Anda di halaman 1dari 39

Referat Bedah Plastik

GIGITAN BINATANG DAN TATALAKSANA AWAL

Oleh:
Aprilisasi Purnama Sari G99151018
Periode: 29 Februari 2016 5 Maret 2016
Pembimbing:
dr. Dewi Haryanti, Sp.BP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam praktik kedokteran di rumah sakit, cukup banyak dijumpai di


instalasi gawat darurat, pasien datang sebagai korban gigitan binatang. Luka yang
ditimbulkan

dapat

bervariasi

dari

ringan

sampai

berat,

dari tidak berbahaya hingga ke taraf yang mematikan. Gigitan binatang dapat
berupa gigitan anjing dan ular yang merupakan kasus terbanyak yangcukup
mengkhawatirkan, kemudian disusul oleh gigitan oleh serangga dan binatang lain.
Luka gigitan adalah cidera yang disebabkan oleh mulut dan gigi binatang
atau manusia. Binatang mungkin menggigit untuk mempertahankan dirinya, dan
pada kesempatan khusus untuk mencari makanan. Gigitan dan cakaran binatang
yang sampai merusak kulit kadang kala dapat mengakibatkan infeksi. Beberapa
luka gigitan perlu ditutup dengan jahitan, sedang beberapa lainnya cukup
dibiarkan saja dan sembuh dengan sendirinya (Awasthi et al, 2010).
Luka gigitan binatang penting untuk diperhatikan karena dapat
menyebabkan:
a.
b.
c.
d.
e.

Kerusakan jaringan secara umum


Perdarahan serius bila pembuluh darah besar terluka
Infeksi oleh bakteri atau patogen lainnya, seperti rabies
Dapat mengandung racun seperti pada gigitan ular
Awal dari peradangan

(Awasthi et al, 2010)


Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang berbisa (beracun)
dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang
lebih besar daripada luka biasa. Seseorang yang tergigit mempunyai resiko
terinfeksi. Pada umumnya bila tergigit binatang, perlu mendapatkan pemeriksaan
dan perawatan medis.
Gigitan binatang termasuk dalam kategori racun yang masuk kedalam
tubuh melalui suntikan. Gigitan bintang atau sengatan serangga dapat
menyebabkan nyeri yang hebat dan/ atau pembengkakan. Gigitan dan sengatan
berbagai binatang walaupun tidak selalu membahayakan jiwa dapat menimbulkan
reaksi alergi yang hebat dan bahkan kadang-kadang dapat berakibat fatal.
2

Kesadaran akan penyebab dari gigitan dan sengatan ini dapat mengurangi
atau mencegah timbulnya korban. Pengetahuan tentang penanganan yang cepat
dari tindakan pertolongan pertama dapat mengurangi parahnya cedera akibat
gigian dan sengatan tersebut dan menjaga penderita dari sakit yang parah.

BAB II
GIGITAN ULAR
A. Jenis Ular dan Cara Mengidentifikasikannya
Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa.
Ular berbisa yang bermakna medis memiliki sepasang gigi yang melebar,
yaitu taring, pada bagian depan dari rahang atasnya. Taring-taring ini
mengandung saluran bisa (seperti jarum hipodermik) atau alur, dimana bisa
dapat dimasukkan jauh ke dalam jaringan dari mangsa alamiahnya. Efek
toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies,
3

ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya
satu atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi.
Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi
pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang
termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali
(Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah
(Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya
masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae.
Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa
contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling
(Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra
(Ophiophagus hannah).
Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke
bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang
mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan
Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah
panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa
contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah
(Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

Gambar 1. Jenis ular Cobra (atas) dan


4

viper (bawah) yang banyak dijumpai di Indonesia

Gambar 2. Gigitan ular dan Bisa (Sumber : www.animalsearth.blogspot.com)


Perbedaan Ular Berbisa dan Ular Tidak Berbisa
Bentuk Kepala
Gigi Taring
Bekas Gigitan
Warna

Tidak berbisa
Bulat
Gigi Kecil

Berbisa
Elips, segitiga
2 gigi taring

Lengkung seperti U
Warna-warni

besar
Terdiri dari 2 titik
Gelap

B. Epidemiologi
Gigitan ular sering terjadi di Asia Tenggara karena secara geografis,
ular banyak hidup di daerah tersebut. Namun tidak terdapat

data

epidemiologis yang pasti mengenai jumlah gigitan ular tersebut. Hal ini
disebabkan karena banyak dari kasus gigitan ular di Asia Tenggara diobati
secara tradisional. Bagian penelitian statistik WHO memperkirakan terdapat
sekitar setengah juta gigitan ular dan 30.000 hingga 40.000 kemtian karena
gigitan ular tiap tahunnya di dunia. 25.000-35.000 diantaranya terjadi di asia.
Gigitan ular banyak dialami oleh petani, pekerja kebun dan nelayan (WHO,
2010).
C. Bisa ular
5

Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk


melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan
diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh
kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu
modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi
kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi
tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang
memiliki aktivitas enzimatik.
Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan
menjadi bisa hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem
pembuluh darah; bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf
dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi
gigitan.
1. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematotoksik)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang
menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan
jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah),
sehinggga sel darah merah menjadi hancur dan larut (hemolysis) dan
keluar menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya
perdarahan pada selaput mukosa (lendir) pada mulut, hidung, tenggorokan,
dan lain-lain.

2. Bisa ular yang bersifat racun terhadap saraf (neurotoksik)


Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan
sel saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf
tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka tampak kebiruan dan
hitam (nekrotik). Penyebaran dan peracunan selanjut nya mempengaruhi
susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat,
seperti saraf pernapasan dan jantung. Penyebaran bisa ular ke seluruh
tubuh melalui pembuluh limfe.
6

D. Patofisiologi Gigitan Ular Berbisa


Bisa ular diproduksi dan disimpan dalam sepasang kelenjar yang
berada di bawah mata. Bisa dikeluarkan dari taring berongga yang terletak di
rahang atasnya. Taring ular dapat tumbuh hingga 20 mm pada rattlesnake
besar. Dosis bisa ular tiap gigitan bergantung pada waktu yang terlewati sejak
gigitan pertama, derajat ancaman yang diterima ular, serta ukuran mangsanya.
Lubang hidung merespon terhadap emisi panas dari mangsa, yang dapat
memungkinkan ular untuk mengubah jumlah bisa yang dikeluarkan.
Bisa biasanya berupa cairan. Protein enzimatik pada bisa menyalurkan
bahan-bahan penghancurnya. Protease, kolagenase, dan arginin ester hidrolase
telah diidentifikasi pada bisa pit viper. Efek lokal dari bisa ular merupakan
penanda potensial untuk kerusakan sistemik dari fungsi sistem organ. Salah
satu efeknya adalah perdarahan lokal, koagulopati biasanya tidak terjadi saat
venomasi. Efek lainnya, berupa edema lokal, meningkatkan kebocoran kapiler
dan cairan interstitial di paru-paru.
Mekanisme pulmoner dapat berubah secara signifikan. Efek akhirnya
berupa kematian sel yang dapat meningkatkan konsentrasi asam laktat
sekunder terhadap perubahan status volume dan membutuhkan peningkatan
minute ventilasi. Efek blokade neuromuskuler dapat menyebabkan perburukan
pergerakan diafragma. Gagal jantung dapat disebabkan oleh asidosis dan
hipotensi. Myonekrosis disebabkan oleh myoglobinuria dan gangguan ginjal
(WHO, 2005).

Skema 1. Patofisiologi Gigitan Ular


E. Tanda dan Gejala Gigitan Ular Berdasarkan Jenis Ular
1. Gigitan Elapidae (misalnya : ular kobra, ular weling, ular sendok, ular
anang, ular cabai, coral snake, mambas, kraits)
a. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang
b.
c.
d.
e.

berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.


Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit rusak
Setelah digigit ular
15 menit: muncul gejala sistemik
10 jam: paralisis otot-otot wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga
sukar berbicara, susah menelan, otot lemas, ptosis, sakit kepala, kulit
dingin, muntah, pandangan kabur, parestesia di sekitar mulut.

Kematian dapat terjadi dalam 24 jam


2. Gigitan Viporidae/Crotalidae (misalnya ular tanah, ular hijau, ular
bandotan puspo)
a. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, setelah beberapa jam berupa
bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota tubuh.
b. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam
c. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut
dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
3. Gigitan Hydropiridae (misalnya ular laut)
a. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
b. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot,
mioglobinuria yang ditandai dengan urin berwarna coklat gelap
(penting untuk diagnosis), kerusakan ginjal, serta henti jantung
8

F. Diagnosis Klinis
Anamnesis
Anamnesis yang tepat seputar gigitan ular serta progresifitas gejala dan
tanda baik lokal dan sistemik merupakan hal yang sangat penting. Empat
pertanyaan awal yang bermanfaat:
1. Pada bagian tubuh mana anda terkena gigitan ular?
Dokter dapat melihat secara cepat bukti bahwa pasien telah digigit ular
(misalnya, adanya bekas taring) serta asal dan perluasan tanda envenomasi
lokal.
2. Kapan dan pada saat apa anda terkena gigitan ular?
Perkiraan tingkat keparahan envenomasi bergantung pada berapa lama
waktu berlalu sejak pasien terkena gigitan ular. Bila pasien digigit ular saat
sedang tidur, kemungkinan ular yang menggigit adalah Kraits (ular
berbisa), bila di daerah persawahan, kemungkinan oleh ular kobra atau
russel viper (ular berbisa), bila terjadi saat memetik buah, pit viper hijau
(ular berbisa), bila terjadi saat berenang atau saat menyebrang sungai,
kobra (air tawar), ular laut (laut atau air payau).
3. Perlakuan terhadap ular yang telah menggigit anda?
Apabila ular yang telah menggigit berhasil ditemukan, sebaiknya ular
tersebut dibawa bersama pasien saat datang ke rumah sakit, untuk
memudahkan identifikasi apakah ular tersebut berbisa atau tidak.
4. Apa yang anda rasakan saat ini?
Pertanyaan ini dapat membawa dokter pada analisis sistem tubuh yang
terlibat. Gejala gigitan ular yang biasa terjadi di awal adalah muntah.
Pasien yang mengalami trombositopenia atau mengalami gangguan
pembekuan darah akan mengalami perdarahan dari luka yang telah terjdi
lama. Pasien sebaiknya ditanyakan produksi urin serta warna urin sejak
terkena gigitan ular. Pasien yang mengeluhkan kantuk, kelopak mata yang
serasa terjatuh, pandangan kabur atau ganda, kemungkinan menandakan
telah beredarnya neurotoksin.
Pemeriksaan fisik
9

Tidak ada cara yang sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa


yang berbahaya. Beberapa ular berbisa yang tidak berbahaya telah
berkembang untuk terlihat hampir identik dengan yang berbisa. Akan tetapi,
beberapa ular berbisa yang terkenal dapat dikenali dari ukuran, bentuk, warna,
pola sisik, prilaku serta suara yang dibuatnya saat merasa terancam.
(A)

(B)

Gambar 2. (A) Ciri ular tak berbisa dan ular berbisa (B) Bekas taring
gigitan ular
Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa
pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang

10

diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan


dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda
gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya
bisa yang diinjeksikan pada korban.
Tanda dan Gejala Lokal pada daerah gigitan:
a. Tanda gigitan taring (fang marks)
b. Nyeri lokal
c. Perdarahan lokal
d. Kemerahan
e. Limfangitis
f. Pembesaran kelenjar limfe
g. Inflamasi (bengkak, merah, panas)
h. Melepuh
i. Infeksi lokal, terbentuk abses
j. Nekrosis

Tanda dan gejala sistemik:


1. Umum (general):

mual, muntah, nyeri perut, lemah, mengantuk,

lemas.
2. Kardiovaskuler (viperidae): gangguan penglihatan, pusing, pingsan, syok,
hipotensi, aritmia jantung, edema paru, edema konjunctiva (chemosis)
3. Perdarahan dan gangguan pembekuan darah (Viperidae): perdarahan yang
berasal dari luka yang baru saja terjadi (termasuk perdarahan yang terusmenerus dari bekas gigitan (fang marks) dan dari luka yang telah
menyembuh sebagian (oldrus-mene partly-healed wounds), perdarahan
sistemik spontan dari gusi, epistaksis, perdarahan intrakranial
(meningism, berasal dari perdarahan subdura, dengan tanda lateralisasi dan
atau koma oleh perdarahan cerebral), hemoptisis, perdarahan perrektal
(melena), hematuria, perdarahan pervaginam, perdarahan antepartum pada

11

wanita hamil, perdarahan mukosa (misalnya konjunctiva), kulit (petekie,


purpura, perdarahan diskoid, ekimosis), serta perdarahan retina.
4. Neurologis (Elapidae, Russel viper): mengantuk, parestesia, abnormalitas
pengecapan dan pembauan, ptosis, oftalmoplegia eksternal, paralisis otot
wajah dan otot lainnya yang dipersarafi nervus kranialis, suara sengauatau
afonia, regurgitasi cairan melaui hidung, kesulitan untuk menelan sekret,
paralisis otot pernafasan dan flasid generalisata. D
5. Destruksi otot Skeletal (sea snake, beberapa spesies kraits, Bungarus niger
and B. candidus, western Russells viper Daboia russelii): nyeri seluruh
tubuh, kaku dan nyeri pada otot, trismus, myoglobinuria, hiperkalemia,
henti jantung, gagal ginjal akut.
6. Sistem urogenital: nyeri punggung bawah, hematuria, hemoglobinuria,
myoglobinuria, oligouria/anuria, tanda dan gejala uremia (pernapasan
asidosis, hiccups, mual, nyeri pleura, dan lain-lain)
7. gejala endokrin: insufisiensi hipofisis/kelenjar adrenal yang disebabkan
infark hipofisis anterior. Pada fase akut: syok, hipoglikemia. Fase kronik
(beberapa bulan hingga tahun setelah gigitan): kelemahan, kehilangan
rambut seksual sekunder, kehilangan libido, amenorea, atrofi testis,
hipotiroidism
(WHO, 2005)

12

Gambar 3. Gejala Umum Gigitan Ular (Sumber : www.doctorsecret.com)


G. Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular
Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular
adalah:
1. Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan
ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Tujuan pertolongan pertama
adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup
korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan
medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan.
Langkah-langkah pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan
korban yang cemas; imobilisasi bagian tubuh yang tergigit dengan cara
mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot,
karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan
bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan pressureimmobilisation pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka

13

gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan


pendarahan lokal.
2. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara yang
aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot
untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.
3. Terapi yang dianjurkan meliputi:
a. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril. Untuk
efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis
dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di
sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai
bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban
seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu
kencang agar aliran darah tidak terganggu. Penggunaan torniket tidak
dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan
torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat.
b. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi
penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;
penatalaksanaan

sirkulasi;

penatalaksanaan

resusitasi

perlu

dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan


shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang
tiba-tiba

memburuk

akibat

terlepasnya

penekanan

perban,

hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan


komplikasi nekrosis lokal.
c. Injeksi anti tetanus, bila korban pernah mendapatkan toksoid maka
diberikan satu dosis toksoid tetanus.
d. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara
intramuskular.
e. Pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri.
f. Pemberian serum anti bisa.
(Djoni Djunaedi, 2009)
H. Serum Anti Bisa Ular
Gunannya untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa. Serum anti
bisa ular merupakan serum polivalen yang dimurnikan dan dipekatkan, berasal
14

dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap bisa ular yang mempunyai efek
neurotoksik dan hematotoksik, yang kebanyakan ada di Indonesia.
1. Kandungan Serum Anti Bisa Ular
Tiap ml dapat menetralisasi:
a. Bisa ular Ankystrodon rhodosoma 10-50 LD50
b. Bisa ular Bungarus fascinatus 25-50 LD50
c. Bisa Ular Naya sputatrix 25-50 LD50
d. Dan mengandung Fenol 0,25% sebagai pengawet
2. Cara Penyimpanan Serum Anti Bisa Ular
Penyimpanan serum antibisa ular adalah pada suhu 20-80 C dengan waktu
kadaluwarsa 2 tahun.
3. Cara Pemakaian Serum Anti Bisa Ular
Pemilihan antibisa ular tergantung dari spesies ular yang menggigit. Dosis
yang tepat untuk ditentukan karena tergantung dari jumlah bisa ular yang
masuk peredaran darah dan keadaan korban sewaktu menerima anti serum.
Dosis pertama sebanyak 2 vial @5 ml sebagai larutan 2% dalam NaCl
dapat diberikan sebagai infus dengan kecepatan 40-80 tetes per menit, lalu
diulang setiap 6 jam. Apabila diperlukan (misalnya gejala-gejala tidak
berkurang atau bertambah) antiserum dapat diberikan setiap 24 jam
sampai maksimal (80-100 ml). antiserum yang tidak diencerkan dapat
diberikan langsung sebagai suntikan intravena dengan sangat perlahanlahan. Dosis untuk anak-anak sama atau lebih besar daripada dosis untuk
dewasa. Cara lain adalah dengan menyuntikkan 2,5 ml secara infiltrasi di
sekitar luka, 2,5 ml diinjeksikan secara intramuskuler atau intravena. Pada
kasus berat dapat diberikan dosis yang lebih tinggi. Penderita harus
diamati selama 24 jam.
4. Efek Samping Serum Anti Bisa Ular
Meskipun pemberian antiserum akan menimbulkan kekebalan pasif dan
memberikan perlindungan untuk jangka waktu pendek, tapi pemberiannya
harus hari-hati, mengingat kemungkinan terjadinya reaksi sampingan yang
dapat berupa:
a. Reaksi anafilaktik (anaphylactic shock)
Dapat timbul dengan segera atau beberapa jam setelah suntikan
b. Penyakit serum (serum sickness)

15

Dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan dan dapat berupa kenaikan
suhu, gatal-gatal, sesak nafas dan lain-lain gejala alergi. Reaksi ini
jarang timbul bila digunakan serum yang sudah dimurnikan
c. Kenaikan suhu (demam) dengan menggigil
Biasanya timbul setelah pemberian serum secara intravena
d. Rasa nyeri pada tempat suntikan
Biasanya timbul pada penyuntikan serum dengan jumlah besar reaksi
ini terjadi dalam pemberian 24 jam
Oleh karena itu, pemberian serum harus berdasarkan atas indikasi yang
tajam.
5. Hal-hal yang harus diperhatikan bila akan menyuntik serum
a. Siapkan alat suntik, adrenalin 1:1000, sediakan kortikosteroid dan
antihistamin
b. Jangan menyuntik serum dalam keadaan dingin, yang baru dikeluarkan
dari lemari es, apalagi dalam jumlah besar. Hangatkan lebih dahulu
hingga suhunya sama dengan suhu badan
c. Waktu disuntik penderita harus dalam keadaan rileks
d. Penyuntikan harus perlahan-lahan, sesudahnya amati penderita paling
sedikit 30 menit
6. Tes hipersentivitas subkutan
Untuk mengetahui apakah serum dapat diberikan kepada
seseorang, terlebih dahulu harus dilakukan tes hipersensitifitas subukutan
sebagai berikut:
a. Suntikan 0,2 ml serum encerkan 1: 10, subkutan dan amati 30 menit.
b. Bila timbul reaksi : serum jangan diberikan. Reaksi yang mungkin
timbul dapat berupa tanda-tanda reaksi anafilaktik yang dini seperti
pucat, kepala pusing, perasaan panas, batuk-batuk, kenaikan suhu,
mual atau muntah-muntah, pembengkakan lidah atau bibir, denyut nadi
cepat, tekanan darah menurun, gatal-gatal, rasa tidak nyaman di perut,
sesak nafas, kesadaran menurun atau kejang.
c. Reaksi tersebut biasanya ringan dan mudah diatasi dengan adrenalin
1:1000.
d. Bila tidak timbul reaksi : suntikkan lagi serum yang tidak diencerkan
0,2 ml subkutan dan amati lagi selama 30 menit.
e. Bila timbul reaksi : serum jangan diberikan
16

f. Bila tidak timbul reaksi, suntikkan serum dalam dosis penuh secara
perlahan-lahan dan amati lagi paling sedikit 30 menit.
7. Syarat-syarat pemberian serum secara intravena
a. Pada penderita harus dilakukan tes hipersensitivitas subkutan lebih
dahulu, kemudian dicoba dengan suntikan intramuskuler, baru
intravena.
b. Pemberiannya harus perlahan-lahan, dan siapkan adrenalin 1:1000.
c. Setelah disuntik intravena penderita harus diamati sedikitnya selama
satu jam.
8. Indikasi Pemberian Serum Anti Bisa Ular
Pemberian serum anti bisa ular direkomendasikan bila dan saat
pasien terbukti atau dicurigai mengalami gigitan ular berbisa dengan
munculnya satu atau lebih tanda berikut:
a. Gejala venerasi sistemik
Kelainan hemostatik: perdarahan spontan (klinis), koagulopati, atau
trombositopenia.
Gejala neurotoksik: ptosis, oftalmoplegia eksternal, paralisis, dan
lainnya.
Kelainan kardiovaskuler: hipotensi, syok, arritmia (klinis), kelainan
EKG.
Cidera ginjal akut (gagal ginjal): oligouria/anuria (klinis), peningkatan
kreatinin/urea urin (hasil laboratorium).
Hemoglobinuria/mioglobinuria: urin coklat gelap (klinis), dipstik urin
atau bukti lain akan adanya hemolisis intravaskuler atatu rabdomiolisis
generalisata (nyeri otot, hiperkalemia) (klinis, hasil laboratorium).
Serta adanya bukti laboratorium lainnya terhadap tanda venerasi.
b. Gejala venerasi lokal
17

Pembengkakan lokal yang melibatkan lebih dari separuh


bagian tubuh yang terkena gigitan (tanpa adanya turniket) dalam 48
jam setelah gigitan. Pembengkakan setelah tergigit pada jari-jari (jari
kaki dan khususnya jari tangan). Pembengkakan yang meluas
(misalnya di bawah pergelangan tangan atau mata kaki pada beberapa
jam setelah gigitan pada tangan dan kaki), pembesaran kelenjar getah
bening pada kelenjar getah bening pada ekstremitas yang terkena
gigitan.
Anti bisa ular harus diberikan segera setelah memenuhi
indikasi. Anti bisa ular dapat melawan envenomasi (keracunan)
sistemik walaupun gejala telah menetap selama beberapa hari, atau
pada kasus kelainan haemostasis, yang dapat belangsung dua minggu
atau lebih. Untuk itu, pemberian anti bisa tepat diberikan selama
terdapat bukti terjadi koagulopati persisten. Apakah antibisa ular dapat
mencegah nekrosis lokal masih menjadi kontroversi, namun beberapa
bukti klinins menunjukkan bahwa agar antibisa efektif pada keadaan
ini, anti bisa ular harus diberikan pada satu jam pertama setelah
gigitan.
(Djoni Djunaedi, 2009)

I. Observasi dan Evaluasi Respon Terhadap Pemberian Anti Bisa Ular


Bila dosis adekuat dari antibisa yang tepat telah diberikan, beberapa
respon di bawah ini dapat diobservasi.
1. Umum: pasien merasa lebih baik, mual, muntah dan nyeri secara
keseluruhan dapat hilang secara cepat.
2. Perdarahan sistemik spontan (misalnya dari gusi) : biasanya terhenti pada
15-30 menit.
18

3. Koagulasi darah: biasanya terhenti dalam 3-9 jam. Perdarahan dari luka
yang menyembuh sebagian terhenti lebih cepat
4. Pada pasien syok: tekanan darah dapat meningkat antara 30-60 menit
pertama dan aritmia seperti sinus bradikardi dapat teratasi
5. Pada pasien dengan neurotoksisitas tipe post sinaps (gigitan ular kobra)
akan membaik dalam 30 menit setelah pemberian antibisa, namun
biasanya membutuhkan waktu beberapa jam. Pada keracunan tipe pre
sinaps (Kraits dan ular laut) tidak tampak respon.
6. Hemolisis aktif dan rhabdomyolisis menurun dalam beberapa jam dan
warna urin akan kembali ke warna normal.
Kriteria pengulangan dosis inisiasi anti bisa ular:
1. koagulopati menetap atau berulang setelah 6 jamatau

perdarahan

setelah 1-2 jam, terdapat perburukan gejala neurotoksik atau gejala


kardiovaskuler setelah 1-2 jam.
2. Bila darah tetap tidak koagulasi, 6 jam setlah pemberian dosis awal
antibisa, dosis yang sama harus diulang. Hal ini berdasarkan observasi
bahwa, bila dosis besar antibisa diberikan (lebih dari cukup untuk
menetralisasi enzim pro koagulan bisa ular) diberikan pada awal, waktu
yang dibutuhkan oleh hepar untuk memperbaiki tingkat koagulasi
fibrinogen dan faktor pembekuan lainnya adalah 3-9 jam.
3. Pada pasien yang tetap mengalami perdarahan cepat, dosis antibisa
harus diulang antara 1-2 jam.
4. Pada

kasus

perburukan

gejala

neurotoksik

atau

gejala

kardiovaskuler, dosis awal antibisa harus diulang setelah 1-2 jam dan
perawatan pendukung harus dipertimbangkan.

19

(Djoni Djunaedi, 2009)

DIAGRAM PENANGANAN GIGITAN ULAR


PASIEN DG RIWAYAT
GIGITAN ULAR

PERTOLONGAN PERTAMA:
- TENANGKAN PASIEN
- IMMOBILISASI DAERAH GIGITAN
- TRANSPOR PASIEN KE RS
YA
TIDA
K

RAWAT

TANDA MEMENUHI
KRITERIA
PEMBERIAN
ANTIBISA

TERSEDIA
ANTIBISA
MONOSPESIFIK /
POLISPESIFIK
RAWAT
BERIKAN
ANTIBISA
MONOSPESIFIK /
POLISPESIFIK

20

RAWAT

Keterangan Skema

YA

TIDAK
ULAR DIBAWA KE RS

Cross Insisi
SetelahTIDAK
tergigit
3
menit
RAWAT
15-30 menit
OBSERVASI*
1 jam DI RS
SELAMA 24 JAM

TERDAPAT
TANDA
Bisa
yang dapat
ENVENOMASI 90%
(KERACUNAN)

terbuang
Insisi cross bila
memenuhi kriteria

50%
1%

YA

ULAR DAPAT
TERIDENTIFIKASI

TIDAK

YA
ULAR DITETAPKAN
TIDAK BERBISA

TIDAK

YA

Tanda Envenomasi

TENANGKAN
TERDAPAT TANDA
KORBAN, BERI SERUM
TERDAPAT TANDA DIAGNOSTIK
ENVENOMASI
ANTITETANUS,
ENVENOMASI
LOKAL DARI
( pada
bekas
Sistemik
(KERACUNAN)
PULANGKAN KORBAN
TIDAK
(KERACUNAN) ULAR YANG
YA
gigitan) UMUM BERADA DI AREA
YA
RAWAT
GEOGRAFIS
YANG SAMA Umum (general): mual, muntah, nyeri perut,
a. Tanda
gigitan taring
OBSERVASI* DI
TIDAK lemah, mengantuk, lemas.
RS SELAMA 24
(fang marks)
JAM
TANDA MEMENUHI

b. Nyeri lokal
c. Perdarahan

d. Kemerahan
TIDAK

e. RAWAT
Limfangitis
f.
g.

Kelainan

KRITERIA
PEMBERIAN
lokal
ANTIBISA

hemostatik:
YA

perdarahan

spontan

(klinis), koagulopati, atau trombositopenia.


YA

Gejala

neurotoksik:

ptosis,

oftalmoplegia
TIDAK

eksternal, paralisis, dan lainnya.

YA
BERIKAN ANTIBISA
OBSERVASI* DI
Pembesaran
kelenjar
Kelainan
kardiovaskuler:
hipotensi, syok,
POLISPESIFIK
RS SELAMA 24
TERAPI
UNTUK SPESIES
KONSERVATIF**
limfeJAM
ULAR YANG
arritmia (klinis), kelainan EKG.
BERADA DI AREA
YANG
Inflamasi (bengkak,GEOGRAFISCidera
ginjal
akut
(gagal
ginjal):
SAMA

merah, panas)

oligouria/anuria

(klinis),

peningkatan

(hasil

laboratorium).

h. Melepuh

2
kreatinin/urea
urin
LIHAT RESPON

i. Infeksi lokal, terbentuk

Hemoglobinuria/mioglobinuria:

abses

RAWAT

OBSERVASI* DI RS
j. Nekrosis

urin

coklat

RAWAT
gelap (klinis), dipstik urin atau bukti lain
akan

TIDAK

TANDA

adanyaENVENOMASI
hemolisis
SISTEMIK

rabdomiolisis

YA

ULANGI DOSIS INISIASI


intravaskuler
atatu
ANTIBISA (MAX 80-100

generalisata

(nyeri

ml)
otot,

hiperkalemia) TIDAK
(klinis,ADA
hasil
laboratorium).
Serta ADA
WHO Guidelines for The Clinical
PERBAIKAN
:
RUJUK
SEGERA
PERBAIKAN:
Management of Snake Bite in The South
adanya bukti laboratorium lainnya terhadap
OBSERVASI* DI
East Asia Region 2005
tanda venerasi.

21

Kriteria Pemberian Serum Anti Bisa Ular


Derajat Parrish
Derajat

Venerasi

I
II

III

Nyeri

Udem/eritema

Tanda sistemik

+/-

<3cm/12 jam

+/-

<3cm/12 jam

+++

>12cm-

+.

25cm/12jam

mual, pusing, syok

>25cm/12jam

++,syok,

++

Luka gigit

+++

Neurotoksik,

petekie,ekimosis
IV

+++

+++

Pada

satu ++, gangguan faal

ekstremitas

ginjal,

secara

perdarahan

menyeluruh

Pemberian Sabu (Serum Anti Bisa Ular)


Derajat parrish
0-1
2
3-4

SABU (serum antibisa ular)


Tidak perlu
5-20 cc
40-100 cc

22

koma,

Cara Pemberian Serum Anti Bisa Ular

injeksi 0,2 ml serum


encerkan 1: 10
(subkutan)
Amati 30 menit
Reaksi
hipersensitivitas (+)
Injeksi adrenalin
1:1000

Reaksi
hipersensitivitas (-)
Injeksi serum yang
tidak diencerkan 0,2 ml
(subkutan)
Amati 30 menit

Reaksi
hipersensitivitas (+)
Serum jangan
diberikan

Reaksi
hipersensitivitas (-)

23

suntikkan
serum dalam
dosis penuh

KETERANGAN:
Reaksi Hipersensitivitas (anafilaktik) dini: pucat, kepala pusing,
perasaan panas, batuk-batuk, kenaikan suhu, mual atau muntahmuntah, pembengkakan lidah atau bibir, denyut nadi cepat,
tekanan darah menurun, gatal-gatal, rasa tidak nyaman di perut,
sesak nafas, kesadaran menurun atau kejang

Amati respon
terhadap serum
antibisa ular

24

BAB II
GIGITAN ANJING
A. Epidemiologi
Kurangnya standar pelaporan di banyak negara membuat perkiraan
akurat tentang kejadian gigitan mamalia sulit untuk ditentukan. Gigitan paling
banyak adalah dari anjing domestik. Di negara berkembang, gigitan mamalia
(terutama oleh gigitan anjing, kucing, rubah, sigung, dan rakun) membawa
resiko tinggi infeksi rabies. Rabies disebut juga penyakit anjing gila (Garth
AP, 2013).
B. Bahaya Gigitan Anjing
Gigitan anjing biasanya menimbulkan luka tipe crushing karena gigi
mereka bulat dan rahang kuat. Anjing dewasa dapat mengerahkan tekanan 200
pon per inci persegi (psi), dan beberapa anjing besar mampu mengerahkan
tekanan 450 psi. Kekuatan yang ekstrim tersebut dapat merusak struktur yang
lebih dalam seperti tulang, pembuluh darah, tendon, otot, dan saraf.
Gigitan pada tangan umumnya memiliki risiko tinggi untuk infeksi
karena pasokan darah yang relatif miskin, banyak struktur di tangan, dan
pertimbangan anatomis yang membuat pembersihan luka yang sulit memadai.
Secara umum, semakin baik pasokan pembuluh darah dan semakin mudah
luka dibersihkan (contoh, laserasi vs tusukan), semakin rendah risiko infeksi.
Hal yang perlu diperhatikan pada luka gigitan adalah kemungkinan
infeksi yang dapat disebabkan oleh berbagai pathogen (bakteri, virus, riketsia,
spirochetes, dan jamur). Bakteri yang umum ditemukan pada luka gigitan
anjing antara lain: Staphylococcus species, Streptococcus species, Eikenella
species, asteurella species, Proteus species, Klebsiella species, Haemophilus
species, Enterobacter species, DF-2 or Capnocytophaga canimorsus,
Bacteroides species, Moraxella species, Corynebacterium species, Neisseria
species, Fusobacterium species, Prevotella species, dan Porphyromonas
species.

25

Rabies

adalah

penyakit

virus

akut

yang

menyebabkan

encephalomyelitis di hampir semua hewan berdarah panas termasuk manusia.


Penularan virus rabies biasanya terjadi ketika air liur yang sudah terinfeksi
dari inang kontak dengan hewan lain. Jenis penularan yang paling umum
adalah melalui gigitan dari inang yang air liurnya sudah terinfeksi virus rabies.
Meskipun demikian, cara penularan lain belum banyak tercatat seperti
misalnya penularan melalui selaput lendir (seperti pada mata, hidung &
mulut), penularan melalui alat hirup serta penularan karena transplantasi mata
atau organ tubuh lainnya (Depkes RI, 1993).

Gambar 4. Penularan virus rabies


C. Patogenesis
Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2
minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan didekatnya, kemudian
bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan
perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi bervariasi yaitu berkisar
antara 2 minggu sampai 2 tahun, tetapi pada umumnya 3-8 minggu,
berhubungan dengan jarak yang harus ditempuh oleh virus sebelum mencapai
otak.

26

Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan


menyebar luas dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi
khusus terhadap sel-sel sistem limbik,
Hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam
neuron-neuron sentral, virus kemudian kearah perifer dalam serabut saraf
eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. Dengan demikian virus
menyerang hampir tiap organ dan jaringan didalam tubuh, dan berkembang
biak dalam jaringan jaringannya, seperti kelenjar ludah, ginjal, dan
sebagainya.
D. Diagnosis
Anamnesis
Pada pasien dengan keluhan gigitan hewan, harus digali informasinya
mengenai:
1. Waktu dan tempat kejadian
2. Jenis hewan yang menggigit dan status kesehatan hewan tersebut
(misalnya, kesehatan hewan, riwayat vaksinasi hewan)
3. Keadaan yang mendasari peristiwa digigit hewan ( misalnya, gigitan
karena hewan diprovokasi, gigitan hewan sebagai pertahanan, gigitan
hewan tanpa provokasi)
4. Lokasi gigitan (paling sering di ekstremitas atas)
5. Penanganan sebelum dibawa ke rumah sakit
6. Riwayat kesehatan pasien (immunocompromised, penyakit vascular
perifer, diabetes, tetanus dan riwayat vaksinasi rabies)
Gejala klinis
Masa inkubasi rabies 95% antara 3-4 bulan, masa inkubasi bisa
bervariasi antara 7 hari hingga 7 tahun, hanya 1% kasus dengan inkubasi 1-7
tahun. Karena lamanya inkubasi kadang-kadang pasien tidak dapat
mengingat kapan terjadinya gigitan. Pada anak-anak masa inkubasi biasanya
lebih pendek daripada orang dewasa. Lamanya masa inkubasi dipengaruhi
oleh dalam dan besarnya luka gigitan, lokasi luka gigitan (jauh dekatnya ke
sistem saraf pusat), derajat patogenitas virus dan persarafan daerah luka
gigitan. Luka pada kepala inkubasi 25-48 hari, dan pada ekstremitas 46-78
hari.
27

Manifestasi klinis rabies dapat dibagi menjadi 4 stadium: (1)


prodromal non spesifik, (2) ensefalitis akut yang mirip dengan ensefalitis
virus lain. (3) disfungsi pusat batang otak yang mendalam yang menimbulkan
gambaran klasik ensefalitis rabies, dan (4) koma rabies yang mendalam.
Periode prodromal biasanya menetap selama 1 sampai 4 hari dan
ditandai dengan demam, sakit kepala, malaise, mialgia, mudah terserang
lelah (fatigue), anoreksia, nausea, dan vomitus, nyeri tenggorokan dan batuk
yang tidak produktif.
Gejala prodromal yang menunjukkan rabies adalah keluhan parestesia
dan/atau fasikulasi pada atau sekitar tempat inokulasi virus dan mungkin
berhubungan dengan multiplikasi virus dalam ganglion dorsalis saraf sensoris
yang mempersarafi area gigitan. Gejala ini terdapat pada 50% sampai 80%
pasien.
Stadium prodormal dapat berlangsung hingga 10 hari, kemudian
penyakit akan berlanjut sebagai gejala neurologik akut yang dapat berupa
furious atau paralitik.
Fase ensefalitis biasanya ditunjukkan oleh periode aktivitas motorik
yang berlebihan, rasa gembira, dan gelisah. Muncul rasa bingung, halusinasi,
combativeness, penyimpangan alur pikiran yang aneh, spasme otot,
meningismus, posisi opistotonik, kejang, dan paralisis fokal. Yang khas,
periode penyimpangan mental yang diselingi dengan periode lucid tapi
bersama dengan berkembangnya penyakit, periode lucid menjadi lebih
pendek sampai pasien akhirnya menjadi koma. Hiperestesi, dengan
sensitivitas yang berlebihan terhadap cahaya terang, suara keras, sentuhan,
bahkan rangsangan oleh udara sering terjadi. Pada pemeriksaan fisis, suhu
tubuh naik hingga 40,6C. Abnormalitas sistem saraf otonom meliputi dilatasi
pupil yang ireguler, lakrimasi meningkat, salivasi, dan berkeringat berlebih.
Juga terdapat tanda paralisis motor neuron bagian atas dengan kelemahan,
meningkatnya refleks tendo profunda, dan respon ekstensor plantaris.
Paralisis pita suara biasa terjadi.

28

Manifestasi disfungsi batang otak segera terjadi setelah mulainya fase


ensefalitis. Terkenanya saraf kranialis menyebabkan diplopia, dan kesulitan
menelan yang khas. Gabungan salivasi yang berlebihan dan kesulitan
menelan menimbulkan gambaran tradisional foaming at the mouth.
Hidrofobia, tampak pada sekitar 50% kasus. Pasien menjadi koma dengan
terkenanya pusat respirasi oleh virus, yang akan menimbulkan kematian
apneik. Menonjolnya disfungsi batang otak dini membedakan rabies dari
ensefalitis virus lainnya. Daya tahan hidup rata-rata setelah mulainya gejala
adalah 4 hari, dengan maksimum 20 hari, kecuali diberikan tindakan bantuan
artifisial (Ticoalu, 2012).
D. Tatalaksana
Perlakuan pasca pajanan adalah melalui tiga cabang pendekatan yaitu:
managemen luka, imunisasi pasif, dan imunisasi aktif.
1. Management luka
Penanganan utama luka berupa inspeksi, debridement, irigasi, dan
penutupan luka jika diindikasikan. Irigasi merupakan kunci utama dalam
mencegah infeksi. Irigasi dapat dilakukan dengan menggunakan air
mengalir atau dengan larutan normal saline. Jika tersedia, povidone
iodine juga dapat digunakan untuk irigasi karena sifatnya yang virusidal
dan direkomendasikan oleh US Centers for Disease Control untuk irigasi
luka yang berpotensi terinfeksi rabies. Debridement juga merupakan cara
yang efektif dalam mencegah infeksi. Jaringan yang mati, serta benda
asing

yang

berpotensi

menimbulkan

infeksi

dibersihkan

pada

debridement. Penutupan luka primer hanya boleh dilakukan pada luka


gigitan yang sudah dipastikan telah bersih. Pada pasien dengan luka
gigitan hewan, dapat juga diberikan terapi profilaksis berupa antibiotik
serta anti tetanus.
2. Imunisasi

pasif

menggunakan
Imunoglobulin rabies
Antirabies serum / ERIG: Serum antirabies memberikan
kekebalan pasif dalam bentuk antibodi antirabies siap pakai untuk selama
29

tahap awal infeksi. Antirabies serum (ARS) memiliki sifat mengikat virus
rabies, sehingga mengakibatkan infektivitas virus. Sekarang tersedia juga
serum antirabies yang disebut sebagai equine rabies immunoglobulins
(ERIG).
Human Rabies Imunoglobulin (HRIG): HRIG bebas dari efek
samping yang dihadapi pada serum heterolog, dan karena waktu paruh
yang lebih lama, maka cukup diberikan dalam setengah dosis ERIG.
Serum antirabies harus selalu disimpan dalam suhu kamar (20 - 25oC)
sebelum digunakan.
Dosis Imunoglobulin rabies: Dosis ERIG serum adalah 40 iu per
kg berat badan pasien dan diberikan setelah pengujian sensitivitas, sampai
maksimum 3000 iu. ARS yang diproduksi di India mengandung 300 iu,
per ml. Dosis dari imunoglobulin rabies manusia (HRIG) adalah 20 iu
badan per kg berat badan (Maksimum 1500 i.u.). HRIG tidak
memerlukan pengujian sensitivitas sebelumnya. Persiapan HRIG tersedia
pada konsentrasi 150 iu per ml.
Toleransi dan efek samping: Dengan HRIG, mungkin ada nyeri
sementara di tempat suntikan dan peningkatan singkat suhu tubuh yang
tidak memerlukan pengobatan apapun. Reaksi kulit sangat jarang. HRIG
tidak boleh diberikan secara intravena karena ini dapat menghasilkan
gejala-gejala syok, terutama pada pasien dengan sindrom defisiensi
antibodi. Dengan antiserum yang berasal dari kuda, shock anafilaksis
dapat terjadi dan dengan demikian pengujian sensitivitas adalah wajib
sebelum memberikan ERIG. Tes kulit dapat dilakukan sesuai petunjuk
yang

diberikan

produsen

dalam

produk.

Jika tidak, sebagai pedoman umum imunoglobulin heterolog dapat


diencerkan 1:10 pada garam fisiologis steril dan 0,1-0,2 ml dapat
diberikan intradermal di fleksor lengan bawah. Suntikan intradermal
dengan larutan garam fisiologis yang setara dapat digunakan sebagai
kontrol. Bacaan yang dibuat 15 menit kemudian dapat dianggap positif

30

jika eritema (> 6 mm), odema lokal atau didapati reaksi sistemik dan
kontrol negatif.
3. Imunisasi

pasif

menggunakan Tissue Culture


Vaccine (TCVs)
Tiga jenis vaksin yang saat ini tersedia adalah: Human diploid cell
strain vaccine (HDCV), Purifed chick embryo cell vaccine (PCEC),
Purified Vero cell vaccine (PVRV).
Seperti yang direkomendasikan oleh Komite Ahli WHO dalam
Rabies (1992), rangkaian untuk profilaksis pasca pajanan harus terdiri
dari lima suntikan (Hari ke- 0, 3, 7, 14 dan 28). Injeksi keenam harus
dipertimbangkan sebagai opsional, harus dipertimbangkan untuk orangorang yang kekebalannya kurang, dan pada usia ekstrem dan pada terapi
steroid. Hari 0 menunjukkan hari injeksi pertama.
Dosis vaksin per injeksi adalah 1 ml untuk HDCV dan vaksin
PCEC dan 0,5 ml untuk PVRV terlepas dari usia dan berat. Dosis PVRV
yang diproduksi oleh Pasteur Institute of India, Coonoor adalah 1 ml per
injeksi.
Indikasi: Semua kasus gigitan hewan, terlepas dari keparahan
paparan, memerlukan jumlah suntikan dan dosis per injeksi yang sama.
Kategori III membutuhkan administrasi imunoglobulin rabies seperti
yang dibahas sebelumnya
Situs inokulasi: Wilayah deltoideus sangat ideal untuk inokulasi
vaksin ini. Daerah gluteal tidak dianjurkan karena lemak hadir di wilayah
ini dan memperlambat penyerapan antigen dan karenanya merusak
generasi kekebalan yang optimal.
Efek samping dengan vaksin kultur jaringan: vaksin kultur
jaringan ini secara luas diterima setidaknya sebagai vaksin rabies yang
reaktogenik yang tersedia saat ini. Berbagai penelitian sekarang
menunjukkan bahwa efek samping dapat bersifat umum atau alergi.
31

Reaksi samping yang umum termasuk lengan sakit, sakit kepala, malaise,
mual, demam dan edema lokal di tempat suntikan. Pengobatan
simtomatik mungkin diperlukan.
Jika seseorang yang divaksinasi terkena rabies setelah profilaksis
pra-pajanan yang direkomendasikan, pembersihan luka yang baik harus
dilakukan dan dua dosis IM Vaksin Kultur Jaringan diberikan pada hari
ke 0 dan 3. Pengobatan dengan RIG tidak diperlukan.
Profilaksis prapajanan mungkin ditawarkan kepada kelompok
risiko tinggi seperti petugas laboratorium yang menangani virus dan
bahan yang terinfeksi, dokter dan para-medis yang mengobservasi kasus
anjing gila, dokter hewan, pawang binatang dan penangkap, sipir satwa
liar, petugas karantina dan wisatawan dari daerah bebas rabies untuk
daerah endemis rabies. Imunisasi prapajanan harus tiga dosis IM penuh
TCV diberikan pada hari 0, 7 dan 28 atau 0, 28 dan 56 diikuti dengan
booster pada satu tahun dan kemudian booster setiap tiga tahun (Garth
AP, 2013).

32

BAB III
GIGITAN BINATANG LAIN
A. Gigitan Serangga, Laba-laba, dan Kelabang
Gigitan atau sengatan dari berbagai jenis serangga, laba-laba, dan
kelabang, walaupun tidak selalu membahayakan jiwa, dapat menimbulkan
reaksi alergi yang gawat dan bahkan kadang-kadang dapat berakibat fatal.
Musibah yang diderita dapat akibat dari gigitan, pangutan, sengatan, atau
mungkin hanya sentuhan binatang atau bagian tubuhnya.
1. Tanda dan gejala
a. Bengkak dan kemerahan di daerah gigitan
b. Gatal-gatal
c. Nyeri dan terasa panas
d. Demam, menggigil, kadang disertai sulit tidur
e. Dapat terjadi syok
2. Penanganan
a. Amankan diri dan lingkungan sekitar
b. Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC)
c. Tenangkan penderita
d. Ambil sengatnya kalau nampak (hati-hati saat mencabut jangan sampai
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

menekan kantung bias/kelenjar bias)


Cuci daerah gigitan dengan air sabun atau alcohol 70 % atau antiseptic
Kompres dingin (kompres es)
Imobilisasikan daerah yang tergigit
Berikan antihistamin jika reaksi ringan
Berikan Adrenalin 0,5 mg IM, jika reaksi berat
Dapat berikan analgetik
Bawa segera ke Rumah Sakit

(Garth AP, 2013)

B. Sengatan Kalajengking

33

Binatang ini tergolong serangga yang mempunyai racun pada ujung


ekornya. Racun dimasukkan oleh ekor serangga ke kulit, sehingga pada saat
itu juga, orang yang disengat kalajengking merasa kesakitan. Beberapa jam
kemudian racun itu dierap dan masuk ke dalam darah, sehingga menimbulkan
tanda dan gejala sebagai berikut:
1. Gelisah
2. Mual
3. Muntah
4. Haus
5. Sakit perut
Bila kalajengking menyengat

anak-anak,

dapat

menimbulkan

kematian, yamg di dahului dengan sesak napas, sianosis, kelumpuhan, kejangkejang, syok, mengigau, dan pingsan.
Akibat sengatan kalajengking pada orang dewasa biasanya tidak begitu
hebat. Pengobatannya hanya simtomatis. Pada luka bekas gigitan di beri
kompres ammonia, bikarbonas natrikus atau kalamin lasio. Bila ada kejangkejang, diberi sedative, misalnya valium atau luminal (Garth AP, 2013).
C. Gigitan Kelelawar
Kelelawar dapat membawa kuman rabies. Oleh karena itu, jika digigit
kelelawar bahaya rabies juga harus dipikirkan.
Basuhlah luka gigitan itu dengan air mengalir dan sabun atau obat
antiseptik (pembunuh kuman). Tutuplah dengan kasa steril. Bekas gigitan
kucing tidak boleh terlalu banyak digerak-gerakkan dan harus segera
mendapat suntikan antibiotika (Tasruddin dan Handaruwati, 2015).

D. Gigitan Trigonid
Terdapat di perairan laut dangkal. Biasanya penderita terkena sangat
trigonid disebabkan menginjak atau bersentuhan dengan bahan bagian tubuh
binatang tersebut.
1. Tanda dan gejala
a. Timbul rasa nyeri dalam 90 menit
b. Rasa panas di iaerah gigitan
c. Pusing bahkan terkadang sampai tidak sadar (pingsan).
34

2. Penanganan
a. Amankan diri dan lingkungan sekitar
b. Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC)
c. Tenangkan penderita
d. Cabut duri yang menusuk
e. Rendam bagian yang tergigit dalam air hangat
f. Bersihkan luka dan imobilisasi daerah luka
E. Sengatan Ubur-ubur
Kelompok hewan-hewan laut ini menimbulkan cedera dengan
sengatan dari sel-sel penyengat dari alat-alat penangkap (tentakel-tentakel)nya yang menyebabkan rasa panas terbakar dan sedikit perdarahan ada kulit.
Ubur-ubur ada banyak jenisnya dan hidup di daerah tropis. Racun ubur-ubur di
buat oleh beribu-ribu duri halus yang terdapat di permukaan badannya. Bila
duri halus itu di sentuh oleh perenang di laut, ubur-ubur akan menyuntukkan
racun melalui duri halus itu.
Kulit yang bersentuhan dengan duri ubur-ubur, akan merasa gatal
bercampur panas. Beberapa menit kemudian akan timbul urtikaria yang dapat
berubah menjadi (lepuh-lepuh visikel). Perasaan sakit biasanya akan hilang
sendiri dalam beberapa jam, tetapi dapat kambuh lagi beberapa hari kemudian.
1. Tanda dan gejala
a. Rasa panas dan terbakar serta sedikit perdarahan pada kulit
b. Urtikaria
c. Mual
d. Muntah
e. Kejang otot
f. Syok
g. Kesulitan bernafas
h. Keluar air mata terus-menerus
i. Mata menjadi merah bengkak, pupil melebar
2. Penanganan
a. Amankan diri dan lingkungan sekitar
b. Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC)
c. Bebaskan anggota badan yang cedera dari tentakel-tentakel dengan
handuk basah
d. Cuci luka dengan larutan Aromatic Ammonia Spirit atau alcohol 70%
e. Berikan 10 ml larutan Na Glukonat
f. Asang tourniket dan berikan antidote Sea Wasp Antivenome (SWA)
bila ada
g. Bawa segera ke Rumah Sakit
35

F. Gigitan Ikan Pari (Sting Ray)


Kelompok hewan-hewan laut ini menyuntikkan racunnya dengan
menusukkan

duri-duri/jarum-jarumnya.

Ikan

pari

termasuk

klas

Elasmobrachil mempunyai tulang rawan. Jenis ikan pari yang terkenal adalah
pari kembang, pari bendera, pari pasir, dan pari burung.
Bentuk badannya pipih seperti cakram dengan ekor menyerupai
cambuk. Pada ekor itu terdapat satu atau lebih duri yang berbisa. Ikan ini
hidup di sekitar pantai. Ikan pari pasir biasanya berbaring di dasar laut dan
tertimbun pasir atau lumpur. Bila ada orang yang menginjak badan ikan pari,
ekornya akan memecut sambil memasukkan durinya.
Orang yang terkena duri ikan pari dalam 10 menit merasa sakit di
sekitar tusukan itu. Makin lama perasaan sakit itu akan makin bertambah
hebat dan menjalar keseluruh anggota badan yang tertusuk. Perasaan sakit
biasanya berlangsung antara 6 48 jam, lalu berkurang.
Luka yang ditimbulakan berupa luka tusuk atau lasersi. Untuk
mengeluarkan duri dalam daging, biasanya diperlukan insisi. Setelah duri di
keluarkan biasanya luka akan membengkak, maka dari itu jangan dilihat
langsung, cukup di kompres dengan antiseptic (betadin). Bila peradangan
telah tenang, barulah dilakukan penjahitan sekunder.
1. Tanda dan gejala
a. Pembengkakan
b. Mual, muntah dan diare
c. Tekanan darah menurun
d. Berkeringat
e. Jantung berdenyut tidak teratur
f. Kadang-kadang bisa menimbulakan kematian
g. Kejang-kejang bahkan terkadang di sertai kelumpuhan otot-otot
2. Penanganan
a. Amankan diri dan lingkungan sekitar
b. Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC)
c. Bersihkan luka dengan sabun dalam air hangat selam 30-60 menit.
Cara ini efektif untuk me-nonaktifkan racun yang tidak panas
d. Bawa segera ke Rumah Sakit
G. Gigitan Gurita (Blue Ringed Octopus)
Gurita tidak akan menggigit kecuali terinjak atau di ganggu.
Gigitannya sangat beracun dan seringkali menimbulkan kematian.
36

1. Tanda dan gejala


a. Kegagalan nafas secara progresif terjdi dalam 10-15 menit
b. Luka bekas gigitan kecil, tidak terasa nyeri yang mungkin berwarna
merah dan benjolan (tampak seperti meleuh berisi darah)
c. Kehilangan rasa raba (di mulai sekitar mulut dan leher)
d. Mual, muntah
e. Kesulitan menelan
f. Kesulitan bernafas
g. Gangguan penglihatan
h. Inkoordinasi
i. Kelumpuhan otot
j. Pernapasan berhenti
k. Denyut nadi berhenti
l. Dapat diikuti kematian
2. Penanganan
a. Amankan diri dan lingkungan sekitar
b. Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC)
c. Tenangkan penderita
d. Bersihkan/cuci luka bekas gigitan dengan air hangat
e. Lakukan pressure imobilisasi pada bagian yang cidera
f. Monitor tanda-tanda vital
g. Lakukan RJP jika diperlukan
H. Gigitan lintah
Ludah lintah mengandung zat anti pembekuan darah. Darah akan terus
mengalir keluar dan masuk ke perut lintah.
1. Tanda dan Gejala
a. Pembengkakan
b. Gatal
c. Kemerahan
2. Tindakan pertolongan
a. Dengan hati-hati lepaskanlah lintah dari tempat gigitan
b. Menyiram minyak atau air tembakau ke tubuh lintah, akan membantu
mempercepat usaha melepaskan gigitan lintah
c. Apabila ada tanda-tanda reaksi kepekaan seperti tersebut di atas, cukup
digosok dengan obat atau salep anti gatal biasa
I. Ikan Hiu
Ikan hiu, disamping dapat menggigit manusia, ada pula yang
mengeluarkan racun. Ikan hiu yang beracun mempunyai sirip di punggungnya.

37

Ikan hiu yang mengandung racun adalah born shark, memunyai sirip
di punggung yang berhubungan dengan kelenjar pembuat racun. Orang yang
tertusuk sirip beracun ikan hiu ini.
1. Tanda dan Gejala
a. Sakit yang berlangsung beberapa jam
b. Daerah tusukan itu menjadi merah dan bengkak
c. Dapat menimbulkn kematian.
Pengobatan hanya simptomatis dan luka gigitan dirawat seperti luka
gigitan lainnya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Awasthi et al (2010). Cerebellar Ataxia following Snake Bite. 58: 390


Ditjen PPM & PLP, Depkes R.I. (1993) Pedoman Pelaksanaan Program
Penanggulangan Rabies di Indonesia
Djoni Djunaedi (2009). Penatalaksanaan Gigitan Ular Berbisa. Dalam: Sudoyo
AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. Buku ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. Edisi ke-5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam. h.280-3.
38

Garth AP (2013). Animal Bites in Emergency Medicine.

Diunduh dari:

http://emedicine.medscape.com/article/768875-overview.

Diakses:

Maret 2016.
Mansjoer, Arif (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapius FK UI.
National Guidelines for Management of Animal Bites. Diunduh dari:
http://rabies.org.in/rabies-journal/rabies-07/guidelines.htm.

Diakses: 1

Maret 2016.
Tasruddin

AF

dan

Handaruwati

(2015).

Rabies.

Diunduh

dari:

https://www.scribd.com/doc/283532718/Referat-Rabies. Diakses: 1 Maret


2016.
WHO (2005). Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The
South East Asia Region.
WHO (2010). Guidelines for the Management of snake bites.

39