Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebanyakan pasien diabetes tipe 1 (DMT1) pada anak sangat tergantung dengan
insulin seumur hidupnya. Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolik kronis
yang dikarenakan ketiadaan atau berkurangnya insulin. Insulin diproduksi oleh sel beta
pulau Langerhans pada pancreas dan ketiadaan, kerusakan atau kehilangan sel ini
menyebabkan diabetes tipe 1 (diabetes yang tergantung insulin/insulin dependent diabetes
mellitus [IDDM])(Lamb, 2015). Penyandang DM di seluruh dunia mengalami peningkatan,
di Amerika tahun 2007 terdapat 186300 anak usia kurang dari 20 tahun menyadang DM tipe
1 atau 2, yang sama dengan 0.2% penduduk Amerika. Finlandia menempati urutan pertama
angka tertinggi anak dengan Dm tipe 1, sedangkan jepang paling rendah (Pulungan &
Herqutanto, 2009).
Jumlah pasti penyandang DM tipe 1 di Indonesia belum diketahui. Jumlah anak
dengan DM tipe 1 dalam Ikatan Keluarga Penderita DM Anak dan Remaja (IKADAR) sudah
mencapai 400an orang(Pulungan & Herqutanto, 2009). Keadaan ini merupakan fenomena
gunung es dikarenakan penemuan yang masih sedikit. Hal ini membutuhkan kerjasama
banyak pihak agar deteksi serta penatalaksanaan terpadu DM tipe 1 dapat terlaksana. Referat
ini membahas bagaimana seharusnya tatalaksana DM tipe 1 pada anak secara komprehensif.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mengetahui tatalaksana komprehensif DM tipe 1 pada anak.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui peran multisektorial dalam penatalaksanaan komrehensif DM tipe 1
pada anak

b. Mengetahui bagaimana peran keluarga dalam penatalaksanaan komprehensif DM


tipe 1 pada anak
C. Manfaat Penulisan
1. Memberikan ilmu pengetahuan tentang DM tipe 1 pada anak
2. Menambah wawasan dalam penatalaksanaan DM tipe 1 pada anak

II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. DM TIPE 1 DAN PERMASALAHANNYA
1. DIABETES MELLITUS TIPE 1
DM tipe 1 merupakan kelainan sistemik karena gangguanmetabolisme glukosa
yang ditandai dengan hiperglikemia kronis. Hal ini disebabkan kerusakan sel beta
pankreas

yang

menyebabkan

berkurangnya

bahkan

terhantinya

produksi

insulin(Pulungan & Herqutanto, 2009). Diabetes tipe ini hanya 5-10% dari total
diabetes. Kerusakan pankreas pada DM tipe 1 dapat disebabkan oleh proses autoimun
atau idiopatik (American Diabetes Association, 2014).
2. ETIOPATOGENESIS

Gambar 2.1 Diagram kemungkinan penyebab DM tipe 1(Lamb, 2015).


Kebanyakan kasus DM tipe 1 (95%) merupakan akibat dari faktor lingkungan
yang berinteraksi dengan faktor genetik. Interaksi ini menyebabkan pembentukan
penyakit autoimun yang menyerang sel penghasil insulin pada sel beta Langerhans.
Sel-sel ini secara progresif rusak yang mengakibatkan defisiensi insulin pada 90%
kerusakan sel (Lamb, 2015). Faktor genetik diduga lebih berperan penting, meskipun
banyak anak dengan DM tipe 1 tidak memiliki riwayat DM pada keluarga (Pulungan &
Herqutanto, 2009). Peran lingkungan belum sepenuhnya terungkap, infeksi dan diet
dikatakan faktor utama dari lingkungan yang menyebabkan terjadinya DM tipe 1
(Hyoty, et al., 1995).
Penanda kerusakan karena proses autoimun adalah sel autoantibodi, autoantibodi
terhadap insulin, autoantibodi terhadap GAD(GAD65) dan autoantibodi terhadap
tirosin fosfatase IA-2 dan IA-2. Faktor genetik yang diduga berhubungan kuat adalah
kaitan dengan gen DQA dan DQB yang dipengaruhi gen DRB(American Diabetes
3

Association, 2014).Jenis lain dari DM tipe 1 menurut etiologi belum diketahui


(idiopatik). Beberapa pasien ini memiliki insulinopenia dan rawan terjadi ketoasidosis
tanpa ada bukti atau ditemukannya autoimun (American Diabetes Association, 2014).
Insulin sangat penting bagi metabolism karbohidrat, protein dan lemak. Insulin
mengurangi glukosa darah dengan cara menjadikan glukosa dapat memasuki sel otot
dan menstimulasi pembentukan glikogen (glikogenesis). Insulin juga menghambat
pengeluaran glukosa dari hepar (glikogenolisis) dan memperlambat pemecahan lemak
menjadi trigliserid, asam lemak bebas dan keton. Insulin juga menstimulasi
penyimpanan lemak seta pemecahan protein untuk produksi glukosa (gluconeogenesis)
di hepar dan ginjal.

Gambar 2.2 Efek defisiensi insulin (Lamb, 2015).


Hiperglikemia
Keadaan ini terjadi ketika insulin tidak mampu menghambat gluconeogenesis dan
mencegah penggunaan dan penyimpanan glukosa. Ginjal tidak dapat menyerap glukosa
yang berlebih dan menyebabkan glukosuria, diuresis osmotic, rasa haus dan dehidrasi.
Peningkatan pemecahan lemak dan protein menyebabkan produksi keton dan penurunan
berat badan. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya dibetes ketoasidosis (DKA).
5

Hipoglikemia
Insulin menghambat gluconeogenesis dan glikogenolisis sedangkan penggunaan
glukosa tidak maksimal. Keadaan hipoglikemia dapat terjadi ketika insulin diinjeksikan
kepada anak dengan intake karbohidrat yang kurang. Otak sangat tergantung pada
glukosa. Penurunan glukosa di bwah level 65 mg/dL akan menyebabkan pengeluaran
hormone (glucagon, epineprin dan kortisol) yang bermanifestasi sebagai hipoglikemia.
Gejala yang muncul meliputi kelebihan keringat, gemetar, bingung, perubahan tingkah
dan koma jika glukosa di bawah 30-40 mg/dL.
3. EPIDEMIOLOGI
Insidensi DM tipe 1 adalah 24.3 kasus tiap 100.000 populasi di dunia setiap
tahunnya(Dabelea, et al., 2007). Awal tahun 90-an tidak lebih dari 10 kasus DM tipe 1
ditemukan di Indonesia. Sejak tahun 2000-an hampir setiap bulan ditemukan kasus
baru dan mulai tahun 2009 sudah ada 2 kasus baru tiap bulan (Pulungan & Herqutanto,
2009). Laki-laki lebih banyak ditemukan, sedangkan umur paling banyak terdeteksi
adalah 4-6 tahun, meskipun dapat terjadi saat berumur 1 tahun (Felner, et al., 2005).
B. PENDEKATAN DIAGNOSIS PADA DM TIPE 1
1. ANAMNESIS
Gejala DM tipe 1 pada anak yang mudah dikenali adalah gejala sekunder karena
hipoglikemia, hiperglikemia atau DKA.
a. Hiperglikemia: malaise, nyeri kepala, lemes.
b. Glikosuria: polidipsi, poliuri, nokturia.
c. Berat badan turun
d. Gejala DKA: dehidrasi berat, nafas bau keton, respirasi kusmaul, nyeri perut, mual
muntah, kehilangan kesadaran
2. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik pada anak dengan DM tipe 1 awal dapat normal. Hal lain yang
ditemukan berkaitan dengan penyakit autoimun (misal penyakit Grave). Retinopati
diabetikum jarang ditemukan kecuali pada anak dengan hiperglikemia kronis.
3. KRITERIA DIAGNOSTIK
Menurut Konsensus Nasional Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 1 (2009), glukosa
darah puasa dianggap normal jika <126 mg/dL (7mmol/L). glukouria tidak spesifik,
sehingga perlu dilakukan pemeriksaan glukosa darah. Diagnosis DM dapat ditegakkan
bila memenuhi salah satu kriteria berikut (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et
al., 2009):
a. Gejala klinis poliuri, polidipsi, polifagi, berat badan menurun dan GDS >200
mg/dL (11 mmol/L)
b. Penderita asimtomatis: GDS >200 mg/dL atau GDP >126 mg/dL dengan TTGO
terganggu lebih dari satu kali pemeriksaan
c. Tes tolerasi glukosa oral (TTGO):
i.
DM: GDP >140 mg/dL (7.8 mmol/L) atau GD jam ke 2 200 mg/dL (11.1
ii.

mmol/L)
Toleransi glukosa terganggu (TGT): GDP<140 mg/dL dan GD jam ke 2

iii.

140-199 mg/dL (7.8-11 mmol/L)


Normal: GDP plasma <110 mg/dL (6.7 mmol/L) dan GD jam ke 2 <140

mg/dL
C. PENATALAKSANAAN DM TIPE 1 PADA ANAK
1. PENATALAKSANAAN UMUM
Pada dasarnya, DM tipe 1 tidak dapat disembuhkan, namun kita dapat
mngusahakan kualitas hidup yang optimal pada anak dengan DM tipe 1. Hal ini dapat
dicapai melalui kontrol metabolic yang baik (GD berada dalam batas normal atau
mendekati normal) tanpa menyebabkan hipoglikemia. Parameter yang dapat digunakan
adalah HbA1c. dikatakan baik apabila <7%, cukup <8% dan buruk bila >8% (UKK
Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).
Tabel 2.1 Sasaran dan tujuan pengeloaan DM tipe 1 pada anak

Sasaran
1. Bebas penyakit
2. Menikmati kehidupan sosial
3. Terhidari dari komplikasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tujuan
Tumbuh kembang optimal
Perkembangan emosi normal
Kontrol
metabolic
baik
tanpa
menimbulkan hipoglikemia
Aktif berpartisipasi dalam pendidikan
di sekolah
Pasien tidak memanipulasi penyakit
Mampu
mandiri
mengelola
penyakitnya pada saatnya

Pencapaian sasaran dan tujuan tersebut harus memperhatikan komponen


pengelolaan DM tipe 1 secara komprehensif. Hal ini membutuhkan tim khusus meliputi
ahli anak, endokrinologi, gizi dan lain-lain. Komponen pengelolaan DM meliputi
pemberian insulin, diit, olahraga, edukasi dan pemantauan mandiri (UKK
Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009; Lamb, 2015).
2. PENATALAKSANAAN DI INDONESIA
Insulin
Secara umum, insulin ada 5 yaitu rapid acting (kerja cepat), short acting (kerja
regular/pendek), intermediet (sedang),long acting (kerja lama) dan insulin kombinasi
(cepat-menengah dan pendek-menengah) (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et
al., 2009).
a. Jenis insulin
Tabel 2.2 Jenis dan profil kerja insulin(UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et
al., 2009).

Gambar 2.2 Grafik farmakokinetik berbagai insulin(Hirsh, 2005)


9

Berdasarkan jenis insulin beserta kombinasinya serta sediaan injeksi,


insulin dapat dikategorikan menjadi 4:
- Dua kali sehari kombinasi insulin kerja pendek-menengah
- Injeksi multipel menggunakan satu atau dua kali injeksi insulin kerja lama atau
-

sedang dan injeksi insulin kerja pendek tiap makan


Kombinasi lebih dari 2 regimen: injeksi insulin kombinasi pada pagi hari,
insulin kerja pendek sebelum makan siang dan injeksi insulin sedang atau kerja

lama saat makan malam


- Continuous subcutaneous insulin infusion (CSII) menggunakan pompa insulin
b. Penyimpanan
Insulin lebih baik di simpan di lemari es dengan suhu 4-8 oC, bukan dalam freezer,
mesipun dapat bertahan di suhu ruangan selama beberapa minggu. Insulin vial yang
sudah terbuka masih dapat bertahan di suhu ruangan selama 1 bulan serta 3 bulan
pada lemari es.
c. Pemilihan regimen
Pemilihan regimen masing-masing individu berbeda menurut umur, lama menderita
DM, gaya hidup, target kontrol metabolic dan kebiasaan individu maupun
keluarganya.
d. Penyuntikan
Tempat penyuntikan harus diperhatikan dan dirotasi untuk mencegah lipohipertrofi
dan lipodistrofi. Penyerapan di daerah paha dan pantat untuk insulin kerja
menengah lebih lambat.
Diit
Pengaturan pola makan pada penderita DM tipe 1 harus dilakukan untuk
mencapai kontrol metabolic yang baik tanpa mengabaikan kalori untuk tumbuh,
metabolism basal, maupun aktivitas sehari-hari. Kalori yang dibutuhkan dihitung
menurut berat badan ideal (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).

10

Komposisi yang dianjurkan adalah 50-60% karbhdrat, 10-15% protein dan 30%
lemak. Karbohidrat yang dianjurkan adalah yang berserat tinggi dan berindeks glikemik
rendah (buah, sayur dan sereal) (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).
Olahraga
Olahraga dapat dilakukan pada penderita DM. Hal ini baik mengingat olahraga
dapat menurunkan risiko komplikasi jangka panjang DM ke sistem kardiovaskuler.
Hipoglikemia merupakan hal yang perlu diwaspadai saat ingin berolahraga, karena
olahraga dapat mencetuskan hipoglikemia. Penderita DM harus memperhatikan
beberapa hal sebelum, saat dan sesudah olahraga, agar olahraga itu dapat bermanfaat
(UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).
Pemantauan mandiri
Tujuan utama pengelolaan DM tipe 1 adalah pasien dapat mengelola penyakitnya
sendiri. Pasien dan keluarga harus mampu memonitor kadar glikemik secara mandiri
seperti pemantauan kadar glukosa darah preprandial, post prandial dan tengah malam
untuk menentukan dosis insulin (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).
Kontrol metabolic yang buruk pada penderita DM tipe 1 ditandai dengan poliuri,
polidipsi gangguan penglihatan dan penurunan berat badan, infeksi, peningkatan kadar
HbA1c dan lain-lain. Anak dengan DM tipe 1 yang sakit juga memerlukan pengelolaan
tersendiri. Risiko infeksi yang besar pada anak dengan DM serta berkurangnya nafsu
makan dapat mempengaruhi metabolism harian yang berpengaruh pada kemungkinan
hipoglikemia dan ketoasidosis (KAD). Hal ini lebih baik dicegah karena dapat berakibat
fatal (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, et al., 2009).

11

Anak dengan DM tipe 1 diperbolehkan puasa dengan syarat dan kondisi tertentu.
Tindakan bedah mayor maupun minor juga harus diperhatikan pada anak dengan DM
karena pengelolaan yang berbeda. Hal ini dapat dikendalikan dengan mengetahui point
penting, diit dan pertimbangan keadaan pasien (UKK Endokrinologi Anak dan Remaja,
et al., 2009).
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering dari DM adalah hipoglikemia akut dan KAD.
Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi yaitu retinopati dan nefropati. Hal-hal
seperti ini lebih baik dicegah dengan rutin kontrol, kontrol metabolic yang baik dan
disiplin tinggi, baik keluarga maupun penderita. Edukasi merupakan poin penting untuk
mencegah timbulnya komplikasi yang tidak diinginkan (UKK Endokrinologi Anak dan
Remaja, et al., 2009).

3. PENDEKATAN TERBARU TERAPI DM TIPE 1 PADA ANAK


I. Sensor-augmented pump therapy
Alat ini diciptakan seperti CSII dan pengukur glukosa otomatis (continuous
glucose monitoring/CGM), sedangkan dosis insulin akan secara otomatis mengikuti
kadar glukosa. Penelitian ini membandingkan dengan pengukuran glukosa secara
manual. Hasilnya tidak ada pengaruh signifikan, tetapi penggunaan CGM
memberikan nilai HbA1c lebih render daripada anak yang menggunakan
pengukuran glukosa manual (Kordonuri, et al., 2010).
II. Probiotik
Penelitian The Multinational Environmental Determinants of Diabetes in the
Young (TEDDY) menyarankan bahwa penggunaan suplementasi probiotik pada
anak dengan kecenderungan DM tinggi (HLA-DR-DQ) pada umur kurang dari 3

12

bulan mengurangi risiko pekembangan menjadi DM tipe 1 yang dikarenakan


autoimun (McCall, 20014; Uusitalo, et al., 2014).

III.

PENUTUP

Pada dasarnya, DM tipe 1 pada anak tidak dapat disembuhkan, tapi kita masih
dapat mengusahakan tafarf hidup yang optimal pada anak dengan DM tipe 1. Hal ini
membutuhkan kerjasama banyak pihak dan biaya yang tidak murah. Permasalahan
ekonomi dan pengetahuan tentang penyakit ini harus selalu ditingkatkan, sehingga pasien
DM tipe 1 mampu mengelola penyakitnya sendiri.
Komplikasi DM tipe 1 aku dan kronis perlu dicegah dan dikelola dengan baik.
Hal ini dicapai dengan kontrol metabolic yang baik melalui diit, aktivitas fisik dan insulin
sesuai aturan. Banyak inovasi pengobatan dan pencegahan DM tipe 1 pada anak, tetapi
masih banyak yang harus diteliti. Fenomena DM bagaikan fenomena gunung es yang tak
tampak. Dukungan semua pihak terutama keluarga dan pemerintah harus selalu
dioptimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association, 2014. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.
Diabetes Care, 37(1), pp. S81-S90.
13

Dabelea, D. et al., 2007. Insidence of Diabetes in Youth in the United States. JAMA, 297(24), pp.
2716-2724.
Felner, E. et al., 2005. Genetic Interaction among Three Genomic Regions Creates Distinct
Constributions to Early and Late Onset Type 1 Diabetes Mellitus. Pediatric Diabetes,
24(8), pp. 213-220.
Hirsh, I., 2005. N Engl J Med, Volume 352, pp. 174-183.
Hyoty, H., Hiltunen M & Knip, M., 1995. A prospective study of the role of coxsackie B and
other enterovirus infections in the pathogenesis of IDDM:Childhood Diabetes in
Finland (DiMe) Study Group. iabetes, 44(6), pp. 652-657.
Kordonuri, O. et al., 2010. Sensor-augmented pump therapy from the diagnosis of childhood
type 1 diabetes: results of the Paediatric Onset Study (ONSET) after 12 months of
treatment. Diabetologia, Volume 53, pp. 2487-2495.
Lamb, W., 2015. Medscape. [Online]
Available at: http://emedicine.medscape.com/article/919999-overview#a2
[Accessed 10 January 2015].
McCall, B., 20014. Probiotics Cut Autoimmunity 33% in Infants at Risk for Diabetes, NewYork:
Medscape Medical News.
Pulungan, A. & Herqutanto, 2009. Diabetes Melitus Tipe 1: "Penyakit Baru" yang akan makin
Akrab dengan Kita. Majalah Kedokteran Indonesia, 59(10), pp. 455-458.
UKK Endokrinologi Anak dan Remaja, IDAI & WDF, 2009. Konsensus Pengelolaan Diabetes
Mellitus Tipe 1. Jakarta, Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Uusitalo, U., Liu, X. & Yang J, 2014. Probiotic use in infancy and islet autoimmunity in The
Environmental Determinants of Diabetes in the Young (TEDDY) study. Vienna,
European Association for the Study of Diabetes 2014 Meeting.

14