Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM I

DIFUSI dan OSMOSIS


(Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel)

A. Rumusan Masalah:
1. Bagaimana pengaruh konsetrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang
terplasmolisis ?
2. Bagaimana konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah
sel yang mengalami plasmolisis ?
3. Bagaimana cara menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan metode
plasmolisis ?
B. Tujuan Percobaan:
1. Untuk menjelaskan pengaruh konsetrasi larutan sukrosa terhadap prosentase
sel yang terplasmolisis.
2. Untuk mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50%
dari jumlah sel yang mengalami plasmolisis.
3. Untuk menghitung tekanan osmosis sel caian sel dengan metode plasmolisis.
C. Hipotesis
- Semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa, semakin besar pula jumlah
-

prosentase sel Rhoe discolor yang mengalami plasmolysis.


Besar konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel
daun Rhoe discolor mengalami plasmolisis, sama dengan konsentrasi

larutan.
Nilai tekanan osmosis sel, cairan sel daun Rhoe discolor dengan metode
plasmolisis adalah positif.

D. Kajian Pustaka
Air penting bagi tumbuhan. Air berperan dalam pelaksanaan reaksi
biokima. Air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel sehingga
menimbulkan turgor pada sel-sel tumbuhan, memberikan sokongan dan
kekuatan pada jaringan-jaringan tumbuhan yang tidak memiliki sokongan

struktur. Struktur tumbuhan yang penting dalam perlalulalangan zat adalah


dinding sel dan membrane sel (Sasmitamihardja, 1996).
Pada dasarnya pengangkutan melalui membran sel dapat terjadi
secara aktif maupun pasif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti
arah gradien konsentrasi, artinya larutan yang memiliki konsentrasi tinggi
menuju larutan yang memiliki konsentrasi rendah. Proses ini tidak
memerlukan energi hasil metabolisme, sedangkan pengangkutan secara aktif
memerlukan energi hasil metabolisme. Hal tersebut dikarenakan prosesnya
melawan arah gradien konsentrasi.
Terdapat dua proses fisika - kimia yang terjadi, yaitu difusi dan
osmosis. Dengan adanya proses difusi suatu selaput dinyatakan permeabel
ataupun semipermeabel. Osmosis merupakan suatu proses difusi melewati
suatu selaput karena adanya perbedaan konsentrasi larutan. Dengan demikian,
osmosis akan berlangsung sampai adanya keseimbangan antara kepekatan
cairan (Harso, 2010).
Plasmolisis adalah peristiwa mengkerutnya sitoplasma dan lepasnya
membrane plasma dari dinding sel tumbuhan jika sel dimasukkan kedalam
larutan hipertonik. Plasmolisis sendiri merupakan dampak dari peristiwa
osmosis. Jika sel tumbuhan diletakkan pada larutan hipertonik, sel tumbuhan
akan kehilangan air dan tekanan turgor, yang menyebabkan sel tumbuhan
lemah. Tumbuhan dengan kondisi seperti ini disebut layu. Kehilangan air
lebih banyak lagi menyebabkan terjadinya plasmolisis : tekanan harus
berkurang sampai disuatu titik dimana sioplasma mengerut dan menjauhi
dinding sel.
Jika sel berada pada lingkungan yang isotonic yang berarti
konsentrasi antara lingkungan luar sel dan di dalam sel sama, maka akan ada
sel yang mengalami plasmolisis dan ada yang tidak. Keadaan inilah yang
digunakan untuk menentukan tekanan osmosis sel. Jika konsentrasi larutan
yang digunakan menyebabkan 50% sel mengalami plasmolisis, maka nilai
tekanan osmosis dapat diketahui dengan menggunakan rumus :
TO

Keterangan :

22,4 . M . T
273

sel

TO = Tekanan osmosis
M = Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis
T = Suhu mutlak (273 + toC)
Dalam proses osmosis terdapat beberapa komponen penting yaitu
Potensial Air (PA), Potensial Tekanan (PT), dan Potensial Osmotik (PO).
Hubungan antara nilai Potensial Air (PA), Potensial Tekanan (PT) dan
Potensial Osmotik (PO) adalah sebagai berikut :
PA = PO + PT
Keterangan :
PA = Potensial Air
PO = Potensial Osmotik
E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi :
Konsentrasi sukrosa 0,28M ; 0,26M ; 0,24M ; 0,22M ; 0,20M ;
0,18M ; 0,16M dan 0,14M.
2. Variabel kontrol :
- Wadah gelas plastik, jenis larutan, daun Rhoe discolor, lama
perendaman, sayatan daun, perbesaran mikroskop.
3. Variabel respon :
- Jumlah sel yang terplasmolisis.
F. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel manipulasi :
Variabel manipulasi adalah variable yang dibuat berbeda yaitu
konsentrasi sukrosa. Yang digunakan ialah konsentrasi larutan sukrosa
0,28M ; 0,26M ; 0,24M ; 0,22M ; 0,20M ; 0,18M ; 0,16M dan 0,14M.
Karena untuk mengetahui pengaruh sel yang terplasmolisis.
2. Variabel kontrol :
Variabel kontrol adalah perlakuan yang dibuat sama, yaitu wadah gelas
plastik, jenis larutan, daun Rhoe discolor, lama perendaman 30 menit,
sayatan daun melintang.
3. Variabel respon :
Jumlah sel yang terplasmolisis.
G. Alat dan Bahan
1. Daun Rhoe discolor.

2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28M ; 0,26M ; 0,24M ; 0,22M ;


3.
4.
5.
6.
7.
8.

0,20M ; 0,18M ; 0,16M ; 0,14M.


Mikroskop.
Gelas plastik 8 buah.
Kaca benda dan kaca penutup.
Silet.
Gelas beaker 100 mL.
Pipet.

H. Rancangan Percobaan

Memasukkan berbagai larutan


sukrosa kedalam cawan petri
sesuai konsentrasi yang tertera

dalam cawan petri.

Menyayat sel epidermis


bagian bawah daun
Rhoe discolor yang
berwarna ungu.

Memasukkan irisan
sel epidermis Rhoe
discolor kedalam
cawan petri yang
berisi larutan
sukrosa dan
Setelah 30 menit, mengamati hasil

direndam selama 30

irisan sel epidermis Rhoe discolor di

menit.

bawah mikroskop. Lalu hitung sel


secara keseluruhan dan sel yang
terplasmolisis.

I. Langkah Kerja
1. Menimbang. Larutan sukrosa dibuat dari konsentrasi yang terbesar
yaitu 0,28 M, dengan cara menimbang sebanyak 95,76 gram kristal
sukrosa dan melarutkannya dalam aquades sehingga volumenya
menjadi 1 liter. Sedangkan untuk membuat konsentrasilarutan yang
lebih rendah, dapat digunakan rumus sebagai berikut :
V1M1 = V2M2
Dengan : V1 = volume awal; M1= konsentrasi awal;
V2 = volume akhir; M2= konsentrasi akhir;
2. Mengukur. 8 buah gelas plastik disiapkan , kemudian diisi masingmasing dengan 5 ml larutan sukrosa yang telah disediakan dan diberi
label pada masing-masing gelas plastik berdasarkan konsentrasi
larutan.
3. Daun Rhoe discolor diambil kemudian disayat pada bagian lapisan
epidermis yang berwarna dengan menggunakan silet. Sayatan
diusahakan hanya selapis sel.
4. Sayatan-sayatan epidermis tersebut direndam pada gelas plastik yang
sudah berisi larutan sukrosa dengan konsentrasi tertentu. Setiap
konsentrasi diisi dengan jumlah sayatan yang sama. Waktu
perendaman dicatat.
5. Mengamati. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa dengan
menggunakan mikroskop.
6. Menghitung. Jumlah seluruh sel pada satu lapang pandang, jumlah sel
yang terplasmolisis dan presentase jumlah sel terplasmolisis terhadap
jumlah sel seluruhnya dihitung.

J. Rancangan Tabel Pengamatan

No

Konsentrasi Larutan
sukrosa

Sel awal

Sel
terplasmolisis

% sel
terplasmolisis

0,14 M, 5 ml

80

34

42,5%

0,16 M, 5 ml

108

24

22,2%

0,18 M, 5 ml

124

38

30,6%

0,20 M, 5 ml

86

13

15,1%

0,22 M, 5 ml

230

73

31,7%

0,24 M, 5 ml

226

70

30,9%

0,26 M, 5 ml

191

112

58,6%

0,28 M, 5 ml

54

23

42,5%

Rumus % sel terplasmolisis :


Sel Terplasmolisis
% Sel Terplasmolisis =

x 100
Sel seluruhnya

0,258 M

K. Rencana Analisis Data


Berdasarkan tabel diatas dapat dianalisis bahwa:

Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,14 M adalah 80


dalam satu lapang pandang. Setelah direndam selama 30 menit, jumlah
sel yang terplasmolisis sebanyak 34. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 42,5%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,16 M adalah
108 dalam satu lapang pandang. Setelah direndam selama 30 menit,
jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 24. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 22,2%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,18 M adalah
124 dalam satu lapang pandang . Setelah direndam selama 30 menit,
jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 38. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 30,6%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,20 M adalah 86
dalam satu lapang pandang . Setelah direndam selama 30 menit, jumlah
sel yang terplasmolisis sebanyak 13. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 15,1%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,22 M adalah
230 dalam satu lapang pandang. Setelah direndam selama 30 menit,
jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 73. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 31,7%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,24 M adalah
226 dalam satu lapang pandang . Setelah direndam selama 30 menit,
jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 70. Sehingga prosentasi sel yang

terplasmolisis sebanyak 30,9%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,26 M adalah
191 dalam satu lapang pandang . Setelah direndam selama 30 menit,
jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 112. Sehingga prosentasi sel

yang terplasmolisis sebanyak 58,6%.


Jumlah sel awal pada konsentrasi larutan sukrosa 0,28 M adalah 54
dalam satu lapang pandang . Setelah direndam selama 30 menit, jumlah
sel yang terplasmolisis sebanyak 23. Sehingga prosentasi sel yang
terplasmolisis sebanyak 42,5%.
Berdasarkan grafik diatas dapat dianalisis bahwa nilai prosentase
paling kecil ada pada larutan berkonsentrasi 0,2 M, yaitu sebesar 15,5%.

Sedangkan titik tertinggi nilai prosentase sebesar 58,6% berada pada


larutan sukrosa berkonsentrasi 0,26 M. Pada konsentrasi 0,258 M
merupakan titik dimana 50% sel mengalami plasmolisis. Untuk
menghitung nilai tekanan osmotik cairan sel epidermis Rhoeo discolor,
dapat menggunakan rumus TO :

L. Hasil Analisis Data


1. Pembahasan
Dari hasil percobaan diatas, daun Rhoe discolor yang telah
mengalami plasmolysis, yakni peristiwa mengkerutnya sitoplasma dan
lepasnya membran dari dinding sel tumbuhan jika sel dimasukkan
kedalam larutan hipertonik. Pada saat daun Rhoe discolor dimasukkan
kedalam larutan sukrosa, lingkungan yang terbentuk diluar sel-sel daun
adalah hipertonik, dan hipotonik pada bagian dalam sel.
Akibatnya sel daun Rhoe discolor kehilangan air sehingga
sitoplasma yang berwarna ungu mengkerut dan menjauhi dinding sel
seolah-olah keluar pecah dari sel. Lama-kelamaan sitoplasma memudar
menjadi bercak-bercak berwarna ungu. Hal tersebut terlihat pada
percobaan kami saat daun Rhoe discolor dimasukkan pada larutan sukrosa
dengan konsentrasi 0,14 M, jumlah sel yang terplasmolisis sebanyak 34
sel dalam satu lapang pandang. Jika dihitung prosentase sel yang
mengalami plasmolysis, hasil nya terlalu mencolok/terlalu besar untuk
konsentrasi rendah. Konsentrasi 0,28 yang konsentrasinya lebih tinggi
justru memiliki nilai prosentase yang

sama dengan konsentrasi yang

rendah, yaitu 42,5%.


Seharusnya, jika semakin tinggi konsentrasi yang ada pada larutan,
maka akan semakin tinggi pula prosentase sel yang terplasmolisis. Hal ini
tidak terlihat pada hasil percobaan kami dengan konsentrase 0,16 M, 0,20
M, dan 0,24 M. hasil prosentase sel yang terplasmolisis tidak semakin

naik, malah justru turun. Hal hal seperti ini kemungkinan terjadi karena
setiap memban plasma yang memiliki ketebalan yang berbeda, yaitu 5-10
nm, sehingga larutan yang memasuki sel juga berbeda-beda. Adanya
faktor human error juga besar kemungkinannya mempengaruhi hasil
percobaan kami, seperti sayatan Rhoe discolor yang terlalu tebal,
sehingga kurang akurat pada saat menghitung jumlah sel awal dan jumlah
sel yang terplasmolisis pada satu lapang pandang. Terlalu lama
membiarkan larutan sukrosa,sehingga besar kemungkinan konsentrasi nya
akan berkurang.
Konsentrasi yang digunakan untuk menentukan nilai
tekanan osmosis cairan adalah konsentrasi yang menyebabkan 50% sel
daun Rhoe discolor mengalami plasmolisis, yaitu pada konsentrasi 0,258
M. Hasil ini didapat dengan cara menarik garis lurus pada skala 50% pada
sumbu Y (prosentase sel terplasmolisis). . Pada titik ini tejadi
keseimbangan antara konsentrasi di dalam sel dengan konsentrasi di luar
sel.
Pada percobaan ini, didapatkan hasil perhitungan nilai Tekanan
Osmosis (TO) sel sebesar 6,30 atm, sehingga Potensial Air (PA) nya
sebesar 6,30 (PT = 0).

2. Diskusi
Pertanyaan : Jelaskan mengapa terjadi peristiwa plasmolisis ? Dukung
dengan data yang anda peroleh !
Jawab : Peristiwa plamolisis dapat terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi air di dalam sel dan di luar sel daun Rhoe discolor.
Konsentrasi larutan sukrosa yang lebih tinggi mengakibatkan
nilai potensial airnya menjadi rendah, sehingga menyebabkan
cairan sel keluar karena nilai potensial air sel cukup tinggi.
Namun pada percobaan kami tidak menunjukkan hal tersebut
karena adanya faktor human error. Sehingga prosentase sel
terplasmolisis yang tertinggi justru tidak didapati pada

konsentrasi paling tinggi larutan sukrosa di percobaan kami,


yaitu 0,28 M.
M. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan
bahwa :
1. Konsentrasi larutan sukrosa berpengaruh terhadap prosentase sel yang
terplasmolisis.
2. Konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% jumlah sel
mengalami palsmolisis sebesar 0,258 M.
3. Tekanan osmosis (TO) sebesar 6,30 atm.

N. Daftar Pustaka
Belajarbiologi.com/2014/08/pengertian-penebalan-struktur-fungsi-dindingsel-tumbuhan.html (diakses pada tanggal 24 Februari 2016, pukul
15.26 WIB)
dokumen.tips/documents/laporan-praktikum-biologi-plasmolisis.html
(diakses pada tanggal 24 Februari 2016, pukul 22.17 WIB)
dokumen.tips/documents/laporan-praktikum-fisiologi-tumbuhan-penentuantekanan-osmosis-cairan-sel.html (diakses pada tanggal 25 Februari,
pukul 21.56 WIB)
https://books.google.co.id/books?
id=F26FL6nWFdwC&pg=PA51&dq=tebal+membran+plasma&sourc
e=b (diakses pada tanggal 24 Februari 2016, pukul 18.39 WIB)
https://www.academia.edu/8638815/LAPORAN_KEGIATAN_PRAKTIKUM
_PLASMOLISIS (diakses pada tanggal 24 Februari 2016, pukul 22.47
WIB)
www.biologimu.com/2012/04/penetapan-potensial-osmotik-cairan-sel.html?
m=1 (diakses pada tanggal 25 Februari 2016, pukul 15.16 WIB)

LAMPIRAN

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

M= 10 x 10

M= 10 x 10

Konsentrasi larutan sukrosa 0,14 M

Konsentrasi larutan sukrosa 0,16 M

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

M= 10 x 10

M= 10 x 10

Konsentrasi larutan sukrosa 0,18 M

Konsentrasi larutan sukrosa 0,20 M

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

M= 10 x 10

M= 10 x 10

Konsentrasi larutan sukrosa 0,22 M

Konsentrasi larutan sukrosa 0,24 M

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

Penampang membujur daun Rhoe


discolor.

M= 10 x 10

M= 10 x 10

Konsentrasi larutan sukrosa 0,26 M

Konsentrasi larutan sukrosa 0,28 M

Anda mungkin juga menyukai