Anda di halaman 1dari 4

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam yang

cukup besar baik sumber daya yang dapat diperbarui maupun tidak dapat diperbarui. Salah
satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui adalah batubara. Berdasarkan Outlook
Energi Indonesia 2015, kebutuhan batubara dalam negeri Indonesia akan meningkat terus,
namun disisi lain ekspor batubara Indonesia juga terus meningkat. Hal ini akan menimbulkan
kekhawatiran terhadap semakin menipisnya cadangan batubara untuk memenuhi kebutuhan
batubara dalam negeri jangka panjang. Indonesia menjadi negara pengekspor batubara
terbesar di dunia. Akan tetapi, hal tersebut tidak dapat menjamin pemenuhan energi sebagai
salah satu modal pembangunan saat ini dan masa depan. Pada tahun 2013, produksi batubara
Indonesia mencapai 424 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 545 juta ton pada
2025, dan menjadi 1.220 juta ton pada 2050. Produksi batubara dalam kurun waktu 20132050 meningkat rata-rata sebesar 2,9% per tahun. Saat ini hampir 78% dari produksi batubara
digunakan untuk ekspor dan sisanya sebesar 22% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kecilnya persentase dari kebutuhan batubara dalam negeri karena kurangnya pangsa pasar
industri dalam pemanfaatan batubara. Pengelolaan pertambangan batubara seharusnya lebih
dioptimalkan agar mampu bersaing dengan negara yang sudah maju pada sisi pengolahan
bahan tambang bahkan negara tersebut bukan negara yang memiliki kekayaan alam cukup
besar.
Dengan meningkatkan produksi batubara, seharusnya ekspor batubara dikurangi dan
menaikkan pemakaian batubara di dalam negeri. Saat ini, penggunaan konsumsi batubara
banyak digunakan untuk bahan bakar industri dan pembangkit listrik. PLTU batubara adalah
sumber utama dari listrik dunia saat ini. Sekitar 60% listrik dunia bergantung pada batubara.
Negara negara dengan jumlah penduduk yang lebih kecil dari Indonesia telah menggunakan
PLTU berbahan bakar batubara untuk kehidupan sehari hari dan kepentingan industri.
Sesuai penggunaan batubara untuk bahan bakar PLTU, Indonesia bukan termasuk negara
pengguna terbesar di dunia. Dengan penduduk yang cukup besar, seharusnya banyak
memerlukan listrik yang cukup besar.
Dari perkembangan kondisi batubara di atas dapat terlihat bahwa sebagai salah satu
negara pengekspor batubara terbesar di dunia, Indonesia dipaksa hanya memenuhi kebutuhan
energi dunia. Sementara kita memiliki keterbatasan sumberdaya dan cadangan batubara jika
dibandingkan wilayah ataupun negara lainnya yang juga sebagai produsen batubara.
Kebijakan energi Indonesia masih hanya berupa wacana, sehingga sukar diimplementasikan

untuk menjaga keamanan pasokan energi dalam negeri. Upaya untuk mendorong penelitian
dan pengembangan pilot plant pada perusahaan perusahaan tertentu harusnya
dikembangkan sehingga mempengaruhi investasi yang di dapat dari kegiatan pertambangan.
Akan tetapi, dengan konsumsi batu bara yang semakin meningkat maka batubara di
masa depan juga akan habis, dimana yang telah kita ketahui bahwa batubara merupakan
bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui. Untuk mengatasi krisis energi yang akan
datang, pemerintah seharusnya sudah harus beralih menggunakan sumber daya energi yang
lain selain batu bara ataupun minyak bumi yang dimanfaatan untuk listrik.
Indonesia sebagian besar memiliki potensi pegunungan dengan sumber air yang
melimpah. Pemerintah dapat memanfaatkan hal tersebut dengan mengembangakan teknologi
mikro hidro, dimana sungai yang mengalir di daerah pegunungan memiliki kekuatan untuk
menggerakan turbin pembangkit listrik. Dengan pengembangan teknologi mikro hidro
kemungkinan krisis energi listrik akan teratasi.
Perkembangan teknologi dalam pemanfaatan batubara merupakan suatu jalan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan energi batubara. Saat ini ada beberapa teknologi pemanfaatan
batubara yang sudah bisa diimplementasikan secara komersial yaitu pencairan batubara (coal
liquifaction), gasifikasi batubara (coal gasification) dan briket batubara (coal briquietting).
Ada pula teknologi pendukung lainnya yaitu peningkatan peringkat kalor batubara (up grade
brown coal/UBC). Semua teknologi pemanfaatan energi batubara tersebut di Indonesia belum
dikembangkan kecuali briket batubara.
Teknologi coal liquifaction telah lama dikenal pada beberapa negara seperti sintesa
Fischer-Tropsch (SASOL). Coal gasifiacation adalah pengubahan fasa padat batubara
menjadi gas dengan menggunakan pereaksi berupa udara,uap air atau campuran oksigen air.
Beberapa teknologi gasifikasi yang telah dikembangkan adalah Lurgi, Winkler dan KopperTotzek.
Adapula teknologi pengembangan usaha oleh Ditjen Minyak dan Gas Indonesia yaitu
teknologi Underground Coal Gasification (UCG) dan Coal Bed Methane (CBM). Teknologi
Underground Coal Gasification (UCG) yaitu konversi batubara menjadi produk gas langsung
di dalam tanah. Sedangkan Coal Bed Methane (CBM) yaitu gas metana (CH 4) yang
terperangkap dan teradsoprsi pada cleats (makropori) dan matriks batubara (mikropori)
bersamaan dengan pembentukan batubara. Cleats secara fisik berupa retakan retakan di
lapisan batubara yang ditempati air sehingga memberikan tekanan rendah yang cukup untuk

menahan gas metana. Untuk memperoleh CBM, sumur produksi dibuat melalui pengeboran
dari permukaan tanah sampai ke lapisan batubara. Karena di dalam tanah lapisan batubara
mengalami tekanan tinggi, maka pengaruh penurunan tekanan akan timbul ketika ada air
tanah disekitar lapisan batubara yang dipompa (dewatering) ke atas. Sehingga menyebabkan
gas metana terlepas dari lapisan batubara yang terperangkap dan akan mengalir ke permukaan
tanah melalui sumur produksi.

Gambar 1. Mekanisme dalam proses Coal Bed Methane


Indonesia terdata memiliki potensi CBM yang terbesar ke tujuh di dunia dengan 11
cekungan batubara (coal basin) yang tersebar di Ombilin, Sumatera Selatan, Bengkulu,
Jatibarang, Barito, Kutai, Tarakan, Berau, Pasir, Asam Asam dan Sulawesi Tenggara.
Pengembangan coal bed methane (CBM) yang saat ini diharapkan sudah berproduksi, namun
masih banyak mengalami kendala. Mulai tahun 2016, gas dari CBM diharapkan sudah dapat
diproduksi untuk menambah pasokan gas dalam negeri.
Diharapkan Indonesia dapat mengembangkan teknologi pemanfaatan berbasis
batubara dan dapat memenuhi kebutuhan secara komesial. Kebijakan pemerintah juga harus
lebih konsisten dan mendukung dalam pengembangan energi baru dengan menindaklanjuti
penemuan energi yang baru untuk menghemat energi.

Tim Penyusun. 2015. Outlook energi Indonesia 2015. Jakarta:Pusat Teknologi


Pengembangan Sumber Daya Energi.
Tim Penyusun. 2011. Kemana Pemanfaatan Sumber Daya Mineral dan Batubara
Indonesia?.Jakarta:Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara