Anda di halaman 1dari 17

SOSIOLOGI KLASIK (SOLIDARITAS SOSIAL EMILE

DURKHEIM)
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Sosiologi Klasik
dosen pengampu : Prof. Dr. Gurniwan Kamil P, M.Si

Di susun oleh :
Aulya Rahmawati Sugandi

(1300047)

Nalis Siti Khaerani

(1300053)

Doni Fauzi

(1303934)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

A. Pengantar
Pendidikan Sosiologi, 2012 mengungkapkan bahwa Emile Durkheim
merupakan salah satu tokoh besar sosiologi. Emile Durkheim lahir di Epinal,
Perancis pada tanggal 15 April 1858. Ia merupakan keturunan pendeta Yahudi.
Pada masa remajanya, ketika Ia berumur 10 tahun Ia menolak menjadi pendeta.
Sebenarnya Durkheim dipersiapkan oleh ayahnya untuk meneruskan tradisi
mereka menjadi pendeta Yahudi. Namun, cita-cita sang Ayah tidak terwujud.
Sejak saat itu, minatnya seumur hidup pada agama lebih bersifat akademis dari
pada teologis.Dia merindukan bersekolah dalam metode-metode ilmiah, dan
dalam prinsip-prinsip moral yang diperlukan untuk memandu kehidupan
sosial.Dia menolak suatu karier akademik tradisional di bidang filsafat, dalam
pandangannya filsafat kurang berkaitan dengan persoalan yang terdapat dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat Perancisdan sebagai gantinya Durkheim
berusaha memperoleh pelatihan ilmiah yang dibutuhkan untuk memberi
sumbangan bagi tuntutan moral masyarakat. Meskipun dia berminat pada
sosiologi ilmiah, pada waktu itu tidak ada bidang sosiolog, sehingga antara 1882
dan 1887 dia mengajar filsafat di sejumlah sekolah provinsi di wilayah Paris.
Nafsunya untuk ilmu terangsang lebih jauh oleh perjalanan ke Jerman
ketika dia berhadapan dengn psikolog ilmiah yang sedang dirintis oleh Wilhelm
Wundt.Beberapa tahun setelah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan
banyak karyanya diantaranya adalah tentang pengalamannya selama di
Jerman.Publikasi karyanya tersebut membantu dia mendapatkan suatu posisi
didalam departemen filsafat di Universitas Bordeaux pada 1887. Di sana
Durkheim memberikan kuliah pertama di bidang ilmu sosial di sebuah universitas
Perancis. Itu adalah suatu prestasi yang mengesankan secara khusus, karena
hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan meledak di Universitas
Peranci karena nama Auguste Comte muncul dalam disertai seorang mahasiswa.
Tahun-tahun berikutnya di tandai dengan serangkaian keberhasilan
pribadi bagi Durkheim, pada 1893 dia menerbitkan tesis doktoralnya yang
berbahasa Perancis, The Division of Labor in Society, dan tesisnya yang

berbahasa Latin mengenai Montesquieu. Buku metodologi utamanya, The Rules


of Sosiological Method, terbit tahun 1895 diikuti tahun 1897 oleh hasil penelitian
empiris bukunya itu dalam studi tentang bunuh diri. Sekitar tahun 1896 ia
menjadi professor penuh di Universitas Bordeaux.
Sekarang ini Durkheim paling seruing dianggap sebagai seorang
konservatif. Akan tetapi, di masanya, dia dianggap seorang yang liberal, dan hal
itu dicontohkandengan peran public yang aktif yang dia mainkan dalam
pembelaan Alferd Dreyfus, kapten militer kebangsaan Yahudi yang oleh
pengadilan militer dianggap pengkhianat dan tuduhan itu oleh banyak orang
dirasakan bersifat anti-Semitik.
Minat Durkheim pada sosialime juga dianggap sebagai bukti melawan ide
bahwa dia adalah seorang konservatif, tetapi jenis sosialismenya sangat berbeda
dengan jenis yang menarik perjatian Marx dan para pengikutnya. Bagi Durkheim,
sosialisme menggambarkan suatu gerakan yang ditunjukan untuk pembaruan
moral masyarakat melalui moralitas ilmiah, dan dia tidak tertarik pada metodemetode politis jangka pendek atau aspek-aspek ekonomis sosialisme. Sosialisme
bagi Durkheim sangat berbeda dari apa yang biasanya kita pikirkan sebagai
sosialisme; sosialisme Durkheim hanya menggammbarkan suatu sistem yang
menerapkan prinsip-prinsip moral yang diteukan sosiologi ilmiah.
Durkheim mempunyai pengaruh yang mendalam pada perkembangan
sosologi, tetapi pengaruhnya tidak terbatas kepadanya.Banyak pengaruhnya pada
bidang-bidang lain mengalir melalui jurnal Lannee sociologique, yang dia
dirikan pada 1989.Melalui jurnal itu, dia dan ide-idenya mempengaruhi bidangbidang seperti antropologi, sejarah, linguistik, dan psikologi.
Durkheim wafat pada 15 November 1917, seorang figure yang
termahsyur di lingkaran intelektual Perancis, tetapi baru dua puluh tahun
kemudian, dengan peerbitan karya Talcoltt Parsons The Structure of Social
Action(1937), karyanya menjadi suatu pengaruh yang signifikan pada sosiologi
Amerika (Pendidikan Sosiologi, 2012).
B. Isi
1. Teori dan Gagasan

Menurut Durkheim, yang paling utama dari gagasannya adalah


bagaimana masyarakat dapat memiliki integritas di

masa modern, oleh

karenanya Durkheim berusaha mencipatakan salah satu pendekatan ilmiah


pertama terhadap fenomena sosial, dalam bukunya Pembagian Kerja
Masyarakat (1893), Durkheim meneliti bagaimana suatu tatanan sosial dapat
dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan penelitiannya
pada pembagian kerja antara masyarakat tradisional dengan masyarakat modern
yang mana didalamnya akan terdapat perbedaan. Menurut Durkheim, masyarakat
tradisional bersifat mekanis dan memiliki banyak persamaan diantara
sesamanya, didalam kehidupan masyarakat tradisional norma norma sosial
diatur dengan rapi sedangkan, dalam masyarakat modern pembagian kerja yang
sangat kompleks akan menghasilkan solidaritas organik. Menurut Durkheim,
spesialisasi pekerjaan dan peranan sosial akan menimbulkan ketergantungan yang
mengikat anatara individu dengan individu lain karena mereka tidak bisa
memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri, artinya untuk memenuhi
kebutuhannya, individu harus mendapatkan bantuan dari individu lain.
Durkheim mengembangkan konsep mengenai anomie dalam Bunuh
Diri yang diterbitkan pada tahun 1897 dalam bukunya ini, Durkheim meneliti
berbagai tingkat bunuh diri antara orang-orang Katolik dan Protestan. Ia,
menjelaskan bahwa control sosial yang lebih tinggi diantara orang Katolik
mengahasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah, hal ini disebabkan karena
tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah akan
menghasilkan tingkat bunuh diri. Hasil akhir dari penelitiannya ini menghasilkan
suatu

kesimpulan

bahwa,

menurut

Durkheim

masyarakat

Katolik

memilikitimgkat intergritas yang normal, sementara masyarakat Protestan


memiliki tingkat integritas yang rendah. Karyanya ini, telah mempengaruhi para
pengajar teori control dan seringkali disebut sebagai studi sosiologi klasik.
Ketertarikannya terhadap ilmu semakin besar ketika dalam perjalanannya
ke Jerman, Durkheim berkenalan dengan seorang psikologi lmiah dia adalah
Wilheim Wundt. Beberapa tahun setelah kunjungannya keJerman, Durkheim

menerbitkan sebuah buku yang salah satunya yaitu menceritkan tentang


pengalamannya selama menetap di Jerman. Publikasi karyanya tersebut sangat
membantu dia untuk mendapatkan suatu posisi didalam departemen filsafat di
Universitas Bordeaux pada 1887 disana, Durkheim memeberikan kuliah
pertamanya dalam bidang ilmusosial, hal itu menjadi suatu prestasi yang
mengesankan secara khusus bagi Durkheim, karena hanya berjarak satu decade
sebelumnya kehebohan terjadi di Universitas Perancis alasannya, karena nama
Auguste Comte muncul dalam sebuah karya disertasi seorang mahasiswa.
Tahun 1893, Durkheim menerbitkan tesis doktoralnya yang berbahasa
Perancis The Methode of Labor in Sociesty, dan tesisnya yang berbahasa latin
The Rules of Sociological Method terbit tahun 1895 diikuti tahun 1897 oleh hasil
penelitian empiris bukunya dalam studi tentang bunuh diri, karya-karyanya ini
merupakan serangkaian keberhasilan pribadi bagi Durkheim. Ritzer (2012)
mengatakan sekitar tahun 1896, Durkheim menjadi professor penuh di
Universitas Bordeaux. Tahun 1902 Durkheim mendapatkan kehormatan mengajar
di Universitas terkenal di Perancis, Sarbonne. Hasilkarya Durkheim yang
terkemukaantaralain :
a.
The Social Division of Labor (1893)
b.
The Rules of Sociological Method (1895)
c.
The Elementary Forms of Religious (1912)

2. The Divison of Labor in Society


The Division of Labor in Society terkenal sebagai karya klasik pertama
sosiologi, dalam karya tersebut Durkheim mencari perkembangan relasi modern
antara individu dan masyarakat dalam karyanya, Durkheim mengkaji suatu gejala
yang sedang dihadapi oleh masyarakat yaitu pembagian kerja. Menurut
Durkheim, masyarakat modern tidak dilihat dari kesamaan antara orang-orang
yang melakukan pekerjaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang
mengikat

masyarakat

dengan

cara

memaksa

mereka

agar

memiliki

ketergantungan antara satu dengan lainnya. Tujuan dari kajian ini adalah, untuk
memahami fungsi pembagian kerja serta mengetahui factor penyebabnya.
Ritzer (2012, hlmn143), solidaritas merujuk pada suatu keadaan hubungan
atara individu maupun kelompok yang didasarkan pada peranan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama serta dapat diperkuat dengan pengalaman
emosional

mereka.Durkheim

menjelaskan

bahwa,

setiap

masyarakat

membutuhkan solidaritas dan Durkheim membagi bentuk solidaritas ke dalam


dua bagian yaitu solidaritas sosial mekanik dan solidaritas sosial organic.
Masyarakat sederhana memiliki mata pencaharian yang homogeny yaitu
bertani, mereka memiliki pengalaman yang sama sehingga memiliki nilai-nilai
yang bersama sebaliknya, di dalam masyarakat modern, setiap orang memiliki
pekerjaan yang berbeda dan setiap individu memiliki tugas yang berbeda juga
terspesialisasi akibatnya, mereka tidak memiliki pengalaman bersama sehingga
kesimpulannya bahwa keberagaman itu menghancurkan kepercayaan moral yang
seharusnya dimiliki oleh suatu masyarakat.
Tesis The Division of Labor menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak
disatukan oleh masyarakat yang homogeny tetapi sudah heterogen, pembagian
kerjai tulah yang membuat setiap individu saling bergantung satu sama lain.
Pembagian kerja adalah suatu kebutuhan ekonomis yang pada akhirnya merusak
perasaan solidaritas.
3. Solidaritas Sosial
Pratiwi (2013, hlm 4) mengemukakan solidaritas merupakan konsep sentral
Emile Durkheim dalam mengembangkan teori sosiologi. Durkheim menyatakan
bahwa solidaritas merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas
menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari
keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan
kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan bersama
akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar

mereka. Jadi, solidaritas berarti keadaan dimana individu merasa telah menjadi
bagian dari sebuah kelompok. Atas dasar perasaan moral dan kepercayaan
ditambah pengalaman emosional bersama sehingga memperkuat hubungan antar
mereka.
Evantri (2013, hlm. 7) mengemukakan bahwa solidaritas adalah sesuatu yang
sangat dibutuhkan oleh sebuah kelompok sosial karena pada dasarnya setiap
masyarakat membutuhkan solidaritas. Kelompok-kelompok sosial sebagai tempat
berlangsungnya kehidupan bersama masyarakat akan tetap ada dan bertahan
ketika dalam kelompok sosial tersebut terdapat rasa solidaritas diantara anggotaanggotanya.
Jacky (2015, hlm. 107) mengemukakan bahwa Durkheim mengkaji
masyarakat ideal berdasarkan konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial merujuk
pada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang
berdasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang
diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Menurut Durkheim, solidaritas
sosial adalah kesetiakawanan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara
individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional
bersama. Ikatan solidaritas sosial menurutnya lebih mendasar daripada hubungan
kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan
serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu derajat konsensus terhadap
prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu.
Nasution (2009, hlm. 3) mengemukakan bahwa solidaritas sosial adalah
perasaan yang secara kelompok memiliki nilai-nilai yang sama atau kewajiban
moral untuk memenuhi harapan-harapan peran. Sebab itu prinsip solidaritas
sosial masyarakat meliputi: saling membantu, saling peduli, bisa bekerjasama.
Untuk memelihara nilai-nilai solidaritas sosial perlu ditumbuhkan interaksi sosial
yang

berlangsung

kebersamaan

karena

komunitas

ikatan-ikatan
yang

kultrural

unsur-unsurnya

sehingga
meliputi:

munculnya
seperasaan,

sepenanggungan, dan saling butuh. Karena solidaritas sosial adalah kekuatan


persatuan internal dari suatu kelompok dan merupakan suatu keadaan hubungan
antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan
kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat pengalaman emosional
bersama.
Faktor yang mempengaruhi solidaritas sosial adalah masih terpeliharanya
perilaku saling tolong-menolong, bisa bekerjasama antarkomponen masyarakat,
dan adanya kekompakan antarkomponen masyarakat. Sedangkan faktor yang
mempengaruhi rendahnya tingkat partisipasi antara lain: rendahnya kualitas
kepemimpinan lokal, lemahnya partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pemanfaatan hasil, dan program kelompok bertentangan dengan nilai dan norma
setempat.
Pemikiran sosiologis Emile Durkheim tentang pembagian kerja dalam
masyarakat, dianalisis melalui solidaritas sosial. Adapun tujuan analisis tersebut
yaitu untuk menjelaskan pengaruh atau fungsi kompleksitas dan spesialisasi
pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan yang diakabitkannya dalm
bentuk pokok-pokok solidaritas.Terbentuknya solidaritas sosial dimulai dengan
adanya suatu consensus bersama oleh masyarakat sebagai pemersatu sekelompok
indivdu, karena dalam kesadran kolektif terdapat kebersamaan keyakinan dan
sentimen. Tanpa adanya konsensus atau kesepakatan dasar moral, maka
solidaritas sosial tidak dapat dibentuk dan individu tidak bisa diikat bersama
untuk membentuk suatu kepentingannya masing-masing, maka akan timbul
pertentangan, kekacauan, maupun konflik dalam masyarakat. Solidaritas sosial
merujuk pada kekompakan sosial, yaitu hubungan antar individu maupun
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut
secara bersama oleh kelompok tersebut.
Dalam buku The Division of Labor ini, perhatiannya tertuju pada upaya
membuat anaalisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa
dikatakan berada dalaam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa
masyarakat primitif disatukan oleh fakta sosial non material, khususnya oleh

ikatan moralias bersama, atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif
yang kuat. Tetapi, karena kompleksitas masyarakat modern, kekuatan kesadaran
kolektif itu telah menurun. Ikatan utama dalam masyarakat modern adalah
pembagian kerja yang ruwet yang mengikat orang yang satu dengan oang yang
lainnya dalam hubungan saling ketergantungan.
Durkheim mengkaji masyarakat ideal berdasarkan konsep solidaritas
sosial.Ikatan solidaritas sosial, menurutnya lebih mendasar dari pada huungan
kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan
serupa itu mengandalkan sekurang-kurangnya satu derajat konsensus terhadap
prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu.
Potret solidaritas sosial dalam konteks masyarakat dapat muncul dalam
berbagai kategori atas dasar karakteristik sifat atau unsur yang membentuk
solidaritas itu sendiri. Veeger, K.J.1992 dalam Ritzer 2012 mengutip pendapat
Durkheim yang membedakan solidaritas sosial dalam dua kategori :
a. Solidaritas Mekanis
Solidaritas mekanis ini, terjadi dalam masyarakat yang memiliki ciri khas
keseragaman pola-pola relasi sosial, memiliki latar belakang pekerjaan yang
sama dan kedudukan semua anggota. Apabila nilai-nilai budaya yang melandasi
relasi mereka, dapat menyatukan mereka secara menyeluruh. Maka akan
memunculkan ikatan sosial yang kuat dan di tandai dengan munculnya identitas
sosial yang kuat pula. Individu menyatukan diri dalam kebersamaan, sehingga
tidak ada aspek kehidupan yang tidak diseragamkan oleh relasi-relasi sosial yang
sama. Individu melibatkan diri secara penuh dalam kebersamaan pada
masyarakat. Karena itu, tidak terbayangkan bahwa hidup mereka masih dapat
berlangsung apabila salah satu aspek kehidupan di pisahkan dari kebersamaan.
Solidaritas mekanis menunjukan berbagai komponen atau indikator penting.
Contohnya yaitu, adanya kesadaran kolektif yang di dasarkan pada sifat
ketergantungan individu yang memiliki kepercayaan dan pola normatif yang
sama. Individualitas tidak berkembang karena di hilangkan oleh tekanan aturan
atau hukum yang bersifat represif. Sifat hukuman cenderung mencerminkan dan

menyatakan kemarahan kolektif yang muncul atas penyimpangan atau


pelanggaran kesadaran kolektif dalam kelompok sosialnya.
Singkatnya, solidaritas mekanis di dasarkan pada suatu kesadaran
kolektif (collective consciousness) yang di lakukan masyarakat dalam bentuk
kepercayaan dan sentimen total di antara para warga masyarakat. Individu dalam
masyarakat seperti ini cenderung homogen dalam banyak hal. Keseragaman
tersebut berlangsung terjadi dalam seluruh aspek kehidupan, baik sosial, politik
bahkan kepercayaan atau agama.
Menurut Johnson (dalam Ritzer, 2012, hlmn 156), secara terperinci
menegaskan indikator sifat kelompok social atau masyarakat yang di dasarkan
pada solidaritas mekanis, yakni :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Pembagian kerja rendah


Kesadaran kolektif kuat
Hukum represif dominan
Individualitas rendah
Konsensus terhadap pola normatif penting
Adanya keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang
menyimpang
7) Secara relatif sifat ketergantungan rendah
8) Bersifat primitif atau pedesaan.
Contoh masyarakat solidaritas mekanis dan organis. Yaitu masyarakat yang
memiliki pola pembagian kerja yang sedikit, seperti pada masyarakat desa.
Masyarakat desa memiliki homogenitas pekerjaan yang tinggi misalnya sebagai
petani. Karena kesamaan yang dimiliki oleh masyarakat desa, membuat membuat
kesadaran kolektif antara individu di dalam masyarakat itu sangat tinggi.
Masyarakat desa juga homogenitas dalam hal kepercayaan di bandingkan
masyarakat kota. Homogenitas itulah yang mepersatukan masyarakat desa.
b. Solidaritas Organis
Solidaritas organis terjadi di masyarakat yang relatif kompleks dalam
kehidupan sosialnya namun terdapat kepentingan bersama atas dasar tertentu.
Pada kelompok sosialnya, menurut Ritzer (2012) terdapat ciri-ciri tertentu, yaitu :
1)
2)

Adanya pola antar-relasi yang parsial dan fungsional


Terdapat pembagian kerja yang spesifik,

3)

Adanya perbedaan kepentingan, status, pemikiran dan sebagainya.

Perbedaan pola relasi-relasi dapat membentuk ikatan sosial dan persatuan


melalui pemikiran yang membutuhkan kebersamaan serta diikat dengan kaidah
moral, norma, undang-undang, atau seperangkat nilai yang bersifat universal.
Karena itu, ikatan solidaritas tidak lagi menyeluruh, melainkan terbatas pada
kepentingan bersama yang bersifat parsial.
Solidaritas organis muncul karena pembagian kerja bertambah besar.
Solidaritas ini di dasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi.
Ketergantungan ini di akibatakan karena spesialisasi yang tinggi di antara
keahlian individu. Spesialisasi ini juga sekaligus mengurangi kesadaran kolektif
yang ada dalam masyarakat mekanis. Akibatnya, kesadaran dan homogenitas
dalam kehiduan sosial tergeser. Keahlian yang berbeda dan spesialisasi itu,
munculah ketergantungan fungsional yang bertambah antara individu-idividu
yang memiliki spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya. Menurut
Durkheim itulah pembagian kerja yang mengambil alih peran yang semula di
dasarkan oleh kesadaran kolektif.
Contoh dalam solidaritas organis ialah perusahaan dagang. Alasan yang
mempersatukan organisasi itu kemungkinan besar ialah motivasi-motivasi
anggotanya. Keinginan mereka akan imbalan ekonomi yang akan di terima atas
partisipasinya, dan di dalam organisasi dagang masing-masing anggotanya akan
merasa tergantung satu dengan yang lain. Misalnya dalam suatu pabrik, ada
kecenderungan orang berada di mesin teknisi, pengawas, penjual, orang yang
memegang pembukuan, sekretaris, dan seterusnya. Semua kegiatan mereka
memiliki hubungan spesialisasi dan saling ketergantungan. Sehingga sistem
tersebut membentuk solidaritas menyeluruh yang berfungsi berdasarkan pada
saling ketergantungan.
Contoh lainnya yaitu dalam masyarakat dengan solidaritas mekanis, proses
perubahan kepemimpinan di lakukan secara turun temurun dari kepala suku atau
etua adat. Berbeda dengan masyarakat organis proses suksesi kepemimpinan di

lakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat atau individu. Contohnya


seperti pemilihan umum presiden dan wakil presiden di Indonesia melalui Pemilu
yang melibatkan seluruh warga Negara Indonesia.
Durkheim menekankan adanya kesadaran kolektif dalam masyarakat
organik.Kesadaran kolektif ini sangat berperan untuk menumbuhkan soldaritas
sosial dalam masyarakat, memperkuat ikatan yang muncul dari adanya saling
ketergantungan fungsional yang semakin bertambah.
Menurut Durkheim dalam Taufik dan Der Leeden (1986, hlmn. 210),
solidaritas sosial adalah kesetiakawanan yang menunjuk pada suatu keadaan
hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan
moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman
emosional bersama.
Solidaritas sosial, menurutnya dibagi menjadi dua yaitu, solidaritas mekanik
yang didasarkan pada suatu kesadaran kolektif bersama yang merujuk pada
totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentiment-sentimen bersama yang ratarata ada pada warga masyarakat yang sama itu. Sedangkan, yang kedua adalah
solidaritas yang muncul dan ketergantungan antara individu atau kelompok yang
satu dengan yang lainnya akibat spesialisasi kerja (pembagian kerja).
Ritzer (dalam Johnson,2012, hlmn. 147) pun secara terperinci menegaskan
indikator sifat kelompok sosial atau masyarakat pada solidaritas organis, yakni;
1) Pembagian kerja tinggi;
2) Kesadaran kolektif lemah;
3) Hukum restitutif/memulihkan dominan;
4) Individualitas tinggi;
5) Konsensus pada nilai abstrak dan umum penting;
6) Badan-badan kontrol sosial menghukum orang yang menyimpang;
7) Saling ketergantungan tinggi; dan
8) Bersifat industrial perkotaan
Ini adalah perbedaan antara solidaritas mekanik dan solidaritas sosial :
Solidaritas Mekanik
1. Pembagian kerja rendah
2. Kesadaran kolektif kuat
3. Individualitas rendah

Solidaritas Organik
1. Pembagian kerja tinggi
2. Kesadaran kolektif rendah
3. Individualitas tinggi

4. Hukum represif dominan


4. Hukum restitutif dominan
5. Konsesnsus terhadap pola-pola 5. Konsesnsus pada nilai-nilai abstrak
normatif penting
6. Keterlibatan komunitas
menghukum

orang

dan umum penting


dalam 6.Badan-badan

kontrol

yang

yang menghukum orang yang menyimpang

menyimpang
7. Saling ketergantungan
7. Saling ketergantungan tinggi
8. Bersifat primif-pedesaan
8. Bersifat industrial perkotaan
c. Hukum Refresif dan Hukun Restitutif
Durkheim menghubungkan persoalan solidaritas organis dengan fenomena
pemberian hukuman atau sanksi. Kuatnya solidaritas organis di tandai oleh
munculnya hukum yang bersifat memulihkan (restitutive) bukan yang bersifat
represif. Kedua model hukum pada prakteknya juga memiliki tujuan yang
berbeda.
Hukum represif yang di jumpai dalam masyarakat mekanis ialah ungkapan
dari kemarahan kolektif masyarakat. Sementara hukum restitutif berfungsi untuk
mempertahankan atau melindungi pola saling ketergantungan yang kompleks
antara sejumlah individu yang memilki spesialisasi tersebut. Karena itu sifat
sanksi yang di berikan kepada individu yang melanggar keteraturan dalam dua
kat egori masyarakat ini juga berbeda. Tipe sanksi dalam masyarakat mekanis
bersifat restitutif sebagaimana di kemukan Durkheim: bukan bersifat balas
dendam, melainkan sekedar memulihkan keadaan.
Menurut Abdullah dan Leeden (1986, hlmn.234) mengatakan kemarahan
kolektif tidak mungkin terjadi dalam masyarakat dengan tipe organis, karena
masyarakat sudah hidup dengan kesadaran individual bukan kesadaran kolektif.
Sebagai gantinya masyarakat dengan tipe solidaritas organis mengelola
kehidupan secara rasional. Karena itu, bentuk hukumannya pun bersifat rasional
di sesuaikan dengan bentuk pelanggaran tersebut. Pelaksanaan sanksi tersebut
bertujuan untuk memulihkan atau melindungi hak-hak dari pihak yang dirugikan.
Maka dari itu akan dengan adanya hukuman tersebut akan memulihkan
kondisi ketergantungan fungsional dalam masyarakat. Durkheim menjelaskan

bahwa bentuk solidaritas tersebut terutama dalam masyarakat modern. Pola-pola


restitutif ini nampak dalam hukum dan peraturan-peraturan kepemilikan, hukum
kontrak, perdagangan dan peraturan administratif atau prosedur-prosedur dalam
sebuah institusi masyarakat modern.
Peralihan dari hukum represif menuju hukum restitutif seiring sejalan dengan
semakin bertambahnya kompleksitas dalam masyarakat. Kompleksitas tersebut
berdampak pada pembagian kerja (divison of labor) yang semakin beragam pula.
d. Normal dan Patologis
Pemikiran Durkheim yang paling kontroversial ialah bahwa sosiolog mampu
membedakan antara masyarakat yang sehat dan patologis. Setelah menggunakan
buku itu di dalam The Division of Labor, Durkheim menulis buku lain yaitu The
Rules of Sosiological Method (1895-1982).
Di dalam buku tersebut, Durkheim mencoba membela ide itu. Dia mengklaim
bahwa masyarakat yang sehat dapat di kenali karena sosiolog akan menemukan
kondisi-kondisi serupa di dalam masyarakat lain pada tahap-tahap yang serupa.
Apabila suatu masyarakat menyimpang dari apa yang di temukan mungkin
masyarakat itu patologis (Soekanto,1985).
Ide tersebut bersifat kontroversial sehingga di tentang pada masa itu dan
hanya segelintir sosiolog yang mendukungnya. Namun Durkheim pun tidak lagi
berusaha membela idenya yang kontroversial. Hal itu terbukti dengan prakatanya
untuk edisi ke dua The Rules : Tampaknya tidak berarti bagi kami kembali ke
kontroversi-kontroversi lain yang telah dimunculkan buku ini, karena hal itu
tidak menyentuh hal yang hakiki. Orientasi umum metode itu tidak bergantung
pada prosedur-prosedur yang lebih suka mengklasifikasi tipe-tipe sosial atau
membedakan hal yang normal dari patologis.
Akan tetapi, ada satu ide yang menarik yang di ambil Durkheim dari idenya
itu. Ide yang menunjukan bahwa kejahatan adalah normal ketimbang patologis.
Dia berargumen bahwa karena kejahatan di temukan di setiap masyarakat,
kejahatan pastilah normal dan memberikan suatu fungsi yang berguna. Durkheim

mengklaim,

kejahatan

membantu

masyarakat

mendefinisikan

dan

menggambarkan nurani kolektif mereka.


Di dalam The Division of Labor, dia menggunakan ide patologi untuk
mengkritik beberapa bentuk abnormal pembagian kerja yang di terima di dalam
masyarakat modern. Dia mengenali tiga bentuk abnormal yang mana Durkheim
bersikeras bahwa krisis modernitas oleh Comte dan orang-orang lain di samakan
dengan pembagian kerja, sebenarnya di sebabkan oleh bentuk-bentuk abnormal
yang termasuk dalam pembagian kerja.
e. Pembagian Kerja
Solidaritas akan menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu atau
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan moral yang
dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Menurut
Durkehim dalam Ritzer (2012) mengatakan fungsi yang sesungguhnya dari
pembagian kerja adalah untuk menciptakan solidaritas antara dua orang atau
lebih. Pembagian kerja tersebut adalah sebagai berikut :
1) Pembagian kerja anomik
Pembagian kerja ini mengacu pada kurangnya pengaturan didalam suatu
masyarakat yang mengenal individualitas yang terisolasi yang menahan diri dari
mengatakan apa yang harus dilakukan orang-orang. Meskipun pembagian kerja
adalah suatu sumber kohesi dalam masyrakat modern, pembagian kerja tidak
dapat menutupi secara keseluruhan kelemahan moralitas bersama.Setiap individu
dapat menjadi terasing dan terbawa di dalam kegiatankegiatan yang
terspesialisasi.Mereka dapat dengan mudah berhenti merasakan ikatan umum
dengan orang-orang yang bekerja dan yang tinggal di sekitarnya, hal itu
memunculkan anomi.
2) Pembagian kerja yang dipaksakan
Pembagian kerja ini dapat menimbulkan konflik dan isolasi serta akan
meningkatkan anomi. Hal ini menunjuk pada norma yang ketinggalan zamandan
harapan-harapan individu, kelompok dan kelas masuk ke dalam posisi yang tidak
sesuai bagi mereka. Durkheim percaya bahwa masyarakat mebutuhkan aturan-

aturan dan pengaturan untuk mengataka kepada mereka apa yang harus
dilakukan.Bentuk abnormal ini menunjukan sejenis aturan yang dapat
menyebabkan konflik dan pengasingan sehigga menambah anomie.
3) Pembagian kerja yang terkoordinir dengan buruk
Durkheim, kembali mengungkapkan bahwa solidaritas organis berasal
dari saling ketergantungan antar mereka. Jika spesialisasi seseorang tidak lahir
dari saling ketergantungan yang makin meningkat melainkan dalam isolasi
maka, pembagian kerja tidak akan terjadi didalam solidaritas sosial. Apabila
spsesialisasi orang-orang tidak menghasilkan saling ketergantungan yang
mengikat tetapi hanya suatu pengasingan, maka pembagian kerja tersebut tidak
menghasilkan solidaritas sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik & Der Leeden , A. C. Van. 1986. Durkheim dan Pengantar
Sosiologi Moralitas, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Evantri, Imran. Studi Solidaritas Sosial (Kasus Lembaga SAR Unhas). Tersedia
di: http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/7862/SKRIPSI
%20IMRAN%20BARU%20Acc.pdf?sequence=1 (diakses pada 17 Oktober
2015).
Jacky, Muhammad, (2015). Sosiologi: Konsep, Teori, dan Metode. Jakarta: Mitra
Wacana Media
Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi.2012.Teori Sosiologi Klasik. Bandung:
Rizqi Press
Paul Johnson, Doyle.1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Penerbit
PT Gramedia.
Pratiwi, Tiara Cita Okta. Pengaruh Solidaritas Kelompok Sosial terhadap
Perilaku Agresi Siswa Kelas XI SMA Negeri 85 Jakarta. Tersedia di:
http://skripsippknunj.com/wp-content/uploads/2013/06/PengaruhSolidaritas-Kelompok-Sosial-terhadap-Perilaku-Agresi-Siswa-Kelas-XISMA-Negeri-85-Jakarta1.pdf (diakses pada 17 Oktober 2015).

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Soekanto,
Soerjono.1985. Emile
Durkheim:
Aturan-aturan

Metode

Sosiologis. Jakarta: Rajawali.


Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi
Wacana.
Anonim. 2011. Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis Emile
Durkheim. [online] Tersedia :
http://fisip.uns.ac.id/blog/purwitososiologi/2011/06/13/solidaritas-mekanisdan-solidaritas-organis-emile-durkheim/ (23 September 2015)
Ayyizieta.2012.

Teori

Sosiologi

Klasik

Emile

Durkheim.

[online]

Tersedia :http://ayyizeta.blogspot.com/2012/12/teori-sosiologi-klasik-emiledurkheim.html (23 September 2015)

Anda mungkin juga menyukai