Anda di halaman 1dari 13

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty

uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd
fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx
cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
SOLUSI & MANAJEMEN LUKA KAKI
DIABETES
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
SALDY YUSUF, S.Kep.Ns.ETN
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
4/24/2010

GRIYA AFIAT Makassar

hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfg
hjklzxcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwert
yuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
SOLUSI DAN MANAJEMEN LUKA KAKI DIABETES

Oleh: Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN

A. PENDAHULUAN

Pasien diabetes sangat beresiko terhadap

kejadian luka kaki (Litzelman, 1993) dan

merupakan jenis luka kronis yang

terbanyak dan tersulit untuk sembuh. Pada

pasien diabetes, 15 % mengalami foot

ulcer, 14 – 24% Foot ulcer menyebabkan

amputasi pada tungkai bawah di Amerika,

Lokasi yang umumnya terjadi adalah

telapak kaki bawah.

Saat ini amputasi adalah tindakan yang dihindari karena menurunkan kualitas hidup

pasien, untuk itu diperlukan perawatan yang baik sehingga luka dapat sembuh. Pasien

diabetes sangat beresiko terhadap kejadian luka kaki (Litzelman, 1993) dan merupakan

jenis luka kronis yang terbanyak dan tersulit untuk sembuh.

Pada pasien diabetes, 15 % mengalami foot ulcer, 14 – 24% Foot ulcer menyebabkan

amputasi pada tungkai bawah di Amerika, Lokasi yang umumnya terjadi adalah telapak

kaki bawah.1 Saat ini amputasi adalah tindakan yang dihindari karena menurunkan kualitas

hidup pasien, untuk itu diperlukan perawatan yang baik sehingga luka dapat sembuh.

Ada banyak alasan mengapa klien diabetes beresiko terhadap kejadian luk akaki,

diantaranya diakibatkan karena kaki yang sulit bergerak terutama jika klien obesitas atau

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 2


karena neuropati sensorik sehingga tidak sadar kakinya terluka, atau karena ischemic pada

klien dengan perokok berat, sehingga proses penyembuhan menjadi terhambat akibat dari

konstriksi pembuluh darah (Widasari, 2008).

B. PENYEBAB

Neuropati sensorik, neropati motorik dan ganguan pembuluh darah serta adanya trauma

yang berulang merupakan factor penyebab foot ulcer.

Foot ulcer pada diabetes berbeda dengan luka pada umumnya karena terjadi :

1. Gangguan proliferasi fibroblast dan sel endotelial.

2. Epitelisasi yang tergangggu.

3. Penurunan deposit kolagen.

4. Penurunan kekuatan luka (Wound strength).

5. Abnormal phagosit dan migrasi sel pada inflamasi sehingga meningkatkan resiko

infeksi.

6. Neuropati dan penurunan vaskularisasi.

Sehingga diperlukan perawatan yang tepat untuk mensupport terjadinya penyembuhan.

C. MASALAH KAKI PADA DIABET

Adapun masalah pada kaki diabet yang memeerlukan perawatan adalah :

1. Kallus & corn : sering disebut juga kapalan, adalah penebalan atau pengerasan pada

lapisan epidermis. Hal ini disebabkan oleh adanya penekanan yang terus menerus dan

berulang pada area kulit.

2. Fisura atau xerosis, kulit kaki cenderung kering dan mengelupas. Hal ini terjadi karena

penurunan jumlah cairan dalam epidermis.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 3


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
3. Blister atau bullae, sering disebut melepuh timbul karena adanya gesekan dan faktor

tekanan yang dapat memisahkan epidermis dari dermis.

D. MASALAH PADA KUKU PADA DIABET .

Adapun masalah pada kuku pada diabet yang memerlukan perawatan adalah :

1. Cantengan/ kuku tumbuh/ radang jari kuku (onychocryptosis) sering timbul jika

menggunting kuku sampai dalam (benruk bulat atau oval)

2. Jamur pada kuku (Oncychomycosis).

3. Blister yang tidak diketahui penyebabnya.

E. MANAJEMEN PADA MASALAH KAKI DAN KUKU DIABET.

Solusi dan manajemen terhadap permasalahan kaki dan diabet yang terbaik adalah

tindakan pencegahan. Dimana tindakan tersebut dapat dilakukan oleh pasien diabet dan

perawat, masing-masing mempunyai tugas yang berbeda dalam tindakan tersebut namun

saling bersinergi. Jika sudah terjadi luka diabetes maka penatalaksanaannya adalah peawat

harus melakukan perawatan yang tepat sesuai dengan tahapan luka yang terjadi.

Pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien diabetes :

Pencegahan adalah cara yang terbaik untuk mengatasi permasalahan kaki dan kuku pada

diabet. Perawatan kaki yang baik, pengguntingan kuku dan membuang kallus

Pendidikan kesehatan untuk setiap pasien diabetes agar merawat kakinya adalah penting,

adapun yang perlu diajarkan kepada pasien adalah perawatan dan latihan kaki.

Perawatan kaki sehari-hari :

1. Dilarang merokok

2. Inspeksi kaki setiap hari, gunakan cermin jika kesulitan melihat telapak kakai secara

langsung.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 4


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
3. Rasakan adanya perubahan temperature atau adanya area yang tertekan

4. Bersihkan kaki setiap hari dengan air hangat dan keringkan kaki dengan handuk

bersih.

5. Lembabkan kaki dengan pelembab. Tapi jangan gunakan pelembab untuk sela-sela

jari kaki

6. Gunting kuku secara mendatar.

7. Selalu menggunakan alas kaki

8. Hindari kontak dengan benda yang panas atau terlalu dingin (Jika ada neuropati

maka luka yang ditimbulkan tidak terasa)

9. Jangan menggunakan obat kimia atau plester

10. Lihat sepatu sebelum dan sesudah meggunakannnya, lihat apakah ada benda asing,

darah atau nanah (mungkin kaki terluka setelah menggunakan sepatu, namun tidak

dirasakan)

11. Gunakan sepatu dari bahan yang lembut, sesuai dengan ukuran kaki/ longgar, hindari

kaos kaki ketat atau kasar

12. Beli sepatu baru pada sore hari

13. Temui ahli kesehatan bila terdapat blister (lepuhan yang berisi air) atau luka.

Latihan kaki.

Latihan kaki merupakan kegiatan peregangan dan relaksasi kaki dan dapat dilakukan

siapapun, pada penderita diabetes diharapkan dilakukan secara rutin. Latihan ini

merupakan kegiatan dari “Range Of Motion” atau terkenal dengan ROM dengan prinsip

pergerakan dari sendi- sendi kaki.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 5


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
Contoh latihan yang dapat dilakukan diantaranya :

1. Melakukan peregangan jari-jari kaki dengan :

 Jari ditekuk ke arah dalam dan keluar (samil jinjit) lakukan masing-masing

sebanyak 10 kali.

 Angkat ke atas jari kaki dan rapatkan (sepert mencengkram) kearah dalam pada

masing-masing kaki sebanyak 10 kali.

 Regangkan dan kendurkan jari kaki lakukan masing-masing kaki sebanyak 10 kali.

2. Melakukan peregangan tumit kaki dengan :

 Mengangkat tumit dan menaruhnya kembali lakukan pada kedua kaki sebanyak 10

kali

 Menggerakkan ke atas dan ke bawah kaki sambil menekuk tumit ke arah dalam dan

ke luar secara bergantian pada kedua kaki sebanyak 10 kali.

 Memiringkan tumit ke kiri dan ke kanan bersamaan pada kedua kaki, lakukan

sebanyak 10 kali.

3. Melakukan koordinasi pergerakan jari, telapak kaki dan tumit dengan cara :

 Pasien duduk di atas kursi

 Taruh selembar kertas koran di atas lantai

 Sobek-sobek kertas koran menjadi kecil-kecil oleh kaki pasien

 Setelah menjadi sobekan lalu dikumpulkan dan dibentuk seperti bola dengan

menggunakan telapak, jari dan tumit kaki.

Prinsip latihan ROM adalah menggerakan seluruh bagian dari sendi. Untuk bentuk

pergerakannya dapat diciptakan sesuai tingkat kemampuan individu.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 6


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
Pencegahan yang dapat dilakukan perawat:

Setiap tenaga kesehatan memiliki kewajiban terhadap tindakan pencegahan yang dapat

dilakukan bagi penderita diabetes.

Pemeriksaan kaki.

1. Diagnosis dan manajemen penyakit penyerta :

a. Evaluasi dibetes terhadap diet, olah raga dan penggunaan obat penurun gula darah

b. Pencegahan terhadap adanya tekanan, lipatan dan gesekan pada kaki.

2. Identifikasi perubahan iskemik :

a. Palpasi nadi pedis

b. Pemeriksaan dopller

c. Konsultasi pada dokter vaskuler bila diperlukan

3. Skrening kaki untuk identifikasi perubahan sensasi dengan cara :

a. 10 gram monofilament tes

b. Sensasi tumpul dan tajam

4. Inspeksi kulit :

a. Adakah area kulit yang kering

b. Perubahan temperatur area kaki

c. Perubahan warna dan tekstur kulit

d. Adanya kallus

e. Pre ulcer/hematoma

f. Luka/ulcer

5. Tes untuk identifikasi kelemahan otot :

a. Observasi keseimbangan dan kestabilan saat berjalan

b. Pemeriksaan refleks pada tendon Amer

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 7


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
6. Identifikasi deformitas kaki; Charcot Antrhropathy, Hammer/Claws toes,

Bunions/Hallux Vagus, Flat Foot/Pes Covus, jika ada cek dengan rongten untuk

pemeriksaan adanya fraktur atau ostomylitis.

7. Perawatan kaki reguler untuk pengangkatan kalus

8. Penggunaan alas kaki yang tepat dengan melakukan evaluasi kaki.

Manajemen foot ulcer

Jika sudah terjadi luka pada kaki diabet (foot ulcer), maka perawat perlu mengetahui

stage (tahapan) dan bagaimana tindakan perawat dalam setiap tahapan tersebut. Menurut

standar yang ditetapkan oleh The National Service Frame Work for Diabetes, stage

(tahapan) luka diabetes terdiri dari lima dan bagaimana tindakan untuk setiap tahapan

tersebut, yaitu :

Stage 1.

Pada tahap ini kaki belum terjadi kerusakan, namun informasi pentingnya perawatan kaki

harus diberikan. Umumnya pasien diabetes muda yang sehat yang mempunyai resiko

rendah. Mereka harus melihat kaki, apakah ada tanda bahwa kakinya bermasalah dan

menemui ahli kesehatan.

Pada tahap ini pasien harus diberikan penjelasan tentang nerupati, vaskulopati, dan yang

penting adalah regular skrenning.

Stage 2.

Pada tahap ini pasien sudah mempunyai resiko. Pendidikan kesehatan diperlukan. Pasien

perlu diajarkan bagaimana meminimalkan masalah kesehatan pada kaki jika masalah

tersebut datang.

Kontrol gula darah dan kardio vaskuler adalah bagian yang penting dalam pendidikan

kesehatan yang diberikan.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 8


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
Stage 3.

Pada tahap ini kaki mendapatkan masalah kesehatan akibat dari neuropati, iskemik dan

infeksi.

Neuropati, iskemik dan infeksi adalah tiga penyebab utama pada diabetes foot ulcer.

Tekanan yang abnormal disebabkan oleh neuropati membuat kallus pada kaki, dan jika

tida ditangani menyebabkan nekrosis dan ulcer. Tekanan yang terus menerus akibat

sepatu yang sempit atau benda asing dapat menyebabkan ulcer dan neuropati perifer

membuat pasien tidak merasakan sakit pada kaki yang terluka.

Perawatan pada ulcer merupakan hal yang utama pada tahap ini. Perawatan yang dapat

dilakukan adalah :

Luka kering : balutan hidrokoloid. Balutan ini berfungsi karena tahan terhadap oksigen,

kelembaban dan bakteria; balutan jenis ini dapat mempertahankan kelembaban dan

mensupport autolitik debridement.

Luka dengan eksudat : calcium alginate dipergunakan untuk mengabsorb eksudat pada

luka.

Luka dengan eksudat yang banyak : Hydrofiber seperti aquacel dapat dipergunakan untuk

menarik eksudat yang banyak atau parcel dressing agar eksudat dapat dikeluarkan dengan

mudah. Balutan jenis ini dapat memberikan kelembaban pada luka.

Luka yang ditutupi eskar : Perlindungan pada eskar sehingga eskar dapat mengelupas

dengan sendirinya. Gunakan providine iodine untuk eskar sehingga mempertahankan

kesterilan jika eskar mengelupas dengan sendirinya.

Manajemen untuk mengurangi tekanan sangat diperlukan untuk mempercepat

penyembuhan, pasien diharuskan untuk bedrest, namun hal tersebut perlu diperhatikan

meningkatnya resiko terjadinya DVT (deep vena trombosis), infeksi pada paru dan ulcer

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 9


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
pada tumit. Untuk itu perlunya mobilasasi pada pasien sehingga pasien perlu dibuatkan

sepatu khusus untuk menghindari tekanan pada area luka.

Stage 4.

Luka sudah terjadi infeksi, luka dapat beresiko tinggi ke tahap berikutnya. Infeksi tidak

hanya menghambat penyembuhan luka tapi pasien dengan diabetes luka menjadi resisten

terhadap infeksi, sehingga lebih beresiko terjadinya penyebaran infeksi, yang

menyebabkan osteomylitis dan sepsis.

Kontrol infeksi sangat penting dalam manajemen luka pada tahap ini.

Pada pemeriksaan daerah luka dapat ditemui kemerahan atau edema pada kulit yang

masih utuh. Dapat juga dilakukan pemeriksaan erirosit sedimentasi rate (ESR) jika tidak

ada tanda yang jelas. Lakukan pemerikasaan kultur mikrobilogi untuk mengetahui kuman,

sehingga kolaborasi dapat dilakukan untuk pemberian antibiotik yang tepat.

Perawatan luka yang dapat dilakukan :

Luka terinfeksi : Penggunaan balutan dengan siver atau antimikroba dressing, untuk

membunuh kuman pada luka.

Stage 5

Ulcer seringkali terinfeksi oleh stapilokokus, streptokokus, atau kuman anaerob.

Streptokokus dan stapilokokus berekasi sinergi, streptokokus memperoduksi

hyaluronidase, yang dapat memfasilitasi penyebaran toksin nekrotik yang dilepaskan oleh

stapilokokus. Jika terjadi hal tersebut, jari kaki menjadi berwarna hitam. Sirkulasi darah

menjadi rendah sehingga jaringan menjadi tidak hidup (viable)

Penatalaksanaan pada tahap ini adalah konservatif, dengan autoamputasi, dimana jari kaki

akan mengalami nekrosis dan terlepas dengan sendirinya.

Periode ini manajemen yang diperlukan adalah kontrol infeksi dengan kolaborasi untuk

pemberian antibiotik sistemik dan obseravasi adanya tanda kerusakan vaskuler, jika perlu

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 10


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
melakukan konsultasi dengan dokter vaskuler untuk tindakan selanjutnya. Jika infeksi

tidak terkontrol maka nekrosis akan terus berlanjut, maka tindakan amputasi dilakukan

untuk menghindari komplikasi lebih lanjut.

F. Kesimpulan

Permasalahan kaki dan kuku diabetes dapat diatasi dengan pencegahan yang dapat

dilakukan oleh pasien maupun perawat, pencegahan adalah tindakan yang terbaik dalam

manajemen permasalahan kaki dan kuku diabetes, sehingga pendidikan kesehatan sangat

penting diberikan untuk pasien. Jika sudah terjadi luka pada kaki diabet maka peran

perawat diperlukan untuk mengetahui tahapan luka, proses penyembuhan luka dan

bagaimana tindakan di setiap tahapan tersebut. Semua tindakan dan pencegahan tersebut

sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dabetes. STOP AMPUTASI

dapat dilakukan jika tindakan dan pencegahan tersebut dilakukan secara bersama.

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 11


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
DAFTAR PUSTAKA

1. Consensus Development Confrence On Dibetic Foot Wound Care. Diabetes Care.1999 August

;22(8):1354

2. Carville, K. Wound Care Manual. Edisi ke 3 . Australia: Silver Chain Foundation; 1998

3. Consensus Development Confrence On Dibetic Foot Wound Care. Dibetes Care. 1999

August ;22(8):1354

4. Shilling, F. Foot Care in Patients with Diabetes. Nursing Stand, 2003 Feb 19;17 (23):

61-62,64,66,68 from : http://gateway.ut.ovid.com

5. The American Podiatric Medical Association . Diabetic Foot Ulcer.Bushhnell Foot

Clinic, 2003 from://http:// diabet internet.com

6. Gitarja, WS . Perawatan Luka Diabetes. Edisi ke 2. Indonesia: Wocare ; Juli 2008

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 12


GRIYA AFIAT MAKASSAR ”home care specialist”
TENTANG PENULIS

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN. lahir di Makassar 26 Oktober 1978. Pendidikan

Keperawatan di mulai di Akper Depkes Tidung Makassar (2000), S 1 Keperawatan

PSIK-FK UNHAS (Tahun 2007). Tahun 2008 mendapatkan beasiswa dari World Council

Of Enterostomal Therapy Nursing (WCETN) untuk mengikuti Indonesian

Enterostomal Therapy Nursing Education Programme (IndoETNEP). Selain sebagai

Khalifah di muka bumi, saat ini penulis memiliki pekerjaan sampingan sebagai dosen

tamu di beberapa Perguruan Tinggi, pembicara dalam beberapa Seminar Nasional,

dan trainer dalam bidang luka, stoma, dan continence care. Penulis juga aktif sebagai

Professional Board InOA Makassar, Pengurus InETNA, dan anggota WCETN dan IIWI.

Korespondensi:

e-mail : saldy_yusuf@yahoo.com

weblog :www.saldyusuf.blogpost.com

Saldy Yusuf, S.Kep.Ns.ETN 13