Anda di halaman 1dari 3

2655

5210
1162
3979
3896
4332
2445
2509
Berikut ini merupakan gambar yang menampilkan hubungan antara beban pencemar DO dan
jarak.
6000
5000
4000
Beban Pencemar untuk DO & BOD (kg/hari)

3000
2000
1000
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
Jarak (km)

Gambar Grafik Hubungan Antara Beban Pencemar DO dengan Jarak

Berdasarkan data pada grafik diatas, dapat diketahui bahwa beban pencemar DO, dimulai
dari titik satu sampai dengan titik delapan berkisar diantara 1100 kg/hari sampai dengan 5200
kg/hari. Beban pencemar DO yang tertinggi adalah beban pencemar yang terukur di titik dua,
yaitu 5210 kg/hari sedangkan beban pencemar DO yang terendah berada di titik tiga, yaitu 1162
kg/hari. Perbedaan nilai beban pencemar DO dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya
dipengaruhi kecepatan aliran dan terjunan yang terjadi di sungai tersebut. Seperti diketahui,
bahwa DO adalah jumlah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, artinya semakin cepat
aliran air di sungai serta banyak terjadi terjunan maka kandungan DO di dalam air sungai
tersebut akan semakin tinggi. Selain dipengaruhi oleh kondisi alam di sungai tersebut, perbedaan
nilai DO juga dapat disebabkan oleh perbedaan tempat pengambilan sampel air dilokasi tersebut.
Dalam hal ini misalnya, pengambilan sampel air hanya dilakukan di pinggir badan sungai yang
airnya tenang, nilai DO pada air ini pastinya akan berbeda apabila pengambilan air sungai
dilakukan di badan sungai yang aliran airnya cepat serta terjadi terjunan.

Penyebab Pencemaran
Pencemara air sungai umumnya disebabkan oleh limbah domestik, pertanian, industri maupun
pertambangan. Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan
sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau
dibusukkan oleh bakteri. Contohnya sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan.
Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam,
karet, dan kulit. Sampah-sampah ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable).
Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut,
karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya. Apabila sampah
anorganik yang dibuang ke sungai, cahaya matahari dapat terhalang dan menghambat proses
fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen.
Deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Pada saat
ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar
diuraikan oleh bakteri. Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen
secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini
merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng
gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga
menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
Apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung bahan organik, sebagian
besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam
bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang
dengan cepat dan akibatnya hewan-hewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati. Bau busuk
ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil proses penguraian bahan organik
lanjutan oleh bakteri anerob.
Limbah pertanian yang umumnya mencemari sungai adalah pupuk dan pestisida. Pupuk
dan pestisida biasa digunakan para petani untuk merawat tanamannya. Namun pemakaian pupuk
dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk mengandung fosfat yang
dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan
gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti yang diakibatkan pencemaran
oleh deterjen. Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika
terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran
seperti ikan, udang dan hewan air lainnya. Pestisida mempunyai sifat yang relatif tidak larut
dalam air, tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel
tubuh mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai
makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak.
Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan
kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.
Dan yang selanjutnya adalah limbah industri, limbah industri sangat potensial sebagai
penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3,

yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa
suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat
mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta
kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/
menyebabkan karat, mudah terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan
infeksi/ penyakit. Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan
cairan asam. Misalnya limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang mengandung
tembaga dan nikel serta cairan asam sianida, asam borat, asam kromat, asam nitrat dan asam
fosfat. Limbah ini bersifat korosif, dapat mematikan tumbuhan dan hewan air. Pada manusia
menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, mengganggu pernafasan dan menyebabkan kanker.
Logam yang paling berbahaya dari limbah industri adalah merkuri atau yang dikenal juga
sebagai air raksa (Hg) atau air perak. Limbah yang mengandung merkuri selain berasal dari
industri logam juga berasal dari industri kosmetik, batu baterai, plastik dan sebagainya.
Pencegahan pencemaran air sungai dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pencegahannya dapat
dilakukan dengan cara limbah-limbah industri sebelum dibuang ke sungai harus dinetralkan
terlebih dahulu sehingga tidak lagi mengandung unsur-unsur yang mencemari badan air. Oleh
karena itu, setiap industri diwajibkan memiliki unit pengolah limbah. Cara lainnya adalah dengan
mengurangi penggunaan pestisida maupun pupuk dalam pertanian. Musuh-musuh alami
(predator) hama tanaman perlu dikembangkan agar dapat membasmi hama tanpa pestisida. Cara
selanjutnya adalah dengan cara daur ulang, yaitu pengolahan kembali sampah-sampah menjadi
bahan yang berguna. Sampah-sampah yang berasal dari bahan organik (yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan), dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos sedangkan sampah
anorganik dapat di daur ulang kembali barang berguna lainnya maupun menerapkan konsep 3R
(reduce, reuse, recycle).