Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN
Jenis reservoar silisiklastik merupakan reservoar yang sangat penting dan paling banyak
dijumpai di Indonesia. Jenis litologi pada reservoar silisiklastik sangat penting untuk diketahui
dan umumnya batupasir merupakan reservoar yang paling banyak menyimpan hidrokarbon.
Batuan sedimen silisiklastik (atau sering disebut klastik) tersusun oleh butiran-butiran
yang berasal dari transportasi dan pengendapan batuan yang telah ada sebelumnya (pre-existing
rocks) dalam suatu lingkungan pengendapan dan berasal dari material anorganik yakni mineralmineral silisiklastik (silica) yang terdiri dari grain, matrix dan semen.
Kualitas suatu reservoar silisiklastik dikontrol oleh beberapa hal, antara lain porositas
(pada silisiklastik adalah intergranular porosity) dan permeabilitas serta geometri dimana faktorfaktor tersebut dikontrol oleh proses sedimentasi dan lingkungan pengendapan.

II.

ISI
1. Faktor Pengontrol Kualitas Reservoar Silisiklastik
Suatu reservoar yang baik tentunya akan memiliki nilai porositas (storage capacity) dan
permeabilitas (produktivitas) yang besar. Porositas dan permeabilitas ditentukan dan dikontrol
oleh proses sedimentasi dan lingkungan pengendapan. Proses sedimentasi pada lingkungan
pengendapan akan menentukan bagaimana geometri, litologi, tekstur mineralogi dan struktur
sedimen. Selain itu faktor diagenesis (sangat kecil) dan proses tektonik juga berperan dalam
mengontrol kualitas reservoar.
a. Properties batuan: Porositas dan Permeabilitas
Porositas didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang pori-pori terhadap
volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu batuan akan menentukan
kapasitas penyimpanan fluida reservoar. Sedangkan permeabilitas adalah kemampuan batuan
untuk mengalirkan suatu fluida dalam media berpori dalam batuan. Permeabilitas sangat
bergantung pada bentuk dan ukuran butir, struktur pori, sementasi dan rekahan. Batuan dengan
butiran kasar dan porositas besar akan memiliki permeabilitas besar. Sedangkan batuan sedimen
berbutir halus, berpori kecil memiliki permeabilitas yang kecil.

Gambar 1. Ilustrasi tentang porositas dan permeabilitas (Slatt, 2006)

b. Pengaruh Tekstur Terhadap Pori Batuan


Pada batuan silisiklastik, nilai porositas dan permeabilitas tidak terlalu dipengaruhi oleh proses
diagenesis. Porositas dan permeabilitas lebih ditentukan dan dikontrol oleh proses sedimentasi
dan lingkungan pengendapan. Proses sedimentasi pada lingkungan pengendapan akan
menentukan bagaimana tekstur penyusun batuan silisiklastik.
Tekstur batuan silisiklastik adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan
bentuk butir serta susunannya (Pettijohn, 1975). Tekstur batuan sedimen terdiri dari ukuran butir,
sortasi, pembundaran dan kemas.

Gambar 2. Ilustrasi tentang tekstur batuan (Slatt, 2006)

Ukuran butir dari penyusun batuan sedimen akan mempengaruhi nilai porositas, dimana semakin
halus ukuran butir maka semakin besar nilai porositasnya.
Sortasi juga akan mempengaruhi nilai porositas dan permeabilitas, dimana semakin seragam
butir penyusun batuan maka nilai porositas dan permeabilitasnya akan semakin besar, dan
sebaliknya ukuran butiran tidak seragam maka butiran yang lebih kecil akan mengisi ruang
kosong diantara butiran yang lebih besar sehingga nilai porositas dan permeabilitasnya
berkurang. Sehingga bila batuan silisiklastik memiliki nilai porositas yang baik maka nilai
permeabilitasnya baik pula.

Gambar 3. Diagram kualitas suatu reservoar

c. Kompaksi dan Sementasi


Sementasi juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi porositas.
Material semen juga perlu diperhatikan karena semen akan menyegel batuan sehingga fluida
tidak dapat mengalir. Jika suatu batuan tersementasi dengan baik, maka kemungkinan besar akan
terdapat banyak pori yang tidak berhubungan. Hal ini dapat menyebabkan porositas efektif dari
batuan itu menjadi kecil, sebaliknya jika suatu batuan tidak tersementasi dengan baik,
kemungkinan besar semakin banyak pori yang terhubungkan.
Kompaksi dapat mempengaruhi harga dari porositas. Jika suatu batuan terkompaksi dengan baik
artinya semakin dalam dari permukaan, pori-pori dari batuan itu akan semakin kecil karena

butiran penyusun semakin merapat, begitu pula sebaliknya, jika kompaksi semakin rendah maka
presentasi pori akan semakin besar.

Gambar 4. Proses kompaksi dan sementasi (Slatt, 2006)

d. Geometri: Distribusi dan Analisa Fasies


Geometri suatu batuan akan mempengaruhi kualitas dari suatu reservoar. Geometri selalu akan
berhubungan dengan porositas dan permeabilitas. Geometri dari suatu reservoar harus
diperhitungkan dengan tepat dimana dapat menggambarkan distribusi fasies dengan tepat dan
benar. Geometri akan dapat menggambarkan tentang banyaknya cadangan yang bisa diambil dari
suatu reesrsvoar dengan memperhatikan analisa fasies. Geometri pada dasarnya adalah
membangun suatu model yang tepat yang akan digunakan dalam interpretasi dengan
mempertimbangkan banyak hal salah satunya adalah melakukan analisa fasies. Model geometri
tersebut selanjutnya diinterpretasi, dengan melakukan interpretasi yang benar, maka akan dapat
diketahui pelamparan dari lapisan batuan reservoar tersebut.

2. Pentingnya Penetuan Fasies Dalam Karakterisasi Reservoar


Fasies didefinisikan sebagai keseluruhan sifat fisik, kimia, biologi dari satuan batuan
yang menjadi ciri khusus pembeda dari satuan lainnya (Greesly, 1885 dalam Walker, 1992).

Fasies sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada
suatu lingkungan. Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia dan
biologi pada tempat dimana material sedimen terakumulasi. (Krumbein dan Sloss, 1963) Jadi,
lingkungan pengendapan merupakan suatu lingkungan tempat terkumpulnya material sedimen
yang dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia dan biologi yang dapat mempengaruhi karakteristik
sedimen yang dihasilkannya dimana lingkugan pengendapan tertentu akan menghasilkan fasies
tertentu yang memiliki karakter yang khas.
Dalam karakterisasi reservoar, penentuan fasies adalah parameter yang cukup penting,
karna fasies akan menentukan bagaimana geometri, jenis litologi, tektur, mineralogi dan struktur
sedimen suatu batuan. Dengan menginterpretasi dan mengelompokkan fasies tertentu, kita dapat
membuat suatu model fasies yang dapat digunakan dalam karakterisasi suatu reservoar.
Model fasies dibentuk dari suatu lapangan migas dengan mengintegrasikan data well log,
core, cutting, seismic inversi dan atribut serta data pendukung lain. Dengan menggunakan model
fasies suatu reservoar, kita dapat menentukan kelompok-kelompok fasies yang potensial ataupun
tidak potensial sebagai reservoar minyak dan gas bumi.

Gambar 5. Contoh integrasi data dalam pembuatan model reservoar (kiri) dan model fasies dari
lingkungan braided system (Walker dan Mutti, 1978) (kanan)

III. PENUTUP
Porositas dan permeabilitas menjadi parameter yang paling penting dalam penentuan
kualitas reservoar. Nilai porositas dan permeabilitas juga dipengaruhi oleh tekstur batuan,
dimana reservoar yang baik adalah yang mature, sortasi baik, well rounded grain, tidak

mengandung matrix (mud, clay), dan dikontrol oleh diagenesis (kompaksi, sementasi, disolusi,
dll), deformasi struktur, wetabilitas dan tekanan kapiler.
Penentuan fasies adalah parameter yang cukup penting dalam karakterisasi reservoar,
karna fasies akan menentukan bagaimana geometri, jenis litologi, tektur, mineralogi dan struktur
sedimen suatu batuan. Dengan menginterpretasi dan mengelompokkan fasies tertentu, kita dapat
membuat suatu model fasies yang dapat digunakan dalam karakterisasi suatu reservoar.

DAFTAR PUSTAKA

Pettijohn, F.J. 1975. Sedimentary rock. Halper and R Brother. NY


Slatt, Roger M., 2006, Stratigraphic Reservoir Characterizationfor Petroleum Geologist,
Geophysicist and Engineers, Elsevier B.V., Amsterdam.
W. C. Krumbein and L. L. Sloss, 1963. Stratigraphy and sedimentation, W. H. Freeman, San
Francisco
Walker, R.G., 1992, Facies Model, 2nd edition, Geological as of Canada Publishing Bussiness
and Economic Services Ltd, Toronto, Ontario, p. 141-245
Walker, R.G and Mutti, E., 1978, Turbidites and Deep Water Sediment, Turbidit Facies and
Facies Association, Lectures note Series, Pacific on Section S.E.P.M
Van Wagoner, J.C., Mitchum, R.M., Campion, K.M., dan Rahmanian, V.D., 1990, Siliciclastic
Sequence Stratigraphy in Well Logs, Cores, and Outcrops : Concepts for High
Resolution Correlation of Time and Facies, The AAPG, Tulsa, Oklahoma, USA.