Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1 Identitas Pasien :
Nama

: Ny. S

Usia

: 63 tahun 10 bulan

Agama

: Islam

Alamat

: Jatijajar 2, RT 02/RW 07

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Tanggal masuk

: 1 November 2015

Tanggal keluar: 6 November 2015


1.2 Anamnesa
Keluhan Utama

: Keluar darah dari vagina

Keluhan Tambahan : Nyeri perut bawah, pusing, dan lemas


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RS Sentra Medika pada tanggal 1 November 2015
pukul 13.00 dengan keluhan keluar darah terus menerus dari vagina sejak pukul 09.00
pagi. Darah tersebut terdiri dari gumpalan darah yang berwarna kehitaman dan darah
segar berwarna kemerahan. Darah dirasakan pasien terus mengalir hingga akhirnya
berkurang pada pukul 17.00 sore hingga hanya berupa flek setelah mendapatkan obat
suntik dari IGD. Keluhan tersebut juga disertai dengan rasa nyeri di bagian perut
bawah, pusing seperti keleyengan, dan lemas. Diakui oleh pasien bahwa keluhan ini
dirasakan pertama kali pada bulan Juli 2015, namun saat itu perdarahan hanya
berupa flek-flek yang hilang dalam beberapa hari. Keluhan bertambah parah sekitar
bulan Agustus dimana keluar darah segar dan gumpalan dari vagina sehingga sejak
saat itu pasien dirawat di RS sebanyak 3 kali dengan keluhan yang sama. Saat

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

dirawat, pasien mengaku bahwa telah dilakukan USG dan didapatkan mioma yang
berukuran kecil.
Sejak 1 minggu yang lalu pasien juga mengalami demam, pilek, dan batuk
berdahak warna jernih dan tidak ada darah.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mempunyai riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 sejak tahun
2000-an. Pada tahun 2013 terdapat riwayat perdarahan akibat miom, namun setelah
dilakukan kuret perdarahan telah berhenti. Pasien mempunyai riwayat penyakit
jantung dan telah dilakukan percutaneus transluminal coronary angioplasty (PTCA)
pada Desember 2014.
Riwayat Operasi :
Diakui pasien bahwa pada tahun 1981 dilakukan kuret dikarenakan hamil
anggur yang diderita saat itu. Pada tahun 2013 dilakukan kuret di RSUD Cibinong
untuk mengangkat miom yang mengakibatkan perdarahan pada saat itu. Hasil dari
pemeriksaan PA tidak didapatkan tanda-tanda keganasan.
Riwayat Penyakit Keluarga :
1. Penyakit darah tinggi disangkal
2. Penyakit jantung disangkal
3. Penyakit gula pada ibu
4. Penyakit ginjal disangkal
5. Penyakit paru disangkal
6. Asma disangkal
7. Alergi disangkal
8. Keganasan disangkal

Riwayat Kebiasaan :
Pasien mengaku melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mencuci, dan beres-beres rumah. Pekerjaan tersebut rutin dilakukan setiap hari
namun tidak dikerjakan secara berlebihan.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Pola Makan :
Dalam satu hari pasien makan sebanyak 3 kali sehari dengan beras hitam
sebagai asupan karbohidrat. Minum lebih dari 8 gelas per hari.
Riwayat BAK:
Buang air kecil lancar, frekuensi sekitar 5-6 kali sehari, warna kuning jernih,
tidak ada nyeri saat berkemih.
Riwayat BAB:
Riwayat BAB lancar, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan, dengan
frekuensi 1 kali sehari.
Lingkungan :
Pasien tinggal di perumahan dengan lingkungan bebas dari asap pabrik,
pembakaran sampah, maupun jalan raya.
Riwayat Pernikahan :
Pasien menikah pada tahun 1967 saat berumur 15 tahun.
Riwayat Obstetri:
G9P8A1
Tahun

Penolong

1967

Dukun beranak

1969

Dukun beranak

1972

Dukun beranak

1974

Bidan

1075

Bidan

1977

Bidan

1979

Bidan

Jenis

Usia

kelamin

kehamilan

Laki-laki

9 bulan

Partus normal

9 bulan

Partus noemal

Laki-laki

9 bulan

Partus normal

Laki-laki

9 bulan

Perempua
n

Perempua
n
Perempua
n
Perempua
n

Keterangan

Partus normal,
HDK, HPP

9 bulan

Partus normal

9 bulan

Partus normal

9 bulan

Partus normal

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

1980

Bidan

Laki-laki

9 bulan

1981

Dokter

Partus normal
Hamil anggur,
kuret

Riwayat Haid :
Pasien menarche pada usia 14 tahun dengan siklus haid teratur 25-28 hari
selama 7 hari. mengalami menopause pada usia 48 tahun.
Riwayat Ginekologi :
Pada tahun 2013 yang lalu terdapat riwayat perdarahan per vaginam dan
didiagnosa sebagai mioma uteri. Dilakukan kuret dan pemeriksaan PA oleh dokter di
RS Cibinong dan tidak ditemukan tanda-tanda keganasan.
Riwayat KB :
Pasien pernah mengonsumsi pil KB, kemudian diganti dengan spiral. Setelah
dilakukan pemasangan selama satu tahun, pasien minta untuk dilepas karena merasa
tidak nyaman. Pada tahun 1981 pasien memutuskan untuk dilakukan steril.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

1.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
KU/ Kes
Berat Badan
Tinggi Badan
Tekanan Darah
Nadi
Pernapasan
Suhu
Kepala

: Baik/ Compos Mentis


: 50 kg
: 150 cm
: 110/70 mmHg
: 72 x/menit, reguler, isi cukup
: 20 x/menit
: 37C
: Bentuk dan ukuran normal, tidak teraba benjolan,
rambut warna hitam pudar terdistribusi merata, tidak

Mata
Hidung

mudah dicabut, tidak tampak kelainan kulit kepala


: Konjungtiva anemis +/+ , Sklera ikterik -/: Bentuk normal, septum nasi di tengah, tidak ada

Mulut

deviasi, mukosa tidak hiperemis, sekret -/: Bentuk simetris, perioral sianosis -, lidah kotor -,
uvula di tengah, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1,

Leher

tidak hiperaemis, detritus -/: Trakhea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba

Jantung

membesar
: KGB tidak teraba membesar
: Inspeksi = simetris kiri dan kanan
Palpasi = fremitus kiri dan kanan sama kuat
Perkusi = sonor pada semua lapang paru
Auskultasi = vesikuler +/+, wheezing -/-, ronki -/: Inspeksi = iktus kordis tidak terlihat
Palpasi = iktus kordis teraba sebatas 2 jari
Perkusi =
Batas atas : ICS III parasternal line sinistra
Batas kanan : ICS IV sternal line dextra
Batas kiri : ICS VI midclavicula line sinistra
Auskultasi = BJ I & II normal, regular, Gallop (-),

Abdomen

Murmur (-)
: Inspeksi = datar, sikatriks(-), striae(-), gerakan usus(-)
Palpasi = supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar

KGB
Paru

dan lien tidak teraba membesar


Perkusi = timpani, nyeri ketok ginjal (-)
Auskultasi = bising usus (+)
Ekstremitas Superior : Sianosis (-), Edema -/Ekstremitas Inferior : Sianosis (-), Edema -/Kulit
: Turgor baik
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan
RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Status Ginekologis
Vaginal toucher

: Portio licin, darah (+)

1.4 Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium :
Tanggal 1 November 2015

Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit

: 8,3 gr/dL *
: 26 % *
: 268.000 /L
: 12.910 /L *

Tanggal 2 November 2015

Hemoglobin
GDS

: 10.1 gr/dL *
: 197 mg/dL

Tanggal 6 November 2015

Masa pendarahan
Masa pembekuan
SGOT
SGPT
Ureum
Creatinin
Natrium
Kalium
Chlorida
Gula sewaktu 06.00
Gula sewaktu 09.00
Gula sewaktu 10.00

: 4.00 menit
: 13.00 menit
: 17,5 U/l
: 10,1 U/l
: 66,1 mg/dl *
: 1,90 mg/dl *
: 143 mmol/L
: 4,32 mmol/L
: 117 mmol/L *
: 96 mg/dl
: 129 mg/dl
: 129 mg/dl

USG TAS/TVS:

76 x 68 x 50 mm
Endometrium line :
o Bayangan anechoic-hiperechoic ireguler, batas tidak jelas

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

o Sulit dinilai

Radiologi :
1. Foto thorax didapatkan kesan Cor dan Pulmo normal.
2. EKG didapatkan kesan ritme supraventricular, gelombang Q abnormal
(Q>R/4), gelombang Q abnormal pada sadapan anteroseptal.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

1.4 Resume
Telah diperiksa seorang perempuan usia 65 tahun dengan keluhan keluar
darah terus menerus dari vagina. Darah tersebut terdiri dari gumpalan darah yang
berwarna kehitaman dan darah segar berwarna kemerahan. Darah dirasakan pasien
terus mengalir hingga akhirnya berkurang hingga hanya berupa flek setelah
mendapatkan obat suntik dari IGD. Keluhan tersebut juga disertai dengan rasa nyeri
di bagian perut bawah, pusing seperti keleyengan, dan lemas. Diakui oleh pasien
bahwa keluhan ini dirasakan pertama kali pada bulan Juli 2015, namun saat itu
perdarahan hanya berupa flek-flek yang hilang dalam beberapa hari. Keluhan
bertambah parah sekitar bulan Agustus dimana keluar darah segar dan gumpalan dari
vagina sehingga sejak saat itu pasien dirawat di RS sebanyak 3 kali dengan keluhan
yang sama. Saat dirawat, pasien mengaku bahwa telah dilakukan USG dan
didapatkan mioma yang berukuran kecil.
1.5 Diagnosa
Diagnosa kerja
Diagnosa banding
Diagnosa tambahan

: Perdarahan pervaginam e.c susp. kanker endometrium


: Hiperplasia endometrium
: Anemia
CHF e.c miocard infark
Hipertensi
DM tipe 2

1.6 Perencanaan
Diagnostik:

Biopsi endometrium
Dilatasi dan kuretase (dapat sekaligus sebagai terapetik)

Terapetik:

Pembedahan
FOLLOW UP

Tanggal 1 November 2015


S
O

Perdarahan pervaginam

KU
: tampak sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
TD
: 100/80 mmHg

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Nadi
RR
Suhu
PPV

: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: 2 softex

Tanggal 2 November 2015


S

Perdarahan pervaginam berkurang

KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu
PPV

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 130/80 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: flek-flek

Tanggal 3 November 2015


S

Perdarahan pervaginam sejak pukul 08.00 warna merah segar

KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu
PPV

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 150/110 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: flek-flek

Tanggal 4 November 2015


S

Perdarahan pervaginam,

KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu
PPV

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 150/80 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: 1 softex

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Tanggal 5 November 2015


S

Perdarahan pervaginam

KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu
PPV

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 130/70 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: flek-flek

Tanggal 6 November 2015


S

Perdarahan pervaginam, nyeri pada perut

KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR
Suhu
PPV

: tampak sakit ringan


: compos mentis
: 150/80 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36C
: flek-flek

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uterus dan Endometrium
Uterus merupakan organ berongga yang berbentuk seperti buah pir berukuran sedang
dan terdiri dari dua bagian utama, yaitu serviks dan korpus atau disebut juga badan
uterus. Serviks terletak di bagian bawah uterus yang menjangkau vagina, sementara
korpus merupakan bagian atas dari uterus. Walaupun serviks masih merupakan
bagian dari uterus namun terminologi kanker pada uterus ditujukan pada korpus, dan
bukan serviks.1
Kanker endometrium berasal dari lapisan di bagian dalam uterus, yaitu
endometrium yang melapisi bagian dalam dari rongga uterus. Selain endometrium,
uterus juga dilapisi oleh miometrium, yaitu lapisan otot yang membantu proses
pengeluaran janin saat melahirkan. Bagian luar dari uterus dilapisi oleh lapisan serosa
(Gambar 1).1

Gambar 1. Anatomi Uterus


(Sumber: American Cancer Society)
2.2 Epidemiologi dan Insidensi
Kanker endometrium merupakan keganasan yang paling umum terjadi pada saluran
reproduksi wanita di dunia dan menempati urutan ke-tujuh penyebab kematian akibat
kanker pada wanita di Eropa Barat. 2 Kanker endometrium merupakan kanker
ginekologik yang paling umum di Amerika Serikat dan juga menempati urutan ke-

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

empat kanker pada wanita setelah kanker payudara, paru-paru, dan kolon. Menurut
American Cancer Society, didapatkan 47.130 kasus kanker endometrium dan 8.010
kematian akibat kanker tersebut di tahun 2012. Angka kejadian kanker endometrium
didapatkan lebih tinggi pada daerah Eropa Utara dan negara-negara industri
dibanding negara-negara berkembang.3 Setiap tahunnya ditemukan sekitar 7.406
kasus baru di Inggris, 88.068 di Uni Eropa, dan 40.102 di Amerika Utara. 2 Di regional
Asia Tenggara dimana Indonesia termasuk didalamnya, insiden kanker endometrium
sebesar 4,8% dari 670.587 kasus kanker pada perempuan.4
Kanker endometrium dapat terjadi pada perempuan premenopause (25%) dan
post-menopause (75%). Lima hingga 10% perempuan premenopause yang
terdiagnosa berumur kurang dari 40 tahun. Rerata umur yang terdiagnosa kanker
endometrium adalah 61 tahun. Kelompok umur yang paling umum terdiagnosa adalah
kelompok dengan rentang usia 50-59 tahun.5
2.3 Faktor Risiko
1. Pola Hidup dan Kebiasaan
Perempuan yang terpapar estrogen berlebih seperti pada unopposed estrogen
therapy berisiko terkena kanker pada endometrium. Semakin tinggi angka IMT
semakin tinggi pula risiko terjadinya kanker endometrium. Berbagai mekanisme
menjelaskan hubungan antara obesitas dan tingginya faktor risiko kanker
endometrium. Obesitas menyebabkan bertambahnya konversi androstenedion
menjadi estron dengan mengaromatase jaringan lemak. Obesitas juga dapat
menyebabkan resistensi insulin dan mengurangi ikatan serum hormon globulin
yang akhirnya menyebabkan peningkatan estrogen dan meningkatnya respon
inflamasi. Diet tinggi lemak dan penyakit diabetes juga merupakan faktor risiko
terjadinya kanker endometrium.3
2. Riwayat Reproduksi dan Menstruasi
Menarche dini (kurang dari 12 tahun), menopause yang terlambat (diatas 55
tahun), siklus menstruasi yang panjang, nulipari dan infertilitas merupakan faktor
risiko untuk kanker endometrium. Kehamilan mengurangi masa menstruasi
perempuan dan durasi kehamilan cukup bulan mengurangi risiko kanker sebanyak
22% per tahun.3

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

3. Genetik
Empat puluh hingga 60% perempuan dengan hereditary nonpolyposis colorectal
cancer (HNPCC) berisiko terkena kanker endometrium.

Lima hingga 10%

perempuan dengan Cowden Syndrome juga berisiko untuk terjadinya kanker


endometrium.3
4. Kanker dan Pre-kanker
Lima belas hingga 20% tumor ovarium sel teka-granulosa dan 30% kanker
ovarium berhubungan dengan kanker endometrium. Faktor risiko lain diantaranya
adalah meningkatnya risiko hingga 10 kali lipat pada riwayat keluarga dengan
kanker endometrium di usia kurang dari 50 tahun, riwayat kanker payudara atau
kanker ovarium, dan hiperplasi endometrium.3
5. Sindrom Polikistik Ovarium
Perempuan dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS) mengalami anovulasi
kronik dengan paparan estrogen berlebih yang meningkatkan risiko kanker
endometrium hingga 4 kali lipat.3
6. Penggunaan Terapi Estrogen Tunggal
Perempuan yang mendapat terapi hormon estrogen tunggal meningkatkan resiko
perkembangan kanker endometrium; progestin melawan efek dari estrogen pada
lapisan endometrium.3
7. Pengobatan dan Lingkungan
Angka kejadian kanker endometrium pada penggunaan tamoxifen sebanyak 2-3
per 1000 perempuan per tahun, sedangkan raloxifene sebanyak 1,25 per 1000
perempuan per tahun.3
2.4 Faktor Protektif terhadap Perkembangan Endometrium
Kontrasepsi oral, aktivitas fisik, meltiparitasm dan penggunan IUD dapat digunakan
sebagai proteksi terhadap kanker endometrium.3

Kontrasepsi oral
Kontrasepsi oral mengurangi risiko terjadinya kanker endometrium hingga 50%.
Lama penggunaan kontrasepsi oral berdampak pada penurunan risiko, dimana
risiko tersebut dapat bertahan hingga 10 tahun setelah pemberhentian penggunaan

kontrasepsi oral.3
Aktivitas fisik

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Aktivitas fisik dapat mengurangi terjadinya kanker endometrium hingga 33-39%,

dimana efek nya lebih jelas pada perempuan obesitas.3


Penggunaan IUD
Dari berbagai penelitian didapatkan bahwa penggunaan IUD berdampak pada
reversi hiperplasi atipik dan memiliki efek protektif terhadap perkembangan
kanker endometrium. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan

dampak IUD terhadap risiko kanker endometrium.3


Kondisi lain yang dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker Endometrium
Riwayat fraktur pada tulang dikaitakan dengan rendahnya risiko kanker
endometrium, dikarenakan kondisi hipoestrogen yang berkepanjangan yang
akhirnya mengakibatkan fraktur itu sendiri. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
juga dikaitkan dengan rendahnya risiko kanker endometrium, dimungkinkan
akibat perempuan dengan SLE cenderung untuk mengalami menopause dini.
Merokok juga dikaitkan sebagai faktor protektif terhadap kanker endometrium.3,5

2.5 Klasifikasi
Berdasarkan World Health Organization (WHO) dan International Society of
Gynecological Pathology classification, semua tumor yang didapatkan harus
dibedakan secara mikroskopis. Klasifikasi berdasarkan histopatologi yaitu:6

Karsinoma endometrium: adenokarsinoma, adenoakantoma (adenokarsinoma


dengan

metaplasi

skuamos),

dan

adenoskuamos

karsinoma

(campuran

adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamos)


Mucinous adenocarcinoma
Serous adenocarcinoma
Clear cell adenocarcinoma
Undifferentiated carcinoma
Mixed carcinoma

Berdasarkan etiologi, kanker endometrium dibedakan menjadi dua tipe yaitu (Tabel
1):3,5,7
1. Tipe

I,

estrogen-dependent

yang

biasanya

bermula

sebagai

hiperplasi

endometrium atipik dan berkembang menjadi karsinoma. Tipe I menggambarkan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

bahwa mayoritas dari lesi (80%) merupakan stadium rendah, reseptor estrogen
positif, dikaitkan dengan hiperestrogenisme, dan berasal dari hiperplasi atipik.
Pada tipe ini kanker endometrium terbatas di uterus pada 70% kasus dengan
angka harapan hidup untuk 5 tahun lebih dari 85%.
2. Tipe II, estrogen-independent yang tidak berkaitan dengan stimulasi estrogen
tunggal. Tipe II (serous, clear-cell carcinoma) lebih sering terjadi pada
perempuan kurus, lebih agresif, dan memiliki prognosa yang lebih buruk. Bahkan
dengan tumor yang minimal atau tidak adanya invasi ke miometrium, lebih dari
1/3 pasien akan mengalami penyebaran ekstrauterine yang luas sehingga
berakibat pada harapan hidup hanya sebesar 20%.

Tabel 1. Tipe I dan Tipe II Kanker Endometrium

Tipe I

Tipe II

Dampak
Hormonal

Estrogen dependent

Estrogen independent

Histologi

Adenokarsinoma endometrium

Clear-cell, serous, uterine


carcinosarcomas

Populasi

Usia muda, obesitas,


premenopause

Usia tua, kurus, post-menopause

Distribusi

85%

15%

Prognosis

Better differentiated

Lebih agresif, mortalitas tinggi

Mutasi Genetik

Kras, PTEN, MLH1

p53, erbB2

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

2.6 Stadium
Pada tahun 2009, International Federation of Gynecologists and Obstetricians
(FIGO) merevisi stadium pada kanker endometrium untuk pertama kalinya sejak
tahun 1988.3
Tabel 2. Stadium Kanker Endometrium berdasarkan FIGO (2009)
Stadium
I
IA
IB
II
III
IIIA
IIIB
IIIC
IIIC1
IIIC2
IV
IVA
IVB

Tumor confined to the corpus uteri


No or less than half myometrial invasion
Invasion equal to or more than half of the myometrium
Tumor invades cervical stroma but does not extend beyond the uterus
Local and/or regional spread of the tumor
Tumor invades the serosa of the corpus uteri and/or adnexae
Vaginal and/or parametrial involvement
Metastases to pelvic and/or para-aortic lymph nodes
Positive pelvic nodes
Positive para-aortic lymph nodes with or without positive pelvic lymph
nodes
Tumor invades bladder and/or bowel mucosa, and/or distant metastases
Tumor invasion of bladder and/or bowel mucosa
Distant metastases, including intra-abdominal metastases and/or
inguinal lymph nodes

Tabel 3. Perbandingan Stadium berdasarkan FIGO dan TNM

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

2.7 Tanda dan Gejala


Pada pemeriksaan fisik jarang ditemukan bukti nyata adanya kanker endometrium.
Perlu diperhatikan adanya penyebaran ke daerah sekitar endometrium seperti
miometrium, serosa, serviks, tuba falopii, kelenjar getah bening perifer, hepar, paruparu, dan tulang.5,7
Sebagian besar perempuan dengan kanker endometrium didapatkan
perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan post-menapause, sehingga dapat
terdiagnosa pada stadium awal. Gejala umum lainnya seperti sakit saat berkemih,
dispareunia, nyeri panggul, vaginal discharge, dan penurunan berat badan. Lebih dari
95% perempuan yang terdiagnosa didapatkan gejala tersebut, sedangkan 5% lainnya
terdiagnosa melalui pemeriksaan pap smear yang abnormal. Walaupun perdarahan
post-menopause merupakan gejala umum yang sering terjadi, namun hanya sekitar
10% perempuan yang akhirnya terkena kanker endometrium.3
2.8 Diagnosa
Sebagian besar kasus kanker endometrium dapat di diagnosa pada stadium awal
akibat perdarahan abnormal pervaginam yang timbul pada 90% kasus. Diagnosa

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

pasien perdarahan post-menopause pada awalnya adalah dengan dilatasi dan kuret,
namun sekarang biopsi endometrium dan histeroskopi lebih banyak digunakan.
Sampel dari endometrium sangat sensitif untuk mendeteksi adanya lesi kanker pada
endometrium. Penelitian terbaru mengemukakan bahwa alur pertama dalam
mendiagnosa adalah dengan mengukur ketebalan endometrium, diikuti oleh sampel
endometrium. Histeroskopi dapat digunakan sebagai langkah akhir dalanm
mendiagnosa pasien dengan perdarahan post-menopause.2
2.9 Skrining dan Evaluasi
Tidak dianjurkan skrining rutin untuk kanker endometrium pada populasi umum.
Pada perempuan dengan sindrom HNPCC, American Cancer Society menganjurkan
skrining rutin dengan biopsi endometrium atau USG transvaginal dimulai sejak usia
35 tahun. National Comprehensive Cancer Network (NCCN) juga menganjurkan
perempuan dengan HNPCC untuk menjalani biopsi endometrium tahunan hingga
dilakukan histerektomi dan salfingo-oovorektomi jika tidak ingin mempunyai anak
lagi.3
Meskipun dulunya dilatasi dan kuret merupakan gold standard dari
pemeriksaan perdarahan ireguler, biopsi endometrium dinilai mempunyai akurasi
hingga 90-98% tanpa diperlukannya tindakan anastesi dan operasi. Pada perempuan
post-menopause USG transvaginal dapat membantu untuk membedakan lesi yang
mecurigakan dan sumber utama dari perdarahan post-menopause yang berasal dari
jaringan atrofi.5
Ketebalan dinding endometrium

4 mm menggambarkan risiko rendah

keganasan. Pada kasus tersebut tidak diperlukan biopsi endometrium kecuali


didapatkan perdarahan yang terus menerus atau berulang, atau mempunyai risiko
tinggi keganasan.5
2.10 Tatalaksana Operatif
Secara umum dilakukan tindakan pembedahan dengan insisi midline secara vertikal
pada abdomen diikuti eksplorasi secara teliti pada organ intra-abdomen untuk

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

menemukan kemungkinan metastase, diikuti palpasi pada kelenjar getah bening yang
membesar di sekitar area pelvik dan aorta. Standar prosedur bedah yang dilakukan
meliputi histerektomi total disertai

salfingo-oovorektomi bilateral. Pengangkatan

adneksa juga dianjurkan walaupun tuba dan ovarium tampak normal karena bisa saja
ditemukan metastase kecil di dalamnya.6
1. Stadium 1 dan 2
Pada umumnya tatalaksana untuk kanker endometrium meliputi pembedahan
sistematik yang bertahap, meliputi histerektomi total dan salfingooovorektomi bilateral, pencucian pelvik, pengangkatan kelenjar getah bening
pelvik dan para-aorta, serta pengangkatan total tumor pada semua stadium.
Pasien dengan invasi > 50% pada miometrium mempunyai prognosis yang
lebih buruk. Pasien tersebut dan pasien lain yang mempunyai prognosis buruk
lainnya seperti massa tumor yang melebihi 2 cm, atau mengisi kavum uterus,
atau tumor grade 3, tumor dengan gambaran histologi papillary serous dan
clear-cell, atau pembesaran kelenjar getah bening juga membutuhkan terapi
radiasi walaupun tumor tersebut terbatas hanya di uterus.5
2. Stadium 3 dan 4
Ketika keganasan sudah mencapai lapisan serosa dari uterus atau bahkan
sudah melebihi lapisan tersebut, pasien juga membutuhkan terapi radiasi
sebagai tambahan dari terapi pembedahan dan pengangkatan jaringan yang
sudah terkena metastase.5,6
2.11 Terapi Tambahan
Terapi tambahan meliputi radioterapi, kemoterapi, terapi kombinasi radioterapikemoterapi.6
Tabel 4. Tatalaksana Kanker Endometrium berdasarkan Stadium
Stadium 1

Stadium 2

Tindakan
Histerektomi total + salfingo-oovorektomi bilateral, sampling KGB
pelvis dan para aorta, jika beresiko tinggi* maka ditambahkan terapi
radiasi
Histerektomi total + salfingo-oovorektomi bilateral, sampling KGB
pelvis dan para aorta, jika beresiko tinggi* maka ditambahkan terapi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

radiasi
Stadium 3

Histerektomi total + salfingo-oovorektomi bilateral, sampling KGB


pelvis dan para aorta, terapi radiasi

Stadium 4

Histerektomi total + salfingo-oovorektomi bilateral, sampling KGB


pelvis dan para aorta, terapi radiasi

Berulang, pelvis

Dosis tinggi progrestins, kemoterapi

Berulang, vaginal

Radiasi vaginal

*beresiko tinggi apabila lesi mencapai grade 3, lesi grade 2 berukuran >2cm, melibatkan segmen
bawah uterus, cerviks, gambaran histologi yang buruk, papillary serous atau clear cell histology,
penetrasi myometrium > 1/3

2.12 Follow Up
Follow up pada pasien kanker endometrium mencakup pemeriksaan fisik
(menggunakan spekulum dan pemeriksaan rektovaginal) setiap 3 bulan dalam 3 tahun
pertama, diikuti 6 bulan sekali selama 2 tahun berikutnya. Jika tidak ditemukan bukti
kekambuhan, pasien dapat dievaluasi 1 kali dalam setahun.5,6

DAFTAR PUSTAKA
1. American Cancer Society. Endometrial Cancer. [revised 2015 March 17; cited
2015 November 20]. Available from:
http://www.cancer.org/cancer/endometrialcancer/detailedguide/endometrialuterine-cancer-what-is-endometrial-cancer
2. Annals of Oncology. Endometrial cancer: ESMO Clinical Practice Guidelines for
diagnosis, treatment, and follow-up. Ann Oncol 2010;21 (Suppl_6): v35. [updated
2011 July; cited 2015 November 20]. Available from:
http://www.m.annonc.oxfordjournals.org/content/22/suppl_6/vi35.full
3. Hindawi Obstetric and Gynecology International, Vol. 2013

(2013).

Contemporary Clinical Management of Endometrial Cancer.


4. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan, Ed.3. Jakarta. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2011; 14:300-1.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

5. Callahan T, Caughey AB. Blueprints Obstetrics & Gynecology, 6 th Ed. Ch. 29,
Endometrial Cancer. Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013. p.383-7.
6. Amant F, Mirza, MR, Creutzberg CL. Cancer of the corpus uteri. International
Journal of Gynecology and Obstetrics 119S2 (2012) p110-7.
7. Berek JS, Novak E. Berek & Novaks Gynecology, 15th Ed. Ch. 35, Uterine
Cancer. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2012. p.2178-2224.

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
Pada pasien ini dicurigai perdarahan abnormal pervaginam yang terjadi akibat
dari hiperplasi endometrium yang dapat berkembang menjadi kanker endometrium.
Beberapa faktor seperti usia tua, post-menopause, dan DM tipe 2, juga berkontribusi
dalam terjadinya kanker endometrium. Untuk menegakkan diagnosa klinis perlu
dilakukan pengambilan sampel dari endometrium untuk dilakukan pemeriksaan
secara patologi anatomi untuk mencari tanda-tanda keganasan. Pengambilan sampel
yang dianjurkan adalah dengan biopsi endometrium karena merupakan teknik yang
sangat sensitif untuk mendeteksi adanya lesi kanker pada endometrium. Penelitian
terbaru mengemukakan bahwa alur pertama dalam mendiagnosa adalah dengan
mengukur ketebalan endometrium, diikuti oleh sampel endometrium. Jika didapatkan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

tanda-tanda keganasan pada sampel endometrium, makan dapat dilakukakan


tatalaksana operatif berdasarkan stadium pada kanker endometrium.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan


RS Sentra Medika Cisalak
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara