Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Goiter merupakan gangguan yang sangat sering dijumpai dan menyerang
16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun
seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu
komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali
gangguan kosmetik, tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi.
Goiter mungkin membesar secara difus dan atau bernodula.
Goiter merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya
adalah efisiensi yodium, disamping factor-faktor lain misalnya bertambahnya
kebutuhan yodium pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau
pengaruh-pengaruh

zat-zat

goitrogenik.

Goitrogenik

sporadic

dapat

disebabkan factor genetic atau karena obat (iatrogenic) antara lain metal atau
propiltiourasil ( PTU ), tolbutamid, sulfaguanidin, PAS dan lain-lain.
Penyakit goiter merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh
perawat. Sebagai mahasiswa keperawatan, harus memiliki pemahaman dan
penguasaan dalam menangani penyakit goiter. Makalah ini diharapkan dapat
membantu mahasiswa dalam memahami penyakit goiter.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana definisi Goiter?
b. Apa etiologi Goiter?
c. Bagaimana manifestasi klinis Goiter?
d. Bagaimana patofisiologi Goiter?
e. Bagaimana pemeriksaan diagnostik Goiter?
f. Bagaimana penatalaksanaan Goiter?
g. Bagaimana prognosis Goiter?
h. Bagaimana asuhan keperawatan pada Goiter?
i. Bagaimana web of cause Goiter?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

Setelah

pembelajaran

diharapkan

angkatan

2009

mampu

memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan GOITER secara


cepat, tepat, dan cermat.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi Goiter.
b. Mengetahui etiologi Goiter.
c. Mengetahui manifestasi klinis Goiter.
d. Mengetahui pemeriksaan diagnostik Goiter.
e. Mengetahui komplikasi lipid pada Goiter.
f. Mengetahui penatalaksanaan Goiter.
g. Mengetahui prognosis Goiter.
h. Mengetahui asuhan keperawatan pada Goiter.
i. Mengetahui web of cause Goiter.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat
terjadi pada kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan
hormon tiroid (hipotiroidisme) atau kelebihan produksi hormon
(hipetiroidisme). Terlihat pembengkakan atau benjolan besar pada leher
sebelah depan (pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar
tiroid yang tidak normal. (Rahza, 2010)
Kelenjar tiroid yang membesar disebut goiter. Goiter dapat menyertai hipo
maupun hiperfungsi tiroid. Bila secara klinik tidak ada tanda-tanda khas,
disebut giter non-toksik. (Tambayong, 2000)
Gondok adalah suatu pembengkakan pada kelenjar tiroid yang abnormal
dan penyebabnya bisa bermacam-macam, dimana kelenjar tiroid diperlukan
untuk memproduksi hormon tiroid yang berfungsi mengontrol metabolisme
tubuh, keseimbangan tubuh dan pertumbuhan perkembangan yang normal.
2.2 Etiologi
1. Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang
komponen spesifik pada jaringan tersebut).
Tiroiditis Hasimotos. Ini adalah kondisi autoimun di mana terdapat
kerusakan kelenjar tiroid oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Sebagai
kelenjar menjadi lebih rusak, kurang mampu membuat persediaan yang
memadai hormon tiroid.
Penyakit Graves. Sistem kekebalan menghasilkan satu protein, yang
disebut tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI
merangsang kelenjar tiroid untuk memperbesar memproduksi sebuah
gondok.
2. Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.
3. Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid berkurang dan
menyebabkan pembengkakan.
Yodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang
nantinya akan diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacammacam kelenjar. Kelenjar tersebut diantaranya:
a. Choroid
b. Ciliary body
c. Kelenjar mammae
d. Plasenta
e. Kelenjar air ludah
f. Mukosa lambung
g. Intenstinum tenue
h. Kelenjar gondok
Sebagian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjar gondok. Jika
kadar yodium di dalam kelenjar gondok kurang, dipastikan seseorang akan
mengidap penyakit gondok.
4. Peningkatan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) sebagai akibat dari
kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar tiroid
3

5. Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid,
Tiroiditis. Peradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat mengakibatkan
pembesaran kelenjar tiroid.
6. Beberapa disebabkan oleh tumor (Baik dan jinak tumor kanker)
Multinodular Gondok. Individu dengan gangguan ini memiliki satu atau lebih
nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan pembesaran. Hal ini sering
terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan pemeriksaan fisik. Pasien dapat
hadir dengan nodul tunggal yang besar dengan nodul kecil di kelenjar, atau
mungkin tampil sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi.

Kanker Tiroid. Thyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun


kurang dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul
bukan merupakan resiko terhadap kanker.
7. Kehamilan
Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu gonadotropin dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.
2.3 Klasifikasi
1. Goiter kongenital
Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar
dan sering terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.
2. Goiter endemik dan kretinisme
Biasa terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat,
dekompensasi dan hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik
ini jarang terjadi pada populasi yang tinggal disepanjang laut.
3. Goiter sporadis
Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang
terjadi lazim pada saudara kandung, dimulai pada awal kehidupan dan
kemungkinan bersama dengan hipertiroidisme yang merupakan petunjuk
penting untuk diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :
a. Goiter yodium
Goiter akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara
difus, dan pada beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.
b. Goiter sederhana (Goiter kollot)
Yang tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid tampak
normal atau menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan epitel
pipih.
c. Goiter multinodular
Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak
nodulus yang dapat diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan
kistik dan fibrosis.
4. Goiter intratrakea
Tiroid intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut
dengan tiroid ekstratrakea yang terletak secara normal.

Klasifikasi Goiter menurut WHO :


4

1. Stadium O A
2.
3. Stadium I
terekstensi penuh.
4. Stadium II
5.

: tidak ada goiter.


Stadium O B
: goiter terdeteksi dari palpasi
tetapi tidak terlihat walaupun leher terekstensi
penuh.
: goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher
: goiter terlihat pada leher dalam Potersi.
Stadium III : goiter yang besar terlihat dari
Darun.

2.4 Manifestasi Klinis


Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten
terhadap terapi digitalis. Penderita dapat pula memperlihatkan bukti-bukti
penurunan berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan
goiter multi nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan
pembesaran tiroid difus pada pasien penyakit Graves. (Sadler et al, 1999)
Penderita goiter nodular toksik mungkin memperlihatkan tanda-tanda mata
(melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan mata berkurang) akibat aktivitas simpatis
yang berlebihan. Meskipun demikian, tidak ada manifestasi dramatis oftalmopati
infiltrat seperti yang terlihat pada penyakit Graves (Price dan Wilson, 1994). Gejala
disfagia dan sesak napas mungkin dapat timbul. Beberapa goiter terletak di
retrosternal (Sadler et al, 1999)

Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan


kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya
yang dengan struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu
penekanan pada esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer, 1996).
Gejala penekanan ini data juga oleh tiroiditis kronis karena konsistensinya
yang keras (Tim penyusun, 1994). Biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali
bila timbul perdarahan di dalam nodul (Noer, 1996).
Keganasan tiroid yang infiltrasi nervus rekurens menyebabkan terjadinya
suara parau (Tim penyusun, 1994). Kadang-kadang penderita datang dengan
karena adanya benjolan pada leher sebelah lateral atas yang ternyata adalah
metastase karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening, sedangkan tumor
primernya sendiri ukurannya masih kecil. Atau penderita datang karena
benjolan di kepala yang ternyata suatu metastase karsinoma tiroid pada
kranium (Tim penyusun, 1994).
2.5 Patofisiologi dan WOC
2.5.1 Patofisiologi
Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium
dari darah untuk membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat
membuat hormon tiroid cukup jika tidak memiliki cukup yodium. Oleh
karena itu, dengan defisiensi yodium individu akan menjadi hipotiroid.
Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu rendah dan mengirim sinyal ke
tiroid. Sinyal ini disebut thyroid stimulating hormone (TSH). Seperti
namanya, hormon ini merangsang tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid
dan tumbuh dalam ukuran yang besar Pertumbuhan abnormal dalam ukuran
menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok
5

Kelenjar tiroid dikendalikan oleh thyroid stimulating hormone (TSH)


yang juga dikenal sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar
hipofisis, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh hormon thyrotropin
releasing hormon (TRH) dari hipotalamus. Thyrotropin bekerja pada
reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid. Serum hormon tiroid
levothyroxine dan triiodothyronine umpan balik ke hipofisis, mengatur
produksi TSH. Interferensi dengan sumbu ini TRH hormon tiroid TSH
menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar tiroid. Stimulasi dari
reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis
reseptor TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok
difus. Ketika sebuah kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas
metastasis untuk tiroid terlibat, suatu nodul tiroid dapat berkembang.
Kekurangan dalam sintesis hormon tiroid atau asupan menyebabkan
produksi TSH meningkat. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan
cellularity dan hiperplasia kelenjar tiroid dalam upaya untuk menormalkan
kadar hormon tiroid. Jika proses ini berkelanjutan, maka akan
mengakibatkan gondok. Penyebab kekurangan hormon tiroid termasuk
kesalahan bawaan sintesis hormon tiroid, defisiensi yodium, dan
goitrogens.
Gondok dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH.
Pendorong reseptor TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi
terhadap hormon tiroid hipofisis, adenoma kelenjar hipofisis hipotalamus
atau, dan tumor memproduksi human chorionic gonadotropin.
Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam
tubuh, hiposekresi TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan
sekresi hormone tiroid), gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta factor
pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi
hormone tiroid. Bila kadar kadar hormone tiroid kurang maka akan
terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas
kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran (hipertrofi).
Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid
yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di
bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus.
Goiter dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus
dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan
berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan
elektrolit. Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi
serak atau parau.
Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar
dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
Tentu dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. Perubahan bentuk
leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien. (Rahza, 2010)

2.5.2

WOC

Defisinsi yodium

Tiroiditis Hasimotos

Kanker Tiroid

Penyakit Graves

Multinodular
gondok

Kehamilan

Tiroiditis

Kondisi Autoimun
Peradangan

Gangguan hormon

Hiperplasi sel

Hiperplasi sel

Banyak nodul

Menghasilkan
TSI

Kerusakan kel. Tiroid

Produksi
Hormon

Hiperplasi sel
Inflamasi

Merangsang kel.
Tiroid

Metastasis
Hormon

Hipotiroid

Nodul Berkembang
Sinyal ke TSH

Hipertiroid

TSH

Pembesaran kel
Tiroid

Hiperplasi
kelenjar tiroid

Menekan
Esofagus
Disfagia

Nutrisi kurang
dari kebutuhan

GOITER
Menekan Trakea

Pembesaran
tampak diluar

Sesak, kesulitan bernafas


Mengganggu penampilan
Pola Nafas
Tidak efektif

Gangguan citra
tubuh

2.6 Penatalaksanaan
Perawatan yang diberikan akan tergantung pada penyebab gondok seperti
yang sudah disebutkan di etiologi :
1. Defisiensi Yodium
Gondok disebabkan kekurangan yodium dalam makanan maka akan
diberikan suplementasi yodium melalui mulut. Hal ini akan menyebabkan
penurunan ukuran gondok, tapi sering gondok tidak akan benar-benar
menyelesaikan.
2. Hashimoto Tiroiditis
Jika gondok disebabkan Hashimoto tiroiditis dan hipotiroid, maka akan
diberikan suplemen hormon tiroid sebagai pil setiap hari. Perawatan ini
akan mengembalikan tingkat hormon tiroid normal, tetapi biasanya tidak
membuat gondok benar-benar hilang. Walaupun gondok juga bisa lebih
kecil, kadang-kadang ada terlalu banyak bekas luka di kelenjar yang
memungkinkan untuk mendapatkan gondok yang jauh lebih kecil. Namun,
pengobatan hormon tiroid biasanya akan mencegah bertambah besar.
3. Hipertiroidisme
Jika gondok karena hipertiroidisme, perawatan akan tergantung pada
penyebab hipertiroidisme. Untuk beberapa penyebab hipertiroidisme,
perawatan dapat menyebabkan hilangnya gondok. Misalnya, pengobatan
penyakit Graves dengan yodium radioaktif biasanya menyebabkan
penurunan atau hilangnya gondok.
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon
tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau
merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).
1. Obat antitiroid
Indikasi :
a. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang
menetap, pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang
dan tirotoksikosis.
b. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum
pengobatan, atau sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat
yodium aktif.
c. Persiapan tiroidektomi
d. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
e. Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Karbimazol
30-60
5-20
Metimazol
30-60
5-20
Propiltourasil 300-600
5-200
2. Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasi :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Hipertiroidisme yang kambuh
c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
d. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
8

3. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons
terhadap obat antitiroid.
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat
antitiroid dosis besar
c. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima
yodium radioaktif
d. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik
e. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih
nodul
f. Multinodular
Banyak gondok, seperti gondok multinodular, terkait dengan
tingkat normal hormon tiroid dalam darah. Gondok ini biasanya
tidak memerlukan perawatan khusus setelah dibuat diagnosa yang
tepat.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Pengumpulan data
Anamnese didapat :
a. Identifikasi klien.
b. Keluhan utama klien
Pada klien hipothyroid keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah
adanya benjolan pada leher bagian depan.
c. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin
membesar sehingga mengakibatkan sulit menelan dan terganggunya
pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan
operasi.
d. Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan
penyakit gondok, misalnya kekurangan yodium (gondok endemik), pernah
menderita gondok lebih dari satu kali , tetangga atau penduduk sekitar
berpenyakit gondok. Selain itu juga ditanyakan riwayat tiroiditis limfositik
menahun, paparan bahan-bahan goitrogen (yodium, tiourasil, dsb), post
op tiroidektomi, dan hipopituitarisme.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama
dengan klien saat ini.
f. Riwayat psikososial
Akibat dari pembesaran nodul kelenjar tiroid yang menyebabkan daerah
leher klien terlihat benjolan yang besar, sehingga ada kemungkinan klien
merasa malu dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
a. B1 (Breath)
1) Pernapasan lambat
2) suara parau dan kasar.
3) sesak
b. B2 (Blood)
1) Nadi lambat
2) Tekanan darah turun
3) RR lambat
4) Suhu rendah
c. B3 (Bladder) : Poliuri
d. B4 (Brain)
1) Komposmentis
2) Gangguan koordinasi
e. B5 (Bowel)
1) Konstipasi
2) Disphagia
f. B6 (Bone)
1) Kelemahan otot
2) Parasthesia jari jari tangan
3) Kelelahan dan atrofi otot
10

3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan penunjang
1) Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
2) Kadar T3, T4
3) Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11Darah rutin
4) Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal
antara 10s/d +15
5) Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma
meduler).
b. Pemeriksaan radiologis
1) Dilakukan foto thorak posterior anterior
2) Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu
technig .
3) Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke esophagus.
3.2 Analisis Data

Data
DS : Pasien mengeluh sesak
DO:
Penggunaan otot bantu
nafas
- Pasien gelisah
- RR > 20x menit
- Ekspansi dada asimetsis

DS:
-

Pasien merasa sakit


ketika menelan
Pasien tidak nafsu
makan

DO :
A : BB Turun
B : Albumin < 3,5 g/dL
C : Pasien lemah
D : Porsi makan tidak habis
DS :
- Pasien merasa malu
DO :
DS :

Tampak pembesaran
pada leher depan

Etiologi
Defisiensi yodium

Hipotiroid

TSH terstimulasi

Hiperplasi kelenjar tiroid

Pembesaran kelenjar tiroid

Trakea tertekan
Defisiensi yodium

Hipotiroid

TSH terstimulasi

Hiperplasi kelenjar tiroid

Pembesaran kelenjar tiroid

Esofagus tertekan
Goiter

Pembesaran kelenjar tiroid

Pembesaran pada leher

Gangguan citra tubuh


Goiter

Masalah
keperawatan
Pola nafas inefektif

Nutrisi Kurang dari


Kebutuhan

Ggn Citra Tubuh

Kurang pengetahuan
11

Pasien
dengan
dirinya

bingung
keadaan

Kurang informasi

DO : 3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan
pada leher, penekanan trakhea.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya
penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak
efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber
informasi.
3.4 Intervensi
1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan
pada leher, penekanan trakhea.
Tujuan
: Menunjukkan pola nafas yang efektif
Kriteria Hasil : Dalam 3x 24 jam, pasien
RR= 16-20x/ menit
Kedalaman inspirasi dan kedalaman bernafas
Ekspansi dada simetris
Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
No
1
2
3
4

Intervensi
Pantau frekwensi pernafasan ,
kedalaman, dan kerja pernafasan
Waspadakan klien agar leher
tidak tertekuk/posisikan semi
ekstensi atau eksensi pada saat
beristirahat
Ajari klien latihan nafas dalam
Persiapkan operasi bila
diperlukan.

Rasional
Untuk mengetahui adanya
gangguan pernafasan pada pasien
Menghindari penekanan pada jalan
nafas untuk meminimalkan
penyempitan jalan nafas
Untuk menstabilkan pola nafas
Operasi diperlukan untuk
memperbaiki kondisi pasien

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya


penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.
Tujuan
: Menunjukkan status gizi pasien yang adekuat
Kriteria Hasil : dalam 3x24 jam, pasien menunjukkan
BB normal
Albumin normal 3,5-5 mg/dL
Peningkatan nafsu makan

12

No

Intervensi

Kaji adanya kesulitan menelan,


selera makan, kelemahan umum
dan munculnya mual dan
muntah.

4
5

3.

Pantau masukan makanan setiap


hari dan timbang berat bada
setiap hari serta laporkan adanya
penurunan.
Dorong klien untuk makan dan
meningkatkan jumlah makan dan
juga beri makanan lunak, dengan
menggunakan makanan tinggi
kalori yang mudah dicerna.
Beri/tawarkan makanan
kesukaan klien.
Kolaborasi : konsultasikan
dengan ahli gizi untuk
memberikan diet tinggi kalori,
protein, karbohidrat dan vitamin.

Rasional
kesulitan menelan, selera makan,
kelemahan umum dan munculnya
mual dan muntah adalah factor
yang menentukan asupan makan
pasien
Mengetahui status nutrisi pasien

Mempermudah pasien menelan


makanan
Meningkatkan nafsu makan pasien
Mencukupi nutrisi sesuai yang
dibutuhkan pasien

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan tidak efektifnya coping


individu, adanya pembesaran pada leher
Tujuan
: menunjukkan peningkatan harga diri
Kriteria Hasil : Dalam 3x24 jam, pasien menunjukkan
Penerimaan diri secara verbal
Mengerti akan kekuatan diri
Melakukan perilaku yang dapat meningkatkan rasa
percaya diri
No
1
2

Intervensi
Pantau tingkat perubahan
rentang harga diri rendah
Pastikan tujuan tindakan yang
kita lakukan adalah realistis
Sampaikan hal-hal yang positif
secara mutlak untuk klien,
tingkatkan pemahaman tentang
penerimaan anda pada pasien
sebagai seorang individu yang
berharga.
Diskusikan masa depan klien,
bantu klien dalam menetapkan
tujuan-tujuan jangka pendek dan
panjang.

Rasional
Mengetahui kopping individu
pasien
Meningkatkan hubungan saling
percaya dengan pasien

Meningkatkan harga diri pasien

Membantu klien menentukan masa


depan yang diinginkan
13

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber


informasi.
Tujuan
: Menunjukkan peningkatan pengetahuan klien
Kriteria Hasil : Dalam 2x24 jam, pasien
Mengikuti pengobatan yang disarankan
Peningkatan pengetahuan pasien
Dapat menghindari sumber stress
No
1

Intervensi
Berikan informasi yang tepat
dengan keadaan individu
Identifikasi sumber stress dan
diskusikan faktor pencetus krisis
tiroid yang terjadi, seperti
orang/sosial, pekerjaan, infeksi,
kehamilan
Berikan informasi tentang tanda
dan gejala dari penyakit gondok
serta penyebabnya
Diskusikan mengenai terapi
obat-obatan termasuk juga
ketaatan terhadap pengobatan
dan tujuan terapi serta efek
samping obat tersebut

Rasional
Meningkatkan pengetahuan pasien
Agar pasien bisa menghindari
sumber stress
Dapat mengidentifikasi gejala awal
dari gondok
Pasien bisa mengikuti terapi yang
disarankan

14

BAB 4
PENUTUP
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat
terjadi pada kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan
hormon

tiroid

(hipotiroidisme)

atau

kelebihan

produksi

hormon

(hipetiroidisme). Terlihat pembengkakan atau benjolan besar pada leher


sebelah depan (pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar
tiroid yang tidak normal.
Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten
terhadap terapi digitalis. Penderita dapat pula memperlihatkan bukti-bukti
penurunan berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan
goiter multi nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan
pembesaran tiroid difus pada pasien penyakit Graves.

DAFTAR PUSTAKA
Chalampa,

Bams.

2010.

Askep

pada

Penyakit

Goiter.

Disitasi

dari

http://bamschalampa-askep.blogspot.com/2010/10/asuhan-keperawatanpada-penyakit-goiter.html. pada tanggal 18 April 2010.

15

Rahza,

Putri.

2010.

Patofisiologi

Goiter

Gondok.

Disitasi

dari

http://putrisayangbunda.blog.com/2010/08/29/patofisiologi-goiter-gondok.html.
pada tanggal 19 April 2010

Santoso,

Agung.

2009.

Asuhan

Keperawatan

Pasien

Struma.

Disitasi

dari

http://nersgoeng.blogspot.com/2009/05/asuhan-keperawatan-pasien-struma.html.
pada tanggal 19 April 2010

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta:EGC.


Wilkinson, Judith. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:EGC.

16