Anda di halaman 1dari 7

Handling dan Restrain

Restraint pengekangan didefinisikan sebagai suatu penahanan secara paksa dalam hal
ini pada praktik veteriner, suatu metode penahanan hewan secara paksa dibawah pengawasan
para teknis veteriner. Definisi lain dari kata restraint dalam kedokteran hewan adalah membatasi
aktivitas suatu hewan secara verbal, fisikal, dan atau farmakologis supaya hewan tersebut
dicegah dari melukai diri serta yang berada di sekelilingnya. Ini adalah keterampilan yang
membutuhkan latihan untuk menguasai dan merasa percaya diri dalam melakukannya. Objektif
pengekangan hewan antara lain adalah untuk menangani hewan supaya suatu prosedur medis
dapat dilakukan tanpa melukai hewan maupun manusia yang bersangkutan. Restraint dan
handling dilakukan untuk mefasilitasi pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan optalmik dan
rektal, mengadministrasi obat per oral, injeksi, dan topikal, mengenakan bandase pada hewan,
melakukan prosedur seperti kateterasi, dan untuk mencegah hewan dari melukai diri contohnya
dengan menggunakan Elizabeth collar (Selvaraju dkk,2011).
1. Physical Restraint
Yaitu pengendalian hewan dengan memakai tangan atau dengan bantuan alat
2. Chemical Restrain
Yaitu pengendalian hewan dengan menggunakan bahan bahan kimia.
3. Physiological Restrain
Yaitu mengendalikan hewan dengan menggunakan ilmu jiwa
Kucing diangkat dengan cara berdiri di sebelah kiri kucing. Kemudian tangan kanan
memegang bagian dada. Jari telunjuk diselipkan di antara kedua kaki depan. Kulit pada bagian
punggung-leher dipegang dan diangkat dengan dengan tangan kiri. Badan kucing dikempit di
antara lengan dan pinggang. Kucing dibawa untuk jarak yang dekat dengan diawali tahap-tahap
diatas, selanjutnya badan kucing dipegang dengan sepanjang tangan kanan (Selvaraju dkk,2011).
Kucing dihendel di atas meja dengan memegang kedua kaki kucing depan dan belakang
masing masing dengan tangan kiri dan kanan. Jari telunjuk kita diselipkan diantara kedua kaki.
Posisi kita saat menghendel kucing di atas meja yaitu di sisi kanan/kiri tubuh kucing (senyaman
mungkin). Kucing kemudian dibaringkan di sisi lateral tersebut. Leher kucing ditekan dengan
pergelangan tangan sementara tangan yang lain menekan kaki kucing (Selvaraju dkk,2011).

Apabila restrain pada anjing yaitu dengan cara mengikat moncong anjing (moncong
panjang) dengan membuat simpul mati di dorsal moncong dilanjutkan simpul mati lagi di ventral
moncong. Kemudian dibuat simpul mati lagi di tengkuk (belakang telinga) dan ditimpa dengan
simpul refer. Sementara untuk anjing moncong pendek tahapan pengikatan sama seperti pada
kucing. Tali leher anjing dibuat dengan melingkarkan tali di leher anjing. Satu sisi tali lebih
panjang dari sisi yang lain karena digunakan untuk menarik saat mengajak anjing jalan.
Kemudian membuat simpul kupu- kupu di dorsal leher anjing. Mengangkat anjing dimulai
dengan berdiri di sisi kiri/kanan anjing. kedua tangan dan lengan merangkul kaki depan dan kaki
belakang anjing. Tubuh anjing dengan keempat kakinya dalam rangkulan (Selvaraju dkk,2011).

Premedikasi dan Anasthesi

Anestesi atau keadaan tidak peka terhadap rasa sakit, sangat berguna untuk melakukan
suatu tindak pembedahan karena demi rasa kemanusiaan (humanitarian), agar hewan tidak
menderita; dan demi efisiensi kerja, karena hewan menjadi diam sehingga suatu tindak
pembedahan dapat dikerjakan secara lancar dan aman. Secara luas anestesi terdiri dari
(Santosa,2010):
1. Anestesi terbatas, yaitu anestesi yang disebabkan oleh anestetika yang daya pengaruhnya
selektif, menyebabkan paralisa sementara pada saraf saraf sensoris dan ujung ujung saraf,
tergantung cara melakukan anestesi ini menurut luas daerah anestesi yang dicapai ada
yang disebut anestesi local dan anestesi regional.
2. Anestesi umum, yaitu anestesi yang ditimbulkan oleh anestetika yang mendepres hingga
menyebabkan paralisa sementara pada susunan syaraf pusat dan akan menghasilkan
hilangnya kesadaran dan reflex otot disamping hilngnya perasaan sakit seluruh tubuh.
Sebelum anestesi umum dilakukan, biasanya diberi preanestesi atau premedikasi, yaitu
suatu subastansi yang terdiri dari sedative atau traquliser sebagai penenang dan substansi
anti kholinergik yang berguna untuk menekan produksi air liur agar hewan tidak
mengalami gangguan nafas selama pembiusan. Tranquliser digunakan untuk relaksasi
otot. Menekan derajat kesadaran dan perubahan tingkah laku, walaupun tidak disertai
adanya rasa ngantuk. Sedative adalah obat yang membuat hewan menjadi tenang
(Santosa,2010).
Sebelum dioperasi, kucing diberikan obat preanestetik. Obat-obatan preanastesik yang
disebut juga dengan premedikasi digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum pemberian
obat anastesi baik itu anastesi lokal, regional maupun umum. Manfaat pemberian premedikasi
adalah untuk membuat hewan menjadi lebih tenang dan terkendali, mengurangi dosis anastesi,
mengurangi efek-efek otonomik yang tidak diinginkan seperti saliva yang berlebihan,
mengurangi efek-efek samping yang tidak diinginkan seperti vomit, dan mengurangi rasa nyeri
preoperasi (Natosusilo,2013).
Agen anastesi digolongkan menjadi 4 yaitu: antikolinergik, morfin serta derivatnya,
transquilizer, dan neuroleptanalgesik.), obat-obat yang digunakan anastesi premidikasi meliputi

antikolinergik. Analgesik, neuroleptanalgesik, transquilizer, obat dissodiatif dan barbiturate.


Obat-obatan premedikasi diberikan maksimal 10 menit atau kurang lebih setengah sampai satu
jam sebelum pemberian anestesi umum atau anestesi lokal. Obat-obatan tersebut disuntikkan
secara intramuskular, subkutan, dan bahkan intramuskular (Natosusilo,2013).

IV Catheter
Pemasangan kateter intravena adalah menempatkan cairan steril melalui jarum langsung ke
vena pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (natrium, kalsium, kalium), nutrien
(biasanya glukosa), vitamin atau obat. Pemasangan kateter intravena digunakan untuk
memberikan cairan ketika pasien tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok, untuk
memberikan garam yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit, atau
glukosa yang diperlukan untuk metabolisme, atau untuk memberikan medikasi. Berikut ada
ukuran ukuran kateter intravena (Permono,2012).

Daftar Pustaka
Selvaraju, Sarojoni; dkk, 2011, Simulasi Handling dan Restrain Hewan Besar dan Kecil,
Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Insitut Pertanian
Bogor, Bogor
Santosa, Agus, 2010, Anastesiologi pada Hewan Kecil, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Natosusilo, Ashari, 2013, Langkah Langkah OH pada Kucing, Universitas Udayana, Bali.
Permono, Dwiputra, 2012, Ilmu Bedah Umum pada Ternak, Universitas Hassanudin, Makasar

Anda mungkin juga menyukai