Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas struktur tulang atau tulang rawan
bisa komplet atau inkomplet atau diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh gaya yang melebihi
elastisitas tulang. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari
trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang
menyebabkan fraktur yang patologis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis
baik yang bersifat total maupun parsial.
PENYEBAB FRAKTUR
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, harus
mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah.
Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir
(shearing). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama
tekanan membengkok, memutar, dan tarikan. Trauma bisa bersifat :
o Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan.
o Trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Dua faktor mempengaruhi terjadinya fraktur:
o Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan
kekuatan trauma.
o Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan,
dan densitas tulang.
Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk
menghadapi stress dengan kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari cedera, stress berulang,
fraktur patologis.

TIPE FRAKTUR
1) Fraktur komplit
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Pola fraktur pada rontgen dapat
membantu memprediksi tindakan setelah reduksi: jika fraktur transversal patahan
biasanya akan tetap pada tempatnya setelah reduksi; jika fraktu oblique atau spiral, tulang
cenderung memendek dan kembali berubah posisi walaupun tulang dibidai. Jia terjadi
fraktur impaksi, fragmen terhimpit bersama dan garis fraktur tidak jelas. Fraktur
kominutif dimana terdapat lebih dari 2 fragmen tulang; karena jeleknya hubungan antara
permukaan tulang, cenderung tidak stabil.
2) Faktur inkomplit
Disini tulang tidak secara total terbagi dan periosteum tetap intak. Pada fraktur greenstick
tulang membengkok; hal ini terjadi pada anak-anak yang tulangnya lebih lentur
dibandingkan dewasa. Anak-anak juga dapat bertahan terhadap cedera dimana tulang
berubah bentuk tanpa terlihat retakan jelas pada foto rontgen.

KLASIFIKASI FRAKTUR
Klasifikasi etiologis
1) Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba
2) Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis di dalam tulang
3) Fraktur stres : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat

tertentu
Klasifikasi klinis
1) Fraktur tertutup (simple fracture) : suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan
dengan dunia luar
2) Fraktur terbuka (compound fracture) : fraktur yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from
within (dari dalam) atau from without (dari luar).
Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi Gustilo-Anderson, yang pertama
kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun 1984.

Derajat
I
II

Luka
Laserasi <2 cm
Laserasi >2 cm,

III

disekitarnya
Luka lebar,

rusak

kontusi
hebat,

Fraktur
Sederhana, dislokasi fragmen minimal
otot Dislokasi fragmen jelas
atau Kominutif, segmental, fragmen tulang ada

hilangnya jaringan di sekitarnya

Tip
e
I
II
III

yang hilang

Batasan
Luka bersih dengan panjang luka < 1 cm
Panjang luka > 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental
terbuka, trauma amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi,
fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang perlu repair vaskuler
dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian.

Tip

Batasan

e
IIIA Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan
lunak yang luas
IIIB Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping
atau terjadi bone expose
IIIC Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat
kerusakan jaringan lunak.
3) Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) : fraktur yang disertai
dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, atau infeksi
tulang
Klasifikasi garis patah tulang
1) Greenstick, yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok.
2) Tranversal, yaitu fraktur yang memotong lurus pada tulang.
3) Spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi tungkai/lengan tulang.

4) Obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut melintasi tulang.

Klasifikasi bentuk patah tulang


1) Complet, yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan fragmen
tulang biasanya tergeser.
2) Incomplet, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang.
3) Fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana tulang terdorong ke arah permukaan tulang
4)
5)
6)
7)

lain.
Avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik oleh ligamen.
Communited (Segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian.
Simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh.
Fraktur dengan perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat

yang patah.
8) Fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang
normal.
9) Fraktur Complikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat.

PATOFISIOLOGI FRAKTUR
Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan seseorang mempunyai keterbatasan
gerak dan ketidakseimbangan berat badan. Fraktur yang terjadi dapat berupa fraktur tertutup
ataupun fraktur terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak disekitarnya
sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai kerusakan jarigan lunak seperti otot, tendon,
ligamen, dan pembuluh darah.
Tekanan yang kuat atau berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat
menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka terbuka
dan akan menyebabkan peradangan dan memungkinkan untuk terjadinya infeksi.
Keluarnya darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Tertariknya
segmen tulang disebabkan karena adanya kejang otot pada daerah fraktur menyebabkan disposisi
pada tulang, sebab tulang berada pada posisi yang kaku.
DIAGNOSA FRAKTUR
Anamnesis
Biasanya pasien datang dengan suatu trauma, baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti
dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Pasien biasanya datang karena
adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut bertambah bila digerakkan, pembengkakan,
gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau dengan gejala-gejala
lain.
Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi / Look
Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan, bengkak
Pada fraktur terbuka : klasifikasi Gustilo

b. Palpasi / Feel ( nyeri tekan (tenderness), Krepitasi)


Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan palpasi pada daerah
ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang
mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi
Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi : pulsasi aretri, warna kulit, pengembalian
cairan kapler (Capillary refill test) sensasi
c. Gerakan / Moving
Dinilai apakah adanya keterbatasan pada pergerakan sendi yang berdekatan dengan lokasi
fraktur.
d. Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi, serta ekstensi fraktur.
Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak sebelumnya, maka sebaiknya
mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :
- Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
- Untuk konfirmasi adanya fraktur
- Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya
- Untuk menentukan teknik pengobatan
- Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
- Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
- Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
- Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan yakni foto polos, CT-Scan, MRI, tomografi, dan
radioisotop scanning. Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur.
Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :
1) 2 gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral
2) Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur

3) Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan yang tidak
terkena cedera (pada anak) ; dan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan :
1. Pertolongan pertama
Pada pasien dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan nafas,
menutup luka dengan verban yang bersih, dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak
yang terkena agar pasien merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan
ambulans. Bila terdapat pendarahan dapat dilakukan pertolongan dengan penekanan
setempat.
2. Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah luka itu luka
tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/ saraf ataukah ada trauma alat-alat dalam
yang lain.
3. Resusitasi
Kebanyakan pasien dengan fraktur multipel tiba di rumah sakit dengan syok, sehingga
diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri berupa pemberian
transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.
Prinsip penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu recognition berupa diagnosis dan
penilaian

fraktur,

reduction,

retention

dengan

imobilisasi,

dan

rehabilitation

yaitu

mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai
untuk pengobatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengobatan.
Reduction; reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat

mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti


kekakuan, deformitas, serta perubahan osteoartritis di kemudian hari.
Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.
Fraktur seperti fraktur klavikula, iga, dan fraktur impaksi dari humerus tidak
memerlukan reduksi. Angulasi <5 pada tulang panjang anggota gerak bawah dan
lengan atas dan angulasi sampai 10 pada humerus dapat diterima. Terdapat
kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inchi pada
fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.
Retention; imobilisasi fraktur
Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah
reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan
definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun
OREF.
Jenis Fiksasi :
a. Eksternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

Gips (plester cast)

Traksi
Jenis traksi :

Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus

Skin traksi
Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali ke
posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas

Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.


Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut),
pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris). Adapun komplikasi yang dapat terjadi
pada pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma
saraf peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin.

Indikasi OREF :

Fraktur terbuka derajat III

Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

Fraktur dengan gangguan neurovaskuler

Fraktur Kominutif

Fraktur Pelvis

Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

Non Union

Trauma multiple

b. Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini adalah
reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
- Indikasi ORIF :
Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya fraktur
talus dan fraktur collum femur.
Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulsi dan fraktur dislokasi.

Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur Monteggia,
fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.
Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur.

PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk
hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.
Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi
sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan
kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang
mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal

Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi
dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus
interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat
pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak
berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi
pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada
jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan jaringan seluler
tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa
minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada
pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah
radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang
berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat
osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garamgaram kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven
bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi
radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.

4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)


Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi
tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan
kalus akan diresorpsi secara bertahap.
5. Fase remodeling

Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini,
perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada
tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi
tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami
peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

KOMPLIKASI FRAKTUR
Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat penanganan fraktur
yang disebut komplikasi iatrogenik.
a. Komplikasi umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan gangguan
fungsi pernafasan.
Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam pertama pasca
trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan metabolisme, berupa
peningkatan katabolisme. Komplikasi umum lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena
dalam (DVT), tetanus atau gas gangren
b.
Komplikasi Lokal
Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma, sedangkan
apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.

Pada Tulang

1. Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.


2. Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur
tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non union
Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi pada fraktur
terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan
berakhir dengan degenerasi

Pada Jaringan lunak

1. Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena edema.
Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan pemasangan elastik
2. Dekubitus.. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh karena itu
perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol

Pada Otot

Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu. Hal ini
terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang.
Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan menimbulkan
sindroma crush atau trombus (Apley & Solomon,1993).

Pada pembuluh darah

Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan pada
robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti
spontan.
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis. Trauma atau
manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh
darah sehingga dapat menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas
dan terjadi trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet dapat terjadi
sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah kongesti
bagian distal lesi (Apley & Solomon, 1993).
Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas
maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini
disebut Iskhemi Volkmann. Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga
dapat menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.
Apabila iskhemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat menimbulkan
kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibrus yang secara periahanlahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P
yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan Paralisis

Pada saraf

Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis (kerusakan akson).


Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi nervus (Apley & Solomon,1993).

Komplikasi lanjut
Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada pemeriksaan terlihat
deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan.

Delayed union

Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada pemeriksaan
radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur,
Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila lebih 20 minggu
dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)

Non union

Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.


Tipe I (hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan
diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union
dengan melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.
Tipe II (atrophic non union) disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan
sinovial sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union tidak akan
dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.
Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi periosteum yang luas,
hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu imobilisasi yang tidak memadai,
implant atau gips yang tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur
patologis)

Mal union

Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas. Tindakan refraktur


atau osteotomi koreksi .

Osteomielitis

Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur
tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union (infected non union).
Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang
berupa osteoporosis dan atropi otot

Kekakuan sendi

Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama, sehingga
terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan
tendon. Pencegahannya berupa memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif
dan pasif pada sendi. Pembebasan periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
penderita dengan kekakuan sendi menetap (Apley & Solomon,1993).
FRAKTUR HUMERUS
Fraktur humerus dapat terjadi mulai dari proksimal (kaput) sampai bagian distal
(kondilus) humerus, berupa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fraktur leher
Fraktur tuberkulum mayus
Fraktur diafisis
Fraktur suprakondiler
Fraktur kondiler
Fraktur epikondilus medialis

Fraktur leher humerus


Fraktur leher humerus umumnya terjadi pada wanita tua yang telah mengalami
osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang.
Mekanisme trauma
Biasanya pasien jatuh dan terjadi trauma pada anggota gerak atas
Klasifikasi
Fraktur impaksi dan fraktur tanpa impaksi dengan atau tanpa pergeseran
Pengobatan
Pada fraktur impaksi atau tanpa impaksi yang tidak disertai pergeseran dapat
dilakukan terapi konservatif saja dengan memasang mitela dan mobilisasi segera
pada gerakan sendi bahu. Bila fraktur disertai dengan pergeseran mungkin dapat

dipertimbangkan tindakan operasi.


Komplikasi
Kekakuan pada sendi, trauma saraf yaitu nervus aksilaris, dan dislokasi sendi bahu.

Fraktur tuberkulum mayus humerus


Fraktur dapat terjadi bersama dengan dislokasi humerus atau merupakan fraktur tersendiri
akibat trauma langsung di daerah sendi bahu. Biasanya terjadi pada orang tua dan

umumnya tidak mengalami pergeseran.


Pengobatan
Fraktur dengan dislokasi humerus yang telah direposisi, biasanya fraktur juga
tereposisi dengan sendirinya. Pengobatan fraktur tanpa pergeseran fragmen dengan

cara konservatif. Pada fraktur yang disertai pergeseran fragmen sebaiknya dilakukan
operasi dengan memasang screw.
- Komplikasi
Painful arc syndrome
Fraktur diafisis humerus
Fraktur diafisis humerus biasanya terjadi pada 1/3 tengah humerus dimana trauma dapat
bersifat memuntir yang menyebabkan fraktur spiral dan bila trauma bersifat langsung
dapat menyebabkan fraktur transversal, oblik pendek, atau komunitif. Fraktur patologis
-

biasanya terjadi pada 1/3 proksimal humerus.


Gambaran klinis
Pada fraktur humerus ditemukan pembengkakan, nyeri tekan serta deformitas pada
daerah humerus. Pada setiap fraktur humerus harus diperiksa adanya lesi nervus

radialis terutama pada daerah 1/3 tengah humerus.


Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokalisasi dan konfigurasi fraktur.
Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah konservatif karena angulasi dapat tertutup oleh otot dan
secara fungsional tidak terjadi gangguan, disamping itu 1/3 kontak cukup memadai
untuk terjadinya union.
Pengobatan konservatif dibagi atas :

Pemasangan U slab
Pemasangan gips tergantung (hanging cast)
Pengobatan operatif dengan pemasangan plate dan screw atau pin dari Rush atau
pada fraktur terbuka dengan fiksasi eksterna.
Indikasi operasi yaitu :

Fraktur terbuka
Terjadi lesi nervus radialis setelah dilakukan reposisi (jepitan nervus radialis)
Nonunion
Pasien yang segera ingin kembali bekerja secara aktif
Fraktur suprakondiler humerus
Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Pengobatannya
seperti pada fraktur diafisis humerus.
Fraktur kondilus humerus
Fraktur ini jarang terjadi pada orang dewasa dan lebih sering pada anak-anak.

Mekanisme trauma
Biasanya terjadi pada saat tangan dalam posisi out stretched dan sendi siku dalam
posisi fleksi dengan trauma pada bagian lateral atau medial. Fraktur kondilus lateralis

lebih sering terjadi daripada kondilus medialis humerus.


Klasifikasi dan pemeriksaan radiologis

1. pada satu kondilus


2. Fraktur interkondiler (fraktur Y atau T)
3. Fraktur komunitif
Fraktur kondiler sering bersama-sama dengan fraktur suprakondiler.
Gambaran klinis
Nyeri dan pembengkakan serta pendarahan subkutan pada daerah sendi siku.
Ditemukan nyeri tekan, gangguan pergerakan serta krepitasi pada daerah tersebut.
Pengobatan
Fraktur tanpa pergeseran fragmen tidak memerlukan reposisi, cukup dengan
pemasangan gips sirkuler selama 6 minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi secara
hati-hati.
Fraktur kondiler adalah fraktur yang mengenai permukaan sendi sehingga
memerlukan reduksi dengan operasi segera, akurat dan rigid sehingga mobilisasi
dapat dilakukan secepatnya.

FRAKTUR LENGAN BAWAH

Fraktur kepala dan leher radius

Fraktur ini terjadi pada saat seseorang jatuh dengan posisi tangan dalam out stretched.
Klasifikasi dibagi dalam :
o
o
o
o

Tipe 1, terbelah vertikal


Tipe 2, fraktur disertai dengan kemiringan
Tipe 3, fraktur shearing (terbelah)
Tipe 4, remuk/ hancur

Untuk tatalaksananya, pada fraktur tipe 1 dan 2 dengan sudut kemiringan yang tidak
terlalu besar diatasi dengan mengistirahatkan sendi siku menggunakan mitela. Fraktur
yang pecah sebaiknya dilakukan eksisi. Komplikasi yang dapat terjadi yaitu kekauan
sendi dan osteoartritis.

Fraktur Monteggia

Fraktur Monteggia sering ditemukan pada orang dewasa dan merupakan fraktur 1/3
proksimal ulna disertai dislokasi radius proksimal.
Pada orang dewasa sebaiknya dilakukan operasi dengan fiksasi interna yang rigid dan
mobilisasi segera sendi siku.
Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:

Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi anterior disertai dislokasi

anterior kaput radius


Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan angulasi posterior disertai

dislokasiposterior kaput radii dan fraktur kaput radii


Fraktur ulna distal processus coracoideus dengan dislokasi lateral kaput radio
Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan dislokasi anterior kaput radii dan
fraktur 1/3 proksimal radii di bawah tuberositas bicipitalis

Fraktur diafisis radius dan ulna

Fraktur radius sendiri biasanya terjadi karena trauma langsung. Untuk tatalaksananya,
fraktur yang tidak bergeser diatasi dengan gips di atas siku dan fleksi pada siku,
sedangkan yang bergeser sebaiknya dengan memasang fiksasi interna.
Fraktur ulna sering terjadi pada seseorang yang menangkis benda keras. Untuk
tatalaksananya, sama seperti fraktur radius.
Fraktur diafisis radius dan ulna terjadi karena trauma memuntir yang mengakibatkan
fraktur oblik atau spiral pada daerah ulna dan radius dengan ketinggian yang berbeda,
sedangkan trauma langsung menyebabkan fraktur dengan garis transversal. Karena
adanya hubungan yang erat pada posisi supinasi dan pronasi, maka fraktur kedua tulang
harus direposisi secara akurat baik rotasi maupun kesejajarannya.
Gambaran klinisnya yakni terdapat pembengkakan dan nyeri tekan serta deformitas pada
lengan bawah.
-

Pengobatan
Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan gips di atas siku dengan
meletakkan lengan bawah dalam posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal, posisi netral
pada fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan pemasangan gips di
atas siku dalam posisi supinasi. Apabila ada kelainan perlekatan otot pronator dan
supinator tulang radius dan ulna, reduksi serta imobilisasi yang baik sulit dilakukan.
Reduksi yang akurat sangat diperlukan karena tangan mempunyai fungsi untuk
pronasi dan supinasi. Pengobatan yang paling baik adalah dengan pemasangan

fiksasi rigid dengan operasi yang mempergunakan plate dan screw pada kedua
-

tulang.
Komplikasi
Malunion termasuk cross union akan memberikan gangguan dalam pronasi

dan supinasi
Delayed union
Nonunion
Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi pertama kali diuraikan oleh Riccardo Galeazzi yaitu fraktur pada 1/3
-

distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal.


Pengobatan
Pada fraktur ini harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena
bagian distal mengalami dislokasi. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka
dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan
tidak terjadi maka reposisi dilakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka dengan

fiksasi rigid mempergunakan plate dan screw.


Fraktur distal radius
Fraktur distal radius dapat dibagi dalam fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur Barton.
o Fraktur Colles

Pertama kali diutarakan oleh Abraham Colles. Merupakan jenis fraktur yang
paling sering ditemukan pada orang dewasa di atas usia 50 tahun dan lebih sering
pada wanita daripada pria.

Mekanisme trauma
Fraktur terjadi bila terjatuh dalam posisi tangan out stretched pada orang tua
dengan tulang yang sudah osteoporosis.
Fraktur Colles terdiri atas fraktur radius 1 inci di atas pergelangan tangan,
angulasi dorsal fragmen distal, pergeseran ke dorsal dari fragmen distal, dan
fraktur prosesus stiloid ulna.

Gambaran klinis
Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada orang
yang berumur lebih dari 50 tahun, nyeri dan deformitas berbentuk garpu.
Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke dorsal, deviasi

radial, supinasi, dan impaksi ke arah proksimal.


Pengobatan

Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips sirkuler di bawah


siku, lengan bawah dalam keadaan pronasi, deviasi ulna, serta fleksi. Pada
fraktur dengan pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan pembiusan
umum atau lokal. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama enam minggu dan
dilanjutkan dengan fisioterapi yang intensif.

o Fraktur Smith

Biasa disebut juga sebagai fraktur Colles terbalik. Fraktur jenis ini lebih sering
ditemukan pada pria daripada wanita. Fraktur Smith pertama kali dikemukakan
oleh R.W. Smith. Ditemukan deformitas dengan fragmen distal mengalami
-

pergeseran ke volar dimana garis fraktur tidak melalui persendian.


Pengobatan
Fraktur Smith biasanya bersifat tidak stabil sehingga sebaiknya difiksasi
dengan plate buttress.

o Fraktur Barton

Merupakan fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan
terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi ke arah volar. Untuk
tatalaksananya, seperti pada fraktur Smith.
FRAKTUR FEMUR
Fraktur Proksimal Femur

Intracapsular fraktur termasuk femoral head dan leher femur


Capital
: uncommon
Subcapital
: common
Transcervical : uncommon
Basicervical : uncommon
Entracapsular
fraktur
termasuk
Intertrochanteric
Subtrochanteric

trochanters

Fraktur Leher Femur

Tingkat kejadian yang tinngi karena faktor usia yang merupakan akibat dari

berkurangnya kepadatan tulang


Fraktur leher femur dibagi atas intra- (rusaknya suplai darah ke head femur) dan extra(suplai darah intak) capsular. Diklasifikasikan berdasarkan anatominya. Intracapsular
dibagi kedalam subcapital, transcervical dan basicervical. Extracapsular tergantung dari
fraktur pertrochanteric

Sering ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi berbagai


macam obat seperti corticosteroids, thyroxine, phenytoin and

furosemid
Kebanyakan hanya berkaitan dengan trauma kecil
Fraktur Intracapsular diklasifikasikan
o Grade I
: Incomplete, korteks inferior tidak sepenuhnya rusak
o Grade II
: Complete, korteks inferior rusak, tapi trabekulum tidak angulasi
o Grade III
: Slightly displaced, pola trabekular angulasi
o Grade IV
: Fully displaced, grade terberat, sering kali tidak ada kontinuitas
tulang

Fraktur Pada Batang Femur


Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas dan besar sehingga
dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri,
tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar,
terlihat lebih pendek, dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam
jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan normalnya
memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas
dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu
klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan
daerah yang patah.

Fraktur ini dibagi menjadi :


1

Tertutup

Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah
dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;

Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya
diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.

Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

Gambaran Klinis
Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan deformitas
pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan mungkin
datang dalam keadaan syok.
-

Penatalaksanaan

A Terapi konservatif
-

Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk
mengurangi spasme otot

Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi terutama
yang bersifat kominutif dan segmental.

Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara klinis
B Terapi operatif

Pemasangan plate and screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur

Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi tertutup
ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur diafisis.

Fiksasi eksternal terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected


pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. 1

Gambar
Comminuted mid-femoral shaft fracture

Fraktur Distal Femur

Supracondylar

Gambar
Femoral shaft fracture postinternal fixation.

Nondisplaced
Displaced
Impacted
Continuited

Condylar
Intercondylar

FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA


Fraktur tibia dan fibula dapat terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau persendian
pergelangan kaki.

Fraktur Kondilus Tibia


Fraktur kondilus tibia lebih sering mengenai kondilus lateralis daripada medialis serta fraktur
pada kedua kondilus
-

Mekanisme trauma
Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya abduksi tibia terhadap femur dimana
kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil
-

Klasifikasi Sederhana (Adam)


1. Fraktur kompresi komunitif
2. Tipe depresi plateau
3. Fraktur oblik
-

Klasifikasi kompleks (Rockwod)


1. Fraktur yang tidak bergeser
2. Kompresi lokal

3. Kompresi split
4. Depresi total kondiler
5. Fraktur aplit
6. Fraktur komunitif
Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4mm, sedangkan yang bergeser
apabila depresi melebihi 4mm
-

Gambaran Klinis
Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta
hemartosi. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut.

Pemeriksaan radiologis
Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur, tetapi
kadang-kadang diperlukan pula foto oblik dan pemeriksaan laminagram.

Pengobatan
1. Konservatif
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4mm dapat
dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain:

Verban elastis
Traksi
Gips sirkuler
Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi, tidak menahan beban
dan segera mobilisasi pada sendi lutus agar tidak terjadi kekauan sendi
2. Operatif
Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi mengangkat bagian depresi dan
ditopang dengan bone graft. Pada fraktur split dapat dilakukan pemasangan screw
atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian fragmen terhadap tibia.

Komplikasi
1. Genu valgium ; terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik
2. Kekakuan lutut ; terjadi karena tidak dilakukan latihan lebih awal
3. Osteoartritis ; terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga
bersifat ireguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut

Fraktur Kondilus Medialis


Sama seperti fraktur kondilus lateralis tetapi lebih jarang ditemukan

Fraktur Diafisis Tibia dan atau Fibula


Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan bersama-sama. Fraktur dapat juga
terjadi hanya pada tibia atau fibula saja.
-

Mekanisme trauma
Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi
akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara
1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal sedangkan fraktur fibula pada batas 1/3
bagian tengah dengan 1/3 bagian proksimal, sehingga fraktur tidak terjadi pada
ketinggian yang sama. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi otot
sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama terjadinya
fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan
penonjolan tulang keluar kulut

Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan lokasi fraktur, jenis fraktur, apakah
fraktur pada tibia dan fibula atau hanya pada tibia saja atau fibula saja. Juga dapat
ditentukan apakah fraktur bersifat segmental.

Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
imobilisasi, dipasang sampai di atas lutut.
Prinsip reposisi:
o
o
o
o

Fraktur tertutup
Ada kontak 70% atau lebih
Tidak ada angulasi
Tidak ada rotasi

Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara
fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral imobilisasi dengan gips biasanya sulit
dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi.
Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo
patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah pembengkakan mereda
atau telah terjadi union secara fibrosa.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada:
o
o
o
o

Fraktur terbuka
Kegagalan dalam terapi konservatif
Fraktur tidak stabil
Adanya malunion

Metode pengobatan operatif:

o Pemasangan plate and screw


o Nail intermeduker
o Pemasangan screw semata-mata
o Pemasangan fiksasi eksterna
- Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terbuka kerusakan
jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang
o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
Komplikasi
1. Infeksi
2. Delayed union atau nonunion
3. Malunion
4. Kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartemen anterior)
5. Trauma saraf terutama pada nervous peroneal komunis
6. Gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan ini biasanya disebabkan
karena adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah.

KESIMPULAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,
baik yang bersifat total maupun parsial.
Diagnosis fraktur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pasien biasanya datang karena adanya nyeri yang terlokalisir dimana nyeri tersebut bertambah

bila digerakkan, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak,
krepitasi atau dengan gejala-gejala lain. Pada pemeriksaan fisik, perlu diperhatikan adanya syok,
anemia atau pendarahan, kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul, dan abdomen, dan faktor predisposisi
misalnya pada fraktur patologis. Pada pemeriksaan lokal dilakukan inspeksi (Look), palpasi
(Feel), pergerakan (Move), pemeriksaan neurologis , dan dilakukan pemeriksaan radiologis.
Penatalaksaan dari fraktur yaitu dengan reposisi, fiksasi, union dan rehabilitasi. Terdapat
berbagai komplikasi yagn didapatkan bila penanganan fraktur ini tidak adekuat diantaranya yaitu
malunion, delayed union maupun nonunion.

DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon L, et al (eds). Apleys system of orthopaedics and fractures. 9 th ed. London:


Hodder Arnold; 2010.
2. Chapman MW. Chapmans

orthopaedic

surgery.

3rd

ed.

Boston:

Lippincott

Williams&wilkins; 2001. p 756-804.


3. Rasjad C. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone; 2009. p. 325-6;
355-420.
4. Konowalchuk BK, editor. Tibia shaft fractures [online]. 2012. [cited 2012 Feb 28].
Available from: http://www.emedicine.medscape.com/article/1249984
5. Salter RB. Textbook of disorders and injuries of the muesculoskeletal system. USA:
Williams & Wilkins; 1999. p. 436-8.
6. Universitas
sumatera
utara.

Fraktur.

Available

at:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33107/5/Chapter%20I.pdf. Accessed on
January 4th, 2014.
7. Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Musculoskeletal Imaging in
Primer of Diagnostic Imaging.4th Edition. United States: Mosby Elsevier; 2007.
8. Holmes, Erskin J., A-Z of Emergency Radiology. Cambridge University; 2004.
9. Sjamsuhidat. R., De Jong., Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran; 2003.
10. Apley, A.Graham. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem APLEY. Ed.7. Jakarta : Widya
Medika.1995
11. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone.
2007
12. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.2004.
13. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6. Jakarta :
EGC.2000.