Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang


sulit dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu.
Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus
maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.
Sinus maksila berbentuk piramid. Dinding anterior sinus adalah
permukaan

fasial

os

maksila

yang

disebut

fossa

canina,

dinding

posteriornya adalah permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya


adalah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar
orbita, dan dinding inferiornya adalah prosesus alveolaris dan palatum.
Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan
bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.
Caldwell-Luc

adalah

fenestration

dinding

anterior

dari

sinus

maksilaris dan drainase sinus ini ke dalam hidung melalui antrostomy.


Prosedur ini pertama kali dijelaskan oleh George Caldwell pada tahun
1893.
Empat tahun kemudian Henri Luc Paris menggambarkan operasi
yang sama, dan prosedur ini sekarang disebut sebagai Caldwell-Luc.
Selama delapan puluh tahun berikutnya, prosedur ini menjadi "operasi
pilihan" dari banyak operasi sinus. Caldwel Luc (CWL) adalah operasi
membuka salah satu dinding sinus dengan membuka fossa kanina.

Indikasi operasi CWL adalah: sinusitis maksilaris dengan kerusakan


mukosa irreversible yang gagal diterapi dengan terapi konservatif, untuk
revisi operasi sinus yang gagal, pada keragu-raguan sinusitis berulang,
untuk evakuasi polip antrokoanal, sinusitis maksilaris dari infeksi gigi,
rhinitis alergi dengan polip bilateral kronik yang disertai opersi intranasal,
fistula antro-alveolar, biopsy sinus maksilaris dan pengangkatan kista
antrum.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi
Caldwell-Luc

adalah

fenestration

dinding

anterior

dari

sinus

maksilaris dan drainase sinus ini ke dalam hidung melalui antrostomy.


Prosedur ini pertama kali dijelaskan oleh George Caldwell pada tahun
1893.
Empat tahun kemudian Henri Luc Paris menggambarkan operasi
yang sama, dan prosedur ini sekarang disebut sebagai Caldwell-Luc.
Selama delapan puluh tahun berikutnya, prosedur ini menjadi "operasi
pilihan" dari banyak operasi sinus. Caldwel Luc (CWL) adalah operasi
membuka salah satu dinding sinus dengan membuka fossa kanina.
Operasi CWL adalah operasi pada sinus maksilaris melalui mulut
dengan insisi mukosa bukal pada regio kaninus maksila, mengeluarkan
mukosa yang sakit dan membuat lubang antrostomi di meatus nasi
2

inferior. Pada operasi CWL pasien dilakukan anestesi umum dan anestesi
topical pada meatus inferior, meatus media dan infiltrasi pada daerah
insisi. Infiltrasi dilakukan dengan xylocain 2 % dengan adrenalin 1 :
100.000 untuk membantu hemostasis dan suplemen anestesi. Insisi
dilakukan pada 3 mm diatas sulkus ginggivo bucal, panjang irisan antara
gigi kaninus sampai tepi molar pertama.
Pada operasi ini perlu tidaknya evakuasi lesi patologis atau
membrana mukosa tergantung dari filosofi operator, yaitu radikal atau
konservatif.
Beberapa penulis berpendapat operasi CWL untuk mengeluarkan
mukosa sinus yang irreversibel, tetapi ada yang tidak memperdulikan
status mukosa dan mukosa harus diangkat secara radikal, meskipun
pengalaman

menunjukkan

bahwa

drainage

yang

adekuat

akan

menyembuhkan penyakit tanpa perlu pengangkatan mukosa antrum.


Pada anak penggunaan metode CWL dihindari, bila digunakan CWL tidak
mengangkat lapisan mukosa sinus seluruhnya karena secara fisiologis
lapisan ini penting untuk membersihkan bakteri dan membersihkan
sekresi sinus, selain itu pada anak mukosa jarang yang berubah
irreversibel. Setelah jaringan yang sakit diangkat dibuat lubang antrostomi
pada meatus inferior, dilakukan pemasangan tampon di sinus maksilaris
dengan ujung tampon keluar melalui lubang antrostomi di meatus inferior.
Juga dilakukan tampon pada lubang hidung sisi yang dilakukan operasi.
Luka insisi pada mukosa bukal dijahit dan pada hidung dipasang kasa
yang menutup lubang hidung.

Operasi CWL sebaiknya dihindari pada anak kecil dan jarang


diindikasikan pada anak karena risiko terjadinya gangguan pertumbuhan
gigi, yaitu paling sering pada premolar 2. Bila dilakukan operasi CWL pada
anak lubang CWL setinggi mungkin dan harus mempertimbangkan bahwa
akar gigi kurang lebih dua kali tinggi dari mahkota gigi.

2.2.

Indikasi :
Tumor jinak pada sinus maksilaris
Empyema kronik yang resisten terhadap pengobatan konservatif
Fraktur maxila yang kompleks
Sinusitis maksilaris dengan kerusakan mukosa irreversible yang

gagal diterapi dengan terapi konservatif


revisi operasi sinus yang gagal
pada keragu-raguan sinusitis berulang
evakuasi polip antrokoanal
inusitis maksilaris dari infeksi gigi
rhinitis alergi dengan polip bilateral kronik yang disertai opersi

intranasal
fistula antro-alveolar
biopsy sinus maksilaris
pengangkatan kista antrum.
Prosedur ini seharusnya dihindari jika curiga pada lesi keganasan,

lebih baik menggunakan aspirasi jaru pada meastus inferior atau


menggunakan intranasal antrostomy dengan curetage.

2.3. Anastesi
Caldwell - Luc dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau umum
tergantung

pada

konsisi

pasien,

kesehatan,

usia

pasien

dan

pengalaman dokter bedah, dan kompleksitas prosedur yang diusulkan .


Anestesi lokal dengan epinefrin harus disuntikkan ke dalam jaringan
lunak di atas sinus maksilaris. Tunggu beberapa menit sebelum
memulai operasi untuk mendapatkan efek anestesi yang baik dan
vasokonstriksi pembuluh darah .

2.4. Teknik operasi

A. Dalam sulkus gingivobuccal (caninus fossa), di atas soket gigi, insisi


dibuat melalui mukosa dan periosteum beberapa sentimeter dari garis
tengah. Mukosa yang disisakan cukup untuk penutupan.

B.

Periosteum

diangkat.

Otot-otot

wajah

di

diseksi

tajam

untuk

membebaskan otot dari dinding anterior antrum

C. Eksposur tersebut dilakukan atas ke satu titik saja di bawah batas


infraorbital, dimana saraf infraorbital diidentifikasi dan di preservasi
dengan hati-hati. Dengan menggunakan osteotome atau bor, dinding
anterior antrum dibuka. Pembukaan ini harus jauh di atas soket gigi dan di
atas lantai antrum. Semua fragmen patah tulang dibuang

D. Dengan Kerrison forceps, lubang diperbesar ke ukuran yang diinginkan


untuk memungkinkan eksplorasi.

E. Pengangkatan tumor jinak dan kista dilakukan dengan memegang tang


dan scissors. Jangan terlalu banyaj melukai mukosa, namun, semua
penyakit yang ada di mukosa harus diambil

F. Biasanya setelah selesai dilakukan, antrostomy intranasal bawah konka


inferior dilakukan untuk dengan tujuan drainase
Setelah menyelesaikan pengangkatan tumor atau prosedur lain yang
membutuhkan Caldwell - Luc, sebaiknya pembukaan akses ke dalam
cavum nasi secara rutin dilakukan. Antrostomy ini dimaksudkan untuk
mengeringkan sinus maksilaris dari darah pasca operasi atau untuk
memberikan akses dari sinus ke cavum nasi untuk jangka panjang.

G. Antrostomy intranasal ini dapat diperbesar melalui pada saat operasi


menggunakan bone tang, tergantung pada tujuan dari operasi

J. Flap mukosa pada lubang dinding anterior adalah di jahit secara simple
interupted atau kontinu dengan benang nilon 4-0 atau benang diserap.

2.5.

Per

awatan pasca operasi CWL


Pada seluruh pasien yang dilakukan operasi harus dilakukan
pengawasan

atau monitor tanda vital. Pada 24 jam pertama setelah

operasi dilakukan observasi adanya perdarahan, gangguan pernafasan


dan oedem. Pasien disuruh menambah jumlah minum agar menjaga
sekresi tetap basah.
Meskipun operasi sinus relatif minor pasien mengeluh tidak enak
pada luka insisi, jika pasien dilakukan pemasangan tampon ini akan
menambah berat keluhan tersebut. Sehingga memerlukan intervensi
perawatan rasional meliputi:

10

Menilai keluhan nyeri menggunakan skor 0-10. Memberikan


analgetik

jika

diperlukan,

tetapi

biasanya

analgetik

selalu

diberikan. Penurunan nyeri menimbulkan perasaan yang baik dan


membantu proses penyembuhan.

Mengkompres es pada hidung. Kompres dingin selain mengurangi


pembengkakan

dan

menghentikan

perdarahan

dapat

menimbulkan analgesia lokal.

Posisi tidur dengan kepala lebih tinggi sampai posisi Flower atau
Flower tinggi pada 24 sampai 48 jam pasca operasi. Posisi kepala
seperti ini menurunkan pembengkakan dan mengurangi rasa
nyeri. Selain itu posisi kepala ini menimbulkan gerakan kepala
yang optimal.

Kassa penutup pada hidung dapat menyerap cairan yang keluar dari
hidung atau sinus sehingga cairan tidak perlu dihisap. Kassa tersebut
dapat diganti tergantung keadaan atau kebijaksanaan yang merawat
pasien. Dapat dilakukan pemasangan dressing dengan penekanan dari
luar diatas maksila yang dipasang selama 24-36 jam untuk menurunkan
kejadian bengkak pada pipi. Perdarahan dari hidung diharapkan berkurang
atau minimal pada 24-48 jam pasca operasi.
Perasaan berbau, nafsu makan menurun dapat terjadi karena
adanya tampon pada hidung. Pasien juga merasakan nafasnya tersumbat
pada

saat

makan.

Selain

itu

pasien

dapat

mengalami

gangguan

mengunyah pada sisi yang dioperasi juga pasien tidak boleh mengunyah

11

sampai luka insisi sembuh. Makanan cair diberikan pada 24 jam pertama
kemudian diikuti diet lunak.
Intervensi perawatan rasional meliputi:

Memberikan diet cair yang diteruskan diet lunak. Diet


tambahan yang tinggi kalori dapat diberikan. Perpindahan ke
diet lunak dilakukan sesuai kemampuan menelan dengan
tanpa disertai adanya rasa nafas tersumbat saat menelan.
Makanan tinggi kalori dan nilai gizi akan bermanfaat untuk
proses metabolik dan proses penyembuhan.

Dilakukan monitoring intake dan output seperti berat badan


harian. Informasi ini juga penting untuk balance cairan.
Monitor berat badan ini juga sebagai indikator adekuat
tidaknya intake makanan.

Pada saat menelan pasien disuruh mengangkat kepala. Posisi


ini memudahkan proses menelan dan mengurangi risiko
terjadinya aspirasi.

Follow up pasien dilakukan terhadap:

Gangguan pembersihan jalan nafas karena operasi, karena


radang dan karena tampon hidung.

Risiko infeksi yang berhubungan dengan operasi

Gangguan tidur yang disebabkan karena nyeri dan gangguan


pernafasan, sehingga posisi tidur dengan kepala lebih tinggi dari badan
untuk meminimalkan keluahn.

12

Tampon hidung biasanya diangkat pada pagi hari setelah operasi


sedangkan tampon sinus dipertahankan pada 36-72 jam. Pada saat
sebelum pengangkatan tampon pemberian analgetik dapat diberikan
untuk mengurangi rasa nyeri.
Selama 2 minggu setelah pengangkatan tampon

pasien harus

menghindari manuver valsava (tidak boleh meniupudara lewat hidung,


batuk, atau membuang ingus keras). Untuk mengatasi masalah ini pasien
disuruh menghisap ke arah tenggorok dan meludahkan tanpa meniup.
Pasien diajarkan cara bersin hanya lewat mulut. Pasien juga diperintahkan
untuk meminimalkan kegiatan fisik dan kerja berat, mengangkat berat,
tegang selama kurang lebih 2 minggu.
Pasien

dianjurkan

untuk

menjaga

luka

insisi

bersih

dengan

menggunakan lidahnya. Benamg jahitan dapat diangkat setelah hari ke


tujuh atau kesepuluh. Pasien yang memakai gigi palsu saat operasi
dilepas dan dapat dipasang kembali setelah operasi selesai. Larutan NaCl
spray dapat diberikan mulai 3 sampai 5 hari pasca operasi untuk
membasahi mukosa hidung. Untuk memperlancar regenerasi mukosa
setiap pasien dilakukan bilas antrum dengan larutan NaCl setiap hari dan
untuk membersihkan pus, darah, dan krusta pada awal pasca operasi
selama periode 1 minggu.
Pada pasien pasca operasi sinusitis maksilaris kronis karena
pseudomonas aeruginosa untuk memperlancar regenerasi dilakukan
irigasi pada sinus setiap hari dengan NaCl fisiologis bahkan dianjurkan 2
kali sehari untuk membersihkan pus, darah, dan krusta selama seminggu
13

setelah operasi, dilanjutkan irigasi setiap minggu sekali selama 4 6


minggu. Penghentian irigasi berpedoman pada 2 hasil irigasi sebelumnya
yang menunjukkan hasil jernih tidak didapatkan pus dan debris.
Pada sinusitis maksilaris kronis karena pseudomonas aeruginosa,
untuk menurunkan jumlah bakteri yang berada di sinus dan hidung
diberikan tetes hidung gentamisisn sulfat pada sisi hidung yang terkena
infeksi 3 kali sehari. Ini dimulai setelah tampon dicabut dan diteruskan
dirumah. Pemberian tetes ini dihentikan bersamaan dengan dihentikannya
irigasi antrum. Pemberian aminoglikosida sistemik diindikasikan pada
pasien ini.
Pada setelah operasi pasien dapat mengeluh merasakan anestesia atau
mati rasa pada bibir atas dan gigi, keluhan ini dapat dirasakan sampai
beberapa bulan setelah operasi. Keadaan ini disebabkan karena beberapa
saraf sensoris terpotong saat operasi. Gangguan sensitivitas saraf yang
terjadi pada periode waktu 12-15 bulan, meliputi: anestesi pada bibir, gigi
atau gusi atas, hipo/parestesia pada wajah, nyeri pada muka bagian
tengah, pipi terasa tertekan/ tidak nyaman, tidak nyaman di pipi
tergantung perubahan musim, devitalisasi gigi. Trigeminal neuralgia atau
tic doulourex gangguan saraf yang berupa rasa sakit pada wajah yang
bersifat tajam, paroksismal dan berulang. Operasi CWL mempunyai
lapangan operasi yang lebih kuas, tetapi potensi kerusakan gigi dan
mortalitasnya besar. Pada anak kegagalan perkembangan gigi dapat
bermanifestasi

kematian gigi permanen. Komplikasi CWL yang jarang

14

terjadi meliputi fistula oroantral, empiema, osteomielitis dan perluasan


infeksi dapat menyebabkan celulitis orbita.

2.6.

Komplikasi:
Trauma pada nervus infra orbita
Trauma pada akar gigi
Trauma pada dasar orbita
Hypoestesi atau parasestesi dari pipi
Emfysema subkutis
Trauma pada nervus alveolar superior dan socket gigi
Oedem berkepanjangan
Yang penting adalah karena gigi dapat devitalized jika suplai darah

atau saraf yang terluka oleh fenestration tersebut dan semakin besar
fenestration semakin besar kemungkinan jaringan lunak wajah akan
runtuh pasca- bedah ke dalam sinus maksilaris. Komplikasi potensial
ketiga adalah cedera pada saraf infraorbital . Saraf ini berada dalam atap
sinus maksilaris untuk memberikan sensasi ke daerah wajah pertengahan
dan gigi . Selama fenestration saraf dapat terluka secara langsung atau
diregangkan meninggalkan pasien dengan mati rasa sementara atau
permanen

Daftar Pustaka

15

1. Lore., Medina., Caldell-Luc Antrotomy :Atlas of Head and Neck Surgery


4th edition 2005; 217-9
2. Steven Schaefer, Caldwell-Luc
avalaible

at

di

Procedure:

Operative

Technique

https://www.nyee.edu/ent_rss_sts_caldluc02.html,

diakses March 1st 2014


3. Pattel A, Surgical Treatment of Chronic Maxillary Sinusitis Surgical
Overview avalaible at http://emedicine.medscape.com/article/861886overview, diakses March 1st 2014
4. Netter,
Caldwell
Luck

Surgey,

http://www.netterimages.com/image/11784.htm,

avalaible
diakses

March

at
1st

2014
5. Kuhuwael FG, Gosad ID, Setiaji R.1995. Uji klinik tenoxicam terhadap
oedema pipi pasca operasi CWL pada beberapa rumah sakit di Ujung
Pandang. Dalam : Loson K. Kumpulan naskah Kongres Nasional XI
Perhati Yogyakarta, 5: 279-292.
6. Montgomery W, Singer M, Hamaker R. 1993. Terapi bedah pada infeksi
sinus. Dalam: Terjemahan penyakit telinga hidung tenggorok dan
kepala leher. Ballenger JJ Disease of the nose, throat, ear head and
neck 13th ed. 254-274.
7. Black JM, Matassarin-Jacobs E. 1997. Nursing management for
continuity of care. 4 ed. Philadelpia: WB Saunders Company. 10771079.
8. LeMine P, Burke KM. 1996. Medical surgical nursing. Critical thinking in
client care. 2 nd ed. California: The Benjamin/Cummings Publishing
Company. 1337-1340.

16

9. Bell RD, Stone HE. 1976. Conservative surgical procedures in the


inflammatory Disease of the maxillary sinus. Symposium on the
maxillary sinusitis. Dalam : Noyek AM The otolaryngology clinics of
North America. WB Saunders Company, Philadelphia 9: 175-186.
10.

Goodman WS. 1976. The Caldwell-Luc procedure. Symposium on the

maxillary sinusitis. Dalam : Noyek AM The otolaryngology clinics of


North America. WB Saunders Company, Philadelphia 9: 187-195.

17