Anda di halaman 1dari 12

MANAJEMEN TANGGAP DARURAT DAN

PENANGANAN PENGUNGSI
Analisis Manajemen Tanggap Darurat dan Penanganan Pengungsi pada
Bencana Erupsi Merapi 2010
Oleh:
Boni Andika (10/296364/SP/23830)
Swastaji Agung Rahmadi (10/297024/SP/23914)
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang........................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................... 4
1.3 Landasan Konseptual................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 5
BAB III PENUTUP...................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Gunung ini
terletak di antara empat kabupaten di dua provinsi, yaitu Kabupaten Sleman di
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten
serta Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah. Dalam satu dekade terakhir, Gunung
Merapi tercatat telah mengalami dua kali letusan besar, yaitu pada tahun 2006 dan
2010 lalu. Gunung Merapi memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Yogyakarta,
terutama bagi mereka yang hidup di sekitar lereng. Salah satu contohnya, manfaat
ekonomi yang nyata pasca letusan Gunung Merapi pada tahun 2006 dan 2010 lalu ialah
berupa penambangan pasir dan batu. Aktivitas pariwisata juga meningkat setelah
dibukanya lokasi pariwisata Lava Tour yang sempat mencuri perhatian dunia
pariwisata, sehingga mampu mendatangkan ribuan wisatawan domestik maupun
mancanegara yang mengunjungi lokasi tersebut.Erupsi pada akhir tahun 2010 lalu,
menyebabkan hampir 300 warga lereng Merapi terenggut nyawanya akibat letusan
dahsyat tersebut. Letusan Gunung Merapi tahun 2010merupakan letusan terbesar
dalam satu abad terakhir. Akibat bencana ini, banyak kerugian dialami oleh warga
DIY dan Jawa Tengah. Kegiatan ekonomi, seperti industri pariwisata,sektor
perdagangan dan jasa, serta aktivitas akademis, terutama di Kota Yogyakarta sempat
terganggu. Menurut ahli vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi (PVMBG), bahwa tipe letusan Gunung Merapi bersifat siklis yang sudah pasti
akan berulang setiap jangka waktu tertentu. Dari pernyataan tersebut, kita bisa
melihat bahwa bencana letusan Gunung Merapi merupakan potential disaster atau
potensi bencana yang mungkin terjadi secara berkala. Jika hal tersebut tidak
ditangani secara arif oleh pemerintah serta kurangnya dukungan dari masyarakat,
maka potensi bencana tersebut dapat menimbulkan bahaya yang akan terus terulang di
tahun-tahun berikutnya. Bedasarkan pertimbangan di atas, maka diperlukan sebuah
emergency management yang baik sebagai upaya penanganan korban bencana dan
pengungsi. Bencana Erupsi Gunung Merapi tidak dapat dicegah, sehingga hal yang
patut diperlukan antara lain manajemen yang baik dalam proses evakuasi korban
dan pengungsi. Bedasarkan bencana Lava Tour Merapi adalah suatu obyek wisata
yang dicanangkan pasca letusan Merapi 20 06. Lava Tour ini adalah wisata untuk
menyaksikan dampak alam dari letusan gunung Merapi, berupa material piroklastik yang
mengubur wilayah perkampungan penduduk di Kabupaten Sleman, DIY. Erupsi Gunung
Merapi pada tahun 2010, penanganan pengungsi oleh pemerintah daerah masih
belum maksimal, terbukti dengan masih banyaknya pengungsi yang tidak
mendapatkan tempat pengungsian yang layak, dan minimnya fasilitas yang tersedia
di beberapa lokasi pengungsian.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini, pertanyaan riset yang penulis ajukan adalah Bagaimana
penerapan emergency management bagi pengungsi pada bencana erupsi Gunung
Merapi tahun 2010? Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa variabel yang
perlu dibahas, yaitu:
1. Analisis mengenai penerapan emergency management pada bencana erupsi
Gunung Merapi tahun 2010.
2. Gambaran mengenai emergency management yang baik dan fungsional.
1.3 LANDASAN KONSEPTUAL
Untuk membantu penulis menganalisis makalah yang diangkat, penulis akan
menggunakan konsep Emergency Management oleh Fred Cuny dalam bukunya yang
berjudul Disasters and Development. Menurut Cuny, di dalam emergency
management yang baik terdapat empat fase seperti pada grafik di bawah ini. Grafik Fase
Emergency Management Dalam emergency management yang baik, terdapat empat
fase antara lain mitigasi, preparedness, respond dan recovery. Keempat fase tersebut
harus saling terhubung menjadi sebuah emergency management yang baik dalam
setiap penanganan bencana alam. Setiap jenis bencana akan memiliki poin yang
berbeda di setiap fasenya. Dalam makalah ini, penulis mengkhususkan pembahasan pada
bencana erupsi Gunung Merapi.

BAB II
PEMBAHASAN

Struktur dan sifat manajemen penanganan bencana tergantung pada kondisi sosial dan
ekonomi masyarakat setempat. Beberapa ahli seperti Fred Cuny telah mencatat bahwa siklus
Manajemen Darurat harus mencakup kerja jangka panjang pada infrastruktur
penunjang, kesadaran publik, hingga legalitas hukum yang mengikat pada permasalahan di
atas. Proses manajemen darurat melibatkan empat tahap, antara lain: mitigasi,
kesiapsiagaan, respon bencana, dan pemulihan. Tulisan ini akan mengulas bagaimana
proses manajemen darurat yang telah diterapkan pada kasus bencana erupsi gunung Merapi
pada akhir 2010 lalu. Erupsi gunung Merapi pada akhir 2010 ini telah menyita perhatian
mata Indonesia dan dunia, karena menimbulkan banyak korban jiwa, yakni sekitar 161
jiwa.
Mitigasi
Mitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf C dalam UU Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana Nasional, dapat dilakukan melalui berbagai cara
termasuk pelaksanaan penataan ruang, pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur,
tata bangunan dan tak kalah penting adalah penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan,
dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern. Kegiatan mitigasi bencana
merupakan satu kesatuan aktivitas yang melibatkan semua komponen masyarakat dan
aparatur terkait. Peningkatan kapasitas kelembagaan maupun kualitas masyarakat
merupakan hal yang perlu demi mengurangi risiko bencana. Dalam hal peningkatan
kapasitas kelembagaan formal, sudah tersedia UU No. 24 Tahun 2007, namun
peningkatan kapasitas masyarakat untuk mitigasi bencana belum terakomodasi secara
efektif. Latihan (simulasi) ini muncul sebagai alternatif dalam rangka pengurangan
risiko bencana yang sederhana namun efektif untuk meningkatkan kapasitas masyarakat
yang tinggal di kawasan rawan bencana. Penyelenggaraan wajib latih dilakukan oleh
instansi pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkompeten. Namun pada
kenyataannya, sebelum kejadian bencana erupsi, masyarakat setempat kurang memiliki
pengetahuan tentang apa yang perlu dipersiapkan dan dilakukan ketika terjadi bencana
erupsi gunung merapi, hal ini menunjukkan masih diperlukannya sosialisasi kepada
masyarakat mengenai mitigasi bencana. Saat kejadian erupsi tahun 2010, warga
setempat mengalami kebingungan dan disorganisasi diri tentang bagaimana proses evakuasi
diri, dimana mereka akan mengungsi dan ketidaktahuan masyarakat akan daerah yang
aman maupun daerah rawan bahaya, sehingga korban jiwa akibat bencana sekunder
(kecelakaan) tidak terhindarkan, seperti kutipan berita dari Tempo Interaktif bahwa jalur
evakuasi yang rusak dan sempit pada saat proses evakuasi berlangsung dilalui oleh
puluhan ribu warga untuk melarikan diri ke tempat yang lebih aman, namun beberapa
warga dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan saat evakuasi. Hal ini patut
dievaluasi dengan memperjelas jalur-jalur evakuasi warga ke tempat pengungsian yang
layak, dengan sosialisasi yang gencar pada tiap keluarga oleh pemerintah daerah
setempat. Perbaikan jalur evakuasi mutlak perlunya agar proses evakuasi dapat berjalan
lancar dan tertib. Problema yang saat ini masih ditemukan adalah kurangnya informasi dan
kurang tanggapnya masyarakat akan tanda peringatan bahaya.
Kesiapsiagaan

Di dalam emergency management yang fungsional, diperlukan adanya tahap


kesiapsiagaan yang baik. Tahap ini adalah fase pada siklus yang menyakupi
bidangperencanaan, pengelolaan, pengorganisasian, pelatihan, pemantauan, evaluasi dan
memastikan koordinasi yang efektif, serta peningkatan kemampuan organisasi untuk
melindungi korban dn pengungsi dan juga mengurangi dampak bencana alam, aksi terorisme,
dan bencana buatan manusia.
Langkah kongkrit dalam tahap kesiapsiagaan terhadap letusan gunung Merapi, menurut
antara lain adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya,


Membuat sistem peringatan dini yang efeketif dan efisien,
Mengembangkan radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api,
Membuat peta kawasan rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang,
Membuat perencanaan penanganan bencana mempersiapkan jalur dan tempat
pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan,
pertolongan pertama) jika diperlukan,
6. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting,
Implementasi di lapangan pada bencana alam erupsi gunung Merapi 2010, menunjukan
beberapa poin ada yang telah sepenuhnya dilaksanakan dengan baik, ada juga yang
dilaksanakan namun kurang terkoordinasi, sehingga terjadi disfungsionalisasi pola
emergency management, dan ada pula yang tidak dilaksanakan.
Ulasan mengenai poin-poin kesiapsiagaan penanganan bencana Merapi, yang penulis amati
adalah sebagai berikut:
1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung dan ancaman-ancamannya. Pada
pengalaman bencana erupsi gunung Merapi 2006 dan 2010, Pemerintah melalui
Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)
Yogyakarta di bawah wewenang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) telah memasang stasiun pengamatan gunung Merapi di beberapa titik (Pos
Kaliurang, Pos Babadan, Pos Ngepos, Pos Balerante) yang secara aktif dan konsisten
berkewajiban dalam pengamatan aktifitas vulkanik gunung Merapi, serta
mencatat segala perkembangan yang ada untuk disosialisasikan kepada
masyarakat yang tinggal di rawan bencana. Stasiun pengamatan tersebut telah
berhasil menyosialisasikan warga dan masyarakat luas akan kegiatan gunung Merapi
melalui media lokal, media nasional, pemerintahan setempat, serta bermitra dengan
Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada dalam penginformasian, koordinasi
langsung warga yang tinggal di rawan bencana. Jadi, dinilai telah bekerja secara
efektif dan fungsional dalam proses evakuasi warga ke tempat yang lebih aman.
2. Membuat sistem peringatan dini yang efektif dan efisien. Sistem peringatan dini pada
bencana erupsi Merapi 2010 sudah tergolong baik, hal ini dapat dibuktikan
dengan cepatnya informasi mengenai status kegiatan vulkanik gunung Merapi
dari Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)
Yogyakarta di bawah wewenang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana

3.

4.

5.

6.

Geologi (PVMBG) kepada masyarakat. Selain itu, informasi tersebut juga


dengan gencarnya diinformasikan melalui tayangan televisi, siaran radio, jaringan
internet, dan lain-lain. Namun, terdapat kelemahan pada distribusi informasi
sistem peringatan dini ialah keterbatasan masyarakat di rawan bencana dalam
mengakses media-media informasi tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa
alasan, antara lain lemahnya jaringan telekomunikasi di daerah tersebut, kurang
kesadaran masyarakat setempat dalam mengakses media informasi, serta
rendahnya kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi dan mininmnya informasi
yang dapat diserap oleh masyarakat. Solusi yang penulis tawarkan adalah perlu
dilakukannya komunikasi langsung antara BPPTK dengan pemerintah daerah
setempat, seperti Kepala Dusun, Lurah, Camat, dan lain-lain. Dengan adanya
komunkasi langsung antara badan yang berwenang dengan aparat setempat, maka
informasi akan semakin mudah tersampaikan ke warga setempat.
Mengembangkan radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api.
Pada bencana erupsi Merapi 2010, tersedia radio komunitas yang diprakarsai
oleh masyarakat lereng Merapi. Radio tersebut memiliki titik-titik yang tersebar
luas di daerah yang rawan bencana, sehingga penjaga pos setempat dapat
memantau langsung secara visual, dan dapat diinformasikan secara cepat ke pos radio
komunitas lain.
Membuat
peta kawasan rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi
berwenang.Pada poin ini, sebenarnya instansi yang berwenang telah menerbitkan
peta kawasan rawan bencana Gunung Merapi. Namun hanya ditempatkan di
titik-titik tertentu, seperti di kantor pemerintah desa, dan lokasi wisata saja. Dengan
kata lain, fasilitas peta kawasa rawan bencana masih belum memadai.
Membuat perencanaan penanganan bencana seperti mempersiapkan jalur dan tempat
pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan,
pertolongan pertama) jika diperlukan. Pada poin kelima ini, implementasi saat erupsi
Merapi 2010 terkesan tidak tertata dengan rapih. Pemerintah tidak mampu
menyediakan tempat pengungsian yang cukup dan layak bagi warganya. Ditemukan
banyak titik lokasi pengungsian yang overloaded, karena dihuni oleh ribuan
warga sekaligus. Sehingga distribusi obat-obatan serta bantuan logistik tidak
mencukupi kebutuhan seluruh warga. Akibat tempat pengungsian yang kurang
layak tersebut, banyak warga yang terpaksa mengungsi ke daerah lain, sehingga
terpisah dengan kerabat mereka. Peristiwa ini perlu dievaluasi dengan memperbaiki
sistem yang ada. Seperti yang penulis tawarkan adalah memanfaatkan arena
pengungsian yang lebih luas, terjangkau (Stadion, tanah lapang) yang relatif
aman. Aparatur terkait perlu menetapkan arena pengungsian yang sifatnya
permanen dengan membangun fasilitas yang menunjang, seperti sarana MCK,
gudang logistik dan obat-obatan. Sehingga masyarakat tidak mengalami
kebingungan dalam mencari lokasi pengungsian yang disediakan.
Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting. Poin ini terkesan tidak
dijalankan oleh masyarakat luas. Kasus bencana erupsi Merapi 2010, banyak warga
yang kehilangan dokumen, dan surat-surat penting seperti: akta kelahiran, surat
kepemilikan bangunan, hingga ijazah pendidikan. Masyarakat selama ini terkesan

berpangkutangan dan cenderung tidak mengindahkan sosialisasi yang telah


disampaikan oleh pemerintah desa, sebelum terjadinya bencana. Poin ini kurang
membudaya di kalangan masyarakat, dan faktor lain adalah lemahnya peran
aparatur desa, tokoh setempat agar senantiasa mengingatkan warga untuk
menyimpan barangbarang tersebut di atas. Hal ini perlu ditekankan lagi dan
membutuhkan peran tiap keluarga sebagai inti masyarakat terkecil agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki, seperti kehilangan barang-barang penting
tersebut di atas, atas apa yang telah terjadi berkaitan dengan gunung Merapi,
maka harapannya ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah terbentuk di setiap
kabupaten/kota di Indonesia, diharapkan dapat mempersiapkan. Hal ini adalah
amanat dari UU No 24 tahun 2007, yang berisi bahwa bahwa Negara Kesatuan
Republik Indonesia bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dengan tujuan untuk memberikan pelindungan
terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk pelindungan atas bencana, dalam
rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan Pancasila,
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Masih terbaca masyarakat belum siap menghadapi bencana.
Oleh karena itu kesiapsiagaan (preparadness)terhadap bencana harus diberikan
kepada masyarakat melalui edukasi manajemen bencana agar dapat bersiap
sebelum, saat dan setelah terjadi bencana.
Respon
Pada 26 Oktober 2010, gunung Merapi mengalami erupsi dengan memuntahkan
material vulkanik panas. Para pejabat mengatakan bahwa korban tewas berjumlah 12
jiwa.13.000 warga harus dievakuasi ke tempat yang lebih aman hingga radius 16 km dari
puncak Merapi. Tayangan televisi nasional menunjukkan bahwa ribuan orang melarikan
diri ke tempat yang lebih aman, dan beberapa orang mengalami luka bakar. Ribuan
orang yang tinggal di dekat gunung berapi telah diperintahkan untuk pindah ke tempat yang
lebih aman, tetapi banyak yang masih menolak untuk pergi. Beberapa menolak untuk
mengindahkan peringatan karena mereka tidak ingin meninggalkan ternak mereka dan sifat
belakang. Dan pada dini hari 5 November 2010, Gunung Merapi kembali meletus dengan
dahsyat. Letusan ini menyebabkan 59 korban jiwa akibat terjangan awan panas yang
mencapai 17 km dari puncak merapi. Warga lereng Merapi mengalami kepanikan
massal dan berebut untuk mencari tempat perlindungan yang aman. Petugas evakuasi
kewalahan dalam mengevakuasi pengungsi dan korban yang banyak mengalami luka
bakar akibat sengatan awan panastersebut. Kurangnya jumlah dan persiapan armada
transportasi di tempat, putusnya jaringan listrik dan telekomunikasi, kurang kesiapsiagaan
aparatur desa dalam proses evakuasi massal, menjadi beberapa penyebab buruknya
emergency management pada fase respon bencana ini.Ditambah lagi dengan budaya
masyarakat setempat yang masih kental, ketika erupsi Merapi sebagian besar masyarakat
tidak menghiraukan himbauan BPPTK untuk segera mengungsi, mereka lebih menaruh

kepercayaan kepada mendiang Mbah Maridjan yang ketika itu berperan sebagai juru
kunci.
Pemulihan
Tujuan dari fase pemulihan adalah mengembalikan kondisi daerah yang terkena
keseperti keadaan semula. Ini berbeda dari fase respon bencana, upaya pemulihan fokus
padaisu-isu dan keputusan yang harus dilakukan setelah berlalunya bencana. Upaya
pemulihan berupa tindakan yang melibatkan proses membangun kembali properti yang
hancur, danperbaikan infrastruktur vital lainnya.
Upaya harus dilakukan untuk Rebuilding
Management, bertujuan untuk mengurangi pra-bencana yang melekat di masyarakat
dan infrastruktur sebuah aspek penting dari upaya pemulihan yang efektif adalah
mengambil keuntungan dari. "jendela kesempatan" untuk pelaksanaan tindakan mitigative
yang mungkin tidak populer. Warga daerah yang terkena lebih mungkin untuk
menerima perubahan yang lebih mitigatif ketika bencana baru-baru ini dalam memori segar.
Erupsi Merapi 2010 telah menimbulkan kerusakan dan kerugian yang besar. Dampak
bencana dari erupsi gunungapi Merapi ada dua, yaitu: dampak primer yakni erupsi Merapi,
dan dampak sekunder berupa banjir lahar dingin. Untuk rencana aksi rehabilitasi dan
rekonstruksi erupsi langsung dari Merapi sudah dapat dilakukan. Sedangkan untuk dampak
lahar dingin belum dapat dilakukan karena masih berlangsung hingga akhir musim penghujan
periode ini. Oleh karena ini dalam konferensi pers hari ini hanya membahas dampak
dari erupsi langsung Merapi. Dampak lahar dingin saat ini masih dilakukan pengkajian
kerusakan dan kerugian. Pasca bencana erupsi Merapi, simpati internasional banyak yang
mengalir dalam wujud pemberian bantuan bagi pengungsi berupa bahan logistik, medis, dan
lain-lain. Selain itu banyak pula relawan internasional yang sebagian besar
direpresentasikan dalam bentuk NGO yang ikut membantu para korban bencana dan
pengungsi. Ucapan keprihatinan juga banyak disampaikan oleh masyarakat internasional
kepada warga korban erupsi Merapi. Peran internasional dalam bencana erupsi Merapi
menunjukan bahwa masalah kemanusiaan ialah salah satu isu yang menjadi perhatian
masyarakat internasional. Selain itu, bantuan kemanusiaan dari masyarakat internasional
membuat hubungan antara Indonesia dan masyarakat dunia semakin erat. Salah satu
dari sekian banyak bantuan internasional yang masuk ke Indonesia ialah bantuan
sebesar 1,5 juta Euro dari Komisi Eropa pada akhir Oktober tahun lalu yang ditujukan
untuk membantu korban erupsi Merapi.
Di lain sisi, Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana Alam
(BNPB) mengerluarkan press release berkaitan dengan proses pemulihan, dan
rehabilitasi korban dan pengungsi bencana alam erupsi Merapi. BNPB pada 19 April 2011,
menyatakan bahwa kebutuhan relokasi adalah pola utama yang akan dilakukan pada
fase pemulihan ini. Alasan utama relokasi adalah pertimbangan keselamatan penduduk.
Daerah seluas 1.310 hektar daerah terdampak langsung erupsi Merapi 2010 merupakan
kawasan berbahaya. Berdasarkan rekomendasi Badan Geologi, Kementerian ESDM,
hingga seratus tahun ke depan daerah Kecamatan Cangkringan yang meliputi desa

Wukirsari, Argomulyo, Kepuharjo, Glagah Harjo dan sebagainya yang terkena awan panas
dan terdampak langsung erupsi Merapi 2010 kemungkinan besar akan terjadi lagi di
masa mendatang. Kubah lava Merapi saat ini sebagian besar akan mengarah ke selatan
mengikuti Kali Gendol dan hulu Kali Opak sehingga saat erupsi awan panas dan lava
material piroklastik akan menerjang kawasan tersebut. Itulah alasan Badan Geologi
merekomendasikan tidak diperkenankan adanya permukiman tetap di kawasan tersebut.
Rencana pemerintah untuk merelokasi penduduk terdampak langsung erupsi Merapi
memerlukan kerjasama dengan semua pihak. Sebanyak 3.299 kepala keluarga (KK) yang
tinggal di daerah yang terdampak langsung erupsi Merapi dan sebagian terdampak
lahar dingin direlokasi di tempat yang lebih aman. Perinciannya 2.682 KK berasal dari
Yogyakarta dan 617 KK dari Jawa Tengah. Saat ini sebagian besar penduduk tersebut
telah berada di hunian sementara (huntara). Terdapat dua jenis relokasi, yakni relokasi
mandiri yang memberikan intensif dana 30 juta rupiah perrumah yang terdampak
langsung, atau Relokasi bersama, yang disediakan oleh pemerintah daerah melalui
bantuan pemerintah pusat. Namun seiring berjalannya waktu, banyak pro-kontra di
kalangan masyarakat. Relokasi penduduk adalah pilihan terakhir dalam kebijakan
rehabilitasi dan rekonstruksi dampak erupsi Merapi. Tentu saja ada masalah-masalah
yang berkaitan dengan kebijakan relokasi penduduk. Potensi konflik di tingkat masyarakat
yang menolak untuk relokasi sudah diperkirakan sebelumnya. Untuk itu sosialisasi dan
dialog akan terus menerus diberikan kepada masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah DIY dan Jawa Tengah. Bahkan sampai pelaksanaan rehabilitasi dan
rekonstruksi, pemerintah daerah akan lebih berperan di lapangan.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan kasus bencana erupsi Merapi 2010, banyak permasalahan yang masih perlu
dievaluasi. Penanggulangan bencana Merapi akan berhasil dengan baik apabila
dilakukan secara terpadu antara pemantauan Merapi yang menghasilkan data yang

akurat secara visual dan instrumental, peralatan yang modern, sistem peringatan dini,
peralatan komunikasi yang bagus dan didukung oleh pemahaman yang benar dan kesadaran
yang kuat dari masyarakat untuk melakukan penyelamatan diri. Pembelajaran kepada
masyarakat yang tinggal dan bekerja di daerah rawan bencana Merapi merupakan tugas
yang secara terus menerus harus dilakukan sesuai dengan dinamika perkembangan arah dan
besarnya ancaman yang akan terjadi. Karena wilayah rawan bencana Merapi berada pada
teritorial pemerintah daerah maka kegiatan penyebaran informasi langsung kepada
masyarakat harus dilaksanakan atas kerjasama BPPTK dan instansi terkait. Sosialisasi
dilakukan tidak hanya pada saat Merapi dalam keadaan status aktivitas yang
membahayakan, akan tetapi dilakukan baik dalam status aktif normal maupun pada status
siaga. Namun demikian pada keadaan aktivitas Merapi meningkat seperti ketika aktivitas
Merapi dinyatakan pada status waspada dan atau siaga menjelang terjadinya krisis
Merapi, sosialisasi harus dilakukan secara lebih intensif. Sosialisasi status aktivitas dan
ancaman bahaya Merapi pada intinya bertujuan untuk menyampaikan serta menjelaskan
kondisi vulkanis Merapi untuk menjaga kesiapan segenap aparat dan masyarakat dalam
menghadapi peningkatan atau penurunan status aktivitas Gunung Merapi. Sasarannya
antara lain adalah menyampaikan kondisi aktivitas Merapi terkini, menyampaikan makna
dari status aktivitas yaitu Awas, Siaga, Waspada dan Normal, menjelaskan jenis-jenis
ancaman bahaya yang ada yaitu awan panas dan lahar dingin, sertamenyampaikan tindakantindakan yang perlu dilakukan apabila status naik atau turun. Maka dengan manajemen
pengawasan dan emergency yang baik, diharapkan korban bencana erupsi dapat semakin
dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Alexander, David.2002.Principles of Emergency planning and Management.Terra Publishing
BNPB.2009.National Disaster Management Plan 2010-2014.Jakarta: BNPB

Buchanan, Sally.2000.Emergency preparedness. from Paul Banks and Roberta Pilette.


Preservation Issues and Planning.American Library Association
Cuny, Fred. 1983. Disasters and Development.Oxford: Oxford University Press
George D. Haddow, Jane A. Bullock, Damon P. Coppola,. 2011. Introduction to Emergency
Management.Butterworth-Heinemann
Akses Elektronik
International Aid Offers Pour In Despite Jakartas Reluctance, http://www.thejakarta
globe.com/home/international-aid-offers-pour-in-despite-jakartasreluctance/403988, diakses
pada 8/9/2011.pkl.11.46.WIB.
Press
Release:
RELOKASI
http://www.bnpb.go.id/website/asp/
8/9/2011.pkl.21.17.WIB.

PENDUDUK
DAMPAK
berita_list.asp?id=424,

ERUPSI
MERAPI,
diakses
pada

Priyambodo RH, Korban Meninggal Dunia Letusan Merapi Tercatat 161 Orang,
http://www.antaranews.com/berita/1289562334/korban-meninggal-dunia-letusanmerapitercatat-161-orang, diakses pada 8/9/2011.pkl.16.27.WIB
Suryanto,
PMI
bantu
evakasi
ribuan
warga
korban
merapi,
http://www.antaranews.com/berita/12881
34753/pmi-bantu-evakuasi-ribuan-wargakorbanmerapi, diakses pada 6/9/2011.pkl.13.25.WIB.
UU NO. 24 Tahun 2007, www.depdagri.go.id/media/documents/2010/04/01/.../uu_no.242007.doc, diakses pada 7/9/2011.pkl.10.26.WIB.