Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

1.2

Latar Belakang
Titanium adalah logam berlimpah nomor empat di dunia setelah aluminium,
besi, dan magnesium. Selain itu, titanium juga merupakan elemen berlimpah
kesembilan (mencakup 0,63% pada kerak bumi) ditemukan pada tahun 1791 di
Inggris oleh Reverend William Gregor, yang diberi nama sebagai ilmenite. Elemen ini
ditemukan kembali beberapa tahun kemudian oleh German Chemist Heinrich
Klaporth dalam bentuk rutile. Logam titanium tidak pernah ditemukan sendirian,
keberadaannya selalu berikatan dengan mineral lainnya seperti rutile, ilmenite,
leucoxene, anatase, brookite, perovskite, dan sphene yang ditemukan dalam titanat
dan beberapa besi ore. Titanium juga ditemukan dalam batu bara, abu, tanaman dan
dalam tubuh manusia (O. Carp, 2004).
Material yang mengandung titanium dan paling banyak ada di bumi dan paling
sering dimanfaatkan oleh manusia adalah rutile dan anatase. Rutile adalah bentuk
paling stabil dari titania dan paling banyak ditemukan pada sumber titanium. Titanium
dioksida dapat dibuat dari bahan-bahan alam yang ada di alam, umumnya berasal dari
ilminate yang berasal dari China, Norwegia, Uni Soviet (pasir), Australia (pasir),
Kanada dan Afrika selatan (pasir) (O. Carp, 2004). Titania dapat diaplikasikan sebagai
bahan fotokatalisis, sensor gas, pembersih polutan yang ada di udara, tanah dan air,
sebagai bahan campuran cat agar tahan korosi, pelapis alat-alat dibidang kedokteran,
kosmetik, sel surya, penyerap gelombang elektromagnetik dan lain-lain.
Permasalahan
Dalam memahami tentang bahan titanium dan molibdenum ini terdapat
beberapa aspek permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini yaitu sebagai
berikut :
1. Sejarah dan pengertian serta sumber dari titanium dan paduannya
2. Proses Pembuatan Titanium dan paduannya beserta aplikasinya.
3. Klasifikasi paduan Titanium dan Paduannya

1.3

Tujuan
Makalah tentang bahan Titanium dan Paduannya ini bertujuan untuk:
1.

Mengetahui dan memahami sifat-sifat dari Titanium dan Paduannya


meliputi sifat fisik, sifat kimia dan sifat mekanik.

Titanium dan Paduannya | 1

2. Mengetahui dan memahami proses pembuatan Titanium dan


paduannya.
3. Mengetahui aplikasi dari Titanium dan paduannya dalam berbagai
aspek.
4. Mengetahui paduan-paduan (alloy) dari Titanium

Titanium dan Paduannya | 2

BAB II
TITANIUM DAN PADUANNYA

2.1 Sejarah
Titanium pertama kali ditemukan dalam mineral di Cornwall, Inggris, tahun
1791 oleh geolog amatir dan pendeta William Gregor kemudian oleh pendeta Kredo
paroki. Ia mengenali adanya unsur baru dalam ilmenite ketika ia menemukan pasir
hitam sungai di dekat paroki dari Manaccan dan melihat pasir tertarik oleh magnet.
Analisis terhadap pasir tersebut menunjukkan adanya kehadiran dua oksida logam,
yaitu besi oksida (menjelaskan daya tarik magnet) dan 45,25% dari metalik putih
oksida yang pada saat itu belum dapat dipastikan jenisnya. Gregor yang menyadari
bahwa unsur tak dikenal yang mengandung oksida logam tersebut tidak memiliki
kesamaan dengan sifat-sifat dari unsur yang telah lebih awal dikatahui, melaporkan
penemuannya kepada Royal Geological Society of Cornwall dan di jurnal ilmiah
Jerman Crells Annalen.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Franz-Joseph Mller von Reichenstein
menghasilkan substansi yang serupa, tetapi tidak dapat mengidentifikasi unsur
tersebut. Oksida secara independen ditemukan kembali pada tahun 1795 oleh Jerman
kimiawan Martin Heinrich Klaproth di dalam rutil dari Hungaria. Klaproth
menemukan bahwa hal itu berisi unsur baru dan menamakannya Titan yang
merupakan nama dewa matahari dari mitologi Yunani. Setelah mendengar tentang
penemuan Gregor sebelumnya, ia memperoleh sampel manaccanite yang di dalamnya
terdapat titanium.
2.2 Pengertian
Titanium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki symbol
Ti dan nomor atom 22 yang ditemukan pada tahun 1791 tetapi tidak diproduksi secara
komersial hingga tahun 1950-an. Titanium ditemukan di Inggris oleh William Gregor
Titanium dan Paduannya | 3

dalam 1791 dan dinamai oleh Martin Heinrich Klaproth untuk Titan dari mitologi
Yunani.
Titanium merupakan logam transisi yang ringan, kuat, tahan korosi termasuk
tahan air laut dan chlorine dengan warna putih-metalik-keperakan. Titanium
digunakan dalam alloy (terutama dengan besi dan alumunium) dan senyawa
terbanyaknya, titanium dioksida, digunakan dalam pigmen putih. Salah satu
karakteristik titanium yang paling terkenal yaitu bersifat sama kuat dengan baja tetapi
beratnya hanya 60% dari berat baja. Sifat titanium mirip dengan zirconium secara
kimia maupun fisika. Titanium dihargai lebih mahal daripada emas karena sifat-sifat
logamnya.
Unsur ini terdapat di banyak mineral dengan sumber utama adalah rutile dan
ilmenit, yang tersebar luas di seluruh Bumi. Ada dua bentuk alotropi dan lima isotop
alami dari unsur ini; Ti-46 sampai Ti-50 dengan Ti-48 yang paling banyak terdapat di
alam (73,8).
2.3 Sumber Titanium
Titanium selalu berikatan dengan elemen-elemen lain di alam. Titanium
merupakan unsur yang jumlahnya melimpah ke-9 di kerak bumi (0,63% berat massa)
dan logam ke-7 paling berlimpah. Titanium selalu ada dalam igneous rock (bebatuan)
dan dalam sedimen yang diambil dari bebatuan tersebut. Dari 801 jenis batuan yang
dianalisis oleh United States Geological Survey, terdapat 784 diantaranya
mengandung titanium. Perbandingan Ti di dlam tanah adalah sekitar 0,5 sampai 1,5%.
Titanium ditemukan di meteorit dan telah dideteksi di dalam matahari serta
pada bintang tipe-M, yaitu jenis bintang dengan suhu terdingin dengan temperatur
permukaan sebesar 32000F atau 57900F. Bebatuan yang diambil oleh misi Apollo 17
menunjukkan keberadaan TiO2 sebanyak 12,1%. Titanium juga terdapat dalam
mineral rutile (TiO2), ilmenite (FeTiO3),dan sphene, dan terdapat dalam titanate dan
bijih besi. Dari mineral-mineral ini, hanya Rutile dan ilmenite memiliki kegunaan
secara ekonomi, walaupun sulit ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi.
Keberadaan Titanium dengan bijih berupa ilmenit berada di bagian barat Australia,
Kanada, Cina, India, Selandia Baru, Norwegia, dan Ukraina. Rutile dalam jumlah
banyak pun juga ditambang di Amerika Utara dan Afrika Selatan dan membantu
berkontribusi terhadap produksi tahunan 90.000 ton logam dan 4,3 juta ton titanium
Titanium dan Paduannya | 4

dioksida . Jumlah cadangan dari titanium diperkirakan melebihi 600 juta ton. Berikut
adalah tabel penjelasan mengenai sifat-sifat dari sumber-sumber titanium.
Kategori

Mineral

Rumus Kimia

Titanium dioksida (TiO2)

Warna

Abu-abu,coklat,ungu atau hitam

Bentuk Kristal

Segi Empat

Skala kekerasan Mohs

5,5-6,5

Berat jenis (g/cm3)

4,23-5,5

Kelarutan

Tidak larut dalam asam


Tabel 1.Sifat Rutile

Rumus kimia

FeTiO 3 FeTiO3

Bentuk kristal

trigonal trigonal

Warna

schwarz, stahlgrau hitam

Skala kekerasan Mohs

5 bis 5 5-5

(g/cm) Berat Jenis (g / cm )

4,5 bis 5 4,5-5


Tabel 2.Sifat Ilmenit
hijau, kuning, putih, coklat atau

Warna

hitam

Bentuk Kristal

Monoklinik

Berat jenis (g/cm3)

3,3 - 3,6

Specific Gravity is 3.3 - 3.6Tabel 3.Sifat Sphene

Titanium juga terdapat di debu batubara, dalam tumbuhan dan dalam tubuh manusia.
Sampai pada tahun 1946, proses pembuatan logam Ti di laboratorium yang
dilakukan oleh Kroll menunjukkan cara memproduksi Titanium secara komersil
dengan mereduksi titanium tetraklorida dengan magnesium. Selanjutnya logam
titanium dapat dimurnikan dengan cara mendekomposisikan iodanya

Titanium dan Paduannya | 5

2.4 Sifat-Sifat Titanium


Titanium murni merupakan logam putih yang sangat bercahaya. Ia memiliki
berat jenis rendah, kekuatan yang bagus, mudah dibentuk dan memiliki resistansi
korosi yang baik. Jika logam ini tidak mengandung oksigen, ia bersifat ductile.
Titanium merupakan satu-satunya logam yang terbakar dalam nitrogen dan udara.
Titanium juga memiliki resistansi terhadap asam sulfur dan asam hidroklorida yang
larut, kebanyakan asam organik lainnya, gas klor dan solusi klorida. Titanium murni
diketahui dapat menjadi radioaktif setelah dibombardir dengan deuterons. Radiasi
yang dihasilkan adalah positrons dan sinar gamma. Ketika sinar gamma ini
direaksikan dengan oksigen, dan ketika mencapai suhu 550 C (1022 F) , sinar
tersebut bereaksi dengan klorin. Sinar ini kemudian bereaksi dengan halogen yang
lain dan menyerap hidrogen.
Logam ini dimorphic. Bentuk alfa heksagonal berubah menjadi bentuk beta
kubus secara perlahan-lahan pada suhu 8800C. Logam titanium tidak bereaksi dengan
fisiologi tubuh manusia (physiologically inert). Titanium oksida murni memiliki
indeks refraksi yang tinggi dengan dispersi optik yang lebih tinggi daripada berlian.

2.4.1

Sifat Fisik
Titanium bersifat paramagnetik (lemah tertarik dengan magnet) dan memiliki

konduktivitas listrik dan konduktivitas termal yang cukup rendah.


Sifat Fisik

Keterangan

Fasa

Padat

Massa jenis

4,506 g/cm3 (suhu kamar)

Massa jenis cair

4,11 g/cm3 (pada titik lebur)

Titil lebur

1941 K (16680C,30340F)

Titik didih

3560 K(32870C, 59490F)

Kalor peleburan

14,15 kJ/mol
Titanium dan Paduannya | 6

Kalor penguapan

425 kJ/mol

Kapasitas kalor (250C)

25,060 J/mol.K

Penampilan

Logam perak metalik

Resistivitas listrik (20 C)

0,420 m

Konduktivitas termal (300 K)

21,9 W/(mK)

Ekspansi termal (25 C)

8.6 m/(mK)

Kecepatan suara (pada wujud kawat) (suhu

5090 m/s

kamar)
Tabel 4.Sifat-Sifat Fisik Titanium
Tekanan Uap
P (Pa)

10

100

1k

10k

100k

T (K)

1982

2171

2403

2692

3064

3558

2.4.2

Sifat Kimia
Sifat kimia dari titanium yang paling terkenal adalah ketahanan terhadap

korosi yang sangat baik (pada suhu biasa membentuk oksida, TiO 2), hampir sama
seperti platinum, resistan terhadap asam, dan larut dalam asam pekat. Diagram
Pourbaix menunjukkan bahwa titanium adalah logam yang sangat reaktif, tetapi
lambat untuk bereaksi dengan air dan udara.

Reaksi dengan Air


Titanium akan bereaksi dengan air membentuk Titanium dioksida dan hydrogen.
Ti(s) + 2H2O(g) TiO2(s) + 2H2(g)

Reaksi dengan Udara


Ketika Titanium dibakar di udara akan menghasilkan Titanium dioksida dengan
nyala putih yang terang dan ketika dibakar dengan Nitrogen murni akan
menghasilkan Titanium Nitrida.
Ti(s) + O2(g) TiO2(s)
2Ti(s) + N2(g) TiN(s)

Titanium dan Paduannya | 7

Reaksi dengan Halogen


Reaksi Titanium dengan Halogen menghasilkan Titanium Halida. Reaksi dengan
Fluor berlangsung pada suhu 200C.
Ti(s) + 2F2(s) TiF4(s)
Ti(s) + 2Cl2(g) TiCl4(s)
Ti(s) + 2Br2(l) TiBr4(s)

Ti(s) + 2I2(s) TiI4(s)


Reaksi dengan Asam
Logam Titanium tidak bereaksi dengan asam mineral pada temperatur normal
tetapi dengan asam hidrofluorik yang panas membentuk kompleks anion (TiF6)3-

2Ti(s) + 2HF (aq) 2(TiF6)3-(aq) + 3 H2(g) + 6 H+(aq)


Reaksi dengan Basa
Titanium tidak bereaksi dengan alkali pada temperatur normal, tetapi pada
keadaan panas.
Titanium terbakar di udara ketika dipanaskan menjadi 1200 C (2190 F) dan

pada oksigen murni ketika dipanaskan sampai 610 C (1130 F) atau lebih ,
membentuk titanium dioksida. Sebagai hasilnya, logam tidak dapat dicairkan dalam
udara terbuka sebelum titik lelehnya tercapai, jadi mencair hanya mungkin terjadi
pada suasana inert atau dalam vakum. 2 ] Titanium juga merupakan salah satu dari
sedikit elemen yang terbakar di gas nitrogen murni (Ti terbakar pada 800 C atau
1.472 F dan membentuk titanium nitrida). Titanium tahan untuk melarutkan asam
sulfat dan asam klorida, bersama dengan gas klor, larutan klorida, dan sebagian besar
asam-asam organik.
Sifat Kimia

Keterangan

Nama, Lambang, Nomor atom

Titanium, Ti,22

Deret Kimia

Logam transisi

Golongan, Periode, Blok

4,4,d

Massa atom

47.867(1) g/mol

Konfigurasi electron

[Ar] 3d2 4s2

Jumlah elektron tiap kulit

2,8,10,2

Struktur Kristal

hexagonal

Bilangan oksidasi

4
Titanium dan Paduannya | 8

Elektronegativitas

1,54 (skala Pauling)


ke-1: 658.8 kJ/mol

Energi ionisasi

ke-2: 1309.8 kJ/mol


ke-3: 2652.5 kJ/mol

Jari-jari atom

140 pm

Jari-jari atom (terhitung)

176 pm

Jari-jari kovalen

136 pm
Tabel 5.Sifat-Sifat Kimia Titanium

2.4.3

Sifat Mekanik
Sifat Mekanik

Keterangan

Modulus Young

116 Gpa

Modulus Geser

44 Gpa

Modulus Ruah

110 Gpa

Nisbah Poisson

0,32

Skala Kekerasan Mohs

Kekerasan Vickers

970 Mpa

Kekerasan Brinell

716 Mpa

Nomor CAS

7440-32-6

Tabel 6. Sifat-Sifat Mekanik Titanium


2.5 Proses Pembuatan
Titanium diproduksi menggunakan proses Kroll. Langkah-langkah yang
terlibat termasuk ekstraksi, pemurnian, produksi spons, pembuatan paduan, dan
membentuk dan membentuk. Di Amerika Serikat, banyak produsen spesialis dalam
fase yang berbeda dari produksi ini. Misalnya, ada produsen yang hanya membuat
spons, yang lain yang hanya mencair dan menciptakan paduan, dan yang lain yang
menghasilkan produk akhir. Saat ini, tidak ada produsen tunggal melengkapi semua

Titanium dan Paduannya | 9

langkah ini.
Pencabutan
1. Pada awal produksi, produsen menerima titanium konsentrat dari tambang.
Sementara rutil dapat digunakan dalam bentuk alami, ilmenit diproses untuk
menghilangkan zat besi sehingga berisi titanium dioksida paling sedikit 85%.
Bahan-bahan ini dimasukkan ke dalam reaktor fluidized-tempat tidur bersama
dengan gas klor dan karbon. Materi yang dipanaskan sampai 1.652 F (900 C)
dan hasil reaksi kimia berikutnya dalam penciptaan murni titanium tetraklorida
(TiCl4) dan karbon monoksida. Kotoran adalah hasil dari kenyataan bahwa
titanium dioksida murni tidak digunakan di awal. Oleh karena itu berbagai klorida
logam yang tidak diinginkan yang dihasilkan harus dibuang.
Pemurnian
2. logam bereaksi dimasukkan ke dalam tangki penyulingan besar dan dipanaskan.
Selama langkah ini, kotoran dipisahkan dengan menggunakan distilasi fraksional
dan presipitasi. Tindakan ini menghilangkan klorida logam termasuk besi,
vanadium, zirkonium, silikon, dan magnesium.
Produksi spons
3. Selanjutnya, dimurnikan titanium tetraklorida ditransfer sebagai cairan ke bejana
reaktor stainless steel. Magnesium kemudian ditambahkan dan wadah dipanaskan
sampai sekitar 2012 F (1.100 C). Argon dipompa ke dalam wadah sehingga
udara akan dihapus dan kontaminasi dengan oksigen atau nitrogen dicegah.
Magnesium bereaksi dengan klor menghasilkan magnesium klorida cair. Hal ini
membuat padat titanium murni karena titik leleh dari titanium lebih tinggi dari
reaksi.

4. Padatan titanium dikeluarkan dari reaktor dengan membosankan dan kemudian


diobati dengan air dan asam klorida untuk menghapus kelebihan magnesium dan
magnesium klorida. Padatan yang dihasilkan adalah logam berpori yang disebut
spons.
5. Spons titanium murni kemudian dapat diubah menjadi paduan yang dapat
digunakan melalui tanur habis-elektroda. Pada titik ini, spons dicampur dengan
Titanium dan Paduannya | 10

penambahan paduan berbagai besi tua. Proporsi yang tepat dari spons untuk bahan
paduan diformulasikan di laboratorium sebelum produksi. Massa ini kemudian
ditekan ke compacts dan dilas bersama-sama, membentuk elektroda spons.
6. Elektroda spons kemudian ditempatkan dalam tungku busur vakum untuk
mencair. Dalam wadah air-cooled, tembaga, busur listrik digunakan untuk
melelehkan elektroda spons untuk membentuk ingot. Semua udara dalam wadah
yang baik dihapus (membentuk ruang hampa) atau atmosfer diisi dengan argon
untuk mencegah kontaminasi. Biasanya, ingot tersebut remelted satu atau dua kali
untuk menghasilkan ingot diterima secara komersial. Di Amerika Serikat, paling
ingot dihasilkan dengan metode ini berat sekitar 9.000 lb (4,082 kg) dan 30 di
(76,2 cm) di diameter.
7. Setelah ingot dibuat, tersebut akan dihapus dari tungku dan diperiksa dari
kerusakan. Permukaan dapat dikondisikan seperti yang diperlukan untuk
pelanggan. Ingot kemudian dapat dikirim ke produsen barang jadi di tempat yang
dapat digiling dan dibuat menjadi berbagai produk.
Produk samping / Limbah
Selama produksi titanium murni sejumlah besar magnesium klorida yang dihasilkan.
Bahan ini didaur ulang dalam sel daur ulang segera setelah diproduksi. Sel daur ulang
pertama memisahkan logam magnesium keluar maka gas klor dikumpulkan. Kedua
komponen yang digunakan kembali dalam produksi titanium.

2.6 Paduan Titanium


Titanium dan paduannya mulai digunakan sebagai komponen logam pada awal
abad ke-20, jenis logam ini diekstraksi dari mineral rutil yang mengandung 97-98%
TiO2 dan diubah secara kimia menjadi TiCl4 kemudian direaksikan dengan
magnesium (proses Kroll) atau sodium (proses Hunter) yang menghasilkan titanium
sponge sehingga akhirnya melalui proses peleburan dihasilkanlah ingot titanium.
Secara umum titanium dan paduannya diklasifikasikan menjadi 4 kelompok
utama berdasarkan fasa yang dominan dalam strukturnya,yaitu:
Titanium dan Paduannya | 11

Titanium murni.
Paduan titanium alpha ().
Paduan titanium alpha-beta.
Paduan titanium beta ().
Masing-masing kelompok tersebut memiliki berbagai jenis paduannya seperti

ditunjukkan pada tabel 6 yang juga mencantumkan komposisi kimia serta sifat
mekaniknya. Unsur-unsur pemadu pada paduan titanium dapat memperbaiki sifat-sifat
dari logam titanium, unsur tersebut dapat larut secara intertisi ataupun secara
substitusi pada atom titanium. Unsur-unsur pemadu pada titanium berdasarkan
pengaruhnya terhadap struktur mikro atau fasa stabilnya dapat diklasifikasikan
menjadi dua kategori, yaitu unsur paduan penyetabil fasa alpha dan fasa beta, seperti
ditunjukkan pada tabel 4 di bawah ini.
Unsur-unsur yang ditambahkan pada titanium untuk menyetabilkan salah satu
atau beberapa fasa lainnya terjadi karena unsur-unsur paduan tersebut mempengaruhi
temperatur transformasinya, seperti yang diperlihatkan pada gambar 1. dibawah ini.
Alumunium merupakan unsur paduan titanium yang paling dominan sebagai
unsur penyetabil fasa alpha dan akan meningkatkan temperatur beta transus
(temperatur transformasi fasa beta) serta akan memberikan kekuatan yang tinggi pada
temperatur tinggi. Unsur-unsur lainnya sebagai unsur pemadu pada titanium adalah
krom, besi, mangan, molibdenum, dan vanadium. Penambahan unsur-unsur ini akan
memperkuat dan meningkatkan jumlah fasa beta yang diperoleh pada temperatur
kamar.
Pada temperatur tinggi, titanium mudah bereaksi terutama dengan unsur-unsur
intertisi (oksigen, hidrogen, dan nitrogen) membentuk oksida, hidrida atau nitrida atau
unsur intertisi tersebut dapat larut pada permukaan titanium. Reaksi oksidasi yang
terjadi di atas temperatur 593 C akan menghasilkan lapisan oksida di permukaan yang
bersifat kontinyu., artinya lapisan yang terbentuk tidak terdapat celah atau bagian
yang terbuka (tertutup bagi difusi oksigen) sehingga tidak lagi menimbulkan reaksi
oksidasi berikutnya. Dengan demikian, titanium menjadi bersifat sangat pasif
terhadap larutan. Karakteristik ini menyebabkan katahanan korosi dari titanium dan
paduannya menjadi lebih baik. Titanium yang tidak dipadu atau titanium murni,
memiliki kemurnian antara 99%-99,5% dan sisanya adalah unsur-unsur intertisi yaitu
Titanium dan Paduannya | 12

oksigen, nitrogen dan karbon. Titanium murni memiliki kekuatan yang lebih rendah
dibandingkan paduannya tetapi memiliki ketahanan korosi yang lebih baik. Kekuatan
titanium murni sangat ditentukan oleh unsur-unsur intertisi dalam batas yang
diijinkan, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2 di bawah ini dan jika terlalu
banyak akan menyebabkan penggetasan. Pengaruh penguatan dari unsur-unsur
intertisi dinyatakan dalam persamaan:
%O equiv=%O + 2(%N) + 0,67 (%C)
,setiap peningkatan 0,1%O equiv dalam titanium murni akan meningkatkan kekuatan
sebesar 17,5 ksi. Struktur equiaksial pada titanium dikembangkan melalui penguatan
regang anil, yaitu proses pengerjaan dingin dan diikuti dengan pemanasan sampai
temperatur re-kristalisasi dengan struktur mikro seperti yang ditunjukkan pada
gambar 1

Gambar 1. Struktur mikro lembaran titanium murni yang dianil pada


temperatur 700oC selama 1 jam dan didinginkan di udara. Struktur men
gandung butirbutir equiaksial fasa alpha dan speroidal fasa beta yang distabilkan den
gan penambahan
0,3 % Fe(etsa : 10% HF-5%HNO3, 250X)

a. Alpha Alloys
Alpha alloys adalah titanium murni yang diperkuat dengan solid solution
strengthening dengan unsur penambah seperti aluminium (5-6%), tin, nikel, dan
tembaga. Alpha tidak mengandung beta pada temperature ruang. Alpha alloys
Titanium dan Paduannya | 13

kurang ductile dan lebih sulit dibentuk, karena terbatasnya slyp system pada HCP,
tidak dapat di-heat treatment, dapat dilas, memiliki kekuatan sedang, derajat
kekerasan bagus, dan sangat stabil pada temperature diatas 540oC (1000oF).
Paduan ini secara dominan memiliki struktur kristal HCP pada temperatur
kamar, sehingga pada dasarnya paduan ini memiliki fasa alpha meskipun ada
dalam paduan yang memiliki sejumlah kecil unsur paduan penyetabil fasa beta
seperti pada paduan Ti-8Al-Mo-V (unsur paduan Mo dan V masing-masing 1%)
yang memiliki keuletan yang baik, paduan tersebut merupakan salah satu jenis
dari paduan titanium near alpha. Unsur terpenting dari kelompok tersebut adalah
Alumunium yang merupakan unsur substitusi alpha yang paling dominan yang
dapat meningkatkan temperatur transformasi dari fasa alpha ke fasa beta dari
temperatur 8850C untuk titanium murni sampai 12400C untuk paduan yang
mengandung 29%Al. Menurut Mc.Quillan, keberadaan unusur alumunium sampai
1% hampir tidak memiliki pengaruh terhadap temperatur transformasi allotropi
titanium, dan peningkatan kandungan alumunium selanjutnya akan menaikan
tamperatur transisi yang cukup mencolok.

Gambar 2. Struktur mikro dengan paduan Ti-8Al-Mo-V

b. Beta alloys
Unsur penyetabil dalam paduan titanium beta ini diantaranya adalah
vanadium, molibdenum, krom dan kobalt. Untuk meningkatkan kekuatan dari
paduan ini adalah melalui proses perlakuan panas dan pengerjaan dingin. Beta
alloys memiliki ductility bagus, dan mudah dibentuk ketika tidak di-heat
Titanium dan Paduannya | 14

treatment, dapat dilas, dan sangat stabil pada temperatur di atas 315oC (600oF).
Beberapa dapat di-age hardening untuk menyebabkan precipitation fasa alpha atau
senyawa intermetalik, dan menghasilkan kekuatan yang sangat tinggi namun
ductility dan kekerasan berkurangPaduan titanium beta memiliki berat jenis dan
kekuatan yang paling tinggi diantara semua jenis paduan titanium, jenis paduan
beta yang diproduksi dalam jumlah besar adalah Ti-3Cr-11V-3Al dengan
komposisi 13% vanadium, 11% chromium, dan 3% aluminium Dalam paduan
titanium beta, terdapat 2 sistem penyetabil fasa beta yaitu beta isomorfus dan beta
eutektoid. Unsur-unsur penyetabil beta isomorfus adalah vanadium, molibdenum,
niobium dan tantalum. Unsur-unsur tersebut tidaak membentuk senyawa
intermetalik sehingga tidak menyebabkan peningkatan kekerasan dan kekuatan
dari paduan titanium serta unsur-unsur tersebut dapat menurunkan berat jenis
paduan. Gambar 3 memperlihatkan tipe diagram fasa sistem Al Ti-V, dalam sistem
ini unsur-unsur paduan larut sempurna dalam fasa beta dan beta transus turun
dengan meningkatnya kandungan unsur padua penyetabil fasa beta. Dalam paduan
ini, fasa beta yang stabil terbentuk hanya jika konsentrasi unsur paduannya cukup
tinggi, sehingga paduan jenis ini akan memiliki banyak keuntungan.

Gambar 3. Diagram fasa sistim Al-Ti-V

c. Alpha-beta alloys
Alpha-beta alloys adalah paduan titanium yang strukturnya mengandung
sebagian alpha dan sebagian beta pada temperature ruang. Alpha-beta alloys
memiliki sifat mekanik yang sangat seimbang, dan yang paling sering digunakan,
ada yang dapat dilas dan tidak, ketahanan korosinya sangat tinggi pada
Titanium dan Paduannya | 15

temperature ruang, lebih mudah dibentuk, dan sangat stabil sampai temperatur
425oC (800oF). Unsur-unsur beta stabilizer seperti molybdenum, vanadium,
columbium, dan tantalum ketika ditambahkan ke titanium murni cenderung
menaikkan fasa beta pada temperatur ruang. Sedangkan unsur alpha stabilizer
akan menaikkan fasa alpha.
Salah satu paduan titanium seperti TI-6Al-4V yang mengandung 6%
aluminium dan 4% vanadium memiliki struktur 2 fasa, yaitu setengah alpha dan
setengah beta pada temperature ruang, aluminium menstabilkan fasa alpha dan
vanadium menstabilkan fasa beta. Ketika paduan ini dipanaskan sampai pada
temperatur 1725oF (955oC), paduan bertansformasi semua menjadi struktur beta.
Ketika di-water quench sampai temperatur ruang, fasa beta akan seimbang,
paduan ingin bertransformasi menjadi fasa alpa namun dicegah dengan water
quench. Proses ini disebut solution treating, dan paduan memiliki kekuatan tinggi
pada kondisi ini, namun kekerasan dan kekuatan dapat lebih ditingkatkan dengan
aging selama 4 jam pada 1000oF (539oC). saat aging, dipisahkan bagian precipitate
fasa alpha dengan fasa beta yang seimbang. Dengan demikian, alpha-beta alloys
adalah paduan hasil precipitation hardening. Ada beragam paduan alpha-beta
dengan kekuatan yang berbeda dan dengan mekanisme precipitation hardening
precipitation hardening yang berbeda, namun 6Al-4V adalah yang paling penting.

d. Near Alpha Alloys


Near alpha alloys adalah paduan titanium yang mengandung banyak alpha
dengan sedikit beta, dan beberapa fasa beta tersebar di semua susunan alpha.
Secara umum mengandung 5-8% aluminium, beberapa zirconium, dan timah
bersama dengan beberapa unsur-unsur beta stabilizer. Paduan ini memiliki
kekuatan pada temperature tinggi, dan ketahanan creep yang sangat bagus
sehingga paduan ini digunakan pada temperature tinggi. Penambahan silicon 0.10.25% meningkatkan ketahanan creep. Near-alpha alloys pada temperature tinggi
termasuk Ti-6242S (Ti-6Al-2Sn-4Zr-2Mo-0,25Si) dan IMI 829 (Ti-5,5Al-3,5Sn3Zr-1Nb-0,3Si) yang dapat digunakan sampai 1000oF, dan IMI 834 (Ti-5,8Al-4Sn3,5Zr-0,7Nb-0,5Mo-0,35Si) dan Ti-1100 (Ti-6Al-2,8Sn-4Zr-0,4Mo-0,4Si) adalah
modifikasi dari Ti-6242S yang dapat digunakan sampai 1100oF.
Titanium dan Paduannya | 16

e. Near-beta Alloys
Near beta alloys adalah paduan titanium yang mengandung banyak beta
dengan sedikit alpha.
Unsur paduan titanium dapat berupa aluminium, vanadium, molibdenum,
mangan, timah, besi dll dengan harapan unsur paduan ini dapat meningkatkan
kekuatan, kekerasan dan workability.
Sifat mekanik dan karakter manufaktur dari paduan titanium sangat
sensitif terhadap sedikit variasi pada unsur paduan dan residu. Sehingga
pengontrolan komposisi dan pemrosesan menjadi sangat penting, termasuk
pencegahan kontaminasi permukaan terhadao hidrogen, oksigen dan nitrogen
selama proses. Unsur-unsur tersebut akan meningkatkan kegetasan titanium dan
mengurangi keuletannya.
Pada suhu di atas 8800C, Ti memiliki struktur kubus pemusatan ruang
(bcc-beta titanium) dan bersifat ulet (ductile) sedangkan pada suhu ruang
membentuk hexagonal close-packed (hcp-alpha titanium), bersifat getas (brittle)
dan sangat sensitif terhadap korosi tegangan. Variasi struktur lain (alpha, nearalpha,alpha beta,beta) dapat diperolah dengan membuat paduan dan perlakuan
panas (heat treatment) sehingga sifatnya dapat dioptimalkan untuk aplikasi
khusus.
Titanium aluminide intermetallics (TiAl, Ti3Al) memiliki kekakuan lebuh
tinggi dan berat jenis lebih rendah serta lebih tahan terhadap suhu tinggi dibanding
dengan paduan Ti yang lain.
Sebagai bahan teknik titanium banyak penggunaannya. Titanium adalah
logam dengan warna putih keperak-perakan, titik lebur 1668C dan masa jenisnya
4,505 kg/dm3 .Titanium yang tidak murni/campuran dalam perdagangan dapat
digolongkan:

unsur-unsur yang membentuk interstisi larutan padat (solid solution ) O2 ,


N, C dan H2 dan lain lain.

Titanium dan Paduannya | 17

Unsur-unsur yang membentuk substitusi larutan padat (Fe dan unsur-unsur


logam lain ).Oksigen dan nitrogen dengan persentase kecil dalam titanium
alloy dapat mengurangi ductility secara drastis. Kandungan karbon dengan
lebih dari 0,2% menurunkan ductility dan kekuatan pukul dan titanium
alloy. Paduan titanium terdiri dari vanadium, molibden, chrom,
mangan,aluminium timah, besi dll. Paduan ini memiliki sifat-sifat mekanik
yang tinggi dengan rasa jenis yang rendah, sangat tahan korosi, banyak
digunakan dalam industri pesawat terbang.

2.7 Aplikasi Titanium


2.7.1 Bidang kedokteran
a. Karena bersifat non-feromagnetik , saat ini titanium umum digunakan
untuk medis, misalnya untuk mengganti tulang yang hancur atau patah.
Sudah terbukti bahwa bahan titanium kuat dan tidak berubah ataupun
berkarat di dalam tubuh manusia. Didalam tubuh manusia terdapat begitu
banyak zat yang sesungguhnya dapat membuat bahan metal apapun
menjadi berkarat dan tidak dapat bertahan lama, tetapi tidak demikian
halnya dengan bahan titanium, yang sekali lagi memang sudah terbukti
bisa bertahan dalam tubuh manusia walaupun bertahun tahun digunakan.
Selain itu, Titanium digunakan sebagai bahan pengganti sendi dan struktur
penahan katup jantung.
b. Digunakan dalam implant gigi (dengan jangka waktu lebih dari 30 tahun),
karena kemampuannya yang luar biasa untuk berpadu dengan tulang hidup
( osseointegrate ).
c. Digunakan untuk terapi kesehatan
Tahap awal dalam membuat gelang magnetik ini adalah
membentuk bahan dasar mentah titanium menjadi bagian bagian
dari gelang magnetic. Proses ini cukup sulit, baik dari proses
pembetukan sampai kepada pemotongan bagian demi bagian, hal itulah
yang menyebabkan tidak banyak pabrik yang memproduksi berbahan
titanium ( khususnya gelang magnetik).
Setelah pembentukan dan pemotongan selesai , selanjutnya masuk ke
tahap adjust magnetic powder ke dalam bulatan bulatan yang sudah
disediakan, magnetic yang digunakan adalah magnet negatif dalam bentuk
Titanium dan Paduannya | 18

powder yang dimana kekuatan magnet berkisar 3000-3500 gouss.


Selanjutnya masuk ke dalam tahap akhir pembuatan gelang magnetic.
Proses ini tidak bisa dilakukan oleh mesin. Oleh sebab itu proses ini
dilakukan dengan tenaga manusia (hand made) dirangkai satu demi satu
( piece by piece )
Karena proses yang begitu rumit dan panjang membuat bahan
titanium menjadi salah satu bahan terbaik dan menjadi salah satu perhiasan
yang dikombinasikan dengan therapy kesehatan yang cukup bernilai.
Laboratorium teknologi & industri Nigata Jepang bahkan melakukan
penelitian yang menunjukkan bahwa titanium dapat meningkatkan
sirkulasi darah bagi pemakainya.
d. Karena ini bio-kompatibel (tidak beracun dan tidak ditolak oleh tubuh),
titanium digunakan dalam aplikasi medis termasuk alat-alat operasi.
2.7.2

Bidang industri
a. Kira-kira 95% hasil Titanium digunakan dalam bentuk Titanium dioksida
(TiO2),sejenis pigmen putih terang yang kekal dengan kuasa liputan yang
baik untuk cat, kertas, obat gigi, dan plastik.
b. Digunakan pada industri kimia dan petrokimia sebagai bahan unutk alat
penukar panas (heat exchanger)dan bejana bertekanan tinggi serta pipapipa tahan korosi memakai bahan titanium.
c. Industri pulp dan kertas menggunakan titanium dalam peralatan proses
yang terkena media yang korosif seperti sodium hipoklorit atau gas klor
basah). Aplikasi lain termasuk pengelasan ultrasonic dan gelombang
solder.

2.7.3

Aplikasi lain
Alloy Titanium digunakan dalam pesawat, plat perisai, kapal angkatan
laut, peluru berpandu. Dapat juga digunakan dalam perkakas dapur dan

bingkai kaca (yang nilai ekonomisnya tinggi).


Titanium yang dialloykan bersama Vanadium digunakan dalam kulit luaran

pesawat terbang, peralatan pendaratan, dan saluran hidrolik.


Karena daya tahannya yang baik terhadap air laut, Titanium digunakan
sebagai pemanas-pendingin akuarium air asin dan pisau juru selam.
Titanium dan Paduannya | 19

Di Rusia, Titanium menjadi bahan utama dalm pembuatan kapal angkatan


perang termasuk kapal selam seperti kelas Alfa, Mike dan juga Typhoon

karena kekuatannya terhadap air laut.


Bahan utama batu permata buatan manusia yang secara relatif agak

lembut.
Titanium tetraklorida (TiCl4), cairan tidak berwarna yang digunakan untuk

melapisi kaca.
Titanium dioksida (TiO2) digunakan dalam pelindung matahari karena

ketahanannya terhadap ultra ungu.


Karena kelengaiannya dan menghasilkan warna yang menarik menjadikan

logam ini populer untuk menindik badan.


(Militer). Karena kekuatannya, unsur ini digunakan untuk membuat

peralatan perang (tank) dan untuk membuat pesawat ruang angkasa.


(Mesin). Material pengganti untuk batang piston.
Titanium nitrida (TiN), mempunyai kekerasan setara dengan safir dan
carborundum (9,0 pada Skala Mohs) , sering digunakan untuk melapisi alat
potong seperti bor. TiN juga dimanfaatkan sebagai penghalang logam
dalam fabrikasi semikonduktor.

Titanium dan Paduannya | 20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
Titanium merupakan logam yang memiliki rasio kekuatan yang tinggi dibandingkan beratnya.
Titanium merupakan logam yang ringan, kuat dengan densitas yang rendah. Pada logam
titanium murni, logam ini cukup ulet(pada lingkungan bebas oksigen), berkilau, dan berwarna
putih metalik. Titanium memiliki melting point (titik lebur) yang cukup tinggi yaitu diatas
1649 atau 3000 sehingga dapat dipakai sebagai logam refractori. Titanium juga resistan yang
baik terhadap korosi, hampir sama dengan platinum, dan mampu bertahan terhadap serangan
asam, gas klorin, dan beberapa larutan garam dan akan lebih tahan terhadap korosi apabila
ditambahkan logam mulia, kecuali dalam lingkungan asam dan gas asam dengan konsentrasi
yang

tinggi

dengan

temperatur

yang

tinggi

dan

terus

meningkat.

Secara umum titanium dan paduannya diklasifikasikan menjadi 4

Dan

kelompok

utama berdasarkan fasa yang dominan dalam strukturnya,yaitu:

Titanium murni.
Paduan titanium alpha ().
Paduan titanium alpha-beta.
Paduan titanium beta ().

Titanium dan Paduannya | 21

DAFTAR PUSTAKA
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/titanium/
http://digitalmbul.com/blogs/2011/07/26/bahaya-penggunaan-titanium-dalamtubuh-manusia/
http://www.epc.shell.com/Docs/GSAP_msds_00040321.PDF
http://www.organicmakeup.ca/ca/titaniumdioxide.asp
http://id.wikipedia.org/wiki/Titanium
http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/titanium
http://www.gudangmateri.com/2011/01/keunggulan-dan-paduan-titanium.html
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_lingkungan/menggunakantitanium-dan-ultraviolet-teknologi-baru-mengurai-dioksin/
http://www.healthylinetherapy.com/product/19/29/Titanium-Material/?o=default
http://ratna-wati-chemistry.blogspot.com/2009/05/titanium-t.html

Titanium dan Paduannya | 22