Anda di halaman 1dari 18

MODEL ATOM RUTHERFORD

1.1 PERCOBAAN ATOM RUTHERFORD

Ernest Rutherford bersama dengan dua orang muridnya, Hans Geigerdan dan Erners
Masreden, melakukan percobaan penembakan sinar alfa pada suatu lempeng emas tipis.
Percobaan ini dilakukan untuk menguji kebenaran pendapat JJ Thomson yang menyatakan
bahwa "atom merupakan suatu bola pejal yang bermuatan positif, dimana elektron-elektron
tersebar merata dalam awan muatan positif, seperti butiran kismi dalam roti".

SEMUA PERCOBAAN

Rutherford berasumsi, apabila atom di tembak dengan sinar alfa (bermuatan positif) maka
fenomena yang akan terjadi adalah:
Sebagian besar partikel alfa diteruskan atau dapat menembus lempeng emas, ini berarti
sebagian besar volume atom merupakan ruang
Sebagian kecil sinar alfa di belokkan, menurut Rutherford sinar alfa ini mendekati suatu
muatan yang sejenis dengan muatan sinar alfa yaitu muatan positif
Sebagian kecil sinar alfa dipantulkan, karena menabrak suatu bagian yang padat dari
atom.
Sinar alfa yang dibelokkan dan dipantulkan jumlahnya sangat kecil menunjukkan bagian
yang padat dan sangat kecil itu bermuatan positif yang kemudian diberi nama inti atom.

Atom terdiri atas inti yang bermuatan positif dan berada pada pusat atom, serta
electron bergerak melintasi inti.

Dari pengamatan mereka, didapatkan fakta bahwa apabila partikel alfa ditembakan pada
lempeng emas yang sangat tipis, maka sebagian besar partikel alfa diteruskan (ada
penyimpangan sudut kurang 1), tetapi dari pengamatan Marsden diperoleh fakta bahwa satu
diantara 20.000 partikel alfa akan membelok sudut 90bahkan lebih.

Berdasarkan gejala-gejala yang terjadi, diperoleh beberapa kesimpulan:


1.Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan.
2.Jika lempeng emas tersebut dianggap sebagai satu lapisan atom-atom emas, maka didalam
atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan poitif.
3.Partikel tersebut merupakan partikel yang menyusun suatu inti atom,berdasarkan fakta bahwa
1dari 20.000 partikel alfa akan dibelokkan. Bila perbandingan 1:20.000 merupakan perbandingan
diameter, maka didapatkan ukuran inti atom kira-kira 10.000 lebih kecil dari pada keseluruhan.

1.2 RUMUS HAMBURAN RUTHERFORD

Dalam pasal terdahulu kita pelajari bahwa apabila seberkas partikel, seperti berkas
partikel alfa menumbuki sebuah sasaran tipis sepertiselembar tipis emas, sudut hambur rata
ratanya kecil (dalam orde sekitar 10). Selanjutnya kita pelajari pula bahwa dalam keadaan seperti
itu, probabilitas saling menjumlah dari sebagian besar pembelokan kecil itu untuk memberikan
pembelokan besar yang teramati ternyata sangatlah kecil (10-3500) bertentangan dengan hasil
pengamatan eksperimen (10-4). Cara paling mungkin bangi sebuah parikel alfa (m = 4 u) untuk
dapat dibelokkan hingga mencapai sudut yang sangat besar adalah bila terjadi tumbukan tunggal
dengan satu objek sangat padat (masif). Rutherford dengan demikian mengusulkan bahwa
muatan dan massa atom terpusatkan pada pusatnya,dalam suatu daerah yang disebut inti
(nucleus). Gambar 6.7 melukiskan geometri hamburan bagi kausu ini. Proyektil, bermuatan ze,
menderita gaya tolak oleh muatan positif inti sebesar:

F=

( ze ) (Ze)
4 r 2

(Pronyektilnya kita anggap selalu berada di luar inti, sehingga ia meraskan muatan inti Ze secara
lengkap). Elektron electron atom, dengan massanya yang lebih kecil, tedak banyak
mempengaruhi lintasan pronyektil, jadi pengaruhnya pada hamburan dapat kita abaikan. Kita
juga menganggap massa inti atom tidak berngerak selama berlangsung proses hamburan. Karena
kita ada gerak pental yang diberikan pada inti, energy kinetic awal dan akhir K dari pronyektil
sama besar.

GAMBAR 6.7 Hamburan oleh sebuah inti atom. Lintasan pertikel terhambur berbentuk sebuah
hiperbola. Parameter impak yang lebih kecil memberikan sudut hambur yang lebih besar.

Sebangai mana diperliahatkan oleh Gambar 6.7, bangi setiap peremater impak b, terdapat
sudut hambur tertentu

; jadi kita perlu mencari hubungan antara b dan

. Sebangaimana

telah diturunkan dalam berbngai buku ajar, pronyektil menempuh suatu lintasan berbentuk
hiperbola; dalam koordinat pola r dan

persamaan hiperbola adalah

1 1
zZ e (
= sin +
cos1 )
2
r b
8 0 b K
Sebangai mana diperlihatkan pada Gambar 6.8, kedudukan awal pertikel adalah pada

, dan kedudukan aknhir adalah pada

= 0, r

Dengan menggunakan keua

koordinat kedudukan akhir, Persamaan (6.16) tersederhanakan menjadi

zZ e
1 zZ e
1
b=
cot =
cot
8 0 K 2 2 K 4 o 2
Atau

( ) ( ) sin 1

nt zZ
N ( )= 2
4r 2 K

e
4 0

1
4

HAMBURAN PARTIKEL-ALFA
Model atom Rutherford diterima, karena ia dapat mencapai suatu rumus yang
menggambarkan hamburan partikel alfa oleh selaput tipis berdasarkan model tersebut yang
cocok dengan hasil eksperimental. Ia mulai dengan menyatakan bahwa partikel alfa dan inti yang

berrinteraksi dengannya berukuran cukup kecil sehingga dapat dipandang sebagai massa titik dan
muatan titik, bahwa gaya listrik tolak menolak antara partikel alfa dan inti (yang keduanya
bermuatan positif) merupakan satu satunya gaya yang beraksi; dan bahwa massif dibandingkan
dengan partikel alfa, sehingga tidak bergerak ketika terjadi interaksi. Karena berubahnya gaya
listrik mengikuti

1/r

2 , dengan r menyatakan jarak sesaat antara partikel alfa dengan inti,

lintasan partikel alfa merupakan hiperbola dengan inti pada focus luar (gambar 4 4). Parameter
dampak b merupakan jarak minimum partikel alfa tersebut mendekati inti bila tidak dapat gaya
antaranya, dan sudut hamburan

merupakan sudut antara arah pendekatan asimtotik partikel

alfa dan arah peninggalan asimtotik partikel itu. Tugas kita yang pertama ialah mencari
hubungan antara b dan

. Sebagai akibat impulse

partikel alfa, momentum partikel alfa berubah dengan

akhir

p2

. Ini berarti,

p=p 2p1

partikel alfa

yang diberikan oleh inti pada

dari harga semula

p1

ke harga

inti target

Karena inti tetap diam selama partikel alafa tersebut melewatinya, maka enegri kinetic partikel
alfa tetap konstan; jadi besar momentimnya juga tetap konstan, dan

p1=p2=mv
Di sini v menyatakan kelanjutan parikel alfa jauh dari inti. Dari gambar 4 5, kita lihat menurut
hukum sinus,

p
mv
=
sin

sin
2

karena

sin ( )=cos
2
2
dan


sin =2sin cos
2 2
kita dapatkan perubahan momentum

p=2mv sin

Karena impulse

berarah sama dengan arah perubahan momentum

besarannya sama dengan

| F dt|= Fcosdt
dengan

menyatakan sudut sesaat antara F dan

sepanjang lintasan partikel alfa.

Masukkan pers 4.2 dan 4.3 ke dalam pers 4.1,

2mv sin = F cosdt


2
GAMBAR 4 5 Hubungan geometris dalam hamburan Rutherford

p2

p1

1
( )
2

1
( )
2

1
( )
2
lintasan partikel alfa

partikel alfa

b
inti target

Untuk mengubah variable dalam ruas kanan dari t ke

batas integrasinya berubah dari

pada

dan

1/2 ( )

dan

kita perhatikan bahwa batas bawah

+1/2 ( )

bersesuaian dengan harga

berurutan, sehingga

+ ( ) / 2

dt
2mv sin = F cos d
2 ( ) /2
d
Kuantitas

tidak lain dari kelajuan sudut

partikel alfa disekitar inti (hal ini jelas

dari gambar 4 5). Gaya listrik yang ditimbulkan inti pada partikel alfa beraksi sepanjang vector
jejari yang menghubungkan keduanya, sehingga tidak terdapat torka pada partikel alfa dan
momentum sudutnya

mr =constant=mr
dari sini kita bahwa

dt r
=
d vb

mr
2

2 konstan. Jadi

d
=mvb
dt

subtitusikan persamaan untuk

dalam pers. 4,4 memberikan

+ ( )/2

2mv bsin = Fr 2 cosd


2 ( ) /2
2

Kita ingat, F menyatakan gaya listrik yang ditimbulkan oleh inti pada partikel alfa. Muatan
dalam inti ialah Ze, bersesuaian dengan bilangan atomic Z, dan muatan partikel alfa ialah 2e. Jadi

1 2 Ze
F=
4 o r 2
dan

4 0 mv b
Ze 2

+ ( )/ 2

sin = F r 2 cosd =2cos


2 () /2
2

sudut hamburan

berhubungan dengan parameter dampak b melalui persamaan

2 0 mv b
cos =
2
2
Ze
Kita lebih enak memakai energy partikel alfa K alih alih massa dan kelajuan secara terpisah;
dengan substitusi ini.

4 o K
cos = 2 b
2 Ze

Gambar 4 6 merupakan gambaran skematik dari pers.4.6; penurunan yang cepat dari
ketika b bertambah tampak sangat jelas. Parameter dampak kecil (hamper bertumbukan
langsung) diperlukan untuk mendapatkan defleksi besar.

Langkah yang pertama ialah mengingat bahwa semua partikel alfa yang mendekati inti
target dengan parameter dampak dari 0 ke b akan dihambur dengan sudut

dengan

atau lebih,

dinyatakan dalam b. Ini berarti bahwa partikel alfa yang mula mula berarah

sedemikan sehingga berada dalam bidang seluas

atau lebih, bidang seluas

2 sekitar inti akan dihambur dengan sudut

2 biasa disebut penampang hamburan interaksi tersebut.

Lambang yang biasa dipakai untuk penampang hamburan adalah

=b

, sehingga

Tentu saja, partikel alfa yang datang sebenarnya akan dihambur sebelum partikel itu
mendekati daerah sekitar inti, jadi tidak perlu partikel itu melewati dalam jarak b dari inti.
Sekarang ditinjau selaput setebal t yang berisi n atom per satuan volume. Banyaknya inti target
persatuan luas ialah nt, dan berkas partikel alfa yang datang pada bidang seluas A akan
berinteraksi dengan ntA inti. Penampang hamburan kumpulan untuk sudut

dengan banyaknya inti target ntA di kalikan dengan penampang

atau lebih sama

untuk hamburan seperti

itu per inti, atau sama dengan ntA

Jadi besar fraksi f dari banyaknya partikel alfa yang

datang yang dihambur dengan sudut

kumpulan ntA

f=

atau lebih merupakan rasio antara penampang

untuk hamburan seperti itu dan luas target total A. Ini berarti

banyaknya partikel alfaterhambur dengansudut ataulebih


jumlah partikel alfadatang

penampang kumpulan ntA


=
luas target
A

ntb

Subtitusikan b dari persamaan 4.6

( )

Ze
2
f =nt
cot
4 o K
2
Dalam perhitungan di atas di anggap selaput itu cukup tipis sehingga penampang intin
yang berdekatan tidak saling tindih dan partikel alfa yang dihambur menerima seluruh
defleksinya dari intraksinya dengan inti tunggal.
Dalam eksperimen yang sebenarnya, detektor mencatat partikel yang terhambur antara
sudut

dan

. Frasksi jumlah partikel alfa yang terhambur seperti itu diperoleh

dengan mendiferensiasi persamaan 4.8 terhadap

, menghasilkan

( )

Ze
2
df =nt
cot csc d
4 o K
2 2

(tanda minus menyatakan faktabahwa f menurun jika

bertambah besar). Dalam eksperimen

ini, layar fluoresen ditempatkan pada jarak r dari selaput, dan partikel alfa yang dihambur
dideteksi melalui kelipan(scintilasi) yang ditimbulkannya. Partikel alfa yang dihambur antara
sudut

dan

mecapai daerah bolaberjejari r yang tebalnya ialah

daerah itu ialah

. Jejari

sehingga bidang seluas dS dari layar yang ditubruk partikel ini ialah

dS=( 2rsin )( rd )=2 r sind



2
4 r sin cos d
2 2
Jika sebanyak Ni partikel alfa menumbuk selaput selama partikel ini berlangsung,
banyaknya partikel yang terhambur ke dalam sudut
yang terukur ialah

Ze
2
N i nt
cot csc d
4 o K
2
2
Ni[ d ]
N ( ) =
=
dS

2
4 r sin cos d
2 2

pada sudut

ialah Ni df. kuantitas

2 4

N ( )=

N i ntZ e

2 2 2
4
( 8 o ) r k sin 2

()

Rumus Hamburan Rutherford

1.3 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN ATOM RUTHERFORD

Kelemahan model atom Rutherford yaitu ketidakmampuan untuk menerangkan mengapa


electron tidak jatuh ke inti atom sebagai akibat gaya elektrostatik inti terhadap
elektron.Berdasarkan asas fisika klasik, elektron sebagai partikel bermuatan bila
mengitari inti yang muatannya berlawanan, lintasannya akan berbentuk spiral sehingga
akhirnya jatuh ke inti.
Kelebihan
Membuat hipotesa bahwa atom tersusun dari inti atom dan elektron yang mengelilingi
inti.

Beri Nilai