Anda di halaman 1dari 9

TUGAS II MANAJEMEN PERUSAHAAN KONSTRUKSI

KONSTRUKSI BERKELANJUTAN

OLEH :
NAMA : DIAN EKA WATI
NIM : D111 13 323
KELAS : SIPIL A

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

Konstruksi merupakan salah satu bagian dari proses pembangunan yang sangat penting.
Kebutuhan akan infrastruktur semakin hari semakin meningkat, akan tetapi industri konstruksi
ini sering kali menjadi penyebab utama pada masalah lingkungan. Seringkali industri konstruksi
bertentangan dengan kelestarian alam dan ketersediaan sumber daya. Oleh karena itu dibutuhkan
suatu konsep pemikiran yang jauh lebih luas, yang tidak hanya memikirkan kebutuhan saat ini
akan tetapi juga memperhitungkan kebutuhan yang terjadi pada generasi mendatang, konsep ini
disebut dengan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu dibutuhkan penilaian terhadap suatu
bangunan untuk mengatakan seberapa besar bangunan tersebut telah sesuai dengan konsep
pembangunan berkelanjutan.
Green Building (juga dikenal sebagai Green Construction atau Sustainable Building bangunan yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang ramah
lingkungan dan sumber daya yang efisien di seluruh masa pakai bangunan dari penentuan tapak
sampai desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi, dan pembongkaran.
Bukan hanya menjaga lingkungan dan merawatnya. Kemajuan teknologi akibat dari
kemajuan cara berpikir manusia terus berkembang sehingga menghasilkan pemikiran yang
mampu menjadikan suatu konsep yang menguntungkan bagi manusia maupun lingkungan.
Dengan semakin banyaknya populasi manusia, kebutuhan akan berbagai macam keperluanpun
meningkat.
Saat ini konstruksi hijau atau Green Construction memang menjadi terobosan penting dan
sudah banyak dalam pengaplikasiannya. Di Indonesia pun sudah banyak bangunan dengan
design dan materialnya yang ramah lingkungan, seperti: Perpustakaan di Universitas Indonesia.
Green construction ialah sebuah gerakan berkelanjutan yang mencita-citakan terciptanya
konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi yang ramah
lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah. Gerakan
konstruksi hijau ini juga identik dengan sustainbilitas yang mengedepankan keseimbangan antara
keuntungan jangka pendek terhadap resiko jangka panjang,dengan bentuk usaha saat ini yang
tidak merusak kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masa depan.
Pemakaian material/bahan bangunan yang banyak digunakan seperti kaca, beton, kayu,
asphalt, baja dan jenis metal lainnya ditengarai dapat menimbulkan efek pemanasan global yang
signifikan dan menyebabkan perubahan iklim di dunia. Ingat kan penggunaan kaca gelap/ kaca
yag dapat memantulkan cahaya matahari yang biasanya digunkan pada gedung-gedung

tinggi/bertingkat yang biasa disebut dengan kaca film ribben. Jelas-jelas itu sangat merugikan
karena menghantarkan cahaya matahari kembali ke atmosfer bumi dan terjadilah penumpukan
sehingga suhu bumi semakin panas.
Green material adalah bagian dari green building sebagai penunjang bangunan tersebut
menjadi green building. Green material, atau bahan bangunan ramah lingkungan adalah bahan
bangunan yang berdasarkan pada konsep green building atau ramah lingkungan.
1. Green building
a. Definisi Green Building
Green

building

adalah

suatu

bangunan

yang

dalam

perencanaan,

proses

pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran


bangunan menerapkan prinsip-prinsip green building yaitu hemat energi, efisiensi air bersih,
hemat material bangunan, meminimalisir limbah, dan sesedikit mungkin mengeluarkan emisi
sehingga dapat menjaga kualitas lingkungan.
Green building juga identik dengan sustainbilitas yang mengedepankan keseimbangan
antara keuntungan jangka pendek terhadap resiko jangka panjang, dengan bentuk usaha saat
ini yang tidak merusak kesehatan, keamanan dan kesejahteraan di masa depan. Perencanaan
green building ini menghasilkan desain sistem bangunan yang efisien dalam menggunakan
energi, menggunakan material yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dan digunakan kembali
serta mendukung konsep efisiensi energi yang diharapkan dapat meninggalkan jejak karbon
yang sesedikit mungkin pada lingkungan.
b. Kriteria Green Building
Bangunan dapat dikatakan sebagai green building jika memenuhi suatu kriteria green
building. Mengenai kriteria ini, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08
Tahun 2010 pasal 4, menyebutkan tentang 9 kriteria bangunan ramah lingkungan antara lain:
1) Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi:
a)

Material bangunan yang bersertifikat eco-label;

b)

Material bangunan lokal.

2) Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam
bangunan gedung antara lain:

a)

Mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi;

b)

Menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi sumber daya air;

c)

Mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.

3) Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain:
a) Menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah
kaca;
b)

Menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat


energi.

4) Menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara
lain:
a)

Refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon;


b) Melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan
bahan perusak ozon.

5) Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestik pada bangunan
gedung antara lain:
a) Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik
pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus;
b) Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah
domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi
khusus.
6) Terdapat fasilitas pemilahan sampah;
7) Memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain:
a)

Melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih;

b)

Memaksimalkan penggunaan sinar matahari.

8) Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan tapak berkelanjutan antara lain:
a) Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan
konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir;
b)

Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim;


c) Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan tata ruang;
d) Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan perencanaan; dan/atau

9) Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi bencana antara lain:

a) Mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan bencana yang terkait
dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai, longsor dan kenaikan muka
air laut;
b)

Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim
intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat.
Sedangkan dalam Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Nomor 38 Tahun 2012 Tentang Bangunan Gedung Hijau, pasal 1 ayat 11 menyebutkan
bahwa bangunan gedung hijau adalah bangunan gedung yang bertanggung jawab terhadap
lingkungan dan sumber daya yang efisien dari sejak perencanaan, pelaksanaan konstruksi,
pemanfaatan, pemeliharaan, sampai dekonstruksi. Dalam pasal 2 disebutkan bahwa
Penyusunan Peraturan Gubernur ini dimaksudkan sebagai acuan bagi aparat pelaksana
maupun pemohon dalam memenuhi persyaratan bangunan gedung hijau, yang bertujuan
mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung yang memperhatikan aspek-aspek dalam
menghemat, menjaga dan menggunakan sumber daya secara efisien.
Terkait dengan persyaratan bangunan gedung hijau, dalam pasal 4 Peraturan Gubernur
ini disebutkan tentang persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung
baru yang meliputi :
1)

efisiensi energi;

2)

efisiensi air;

3)

kualitas udara dalam ruang;

4)

pengelolaan lahan dan limbah; dan

5)

pelaksanaan kegiatan konstruksi.


c. Manfaat Green Building
Berdasarkan Konferensi Nasional Infrastruktur yang diselenggarakan di Jakarta pada
tanggal 9 Mei 2012, manfaat green building antara lain:
1)

Manfaat pertama adalah penghematan energi, konsumsi energi di sektor


konstruksi tergolong besar sehingga perlu diupayakan untuk menekan konsumsi energi
sehemat mungkin.

2)

Manfaat kedua adalah penghematan air, pekerjaan konstruksi membutuhkan


sumber daya air yang cukup besar, apabila dalam proses konstruksi tidak dikelola dengan
baik/ ceroboh maka akan berdampak pada efisiensi dan bencana lingkungan. Oleh karena

itu sudah saatnya diperlukan standar efisiensi air dalam pekerjaan konstruksi.
3)

Manfaat ketiga adalah pengendalian buangan limbah padat, cair, dan gas.
Minimalisasi jumlah buangan yang dihasilkan dari proses konstruksi dan proses recycle
harus dilakukan guna mengurangi dampak terhadap lingkungan. Tiga hal yang dilakukan
adalah reduce, reuse, dan recycle.
Ketiga manfaat green building diatas mencakup dua hal yaitu manfaat lingkungan dan

manfaat ekonomi. Manfaat lingkungan yaitu pengendalian limbah dengan recycle (daur ulang
limbah) dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sedangkan manfaat
ekonominya yaitu penghematan energi dan air sehingga dapat menghemat dari segi finansial.
2. Material Ramah Lingkungan (Green Material)
Pemilihan material bangunan yang tepat untuk green building adalah material ramah
lingkungan. Penggunaan material ramah lingkungan dapat menghasilkan bangunan yang
berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Penggunaan material pada green building dirancang
sehemat dan seefisien mungkin sehingga tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara
berlebihan dan pengeluaran biaya lebih efisien. Selain itu, green building juga menerapkan
konsep 3R sebagai usaha untuk mengurangi jumlah limbah. Konsep 3R yang dimaksud yaitu
Reduce, Reuse, dan Recycle.
Penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) bertujuan untuk mengurangi

limbah yang dihasilkan dari suatu proses konstruksi. Selain itu, dengan menerapkan konsep
3R penggunaan bahan mentah di alam yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan
material bangunan dapat dikurangi sehingga menghemat sumber daya alam. Penghematan
sumber

daya

alam

(efisiensi

sumber

daya) merupakan

efisiensi

energi

dalam

memproduksi bahan bangunan dan meminimalisasi limbah. Hal ini menjadi perhatian
utama dalam mewujudkan green building.
Penggunaan material ekologis merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan
pembangunan

yang

berkelanjutan.

Material

ekologis

yang dimaksud adalah bahan

bangunan yang diperoleh tanpa merusak lingkungan dan dibentuk melalui proses yang ramah
lingkungan serta aman terhadap kesehatan
pemasangan maupun pemanfaatan bangunan.

baik

saat

ekploitasi,

proses

produksi,

Tabel. Klasifikasi Bahan Bangunan Ekologis


Penggolongan Ekologis
Bahan bangunan yang dapat

Bahan Bangunan
Kayu, bambu, rotan, rumbia, alang-

dibudidayakan kembali (regeneratif)

alang,
serabut kelapa, kulit kayu, kapas,
kapuk,
kulit binatang, wol
Tanah, tanah liat, lempung, tras,

Bahan bangunan alam yang dapat


digunakan kembali
Bahan bangunan yang dapat digunakan
kembali (recycling)

kapur,
batu kali, batu alam
Limbah, potongan, sampah, ampas, bahan
kemasan, mobil bekas, serbuk kayu,
potongan kaca

Bahan bangunan alam yang


mengalami
perubahan tranformasi sederhana
Bahan bangunan alam yang

Batu merah, genting tanah liat, batako,


conblock, logam, kaca, semen

mengalami
beberapa tingkat perubahan

Plastik, bahan sintesis, epoksi

tranformasi
Bahan bangunan komposit

3.

Beton bertulang, pelat serat semen, beton


komposit, cat kimia, perekat

Konstruksi Berkelanjutan (Sustainable Construction)


a. Pembangunan Berkelanjutan
Sebuah gagasan yang dianggap dapat mengurangi pemanasan global adalah dengan
menerapkan konsep Bangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Konsep
Bangunan Berkelanjutan mengandung tiga pilar utama yang saling terkait dan saling
menunjang, yakni pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan pelestarian lingkungan
hidup. Mengenai pembangunan berkelanjutan, dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997,
pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai:
Upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya,

ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu


hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
Berdasarkan kedua definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan yang memperhatikan kebutuhan sekarang tanpa
mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan tidak
terlepas dari aspek lingkungan karena keberlanjutan yang dimaksud berkaitan dengan sumber
daya alam yang digunakan dalam proses membangun. Pembangunan berkelanjutan bertujuan
untuk

menciptakan

bangunan

berdasarkan

desain

yang

memperhatikan

ekologi,

menggunakan sumber daya alam secara efisien dan ramah lingkungan selama masa
operasional bangunan.
b. Konstruksi Berkelanjutan (Sustainable Construction)
Konstruksi berkelanjutan merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan pada sektor konstruksi. Conceil International du Batiment mendefinisikan,
konstruksi berkelanjutan adalah menciptakan dan mengelola pembangunan lingkungan yang
sehat berdasarkan penggunaan sumber daya yang efisien dan desain yang ekologi. Sedangkan
menurut Kibert, sustainable construction adalah suatu penciptaan dan manajemen yang
bertanggung jawab terhadap pembangunan lingkungan yang sehat berdasarkan penggunaan
sumber daya yang efisien dan prinsip-prinsip ekologi.
Berdasarkan kedua definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa konstruksi
berkelanjutan adalah penerapan dari pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk
menciptakan bangunan berdasarkan desain yang memperhatikan ekologi, menggunakan
sumber daya alam secara efisien dan ramah lingkungan selama masa operasional bangunan.
Konsep konstruksi berkelanjutan menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air,
energi, dan material bangunan mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan
bangunan.
Prinsip-prinsip
dipertimbangkan

konstruksi

dalam

berkelanjutan

penerapannya,

Graham

merupakan

hal-hal

mengemukakan

yang

prinsip

selalu

konstruksi

berkelanjutan yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu:


1)

Kategori sumber daya alam, yaitu meminimumkan konsumsi sumber daya alam,
memaksimumkan penggunaan kembali sumber daya alam, meminimumkan penggunaan energi,

penggunaan teknologi yang tepat, meminimumkan kerusakan terhadap sumber daya alam.
2)

Kategori ekologi, yaitu dengan menjaga sistem kualitas life support dan melindungi
lingkungan alam, mengutamakan kualitas dalam membangun suatu lingkungan, meminimumkan
dampak visual, menjaga keanekaragaman hayati.

3)

Kategori manusia, yaitu dengan meningkatkan kualitas hidup manusia, menjadi sarana
terciptanya kemandirian sosial dan keanekaragaman budaya, menjamin pemerataan distribusi
biaya sosial, sistem kontrol horizontal, dan menjamin penanganan dan penilaian lingkungan
didasarkan pada sasaran yang telah disepakati.

Referensi :
https://eprints.uns.ac.id/20692/3/BAB_II.pdf
http://dokumen.tips/download/document/sustainable-green-building-materials.doc