Anda di halaman 1dari 4

Revolusi : Puncak Perubahan Sosial

REVOLUSI SEBAGAI BENTUK PERUBAHAN SOSIAL


Revolusi adalah wujud perbahan social yang paling spektakuler. Dalam
artian revolusi adalah sebagai tanda kesejahteraan social. Dibandingkan dengan
bentuk perubahan sosial lain, revolusi berbeda dalam lima hal (1) menimbulkan
perubahan dalam cakupan terluas, menyentuh tingkat dimensi masyarakat. (2)
Dalam hal semua bidang tersebut, perubahannya radikal, fundamental, menyentuh
inti bangunan dan fungsi social. (3) perubahan yang terjadi sangat cepet, tiba-tiba,
seperti ledakan dinamit di tengah aliran lambat proses historis. (4) dengan semua
alasan itu, revolusi adalah pertunjukan perubahan paling menonjol; waktunya luar
biasa cepat dan karena itu mudah untuk diingat. Revolusi membangkitkan
emosional khusus dan reaksi intelektual pelakunya dan mengalami ledakan
mobilisasi massa, antusiasme, kegemparan, kegirangan, kegambiraan, optimism
dan harapan, perasaan hebat dan perkasa,; keriangan aktivisme dan menggapai
kembali makna kehidupan; melabungkan aspirasi dan pandangan utopia ke masa
depan.
RIWAYAT RINGKAS GAGASAN REVOLUSI
Seperti kebanyakan konsep social, revolusi mempunyai makna ganda yang
tampak dalam dua samaran. Pertama, revolusi menjadi bagian wacana sehari-hari.
Disini terminology revolusi berkembang menjadi citra yang kompleks, diberi
penilaian dan komitmen social yang dapat disebut mitos revolusi. Kedua
revolusi menjadi bagian diskursus sosiologi , muncul dalam pemikiran ilmiah.
Disini revolusi berkembang menjadi konsep teoritis yang kompleks, menimbulkan
penjelasan hipotesis.
Konsep revolusi menurut pengertian modern relative lebih muda. Istilah
revolusi memang telah muncul di abab 14, tapi dengan makna lebih umum dan
sangat semata berarti gerakan melingkar. Diabad 17, revolusi berarti penggantian
penguasa secara melingkar atau penggantian seluruh elite politik menyertai
kemunculan negra nasional.
Konsep modern tentang revolusi baru terbentuk di abab 18, ketika
pecahnya revolusi perancis 1789. Istilah revolusi digunakan untuk melukiskan
terobosan zaman serupa, penataan ulang kehidupan masyarakat secara
fundamental oleh masyarakat itu sendiri. Abad 19 dengan dinamisme dan
optimism perkembangan modernitas yang tak tertandingi (industry, urbanisme,
kapitalisme) juga menjadi era emas ide revolusi yang mempengaruhi pemikiran
sehari-hari, politik, dan teori social.

Mitos revolusi mulai remuk dan hancur di abad 20, era melapuknya
modernitas. Kemajuan ternyata menimbulkan kritis.Mitos revolusi dirusak oleh
pengalaman sulit dan tragis dari revolusi sebenarnya.

KONSEP REVOLUSI MODERN


Konsep revolusi modern berasal dari dua tradisi intelektual: filsafat sejarah
dan sosiologi. Konsen filsafat sejarah tentang revolusi berarti terobosan radikal
terhadap kontuinitas jalannya sejarah (Brinton 1965:237). Contoh khususnya
adalah pandangan Marx tentang rentetan formasi sosio-ekonomi dimana revolusi
social menandai lompatan kualitatif ke fase perkembangan lebih tinggi.
Konsep sosiologi tentang revolusi mengacu pada penggunaan gerakan
massa atau paksaan dan kekerasan terhadap penguasa untuk melaksanakan
perubahan mendasar dan terus-menerus dalam masyarakat mereka. Konsep ini
lebih khas digunakan dalam teori perubahan social tokoh post-perkembangan kini.
Tokoh ni membuang gagasan hukum besi sejarah.
Definisi revolusi dapat digolongkan menjadi tiga kelompok. Kelompok
pertama, definisi yang menekan pada tranformasi fundamental masyarakat.
Menurut pengertian ini revolusi adalah lawan kata pembaharuan (reform).
Dengan demikian pengertian revolusi sebagai perubahan tiba-tiba dan radikal
dalam struktur politik, social, dan ekonomi masyarakat (Bullock & Sallybras,
1977:542)) atau perubahan mendadak yang luas dalam struktur social atau dalam
unsur utamanya (Fairchild, 1966:259).
Kelompok kedua mencakup definisi yang menekankan kekerasan
perjuangan dan kecepatan perubahan. Menurut pengertian ini revolusi adalah
lawan kata evolusi. Demikianlah beberapa pakar mendefinisikan revolusi sebagai
berukut:
Upaya untuk mewujudkan perubahan dalam masyarakat dengan paksa
(C.Jhonson, 1968:1)
Perubahan sosio politik mendasar yang dilaksanakan dengan kekerasan. (Guss,
1970:4)
Pergantian drastic dan tiba-tiba dari satu kelompok yang berkuasa dalam kesatuan
territorial oleh kelompok lain yang tidak menjalankan pemerintahan. (Brinton,
1965:4)
Perampasan kekuasaan Negara dengan kekerasan yang dilakukan pimpinan
gerakan massa dank arena itu kemudian digunakan untuk memprakarsai proses
reformasi social besar-besaran. (Giddens, 1989:605)

Untuk melengkapi bahasan definisi revolusi ini dikemukakan beberapa


konsep lain yang digunakan untuk menunjukan tindakan kolektif yang berbeda
denga revolusi . Coup detat atau revolusi istana adalah penggantian secara tak
sah penguasa, pemerintahan atau personel institusi politik tanpa modifikasi rezim
politik, organisasi ekonomi atau sistem kultural. Pemberontakan adalah peristiwa
tindakan kekerasan besar yang bertujuan menentang penguasa dalam negeri atau
penakluk dari luar yang mengasilkan konsesi atau perubahan dalam kecil
ketimbang transformasi revolusioner. Pembangkangan adalah penolakan untuk
patuh yang dilakukan kelompok bawahan tetapi tidak disertai pandangan positif
mengenai perubahan yang diperlukan. Putsch adalah pengambil alihan
pemerintahan dengan paksa oleh militer atau segmen militer atau oleh kelompok
pejabat yang mendapat dukungan militer. Perasng sipil adalah konflik bersenjata
antara segmen masyarakat yang sama, yang sering dimotovasi oleh permusukan
agama atau etnis dan bertujuan untuk melenyapkan atau menindas pihak yang
dimusuhi. Perang kemerdekaan adalah perjuangan masyarakat yang dijajah atau
ditaklukan oleh kekuasaan asing. Kerusuhan (triot, turmoil, social unrest) adalah
pengungkapan ketidakpuasan, keluhan dan kekecewaan yang tersebar secara
spontan, terbatas pada sasaran tertentu dan tidak mencita-citakan perubahan
tertentu.

JALANNYA REVOLUSI
Analisis sosiologi paling awal mencoba membuat keseragaman deskripsi
tertentu. Deskripsi itu terkenal sebagai sejarah ilmiah revolusi. Urutan khasnya
terdiri dari sepulus tahap.
1. Semua revolusi didahului oleh kondisi khas revolutionary prodrome
meliputi ketidakpuasan, keluhan, kekacauan, dan konflik yang disebabkan
krisis ekonomi atau fisikal.
2. Terjadinya perpindahan kesetiaan intelektual. Tersebarnya kritik,
percecokan, berorientasi perubahan, berbagai bentuk agritasi,
menyebarnya pamphlet politik dan doktrin yang bertujuan menentang
rezim lama.
3. Adanya upaya rezim untuk menangkis ancaman yang meningkat itu
dengan melakukan perubahan sebagian, tetapi ini diartikan sebagai sudah
terlambat dan terpaksa, tanda kelemahan, justru makin merontokan
keabsahan rezim lama.
4. Pemerintah semakin tidak mampu menjalankan kekuasaannya yang
berakibat kelunpuhan Negara.
5. Rezim ama hancur dan terjadi bulan madu revolusioner, periode
bersenang-senang sesudah merebut kemenangan.
6. Munculnya perpecahan internal di kalangan revolusioner.

7. Golongan moderat yang menang berupaya memeliha kesinambungan


dengan masa lalu dengan memanfaatkan organisasi dan personel
administrasi yang ditinggalkan oleh rezim terdahulu.
8. Kekuatan radikal yang ekstrem mampu mengeksloitasi kekecewaan yang
meluas memobilisasi massa dan menggantikan golonang moderat.
9. Tahap terror mulai ketika kekuatan radikal mencoba memaksakan
ketertiban dan menyapu bersih semua beks rezim lama.
10. Akhirnya keseimbangan dipulihkan di tahap terakhir dalam arti pulih dari
demam revolusi
MODEL REVOLUSI
Klasifikasi paling umum dari teori-teori revolusi dapat didasarkan pada
citra atau model yang digunakan. Teori tertentu menekankan pada agen dan teori
lain menekankan pada kondisi structural, kondisi di tempat terjadinya revolusi.
Teori paling awal ditemukan model tradisional model ledakan revolusi.
Revolusi berkobar dari bawah, sebagai akibat akumulasi ketegagan, keluhan dan
ketidakpuasan yang melampaui ambang batas tertentu.
Penekanan pada agen juga ditemukan pada model persekongkolan lain/
revolusi dilihat terutama sebagai ciptaan seseorang, tetapi kali ini agennya bukan
masaa itu sendiri melainkan agitator luar yang mendorong masa bertindak
revolusioner.
Tipe kedua memusatkan kepada pehatian pada kondisi structural. Salah
satu cabang pemikiran ini dicerminkan oleh model katup pengaman. Revolusi
hanya akan meledak bila control pemerintah melemah, tindakan penindasan
kendor, Negara hancur.
Cabang lain disebut model katup terbuka Revolusi hanya akan meletus
bila sumberdaya dan peluang baru terbuka.