Anda di halaman 1dari 87

BAB III

HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA SERTA SINTESA PERMASALAHAN


MANAJEMEN KEPERAWATAN
3.1 HASIL PENGKAJIAN
1. 5M
a. Man
1) Jumlah Tenaga
Kualifikasi tenaga keperawatan di Ruang Rawat Inap A RS
Wava Husada terdiri dari 11 perawat dan 3 kebidanan dengan
rincian sebagai berikut :
a. Tenaga keperawatan
Tabel 3.1 Kualifikasi Tenaga Keperawatan di Unit Stroke RS.Wava
Husada

Kualifikasi

o
1

Ners + S1

Keperawatan
S1

Keperawatan
D IV

Keperawatan
D III

Keperawatan
D III Kebidanan

Jenis

Jumlah

Jumlah

Presentase

Total
Tetap
Kontrak

21%

Tetap
Kontrak

1
-

7%

Tetap
Kontrak

7%

Tetap
Kontrak

2
4

44%

Tetap
Kontrak

2
1
14

21%

14

100%

TOTAL

Berdasarkan tabel diatas diinterpretasikan bahwa


kualifikasi perawat di RIA RSWava Husada terdiri dari DIII
Keperawatan (44%), Ners dan S1 Keperawatan (21%), S1
Keperawatan

(7%),

sisanya

IV

Keperawatan

(7%).

Pendidikan para tenaga keperawatan sebaiknya dilanjutkan ke


jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai salah satu upaya
untuk meningkatan pelayanan kesehatan di RS. Wava
Husada.
b. Tenaga Non Keperawatan

Tenaga non keperawatan terdiri dari tenaga dokter,


gizi, cleaning sertice, helper, personal officer (PO), spa, dan
laundry yang ditugaskan di RIA.
2) Kualitas Tenaga
Berdasarkan hasil rekapitulasi yang dilakukan didapatkan
data tentang kualitas tenaga perawat di RIA RS.Wava Husada
sebagai berikut:
Tabel 3.2 Kualitas Tenaga Keperawatan RIA RS.Wava Husada
NO

NAMA

JABATAN

PENDIDIKAN

MASA
KERJA

PEMENUHAN
STANDAR
KUALIFIKASI

1.

Jana
Anjasmara,
S.Kep

Kepala Unit

S1 Keperawatan

10 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
sudah memenuhi a.l :
Pelatihan BLS

Yulia
Agustina,
Amd.Kep.

Katim

D3 Keperawatan

7 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
sudah memenuhi a.l :
Pelatihan BLS

Ratih
Retnaningtya
s,
S.Kep.,Ners.

Katim

Ners + S1
Keperawatan

3 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi;

Diah Henni
P., Amd.Kep.

PJ Shift

D3 Keperawatan

6 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS, BTLS, CE
(Clinical Edukator)

Tika
Wulansari,
S.Kep.,Ners

PJ Shift

Ners + S1
Keperawatan

< 1 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS AHA di Jakarta,
pernah magang di IDG
3 bulan

Dewi Ika
Agustina,
Amd.Keb.

PJ Shift

D3 Kebidanan

6 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS, KPN

Nunik W.,
Amd.Keb.

Bidan
Pelaksana

D3 Kebidanan

7 tahun

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS

KETERANGAN
Sedang
menempuh
pendidikan profesi
Ners

Pelatihan sudah
memenuhi a.l Pelatihan
BLS, BTLS, CE
(Clinical Edukator)
Sedang
menempuh
pendidikan alih
jenjang ke S1
Keperawatan

Nika Ike,
Amd. Keb

Perawat
Pelaksana

D3 Kebidanan

4 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi;Pelatihan
BLS, APN dan CTV

Riska
Karunia, SST

Perawat
Pelaksana

D4 Keperawatan

4 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS

10

Wiwin
Ernayanti,
Amd. Kep

Perawat
Pelaksana

D3 Keperawatan

5 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi; Pelatihan
BLS

11

Yuris
Ainunnissa,
S.Kep, Ners

Perawat
Pelaksana

Ners + S1
Keperawatan

3 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi, pelatihan
BLS

12

Vivi Maisaroh,
Amd.Kep

Perawat
Pelaksana

D3 Keperawatan

6 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi, pelatihan
BLS

13

Hakimatun
Nisa,
Amd.Kep

Perawat
Pelaksana

D3 Keperawatan

4 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi, pelatihan
BLS

14

Jeni Anitasari,
Amd.Kep

Perawat
Pelaksana

D3 Keperawatab

3 bulan

Pendidikan sudah
memenuhi; pelatihan
BLS, PKKS, PPI, KPRS

Berdasarkan

tabel

diatas

diinterpretasikan

bahwa

sebanyak 100% perawat yang bekerja di Ruang Rawat Inap A


Rumah Sakit Wava Husadapernah mengikuti pelatihan BLS (Basic
Life Support) lalu 14% yang pernah mengikuti pelatihan BTLS,
sehingga perlu adanya pelatihan khusus terutama pada perawat
yang belum mengikuti pelatihan.
4) Tingkat Ketergantungan Pasien
Jumlah

pasien,

diagnosa

medis,

serta

tingkat

ketergantungan pasien di Ruang Rawat Inap A Rumah Sakit Wava


Husada pada tahap pengkajian yakni tanggal 9-11 Februari 2016
adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3. Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di Ruang Rawat Inap A
Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen Tanggal 9 Februari 2016

NO.

NO. BED

DIAGNOSA MEDIS

TINGKAT
KETERGANTUNGAN

10

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15.
16.
17.

201A
201B
202A
202B
203A
203B
203C
204A
204B
204C
205A
205B
205C
206A
206B
206C
206D

P1 A0 PSC a/i PEB + letsu

Mandiri

Pop TAHBSO
P1A0 PSC Kala I lama + CPD
P1A0 PSC Kala I lama
P1A0 PSC PRM
P1A0 PSC Kala I lama primitua
P1A0 PSC kala II lama + letsu

Parsial
Parsial
Parsial
Parsial
Parsial
Parsial

P1A0 PSC a/i PRM

Parsial

P1A0 PSC a/i kala II lama + OF

Total

Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan sebanyak 41%


yang dirawat di Ruang Rawat Inap A pada tanggal 9 Februari 2016
memiliki tingkat ketergantungan partial, 6% total dan 6% yang
memiliki ketergantungan mandiri.
Tabel 3.4. Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di Ruang Rawat Inap A
Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen Tanggal 10 Februari 2016
NO.

NO. BED

DIAGNOSA MEDIS

TINGKAT
KETERGANTUNGAN

201A

201B

202A

202B

203A

P3A1 dg HRP + Anemia

Partial

203B

P1A0 PSC Kala I lama

Partial

203C

P1A0 PSC a/i PRM

Partial

204A

G1P0A0 UK 29-30 minggu PPI +PROM

Mandiri

204B

P1A0 PSC Kala I lama + CPD

Partial

10

204C

P1A0 PSC a/i fetal

Partial

distress+seratinus+trombositopenia
11

205A

G2P1A0 uk 7-8 minggu susp KET

Partial

12

205B

G3P1A1 uk 10/12 minggu AG iminent

Partial

13

205C

P2-1 A0 PS a/i IUFD + bekas S

Partial

14

206A

P2A0 PP Re-S 4 th yll

Partial

11

15.

206B

P1A0 PSC PRM

Partial

16.

206C

P1A0 PSC a/i kala II lama

Partial

17.

206D

P1A0 PSC a/i kala II lama + OF

Partial

Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan sebanyak 71%


yang dirawat di Ruang Rawat Inap A pada tanggal 10 Februari
2016 memiliki tingkat ketergantungan partial, 6% total dan tidak
ada yang memiliki ketergantungan mandiri.
Tabel 3.5. Diagnosa dan Skor Ketergantungan Pasien di Ruang Rawat Inap A
Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen Tanggal 11 Februari 2016
NO.

NO. BED

201A

201B

202A

DIAGNOSA MEDIS

TINGKAT
KETERGANTUNGAN

Post SC letso + kala I lama

Total

202B

Post SC a/i riwayat SC

Mandiri

203A

Post SC a/d PRM + fetus disstres

Total

203B

PSC Kala I lama

Mandiri

203C

PSC a/i PRM

Partial

204A

IAH B5 a/i prolap uteri

Total

204B

Post SC a/i kala I lama

Total

10

204C

PSC a/i fetal

Partial

distress+seratinus+trombositopenia
11

205A

P OP KET

Total

12

205B

UK 10/12 mgg+ AB iminent

Partial

13

205C

IUFD + bekas S

Partial

14

206A

Usia Kandungan 35/36 mggu +obs.febris

Partial

15.

206B

Placenta pleura + Hemoroid

Partial

16.

206C

PSC a/i kala II lama

Mandiri

17.

206D

PSC a/i kala II lama + OF

Partial

Berdasarkan tabel di atas diinterpretasikan sebanyak 44%


yang dirawat di Ruang Rawat Inap A pada tanggal 11 Februari

12

2016 memiliki tingkat ketergantungan partial, 37% total dan 19%


yang memiliki ketergantungan mandiri.
5) Analisa Tenaga Keperawatan Berdasarkan Metode Gillies
1. Jumlah pasien di R. Rawat Inap A tanggal 9 Februari 2016 =
9 pasien
2.
3.

Jumlah tempat tidur yang tersedia = 17 tempat tidur


BOR hari ini
= Jumlah TT yang terpakai/Jumlah TT yang tersedia x 100%
= 9/17x100%
= 52,9 %

4.

Tingkat ketergantungan pasien


- Minimal = 1 orang
- Parsial = 7 orang
- Total = 1 orang

5.

Waktu perawatan langsung


- Minimal = 1x 2 jam = 2 jam
- Parsial = 7 x 4 jam = 28 jam
- Total = 1 x 6 jam = 6 jam
36 jam

6.

Waktu perawatan tidak langsung ( 60 menit = 1 jam )


= 1 jam x 9 orang = 9 jam

7.

Waktu penyuluhan kesehatan (15 menit = 0,25 jam)


= 0,25 jam x 9 orang = 2,25 jam

8.

Total waktu tindakan perawatan


= 36 jam+9 jam+2,25 jam = 47,25 jam

9.

Kebutuhan jumlah tenaga keperawatan per hari ( 6 hari jam kerja = 7 jam /
hari )
= 47,25 /7 = 6,75 ~ 7 orang

10. Jumlah perawat tiap shift


Pagi
= 47% x 7 = 3,29 = 3 orang
Siang = 35% x 7 = 2,45 = 3 orang
Malam = 17% x 7 = 1,19 = 1 orang

1. Jumlah pasien di R. Rawat Inap A tanggal 10 Februari 2016 = 13 pasien


2.
3.

4.

Jumlah tempat tidur yang tersedia = 17 tempat tidur


BOR hari ini
= Jumlah TT yang terpakai/Jumlah TT yang tersedia x 100%
= 13/17x100%
= 76,47 %
Tingkat ketergantungan pasien

13

Minimal = 1 orang
Parsial = 12 orang
Total = -

5.

Waktu perawatan langsung


- Minimal = 1x 2 jam = 2 jam
- Parsial = 12 x 4 jam = 48 jam
- Total = 50 jam

6.

Waktu perawatan tidak langsung ( 60 menit = 1 jam )


= 1 jam x 13 orang = 13 jam

7.

Waktu penyuluhan kesehatan (15 menit = 0,25 jam)


= 0,25 jam x 13 orang = 3,25 jam

8.

Total waktu tindakan perawatan


= 50jam+13 jam+3,25 jam
= 63,25 jam

9.

Kebutuhan jumlah tenaga keperawatan per hari ( 6 hari jam kerja = 7 jam /
hari )
= 63,25 /7 = 9,04 ~ 9 orang

10. Jumlah perawat tiap shift


Pagi
= 47% x 9 = 4,23 = 4 orang
Siang = 35% x 9 = 3,15 = 3 orang
Malam = 17% x 9 = 1,53= 2 orang

1. Jumlah pasien di R. Rawat Inap A tanggal 11 Februari 2016 = 16


pasien
2.

Jumlah tempat tidur yang tersedia = 17 tempat tidur

3.

BOR hari ini


= Jumlah TT yang terpakai/Jumlah TT yang tersedia x 100%
= 13/17x100%
= 94,11 %

4.

Tingkat ketergantungan pasien


- Minimal = 3 orang
- Parsial = 7 orang
- Total = 4 orang

5.

Waktu perawatan langsung


- Minimal = 3x 2 jam = 6 jam
- Parsial = 7 x 4 jam = 28 jam
- Total = 6 x 6 = 36 jam
70 jam

6.

Waktu perawatan tidak langsung ( 60 menit = 1 jam )

14

= 1 jam x 16 orang = 16 jam


7.

Waktu penyuluhan kesehatan (15 menit = 0,25 jam)


= 0,25 jam x 16 orang = 4 jam

8.

Total waktu tindakan perawatan


= 70 jam+16 jam+4 jam
= 90 jam

9.

Kebutuhan jumlah tenaga keperawatan per hari ( 6 hari jam kerja = 7


jam / hari )
= 90 /7 = 12,85 ~ 13 orang

10. Jumlah perawat tiap shift


Pagi
= 47% x 13 = 6,11 = 6 orang
Siang = 35% x 13 = 4,55 = 4 orang
Malam = 17% x 13 = 2,21 = 3 orang

b. Material dan Machine


Dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Unit rawat inap
A RS. Wava Husada, tentunya perawat harus didukung dengan alatalat medis maupun non medis. Adapun alat-alat yang dimiliki oleh
Unit rawat inap A RS. Wava Husada baik alat medis maupun non
medis adalah sebagai berikut:
Peralatan dan Fasilitas Rumah Tangga
1) Fasilitas untuk pasien
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama 3 hari,
Unit rawat inap A RS.Wava Husada memiliki inventaris peralatan
untuk pasien tercantum dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 3.6Fasilitas Untuk Pasien dan keluarga yang Tersedia Unit rawat inap
A RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9

Selimut
Sprei
Perlak
S. laken
Sarung bantal
Sarung guling
Skoret
Baju pasien
Handuk/lap

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

21
26
26
27
21
16
19
25
14

21
26
26
27
21
16
19
25
14

15

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien masih dapat digunakan dan masih berfungsi
dengan baik.
Tabel 3.7 Fasilitas untuk pasien di R. 201 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bed Paramount
Bed set CAB
Food step
TV dan remote
AC dan remoter
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1

2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 201 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.
Tabel 3.8 Fasilitas untuk pasien di R. 202 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Bed Paramount
Bed set CAB
Food step
TV dan remote
Kipas angin
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care
Standart Infus

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1

2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 202 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.

16

Tabel 3.9 Fasilitas untuk pasien di R. 203 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Bed Paramount
Bed set CAB
Food step
TV dan remote
Kipas angin
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care
Standart Infus

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

3
3
3
1
1
2
1
1
3
3
1
1
1
1

3
3
3
1
1
2
1
1
3
3
1
1
1
1

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 203 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.
Tabel 3.10 Fasilitas untuk pasien di R. 204 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bed biasa
Bed set CAB
Food step
Kipas angin
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care
Standart Infus

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

3
3
3
1
2
1
1
3
3
1
1
1
3

3
3
3
1
2
1
1
3
3
1
1
1
3

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 204 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.

Tabel 3.11 Fasilitas untuk pasien di R. 205 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada

17

No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bed biasa
Bed set CAB
Food step
Kipas angin
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care
Standart Infus

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

3
3
3
1
2
1
1
3
3
1
1
1
2

3
3
3
1
2
1
1
3
3
1
1
1
2

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 205 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.
Tabel 3.12 Fasilitas untuk pasien di R. 206 yang Tersedia Unit rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bed biasa
Bed set CAB
Food step
Kipas angin
Tempat sampah pijak
Kaca
Gayung
Kursi
Meja makan
Jam dinding
Pispot
E-care
Standart Infus

Tersedia

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

4
4
3
1
2
1
1
4
4
1
1
1
1

4
4
3
1
2
1
1
4
4
1
1
1
1

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang


tersedia untuk pasien di R. 206 masih dapat digunakan dan masih
berfungsi dengan baik.
2) Fasilitas untuk Perawat
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama 3 hari, Unit Ruang
rawat inap A RS.Wava Husada memiliki inventaris peralatan untuk perawat
tercantum dalam tabel sebagai berikut:

18

Tabel 3.13. Fasilitas Untuk Perawat yang Tersedia Unit Ruang rawat inap A
RS.Wava Husada
No.

Nama barang

Standart

Jumlah

Kondisi
Baik
Rusak

Unit kanit

1/unit

Baik

2
3
4
5
6
7

Nurse station
Unit Serba guna
Unit sentralisasi obat
Unit Spool Hook
Unit Kamar mandi
Unit Spa

1/unit
1/unit
1/unit
1/unit
1/unit
1/unit

1
1
1
1
1
1

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara didapatkan hasil bahwa


fasilitas untuk perawat masih kurang seperti tidak adanya pantryuntuk perawat
dan unit diskusi yang sempit. Selain itu, kurangnya wastafel untuk cuci tangan
yang hanya tersedia 1 buah saja di unit ruang rawat inap A.
Tabel 3.14. Fasilitas Peralatan Kesehatan dan Instrumen yang Tersedia di Unit
Ruang rawat inap A RS.Wava Husada
Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

6
6
8
1
1
1
2
1
17
1
1

6
6
8
1
1
1
2
1
17
1
1

1
2
17
1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
2
17
1
1
1
1
1
1
1
1
1

No.

Nama Barang

1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11

BILLING CAB
Kursi Plastik
Kursi
Komputer Set
Lemari status klien
Kranjang Obat
Troli Obat
Troli Untuk Linen
BAK SEKA
Tempat Sampah K
Tempat sampah medis

Tersedia

12

besar
Tempat

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

medis besar
Dispenser dan galon
Rak sandal
Tempat obat
Locker perawat
Kaca
Gayung
Kulkas
Lemari untuk buku
Container sedang
Magic com
Timbangan badan
O2 tranfer

sampah

non

19

25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

HP
Kranjang Dorong
Oxymetri
Tensi Digital
Tensi Raksa
Termometer
Stetoskop
GDS
Nebulizer
Suction
Metline
Penlight
Doppler

1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa sebagian besar


peralatan kesehatan sudah sesuai dengan kebutuhan, masih berfungsi dengan
baik dan memenuhi standar. Hal ini sesuai dengan standar dari kemenkes RI
tahun 2012 mengenai pelayanan penunjang medik dan sarana kesehatan pada
RS tipe B mengingat RS Wava Husada yang akan mengikuti akreditasi.
Di Unit Ruang rawat inap A RS Wava Husadajuga sudah terdapat PJ
alkes dan instrument yang telah dibentuk oleh kepala unit. Apabila ada Personal
officer menemukan alat yang kurang berfungsi dengan baik maka segera
melaporkan temuannya ke perawat, kemudian perawat akan membuat memo
dan melaporkan temuannya ke IPSRS rumah sakit Wava Husada agar segera
diganti, sedangkan alat yang rusak agar segera diperbaiki. Saat dilakukan
observasi, terdapat 1 buah tensi digital yang rusak, dan tanggapan IPSRS saat
baik dengan menggantinya kurang dari 1 hari kerja.
3) Obat-obatan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama 3 hari, Unit Ruang
rawat inap A RS.Wava Husada memiliki inventaris obat-obatan tercantum dalam
tabel sebagai berikut :
Tabel 3.15. Obat-obatan yang Tersedia di Unit Ruang rawat inap A RS.Wava Husada
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nama Obat
Alinamin
Antrain
Aquabidest
Asering Sanbe
Cefo
Ceftri
Cygest
D5 sanbe
Dexametaxone

Tersedia

Jumlah
2
2
19
5
5
5
2
5
2

20

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

Dulcolax supp
Farsix
Induxin
Asamtranex
Kaltropen
Methergin
MgSo4 20%
MgSo4 40%
Nifedipine
Ns 25 Otsu
Ns sanbe
Pragesol
Ranitidine
RD 5%
Remopain
RL sanbe
Santocin
Stesolid
Syntocinon
Tomit
Vit B1
Vit B12
Vit K
Vit C
Xylomidon

2
2
5
5
2
5
2
2
5
10
5
2
2
3
2
5
5
2
5
2
2
2
2
2
2

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa obat-obatan yang


tersedia di unit Ruang rawat inap A sebagian besar masih dalam keadaan baik
serta masih diberikan kepada pasien. Di Unit rawat inap A in, Sudah terbentuk PJ
obat yang bertanggung jawab atas ketersediaan stok obat.
4) Sarana Prasarana Sumber Informasi
Data dari hasil observasi di Unit Ruang rawat inap ARS. Wava Husada
yang dilakukan selama 3 hari, dihasilkan bahwa beberapa informasi mengenai
prosedur pengendalian infeksi didapatkan melalui poster yang tersedia di dinding
unit. Pada wastafel sudah dilengkapi dengan poster cuci tangan 6 langkah. Serta
5 momen cuci tangan.
Penyuluhan Unit Ruang rawat inap A RS. Wava Husada dilakukan oleh
perawat dengan menggunakan media leaflet yang berisikan perawatan setelah
melahirkan yang meliputi :
1. Penjelasan tentang kebersihan diri (tidak takut BAB, BAK, luka harus
disabun, ganti pembalut setiap kali basah).
2. Penjelasan tentang aktifitas: pergerakan dini dengan beraktifitas
ringan secara bertahap

21

3. Nutrisi: penjelasan tentang tidak ada pantangan dalam makan dan


minum
4. Penjelasan tentang perawatan payudara
5. Penjelasan tentang keluarga berencana
6. Penjelasan tentang kontrol ibu dan bayi
7. Penjelasan ibu tidak boleh melakukan pijat perut.
c. Method
1) Penerapan Pemberian Model Asuhan Keperawatan
Profesional (MAKP)
Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan di
unit rawat inap A yaitu dengan metode tim. Dimana perawat dibagi
menjadi 1 tim yang diketuai oleh 1 orang katim dan yang selanjutnya
1 tim ini akan dibagi lagi menjadi 2 kelompok. Dimana setiap
kelompok diketuai oleh 1 orang penanggung jawab. Pembagian
pasien tiap kelompok didasarkan pada tingkat ketergantungan pasien
pada saat itu.
Kanit

PJS

Katim

PJ

PJ
Gambar 3.1. Metode Tim Rawat Inap A

PP

PP

Pasien

Pasien

2) Tindakan Keperawatan di RID RS. Wava Husada


a.

Operan

22

Tabel 3.16. Kegiatan Operan Saat Pengkajian


No.

PROSEDUR OPERAN

Persiapan Alat dan Ruangan


1.1. Kedua kelompok sudah dalam keadaan siap
2.2. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku
catatan
Sesi 1: Di Nurse Station
1.1. PJ shift sebelumnya menyiapkan status pasien yang
menjadi tanggung jawabnya
2.
Kanit/PJS membuka operan jaga dengan doa
3.
Kanit/PJS mempersilahkan Katim yang memiliki pasien
untuk melaporkan pasien
4.
Katim/PJS melaporkan pasien yang menjadi tanggung
jawabnya:
a. Identitas pasien dan diagnosa medis
b. Masalah keperawatan saat jaga dan diagnosa
keperawatan yang kemungkinan akan atau masih
muncul
c. Intervensi mandiri dan kolaboratif
d. Rencana umum misalnya masalah DP, Adm
asuransi pasien yang komplain atau pasien yang
membutuhkan perhatian khusus
5.
Katim/PJS bersama PJ sebelumnya untuk validasi
kondisi ke pasien
Sesi II: Di Kamar/Bed Pasien
1.1. Perawat cuci tangan sebelum masuk ruangan pasien
2.2. Yang masuk ke dalam kamar pasien yaitu Katim/PJ
Shift/PP sebelumnya dan perawat yang dinas
selanjutnya
3.3. Perawat memperkenalkan diri
4.4. Kanit/PJS/Katim/pj Shift melakukan identifikasi pasien :
nama,tangal lahir, no RM, alamat
5.5. Perawat yang jaga sebelumnya menjelaskan kondisi
dan keluhan pasien kepada perawat yang dioperkan
6.6. PJ Shift yang jaga sebelumnya menyampaikan
tindakan-tindakan yang telah dilakukan dan
menyampaikan rencana tindakan selanjutnya serta
hal-hal penting yang perlu diperhatikan terkait kondisi
pasien kepada perawat yang berdinas selanjutnya
7.7. Perawat shift sebelumnya memberikan kesempatan
anggota shift yang menerima operan untuk melakukan
klarifikasi/bertanya tentang hal-hal yang kurang jelas
8.
8.9. Perawat yang menerima operan mencatat hal-hal
penting pada buku catatan harian
9.10. Perawat yang mengoperkan menyerahkan semua
berkas catatan perawatan kepad atim yang akan
menjalankan tugas berikutnya
10.
11. Perawat mencuci tangan dengan handsrub dan
menerapkannya pada 5 momen
Sesi III: Di Nurse Station
1.
Kanit/PJSmemimpin kembali ke nurse station

09/02/2016
P
S

10/02/2016
P
S

11/02/2016
P
S

23

2.
3.1.

4.

5.2.
6.3.
7.4.
8.5.

Kanit memberi informasi atau pengumuman dan


evaluasi dari operan bedside
Kanit memberi kesempatan kepada Katim/PJ Shift/PP
untuk menanyakan kembali temuan selama di pasien
ke katim/PJ/PP sebelumnya.
Melakukan ritual kerja bersama: Doa sebelum bekerja,
Visi Misi rumah sakit dan Yel-yel yang dipimpin oleh
kanit/PJS/katim/PJ shift
Kepala unit/PJS/katim/PJ Shift menutup operan
dengan mengucapkan salam.
Kepala unit/katim/PJ memberi semangat dan pujian
kepada katim/PJ/PA jaga sebelumnya.
Mempersilahkan perawat jaga malam pulang terlebih
dahulu
Kepala unit/katim/PJ S memberi semangat dan
selamat bekerja untuk shift berikutnya
Total
Presentase

Keterangan

:
:
P
:
S
:

19
68
%

20
71
%

19
68
%

20
71
%

20
71
%

20
71%

Dilakukan
Tidak Dilakukan
Operan Malam ke Pagi
Operan Pagi ke Sore

Operan merupakan suatu timbang terima tugas dari shift satu ke shift lain
dengan

waktu,

isi

dan

strategi

yang

telah

ditentukan.

Operan

mengkomunikasikan secara tertulis dan lisan pada staf keperawatan dan tim
kesehatan lain yang memerlukan data klien secara teratur.Evaluasi proses
operan pada UnitRawat Inap A RS Wava Husada berdasarkan tabel diatas
menunjukkan operan dilaksanakan cukupbaik ditunjukkan dengan rata-rata
presentase 70%.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar operan efektif adalah
yang pertama operan dilaksanakan tepat waktu pada saat pergantian dinas yang
telah disepakati, operan diipimpin oleh kanit/PJS/katim,operan diikuti dan
didengarkan secara seksama oleh semua perawat yang akan dan telah selesai
berdinas. Selama 3 hari pengamatan pada tanggal 09-11Februari 2016 operan
dilaksanakan tepat waktu, yaitu pada operan pagi dilaksanakan kurang tepat
biasanya pukul 07.15 dan operan siang dilaksanakan tepat pukul 14.00. Operan
di nurse station dipimpin oleh PJ shift. Operan diikuti oleh semua perawat, akan
tetapi sekitar 2 perawat tidak mendengarkan dengan seksama ketika perawat
yang bertugas di shift sebelumnya membacakan asuhan keperawatan. Pada
saat operan di kamar pasien, Kanit/PJS/Katim tidak ikut dikarenakan berbagai

24

hal seperti morning report, rapat, dll. PJ Shift dan perawat pelaksana langsung
menanggapi keluhan pasien pada saat operan. Hanya 2 perawat yang selalu
menggunakan handsrub untuk setiap kali mengunjungi pasien, namun semua
perawat tidak melakukan cuci tangan dengan sabun&air mengalir sebelum
operan.
b.

Pre Conference

Tabel 3.17. Kegiatan Preconference Saat Pengkajian


No.

Langkah-langkah

1.
2.
3.

Kepala unit/ Ketua Tim memberi salam


Jelaskan tujuan konferens awal
Berikan pengarahan kepada anggota tim
tentang rencana kegiatan pada shift pagi.
Lakukan pembagian tugas kepada tim
Berikan kesempatan pada masing masing
ketua tim untuk menjelaskan pasien
kelolaannya serta membagi tugas kepada
anggota tim
Memberikan kesempatan kepada Tim untuk
mempresentasikan kasus special yang
menjadi prioritas, meliputi :
Identifikasi Klien: nama, umur, no register
Diagnosa medis.
Diagnosa keperawatan dan data focus
yang menunjang diagnosa.
Tindakan keperawatan yang sudah di
lakukan dan hasilnya.
Rencana tindak lanjut
Masalah yang di hadapi
Berikan kesempatan kepada Tim yang lain
untuk mendiskusikan/ bertanya/
menanggapi, memberikan masukan.
Kanit / Katim mencatat hasil diskusi anggota
Tim.
Kanit memberikan kesimpulan dari diskusi
yang telah di lakukan.
Kanit memberikan penekanan pada hal-hal
yang perlu di perhatikan atau
Membacakan SOP untuk pelaksanaan
tindakan.
Tanyakan kesiapan anggota tim untuk
melakukan kegiatan pelayanan keperawatan.
Sampaikan kontrak waktu untuk
pelaksanaan middle konferens
Mengucapkan salam
Mengucapkan selamat bekerja

4.
5.

6.

7.

8.
9.
10
11
12
13
14
15

09/02/2016
P
S
-

Tanggal
10/02/2016
P
S
-

11/02/2016
P
S
-

25

TOTAL
Presentase

Keterangan

P
S

:
:
:
:

1
6%

1
6%

1
6%

1
6%

1
6%

1
6%

Dilakukan
Tidak Dilakukan
Operan Malam ke Pagi
Operan Pagi ke Sore

Pre Conference adalah diskusi kelompok tentang beberapa aspek klinik


dan kegiatan konsultasi. Pre conference adalah diskusi tentang aspek klinik
sebelum melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien. Pre conference
dilaksanakan setiap sebelum melaksanakan aktivitas keperawatan, diikuti oleh
semua perawat sesuai shiftnya. Selama 3 hari pengamatan pada tanggal 09-11
Februari 2016, pre-conference di unit rawat inap A dilaksanakan dengan cara
katim memberikan catatan rencana yang akan dilakukan pada shift itu. Hal ini
dikarenakan ketidakadaan kanit dan penanggung jawab sementara, sehingga
katim diharuskan mengikuti banyak kegiatan manajerial. Secara keseluruhan
tujuan

dilakukannya

mengidentifikasi

preconference

masalah-masalah

tercapai

pasien,

yaitu

membantu

merencanakan

asuhan

untuk
dan

merencanakan evaluasi hasil dan mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di


lapangan.
c.

Post Conference

Tabel 3.18. Kegiatan Post Conference Saat Pengkajian


No.

Langkah-langkah

1.
2.
3.

Kepala unit/Ketua Tim memberi salam


Jelaskan tujuan konferens akhir
Berikan kesempatan pada masing
masing ketua tim untuk menjelaskan
pasien kelolaannya
Memberikan kesempatan kepada Tim untuk
mempresentasikan kasus special yang
menjadi prioritas, meliputi :
Identifikasi Klien :nama, umur, no
register
Diagnosa medis.
Diagnosa keperawatan dan data focus
yang menunjang diagnosa.
Tindakan keperawatan yang sudah di
lakukan dan hasilnya.

4.

09/02/2016
P
S
-

Tanggal
10/02/2016
P
P
-

11/02/2016
S
T
-

26

Rencana tindak lanjut


Masalah yang di hadapi
5.
Berikan kesempatan kepada Tim yang lain
untuk mendiskusikan/ bertanya/
menanggapi, memberikan masukan.
6.
Kanit / Katim mencatat hasil diskusi
anggota Tim.
7.
Kanit memberikan kesimpulan dari diskusi
yang telah di lakukan.
8.
Kanit memberikan penekanan pada hal-hal
yang perlu di perhatikan.
9.
Tanyakan kesiapan anggota tim untuk
melakukan kegiatan pelayanan
keperawatan.
10. Mengucapkan salam
11. Mengucapkan selamat bekerja
TOTAL
Prosentase

Keterangan

:
:
P
:
S
:

0
0%

0
0%

0
0%

0
0%

0
0%

0
0%

Dilakukan
Tidak Dilakukan
Operan Malam ke Pagi
Operan Pagi ke Sore
Post

conference

dilaksanakan

setiap

setelah

melaksanakan aktivitas keperawatan, diikuti oleh semua perawat


sesuai shiftnya. Selama 3 hari pengamatan pada tanggal 09-11
Februari 2016, post-conference di unit rawat inap A dilakukan
dengan cara katim menanyakan secara langsung kepada PP
tentang asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada hari itu,
serta apakah ada kendala yg terjadi saat melakukan asuhan
keperawatan. Secara keseluruhan tujuan dari diadakannya post
conference telah tercapai meskipun tidak sesuai dengan SOP.
d.

Ronde Keperawatan
Dari hasil observasi selama 3 hari (09-11 Februari 2016) di

unit Rawat Inap A RS Wava Husada, perawat tidak pernah


melakukan ronde keperawatan. Saat melakukan wawancara
kepada perawat, Saat melakukan wawancara kepada perawat,
perawat

mengatakan

bahwa

ronde

keperawatan

biasanya

digabung dengan Morning Report. hal ini dikarenakan perawat


yang sibuk, tidak ada waktu yang cukup untuk melaksanakannya

27

dan sulitnya penyatuan jadwal kosong dengan dokter maupun ahli


gizi untuk pengadaan ronde besar.
e.

Orientasi Pasien Baru


Orientasi pasien baru adalah pengenalan pasien dan

keluarga pasien terhadap lingkungan ruang atau unit perawatan.


Berdasarkan hasil observasi di unit Rawat Inap A terdapat pasien
baru, dan dari pasien baru tersebut perawat telah menjelaskan
tentang lingkungan ruang perawatan terhadap pasien dan
keluarga ketika klien dan keluarga baru memasuki ruangan
perawatan. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa
penjelasan atau orientasi pada pasien baru dilakukan berdasarkan
standar prosedur rumah sakit yang meliputi hal-hal sebagai
berikut:
Tabel 3.19.

Orientasi pada pasien baru dilakukan berdasarkan standar

prosedur RS Wava Husada


No

Prosedur

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengantarkan pasien pada kamar yang sudah dipesan


Pemasangan O2 bila perlu
Mengatur tetesan infus sesuai advice dokter
Mengukur vital sign dan anamnese
Menjelaskan tata tertib rumah sakit dan ruangan
Menjelaskan fasilitas yang ada di ruangan baik letak maupun cara

Dilakukan
Ya
Tidak

penggunaan (bel pasien, lampu pasien, bed, TV, AC, kipas angin,
table set, lemari pasien, kulkas, kamar mandi, air panas, air dingin,
7.

ruang perawat)
Memberikan penjelasan dokter yang merawat dan jam kunjung, serta

8.

perawat penanggungjawab
Memberikan penjelasan tentang jadwal kegiatan rutin ruangan,

9.

antara lain waktu makan, waktu kunjung, waktu operan perawat.


Memberi tahu tentang keamanan barang-barang (barang berharga

10

agar disimpan di tempat yang aman atau tidak dibawa kerumah sakit)
Catat dalam buku register dan checklist orientasi pasien baru dan

11

ditandatangani oleh keluarga dan perawat


Telp bagian gizi untuk pesan diit.

Tabel 3.20. Jumlah pasien baru pada tanggal 9-11 Februari 2016 di Ruang
Rawat Inap A

28

Jumlah pasien baru


Tanggal : 9/2/2016

Tanggal : 10/2/2016

Tanggal : 11/2/2016

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 9-11Februari


2016 didapatkan 14 pasien baru, dan pemberian penjelasan
terhadap ketentuan ruangan pada pasien baru dilakukan oleh
perawat ketika klien dan keluarga baru memasuki ruang
perawatan. Orientasi pada pasien baru dilakukan, namun tidak
diberikan

penjelasan

secara

lengkap,

seperti

contohnya

penjelasan mengenai cuci tangan tidak dipraktikkan bagaimana


cara melakukan cuci tangan 6 langkah tersebut.
f.

Discharge Planning
Dari hasil pengkajian tanggal 9-11 Februari 2016 di Ruang

Rawat Inap A didapatkan data sebagai berikut:


Tabel 3.21. Pendokumentasian Discharge Planning
Discharge Planning
Dilakukan discharge planning
Tidak dilakukan discharge planning
Total pasien pulang

Jumlah Pasien
18
0
18

Tabel 3.22. Rata-Rata Discharge Planning di Rawat Inap A


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Daftar Pertanyaan
Nomor Register
Nama Pasien
Dirawat sejak ..s/d ..
Pangkat NRP/ NIP Pekerjaan
Ruang/ Kelas
Umur
Alamat
Tanggal MRS
Tanggal KRS
Dx. Medis saat pulang
Status pulang
Keadaan umum saat pasien pulang
Alat bantu yang terpasang saat pulang
Mobilisasi saat pulang
Masalah keperawatan selama dirawat
Tindakan Keperawatan

Tgl 9

Tgl 10

Tgl 11

29

17

Masalah keperawatan yang perlu tindak lanjut

18
19
20
21
22
23

dirumah
Penyuluhan kesehatan yang diberikan
Obat- obat yang dibawa pulang
Surat yang disertakan saat pulang
Nama penjemput
Tanda bukti selesai urusan administrasi
Tanda tangan dan nama terang dari pihak

22

23
24 (100%)

23

pasien/keluarga yang menerima penjelasan,


perawat/bidan yang menjelaskan, dan dokter
24

yang merawat.
Pulang ke alamat
Jumlah
Rata-rata

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada form discharge planning yang
dipakai pada ruang rawat inap A, dischange planning yang dilakukan banyak
mengarah ke tindakan yang dilakukan saat pasien pulang. Didapatkan jika belum
semua tindakan saat pra discharge planning atau tindakan - tidakan yang
dilakukan saat pasien masuk hingga akan pulang disertakan dalam form
discharge planning. serta belum adanya form yang menilai tentang resiko pasien
kembali mrs dengan kondisi yang sama.
d. Money
1) Sistem Gaji
Sumber

dana gaji pegawai di RS Wava Husada semua

berasal dari rumah sakit itu sendiri. Untuk prosentase pendapatan


masing-masing pegawai diatur oleh tim HRD rumah sakit itu sendiri.
Sistem penggajian yang digunakan pada Februari2016 adalah
Merit System. Dimana dengan system ini, jumlah gaji yang diterima
oleh

masing-masing

kepegawaian

pegawai

(pegawai

tetap

berbeda-beda
atau

pegawai

tergantung

status

kontrak),

tingkat

pendidikan, keahlian (perawat umum, perawat khusus, atau perawat


ahli), dan jumlah hari kerja.
Di luar gaji pokok, masing-masing pegawai akan mendapatkan
remunerasi atau insentif bulanan yang diberikan berdasarkan hasil
kerja di ruangan. Selain itu, ada beberapa karyawan yang
mendapatkan tunjangan fungsional, dimana pegawai dalam hal ini
perawat menjabat sebagai kepala ruangan, kepala tim atau
Penanggung jawab shift.

30

Untuk pegawai kontrak, karyawan baru yang masuk akan


menjalani masa orientasi selama 3 bulan, kemudian akan dilakukan
ujian (dicredensial) untuk bisa menjadi pegawai kontrak. Pegawai
kontrak akan menjadi pegawai tetap dan akan mengikuti ujian atau
penilaian kinerja setiap 3 bulan untuk menentukan jumlah gaji (Merit
System)
2) Tunjangan
Tunjangan yang didapatkan oleh pegawai RS Wava Husada
dapat berupa asuransi kesehatan dari BPJS sesuai level pegawai.
Terdapat perbedaan tunjangan yang didapatkan oleh pegawai
kontrak dan pegawai tetap. Apabila pegawai tetap mendapatkan
tunjangan asuransi kesehatan untuk tiga orang anak, dan istri/suami,
sedangkan untuk pegawai kontrak hanya mendapatkan tunjangan
kesehatan untuk dirinya sendiri. Selain tunjangan kesehatan pegawai
yang bekerja di RS Wava Husada mendapatkan jaminan hari tua,
dan kecelakaan kerja dari BPJS Ketenagakerjaan.
3) Upah Lembur
Upah lembur didapatkan oleh pegawai RS Wava Husada
yang menambah jam kerjanya diluar jam dinas. Setiap lembur
pegawai RS Wava Husada mendapatkan tambahan upah/gaji
sesuai banyaknya jam lembur yang ditambahkan. Selain itu
apabila pegawai masuk di hari libur atau tanggal merah terhitung
jam lembur pegawai. Upah lembur tersebut berdasarkan dari
kalkulasi dari hasil perhitungan jam lembur selama satu bulan.
4) Sumber Pendapatan Ruangan
Sumber pendapatan Unit Khusus di RS Wava Husada
berasal dari

rumah sakit yang diatur sendiri oleh rumah sakit

untuk dibagikan ke setiap ruangan di rumah sakit sesuai


kebutuhannya.Pendapatan yang didapatkan oleh Rumah Sakit
Wava Husada berasal dari pasien yang berobat ke rumah sakit.
Tidak ada pendapatan yang murni berasal dari ruangan.

31

Adapun daftar sumber pendapatan dari tarif kamar, alat


maupun tindakan keperawatan sebagai berikut:
a. Tarif Rawat Inap RS WavaHusada
Tabel 3.23. Tarif Rawat Inap Wava Husada
No

Kelas Kamar

Kamar dan gizi (per hari)

.
R. PERAWATAN UMUM
1
VVIP
2
VIP A

Rp. 850.000
Rp. 450.000

VIP B

Rp. 400.000

KELAS I

Rp. 250.000

KELAS II

Rp. 150.000

KELAS III

Rp. 80.000

R. NIFAS (KELAS 1)

Rp. 250.000

R. NIFAS (KELAS 2)

Rp. 150.000

R. NIFAS (KELAS 3)

Rp. 80.000

R. PERAWATAN KHUSUS
10 R. ISOLASI
Rp. 200.000
R. STROKE
11
KELAS VIP
Rp. 400.000
12

KELAS 1

Rp. 250.000

13

KELAS 2

Rp. 8125.000

14

INTERMEDIATE

Rp. 225.000

R. ICU
15 Kelas ISOLASI

Rp. 350.000

16

Rp. 250.000

Kelas 2

PERINATOLOGI
17 KBBL

Rp. 50.000

18

LEVEL 1

Rp. 60.000

19

LEVEL 2

Rp. 75.000

20

LEVEL 3

Rp. 125.000

b. Tarif Konsultasi

32

Tabel 3.24. Tarif Konsultasi Dokter


No

Kelas Kamar

.
R. PERAWATAN UMUM
1
VVIP
2
VIP A

Konsultasi (per hari)

Rp. 225.000
Rp. 160.000

VIP B

Rp. 140.000

KELAS I

Rp. 120.000

KELAS II

Rp. 100.000

KELAS III

Rp. 70.000

R. NIFAS (KELAS 1)

Rp. 120.000

R. NIFAS (KELAS 2)

Rp. 100.000

R. NIFAS (KELAS 3)

Rp. 70.000

R. PERAWATAN KHUSUS
10 R. ISOLASI
R. STROKE
11
KELAS VIP

Rp. 100.000
Rp. 140.000

12

KELAS 1

Rp. 120.000

13

KELAS 2

Rp. 100.000

14

INTERMEDIATE

Rp. 120.000

R. ICU
15 Kelas ISOLASI

Rp. 125.000

16

Rp. 100.000

Kelas 2

PERINATOLOGI
17 KBBL

Rp. 60.000

18

LEVEL 1

Rp. 70.000

19

LEVEL 2

Rp. 100.000

20

LEVEL 3

Rp. 125.000

c. Jenis Tindakan Perawatan di Rumah Sakit


Tabel 3.25. Jenis Tindakan Perawatan di Rumah Sakit
No.

Nama Pemeriksaan

1.

Aff drain

2.

Aff drain WSD

3.

Aff wire

33

4.

Angkat Jahitan > 15 jahitan

5.

Angkat jahitan 1-5 jahitan

6.

Angkat jahitan 11-15 jahitan

7.

Angkat jahitan 6-10 jahitan

8.

Asisten kemoterapi (perawat)/hari

9.

Asisten pasang tampon

10.

Asisten punksi acites

11.

Asisten punksi pleura

12.

Atropinasi

13.

Bouginasi

14.

Buka Gips

15.

Chake mate GDA/test glukometer

16.

Chest fisioterapi

17.

Ciccotomy

18.

Condom cateter

19.

Cuci lambung bayi

20.

Cuci lambung/gastric coling (dewasa/anak)

21.

Cukur rambut trepanasi

22.

Doppler

23.

Exercise

24.

Infra red

25.

Injeksi (IM, IV, IC)

26.

Irigasi hidung (spesialis tht)

27.

Irigasi telinga (dokter spesialis)

28.

Jasa psikolog

29.

Konsul dokter jaga UGD ke rawat inap

30.

Konsul per telepon (CDMA) permenit

31.

Konsul pertelepon (GSM)permenit

32.

Konsul per telepon (PSTN)


Permenit

33.

Konsul pertelepon dokter spesilis jantung sebelum visite

34.

Konsultasi pembacaan ECG

35.

Lavement

34

36.

Lepas chateter

37.

Lepas infuse

38.

Memandikan/menyeka pasien/hari

39.

Nebulizer

40.

Nercrotomi kecil

41.

Necrotomi luas

42.

Oral hygiene

43.

Pasang bidai spalk besar

44.

Pasang bidai spalk kecil

45.

Pasang chateter

46.

Pasang cvc

47.

Pasang infus balita

48.

Pasang infus dewasa

49.

Pasang NGT bayi

50.

Pasang NGT dewasa

51.

Pasang selang rectum

52.

Pemberian obat supositoria

53.

Pemeriksaan ECG

54.

Perawatan jenazah

55.

Perawatan post TUR/perhari

56.

Perawatan WSD

57.

Rawat dasar/hari (ngebruk/ngompol)

58.

Rawat luka colostomy

59.

Rawat luka kecil : diameter <3 cm

60.

Rawat luka kecil : ekskoriasi < 10 bh

61.

Rawat luka kecil : luka lama/borok

62.

Ruka luka luas : luka baka 1-2% superficial

63.

Rawat luka luas : lama/borok > 6 cm

64.

Rawat luka luas : luka bakar 0,5-1% superficial

65.

Rawat luka sedang : ekskoriasi > 10 bh

66.

Rawat luka sedang : luka lama/borok > 3 cm

67.

Rendam PK

68.

Resusitasi anak/dewasa

35

69.

Resusitasi bayi

70.

Rujuk malang

71.

Sampling laboratorium

72.

Senam nifas

73.

Sewa alat lampu tindakan/hari

74.

Sewa infus pump/hari

75.

Sewa kasur angin/hari

76.

Sewa monitor pasien/hari

77.

Sewa pulse oxymetri/hari

78.

Sewa syringe pump/hari

79.

Sriken

80.

Suction/hari

81.

Tranfusi/hari

82.

USD

83.

Vagina toilet

Dari hasil wawancara, RS Wava Husada adalah


rumah sakit dengan sumber dana berasal dari rumah
sakit

itu

alat/sarana,

sendiri,

jadi

ruangan

permintaan barang

ke

apabila
dapat

terdapat kekurangan
mengajukan

lembar

Gudang, dimana Rumah Sakit

akan memenuhi permintaan dari ruangan.


d. Market
1) Pasien Ditinjau dari daerah pasien
Tabel 3.26. Asal daerah pasien Bulan November 2015
Asal Daerah
Kota Malang
Kabupaten Malang

Jumlah Pasien
2
171

Persentase (%)
1,2
98,8

Tabel 3.27. Asal daerah pasien Bulan Desember 2015


Asal Daerah
Kota Malang
Kabupaten Malang

Jumlah Pasien
0
200

Persentase (%)
0
100%

36

Tabel 3.28. Asal daerah pasien Bulan Januari 2016


Asal Daerah
Kota Malang
Kabupaten Malang

Jumlah Pasien
6
197

Persentase (%)
2,9
97,1

Rata-rata pasien yang dirawat di Ruang Rawat Inap RS


Wava Husada dalam 3 bulan terakhir yaitu November 2015
Januari 2016 berasal dari regional Kabupaten Malang sebesar
98,6%. Sedangkan rata-rata pasien yang berasal dari regional Kota
Malang sebesar 1,36%.
2) Rata-Rata Pelanggan
a) BOR
BOR Enam Bulan Terakhir
Tabel 3.29. BOR RID
Kategori

Aug 15

Sep 15

Okt 15

Nov 15

Des 15

Jan 16

BOR
RID

74%

72%

70%

70%

68%

71%

Rata-Rata BOR Enam Bulan Terakhir


= (74 + 72 + 70 + 70 + 68 + 71) %
6
= 71%
Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan data rata
BOR Ruang Rawat Inap A Unit Obgyn RS. Wava Husada
selama 6 bulan yakni bulan Agustus 2015 sampai Januari 2016
adalah sebesar 71%. Hal ini berarti BOR di Unit Obgyn Wava
Husada ideal.
BOR Pasien Saat Pengkajian
Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 9-11
Februari 2016, didapatkan gambaran kapasitas tempat tidur
ruang Rawat Inap A Unit Obgyn, yaitu 36 tempat tidur dengan
rincian sebagai berikut:

37

Tabel 3.30. BOR Saat Pengkajian


Jumlah

Tgl

BOR
(Px/Bed x 100%)

Bed

Px

9 Februari 2016

17

13

76%

10 Februari 2016

17

13

76%

11 Februari 2016

17

16

94%

b) ALOS
ALOS Tiga Bulan Terakhir
Berdasarkan data rekam medis, didapatkan hasil
penghitungan ALOS pasien sebagai berikut:
Tabel 3.31. ALOS 3 Bulan terakhir
Kategori

Nov 15

Des 15

Jan 16

ALOS RID

2,17

2,27

2,78

Berdasarkan data rekam medis didapatkan data rata


ALOS Ruang Rawat Inap D RS. Wava Husada selama tiga
bulan terakhir yaitu bulan November2015 sampai Januari 2016
adalah 2,4 hari.
ALOS Pasien Saat Pengkajian
Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan
penghitungan ALOS pasien sebagai berikut:

hasil

Tabel 3.32. ALOS Saat Pengkajian


Tanggal

Jumlah Pasien KRS

Rata-Rata Lama Perawatan

9 Februari
2016

3,2

10 Februari
2016

2,4

11 Februari
2016

2,7

38

Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data rata


ALOS Ruang Rawat Inap D RS. Wava Husada pada tanggal 9,
10, dan 11 Februari 2016 adalah adalah 3 hari.
2. Fungsi Manajemen
a. Perencanaan
a) Visi dan Misi Rumah Sakit
Visi Rumah Sakit
Menjadi rumah sakit unggulan dalam pelayanan untuk mencapai
kepuasan pelanggan.
Misi Rumah Sakit

Menjangkau dan melayani pelanggan secara professional dan


sepenuh hati (khidmah).

Menyediakan prasarana dan sarana yang berkualitas.

Nilai Rumah Sakit


Khidmah Professional Teamwork
Motto Rumah Sakit
Peduli pelayanan kesehatan berkualitas.
Jargon Rumah Sakit
Care With Smile
b) Visi dan Misi Keperawatan
Visi Ruang Rawat Inap A
Terwujudnya

peningkatan

kepuasan

pelanggan

dengan

memberikan asuhan keperawatan yang professional dan bermutu


Misi Ruang Rawat Inap A
1. Memberikan

pelayanan

asuhan

keperawatan

secara

professional dan bermutu

39

2. Memberikan pelayanan keperawatan yang holistik meliputi


biopsikososial dan spiritual dengan sepenuh hati
3. Mampu mengoperasionalkan sarana dan prasarana medis dan
keperawatan

dalam

menunjang

pelaksanaan

asuhan

keperawatan.
c) Keterkaitan Visi dan Misi Keperawatan dengan Rumah Sakit
Visi dan misi Ruang Rawat Inap A merupakan bagian dari visi misi
rumah sakit, kepala ruang mempunyai peran dalam mewujudkan
visi dan misi keperawatan guna mewujudkan visi dan misi rumah
sakit tercapai.
1. Falsafah Keperawatan
Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat Rumah Sakit
Wava Husada berkeyakinan bahwa :
a. Manusia adalah individu yang memiliki kebutuhan bio psikosial
spiritual yang unik. Kebutuhan ini harus selalu dipertimbangkan
dalam setiap pemberian asuhan keperawatan.
b. Keperawatan adalah bantuan bagi umat manusia yang
bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan secara
optimal kepada semua yang membutuhkan dengan tidak
membedakan bngsa suku, agama/kepercayaan dan statusnya
disetiap tempat pelayanan kesehatan.
c. Tujuan asuhan keperawatan dapat dicapai melalui usaha
bersama

dari

semua

anggota

tim

kesehatan

dan

pasien/keluarga.
d. Dalam

memberikan

asuhan

keperawatan

perawat

menggunakan proses keperawatan dengan 5 tahap untuk


memenuhi kebutuhan kesehatan pasien /keluarga
e. Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat memiliki
wewenag

melakukan

asuhan

keperawatan

secara

utuh

berdasarkan standart asuhan keperawatan

40

f.

Pendidikan keperawatan berkelanjutan harus dilaksanakan


secara terus menerus untuk pertumbuhan dan perkembangan
staff keperawatan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

2. Tujuan Organisasi
a. Tujuan Bidang Keperawatan Rumah Sakit
-

Tercapainya asuhan keperawatan sesuai dengan standart


asuhan keperawatan

Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan disiplin melalui


pembinaan pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan
untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

b. Tujuan Ruang Rawat Inap A


-

Memberikan asuhan kebidanan pada pasien wanita yang


berhubungan dengan sistem kebidanan dan kandungan secara
efektif dan efisien sesuai dengan SAB.

Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan disiplin melalui


pembinaan, pendidikan dan pelatihan dalam bidang perawatan
kebidanan dan kandungan.

Mengurangi kesakitan dan menurunkan angka kematian usia


produktif, pada saat persalinan dan nifas.

3. Kebijakan, Prosedur, dan Peraturan Organisasi


Kebijakan, prosedur, dan peraturan terkait dengan keperawatan
saat ini masih mengikuti kebijakan, prosedur, dan peraturan terkait
dengan keperawatan rumah sakit.

4. Perencanaan Strategis

41

a. Rencana strategis rumah sakit


Program Rumah Sakit Wava Husada yang dijalankan oleh Ruang
Rawat Inap A yaitu
-

Identifikasi pasien
Identifikasi pasien dilakukan dengan cara pemberian warna
gelang yang berbeda berdasarkan gender. Pada pasien laki-laki
menggunakan

gelang

berwarna

biru

dan

perempuan

menggunakan gelang berwarna merah muda.


-

Cuci tangan
Program ini merupakan program yang dijalankan oleh Instalasi
Rawat Inap saat ini. Program ini penting dalam mengurangi
resiko infeksi pada pasien.

Komunikasi Situation Background Assessment Recomendation


(SBAR)
Program ini meliputi pemberian komunikasi efektif antar
perawat

dan

tenaga

kesehatan

lain.

Saat

ini

untuk

implementasi dari SBAR belum dilaksanakan secara maksimal


di Ruang RIA meskipun sudah terdapat wacana akan hal
tersebut.
-

Identifikasi pasien resiko jatuh, resiko dekubitus dan alergi


Program ini sudah disosialisasikan dengan pemberian gelang
khusus. Pemberian tanda gelang beerwarna merah pada
pasien dengan alergi. Pemberian tanda gelang warna kuning
pada pasien dengan resiko jatuh. Sedangkan untuk pasien
dengan resiko dekubitus tidak terdapat tanda khusu, hanya
dilakukan screening secara teratur untuk mengkaji dekubitus
pasien.

b. Rencana operasional

42

Berdasarkan hasil wawancara dan kebijakan dari rumah


sakit, ruang RIA memiliki program unggulan yang dijalankan yaitu
sebagai ruang yang dikhususkan bagi ibu pasca persalinan.
Selain itu pada ruang RIA memiliki program khusus yakni
penyuluhan mengenai perawatan setelah nifas di rumah yang
dilakukan

sebulan

sekali.

Untuk

penyuluhan

bulan

ini

mendapatkan tambahan materi mengenai isu terhangat di


masyarakat yaitu mengenai DBD. Untuk materi dikonsulkan ke
PKRS.
c. Keterlibatan staf keperawatan dalam perencanaan
Staf keperawatan terlibat dalam pemberian perawatan
secara langsung sesuai program yang telah direncanakan.

43

b. Pengorganisasian
1) Struktur Organisasi
a) Struktur Organisasi RS Wafa

DIREKTUR
PT. ABNA SAMANHUDISAUTIKA HUSADA (DEWAN KOMISARIS)
DEWAN PERENCANAAN
DIREKTUR

SISTEM INFORMASI MANAGEMEN

SATUAN PEMERIKSAAN INTERNAL

BIDANG PELAYANANBIDANG
MEDIS PENUNJANG (SARANA DAN PRASARANA)
BIDANG KEPERAWATAN BIDANG AKUNTANSI DAN KEUANGAN
BAGIAN UMUM & PERSONALIA

UNIT YANMED, RAWAT JALAN DAN RAWAT INAPUNIT PEMASARAN


UNIT YANMED, GAWAT DARURAT DAN AMBULANCE
INSTALASI FARMASI

UNIT YANMED, KAMAR OPERASI

UNIT LABORATORIUM

UNIT YANMED, ICU

UNIT RADIOLOGI

UNIT YANMED, KAMAR BERSALIN


UNIT YANMED, PERINATOLOGI

UNIT RAWAT JALAN

UNIT PSDM & KESEKRETARIATAN


UNIT ADMINISTRASI BILLING
KOMITE MEDIK
KOMITE ETIK DAN HUKUM
UNIT GAWAT DARURAT
KOMITE KEPERAWATAN
UNIT KEUANGAN DAN PERPAJAKAN
KOMITE
KESELAMATAN
UNIT UMUM
& RUMAH
TANGGA PASIEN, RESIKO MANA
UNIT KAMAR OPERASI
KOMITE PENGENDALIAN MUTU RUMAH SAKIT
UNIT ICU

UNIT GIZI

UNIT REKAM MEDIS

KOMITE

UNIT AKUNTANSI DAN PENGELOLAAN ASET

UNITKAMAR BERSALIN

UNIT PEMBELIAN

UNITKAMAR STROKE
UNIT PERINATOLOGI
UNIT HEMODIALISA

UNIT YANMED, STROKE

UNIT FISIOTERAPI
UNIT RAWAT INAP A

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT


UNIT YANMED, HEMODIALISA

UNIT BPJS

UNIT FISIOTERAPI

UNIT RAWAT INAP B

Gambar3.2 Struktur Organisasi RS Wava Husada

UNIT RAWAT INAP C


UNIT RAWAT INAP D
UNIT PERINATOLOGI

44

b) Struktur Organisasi Keperawatan


Direktur RS
dr. M.Arif Sujadi, MMRS
Wakil Direktur RS
dr.LutfI Rahman, MMRS
KOMITE KEPERAWATAN
Kabid Keperawatan
Ns. Kholis Eko C, S.kep
Kepala Unit
Jana Anjasmara, S.Kep
Penanggungjawab Sementara
Yulia Agustina,Amd. Kep
Ketua Tim
Ns. Ratih Retnaningtyas,S.Kep

Pj Shift I
Diah Heni P, Amd.Kep

Pj Shift II
Ns. Tika Wulansari,S.Kep

Perawat Pelaksana
Nina Ike,Amd.Keb
Riska Karunia, SST
Wiwin Ernayanti,Amd.Kep
Ns. Yuris Ainunnissa,S.Kep
Vivi Maisaroh,Amd.Kep
Hakimatun Nisa,Amd.Kep
Jeni Anitasari,Amd.Kep

Pj Shift III
Dewi Ika A, Amd.Keb

Pj Shift
Nunik W, Amd.Keb

Asisten Perawat
Yenni Susanti

Gambar 3.3 Struktur Organisasi Keperawatan Unit Rawat Inap A


Catatan :
- Pada saat 3 hari pengkajian, kanit sedang menjalani pendidikan profesi Ners
sehingga tugasnya dilimpahkan kepada penanggungjawab sementara
(PJS). Namun, PJS juga sedang cuti melahirkan sehingga tugasnya
dilimpahkan kepada katim. Sehingga, katim mempunyai dua tugas yaitu
menjalankan tugas kanit dan katim.
- Untuk Penanggung Jawab Shift ditentukan berdasarkan kemampuan dan
pengalaman kerja. Hal ini dikarenakan PJ shift diharapkan adalah perawat
yang benar-benar memahami tentang tindakan keperawatan yang harus
dilakukan sehingga dapat memberikan pendampingan dan bimbingan
pada perawat pelaksana yang bertugas pada shift tersebut.

45

2) Uraian Tugas
a) Kepala Unit Keperawatan UnitRawat Inap A
Tabel 3.33. Uraian Tugas Kepala Unit Keperawatan Rawat Inap A
Uraian Tugas

Tidak

Dilakukan

Dilakukan

1. Melaksanakan fungsi perencanaan, meliputi :


a. Merencanakan dan membuat prosedur kerja unit

b. Merencanakan jumlah dan kategori tenaga perawatan serta

tenaga lain sesuai kebutuhan


c.

Merencanakan jumlah dan jenis alat medis dan penunjang

medis keperawatan sesuai kebutuhan


d. Merencanakan&menentukan

jenis

kegiatan/asuhan

keperawatan yang akan diselenggarakan sesuai visi dan misi


rumah sakit
2. Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan,meliputi :
a. Mengatur&mengkoordinasi seluruh kegiatan pelayanan.

b. Menyusun&mengatur jadwal dinas tenaga perawat dan tenaga

lain di unit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


c.

Melaksanakan program orientasi kepada tenaga perawat baru

atau tenaga lain yang akan bekerja di unit.


d. Memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga perawatan

untuk melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standart.


e. Melakukan koordinasi seluruh kegiatan yang ada dengan cara

bekerjasama dengan berbagai pihak/unit yang berkaitan


dengan pelayanan di unit rawat inap A
f.

Mengadakan pertemuan berkala dengan pelaksana perawatan

dan tenaga lain yang ada di wilayah tanggung jawab.


g. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang

keperawatan antara lain melalui pertemuan ilmiah.


h. Menyusun

permintaan

rutin

meliputi

kebutuhan

alat

kesehatan, obat dan bahan lain yang diperlukan dalam proses


asuhan keperawatan.
i.

Mengadakan pendekatan terhadap pasien yang dirawat untuk

mengetahui keluhan serta membantu memecahkan masalah


yang dihadapinya.
j.

Mengadakan kerjasama yang baik dengan kepala unit

keperawatan yang lain, kepala fungsional keperawatan,


kepala bagian dan yang lainnya.

46

k.

Menciptakan dan memelihara suasana kerja unit yang baik

sehingga mendukung terlaksananya staff dalam memberikan


pelayanan keperawatan.
l.

Memotivasi tenaga non keperawatan dalam memelihara

kebersihan unit dan lingkungannya.


m. Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di unit.

n. Memeriksa dan meneliti pengisian daftar permintaan makanan

serta meneliti ulang pada saat dibagikan


kepada pasien apakah sudah sesuai dengan dietnya.
o. Memelihara buku register dan berkas catatan medik.

p. Membuat laporan harian&bulanan pelaksanaan kegiatan

asuhan

keperawatan

serta

kegiatan

lain

di

unit

dan

selanjutnya menyampaikannya kepada kepala fungsional


keperawatan/kepala bagian pelayanan.
3. Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian,
meliputi :
a. Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan

yang telah ditentukan.


b. Melaksanakan

penilaian

terhadap

upaya

peningkatan

pengetahuan dan keterampilan di bidang keperawatan


c.

Mengawasi peserta didik dari institusi pendidikan untuk

memperoleh pengalaman belajar, sesuai dengan tujuan


program pendidikan yang telah ditentukan oleh institusi.
d. Melaksanakan penilaian dan mencantumkannya ke dalam

daftar penilaian bagi pelaksana dan tenaga lainnya di bawah


tanggung jawabnya untuk berbagai kepentingan seperti
perubahan status karyawan, kenaikan golongan, dan atau
melanjutkan pendidikan.
e. Mengawasi dan mengendalikan perdayagunaan peralatan

perawatan, alat kesehatan dan obat-obatan secara efektif dan


efisien.
f.

Mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan

kegiatan asuhan keperawatan serta mencatat kegiatan lain di


unit.
Total
Presentase

21
80,7%

5
19,2%

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa Kanit Rawat Inap A


80,7%dapat menjalankan pelaksanaan tugas, peran, dan fungsi managemen

47

keperawatan dengan baik sehingga peran fungsi Kanit perlu dimaksimalkan lagi
sesuai dengan uraian tugasnya.Tugas dan peran yang belum maksimal tercapai
ialahdalam

menjalankan

fungsi

pergerakan,pelaksanaan,pengawasan,

pengendalian,dan penilaian. Hal ini dikarenakan kanit mempunyai jadwal rapat


yang padat dan harus berperan ganda sebagai katim, sehingga kanit belum
maksimal menjalankan tugasnya.
b) Ketua Tim (Katim)
Tabel 3.34. Uraian tugas Ketua Tim Rawat Inap A
Uraian Tugas

Dilakukan

a. Bersama penanggung jawab ruangan/kepala ruangan/perawat


associate/anggota tim mengadakan serah terima tugas setiap
penggantian dinas.
b. Melakukan pembagian tugas kepada perawat associate
dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing
anggota.
c. Menyusun rencana asuhan keperawatan mulai dari pengkajian
sampai dengan evaluasi.
d. Mengikuti visite dokter.
e. Menciptakan suasana harmonis.
f. Membuat laporan pasien.
g. Mengorientasikan pasien baru.
h. Membina hubungan saling percaya antara perawat, pasien,
dan keluarga.
i. Memberikan pertolongan segera pada pasien dengan
kedaruratan.
j. Membuat laporan pasien dan mencatat kasus dari pasien,
kejadian diluar dugaan yang tidak diinginkan.
k. Mengatur waktu istirahat.
l. Melakukan ronde keperawatan bersama Kepala Ruang dan
melaporkan tentang kondisi pasien, asuhan keperawatan yang
dilakukan, kesulitan yang dialami.
m. Bersama perawat pagi, sore, dan malam melaksanakan,
mengawasi, dan mengevaluasi pelayanan keperawatan pasien
yang sudah diprogramkan dan membuat pembaharuan sesuai
dengan kebutuhan pasien.
n. Mendelegasikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada
anggota tim.
o. Membuat perincian tugas anggota tim.
p. Menerima konsultasi dari anggota tim dan memberikan
instruksi keperawatan.
q. Memimpin pertemuan tim keperawatan untuk menerima
laporan, sistem pengarahan tentang tugas anggota tim,
pelaksanaan asuhan keperawatan, serta masalah yang

Tidak
dilakukan

48

dihadapi.
Memelihara komunikasi efektif baik secara vertikal maupun
horizontal.
s. Melakukan penyuluhan kepada pasien/keluarga atau kepada
anggota tim.
t. Memberi teguran dan pujian.
u. Melengkapi catatan yang telah dibuat oleh anggota tim.
v. Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat
pelaksana.
w. Mengawasi proses asuhan keperawatan yang dilakukan oleh
anggota tim.
x. Membantu kepala ruangan membimbing peserta didik.
Total
Presentase
r.

Berdasarkan

tabel

diatas

di

interpretasikan

15
62,5 %

Ketua

Tim

9
37,5 %

dalam

menjalankan fungsi manajemen keperawatan sebesar 62,5% dengan kategori


cukup. Sehingga peran fungsi Ketua TIM perlu ditingkatkan lagi sesuai dengan
uraian tugasnya.
c) Penanggung Jawab Shift Keperawatan (PJ Shift)
Tabel 3.35. Uraian Tugas penanggung Jawab Shift Keperawatan (PJ Shift)
Uraian Tugas
1. Bertanggung jawab kepada kepala
unit.
2. Melaksanakan operan langsung
dengan PJS sebelum dan sesudah
shift, yang diikuti oleh anggota tim
(shift tersebut).
3. Mengatur dan mengkoordinasi
kegiatan pelayanan keperawatan
dalam shift tersebut.
4. Mengontrol dan memberi
bimbingan kepada perawat
(anggota tim) yang bertugas dalam
shift tersebut.
5. Menerima pasien baru sekaligus
melakukan orientasi kepada pasien
keluarganya.
6. Mengkaji ulang kebutuhan pasien.
7. Membuat rencana asuhan
keperawatan dan mendelegasikan
kepada anggota timnya.
8. Menerima laporan dari perawat
yang bertugas tentang maslaah
pasien/maslah lain.
9. Mengontrol perkembagan
kesehatan semua pasien diunit

Ya

PJ 1
Tidak

Ya

PJ 2
Tidak

Ya

PJ 3
Tidak

Ya

49

PJ 4
Tidak

kerjanya.
10. Mengontrol kesiapan peralatan
atau instrumen kesehatan.
11. Mengontrol kesiapan obat-obatan
unit dan pasien.
12. Melaksanakan evaluasi asuhan
keperawatan berdasarkan laporan
dari anggota timnya.
13. Mencatat hal-hal khusus/kejadian
diluar dugaan pasien.
14. Memberikan bimbingan kepada
pasien pulang tentang cara
perawatan dan cek kelengkapan
unitnya.
15. Melaksanakan tugas lain yang
diberikan oleh atasan.
16. Laporan pelaksanaan :
a. Penanggung jawab shift dalam
membuat laporan
didokumentasikan langsung
pada status pasien.
b. Bila ada hal-hal yang khusus
tetap ditulis distatus pasien dan
bila dimungkinkan lupa tidak
dilaksanakan bisa ditulis pada
buku khusus (buku komunikasi)
di masing-masing unit.
c. Mencatat laporan dari anggota
tim ke dalam status pasien

18

100%

0%

Total
Presentase

18

100
%

0%

18

18

100
%

0%

100
%

0%

Berdasarkan tabel diatas menginterpretasikan penanggung jawab shift


dalam menjalankan tugaskeperawatan sudah dilakukan 100%. Hal ini harus
tetap dipertahankan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di unitrawat inap A.
Akan tetapi meskipun PJ shift sudah menjalankan uraian tugasnya sebesar
100%, dari 2 PJ shift yang diwawancarai mengatakan tidak mengetahui secara
rinci uraian tugas sebagai PJ Shift

d) Perawat Pelaksana
Tabel 3.36. Uraian tugas Perawat Pelaksana
Uraian Tugas

P1

P2

P3

P4

50

1. Memelihara dan mengawasi


kebersihan unit perawatan dan
lingkungannya.
2. Menerima pasien baru sesuai SOP.
3. Memelihara peralatan
medis/perawatan dalam keadaan
siap pakai, dengan cara :
Membersihkan dan menyimpan
alat-alat yang telah digunakan.
Menyiapkan alat secara
lengkap dalam keadaan siap
pakai.
4. Mengkaji kebutuhan dan masalah
kesehatan pasien sesuai batas
kemampuannya, dengan cara :
Mengamati keadaan pasien
(tanda-tanda vital, kesadaran,
keadaan mental, keluhan
utama)
Melaksanakan anamnesa
sesuai batas kemampuan dan
kewenangannya
5. Menyusun rencana keperawatan
sesuai dengan masalah klien
6. Melaksanakan tindakan
keperawatan kepada pasien sesuai
dengan rencana.
7. Melaksanakan program dengan
penuh tanggung jawab:
1) Pemberian obat.
2) Pemeriksaan laboratorium.
3) Persiapan klien yang akan
operasi.
8. Memperhatikan keseimbangan
kebutuhan fisik, mental, dan
spiritual klien:
1) Memelihara kebersihan klien
dan lingkungan.
2) Mengurangi penderitaan klien
dengrasa aman, nyaman.
3) Pendekatan dan komunikasi
terapeutik.

9. Mempersiapkan klien secara fisik


dan mental untuk menghadapi
tindakan perawatan dan
pengobatan atau diagnosis.
10. Melatih klien untuk menolong
dirinya sendiri sesuai dengan
kemampuannya.
11. Membantu kepala ruangan dalam

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

51

ketatalaksanaan ruang:
1) Menyiapkan data klien baru,
pulang, atau meninggal.
2) Sensus harian atau formulir.
3) Rujukan dan penyuluhan
PKMRS.
12. Mengatur dan menyiapkan alat-alat
diruangan menurut fungsinya
supaya siap pakai.
13. Menciptakan dan memelihara
kebersihan, keamanan,
kenyamanan, dan keindahan
ruangan.
14. Melaksanakan tugas dinas
pagi/sore/malam atau hari libur
secara bergantian sesuai dengan
jadwal dinas.
15. Melaporkan segala sesuatu
mengenai keadaan klien baik
secara lisan maupun tulisan.
16. Membuat laporan harian klien.
17. Operan dengan dinas berikutnya.
18. Menerima bantuan bimbingan
katim/ ka shift dan melaksanakan
pendelegasian dari kepala
ruangan.Melaksanakan serah
terima tugas kepada petugas
pengganti secara lisan maupun
tertulis, pada saat pergantian shift.
19. Menyiapkan pasien yang akan
pulang, meliputi :
a. Menyediakan formulir untuk
penyelesaian administratif,
seperti :
- Kwitansi dokter
- Menyiapkan Casemix dan
RM 019 untuk pasien BPJS
- SIMRS (visite, tindakan,
input kontrol, cek foto
radiologi, laborat, obat,
alkes, input rencana
pulang)
- Resep obat
- Retur obat
- Melengkapi dischrge
planning
- Surat keterangan sakit,
surat keterangan dirawat
b. Memberi penyuluhan kesehatan
kepada pasien dan keluarganya
sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan pasien.
Total

18

18

18

18

52

Presentase

95%

95%

95%

95%

Berdasarkan tabel diatas menginterpretasikan perawat pelaksana


dalam menjalankan uraian tugas keperawatan dilakukan 95% sudah baik namun
harus tetap ditingkatkan terutama dalam hal menyiapkan alat secara lengkap
sesuai dengan SPO. Keikutsertaan perawat pelaksana dalam peningkatan
pengetahuan melalui pelatihan juga masih terbatas bagi perawat pelaksana,
karena pelatihan sejauh ini lebih diutamakan diikuti oleh perawat senior.
3) Klasifikasi Pasien
Pengklasifikasian pasien berdasarkan pada pembiayaan pasien dan
ruang rawat inap. Untuk ruangan dibagi menjadi 4, yaitu 3 ruang kelas 3 yaitu
ruang 204, 205 dan 206. 1 ruang kelas 2 yaitu ruang 203, 1 ruang kelas 1 yaitu
ruang 202, 1 ruang VIP C yaitu ruang Zamrud.
4) Ketenagaan
a) Perencanaan Kebutuhan Tenaga Keperawatan
Rencana kebutuhan tenaga yang diperhitungkan oleh kepala unit rawat
inap A seperti tabel dibawah ini yang menjelaskan jumlah dan kualifikasi
tenaga di Unit rawat inap A yang diharapkan dan dalam pelaksanaannya
rencana ini telah terpenuhi dengan 14 tenaga.
Tabel 3.37. Rencana kebutuhan tenaga yang diperhitungkan oleh kepala unit
rawat inap A
No

Standar
Jumlah

Bagian

Kepala Unit

Katim

Standar Pendidikan & Pelatihan


a. Berijazah
pendidikan
formal
di
bidang
Kepanjen,
01 April
2011
Keperawatan/Kebidanan, minimal Diploma 3/S1
b. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan sertifikat
manajemen Bangsal Keperawatan
c. Berpengalaman sebagai pelaksana Perawatan 3-5 tahun
d. Sehat jasmani dan rohani
e. Mempunyai sertifikat pelatihan atau seminar di bidang
keperawatan
f. Servis Excellent
a. Berijazah
pendidikan
formal
di
bidang
Keperawatan/Kebidanan, minimal Diploma 3/S1
b. Berpengalaman sebagai pelaksana Perawatan 2-3 tahun
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Mempunyai
sertifikat
pelatihan
atau
seminar

53

PJ Shift

Perawat
pelaksana

6.

Asisten
Perawat

keperawatan
e. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan sertifikat
managemen Bangsal Keperawatan.
f. Servis Excellent
a. Berijazah
pendidikan
formal
di
bidang
Keperawatan/Kebidanan, minimal Diploma 3/S1
b. Berpengalaman sebagai pelaksana Perawatan 1-2 tahun
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Mempunyai
sertifikat
pelatihan
atau
seminar
keperawatan
e. Servis Excellent
a. Berijazah pendidikan formal di bidang Keperawatan dari
semua jenjang yang disahkan oleh pemerintah atau yang
berwenang.
b. Mempunyai sertifikat pelatihan atau seminar di bidang
keperawatan
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Servis Excellent.
b. Pendidikan
Memiliki pendidikan SMK Asisten Keperawatan dan
atau D1 Asisten Perawat
Mampu mengoperasionalkan computer minimal
Microsoft office
c. Kondisi fisik
Sehat jasmani dan rohani
d. Kemampuan
Memiliki kepribadian yang baik dan berdedikasi tinggi
Mampu berkomunikasi dengan baik
Mampu bekerja sama dengan tim Keperawatan
d. Memiliki tanggung jawab, jujur dan dapat di percaya.

b) Jadwal Dinas
Tabel 3.38. Jadwal Dinas Pegawai Ruang Rawat Inap A
No

Shift

Kode

Hari

Jam Kerja

Jumlah Jam

Jumlah Sdm

A. Kanit
1

Pagi kantor

KT

Senin-Jumat

07.00-15.00

Pagi tengah

TK

Sabtu

07.00-12.00

Libur

Minggu

07.00-07.00

24

PG

Senin-Sabtu

07.00 - 14.00

14.00-21.00

B. PJ Shift
1

Pagi

Sore

SG

Senin-Sabtu

Malam

ML

Senin-Sabtu

21.00-0700

10

Libur

Senin-Sabtu

07.00-07.00

24

54

C. Perawat Pelaksana
1

Pagi

PG

Senin-Sabtu

07.00 - 14.00

Sore

SG

Senin-Sabtu

14.00 - 21.00

Malam

ML

Senin-Sabtu

21.00-07.00

10

Libur

Senin-Sabtu

07.00-07.00

24

E. Asisten Perawat
1

Pagi

PG

Senin-Minggu

07.00-14.00

Sore

SG

Senin-Minggu

14.00-21.00

Libur

Senin-Sabtu

07.00-07.00

24

1/-

Dari data diatas pendistribusian dari jumlah perawat yang ada masih
bisa diatur untuk memberikan pelayanan keperawatan yang ada di unit rawat
inap A dengan baik sehingga ada beberapa pengkondisian shift jaga, yaitu
dalam pengaturan shift yang ada, apabila ada perawat yang cuti
(melahirkan, tahunan, menikah) dan ijin (sakit) maka disetiap pembuatan
jadwal bulanan diberlakukan sistem On Call apabila unit memerlukan
tambahan tenaga maka dapat memanggil perawat yang sudah terjadwal
untuk On Call pada hari itu dan nantinya akan di hitung sebagai lembur
karyawan untuk memberikan reward kepada perawat yang On Call.
Pembuatan jadwal dilakukan secara langsung oleh kepala unit rawat rawat
inap A. Meskipun sekarang kanit sedang menjalankan studi profesi dan PJS
sedang cuti melahirkan, namun apabila ada perawat yang ingin ijin, maka
harus menghubungi dan mendapatkan persetujuan dari kanit ataupun PJS,
setelah itu baru katim mengondisikan di unit. Perawat pelaksana dapat
mengajukan

perubahan

jadwal

dengan

tetap

memenuhi

peraturan

pengkondisian shift jaga yang telah ditentukan di unit rawat inap A sesuai
penjelasan di sesi sebelumnya.

c) Penerimaan Pegawai Baru


Peserta awalnya mengikuti seleksi berkas terlebih dahulu,
kemudian

mengikuti

ujian

tulis

dan

psikologi

dasar,

praktek/skill,

computer,dan wawancara. Jika lolos peserta dikontrak selama 3 bulan di


awal untuk diorientasi dan dievaluasi kinerjanya. Peserta magang wajib

55

mengisi kendali skill keperawatan dan buku catatan kegiatan orientasi


keperawatan selama praktek di ruangan yang diobservasi dan dinilai oleh
kanit setiap harinya. Setelah 3 bulan magang, peserta mengikuti ujian
dengan sistem kredensial yaitu melalui tes tulis dan tes praktek yang dinilai
langsung oleh komite dan kabid keperawatan. Apabila tidka lulus, peserta
wajib mengikuti remidi hingga mencapai standar nilai kelulusan yaitu 90.
Setelah dinyatakan lulus, peserta menandatangani kontrak kerja selama 2
tahun dan dinyatakan sebagai pegawai kontrak. Pada tahun pertama
perawat tidak mendapatkan cuti namun pada tahun kedua perawat baru
mendapatkan cuti. Setelah 2 tahun kerja, perawat dilakukan tes kredensial
kembali

untuk

mengetahui

apakah

perawat

akan

melanjutkan

kontrak/diangkat sebagai pegawai tetap/keluar.


d) Penempatan
Untuk penempatan calon perawat di unit rawat inap A tergantung
ketentuan yang ditetapkan oleh Rumah Sakit
e) Orientasi Ruangan
Orientasi ruangan dilakukan selama 1 hari oleh karu, sedangkan
pemaparan mengenali pengenalan BPI,

program KPRS, PPI, K3, dll

dilakukan oleh manajer keperawatan di ruang meeting.


f) Pengembangan Staf
-

Pendidikan
Untuk pendidikan di unit rawat inap A diutamakan untuk Kanit. RS Wava
telah mengusahakan kerjasama dengan institusi pendidikan, seperti:
Universitas Brawijaya, UMM, STIKES Kendedes dan institusi lainnya di
Mojokerto. Bila ada pegawai yang ingin melanjutkan pendidikan, maka
diijinkan oleh RS Wava selama tidak mengganggu kinerja. Untuk
melanjutkan jenjang pendidikan, kanit di biayai penuh oleh RS Wava
Husada.

Pelatihan
Untuk pengembangan staf berupa pelatihan, bagian PSDM memberikan
kesempatan pada perawat untuk memilih pelatihan apa yang ingin di

56

ikuti. Selanjutnya ruangan mendata nama perawat dan pelatihan yang


ingin di ikuti dan menunggu konfirmasi bagi yang terpilih untuk mengikuti
pelatihan. Sejauh ini terdapat 2 jenis pelatihan yaitu pelatihan eksternal
yang dilaksanakan di RS dan pelatihan internal di RS. Untuk pelatihan
eksternal di luar RS, mayoritas diikuti oleh kanit/pjs/katim, seperti
pelatihan perceptorship dan accessor kompetensi. Pelatihan internal
seperti BLS sudah diikuti oleh semua perawat di unit rawat inap A. Selain
tiu, terdapat 53% (8 dari 15) perawat di RIA yang sudah memiliki
sertifikat kompetensi perawat klinik 1.
g) Jenjang Karir
RS Wava Husada memberikan kesempatan kepada seluruh pegawai
secara

rata

untuk

memperoleh

posisi

dalam

struktur

organisasi

keperawatan atau fungsional sehingga penilaian yang diutamakan adalah


kinerja.
e. Metode Keperawatan
Di unit rawat inap A menggunakan metode tim yang hanya memiliki 1
katim yang mempunyai peran ganda sebagai kanit selama 3 bulan.
f.

Pedoman SPO
Pedoman

standar prosedur operasional yang digunakan untuk

pelayanan di Ruang Rawat Inap A adalah tabel sebagai berikut:


Tabel 3.39. Daftar Standar Prosedur Operasional
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Daftar Standar Prosedur Operasional


Memberikan Obat Intra Cutan
Memberikan Obat IV Tidak Langsung
Memberikan Obat Intra Muscular
Memberikan Obat IV Langsung
Plebotomy
Mengganti Pairan Infus
Pemasangan Infus
Menghitung Tetesan Infus
Penatalaksanaan Infus Macet
Pemberian Oksigen Melalui Simpel Masker
Pemberian Oksigen Melalui Nasal Canul
Pemberian Oksigen Melalui Non Rebreathing Masker
Penilaian Status Oksigenasi Dengan Oksimetri Nadi
Pemasangan NGT atau OGT
Menggantikan Alat Tenun Pasien

57

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70

Mengukur Suhu Melalui Rektal


Menghitung Balance Cairan
Menerima Pasien Baru dan Menjelaskan Fasilitas
Mengukur Suhu Tubuh Melalui Aksila
Melakukan Oral Hygine
Membantu Pasien Mandi Diatas Tempat Tidur
Mobilisasi Miring Kanan, Miring Kiri
Melakukan Masage Pada Area Tubuh yang Tertekan
Melakukan Clapping Vibrasi
Memberikan Terapi Obat Sublingual
Pemberian Obat Supositoria
Pemberian Obat Secara Oral
Pemberian Injeksi Melalui Subcutan
Menolong Pasien BAK dan BAB Diatas Tempat Tidur
Mengganti Baju Pasien
Mencuci Rambut Pasien di Tempat Tidur
Menjaga Kebersihan Lingkungan Pasien
Operan Antar Unit
Mengukur Tekanan Darah
Memasang Bidai Infus
Melepas IV Cath/ Infus
Menilai Tingkat Kesadaran
Menyiapkan Pasien Pulang
Memberikan Nutrisi Melalui NGT
Memberikan Obat Tetes
Memfasilitasi Pasien Makan
Nebulizer
Syiring Pump
Infus Pump
Memasang Kondom Kateter
Menimbang Berat Badan
Vulva Hygine
Memberikan Obat Topikal Salep
Jaw Trush Manuver (pendorongan rahang bawah)
Perawatan Pasien Sesudah Operasi
Kompres Dingin
Menerima Pasein Baru
Pemasangan Coral Servical
Merawat Pasien yang Sudah Meninggal
Kompres Hangat
Triple Manuver
Memulangkan Bayi
Layanan Spiritual
Perawatan Luka Kecil
Menghitung Denyut Nadi
Menghitung Pernafasan
Melepas Dower Kateter
Pemasangan Orofaringeal Tube
Memfasilitasi Pasein Konsultasi di Poliklinik
Mengukur Tinggi Badan
Pengukuran Lingkar Lengan
Melakukan Huknah
Memfasilitasi Pasien Untuk Fisio Terapi
Memotong Kuku Pasien
Mengatur Posisi Dorsal Recumben

58

71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86

Mengatur Posisi Trendelenburg


Mengatur Posisi Semi Fowler (setengah duduk)
Mengatur Posisi Sym
Mengatur Posisi Lytothomy
Melepas NGT
Menyisir Rambut
Prosedur Pemasangan Gelang Identitas
Prosedur Pelepasan Gelang Identitas
Prosedur Identifikasi Pasien
Pencegahan Resiko Jatuh
Persiapan Operasi
Persiapan Operasi Kecil
Lima Momen Cuci Tangan
Pemakaian APD Sarung Tangun
Cuci Tangan Dengan Hand Rub
Cuci Tangan Dengan Air Mengalir

Analisa Tindakan Berdasarkan SOP


Tabel 3.40 SPO Memberi Terapi Obat Per IV Tidak Langsung (Melalui Saluran Infus)

1
2
3
4

SPO Memberi Terapi Obat Per IV Tidak Langsung (Melalui saluran Infus)
Pengertian
Memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh
darah vena dengan melalui saluran infus.
Tujuan
Injeksi IV diperlukan untuk mendapatkan reaksi obat yang
cepat.
Kebijakan
SK Direktur Nomor 165/SK/DIR/X/2015 Tentang Tindakan
Keperawatan Kolaborasi
Prosedur
1.
A. Kriteria Persiapan
a. Obat yang akan diberikan
b. Spuit atau disposible spuit steril
c. Alkohol swab
d. Pengencer obat
e. Bengkok
f. Hand scoen (jika perlu)
g. Jam tangan yang ada detikannya
Dilakukan
Tidak
Dilakukan
Kriteria
a. Cuci tangan

Pelaksanaan
b. Pakai sarung tangan (jika perlu)

c. Atur posisi pasien untuk


penyuntikan

d. Cek kelancaran tetesan infus


sebelum obat dimasukkan

e. Pastikan tidak ada udara pada


spuit disposable yang berisi
obat

f. Klem infus set


g. Desinfeksi pada port injeksi
h. Sambungkan spuit obat dengan

port injeksi

i. Lakukan aspirasi atau

59

j.

k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.

mengisap spuit disposible


untuk memastikan obat masuk
saluran vena dengan baik. Jika
saat aspirasi terlihat darah
keluar saluran infus maka obat
siap dimasukkan.
Memasukkan obat secara
perlahan dengan mendorong
pegangan disposible spuit
sampai obat habis.
Lepaskan spuit dengan port
injeksi
Teteskan infus
Ulangi jika ada lebih dari 1 jenis
obat
Membuka klem cairan infuse
dan mengobservasi kelancaran
tetesan aliran infus.
Membuang disposeble spuit ke
bangkok
Menhitung tetesan infus sesuai
dengan ketentuan program
pemberian cairan
Membereskan pasien
Membereskan alat-alat
Melepas sarung tangan
Mencuci tangan

Keterangan
Dalam

melakukan

tindakan

prosedur

injeksi,

perawat

sudah

melakukannya sesuai dengan SPO yang ada. Hal ini terbukti dengan skor 90%
yang diperoleh perawat saat melakukan prosedur injeksi

Tabel 3.41. SPO Pengambilan Darah Untuk Pemeriksaan

SPO Pengambilan Darah Untuk Pemeriksaan


Kebijakan
Pengertian

SK Direktur Nomor 165/SK/DIR/X/2015 Tentang Tindakan Keperawatan


Kolaborasi
Suatu cara pengembilan darah vena yang diambil dari dalam fossa cubiti,
vena saphead magna / vena supervisial lain yang cukup besar untuk
mendapatkan sampel darah yang cukup baik dan representative dengan
menggunakan spuit.

60

Dilakukan
Kriteria
Pelaksanaan

a. Cuci tangan dan menggunakan


sarung tangan
b. Minta pasien untuk meluruskan
lengannya, pilih tangan yang banyak
melalukan aktivitas
c. Minta pasien untuk mengepalkan
tangannya, tentukan vena yang
akan ditusuk
d. Pasang torniquet pada bagian
proximal
e. Pilih bagian vena mediana cubiti
atau cephalica. Lakukan perabaan
untuk memastikan posisi vena
f. Jika ven tidak teraba, lakukan
pengurutan dari arah pergelangan
atau kearah siku
g. Bersihkan kulit yang akan diambil
dengan alkohol swab, biarkan
kering. Dengan catatan kulit yang
sudah dibersihkan jangan dipegang
lagi
h. Siapkan spuit, keluarkan udara
i. Tusuk bagian vena denga posisi
lubang jarum menghadap keatas
dengan sudut tusukan 30 derajat.
Bila darah masuk ke dalam spuit
berarti jarum masuk pembuluh
darah vena. Hisap darah dengan
menarik bagian belakang spuit
secara perlahan untuk mencegah
pembuluh kolaps dan pecahnya
komponen darah
j. Hisap darah sesuai kebutuhan,
lepas tourniquet dan minta pasien
untuk membuka kepalan tangannya.
k. Letakkan kapas di tempat suntikan
lalu tarik jarum. Tekan kapas
beberapa saat lalu plester.
l. Tutup jarum dengan penutup,
lepaskan jarum dan spuit agar
komponen darah tidak rusak
m. Masukkan bagian darah kedalam
botol sesuai dengan pemeriksaan
yang dibutuhkan, tutup dengan karet
penutup dan goyangkan perlahan.
Beri label sesuai kebutuhan
n. Cuci tangan

Tidak
Dilakukan

Keterangan :

61

Dalam melakukan tindakan prosedur pengambilan darah, perawat


sudah melakukannya sesuai dengan SPO
dengan skor

yang ada. Hal ini terbukti

93% yang diperoleh perawat saat melakukan prosedur

pengambilan darah.
Tabel 3.42. SPO Pelepasan Dower Chateter

SPO Pelepasan Dower Chateter


Kebijakan
Pengertian
Kriteria
Pelaksanaan

SK Direktur Nomor 165/SK/DIR/X/2015 Tentang Tindakan Keperawatan


Kolaborasi
Suatu tindakan yang dilakukan untuk melepaskan cateter
Dilakukan
Tidak
Dilakukan
a. Cuci tangan

b. Posisikan pasien litothomy

c. Tanggalkan pakaian bagian bawah

pasien
d. Pakai handscoen

e. Buka plaster fiksasi cateter

f. Sambungkan spuit kosong ke

saluran balon cateter


g. Biarkan cairan tertarik masuk ke

spuit

h. Ulangi sampai cairan balon pengunci


kateter habis

i. Anjurkan pasien tarik nafas panjang


sambil kita menarik cateter perlahan

j. Buang cateter
k. Lakukan prosedur pemasangan
cateter jika indikasi pelepasan
adalah untuk mengganti

l. Kenakan kembali pakaian pasien

m. Bereskan alat

n. Cuci tangan

Keterangan:
Dalam melakukan tindakan prosedur pelepasan dower chateter, perawat
sudah melakukannya sesuai dengan SPO yang ada. Hal ini terbukti dengan
skor 100% yang diperoleh perawat saat melakukan prosedur pelepasan dower
chateter.
Dari ketiga tindakan keperawatan yang dilakukan perawat ruangan, hasil
observasi menunjukkan angka 94,3%. Hal ini menunjukkan kategori bahwa
tindakan yang dilakukan oleh perawat ruangan sudah baik dan sesuai dengan
protap yang ada di ruangan.

62

g. Pendokumentasian Proses Keperawatan


Unit rawat inap A memiliki SAK (Standar Asuhan Keperawatan) yang
masih dalam tahap penyesuaian. SAK khusus RS Wafa Husada merupakan
modifikasi dari Nanda, NOC, dan NIC yang sudah digunakan sejak bulan
November 2015. Meskipun di RIA sudah tersedia berbagai macam rencana
keperawatan dari berbagai diagnosa keperawatan, namun perawat
cenderung menggunakan hanya 1 diagnosa keperawatan pada setiap
pasien yaitu nyeri akut meskipun sebenarnya pasien mempunyai diagnosa
keperawatan

lain

berdasarkan

pengkajian

dan

keluhan

pasien.

Pendokumentasian proses keperawatan hanya sebatas tercantum dalam


rekam medis klien dan lembaran kondisi klien secara singkat yang tidak
jelas

pengumpulan&penyimpanan

lembarannya

setelah

berhari-hari,

seharusnya perawat memiliki buku laporan tim sendiri sebagai arsip.

63

3) Pendokumentasian Proses Keperawatan


4) Tabel 3.43. Pendokumentasian Proses Keperawatan

8)

9)
R

7) Kode Berkas
5)

6) Aspek Yang Dinilai

24)
26)

25) Pengkajian
27) Mencatat data yang dikaji
dengan
pedoman
pengkajian

40)

41) Data dikaji sejak pasien


masuk sampai pulang
55) Masalah
dirumuskan
berdasarkan kesenjangan
antara status kesehatan
dengan norma dan pola
fungsi kehidupan
69) Diagnosa keperawatan
71) Diagnosa
keperawatan
berdasarkan masalah yang
telah dirumuskan

54)

68)
70)

84)

85) Merumuskan
keperawatan
actual/potensial

diagnosa

98)

99) Rencana tindakan

12)

13)

14)

15)

16)

17)

18)

19)

20)

21)

22)

23)

28)

29)

30)

31)

32)

33)

34)

35)

36)

37)

38)

39)
6

42)

43)

44)

45)

46)

47)

48)

49)

50)

51)

52)

56)

57)

58)

59)

60)

61)

62)

63)

64)

65)

66)

72)

73)

74)

75)

76)

77)

78)

79)

80)

81)

82)

86)

87)

88)

89)

90)

91)

92)

93)

94)

95)

96)

83)
1

64

100)

101)
Berdasarkan
diagnosa keperawatan

102)

103)

104)

105)

106)

107)

108)

109)

110)

111)

112)
100

114)

115)
Disusun
menurut
urutan prioritas
129)
Rumusan
tujuan
mengandung
komponen
pasien/subjek perubahan,
perilaku, kondisi pasien dan
atau criteria
143)
Rencana tindakan
mengacu
pada tujuan
dengan kalimat perintah,
terinci dan jelas
157)
Rencana tindakan
menggambarkan
keterlibatan pasien atau
keluarga
171)
Rencana tindakan
menggambarkan kerjasama
tim kesehatan lain
185)
Tindakan
187)
Tindakan
dilaksanakan
sesuai
rencana
201)
Perawat
mengobservasi
respon
pasien terhadap tindakan
keperawatan
215)
Revisi
tindakan

116)

117)

118)

119)

120)

121)

122)

123)

124)

125)

130)

131)

132)

133)

134)

135)

136)

137)

138)

139)

126)
0%
140)
100

144)

145)

146)

147)

148)

149)

150)

151)

152)

153)

154)
100

158)

159)

160)

161)

162)

163)

164)

165)

166)

167)

168)
100

172)

173)

174)

175)

176)

177)

178)

179)

180)

181)

182)
100

188)

189)

190)

191)

192)

193)

194)

195)

196)

197)

198)
100

202)

203)

204)

205)

206)

207)

208)

209)

210)

211)

212)
100

216)

217)

218)

219)

220)

221)

222)

223)

224)

225)

226)

128)

142)

156)

170)
184)
186)
200)

214)

113)
8

65

199)
7

228)
242)
244)

258)

272)
274)
288)
302)

316)

berdasarkan hasil evaluasi


229)
Semua
tindakan
230)
yang telah dilaksanakan
dicatat ringkas dan jelas
243)
Evaluasi
245)
Perawat
246)
mengevaluasi
respon
pasien
sesuai
dengan
kriteria hasil yang sudah
ditentukan
259)
Perawat
260)
mengevaluasi
respon
pasien, analisa masalah
keperawatan dan rencana
tindak lanjut.
273)
Catatan asuhan keperawatan
275)
Menulis pada format
276)
yang baku
289)
Pencatatan
dilakukan sesuai dengan
tindakan yang dilaksanakan
303)
Setiap
melakukan
tindakan
perawat
mancantumkan paraf/nama
jelas dan tanggal jam
dilakukan tindakan
317)
Berkas
catatan
keperawatan
disimpan
sesuai dengan ketentuan

0%
240)
100

231)

232)

233)

234)

235)

236)

237)

238)

239)

247)

248)

249)

250)

251)

252)

253)

254)

255)

256)
100

261)

262)

263)

264)

265)

266)

267)

268)

269)

270)
100

277)

278)

279)

280)

281)

282)

283)

284)

285)

286)
100

290)

291)

292)

293)

294)

295)

296)

297)

298)

299)

300)
100

304)

305)

306)

307)

308)

309)

310)

311)

312)

313)

314)
100

318)

319)

320)

321)

322)

323)

324)

325)

326)

327)

328)
100

66

257)
1

287)
1

yang berlaku.
331)
RATA-RATA TOTAL

332)

333)
8

334)
335)
Berdasarkan hasil survey pada 10 rekam medik klien, didapatkan bahwa pendokumentasian asuhan keperawatan
di unit Rawat Inap A RS Wava Husada sudah baik dengan prosentase rata-rata 87,5%. Pengkajian keperawatan, tujuan, kriteria hasil dan
rencana tindakan keperawatan masih belum terlaksana dengan baik. Sedangkan tindakan keperawatan selalu menyesuaikan pada
rencana medis dokter, Rencana mandiri keperawatan jarang didokumentasikan.

67

c. Pengarahan dan Pengawasan


1) Komunikasi
1. Arah komunikasi
a) Komunikasi Horisontal dan Vertikal
336) Jenis komunikasi yang

berhubungan

dengan instruksi penugasan dilakukan secara vertikal dari


atasan ke bawahan, yaitu dari kepala ruang kepada ketua
tim kemudian ketua tim menyampaikan kepada perawat
penanggung jawab di masing-masing tim. Sedangkan
untuk komunikasi terkait informasi yang berkaitan dengan
keadaan di ruangan, dapat dilakukan baik dari atasan ke
bawahan atau sebaliknya. Komunikasi secara horizontal
juga sering dilakukan antar perawat, antar tim dan antar
ketua tim dengan sifat komunikasi yang terbuka.
b) Komunikasi terjadi dengan tipe All Chanel Network
337) Komunikasi antara pimpinan seksi atau
bagian lain dengan pegawai seksi atau bagian lain.
Moduler dapat berkomunikasi dengan pegawai seksi atau
bagian lain.
c) Komunikasi Ekternal
338) Komunikasi

dari

organisasi

kepada

khalayak yg bersifat informatif. Berupa poster langkah


cuci tangan serta edukasi perawatan payudara dan
mobilisasi post Sectio Caecarea.
339)
2. Jadwal pertemuan/rapat
340) Jadwal rapat rutin ditetapkan 1 bulan sekali
(pada tanggal 15 atau 18), namun pada pelaksanaannya
terkadang tidak dapat berjalan sesuai jadwal dikarenakan
beberapa hambatan seperti jadwal shift yang berbedabeda dan tempat tinggal perawat yang cukup jauh
sehingga untuk menentukan jadwal rapat tidak bisa
dilaksanakan dengan rutin atau mundur.
341)
342)
343)
3. Faktor penghambat dan pendukung komunikasi
344)

Faktor

penghambat

komunikasi

adalah

adanya perbedaan jadwal shift dari masing-masing

68

perawat namun hal ini dapat cukup diatasi dengan


membicarakan masalah-masalah yang ada pada saat
operan dinas serta memanfaatkan media komunikasi
berupa media sosial di BBM atau whatsapp.
345)
2) Motivasi
a) Cara memotivasi individu/kelompok
a. Komunikasi Verbal
346)Kepala Unit memberikan motivasi

dan

memberikan

semangat kepada semua karyawan sebelum melakukan


kegiatan setiap hari pada waktu operan dinas.
347)
b. Komunikasi Non Verbal
348)Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan,
tidak terdapat program unit Rawat Inap Aseperti pemberiaan
tropi atau insentif pada pegawai dengan kinerja terbaik yang
dapat meningkatkan motivasi karyawannya. Namun dari pihak
RS Wava sendiri terdapat sistem reward yang di berikan
kepada karyawan terbaik untuk memotivasi para karyawan
melakukan kinerja yang optimal.
349)
b) Sistem Reward atau Punishment
350) Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan
tidak ada sistem reward yang ditentukan di dalam RI A. Namun
menurut wawancara dengan manajer keperawatan, program
dari RS Wava Husada sendiri memiliki program reward seperti:
i. Insentif tambahan yang diberikan kepada Unit
berdasarkan jumlah kunjungan pasien yang biasa
diberikan pada pertengahan bulan.
ii. Pendidikan atau pelatihan gratis yang di biayai oleh
pihak RS Wava Husada kepada karyawan dengan
prestasi terbaik
iii. Pemberian Insentif tambahan kepada Unit terbaik setiap
6 bulan sekali
iv. Pemberian hadiah

berupa

paket

umroh

kepada

karyawan terbaik dalam kinerjanya


v. Pemberian reward berupa penempatan dalam posisi
fungsional atau kenaikan jabatan pada karyawan terbaik
di unit tersebut (contoh: dari perawat pelaksana menjadi

69

katim) dan tidak memandang masa kerja dari karyawan


tersebut.
351)
352) Apabila terjadi pelanggaran, kepala ruangan akan
memberikanteguran atas pelanggaran yang dilakukan oleh
perawat. Kepala Unit memberikan peringatan secara langsung
dan personal sampai 3 kali. Jika sudah diberikan 3 kali dan
masih tetap melanggar dilaporkan ke pihak Managemen
Rumah Sakit untuk segera ditindak lanjuti sesuia peraturan
yang berlaku.
353)
3) Supervisi
a) Mekanisme
354)

Pelaksanaan supervise dilakukan oleh kepala

ruangan dan petugas rawat inap seperti katim. Hal-hal yang


disupervisi seperti bagaimana perawat melakukan tindakan
keperawatan,

pendokumentasian

askep,

identifikasi

pasien,

sistem pembuangan limbah, atau standar-standar prosedur dan


kebijakan yang telah ditetapkan ruangan.
355) Selain dilakukan ke perawat ruangan, supervisi
juga dilakukan ke pasien dengan mengevaluasi apa yang
dilakukan perawat pada pasien apakah sudah dilakukan dengan
benar atau tidak. Tidak ada jadwal tetap untuk supervisi, tetapi
dilakukan ketika memungkinkan baik secara langsung maupun
tidak langsung, untuk supervisi tidak langsung, dilakukan setiap
hari dengan memperhatikan kinerja perawat serta lingkungan
ruangan, sedangkan untuk supervisi secara langsung dilakukan
sebagai rangkaian tahapan penilaian kinerja perawat selama
beberapa kali dalam setahun, khususnya penilaian kinerja untuk
pegawai kontrak yang akan terus di lakukan beberapa kali dalam
setahun masa kerjanya. Dari hasil supervisi tidak langsung,
apabila terdapat ketidaksesuaian terhadap SOP, maka akan
dibahas

saat

operan.Pendokumentasian

hasil

supervisi

dimasukkan dalam penilaian kinerja perawat. Supervisi juga


dilakukan oleh tim komite keperawatan dari rumah sakit ke
ruangan.
356)
b) Faktor penghambat

70

357) Dalam pelaksanaan terdapat penghambat seperti


keterbatasan waktudan kegiatan kepala ruangan yang banyak
sehingga tidak dapat dilaksanaan setiap hari namun selalu
dilakukan setiap bulan.
358)
4) Pendelegasian
359) Dalam pendelegasian

tugas,

wewenang

dan

tanggung jawab Kepala Unit apabila berhalangan hadir secara


langsung dilimpahkan kepada ketua tim masing-masing.Daftar
tugas yang dapat didelegasikan dari Kepala Unit Rawat Inap A
kepada katim atau penanggung jawab shift jaga antara lain
adalah:
-

Melaksanakan fungsi pergerakan dan pelaksanaan,


meliputi :
Mengatur dan mengkoordinasi seluruh kegiatan

pelayanan.
Melaksanakan program orientasi kepada tenaga
perawat baru atau tenaga lain yang akan bekerja di

unit.
Memberi pengarahan dan motivasi kepada tenaga
perawatan untuk melaksanakan asuhan keperawatan

sesuai standart.
Melakukan koordinasi seluruh kegiatan yang ada
dengan

cara

bekerjasama

dengan

berbagai

pihak/unit yang berkaitan dengan pelayanan di unit

RI A.
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di
bidang keperawatan antara lain melalui pertemuan

ilmiah.
Menyusun permintaan rutin meliputi kebutuhan alat
kesehatan, obat dan bahan lain yang diperlukan

dalam proses asuhan keperawatan.


Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatan
di ruang perawatan menurut tingkat kemampuan
finansial, kegawatan, infeksi, non infeksi sesuai
kebijakan Rumah Sakit untuk memudahkan dalam
memberikan asuhan keperawatan.

71

Mengadakan pendekatan terhadap pasien yang


dirawat untuk mengetahui keluhan serta membantu

memecahkan masalah yang dihadapinya.


Menciptakan dan memelihara suasana kerja unit
yang baik sehingga mendukung terlaksananya staff

dalam memberikan pelayanan keperawatan.


Memotivasi tenaga non keperawatan

memelihara kebersihan ruangan dan lingkungannya.


Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di

unit.
Memeriksa dan meneliti pengisian daftar permintaan

dalam

makanan serta meneliti ulang pada saat dibagikan

kepada pasien apakah sudah sesuai dengan dietnya.


Memelihara buku register dan berkas catatan medik.

360)
-

Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan


penilaian, meliputi :
Mengawasi dan

pelaksanaan

asuhan

keperawatan yang telah ditentukan.


Melaksanakan penilaian terhadap upaya peningkatan
pengetahuan

menilai

dan

keterampilan

di

bidang

keperawatan
Mengawasi peserta didik dari institusi pendidikan
untuk

memperoleh pengalaman belajar, sesuai

dengan tujuan program pendidikan yang telah

ditentukan oleh institusi.


Mengawasi dan mengendalikan

perdayagunaan

peralatan perawatan, alat kesehatan dan obat-obatan

secara efektif dan efisien.


Mengawasi pelaksanaan sistem pencatatan dan
pelaporan

kegiatan

asuhan

keperawatan

serta

mencatat kegiatan lain di unit.


361)
362)

Dalam

pelaksanaan

pendelegasian,

delegate (katim atau penanggung jawab sementara)


akan melaporkan masalah dan evaluasi tugas yang di
delegasikan kepada delegator, baik secara langsung
(melalui media sosial seperti BBM atau whatsapp)

72

kepada kepala unit RI A selaku delegator untuk


mengambil keputusan dari tindakan selanjutnya, namun
menurut hasil wawancara dengan manajer keperawatan
seorang Penanggung Jawab Sementara atau Katim yang
sedang menjalankan tugas menggantikan Kepala Unit,
melaporkan masalah dan evaluasi tugas kepada Deputi
Manajer Keperawatan, di karenakan pihak delegator
berada di luar tugas dari RS Wava Husada.
363) Apabila ada perawat yang cuti (melahirkan,
tahunan,

menikah) dan ijin (sakit) maka disetiap

pembuatan jadwal bulanan diberlakukan sistem On Call


dan perawat cadangan, apabila ruangan memerlukan
tambahan tenaga maka ruangan akan menghubungi
manajer keperawatan yang akan memanggil perawat dari
ruangan lain dimana pada ruangan tersebut terdapat
kelebihan tenaga sesuai perhitungan kebutuhan tenaga
per hari dan nantinya akan di hitung sebagai lembur
karyawan untuk memberikan reward kepada perawat
pengganti atau dapat memanggil perawat On Call.
Sistem untuk pengajuan cuti tahunan tidak diperbolehkan
dalam sehari lebih dari 2 orang perawat dikarenakan
untuk supaya tenaga yang ada bisa dipersiapkan untuk
penjadwalan sebagai perawat pengganti cadangan.
5) Mekanisme penyelesaian masalah: manajemen konflik
364) Di ruangan jarang terdapat konflik, karena
ditanamkan oleh Kepala unit Rawat Inap A untuk saling
menghargai dan saling percaya antar karyawan. Konflik yang
terjadi di Ruang Inap A diselesaikan secara kekeluargaan. Apabila
ada kasus dan masalah diselesaikan secara internal, namun jika
masalah tidak dapat diselesaikan dapat berkonsultasi dengan
KomiteKeperawatan. Terkadang dari pihak RS Wava Husada
sendiri

juga

mempersiapkan

seorang

psikolog

untuk

menyelesaikan konflik yang terjadi antar pihak yang bersangkutan.


365)
d. Fungsi Pengendalian
a) Penampilan Kinerja

73

366)

Kinerja perawat dinilai secara langsung oleh kepala unit

dengan dokumentasi tertulis yang didalamnya memuat indikator-indikator


seperti kepribadian, kemampuan diri, produktivitas kerja dan kedisiplinan
kerjayang selanjutnya data tersebut diserahkan ke bagian HRD. Namun
selama ini, pelaksanaan penilaian penampilan kinerja yang dilakukan
oleh kanit belum menggunakan instrument penilaian kinerja.
367) Setiap pegawai kontrak mengikuti tes penampilan kerja
untuk mengukur seberapa berkompetensinya perawat di RS Wava
Husada. Tes ini biasanya dilakukan serentak.
368)
b) Pengendalian Mutu
1. Kegiatan pengendalian mutu
1) Tersedinya tempat sampah medis dan nonmedis
2) Tersedianya bed pasien dan mempunyai side rail
3) Tersedianya SOP pada masing-masing ruangan
4) Tersedianya format dokumentasi yang lengkap
5) Tersedianya fasilitas perawatan seperti nurse station, ruang
administrasi, ruang depo farmasi, ruang administrasi, ruang
depo farmasi, ruang perawatan, kamar mandi, wastafel pada
sebagian besar ruangan
2. Indikator pengendalian mutu
1) Keselamatan pasien, meliputi :
Kejadian jatuh
Dekubitus
2) Kesalahan pemberian obat pasien, meliputi :
Tangibility (bukti fisik yaitu ruangan dan fasilitasnya),
Reliability (terkait kehandalan dari tenaga kesehatan),
Responsiveness (tanggap),
Assurance (jaminan),
Empathy (perhatian).
369)
370)
371)

Kejadian Dekubitus
Angka kejadian dekubitus RI.A unit berjumlah 0 (0%).

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara


pada setiap pasien di ruangan selama 3 hari (9 - 11 Februari 2016).Angka
kejadian dekubitus dinilai berdasarkan jumlah pasien yang mengalami
dekubitus dibagi dengan jumlah pasien beresiko mengalami dekubitus.
Poin berikut adalah untuk menentukan pasien yang beresiko mengalami
dekubitus:
1. Usia lanjut (> 60 tahun)
2. Ketidakmampuan bergerak pada bagian tertentu
3. Status gizi malnutrisi

74

4.
5.
6.
7.
8.
372)

Berbaring lama, penekanan pada satu arah


Mengalami kondisi kronik
Inkontinensia urin dan feses
Kejadian decubitus
Pasien dengan resiko tinggi decubitus
Apabila pasien memenuhi salah satu atau lebih dari poin di atas

dengan skor

14 maka pasien tersebut dimasukkan kriteria resiko mengalami

dekubitus.
373)
374)

Tabel 3.44. Kejadian Dekubitus

375)

376)

385)
1.
391)
2

386)

377)
TAN
G
G
A
L
381) 382) 383)

Variabel

Jumlah Kejadian Dekubitus

392)
Jumlah
Dekubitus

Pasien

Beresiko

387) 388) 389)


393) 394) 395)

378)
T

384)
390)
0
396)
4

397)

JumlahPasienDekubitus
x100%
JumlahPasienBerisiko Dekubitus
0

x100% 0%
42

398)
399)
400) Kejadian Phlebitis
401)
Berdasarkan pengamatan selama 3 hari, didapat-kan data
kejadian phlebitis atau infeksi jarum infuse sebagai berikut:
402)
403)

Tabel 3.45. Kejadian infeksi jarum infus

404)

414)
1.

405)

415)

Variabel

Jumlah Pasien Phlebitis

406)
TAN
G
G
A
L
410) 411) 412)
416) 417) 418)

75

407)
T

413)
419)
1

420)
2.

421)
Jumlah Pasien beresiko
phlebitis adalah pasien baru

422) 423) 424)

425)
4
426)

427)

JumlahPasienPlebitis
x100%
JumlahPasienBerisiko Plebitis
1

x100% 2%
42

428)
429)
430)

Kejadian Jatuh

431)

Dalam observasi selama 3 hari dengan menggunakan Morse Fall


Scale.
432)

Tabel 3.46 Skala Morse Fall

433)
434) PENGK
NO
AJIAN
439) 440) Riwayat jatuh: apakah
1.
pasienpernah jatuh
441) dalam 3 bulan terakhir?
448) 449) Diagnosasekunder: apakah
2.
pasienmemiliki
450) lebih dari satu penyakit?
457) 458) Alat Bantu jalan:
459) -Bedrest/ dibantu perawat
3.
464) -Kruk/ tongkat/ walker
468) -Berpegangan padabendabendadi sekitar
469)(kursi,
lemari, meja)
472) 473)
TerapiIntravena:
apakahsaat
4.
ini pasien
474) terpasanginfus?
481) 482) Gayaberjalan/ caraberpindah:
483) -Normal/ bed rest/ immobile
5.
(tidak dapat bergerak sendiri)
488) -Lemah (tidak bertenaga)
492) -Gangguan/ tidak normal
(pincang/ diseret)
495) 496) Status Mental
497) - Pasienmenyadari kondisi
6.
dirinya-Pasienmengalami
501)
502)
keterbatasan dayaingat
505)
506)

442)
idak
446)
a
451)
idak
455)
a

475)
idak
479)
a

435)
S
T 443)
Y0
447)
25
T 452)
0
Y 456)
15
460)461)
462)
0
465)
466)
15
470)
471)
30
T 476)
0
Y 480)
20
484)485)
486)
0
489)
490)
10
493)
494)
20
498)499)
500)
0
503)
504)
15

Keterangan:

76

507) Tingkatan
Risiko
509) Tidak berisiko
511) Risiko rendah
513) Risiko tinggi
516)

508) Nilai MFS


510)
24
512)
50
514)
51

025-

515)
Tidak ditemukan kejadian jatuh. Selama observasi 3 hari,

sudah tersedia gelang untuk resiko jatuh. Angka kejadian jatuh di RI A RS


Wafa Husada selama dilakukan pengkajian selama 3 hari adalah 0%.
517)
518)

Tabel 3.47. Kejadian jatuh

519)

520)

527)
1.
532)
2.
537)
3
542)
3

Variabel

528)
Jumlah
pasien
jatuh
533)
Jumlah
pasien
beresiko rendah jatuh
538)
Jumlah
pasien
beresiko Tinggi jatuh
543)
Jumlah
pasien
beresiko Tinggi jatuh
yang belum mendapat
label
548)
Total

547)

521)
TAN
G
G
A
L
524) 525) 526)
529) 530) 531)
534) 535) 536)
539) 540) 541)
544) 545) 546)

549) 550) 551)

552)
553)

Angka Kejadian Jatuh

JumlahPasienJatuh
x100%
JumlahPasienYangBeri sikoJatuh
0

x100% 0%
33

554)
555)
556)
557)
558)

Kejadian alergi

77

559)

Dalam observasi selama 3 hari ditemukan kejadian alergi,

namun penyebab alergi bukan karena makanan pada semua pasien


alergi, penyebabnya adalah cuaca dingin yang membuat mereka
merasakan gatal - gatal. Selama observasi 3 hari, sudah tersedia gelang
untuk alergi. Angka kejadian alergi pada pasien alergi dengan label di RI
A RS Wafa Husada selama dilakukan pengkajian selama 3 hari adalah
100%.
560)
561)

Tabel 3.48. Kejadian alergi

562)

563)

572)
1.
578)
2.
584)
3
590)

Variabel

573)
Jumlah
pasien
alergi
579)
Jumlah
pasien
alergi dengan label
585)
Jumlah
pasien
alergi tanpa label

564)
TAN
G
G
A
L
568) 569) 570)
574) 575) 576)
580) 581) 582)
586) 587) 588)

JumlahPasienAlergiDe nganLabel
x100%
JumlahPasienAlergi
4
x100% 100%
4

591)
592)
593)
594)

Tingkat Pengetahuan Pasien

Pengetahuan adalah kemampuan pasien mengetahui informasi

tentang perawatan penyakitnya. Jumlah pasien yang kurang pengetahuan


adalah jumlah pasien yang setelah dikaji menunjukkan bahwa pasien/keluarga
kurang pengetahuan tentang penyakitnya dan perawatannya
595)
Berdasarkan hasil survey di RI.A RS Wava Husada yang diberikan
kuisioner tingkat pengetahuan klien tentang pencegahan infeksi. Sebanyak 8
responden (53%) berpengetahuan baik, 3 responden (20%) berpengetahuan
sedang, dan 4 responden (27%) berpengetahuan kurang.Berdasarkan hasil
survey di RI.A RS Wava Husada yang diberikan kuisioner tingkat pengetahuan

78

565)
T

571)
577)
4
583)
4
589)
0

klien tentang penyakitnya. Sebanyak 4 responden (27%) tahu tentang


penyakitnyadan 11 responden (73%) tidak tahu tentang penyakitnya
596)
597)
598)

Pendidikan Kesehatan

Saat dilakukan wawancara dengan perawat penyuluhan di RI.A

dibagi menjadi penyuluhan kecil dan penyuluhan besar. Penyuluhan kecil


dilakukan setiap pasien baru dating, sedangkan penyuluhan besar dilakukan
setiap satu bulan sekali dengan topik penyuluhan sesuai jadwal. Penyuluhan
dilakukan oleh perawat ruangan.
599)
600)
601)
toileting

Angka Keterbatatasan Perawatan Diri (Self Care)

Angka tidak terpenuhinya kebutuhan mandi, berpakaian, makan,


(eliminasi) yang disebabkan oleh keterbatasan perawatan diri.

Keterbatasan diri dibagi menjadi keterbatasan sebagian dan total, sehingga


menyebabkan

tingkat

ketergantungan

sebagian

dan

total

asuhankeperawatan.
602)
603)
Jumlah pasien yg tidak terpenuhi kebutuhan diri
100%
604)

pada

Jumlah pasien dirawat dgn tingkat ketergantungan sebagian

& total
605)
Sub Indikator tidak terpenuhinya perawatan diri adalah
Mandi : kulit, gigi, mata, rambut, tidak bau badan, perineum bersih.
Berpakaian dan berpakaian: Baju bersih dan kering, rambut rapih, wajah
segar
Makan
Toileting: berkemih (b.a.k) dan defekasi (b.a.b) pola normal
606)
Hasil pengkajian di IRA pada tanggal 9-11 Februari 2016
menunjukkan bahwa
Dari total 8 pasien pada tanggal 9 Februari 2016, 7 diantaranya memiliki
tingkat ketergantungan parsial, sedangkan sisanya yaitu 1 pasien sudah
direncanakan untuk pulang. Semua pasien mendapatkan bantuan
perawatan diri dari perawat yang bertugas sehingga tidak ada pasien

yang tampak kotor dan bau.


Dari total 14 pasien pada tanggal 10 Februari 2016, 13 diantaranya
memiliki tingkat ketergantungan parsial, sedangkan sisanya yaitu 1
pasien sudah direncanakan untuk pulang. Semua pasien mendapatkan
bantuan perawatan diri dari perawat yang bertugas sehingga tidak ada
pasien yang tampak kotor dan bau.

79

Dari total 16 pasien pada tanggal 11 Februari 2016, 7 diantaranya


memiliki tingkat ketergantungan parsial, 6 diantaranya memiliki tingkat
ketergantungan

total,

sedangkan

sisanya

yaitu

pasien

sudah

direncanakan untuk pulang. Semua pasien mendapatkan bantuan


perawatan diri dari perawat yang bertugas sehingga tidak ada pasien
yang tampak kotor dan bau.
607)
608)
Tingkat Kepuasan Pasien Dan Keluarga Terhadap Pelayanan
Keperawatan
609) Untuk mengetahui tingkat kepuasan dilakukan dengan metode
pengisian kuesioner oleh pasien atau keluarga pasien.
Langkah pertama adalah mengetahui berapa pasien yang dapat
dimasukkan dalam penilaian tingkat kepuasan. Syaratnya antara lain

dirawat selama 3 hari, tidak pulang paksa, dan pulang hidup.


Langkah kedua dilakukan komunikasi dengan pasien dan keluarga untuk
memperoleh jawaban atas kesediaan mengisi kuesioner. Jika pasien atau

keluarga setuju, maka diberi kuesioner untuk diisi.


Langkah ketiga adalah memberikan kuesioner yang harus diisi.
Langkah keempat, melakukan penilaian/scoring sesuai panduan penilaian

kuesioner dan memasukkan dalam kategori yang sesuai.


610)
611) Berdasarkan data dari instrumen kepuasan pasien terhadap
pelayanan kesehatan/perawatan di ruang RIA dari 13 responden (pasien
yang telah mendapat perawatan di RIA minimal 3 hari) diketahui bahwa
semuanya merasa puas terhadap kerja pelayanan di ruang RIA.

100
80
60

Puas

Tidak Puas

40
20
0
Kepuasan Pasien

612)
613)

Gambar 3.4. Kepuasan Pasien Terhadap Perawatan di RIA

614)
615)
616)
617)
618)
619)

Tingkat kepuasan kerja perawat

80

620)

Tingkat kepuasan kerja perawat diukur meng-gunakan

kuesioner yang diadopsi dari teori Herzberg tentang kepuasan dan ketidak
puasan kerja. Teori ini terdiri dari indikator penilaian, meliputi karakteristik
pekerjaan, prestasi yang diraih, peluang untuk maju, pengakuan atau
penghargaan, tanggung jawab, kebijakan, teknik supervisi, gaji atau upah,

hubungan interpersonal, dan kondisi kerja.


Kuesioner tingkat kepuasan perawat
621)
Pada pengukuran tingkat kepuasan
menggunakan

kuesioner

dengan

jumlah

kerja

perawat

pertanyaan

sebanyak

yang
24

pertanyaan. Setelah kuesioner dibagikan kepada 8 perawat RIA didapatkan


hasil 87,5% perawat mengatakan puas dan 12,5% tidak puas.

Kepuasan
Puas

Tidak Puas

100%

622)
623)

Gambar 3.5 Diagram Tingkat Kepuasan Perawat

624)
Kuesioner produktivitas kerja perawat
625)
Pada
pengukuran
tingkat
menggunakan

kuesioner

dengan

produktivitas

jumlah

pertanyaan

kerja

perawat

sebanyak

11

pertanyaan. setelah kuesioner dibagikan kepada 8 perawat RIA didapatkan


hasil 100% memiliki tingkat produktivitas kerja yang baik dan 0% memiliki
tingkat produktivitas yang rendah.

81

Produktivitas
Tinggi

Rendah

100%

626)
627)

Gambar 3.5 Diagram Tingkat Produktivitas Perawat

628)
Kuesioner tingkat kelelahan kerja perawat
629)
Pada pengukuran tingkat kelelahan
menggunakan

kuesioner

dengan

jumlah

kerja

pertanyaan

perawat
sebanyak

yang
17

pertanyaan. Setelah kuesioner dibagikan kepada 8 perawat RIA didapatkan


0% perawat mengalami kelelahan kerja dan 100% perawat tidak mengalami
kelelahan.

Kelelahan
Lelah

Tidak Lelah

100%

630)
631)

Gambar 3.6. Diagram Tingkat Kepuasan Perawat

632)
633)
634)

Kenyamanan
Hasil pengkajian yang dilakukan selama 3 hari didapatkan bahwa

semua pasien mengatakan nyaman di rawat di ruang RIA.


635)
636)
Kecemasan
637)

Tingkat kecemasan pada pasien RIA dinilai menggunakan

kuesioner yang terdiri dari 20 item. Dari kuesioner tersebut didapatkan data

82

25% pasien memiliki tingkat kecemasan sedang serta 75% pasien memiliki
tingkat kecemasanringan.
638)
639)

Tingkat Kecemasan Klien

kecemasan ringan

640)

kecemasan sedang

kecemasan berat

Gambar 3.5 Diagram Tingkat Kecemasan Klien

641)
642)
643)
644)
645)
646)
647)
648)
649)

83

3.2 ANALISA SWOT


650)

651)

660)

652)

STRENGTH

Program RS seperti identifikasi pasien, cuci tangan, identifikasi pasien

alergi, jatuh dan dekubitus telah dilakukan


668)

Fasilitas yang tersedia untuk pasien berfungsi dengan

653)

661)
12
669)

baik dan memenuhi standar kemenkes RI tahun 2012 mengenai


peralatan yang harus ada di unit ruang rawat inap A
676)
Media informasi sudah tersedia di unit yaitu poster untuk
informasi mengenai cuci tangan 6 langkah dan 5 momen cuci

654)

662)

655)

656)

663)

664)
0,

4
671)

16

Rati

665)

658)
B

666)
0,

672)
0,

673)

674)
0,

680)
0,

681)

682)
0,

688)
0,

689)

690)
0,

697)

696)
0,

698)
0,

703)

704)

705)

706)

4
677)

657)

679)
6

tangan, kemudian leaflet untuk perawatan setelah melahirkan di


rumah.
684)
Rata - rata BOR 71%

685)

687)
8

692)

Kanit Rawat Inap A 80,7% dapat menjalankan pelaksanaan tugas,

693)

peran, dan fungsi managemen keperawatan dengan baik


700)

62,5% ketua tim menjalankan fungsi manajemen keperawatan dengan

701)

695)

84

kategori cukup.
708)

100% penanggung jawab shift menjalankan tugas keperawatan dengan

709)

baik
716)

0,

711)

712)
0,

713)

714)
0,

720)
0,

721)

722)
0,

728)
0,

729)

730)
0,

736)
0,

737)

738)
0,

744)
0,

745)

746)
0,

752)
0,

753)

754)
0,

760)
0,

761)

762)
0,

2
95% perawat pelaksana menjalankan uraian tugas keperawatan

717)

dengan baik
724)

Perawat melakukan orientasi kepada semua pasien yang baru masuk

719)
2

725)

727)
4

731)
732)

Pemberian obat oleh perawat berdasarkan Standar Operasional

Prosedur (SOP)
739)
740)

Pelaksanaan Discharge Planning dilakukan dengan baik sebesar 100%

733)
10
741)

735)
4
743)
3

747)
748)

Pendokumentasian asuhan keperawatan di unit Rawat Inap A RS Wava

749)

Husada sudah baik dengan prosentase rata-rata 87,5%


755)
756)

70% operan dilaksanakan cukup baik

751)
2

757)
17

759)
6

0,

85

763)
764)

Pembacaan SOP tetap dilakukan saat selesai operan keliling kamar

765)

767)

pasien di pagi hari.


771)

772)

780)

Keselamatan pasien diperhatikan terlihat dari setiap

Keselamatan pasien di utamakan terbukti dari pemberian

selain itu kejadian jatuh tidak ada


788)
Pendidikan
Kesehatan

Perawatan

Dilaksanakan Setiap hari


795)

773)

770)
0,

776)
0,

777)

778)
0,

784)
0,

785)

786)
0,

793)

792)
0,

794)
0,

798)

799)

800)

801)

775)

13

label resiko alergi dan resiko jatuh pada pasien yang beresiko,
787)

769)

tindakan, perawat melakukan identifikasi pasien


779)

768)
0,

Payudara

781)

783)

14

789)

791)

15

Jumlah

796)

797)

S
802)
3,

803)
804)
805)
No

806)

WEAKNESS

807)

808)

809)

810)

811)

812)

Px

Bo

Rati

86

813)
814)

Rencana kebutuhan tenaga tidak sesuai dengan ketersediaan

815)

tenaga.
821)

817)
52

822)

Fasilitas untuk perawat masih kurang karena tidak

823)

adanya pantry untuk perawat, serta unit diskusi perawat yang


829)

816)

sempit
830)
Hanya ada 1 wastafel untuk tempat cuci tangan

825)
76

831)

833)
44

837)

838)

List harga setiap tindakan yang dilakukan selama

839)

perawatan kurang transparan


845)

846)

Sebagian besar pasien berasal dari daerah kabupaten

48
847)

Malang disbanding dengan daerah lainnya


853)
854)

Pada saat 3 hari pengkajian, kanit sedang menjalani pendidikan

841)

849)
56

855)

profesi Ners sehingga tugasnya dilimpahkan kepada penanggungjawab

827)

828)
0,

834)
0,

835)

836)
0,

842)
0,

843)

844)
0,

850)
0,

851)

852)
0,

826)
0,

859)
860)
0,

858)
0,
863)

katim yang mempunyai peran ganda sebagai kanit selama 3 bulan


2 dari 14 pasien baru tidak diberikan penkes cara cuci tangan 6

820)
0,

tugasnya dilimpahkan kepada katim. Sehingga, katim mempunyai dua tugas

869)
870)

819)

857)

sementara (PJS). Namun, PJS juga sedang cuti melahirkan sehingga


yaitu menjalankan tugas kanit dan katim.
861)
862) Di unit rawat inap A menggunakan metode tim yang hanya memiliki 1

818)
0,

871)

865)

867)

866)
0,

868)
0,

873)

874)

875)

876)

87

langkah.
877)
878)

60

Ketua TIM dalam menjalankan fungsi manajemen keperawatan

879)

sebesar 58,3% dengan kategori cukup. Sehingga peran fungsi Ketua TIM
perlu ditingkatkan lagi sesuai dengan uraian tugasnya.
885)
886) 2 dari 5 perawat tidak mendengarkan dengan seksama ketika
10perawat

yang bertugas di

shift

sebelumnya

membacakan

40
887)

asuhan

keperawatan.
893)
894) Pada saat operan di kamar pasien, Kanit/PJS/Katim tidak ikut

Hanya 2 perawat yang selalu menggunakan handsrub untuk setiap

895)

903)

911)

100% perawat menganggap pre dan post conference sudah

919)

100% perawat tidak tahu perbedaan operan dengan pre-post

16

Ronde keperawatan tidak pernah dilakukan

921)
24

927)

15conference
933)
934)

913)
12

14dilakukan dan digabung dengan operan


925)
926)

905)
36

13
917)
918)

897)
72

12kali mengunjungi pasien, namun semua perawat tidak melakukan cuci


tangan dengan sabun & air mengalir sebelum operan.
909)
910) Pre dan post conference tidak dilakukan

889)
68

11dikarenakan berbagai hal seperti morning report, rapat, dll.


901)
902)

881)

929)
20

935)

937)
16

0,

0,
883)

884)
0,

891)

892)
0,

899)

900)
0,

907)

908)
0,

914)
0,

915)

916)
0,

922)
0,

923)

924)
0,

930)
0,

931)

932)
0,

938)
0,

939)

940)
0,

882)
0,
890)
0,
898)
0,
906)
0,

88

941)
17

942)

Pemberian pendidikan kesehatan mengenai penyakit /

943)

949)
950) Tidak ada instrument baku yang dipakai oleh kepala unit untuk
18melakakukan supervisi terhadap kinerja karyawannya

951)

957)

959)

19

Dalam menyeka pasien perawat tidak menggunakan

Jumlah

947)

948)
0,

954)
0,

955)

956)
0,

963)

64

962)
0,

964)
0,

968)

969)

970)

971)

953)
28

sabun
965)

946)
0,

32

kesehatan tentang maternitas belum ada

958)

945)

966)

961)

W
972)
2,

973)
974)

SUMBU X = S W = 3,117647 - 2,952632 = 0,165015

975)
976)
977)
978)
979)
980)
981)

89

982)

983)

991)

OPPORTUNITY

BPJS menjalin kerjasama dengan rumah sakit swasta

984)

985)

992)

993)

tidak hanya negeri saja.


999)

95% pasien yang di rawat mengatakan puas dengan

1000)

pelayanan yang diberikan


1006)

1007)

Perawat

memiliki

987)

Px

Bo

994)

995)

0,0

1002)
8

kesempatan

untuk

melanjutkan

1008)

pendidikan
1014)

1016)
1015)

986)

Pendapatan gaji pegawai berdasarkan level golongan

1003)

988)
Rati

996)

1011)

20

0,0

1018)

1019)

12

0,0

1026)

1027)

32

0,1

1035)

1036)

24

0,0

1043)

1044)

997)
0,

1004)

0,0

1010)

989)

1005)
0,

1012)

1013)
0,

1020)

1021)
0,

perawat dan kompetensi perawat


1022)

1030)

1024)
1023)
1031)

Adanya tunjangan pegawai berupa asuransi kesehatan


Adanya penerimaan pegawai baru tiap tahunnya dengan

1032)

seleksi ujian dan orientasi yang baik


1039)

1040)

RS menyediakan program pelatihan bagi semua perawat

1033)
1041)

1028)

1029)
0,

1037)

1038)
0,

1045)

90

1046)

1047)

1048)

Perawat magang di RIA ini dilakukan orientasi selama 3

1049)

bulan dan menjalani untuk penilaian dilakukan setiap bulan untuk


mengetahui kesempatan menjadi pegawai kontrak
1055)
1056) Ruang RIA memiliki program unggulan yakni penyuluhan yang dilakukan
setiap sebulan sekali

1057)
10

1063)
1064) Materi untuk penyuluhan sudah dikonsulkan kepada PKRS

1071)
1072) Perawat memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan

1065)

1073)

tindakan yang sering dilakukan.


1079)
1080) Pasien ditunggu oleh keluarga sehingga keluarga dapat membantu
memberikan dukungan emosional dan fisik kepada pasien
1087) Jumlah

1081)
12
1088)

1089)

16

0,0

1051)

1052)

28

0,0

1059)

1060)

40

0,1

1067)

1068)

44

0,1

1075)

1076)

36

0,1

1083)

1084)

48

0,1

1090)

1091)

0,
1053)

1054)
0,

1061)

1062)
0,

1069)

1070)
0,

1077)

1078)
0,

1085)

1086)
0,

1092)

1093)
O

1094)
1095)
1096)

1097)

TREATH

1098)

1099)

1100)

1101)

1102)

91

1103)

1104)

1105)

Beberapa RS di daerah Malang menjalin kerjasama

1106)

1107)

dengan banyak perusahaan / asuransi jaminan kesehatan


lainnya.
1113)
100% klien dan keluarga pasien belum melakukan 6

1112)

1114)

langkah cuci tangan


1120)
1121) Rumah Sakit lain semakin banyak memilki pegawai dengan jenjang

1136) Jumlah

1108)

1109)

12

0,

1116)

1117)

4
1122)

1124)

pendidikan lebih tinggi dan pengalaman pelatihan lebih banyak.


1128)
1129) Banyak rumah sakit yang memberikan bantuan ADL lebih baik

Px

8
1130)

1137)

1138)

Rati

1110)

1118)

1133)

16

0,

1139)

1140)

1126)

1127)
0,8

1134)

1135)
0,8

1141)

1142)
T=

1143)
1144)

1119)
0,4

0,

1132)

1111)
0,9

0,
1125)

Bx

SUMBU Y = O T = 3,19 2,9 = 0,29

1145)
1146)

92

1147)

Perhitungan Analisa SWOT

1148)

SUMBU X = S W = 3,117647 - 2,952632 = 0,165015

1149)

SUMBU Y = O T = 3,19 2,9 = 0,29

1150)
1151)
1152)

1153)

(+)

1154)
1155)
Kuadran

Kuadra

1156)
1157)
1158)

W
(-)

1159)
1160)

0,2
9

0,165

S
((+)

1161)
1162)
1163)
1164)
1165)

Kuadran

Kuadran

KETERANGAN:

(-)
T

93

1166)

Kuadran 1
1167)

Progresif

Hal ini menggambarkan bahwa situasi yang sangat baik karena ada kekuatan yang dimanfaatkan untuk meraih

peluang yang menguntungkan. Untuk itu dapat digunakan alternative strategi 1 yakni pengembangan (strategi agresif).
1168)

94