Anda di halaman 1dari 12

TEORI KEPRIBADIAN ERICH FROMM

A. Inti Teori Erich Fromm


Teori Fromm adalah campuran yang unik dari Freud dan Marx,
Pendekatan Fromm, terkadang disebut humanism dialektika. Tesis dasar erich
fromm menyatakan bahwa manusia pada masa modern telah berpisah dari
kesatuan prasejarah dengan alam dan juga satu sama lain, namun dikatakan
bahwa manusia sendiri memiliki kekuatan akal, antisipasi dan imajinasi.
Paduan akan kurangnya insting kebinatangan dan adanya pikiran yang
rasional menjadikan manusia sebagai suatu keganjilan dalam alam semesta.
Menurut fromm ketika manusia muncul sebagai suatu spesies yang
terpisah dari evolusi binatang, manusia kehilangan sebagian besar insting
kebinatangannya,

namun

manusia

mendapat

peningkatan

dalam

perkembangan otak yang akhirnya membuat manusia memiliki realisasi diri,


imajinasi, perencanaan dan juga keraguan . dan pada akhirnya paduan inilah
yang membedakan antara manusia dengan binatang.
Dengan latar belakang pendidikan ajaran psikoanalisis freud dan
dipengaruhi oleh karl marx akhirnya fromm mengembangkan teori
kepribadian yang menekankan pengaruh factor sosiobiologis dan sejarah.
Psikoanalisis humanistis fromm menyatakan bahwa terpisahnya manusia
dengan dunia alam menghasilkan perasaan kesendirian dan isolasi, perasaanperasaan itulah yang membawa manusia pada suatu kondisi yang disebut
sebagai kecemasan dasar (basic anxiety).
Asumsi dasar fromm bahwa kepribadian individu dapat dimengerti hanya
dengan memahami sejarah manusia, Manusia tidak memiliki insting kuat
untuk beradaptasi dengan dunia yang berubah, namun manusia telah
memperoleh kemampuan bernalar, keadaan yang berubah dan kemudian
manusia menghadapi keadaan itu dengan bernalar disebut froom sebagai
dilema manusia. Manusia mengalami dilema dasar ini karena mereka telah

terpisah dengan alam, namun memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa


diri mereka telah menjadi makhluk yang terasing. Kemampuan bernalar
manusia adalah anugrah dan juga kutukan. Di satu sisi, kemampuan ini
membiarkan manusia bertahan, namun di sisi lain, hal ini memaksa manusia
berusaha untuk menyelesaikan dikotomi (hal yang berbeda yang sangat sulit
untuk disatukan). Fromm menyebut hal tersebut sebagai dikotomi
eksistensial(existensial dichotomies). Manusia hanya bisa bereaksi terhadap
dikotomi ini tergantung pada kultur dan kepribadian masing-masing individu.
Menurut Fromm dikotomi pertama dan paling fundamental adalah antara
hidup dan mati. Realisasi diri dan nalar mengatakan bahwa kita akan mati,
namun kita berusaha mengingkari hal ini dengan menganggap adanya
kehidupan setelah kematian, usaha yang tidak merubah fakta bahwa hidup kita
akan diakhiri dengan kematian.
Dikotomi ekstensial kedua adalah bahwa manusia mampu membentuk
konsep tujuan dari realisasi diri, namun kita juga menyadari bahwa hidup
hidup terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu. Dikotomi ekstensial ketiga
adalah bahwa manusia pada akhirnya hanya sendiri, namun kita tetap tidak
bisa menerima pengucilan atau isolasi. Mereka sadar bahwa dirinya adalah
individu yang terpisah, di saat yang bersamaan mereka percaya bahwa
kebahagiaan mereka bergantung pada ikatan mereka dengan manusia lain.
Walaupun

manusia

tidak

dapat

menyelesaikan

permasalahan

antara

kesendirian atau ikatan kebersamaan, mereka harus berusaha atau mereka


terancam menjadi gila.
B. Dinamika Kepribadian Erich Fromm
Kebutuhan Manusia
Manusia tidak dapat menyatu dengan alam, mereka terisolasi dan
kesepian. Agar dapat bertahan hidup manusia harus menyatu dengan yang lain
serta memenuhi kebutuhan kebutuhannya. Pada umumnya, kata kebutuhan
diartikan sebagai kebutuhan fisik, yang oleh fromm dipandang sebagai

kebutuhan aspek kebinatangan dari manusia, yakni kebutuhan makan, minum,


seks dan bebas dari rasa sakit. Kebutuhan manusia dalam arti kebutuhan
sesuai dengan eksistensinya sebagai manusia, sehingga menurut fromm ada
dua kelompok kebutuhan yakni :
-

Kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang otonom (kebutuhan


kebebasan dan keterikatan) , yang terdiri atas :
a. Kebutuhan akan keterhubungan (Relatedness)
Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan untuk mengatasi
perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri.
Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai, dan
menjadi bagian dari sesuatu. Fromm menyatakan tiga cara dasar bagi
manusia untuk terhubung dengan dunia yaitu kepasrahan, kekuasaan dan
cinta. Seseorang dapat pasrah pada orang lain ataupun suatu kelompok,
agar menjadi bagian dari satu dunia dengan orang atau kelompok itu
sendiri. Karena dengan cara ini keberadaannya sebagai individu tidak lagi
terpisah dan ia menjadi bagian dari seseorang atau sesuatu. Ketika
seseorang yang dominan dan seseorang yang pasrah

tadi saling

menemukan, maka mereka sering kali menciptakan hubungan simbiosis,


yang memuaskan keduanya.
Walaupun simbiosis tersebut menyenangkan , namun hal ini ternyata
menghalangi pertumbuhan menuju integritas dan kesehatan psikologis.
Karena keduanya hidup dari satu sama lain, memuaskan kebutuhan
mereka akan kedekatan, namun kekurangan kekuatan dari dalam diri
sendiri dan menjadi lebih ketergantungan. Orang-orang dalam hubungan
simbiosis saling tertarik bukan oleh cinta, namun karena putus asa dalam
memenuhi kebutuhan akan keterhubungan, sehingga pada akhirnya
mereka terus bergantung untuk memuaskan kebutuhannya.
b. Kebutuhan akan keterunggulan (transcendence)

Manusia menyadari dirinya sendiri dan lingkungan tempat dia berada.


Manusia kemudian mengenali dan melihat betapa kuat dan menakutkan
alam semesta, yang membuat manusia menjadi tidak berdaya dalam
menghadapinya, kemudian manusia ingin mengatasi perasaan takut dan
ketidakpastian dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu. Pada
akhirnya melihat kondisi seperti itu manusia kemudian membutuhkan
peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat pasif dan kemudian
menjadi aktif, menjadi manusia yang bertujuan dan bebas, hingga menjadi
makhluk yang dapat menciptakan atau menghancurkan sesuatu.
c. Kebutuhan akan keberakaran (Rootedness)
Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan
ikatan yang akan membuat seorang manusia merasa nyaman di
kehidupannya. Dikatakan bahwa manusia menjadi asing dngan dunianya
karena dua alasan yaitu karena manusia direnggut dari akar akar
hubungannya oleh situasi dan karena fikiran dan kebebasan yang
dikembangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan
perasaan isolasi atau tidak berdaya. Keberakaran sendiri adalah kebutuhan
untuk mengikatkan diri dengan kehidupan. Setiap saat manusia
dihadapkan dengan kondisi dunia yang baru, dimana manusia harus tetap
aktif dan kreatif mengembangkan perasaan menjadi bagian yang integral
dari dari dunia. Dengan demikan manusia akan tetap merasa aman, tidak
cemas saat berada di tengah-tengah dunia yang penuh ancaman.

d. Kepekaan akan identitas (sense of identity)


Manusia memiliki kebutuhan untuk menjadi diri sendiri, dimana
manusia merasakan untuk dapat mengontrol nasibnya sendiri. Tanpa
sebuah kepekaan akan identitas, manusia tidak dapat mempertahankan
kewarasan mereka dan ancaman ini akhirnya dapat mendorong manusia
untuk mendapatkan kepekaan akan identitas dengan hal lain seperti orang

modern mengidentifikasikan diri mereka dengan Negara, agama, pekerjaan


atau kelompok tertentu sehingga akhirnya terjadi ilusi identitas, dimana
manusia manusia menjadi lebih mudah menyerah, banyak membutuhkan
penyesuaian diri. Dan akhirnya mengorbankan kebebasan diri agar
diterima oleh lingkungan.
-

Kebutuhan yang kedua menurut fromm adalah kebutuhan untuk


memahami dunia, mempunyai tujuan dan memanfaatkan sifat unik yang
terdiri atas :.
a. Kerangka Orientasi ( frame of orientation)
Orang membutuhkan peta mengenai dunia social dan dunia
alaminya; tanpa peta itu dia akan bingung dan tidak mampu bertingkah
laku,

karena

manusia

selalu

dihadapkan

pada

fenomena

yang

membingungkan dan realitas yang menakutkan, sehingga manusia


membutuhkan hidupnya menjadi bermakna. Maka dapat disimpulkan
bahwa kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai
eksistensi hidup manusia, perjalanan hidup ataupun tingkahlaku.
b. Kerangka pengabdian ( frame of devition)
Kebutuhan manusia untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak; Tuhan.
Orang membutuhkan sesuatu yang menerima seluruh pengabdian
hidupnya, sesuatu yang membuat hidupnya bermakna, sehingga dapat
disimpulkan kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan
pencarian makna hidup, menjadi dasar dari nilai nilai dan titik puncak dari
semua perjuangan.

c. Stimulasi ( stimulation)
Kebutuhan untuk melatih system syaraf atau untuk memanfaatkan
kempuan otak. Manusia membutuhkan bukan sekedar stimulus sederhana
tetapi stimulus yang mengaktifkan jiwa misalnya puisi.

d. Keefektivan (effectivity)
Manusia memiliki kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri,
melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/kemampuan diri
manusia itu sendiri.

Beban Kebebasan ( The burden of freedom)


Menurut sejarah seiring perkembangan jaman, manusia semakin

memperoleh kebebasannya , namun bersamaan dengan keadaan itu pula


manusia menjadi semakin merasa terasing. Contohnya, selama abad
pertengahan individu/manusia memiliki kebebasan pribadi yang terbatas, dan
terkurung peran yang diberikan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya, peran
yang diberikan masyarakat ternyata menyediakan rasa aman, tempat
bergantung dan juga kepastian. namun kemudian setelah individu/manusia itu
mendapatkan kebebasan pribadi yang selama ini dibatasi akhirnya individu itu
sadar bahwa mereka terlepas dari rasa aman yang diberikan. Individu akhirnya
menjadi terpisah dari asal mereka dan merasa terasingkan satu sama lain.
Perasaan terlepas dari rasa aman dan merasa terasingkan ternyata
menimbulkan sebuah beban, beban ini menciptakan kecemasan dasar (basic
anxiety), yaitu perasaan bahwa kita hanya sendirian di dunia.

Mekanisme Pelarian ( Mechanism Escape)


Oleh karena kecemasan dasar menghasilkan rasa keterasingan dan

kesendirian yang menakutkan, maka manusia berusaha lari dari kebebasan


melalui berbagai macam mekanisme pelarian. Dalam Escape from freedom
disebutkan ada tiga mekanisme dasar dari pelarian, yaitu :
a. Authoritarianism
Fromm mendefinisikan authoritarianism sebagai kecenderungan untuk
menerahkan seseorang secara individu dan meleburkannya dengan
seseorang atau sesuatu diluar dirinya demi mendapatkan kekuatan yang

tidak dimilikinya. Kebutuhan untuk bersatu dengan mitra yang kuat ini
dapat berupa dua hal yaitu masokisme atau sadisme. Masokisme sendiri
timbul dari rasa ketidak berdayaan, lemah, serta rendah diri dan memiliki
tujuan untuk menggabungkan diti dengan orang atau institusi yang lebih
kuat.
Sementara sadisme lebih berbahaya secara social dibandingkan dengan
masokisme, sadisme bertujuan mengurangi kecemasan dasar dengan
mencapai kesatuan antara satu orang atau lebih. Fromm memperkenalkan
ada tiga jenis kecenderungan sadisme yang semuanya tergolong sama.
Jenis dari sadisme yang pertama adalah kebutuhan untuk membuat orang
lain bergantung pada diri dan akan berkuasa pada mereka yang cenderung
lemah. Jenis yang kedua adalah keinginan untuk mengeksploitasi orang
lain dan menggunakan orang tersebut untuk keuntungan dirinya sendiri.
Kecenderungan yang ketiga adalah keinginan untuk melihat orang lain
menderita, baik secara fisik maupun psikologis.
b. Sifat Merusak ( destructiveness)
Sifat merusak berasal dari perasaan kesendirian, keterasingan serta
ketidak berdayaan, sifat merusak sendiri tidak bergantung pada hubungan
berkesinambungan dengan orang lain, melainkan mencari jalan untuk
menghilangkan/membalas orang atau objek lain. Dengan membalas,
merusak, menghancurkan sebuah objek maka seseorang sedang dalam
keadaan berusaha untuk mendapatkan kembali rasa kekuasaan yang
hilang.
c. Konformitas (Conformity)
Orang yang melakukan konformitas berusaha untuk melarikan diri dari
rasa kesendirian dan keterasingan dengan menyerahkan individualitas
mereka dan menjadi apapun yang orang lain inginkan. Dengan demikian,
mereka

jadi

seperti

robot,

memberikan

reaksi

yang

dapat

diperkirakansecara otomatis sesuai dengan olah orang lain. Mereka jarang


mengungkapkan pendapat mereka sendiri.
C. Struktur Kepribadian Erich Fromm
Fromm mendefinisikan kepribadian sebagai sebuah system yang relative
permanen dari semua dorongan noninsting, dimana dalam melaluinya manusia
menghubungkan dirinya dengan dunia manusia dan alam. Dalam teorinya
fromm menjelaskan bahwa kepribadian tercermin pada orientasi karakter
seseorang, yaitu cara relative manusia yang permanen untuk berhubungan
dengan orang lain. Fromm percaya bahwa karakter adalah pengganti
kurangnya insting.
Dalam formulasi proses perkembangan individu, fromm memusatkan pada
kondisi social dan cultural unik yang mempengaruhi proses perkembangan
karakter dan pemuasan kebutuhan dasar serta eksistensi manusia, ini berbeda
dari freud yang menekankan pada factor biologi. Fromm tertarik pada aspek
cultural. Fromm menyebut kepribadian yang sehat adalah yang berorientasi
produktif dan yang tidak sehat adalah yang berorientasi non produktif.
Sehingga secara umum, manusia dapat menghubungkan dirinya dengan hal
atau orang lain dengan cara produktif maupun nonproduktif.

Orientasi Produktif
Tipe karakter yang mengutamakan kehidupan. Dalam pandangan
fromm, orang tipe ini mencintai kehidupan dan ingin membentuk atau
mempengaruhi orang lain dengan bekerja, mencintai dan bernalar. Tipe ini
mampu menciptakan cinta yang dewasa. Berikut ini adalah aspek-aspek
kepribadian yang sehat dengan orientasi produktif menurut fromm yaitu :
-

Cinta yang produktif, merupakan suatu hubungan manusia yang bebas


dan sederajat. Cinta yang produktif menyangkut empat sifat yaitu:
perhatian,tanggung jawab, respek dan pengetahuan. Mencintai berarti
bersungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan mereka, serta

membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Cinta yang


produktif merupakan suatu kegiatan bukan suatu nafsu. Cinta produktif
ini tidak terbatas pada cinta erotis, tetapi mungkin cinta persaudaraan
-

atau cinta keibuan.


Manusia yang sehat menilai kerja bukan sebagai akhir, melainkan
sebagai cara pengekspresian diri secara kreatif. Mereka tidak bekerja
untuk mengeksploitasi orang lain atau mengakumulasi kepemilikian
material yang tidak dibutuhkan. Mereka tidak malas atau aktif, namun
kompulsif, melainkan menggunakan kerja sebagai cara memproduksi

hal-hal yang dibutuhkan untuk hidup.


Pikiran yang produktif, meliputi kecerdasan, pertimbangan dan
objektifitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat
terhadap objek pikiran. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh
gejala dengan mempelajarinya, bukan pada kepingan-kepingan dan
potongan-potongan gejala yang terpisah. Menurut fromm semua
penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif
dimana para pemikir didorong oleh ketelitian, respek dan perhatian
untuk menilai secara objektif seluruh permasalahan yang ada.

Orientasi nonproduktif
From menggunakan istilah nonproduktif untuk menerangkan cara

cara yang gagal untuk menggerakan manusia lebih dekat pada kebebasan
positif dan realisasi diri. Manusia dapat memperoleh sesuatu melalui lima
orientasi non produktif ini yaitu :
-

Tipe karakter menerima (Receptive character)


Karakter reseptif merasa bahwa sumber segala hal yang baik berada di

luar diri mereka sendiri dan satu satunya cara untuk berhubungan dengan
dunia adalah dengan menerima sesuatu termasuk cinta ataupun
pengetahuan. Karakter seperti ini cendrung lebih berpikir untuk menerima
daripada memberi dan mereka ingin orang lain menyirami mereka dengan
cinta, gagasan dan hadiah. Kebayakan karakter demikian periang dan

bersahabat. Ketika menghadap situasi sulit, mereka menjadi putus asa dan
bergantung pada orang lain dan tidak pada sumber intelektual mereka
sendiri untuk memecahkan masalahnya. Kualitas negative orang orang
reseptif adalah mencakup kepasifan, kepasrahan dan kurangnya rasa
ercaya diri. sifat positif mereka adalah kesetiaan, penerimaan dan rasa
percaya.
-

Tipe karakter Eksploitatif (exploitative Character)


Seperti orang-orang reseptif, karakter eksploitatif percaya bahwa

sumber segala hal yang baik berada diluar mereka. Berbeda dengan orang
orang reseptif, tipe karakter ini mengambil secara agresif apa yang mereka
inginkan, bukan menerima secara pasif. Dalam hubungan social tipe
seperti cenderung menggunakan kelicikan atau kekuatan untuk mengambil
gagasan atau hal apapun yang menjadi milik orang lain. Sisi negative tipe
karakter eksploitatif yaitu egosentris, angkuh, arogan. Sedangkan sisi
positifnya yaitu impulsive, bangga, menarik dan percaya diri.
-

Tipe karakter menimbun ( Hoarding character)


Tipe karakter ini memiliki kepercayaan kecil akan kebaikan di dunia

luar. Sebagai konsekuensinya, mereka berhubungan dengan dunia luar


dengan cara yang negative. Tipe ini memendam semuanya di dalam dan
tidak mau melepaskannya sama sekali. Seperti menyimpan uang, perasaan
serta pikirannya sendiri.
-

Tipe Karakter Nekrophilia (Necrophilious Character)


Necrophilia merupakan satu karakter turunan dari karakter anal yang

berbahaya, kalau hoarding character memperlihatkan perilaku dekstruktif


yang pasif dan dalam bentuk menarik diri, necrophilia memperlihatkan
perilaku dekstruktif dengan mengeksploitasi dan merusak orang lain atau
benda- benda, serta alam lingkungan. Mereka adalah tipe orang yang
tertarik dan berpenampilan pada segala bentuk kematian. Mereka senang

berbicara soal penyiksaan, kematian dan penguburan. Lebih jauh mereka


sangat terikat dengan kekuatan dan kekuasaan.
-

Tipe Karakter Pasar (Marketing Character)


Fromm mengatakan bahwa orientasi ini hanya berkembang pada

masyarakat industry. Dalam masyarakat demikian, orang belajar untuk


memperlakukan diri mereka sendiri dan orang lain seperti komoditi
dengan satu nilai tukar tertentu dalam satu interaksi parallel
D. Kelebihan dan Kekurangan teori Erich Fromm
Kelebihan Teori
- Pendekatan fromm pada kepribadian mempunyai prespektif yang luas,
from dengan teorinya bukan semata mata tentang psikoanalisis, tetapi
melalui teorinya dia juga menyerap informasi dari displin lain seperti
-

sejarah, sosiologi dan antroplogi


Melalui teorinya fromm menunjukkan kepada pada khalayak
interpretasi yang unik tentang interaksi antara humanistas dan
masyarakat yang dari hal itu pula semakin menyadarkan kita pengaruh
antara faktor factor social,ekonomi, psikologi dalam hakikat

kemanusiaan.
Kekurangan teori
Ada beberapa Istilah-istilah fromm yang kurang jelas dan samar
menjadikan gagasan sulit untuk dijadikan bahan acuan generator

penelitian empiris.
Teori yang dikemukakan oleh from terlalu filosofis untuk dapat di
benarkan atau untuk sekedar di verifikasi.

Referensi :
Feist, J. & Feist, G.J. 2013. Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta:Salemba Humanika
Alwisol. 2009. Edisi Revisi Psikoogi Kepribadian. UMM Press
Calvin, Gardner, John C & Martin manosevitz. 1985. Introduction to Theories of
personality. Canada: John Wiley & sons, Inc
Taniputera, ivan. 2005. Psikologi Kepribadian. Jogjakarta: AR-RUZZ Media