Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI


PERCOBAAN IX
RESPON IMUN SEBAGAI TANGGAPAN
TUBUH TERHADAP INFEKTOR

Disusun Oleh :
Kelompok G 4
Amanda Lisetyo P.

1041211004

Awang Surya Wiguna

1041211015

Bonaventura P.P.

1041211021

Catur Adi Kuncoro

1041211023

Christi Karina Nugraheni

1041211025

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2014
PERCOBAAN IX

RESPON IMUN SEBAGAI TANGGAPAN TUBUH


TERHADAP INFEKTOR

A. Tujuan
Setelah mnyelesaikan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
- Memahami dan menerangkan keberadaan dan fungsi sistem pertahanan secara
barier anatomis
- Memahami dan menerangkan fungsi dan mekanisme sistem imun non-spesifik dan
spesifik
- Memahami dan menerangkan kajian respon imun secara in vivo dan in vitro
- Memahami dan menerangkan tejadi reaksi hipersensitivitas tipe I secara
eksperimental in vivo sistemik dan lokal
- Memahami dan menerangkan produk

imun

khususnya

antibody dalam

mengeliminasi antigen atau infektor


B. Dasar Teori
Imunitas adalah kemampuan tubuh untuk menahan atau menghilangkan benda
asing atau sel abnormal yang berpotensi merugikan. Sebagai ulasan singkat, aktivitas
berikut akan membahas sistem imun, suatu sistem internal yang berperan kunci dalam
mengenal dan menghancurkan atau menetralkan benda-benda di dalam tubuh yang
asing bagi diri normal. Musuh asing utaman yang dilawan oleh sistem imun adalah
bakteri dan virus. Bakteri patogeni yang menginvasi tubuh menyebabkan kerusakakn
jaringan dan menimbulkan peyakit terutama dengan cara mengeluarkan enzim atau
toksin yang secara fisik mencederai atau mengganggu fungsi sel dan organ.
Kemampuan suatu patogen menimbulkan penyakit disebut virulensi. Berbeda dari
bakteri, virus bukanlah suatu entitas sel yang dapat berdiri sendiri. Virus hanya terdiri
dari asam nukleat yang terbungsus oleh suatu selubung protein. Cara yang digunakan
virus untuk merusak dan mematikan sel adalah dengan menguras komponenkomponen esensial sel, mendikte sel agar menghasilkan bahan-bahan yang toksik bagi
sel itu sendiri, atau mengubah sel menjadi kanker (Lauralee Sherwood, 2011,hal: 447448).

Tujuan utama sistem imun adalah untuk memepertahankan tubuh dari serangan
mikroorganisme. Darah, cairan transportasi tubuh yang utama, melakukan fungsi vital
dengan mempertahankan homeostatis (keseimbangan fisiologis dan alami lingkungan

internal tubuh). Melalui saluran limfatiknya, sistem imun juga melakukan fungsi
transportasi.
Tidak seperti sistem tubuh lainnya, sistem imun dan darah tidak terdiri dari
kelompok organ sederhana. Sistem imun terdiri dari jutaan sel yang bersirkulasi dan
struktur khusus, seperti nodus limfe yang berlokasi di seluruh tubuh. Darah terdiri atas
elemen cair (plasma) dan elemen padat (sel darah dan trombosit) yang bersirkulasi ke
seluruh tubuh. Limpa membantu darah dan sistem imun dengan bertindak sebagai
reservoir untuk darah dan menghasilkan sel darah. Limpa juga membantu pertahanan
melawan mikroorganisme. Karena sifat difusi sistem imun dalam darah, maka
keduanya dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap sistem tubuh lainnya
(Patricia Gonce Morton, 1995, hal : 393).
Perlindungan dari infeksi dan penyakit diberikan oleh dua komponen utama yaitu
sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif (sistem imun yang diperoleh).
Sistem imun bawaan
Sistem imun bawaan merupakan pertahanan garis terdepan yang menangkis
serangan antigen dan melliputi komponen fisik (misalnya kulit), biokimia (misalnya
komplemen, lisozim), dan komponen seluler (makrofag, neurofil). Kulit yang utuh
atau mukosa merupakan penghalang terjadinya infeksi. Bila penghalang ini ditembus,
penghancuran bakteri dilakukan oleh lisozim, yang memecah dinding sel
peptidoglycan, dan oleh produk-produk pecahan akibat aktivasi komplemen (Bertram
G. Katzung, 2004, hal:357-358).
Sistem umum adaptif
Bila respon imun bawaan tidak memadai untuk mengatasi infeksi, sistem imun
adaptif dimubilisasi lewat tanda-tanda dari respon bawaan. Sistem imun adaptif
memiliki beberapa karakteristik terkenal yang ikut menyumbang keberhasilannya
dalam eliminasi patogen-patogen. Karakteristik ini meliputi (1) kemampuan untuk
merespon berbagai antigen, masing-masing menurut pola yang spesifik; (2)
mempunyai kemampuan untuk membedakan antara antigen-antigen asing dan antigen
sendiri; dan (3) mempunyai kemampuan untuk merespon antigen yang ditemukan
sebelumnya menurut cara yang bisa dipelajari dengan memulai respons memori yang
kuat. Respon adaptif ini mencapai puncaknya dalam produksi antibodi, yang menjadi
efektor imunitas humoral; dan aktivasi limfosit T, yang menjadi efektor imunitas
dimediasi-sel (Bertram G. Katzung, 2004, hal:359).

Terdapat dua kelas respon imun yang didapat (sistem imun adaptif) didapat: imunitas
yang diperantarai oleh antibodi atau imunitas humoral, yang melibatkan pembentukan
antibodi oleh turunan limfosit B yang dikenal sebagai sel plasma, dan imunitas yang
diperantarai oleh sel atau imunitas selular yang melibatkan pembentukan limfosit T
aktif, yang secara langsung menyerang sel yang tidak diinginkan.
Proses pengenalan dan respon sel B dan sel T berbeda. Secara umum, sel B mengenali
mikroba atau benda asing yang berada dalam keadaan bebas misalnya bakteri dan
toksinnya serta beberapa virus, yang dilawan dengan mengeluarkan antibodi spesifik
terhadap benda-benda asing tersebut. Sel T secara khusus mengenal dan
menghancurkan sel tubuh kacau, termasuk sel yang terinfeksi oleh virus dan sel
kanker.
Karena sebagian besar migrasi dan diferensiasi sel T menjadi pada awal masa
perkembangan maka timus secara bertahap mengalami atrofi dan kurang penting
seiring dengan bertambahnya usia. Timosin meningkatkan poliferasi sel T baru di
jaringan limfoid perifer dan memperkuat kamampuan imunologik sel T yang ada. Sel
B dan T harus mampu secara fisik mengenal atau bahan lain yang tidak diperlukan
unutk dihancurkan atau dinetralkan karena berbeda dari sel normal tubuh sendiri.
Keberadaan antigen memungkinkan limfosit melakukan pembedaan tesebut. Antigen
adalah molekul asing bebas yang unik yang memicu respon imun spesifik terhadap
dirinya jika mauk ke dalam tubuh. Secara umum, semakin kompleks suatu molekul,
semakin besar antigenitasnya. Protein asing adalah antigen yang paling umum karena
ukuran dan kompleksitasnya, meskipun makromolekul lain, misalnya polisakarida dan
lemak, juga dapat berfungsi sebagai antigen. Antigen dapat berdiri sendiri misalnya
toksin bakteri, atau merupakan bagian integral dari suatu struktur multimolekul,
misalnya

antigen

2011,hal:457-458).

C. Alat dan Bahan


Alat :

dipermukaan

suatu

mikroba

asing

(Lauralee

Sherwood,

Injeksi 1 ml dan 3 ml
Alat cukur
Bekker glass
Holder mencit
Bahan :
Larutan putih telus (ovalbumin) 25% dalam NaCl 0.9%
Serum
Alkohol 70%

Hewan uji :
Hewan diamati kesehatan dan kelakuan normal seperti laju pernafasan, gerak-gerik.
1 Ekor kelinci
Maing-masing kelompok mendapatkan 3 mencit
Dibagi 2 kelompok, diberi tanda, dicatat berat badan.

Tahap sensitisasi aktif :


Kelinci disensitisasi dengan ovalbumin secara i.c

cara
Dibuat serum antiovalbumin
Diambil darah hewan pada akhir periode sensitisasi

Dilakukan pengenceran dengan Dibiarkan


NaCl 0,9%,
terkoagulasi,
2x dan 4x diambil serum dengan disentrifug

sasi pasif :
Sehari sebelum percobaan, punggung hewan dicukur, dibag
cara
imonoserum D.
antiovalbumin
Skema Kerja dari hewan yang sensitive aktif ke hewan normal lain secara lokal

Disuntikkan serum dan pengenceran sebanyak 0,1ml tiap sektor, di


Dibiarkan selama periode sensitisasi pasif 72jam pada kelinci

cara
Tahap penantangan Disuntikkan secara i.v 0,5ml larutan putih telur 25%

Diukur dan dicatat bentol merah dari waktu ke waktu, selang 15 menit.
Diamati gejala yang terjadi pada daerah penyuntikan imuno

F. Pembahasan
Mekanisme Pertahanan Tubuh (Sistem Imun) merupakan semua mekanisme
yang digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan. Sistem
imun berbeda dengan respon imun di mana respon imun adalah reaksi yang
dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba.
Sistem imun adalah mekanisme atau kemampuan tubuh
dalam

menahan

atau

mengeliminasi

benda

asing

atau

sel

abnormal yang potensial berbahaya bagi tubuh. Tujuan utama

sistem imun adalah untuk mempertahankan tubuh terhadap invasi


sel asing. Sel asing
Pada praktikum ini dilakukan percobaan respon imun terhadap serangan
infeksi. Adapun tujuan praktikum kali ini adalah untuk memahami dan menerangkan
keberadaan dan fungsi sistem pertahanan secara barier anatomis, memahami dan
menerangkan fungsi dan mekanisme sistem imun non-spesifik dan spesifik,
memahami dan menerangkan kajian respon imun secara in vivo dan in vitro,
memahami dan menerangkan tejadi reaksi hipersensitivitas tipe I secara
eksperimental in vivo sistemik dan lokal serta memahami dan menerangkan produk
imun khususnya antibody dalam mengeliminasi antigen atau infektor.
Sistem kekebalan tubuh didefnisikan sebagai semua mekanisme yang
digunakan oleh tubuh untuk menangkal pengaruh faktor atau zat yang berasal dari
lingkungan dan zat tersebut asing bagi tubuh. Tujuan utama sistem imun adalah
untuk mempertahankan tubuh dari serangan mikroorganisme. Respon imun ini dapat
melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit,
komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Kekebalan alami
merupakan pertahanan tubuh yang mendasar dan sudah dimiliki sejak lahir dan
bersifat non-spesifik. Artinya, tidak bersifat khusus terhadap zat asing tertentu.
Sedangkan kekebalan dapatan merupakan pertahanan tubuh yang terbentuk sebagai
respon adanya zat asing yang masuk ke dalam tubuh yang bersifat spesifik dan
memiliki kemampuan mengingat.
Pada percobaan kali ini kita akan melihat respon imun secara spesifik dengan
hewan uji mencit, karena dalam percobaan imunologi dipilih hewan yang
mempunyai kepekaan tinggi karena respon imun ditentukan oleh kepekaan individu
penerima induksi. Sebelumnya dilakukan tahapan sensitisasi aktif pada hewan uji
kelinci yaitu dengan menyuntikan ovalbumin secara intra peritoneal, untuk
membentuk system antibody pada tubuh kelinci. Pada saat praktikum dilakukan
pengambilan darah pada kelinci untuk mendapatkan imunoserum. Serum diambil
dari darah dengan cara sentrifugasi sehingga didapatkan imunoserum yang
mengandung IgE- antiovalbumin yang dapat berperan sebagai antibodi. Untuk
mendapatkan beberapa konsentrasi dilakukan pengenceran menggunakan NaCl 0,9
%. Serum yang mengandung IgE antiovalbumin tersebut akan disensitisasi pasif
pada hewan uji mencit secara subkutan yang sebelumnya penggung mencit yang
telah dicukur punggungnya dan dibagi menjadi 4 sektor yang akan diberikan serum
dengan konsentrasi yang berbeda yaitu tidak diberikan serum, diberikan serum

murni, serum dengan pengenceran 2x dan serum dengan pengenceran 4x, Untuk
selanjutnya ditunggu selama 1 jam dan diberikan putih telur 25% secara intra vena
sebagai infector untuk menimbulkan respon imun. Imunoglobulin yang berada pada
permukaan sel berfungsi sebagai reseptor sel untuk suatu antigan tang disebut B
cell resertor (BCR). Imunoglobulin disekresi dalam bentuk antibody yang dihasilkan
oleh plasma yaitu sel b yang teraktivasi. Antibodi merupakan molekul pertama yang
diketahui terlibat pada pengenalan antigen secara spesifik.
Sel sistem imun adaptif adalah tipe spesial leukosit yang disebut limfosit. Sel
B dan sel T adalah tipe utama limfosit yang berasal dari sel punca hematopoietik
pada sumsum tulang. Sel B ikut serta pada imunitas humoral, sedangkan sel T ikut
serta pada respon imun selular.
Baik sel B dan sel T membawa molekul reseptor yang mengenali target
spesifil. Sel T mengenali target bukan diri sendiri, seperti patogen, hanya setelah
antigen (fragmen kecil patogen) telah diproses dan disampaikan pada kombinasi
dengan reseptor "sendiri" yang disebut molekul major histocompatibility complex
(MHC). Terdapat dua subtipe utama sel T: sel T pembunuh dan sel T pembantu. Sel
T pemnbunuh hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul kelas I MHC,
sementara sel T pembantu hanya mengenali antigen dirangkaikan pada molekul
kelas II MHC. Dua mekanisme penyampaian antigen tersebut memunculkan peran
berbeda dua tipe sel T. Yang ketiga, subtipe minor adalah sel T yang mengenali
antigen yang tidak melekat pada reseptor MHC.
Reseptor antigel sel B adalah molekul antibodi pada permukaan sel B dan
mengenali semua patogen tanpa perlu adanya proses antigen. Tiap keturunan sel B
memiliki antibodi yang berbeda, sehingga kumpulan resptor antigen sel B yang
lengkap melambangkan semua antibodi yang dapat diproduksi oleh tubuh.
Sel T pembunuh adalah sub-grup dari sel T yang membunuh sel yang
terinfeksi dengan virus (dan patogen lainnya), atau merusak dan mematikan patogen.
Seperti sel B, tiap tipe sel T mengenali antigen yang berbeda. Sel T pembunuh
diaktivasi ketika reseptor sel T mereka melekat pada antigen spesifik pada kompleks
dengan reseptor kelas I MHC dari sel lainnya. Pengenalan MHC ini:kompleks
antigen dibantu oleh co-reseptor pada sel T yang disebut CD8. Sel T lalu berkeliling
pada tubuh untuk mencari sel yang reseptor I MHC mengangkat antigen. Ketika sel

T yang aktif menghubungi sel lainnya, sitotoksin dikeluarkan yang membentuk pori
pada membran plasma sel, membiarkan ion, air dan toksin masuk. Hal ini
menyebabkan sel mengalami apoptosis. Sel T pembunuh penting untuk mencegah
replikasi virus. Aktivasi sel T dikontrol dan membutuhkan sinyal aktivasi
antigen/MHC yang sangat kuat, atau penambahan aktivasi sinyak yang disediakan
oleh sel T pembantu. Sel T pembantu mengatur baik respon imun bawaan dan
adaptif dan membantu menentukan tipe respon imun mana yang tubuh akan buat
pada patogen khusus. Sel tersebut tidak memiliki aktivitas sitotoksik dan tidak
membunuh sel yang terinfeksi atau membersihkan patogen secara langsung, namun
mereka mengontrol respon imun dengan mengarahkan sel lain untuk melakukan
tugas tersebut. Sel T pembantu mengekspresikan reseptor sel T yang mengenali
antigen melilit pada molekul MHC kelas II. MHC:antigen kompleks juga dikenali
oleh reseptor sel pembantu CD4 yang merekrut molekul di dalam sel T yang
bertanggung jawab untuk aktivasi sel T. Sel T pembantu memiliki hubungan lebih
lemah dengan MHC:antigen kompleks daripada pengamatan sel T pembunuh, berarti
banyak reseptor (sekitar 200-300) pada sel T pembantu yang harus dililit pada
MHC:antigen untuk mengaktifkan sel pembantu, sementara sel T pembunuh dapat
diaktifkan dengan pertempuran molekul MHC:antigen. Kativasi sel T pembantu juga
membutuhkan durasi pertempuran lebih lama dengan sel yang memiliki antigen.
Aktivasi sel T pembantu yang beristirahat menyebabkan dikeluarkanya sitokin yang
memperluas aktivitas banyak tipe sel. Sinyak sitokin yang diproduksi oleh sel T
pembantu memperbesar fungsi mikrobisidal makrofag dan aktivitas sel T pembunuh.
Aktivasi sel T pembantu menyebabkan molekul diekspresikan pada permukaan sel T,
seperti CD154), yang menyediakan sinyal stimulasi ekstra yang dibutuhkan untuk
mengaktifkan sel B yang memproduksi antibodi.
Sel T memiliki reseptor sel T alternatif yang opposed berlawanan dengan
sel T CD4+ dan CD8+ () dan berbagi karakteristik dengan sel T pembantu, sel T
sitotoksik dan sel NK. Kondisi yang memproduksi respon dari sel T tidak
sepenuhnya dimengerti. Seperti sel T 'diluar kebiasaan' menghasilkan reseptor sel T
konstan, seperti CD1d yang dibatasi sel T pembunuh alami, sel T mengangkang
perbatasan antara imunitas adaptif dan bawaan. Sel T adalah komponen dari
imunitas adaptif karena mereka menyusun kembali gen reseptor sel T untuk
memproduksi perbedaan reseptor dan dapat mengembangkan memori fenotipe.
Berbagai subset adalah bagian dari sistem imun bawaan, karena reseptor sel T atau

reseptor NK yang dilarang dapat digunakan sebagai reseptor pengenalan latar


belakang, contohnya, jumlah besar respon sel T V9/V2 dalam waktu jam untuk
molekul umum yang diproduksi oleh mikroba, dan melarang sel T V1+ T pada
epithelium akan merespon untuk menekal sel epithelial.
Sel B mengidentifikasi patogen ketika antibodi pada permukaan melekat pada
antigen asing. Antigen/antibodi kompleks ini diambil oleh sel B dan diprosesi oleh
proteolisis ke peptid. Sel B lalu menampilkan peptid antigenik pada permukaan
molekul MHC kelas II. Kombinasi MHC dan antigen menarik sel T pembantu yang
cocok, yang melepas limfokin dan mengaktivkan sel B. Sel B yang aktif lalu mulai
membagi keturunannya (sel plasma) mengeluarkan jutaan kopi limfa yang
mengenali antigen itu. Antibodi tersebut diedarkan pada plasma darah dan limfa,
melilit pada patogen menunjukan antigen dan menandai mereka untuk dihancurkan
oleh aktivasi komplemen atau untuk penghancuran oleh fagosit. Antibodi juga dapat
menetralisir tantangan secara langsung dengan melilit toksin bakteri atau dengan
mengganggu dengan reseptor yang digunakan virus dan bakteri untuk menginfeksi
sel.
Hipersensitivitas (atau reaksi hipersensitivitas) adalah reaksi berlebihan, tidak
diinginkan karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak, menghasilkan
ketidaknyamanan, dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem
kekebalan normal. Hipersensitivitas merupakan reaksi imun tipe I, namun
berdasarkan mekanisme dan waktu yang dibutuhkan untuk reaksi, hipersensitivitas
terbagi menjadi empat tipe lagi: tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV. Penyakit tertentu
dapat dikarenakan satu atau beberapa jenis reaksi hipersensitivitas. Hipersensitifitas
tipe I disebut juga sebagai hipersensitivitas langsung atau anafilaktik. Reaksi ini
berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan saluran
gastrointestinal. Reaksi ini dapat mengakibatkan gejala yang beragam, mulai dari
ketidaknyamanan kecil hingga kematian. Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit
setelah terpapar antigen, namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal
hingga 10-12 jam. Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE).
Komponen seluler utama pada reaksi ini adalah mastosit atau basofil. Reaksi ini
diperkuat dan dipengaruhi oleh keping darah, neutrofil, dan eosinofil.
Pada hasil percobaan, yaitu 6 kelompok dengan jumlah mencit yang diinduksi
masing- masing 3 mencit, berdasarkan data yang diperoleh dari pengamatan selama

1jam yang diamati setiap 15 menit, jumlah bentol pada sektor 2 selalu terdapat
bentol dengan jumlah yang lebih banyak daripada sektor lainnya.. Sektor 2 atau pada
pemberian serum murni lebih banyak bentol karena serum murni bertindak sebagai
antibodi yang akan memberikan respon berlebih pada antigen yang diberikan
sehingga akan menghasilkan reaksi hipersensitiv berlebih, sedangkan sektor 3 atau
pemberian imonuserum yang dengan pengenceran 2 x, dimana konsentrasi antibody
lebih rendah daripada serum murni, sehingga responnya lebih agak lambat daripada
sektor 2. Pada sektor yang tidak diberikan serum, akan memberikan respon yang
lambat terhadap antigen, hal ini diketahui dengan tidak munculnya bentol pada
sector tersebut.
G. Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa jumlah atau
konsentrasi antibody yang berlebih akan menimbulkan respon
imun yang lebih cepat pula sebagai respon dari antibody terhadap
antigen. Hal tersebut dilihat dari kecepatan responya terhadap
antigen.
Menurut teorinya pada serum murni > serum pengenceran 2x
> serum pengenceran 4x > tidak diberikan serum, dalam
praktikum menunjukkan serum murni > serum pengenceran 2x >
serum pengenceran 4x > tidak diberikan serum. Hal ini sudah
sesuai pada teorinya.
H. Daftar Pustaka
Gonce Morton, Patricia. 1995. Panduan Pemeriksaan Kesehatan Dengan

Dokumentasi SOAPIE Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia : dari sel ke sistem ed. 6. Jakarta:

EGC
Katzung, Bertram G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi pertama. Jakarta:
Salemba Medika

Dosen Pembimbing

Andriani, M.Sc.,Apt

Semarang, 18 Juni 2014


Praktikan

Amanda Lisetyo P.

(1041211004)

FX. Sulistyanto, S.Si ,Apt

Awang Surya W.

(1041211015)

Bonaventura P.P.

(1041211021)

Catur Adi Kuncoro

(1041211023)

Christi Karina N.

(1041211025)