Anda di halaman 1dari 22

ANTI HISTAMIN

Dr. Endang Ediningsih, MKK


Lab. Farmakologi FK UNS
2006
 Sejarah antihistamin dimulai 1937 disintesa 2-isoprofil-5-
metilfenoksi-etildieltilamin. (Masih sangat toksik).
 1950 mulai dipakai dalam klinik yang bekerja terhadap
reseptor histamin (H1).
 Obat-obat yang berperan pada mekanisme alergi dan
anafilaksi (Douglas, 1958).
 Obat-obatan antihistamin (H1-blocking agents) secara luas
diterima digunakan sampai saat ini dalam praktek kedokteran,
untuk keadaan-keadaan alergik.
 Obat-obat ini tidak dapat mengeblok semua efek histamin.
Hanya bekerja / bisa diblok lewat 1 macam reseptor.
(Reseptor-H1).
 Dimana obat-obat ini tidak mampu mengeblok pengaruh
histamin terhadap sekresi asam lambung. Adanya populasi
reseptor histamin lain yang disebut Reseptor-H2.
• 1972 Black dkk, memperkenalkan anti histamin baru yang
secara selektif menghambat pengaruh efek histamin terhadap
sekresi asam lambung. (“H2-bloking agents”).
• Antihistamin yang bekerja pada Reseptor-H1, tidak hanya
selektif pada H1, tetapi juga mempengaruhi reseptor-reseptor
yang lain. Pengaruhnya ini disebut sebagai “Efek samping”.
• Antihistamin baru yang makin selektif terhadap reseptor H1
adalah antihistamin generasi kedua. Ini lebih disukai karena
long-acting dan tidak bekerja sedatif dan beredar dipasaran,
yakni : citerizin, loratadin, astemizol, dan terfenadin.
• Mediator alergi bukan hanya histamin tetapi Serotonin, SRS-A
punya andil dalam gejala alergi, maka antihistamin yang tidak
selektif sering kali diinginkan, diperlukan juga kehadirannya,
mempunyai khasiat sebagai anti serotonin, anti SRS-A, misal
Antihistamin Oksatomid (Oxatomide).
ANTIHISTAMIN1 (AH1)
HUBUNGAN STRUKTUR DAN AKTIVITAS
 Semua antihistamin mempunyai struktur dasar rantai
etilamin : -C-C-N<
 Rantai etilamin ini juga dimiliki “Biogenicamine” seperti :
Histamine, Serotonin, Asetilkolin, Adrenalin. Oleh karena
itu, suatu amin dapat mempunyai juga khasiat
menghambat amin yang lain.
 Hal ini tercermin antara lain: hampir semua antihistamin
-1(AH1) mempunyai khasiat sebagai anti asetilkolin (anti
kolinergik), beberapa sebagai anti serotonin, sebagai
anti adrenalin (alfa blocker) walaupun lemah.
 Sebaliknya obat-obat primer sebagai antikolinergik atau
alfa blocker, tidak mustahil juga mempunyai khasiat
antihistamin.
ABSORPSI, DISTRIBUSI, METABOLISME EKSKRESI

• AH 1 pada umumnya mudah diserap dari saluran cerna efek


per oral, sudah tampak dalam 30 menit. Kadar puncak
tercapai dalam 1 – 2 jam dan efek berlangsung selama 3 – 6
jam. Beberapa AH 1 ada yang lama kerjanya lebih panjang.
• Distribusi AH 1 pada umumnya luas, termasuk susunan
saraf pusat, kecuali beberapa yang tidak dapat menembus
sawar darah otak, (Astemizol, Terfenadin, dll).
• Metabolisme terutama di liver (sistem mikrosom) secara
hidroksilasi.
• Ekskresi lewat urine dalam bentuk metabolit dan hanya
sedikit sekali dalam bentuk utuh.
KHASIAT FARMAKOLOGIK
• Cara kerja dibedakan menjadi dua :
- Blokade reseptor histamin (H1)
- Tanpa melalui blokade reseptor histamin
• Maka pada dasarnya AH1 lebih bersifat preventif dari pada kuratif.
• Dapat mencegah pengaruh histamin pada otot polos (pembuluh
darah, permeabilitas kapiler, bronkus, dll). Khasiat lain pada
dasarnya kerjanya tidak memblok reseptor H1 dan kadang
menunjukkan kekhasan dari satu kelompok.
• AH1 memblok pengaruh histamin melalui antagonisme kompetitif
yang revensibel pada reseptor H1 dan tidak berpengaruh pada
reseptor H2.
• AH1 efektif kalau diberikan sebelum histamin dari mast cell
dilepaskan. Kalau histamin sudah berikatan dengan reseptor
(H1) dan menimbulkan efek, pemberian AH1 tidak akan efektif
lagi. Untuk menetralisasi efek misalnya pada kejadian alergi
berat atau syokanafilaksi, paling efektif berikan antagonis
fisiologik (adrenalin).
• Bronkokontriksi pada keadaan alergik sekalipun, tidak dapat
diatasi secara efektif dengan AH1 karena adanya mediator-
mediator lain selain histamin juga berperan pada terjadinya
serangan asthma. Efek farmakologik AH1, lain tanpa melalui
blokade reseptor H1.
• Rasa kantuk menyerupai efek obat-obat antimuskarinik.
• Antimual dan muntah, untuk mabuk perjalanan.
• Anti Parkinson efek antikolonergik menekan gejala kekakuan
dan tremor pada sindroma Parkinson.
• Antiadrenergik walaupun lemah  efek hipotensi ortostatik pada
orang tertentu . (terutama dari gol. Fenotiazin)
• Antikolinergik seperti efek atropin pada reseptor muskarinik
perifer  mungkin efektif untuk rinorea non alergik 
sebaliknya justru dapat menyebabkan retensi urine dan
gangguan visual oleh karena midriasis.
• Antiserotonin  Blokade reseptor serotonin 
siproheptadin.
• Anestesi Lokal  menghambat pompa natrium pada
membran seperti halnya efek prokain dan lidokain,
(prometasin dan difenhiramin).
• Merangsang nafsu makan. Ini mungkin karena
pengaruhnya pada reseptor serotonin di hipotalamus 
siproheptadin.
PEMILIHAN ANTIHISTAMIN H1

• Umumnya lebih efektif untuk mencegah efek yang belum


terjadi melalui mediator histamin.
• Pemberian oral lebih dianjurkan dibandingkan suntikan.
• Umumnya digunakan mencegah efek vasodilitasi,
peningkatan permeabilitas kapiler, oedem dan gatal
pada urtikaria dan angioedema, mungkin juga efektif
mencegah rinorea pada kondisi-kondisi alergi di saluran
pernafasan atas.
• Sebagai antialergi, AH1 mempunyai kemanjuran berbeda
pada berbagai individu. Pilih yang paling cocok dengan
efek samping yang paling kecil.
• Efektivitas satu kelompok AH1 mungkin berkurang /
hilang dengan diteruskannya pengobatan  di coba
ganti dengan anggota kelompok lain.
PENGGOLONGAN

R1
R–X–C–C–N BESERTA DOSIS
R1
1. Derivat Etanolamin (X = O)
Zat-zat ini memiliki daya kerja antikolinergis dan sedatif
yang agak kuat.
• Difenhidramin oral 4 dd 25 – 50 mg, i.v 10-50 mg  Bersifat
spasmolitis, anti-emetis dan vertigo (anti pusing). Digunakan
sebagai obat tambahan pada terapi penyakit Parkinson.
• Ofernadrin oral 3 dd 50 mg.
 Obat tambahan pada pengobatan Parkinson dan terhadap
gejala ekstrapiramidal pada terapi dengan neuroleptika.
• Dimenhidrinat oral 4 dd 50-100 mg, i.m. 50 mg
Yang khusus digunakan terhadap mabuk jalan dan muntah
karena kehamilan
• Klorfenoksamin oral 2-3 dd 20-40 mg (klorida) dalam krem
1,5%
 Sebagai obat tambahan pada terapi penyakit Parkinson.
• Karbinoksamin dosis oral 3-4 dd 4 mg (maleat dan bentuk-dl).
 “hay fever”
• Klemastin oral 2 dd 1 mg a.c (fumarat), i.m. 2 dd 2 mg.
 Pruritus allergica (gatal-gatal).
2. Derivat etilandiamin (X=N)
Obat-obat dari kelompok ini pada umumnya memiliki
daya kerja sedatif yang lebih ringan.
-Antazolin : oral 2-4 dd 50-100 mg (sulfat)  (selesma)
- Tripelennamin krem 2%  pada gatal-gatal
- Mepirin  “hay fever”
- Klemizol salep/suppositoria  anti wasir

3. Derivat Propilamin (X=C)


Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya kerja
antihistamin yang kuat.
Feniramin : Oral 3 dd 12,5 – 25 mg (maleat) atau 
Efek meredakan batuk 1 dd 50 tablet retard’ i.v. 1-2 dd 50
mg ; krem 1,25%; derivat2nya diantaranya:
- Klorfeniramin
- Deksklorfeniramin
- Triprolidin : Oral 1 dd 10 mg (klorida)

4. Derivat piperazin (inti piperazin)


Pada umumnya bersifat long-acting (lebih dari 10 jam)
1 Siklizin : Mabuk jalan 1 jam sebelum berangkat 50 mg, bila
perlu 3x sehari, pada mual dan muntah 3-4 dd 50
mg, anak-anak 6-13 tahun 3 dd 25 mg.
 antiemetis dan pencegah mabuk jalan.
- Homoklorsiklizin : Oral 1-3 dd 10 mg
 Anti serotonin dan digunakan alergica (gatal-gatal)
Antipusing dan antiemetis, obat tinnitus, mabuk jalan vertigo
dan sebagai obat pencegah migrain.
2. - Sinarizin:AH1 yg berdaya vasodilatasi periferantipusing,
antiemetissering digunakan pd vertigo,tinitus,mabuk jln
- derivat difluor Flunarizin: AH1 lemah;ttp sbg antagonis-kalsi-
-um sft vasorelaksasinya kuatdigunakan pd vertigo & pencegah
migrain.
4. - Oksatomida : Oral 2 dd 30 mg p.c, untuk asma 120 mg
sehari.  Obat pencegah pengobatan asma & “hay fever”.
5. - Hidroksizin : 1-2 dd 50 mg. Untuk anxiolyse 1-4 dd 50-100 mg.
 Menstimulasi nafsu makan. Sedatif dan antixiolitis, spasmolitis,
anti-emetis serta anti-kolinergis. Sangat efektif pada urticaria dan
gatal-gatal.
- Metabolit aktifnya Cetirizin kerja kuat & panjang(t1/2 8-10jm)
tdk bersft antikolinergis,tdk bekerja sedatif, berperan pd reaksi alergi
lambatdigunakan pd urtikaria & rinitis/conjungtivitis.
Dosis:1 x dd 10mg sehari.
6. Derivat fenotiazin
Senyawa trisiklis sebagai antihistamin,antikolinergis& khasiat
neuroleptis.Efeksedatif digunakan pd obat batuk mereda-
kan batuk.
6a.Prometazin : Oral 3 dd 25-50 mg dan sebaiknya dimulai
pada malam; i.m 50 mg
 Pada reaksi energi terhadap tumbuhan dan akibat gigitan
serangga, juga sebagai anti emetikum vertigo batuk dan sukar
tidur, terutama untuk anak-anak.
- Oksomemazin(derivat dioksinya) : Oral 2-3 dd 10 mg.
Dalam obat batuk
- Fonazin(derivat sulfonamidnya) : Oral 3-4 ddi 10 mg
berefek antiserotonin kuat, dianjurkan pd terapi
interval migrain.
5b.Isotipendil : Oral 3-4 dd 4-8 mg, i.m/ i.v.10mg
Derivat-azofenotiazin ini bekerjanya lebih singkat dari
prometazin dengan efek sedatif yang lebih ringan.
- Mequitazin : Oral 2 dd 5 mg.
Efek sedatifnya relatif ringan dibandingkan obat-obat lain.
merupakan Derivat Prometazin dgn rantai sisi heterosiklik
Digunakan pada “hay fever”, urticaria dan reaksi alergi lainnya.

6. Derivat trisiklis lainnya memiliki daya kerja antiserotonim kuat


dengan menstimulasi nafsu makan, urticaria juga sebagai obat
interval pada migrain.
a.Siproheptadin : oral 3 dd 4 mg (klorida)
-Derivat long-actingnya dgn efek antiserotonin kuat
yi.Azatadin oral 2 dd 1 mg (maleat) “hay fever” dan pada
urticaria
b.Pizotifen : oral semula 1 dd 0,5 mg (maleat),berangsur-angsur
dinaikkan sampai 3 dd 0,5 mgdigunakan utk stimulasi mkn &
terapi intervalmigrain
-Ketotifen : oral 2 dd 1-2 mg (fumarat) Adalah derivat-keto
Long-acting tanpa efek entiserotonin. Berdasarkan sifat men-
stabilisasinya terhadap mastcells, obat ini digunakan sebagai
obat pencegah serangan asma.
-Loratadin 1 dd 10 mgderivat klor dr azatadin pd dosis biasa
tanpa efek sedatif & tanpa efek antikolinergik Digunakan
pada rhinitis dan conjunctivitis alergis, juga pada urticaria
kronis.
c.Azelastin : oral 1 – 2 dd 2 mg
 Derivat – metalazepin ini (1991) yang berdaya
antihistamin, antileukotrion dan antiserotonin,
juga menstabilisasi mastcells. Khususnya
digunakan pada rhinitis alergis.

7. Zat-Zat Non Sedatif


• Obat-obat generasi kedua memiliki daya kerja
antihistamin tanpa efek sedatif-hipnotis.
*Terfenadin : Oral 2 dd 60 mg, anak 2 3-6 tahun
2 dd 15 mg, 6-12 tahun 2 dd 30 mg.
 Tidak dapat melintasi barrier liquor (CCS),
maka tidak memiliki daya sentral (sedatif).
Digunakan pada rhinitis allergica urticaria dan
reaksi alergi lainnya,
 Terfenadin: derivat-butilamin heterosiklis,Khasiat AH1nya
menyerupai klorfeniramin.Digunakan pd Rhinitis
allergica,urticaria & reaksi alergi lainnya.
-Fexofenadin : Oral 1 dd 120 mg
(Telfast) adalah suatu metabolit aktif dari terfenadin (1996) yang
tidak perlu diaktivasi oleh hati. Sifat dan penggunaannya sama.
 Astemizol : 1 dd 10 mg sebelum makan, anak-anak 6 – 12
tahun 1 dd 5 mg, dibawah 6 tahun 1 dd 0,2 mg/kg.
 “Hay fever”. Namun, efek optimalnya baru dicapai setelah 2 –
3 hari, sehingga tidak layak untuk terapi serangan alergis akut.
 Levocabastin : Hanya digunakan topicalsebagai tetes mata
dan spray hidung (0,04 %)
 Senyawa piperidinecarbonic acid ini (1991) berkhasiat
antihistamin kuat dan praktis tidak bekerja sentral.
-Ebastin : Oral 1 dd 10 – 20 mg
 Rhinitis alergis kronis.
8. Lain-lain
-Mebhidrolin(incidal) dengan dosis 2-3 dd 50 mg
 pada pruritus
-Dimentinden(Fenistil) dosis 3 dd 1-2 mg (maleat)
 pruritus
-Kortikisteroida :Dpt menekan daya tangkis seluler shg
mengurangi reaksi alergi.
* Secara Lokal terutama digunakan :
-terhadap asma dan rihinitis alergica  Beklometason
& Dipropionat Budesonia dan dalam bentuk obat
semprot hidung atau aerosol.
-Deksametason, fluormetolon tetes mata
 Terhadap radang mata
-Hidrokortison dan Prednisolon
 Terhadap dermatosis (gangguan kulit)

* Secara sistemis (bersamaan dengan adrenalin),


kortikosteroid digunakan pada:
 Shock anafilaktis, kejang bronchi karena reaksi alergi dan
status asthmaticus.