Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

QUALITY OF LIFE
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kesehatan reproduksi Lansia
Dosen Pengampu: Prof.Dr.dr. Sudijanto Kamso SKM

Disusun Oleh:
Fransiska Yuniati Demang (1506786195)
Ghea Sugiharti (1506786232)

PROGRAM PASCASARJANA KESEHATAN REPRODUKSI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Quality of life adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan.
Kesejahteraan menggambarkan seberapa baik perasaan seseorang terhadap lingkungan
mereka dan secara kolektif perasaan ini dapat dianggap sebagai quality of life. Istilah quality
of life digunakan untuk mengevaluasi kesejahteraan individu dan masyarakat secara umum.
Istilah ini digunakan dalam berbagai konteks termasuk bidang peembangunan internasional,
kesehatan dan ilmu politik. Quality of life tidak sama dengan konsep standar hidup, yang
didasarkan terutama pada pendapatan. Sebaliknya, indicator standar quality of life meliputi
tidak hanya kekayaan dan lapangan kerja,, tetapi juga membangun lingkungan, kesehatan
fisik dan mental, pendidikan, rekreasi, dan waktu senggang, dan hak untuk bersosial.
Jumlah populasi dan umur harapan hidup lanjut usia (lansia) semakin meningkat akibat
perbaikan dari pelayanan kesehatan masyarakat dan intervensi kedokteran. Dengan
meningkatnya usia, terdapat perubahan dalam struktur anatomik, terlihat dengan terjadinya
kemunduran sel-sel yang selanjutnya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh
secara keseluruhan seperti kelemahan organ dan kemunduran fisik, akibat degenerasi
jantung, paru-paru, tulang, otot, pembuluh darah, sistem saraf, dan fungsi panca indera serta
timbulnya berbagai macam penyakit seperti penyakit arthritis, atherosclerosis, osteoporosis
dan penyakit degeneratif lainnya. Maka sangatlah penting untuk memperbaiki kualitas hidup
lansia, agar lansia dapat menikmati hari tuanya dengan lebih baik dan selalu sehat, sehingga
menghasilkan lansia yang hebat dan berkualitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Quality Of Life
Menurut WHO (1994), quality of life (QOL) didefinisikan sebagai persepsi individu
terhadap posisi mereka dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana
mereka hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan mereka, harapan, standar dan perhatian
mereka.
QOL merupakan suatu produk yang dihasilkan dari interaksi sejumlah faktor-faktor
yang berbeda, seperti sosial, kesehatan, ekonomi, dan kondisi lingkungan, yang secara
kumulatif, juga dengan cara-cara yang belum diketahui, berinteraksi untuk mempengaruhi
pembangunan manusia dan sosial di tingkat individu dan masyarakat (United Nations
Glossary 2009).
Menurut Donald (2001), Kualitas hidup mendeskripsikan istilah yang merujuk pada
emosional, sosial dan kesejahteraan fisik seseorang juga kemampuan mereka untuk berfungsi
dalam kehidupan sehari-hari.
Dari beberapa pengertian diatas, disimpulkan bahwa QOL merupakan hasil dari
interaksi beberapa factor, seperti: social-budaya, ekonomi, kesehatan fisik maupun
emosional, yang mempengaruhi individu untuk menjalankan fungsinya sehari-hari.
B. Penurunan yang terjadi Pada Lansia
Menurut Hardywinoto (2005), Penurunan yang terjadi pada lansia terdiri dari:
1. Perubahan kondisi fisik pada lansia
a. Penurunan jumlah sel, cairan tubuh serta cairan intraselular. Protein dalam otak,
ginjal, otot, hati serta dan darah akan berkurang, mekanisme perbaikan sel menjadi
terganggu, terjadi atrofi pada otak, berat otak berkurang 5 10 %.
b. Pada sistem persarafan lansia, lansia menjadi lambat dalam merespon sesuatu, saraf
pancaindra mengecil.
c.

Sistem pendengaran pada lansia menurun ditandai dengan hilangnya daya


pendengaran pada telinga dalam.

d. Terjadi sklerosis pupil dan hilangnya respon sinar bisa menyebabkan penglihatan
lansia menjadi berkurang.
e. Pada sistem kardiovaskuler, jantung sudah tidak bisa memompa darah secara optimal.
f. Pada sistem pengaturan temperatur tubuh, tubuh seorang lansia sudah tidak bisa
memproduksi panas yang maksimal. Ha ini menyebabkan aktifitas otot menjadi
berkurang.
g. Sistem pernafasan yang menurun ditandai dengan hilangnya elastisitas paru paru.
h. Pada sistem gastrointestinal, lansia akan kehilangan gigi, indra pengecap menurun,
fungsi absorpsi akan mengalami penurunan.
i. Sekresi lendir vagina pada lansia perempuan akan berkurang. Produksi testis pada
lansia laki laki semakin menurun. Produksi hormon pada lansia akan menurun.
j. Hilangnya jaringan lemak pada lansia menyebabkan kulit keriput pada lansia. Rambut
pada lansia akan semakin tipis serta terjadi perubahan warna yaitu menjadi lebih
kelabu.
2. Perubahan psikologis
Perubahan psikologis pada lansia dipengaruhi oleh keadaan fisik lansia yang mengalami
penurunan, kondisi kesehatan pada lansia, tingkat pendidikan pada lansia, keturunan
(hereditas), serta kondisi lingkungan dimana lansia berada. Perubahan psikologis pada
lansia adalah kenangan (memory) serta IQ (Intellgentia Quantion) yakni kemampuan
verbal lansia, penampilan lansia, persepsi lansia serta ketrampilan psikomotor lansia
menjadi berkurang.
3. Perubahan psikososial
Lansia akan mengalami penurunan tingkat kemandirian dan psikomotor. Tingkat
kemandirian yakni kemampuan lansia untuk melakukan sesuatu. Fungsi psikomotor
yakni meliputi gerakan, tindakan, serta koordinasi. Adanya penurunan fungsi pada tingkat
kemandirian serta psikomotor menyebabkan lansia mengalami suatu perubahan dari sisi
aspek psikososial. Hal ini tentunya dikaitkan dengan kepribadian lansia
C. Komponen Kualitas Hidup
Beberapa literatur menyebutkan kualitas hidup dapat diklasifikasikan kedalam beberapa
komponen yaitu :
1. University of Toronto (2004)

Beberapa literatur menyebutkan kualitas hidup dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu internal
individu, kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungan), dan harapan (prestasi dan
aspirasi individu).
a. Internal individu
Internal individu dalam kualitas hidup dibagi 3 yaitu secara fisik, psikologis, dan
spiritual. Secara fisik yang terdiri dari kesehatan fisik, personal higienis, nutrisi,
olahraga, pakaian, dan penampilan fisik secara umum.Secara psikologis yang terdiri
dari kesehatan dan penyesuaian psikologis, kesadaran, perasaan, harga diri, konsep
diri, dan kontrol diri.Secara spiritual terdiri dari nilai-nilai pribadi dan kepercayaan
spiritual.
b. Kepemilikan
Kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungannya) dalam kualitas hidup dibagi
dua yaitu secara fisik dan sosial.Secara fisik yang terdiri dari rumah, tempat
kerja/sekolah, secara sosial terdiri dari tetangga/lingkungan dan masyarakat, keluarga,
teman/rekan kerja, lingkungan dan masyarakat.
c. Harapan
Harapan (prestasi dan aspirasi individu) dalam kualitas dapat dibagi dua yaitu secara
praktis dan secara pekerjaan.Secara praktis yaitu rumah tangga, pekerjaan, aktivitas
sekolah atau sukarela dan pencapaian kebutuhan atau sosial. Secara pekerjaan yaitu
aktivitas peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta adaptasi terhadap perubahan
dan penggunaan waktu santai, aktivitas relaksasi dan reduksi stress
2. World Health Organization Quality Of Life
World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) membagi kualitas hidup dalam
enam domain yaitu fisik, psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, lingkungan,
spiritual, agama atau kepercayaan seseorang (WHO, 1998).
a. Domain I (fisik)
WHOQOL membagi domain fisik pada tiga bagian, yaitu:
1) Nyeri dan ketidaknyamanan
Aspek ini mengeksplor sensasi fisik yang tidak menyenangkan yang dialami
individu, dan selanjutnya berubah menjadi sensasi yang menyedihkan dan
mempengaruhi hidup individu tersebut. Sensasi yang tidak menyenangkan

meliputi kekakuan, sakit, nyeri dengan durasi lama atau pendek, bahkan penyakit
gatal juga termasuk.Diputuskan nyeri bila individu mengatakan nyeri, walaupun
tidak ada alasan medis yang membuktikannya (WHO, 1998)
2) Tenaga & lelah
Aspek ini mengeksplor tenaga, antusiasme dan keinginan individu untuk selalu
dapat melakukan aktivitas sehari-hari, sebaik aktivitas lain seperti rekreasi.
Kelelahan membuat individu tidak mampu mencapai kekuatan yang cukup untuk
merasakan hidup yang sebenarnya.Kelelahan merupakan akibat dari beberapa hal
seperti sakit, depresi, atau pekerjaan yang terlalu berat
3) Tidur dan istirahat
Aspek ini fokus pada seberapa banyak tidur dan istirahat. Masalah tidur termasuk
kesulitan untuk pergi tidur, bangun tengah malam, bangun di pagi hari dan tidak
dapat kembali tidur dan kurang segar saat bangun di pagi hari.
b. Domain II (psikologis)
WHOQOL membagi domain psikologis pada lima bagian, yaitu:
1) Perasaan positif
Aspek ini menguji seberapa banyak pengalaman perasaan positif individu dari
kesukaan, keseimbangan, kedamaian, kegembiraan, harapan, kesenangan dan
kenikmatan dari hal-hal baik dalam hidup. Pandangan individu, dan perasaan pada
masa depan merupakan bagian penting dari segi ini
2) Berpikir, belajar, ingatan, dan konsentrasi
Aspek ini mengeksplor pandangan individu terhadap pemikiran, pembelajaran,
ingatan, konsentrasi dan kemampuannya dalam membuat keputusan.Hal ini juga
termasuk kecepatan dan kejelasan individu memberikan gagasan
3) Harga Diri
Aspek ini menguji apa yang individu rasakan tentang diri mereka sendiri. Hal ini
bisa saja memiliki jarak dari perasaan positif sampai perasaan yang ekstrim
negatif tentang diri mereka sendiri.Perasaan seseorang dari harga sebagai individu
dieksplor.Aspek dari harga diri fokus dengan perasaan individu dari kekuatan diri,
kepuasan dengan diri dan kendali diri
4) Gambaran diri dan Penampilan

Aspek ini menguji pandangan individu dengan tubuhnya.Apakah penampilan


tubuh kelihatan positif atau negatif.Fokus pada kepuasan individu dengan
penampilan dan akibat yang dimilikinya pada konsep diri. Hal ini termasuk
perluasan dimana apabila ada bagian tubuh yang cacat akan bisa dikoreksi
misalnya dengan berdandan, berpakaian, menggunakan organ buatan dan
sebagainya
5) Perasaan Negatif
Aspek ini fokus pada seberapa banyak pengalaman perasaan negatif individu,
termasuk

patah

semangat,

perasaan

berdosa,

kesedihan,

keputusasaan,

kegelisahan, kecemasan, dan kurang bahagia dalam hidup.Segi ini termasuk


pertimbangan dari seberapa menyedihkan perasaan negatif dan akibatnya pada
fungsi keseharian individu
c. Domain III (tingkat kebebasan)
WHOQOL membagi domain tingkat kebebasan pada empat bagian, yaitu:
1) Pergerakan
Aspek ini menguji pandangan individu terhadap kemampuannya untuk berpindah
dari satu tempat ke tempat lain, bergerak di sekitar rumah, bergerak di sekitar
tempat kerja, atau ke dan dari pelayanan transportasi
2) Aktivitas sehari-hari
Aspek ini mengeksplor kemampuan individu untuk melakukan aktivitas seharihari.Hal ini termasuk perawatan diri dan perhatian yang tepat pada kepemilikan.
Tingkatan dimana individu tergantung pada yang lain untuk membantunya dalam
aktivitas kesehariannya juga berakibat pada kualitas hidupnya.
3) Ketergantungan pada pengobatan atau perlakuan
Aspek ini menguji ketergantungan individu pada medis atau pengobatan alternatif
(seperti akupuntur dan obat herba) untuk mendukung fisik dan kesejahteraan
psikologisnya. Pengobatan pada beberapa kasus dapat berakibat negatif pada
kualitas hidup individu (seperti efek samping dari kemoterapi) di saat yang
samapada kasus lain menambah kualitas hidup individu (seperti pasien kanker
yang menggunakan pembunuh nyeri).
4) Kapasitas Pekerjaan

Aspek ini menguji penggunaan energi individu untuk bekerja.Bekerja


didefenisikan sebagai aktivitas besar dimana individu disibukkan.Aktivitas besar
termasuk pekerjaan dengan upah, pekerjaan tanpa upah, pekerjaan sukarela untuk
masyarakat, belajar dengan waktu penuh, merawat anak dan tugas rumah tangga.
d. Domain IV (Hubungan Sosial)
WHOQOL membagi domain hubungan sosial pada tiga bagian, yaitu:
1) Hubungan perorangan
Aspek ini menguji tingkatan perasaan individu pada persahabatan, cinta, dan
dukungan dari hubungan yang dekat dalam kehidupannya. Aspek ini termasuk
pada kemampuan dan kesempatan untuk mencintai, dicintai dan lebih dekat
dengan orang lain secara emosi dan fisik. Tingkatan dimana individu merasa
mereka bisa berbagi pengalaman baik senang maupun sedih dengan orang yang
dicintai.
2) Dukungan social
Aspek ini menguji apa yang individu rasakan pada tanggung jawab, dukungan,
dan tersedianya bantuan dari keluarga dan teman. Aspek ini fokus pada seberapa
banyak yang individu rasakan pada dukungan keluarga dan teman, faktanya pada
tingkatan mana individu tergantung pada dukungan di saat sulit.
3) Aktivitas seksual
Aspek ini fokus pada dorongan dan hasrat pada seks, dan tingkatan dimana
individu dapat mengekspresikan dan senang dengan hasrat seksual yang tepat.
e. Domain V (Lingkungan)
WHOQOL membagi domain lingkungan pada delapan bagian, yaitu:
1) Keamanan Fisik
Aspek ini menguji perasaan individu pada keamanan dari kejahatan fisik.
Ancaman pada keamanan bisa timbul dari beberapa sumber seperti tekanan orang
lain atau politik. Aspek ini berhubungan langsung dengan perasaan kebebasan
individu.
2) Lingkungan rumah

Aspek ini menguji tempat yang terpenting dimana individu tinggal (tempat
berlindung dan menjaga barang-barang).Kualitas sebuah rumah dapat dinilai pada
kenyamanan, tempat teraman individu untuk tinggal.
3) Sumber Penghasilan
Aspek ini mengeksplor pandangan individu pada sumber penghasilan (dan
sumber penghasilan dari tempat lain). Fokusnya pada apakah individu dapat
mengahasilkan atau tidak dimana berakibat pada kualitas hidup
4) Kesehatan dan perhatian sosial: ketersediaan dan kualitas
Aspek ini menguji pandangan individu pada kesehatan dan perhatian sosial di
kedekatan sekitar. Dekat berarti berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan bantuan.
5) Kesempatan untuk memperoleh informasi baru dan keterampilan
Aspek ini menguji kesempatan individu dan keinginan untuk mempelajari
keterampilan baru, mendapatkan pengetahuan baru, dan peka pada apa yang
terjadi. Termasuk program pendidikan formal, atau pembelajaran orang dewasa
atau aktivitas di waktu luang, baik dalam kelompok atau sendiri
6) Patisipasi dalam kesempatan berekreasi dan waktu luang
Aspek ini mengeksplor kemampuan individu, kesempatan dan keinginan untuk
berpartisipasi dalam waktu luang, hiburan dan relaksasi.
7) Lingkungan fisik (polusi/ keributan/ kemacetan/ iklim)
Aspek ini menguji pandangan individu pada lingkungannya.Hal ini mencakup
kebisingan, polusi, iklim dan estetika lingkungan dimana pelayanan ini dapat
meningkatkan atau memperburuk kualitas hidup.
8) Transoprtasi
Aspek ini menguji pandangan individu pada seberapa mudah untuk menemukan
dan menggunakan pelayanan transportasi
f. Domain VI (spiritual/agama/kepercayaan)
Aspek ini menguji kepercayaan individu dan bagaimana dampaknya pada kualitas
hidup. Hal ini bisa membantu individu untuk mengkoping kesulitan hidupnya,
memberi kekuatan pada pengalaman, aspek ini ditujukan pada individu dengan
perbedaan agama (Buddha, Kristen, Hindu, dan Islam), sebaik individu dengan

kepercayaan individu dan kepercayaan spiritual yang tidak sesuai dengan orientasi
agama.
D. Faktor factor yang mempengaruhi quality of life pada lansia
Berikut ini adalah beberapa factor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia, antara lain:
1. Kondisi Fisik
a. Tingkat Kemandirian
Untuk mengukur tingkat kemandirian lansia digunakan Indeks Barthel yang
meliputi :
1) Kemampuan makan dengan penilaian sebagai berikut : dengan bantuan
diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10
2) Kemampuan berpindah dari atau ke tempat tidur dan sebaliknya, dengan
penilaian sebagai berikut : dengan bantuan diberi nilai 5-10 dan mandiri
diberi nilai 15
3) Kemampuan menjaga kebersihan diri, mencuci muka, menyisir,
mencukur, dan menggosok gigi dengan penilaian sebagai berikut : dengan
bantuan diberinilai 0 dan mandiri diberi nilai 5
4) Kemampuan untuk mandi dengan penilaian sebagai berikut : dengan
bantuan diberi nilai 0 dan mandiri diberi nilai 5
5) Kemampuan berjalan dijalan yang datar dengan penilaian sebagai berikut
bantuan 10 dan mandiri 15
6) Kemampuan naik turun tangga dengan penilaian sebagai berikut : dengan
bantuan diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10
7) Aktivitas di toilet (menyemprot, mengelap) dengan penilaian sebagai
berikut : dengan bantuan diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10
8) Kemampuan berpakaian dengan penilaian sebagai berikut : dengan
bantuan diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10
9) Kemampuan mengontrol defekasi dengan penilaian sebagai berikut :
dengan bantuan diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10

10) Kemampuan berkemih dengan penilaian sebagai berikut : dengan bantuan


diberi nilai 5 dan mandiri diberi nilai 10 (Mahoney, F.L dan Barthel,
1965)
b. Keadaan Umum
Pemeriksaan fisik secara umum pada lansia yakni meliputi pemeriksaan
tingkat kesadaran, tekanan darah, tanda-tanda vital atau TTV, berat badan, tinggi
badan serta postur tulang belakang pada lansia. Lansia yang sehat akan berada
pada tingkat kesadaran penuh (composmentis), tekanan darah 140/90mmHg
sampai dengan 160/90mmHg, tanda tanda vital (nadi 60-70x/menit, pernafasan
14-16x/menit, suhu) (Noorkasiani, 2009).
2. Gizi
Gizi lebih atau kegemukan merupakan masalah yang sering terjadi pada lanjut
usia. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kegemukan pada lanjut usia.
Pada lansia terjadi penurunan kegiatan sel-sel dalam tubuh, sehingga kebutuhan akan
zat-zat gizi juga ikut menurun. Asupan makanan yang tetap namun kegiatan yang
dilakukan sehari-hari oleh lansia mengalami penurunan menyebabkan penumpukan
makanan dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan kegemukan bahkan menjadi
penyakit. Kencing manis, penyakit jantung, tekanan darah tinggi adalah beberapa
penyakit yang berkaitan dengan gizi lebih pada lansia. Untuk itu diperlukan adanya
pengaturan diet bagi lansia (Irianto, 2014)
Masalah gizi yang kurang pada lansia dapat disebabkan oleh anoreksia yang
berkepanjangan. Hal tersebut menyebabkan penurunan berat badan pada lansia. Gizi
kurang juga sering diakibatkan oleh penyakit infeksi kronis, penyakit jantung
kongestif, masalah sosial dan ekonomi atau sebab lain. Kehilangan berat badan terjadi
amat berlebihan sehingga asupan makanan tak dapat mengimbangi kehilangan yang
cepat itu. Keadaan kurang gizi pada lansia ini juga perlu mendapat penanganan diet
khusus (Irianto, 2014)
3. Psikologis
Penuaan pada lanjut usia sangat dikaitkan dengan perubahan anatomi, perubahan
fisiologi, terjadi kesakitan atau hal hal yang bersifat patologi dan perubahan

psikososial. Depresi adalah gangguan psikologis yang kita ketahui sering dialami
lanjut usia. Interaksi faktor biologi, fisik, psikologis, serta sosial pada lanjut usia bisa
mengakibatkan depresi pada lanjut usia (Soejono dkk, 2009).
Depresi adalah suatu masa terganggunya fungsi dalam diri manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih serta gejala yang menyertainya, termasuk
perubahan pada pola tidur, perubahan nafsu makan, perubahan psikomotor, sulit
berkonsentrasi, merasa tidak bahagia, sering merasa kelelahan, sering timbul rasa
putus asa, merasa tidak berdaya, serta keinginan bunuh diri (Kaplan dan Saddock,
2007).
4. Aspek Kognitif
Fungsi kognitif adalah kemampuan berfikir rasional yang terdiri dari beberapa
aspek. Fungsi kognitif diukur dengan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil
skornya yaitu kognitif normal (skor : 1630) dan gangguan kognitif (skor : 0-15).
Aspek yang dinilai pada MMSE adalah status orientasi, registrasi, atensi dan
kalkulasi, memori, bahasa dan kemampuan menulis serta menggambar spontan
(Folstein dkk, 1975).
Fungsi kognitif yang menurun dapat menyebabkan terjadinya ketidakmampuan
lansia dalam melakukan aktifitas normal sehari-hari. Hal ini dapat mengakibatkan
para lansia sering bergantung pada orang lain untuk merawat diri sendiri (care
dependence) pada lansia (Reuser dkk , 2010).
5. Aktifitas Sosial
Aktivitas sosial merupakan salah satu dari aktivitas sehari hari yang dilakukan
oleh lansia. Lansia yang sukses adalah lansia yang mempunyai aktivitas sosial di
lingkungannya. Contoh aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas sosial
yang dikemukan oleh Marthuranath pada tahun (2004) dalam Activities of Daily
Living Scale for Elderly People adalah lansia mampu berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya bersama lansia lainnya atau orangorang terdekat, menjalankan hobi serta
aktif dalam aktivitas kelompok.
Aktivitas sosial merupakan kegiatan yang dilakukan bersama dengan
masyarakat di lingkungan sekitar (Napitupulu, 2010). Menurut Yuli pada tahun

(2014) Teori aktivitas atau kegiatan (activity theory) menyatakan bahwa lansia yang
selalu aktif dan mengikuti banyak kegiatan sosial adalah lansia yang sukses.
6. Interaksi Sosial
Sebagai makhluk sosial manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya,
makhluk yang mampu berpikir sebelum melakukan sesuatu. Dari proses berpikir
muncul perilaku atau tindakan sosial. Ketika seseorang bertemu dengan orang
lainnya, dimulailah suatu interaksi sosial. Seseorang dengan orang lainnya melakukan
komunikasi baik secara lisan maupun isyarat, aktivitas-aktivitas itu merupakan suatu
bentuk interaksi sosial. Terdapat beberapa macam interaksi sosial. Dari sudut subjek,
ada 3 macam interaksi sosial yaitu interaksi antar perorangan, interaksi antar orang
dengan kelompoknya atau sebaliknya, interaksi antar kelompok.
Interaksi sosial merupakan suatu hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat. Interaksi sosial
merupakan suatu proses di mana manusia melakukan komunikasi dan saling
mempengaruhi dalam tindakan maupun pemikiran. Penurunan derajat kesehatan dan
kemampuan fisik menyebabkan lansia secara perlahan akan menghindar dari
hubungan dengan orang lain. Hal ini akan mengakibatkan interaksi sosial menurun
(Hardywinoto dan T., 2005).
E. Alat Ukur Kualitas Hidup Lansia
Bagian kesehatan mental WHO mempunyai proyek organisasi kualitas kehidupan dunia
(WHOQOL). Proyek ini bertujuan mengembangkan suatu instrumen penilaian kualitas
hidup. Instrumen WHOQOL BREF ini telah dikembangkan secara kolaborasi di berbagai
belahan dunia. Instrumen ini terdiri dari 26 item pertanyaan dimana 2 pertanyaan tentang
kualitas hidup lansia secara umum dan 24 pertanyaan lainnya mencakup 4 domain. 4 domain
tersebut adalah :
1. Kesehatan Fisik yaitu pada pertanyaan nomer 3, 4, 10, 15, 16, 17 dan 18
2.

Psikologis yaitu pada pertanyaan nomer 5, 6, 7, 11, 19 dan 26

3.

Hubungan sosial yaitu pada pertanyaan nomer 20, 21, dan 22

4. Lingkungan yaitu pada pertanyaan nomer 8, 9, 12, 13, 14, 23, 24 dan 25 (WHO, 2004).

World Health Organization (WHO) telah mengembangkan sebuah instrumen untuk


mengukur kualitas hidup seseorang yaitu WHO Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF).
Distribusi ke-26 pertanyaan dari WHOQOL-BREF adalah simetris dan hasil penelitian
menunjukkan instrumen WHOQOL-BREF valid dan reliable untuk mengukur kualitas hidup
pada lansia. Kemampuan crosscultural dari instrumen WHOQOL-BREF merupakan suatu
keunggulan dan mendukung premis yang menyatakan instrumen ini dapat digunakan sebagai
alat screening. WHOQOL-BREF merupakan suatu instrumen yang valid dan reliable untuk
digunakan baik pada populasi lansia maupun populasi dengan penyakit tertentu. Instrumen
ini telah banyak digunakan di berbagai negara industri maupun berkembang pada populasi
penderita hati dan paru-paru yang kronik sebagai alat screening (Salim dkk, 2007).
Instrumen WHOQOL-BREF merupakan instrumen yang sesuai untuk mengukur
kualitas hidup dari segi kesehatan terhadap lansia dengan jumlah responden yang kecil,
mendekati distribusi normal, dan mudah untuk digunakan (Hwang dkk, 2003).
F. Telaah Jurnal
1. Judul:
Hubungan antara Fungsi Keluarga dan Kualitas Hidup Lansia
2. Tempat dan Waktu Penelitian:
Penelitian dilakukan di kota Kediri pada Kelompok Jantung Sehat Surya Group di Kediri,
Jawa Timur. Waktu penelitian November Desember 2010
3. Populasi Penelitian:
Populasi sasaran penelitian adalah orang dengan usia 60 tahun ke atas. Populasi sumber
penelitian adalah anggota Kelompok Jantung Sehat Surya Group di kota Kediri, Jawa
Timur, terdiri atas 134 orang.
4. Desain dan sampel
Sampel dipilih secara purposive sampling. Kriteria inklusi : (1) Usia lebih dari 60 tahun;
(2) Merupakan anggota dari klub jantung sehat Surya Group; (3) Bersedia menjadi subjek
penelitian; (4) Pendidikan minimal SMP atau sederajat. Terdapat 41 subjek yang
memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini.
5. Instrumen Penelitian:

Fungsi keluarga diukur dengan isntrumen APGAR (adaptation, partnership, growth,


affection, resolve). Untuk mengukur kualitas hidup menggunakan kuesioner WHOQOL
6. Metode Penelitian:
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional, dengan menggunakan cross
sectional study, variable dependennya adalah kualitas hidup orang tua, dan variable
independennya adalah fungsi keluarga. Data hasil penelitian kemudian di analisis dengan
menggunakan chi squere dan multiple regresi logistic, dengan menggunakan SPSS
7. Hasil:
Hasil analisis regresi multiple logistic menunjukan bahwa lansia yang berasal dari
keluarga dengan fungsi keluarga sehat memiliki kemungkinan untuk berkualitas hidup
baik 25 kali lebih besar daripada lansia dengan fungsi keluarga tidak sehat dan terdapat
hubungan yang signifikan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup pada lansia (OR =
24.85 ; p = 0.040 ; CI 95% 1.16 hingga 533.04).
8. Kesimpulan:
Penelitian ini menyimpulkan, terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan secara
statistik signifikian antara fungsi keluarga dan kualitas hidup lansia. Kesimpulan ini dibuat
setelah mengontrol pengaruh faktor perancu usia, jenis kelamin, bentuk keluarga, dan
pekerjaan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Quality Of Life merupakan suatu produk yang dihasilkan dari interaksi sejumlah faktorfaktor yang berbeda, seperti sosial, kesehatan, ekonomi, dan kondisi lingkungan, yang secara
kumulatif, juga dengan cara-cara yang belum diketahui, berinteraksi untuk mempengaruhi
pembangunan manusia dan sosial di tingkat individu dan masyarakat. Kualitas hidup
dipengaruhi oleh tingkat kemandirian, kondisi fisik dan psikologis, aktifitas sosial, interaksi
sosial dan fungsi keluarga. Pada umumnya lanjut usia mengalami keterbatasan, sehingga
kualitas hidup pada lanjut usia menjadi mengalami penurunan. Oleh karena itu, sebagai
tenaga kesehatan masyarakat, kita mempunyai tanggung jawab untuk memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan fisik
maupun psikis, agar kualitas hidup lansia dapat optimal.
B. Saran
1. Keluarga yang memiliki lansia diharapkan melibatkan lansia dalam pengelolaan keluarga
karena hal tersebut dapat meningkatkan harga diri pada lansia sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup lansia.
2. Pencegahan primer yang dapat dilakukan tenaga kesehatan adalah konseling, dukungan
nutrisi, keamanan di dalam dan sekitar rumah, manajemen stres, penggunaan medikasi
yang tepat. Pencegahan sekunder berupa deteksi dini status kesehatan secara sederhana
seperti kontrol hipertensi dan lain sebagainya. Pencegahan tersier dilakukan sebelum
terdapat gejala penyakit dan cacat, mencegah cacat dan ketergantungan.

DAFTAR PUSTAKA
Donald,A. (2001). What is Quality Of Life? http://www.evidence-based-medicine.co.uk. Diakses
Tgl. 10 Desember 2015
Hardywinoto. (2005). Panduan Gerontologi Tinjauan Dari. Berbagai Berbagai Aspek. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Irianto K, Waluyo K (2004). Gizi Dan Polah Hidup Sehat. Bandung: Cv. Yama Widya.
Noorkasiani. (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan. Asuhan Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.

Beri Nilai