Anda di halaman 1dari 8

MATERI KULIAH

MASALAH dan ISU KEBIJAKAN

MASALAH KEBIJAKAN
• Substansi atau salah satu unsur kebijakan publik adalah masalah yang harus
dipecahkan melalui tindakan yang dilakukan pemerintah.
• Masalah merupakan fokus yang penting dalam proses kebijakan publik,
karena kebijakan publik sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan
tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh pelaku atau sekelompok pelaku guna
memecahkan masalah tertentu

PENGERTIAN MASALAH
 Masalah dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi atau situasi yang
menimbulkan kebutuhan atau ketidakpuasan pada sebagian orang yang
membutuhkan petolongan atau perbaikan. Dalam pandangan lain, masalah dapat
dinyatakan sebagai suatu kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan,
sehingga perlu dicari upaya pemecahannya yang dapat menjadikan kondisi
tersebut sesuai dengan rencana
 Masalah : adanya kesenjangan antara das sollen / teori dengan das sein /
fakta empiris ; antara yang ditetapkan sebagai kebijakan dengan kenyataan
implementasi kebijakan (Tri W. Utomo)
 Masalah kebijakan : unrealized needs, values, opportunities, however we
identified, the solution require public actions (tidak terwujudnya kebutuhan, nilai,
dan peluang, yang bagaimanapun kita sudah bisa mengidentifikasikannya, tetapi
pemecahannya mengharuskan adanya tindakan-tindakan publik / negara /
pemerintah
 Charles O. Jones menyatakan bahwa masalah adalah kebutuhan manusia
yang perlu diatasi atau dipecahkan (human needs, however identified, for which
relief is sought). Sedangkan Anderson (1984) menyatakan bahwa untuk
kepentingan kebijakan, secara formal masalah dapat diartikan sebagai kondisi
dan atau situasi yang menghasilkan kebutuhan-kebutuhan atau ketidakpuasan-
ketidakpuasan pada rakyat untuk mana perlu dicari cara-cara
penanggulangannya.
 William Dunn mengartikan masalah kebijaksanaan sebagai nilai, kebutuhan,
kesempatan yang belum terpenuhi tetapi yang dapat diidentifikasikan dan dicapai
dengan melakukan tindakan publik. Hal ini menunjukkan bahwa suatu masalah
yang berhubungan dengan kebijakan publik adalah masalah-masalah yang
berhubungan dengan orang banyak, dan masalah ini dikategorikan masalah
publik karena tindakan (action) yang diambil adalah tindakan kebijakan (policy
action).
 Samudra yang menyatakan bahwa pada dasarnya sumber pokok timbulnya
masalah adalah pada nilai, dalam artian bahwa ketidaktepatan atau
ketidaksesuaian suatu kondisi dengan sebuah nilai akan dianggap oleh
seseorang atau sekelompok orang sebagai suatu masalah. Dan yang terpenting

1
menurut Patton (1986) adalah bahwa ketika mendefinisikan masalah berarti
mengimplikasikan bahwa ada nilai-nilai tertentu yang tidak terpuaskan atau
terpenuhi
MASALAH PRIVAT vs MASALAH PUBLIK
 Hal yang penting diperhatikan dalam mengkaji masalah-masalah publik
maupun masalah-masalah secara umum adalah bahwa suatu masalah tidak
dapat semata-mata dipandang sebagai masalah begitu saja tanpa melibatkan
cara pandang orang terhadap masalah tersebut.
 Pendapat Mark Rushefky yang dikutip Winarno bahwa ada dua proses
penting dalam mengidentifikasi masalah, yaitu persepsi dan definisi. Persepsi
merupakan penerimaan (receiving) dari suatu peristiwa yang mempunyai
konsekuensi terhadap orang atau kelompok, sedangkan defenisi merupakan
interpretasi dari peristiwa-peristiwa tersebut, memberinya makna dan
membuatnya jelas. Suatu masalah tidak dapat mendefenisikan dirinya sendiri
melainkan harus didefenisikan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa suatu
masalah juga melibatkan pandangan-pandangan subyektif seseorang. Dalam
artian bahwa, seseorang atau lembaga dapat memandang sesuatu sebagai
masalah tetapi tidak merupakan masalah bagi individu atau lembaga lain.
 Banyak sekali kebutuhan-kebutuhan atau ketidakpuasan yang dimiliki
masyarakat, tetapi tidak selalu hal ini dapat menjadi masalah umum atau
masalah publik.
 Apa yang membedakan antara masalah privat dan masalah publik? Masalah
publik adalah sesuatu yang memiliki dapak yang luas, termasuk konsekuensi bagi
orang-orang yang tidak terlibat secara langsung. Karena itu, masalah publik
dipengaruhi oleh konsekuensi-konsekuensi tak langsung dari berbagai transaksi
hingga pada semacam tingkatan dianggap perlu untuk memiliki konsekuensi-
konsekuensi yang terpelihara secara sistematis. Sedangkan masalah privat
merupakan masalah yang hanya memiliki dampak terbatas, hanya menjadi
perhatian pada satu atau beberapa orang yang langsung terlibat. CONTOH
 Robert Seidman, Ann Seidman, dan Nalin Abeysekere (2005) menyatakan
bahwa masalah dapat terjadi oleh karena satu atau gabungan dari beberapa hal
yang dithesiskan mereka tidak berjalan dengan baik. Hal-hal tersebut, ialah: Rule
(peraturan), Opportunity (peluang/kesempatan), Capacity (kemampuan),
Communication (Komunikasi), Interest (kepentingan), Process (proses), dan
Ideology (nilai dan/atau sikap), yang disingkat ROCCIPI
1. Peraturan yang dapat mengatur perilaku manusia kea rah
yang diharapkan melalui kebijakan yang dibuat, alih-alih dapat juga
sebaliknya. Masalah public dalam konteksi dapat muncul karena: a)
bahasa yang digunakan dalam peraturan rancu atau membingungkan,
atau peraturan tersebut tidak menjelaskan apa yang harus dan apa yang
dilarang dilakukan oleh warga bersifat mensua atau menyesatkan; b)
beberapa peraturan mungkin malah member peluang bagi terjadinya
perilaku bermasalah; c) peraturan tidak menghilangkan penyebagian-
penyebagian perilaku bermasalah justru memperluasnya; d) peraturan
membuka peluang bagi perilaku yang tidak transparan; dan e) peraturan
berkemungkinan juga untuk memberikan wewenang yang berlebih kepada
pelaksana peraturan untuk bertindak represif.

2
2. Kesempatan atau peluang; mungkin suatu peraturan
secara tegas melarang perilaku tertentu, namun jika terbuka kesempatan
untuk tidak mematuhinya, para individu bisa dengan mudah untuk
melakukan perilaku yang bermasalah
3. Kemampuan; pertukaran tidak dapat memerintah para
individu untuk melakukan hal-hal diluar kemampuannya. Oleh karena itu
perlu diketahui kondisi-kondisi internal individu
4. Komunikasi; perilaku bermasalah dapat terjadi karena
ketidaktahuan individu. Biasanya miss-komunikasi menjadi kendala
masyarakat yang multikultur, berklas, dan plural
5. Kepentingan; kategori ini berguna untuk menjelaskan
pandangan individu tentang akibat dan manfaat dari setiap perilakunya.
6. Proses, yang merupakan instrumen untuk menemukan
penyebagian perilaku bermasalah yang dilakukan dalam atau oleh
organisasi, dengan mengacu pada masukan (input), proses pengelolaan
input, proses output dan umpan balik.
7. Nilai dan sikap merupakan sekumpulan nilai yang dianut
oleh suatu masyarakat untuk merasa, berpikir, dan bertindak. Dalam
masyarakat yang multikultur dan plural seringkali setiap kelompok memiliki
pandangan yang berbeda mengenai nilai dan sikap yang dianut, sehingga
tidak menutup kemungkinan bagi terjadinya benturan atau masalah.

MASALAH PUBLIK → MASALAH KEBIJAKAN


• Tidak semua masalah mempunyai substansi atau kadar yang sama. Ada
masalah yang menyangkut orang perorang atau kelompok tertentu, dan ada juga
masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang. Diantara masalah yang
menyangkut orang banyak, ada yang dapat diselesaikan oleh masyarakat itu
sendiri, dan ada masalah yang membutuhkan campur tangan pemerintah karena
tidak mungkin diselesaikan sendiri oleh anggota masyarakat. Hal ini disebut
sebagai masalah publik.
• Di antara masalah publik, juga terdapat perbedaan dalam kualitas, wawasan
dan keterkaitan. Oleh karena itu, menurut Abidin (106-107) masalah publik dapat
dikelompokkan ke dalam masalah strategis dan masalah yang tidak strategis.
• Suatu masalah publik dikatakan masalah strategis apabila memenuhi
beberapa persyaratan berikut ini:
a. Luas cakupannya, artinya, wawasan cakupannya tidak hanya
meliputi satu sektor atau wilayah saja, tetapi meliputi beberapa sektor atau
wilayah.
b. Jangka waktunya panjang. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa
penyelesaian masalah memerlukan waktu yang panjang, dan dampak
yang ditimbulkan bisa jadi mempunyai akibat yang jauh ke depan.
c. Mempunyai keterkaitan yang luas, artinya, substansi
permasalahan dan cara-cara penyelesaiannya menyangkut banyak pihak
dalam masyarakat;
d. Mengandung resiko dan kemungkinan keuntungan yang besar

3
Jika masalah dikatakan tidak strategis apabila tidak memenuhi kriteria-kriteria
tersebut, misalnya jangka waktunya panjang tetapi wawasan atau cakupannya
sempit. Begitupula sebaliknya, sekalipun liputan masalahnya luas dan jangka
waktunya panjang, tetapi konsekuensi dari kegagalan dan keberhasilannya kecil,
tidak dapat dianggap strategis. Begitu juga jika keterkaitannya terbatas, baik
dalam jumlah ataupun bobotnya
 Suatu masalah umum dapat menjadi masalah kebijakan (policy problems)
apabila masalah tersebut dapat membangkitkan orang banyak untuk melakukan
tindakan terhadap masalah-masalah itu (only those that move people to action
become policy problems). Bila sekelompok karyawan atau buruh mendapatkan
penghasilan dibawah upah minimum regional (UMR) tetapi menerima begitu saja
kondisi tersebut tanpa melakukan sesuatu, maka masalah tersebut dianggap
tidak ada. Oleh karena itu masyarakat atau kelompok orang harus mempunyai
“political will” untuk memperjuangkan masalah itu menjadi masalah kebijakan. Hal
ini dapat dilakukan dengan upaya menyampaikan pendapat atau tuntutan melalui
demonstrasi atau tindakan lainnya (sebagai upaya bersama) sehingga masalah
tersebut bisa muncul sebagai suatu kebutuhan yang harus dipecahkan. Selain itu,
masalah tersebut ditanggapi positif oleh pengambil kebijakan, dan mereka
bersedia memperjuangkan problema itu menjadi problema kebijakan, dan
memasukkan dalam agenda pemerintah, serta mengusahakan menjadi
kebijakan negara.
 Pada prinsipnya, sekalipun suatu peristiwa, keadaan, dan situasi tertentu
mungkin dapat menimbulkan satu atau beberapa masalah, tetapi agar dapat
menjadi masalah umum ataupun masalah kebijakan tidak hanya tergantung dari
dimensi obyektifnya saja, tetapi juga secara subyektif, baik oleh masyarakat
maupun pembuat keputusan dipandang sebagai suatu masalah yang patut
dipecahkan atau dicari jalan keluarnya.
 Perlu diperhatikan adalah pada seberapa jauh atau seberapa besar tingkat
kesadaran dan kepekaan masyarakat melihat masalahnya sendiri dan sampai
seberapa besar tingkat kesadaran , kepekaan, dan kemampuan pembuat
keputusan melihat masalah-masalah yang dihadapi masyarakat itu sebagai
sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya untuk diatasi.
 Hal yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan kajian terhadap masalah-
masalah publik adalah bahwa tidak semua masalah mendapat tanggapan yang
memadai oleh para pembuat kebijakan. Sehingga timbul pertanyaan bagi kita,
mengapa hal tersebut terhadi?; atau mengapa hanya masalah-masalah tertentu
yang dianggap sebagai masalah publik sedangkan masalah-masalah lain tidak?
 Untuk menyikapi hal itu, maka akan dikemukakan pendapat Charles O. Jones,
bahwa masalah-masalah publik (public problems) mempunyai dua tipe, yaitu:
pertama, masalah-masalah tersebut dikarakteristikkan oleh adanya perhatian
kelompok dan warga kota yang terorganisasi yang bertujuan untuk melakukan
tindakan (action). Kedua, masalah-masalah tersebut tidak dapat dipecahkan
secara individual/pribadi (sehingga hal itu menjadi masalah publik), tetapi kurang
terorganisasi dan kurang mendapat dukungan. Pembedaan seperti ini,
merupakan sesuatu yang kritis dalam memahami kompleksitas proses yang
berlangsung dimana beberapa masalah bisa sampai kepada pemerintah,
sedangkan beberapa masalah yang lain tidak.

4
KAPAN PROBLEMA UMUM MENJADI POLICY PROBLEMS ?
 Bila problema baru dapat membangkitkan orang banyak untuk melakukan
tindakan terhadap problema-problema itu (only those that move people to
action become policy problems).
 Masyarakat mempunyai “political will” untuk memperjuangkan problema itu
menjadi problema kebijakan.
 Problema itu ditanggapi positif oleh pengambil kebijakan, dan mereka
bersedia memperjuangkan problema itu menjadi problema kebijakan, dan
memasukkan dalam agenda pemerintah, serta mengusahakan menjadi
kebijakan negara.

• William Dunn mengelompokkan masalah kebijakan dalam


3 (tiga) kelas, yaitu masalah yang sederhana (well-structured), masalah yang
agak sederhana (moderately-structured) dan masalah yang rumit. Struktur dari
setiap kelas maslah kebijakan ini ditentukan oleh kompleksitasya, yaitu derajat
seberapa jauh suatu masalah merupakan sistem permasalahan yang saling
tergantung. Perbedaan di antara masalah-masalah yang sederhana, agak
sederhana dan rumit digambarkan dengan variasi di dalam elemen-elemen
mereka. (kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
STRUKTUR MASALAH
ELEMEN Agak
Sederhana Rumit
Sederhana
Pengambil Satu atau Satu atau Banyak
keputusan beberapa beberapa
Alternatif Terbatas Terbatas Tak terbatas
Kegunaan Konsensus Konsensus Konflik
(nilai)
Hasil Pasti atau Tidak pasti Tidak diketahui
beresiko
Probabilitas Dapat dihitung Tak dapat Tak dapat
dihitung dihitung
Sumber: William N. Dunn (2003)
• Masalah yang sederhana adalah masalah yang melibatkan satu atau
beberapa pembuat keputusan dan seperangkat kecil alternatif-alternatif
kebijakan. Kegunaan (nilai) mencerminkan konsensus pada tujuan-tujuan
jangka pendek yang secara jelas diuraikan dalam tatanan pembuat
keputusan. Hasil dari masing-masing alternatif diketahui dengan keyakinan
tinggi atau di dalam batas kesalahan masih dapat diterima. Gambaran
mengenai masalah yang sederhana dapat dilihat dari masalah-masalah
operasional yang secara relatif lebih rendah di dalam instansi pemerintah.
• Masalah yang agak sederhana adalah masalah-masalah yang melibatkan
satu atau beberapa pembuat keputusan dan sejumlah alternatif yang secara
relatif terbatas. Kegunaan (nilai) juga mencerminkan konsensus pada tujuan-
tujuan jangka pendek yang diurutkan secar jelas. Namun, hasil-hasil dari
alternatif tersebut belum tentu meyakinkan ataupun diperhitungkan dalam
batasan kesalahan yang bisa diterima.
• Masalah yang rumit adalah masalah-masalah yang mengikutsertakan banyak
pembuat keputusan yang utilitasnya (nilainya) tidak diketahui atau tidak
mungkin diurutkan secara konsisten. Jika masalah-masalah sederhana dan

5
agak sederhana mencerminkan konsensus, maka masalah yang rumit
dicirikan dengan konflik di antara tujuan-tujuan yang saling bersaing.
Alternatif-alternatif kebijakan dan hasilnya dapat juga tidak dapat diketahui,
karena tidak mungkin memperkirakan resiko dan ketidakpastian. Masalah
pilihan tidak untuk menentukan hubungan-hubungan deterministik yang
diketahui, tetapi lebih untuk mendefenisikan sifat masalah
• Dengan demikian, untuk melihat seberapa rumitnya suatu masalah kebijakan
didefinisikan, dapat dilihat dari jumlah pembuat keputusan yang terlibat dalam
menyelesaikan masalah tersebut, jumlah alternatif yang dapat diambil untuk
menyelesaikan masalah, serta utilitas (nilai) yang diharapkan dari alternatif
pemecahan masalah tersebut.

ISU KEBIJAKAN

Isu kebijakan publik sangat penting dibahas untuk membedakan istilah yang
dipahami awam dalam perbincangan sehari-hari yang sering diartika sebagai ”kabar
burung”. Isu dalam sebuah kebijakan sarat memiliki lingkup yang luas yang meliputi
berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat. Oleh karenanya memahami
konsep isu sangat akan sangat membantu para analis dalam menganalisis kebijakan
publik.

PENGERTIAN:
• Isu kebijakan (policy issues) lazimnya muncul karena telah terjadi silang
pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan
ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan itu
sendiri.
• Isu (issues) dapat diartikan sebagai problema public yang saling bertentangan
(konflik) satu sama lain (controversial public problem).
• Isu kebijakan dengan begitu lazimnya merupakan produk atau fungsi dari adanya
perdebatan baik tentang rumusan rincian, penjelasan, maupun penilaian atas
suatu masalah tertentu. Karena itu Dunn (1995) menyatakan bahwa Isu
kebijakan tidak hanya mengandung ketidaksepakatan mengenai arah tindakan
yang aktual dan potensial, tetapi juga mencerminkan pertentangan dan
pandangan mengenai sifat masalah itu sendiri. Dengan demikian, maka isu
kebijakan merupakan hasil perdebatan tentang definisi, klasifikasi, eksplanasi,
dan evaluasi masalah.
• Pada sisi lain, isu bukan hanya mengandung makna adanya masalah atau
ancaman, tetapi juga peluang-peluang bagi tindakan positif tertentu dan
kecenderungan-kecenderungan yang dipersepsikan sebagai memiliki nilai
potensial yang signifikan (Hogwood dan Gunn).
• Isu bisa jadi merupakan kebijakan-kebijakan alternatif (alternative policies). atau
suatu proses yang dimaksudkan untuk menciptakan kebijakan baru, atau
kesadaran suatu kelompok mengenai kebijakan tertentu yang dianggap
bermanfaat bagi mereka (Alford dan Friedland).

6
• Singkatnya, timbulnya isu kebijakan publik terutama karena telah terjadi konflik
atau "perbedaan persepsional" di antara para aktor atas suatu situasi problematik
yang dihadapi oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu.
• Issue kebijakan bersifat subyektif, karena dipengaruhi persepsi. Dan adanya
persepsi mempengaruhi status peringkat dari suatu issue kebijakan.
• Dilihat dari peringkatnya, maka isu kebijakan publik itu, secara berurutan dapat
dibagi menjadi empat kategori besar, yaitu isu utama, isu sekunder, isu
fungsional, dan isu minor (Dunn, 1990). Kategorisasi ini menjelaskan bahwa
makna penting yang melekat pada suatu isu akan ditentukan oleh peringkat yang
dimilikinya. Artinya, makin tinggi status peringkat yang diberikan atas sesuatu isu,
maka biasanya makin strategis pula posisinya secara politis. Sebagai kasus yang
agak ekstrem, dan perspektif politik bandingkan misalnya antara status peringkat
masalah kemiskinan vs masalah pergantian pengurus organisasi politik di tingkat
kecamatan. Namun. perlu kiranya dicatat bahwa kategorisasi isu di atas
hendaknya tidak dipahami secara kaku. Sebab, dalam praktek, masing-masing
peringkat isu tadi bisa jadi tumpang tindih, atau suatu isu yang tadinya hanya
merupakan isu sekunder, kemudian berubah menjadi isu utama.

Mengapa Isu Kebijakan Penting Untuk Dicermati


• Pertama, sebagai telah disinggung di muka, proses pembuatan kebijakan publik
di sistem politik mana pun lazimnya berangkat dari adanya tingkat kesadaran
tertentu atas suatu masalah atau isu tertentu.
• Kedua, derajat keterbukaan, yakni tingkat relatif demokratis atau tidaknya suatu
sistem politik, di antaranya dapat diukur dari cara bagaimana mekanisme
mengalirnya isu menjadi agenda kebijakan pemerintah, dan pada akhirnya
menjadi kebijakan publik.(Wahab:2001)

Bagaimana Kriteria Isu Dapat Menjadi Agenda Kebijakan


• Isu-isu akan menjadi awal dari munculnya maslah-maslah publik dan bila
msalah tersebut mendapat perhatian yang memadai, maka ia akan masuk dalam
agenda kebijakan.
• Suatu isu tidak serta merta masuk menjadi agenda kebijakan, karena pada
dasarnya masalah kebijakan mencakup dimensi yang luas. Isu-isu yang beredar
dalam masyarakat akat bersaing satu dengan yang lain untuk mendapatkan
perhatian para elit politik sehingga isu yang diperjuangkan dapat masuk ke
agenda kebijakan.
• Wahab (2005) mengutip pendapat Kimber, 1974; Salesbury, 1976;
Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986) menyatakan bahwa secara teoritis,
suatu isu akan cenderung memperoleh respon dari pembuat kebijakan, untuk
dijadikan agenda kebijakan publik, kalau memenuhi beberapa kriteria tertentu.
Diantara sejumlah kriteria itu yang penting ialah:
1. Isu tersebut telah mencapai suatu titik kritis tertentu, sehingga ia praktis
tidak lagi bisa diabaikan begitu saja; atau ia telah dipersepsikan sebagai suatu
ancaman serius yang jika tak segera diatasi justru akan menimbulkan luapan
krisis baru yang jauh lebih hebat di masa datang.

7
2. Isu tersebut telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang dapat
menimbulkan dampak (impact) yang bersifat dramatik.
3. Isu tersebut menyangkut emosi tertentu dilihat dan sudut kepentingan
orang banyak bahkan umat manusia pada umumnya, dan mendapat
dukungan berupa liputan media massa yang luas.
4. Isu tersebut menjangkau dampak yang amat luas.
5. Isu tersebut mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan
(legitimasi) dalam masyarakat.
6. Isu tersebut menyangkut suatu persediaan yang fasionable, di mana
posisinya sulit untuk dijelaskan tapi mudah dirasakan kehadirannya.
• Jack L. Walker (1982), menyatakan bahwa suatu masalah bisa tampil menjadi
masalah publik, apabila:
1. issues tersebut mempunyai dampak yang besar pada banyak orang.
2. ada bukti yang meyakinkan, agar lembaga legislatif mau
memperhatikan masalah tersebut sebagai masalah yang serius.
3. ada pemecahan yang mudah dipahami terhadap masalah yang sedang
diperhatikan.
• Isu dapat tampil ke agenda menurut Charles O. Jones:
1. scope dan kemungkinan dukungan terhadap masalah
public (issues) tersebut dapat dikumpulkan.
2. problem atau isues tersebut dinilai penting.
3. ada kemungkinan masalah (issues) tersebut dapat
terpecahkan.
• Sehingga dapat dinyatakan bahwa masalah
public (isu) bisa tampil menjadi agenda dan menjadi kebijakan publik apabila: a)
issues itu dinilai penting dan membawa dampak yang besar pada banyak orang;
dan b) issues tersebut mendapatkan perhatian
• Lester dan Steward menyatakan bahwa isu akan
mendapat perhatian bila memenuhi beberapa kriteria, yaitu:
a. bila suatu isu telah melampaui proporsi suatu krisis dan tidak dapat terlalu
lama didiamkan;
b. mempunyai sifat partikularis, dimana isu tersebut menunjukkan dan
mendramatisir isu yang lebih besar;
c. mempunyai aspek emosional dan mendapat perhatian media massa karena
faktor human interest;
d. mendorong munculnya pertanyaan menyangkut kekuasaan dan legitimasi,
dan masyarakat;
e. isu tersebut sedang menjadi trend atau sedang diminati banyak orang.

Anda mungkin juga menyukai