Anda di halaman 1dari 26

TUGAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


TUMOR OTAK
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal
Bedah III

Disusun Oleh:
Dina Nur Fadhilah
Dwi Andriyani
Dytha Hanggara Indah K
Ema Desi Rahayu
Erman Suryana
Fauzan Rifai
Hardinar Dedi Susetya
Indra Nefita
Intan Novaris
Irfan Nur Kholis

NIM P07120112011
NIM P07120112012
NIM P07120112013
NIM P07120112014
NIM P07120112015
NIM P07120112016
NIM P07120112018
NIM P07120112019
NIM P07120112020
NIM P07120112021

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2014

TUMOR OTAK
A. Pengertian
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak
(benigna) ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam
ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang
belakang (medulla spinalis). Diagnosa tumor otak ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu
pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan
klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak apalagi
membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis
yang ditemukan tergantung dari lokasi tumor, kecepatan
pertumbuhan masa tumor dan cepatnya timbul gejala tekanan
tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak yang
dapat menyebabkan kompresi, infasi dan destruksi dari jaringan
otak.
Jumlah penderita kanker otak masih rendah, yakni hanya enam per
100.000 dari pasien tumor/kanker per tahun, namun tetap saja
penyakit tersebut masih menjadi hal yang menakutkan bagi
sebagian besar orang. Pasalnya, walaupun misalnya tumor yang
menyerang adalah jenis tumor jinak, bila menyerang otak tingkat
bahaya yang ditimbulkan umumnya lebih besar daripada tumor
yang menyerang bagian tubuh lain. Tumor susunan saraf pusat
ditemukan sebanyak 10% dari neoplasma seluruh tubuh, dengan
frekuensi 80% terletak pada intrakranial dan 20% di dalam kanalis
spinalis. Di Indonesia data tentang tumor susunan saraf pusat
belum dilaporkan. Insiden tumor otak pada anak-anak terbanyak
dekade 1, sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan pundak
usia 40-65 tahun.
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel
abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervous system

(CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak


yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan
neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan
intrakranial). Hal ini ditandai dengan nyeri kepala, nausea, muntah
dan papil edema. Penyebab dari tumor belum diketahui. Namun
ada

bukti

kuat

yang

menunjukan

bahwa

beberapa

agent

bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu.


Agent tersebut meliptu faktor herediter, kongenital, virus, toksin,
dan defisiensi immunologi. Ada juga yang mengatakan bahwa
tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan
penyakit peradangan. (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams
dan Maurice, 1977; Merrit, 1979).
B. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi
dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor.
Sebenarnya sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA
repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak
dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat.
Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan
pembelahan

DNA

kromosom,

kondensasi

kromatin,

serta

fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen
untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya
kanker.
Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
1.

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang

ditemukan

kecuali

pada

meningioma,

astrositoma

dan

neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga.


Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan

faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut


tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktorfaktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
2.

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)


Bangunan-bangunan

embrional

berkembang

menjadi

bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang


terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari
bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan
merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu
dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan
kordoma.
3.

Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi

dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada


bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah
dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu
radiasi.
4.

Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil

dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran


infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat
ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5.

Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan

luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang


karsinogenik

sepertimethylcholanthrone,

nitroso-ethyl-urea.

berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.

Ini

C. Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejalagejala terjadi berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis
dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan
dalam suatu perspektif waktu. Gejala neurologik pada tumor otak
biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan fokal,
disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal
terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi
langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang
tumbuh paling cepat. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang
ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan
otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi
sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat
dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan
neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai
darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga
menekan

parenkim

otak

sekitarnya

sehingga

memperberat

gangguan neurologis fokal. Peningkatan tekanan intra kranial dapat


diakibatkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam
tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan
sirkulasi

cerebrospinal.

Pertumbuhan

tumor

menyebabkan

bertambahnya massa, karena tumor akan mengambil ruang yang


relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan
oedema dalam jaringan otak. Mekanisme belum seluruhnyanya
dipahami,

namun

diduga

disebabkan

selisih

osmotik

yang

menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang


disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan
kenaikan

volume

intrakranial.

Observasi

sirkulasi

cairan

serebrospinaldari

ventrikel

laseral

ke

ruang

sub

arakhnoid

menimbulkan hidrocepalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa,
bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah
dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan
waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh
karena itu tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume
darahintra kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan
intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang
tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum.
Herniasi timbul bila girus medialis lobus temporals bergeser ke
inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak.
Herniasi

menekan

mesensefalon

menyebabkab

hilangnya

kesadaran dan menenkan saraf ketiga. Pada herniasi serebulum,


tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh
suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas
terjadi dengan cepat. Intrakranialyang cepat adalah bradicardi
progresif,

hipertensi

sistemik

(pelebaran

tekanan

nadi

dan

gangguan pernafasan).
KOMPLIKASI
a. Ganguan Fungsi Luhur
Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian
adalah gangguan fungsi luhur. Gangguan ini sering diistilahkan
dengan gangguan kognitif dan neurobehavior sehubungan dengan
kerusakan fungsi pada area otak yang ditumbuhi tumor atau
terkena pembedahan maupun radioterapi.
1) Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi
kognitif dan lokasi / lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor

otak adalah gangguan fisik neurologist, gangguan kognitif,


gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta fatique.
2) Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa
dievaluasi dengan berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness
Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality Inventory
(MMPI),

dan

Mini

mental

State

Examination

(MMSE).

Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi


lingkungan, level aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa,
memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta
persepsi.
b. Ganguan Wicara
1) Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak.
Dalam hal ini kita mengenal istilah disartria dan aphasia.
2) Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak
atau neuromuscular perifer yang bertanggung jawab dalam
proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam terapi
disartria

adalah

meningkatkan

kemampuan

verbal,

mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal.


3) Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia
motorik atau sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak
yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang terlibat adalah
kelancaran

(fluency),

keterpaduan

(komprehensi)

dan

pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi


perbaikan

fungsi

dalam

berkomunikasi,

mengurangi

ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal


komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung
terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua
komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.
c. Ganguan Pola Makan
1) Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu
ketidakmampuan menelan makanan karena hilangnya refleks
menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral, pharingeal atau
oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya

asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena


muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah
parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga
karena komplikasi radioterapi.
2) Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering
bersamaan dengan dispepsia karena space occupying process
dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya selera makan
serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan
sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan
modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih
cair/lunak).
d. Kelemahan Otot
Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang
mengenai

saraf

khususnya

ditandai

dengan

hemiparesis,

paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi yang dilakukan


menggunakan

prinsip

stimulasi

neuromusculer

dan

inhibisi

spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan


kekuatan otot, koordinasi endurasi dan pergerakan sendi.
e. Ganguan Penglihatan Dan Pendengaran
1) Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau
bagian dari otak yang memproses informasi visual (visual
korteks) dapat menyebabkan masalah penglihatan, seperti
penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
2) Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran - terutama
neuromas

akustik

dapat

menyebabkan

gangguan

pendengaran di telinga pada sisi yang terlibat otak.

f. Stroke
1) Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai
darah ke area otak, yang menyebabkan otak tidak berfungsi.
Otak sangat sensitif terhadap setiap gangguan dalam aliran
darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit kehilangan
pasokan oksigen dan glukosa.

2) Pada gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari
dua mekanisme, yaitu hemorrhagic stroke disebabkan oleh
perdarahan dari pembuluh darah kecil yang memasok darah ke
otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah yang
menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke
otak. Ada dua jenis stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan
emboli. stroke trombotik disebabkan oleh gumpalan darah yang
terbentuk di dalam arteri otak. stroke emboli disebabkan oleh
gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah otak,
kemudian gumpalan darah itu berjalan melaui aliran darah dan
sampai pada pembuluh darah otak, gumpalan darah ini
selanjutnya menyumbat suplay darah ke otak.
3) Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa
Hemorrhagic stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh
darah otak yang tertekan akibat pembesaran tumor.
g. Epilepsi
Kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian
besar disebabkan karena rangsangan langsung atau represi dari
tumor yang menyebabkan ganguan listrik pada otak dan juga
tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang dapat
menyebabkan kejang
h. Depresi
Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi
(system limbic) atau karena keadaan klinis yang disebabkan oleh
tumor tersebut, Gejala yang timbul dapat berupa menangis terusmenerus, kesedihan yang mendalam, social withdrawal, Mudah
marah, kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah laku
yang tidak wajar. Dapat juga karena efek steroid : mood and sleep
changes, ganguan bipolar (manicdepression).
i. Hidrosephalus
Hidrosephalus

terjadi

apabila

tumor

yang

terbentuk

menghalangi aliran LCS, akibatnya aliran LCS akan terhambat dan

mengakibatkan terbentuknya hidrosephalus. Selain itu peningkatan


tekanan intrakranial juga dapat menghambat aliran LCS.
j. Cerebral Hernia
1) Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak
terpaksa melalui pembukaan dalam tengkorak.
2) Tumor otak akan menyebabkan peningkatan
intrakranial,

yang

kemudian

menyebabkan

tekanan

penggeseran

parenkim otak ke foramen Magnum atau transtentorial


k. Ganguan Seksualitas
Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama
jika tumor melibatkan daerah otak yang mengontrol pelepasan
hormon

yang

mempengaruhi

libido,

termasuk

estrogen,

progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama dari otak


dapat rusak oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi
kesuburan

dan

libido

selain

itu

dapat

pula

menyababkan

menopouse dini.
l. Terbentuknya Gumpalan Darah
Adanya Tumor otak mempunyai resiko tinggi terjadinya
pembekuan darah. Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam"
(DVT) dan terjadi di pembuluh darah kaki. Gejala yang DVT
meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna kaki, meskipun
itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah
bahwa mereka dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paruparu, di mana mereka menyebabkan "thromboemboli paru" (PTE)
pembekuan darah di arteri paru.

D. Klasifikasi Tumor Otak


a. Glioma adalah tumor jaringan glia (jaringan penunjang dalam
system saraf pusat (misalnya euroligis), bertanggung jawab atas
kira-kira 40 sampai 50 % tumor otak.
b.

Tumor

meningen

(meningioma)

merupakan

tumor

asal

meningen, sel-sel mesofel dan sel-sel jaringan penyambung


araknoid dan dura dari paling penting.

c.Tumor hipofisis berasal dari sel-sel kromofob, eosinofil atau


basofil dari hipofisis anterior.
d.Tumor saraf pendengaran (neurilemoma) merupakan 3 sampai
10 % tumor intrakranial. Tumor ini berasal dari sel schawan
selubung saraf.
e. Tumor metastatis adalah lesi-lesi metastasis merupakan kira-kira
5-10 % dari seluruh tumor otak dan dapat berasal dari
sembarang tempat primer.
f. Tumor pembuluh darah antara lain :
1)Angioma adalah pembesaran massa pada pembuluh darah
abnormal yang didapat didalam atau diluar daerah otak. Tumor
ini diderita sejak lahir yang lambat laun membesar.
2)Hemangiomablastoma adalah neoplasma yang terdiri dari unsurunsur vaskuler embriologis yang paling sering dijumpai dalam
serebelum
3)Sindrom

non

hippel-lindan

adalah

gabungan

antara

hemagioblastoma serebelum, angiosmatosis retina dan kista


ginjal serta pancreas.(Sylvia A Price, 2005)

E. Manifestasi Klinik
1.
Gejala tumor otak secara umum
Gejala klinis pada tumor otak secara umum dikenal dengan istilah
trias klosis tumor otak, yaitu:
a.
Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat
dalam, terus-menerus, tumbuh, dan kadang-kadang hebat sekali.
Nyeri paling hebat pada pagi hari dan lebih berat saat beraktivitas
sehingga dapat meningkatkan TIK pada saat membungkuk, batuk,
dan mengejan pada saat BAB. Nyeri kepala dapat berkurang bila
diberi aspirin dan kompres air dingin di daerah yang sakit. Lokasi

yang sering menimbulkan nyeri terjadi di 1/3 daerah tumor dan 2/3
di dekat atau di atas tumor.
b.
Mual dan muntah
Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai akibat
rangsangan pusat muntah pada medulla oblongata. Sering terjadi
pada anak-anak dan berhubungan dengan peningkatan TIK yang
disertai pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa
didahului mual dan dapat proyektil.
c.
Papil edema
Papil edema disebabkan oleh stress vena yang
menimbulkan pembengkakan papilla saraf optikus. Bila terjadi pada
pemeriksaan oftalmoskopi (funduskopi), tanda ini mengisyaratkan
terjadi tekanan TIK. Kadang disertai gangguan penglihatan,
termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks (saat-saat
di mana penglihatan berkurang. ( Batticaca, Fransisca.B. 2008)
2.
Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:
a.
Lobus frontal
1) Menimbulkan gejala perubahan kepribadian
2) Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese
kontra lateral, kejang fokal
3) Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan
inkontinentia
4) Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom
foster kennedy
5) Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia
b.
Lobus parietal
1) Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal
hemianopsi homonym
2) Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan
c.

pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns


Lobus temporal
1) Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor,
yang didahului dengan aura atau halusinasi
2) Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan
hemiparese
3) Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat
diketemukan gejala choreoathetosis, parkinsonism.

d.

Lobus oksipital
1) Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan
gangguan penglihatan
2) Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia

berkembang menjadi hemianopsia, objeckagnosia


e. Tumor di ventrikel ke III
Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala
menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi
peninggian tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri
kepala, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran
f. Tumor di cerebello pontin angie
1) Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma
2) Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala
awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran
3) Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari
daerah pontin angel
g. Tumor Hipotalamus
1)
Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen
Monroe
2) Gangguan
gangguan

fungsi

hipotalamus

perkembangan

amenorrhoe,dwarfism,

menyebabkan

seksuil

gangguan

pada

cairan

dan

gejala:

anak-anak,
elektrolit,

bangkitan
h. Tumor di cerebelum
1) Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan
cepat terjadi disertai dengan papil udem
2) Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher
dan spasme dari otot-otot servikal
i. Tumor fosa posterior
1) Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah
disertai dengan nystacmus, biasanya merupakan gejala awal
dari medulloblastoma. (Bram Al Azri:2013)

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi


patologi pada sistem ventrikel dan cisterna.
2. CT SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa.
3. Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga
mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar
pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.
4. Elektroensefalogram (EEG) ; Memberi informasi mengenai
perubahan kepekaan neuron.
5. Ekoensefalogram ; Memberi informasi mengenai pergeseran
kandungan intra serebral.
6. Sidik

otak

akumulasi

radioaktif
abnormal

mengakibatkan

Memperlihatkan

dari

kerusakan

zat

daerah-daerah

radioaktif.

sawar

Tumor

otak

otak

yang

darah

menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif


G. Penatalaksanaan
Orang dengan tumor otak memiliki beberapa pilihan
pengobatan. Tergantung pada jenis dan stadium tumor, pasien
dapat diobati dengan operasi pembedahan, radioterapi, atau
kemoterapi. Beberapa pasien menerima kombinasi dari perawatan
diatas.
Selain itu, pada setiap tahapan penyakit, pasien mungkin
menjalani pengobatan untuk mengendalikan rasa nyeri dari kanker,
untuk

meringankan

efek

samping

dari

terapi,

dan

untuk

meringankan masalah emosional. Jenis pengobatan ini disebut


perawatan paliatif.
1. Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk tumor
otak. Tujuannya adalah untuk mengangkat sebanyak tumor dan
meminimalisir sebisa mungkin peluang kehilangan fungsi otak.

Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi.


Hal ini dilakukan dengan anestesi umum. Sebelum operasi dimulai,
rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat sayatan di
kulit

kepala

menggunakan

sejenis

gergaji

khusus

untuk

mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus


sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan
tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan.
Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa
ahli bedah dapat menggunakan saluran yang ditempatkan di bawah
kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk
meminimalkan akumulasi darah atau cairan.
Efek samping yang mungkin timbul pasca operasi pembedahan
tumor otak adalah sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama
beberapa hari pertama setelah operasi. Dalam hal ini dapat
diberikan obat sakit kepala. Masalah lain yang kurang umum yang
dapat terjadi adalah menumpuknya cairan cerebrospinal di otak
yang mengakibatkan pembengkakan otak (edema). Biasanya
pasien diberikan steroid untuk meringankan pembengkakan.
Sebuah operasi kedua mungkin diperlukan untuk mengalirkan
cairan. Dokter bedah dapat menempatkan sebuah tabung, panjang
dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakkan di
bawah kulit ke bagian lain dari tubuh, biasanya perut. Kelebihan
cairan dari otak dialirkan ke perut. Kadang-kadang cairan dialirkan
ke jantung sebagai gantinya.
Infeksi adalah masalah lain yang dapat berkembang setelah
operasi (diobati dengan antibiotic). Operasi otak dapat merusak
jaringan normal. kerusakan otak bisa menjadi masalah serius.
Pasien mungkin memiliki masalah berpikir, melihat, atau berbicara.
Pasien juga mungkin mengalami perubahan kepribadian atau
kejang. Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya
waktu. Tetapi kadang-kadang kerusakan otak bisa permanen.

Pasien mungkin memerlukan terapi fisik, terapi bicara, atau terapi


kerja.
2. Radiosurgery stereotactic
Radiosurgery stereotactic adalah tehnik "knifeless" yang lebih
baru untuk menghancurkan tumor otak tanpa membuka tengkorak.
CT scan atau MRI digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat
dari tumor di otak. Energi radiasi tingkat tinggi diarahkan ke
tumornya dari berbagai sudut untuk menghancurkan tumornya.
Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau gamma, atau
akselerator linier dengan foton, ataupun sinar proton.
Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil
kemungkinan komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu
pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sample jaringan
tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh ahli patologi, serta
pembengkakan otak yang dapat terjadi setelah radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terjadi di
batang otak (brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya, ahli
bedah tidak mungkin dapat mengangkat tumor tanpa merusak
jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat menerima
radioterapi atau perawatan lainnya.
3. Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor.
Sebuah mesin besar diarahkan pada tumor dan jaringan di
dekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke seluruh otak atau
ke syaraf tulang belakang.
Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi
membunuh sel-sel tumor (sisa) yang mungkin tidak dapat diangkat
melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai terapi
pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan
ukuran tumor serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya
hanya berlangsung beberapa menit.
4. Kemoterapi

Kemoterapi yaitu penggunaan satu atau lebih obat-obatan untuk


membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi diberikan secara oral atau
dengan infus intravena ke seluruh tubuh. Obat-obatan biasanya
diberikan dalam 2-4 siklus yang meliputi periode pengobatan dan
periode pemulihan.
Dua jenis obat kemoterapi, yaitu: temozolomide (Temodar) dan
bevacizumab (Avastin), baru-baru ini telah mendapat persetujuan
untuk pengobatan glioma ganas. Mereka lebih efektif, dan memiliki
efek samping lebih sedikit jika dibandingkan dengan obat-obatan
kemo versi lama. Temozolomide memiliki keunggulan lain, yaitu
bisa secara oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan,
ahli bedah biasanya melakukan operasi pengangkatan tumor dan
kemudian melakukan implantasi wafer yang mengandung obat
kemoterapi. Selama beberapa minggu, wafer larut, melepaskan
obat ke otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya.

H. Prognosis
Prognosis

untuk

pasien

dengan

tumor

intra

cranial

tergantung pada diagnosa awal dan penanganannya, sebab


pertumbuhan

tumor

akan

menekan

pada

pusat

vital

dan

menyebabkan kerusakan serta kematian otak. Meskipun setengah


dari seluruh tumor adalah jinak, dapat juga menyebabkan kematian
bila menekan pusat vital.

ASUHAN KEPERAWATAN
A.Pengkajian
1. Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin,
status perkawinan, dan penanggung biaya.
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh nyeri kepala
b. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengeluh nyeri kepala, muntah, papiledema, penurunan
tingkat kesadaran, penurunan penglihatan atau penglihatan
double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia),
hilangnya ketajaman atau diplopia.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah mengalami pembedahan kepala
d. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu
riwayat keluarga dengan tumor kepala.
e. Pengkajian psiko-sosio-spirituab
Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental,
kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan
hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya
perubahan peran.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada

klien

dengan

tomor

otak

meliputi

pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum,


pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3
(Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).
a. Pernafasan B1 (breath)
1) Bentuk dada : normal

2) Pola napas : tidak teratur


3) Suara napas : normal
4) Sesak napas : ya
5) Batuk : tidak
6) Retraksi otot bantu napas ; ya
7) Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
b. Kardiovaskular B2 (blood)
1) Irama jantung : irregular
2) Nyeri dada : tidak
3) Bunyi jantung ; normal
4) Akral : hangat
5) Nadi : Bradikardi
6) Tekanan darah Meningkat
c. Persyarafan B3 (brain)
1) Penglihatan (mata)
: Penurunan penglihatan, hilangnya
ketajaman atau diplopia.
2) Pendengaran (telinga):

Terganggu

bila

mengenai

lobus

temporal
3) Penciuman (hidung) : Mengeluh bau yang tidak biasanya, pada
lobus frontal
4) Pengecapan (lidah)

: Ketidakmampuan sensasi (parathesia

atau anasthesia)
a) Afasia: Kerusakan

atau

kehilangan

fungsi

bahasa,

kemungkinan ekspresif atau kesulitan berkata-kata, reseotif


atau berkata-kata komprehensif, maupun kombinasi dari
keduanya.
b) Ekstremitas: Kelemahan atau paraliysis genggaman tangan
tidak seimbang, berkurangnya reflex tendon.
c) GCS: Skala yang digunakan untuk menilai

tingkat

kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma


atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap
rangsangan yang diberikan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score)
dengan rentang angka 1 6 tergantung responnya yaitu :
a. Eye (respon membuka mata)
(4) : Spontan

(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka


mata).
(2) :Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri,
misalnya menekan kuku jari)
(1) : Tidak ada respon
b. Verbal (respon verbal)
(5): Orientasi baik
(4): Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya
berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3): Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata
masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat.
Misalnya aduh, bapak)
(2): Suara tanpa arti (mengerang)
(1): Tidak ada respon
c. Motor (respon motorik)
(6): Mengikuti perintah
(5):

Melokalisir

nyeri

(menjangkau

&

menjauhkan

stimulus saat diberi rangsang nyeri)


(4): Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau
tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3): Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi
kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang
nyeri).
(2): Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya
extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki
extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1): Tidak ada respon
d. Perkemihan B4 (bladder)
1) Kebersihan : bersih
2) Bentuk alat kelamin : normal
3) Uretra : normal
4) Produksi urin: normal

e. Pencernaan B5 (bowel)
1) Nafsu makan : menurun
2) Porsi makan : setengah
3) Mulut : bersih
4) Mukosa : lembap
f. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
1) Kemampuan pergerakan sendi : bebas
2) Kondisi tubuh: kelelahan

B.Diagnosis Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan kerusakan
sirkulasi akibat penekanan oleh tumor.
b. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan ketidakmampuan mengenal informasi.

C.Intervensi Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan kerusakan
sirkulasi akibat penekanan oleh tumorditandai dengan perubahan
tingkat

kesadaran,

kehilangan

memori,

perubahan

respon

sensorik/motorik, gelisah, perubahan tanda vital.


Kriteria hasil:
Tingkat kesadaran stabil atau ada perbaikan, tidak adanya tanda
tanda peningkatan tekanan Intra Kranial.
Intervensi
1. Pantau status neurologis

Rasional
1. Mengkaji adanya perubahan

secara teratur dan bandingkan

pada tingkat kesadaran dan

dengan nilai standar

potensial

peningkatan

TIK

dan

bermanfaat

dalam

menentukan

lokasi,

perluasan

dan

perkembangan
2. Pantau tanda vital tiap 4 jam. 2.

kerusakan

SSP.
Normalnya autoregulasi

mempertahankan

aliran

darah ke otak yang stabil.


Kehilangan

autoregulasi

dapat mengikuti kerusakan


vaskularisasi serebral lokal
dan menyeluruh.
3. Pertahankan posisi netral atau 3. Kepala yang miring pada
posisi tengah

salah

satu

vena

sisi

menekan

jugularis

menghambat

aliran

dan
darah

vena yang selanjutnya akan


4. Pantau

pemasukan

meningkatkan TIK.
dan 4. Sebagai indikator dari cairan

pengeluaran cairan, turgor kulit

total tubuh yang terintegrasi

dan

dengan perfusi jaringan

keadaan

mukosa.
5. Bantu

membran

pasien

untuk

5.

Aktivitas

ini

akan

menghindari/membatasi batuk,

meningkatkan tekanan intra

muntah,

toraks dan intra abdomen

pengeluaran

feses

yang dipaksakan/mengejan.
6. Perhatikan
yang

adanya
meningkat

peningkatan keluhan

yang dapat meningkatkan

TIK
gelisah 6. Petunjuk non verbal ini
dan

mengindikasikan
penekanan

TIK

adanya
atau

menandakan adanya nyeri


ketika pasien tidak dapat

mengungkapkan keluhannya
secara verbal.

b. Nyeri berhubungan dengan

peningkatan tekanan intrakranial

ditandai dengan klien mengatakan nyeri, pucat pada wajah,


gelisah, perilaku tidak terarah/hati hati, insomnia, perubahan pola
tidur.
Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, klien
menunjukkan perilaku untuk mengurangi kekambuhan.
Intervensi
Rasional
1. Kaji keluhan nyeri: intensitas, 1. Identifikasi karakteristik nyeri
karakteristik, lokasi, lamanya,

dan faktor yang berhubungan

faktor yang memperburuk dan

dapat

meredakan.

yang

memilih
cocok

mengevaluasi
2. Observasi

adanya

tanda-

tanda nyeri non verbal seperti


ekspresi

wajah,

intervensi

serta

untuk

keefektifan

dari terapi yang diberikan.


2. Mengetahui tingkat nyeri
pasien

gelisah,

menangis/meringis,
perubahan tanda vital.
3. Ikutsertakan pasien/keluarga

3. Mengetahui

untuk

melaporkan

nyeri

dan

dengan

segera

nyeri

beratnya serangan.

timbul.
4. Kolaborasi

jika

dengan

pemberian analgetik

dokter,

dapat

intervensi dini
mengurangi

4. Analgetik memblok lintasan


nyeri sehingga nyeri akan
berkurang

c. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan

kuranggya terpapar informasi ditandai

dengan klien dan keluarga meminta informasi, ketidakakuratan


mengikuti instruksi, perilaku yang tidak tepat.
Kriteria hasil: Klien/keluarga mengungkapkan pemahaman tentang
kondisi dan pengobatan, memulai perubahan perilaku yang tepat.

1. Ajak

Intervensi
pasien

dalam

mengidentifikasikan
kemungkinan
predisposisi
2. Diskusikan
pentingnya

Rasional
1. Menghindari/membatasi faktorfaktor yang sering kali dapat

faktor
mengenai
posisi/letak

tubuh yang normal

mencegah

berulangnya

serangan.
2. Menurunkan

regangan

pada

otot daerah leher dan lengan


dan

dapat

menghilangkan

ketegangan dari tubuh dengan


3. Diskusikan dengan pasien

sangat berarti.
3. Pasien
mungkin

dan keluarga tentang obat

sangat

dan efek sampingnya

terhadap

menjadi

ketergantungan
obat

dan

tidak

mengenali bentuk terapi yang


lain.

DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diace C dan Joann C. Hackley. 2000. Buku Saku
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Price, Sylvia A dan Lorrane M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit Vol 2. Jakarta: EGC
Tarwoto, Watonah, dan Eros Siti Suryati. 2007. Keperawatan Medikal
Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: CV Sagung Seto
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mohamad Isa. Perawatan Penyakit Dalam & Bedah. Pusat Pendidikan
Pegawai Departemen Kesehatan R.I. : Jakarta.
Muttaqin, Ariff. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan Jakarta: Salemba Medika.
Oswari E. 1989. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : Gramedia

Sylvia A. Price.1995.Patofisiologi, konsep klinik proses- proses penyakit


ed. 4. Jakarta : EGC
Azri, Bram Al. 2013. Askep Tumor Otak, (Online), (http://nersbramalazri.
blogspot.com/2013/01/askep-tumor-otak.html, diakses pada 10 Mei 2013)