Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini. banyak sekali perkembangan perkembang yang
terjadi di setiap sisi kehidupan. mulai dari derasnya aliran informasi dan lainnya yang tentu saja
membawa perubahan yang baik maupun yang buruk. salah satu perubahan tersebut adalah
dalam bidang bangunan yang dalam hal ini terperinci dalam ilmu teknik sipil
Dunia Teknik Sipil tidak terpisah dari bangunan-bangunan yang berhubungan dengan air.
Mata kuliah yang menunjang pengetahuan keairan salah satunya adalah Hidrolika. Sari bahasan
yang digaris besarkan pada mata kuliah ini adalah saluran terbuka yang dalam kehidupan seharihari banyak sekali kita temui. berupa sungai. parit. gorong-gorong dsb.
Banyak teori yang menjelaskan tentang pemahaman saluran terbuka. dan
pengaplikasiannya di lapangan. Bukan hanya teori saja yang dibutuhkan dalam pemahaman.
namun pengaplikasian yang nyata dilapangan pun harus kita pahami secara jelas. Oleh karena
banyaknya teori tentang hal tersebut sehingga dirasa perlu melakukan praktikum hidrolika ini
agar mahasiswa tidak hanya memahami teori saja tapi juga paham dengan penerapan aplikasi di
lapangan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.

Sebagai evaluasiatas praktikum yang telah dilakukan sebelumnya.


2. Menyelaraskan antara teori dan praktek di lapangaan.
3. Mempelajari masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang
berkaitan dengan saluran air.

BAB II
PERCOBAAN
OSBORNE REYNOLDS

2.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari dilakukan percobaan ini antara lain :
1. Menghitung besarnya bilangan Reynolds (Re) untuk menentukan macam aliran yang terjadi
apakah aliran laminer. transisi atau turbulen dalam percobaan yang telah dilakukan.
2. Membuat grafik profil dari kecepatan aliran dalam yang terjadi pada percobaan yang telah
dilakukan dengan memakai persamaan teoritis.
3. Menyatakan hubungan antara bilangan Reynold Re. faktor gesek f.dan debit Q sekaligus
grafik hubungan antar ketiga bilangan tersebut sesuai dengan percobaan yang telah
dilakukan.
2.2 Alat alat yang Digunakan
Adapun alat alat dan bahan lain yang diperlukanselama percobaan ini adalah :
1. Pesawat Osborne Reynolds (O R)

2. Termometer

5. Reservoir air dengan stop kran

3. Stopwatch

6. Zat pewarna

4. Gelas ukur ( kapasitas 1000cc)


2.3 Teori
1. Bilangan Reynolds (Re)
Adalah suatu bilangan / angka untuk mengidentifikasi perbedaan antara aliran laminar dan
turbulen yang didapat dari suatu percobaan dengan menggunakan bermacam-macam jenis
aliran dan bermacam-macam diameter pipa yang dilakukan oleh Reynolds. yaitu :

atau
dimana :
Re

: Bilangan Reynold

V : kecepatan rata2 (m/s2)

: Debit aliran (m3/dtk)

: Diameter pipa (m)

V=

Q
A

: viskositas kinematik (m2/s)

2. Macam Aliran
a.

Aliran Laminer adalah aliran dimana gaya kekentalan lebih besar daripada gaya
kelembaman sehingga aliran dipengaruhi oleh kekentalan. di mana partikel-partikel cairan
bergerak secara teratur menurut lintasan-lintasan arusnya dan berlapis-lapis seolah-olah
lapisan yang satu menggelincir di atas lapisan yang lainnya.besarnya faktor gesek f pada
aliran laminer adalah :

64

Dimana :

= Faktor gesek
Re = Bilangan Reynold
b.

Aliran Turbulen adalah aliran dimana gaya kelebaman relative lebih besar daripada gaya
kekentalan. Pada aliran ini. partikel-partikel cairan bergerak pada lintasan yang tidak teratur
atau pada lintasan sembarang. Pada aliran turbulen terjadi pusaran-pusaran sehingga aliran
mendapatkan hambatan dari gesekan dan tumbukan antar partikel cairan itu sendiri. Besarnya
faktor gesek f pada aliran turbulen pada pipa adalah :

=
c.

0.316
0.25

Aliran transisi adalah aliran di antara aliran laminer dan turbulen yang merupakan suatu
aliran peralihan yang biasanya sulit untuk diamati kelakuannya.pada aliran transisi besarnya
faktor gesek pada aliran transisi :

Menurut hasil percobaan yang dilakukan oleh Reynolds menunjukkan :


Re < 2000

aliran laminer

Re > 2800

aliran turbulen

2000 Re 2800

aliran transisi

Contoh bentuk aliran dalam pipa

3. Hubungan antara faktor gesek dengan Tegangan Geser

dimana :
= tegangan geser (N/m) V= kecepatan rata-rata dalam aliran (m/s)

= kerapatan air (kg/m3)


4. Profil Kecepatan
Profil kecepatan aliran adalah arus yang terjadi pada suatu aliran. Kecepatan garis arus
terbesar max pada pipa terjadi pada sumbunya.
a. AliranLaminer

b. AliranTurbulen

u = ( 1 + 1.33 ) x Vturbulen- 2.04 x Vturbulen x log {

ror
R

umax= ( 1 + 1.33 ) x Vturbulen

2.4 ProsedurPelaksanaan
1. Untuk pengamatan aliran maka pesawat O-R dibuat mendatar posisinya sehingga pipa
percobaan dalm posisi vertikal.
2. Aliran debit dalam pipa pesawat O-R dengan mengatur stopkran yang menghubungkan
pesawat O-R dengan tampungan air.
3. Jaga permukaan air dalam pesawat O-R tetap konstan dengan memasang pipa pembuangan
kelebihan air.
4. Tabung zat warna diisi dan selanjutnya ujung injector diturunkan sampai mulut genta bagian
atas.
5. Diamkan air dalam pesawat O-R selama 5 menit kemudian ukur temperatur air dalam
pesawat O-R tersebut.
6. Buka stopkran pada pesawat O-R dengan mengatur besarnyaaliran (debit) yang dikehendaki
dalam pipa percobaan.
7. Pengukuran debit yang lewat dalam pipa percobaan dilakukan dengan mengukur volume
aliran (m3) yang terjadi dengan menampung air yang mengalir kedalam gelas ukur selama
selang waktu tertentu (detik) dengan menggunakan stop watch.
8. Alirkan zat warna lewat jarum injector sehingga tampak macam aliran yang terjadi dalam
pipa.
9. Amati dan catat macam aliran yang terjadi dengan indikasi garis arus yang terbentuk oleh zat
warna dalam pipa percobaan (aliran laminer atau turbulen).
10. Ulangi percobaan diatas dengan variasi debit (paling sedikit 15 kali) sehingga akan terlihat
macam aliran mulai laminer sampai turbulen.

11. Untuk pengamatan profil kecepatan maka tutup stopkran pengatur aliran pada pipa
percobaan. Keluarkan zat warna pada mulut genta sampai terjadi tetesan bola zat warna.
12. Keluarkan injector dari mulut genta kemudian buka stopkran pengatur aliran dalam pipa
percobaan.
13. Amati tetesan bola zat warna dalam pipa percobaan yang mengalami perubahan bentuk
menjadi profil paraboloida.
14. Lakukan pengamatan profil kecepatan ini dengan mengatur bukaan stopkran pengatur aliran
dalam pipa sehingga diperoleh aliran laminer atau turbulen.

2.5 Tugas
1.

Menyatakanjenisaliran yang diamatiterhadapbesaranbilangan Reynolds darihasilpengukuran


yang dilakukan.
Catatan : teoritis menyatakan bahwa untuk aliran laminer besaran Re. 2000 dan turbulen Re
> 2800.

2.

Menyatakan hubungan antara bilangan Reynolds dengan faktor gesek ( f ) dan bilangan
Reynolds dengan tegangan geser ( ). Menggambarkan kedua grafik hubungan tersebut.

3.

Menyatakan hubungan antara debit ( Q ) dengan tegangan geser ( ) dan menggambarkan


grafik hubungan tersebut.

4.

Membuat perkiraan profil kecepatan aliran dari hasil percobaan yang dilakukan pada debitdebit yang menyebabkan aliran laminer dan turbulen dengan memakai persamaan-persamaan
teoritis.

5.

Beri kesimpulan hasil percobaan yang saudara lakukan.

2.6 Hasil Percobaan dan Perhitungan


1. Data hasil percobaan Osborne-Reynolds dan perhitungan
D = 10 mm = 0.01m ; A = 78.5 mm2 = 7.85 x 10-5 m2
Suhu air = 20oC. didapatdari table karakteristikfisikair :
= 1.005 x 10-6 m2/s

= 995.98 kg/m3

No.

Volume
10^-6
m3

Wakt
u
(detik
)

Qrata-rata

m3/det

m3/det

m/det

JenisAliran
Pengamata
n

Re

JenisAlira
n
Teori

II

III

IV

VI

VII

IX

XI

XII

XIII

XIV

XV
XVI

130

15

8.67E-06

145

15

9.67E-06

130

15

8.67E-06

170

15

1.13E-05

165

15

0.000011

175

15

1.17E-05

180

15

0.000012

175

15

1.17E-05

190

15

1.27E-05

210

15

0.000014

215

15

1.43E-05

210

15

0.000014

250

15

1.67E-05

235

15

1.57E-05

245

15

1.63E-05

270

15

0.000018

280

15

1.87E-05

285

15

0.000019

290

15

1.93E-05

315

15

0.000021

300

15

0.00002

365

15

2.43E-05

380

15

2.53E-05

360

15

0.000024

400

15

2.67E-05

380

15

2.53E-05

390

15

0.000026

395

15

2.63E-05

400

15

2.67E-05

410

15

2.73E-05

420

15

0.000028

435

15

0.000029

425

15

2.83E-05

455

15

3.03E-05

445

15

2.97E-05

465

15

0.000031

455

15

3.03E-05

455

15

3.03E-05

450

15

0.00003

485

15

3.23E-05

470

15

3.13E-05

480

15

0.000032

500
495

15
15

3.33E-05
0.000033

0.00000
9

0.1146496
8

1.13E-05

0.1443736
7

1.21E-05

0.1542816
7

1.41E-05

0.1797593
8

1.62E-05

0.2066525
1

1.86E-05

0.2363765

2.01E-05

0.2561925

2.46E-05

0.3128096
3

0.00002
6

0.3312101
9

2.68E-05

0.34111819

2.84E-05

0.3623496
1

3.03E-05

0.3864118
9

3.02E-05

0.3849964
6

3.19E-05
3.34E-05

0.4062278
8
0.4260438
8

Laminer

1140.79
3

Laminer

1436.55
4

Laminer

1535.14
1

Laminer

1788.65
1

Laminer

2056.24
4

Laminer

2352.00
5

Transisi

2549.17
9

Transisi

3112.53
4

Turbulen

3295.62
4

Turbulen

3394.21
1

Turbulen

3605.46
9

Turbulen

3844.89
4

Turbulen

3830.81
1

Turbulen
Turbulen

4042.06
8
4239.24
3

Laminer

Laminer

Laminer

Laminer

Transisi

Transisi

Transisi

Turbulen

Turbulen

Turbulen

Turbulen

Turbulen

Turbulen

Turbulen
Turbulen

0.0
6

0.0
9

0.0
5

0.1
3

0.0
5

0.1
5

0.0
5

0.2

0.0
5

0.2
5

0.0
5

0.3
2

0.0
4

0.3
6

0.0
4

0.5
2

0.0
4

0.5
7

0.0
4

0.6

0.0
4

0.6
7

0.0
4

0.7
5

0.0
4

0.7
4

0.0
4
0.0
4

0.8
1
0.8
9

XVII

XVII
I

510

15

0.000034

520

15

3.47E-05

530

15

3.53E-05

520

15

3.47E-05

550

15

3.67E-05

540

15

0.000036

570

15

0.000038

3.49E-05

0.4444444
4

3.69E-05

0.4699221
5

Turbulen

4422.33
3

Turbulen

4675.84
2

Turbulen

Turbulen

0.0
4

0.9
5

0.0
4

1.0
5

2. hubungan antara bilangan Reynolds (Re) dan faktor gesek (f) dan tegangan geser serta
debit
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Re

1140.7
93
1436.5
54
1535.1
41
1788.6
51
2056.2
44
2352.0
05
2549.1
79
2915.3
6
3112.5
34
3295.6
24
3394.2

0.056

0.092

0.051

0.133

0.05

0.15

0.049

0.195

0.047

0.249

0.045

0.316

0.044

0.363

9000
11333.3
33
12111.1
11
14111.1
11
16222.2
22
18555.5
56
20111.1
11

0.043

0.46

0.042

0.515

23000
24555.5
56

0.042
0.041

0.57
0.6

26000
26777.7

11
3605.4
69
3844.8
94
3830.8
11
4042.0
68
4239.2
43
4422.3
33
4675.8
42

12
13
14
15
16
17
18

0.041

0.667

0.04

0.746

0.04

0.741

0.04

0.814

0.039

0.885

0.039

0.953

0.038

1.051

78
28444.4
44
30333.3
33
30222.2
22
31888.8
89
33444.4
44
34888.8
89
36888.8
89

Grafik hubungan Re dan f


0.06

0.06

0.05

0.05

0.04

Faktor Ges ek (f)

0.03
0.02
0.01
0.00
500

1000

1500

2000

2500

3000

Bilangan Reynolds (Re)

3500

4000

4500

5000

Grafik hubungan Re dan


1.20
1.00
0.80

Tegangan Ge ser ()

0.60
0.40
0.20
0.00
500

1000

1500

2000

2500

3000

3500

4000

4500

5000

Bilangan Re ynolds (Re )

Grafik hubungan Q dan


1.20
1.00
0.80

Tegangan Ge ser ()

0.60
0.40
0.20
0.00
5000

10000

15000

20000

25000

Debit (m m 3/det)

3. Profil Kecepatan
a. Aliran Laminer

30000

35000

40000

rata-rata = 0.14827 m/det


max = 2 = 0.29653 m/det

maka :
dimana : ro = d = x 10 mm = 5 mm = 0.005 m
No.
1

rata2

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

0.14827

10

0.14827

11

0.14827

12

0.14827

13

0.14827

14

0.14827

15

0.14827

max

0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53
0.296
53

ro

0.000

0.0050
0

-0.00500

0.107

0.0050

-0.00400

0.190

0.0050

-0.00300

0.222

0.0050

-0.00250

0.249

0.0050

-0.00200

0.285

0.0050

-0.00100

0.294

0.0050

-0.00050

0.297

0.0050

0.00000

0.294

0.0050

0.00050

0.285

0.0050

0.00100

0.249

0.0050

0.00200

0.222

0.0050

0.00250

0.190

0.0050

0.00300

0.107

0.0050

0.00400

0.000

0.0050

0.00500

Profil Kecepatan Aliran Laminer


-0.006

-0.004

-0.002

0.000
0.00

0.002

0.004

0.006

0.05
0.10
0.15

Kecepatan (m/det)

0.20
0.25
0.30
0.35
r (m)

b.

Aliran Turbulen
turbulen = turbulen : pengamatan
= 0.374702438 m/det
rata-rata = rata-rata : pengamatan
= 0.0430
max = (1 + 1.33 1/2) x turbulen
= (1 + 1.33 x (0.0430)1/2) x 0.374702438
= 0.478043 m/det
maka :
= ( 1 + 1.33 ) x Vturbulen - 2.04 x Vturbulen x log (ro/(ro-r))
dimana :
ro = d = x 10 mm = 5 mm = 0.005

No.

U rata2

U max

f rata2

ro

0.374702438

0.4780
43

0.043
0

0.005
00

-0.00500

0.374702438

0.374702438

0.374702438

0.374702438

0.374702438

0.374702438

0.374702438

0.374702438

10

0.374702438

11

0.374702438

12

0.374702438

13

0.374702438

14

0.374702438

15

0.374702438

0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43
0.4780
43

0.367
0.415
0.430
0.443
0.463
0.471
0.478
0.471
0.463
0.443
0.430
0.415
0.367
~

0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0
0.043
0

0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00
0.005
00

-0.00400
-0.00300
-0.00250
-0.00200
-0.00100
-0.00050
0.00000
0.00050
0.00100
0.00200
0.00250
0.00300
0.00400
0.00500

Profil Kecepatan Aliran Turbulen


-0.006 -0.004 -0.002 0.000
0.00
0.10
0.20
Kecepatan (m/det)

0.30
0.40
0.50
0.60
r (m)

0.002

0.004

0.006

2.7

Kesimpulan

1. Semakin besar bilangan Reynolds yang didapatkan maka faktor gesek aliran
semakin kecil.
2. Semakin besar bilangan Reynold ,semakin besar pula tegangan geser ,
semakin besar tegangan geser semakin besar pula debit. Jadi bilangan
Reynold,Tegangan Geser, dan Debit berbanding lurus.
3. Perbandingan antara hasil pengamatan di laboratorium dengan hasil
penghitungan secara teori sebagian besar sama.
4. Profil kecepatan yang terbentuk pada masing-masing jenis aliran bentuknya
berbeda. Aliran turbulen profil kecepatannya lebih cekung banding profil aliran
laminer

BAB III
PERCOBAAN PENGUKURAN DEBIT
DENGAN CURRENT METER
3.1

Tujuan Percobaan
Tujuan dari dilakukan percobaan ini antara lain adalah :
Dengan mengukur kecepatan aliran dengan alat ukur current meter serta dimensi saluran
yang dapat diketahui. maka besarnya debit aliran pada saluran dapat diketahui.
3.2

Alat Alat Yang Digunakan


1. Stop Watch.
2. Alat pengukur kecepatan arus Current Meter yang terdiri dari :
Counter ( box penghitung putaran propeler ).
Stick dengan propelernya.

3. Saluran terbuka berbentuk (penampang) trapesium.


3.3

Teori
Debit pada suatu pias penampang aliran saluran terbuka :
q = Ai x vi
Debit pada suatu penampang aliran saluran terbuka :
Q = q = ( Ai x vi ) = A x v
dimana :
Ai = luas penampang basah pias
vi = kecepatan rata-rata aliran pada penampang pias
A = luas penampang basah saluran
V = kecepatan aliran rata-rata pada penampang saluran
vi dapat dicari dengan menghitung rata-rata kecepatan garis arus tiap kedalaman yang
dirumuskan sesuai dengan jenis Current meter yang digunakan.
Kecepatan rata-rata aliran pada setiap penampang pias vi berdasarkan atas sejumlah titik
pengukuran adalah sebagai berikut :

1 titik pengukuran : vi = u0.6

2 titik pengukuran : vi = (u0.2 + u0.8) / 2

3 titik pengukuran : vi = (u0.2 + 2u0.6 + u0.8) / 4


Kedalaman diukur dari muka air.

3.4

Prosedur Percobaan
1. Ukur dimensi saluran yang akan digunakan sebagai saluran percobaan. Pengukuran debit
pada percobaan ini dilakukan bersaman dengan aliran air untuk percobaan pengukuran
debit dengan tipe alat lainnya (ambang lebar. ambang tipis dan parshall).

2. Semua peralatan setelah siap yaitu saluran terbuka telah dialirkan dengan aliran yang
konstan dari reservoir. penampang saluran dibagi-bagi menjadi 3 (tiga) pias/bagian
dengan lebar permukaan yang sama.
3. ukur tinggi air penampang basah saluran. lebar permukaan basah dan lebar permukaan air
setiap pias.
4. Stick dan propeler current meter dimasukkan kedalam saluran dan ditempatkan pada
masing-masing kedalaman 0.2h ; 0.6h dan 0.8h (h=tinggi muka air dari dasar saluran).
5. Propeler ditempatkan tegak lurus menghadap arus aliran. setelah tepat pada posisi yang
dimaksud tombol pada counter ditekan bersamaan dengan itu stop watch juga dijalankan
sampai pada interval waktu tertentu (15 detik) counter dan stop watch dihentikan. jumlah
putaran (N) pada counter dicatat.
6. Percobaan diatas diulang sebanyak tiga kali untuk beberapa tinggi muka air (h) sesuai
dengan perubahan aliran yang ditentukan.
7. Prosedur pengukuran ini dilakukan untuk setiap perubahan debit aliran percobaan (5
debit).
3.5

Tugas
1. Memberikan komentar mengenai pengukuran debit dengan current meter bila
dibandingkan dengan alat tipe lain.
2. Membuat diagram kecepatan aliran pada setiap pias dan isovel pada
penampang aliran untuk setiap percobaan.
3. Membuat rating curve pada penampang aliran percobaan.

3.6

Data Percobaan
t = 15 dt
No alat 1-84384 diameter 5cm
Data propeler

: Jenis/no. propeler : A.OTF Kempten C2-79006

n < 2.73

V = 0.0614 n + 0.016 m/dt

2.73 < n < 6.88


n > 6.88
Data saluran :

V = 0.0559 n + 0.031 m/dt


V = 0.054 n + 0.042 m/dt
5c
m

Lebar dasar 45 cm
Kemiringan 1:1

Debit I

: T = 140 cm

Debit II

: T = 131 cm

h = 33.4 cm (di tengah saluran)


h = 29.6 cm (di tengah saluran)

Debit III

: T = 125 cm

h = 28.4 cm (di tengah saluran)

Debit IV

: T = 121 cm

h = 27 cm (di tengah saluran)

Debit V

: T = 110.4 cm

h = 22.8 cm (di tengah saluran)

Sket gambar penampang saluran

Tabel data pengamatan :

Debit 1
Pias
PIAS

h1=18 h2=33.4 h3=18

I
0.20

U0.2

34

0.60
33

0.80
30

II

U0.6

h1=14.3 h2=29.6 h3=14.3


T=131 d=10
U0.8

III

33.4-

Jumlah putaran
nh propeler

0.20
36

0.60
34

0.80
35
0.20
32
0.60
29
28
0.80

II
29.80
18

22.60
16
19.00
13

26.72
19
13.36
17
6.68
22
29.80
18
22.60
16
18
19.00

III
23
19
20
24
21
20
19
23
24

Hubungan v dengan h

Percobaan 1

35.00
30.00
25.00
20.00
h ( cm )

15.00

pias1

pias2

pias3

10.00
5.00
0.00
0.07 0.08 0.09 0.10 0.11 0.12 0.13 0.14 0.15 0.16 0.17

v (m/dt)

Debit
Pias

h1=13 h2=28.4 h3=13 T=125


d=13

n
0.20

0.60
0.80
0.20

II

0.60
0.80
0.20

III

0.60
0.80

29.6 nh
26.74
21.02
18.16
23.68
11.84
5.92
26.74
21.02
18.16

PIAS

U0.2

U0.6

U0.8

Jumlah putaran propeler


I

II

III

30

16

22

31

14

21

31

18

29

29

18

27

24

19

25

27

17

29

28

20

26

30

19

21

26

18

24

Hubungan v dengan h Percobaan 2


35.00
30.00
25.00
20.00
h ( cm )

15.00

pias1

pias2

pias3

10.00
5.00
0.00
0.07

0.08

0.09

0.10

0.11

0.12

0.13

0.14

0.15

v (m/dt)

Debit 3
Pias
I

II

III

h1=14.3 h2=29.6 h3=14.3


T=131 d=10

28.4-nh

0.20

25.80

II

III

0.60

20.60

25

16

37

0.80

18.00

31

22

35

0.20

22.72

29

16

31

0.60

11.36

29

16

30

29

18

34

0.80

5.68

31

15

29

0.20

25.80

25

13

25

0.60

20.60

28

17

27

0.80

18.00

28

17

22

PIAS

U0.2

U0.6

U0.8

Jumlah putaran propeler

Hubungan v dengan h

Percobaan 3

30.00
25.00
20.00
h ( cm )

15.00

pias1

pias2

pias3

10.00
5.00
0.00
0.07 0.08 0.09 0.10 0.11 0.12 0.13 0.14 0.15 0.16 0.17

v (m/dt)

Debit 4
Pias
I

II

III

h1=12.5 h2=27 h3=12.5 T=121


d=14.7

n
0.20
0.60
0.80
0.20
0.60
0.80
0.20
0.60
0.80

27-nh
24.50
19.50
17.00
21.60
10.80
5.40
24.50
19.50
17.00

PIAS

U0.2

U0.6

U0.8

Jumlah putaran propeler


I

II

III

31

21

38

35

17

39

31

16

42

29

13

39

30

12

36

28

15

36

24

12

34

24

13

33

21

16

41

Hubungan v dengan h

Percobaan 4

30.00
25.00
20.00
h ( cm )

15.00

pias1

pias2

pias3

10.00
5.00
0.00
0.06

0.08

0.10

0.12

0.14

0.16

0.18

0.20

v ( m/dt)

Debit 5
Pias

II

III

h1=11.8 h2=22.8 h3=11.8 T=110.4


d=20

22.8-nh

0.20

20.44

0.60

15.72

0.80

13.36

0.20

18.24

0.60

9.12

0.80

4.56

0.20

20.44

0.60

15.72

0.80

13.36

PIAS

U0.2

U0.6

U0.8

Jumlah putaran propeler


I

II

III

29

13

38

39

13

46

35

11

42

28

10

38

18

32

22

34

20

33

19

33

18

32

Hubungan v dengan h Percobaan 5


25.00
20.00
15.00
h (cm)

pias 1
pias 2

10.00

pias 3

5.00
0.00
0.000

0.050

0.100
V (m/dt)

Contoh perhitungan :
Debit I

0.150

0.200

Pias 1 : * Pada titik pengukuran 0.2 h


N rata-rata : 32.33
n = Nrata-rata / t = 32.33 / 15 = 2.155
n < 2.73 maka kita masukkan ke rumus V = 0.0614 n + 0.016 m/dt
Sehingga diperoleh : V0.2h = 0.0614 (2.156) + 0.016
= 14.833 cm/dt
* Pada titik pengukuran 0.6 h
N rata-rata : 35.00
n = Nrata-rata / t = 35.00 / 15 = 2.333
n<2.73 maka kita masukkan ke rumus V = 0.0614 n + 0.016 m/dt
Sehingga diperoleh : V0.6h = 0.0614 (2.67) + 0.016
= 15.926 cm/dt
* Pada titik pengukuran 0.8 h
N rata-rata : 29.66
n = Nrata-rata / t = 29.66 / 15 = 1.977
n<2.73 maka kita menggunakan rumus V = 0.0614 n + 0.016 m/dt
Sehingga diperoleh : V0.8h = 0.0614 (1.977) + 0.016
= 13.743 cm/dt
Untuk pengukuran 1 titik Vpias = V0.6h
Untuk pengukuran 2 titik Vpias = (V0.2h + V0.8h) / 2
Untuk pengukuran 3 titik Vpias = (V0.2h + 2V0.6h + V0.8h) / 4
sehingga

Vpias I =

cm/dt

Bila bertabrakan maka diambil yang tidak bersinggungan (titiknya


dikurangi)
Alas = (T B) / 2 = (140 42 )/ 2 = 49 cm

Luas pias I ( AI ) = 0,5 x alas x h 1 = 0,5 x 0,49 x 0.18= 0,0441m 2


Qpias I = AI x Vpias I = 0,0441 x 0.15107 = 0.0066 m3/dt
Perhitungan untuk pias II dan pias III dapat dilakukan dengan cara yang sama,
sehingga diperoleh Qpias II dan Qpias

III

. Dan untuk menghitung Q total untuk debit I

dilakukan dengan cara :

total

= Qpias I + Qpias II +
Qpias III

( catatan : untuk luas pias II ( A II ) karena berbentuk persegi panjang

dihitung

dengan cara : AII = B.h = 0,42 x 0,33= 0,1386 m2 )

3.7

Kesimpulan
1. Secara teori pada percobaan pengukuran debit dengan current meter, pias I
dan pias III mempunyai kecepatan yang sama.Tetapi pada percobaan, didapat pias III lebih
kecil kecepatannya dibanding pias I, hal ini karena berbagai faktor misalnya tongkat alat
tidak benar benar vertikal, ketinggian propeler tidak pas, dll.
2. Pengukuran dengan alat ukur current meter kurang begitu teliti, hal ini bisa terjadi karena
kesalahan - kesalahan teknis di lapangan, semisal adanya penghambat ijuk dan
ketinggian propeler yang tidak tepat.

3. Kecepatan yang lebih besar terjadi pada tengah aliran atau pada bagian
yang mendekati dasar penampang. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada
dimana distribusi kecepatan akan semakin besar bila mendekati permukaan saluran
dan akan semakin kecil bila mendekati dasar penampang.

BAB IV
PERCOBAAN
ALIRAN LEWAT LUBANG
4.1 Tujuan
Mencari besarnya koefisien debit pada aliran lewat lubang.

4.2 Alat alat yang digunakan


1.

Bejana tampungan air

2.

Pipa dengan stop kran pengisi air

3.

Lubang pengeluaran

4.

Stop watch

5.

Penggaris dan roll meter

6.

Gelas ukur

4.3 TEORI
Debit lewat lubang (m3/dt) : Q = Cd x A x V

Cd = Cc x Cv

Keterangan :

Cd

koefisien debit

luas penampang lubang (m2)

percepatan gravitasi (m/dt2)

tinggi muka air terhadap lubang (m)

Cc

koefisien kontraksi

Cv

koefisien kecepatan

Aa

luas penampang aliran lewat lubang (

Va

kecepatan sebenarnya aliran lewat lu

panjang pancaran aliran lewat lubang

tinggi pancaran aliran lewat lubang (m

Hubungan volume aliran lewat lubang dV (m3) dan selang waktu tertentu dt (detik)
dapat dinyatakan sebagai berikut :
dV =

( Cd x Aa x 2gh ) x
dt

dan
dV =

As x dh

atau
Cd =

( As x dh )
( Aa 2gh x dt )

Dimana

As

= Luas permukaan bejana air ( m2 )

dh

= Perubahan tinggi muka air pada selang waktu dt

SKEMA ALAT PERCOBAAN PENGALIRAN LEWAT LUBANG

4.4 PROSEDUR PELAKSANAAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

9.

Kontrol apakah letak bejana benar-benar vertikal


Pasang penyumbat lubang yang ada pada dinding bejana
Ukur luas permukaan bejana air (m2)
Isi bejana dengan air sampai setinggi h 3 (m ) diatas lubang
penyumbat lubang bejana dibuka kemudian atur tinggi air dalam bejana
tetap pada h3 dengan mengatur ukaan stop kran pengisian air dalam bejana
Ukur volume air (m3) yang keluar melalui lubang dengan gelas ukur dan
catat lama waktu pengukurannya
Dengan mempertahankan tinggi air dalam bejana pada posisi h3, ukuran
panjang x (m) dan tinggi pancaran y (m) yang keluar melalui lubang pada
percobaan yang saudara lakukan (catat data sampai 5 kali)
Setelah prosedur percobaan sampai butir 5 selesai saudara lakukan, maka
stop kran pengisi air kedalam bejana ditutup, demikian juga untuk
penyumbat lubang pada dinding bejana, tetapi dipertahankan tinggi air
dalam bejana tetap h3
Pastikan sekarang tinggi air dalam bejana adalah h3, kemudian buka
penyumbat lubang pada dinding bejana dan catat waktu (detik) yang
diperlukan untuk menurunkan air dalam bejana sampai setinggi h0. Ulangi
percobaan ini sampai 5 kali pada ketinggian yang sama (h3)

10.Lakukan hal yang sama seperti pada butir 7 namun tinggi air mula-mula
dalam bejana pada h2 kemudian buka penyumbat pembuang dan hitung
waktu yang diperlukan untuk menurunkan air dalam bejana dari h2 sampai
setinggi h0. Ulangi percobaan ini sampai 5 kali pada ketinggian yang sama
(h2)
11.Lakukan hal yang sama seperti pada butir 7 namun tinggi air mula-mula
dalam bejana pada h1 kemudian buka stop kran pembuang dan hitung waktu
yang diperlukan untuk menurunkan air dalam bejana dari h1 sampai setinggi
h0. Ulangi percobaan ini sampai 5 kali pada ketinggian yang sama (h1)

4.5 HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN


1. Muka Air Konstan
Percobaan
Ke
I

h3 = 63.0 cm

II

h2 = 42,5 cm

III

h1 = 23.0 cm

Volume
10^-6
m3
820
790
780
800
810
660
630
600
660
650
430
460
455
520
380

detik

cm

cm

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

69
67
67
67
67
67
67
56
56
56
56
44
44
44
44

35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35

2. Muka Air Turun


t (det)
t (det)

Percobaan ke

Percobaan ke

t (det)

I
h3-h2=20,5cm

525

h3-h2=20,5cm

502

h2-h1=19,5cm

620

h2-h1=19,5cm

598

h1-h0=23cm

1371

h1-h0=23cm

1333

II
h3-h2=20,5cm

514

h2-h1=19,5cm

590

h1-h0=23cm
Percobaan
ke

1295

III
h3-h2=20,5cm

531

h2-h1=19,5cm

611

h1-h0=23cm

1337

IV
h3-h2=20.5cm

490

h2-h1=19,5cm

605

h1-h0=23cm

1328

Luas permukaan bejana


Diameter lubang

: A

= 0,5 x 0,6 m2 =0.3 m2


= 1,3 x 10-2 m

: D

4.6 Perhitungan
Koefisien Cv, Cc, dan Cd

Cv
=

V
a
V

Cd ==Cc . Cv

Object 57

A = Q/ Va
A
Alubang
Cc a
=
dimana Alubang = (1,3.10-2)2 =
1.326.10-4 m2
Hasil penghitungan ditunjukkan pada table berikut

Percobaan 1
h = h3 h0 = 63 cm
Vteoritis = 2gh = 2 . 980 . 63 = 351.397 cm/dt
Percobaan 2
h = h2 h0 = 42.5 cm
Vteoritis = 2gh = 2 . 980 . 42,5 = 288,617 cm/dt
Percobaan 3
h = h1 h0 = 23 cm
Vteoritis = 2gh = 2 . 980 . 23 = 212.321 cm/dt
Harga rata-rata Cv, Cc, dan Cd
h(cm)

Cv

Cc

Cd

63

0.713

0.405

0.568

42.5

0.764

0.438

0.573

23

0.742

0.413

0.557

B. Perhitungan Waktu Pengosongan


Volume Aliran melalui lubang dV (m3) pada selang waktu tertentu dt (detik) dapat
dinyatakan sebagai berikut :
dV = ( Cd . A . 2gh ) dt = As x dh
Dimana As = Luas Permukaan Bejana (diketahui : 60 x 50cm 2)
dh = Perubahan tinggi muka air di dalam bejana selama selang waktu dt
(m)
Sehingga:
As . dh = Cd . A 2gh dt

dt
=

As
Cd . A .
2gh

=
dt

dh

As

Cd . A .
2gh

dh

As
t =

Cd . A .
2gh

As . h-

Cd . A . 2g

dh

dh

As
t =

Cd . A .
2g
As

.2h

. 2 ( h2 - h1 )

Cd . A .
2g
t =

( 0,5. 0,6 ) . 2
-4

Cd (1,33.10 ) 19,6

( h2 -
h1 )

Perbandingan harga t hasil hitungan dengan t percobaan

h (m)

t
percobaa
n
(dt)

t
percobaa
n
(dt)

t
hitungan
(dt)

t
hitungan
(dt)

496.269
1

h3 = 0.63

482

h2 =42.5

508

523.038
8

490

504.506

h2 =42.5

588

594.781

h1 =0.23

583

493.333

590.333

589.723
4

600

606.919
4

h1 =0.23

1288

1821.50
7

ho = 0

1273

1800.29
4

1291

1825.75

1284

h (m)

tpercobaan
(dt)

thitungan (dt)

h3 h2

499.333

507.938

507.938

597.141
3

1815.85

(0.42)
h2 h1
(0.23)

590.333

597.1413

h1 - h0
(0.0)

1284

1815.85

KESIMPULAN
1. Hubungan antara tinggi muka air terhadap lubang (H) dengan panjang pancaran
aliran lewat lubang (X) adalah berbanding lurus.
2. Harga Cd yang diperoleh relatif konstan, yaitu :
Percobaan I

Cd = 0.792

Percobaan II

Cd = 0,803

Percobaan III Cd = 0,817


3. Perbedaan waktu pengosongan (t) antara hasil percobaan dan hasil perhitungan
:
h3-h2

t = 507.938 499.333 =8.605 detik = 1.694 %

h2-h1

t = 597.1413 590.333 = 6.8083 detik = 1.140 %

h1-h0

t = 1284 1815.85= 531.85 detik = 45.31 %

4. Perbedaan pada nilai Cd dapat disebabkan antara lain karena kurangnya ketelitian saat
melakukan percobaan terutama ketika mencatat data-data hasil pengamatan

BAB V
PENGUKURAN DEBIT
DENGAN PARSHALL FLUME
5.1. TUJUAN PERCOBAAN
Mempelajari sifat aliran pada alat ukur debit Parshall
5.2. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Alat ukur debit Parshall
2. Skotbalk
3. Point gauge
4. Penggaris / roll meter

Sketsa Percobaan
Parshall Fume

5.3. TEORI
Parshall flume adalah alat ukur debit dengan cara membuat aliran kritis yang
dapat dilihat dengan terjadinya loncatan air pada bagian tenggorokan
( throat section ). Bila terjadi aliran tenggelam yang dapat dilihat dengan
mengecilnya loncatan air pada bagian tenggorokan
( submerged flow ),
maka perlu diadakan koreksi debit pada debit yang diukur.
Besarnya debit ( m3/dt ) yang lewat pada tenggorokan dalam kondisi kritis
dapat ditulis dalam persamaan sebagai berikut ( R.L.Parshall, 1920 ):

Lebar Leher ( W )

Persamaan Debit ( Q )

Q = 0,992 . Ha1.547

Q = 2,06 . Ha1.50

Q = 3,07 . Ha1.59

12 8

Q = 4 . W . Ha0.026

10 50

Q = ( 3,6875 W + 2,5 ) Ha1.6

dimana :
Ha

= tinggi air pada tenggorokan ( ft )

= lebar tenggorokan ( ft )

= debit lewat tenggorokan ( ft3/dt )

Bila rasio tinggi air Hb dan Ha > 0,6 untuk W = 3 sampai 9, atau > 0,7 untuk
W = 1 sampai 8 dan > 0,8 untuk W = 10 sampai 50 , maka aliran pada
tenggorokan dikategorikan aliran tenggelam ( submerged flow ).

5.4. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Mengukur dimensi Parshall Flume yang tersedia (lihat gambar di atas
untuk dimensi yang diperlukan)
2. Catat bacaan point gauge pada Hb

sebelum aliran air lewat Parshall

Flume. Besarnya bacaan masing masing adalah Hob. Untuk bacaan


Hob air dalam point gauge harus setinggi rata dengan ambang parshall.
3. Alirkan air lewat Parshal Flume.
Catatan : Aliran air dalam percobaan ini ada kaitannya dengan aliran
pada percobaan pengukuran debit dengan menggunakan alat ukur
lainnya (ambang lebar, ambang tipis dan current meter)
4. Catat bacaan pada mistar ukur saat aliran air lewat Parshal Flume, maka
tinggi air di depan tenggorokan adalah Ha , satuan dalan inch.
5. Masih dalam debit yang sama, letakkan

skatbalk di belakang Parshal

Flume sehingga terjadi aliran tenggelam pada bagian tenggorokan.


6. Kemudian catat bacaan point gauge Hb yaitu H1b, maka tinggi air di
atas tenggorokan Hb = H0b H1b.

7. Lakukan semua pembacaan point gauge setiap pencatatan tinggi muka


air minimum 5 kali.
8. Lakukan prosedur di atas pada setiap perubahan percobaan debit yang
disesuaikan dengan percobaan pengukuran debit lainnya.
5.5. DATA PERCOBAAN

Lebar leher
ambang
: W = 7 cm ~ 3 inch = 0,246075 ft
Tanpa
Sekat
Satu sekat

muka Ha
air
Percobaa HaTinggiHa
n
(ft)
(inc)
(cm)

Konversi satuan

H1b: Hob
H1b= 57 cm
(cm)
(ft)
rasio

Ha
(ft)

: 1 ft = 12 inchi

Ha
(inc)

II

rata2

III

rata2

IV

rata2

rata2

H1b
(ft)

H1b (cm)

rasio

0.817

24.9

0.752

0.813

24.78

0.748

0.816

24.88

0.751

0.816

24.87

0.745

0.819

24.95

0.753

0.816

24.876

0.750

0.730

22.25

0.733

0.813

0.760

1.058

12.7

24.59

0.807

0.773

1.058

12.7

32.004

24.7

0.810

0.751

1.058

12.7

12.7

32.258

24.8

0.814

0.749

1.067

12.8

1.058

12.7

32.258

24.7

0.810

0.746

1.058

12.7

1.045

12.540

31.852

24.714

0.811

0.756

1.060

12.720

1.033

12.4

31.496

24.35

0.799

0.752

0.967

11.6

32.25
8
32.25
8
32.25
8
32.51
2
32.25
8
32.30
9
29.46
4

1.017

12.2

30.988

23.43

0.769

0.735

0.958

11.5

29.21

0.729

22.23

0.739

0.983

11.8

29.972

23.37

0.767

0.758

11.5

22.17

0.737

11.7

29.718

22.98

0.751

0.7067274

21.54

0.728

0.9583

11.5

29.21

22.87

0.754
0.750
4

0.761

0.7011497

21.37

0.722

0.993

11.920

30.277

23.400

0.768

0.752

0.953

11.440

0.719

21.912

0.732

0.892

10.7

27.178

20.98

0.688

0.748

0.892

10.7

29.21
28.70
2
28.70
2
29.05
8
27.17
8

0.727

0.975

0.958
0.9416
3
0.9416
3

0.675

20.57

0.733

0.892

10.7

27.178

20.8

0.682

0.741

0.917

11

0.678

20.67

0.717

0.883

10.6

26.924

20.77

0.747

0.892

10.7

0.674

20.55

0.732

0.8916

10.7

27.178

20.92

0.746

0.9083

10.9

0.679167

20.7

0.724

0.8833

10.6

26.924

20.86

0.681
0.686
4
0.684
4

0.751

0.9083

10.9

0.6712926

20.46

0.716

0.888

10.660

27.076

20.866

0.685

0.747

0.903

10.840

27.94
27.17
8
27.68
6
27.68
6
27.53
4

0.676

20.590

0.724

0.842

10.1

25.654

19.41

0.637

0.731

0.833

10

25.4

0.639

19.47

0.741

0.842

10.1

25.654

19.55

0.641

0.737

0.833

10

25.4

0.633

19.28

0.733

0.850

10.2

25.908

19.32

0.721

0.833

10

19.28

0.733

10.2

25.908

19.07

0.711

0.8583

10.3

25.4
26.16
2

0.633

0.85

0.6315925

19.25

0.711

0.875

10.5

26.67

19.47

0.634
0.625
7
0.638
8

0.706

0.8333

10

0.6302801

19.21

0.731

0.852

10.220

25.959

19.364

0.635

0.721

0.838

10.060

0.633

19.298

0.730

0.750

22.86

16.46

0.540

0.692

0.717

8.6

0.512

15.59

0.684

0.750

22.86

16.35

0.536

0.687

0.717

8.6

0.510

15.55

0.682

0.742

8.9

22.606

16.32

0.693

0.514

15.66

0.687

8.9

22.606

16.25

0.5167575

15.75

0.683

0.7416

8.9

22.606

16.2

0.688

0.717
0.7249
7
0.7416
4

8.6

0.7416

0.535
0.533
2
0.531
5

0.5197104

15.84

0.672

0.745

8.940

22.708

16.316

0.535

0.690

0.723

8.680

0.514

15.678

0.682

1.042

12.5

31.75

24.78

1.017

12.2

30.988

1.050

12.6

1.058

1 inchi = 2,54 cm

Data Pengukuran Percobaan Parshall Flume


rata2

Ha
(cm)

0.690

11.3
11.3

8.7
8.9

25.4
25.55
2
21.84
4
21.84
4
21.84
4
22.09
8
22.60
6
22.04
7

Dua Sekat
Ha (inc)

Ha
(cm)

H1b
(cm)

rasio

H1b (ft)

1.050

12.6

32.004

24.96

0.760

0.819

1.042

12.5

31.75

25.05

0.769

0.822

1.042

12.5

31.75

25.02

0.768

0.821

1.050

12.6

32.004

24.97

0.760

0.819

1.050

12.6

32.004

25.04

0.762

0.822

1.047

12.560

31.902

25.008

0.764

0.821

0.942

11.3

28.702

21.99

0.744

0.721

0.950

11.4

28.956

21.89

0.734

0.718

0.958

11.5

29.21

22.04

0.732

0.723

0.958295

11.5

29.21

22.25

0.739

0.7300225

0.966628

11.6

29.464

22.35

0.736

0.7333035

0.955

11.460

29.108

22.104

0.737

0.725

0.908

10.9

27.686

21

0.735

0.689

0.917

11

27.94

20.94

0.726

0.687

0.908

10.9

27.686

21.07

0.738

0.691

0.91663

11

27.94

21.35

0.741

0.7004935

0.908297

10.9

27.686

21.27

0.745

0.6978687

0.912

10.940

27.788

21.126

0.737

0.693

0.854

10.25

26.035

19.55

0.726

0.641

0.854

10.25

26.035

19.6

0.728

0.643

0.854

10.25

26.035

19.47

0.723

0.639

0.854

10.25

26.035

19.58

0.727

0.6424198

0.854

10.25

26.035

19.46

0.722

0.6384826

0.854

10.250

26.035

19.532

0.725

0.641

0.733

8.8

22.352

16.74

0.720

0.549

0.742

8.9

22.606

16.55

0.703

0.543

0.742

8.9

22.606

16.45

0.699

0.540

0.741637

8.9

22.606

16.66

0.708

0.5466146

0.741637

8.9

22.606

16.66

0.708

0.5466146

0.740

8.880

22.555

16.612

0.708

Ha

(ft)

0.545

5.6. PERHITUNGAN
Contoh Perhitungan:
1. Mencari Koefisien Debit untuk Percobaan 1 dan membandingkannya
dengan Debit teoritis (Current meter):
digunakan perumusan debit

karena lebar tenggorakan alat

Parshall Flume = 7,65 ~ 8 cm atau 3 inchi.


Tanpa Sekat:
Ha= (1.042+1.017+1.050+1.058+1.058)/5=1.045ft
Q= 0.992Ha1.547
Q=1.061 ft3/dt
Q=0.032366 m3/dt
(Q tersebut untk percobaan Parshall Flume)

Menggunakan 1 Sekat
Ha=(1.058+1.058+1.058+1.067+1.058)/5=1.060ft
Q=0.992Ha1.547
Q=1.08551 ft3/dt
Q=0.033088 m3/dt

Menggunakan 2 Sekat
Ha=(1.050+1.042+1.042+1.050+1.050)/5=1.047ft
Q=0.992Ha1.547
Q=1.60618 ft3/dt
Q=0.03246 m3/dt

Cs = Q current meter / Q Parshall Flume = Qcurrent/0.992 Ha1.547

Percoba
an

Jenis
Tanpa
sekat

Q Current Meter
(cm3/det)

1 sekat
1

2 sekat
Tanpa
sekat

33010

2 sekat
Tanpa
sekat

27530

2 sekat
Tanpa
sekat

26100

2 sekat
Tanpa
sekat

24640

2 sekat

28079.6
3
28155.6
1

25834.3
0
26203.9
1

23015.7
7
23691.7
0

19174.5
6

1 sekat
5

1.07

33086.2
8
32444.6
7

23584.51

1 sekat
4

32364.78

25173.68

1 sekat
3

Cs

29923.04

1 sekat
2

Q
Parshall
(cm3/det
)

15360

Dengan Cs rata-rata = 0.97


Maka rumus baru Q = 0.97 Ha1.547

18318.7
7
18975.8
5

1.00
1.02
0.92
0.98
0.98
1.04
1.01
1.00
1.04
1.07
1.04
0.80
0.84
0.81

Hubungan antara Ha dengan Q (Tanpa Sekat)


35
30
25
20
Ha ( cm) 15
10
5
0
0

10000

20000

30000

Q ( cm3/det)

Hubungan antara Ha dengan Q (1 Sekat)

Ha (cm)

35
30
25
20
15
10
5
0
10000

15000

20000

25000

30000

35000

Q (cm3/det)

Hubungan antara Ha dengan Q (2 Sekat)

Ha ( cm)

35
30
25
20
15
10
5
0
5000

10000

15000

20000
Q (cm3/det)

25000

30000

35000

hb/ha vs cs (2 sekat)
1.4
1.3
cs

1.2
1.1
1
0.6

0.65

0.7

0.75

0.8

0.85

0.9

0.95

hb/ha

KESIMPULAN
1. Penghitungan debit menggunakan Parshall Flume membutuhkan ketelitian yang
tinggi. Hal ini disebabkan sulitnya pengamatan karena permukaan air yang
berubah-ubah,

misalnya

pada

pembacaan

pada

Point

Gauge

diperlukan

ketelitian, khususnya saat melihat apakah pena besi sudah rata dengan
permukaan air atau belum.
2. Debit (Q) dipengaruhi oleh Ha dan Ha/Hb
3. Harga Hb/Ha diperoleh hasil lebih dari 0,6 maka aliran disebut tenggelam . Jadi
memakai rumus baru menjadi Q=0.97.Ha1.547

4. Adanya perbedaan besar debit menggunakan alat ukur parshall flume


dengan besar debit menggunakan alat

ukur current meter disebabkan

oleh:

Kesalahan pengukuran saat menggunakan alat ukur current meter


baik kesalahan karena faktor penggunaan alat yang tidak bener
atau adanya hambatan hambatan pada saluran saat terjadinya
penghitungan.

Kesalahan pengukuran tinggi air pada alat parshall flume


dikarenakan sulitnya menetukan tinggi air yang konstan.

BAB VI
PENGUKURAN DEBIT
DENGAN PELIMPAH AMBANG TIPIS
6.1. Tujuan Percobaan
Mengetahui debit aliran pada pelimpah ambang tipis.

6.2 Alat alat yang digunakan


1. Kolam penenang
2. Pelimpah ambang tipis penampang segi empat
3. Point gauge
4. Penggaris / roll meter

Sket pelimpah ambang tipis penampang segi empat :

6.3 TEORI
Besarnya debit ( m3/dt ) yang melalui pelimpah ambang tipis penampang segi empat dapat ditulis
dalam persamaan sebagai berikut :

dimana :
C =
koefisien debit
b
= panjang pelimpah ( m )
H

= tinggi muka air di depan ambang ( m )

= percepatan gravitasi ( 9.81 m/dt2 )

Besarnya koefisien debit C merupakan fungsi dari tinggi muka air di depan ambang H dan tinggi
ambang terhadap dasar saluran p.
Tabel berikut menunjukkan besarnya harga C.

6.4. Prosedur Percobaan


1. Ukur dimensi palimpah ambang tipis yang tersedia.
2. Catat bacaan point gauge untuk muka air tepat pada ambang H 0
3. Alirkan air lewat pelimpah tersebut di atas.
Catatan: aliran air dalam percobaan ini ada kaitannya denga aliran
ukur lainnya (ambang lebar, current meter dan parshall ).

pada percobaan pengukuran debit dengan alat

4. Catat bacaan point gauge pada saat aliran air lewat pelimpah H 1. Tinggi
air di depan ambang H = H0 H1.
5. Lakukan pembacaan point gauge setiap pencatatan tinggi muka air
minimal 5 kali.
6. Lakukan prosedur di atas pada setiap perubahan debit yang disesuaikan
dengan percobaan pengukuran debit lainnya ( ambang lebar , current
meter dan parshall ).
6.5. DATA PERCOBAAN
b

= 25 cm = 0.25 m

= 46cm

=0.46 m

=26 cm

0.26 m

Tabel data pengamatan :

Percobaan

Ho

H1

17.7

25.7

17.7

25.78

17.7

25.74

17.7

25.75

17.7

26.52

24.2
24.28
III

24.35

24.84
24.8
24.8

22.5

24.46

22.04
V

24.42

24.86
II

24.47

IV

24.25

22.5

23.99

22.49

23.79

24.83

23.7

6.6. PERHITUNGAN

Karena b / B = 0,5434 maka

Ct =0.592 + 0.011 H / p

Contoh Perhitungan:
2. Mencari Koefisien Debit untuk Percobaan 1:

H1 rata-rata =

cm

Ho

17.70 cm = 0.17m

H1 Ho = 0,25898-0,17 = 0,08898m

Ct

0,592 + 0,0011 H/p

0,589 + 0,0018 ( 0,08898/0,26 )

0,3422

2/3 (2g)0,5 x Ct x b x H1,5

2/3 ( 2 x 9,81 )0,5 x 0,3422 x 0,25 x ( 0,08898 )1,5

0,0069443701 m3/dt

Qt

Cpercobaan (Cp) =

22.58

Sehingga dengan cara yang sama, maka data yang lain dapat pula dicari harga Ct, serta Qt sebagaimana
tercantum dalam tabel sebagai berikut :

Perc.
I
II
III

H1

Ho

(cm)

25.89
8
24.82
6
24.35
2

IV

24.03

22.42
2

(cm)

(m)

(m)

(m)

(m)

17.7

0.082
0
0.071
3
0.066
5
0.063
3
0.047
2

0.26

0.46

0.25

b/B

H/p

Ct

0.5434
78

0.315
3
0.274
1
0.255
8
0.243
5
0.181
6

0.590
1
0.590
0
0.590
0
0.590
0
0.589
8

Qt
(m^3/dt)

0.0164
0.0133
0.0120
0.0111
0.0071

3. Perbandingan debit (Q) alat ukur ambang tipis dan debit (Q) alat ukur
Current (debit teoritis) dengan tinggi muka air di depan ambang(H)
Pecobaa
n

Q parshall
Qambang tipis
fume
(m^3/dt)

0.0300

0.0164

II

0.0278

0.0133

III

0.0233

0.0120

IV

0.0219

0.0111

0.0178

0.0071

Cp

0.545
4
0.477
6
0.513
1
0.506
8
0.401
6

Grafik Hubungan H dengan Q


0.1
0.08
0.06
H (m) 0.04
0.02
0
0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

0.02

0.02

Q (m^3/dt)

Grafik Hubungan H/p dengan Cp


0.6000
0.5068

0.5000
0.4000
Cp

0.4016

0.3000
0.2000
0.1000
0.0000
0.1600 0.1800 0.2000 0.2200 0.2400 0.2600 0.2800 0.3000 0.3200 0.3400
H/p

KESIMPULAN
1. Besarnya Qt lebih dipengaruhi oleh H daripada Ct , karena besarnya Ct antar
percobaan relatif konstan.

Perc.
I
II
III
IV
V

Qt

(m)

(m^3/dt)

0.08198

0.016361

0.071
26
0.066
52
0.063
3
0.047
22

0.0132
57
0.0119
56
0.0110
98
0.0071
49

BAB VII
PENGUKURAN DEBIT
DENGAN PELIMPAH AMBANG LEBAR

7.1. Tujuan Percobaan


Mempelajari sifat aliran air pada pelimpah ambang lebar pada saluran
terbuka.

7.2. Alat Alat Yang Digunakan


1. Flume dilengkapi dengan head gate dan tail gate
2.Pelimpah ambang lebar
3. penggaris / roll meter

7.3. Teori
Besarnya debit yang mengalir lewat pelimpah ambang lebar :
Q=CL
h1,5
Dimana :
C

koefisien debit ( m0,5/dt )

panjang ambang ( m )

tinggi aliran diatas ambang ( m )

kecepatan aliran didepan pelimpah ( m/dt )

Besarnya debit yang mengalir lewat pelimpah dipengaruhi oleh sempurna


atau tidak sempurna aliran lewat ambang pelimpah tersebut.
Untuk aliran sempurna yang ditandai dengan terjadinya loncatan air di
belakang pelimpah, maka akan diperoleh debit maksimum, dan akan
terjadi bahwa tinggi air diatas ambang,
h = 2/3 H
Untuk aliran tidak sempurna, dimana tinggi air dibelakang pelimpah , y
lebih tinggi dari tinggi pelimpah p dan h 2/3 H, maka akan diperoleh
debit lebih kecil dari debit maksimum , dan dapat dinyatakan hubungan
sebagai berikut :
Qs = Cs
Q

Dimana :
Qs

= debit dalam kondisi aliran tidak sempurna ( m3/dt )

Cs

= koefisien aliran tidak sempurna

= debit maksimum yang terjadi

7.4. Prosedur Percobaan


1. Alirkan suatu debit pada flume yang sudah dilengkapi dengan
pelimpah ambang lebar sebagai obyek pengamatan percobaan
aliran.
Catatan : debit pada percobaan ini dikaitkan dengan percobaan
pengukuran debit dengan menggunakan alat ukur lainnya ( ambang
tipis, current meter dan parshall )
2. Buat pada pelimpah kondisi aliran sempurna dengan mengatur
tinggi bukaan tail gate pada flume
3. Amati dan ukur tinggi muka air H, h dan unsur tinggi air pada
loncatan air y1, dan y2. Pengukuran dilakukan minimal 5 kali untuk
mendapatkan pengamatan yang teliti.
4. Dengan

debit

tetap

seprti

percobaan

diatas,

sekarang

buat

percobaan pada pelimpah kondisi aliran tidak sempurna dengan


mengatur tinggi bukaan tail gate, sedemikian hingga diperoleh
tinggi air y yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tinggi
air H.
5. Buat 4 macam aliran tidak sempurna pada percobaan butir 4,
selanjutnya amati dan ukur tinggi muka air H, h dan y masingmasing 5 kali.
6. Ulangi percobaan diatas dengan debit yang berbeda minimal 5
macam debit.

7.5. Data Percobaan


Tinggi ambang

( p ) = cm

Lebar ambang

(t)

Panjang

= cm

( L ) = cm

Percobaan Aliran Sempurna

Titik

Jarak
Anta
ra

1
Y
(cm)
38,5

Percobaan
2
3
4
Y
Y
Y
(cm)
(cm)
(cm)
37
36
34

5
Y
(cm)
32,5

20
1

37,5

37

36

34

32,5

37

35,5

35,5

33

31,5

35,5

34,5

34

32

30,5

33,5

33

32,5

31

29,5

31,5

31

30,5

29

28,5

27

24

23,5

20

14

10

11

7,5

14

11

10

12

18

14

15

12

15

19

15

18,5

13

18

19,5

16

18,5

15

19

19,5

16

18,5

16

19

20

17

18,5

16

19

20

17,5

19

16,5

19,5

20,5

17,5

18,5

17

19

20,5

18

19

17,5

19,5

21

18

19,5

8
2
8
3
6,5
4
10,5
5
9
6
12
7
9,5
8
5
9
5
10
5
11
5
12
5
13
5
14
5
15
5
16
5
17
5

18

18

20

21

18,5

19,5

18

21

21,5

18,5

20

20

19

22

22,5

19,5

20,5

Hp
(tinggi
pintu )

13,5

14

12,5

15,5

18
19
130

Percobaan Aliran Tidak Sempurna (Peralihan)

Titik

Jarak
Antara

1
Y
(cm)
38,5

Percobaan
2
3
4
Y
Y
Y
(cm)
(cm)
(cm)
37
36
34

5
Y
(cm)
32

20
1

37,5

37

35,5

34

32

36,5

36,5

35,5

33,5

31,5

35,5

35

34

32

30,5

34

33,5

32,3

31

29,5

31,5

31,5

31

30

29

28

28,5

27

25,5

25,5

23

23

23

19,5

28

25,5

26

25

23

27,5

26

27,5

26,5

25

26

26,5

27,5

27

22,5

27

26,5

27,5

27

25,5

27

26,5

27,5

27

25,5

27,5

26,5

27,5

27

25,5

27

8
2
8
3
6,5
4
10,5
5
9
6
12
7
9,5
8
5
9
5
10
5
11
5
12
5
13
5

14

26,5

27,5

27

25,5

26,5

26,5

28

27

25,5

27

26,5

28

27,5

25,5

27

27,5

28

27,5

25,5

27,5

27,5

28,5

27,5

26

27

28

29

28

26

27

20

30

30,5

29,5

27,5

28,5

Hp(tinggi
pintu)

19

21

20,5

21

24

5
15
5
16
5
17
5
18
18
19
130

Percobaan Aliran Tidak Sempurna ( Tenggelam )

Titik

Jara
k
Anta
ra

1
Y
(cm)
39

Percobaan
2
3
4
Y
Y
Y
(cm)
(cm)
(cm)
37,5
37
34

38,5

37,5

36,5

34

32

37,5

37

36

33,5

32

36,5

35,5

35

31

31,5

35,5

34,5

34

31,5

30,5

36

35,5

35,5

32

29,5

37,5

36

35

31,5

30,5

36

35

35

32

30,5

36,5

36

35,5

32

31

37

36

35

32

31

37

35,5

35

32

31

5
Y
(cm)
32

20
1
8
2
8
3
6,5
4
10,5
5
9
6
12
7
9,5
8
5
9
5
10

5
11

36,5

35,5

35,5

32

31

36,5

35,5

35,5

32

31

36,5

36

35,5

32

31

36,5

36

35,5

32

31

36,5

36

35,5

32

31

37

36

35,5

32

31

37

36

35,5

32

31

37

36

35,5

32

31

37

36,5

35,5

32,5

31

20

38

37,5

37

33,5

32

Hp (tinggi
pintu)

28

27,5

27,5

27

28

5
12
5,2
13
5
14
5
15
5
16
5
17
5
18
18
19
130

7.6.

Perhitungan
Dari percobaan Parshall diperoleh debit percobaan sebagai berikut:
Percobaan Q (m3/det)
I

0.03263

II

0.02872

III

0.02574

IV

0.02343

0.01882

Rumus yang akan digunakan

Dimana:

koefisien debit (m0,5/dt)

0,455 m (panjang ambang)

He =

H + ( V2/2g ) = tinggi energi (m)

kecepatan aliran didepan pelimpah ambang (m/dt)

luas penampang basah (m2)

tinggi muka air diatas pelimpah ambang (m)

Contoh Perhitungan :

Tabel Hasil Perhitungan Hubungan antara rasio tinggi muka air di


depan ambang H dan tinggi pelimpah p dengan koefisien debit C.
Perc.

Aliran

L
(m)

p
(m)

Hba
(m)

A
(m2)

H
(m)

Hrata-rata
(m)

Qparshall
(m3/dt)

v^2/2g

He
(m)

0.177
87

0.136
67
0.136
67

0.136
67

0.032
63

0.001
72

0.1383
82

1.3780
11

0.124
00

0.028
72

0.001
44

0.1254
38

1.4052
93

Sempurn
a

II

Tansisi
T.
Sempurn
a
Sempurn
a
Tansisi

0.46

0.46

0.25

0.25

0.386
67

0.371
67

0.170
97

0.136
67
0.121
00
0.121
00

T.
Sempurn
a

0.167
13

0.130
00
0.107
00
0.108
00

0.107
33

0.025
74

0.001
21

0.1085
42

1.5646
01

0.156
40

0.107
00
0.093
00
0.096
00

0.097
33

0.023
43

0.001
14

0.0984
77

1.6482
04

0.147
97

0.103
00
0.079
00
0.081
00

0.081
67

0.018
82

0.000
82

0.0824
91

1.7271

Sempurn
a

III

Tansisi
T.
Sempurn
a

0.46

0.363
33

0.25

Sempurn
a

IV

Tansisi
T.
Sempurn
a

0.46

0.340
00

0.25

Sempurn
a

Tansisi
T.
Sempurn
a

0.46

0.321
67

0.25

0.085
00

Tabel Hasil Perhitungan Hubungan antara rasio tinggi muka air di atas
ambang h dan tinggi muka air di depan ambang H dengan koefisien
debit Cs.
H
semp.

(m)

0.135
00

0.093
75

0.310
00

II

0.120
00

0.085
00

III

0.110
00

IV
V

Perc.

H t.

He

Q maks

1.7438
7

0.248
75

1.378
01

0.078
64

0.290
00

1.6866
8

0.230
00

1.405
29

0.071
30

0.081
25

0.220
00

1.4690
8

0.191
25

1.564
60

0.060
20

0.090
00

0.062
50

0.250
00

1.5660
5

0.187
50

1.648
20

0.061
56

0.075
00

0.047
50

0.215
00

1.4522
9

0.155
00

1.727
10

0.048
48

He

Qs

Q maks

Cs

(m^2/dt)

Perc.

semp.

(m)

(m)

0.140
00

0.113
75

0.025
00

0.495
23

0.126
25

1.378
01

0.028
44

0.078
64

0.361
58

II

0.125
00

0.106
25

0.015
00

0.383
60

0.113
75

1.405
29

0.024
80

0.071
30

0.347
80

(m2/dt)

III

0.120
00

0.101
25

0.015
00

0.383
60

0.108
75

1.564
60

0.025
81

0.060
20

0.428
79

IV

0.090
00

0.070
00

0.020
00

0.442
94

0.080
00

1.648
20

0.017
16

0.061
56

0.278
70

0.070
00

0.058
75

0.010
00

0.313
21

0.063
75

1.727
10

0.012
79

0.048
48

0.263
77

7.7.

Grafik

Grafik Hubungan antara H/p dengan C


2
1.5
C

1
0.5
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

H/p

Grafik Hubungan antara Q (debit) dengan H (tinggi muka air di depan ambang) kondisi Aliran Sempurn
0.20

H (m)

0.10

0.00
0.00

0.02

0.04
Q (m^3/dt)

0.06

0.08

0.10

Cs

0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.
23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45

Grafik Hubungan antara h/H dengan Cs

0.76

0.77

0.78

0.79

0.80

0.81

0.82

0.83

0.84

0.85

0.86

h/H

Grafik Hubungan antara h/H dengan Cs


0.50
0.40
0.30
Cs

0.20
0.10
0.00
0.00

0.10

0.20

0.30

0.40

0.50
h/H

0.60

0.70

0.80

0.90

1.00

Kesimpulan

7.8

Dari percobaan di atas dapat kita pahami konsep aliran dan hubungan antara debit,
kecepatan, koefisien debit, dan koefisien kecepatan.
Dari data perhitungan didapat nilai-nilai:
o Debit rata-rata (Qr)
: 0.001654 m3/dt
o Kecepatan rata-rata (vr)
: 0.114741 m3
o Koefisien debit rata-rata (Cd) : 0.028016
o Koefisien kecepatan (Cv)
: 7.480127
Berdasarkan perhitungan kekritikan aliran (sebelum, di atas & sesudah ambang), dapat
disimpulkan :
1. Pada aliran sebelum ambang nilai angka froud rata-rata adalah 0,2875 . Artinya aliran
sebelum ambang sifatnya subkritik.
2. Pada aliran diatas ambang nilai angka froud rata-rata adalah 1.4323 . Artinya aliran sebelum
ambang sifatnya super kritik.
3. Pada aliran setelah ambang nilai angka froud rata-rata adalah 0,4556 . Artinya aliran
sebelum ambang sifatnya subkritik.

BAB VIII

PERCOBAAN ALIRAN DI BAWAH PINTU

8.1. TUJUAN PERCOBAAN


Mengamati aliran didasarkan atas pemakaian persamaan Bernouli untuk aliran
di bawah pintu.

8.2. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN


1.

Flume beserta perlengkapanya

2.

Model pintu sorong

3.

Alat ukur Parshall

4.

Penggaris / roll meter

5.

Waterpass

y1

y0

He

He2

y2
yp

Sket Percobaan Aliran di bawah pintu

8.3. TEORI

Besarnya debit Q (m3/dt) yang lewat dibawah pintu :

dimana :
Cd = koefisien debit
b

= lebar bukaan pintu (m)

yp = tinggi bukaan pintu (m)


y0 = tinggi air di depan pintu terhadap as bukaan (m)
y1 = tinggi air di hulu (sebelum pintu sorong) (m)
y2 = tinggi air di hilir (setelah pintu sorong) (m)
= tinggi energi di depan pintu = y 0 + V2/2g (m)

He

V = kecepatan aliran di depan pintu (m/dt)

Ada dua macam aliran yang dapat terjadi lewat di bawah pintu. Pertama aliran bebas, dapat
dilihat dengan terjadinya loncatan air di belakang pintu. Kedua aliran tidak bebas, dimana
loncatan air tidak terjadi dan tinggi muka air di belakang pintu > tinggi bukaan pintu (pintu
tenggelam).
Untuk aliran bebas berlaku persamaan debit di atas. Sedang untuk aliran tidak
bebas, persamaan di atas tidak berlaku, harus diturunkan dari persamaan Bernoulli.
Untuk w = 3 inci Qparshall = 0,992 . Ha1,547 (ft3/dt)
1m

= 3,28 ft

y0

= y1- 1/2 yp

= (2.g.He)0.5

Qt

= b.yp.(2.g.He)0.5

Cd

= Qparshall / Qteoritis

NB : Dalam perhitungan debit dipergunakan He karena kita memperhitungkan adanya kecepatan awal di hulu
saluran.

Keterangan:
A0 = Luas penampang di depan pintu
A1 = Luas penampang di belakang pintu

8.4. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Atur dasar flume dalam kedudukan horisontal.
1. Letakkan model pintu sorong pada flume yang akan digunakan (dilakukan oleh
petugas).
2. Ukur dimensi bukaan pintu (dalam percobaan ini bukaan pintu selalu tetap untuk
semua debit).
3. Alirkan air lewat pintu dengan debit tertentu dan buat kondisi aliran bebas
dengan cara mengatur tinggi bukaan tail gate.
4. Ukur tinggi muka air di depan dan di belakang pintu tersebut. Masing-masing
dilakukan 5 kali.
5. Ukur debit percobaan ini dengan alat ukur Parshall (tanpa skotbalk) dengan
prosedur seperti pada pengukuran debit dengan alat parshall.
6. Ulangi percobaan ini dengan debit yang berbeda minimum 5 kali.

8.5. TUGAS
1. Nyatakan hubungan antara tinggi muka air di depan pintu yo dengan
debit lewat bawah pintu Q untuk aliran bebas.
2. Nyatakan hubungan antara rasio y dan yo dengan koefisien debit Cd
untuk aliran bebas.
3. Nyatakan hubungan antara rasio y dan yo dengan koefisien koreksi debit
Cs untuk aliran tak bebas.
4. Gambar garis energi pada setiap percobaan debit.

8.6. DATA PERCOBAAN


yct = 5 cm

= 0,05 m

= 43,7 cm= 0,437 m

= 9,81 m/dt2

Data Percobaan di bawah Pintu

Data Parshall untuk Aliran di bawah Pintu

8.7.

PERHITUNGAN
Contoh Perhitungan :
1. Mencari Koefisien Debit (Cd) untuk Percobaan 1
Tinggi muka air rata-rata dihulu (y1)

: 0,286m

Tinggi muka air rata-rata dihilir (y2)

: 0,037m

y0 = y1 0,5(yP) = 0,297 0,5(0,05) = 0,261 m

V=

= 2,265 m/dt

He =

= 0,523m

Sehingga diperoleh : Qt =

= 0,438 x 0,05 x 3,203 = 0,070 m3/dt

Koefisien debit (Cd) didapatkan :

Cd =

= 0,416

2. Mencari Koefisien Koreksi Debit (Cs) untuk Percobaan 1


Qaliran bawah pintu

=
= 0,416 x 0,438 x 0,05 x 3,203
= 0,029 m3/dt

percobaan Parshall

Cs =

= 0,029 m3/dt

=1

3. Mencari variabel yang mempengaruhi pembuatan garis energi untuk


Percobaan 1
A1= b x y1= 0,438 x 0,286 = 0,125 m2
A2 = b x y2= 0,438 x 0,037= 0,016 m2

V1(depan pintu)

= 0,233 m/dt

V2 (belakang pintu)

= 1,821m/dt

Sehingga dengan cara yang sama untuk prhitungan debit yang lain didapatkan
pada tabel perhitungan sebagai berikut:
Mencari Debit Parshall

Koefisien Debit (Cd) dan Koefisien Koreksi Debit (Cs)

variabel yang mempengaruhi pembuatan garis energi

Hubungan yo dengan Q
0.040
0.030

Q (m3/dt) 0.020
0.010
0.000
0.000 0.100 0.200 0.300

yo (m)

Hubungan y/yo dengan Cd


1.40
1.30

y/yo 1.20
1.10
1.00
0.400

0.420

0.440

0.460

0.480

Cd

Hubungan y/yo dengan Cs


1.40
1.30

y/yo 1.20
1.10
1.00
0.000

1.000

2.000

Cs

67 | P a g e

Praktikum Mekanika Fluida-Aliran

KESIMPULAN
1. Harga Cd yang diperoleh antara 0,416-0,458 (tidak konstan) dikarenakan
tidak memperhitungkan kehilangan energy saat penghitungan secara teoritis.
2. Semakin tinggi permukaan air didepan ambang pintu, maka semakin besar
pula debit yang mengalir, karena dengan bertambahnya tekanan maka
kecepatan juga akan bertambah.
3. Koefisien ( Cd ) merupakan perbandingan antara Q actual ( dari alat ukur
parshall dengan Q teoritis ( dari perumusan ) ).

68 | P a g e

Praktikum Mekanika Fluida-Aliran