Anda di halaman 1dari 7

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA


BANDUNG

Diserahkan Kepada :
Vida Handayani, M.Psi., Psikolog
Trisa Genia C. Z, M.Si., Psikolog

Tugas 6
Konseling
Disusun oleh:
Kelompok 5
Helen Nitami
Mona Sabrina
Dissa Villianika
Muhammad Haadii S.
Nadia Meyla Putri
Kelas D

(1330014)
(1330030)
(1330117)
(1330151)
(1330189)

Diserahkan Pada Tanggal :


7 Maret 2016

Kasus Pelanggaran Kode Etik


Dewi adalah seorang lulusan S2 psikolog telah membuka sebuah praktek
konseling, sedangkan Ani adalah seorang ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang
anak. Ani dan Dewi merupakan teman lama karena mereka sudah saling mengenal
sejak kecil. Oleh karena itu, Ani dan Dewi sudah saling mengenal keluarganya
masing-masing. Ani dan Dewi sudah jarang bertemu karena kesibukan mereka
satu sama lain. Suatu hari, Ani datang ke tempat praktek Dewi untuk berkonseling
0

mengenai masalah yang dialaminya. Dewi membantu Ani sebagai seorang


psikolog untuk membantu permasalahan yang dialami oleh Ani tersebut. Setelah
kejadian tersebut, Dewi pada akhirnya mempunyai inisiatif untuk menemui
orangtua Ani dan menceritakan masalah yang dihadapi oleh Ani karena ia merasa
bahwa ia adalah teman dari kecil dan mengenal keluarga Ani. Dewi menganggap
bahwa tindakan yang dilakukannya sebagai niat baik agar dapat menolong Ani
sebagai teman kecilnya. Selain menceritakan setiap permasalahan yang dialami
oleh Ani, Dewi juga menunjukkan semua dokumen konseling yang telah
dilakukan, berikut hasil test dan rekaman wawancara yang telah dilakukan kepada
orang tua Ani. Dewi melakukan semua hal ini tanpa persetujuan dari Ani sebagai
kliennya.
Pembahasan
Dalam kasus ini, Dewi telah melakukan pelanggaran pasal-pasal pada Bab
XIV sebagai berikut :

Pasal 72 ayat 1d
Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis
a.

Konselor/Psikoterapis adalah seseorang yang a. memiliki kompetensi dan


kualifikasi untuk menjalankan konseling psikologi/terapi psikologi yang
akan dilaksanakan secara mandiri dan/atau masih dalam supervisi untuk
melaksanakannya

sesuai

dengan

kaidah

pelaksanaan

konseling

psikologi/psikoterapi tersebut.
b.

mengutamakan dasar-dasar profesional.

c.

memberikan layanan konseling atau terapi kepada semua pihak yang


membutuhkan.

d.

mampu bertanggung jawab untuk menghindari dampak buruk akibat


proses konseling atau terapi yang dilaksanakannya terhadap klien.

Dewi telah melanggar pasal 72 ayat 1d karena ia mengungkapkan hasil tes


dan rekaman wawancara konseling Ani kepada kedua orang tua Ani tanpa
memertimbangkan dampak buruk yang mungkin dihadapi oleh Ani. Dengan
demikian, Ani tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai konselor untuk
1

menghindari dampak buruk akibat proses konseling yang dilakukannya bersama


Ani.

Pasal 73 ayat 3

(3) Informed Consent didokumentasikan sesuai prosedur yang tetap.


Hal-hal yang perlu diinfor-masikan sebelum persetujuan konseling/terapi
ditandatangani oleh orang yang akan menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi
adalah sebagai berikut:
a. proses Konseling Psikologi/Psikoterapi,
b. tujuan yang akan dicapai,
c. biaya,
d. keterlibatan pihak ketiga jika diperlukan,
e. batasan kerahasiaan,
f. memberi kesempatan pada orang yang akan menjalani Konseling/Terapi untuk
mendiskusikannya sejak awal.
Dalam kasus ini tidak dijelaskan mengenai isi dari surat persetujuan yang
diberikan Dewi pada Ani mengenai keterlibatan pihak ketiga yang berhak untuk
mengetahui informasi yang Ani berikan pada Dewi. Dalam kasus ini juga terlihat
bahwa klien Dewi adalah Ani, maka seharusnya Dewi hanya membicarakan
mengenai informasi Ani diantara mereka berdua saja tidak untuk diberikan pada
pihak ketiga. Sehingga, Dewi telah melanggar pada pasal ini.

Pasal 74

Ketika psikolog memberikan jasa konseling psiko-logi/psikoterapi pada beberapa


orang yang memiliki hubungan keluarga atau pasangan (misal: suami istri,
significant others, atau orangtua dan anak) maka perlu diperhatikan beberapa
prinsip dan klarifikasi mengenai hal-hal sebagai berikut:
a) Siapa yang menjadi pengguna layanan psikologi tersebut, peran dan hubungan
psikolog bagi masing-masing orang yang terlibat dan/atau dilibatkan dalam proses
terapi.
b) Kemungkinan penggunaan layanan dan informasi yang diperoleh dari masingmasing orang atau keluarga yang terlibat dalam proses terapi dengan

memperhatikan azas kerahasiaan. (lihat Bab V buku kode etik ini tentang
Kerahasiaan).
c) Jika secara jelas psikolog harus bertindak dalam peran yang bertentangan
(misal sebagai terapis keluarga dan kemudian menjadi saksi untuk salah satu
pihak dalam kasus perceraian), psikolog perlu mengambil langkah dalam
menjelaskan atau memodifikasi, atau menarik diri dari peran-peran yang ada
secara tepat. (lihat pasal 16 tentang Hubungan Majemuk dan pasal 60 tentang
Peran Majemuk dalam Forensik buku Kode Etik ini).
Dalam kasus ini Ani datang pada Dewi seorang diri dan terlihat pada kasus
bahwa Ani tidak bermaksud untuk melibatkan kelurganya pada proses konseling.
Sehingga, pengguna layanan atau klien Dewi adalah Ani dan keluarga Ani tidak
terlibat dalam proses konseling ini. Hal ini yang menentukan apakah keluarga Ani
berhak mengetahui atas informasi yang diberikan Ani kepada Dewi. Keluarga Ani
yang tidak terlibat dalam proses konseling menandakan bahwa keluarga Ani tidak
berhak mengetahui informasi yang diberikan Ani. Dalam pasal ini Dewi
melanggarnya karena memberitahukan informasi Ani kepada keluarga yang tidak
berhak untuk mengetahuinya.
Dewi juga telah melakukan pelanggaran pada pasal-pasal yang terdapat pada
bab lainnya, yaitu :
a.

Pasal 16 ayat 2 dan 3 (Bab IV)


Hubungan Majemuk
(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sedapat mungkin menghindar dari
hubungan majemuk apabila hubungan majemuk tersebut dipertimbangkan
dapat merusak objektivitas, kompetensi atau efektivitas dalam menjalankan
fungsinya sebagai Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi, atau apabila
beresiko terhadap eksploitasi atau kerugian pada orang atau pihak lain dalam
hubungan profesional tersebut.
(3) Apabila ada hubungan majemuk yang diperkirakan akan merugikan,
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi melakukan langkah-langkah yang
masuk akal untuk mengatasi hal tersebut dengan mempertimbangkan

kepentingan terbaik orang yang terkait dan kepatuhan yang maksimal


terhadap Kode etik.
Dalam kasus ini, Dewi memiliki hubungan yang majemuk dengan Ani, yaitu
sebagai teman kecil dan konselor. Dewi sebagai seorang psikolog tidak
menghindari hubungan majemuk yang dapat merusak objektivitasnya dalam
melakukan konseling dengan Ani. Dewi juga tidak melakukan langkah-langkah
pencegahan untuk mengatasi dampak dari hubungan majemuk yang dialami
olehnya dengan Ani.
b.

Pasal 24 (Bab V)
Mempertahankan Kerahasian Data
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib memegang teguh rahasia yang
menyangkut klien atau pengguna layanan psikologi dalam hubungan dengan
pelaksanaan kegiatannya. Penggunaan keterangan atau data mengenai
pengguna layanan psikologi atau orang yang menjalani layanan psikologi
yang diperoleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam rangka
pemberian layanan Psikologi, hendaknya mematuhi hal-hal sebagai berikut
a) Dapat diberikan hanya kepada yang berwenang mengetahuinya dan hanya
memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan tujuan pemberian layanan
psikologi.
b) Dapat didiskusikan hanya dengan orang-orang atau pihak yang secara
langsung berwenang atas diri pengguna layanan psikologi.
c) Dapat dikomunikasikan dengan bijaksana secara lisan atau tertulis kepada
pihak ketiga hanya bila pemberitahuan ini diperlukan untuk kepentingan
pengguna layanan psikologi, profesi, dan akademisi. Dalam kondisi
tersebut indentitas orang yang menjalani pemeriksaan psikologi tetap
dijaga kerahasiaannya.
Dalam kasus ini, Dewi telah melanggar pasal 24 karena ia telah gagal

menjaga dan mempertahankan informasi klien. Dewi telah melanggar pasal 24a
dan 24b karena ia mengkomunikasikan hasil tes dan rekaman wawancara
konseling kepada kedua orang tua Ani yang bukan merupakan pihak yang secara
langsung berwenang atas diri pengguna layanan psikologi. Dewi melanggar pasal
4

24c karena ia tidak mengkomunikasikan hasil konseling tersebut untuk


kepentingan pengguna layanan psikologi, profesi, dan akademisi.
c.

Pasal 25 (Bab V)

(2) Lingkup Orang


a) Pembicaraan yang berkaitan dengan layanan psikologi hanya dilakukan
dengan mereka yang secara jelas terlibat dalam permasalahan atau
kepentingan tersebut.
b) Keterangan atau data yang diperoleh dapat diberitahukan kepada orang
lain atas persetujuan pemakai layanan psikologi atau penasehat
hukumnya.
Pada kasus ini, Dewi telah melanggar pasal 25 ayat 2a dan 2b karena orang
tua Ani bukan merupakan pihak yang secara jelas terlibat dalam permasalahan
yang dialami oleh Ani. Dewi juga memberitahukan hasil konseling kepada orang
tua Ani tanpa persetujuan dari Ani sebagai pemakai layanan psikologi.

DAFTAR PUSTAKA
Himpsi. (2010). Kode Etik Psikologi Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat
Himpunan Psikologi Indonesia.

Daftar Rujukan
Pakpahan, Hillary. (2013). CONTOH PELANGGARAN KODE ETIK. Diakses dari
http://hillarypakpahan.blogspot.co.id/2013/11/contoh-pelanggaran-kodeetik.html pada tanggal 6 Maret 2016 pukul 21.30.

Anda mungkin juga menyukai