L menjadi titik K hanya dapat dicapai dengan menambah biaya dari
titik P hingga titik Q. Biaya dalam hal ini bertambah dengan jumlah yang relatif
lebih besar jika dibasdingkan dengan berkurangnya waktu. Jadi dapat dikatakan
bahwa biaya untuk mempercepat selesainya aktivitas ini cukup mahal.

Gambar E -24

BAB E 1-179

Hubungan Waktu Dengan Biaya, Dimana Waktu Dapat Dikurangi Dengan


Penambahan Biaya Yang Relatif Tinggi

Bila dalam suatu proyek diharuskan mempercepat waktu penyelesaiannya


dari waktu normalnya dimana aktivitas-aktivitas yang digambarkan dalam
Gambar E.22 dan Gambar E.23 merupakan sebagian dari jalur kritisnya, maka
pertama-tama usaha yang harus dilakukan adalah mempercepat aktivitas yang
diperlihatkan dalam Gambar E.22 karena dengan demikian dapat mengurangi
waktu dengan biaya yang relatif tidak mahal. Sebaliknya tindakan yang diperlihatkan dalam Gambar E.23 baru dipergunakan apabila semua aktivitasaktivitas lain yang mempunyai kurva hubungan waktu dan biaya yang lebih
menguntungkan telah dipercepat maksimum.

c)

Pertukaran Waktu dan Biaya (Cost)


Dalam proses mempercepat penyelesaian proyek dengan melakukan

penekanan (kompresi) waktu aktivitas, diusahakan agar pertambahan biaya


(cost) yang ditimbulkan seminimum mungkin. Pengendalian biaya disini ditujukan
pada biaya langrung (direct cost) karena biaya inilah yang akan bertanbah.

BAB E 1-180

Diaemping itu hanus diperhatikan pula bahwa kompresi hanya dilakukan pada
aktivitas-aktifitas yang berada didalam lintasan kritis.
Apabila kompresi dilakukan pada aktivitas yang tidak berada dilintasan
kritis maka

waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan tidak akan

berkurang. Kompresi dilakukan lebih dahulu pada aktivitas-aktivitas yang punyai

cost slope terendah pada lintasan kritis. Selanjutnya langkah-langkah kompreai


dapat dituliskan sebagai berikut :
1.

Susunlah jaringan kerja proyek dengan nuliskan cost slope dari


masing-masing aktivitas.

2.

Lakukan kompresi pada aktivitas yang ada pada lintasan kritis dan
yang mempunyai cost slope terendah.

3.

Susunlah kembali jaringan kerjanya.

4.

Ulangi lagi langkah kedua.


Langkah kedua akan berhenti bila terjadi tambahan lintasan kritis
dan bila terdapat lebih dari satu lintasan kritis, maka langkah kedua
dilakukan

secara

serentak

pada

semua

lintasan

kritis

dan

perhitungan cost slopenya dijumlahkan.


5.

Langkah keempat dihentikan bila terdapat salah satu lintasan kritis


dimana aktivitas-aktivitasnya telah jenuh seluruhnya (tidak mungkin

BAB E 1-181

dikompres lagi) sehingga pengendalian biaya telah optimum (crash).


Ada beberapa macam sistem Analisa TCTO (Time Cost Trade Off) yang
dikenal yaitu :
Penekanan waktu dan biaya sistem Jalur Kritis.
Penekanan waktu dan biaya sistem Cut Set
Penekanan waktu dan biaya sistem Pegas
yang kesemuanya bertujuan sama yaitu untuk memperoleh penyelesaian
proyek menjadi lebih cepat dengan penambahan biaya yang minimum (optimum

duration with minimum cost).

j.

Pengontrolan Proyek
Rencana dan membangun adalah suatu aktivitas yang dinamis, yang

dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Karena itu pekerjaan (Work) yang


telah selesai dan disetujui sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara
periodik dichek kembali ;
1)

apakah waktu yang direncanakan telah ditepati.

2)

akan ditepati atau dalam jangka panjang atau segera.

3)

nantinya akan ditepati ( jangka panjang ).

4)
BAB E 1-182

a)

Jarak Waktu Kontrol


Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu

yaitu
a. 1 sampai dengan 2 minggu untuk aktivitas-aktivitas yang kritis atau
yang mendekati kritis.
b. 2 sampai dengan 4 minggu untuk aktivitas-aktivitas yang tidak
kritis.
b)

Cara MengontroL
Dibedakan 3 cara mengontrol dan disajikan flow chart langkah-langkah

cara mengontrol sebagai berikut :

Cara mengontrol untuk sebuah aktivitas yang akan dimulai


Cara mengontrol untuk sebuah aktivitas yang akan dimulai seperti pada
gambar dibawah ini :

Dapatkah
pekerjaan
ini dimulai?

Ok

Alasannya?
Ada
Keterlambat
an?

Solusi
Pemecah

Gambar E -25 FlowChart Cara Kontrol Untuk Sebuah Aktifitas Yang Akan
Dimulai

BAB E 1-183

Cara mengontrol untuk sebuah aktivitas yang seharusnya sudah


dimulai

Pekerjaa
n yang
seharus

Apakah
Pekerjaa
n sesuai

Kenapa tidak
mulai? Apa
keterlambatann

Berapa
lama
terlambat

Tangani

Berapa lama
terlambat?
Kenapa? Apa
prestasinya
sampai waktu

Apa
prestasi

Berapa
lama
perpanja

Tangani

Gambar
E -26 FlowChart Untuk Mengontrol Sebuah Aktifitas Yang
Seharusnya Sudah Mulai

BAB E 1-184

Cara mengontrol untuk sebuah aktivitas yang seharusnya sudah Sudah


Selesai

Apakah
pekerjaan
yang
seharusnya
l
i

Sisa
waktu
sampai
dengan
t
l
ik ?

Solusi
P
h

Gambar E -27 FlowChart Untuk Mengontrol Sebuah Aktifitas Yang


Seharusnya Sudah Selesai

c)

Penanganan (Replanning)
Penanganan (Replanning) harus dilakukan bila hasil test negatif. Dengan dasar

bahwa akhir proyek tak dapat diubah atau tak boleh sampai terganggu terdapat 2
cara penanganan yaitu :

Replanning dengan Percepatan


Replanning dengan Perubahan

BAB E 1-185

Dalam praktek biasanya replanning ini tak dapat dilaksanakan hanya dengan
instruksi saja, melainkan sehubungan dengan ketergantungan yang komplek satu
sama lain antara semua bagian dan personalia yang terlibat dalam perencanaan dan
pelaksanaan

proyek.

Semua

yang

berkepentingan

dengan

proyek

harus

diikutsertakan.
Rapat koordinasi proyek diadakan 1 kali seminggu dan bila perlu diadakan 2
kali seminggu tergantung jenis pekerjaan dan kompleksitas pekerjaan.
Sebelum rapat perlu disiapkan semua data-data kemajuan fisik sampai saat
terakhir harus lengkap. Data yang akurat menghasilkan decision yang jitu

Replanning dengan Percepatan


Tujuan - dalam proses yang tidak diubah, termin-termin pekerjaan yang
belum selesai harus dikejar, dengan :
Meningkatkan Kapasitas
o menambah mesin-mesin/ peralatan
o menambah orang.
Prestasi Tambahan
o Iemburan
o kerja di hari libur
o kerja around the clock
BAB E 1-186

Replanning dengan Perubahan


Replanning dengan perubahan yaitu dengan mengubah jaringan kerjanya
sejauh seara teknis memungkinkan :
o beberapa aktivitas bisa dilakukan dalam waktu bersamaan
o aktivitas yang bukan penghalang bisa dilaksanakan lebih dahulu
o pekerjaan yang telah jadi routine dapat dipercepat.

d)

Kurva-S (S- Curve)


Beberapa cara pemantauan (monitoring) yang telah diuraikan sebelumnya

menitik beratkan kepada pemantauan (monitoring) aktivitas, prestasi yang


dihubungkan dengan variabel waktu. Sedangkan pemakaian diagram Kurva-S lebih
menitik beratkan untuk pemantauan pelaksanaan proyek ditinjau dari segi biaya
dan prestasi kerja.
Sumbu X merupakan skala waktu, sedang pada sumbu Y merupakan skala
biaya/ prestasi. Diagram kurva-S merupakan representasi dari sebuah proyek, sub
proyek atau kumpulan aktivitas yang dapat dibuatkan kurva-S nya. Cara
membuatnya adalah selalu dikaitkan dengan jadwal aktivitas. Apabila kurva-S ini
dikaitkan dengan Diagram Skala Waktu (TSD/ Time Scaled Diagram), maka

BAB E 1-187

keduanya merupakan alat yang paling efektif untuk memonitor besaran waktu yang
telah dipakai, prestasi kerja yang telah dicapai dan yang telah dibelanjakan.

S-CURVE
100
90

Biaya/ Nilai Kumulatif (%)

80
70
60
50
40
30
20
10
0
0

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Waktu (Minggu)

Kurva Saat Lambat (SL)

Kurva Saat Dini (EL)

Nilai Aktual

Biaya Aktual

Gambar E -28 Kontrol Dengan S-Curva


Bila terlihat kurva-S yang sebenarnya cenderung keluar batas SD dan SL,
maka pengawas sudah dapat mengambil langkah-langkah penanganannya

Kurva-S bisa ditampilkan dengan kurva SD (Saat Dini) atau Earliest Cost Curve
dan dengan kurva SL (Saat Lambat) atau Latest Cost Curve. Kedua kurva-S itu
berfungsi membatasi perilaku kurva-S yang sebenarnya, yang berarti kurva-S yang
sebenarnya akan terletak diantara kurva SD dan SL. Bila aktivitas-aktivitas dalam
proyek banyak float-nya, maka bentuk kedua kurva SD dan SL akan makin

BAB E 1-188

berjauhan. Sebaliknya bila float-nya makin sedikit, maka bentuk kurva SD dan SL
makin mendekati dan bila semua aktivitas kritis (artinya tak ada float sama sekali
= semua kritis) maka kurva SD dan SL menjadi satu-S saja. Disini perilaku
perkembangan proyek dapat dilihat kecenderungannya secara dini. Sehingga
berguna untuk pengawas di dalam mengevaluasi Proyek.

k.

Penyusunan Pedoman kendali Mutu Pekerjaan


Guna memperoleh mutu yang handal dari pembangunan infrastruktur,

diperlukan

langkah-langkah

pendekatan

terhadap

segala

aspek

yang

akan

mempengaruhi tercapainya kehandalan mutu tersebut. Beberapa system standar


yang diperlukan dalam rangka pencapaian kehandalan mutu konstruksi adalah :

Quality Assurance

Quality Control Circle

ISO 9000 & SNI terkait

Total Quality Management

Sistem Mutu menurut spesifikasi teknik

Dan lain sebagainya.

BAB E 1-189

Sehubungan dengan besarnya cakupan sektor yang harus ditangani dan ditetapkan
indikatornya, dalam hal ini Konsultan akan membatasi pada pengendalian mutu
pekerjaan konstruksi.

Penerapan system pengendalian mutu konstruksi dilakukan dengan membuat model


sebagai checklist yang memuat semua aspek terkait, seperti tabel di bawah ini:

Indikasi penerapan mutu dalam pelaksanaan konstruksi akan diperoleh dari


penilaian kinerja system mutu di atas yaitu :
NKM = mi x Bi x Bk

Dimana :

l.

NKM dibawah 50 %

NKM diantara 50 % - 75 %

NKM diatas 75 %

sangat baik

kurang baik
baik

Aktivitas Pelaksanaan Supervisi


Kegiatan supervisi pelaksanaan konstruksi yang akan dilakukan oleh
Konsultan Supervisi mencakup :
BAB E 1-190

A)

Kegiatan Pra-Konstruksi
Kegiatan pra-konstruksi yang akan dilaksanakan pada umumnya
menyangkut kegiatan proses tender kontraktor meliputi kegiatan penyiapan
paket-paket pekerjaan; penyiapan dokumen lelang termasuk penyiapan
gambar

konstruksi,

spesifikasi

teknik

maupun

BOQ;

prakualifikasi

kontraktor; penjelasan pekerjaan; evaluasi calon pemenang serta penyiapan


dokumen kontrak.
B)

Kegiatan Saat Pelaksanaan Konstruksi


Selama

pelaksanaan

konstruksi,

Konsultan

akan

melaksanakan

aktivitas supervisi konstruksi pada umumnya mencakup kegiatan-kegiatan :


-

Evaluasi jadwal pelaksanaan konstruksi yang telah disusun oleh


kontraktor,

sehingga

ketepatan

waktu

pelaksanaan

dapat

dikendalikan.
-

Meneliti dan mengevaluasi semua usulan rencana kerja dan


dokumen-dokumen

yang

berhubungan

dengan

implementasi

proyek dan pekerjaan konstruksi yang diserahkan kontraktor


untuk disetujui.
-

Mengoptimasikan volume dan biaya pelaksanaan konstruksi agar


diperoleh biaya pekerjaan yang paling ekonomis.
BAB E 1-191

Meneliti gambar konstruksi dan perhitungan yang disiapkan oleh


kontraktor.

Menyiapkan format Laporan Harian, Mingguan, Bulanan dan

Check List Pengawasan Pekerjaan, dalam hal ini dapat diterapkan


Rencana Mutu Pekerjaan (RMP) atau disebut juga Rencana Mutu
Kontrak (RMK).
-

Menetapkan cara kerja test bahan konstruksi dan mengevaluasi


hasil tesnya.

Meneliti dan menginspeksi kualitas material/bahan dan peralatan


yang dipakai oleh kontraktor.

Memeriksa spesifikasi teknis untuk setiap kegiatan pelaksanaan


konstruksi.

Mengevaluasi

dan

meneliti

pekerjaan

tambah/kurang

jika

diperlukan.
-

Memberikan pengarahan pada rencana pengadaan dan kuantitas


dari bahan konstruksi.

Melakukan inspeksi ke pabrik penyalur bahan konstruksi dan


peralatan jika diperlukan.

Menyiapkan laporan inspeksi, test dan aktivitas supervisi.

Pengawasan yang teliti dalam pelaksanaan konstruksi.


BAB E 1-192

Terhadap Kontraktor yang melaksanakan pekerjaan tidak sesuai


dengan isi SPK atau Surat Perjanjian Kontrak (SPK) dikenakan
sanksi

atau

teguran

atau

peringatan.

Sebelum

teguran

dikeluarkan, Konsultan membuat surat pemberitahuan/instruksi


kepada Kontraktor dan tembusan kepada Pemimpin Proyek.
Apabila

Kontraktor

tidak

melaksanakan

isi

surat

pemberitahuan/instruksi dari Konsultan, maka Pemimpin Proyek


akan mengeluarkan Surat Teguran I. Apabila Surat Teguran I
tidak dilaksanakan oleh Kontraktor dalam waktu 3 (tiga) hari
kerja, maka Konsultan membuat rekomendasi kepada Pemimpin
Proyek untuk dikeluarkan Surat Teguran II.
-

Mengevaluasi usulan dokumen pembayaran bulanan yang diajukan


oleh kontraktor.

Memeriksa gambar terlaksana (as-build drawing) kontraktor.

On the job training kepada staff proyek dalam pelaksanaan


kegiatan supervisi konstruksi.

Membuat progress pekerjaan kontraktor dalam bentuk audio


visual.
Penjabaran lebih lanjut terhadap pelaksanaan supervisi konstruksi

tersebut diuraikan dalam penjelasan berikut :


BAB E 1-193

a).

Evaluasi Jadwal Kerja Kontraktor

Tim supervisi akan mengevaluasi rencana kerja (Schedule) kontraktor untuk


disesuaikan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi seperti waktu yang
tersedia, kondisi cuaca, ketersediaan peralatan, ketersediaan tenaga kerja
dan material. Selain itu urutan-urutan pekerjaan juga harus diperhatikan di
dalam penyusunan rencana kerja yang akan dimintakan persetujuan kepada
direksi yang nantinya dapat dipakai sebagai dasar rencana kerja secara
keseluruhan agar dapat diperoleh cara kerja yang efektif dan efisien.
Jadwal Kerja Kontraktor yang dibuat juga tidak terlepas dari pedoman
dasar yang telah dibuat yakni Rencana Konstruksi (Construction Plan).
Monitoring terhadap pelaksanaan pekerjaan dan rencana kerja ini harus
terus menerus dilakukan untuk dapat tercapainya jadwal seperti yang
diinginkan. Pada evaluasi jadwal kerja ini dapat dilakukan revisi-revisi dan
perubahan atau pembaharuan apabila timbul keterlambatan pelaksanaan,
untuk dapat dikejar dari sisa waktu yang telah disediakan.

b).

Evaluasi Perhitungan dan Gambar Konstruksi

Tim supervisi akan mengevaluasi analisis perhitungan selama desain atau


desain rehabilitasi, serta gambar rencana konstruksinya sebelum kontraktor

BAB E 1-194

memulai pelaksanaannya. Evaluasi ini dilakukan agar dalam pelaksanaannya


sudah tidak ada kesalahan, baik daftar keamanan konstruksi, efisiensi biaya
maupun kelayakan konstruksi. Tidak menutup kemungkinan pada tahapan
evaluasi ini akan dilakukan koreksi, revisi modifikasi desain, agar didapatkan
hasil yang lebih baik.
Tim supervisi akan selalu melakukan koordinasi dengan Direksi untuk
mendapatkan persetujuan hasil evaluasi.

c).

Tes Material

Tim supervisi, selain melaksanakan pengawasan pekerjaan lapangan secara


visual, juga akan melakukan pengawasan kualitas material di laboratorium.
Pengawasan ini dimaksudkan agar seluruh material yang dipakai untuk
pekerjaan ini sesuai dengan persyaratan seperti yang diuraikan di dalam
dokumen kontrak, khususnya spesifikasi teknik. Teknisi laboratorium
beserta

Supervisor

Konstruksi

akan

memonitor

pekerjaan-pekerjaan

laboratorium seperti :

analisa test,

gradasi material,

test stability,
BAB E 1-195

test kompaksi/kepadatan,

analisa formula campuran,

soundness test untuk agregat, dan

test-test laboratorium lainnya.

d).

Evaluasi Kualitas dan Kuantitas Pekerjaan


Tim leader supervisi akan secara rutin dan terus-menerus melakukan

pengawasan terhadap kualitas dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan


kontraktor.
Dalam pengawasan kualitas pekerjaan, konsultan akan melakukan
checking terhadap metodologi pelaksanaan, kualitas bahan-bahan dan
campuran yang dilakukan.
Untuk beberapa pekerjaan khususnya konsultan akan meminta kepada
kontraktor untuk melakukan test material maupun test laboratorium untuk
mengetahui kekuatan material. Dan selanjutnya konsultan akan mengevaluasi
hasil test laboratorium tersebut.
Sedangkan untuk pengawasan kuantitas pekerjaan, konsultan supervisi
akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

melakukan pemeriksaan kuantitas material

BAB E 1-196

melakukan pemeriksaan terhadap pengukuran yang dilakukan baik

sebelum

maupun

sesudah

pelaksanaan

konstruksi

(joint

measurement).

e).

Supervisi Konstruksi
Pengawasan merupakan bagian pokok dari program kerja konsultan

yakni berupa monitoring secara kontinyu segala pekerjaan kontraktor serta


hasilnya. Metode pelaksanaan kerja kontraktor dimonitor agar sesuai
dengan persyaratan yang dikehendaki di dalam spesifikasi, dan apabila
terdapat cara pelaksanaan yang menyimpang dari ketentuan yang ada,
kontraktor harus dapat menjelaskan dan memberikan argumentasi bahwa
metode

pekerjaan

yang

diterapkan tidak akan mengurangi

kualitas

pekerjaan. Inspektor ataupun anggota tim supervisi yang lain akan membuat
laporan harian mengenai pelaksanaan konstruksi, tenaga kerja yang ada,
peralatan yang dipakai, estimasi kuantitas hasil pekerjaan dan bilamana
perlu konsep dan sket gambar serta ukuran, serta total kuantitas, kondisi
cuaca serta kondisi lokasi pekerjaan. Pekerjaan pengawasan akan dilakukan
secara teliti dan terkendali untuk masing-masing item pekerjaan dengan
menggunakan prosedur pengawasan yang lazim digunakan dan dengan

BAB E 1-197

menggunakan tata cara dan flow chart yang berlaku. Pengawasan detail akan
dilakukan terhadap pekerjaan utama.
Selama kontraktor melaksanakan pekerjaan, tim supervisi akan selalu
memonitor mengenai pembuatan profil konstruksi (Uitzet), pengukuranpengukuran awal, kualitas material, pemadatan, kadar air material, gradasi
material, pekerjaan shoulder (bahu jalan), saluran tepi dan lain-lain. Tim
supervisi akan secara bersama memonitor, memberikan saran-saran teknis
apabila diperlukan dan tindakan alternatif yang biasa ditempuh apabila
terdapat kesulitan-kesulitan pelaksanaan pekerjaan. Untuk pekerjaan
struktur akan dilakukan monitoring terhadap kestabilannya, pelaksanaan
campuran dan komposisi campuran dan lain-lain.
Hasil pemantauan pekerjaan akan selalu dicatat dalam catatan Buku
Harian Lapangan (BHL) yang dilakukan baik pada saat awal, selama dan
setelah pekerjaan dilaksanakan. Pengukuran kuantitas hasil pekerjaan akan
dilakukan

bersama-sama

Konsultan,

Kontraktor

dan

pihak

Pemimpin

proyek/bagian proyek dimana pengukuran ini dilakukan setelah pekerjaan


tersebut dan dapat diterima baik dari segi hasil pekerjaan (performance)
maupun mutu, pelaksanaan pekerjaan. Prosedur pembayaran yang dilakukan
akan mengikuti ketentuan yang disebutkan didalam dokumen kontrak,
terutama menginduk pada spesifikasi (persyaratan khusus) atau pada buku
BAB E 1-198

dokumen Kontrak fisik. Bagan alir (flow chart) Proses Bagan Alir Kerja
Lapangan tim supervisi disajikan pada gambar dibawah ini.

BAB E 1-199

Gambar E -30 Bagan Alir Pekerjaan Lapangan

BAB E 1-200

Tahapan dan Prosedur pengawasan dan pelaksanaan supervisi konstruksi


untuk berbagai jenis kegiatan pekerjaan lapangan adalah sebagai berikut:

Pre Construction Meeting


Penyelenggaraan pre construction meeting, dimaksudkan untuk mempelajari
lebih dalam hal-hal yang kurang atau tidak jelas tentang isi dokumen kontrak
beserta kelengkapannya serta penjelasan dari kontraktor atas Rencana
Mutu Pekerjaan (RMP) atau Rencana Mutu Kontrak (RMK) yang dianggap
belum jelas. Dengan demikian keraguan atau beda pendapat dalam
penafsiran pasal-pasal dokumen kontrak dapat dihindari, demikian pula
ketidak jelasan tentang Rencana Mutu Pekerjaan (RMP) atau Rencana Mutu
Kontrak (RMK) yang dibuat oleh kontraktor dapat dipahami sehingga
terdapat kesamaan dalam pemahaman. Disamping itu dalam pertemuan
tersebut kontraktor diminta untuk menjelaskan program kerja pelaksanaan,
struktur organisasi kerja di lapangan dan mekanisme kerja, efisiensi dan
efektivitas program kerja yang telah disusun serta bagian-bagian pekerjaan
yang akan diserahkan kepada sub-kontraktor.
Dalam membuat RMP atau RMK kontraktor sekurang-kurangnya menjelaskan
tentang uraian singkat pekerjaan, organisasi pelaksana kontraktor, rencana
kerja pelaksanaan oleh kontraktor dilengkapi dengan bagan alurnya, standar

BAB E 1-201

prosedur dan standar desain yang akan digunakan, inspeksi dan test yang
akan dikerjakan.
Pekerjaan Persiapan
Dalam pekerjaan persiapan ini, Konsultan akan melakukan pengawasan dan
pemeriksaan terhadap kegiatan kontraktor menyangkut :

Penyiapan Kantor Lapangan Kontraktor, termasuk system


sanitasi,

penerangan,

gudang

penyimpanan

material

konstruksi dan bengkel peralatan.

Ruang kerja pengawas (Direksikeet)

Penyiapan papan nama proyek.

Penyiapan jalan kerja dan bangunan sementara.

Mobilisasi peralatan dan SDM.

Penyiapan gambar kerja.

Pengadaan dan pengujian bahan konstruksi.

Pekerjaan Pengukuran Lapangan (Uitzet)


Pekerjaan pengukuran ini dilakukan baik untuk pengukuran ulang maupun
pengukuran tambahan untuk memperoleh gambaran yang lebih realistis atas
keadaan lapangan kondisi terakhir. Sebelum melaksanakan pengukuran,

BAB E 1-202

kontraktor harus mendapat persetujuan dari Direksi/Pengawas Pekerjaan


untuk memulai pekerjaan.
Kontraktor harus memelihara benchmark (BM) yang telah ditunjuk dan
bilamana diperlukan harus membuat penambahan patok-patok tetap sebagai
patok bantu dalam melakukan kegiatan pengukuran.
Kegiatan pengecekan patok benchmark serta kegiatan pengukuran, termasuk
metode perhitungan hasil ukur maupun hasil gambar harus dilakukan sesuai
dengan pedoman atau standar prosedur pengukuran yang berlaku dan
disetujui.
Selanjutnya hasil dari pengukuran ini akan digunakan untuk pembuatan
Gambar Kerja serta pembuatan Mutual Check 0% (MC0).

Pembuatan dan Pemeriksaan Gambar Kerja


Yang dimaksud dengan Gambar Kerja adalah gambar dari bagian-bagian
disain konstruksi yang dibuat lebih jelas dengan skala gambar yang lebih
besar, sehingga dapat memperlihatkan bagian-bagian yang terkecil, yang
harus dikerjakan dan dapat digunakan secara langsung sebagai tuntunan
para tenaga kerja trampil untuk melaksanakan pekerjaannya.

BAB E 1-203

Gambar Kerja yang dibuat harus mengikuti ketentuan atau mengacu pada
pedoman membuat gambar teknik yang berlaku (bentuk simbol-simbol
gambar, ukuran huruf dan angka, maupun tanda-tanda lainnya).
Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, Gambar Kerja tersebut harus
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari direksi pekerjaan.

Penyiapan Buku Harian Lapangan, Buku Pengawasan


Yang dimaksud dengan Buku Harian Lapangan (BHL) adalah buku yang
disediakan oleh Kontraktor yang digunakan untuk mencatat kegiatan,
peristiwa, kejadian yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan, yang terjadi
setiap hari di lapangan pekerjaan.
Yang dimaksud dengan Buku Pengawasan adalah buku yang disediakan oleh
Kontraktor yang digunakan oleh Pengawas Pekerjaan untuk mencatat
kegiatan, peristiwa atau kejadian yang menyangkut pengawasan pekerjaan
yang terjadi setiap hari di lapangan. Termasuk disini adalah pemberian
petunjuk dan pengarahan dari Konsultan agar pelaksanaan pekerjaan benarbenar berlangsung sesuai dengan ketentuan dalam kontrak dan dapat
dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelaksanaan.
Dalam Buku Harian, Kontraktor harus mencatat semua kegiatan, diantaranya
adalah:
BAB E 1-204

Penerimaan material konstruksi

Kegiatan pekerjaan konstruksi yang dilakukan

Penggunaan alat-alat kerja

Jumlah tenaga kerja

Progres pekerjaan yang telah dicapai

Kejadian-kejadian baik yang mengganggu maupun yang tidak


mengganggu kegiatan lapangan

Keadaan cuaca atau hari hujan

Dan lain-lain kegiatan

Dalam Buku Pengawasan, Pengawas Pekerjaan/Konsultan akan mencatat


semua kegiatan atau peristiwa yang berkaitan dengan pengawasan dan
pengendalian pekerjaan, diantaranya adalah:

Persetujuan rencana kerja kontaktor yang rinci, metode


pelaksanaan, setting out/uitzet, pekerjaan yang selesai dan
memenuhi persyaratan.

Petunjuk atau arahan bagi pelaksana pekerjaan, agar


pelaksanaan pekerjaan atau mutu pekerjaan jangan sampai
menyimpang.

Teguran atau peringatan kalau terjadi penyimpangan atau


keterlambatan.
BAB E 1-205

Penolakan terhadap bahan material yang akan digunakan atau


hasil kegiatan yang tidak sesuai dengan persyaratan.

Disamping hal tersebut diatas, Konsultan akan menyiapkan format Laporan


harian, Mingguan, Bulanan maupun checklist Pengawasan Pekerjaan untuk
diisi oleh Kontraktor maupun Pengawas Pekerjaan, termasuk komentar
Konsultan.

Pekerjaan Sementara atau Darurat


Konsultan supervisi akan melakukan pengawasan dan pengarahan kepada
Kontraktor atas pekerjaan sementara atau darurat yang dilaksanakan.
Berbagai pekerjaan sementara yang mungkin terjadi diantaranya adalah:

Pekerjaan dewatering atau pengeringan

Pembuatan saluran pengelak

Pembuatan tanggul pengelak

Pembuatan/perbaikan jalan/jembatan

Pembuatan kerangka penyangga atau perancah

Dan lain-lain.

BAB E 1-206

Penempatan dan Pengujian Bahan Konstruksi


Supervisi yang dilaksanakan Konsultan dalam kegiatan ini adalah agar
Kontraktor dalam menempatkan/menyimpan bahan konstruksi pada tempat
yang memenuhi persyaratan, sebelum bahan tersebut digunakan yakni aman,
tidak mengganggu lingkungan dekat dengan tempat penggunaan bahan
tersebut dan terlindung dari gangguan hujan dan sebagainya.
Sedangkan pengujian bahan konstruksi dengan cara menerapkan tatacara
dalam standar prosedur pengujian yang telah disepakati. Bahan yang akan
digunakan harus lulus dari pengujian mutu bahan dan hasil pengujian dicatat
dan disimpan dengan baik dan tertib karena akan menjadi bagian dari bukti
pelaksanaan pekerjaan.

Pemeriksaan dan Pemasangan Setting Out(Uitzet)


Konsultan akan melakukan supervisi terhadap pemasangan profil yang dibuat
dari kayu dan papan, disekitar atau dekat dengan rencana tapak bangunan
yang menunjukkan araah sumbu atau trase dari bangunan yang akan
dibangun, dan atau kedudukan elevasi tertentu sebagai pembanding elevasi
bangunan

yang

akan

dibangun,

serta

menunjukkan

rencana

bentuk

bangunannya.

BAB E 1-207

Pemasangan setting out/uitzet ini didasarkan pada gambar situasi dan denah
serta gambar potongan dari bangunan yang akan dibangun. Kontraktor harus
selalu memelihara kedudukan setting out/uitzet yang telah didirikan dan
telah disetujui Pengawas Pekerjaan.

Pekerjaan Pondasi
Yang dimaksud dengan pekerjaan pondasi adalah konstruksi bangunan yang
terletak dibagian bawah yang merupakan bangunan yang menyangga
konstruksi diatasnya. Pada umumnya konstruksi pondasi terletak dibawah
permukaan tanah.
Mengingat pada pekerjaan pengairan konstruksi pondasi banyak yang
terletak dibawah permukaan air, maka Konsultan akan memberi perhatian
tersendiri terhadap pembangunan pondasi yang terletak dibawah air.
Peletakan konstruksi pondasi harus benar-benar memperhatikan kondisi
tanah setempat sesuai dengan hasil penyelidikan geoteknikal sebelumnya.
Apabila ditemui bahwa kondisi tanah untuk peletakan pondasi berbeda
dengan

hasil

penyelidikan

tanah

sebelumnya,

Kontraktor

diwajibkan

melaporkan kepada Pengawas Pekerjaan dan konsultan untuk dilakukan


tindakan seperlunya.

BAB E 1-208

Bilamana diperlukan, Kontraktor harus membuat bangunan sementara yang


dibutuhkan (misal: dewatering, tanggul sementara, dll).
Apabila ada penggalian tanah dan atau dewatering, Kontraktor harus
menempatkan hasil galian dan pembuangan air sedemikian rupa sehingga
tidak mengganggu lingkungan setempat.
Dilihat dari bentuk konstruksi pondasi, pada umumnya terdiri dari :
trapezium, plat beton (bentuk T terbalik), tiang pancang, sumuran, tiang
strauss. Sedangkan dari jenis konstruksinya, pada umumnya terdiri dari:
pasangan batu kali, konstruksi beton bertulang, konstruksi beton siklop.
Untuk menjaga dan memelihara mutu pelaksanaan untuk setiap jenis
konstruksi pondasi, Kontraktor harus melakukan tindakan :

Pondasi Pasangan Batu, mengikuti standar prosedur untuk:

Pembuatan campuran spesi

Penyusunan pasangan batu

Pondasi

Konstruksi

Plat Beton Bertulang, sesuai standar

prosedur untuk:

Pembuatan campuran beton

Pengadukan campuran beton


BAB E 1-209

Pengecoran beton

Pengujian mutu beton

Pembuatan cetakan beton

Pemasangan besi beton

Pembongkaran cetakan beton

Pemeliharaan beton setelah dicor.

Pondasi Tiang Pancang Beton, sesuai dengan prosedur untuk:

Pembuatan tiang pancang beton bertulang

Pengangkutaan tiang pancang beton

Pemancangan tiang pancang beton

Pemasangan atau instalasi peralatan pancang

Penggunaan atau pengoperasian peralatan pancang

Pemotongan sisa tiang pancang

Uji beban tiang pancang

Pondasi Tiang Pancang Strauss Beton, sesuai dengan prosedur


untuk:

Pembuatan beton bertulang

Pembuatan sumuran dengan mesin bor

Standar prosedur penggunaan peralatan bor tanah


BAB E 1-210

Pondasi Sumuran, sesuai dengan prosedur untuk :

Pembuatan sumuran dalam tanah

Pembuatan dinding sumuran

Pemasangan dinding sumuran ke dalam sumur tanah

Pembuatan dan pengecoran beton siklop

Penggunaan atau pengoperasian peralatan untuk pengangkatan


dan pemasangan dinding sumuran.

Pekerjaan Galian Tanah


Yang dimaksud dengan pekerjaan ini adalah penggalian tanah yang berada
tidak didalam air, termasuk didalamnya galian tanah untuk penempatan suatu
bangunan.
Pengawasan yang dilakukan Konsultan dalam tahap persiapan mencakup
kegiatan:

Melakukan pemeriksaan terhadap metode pelaksanaan yang disiapkan


oleh Kontraktor, termasuk urutan dan jenis kegiatan yang akan dilakukan
serta jadwal pelaksanaan pekerjaan.
BAB E 1-211

Melakukan pemeriksaan gambar kerja Kontraktor

Memeriksa kesiapan peralatan Kontaktor yang akan dipakai untuk


menggali, mengangkut dan membuang hasil galian (excavator, bulldozer,

dumptruck, dll).

Melakukan pemeriksaan setting out/uitzet.

Memeriksa pekerjaan sementara (jika diperlukan).

Memeriksa rencana lokasi tempat pembuangan hasil galian.

Selama pelaksanaan pekerjaan penggalian, Konsultan akan melakukan


supervisi dengan berpedoman atas standar prosedur yang berlaku mencakup
kegiatan:

Galian tanah biasa, pasir atau lumpur

Peledakan atau pemecahan batu, termasuk perijinan dari instansi


terkait.

Pengambilan dan pengangkutan hasil galian

Pengoperasian masing-masing peralatan yang digunakan

Penempatan hasil galian di tempat buangan.

Kemajuan pekerjaan yang dilakukan dibandingkan dengan metode


pelaksanaan yang telah disusun dalam tahap persiapan dan apabila
terjadi keterlambatan, Kontraktor diminta untuk melakukan revisi
BAB E 1-212

terhadap jadwal pekerjaan dalam rangka mengejar keterlambatan yang


terjadi.

Apabila

pekerjaan

penggalian

dilakukan

dengan

tenaga

manusia,

Konsultan akan mengawasi agar tenaga yang dipekerjakan memang cukup


terampil untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Hasil kerja penggalian harus sesuai dengan gambar kerja seperti yang
telah direncanakan.

Apabila pengangkutan hasil galian menggunakan jalan umum, Konsultan


akan selalu mengawasi agar Kontraktor selalu memelihara jalan umum
tersebut dan hasil galian tidak tercecer di jalan.

Melakukan pemeriksaan terhadap Buku Harian Lapangan (BHL) yang


dibuat oleh Kontraktor.

Pekerjaan Pemasangan Pipa


Yang dimaksud dengan pekerjaan pipa adalah pekerjaan pemasangan pipa
untuk keperluan saluran air, termasuk perlengkapannya (sambungan, valve,
dll).
Untuk pekerjaan pemasangan pipa, Konsultan akan melakukan supervisi
terhadap Kontraktor meliputi:

BAB E 1-213

Bahwa pipa dan perlengkapan yang digunakan harus sesuai dengan


standar yang disetujui.

Metode pemotongan dan penyambungan pipa harus dikerjakan sesuai


dengan standar yang berlaku.

Penyetelan pipa harus sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi teknik
yang disetujui.

Penempatan dan pemasangan pipa di tempat yang telah direncanakan


harus sesuai dengan kedudukan setting out/uitzet dan gambar kerja.

Pipa yang telah dipasang harus dipelihara sesuai dengan standar yang
berlaku.

Bilamana

pipa

dan

perlengkapannya

adalah

merupakan

produk

manufaktur, harus disertakan sertifikasi dari manufakturingnya.

Spesifikasi teknik yang disebutkan dalam sertifikat manufakturingnya


telah memenuhi ketentuan dalam spesifikasinya (ukuran atau dimensi
baik kapasitas dan tipenya, jenis bahan yang digunakan).

Kedatangan pipa sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Pondasi pipa telah dinyatakan benar dan siap dibebani.

Pemasangan angker atau jangkar dalam pondasi telah sesuai dengan


gambar kerja.

BAB E 1-214

Prosedur pengangkutan pipa sesuai dengan prosedur yang telah


ditetapkan.

Pemasangan pipa dan sambungannya memerlukan kecermatan sekali,


maka prosedur pemasangannya harus sesuai dengan metode pemasangan
dan spesifikasi teknik dan gambar kerja yang telah disetujui.

Pekerjaan Timbunan Tanah


Yang dimaksud dengan pekerjaan ini adalah pemilihan jenis bahan timbunan,
pengambilan tanah dari sumbernya (borrow area), pemindahan atau
transportasi tanah dari sumbernya ke tempat penimbunan, pemadatan tanah
hingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan (tanggul, embung saluran
irigasi, tanggul banjir, dll).
Dalam pekerjaan timbunan tanah, Konsultan akan melakukan supervisi
mencakup hal-hal sebagai berikut:

Agar kontraktor melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuanketentuan

yang

tercantum

dalam

pedoman

spesifikasi

teknik,

khususnya untuk pekerjaan bidang pengairan yang berlaku.

Agar

pelaksanaan

pekerjaan

sesuai

dengan

disain/gambar

konstruksinya.

BAB E 1-215

Pemadatan yang dilakukan sesuai dengan persyaratan pemadatan baik


tingkat pemadatan maupun tebal masing-masing lapisan tanah timbunan
yang diijinkan ataupun ketentuan stripping dan clearing sebelum
dilakukan pemadatan.

Jika diperlukan, dilakukan trial test pemadatan lapangan

dengan

menerapkan standar prosedur pemadatan yang berlaku.

Uji mutu pemadatan di lapangan maupun di laboratirium.

Apabila Kontraktor menggunakan jalan umum untuk pengangkutan


bahan timbunan, Konsultan akan selalu memonitor penggunaan jalan
umum tersebut sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan tidak
mengganggu lalu lintas.

Untuk menjaga atau memelihara mutu pekerjaan timbunan tanah,


Konsultan akan melakukan tindakan/petunjuk kepada Kontraktor, yaitu:

Sebelum dilakukan penimbunan tanah perlu dilakukan pengambilan


contoh tanah dari borrow area untuk dilakukan pengujian mutu
bahan timbunan.

Agar diperkirakan bahwa volume yang terdapat dalam borrow

area yang disiapkan telah mencukupi sesuai dengan yang


dibutuhkan.

BAB E 1-216

Kontraktor agar selalu menjaga mutu bahan timbunan khususnya


kandungan

airnya,

agar

dihindari

terkena

air

hujan

yang

berlebihan atau terlalu lama terkena sinar matahari.

Apabila pelaksanaan pekerjaan timbunan tanah dilakukan oleh


tenaga manusia, maka kontraktor harus mempekerjakan tenaga
kerja yang memiliki keterampilan dalam bidang pengambilan,
perataan dan pemadatan timbunan.

Apabila pelaksanaan pekerjaan timbunan tanah dilakukan dengan


menggunakan peralatan berat, maka kontraktor agar menjaga
kesiapan peralatan yang digunakan sesuai dengan manual OP
peralatan tersebut.

Pemadatan timbunan yang dilakukan didekat bangunan atau


struktur harus dulakukan dengan berhati-hati sekali.

Pekerjaan Bangunan Konstruksi


Yang dimaksud dengan bangunan konstruksi disini antara lain adalah:

Konstruksi pasangan batu

Konstruksi beton siklop

Konstruksi beton bertulang


BAB E 1-217

Konstruksi bronjong

Sebelum pelaksanaan pekerjaan bangunan konstruksi, Konsultan akan


memeriksa kesiapan pelaksanaan Kontraktor mencakup:

Jadwal Pelaksanaan pekerjaan yang lebih rinci.

Metode pelaksanaan untuk setiap kegiatan, khususnya


kesiapan penggunanaan peralatan, ketersediaan bahan
konstruksi, ketersediaan tenaga kerja yang trampil agar
tercapai hasil yang optimal.

Kesiapan Gambar Kerja yang detail lengkap dengan


gamabar penjelasan dari bagian-bagian konstruksi yang
akan dikerjakan.

Kesiapan bangunan sementara (jika diperlukan)

Setting out/uitzet, telah dipasang dan telah sesuai


dengan posisi atau elevasi seperti dalam gambar
rencana.

Selama

dan lain-lain.

pelaksanaan

konstruksi,

Konsultan

akan

melakukan

supervisi

konstruksi antara lain adalah :

Untuk Konstruksi Pasangan Batu

BAB E 1-218

Dijaga agar Kontraktor dalam membuat perbandingan


campuran spesi sesuai dengan spesifikasi teknik yang
dipersyaratkan.

Ukuran dan pemasangan batu sesuai dengan standar


prosedur yang berlaku dan sesuai dengan ganbar kerja
maupun bentuk profil yang disiapkan.

Apabila dibuat siaran atau plesteran, campuran spesi


untuk siaran atau plesteran sesuai dengan spesifikasi
teknik dan pengerjaannya secara rapih dan bersih.

Untuk Konstruksi Beton Bertulang

Pembuatan cetakan beton harus memenuhi ketentuan


dalam Gambar Kerja, dari bahan yang telah ditentukan
dan dengan dimensi seperti dalam Gambar Rencana dan
harus dipasang sesuai dengan setting out/uitzet yang
telah disetujui.

Apabila harus menggunakan Perancah, maka konstruksi


perancah ini harus cukup kuat.

Pemotongan, penyambungan dan pembengkokan besi


beton harus dikerjakan sesuai dengan gambar kerja
pembesian yang telah disetujui.
BAB E 1-219

Penyetelan, pemasangan dan pengikatan besi beton


harus dikerjakan secara rapih, sesuai dengan petunjuk
dalam gambar kerja pembesian serta sesuai dengan
standar desain pemasangan besi beton yang berlaku.

Kontraktor agar selalu menjaga perbandingan campuran


beton sesuai dengan spesifikasi teknik, dan selalu
melakukan test atau pengujian campuran beton pada
waktu yang ditentukan dengan menggunakan metode
pengujian seperti yang ditentukan dalam spesifikasi
teknik.

Pengangkutan, pengadukan dan pengecoran beton harus


dilakukan dengan secepatnya dan disuahakan dengan
cara yang paling efektif.

Apabila

harus

dilakukan

penghentian

pengecoran

sebelum cetakan beton terisi penuh harus ditempat


pemberhentian menurut standar yang berlaku.

Penggetaran beton harus dilakukan secara merata di


semua bagian dan dengan menggunakan alat penggetar
yang telah disetujui.

BAB E 1-220

Kontraktor

harus melakukan pemeliharaan setelah

pengecoran

beton

dilakukan

dengan

cara

selalu

membasahi dengan air.

Pembongkaran cetakan beton dan perancah dilakukan


setelah betonnya cukup keras dan cukup umur sesuai
dengan metode pembongkaran yang berlaku.

Untuk Konstruksi Bronjong

Pembuatan anyaman kawat bronjong agar supaya sesuai


dengan gambar kerja.

Penempatan atau pemasangan bronjong kawat ditempat


pekerjaan sesuai dengan profil yang telah dipasang.

Pengisian batu dalam bronjong harus dikerjakan secara


efektif dan sesuai dengan spesifikasi teknik.

Penutupan dan pengikatan bronjong harus dikerjakan


sesuai dengan standar yang berlaku.

Pekerjaan Hidro Mekanikal


Yang dimaksud dengan pekerjaan hidro mekanikal adalah pekerjaan besi
profil atau baja untuk keperluan bangunan bendung dan jaringan irigasi

BAB E 1-221

Untuk pekerjaan besi profil atau baja, Konsultan akan melakukan supervisi
terhadap Kontraktor meliputi:

Bahwa profil yang digunakan harus sesuai dengan standar


besi yang disetujui.

Metode pemotongan dan penyambungan profil besi (keeling


atau las) harus dikerjakan sesuai dengan standar yang
berlaku.

Penyetelan (montage) kerangka besi harus sesuai dengan


gambar kerja dan spesifikasi teknik yang disetujui.

Penempatan dan pemasangan kerangka besi di tempat yang


telah direncanakan harus sesuai dengan kedudukan setting
out/uitzet dan gambar kerja.

Kerangka besi yang telah dipasang harus dipelihara sesuai


dengan standar yang berlaku.

Bilamana

peralatan

hidromekanikal

adalah

merupakan

produk manufaktur, harus disertakan sertifikasi dari


manufakturingnya.

Standar prosedur pemasangan peralatan hidromekanikal


harus diikuti

BAB E 1-222

Untuk pekerjaan pompa air, Konsultan akan melakukan supervisi dan


pemeriksaan terhadap kebutuhan pompa air mencakup hal-hal sebagai
berikut:

Spesifikasi

teknik

manufakturingnya

yang
telah

disebutkan
memenuhi

dalam

sertifikat

ketentuan

dalam

spesifikasinya (ukuran atau dimensi baik kapasitas dan


tipenya,

jenis

bahan

yang

digunakan

serta

alat

penggeraknya).

Kedatangan pompa air sesuai dengan jadwal yang telah


ditetapkan.

Pondasi serta rumah pompa telah dinyatakan benar dan siap


dibebani pompa air.

Pemasangan angker atau jangkar dalam pondasi telah sesuai


dengan gambar kerja.

Prosedur pengangkutan pompa air sesuai dengan prosedur


yang telah ditetapkan.

Pemasangan pompa dan motornya memerlukan kecermatan


sekali, maka prosedur pemasangannya harus sesuai dengan
metode pemasangan dan spesifikasi teknik dan gambar
kerja yang telah disetujui.
BAB E 1-223

Bilamana pemasangan pompa air dilengkapi dengan rumah


pompa, maka dalam rumah pompa ini harus disediakan
peralatan pengangkat atau alat katrol (baik yang digerakkan
secara manual atau tenaga listrik).

On The Job Training kepada Staff Proyek


Pelatihan ini akan dilakukan oleh Konsultan Supervisi pada saat pelaksanaan
konstruksi dan langsung dilakukan dilapangan. Hal ini menyangkut cara
pengawasan konstruksi, prosedur pemeriksaan mutu konstruksi, dan lain
sebagainya.

9.

Tahap Setelah Konstruksi


Setelah pelaksanaan pekerjaan konstruksi selesai dikerjakan oleh
Kontraktor, tugas dan tanggung jawab Konsultan Supervisi mencakup hal-hal
sebagai berikut :

a.

Perhitungan Progres Pekerjaan Selesai (MC.100)


Evaluasi progress pekerjaan yang terakhir atau MC-100, dilakukan

bersama-sama antara Pihak Proyek, Konsultan maupun Kontraktor dengan


BAB E 1-224

melakukan peninjauan lapangan terlebih dahulu dan setelah itu dilakukan


pembahasan atas progress yang telah dicapai.
Dalam MC-100 hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

Kemungkinan adanya kelebihan/kekurangan volume pekerjaan


pada bagian pekerjaan tertentu.

Kemungkinan

adanya

keterlambatan

waktu

penyelesaian

pekerjaan.

Kemungkinan adanya bagian pekerjaan yang belum selesai 100 %,


tetapi telah dianggap selesai.

Kemungkinan adanya pekerjaan yang telah selesai, tetapi belum


dapat diterima Pengawas Pekerjaan, tetapi telah dihitung
volumenya.

Kebersihan dan kerapihan lapangan yang dipersyaratkan belum


terpenuhi.

Kemungkinan adanya pembongkaran dan pembersihan pekerjaan


sementara yang belum dilakukan atau diselesaikan.

Kemungkinan

adanya

klaim

sub-kontraktor

yang

belum

diselesaikan oleh Kontraktor.

b.

Pemeriksaan As Built Drawing


BAB E 1-225

Setelah pelaksanaan konstruksi selesai dikerjakan, sebagaimana


mestinya kontraktor menyiapkan as-built drawings dari masing-masing
bangunan. Dalam hal ini Konsultan supervisi akan melakukan pemeriksaan
terhadap as-built drawings tersebut agar benar-benar sesuai dengan
kondisi bangunan dilapangan baik itu mencakup dimensi, posisi, elevasi
maupun detail-detail bagian bangunan lainnya. As-built drawings yang dibuat
akan berperanan cukup penting karena akan dipakai sebagai dasar untuk
pembayaran maupun keperluan dimasa mendatang.

c.

Pekerjaan dalam Masa Pemeliharaan


Yang dimaksud dengan Pekerjaan dalam masa pemeliharaan

adalah: kegiatan yang harus dilakukan oleh Kontraktor, selama masa


pemeliharaan yang bertujuan untuk tetap menjaga atau memelihara agar
supaya bangunan beserta kelengkapannya yang telah diserahkan dalam tahap
pertama, tetap dalam kondisi yang baik sesuai dengan yang telah disetujui.
Selama masa ini Konsultan supervisi akan melakukan kegiatankegiatan:

Melakukan pemeriksaan untuk semua pekerjaan yang perlu


diperlihara dan dicatat hal-hal yang ada perubahan bentuk,

BAB E 1-226

misalnya retak-retak, penurunan, longsor pengapuran atau


pengecatan yang mengelupas.

Membuat catatan-catatan agar Kontraktor melakukan perbaikan


atau

penyempurnaan

atau

penggantian

bagian-bagian

yang

dianggap mengalami kerusakan atau perubahan atau yang belum


sempurna dan harus diperbaiki selama masa pemeliharaan.

Membantu

Pemimpin

Proyek

dalam

menyusun

dokumen

penyerahan pekerjaan.

Sebelum dilakukan penyerahan kedua, kondisi bangunan dan


kelengkapannya harus dalam kondisi masih baik tanpa ada
perubahan atau kerusakan.

d.

Penyerahan Pekerjaan Konstruksi (Provesional Hand Over)


Pada

akhir

pekerjaan

konstruksi,

maka

kontraktor

akan

mengajukan permintaan PHO (Provesional Hand Over) kepada Kepala Satker


Sementara (Pengguna Jasa), Ketelibatan Tim Supervisi dalam hal ini adalah
membantu memberikan penjelasan-penjelasan teknis mengenai pekerjaan,
saran-saran teknis, informasi mengenai test laboratorium, kuantitas
pekerjaan, gambar-gambar desain/revisi desain dll. Di samping itu Tim
Supervisi juga akan membuat usulan pekerjaan-pekerjaan yang perlu
BAB E 1-227

diperbaiki oleh kontraktor dalam bentuk daftar keruasakan yang masih


menjadi tanggung jawab kontraktor selama periode pemeliharaan atau biasa
disebut Defect and Defeciacies dan penyerahan berkas-berkas teknis
dan administrasi kepada Pemimpin Proyek.

e.

Serah terima Akhir (FHO) Pekerjaan


Sebagai tahap akhir pelaksanaan konstruksi adalah Serah Terima

Akhir Pekerjaan (FHO) yang akan dilakukan dari Kontraktor kepada


Pemimpin Proyek setelah masa pemeliharaan selesai. Sebelum dilakukan
Serah Terima Akhir Pekerjaan (FHO), Konsultan Supervisi akan menyusun
dokumen penyerahan pekerjaan yang telah sempurna dilaksanakan oleh
Kontraktor, termasuk perbaikan-perbaikan selama masa pemeliharaan.

f.

Administrasi
Seperti halnya pekerjaan pengawasan, pekerjaan administrasi

harus diselenggarakan dengan tertib, karena prosedurnya administrasi ini


sangat penting artinya didalam mendapatkan catatan-catatan secara
tertulis mengenai pekerjaan yang sedang dilaksanakan. Dalam kaitan ini, Tim
Supervisi

berkewajiban

membuat

seluruh

prosedur

pekerjaan

fisik

mengikuti dan mempunyai catatan-catatan baik pada saat pengajuan


BAB E 1-228

pekerjaan oleh kontraktor (Request of Work), catatan-catatan hasil


pengawasan pengawasan baik secara visual di lapangan maupun hasil test
laboratorium, termasuk juga perhitungan quantitas hasil pekerjaan sebagai
bahan pembayaran,

dimana

catatan-catatan ini harus disimpan dan

diarsipkan dengan tertib. Surat-menyurat dengan Kontraktor/Bagian Proyek


baik yang menyangkut administrasi biasa maupun administrasi teknis akan
diselenggarakan dengan baik dan tertib sesuai dengan ketentuan didalam
Dokumen kontrak. Pengajuan Pembayaran Bulanan (Monthly Certificate) oleh
kontraktor akan dicocokkan dan dipelajari dengan melihat catatan-catatan
harian inspektor lapangan dan hasil pengukuran dan perhitungan bersama
(joint measurement). Diagram alir pengajuan dana pembayaran oleh
kontraktor disajikan pada gambar dibawah ini.

BAB E 1-229

Mulai

Pembuatan
as-built Drawing

HARGA SATUAN

VOLUME

PERHITUNGAN BIAYA

PERSETUJUAN DIREKSI

BERITA ACARA

PENGAJUAN DANA
PEMBAYARAN

Selesai

Gambar E -31 Diagram alir pengajuan dana pembayaran oleh kontraktor


Pembuatan Contract Change Order (perubahan Kontrak) akan
disiapkan dan dibuat sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi yang
dilengkapi alasan-alasan dan argumen tasi dilakukan perubahan, perhitunganperhitugan, sket/gambar-gambar, dan usulan mengenai perpanjangan waktu
(apabila diperlukan) yang berkaitan dengan perubahan tersebut. Seluruh
BAB E 1-230

dokumen kontrak, gambar-gambar hasil survei, gambar desain/redesain


serta gambar-gambar kerja dan gambar terlaksana, catatan-catatan hasil
pekerjaan pengawasan, test laboratorium, akan disimpan rapi di kantor Tim
Leader dan dapat dilihat apabila diperlukan setiap saat.
Setiap klaim yang diajukan oleh kontraktor, seperti permintaan
perpanjangan waktu pelaksanaan,

permintaan pembayaran atas hasil

pekerjaan akan selalu dipelajari dan dichek terhadap hasil monitoring


pekerjaan, serta didiskusi terlebih dahulu sebelum diambil keputusan.
Saran-saran teknis, rekomendasi, serta alternatif-alternatif terhadap
pemecahan setiap masalah yang timbul, akan selalu diberikan oleh Tim
supervisi kepada Kepala Satuan Kerja baik secara lisan maupun tertulis.
Semua dokumen administrasi baik dokumen administrasi biasa maupun
administrasi teknis termasuk kelengkapan-kelengkapannya akan diserahkan
kepada Kepala Satuan Kerja pada akhir dari masa layanan konsultasi
pekerjaan Tim Supervisi. Bagan Aliran (flow chart) Prosedur Perubahaan
Kontrak (CCO) seperti terlihat pada gambar dibawh ini.

BAB E 1-231

Mulai

TIDAK ADA
PERUBAHAN
KONTRAK

KONTRAK AWAL

PELAKSANAAN
PEKERJAAN

KOMPARASI

PERHITUNGAN
BIAYA
PEKERJAAN

Ada
Perbedaan?

PERSETUJUAN
KONSULTAN

PERSETUJUAN
PROYEK

BERITA ACARA

KONTRAK BARU

Selesai

Gambar E -32 Bagan Alir Prosedur Perubahan Kontrak

BAB E 1-232

Mulai

Pelaksanaan Pekerjaan

Jadwal
Perencanaan Awal

KOMPARASI

T
Tidak Ada
Perpanjangan Waktu

Ada Perbedaan?

Y
Perhitungan Sisa Volume Pekerjaan

Penyusunan Jadwal Perpanjangan Waktu

Permohonan Perpanjangan Waktu :


- Alasan
- Jadwal

Persetujuan Oleh Konsultan

T
Sesuai?

Selesai
Gambar 2.26 Bagan Alir Prosedur Perpanjangan Waktu Pelaksanaan

Gambar E -43 Bagan Alir Prosedur Perpanjangan Waktu Pelaksanaan

BAB E 1-233

g. Alih teknologi
Konsultan diharapkan dapat memberikan dukungan untuk alih
teknologi

dan

meningkatkan

kemampuan

propesional

Proyek

dengan

mengadakan kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut :

Pelatihan manajemen pelaksanaan proyek

Mengadakan pendidikan teknis praktis untuk supervisi konstruksi

Mengadakan pendidikan teknis praktis untuk pelaksanaan konstruksi

Pelatihan dan pendidikan untuk pengoperasian dan pemeliharaan


fasilitas bangunan pengendali banjir bendung dan jaringan irigasi.

B.

PROGRAM KERJA

a.

Pola Kerja
Seperti yang telah disampaikan dalam Kerangka Acuan Kerja bahwa

lingkup pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung Geunang Uyat Kab. Aceh Barat
(Otsus Aceh)

meliputi aspek Umum Pengawasan dan Aspek Khusus Pengawasan

(Modifikasi Disain). Untuk mendukung kedua fungsi ini maka tim diklasifikasikan

BAB E 1-234

menjadi Tim Disain dan Tim Lapangan.


Secara umum rencana kerja konsultan pengawas harus berbasis pada
Kerangka Acuan yang diberikan yaitu:
Menyiapkan organisasi dan pengisian personil lapangan (tenaga ahli dan
tenaga pembantu) sesuai dengan kriteria KAK untuk bisa melaksanakan
fungsi manajemen proyek secara efektif.
Melakukan pengendalian dan pengawasan pekerjaan secara terus-menerus
melalui koordinasi yang meliputi approval, disapproval dan koreksi terhadap
pelaksanaan kontrakator melalui mekanisme pelaporan progress pekerjaan.
b.

Pola Kerja Tim Desain


Dalam melaksanakan fungsinya sebagai tim desain, yaitu dengan tugas

melakukan konfirmasi desain terhadap pekerjaan/ perubahan lapangan serta


memecahkan berbagai masalah desain struktur/ konstruksi yang digunakan di
lapangan dan jika diperlukan suatu perubahan yang signifikan, maka Konsultan
harus memberikan rekomendasi disertai alasan-alasan yang mendukungnya.
Selanjutnya Konsultan juga harus merekomendasikan terhadap desain bangunanbangunan utama yang telah dilakukan, disertai dengan alasan teknis yang
mendukung.

BAB E 1-235

Untuk dapat melakukan hal tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah:
Pengumpulan data perencanaan
Mereview :
o Gambar rencana
o Kriteria desain
o Dokumen perhitungan dan analisis
Melakukan redrawing usulan perubahan
Selanjutnya jika usulan perubahan desain (Modifikasi Desain) disetujui oleh pihak
pemberi tugas, maka hal ini harus disampaikan kepada pihak kontraktor untuk
didiskusikan terkait dengan kemungkinan adanya pekerjaan tambah/ kurang.

Pola Kerja Tim Pengawasan (Supervisi)


Pengawasan bisa dilakukan dengan menggunakan berita lisan, berita

berbentuk laporan tertulis ataupun melalui pandangan mataya sendiri. Seorang


pengawas selalu mengadakan check dan recheck, review, evaluasi kemajuan
pekerjaan dan dengan memperbandingkan terhadap tolok ukur yang ada, misalnya
terhadap gambar kerja dan R.K.S, dan lain sebagainya. Sebelum seseorang
pengawas memutuskan untuk menolak atau menerima suatu hasil pekerjaan,
BAB E 1-236

diperlukan standar ukuran yang dapat dijadikan pedornan. Langkah-langkah penting


dalam pekerjaan supervisi proyek antara lain:
menetapkan tolok ukur yang akan digunakan
mengukur prestasi kerja
membandingkannya dengan prestasi yang seharusnya atau tolok ukur yang
ada.
menanggulangi terhadap prestasi yang kurang cukup atau tidak memenuhi
persyaratan.
c.

Rencana kerja
Dalam meyelesaikan pekerjaan Supervisi Peningkatan Embung
Geunang Uyat Kab. Aceh Barat (Otsus Aceh) ini Tim Konsultan akan
menyusun langkah-langkah yang sesuai dengan persyaratan dalam KAK dan
lebih mendetailkannya pada aplikasi lapangan. Adapun langkah / rencana
kerja yang akan dilaksanakan meliputi:

1.

Persiapan
a.

Penyusunan RMK dan Konsultasi Awal dengan Tim Teknis.

b.

Persiapan Personil Kantor dan Perlengkapannya.

c.

Mobilisasi dan Pengujian peralatan.

BAB E 1-237

2.

Pekerjaan Pendahuluan
a.

3.

4.

Peninjauan Lokasi / Field Engineering


a.

Identifikasi jenis-jenis kegiatan konstruksi.

b.

Inventarisasi kondisi bangunan eksisting.

c.

Klarifikasi modifikasi desain.

d.

Penajaman rencana kerja.

Evaluasi dan Kajian Ulang SID


a.

5.

6.

Pengumpulan data Kontrak dan Dokumen Pelelangan.

Membandingkan kondisi di lapangan dengan hasil SID.

Redesign
a.

Review Desain.

b.

Review Metode Konstruksi.

Tahap Pre Konstruksi


a.

Pre Construction Meeting.

b.

Evaluasi RMK.

c.

Construction Plan.
BAB E 1-238

7.

8.

d.

Penyusunan Kendali Mutu.

e.

Evaluasi Mutual Chek 0% (MC-0).

Tahap Pelaksanaan Konstruksi


a.

Pengawasan Lapangan

b.

Kontrol Kuantitas

c.

Kontrol Kualitas (mutu bahan, mutu konstruksi, dll)

d.

Rapat Evaluasi Mingguan

e.

Rapat Evaluasi Bulanan

f.

Koordinasi Internal Team (Pemecahan Masalah)

g.

Sertifikat pembayaran prestasi pekerjaan

h.

Penyiapan gambar hasil pelaksanaan

Tahap dan Pelaporan dan Diskusi


Pada tahap ini konsultan menyerahkan laporan sesuai dengan
jadwal waktu yang telah ditetapkan dan jumlah laporan masing-masing sesuai

BAB E 1-239

persyaratan. Selain deliverable laporan juga dilakukan presentasi/diskusi


hasil pekerjaan.

C.

ORGANISASI DAN PERSONIL


Keberhasilan pencapaian sasaran pekerjaan ini ditentukan oleh organisasi

personil pelaksana yang tepat, terkoordinasi, dan proporsional sesuai wewenang


dan tanggung jawab masing-masing pelaksana. Dilain pihak juga harus berlangsung
koordinasi yang baik antara pihak pelaksana dengan pihak pemilik pekerjaan. Team
Leader sebagai koordinator harus mampu mengkoordinasi dan memberikan peranan
yang seimbang kepada semua anggota tim selama peleksanaan pekerjaan.
Sedangkan disisi lain Team Leader bertanggung jawab secara langsung terhadap
kemajuan pekerjaan. Oleh karena itu, perlu ditentukan lingkup penugasan serta
tanggung jawab yang jelas pada masing-masing personil pelaksana. Demikian pula
perlu dirumuskan struktur organisasi pelaksana yang tepat untuk mendukung
kelancaran pekerjaan. Hal ini secara rinci diuraikan dibawah ini dan struktur
organisasi pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Dari diagram tersebut terlihat bahwa hubungan antara pemilik proyek
dengan Konsultan yang diwakili oleh Team Leader, merupakan hubungan antara

BAB E 1-240

pemilik/pemberi pekerjaan dengan yang melaksanakan pekerjaan, sehingga


merupakan suatu garis komando.

BAB E 1-241