Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PASAR MODAL SYARIAH

Di Susun Oleh :
ALFARESHI ANWARI / 20130420148
EKA ANDALA SUKA / 20130420195
HANGGER FAJARRIADIN / 20130420207
HAERUL TRIYANTO / 20130420208

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


YOGYAKARTA
2015

PENDAHULUAN

Dalam Islam investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena
dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan juga mendatangkan manfaat
bagi orang lain. Al-Quran dengan tegas melarang aktivitas penimbunan (iktinaz) terhadap
harta yang dimiliki.
Untuk mengimplementasikan seruan investasi tersebut, maka harus diciptakan suatu
sarana untuk berinvestasi. Banyak pilihan orang untuk menanamkan modalnya dalam bentuk
investasi. Salah satu bentuk investasi adalah menanamkan hartanya di pasar modal. Pasar
modal pada dasarnya merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau surat-surat
berharga jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun modal
sendiri. Pasar modal merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian saat ini.
Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal sebagai media
untuk menyerap investasi dan media untuk memperkuat posisi keuangannya.
Dengan kehadiran pasar modal syariah, memberikan kesempatan bagi kalangan
muslim maupun non muslim yang ingin menginvestasikan dananya sesuai dengan prinsip
syariah yang memberikan ketenangan dan keyakinan atas transaksi yang halal.
Melalui makalah ini, penulis berusaha untuk menjelaskan tentang gambaran pasar
modal syariah dan perbedaannya dengan pasar modal konvensional,dan juga produk,
manfaat, karateristik dan perkembangan pasar modal syariah.

PEMBAHASAN
A. Sejarah Pasar Modal Syariah
Negara pertama yang memperkenalkan prinsip syariah dibidang pasar modal ialah
Jordania dan Pakistan, itu semua dilatar belakangi oleh semakin besarnya peningkatan
akumulasi capital dikalangan umat Islam, yang kemudian memunculkan ide penggunaan
system syariah yang sesuai dengan Al-Quran dan Al Hadist. yaitu melalui penerbitan The
Madarabas Company dan Modarabas Ordinance di Pakistan pada tahun 1980. Sedangkan
pada tahun 1978, Pemerintah Jordania melalui Law No.13 Tahun 1978 telah mengijinkan
Jordan Islamic Bank untuk menerbitkan Maqaradah Bond. Izin penerbitan ini kemudian
ditindak lanjuti dengan penerbitan Muqaradah Bond Act / Sistem pasar modal syariah pada
tahun 1981.Kemudian dikembangkan oleh Negara Mesir, Bahrain, Malaysia, Indonesia dan
beberapa Negara di kawasan Amerika dan Eropa.
Sejarah Pasar Modal Syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana
Syariah oleh PT. Danareksa Investment Management pada 3 Juli 1997. Selanjutnya, Bursa
Efek Indonesia (Bursa Efek Jakarta) berkerjasama dengan PT. Danareksa Investment
Management meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan
untuk memandu investor yang ingin menginvestasikan dananya secara syariah. Dengan
hadirnya indeks tersebut, maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat
dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah.
Pada tanggal 18 April 2001, untuk pertama kali Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan pasar modal,
yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk
Reksa Dana Syariah. Selanjutnya, instrumen investasi syariah di pasar modal terus bertambah
dengan kehadiran Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002. Instrumen ini
merupakan Obligasi Syariah pertama dan akad yang digunakan adalah akad mudharabah.
Sejarah Pasar Modal Syariah juga dapat ditelusuri dari perkembangan institusional yang
terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah tersebut. Perkembangan tersebut dimulai dari
MoU antara Bapepam dan DSN-MUI pada tanggal 14 Maret 2003. MoU menunjukkan
adanya kesepahaman antara Bapepam dan DSN-MUI untuk mengembangkan pasar modal
berbasis syariah di Indonesia.

B. Pengertian dan Instrumen Pasar Modal Syariah


Pasar Modal adalah tempat transaksi jual beli instrument kredit jangka panjang. Menurut
UU No. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal, yang dimaksud pasar modal adalah suatu pasar
yang mempunyai kegiatan melakukan penawaran umum dan perdagangan efek yang
melibatkan perusahaan publik serta lembaga yang berkaitan dengan efek. Pasar modal
merupakan tempat perusahaan mencari dana segar untuk mengingkatkan kegiatan bisnis
sehingga dapat mencetak lebih banyak keuntungan.
Pasar Modal Syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsipprinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang
seperti: riba, perjudian, spekulasi dan lain-lain. Saat ini pasar modal syariah di Indonesia
adalah Jakarta Islamic Indeks (JII).
C. Pelaku Pasar Modal
1. Emiten.
Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat berharga atau melakukan emisi di
bursa (disebut emiten). Dalam melakukan emisi, para emiten memiliki berbagai tujuan dan
hal ini biasanya sudah tertuang dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), antara lain :
a. Perluasan usaha, modal yang diperoleh dari para investor akan digunakan untuk meluaskan
bidang usaha, perluasan pasar atau kapasitas produksi.
b. Memperbaiki struktur modal, menyeimbangkan antara modal sendiri dengan modal asing.
c. Mengadakan pengalihan pemegang saham. Pengalihan dari pemegang saham lama kepada
pemegang saham baru.
2. Investor.
Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya di perusahaan yang melakukan
emisi (disebut investor). Sebelum membeli surat berharga yang ditawarkan, investor biasanya
melakukan penelitian dan analisis tertentu. Penelitian ini mencakup bonafiditas perusahaan,
prospek usaha emiten dan analisis lainnya. Tujuan utama para investor dalam pasar modal
antara lain :
a. Memperoleh deviden. Ditujukan kepada keuntungan yang akan diperolehnya berupa bunga
yang dibayar oleh emiten dalam bentuk deviden.

b. Kepemilikan perusahaan. Semakin banyak saham yang dimiliki maka semakin besar
pengusahaan (menguasai) perusahaan.
c. Berdagang. Saham dijual kembali pada saat harga tinggi, pengharapannya adalah pada
saham yang benar-benar dapat menaikkan keuntungannya dari jual beli sahamnya.
3. Lembaga Penunjang.
Fungsi lembaga penunjang ini antara lain turut serta mendukung beroperasinya pasar modal,
sehingga mempermudah baik emiten maupun investor dalam melakukan berbagai kegiatan
yang berkaitan dengan pasar modal.
4. Penjamin emisi (underwriter).
Lembaga yang menjamin terjualnya saham/obligasi sampai batas waktu tertentu dan dapat
memperoleh dana yang diinginkan emiten.
5. Perantara perdagangan efek (broker / pialang).
Perantaraan dalam jual beli efek, yaitu perantara antara si penjual (emiten) dengan si pembeli
(investor). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh broker antara lain meliputi :
a. Memberikan informasi tentang emiten.
b. Melakukan penjualan efek kepada investor
6. Perdagangan efek (dealer)
Berfungsi sebagai :
1) Pedagang dalam jual beli efek
2) Sebagai perantara dalam jual beli efek
7. Penanggung (guarantor).
Lembaga penengah antara si pemberi kepercayaan dengan si penerima kepercayaan.
Lembaga yang dipercaya oleh investor sebelum menanamkan dananya.

8. Wali amanat (trustee).


Jasa wali amanat diperlukan sebagai wali dari si pemberi amanat (investor). Kegiatan wali
amanat meliputi :
1) Menilai kekayaan emiten
2) Menganalisis kemampuan emiten
3) Melakukan pengawasan dan perkembangan emiten
4) Memberi nasehat kepada para investor dalam hal yang berkaitan dengan emiten
5) Memonitor pembayaran bunga dan pokok obligasi
6) Bertindak sebagai agen pembayaran.
9. Perusahaan surat berharga (securities company).
Mengkhususkan diri dalam perdagangan surat berharga yang tercatat di bursa efek. Kegiatan
perusahaan surat berharga antara lain :
1) Sebagai pedagang efek
2) Penjamin emisi
3) Perantara perdagangan efek
4) Pengelola dana.
10. Perusahaan pengelola dana (investment company).
Mengelola surat-surat berharga yang akan menguntungkan sesuai dengan keinginan investor,
terdiri dari 2 unit yaitu sebagai pengelola dana dan penyimpan dana.
11. Kantor administrasi efek.
Kantor yang membantu para emiten maupun investor dalam rangka memperlancar
administrasinya.
1) Membantu emiten dalam rangka emisi
2) Melaksanakan kegiatan menyimpan dan pengalihan hak atas saham para investor

3) Membantu menyusun daftar pemegang saham


4) Mempersiapkan koresponden emiten kepada para pemegang saham
5) Membuat laporan-laporan yang diperlukan

D. Instrumen Pasar modal Syariah


a. Saham Syariah
Saham merupakan surat berharga yang merepresentasikan penyertaan modal kedalam
suatu perusahaan. Sementara dalam prinsip syariah, penyertaan modal dilakukan pada
perusahaan-perusahaan yang tidak melanggar prinsip-prinsip syariah, seperti bidang
perjudian, riba, memproduksi barang yang diharamkan seperti bir, dan lain-lain. Dalam hal
ini, di Bursa Efek Indonesia terdapat Jakarta Islamic Indeks (JII) yang merupakan 30 saham
yang memenuhi kriteria syariah yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional (DSN). JII
dimaksudkan untuk digunakan sebagai tolok ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja suatu
investasi pada saham dengan basis syariah. Melalui index ini diharapkan dapat meningkatkan
kepercayaan investor untuk mengembangkan investasi dalam ekuiti secara syariah. Sahamsaham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak
bertentangan dengan syariah sesuai Fatwa No: 20/DSN-MUI/IV/2001.seperti:
a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi
konvensional.
c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman
yang tergolong haram.
d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun
jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
Selain kriteria diatas, dalam proses pemilihan saham yang masuk JII, Bursa Efek
Indonesia melakukan tahap-tahap pemilihan yang juga mempertimbangkan aspek likuiditas
dan kondisi keuangan emiten, yaitu:
a. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan
prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi
besar).
b. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun berakhir yang
meiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%.
c. Memilih 60 saham dari susunan saham diatas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi
pasar (market capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir.

d. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan
reguler selama satu tahun terakhir. Pengkajian ulang akan dilakukan 6 bulan sekali dengan
penentuan komponen index pada awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan
perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitoring secara terus menerus berdasarkan datadata publik yang tersedia.

b. Obligasi Syariah
Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 32/DSN-MUI/IX/2002, Obligasi
Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang
dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk
membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin/fee,
serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Tidak semua emiten dapat
menerbitkan obligasi syariah. Untuk menerbitkan Obligasi Syariah, beberapa persyaratan
berikut harus dipenuhi:
a. Aktivitas utama (core business) yang halal, tidak bertentangan dengan substansi Fatwa No:
20/DSN-MUI/IV/2001.
b. Peringkat investment grade: (i) memiliki fundamental usaha yg kuat; (ii) memiliki
fundamental keuangan yg kuat; (iii) memiliki citra yg baik bagi publik.
c. Keuntungan tambahan jika termasuk dalam komponen JII.
Di Indonesia terdapat dua skema obligasi syariah yaitu obligasi syariah mudharabah dan
obligasi syariah ijarah.
Obligasi syariah mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil
sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh
setelah mengetahui pendapatan emiten.
Sedangkan obligasi syariah ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa
sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan
sejak awal obligasi diterbitkan.

c. Reksa Dana Syariah


Reksa Dana Syariah merupakan Reksa Dana yang mengalokasikan seluruh dana/portofolio
kedalam instrument syariah seperti saham-saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic
Indeks (JII), obligasi syariah, dan berbagai instrument keuangan syariah lainnya. Reksa Dana
dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal,
mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan
pengetahuan yang terbatas.

Selain itu Reksa Dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal
untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Umumnya, Reksa Dana diartikan sebagai
Wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk
selanjutnya di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Mengacu kepada
Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa
Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal
untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Ada tiga hal
yang terkait dari definisi tersebut yaitu :
Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal.
Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio efek, dan
Ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer investasi.

Kebijakan Investasi reksadana syariah hanya dapat dilakukan pada instrumen keuangan yang
sesuai dengan Syariah Islam, meliputi:
1.

Efek Pasar Modal Syariah: Obligasi Syariah (Sukuk); Saham-saham yang masuk
dalam DES (Daftar Efek Syariah), serta efek surat hutang lainnya yang sesuai dengan
prinsip syariah.
2. Instrumen Pasar Uang Syariah: - Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) Sertifikat Investasi Mudharabah Antar-Bank (SIMA) - Certificate of Deposit
Mudharabah Mutlaqah (CD Mudharabah Mutlaqah) - Certificate of Deposit
Mudharabah Muqayyadah (CD Mudharabah Muqayyadah)
Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal,
sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.
E. Perbedaan Pasar Modal Syariah dan Konvensional
. Perbedaan Pasar Modal konvensional dan Pasar Modal Syariah Perbedaan Pasar Modal
Syariah dengan Konvensional dilihat dari berbagai aspek. Yaitu, dari segi Indeks saham
konvensional dan Indeks saham Islam, Instrumen yang diperdagangkan, dan Mekanisme
transaksinya.
a. Indeks saham konvensional dan Indeks saham Islam
Indeks Islam tidak hanya dapat dikeluarkan oleh pasar modal syariah saja tetapi juga
oleh pasar modal konvensional.
Perbedaan mendasar antara indeks konvensional dengan indeks Islam adalah indeks
konvensional memasukkan seluruh saham yang tercatat di bursa dengan mengabaikan aspek

halal haram, yang penting saham emiten yang terdaftar (listing) sudah sesuai aturan yang
berlaku (legal). Akibatnya bukanlah suatu persoalan jika ada emiten yang menjual sahamnya
di bursa bergerak di sektor usaha yang bertentangan dengan Islam atau yang memiliki sifat
merusak kehidupan masyarakat.
Garis pemisah antara indeks Islam dan indeks konvensional :
Pertama, jika indeks Islam dikeluarkan oleh suatu institusi yang bernaung dalam pasar modal
konvensional, maka perhitungan indeks tersebut berdasarkan kepada saham-saham yang
digolongkan memenuhi kriteria-kriteria syariah sedangkan indeks konvensional memasukkan
semua saham yang terdaftar dalam bursa efek tersebut.
Kedua, jika indeks Islam dikeluarkan oleh institusi pasar modal syariah, maka indeks tersebut
didasarkan pada seluruh saham yang terdaftar di dalam pasar modal syariah yang sebelumnya
sudah diseleksi oleh pengelola.
b. Instrumen
Dalam pasar modal konvensional instrumen yang diperdagangkan adalah suratsurat
berharga (securities) seperti saham, obligasi, dan instrumen turunannya (derivatif) opsi, right,
waran, dan Reksa Dana. Dalam pasar modal syariah, instrumen yang diperdagangkan adalah
saham, obligasi syariah dan Reksa Dana Syariah, sedangkan opsi, waran dan right tidak
termasuk instrumen yang dibolehkan.
c. Mekanisme transaksi
Dalam konteks pasar modal syariah, menurut Alhabshi, idealnya pasar modal syariah
itu tidak mengandung transaksi ribawi, transaksi yang meragukan (gharar), dan saham
perusahaan yang bergerak pada bidang yang diharamkan. Dalam pasar modal konvensional
investor dapat membeli atau menjual saham secara langsung dengan menggunakan jasa
broker atau pialang. Keadaan ini memungkinkan bagi para spekulan untuk mempermainkan
harga. Akibatnya perubahan harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar bukan karena nilai
intrinsik saham itu sendiri.

Tabel perbedaan Pasar Modal Konvensional


dan Pasar Modal Syariah.
No
Pasar Modal Syariah
1
Indeks Syariah
1.
Indeks dikeluarkan oleh pasar modal 1.
syariah.
2.
Jika indeks Islam dikeluarkan oleh suatu2.
institusi yang bernaung dalam pasar
modal konvensional maka perhitungan 3.
indeks tersebut berdasarkan kepada
saham-saham yang memenuhi kriteriakriteria syariah.
3.
Seluruh saham yang tercatat dalam bursa
sesuai halal.1[2]
2
Instrumen yang diperdagangkan dalam
Pasar Modal Syariah.
1.
Saham.
1.
2.
Obligasi Syariah
2.
3.
Reksa Dana Syariah.
3.
4.
5.
6.
3
Mekanisme Transaksi Pasar Modal
Syariah.
1.
1.
Tidak mengandung transaksi Ribawi.
2.
Tidak transaksi yang meragukan
2.
(gharar), spekulatif, dan judi.
3.
Saham perusahaan tidak bergerak dalam3.
pada bidang yang diharamkan. (alkohol,
judi. Rokok, dll)
4.
4.
Transaksi penjualan dan pembelian
saham tidak boleh dilakukan secara
langsung untuk menghindari manipusi
harga.
4
Saham (surat-surat berharga)
1.
Saham yang diperdagangkan datang dari1.
emiten yang memenuhi ktriteria-kriteria
syariah.
a.
a.
Tidak ada transaksi yang berbasis
b.
bunga.
c.
b.
Tidak ada transaksi yang meragukan.
c.
Saham harus dari perusahaan yang halald.
aktivitas bisnisnya.
e.
d.
Tidak ada transaksi yang tidak sesuai
dengan etika dan tidak bermoral seperti
manipulasi pasar, insider trading dan lainlain.
e.
Instrumen transaksi dengan
mengunakan prisip mudharabah,
1

Pasar Modal Konvensional


Indek konvensional
Indek dikeluarkan oleh pasar modal
konvensional.
Indeks konvensional memasukkan semua saham
yang terdaftar dalam bursa saham.
Seluruh saham yang tercatat dalam bursa
mengabaikan aspek halal-haram.

Instrumen yang diperdagangkan dalam Pasar


Modal Konvensional.
Saham
Obligasi.
Reksa Dana.
Opsi.
Right.
Waran.
Mekanisme Transaksi Pasar Modal konvensional
Menggunakan konsep bunga yang mengandung
riba.
Mengandung transaksi yang tidak jelas,
spekulatif, manipulatif, dan judi.
Saham perusahaan bergerak dalam semua bidang
baik haram maupun halal.
Transaksi penjualan dan pembelian dilakukan
secara langsung dengan menggunakan jasa broker
sehingga memungkinkan para spekulan untuk
mempermainkan harga.
Saham (surat-surat berharga)
Saham yang diperdagangkan datang dari semua
emiten tanpa mengindahkan halal-haram.
Mengandung transaksi yang berbunga.
Mengandung transaksi yang spekulatif.
Semua perusahaan baik aktivitas bisnisnya halal
atau haram.
Mengandung transaksi yang manipulatif.
Instrumen transaksi dengan menggunakan prisip
bunga.

5
1.

2.
3.
4.
5.
6
1.

2.
3.
4.

5.

musyarakah, ijarah, istisna, dan salam.


Obligasi syariah.
Berdasarkan akad mudharabah dengan 1.
memperhatikan fatwa DSN-MUI No. 2.
7/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan
mudharabah.
3.
Emiten bertindak sebagai mudharib
(pengelola modal).
4.
Pemegang obligasi sebagai shahibul mal
(pemodal).
5.
Emiten obligasi tidak boleh melakukan
kegiantan yang bertentang prinsip syariah.
Nisbah harus disebutkan dalam akad.
Reksa Dana syariah
Berdasarkan akad wakalah antara
1.
manajer investasi dan pemodal, serta akad
mudharabah antara manajer investasi dan
pengguna investasi dengan
memeperhatikan fatwa DSN-MUI No. 20/2.
DSN-MUI/ IX/ 2000 tentang Reksa Dana
Syariah.
3.
Investasi dilakukan pada instrumen
4.
keuangan yang sesuai dengan syariah.
Jenis usaha emiten harus sesuai dengan
syariah.
5.
Pembagian keuntungan antara pemodal
(diwakili oleh manajer investasi) dan
pengguna investasi berdasarkan proporsi
yang ditentukan dalam akad.
Manajer investasi tidak menanggung
resiko kerugian selama tidak lalai. Artinya
yang menanggung kerugian tetap
pemodal.

Obligasi konvensional
Berdasarkan prisip bunga.
Emiten bertindak sebagai debitur (yang
berhutang).
Pemegang obligasi sebagai kerditur (yang
berpiutang).
Emiten obligasi dibebaskan kegiatan usahanya,
sehingga tidak ada batasan halal-haram.
Nisbah mengikuti perkembangan suku bunga.

Reksa Dana Konvensional


Berdasarkan prisip kontrak investasi kolektif
dengan memeperhatikan Pasal 18 sampai dengan
Pasal 29 Bab IV UU No. 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal.
Investasi dilakukan pada instrumen
konvensional.
Jenis usaha emiten tidak harus sesuai syariah.
Pembagian keuntungan antara pemodal dan
manager investasi berdasarkan perkembangan
suku bunga.
Manajer investasi juga menanggung resiko
karena berdasarkan prinsip kolektivitas.

F. Mekanisme Berinvestasi di Pasar Modal


Sebelum berinvestasi di Pasar Modal, investor harus terlebih dahulu membuka rekening di
Perusahaan Efek. Faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum memilih Perusahaan Efek:
a) Jika calon investor lebih ingin berinvestasi di saham-saham yang baru ditawarkan di
Pasar Perdana, pilihlah Perusahaan Efek yang aktif dalam proses Penjaminan Emisi
Saham.
b) Jika calon investor hanya memerlukan jasa yang paling mendasar dari Perusahaan
Efek seperti melaksanakan perintah jual dan/atau perintah beli, pilihlan Perusahaan
Efek yang dapat memberikan jasa tersebut secara cepat dan akurat.

c) Jika calon investor memerlukan jasa tambahan seperti nasihat dan saran-saran dalam
mengambil keputusan investasi, pilihlah Perusahaan Efek yang mempunyai Analis
Efek dengan kualifikasi yang baik serta pengalaman yang memadai.
Investor dapat membuka rekening di Perusahaan Efek dengan cara mengisi dokumendokumen yang diperlukan. Secara umum, biasanya Perusahaan Efek mewajibkan investor
untuk menyetorkan sejumlah dana tertentu sebagai jaminan dalam proses penyelesaian
transaksi.
Cara berinvestasi di pasar modal
1.Melalui Pasar Primer
Sebagian orang menyebut ini sebagai Pasar Perdana. Ini adalah saat dimana perusahaan
pertama kali menjual sahamnya kepada masyarakat. Ini disebut juga dengan istilah Initial
Public Offering (IPO) atau Go Public.
Dari perusahaan tertutup dimiliki beberapa orang, menjadi perusahaan terbuka dengan
dimiliki oleh banyak orang.
Mereka biasanya mengumumkan penjualan tersebut di berbagai media cetak berskala
nasional dalam bentuk Prospektus.
Kita dapat membelinya secara langsung atau melalui rekanan kita yang menjadi anggota
bursa atau yang menjadi authorized untuk saham IPO tersebut.
Detailnya, di Prospektus yang terdapat di berbagai Media Cetak tersebut biasanya juga
mencantumkan alamat dan syarat-syarat yang diperlukan untuk bisa membeli saham
perusahaan tersebut. Kita tinggal datang ke alamat tersebut dan bisa membelinya langsung
disana.
Tetapi harap diketahui bahwa biasanya ada jangka waktu tertentu dalam penjualan saham di
Pasar Perdana. Jadi kita harus mengetahui kapan batas waktu pembelian saham di Pasar
Perdana itu habis.
Beberapa media di internet antara lain yang bisa kita akses untuk meningkatkan pengetahuan
tentang dunia pasar modal, antara lain : www.ojk.go.id www.bapepam.go.id www.idx.co.id
Yahoo finance// finance.yahoo.com www.moneycentral.com www.bloomberg.com

Atau media internet lain yang berhubungan dengan berita khusus pasar modal serta media
cetak (Koran, tabloid dan majalah), TV, Radio dan lain-lain.
2.

Melalui Pasar Sekunder

Setelah Jangka Waktu IPO selesai, seseorang yang ingin memiliki saham harus membelinya
dari orang lain. Jadi, ini sebetulnya adalah transaksi dari investor ke investor. Bukan dari
perusahaan ke investor seperti yang terjadi pada Pasar Perdana.
Proses transaksi jual beli saham dari investor ke investor ini disebut transaksi di Pasar
Sekunder, dan transaksi ini harus dilakukan di sebuah tempat khusus yang bernama Bursa
Efek. Di Bursa Efek inilah transaksi saham antar investor satu ke investor lain dilakukan.
Ibarat mall, Bursa Efek yang kita namakan Bursa Efek Indonesia (BEI) inilah yang menjadi
pengelola mall tersebut yang didalamnya terdapat anggota bursa (AB).
Transaksi jual beli saham di Bursa Efek dilakukan oleh sebuah perusahaan perantara atau
pialang. Jadi sebagai investor, kita bisa membeli saham melalui jasa pialang, dimana nanti
kita juga harus membayar semacam fee kepada pialang tersebut sebagai honor mereka.
Untuk itu, kita biasanya harus menjadi nasabah terlebih dahulu dari sebuah perusahaan
pialang, dimana kita akan diminta untuk mendepositokan sejumlah uang yang besarnya
berbeda-beda untuk setiap perusahaan pialang. Daftar nama pialang bisa kita lihat di BEI atau
www.idx.co.id.
Terakhir yang tidak kalah pentingnya, ada beberapa saham masuk kategori tertentu, seperti
Indeks LQ45, yakni saham-saham paling laris yang terdiri dari 45 saham yang dipilih
berdasarkan likuiditas dan kapitalisasi pasar.
Ada juga JII/Jakarta Islamic Index yang terdiri dari 30 saham syariah yang dipilih
berdasarkan kapitalisasi pasar dan likuiditas dan telah disyahkan oleh DSN (Dewan Syariah
Nasional) Indonesia.
Ada juga indeks sektoral, yakni yang terdiri dari 10 sektor dan menggunakan seluruh saham
pada masing-masing sektor dan indeks-indeks yang lain sesuai kepentingannnya. Dan
kesemuanya itu bisa dilihat di beberapa media cetak yang rutin menerbitkannya.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.

www.ojk.go.id/sharia-capital-id
www.bapepam.go.id/syariah/index.html
https://id.wikipedia.org
www.pans.co.id
http://sebelasduabelas.blogdetik.com/perbedaan-pasar-modal-syariah-dengan-

konvensional/
6. Andi Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Prenada Media
Group, 2012)
7. Muhamad, Manajemen Keuangan Syariah : Analisis Fiqh dan Keuangan (Yogyakarta,
STIM YKPN, 2014)