Anda di halaman 1dari 4

1.

Tujuan Terapi (Priyanto, 2009)


a. Mengurangi morbiditas dan mortalitas.
b. Menurunkan tekanan darah hingga mencapai :
< 140/90 mmHg pada hipertensi non komplikasi
< 130/85 mmHg pada pasien Diabetes Melitus dan gagal ginjal
< 125/75 mmHg pada gangguan ginjal berat
< 140 mmHg pada hipertensi sistolik
c. Menghindari hipotensi dan efek samping obat.
d. Mencegah kerusakan organ (stroke, renopati, gagal jantung, gagal ginjal, dan infark
jantung).
2. Terapi Non-Farmakologis
Penderita prahipertensi dan hipertensi sebaiknya melakukan modifikasi gaya
hidup, sedangkan penderita hipertensi tahap 1 atau 2 terapi modifikasi gaya hidup dan
terapi obat secara bersamaan (Sukandar dkk, 2008).
a. Mengidentifikasi dan mengurangi faktor risiko (merokok, dyslipidemia, diabetes
mellitus, riwayat keluarga, obesitas, penyakit jantung, aktivitas fisik yang kurang)
(Priyanto, 2009)
b. Modifikasi gaya hidup (Sukandar dkk, 2008)
- Penurunan berat badan
- Melakukan diet makanan sesuai DASH (Dietary Approaches to Stop
Hypertension)
- Mengurangi asupan natrium hingga lebih kecil sama dengan 2,4 g/hari NaCl
- Melakukan aktivitas fisik seperti aerobik
- Mengurangi mengkonsumsi alkohol
- Menghentikan kebiasaan merokok

3. Terapi Farmakologis
Terapi untuk hipertensi tergantung dari derajat meningkatnya tekanan darah.
Obat-obat yang digunakan untuk terapi hipertensi adalah diuretik, AngiotensinConverting Enzyme inhibitor (ACEi), Angiotensin II Receptor Blocker (ARB), dan
Calcium Channel Blocker (CCB) (Sukandar dkk, 2008).
a. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis yaitu
dengan adanya pengurangan volume plasma dan stoke volume, penurunan curah
jantung dan tekanan darah pada akhirnya (Sukandar dkk, 2008). Contoh obat diuretik
adalah diuretic tiazid : indapamid, HCT, klirtalidon; diuretic kuat (loop) : bumetanid,
furosemide, torsemid; diuretic hemat kalium : amilorid, spironolakton, triamteren
(Priyanto, 2009).

b. Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)


ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi
tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa jaringan dan ada pada
beberapa tipe sel yang berbeda tapi pada prinsipnya merupakan sel endothelial.
Kemudian, tempat utama produksi angiotensin II adalah pembuluh darah bukan
ginjal. Inhibitor ACE mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II
(vasokonstriktor potensial dan stimulus sekresi aldosterone). Inhibitor ACE ini juga
mencegah degradasi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator
lainnya termasuk prostaglandin E, dan prostasiklin. Pada kenyataannya, inhibitor
ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma
normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi.
Contoh obat yang termasuk inhibitor ACE adalah kaptropil, benzepril,
delapril, enalapril maleat, fosinopril, lisinopril, perindopril, kuinapril, ramipril, dan
silazapril (Sukandar dkk, 2008).
c. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin (termasuk ACE) dan
jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain seperti chymases. ARB langsung
menahan reseptor angiotensin I, reseptor yang akan memperantarai efek angiotensin
II (vasokontriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormone
antidiuretic, dan kontriksi arteriol eferen glomerulus) (Sukandar dkk, 2008).
Obat dalam golongan ini adalah candesartan, irbesartan, losartan, telmisartan,
dan valsartan (Priyanto, 2009).
d. Beta-bloker
Mekanisme penghambatan beta-bloker tidak diketahui tetapi dapat
melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negative dan efek
inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dari ginjal (Sukandar dkk, 2008).
Obat beta bloker adalah atenolol, bisoprolol, metoprolol, nadolol, timolol,
acebutol, penbutol, careolol, pindolol (Priyanto, 2009).
e. Penghambat saluran kalsium (CCB)
CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat
saluran kalsium yang sensitive terhadap tegangan, sehingga mengurangi masuknya
kalsium ekstraselular ke dalam sel. Relaksasi otot polos vascular menyebabkan
vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah (Sukandar dkk, 2008).
Contoh obat yang termasuk golongan CCB adalah diltiazem lepas lambat,
verapamil, amlodipin, felodipin, isradipin, nipedipin (Priyanto, 2009).

Pemilihan Terapi Farmakologi Hipertensi

Berikut adalah algoritma penanganan hipertensi secara farmakologi (Priyanto,


2009).
Terapi Hipertensi

Tidak Ada Penyakit


Lain
Hipertensi dengan
TD (140-159/90-99
mmHg)

Hipertensi dengan
TD (>160/>100
mmHg)

Pilihan pertama
diuretik tiazid,
alternative (ACEi,
CCB, beta-bloker),
ARB atau
kombinasi

Koombinasi dua
obat, diuretic
tiazid dengan
(ACEi, CCB, dan
beta-bloker) dan
ARB

Ada Penyakit Lain

Obat tertentu
sesuai dengan
penyakitnya. Obat
selain diuretic
tiazid (ACEi, CCB,
beta-bloker) dan
ARB mungkin

Gambar 1. Algoritma Pemilihan Obat untuk Hipertensi (Priyanto, 2009)

Pada terapi hipertensi perlu diperhatikan juga kondisi dari pasien dan komplikasi
penyakitnya. Berikut adalah algoritma pemilihan obat hipertensi pada kondisi tertentu.
Hipertensi
dengan kondisi
tertentu
Gagal
jantun
g

Setela
h
Infark

Risiko
Koroner
Tinggi

Diabete
s
Melitus

Sakit
Ginjal
Kronis

Mencega
h Stoke
Kambuh

Diureti
k dan
ACEi

Beta
bloker,
ACEi

Betabloker

ACEi,
ARB

ACEi,
ARB

Diuretik,
ACEi

Betabloker

Antag
onis
aldost
eron

Diureti
k, ACEi,
CCB

Diuretik

Antagoni
s
aldostero
n , ARB

Betabloker,
CCB

Gambar 2. Algoritma pemilihan obat hipertensi pada kondisi tertentu (Priyanto, 2009)

DAFTAR PUSTAKA
Priyanto. 2009. Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Jakarta : Leskonfi.
Sukandar E.Y., Andarjati R., Sigit J.I., Adyana I.K., Setiadi A.A.P., Kusnandar. 2008. ISO
Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI.