Anda di halaman 1dari 3

Pembaharuan Konsep Audit Keuangan Negara

(Ahmad Hikam H. / 135020300111038)

Setiap akhir tahun anggaran, Pemerintah Pusat dan Daerah wajib menyampaikan Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) kepada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai bentuk pertanggungjawaban publik. Setelah
pemerintah menyampaikan laporan keuangan, maka BPK akan melakukan kegiatan audit sebagai
salah satu bentuk evaluasi dan pengawasan terhadap kinerja dan akuntabilitas pemerintah. Hasil
audit BPK yang berupa opini, temuan, dan rekomendasi tindak lanjut temuan kemudian
diberikan kepada pemerintah sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan kegiatan
tahun-tahun anggaran selanjutnya. Hasil audit tersebut juga akan menjadi bahan informasi bagi
masyarakat untuk melakukan penilaian terhadap kinerja pemerintahan selama ini sehingga dapat
menentukan pilihan politik mereka di masa yang akan datang.
Proses audit yang dilakukan BPK pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan dalam
siklus keuangan negara yang terjadi pada akhir kegiatan pengelolaan anggaran (post audit).
Proses audit dalam konteks ini lebih ditekankan pada evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan
pemerintah dan pemeriksaan terhadap kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan prosedur
administrasi keuangan negara. Kelemahan dari proses audit yang dijalankan tersebut adalah
auditor tidak dapat melakukan evaluasi dan verifikasi terhadap proses pengalokasian. Selain itu
dengan hanya melakukan post audit maka auditor tidak dapat memahami permasalahan dan
kendala yang sebenarnya sudah terjadi dalam proses penganggaran. Kenyataan ini menyebabkan
pemerintah sebagai institusi yang diaudit tidak dapat melaksanakan rekomendasi dari BPK
secara maksimal sehingga kinerja dan pelaksanaan konsep Value for Money pada pengelolaan
keuangan negara tidak dapat ditingkatkan.
Menyadari hal tersebut, maka saat ini perlu dilakukan pembaharuan konsep audit
keuangan negara secara menyeluruh. Kegiatan audit yang dilakukan oleh institusi pemeriksa
seharusnya secara integral berperan dalam seluruh proses pengelolaan keuangan. Peranan auditor
dalam setiap tahapan dalam siklus pengelolaan keuangan negara sudah selayaknya mempunyai
porsi yang seimbang sehingga proses pengelolaan keuangan negara dapat berjalan secara
dinamis, fleksibel, tetapi tetap akurat. Untuk itu dalam setiap tahapan dalam siklus anggaran,
auditor harus berperan secara aktif untuk mendukung peran yang telah dijalankan institusi teknis
di pemerintahan. Peranan auditor dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan
pertanggungjawaban perlu didesain secara lugas dan sistematis sehingga nilai tambah yang
dihasilkan auditor bisa memberikan hasil yang efektif untuk memyempurnakan hasil dari setiap
siklus anggaran.
Pertama, peranan auditor pada tahap perencanaan. Dalam tahap ini seluruh kebijakan
publik yang telah disusun pemerintah perlu direview secara independen oleh auditor untuk

mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai kebijakan publik yang akan diambil oleh
pemerintah. Dalam tahap perencanaan, kegiatan auditor yang dapat dilakukan ada dua macam
yaitu: (a) analisis proposal anggaran yang disampaikan oleh pemerintah dan (b) review terhadap
proposal kebijakan yang disusun oleh pemerintah. Kedua, kegiatan auditor ini ditujukan untuk
menghasilkan saran, pandangan, ataupun alternatif kebijakan yang mungkin dapat digunakan
oleh pemerintah sebagai bahan untuk memperbaiki perencanaan yang telah disusun. Dengan
adanya peranan auditor dalam perencanaan maka pemerintah dapat menghindari permasalahan
yang terjadi dalam perencanaan antara lain yaitu: (1) kebijakan yang menguntungkan pihak
tertentu (preferred policies) dan (2) data yang bias. Peranan auditor dalam tahap ini hanya
sebatas pada review dan asistensi saja. Oleh karena perlu diingat bahwa auditor tidak berhak
mengajukan usulan kebijakan secara resmi kepada institusi legislatif sehingga pengambil
keputusan tetap berada di tangan pemerintah.
Kedua, peranan auditor pada tahap pelaksanaan. Fungsi auditor dalam tahap ini
difokuskan untuk mengawasi proses pelaksanaan kebijakan dan anggaran yang telah ditetapkan
oleh Pemerintah dan legislatif. Dalam proses pelaksanaan anggaran, proses eksekusi kegiatan
dan administrasi keuangan negara menjadi fokus utama dalam pengawasan yang dilakukan oleh
auditor. Dalam hal ini auditor intern pemerintah yang ada di dalam setiap Kementerian/Lembaga
memiliki peranan yang cukup penting mengingat mereka merupakan institusi pengawasan yang
terintegrasi dengan executing agency. Kegiatan utama yang dilakukan oleh auditor dalam tahap
pelaksanaan anggaran adalah:(1)asistensi dan konsultasi pengelolaan kegiatan baik dari
administratif maupun substantif dan (2) monitoring dan evaluasi kegiatan secara integral. Kedua
macam kegiatan ini ditujukan agar pengelolaan kegiatan tetap berjalan pada koridor perencanaan
yang telah ditetapkan. Selain itu kegiatan auditor tersebut ditujukan juga untuk mengatasi
permasalahan yang timbul dalam kegiatan. Dengan adanya monitoring dan evaluasi yang
terintegrasi dengan kegiatan maka executing agency dapat segera melakukan tindakan korektif
sehingga output dan tujuan dari pelaksanaan kegiatan tetap dapat dicapai.
Ketiga, peranan auditor pada tahap pertanggungjawaban. Dalam tahapan
pertanggungjawaban peranan auditor sebenarnya saat ini sudah dijalankan sepenuhnya oleh
institusi pengawasan dan pemerikasaan yang telah ada. Dalam tahap pertanggungjawaban
auditor berperan untuk melakukan post audit atas implementasi kegiatan dan pengelolaan
keuangan negara dalam satu tahun anggaran. Kegiatan post audit yang dilakukan oleh auditor
ditujukan untuk memberikan opini atas kinerja dan laporan keuangan yang telah disusun oleh
pemerintah. Hasil dari pemeriksaaan kemudian dipublikasikan kepada masyarakat sebagai
bentuk akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan pemerintahan negara.
Untuk mewujudkan peranan auditor dalam setiap tahap pengelolaan keuangan negara
tersebut memanglah tidak mudah. Oleh karena itu ke depan, unit pengawasan dan pemeriksaan
baik internal maupun eksternal harus selalu meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam
mengawal siklus pengelolaan keuangan negara. Beberapa prasyarat yang harus dipenuhi agar
auditor dapat menjalankan perannya dengan baik dalam setiap tahapan siklus pengelolaan
keuangan negara antara lain: (1) auditor harus mampu melakukan perencanaan kebijakan publik,

(2) auditor harus mampu melakukan assesment anggaran dan kebijakan dari perspektif financial,
dan (3) auditor memiliki kemampuan teknis yang memadai terkait kegiatan. Mengingat prasyarat
tersebut cukup berat maka proses pengembangan peranan auditor harus didesain secara
terstruktur dan bertahap.
Pada akhirnya, fungsi auditor di setiap institusi pemerintah sebenarnya saat ini sudah
dapat dioptimalkan dengan adanya komitmen yang kuat dari pimpinan. Paradigma yang
memberikan image seorang auditor sebagai pencari kesalahan perlu dihilangkan dalam sistem
pengelolaan keuangan negara kita. Sementara itu di sisi lain auditor harus memberikan
kontribusi yang maksimal dalam perbaikan pengelolaan keuangan negara secara keseluruhan
tanpa harus mencari-cari kesalahan dari pihak yang menjadi subjek pemeriksaan. Sudah
selayaknya auditor menempatkan diri sebagai teman yang dapat memberikan infomasi
mengenai titik lemah (weakness point) dalam pengelolaan dan memberikan saran perbaikan yang
efektif untuk mengatasi kelemahan tersebut. Dengan kolaborasi yang baik antara executing
agency dan auditor maka diharapkan pengelolaan keuangan negara kita akan semakin optimal
dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan pembangunan secara nasional.

Sumber:
1. Yunita Anggraini, dan B. Hendra Puranto. (2010). Anggaran Berbasis Kinerja.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
2. http://www.kemenkeu.go.id/en/node/47469 (diakses pada tanggal 3 Maret 2016)
3. http://www.antikorupsi.org/id/content/mark-terjadi-sejak-rencana-anggaran-auditsebaiknya-mulai-dari-depkeu-dan-bappenas (diakses pada tanggal 3 Maret 2016)