Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KODIKOLOGI

RANAH KAJIAN KODIKOLOGI

NUR AFIKA
F51115001

SASTRA DAERAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2016

Iluminasi dan Ilustrasi Dalam Naskah Nusantara

Naskah Kuno dari Lontar


NASKAH DAN FILOLOGI
Kearifan lokal yang mengakar dalam suatu kebudayaan dapat dilacak
kembali pada tinggalan budaya masa lalu kebudayaan tersebut. Aneka bentuk
tinggalan budaya masa lalu tersebut salah satunya berbentuk naskah dan ilmu
pengetahuan memungkinkan adanya kajian ilmiah terhadap naskah tersebut
yakni dengan menggunakan ilmu filologi.
Menurut Baried, dkk (1994:2) kata filologi berasal dari bahasa Yunani
philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti teman dan logos
yang berati pembicaraan atau ilmu. Dalam perkembangannya, philologia
kemudian diartikan sebagai senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi
seperti karya-karya sastra. Kata filologi, sebagai istilah yang digunakan untuk
menyebut keahlian yang diperlukan dalam mengkaji peninggalan tulisan yang
berasal dari beratus tahun yang lampau, dicetuskan pertama kali pada sekitar
pada abad ke-3 SM oleh Eratosthenes, salah seorang ahli dari Iskandariyah.
Filologi di Indonesia, awalnya dikembangkan oleh pemerintahan kolonial
Belanda, bertujuan untuk mengungkap informasi masa lampau yang terkandung
dalam bahan tertulis peninggalan masa lalu dengan harapan adanya nilai-nilai
atau hasil budaya masa lampau yang diperlukan dalam kehidupan masa kini
(Baried dkk, 1994: 9).

Seperti halnya bidang ilmu pengetahuan yang lain, filologi pun memiliki
sasaran atau obyek kerja. Manyambeang (1989: 18) mengatakan bahwa obyek
filologi adalah naskah atau teks dengan menggunakan media bahasa sebagai
sarana penelitian. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa, naskah dan teks memiliki
pengertian yang berbeda. Naskah (handschrijft Belanda, manuscript Inggris)
merupakan semua bahan tulisan sebagai hasil kebudayaan masa lalu dan dengan
demikian bersifat konkrit dan dapat dipegang atau disentuh, sedangkan teks
adalah isi naskah itu sendiri. Kajian ilmu yang mendalami segala sesuatu
tentang teks, seperti cara penurunan/penyalinan teks, pemahaman atau
penafsiran serta penambahan atau pengurangan kata atau kalimatnya disebut
tekstologi; dan pembahasan seputar seluk beluk naskah, misalnya bahan, alat
tulis, umur, tempat penulisan maupun perkiraan penulis naskah, menggunakan
kajian ilmu kodikologi (1989: 19-20).
Walau sama-sama merupakan hasil tulisan tangan, terdapat perbedaan yang
signifikan antara prasasti dan naskah. Baried, dkk (1994: 55-56) menunjukkan
perbedaannya sebagai berikut:
1. Naskah umumnya berupa buku atau menggunakan bahan tulisan tangan
dari kulit kayu, dluwang, dll. Prasasti menggunakan media alas dari batu,
logam, marmer, dll.
2. Naskah pada umumnya panjang karena memuat cerita yang lengkap
sedang prasasti hanya berisi hal-hal penting saja, misalnya pemberitahuan
resmi pendirian sebuah bangunan suci.
3. Naskah biasanya bersifat anonim dan tidak berangka tahun sementara
dalam prasasti sering tercantum nama penulis dan tahun pembuatannya.
4. Naskah mengalami proses penyalinan dan karenanya berjumlah banyak.
Di lain pihak, prasasti tidak demikian.
5. Naskah yang paling tua adalah naskah Tjandra-karana yang
menggunakan bahasa Jawa Kuno (kira-kira abad ke-8) sedangkan prasasti
yang paling tua diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 (prasasti
Kutai).
Suatu perkembangan yang perlu dicatat dalam penelitian filologi di
Indonesia adalah timbulnya perhatian pada ilmu kodikologi yang sebelumnya
tidak diminati secara khusus oleh para peneliti (Ikram, 1997: 4).
ILUMINASI DAN ILUSTRASI DALAM KODIKOLOGI

Kodikologi, sebagai salah satu ilmu bantu kajian filologi selain


tekstologi, berasal dari kata Latin codex (bentuk tunggal; bentuk jamak
codices) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi naskah, bukan
menjadi kodeks. Sri Wulan Rujiati Mulyadi menyatakan bahwa kata caudex
atau codex dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu
sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti teras batang pohon. Kata
codex kemudian dalam berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya
klasik dalam bentuk naskah. Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah
kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse
Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan
Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika
karyanya, Les Manuscrits diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut. Dain
sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan
bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan
walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal
yang baru. Selanjutnya Dain mengatakan bahwa tugas dan daerah kajian
kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian
mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog,
penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan
naskah itu (Mulyadi, 1994:1-2).
Dalam artikelnya yang berjudul Iluminasi Naskhah-naskhah
Minangkabau, Zuriati menjelaskan bahwa pada awalnya istilah iluminasi
digunakan dalam penyepuhan emas pada beberapa halaman naskah untuk
memperoleh keindahan dan biasanya ditempatkan sebagai hiasan atau gambar
muka (frontispiece) naskah. Dalam perkembangannya, istilah iluminasi ini
dapat dipakai dalam pengertian yang luas untuk menunjukkan perlengkapan
dekoratif apa saja yang, biasanya, berhubungan dengan warna-warna atau
pigmen metalik dan didesain untuk mempertinggi nilai penampilan naskah,
meliputi, antara lain bingkai teks yang dihias, penanda ayat, penanda juz, dan
tanda kepala surat pada Alquran. Jadi, pada dasarnya, iluminasi adalah hiasanhiasan yang terdapat pada naskah yang, terutama, berfungsi untuk memperindah
penampilan naskah. Di samping iluminasi, istilah ilustrasi muncul kemudian
untuk merujuk hiasan yang selain berfungsi untuk memperindah naskah, juga
mendukung atau menjelaskan teks. Dalam studi naskah-naskah Eropa, kedua
istilah tersebut sering dipakai secara bergantian. Akan tetapi, kedua istilah itu
selalu digunakan secara berbeda dalam studi naskah-naskah Islam. Meskipun
demikian, beberapa penelitian membuktikan bahwa iluminasi dan ilustrasi tidak
selalu dapat dibedakan karena perbedaan fungsinya tersebut (2010: 1-2).
Secara lebih sederhana, Mulyadi (1994: 69) menjelaskan bahwa ragam
hias yang terdapat pada sebuah naskah dapat dibedakan menjadi: iluminasi,

yakni hiasan bingkai yang biasanya terdapat pada halaman awal dan mungkin
juga pada halaman akhir; dan ilustrasi, yaitu hiasan yang mendukung teks.
Naskah-naskah tua Nusantara tersebar di seluruh wilayah Indonesia,
sebagian besar ditulis dalam bahasa daerah yaitu: Melayu, Sunda, Jawa, Bali,
Batak, Lampung, Bugis, Makasar, Madura dll. Sedangkan huruf/aksara yang
dipakai adalah aksara daerah yaitu huruf Batak, Lampung, Rencong, Bugis,
Makasar, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Bali, Arab Jawa/Jawi dan Arab
Pegon/Melayu. Sebagian lainnya dalam huruf Palawa. Perlu diingat bahwa
naskah-naskah Nusantara itu sebagian besar tidak bergambar (ilustrasi), hanya
sebagian kecil saja yang memuat ilustrasi dan iluminasi. Dari sebagian naskah
yang bergambar itulah terlihat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah
memiliki tradisi visualisasi yang unik dan mempesona (Damayanti dan Suadi,
2009).

Iluminasi
Sebagai salah satu wilayah kajian kodikologi, pembahasan mengenai iluminasi
pada naskah-naskah Nusantara baru muncul pada pertengahan abad ke-20
ketika Coster-Wijsman (1952) menjelaskan sedikit tentang ilustrasi pada naskah
Jawa, dalam cerita Pandji Djajakusuma. Hingga kini, sejumlah tulisan hasil
penelitian terhadap naskah-naskah beriluminasi, terutama naskah Jawa dan
Melayu telah diterbitkan. Hal-hal penting yang patut dicatat adalah bahwa
iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menunjukkan ciriciri kedaerahan tempat naskah-naskah itu berasal dan merupakan tanda-tanda
yang bermakna (Zuriati, 2010: 2).
Contoh Iluminasi pada Naskah Jawa di Palembang, berupa Puisi yg ditulis
dengan huruf Arab Melayu, 1830 (Koleksi Royal Asiatik Society, Raffles Java,
UK)
Berdasarkan penelitian, iluminasi dalam naskah lebih banyak ditemukan
pada surat-surat para raja masa lalu dalam korespondensi dengan pihak kolonial
Belanda, yang kemudian dikenal dengan istilah Golden Letters. Walau tentunya
ditemukan juga dalam beberapa naskah lain, misalnya hikayat, namun dalam
jumlah yang tidak banyak (Mulyadi , 1994: 71-72). Dalam pembuatannya,
iluminasi banyak menggunakan warna-warna mencolok, antara lain kuning,
hijau, biru, merah, oranye, coklat, ungu dan campuran warna.
Hiasan berbentuk bingkai berhias ini, umumnya terdapat pada beberapa
halaman di awal naskah dan di beberapa halaman pada akhir naskah. Jarang
sekali, hiasan bingkai berhias tersebut ditemukan atau terletak di halaman-

halaman pertengahan naskah. Pada satu sisi hal itu memperjelas, bahwa
iluminasi atau hiasan bingkai tersebut berguna untuk memikat atau
menimbulkan daya tarik pembacanya. Sekaligus, hiasan bingkai berhiasa
tersebut menambah nilai (seni) naskah tersebut. Setidaknya, pembaca akan
mengawali bacaannya dengan rasa senang, dengan daya tarik dan nilai (seni)
yang baik, dan akan mengakhiri pula bacaannya dengan tetap mempertahankan
rasa senang itu. Di sisi lain, posisi yang biasa ditempati oleh hiasan bingkai
tersebut menunjukkan pula, bahwa menghiasi atau membingkai teks itu
bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, melainkan suatu pekerjaan yang
juga memerlukan suatu keterampilan, khususnya keterampilan menggambar.
Hiasan atau gambar yang sangat sederhana sekalipun dikerjakan dengan penuh
perhitungan dan kehati-hatian, sehingga tampilan bingkai tersebut menjadi
indah dan menarik serta tampak proporsional. Hiasan bingkai yang dikerjakan
secara sederhana atau dengan teknik yang tinggi, tentu saja, akan membedakan
kualitas gambar atau kualitas iluminasinya (Zuriati, 2010: 7-8).
Mujizah menyatakan bahwa hiasan yang digunakan diambil dari kekayaan
alam, yakni flora, seperti motif bunga delima, bunga krisan, mawar, bunga popi,
pakis, melati, dan bunga tanjung. Di samping itu dipakai juga gambar dari
benda-benda suci yang hidup dalam tradisi seperti swastika, bola api, mahkota,
kubah, dan topi. Gambar dan motif-motif yang dipakai pada iluminasi, bukan
hanya untuk keindahan semata, melainkan juga bermakna. Makna itu sifatnya
tersembunyi sebab disampaikan melalui simbol atau lambang. Berdasarkan
beberapa buku acuan tentang simbol, ternyata sebagian besar simbol yang
dipakai maknanya berkaitan dengan sumber-sumber kekuasaan, seperti raja,
pelindung, dan Tuhan. Makna-makna itu wajar saja dipakai sebab surat-surat
beriluminasi dibuat oleh para penguasa (2010: 2-5).
Surat-surat beriluminasi di Nusantara ini berasal dari banyak daerah, seperti
Aceh, Riau, Lingga, Johor-Pahang, dan Trengganu, Palembang, Madura,
Surabaya, Batavia, Bogor, Banten, Bima, Pontianak, Mempawah, Banjarmasin,
Gorontalo, dan Tanete. Surat ini jumlahnya mencapai 125 surat yang dikirim
dari Raja-Raja Nusantara kepada Pemerintah Kolonial atau sebaliknya dari
Pemerintah Kolonial kepada Raja Nusantara. Kini surat-surat tersebut menjadi
koleksi berharga di berbagai lembaga, baik di dalam maupun di luar negeri,
seperti Arsip Nasional di Jakarta, Indonesia, Perpustakaan Universitas Leiden
dan Perpustakaan KITLV di Belanda, British Library dan Perpustakaan
Cambridge University di London, Inggris, serta Bibliotheque Nationale di Paris,
Perancis (Mujizah, 2010)

Ilustrasi

Contoh Ilustrasi pada Serat Ki Asmarasupi, 1893 (Koleksi foto Yayasan Lontar)
Berdasarkan definisinya, ilustrasi merupakan unsur pendukung teks.
Damayanti dan Suadi (2009) menjabarkan nilai, latar belakang dan fungsi
ilustrasi, sebagai berikut:
1. Ilustrasi pada naskah memiliki metoda tertentu yang mengandung
sejumlah nilai, norma, aturan dan falsafah hidup sebagai manifestasi dari
perwujudan daya cipta masyarakat.
2. Wujud visualnya merupakan representasi dari nilai-nilai dan aturanaturan tertentu yang terkait dengan proses penciptaan suatu produk seni
rupa tradisi.
3. Ilustrasi pada naskah mempunyai fungsi sosial sebagai media komunikasi
yang terkait dengan sistem nilai, pranata sosial dan budaya pada masanya
bahkan masih dijadikan pedoman masyakat Nusantara hingga sekarang.
4. Faktor-faktor enkulturasi, akulturasi, sinkretisme, asimilasi yang
disebabkan oleh persilangan budaya asing turut memberikan ciri-ciri
khusus terhadap wujud visual gambar Ilustrasi pada naskah nusantara,
baik dilihat dari persamaannya maupun perbedaannya. Mengingat posisi
strategis negara Indonesia yang terletak diantara dua benua dan menjadi
tempat persinggahan antar bangsa yang menyebabkan terjadinya proses
silang budaya dan globalisasi sejak berabad-abad. Naskah Nusantara
adalah gambaran transformasi dalam budaya baca tulis dan seni rupa.
5. Ilustrasi pada naskah nusantara memuat nilai-nilai spiritualitas yang
mencerminkan masyarakatnya adalah masyarakat beragama yang
memiliki keyakinan tentang ketuhanan.
Dalam perkembangannya, gaya ilustrasi dalam naskah di nusantara
mengalami banyak penyesuaian dengan kondisi yang ada saat itu. Gaya ini terus
berevolusi sejak masa Hindu, Islam hingga masa kolonial Belanda.
Keberadaan iluminasi dan ilustrasi pada naskah nusantara membuktikan
adanya cita rasa seni yang tinggi yang dimiliki oleh nenek moyang bangsa ini.
Aneka fungsi dan nilai sosial dari setiap iluminasi dan ilustrasi yang terlihat
dalam naskah-naskah tersebut menunjukkan kualitas peradaban yang pernah
dimiliki oleh nusantara.
Adanya praktik jual beli naskah Melayu di Sumatera Barat, Riau dan
Kepulauan Riau menyebabkan banyak naskah yang ke luar dari asalnya.
Praktik jual beli tersebut dilakukan oleh pewaris naskah kuno dengan beberapa

oknum dari Malaysia dan negeri lainnya. Kondisi ini mengancam keberadaan
naskah di wilayah ini. Selain itu, terjadinya bencana alam serta sikap
masyarakat yang kurang mengetahui cara perawatan naskah merupakan
ancaman terhadap kelestarian naskah. Oleh karena itu diharapkan keterlibatan
semua pihak secara proaktif agar keberadaan naskah kuno warisan budaya luhur
nenek moyang dapat dipertahankan dan dilestarikan untuk generasi yang akan
datang