Anda di halaman 1dari 136

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2008

Nomor Publikasi : 91300.0914


Katalog BPS : 4102002.9100
Ukuran Buku : 16,5 x 21,5 cm
Jumlah Halaman : ix rumawi + 122 halaman

Naskah :
Bidang Neraca wilayah dan Analisis Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Gambar Kulit :
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Diterbitkan oleh :
BPS Provinsi Papua Barat

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya.


GUBERNUR PAPUA BARAT 
SAMBUTAN 
 

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa, saya menyambut gembira diterbitkannya publikasi Indeks
Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat 2008 oleh Badan Pusat
Statistik Provinsi Papua Barat bekerja sama dengan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Provinsi Papua Barat.
Data dan informasi statistik yang disajikan dalam publikasi ini
sangat bermanfaat bagi Pemerintah Daerah Papua Barat di dalam
merumuskan kebijaksanaan pembangunan, khususnya pembangunan
manusia di Provinsi Papua Barat serta mengevaluasi sejauh mana pe-
laksanaan program pembangunan manusia telah mampu meningkatkan
kualitas manusia terutama pada derajat kesehatan, pendidikan dan
kemampuan ekonomi masyarakat.
Kepada Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat yang telah
berupaya menerbitkan buku ini saya mengucapkan terima kasih dan
semoga arah pembangunan manusia dapat lebih mendapatkan perhatian
dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat
Terima kasih.   
 
 
Manokwari, Agustus 2009
GUBERNUR PAPUA BARAT

ABRAHAM O. ATURURI

ι
KETUA BADAN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN
PEMBANGUNAN DAERAH (BP3D) PROVINSI PAPUA BARAT

SAMBUTAN

Meningkatnya pelaksanaan program pembangunan di segala


bidang menuntut tersedianya data statistik yang lengkap, akurat,
mutakhir, dan berkesinambungan terutama guna menunjang terwujudnya
perencanaan yang tepat, pengawasan yang baik, serta evaluasi kritis
terhadap hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai.

Terutama pada pembangunan manusia, Badan Pusat Statistik


Provinsi Papua Barat berusaha menyajikan gambaran tentang sumber
daya manusia dan komponen-komponen yang digunakan dalam
penyusunan indeks pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat untuk
memberikan gambaran perkembangan pembangunan manusia yang
teraktualisasikan dalam publikasi Indeks Pembangunan Manusia
Provinsi Papua Barat Tahun 2008.

Data dan informasi statistik yang dicakup dalam publikasi ini,


dibutuhkan tidak hanya oleh Badan Perencanaan dan Pengendalian
Pembangunan Daerah Provinsi Papua Barat, namun juga oleh berbagai
konsumen data. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat dan semua pihak yang telah
membantu terbitnya publikasi ini.
Semoga publikasi ini bermanfaat.

Manokwari, Agustus 2009


Badan Perencanaan dan
Pengendalian Pembangunan
Daerah Provinsi Papua Barat
K e t u a,

DRS. ISHAK L. HALLATU


Pembina Tingkat I

ιι
KATA PENGANTAR
 

Publikasi Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat


Tahun 2008 ini tersaji atas kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS)
Provinsi Papua Barat dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) Provinsi Papua Barat. Secara garis besar publikasi ini
memberikan gambaran umum mengenai kondisi pembangunan manusia
di Provinsi Papua Barat tahun 2008.

Adapun data dan informasi yang disajikan terdiri dari situasi


pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat, hasil penghitungan
besaran IPM beserta komponen-komponen serta perkembangannya,
disparitas IPM antar wilayah, dan posisi absolut antar wilayah dalam
pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia secara simultan.

Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi hingga terbitnya


publikasi ini, kami sampaikan terima kasih. Kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan guna perbaikan di masa mendatang.

Manokwari, Agustus 2009


Kepala Badan Pusat Statistik
Provinsi Papua Barat

Ir. Tanda Sirait, MM.


NIP. 340005623

ιιι
Daftar Isi
 

Sambutan Gubernur Provinsi Papua Barat i


Sambutan Kepala Bappeda Provinsi Papua Barat ii
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv
Daftar Tabel vi
Daftar Gambar viii
I. Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Penulisan 8
1.3 Manfaat Penulisan 8
1.4 Sistematika Penulisan 9

II. Metodologi 11
2.1 Sejarah Penghitungan IPM 11
2.2 Sumber Data 12
2.3 Metode Penyusunan Indeks 12
2.4 Besaran Skala IPM 19

III. KONDISI UMUM PEMBANGUNAN MANUSIA 20


PROVINSI PAPUA BARAT 2005 – 2008
3.1 Kependudukan 20
3.2 Kondisi Kesehatan 27
3.2.1 Sarana Kesehatan 28
3.2.2 Derajat Kesehatan Masyarakat 35
3.3 Kondisi Pendidikan 46
3.3.1 Angka Melek Huruf 48
3.3.2 Rata-rata Lama Sekolah 51
3.3.3 Angka Partisipasi Sekolah 53
3.3.4 Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan 59
3.3.5 Angka Mengulang dan Putus Sekolah 62
3.3.6 Rasio-rasio Pendidikan 65
3.3.7 Tingkat Kelulusan Siswa 69
3.3.8 Fasilitas Pendidikan 71
3.4 Kondisi Perekonomian 75
3.4.1 Produk Domestik Regional Bruto 75
(PDRB)

ιϖ
3.4.2 Struktur Ekonomi Regional 77
3.4.3 Pertumbuhan Ekonomi 79
3.4.4 PDRB per Kapita 80
IV Perkembangan Komponen IPM 2005-2008 83
4.1 Perkembangan Kesehatan 84
4.2 Perkembangan Pendidikan 86
4.2.1 Perkembangan Angka Melek huruf 86
4.2.2 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah 88
4.3 Perkembangan Paritas Daya Beli 90
4.4 Perkembangan IPM 92
4.5 Reduksi Shortfall 94
V Disparitas IPM Antar Wilayah 97
5.1 Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota di Provinsi 98
Papua Barat
5.2 Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota secara 52
Nasional
5.3 Perbandingan Absolut Antar Daerah Dalam 103
Diagram Kuadran
5.3.1 IPM Terhadap Pertumbuhan Ekonomi 104
5.3.2 IPM Terhadap PDRB per Kapita 109
VI Penutup 114
Daftar Pustaka 117
Lampiran 119

ϖ
No Judul Tabel Hal.

2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Indikator Dalam 18


Penghitungan IPM
3.1 Jumlah Penduduk, Persentase Jumlah Penduduk, 24
Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk/Km2 Papua
Barat Tahun 2008
3.2 Jumlah Puskesmas, Puskesmas, Poskesdes, dan 31
Polindes di Provinsi Papua Barat Tahun 2008
3.3 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota 32
Provinsi Papua BaratTahun 2005-2008
3.4 Rasio Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Dokter 34
Menurut Kabupaten/kota Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
3.5 Persentase Tenaga Penolong Kelahiran Menurut 37
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008
3.6 Persentase Penggunaan Imunisasi Pada Balita 38
Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
3.7 Persentase Keluhan Kesehatan Menurut 41
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008
3.8 Persentase Penggunaan Fasilitas Air Minum 43
Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
3.9 Persentase Penggunaan Fasilitas Tempat Buang 45
Air Besar Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua
Barat Tahun 2008
3.10 Persentase Kemampuan Penduduk Usia 10 Tahun 51
Keatas membaca Huruf Latin, Huruf Arab, Huruf
Linnya dan Angka Buta Huruf Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
3.11 Angka Partisipasi Kasar (APK) menurut 55
Kabupaten/Kota dan Jenjang Pendidikan Tahun
2007-2008
3.12 Angka Partisipasi Murni (APM) menurut 57
Kabupaten/Kota dan Jenjang Pendidikan Tahun
2007-2008
3.13 Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut 60
Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Provinsi

ϖι
Papua Barat 2008
3.14 Jumlah Siswa Mengulang dan Persentase Siswa 62
Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Papua Barat
Tahun 2006-2008
3.15 Jumlah Siswa Putus Sekolah dan Persentase Siswa 64
Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan
Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008
3.16 Tabel Rasio-rasio Pendidikan Provinsi Papua Barat 66
Tahun 2006-2008
3.17 Tingkat Kelulusan Siswa Menurut Jenjang 69
Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008
3.18 Persentase Fasilitas Perpustakaan Terhadap 72
Jumlah Sekolah SLTP dan SLTA di Provinsi Papua
Barat Tahun 2006-2008
3.19 Persentase Fasilitas Laboratorium Terhadap 73
Jumlah Sekolah SLTP dan SLTA di Provinsi Papua
Barat Tahun 2006-2008
3.20 PDRB Menurut Kabupaten/Kota ADHB dan ADHK 76
Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008 (Juta
Rupiah)
3.21 Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga 78
Berlaku Provinsi papua Barat Tahun 2006-2008
3.22 PDRB Per Kapita ADHB dan ADHK Menurut 81
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2006-
2008 (Rupiah)
4.1 Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota di 85
Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008
4.2 Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota di 87
Provisni Papua Barat Tahun 2006-2008
4.3 Rata-rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota 89
di Provisni Papua Barat Tahun 2006-2008
4.4 Paritas Daya Beli Menurut Kabupaten/Kota di 91
Provisni Papua Barat Tahun 2006-2008
4.5 IPM dan Perubahan Menurut Kabupaten/kota di 92
Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008
4.6 Reduksi Shortfall Menurut Kabupaten/Kota di 96
Provisni Papua Barat Tahun 2006-2008
5.1 IPM dan Peringkat Nasional IPM Menurut 103
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun
2006-2008

ϖιι
No. Judul Gambar Hal.

2.1 Dimensi, Indikator dan Indeks Pembangunan 13


Manusia
3.1 Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 21
1971-2008
3.2 Pertumbuhan Penduduk Provinsi Papua Barat 22
Tahun 1971-2008
3.3 Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 25
2008
3.4 Persentase Penduduk Menurut Kelompok 26
Dependency Ratio Provinsi Papua Barat Tahun 2008
3.5 Jumlah Rumah Sakit yang Telah Beroperasi 29
Menurut Kabupaten/Kota Papua Barat Tahun Tahun
2008
3.6 Jumlah Rumah Sakit Menurut Jenisnya di Provinsi 30
Papua Barat Tahun 2005-2008
3.7 Gambar Jumlah Dokter Ahli, Dokter Umum dan 33
Dokter Gigi Provinsi Papua Barat Tahun 2005-2008
3.8 Rata-rata Anak Lahir Hidup dan Masih Hidup Menurut 36
Kelompok Wanita Usia Subur di Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
3.9 Persentase Tingkat Keluahan Kesehatan 40
Masyarakat di Provinsi Papua Barat Tahun 2005-
2008
3.10 Persentase Penggunaan Fasilitas Air Bersih 42
Provinsi Papua Barat Tahun 2005-2008
3.11 Angka Melek Huruf Menurut Jenis Kelamin Provinsi 50
Papua Barat Tahun 2006-2008
3.12 Rata-rata Lama Sekolah Provinsi Papua Barat 52
Tahun 2006-2008
3.13 Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Papua Barat 54
Tahun 2007-2008
3.14 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Tahun 80
2002-2008 (%)
5.1 Boxplot IPM Provinsi Papua Barat Tahun 2006- 100
2008
5.2 Dendogram Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota di 101

ϖιιι
Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008
5.3 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 105
Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua Barat
Tahun 2006
5.4 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 106
Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua Barat
Tahun 2007
5.5 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 108
Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua Barat
Tahun 2008
5.6 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 110
PDRB per Kapita di Provinsi Papua Barat Tahun
2006
5.7 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 111
PDRB per Kapita di Provinsi Papua Barat Tahun
2007
5.8 Sebaran Posisi Kabupaten/Kota Menurut IPM dan 113
PDRB per Kapita di Provinsi Papua Barat Tahun
2008

ιξ
ξ
Data Mencerdaskan Bangsa

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Kinerja perekonomian suatu daerah seringkali diukur dengan


besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan parameter
keberhasilan kinerja ekonomi yang identik dengan pertumbuhan ekonomi
yang tinggi. Menurut Konferensi Internasional bertema Asia 2015 di
London pada 6-7 Maret 2006 paradigma tersebut tidak selamanya efektif
dalam mengentaskan kemiskinan dan menekan angka pengangguran bila
tidak diikuti oleh pemerataan distribusi pendapatan.
Besaran PDRB Provinsi Papua Barat pada tahun 2008 atas dasar
harga berlaku mencapai Rp 12.471,61 miliar, sedangkan atas dasar
harga konstan 2000 mencapai Rp 6.369,37 miliar. Sementara
pertumbuhan Ekonomi Papua Barat tahun 2008 meningkat sebesar 7,33
persen terhadap tahun 2007 (y on y). Pertumbuhan PDRB tanpa migas
pada tahun 2008 mencapai 8,68 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan
PDRB dengan migas yang besarnya 7,33 persen Semua sektor ekonomi
mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2008 dengan pertumbuhan
tertinggi di sektor Keuangan-Persewaan-Jasa Perusahaan sebesar 24,91
persen dan sumber pertumbuhan tertinggi pada sektor pertanian yaitu
sebesar 1,83 persen.
Jumlah penduduk miskin Provinsi Papua Barat tahun 2008 meskipun
mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2007 masih tergolong
tinggi yaitu sebesar 266,8 ribu jiwa (39,31 persen) menjadi 246,5 ribu jiwa
(35,12 persen). Tingginya jumlah penduduk miskin di Provinsi Papua

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 1


Data Mencerdaskan Bangsa

Barat ini terutama terkonsentrasi di daerah perdesaan mencapai 96,15


persen dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin yang tinggal di
daerah perkotaan hanya sebesar 3,85 persen.
Indikator ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat yang terpenting
adalah terkait isu pengangguran. Jumlah pengangguran mengalami
penurunan pada Agustus 2008 menjadi 26.189 orang dibandingkan
dengan kondisi Agustus 2007 sebesar 28.029 orang. Sementara Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) pada kondisi Agustus 2008 juga
mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2007 yaitu dari 9,46
persen menjadi 7,65 persen. Meskipun angka TPT Provinsi Papua Barat
mengalami penurunan namun target Program Perencanaan
Pembangunan Nasional (Propenas) 2004-2009 (kontribusi dari angka
seluruh provinsi di Indonesia) mengamanahkan capaian 5,13 persen
pada akhir tahun 2009 masih berat untuk dicapai, mengingat jumlah
angkatan kerja bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk.
Kinerja perekonomian yang diukur dengan besaran nilai PDRB agar
sebesar-besarnya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat maka
pendapatan tersebut harus terdistribusi secara merata. Pengukuran
seberapa besar kemerataan atau ketimpangan distribusi
pendapatan/pengeluaran konsumsi masyarakat dapat dilakukan dengan
menggunakan koefisien gini ratio. Bila dibandingkan gini ratio tahun 2006-
2008 di Provinsi Papua Barat diperoleh fakta bahwa ketimpangan
distribusi pendapatan semakin meningkat. Hal ini dijelaskan dari semakin
besarnya koefisien gini ratio yang mengalami peningkatan dari 0,30 di
tahun 2006 menjadi 0,33 di tahun 2007. Di tahun 2008 koefisien gini ratio
kembali mengalami peningkatan menjadi 0,36 yang mengindikasikan
distribusi pendapatan semakin mengalami ketimpangan.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 2


Data Mencerdaskan Bangsa

Tingkat kemerataan pendapatan menurut Bank Dunia dengan


mengelompokkan menjadi 40 persen penduduk berpendapatan rendah,
40 persen penduduk berpendapatan menengah dan 20 persen penduduk
berpendapatan teratas juga menggambarkan kondisi yang serupa.
Ketidakmerataan pendapatan terutama terjadi pada kelompok 40 persen
penduduk berpendapatan rendah dan 20 persen berpendapatan teratas.
Pada tahun 2008 pada kelompok berpendapatan rendah, distribusi
pendapatan yang semestinya diterima 40 persen penduduk ternyata
hanya 29,61 persen. Sementara pada kelompok penduduk dengan
pendapatan teratas yang semestinya menerima distribusi pendapatan
sebesar 20 persen ternyata pada kelompok ini menikmati 27,30 persen
dari total pendapatan.
Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua Barat tahun 2008
mencapai 7,33 persen atau lebih tinggi dari capaian pertumbuhan
ekonomi nasional yang hanya 6,06 persen. Tingginya capaian
pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat dinilai belum efisien karena
disisi lain persentase penduduk miskin dan tingkat pengagguran terbuka
masih tergolong tinggi. Disamping itu koefisien gini ratio yang terus
mengalami peningkatan menggambarkan distribusi pendapatan yang
semakin tidak merata sehingga pendapatan yang dihasilkan tidak dapat
dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Penjelasan diatas menggambarkan bahwa pengukuran keberhasilan
pembangunan yang hanya didasarkan pada tingginya angka
pertumbuhan ekonomi saja dirasakan kurang efektif. Diperlukan sebuah
parameter lainnya yang bersama-sama dapat digunakan sebagai alat
ukur keberhasilan pembangunan disuatu wilayah pada kurun waktu
tertentu. Kemudian muncullah sebuah paradigma untuk mengukur

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 3


Data Mencerdaskan Bangsa

keberhasilan pembangunan dari sisi manusia atau lebih dikenal dengan


pembangunan manusia.
Mengapa pembangunan manusia?. Banyak alasan mengapa
pembangunan manusia mendapatkan tempat yang istimewa dalam
program pembangunan. Dalam sejarah didunia terbukti bahwa sangat
jarang negara yang mampu berkembang dan tumbuh hanya dengan
mengandalkan sumber daya alam yang dimilikinya. Korea Selatan dan
Korea Utara adalah sebuah contoh kontras keberhasilan dan kegagalan
pembangunan. Korea Utara jauh tertinggal dibandingkan dengan Korea
Selatan yang miskin sumber daya alam tetapi sukses dalam
mengembangkan sumber daya manusia. Disamping itu pengalaman
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dianggap mampu
mengurangi kemiskinan menjadi kurang efektif tanpa diimbangi dengan
pengurangan kesenjangan pendapatan. Fakta lainnya yaitu di Amerika
Latin membuktikan bahwa tingginya tingkat kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan telah menghambat potensi-potensi pertumbuhan ekonomi.
Masalah itu sebagian besar timbul karena negara-negara Amerika Latin
cenderung mengabaikan investasi pada manusia, khususnya rumah
tangga miskin. Akibatnya, saat kesempatan ekonomi meluas, kelompok
rumah tangga ini tertinggal dan pada gilirannya menimbulkan masalah
sosial.
Perbaikan kesenjangan hanya bisa dicapai dengan melakukan
investasi pada pembangunan manusia, baik dalam meningkatkan akses
dan kualitas di bidang pendidikan maupun meningkatkan akses, kualitas,
dan layanan di bidang kesehatan.
Pembangunan manusia adalah suatu proses memperluas pilihan-
pilihan bagi manusia. Di antara pilihan-pilihan hidup yang terpenting

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 4


Data Mencerdaskan Bangsa

adalah pilihan untuk hidup sehat, untuk menikmati umur panjang dan
sehat, untuk hidup cerdas, dan berkehidupan mapan.
Paradigma pembangunan manusia terdiri dari empat komponen
utama, yaitu:
• Produktivitas. Masyarakat harus dapat meningkatkan
produktivitas mereka dan berpartisipasi secara penuh dalam proses
memperoleh penghasilan dan pekerjaan berupah. Oleh karena itu,
pertumbuhan ekonomi adalah salah satu bagian dari jenis pembangunan
manusia.
• Ekuitas. Masyarakat harus punya akses untuk memperoleh
kesempatan yang adil. Semua hambatan terhadap peluang ekonomi dan
politik harus dihapus agar masyarakat dapat berpartisipasi di dalam dan
memperoleh manfaat dari kesempatan-kesempatan ini.
• Kesinambungan. Akses untuk memperoleh kesempatan harus
dipastikan tidak hanya untuk generasi sekarang tapi juga generasi yang
akan datang. Segala bentuk permodalan fisik, manusia, lingkungan hidup
harus dilengkapi.
• Pemberdayaan. Pembangunan harus dilakukan oleh
masyarakat, dan bukan hanya untuk mereka. Masyarakat harus
berpartisipasi penuh dalam mengambil keputusan dan proses-proses
yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Tingkat capaian pembangunan manusia telah mendapatkan
perhatian dari penyelenggara negara agar hasil-hasil pembangunan
tersebut dapat diukur dan dibandingkan. Terdapat berbagai ukuran
pembangunan manusia yang telah dibuat, namun tidak seluruhnya dapat
dijadikan sebagai sebuah ukuran standar yang dapat digunakan untuk
perbandingan antar waktu dan antar wilayah. Oleh karena itulah

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 5


Data Mencerdaskan Bangsa

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan sebuah ukuran standar


pembangunan manusia yang dapat digunakan secara internasional yaitu
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index
(HDI). Indeks komposit ini terbentuk atas empat komponen indikator, yaitu
angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan
kemampuan daya beli/purchasing power parity (PPP). Indikator angka
harapan hidup merefleksikan dimensi hidup sehat dan umur panjang.
Indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah
merepresentasikan output dari dimensi pendidikan. Indikator kemampuan
daya beli untuk menjelaskan dimensi hidup layak.
Luasnya cakupan pembangunan manusia menjadikan peningkatan
IPM sebagai manifestasi dari pembangunan manusia. Hal ini dapat
diartikan sebagai keberhasilan dalam meningkatkan kemampuan dan
memperluas pilihan-pilihan manusia (enlarging the choice of the people).
Dua faktor penting yang dinilai efektif dalam pembangunan manusia
adalah pendidikan dan kesehatan. Kedua faktor ini merupakan kebutuhan
dasar manusia untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Capaian pembangunan manusia yang tinggi diperlukan sebuah
percepatan untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi tiap daerah.
Berdasarkan pengalaman pembangunan manusia di beberapa negara,
untuk mempercepat pembangunan manusia dapat dilakukan dengan
distribusi pendapatan yang merata dan alokasi belanja publik yang
memadai untuk bidang pendidikan dan kesehatan. Sebagai contoh
sukses adalah Korea Selatan yang tetap konsisten mengaplikasikan dua
hal tersebut. Sebaliknya Brazil harus mengalami kegagalan karena
ketimpangan distribusi pendapatan dan alokasi belanja publik yang

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 6


Data Mencerdaskan Bangsa

kurang memadai untuk bidang pendidikan dan kesehatan (UNDP,


Bappenas, BPS, 2004).
Perhatian pemerintah Indonesia akan isu perkembangan
pembangunan manusia kini semakin baik. Hal ini ditandai dengan
dijadikannya IPM sebagai salah satu alokator Dana Alokasi Umum (DAU)
untuk mengatasi kesenjangan keuangan antar wilayah (fiscal gap) dan
memacu percepatan pembangunan di daerah. Alokator lain yang
digunakan untuk mendistribusikan DAU adalah luas wilayah, jumlah
penduduk, Produk Domestik Regional Bruto, dan Indeks Kemahalan
Konstruksi (IKK).
Dengan adanya DAU diharapkan daerah yang mempunyai IPM
rendah mampu untuk mengejar ketertinggalannya dari daerah lain yang
mempunyai IPM lebih baik karena memperoleh alokasi dana yang
berlebih. Namun hal ini tergantung pada kebijakan dan strategi
pembangunan dari masing-masing daerah apakah mampu
memanfaatkan kucuran dana yang ada untuk mencapai hasil
pembangunan khususnya pembangunan manusia secara lebih baik.
Publikasi “Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat
Tahun 2008” ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang
kondisi, posisi dan perkembangan pembangunan manusia serta
komponen-komponen penyusunnya dibandingkan dengan daerah lain
dan periode sebelumnya.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 7


Data Mencerdaskan Bangsa

II. Tujuan Penulisan

Secara umum publikasi ini menyajikan data dan analisis indeks


pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat tahun 2008. Untuk
melihat perkembangan dan keterbandingan antar waktu serta wilayah,
data disajikan dari tahun 2006-2008 untuk membandingkan dengan
kondisi sebelumnya serta disajikan menurut kabupaten/kota.
Secara khusus, tujuan dari penulisan publikasi ini adalah:
1. Memberikan gambaran kondisi umum pembangunan manusia
di Provinsi Papua Barat tahun 2006-2008
2. Menyajikan analisis indeks pembangunan manusia dan
perkembangannya serta komponen-komponen indeks
pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat tahun 2006-
2008.
3. Menyajikan analisis disparitas pembangunan manusia antar
wilayah di Provinsi Papua Barat tahun 2008.

III. Manfaat Penulisan

Manfaat yang ingin dicapai dari penyusunan publikasi ini adalah:


• Tersedianya data dan informasi yang dibutuhkan dalam
memantau proses pembangunan manusia di Provinsi Papua
Barat secara berkesinambungan.
• Selain sebagai sumber informasi dalam pemantauan
pembangunan manusia, data dan informasi dalam publikasi ini
dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam perencanaan
pembangunan manusia pada tahap pembangunan selanjutnya.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 8


Data Mencerdaskan Bangsa

• Publikasi ini dapat dijadikan rujukan atau referensi keilmuan


bagi masyarakat pendidikan.

IV. Sistematika Penulisan

Penulisan publikasi Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua


Barat Tahun 2008 disusun menjadi beberapa bab dan diorganisasikan
sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan merupakan bab permulaan yang dimulai dengan


latar belakang pentingnya penyusunan publikasi yang menggambarkan
proses pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat. Ulasan
selanjutnya dilanjutkan dengan tujuan dan manfaat dari publikasi ini. Bab
ini ditutup dengan sistematika penulisan.
Bab II Metodologi mengulas sumber data, sejarah penghitungan IPM
dan metode penyusunan indeks. Metode penghitungan masing-masing
komponen IPM juga disertakan dalam sub bab metode penghitungan
IPM.
Bab III Kondisi Umum Pembangunan Manusia di Provinsi Papua
Barat memberikan gambaran secara lengkap hasil-hasil pembangunan
manusia. Pembahasan difokuskan bidang pendidikan, kesehatan dan
perekonomian.
Bab selanjutnya menganalisis perkembangan komponen IPM 2006 -
2008. Pembahasan diperluas dengan melakukan komparasi
pembangunan manusia di Provinsi Papua Barat dengan nasional,
pembahasan perkembangan IPM dan reduksi shortfall.
Bab V mengulas disparitas IPM antar wilayah. Didalamnya dapat
diketahui bagaimana posisi relatif IPM kabupaten/kota di tingkat provinsi

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 9


Data Mencerdaskan Bangsa

dan posisi relatif provinsi di tingkat nasional dari peringkat capaian IPM
kabupaten/kota menurut peringkat provinsi dan nasional. Analisis IPM
diperdalam dengan melakukan perbandingan keberhasilan ekonomi dan
pembangunan manusia dalam analisis kuadran.
Publikasi ini ditutup dengan Bab VI. Bab Penutup ini terdiri dari sub
bab kesimpulan dan saran yang berisi ringkasan dari paparan pada Bab
III dan bab VI sekaligus sebagai jawaban atas tujuan dari penyusunan
publikasi ini.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 10


Data Mencerdaskan Bangsa

BAB II
METODOLOGI

2.1 Sejarah Penghitungan IPM

IPM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 oleh


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui laporan pembangunan
manusia (Human Development Report) dengan tujuan untuk mengetahui
perkembangan pembangunan kualitas manusia di 177 negara.
Di Indonesia, pemantauan pembangunan manusia mulai
dilakukan pada tahun 1996. Laporan pembangunan manusia tahun 1996
memuat informasi pembangunan manusia untuk kondisi tahun 1990 dan
1993. Cakupan laporan pembangunan manusia terbatas pada level
provinsi. Mulai tahun 1999, informasi pembangunan manusia telah
disajikan sampai level kabupaten/kota.
IPM Provinsi Papua Barat mulai dihitung sejak tahun 2005.
Provinsi Papua Barat merupakan provinsi pemekaran berdasarkan
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 tentang pembentukan Provinsi
Irian Jaya Barat, Provinsi Irian Jaya Tengah, Kabupaten Mimika,
Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kota Sorong. Provinsi
Irian Jaya Barat memenuhi kelengkapan syarat sebuah pemerintahan
provinsi paska pemilihan gubernur dan wakil gurbernur yang menetapkan
Abraham Octavianus Atururi (Brigjen Marinir Purn.) dan Drs. Rahimin
Katjong, M.Ed sebagai gubernur dan wakil gurbernur yang dilantik pada
tanggal 26 Juli 2006. Publikasi IPM ini mengawali penerbitan rutin buku
IPM Provinsi Papua Barat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 11


Data Mencerdaskan Bangsa

2.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam publikasi ini adalah:


Susenas Kor: digunakan untuk menghitung indikator seperti angka
harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, dan
penghitungan pengeluaran per kapita.
Susenas Modul Konsumsi: digunakan untuk menghitung daya beli
masyarakat Provinsi Papua Barat yang didasarkan pada 27
komoditas.
Provinsi Papua Barat Dalam Angka 2009: digunakan untuk melihat
hasil-hasil pembangunan manusia pada kurun waktu 2006 – 2008.
PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008:
digunakan untuk melihat PDRB kabupaten/kota, PDRB Provinsi
Papua Barat, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita
sebagai gambaran pembangunan perkenomian.

2.3 Metode Penyusunan Indeks

IPM mengukur pencapaian pembangunan manusia dalam tiga


dimensi. Ketiga dimensi tersebut adalah dimensi umur panjang dan sehat,
dimensi pengetahuan dan kehidupan yang layak. Dimensi umur panjang
dan sehat (lama hidup sehat) diukur dengan angka harapan hidup pada
saat lahir. Dimensi pengetahuan diukur dengan angka melek huruf dan
rata-rata lama sekolah. Dimensi kehidupan yang layak diukur dengan
paritas daya beli (purchasing power parity) yang telah disesuaikan.
Penjelasan rinci metode penghitungan masing-masing komponen IPM
sebagai berikut:

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 12


Data Mencerdaskan Bangsa

Gambar 2.1 Dimensi, Indikator dan Indeks Pembangunan Manusia 

Angka harapan hidup pada saat lahir


Angka harapan hidup pada saat lahir adalah perkiraan
lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada
perubahan pola mortalitas menurut kelompok umur. Adapun
langkah-langkah penghitungan angka harapan hidup adalah:
a. Mengelompokkan umur wanita dalam interval 15 – 19, 20
– 24, 25 – 29, 30 – 34, 35 – 39, 40 – 44, dan 45 – 49
tahun.
b. Menghitung rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak
masih hidup dari wanita pernah kawin menurut kelompok
umur pada huruf a di atas.
c. Input rata-rata anak lahir hidup dan anak masih hidup
pada huruf b pada paket program MORTPACK sub
program CEBCS.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 13


Data Mencerdaskan Bangsa

d. Gunakan metode Trussel untuk mendapatkan angka


harapan hidup saat lahir. Referensi waktu yang digunakan
3 atau 4 tahun sebelum survei.
e. Untuk mendapatkan angka harapan hidup pada tahun
2006 - 2008 dilakukan dengan ekstrapolasi.

Angka Melek Huruf


Angka melek huruf adalah proporsi penduduk berumur 15
tahun atau lebih yang dapat membaca huruf latin atau huruf
lainnya. Adapun langkah-langkah penghitungan angka melek
huruf adalah:
a. Menghitung jumlah penduduk berumur 15 tahun atau
lebih.
b. Menghitung jumlah penduduk 15 tahun atau lebih yang
dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf
lainnya.
c. Membagi jumlah penduduk pada huruf b dengan jumlah
penduduk pada huruf a dikalikan 100.

Rata-rata lama sekolah


Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun
yang dihabiskan oleh penduduk berumur 15 tahun atau lebih
untuk menempuh suatu jenjang pendidikan formal yang pernah
dijalani. Langkah-langkah penghitungan rata-rata lama sekolah
sebagai berikut:
a. Menghitung jumlah penduduk berumur 15 tahun atau
lebih.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 14


Data Mencerdaskan Bangsa

b. Melakukan konversi variabel tingkat pendidikan yang


ditamatkan ke variabel lama sekolah.
c. Menghitung rata-rata lama sekolah dengan melakukan
agregat data menggunakan fungsi mean. Untuk
menghitungnya dapat menggunakan paket Program
SPSS.

Paritas Daya Beli yang Disesuaikan


Langkah-langkah menghitung paritas daya beli adalah:
a. Menghitung pengeluaran per kapita, y.
b. Menghitung pengeluaran per kapita yang dimark up 20
persen,
y1 = y x (1,20).
c. Menghitung pengeluaran riil, y2 dengan membagi y1
dengan indeks harga konsumen.
d. Menghitung paritas daya beli dari 27 komoditi dengan
persamaan:

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 15


Data Mencerdaskan Bangsa

PPP = paritas daya beli,


Ei,j = Pengeluaran komoditas ke – j di Kabupaten ke-i
Provinsi Papua Barat,

P9, j = Harga komoditas ke – j di Jakarta Selatan,

Qi , j = volume komoditi j (unit) yang dikonsumsi di di


Kabupaten ke-i Provinsi Papua Barat.

Khusus komoditi rumah sewa, unit kualitasnya


ditentukan berdasarkan indeks kualitas rumah. Indeks
kualitas rumah dihitung berdasarkan kualitas dan fasilitas
rumah tinggal dari tujuh variabel. Ketujuh variabel ini
diberi skor berdasarkan karakteristik yang sesuai (lihat
lampiran 3).

Indeks kualitas rumah merupakan penjumlahan


skor dibagi dengan delapan. Sebagai contoh, sebuah
rumah tangga menempati rumah berlantai tanah (0),
berdinding kayu (0), luas lantai per kapita 18 meter per
segi (1), beratap seng (0), menggunakan penerangan
listrik (1), minum dari air hujan (0), jamban milik sendiri
(1). Maka skor indeks kualitas rumah adalah 4/8 = 0,50.
Artinya, kuantitas rumah yang dikonsumsi rumah tangga
tersebut adalah 0,50 unit.
e. Menghitung y3 = y2/PPP.
f. Mengurangi y3 dengan formula Atkinson sebagai berikut:

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 16


Data Mencerdaskan Bangsa

Formula Atkinson

⎧C( i ) jika C(i ) < Z



( )
⎪ Z + 2 C − Z ( ) jika Z < C ≤ 2 Z
12

⎪ ( i) (i )
Ci* =⎨
( )
() (1 2 ) ( )
⎪ Z + 2 ( Z ) + 3 C( i ) − 2Z
1 3
jika 2Z < C(i ) ≤ 3Z

⎩ ( (i ) )
⎪ Z + 2 ( Z )(1 2) + 3 ( Z )(1 3) + 4 C − 3Z (1 4) jika 3Z < C ≤ 4 Z
(i )

Dengan:
C(i) = PPP dari pengeluaran riil per kapita, y3.
Z = Batas pengeluaran yang ditetapkan, biasanya garis
kemiskinan.

Menghitung IPM
a. Setelah masing-masing komponen IPM dihitung, maka
masing-masing indeks dihitung dengan persamaan:

Dengan:

X(i,j) = Indeks komponen ke-i dari kabupaten ke –j;


X(i-min) = Nilai minimum dari Xi
X(i-maks) = Nilai maksimum dari Xi
Nilai maksimum dan minimum dari masing-masing indeks
tercantum pada Tabel 2.1 berikut.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 17


Data Mencerdaskan Bangsa

Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Indikator Dalam 
Penghitungan IPM 
 
Komponen IPM Maksimum Minimum Keterangan
(1) (2) (3) (4)
Angka Harapan Hidup 85 25 Standar UNDP
Angka Melek Huruf 100 0 Standar UNDP

Rata-rata Lama UNDP menggunakan Combined


15 0
Sekolah Gross Enrollment Ratio
300.000 UNDP menggunakan PDB riil per
Daya Beli 732.720a kapita yang telah disesuaikan
360.000b
a) Perkiraan maksimum pada akhir PJP II tahun 2018 
b) Penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan yang baru 

b. Menghitung indeks pengetahuan :


2 1
X2 = ( X 21 ) + ( X 22 )
3 3
Dengan:
X 21 = Indeks Melek Huruf
X 22 = Indeks Lama Sekolah

c. Nilai IPM dapat dihitung sebagai:


1
IPM = ∑ Indeks X (i )
3 j

Dengan Indeks X(i) = Indeks komponen IPM ke i;


i = 1 (Indeks angka harapan hidup),
2 (Indeks pendidikan),
3 (Indeks daya beli).

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 18


Data Mencerdaskan Bangsa

Menghitung Reduksi Shortfall (r) : digunakan untuk mengukur


kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu tertentu.

Dengan:
r = reduksi shortfall,
IPMt + n = IPM pada tahun (t + n)
IPMt = IPM pada tahun (t)

2.4 Besaran Skala IPM

IPM suatu wilayah dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori.


Keempat kelompok itu adalah:
IPM Tinggi apabila IPM sama dengan 80,00 atau lebih
IPM Menengah Atas apabila IPM antara 66,00 – 79,90
IPM Menengah Bawah apabila IPM antara 50,00 – 65,90
IPM Rendah apabila IPM kurang dari 50,00

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 19


Data Mencerdaskan Bangsa

BAB III
KONDISI UMUM PEMBANGUNAN MANUSIA
PROVINSI PAPUA BARAT 2008

3.1 Kependudukan

Dalam proses pembangunan, penduduk merupakan faktor penting


yang harus diperhatikan karena sumber daya alam yang tersedia tidak
akan mungkin dapat dimanfaatkan tanpa adanya peranan dari manusia.
Dengan adanya manusia, sumber daya alam tersebut dapat dikelola
untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarga secara
berkelanjutan. Besarnya peran penduduk tersebut maka pemerintah
dalam menangani masalah kependudukan tidak hanya memperhatikan
pada upaya pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk saja tetapi
lebih menekankan kearah perbaikan kualitas sumber daya manusia.
Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi dan
mendatangkan manfaat yang besar bila memiliki kualitas yang baik,
namun besarnya jumlah penduduk tersebut dapat menjadi beban yang
akan sulit untuk diselesaikan bila kualitasnya rendah. Informasi
kependudukan yang baik sangat diperlukan dalam menunjang ke arah
pembangunan manusia yang berkualitas.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 20


Data Mencerdaskan Bangsa
B

800

700
730
0
600 571.11

Jiwa (ribu)
500

400

300

200
221.46
2
Gamb
bar 3.1 Jumlah  100
Pend
duduk Provinsi 
0
Papu
ua Barat Tahun  1971 1980 1990 2000 2005 2006 2007 200
08
1971‐2008  Jiwa (ribu) 221
1.4 283.4 358.5 571.1 688.2 702.1 716 730
0

B
Berdasarkan angka proyeksi dengan meenggunakan data daasar dari
Surveei Penduduk Antar Sensus 2005 (SU
UPAS05) jumlah peenduduk
Provinsi Papua Barat pada tahun 2008 mencapai 729.9226 jiwa.
Dibanndingkan dengan pada
p waktu pertam
ma kali diadakan Sensus
Penduduk tahun 1971, jumlah penduduk Provvinsi Papua Barat yaang saat
itu masih terintegrasi denngan Provinsi Papuaa berjumlah 221,4 ribu jiwa.
perubbahan penduduk yanng relatif cepat terjaadi antara tahun 19990-2000
dan tahun
t 2000-2005. Peenduduk Provinsi Paapua Barat terus mengalami
pertumbuhan hingga meencapai 571,1 ribu jiwa pada kondisi Sensus
Penduduk tahun 2000. Pada
P saat pendataaan SUPAS 2005 peenduduk
Papua Barat telah mencaapai 688,2 ribu jiwa, kemudian pada tahuun 2006
dan 2007
2 jumlah penduduuk Papua Barat mennjadi 702,1 ribu dan 716
7 ribu
jiwa.

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 21
Data Mencerdaskan Bangsa
B

4.01
3.8

3.12
3.12
3
2.78

Gambar 3.2 
Pertum
mbuhan Penduduk 
Pro
ovinsi Papua Barat  1971‐1980 1980‐1990 1990‐2000 200
00‐2005 2000‐2008
Tahun 1971‐2008 

P
Pertumbuhan penduuduk rata-rata per ttahun Papua Barat berada
pada kisaran 2-4 persen. Selama tahun 1971-2008 Papuaa Barat
menggalami pertumbuhann rata-rata per tahhun sebesar 3,28 persen.
Semeentara pertumbuhan penduduk rata-rataa per tahun antar Sensus
Penduduk 1971-1980, 19880-1990, dan 1990-22000 sebesar 2,78; 3,12
3 dan
4,01. Pertumbuhan penduuduk mulai mengalam
mi kecenderungan menurun
m
setelaah tahun 2000. Perttumbuhan rata-rata per tahun penduduk 2000-
2005 (Antara Sensus Peenduduk 2000 dan Supas 2005) sebessar 3,80
perseen dan antara Sensus Penduduk 2000 hingga kondisi tahuun 2008
menggalami pertumbuhan rata-rata per tahun ssebesar 3,12 persen.
P
Pertumbuhan penduuduk yang relatif tiinggi ini terjadi meengingat
Papua Barat adalah sebuuah provinsi yang teergolong muda dan sedang
membbangun. Diperkirakann masih tingginya angka pertumbuhan peenduduk
ini beerasal dari faktor migrrasi. Namun pertumbbuhan penduduk tidak hanya
dipenngaruhi oleh faktor migrasi saja tetapi juga faktor fertilittas dan
mortaalitas. Dengan semaakin baiknya derajat kesehatan dan penndidikan

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 22
Data Mencerdaskan Bangsa

masyarakat, pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi ini berangsur-


angsur mulai mengalami penurunan seiring dengan menurunnya tingkat
fertilitas.
Meskipun pertumbuhan penduduk tergolong cepat, namun Provinsi
Papua Barat memiliki sebaran penduduk yang tidak merata dilihat dari
luas wilayah. Jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Manokwari
dan Kota Sorong yaitu sebesar 173.382 dan 169.278 jiwa atau sekitar
23,8 dan 23,2 persen dari total penduduk Provinsi Papua Barat.
Sementara jumlah penduduk paling kecil adalah Kabupaten Teluk
Wondama sebesar 23.140 jiwa atau hanya 3,2 persen dari total penduduk
Papua Barat.
Menurut luas wilayah, Kabupaten Sorong Selatan memiliki luas
wilayah terbesar di Provinsi Papua Barat, yaitu 29.810 Km2, namun
kepadatan penduduknya hanya dua jiwa/Km2, demikian pula dengan
Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Teluk Wondama. Sementara Kota
Sorong yang luas wilayahnya paling kecil diantara kabupaten lainnya
justru memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi, yaitu 153
penduduk/Km2. Padatnya penduduk Kota Sorong tak lepas dari motif
ekonomi yang menjadi daya tariknya. Perusahaan minyak yang telah
didirikan pada zaman Pemerintahan Belanda membuat daerah ini lebih
maju dan memberikan daya tarik yang lebih dibandingkan dengan daerah
lainnya di Papua Barat.
Berbeda dengan Kota Sorong, Kabupaten Manokwari adalah kota
tua yang awalnya sulit untuk berkembang. Namun setelah Provinsi Papua
Barat melepaskan diri dari provinsi induknya, Provinsi Papua, dan
menjadikan Kabupaten Manokwari sebagai ibukota provinsi, wilayah ini
menjadi daerah ‘baru’ yang mulai ramai. Sebagai pusat pemerintahan di

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 23


Data Mencerdaskan Bangsa

Provinsi Papua Barat, Kabupaten Manokwari mulai menata diri dan mulai
berkembang menjadi daerah yang ramai dan padat penduduknya.
Secara agregat Provinsi Papua Barat yang memiliki luas wilayah
140.375,6 Km2 dan jumlah penduduk 729.962 jiwa pada tahun 2008
tergolong sebagai provinsi yang kepadatan penduduknya paling rendah,
yakni hanya 5 jiwa/Km2. Besaran tersebut mempunyai makna rata-rata
hanya terdapat 5 orang penduduk dalam setiap Km2.

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk, Persentase Jumlah Penduduk, Luas 
Wilayah dan Kepadatan Penduduk/Km2 Papua Barat Tahun 2008 

Persentase
Jumlah Luas Kepadatan
Kabupaten/Kota Jumlah
Penduduk Wilayah Penduduk/Km2
Penduduk
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 66864 9,2 14320 5
Kaimana 42046 5,8 18500 2
Teluk Wondama 23140 3,2 12146,62 2
Teluk Bintuni 54528 7,5 18637 3
Manokwari 173382 23,8 14448,5 12
Sorong Selatan 61463 8,4 29810 2
Sorong 98091 13,4 25324 4
Raja Ampat 41170 5,6 6084,5 7
Kota Sorong 169278 23,2 1105 153
Papua Barat 729962 100,0 140375,6 5

Sumber: DDA Papua Barat 2008 dan Proyeksi Penduduk Papua Barat 2005-2015

Struktur penduduk Provinsi Papua Barat dapat diketahui dari


komposisi penduduk menurut kelompok umur. Dalam Gambar 3.3,
piramida penduduk menggambarkan struktur penduduk yang dibagi ke
dalam kelompok umur. Dari komposisi sebaran penduduk menurut

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 24


Data Mencerdaskan Bangsa

kelompok umur tersebut Provinsi Papua Barat termasuk sebagai struktur


penduduk muda. Hal ini tampak dari bentuk piramida penduduk dimana
penduduk lebih terdistribusi ke dalam kelompok umur muda atau terjadi
pelebaran pada alas piramida penduduk. Selain itu dilihat dari besarnya
median umur, Provinsi Papua Barat tergolong pada penduduk usia muda
karena memiliki median umur 18,63 tahun. Sedangkan kriteria penduduk
usia muda adalah bila median umur di suatu daerah ≤ 20 tahun.

75+
70‐74
65‐69
60‐64
55‐59
50‐54
45‐49
40‐44
35‐39
30‐34
25‐29
20‐24
15‐19
10‐14
5‐9
0‐4

Gambar 3.3 Piramida  (60000) (40000) (20000) 0  20000  40000  60000 


Penduduk Provinsi 
Papua Barat Tahun 2008  Perempuan Laki‐laki

Implikasi dari struktur penduduk muda adalah besarnya persentase


penduduk yang bersiap memasuki batas penduduk usia kerja
(economically active population) dan besarnya rasio ketergantungan
(dependency ratio). Batas bawah usia kerja di Indonesia adalah umur 15
tahun. Setelah memasuki usia tersebut maka mereka disebut sebagai

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 25


Data Mencerdaskan Bangsa
B

penduuduk usia kerja. Pennduduk usia kerja dibbagi menjadi angkataan kerja
dan bukan angkatan kerja
k (sekolah, meengurus rumahtanggga dan
melakkukan kegiatan lainnnya). Bila penduduk usia kerja tidak meelakukan
salah satu aktivitas daalam kelompok bukkan angkatan kerjaa maka
termaasuk ke dalam kriteriaa angkatan kerja. Daan bila dalam angkataan kerja
tidak melakukan aktivitass kerja maka kelompok ini termasuk kee dalam
kriteriia pengangguran (unnemployment). Denggan jumlah penduduuk muda
yang besar tentu potensi jumlah penduduk yang akan terjun kee dalam
angkaatan kerja juga bessar, untuk itu pemeerintah harus bersiap untuk
menyyediakan lapangan kerja
k untuk menamppung jumlah angkataan kerja
yang besar ini. Hal yang akan terjadi bila peermintaan akan tenagga kerja
lebih kecil dari jumlah penncari kerja adalah tercciptanya penganggurran.

1.73 1.36 1.55


100

80

60.61 58.43 59.55


60

40

20 37.66 40.20 38.90


Gambbar 3.4 Persentase 
Pe
enduduk Menurut  0
Kelom
mpok Dependency 
Laki‐lakki Perempuan L+P
Rattio Provinsi Papua 
B
Barat Tahun 2008  0 ‐ 14 15 ‐ 64 6
65+

S
Salah satu implikassi lain dari struktur umur muda adalah tingkat
bebann ketergantungan yaang tinggi. Rasio keetergantungan (depeendency

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 26
Data Mencerdaskan Bangsa

ratio) digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan


keadaan ekonomi suatu daerah apakah tergolong daerah maju atau
daerah yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah
satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase
dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus
ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk
yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase
dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya
beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai
penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Gambar 3.4 memberikan informasi bahwa persentase penduduk
produktif dan non produktif baik itu secara agregat maupun gender
menunjukkan kecenderungan yang sama. Baik itu penduduk laki-laki
maupun perempuan serta total penduduk menunjukkan distribusi yang
hampir sama. Besarnya rasio ketergantungan Papua Barat mencapai
49,21 persen. Artinya dari 100 orang yang masih produktif (15-64 tahun)
harus menanggung beban hidup sekitar 49 orang yang belum produktif (0-
14 tahun) dan tidak produktif (65 tahun keatas).

3.2 Kondisi Kesehatan

Perhatian pemerintah dalam membangun indeks pembangunan


manusia di bidang kesehatan, diwujudkan melalui penyedian fasilitas dan
tenaga kesehatan yang memadai. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas
kesehatan dan tenaga kesehatan menjadi sebuah indikator yang layak
untuk dievaluasi. Disamping itu, indikator lainnya yang dapat digunakan
sebagai tolok ukur pembangunan manusia dalam bidang kesehatan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 27


Data Mencerdaskan Bangsa

adalah manusia sebagai objek pembangunan itu sendiri. Tingkat


kesehatan seseorang dapat dilihat dari sejarah kesehatan yang diruntut
dari kondisi kesehatannya sejak lahir, balita, anak-anak hingga dewasa.
Sedangkan tingkat kesehatan pada masyarakat secara umum dapat
dilihat dari tingkat pesakitan atau jumlah keluhan kesehatan, tingkat
kematian bayi, penolong kelahiran bayi, dan lain-lain.

3.2.1 Sarana Kesehatan

a. Fasilitas Kesehatan
Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui
jangkauan pelayanan kesehatan antara lain rasio fasilitas kesehatan per
penduduk. Fasilitas kesehatan yang dievaluasi antara lain rumah sakit,
puskesmas, Pustu, Polindes, dan Poskedes.
ƒ Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang
menyediakan berbagai macam pelayanan kesehatan. Distribusi
penyebaran rumah sakit diharapkan mampu meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Provinsi Papua Barat. Berdasarkan Gambar
3.5, menunjukkan bahwa dari sembilan kabupaten/kota di Provinsi
Papua Barat, hanya ada empat kabupaten/kota yang memiliki rumah
sakit yaitu Kabupaten Fakfak, Kabupaten Manokwari, Kabupaten
Teluk Wondama, dan Kota Sorong.
Secara kependudukan, Kabupaten Manokwari memiliki jumlah
penduduk yang paling banyak pada tahun 2008, namun demikian
jumlah rumah sakit yang dimiliki tidak sebanding dengan jumlah
penduduk. Dimana satu rumah sakit melayani 57.794 penduduk,
tidak sebanding dengan Kota Sorong yang memiliki rumah sakit 7

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 28


Data Mencerdaskan Bangsa

unit tetapi jumlah penduduknya hampir sama dengan Kabupaten


Manokwari. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketidakmerataan
distribusi penyebaran rumah sakit di Provinsi Papua Barat. Sehingga
penduduk yang berasal dari kabupaten yang tidak memiliki rumah
sakit memanfaatkan fasilitas kesehatan yang lain sebagai tempat
berobat.

Kota Sorong 7

Raja Ampat 0

Sorong 1

Sorong Selatan 0

Manokwari 3

Teluk Bintuni 0

Teluk Wondama 0
Gambar 3.5 Jumlah 
Kaimana 0
Rumah Sakit yang Telah 
Beroperasi Menurut  Fak‐Fak 1
Kabupaten/Kota Papua 
Barat Tahun Tahun 2008  0 2 4 6 8

Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat

Jika diamati dari jumlah penduduk, maka dapat dikatakan


bahwa 12 rumah sakit di Provinsi Papua Barat melayani 729.962
penduduk. Hal ini juga berarti bahwa 1 rumah sakit melayani sekitar
60.830 penduduk. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi
Papua Barat tahun 2008, ketersediaan rumah sakit milik pemerintah
mengalami penurunan dari 12 rumah sakit di tahun 2005 menjadi 4
rumah sakit sedangkan rumah sakit swasta mengalami penambahan
dari 4 menjadi 6 buah rumah sakit di tahun 2008 (Lihat Gambar 3.6).

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 29


Data Mencerdaskan Bangsa
B

R
Rumah sakit ABRI dari
d tahun 2005 hinngga 2008 tidak menngalami
p
perubahan dalam segi kuantitas.

15

12
12
9
9 9

6 6

4 4 4 4
3
Gambar 3.6 Jumlah 
G 2 2 2 2
Rum
mah Sakit Menurut  0
J
Jenisnya di Provinsi  2005 2006 007
20 2008
Papua Barat Tahun 
2005‐2008  pem
merintah swasta ABRI

ƒ Puskesmas, Pu
ustu, Polindes, Poskesdes

Selain rumah saakit, sarana kesehataan lainya yang ikut berperan


b
d
dalam menyehatkann masyarakat antarra lain Puskesmas, Pustu,
P
Polindes, dan Poskesdes yang dimaanfaatkan sebagai fasilitas
k
kesehatan yang terjaangkau baik dalam ssegi biaya maupun letaknya
y
yang menyebar jika dibandingkan dengaan rumah sakit. Pusskesmas
d Provinsi Papua Barat
di B terdistribusi paaling banyak di Kabbupaten
M
Manokwari, yaitu 188 puskesmas, sedaangkan yang paling sedikit
a
adalah kota Sorong, yaitu 5 buah puskesmas.

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 30
Data Mencerdaskan Bangsa

Ketersediaan fasilitas kesehatan yang paling banyak adalah di


Kabupaten Manokwari yaitu 18 Puskesmas, 75 Puskesmas
Pembantu, 6 Pos Kesehatan Desa (Poskedes), dan 55 buah
Poliklinik Desa (Polindes).

Tabel 3.2 Jumlah Puskesmas, Puskesmas, Poskesdes, dan Polindes di 
Provinsi Papua Barat Tahun 2008 
 
Puskesmas
Kabupaten/Kota Puskesmas Poskesdes Polindes
Pembantu

(1) (2) (3) (4) (5)


Kab. Fak-Fak 9 42 - 26
Kab. Kaimana 6 43 - 9
Kab. Teluk Wondama 6 34 - -
Kab. Teluk Bintuni 10 36 6 8
Kab. Manokwari 18 75 6 55
Kab. Sorong Selatan 15 40 8 34
Kab. Sorong 14 45 4 33
Kab. Raja Ampat 14 23 2 47
Kota Sorong 5 14 - 6
Papua Barat 97 352 26 218
Sumber data : Podes 2008

Hal ini berlawanan dengan Kota Sorong, Kota Sorong sebagai


kota besar di Provinsi Papua Barat hanya memiliki 5 Puskesmas, 14
Puskesmas Pembantu, dan 6 Polindes. Dilihat dari jumlah penduduk,
Kota Sorong memiliki penduduk sebanyak 169.278 penduduk di
tahun 2008 yang tidak jauh beda dengan Kabupaten Manokwari
yang berjumlah 173.382 penduduk. Sedikitnya fasilitas kesehatan
seperti Puskesmas, Pustu, Posekdes, dan Polindes dikarenakan
Kota Sorong memiliki rumah sakit terbanyak sebagai sarana
kesehatan yang dipilih oleh masyarakat untuk berobat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 31


Data Mencerdaskan Bangsa

b. Tenaga Kesehatan
Selain fasilitas kesehatan, hal yang sangat mendukung adalah
ketersediaan tenaga kesehatan atau tenaga medis sebagai subjek yang
melakukan pengobatan dan penanganan medis. Distribusi tenaga medis
di Provinsi Papua Barat dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota  
Provinsi Papua BaratTahun 2005‐2008 

Dokter
Kabupaten/Kota Jumlah
Ahli Umum Gigi
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 2 - - 2
Kaimana - - - -
Teluk Wondama - 7 - 7
Teluk Bintuni - - - -
Manokwari 7 20 3 30
Sorong Selatan - - - -
Sorong 4 - - 4
Raja Ampat - - - -
Kota Sorong 13 - - 13
Papua Barat 2008 26 27 3 56*)
2007 25 187 30 242
2006 25 187 30 242
2005 34 77 7 118
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat 2008
*) Hanya dokter yang berstatus sebagai PNS

Berdasarakan Tabel 3.3, diketahui bahwa jumlah dokter yang paling


banyak ada di Kabupaten Manokwari. Manokwari sebagai ibukota
Provinsi memiliki tenaga dokter sebanyak 30 orang dengan rincian 7
dokter ahli, 20 dokter umum, dan 3 dokter gigi. Penyebaran tenaga medis
seperti dokter yang tidak memadai di Provinsi Papua Barat, terutama di

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 32


Data Mencerdaskan Bangsa
B

kabuppaten pemekaran menyebabkan peelayanan kesehatann tidak


makssimal. Hal itu disebabbkan oleh keterjangkkauan dalam hal jaraak yang
ditem
mpuh untuk mendapattkan pelayanan dokteer.
J
Jika dirunut dari seegi waktu, terjadi peenurunan tenaga dookter di
Provinsi Papua Barat terrutama jumlah dokettr umum. Pada tahun 2008,
jumlaah dokter umum berkkurang dari 187 oranng menjadi hanya 277 orang.
Sedangkan untuk dokter ahli bertambah satuu orang yaitu dari 255 dokter
menjaadi 26 dokter. Pennurunan tenaga medis ini perlu mendapatkan
perhaatian dari pemerintaah mengingat kebutuhan akan tenagaa dokter
sangaat diperlukan teruraatam di kabupaten pemekaran sepertti Teluk
Bintuni, Sorong Selatan, Kaimana, dan Raja Ampat yang belum tersedia
t
tenagga dokter.

200

150

100

50
Gaambar 3.7 Jumlah 
Dookter Ahli, Dokter  0
Umum
m dan Dokter Gigi  2005 2006 2007 2008
Pro
ovinsi Papua Barat 
Tahun 2005‐2008  dokter ahli dokter umum doketr gigi

Jumlah dokter daalam suatu wilayah ttertentu menentukann tingkat


pelayyanan kesehatan. Raasio antara jumlah dokter yang tersedia dengan
jumlaah penduduk yang membutuhkan layyanan kesehatan haruslah
h
seimbbang. Jika diperhatikkan dari jumlah pendduduk Provinsi Papuua Barat

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 33
Data Mencerdaskan Bangsa

tahun 2008 dan jumlah dokter yang tersedia, maka rasio jumlah penduduk
terhadap jumlah dokter sebesar 13.035, dengan kata lain satu dokter
melayani sekitar 13.035 orang.

Tabel 3.4 Rasio Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Dokter 
Menurut Kabupaten/kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008 
 
Jumlah Penduduk /
Kabupaten/Kota Jumlah Dokter
Penduduk Dokter
(1) (2) (3) (4)
Fakfak 66.864 2 33.432
Kaimana 42.046 - -
Teluk Wondama 23.140 7 3.306
Teluk Bintuni 54.528 - -
Manokwari 173.382 30 5.780
Sorong Selatan 61.463 - -
Sorong 98.091 4 24.523
Raja Ampat 41.170 - -
Kota Sorong 169.278 13 13.021
Papua Barat 729.962 56*) 13.035
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat
*) Hanya dokter yang berstatus sebagai PNS

Sedangkan jika diamati secara parsial, distribusi dokter di Provinsi


Papua Barat yang tidak seimbang dimana satu wilayah kabupaten/kota
seperti Kabupaten Fakfak, rasio penduduk yang dilayani dengan jumlah
dokter yang tersedia sangat tinggi. Yaitu satu dokter harus melayani
33.432 penduduk. Sedangkan kabupaten yang tidak memiliki tenaga
dokter harus memanfaatkan tenaga medis atau paramedis lainnya
sebagai subjek pelaksana penyehatan masyarakat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 34


Data Mencerdaskan Bangsa

3.2.2 Derajat Kesehatan Masyarakat

Selain dari sarana kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga


dijadikan sebagai indikator untuk melihat indeks pembangunan manusia
di bidang kesehatan mengingat manusia sebagai objek dari
pembangunan itu sendiri. Pembangunan bidang kesehatan antara lain
bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan untuk semua lapisan
masyarakat demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang lebih
baik. Objek yang dijadikan perhatian dalam pembangunan di bidang
kesehatan salah satunya adalah kesehatan pada balita. Keberhasilan
dalam meningkatkan tingkat kesehatan pada balita dapat dilihat dari
tingkat kematian bayi, penolong kelahiran, dan imunisasi pada balita.
Tingkat pesakitan atau banyaknya keluhan kesehatan menunjukkan
seberapa besar kebutuhan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Semakin banyak keluhan kesehatan yang terjadi dalam masyarakat maka
tingkat kesehatan masyarakat semakin rendah. Kesehatan pada
masyarakat juga dipengaruhi oleh pola hidup sehat yang dijalani. Salah
satunya adalah sistem sanitasi dalam masyarakat. Penggunaan air bersih
dan sistem pembungan tinja dianggap sebagai hal yang perlu
diperhatikan.

¾ Angka Kematian Bayi


Angka kematian bayi dapat didekati dari data jumlah anak yang
lahir hidup dengan jumlah anak yang masih hidup. Berdasarkan data
Susenas 2008 yaitu data rata-rata anak lahir hidup dengan rata-rata
anak masih hidup menunjukkan bahwa angka kematian bayi tertinggi
berada pada kelompok usia wanita antara umur 40-44 tahun. Hal ini

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 35


Data Mencerdaskan Bangsa

dilihat dari selisih rata-rata anak lahir hidup dengan rata-rata anak
masih hidup mempunyai selisih terbesar di antara kelompok umur
lainnya yaitu sebesar 0,33.

45 ‐ 49 3.62   
3.87   

40 ‐ 44 3.81   
4.14   

35 ‐ 39 3.13   
3.27   

30 ‐ 34 2.57   
2.70   

25 ‐ 29 1.96   
2.07   
1.07   
Gambar 3.8 Rata‐rata Anak  20 ‐ 24 1.12   
Lahir Hidup dan Masih 
15 ‐ 19 .61   
Hidup Menurut Kelompok  .63   
Wanita Usia Subur di 
Provinsi Papua Barat  0 1 2 3 4 5
Tahun 2008  rata‐rata anak masih hidup rata‐rata anak lahir hidup

¾ Penolong Kelahiran
Salah satu aspek kesehatan yang menjadi sorotan adalah
kesehatan balita. Kesehatan balita selain ditentukan oleh kesehatan
ibu hamil juga dipengaruhi oleh penolong kelahiran. Kesehatan ibu
dan anak secara umum dapat dilihat dari data penolong kelahiran.
Penolong kelahiran yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis
lainnya dianggap lebih baik jika dibandingkan dengan dukun atau
famili. Tabel 3.5 menunjukkan bahwa 45,95 persen penolong
kelahiran pertama balita dilakukan oleh bidan; 25,39 persen oleh

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 36


Data Mencerdaskan Bangsa

dukun; 17,25 persen oleh famili; 7,74 persen oleh dokter; 2,6 persen
oleh tenaga medis lain; dan 1,07 persen oleh lainnya.
Masih tingginya persentase kelahiran yang ditolong oleh dukun
di Provinsi Papua Barat menunjukkan bahwa peranan dukun dalam
proses kelahiran balita pertama masih tinggi. Tenaga bidan di
Kabupaten Kaimana memiliki peranan terbesar dalam proses
kelahiran balita pertama (72,74%). Sedangkan dukun memiliki
peranan terbesar di Kabupaten Raja Ampat dalam penolong
kelahiran pertama balita (54,15%).

Tabel 3.5 Persentase Tenaga Penolong Kelahiran Menurut  
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008 

Penolong Waktu Lahir

Kabupaten/kota Tenaga
Dokter Bidan Medis Dukun Famili Lainnya
Lain
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab. Fakfak 18.52 41.15 2.53 30.16 7.64 0.00
Kab. Kaimana 0.00 72.74 0.85 23.85 2.56 0.00
Kab. Teluk Wondama 8.22 33.56 2.05 19.18 36.31 0.68
Kab. Teluk Bintuni 4.18 37.40 5.22 46.93 6.27 0.00
Kab. Manokwari 10.50 29.44 2.66 26.00 30.04 1.37
Kab. Sorong Selatan 4.75 39.55 1.91 36.12 10.14 7.52
Kab. Sorong 7.43 42.00 1.23 39.52 9.82 0.00
Kab. Raja Ampat 0.67 22.56 5.47 54.15 17.15 0.00
Kota Sorong 10.42 69.70 4.26 8.51 5.69 1.42
Papua Barat 7,74 45,95 2,60 25,39 17,25 1,07
Sumber : Susenas 2008
Tabel 3.5 menunjukkan bahwa baik penolong kelahiran
pertama maupun terakhir di Papua Barat di dominasi oleh bidan. Hal
ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan bidan memiliki peranan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 37


Data Mencerdaskan Bangsa

terbesar di Papua Barat dalam menolong kelahiran bayi. Sedangkan


dukun berada pada posisi kedua setelah bidan.
¾ Imunisasi
Setelah melihat angka kematian pada bayi di Provinsi Papua
Barat, kesehatan balita juga dapat dilihat dari imunisasi. Imunisasi
dirasa sangat perlu dalam menjaga kekebalan pada tubuh balita dari
berbagai macam penyakit. Imunisasi yang diberikan pada balita
diantaranya adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak/Morbili, dan
Hepatitis B. Pemberian imunisasi sebagai salah satu cara untuk
mencegah terjadinya sakit atau terserang penyakit. Tabel 4.8
menunjukkan bahwa persentase balita yang mendapatkan imunisasi
cukup tinggi untuk semua jenis imunisasi yaitu 89,92 persen BCG;
84,19 persen DPT; 84,42 persen Polio; 71,37 persen
campak/Morbili; dan sebanyak 75,77 persen imunisasi Hepatitis B.

 Tabel 3.6 Persentase Penggunaan Imunisasi Pada Balita 
Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008 

Jenis Imunisasi
Kabupaten/kota Campak/
BCG DPT Polio Hepatitis B
Morbili
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 94.72 92.18 92.12 79.83 85.90
Kab. Kaimana 87.22 78.45 77.91 67.20 70.00
Kab. Teluk Wondama 91.10 81.52 78.10 58.22 67.13
Kab. Teluk Bintuni 79.16 78.11 85.38 77.02 80.18
Kab. Manokwari 86.23 81.55 83.56 77.93 77.93
Kab. Sorong Selatan 97.47 95.56 96.18 82.21 75.59
Kab. Sorong 87.67 83.97 85.21 80.29 80.26
Kab. Raja Ampat 84.93 82.20 90.43 79.46 75.34

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 38


Data Mencerdaskan Bangsa

Kota Sorong 91.49 87.71 89.13 76.81 85.34


Prov. Papua Barat 89.92 84.19 84.42 71.37 75.77
Sumber: Susenas 2008
Komposisi persentase penggunaan imunisasi pada balita
tertinggi seluruhnya berada di Kabupaten Sorong Selatan kecuali
untuk jenis imunisasi Hepatitis B dengan penjelasan BCG (97,47 %);
DPT (95,56 %); Polio (96,18 %); dan Campak (82,21 %). Sementara
imunisasi Hepatitis B tertinggi berada di Kabupaten Fakfak sebesar
85,90 persen. Sedangkan penggunaan imunisasi terendah berada di
Kabupaten Teluk Bintuni untuk jenis imunisasi BCG (79,16 %) dan
DPT (78,11 %); Kabupaten Kaimana untuk jenis imunisasi Polio
(77,91 %); serta Kabupaten Teluk Wondama untuk jenis imunisasi
Campak (58,22 %) dan Hepatitis B (67,13 %).

¾ Morbiditas/ Tingkat Pesakitan


Banyaknya keluhan kesehatan digunakan untuk mengukur
derajat kesehatan pada masyarakat. Masyarakat dianggap memiliki
derajat kesehatan yang semakin tinggi ketika keluhan kesehatan
yang dialami semakin sedikit. Gambar 3.9 menunjukkan bahwa
keluhan kesehatan yang paling banyak dialami oleh penduduk di
Papua Barat adalah batuk (14,17%), dan selanjutnya adalah pilek
(13,68%), dan panas (12,99%).

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 39


Data Mencerdaskan Bangsa
B

14.17    13
3.68   
12.99   
10.90   

5.84   

1.38    1.26    1.60   

Gambaar 3.9 Persentase 

Lainnya
Sakit kepala
Panas

Batuk

Pil k
Pilek

Asma/ napas

buang air

Sakit gigi
T
Tingkat Keluahan 

Diare/

berulang
sesak
Kesehaatan Masyarakat 
di Provvinsi Papua Barat 
T
Tahun 2005‐2008 

Kabupaten Teluuk Bintuni memiliki ppersentase penduduuk yang


p
paling tinggi dengann keluhan kesehatan selain panas, batukk, pilek,
a
asma/napas sesak, diare/buang
d air, sakitt kepala, dan sakit giigi yang
m
mencapai 48,52 peersen. Keluhan yanng paling banyak dialami
p
penduduk di Kabuppaten Sorong Selataan adalah pilek (31,34%).
S
Sedangkan keluhan yang paling banyakk dirasakan oleh peenduduk
K
Kabupaten Manokwaari adalah panas yaitu sebesar 15,6 perseen (lihat
T
Tabel 3.7). Hal ini daapat memberikan infformasi bahwa penaanganan
k
kesehatan yang paling dibutuhkan di Kaabupaten Manokwari adalah
k
keluhan kesehatan teersebut.
Informasi mengenai keluhan kessehatan dapat diggunakan
s
sebagai referensi daalam penyediaan peelayanan kesehatan seperti
p
persediaan obat-obaatan dan tenaga m
medis maupun paraamedis.
T
Tingkat pesakitan juuga dapat dilihat darri informasi mengenai lama
s
sakit penduduk. Mennurut data Susenas 22008 (lampiran 5), seebanyak
4
49,68 persen penduduk sakit kurang daari 3 hari; 38,89 perssen 4-7

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 40
Data Mencerdaskan Bangsa

hari; dan sisanya sebanyak 11,42 persen lebih dari 7 hari.


Kabupaten Teluk Wondama memiliki persentase penduduk terbesar
yang mengalami sakit antara 4-7 (47,17%) dan Kabupaten Sorong
Selatan memiliki persentase terkecil (14,76%).

Tabel 3.7 Persentase Keluhan Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota 
Provinsi Papua Barat Tahun 2008 

Keluhan Kesehatan
Kabupaten/kota Asma/  Diare/      Sakit kepala 
Panas Batuk Pilek Sakit gigi Lainnya
napas sesak buang air berulang
(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab. Fakfak 7.30       5.39       3.97       1.03       1.07       .98       .96       4.89      
Kab. Kaimana 7.00       4.81       4.19       .82       .56       1.69       1.12       4.66      
Kab. Teluk Wondama 17.73       18.49       17.25       1.71       .57       8.53       1.99       8.82      
Kab. Teluk Bintuni 10.72       10.66       6.75       1.13       .92       7.56       1.54       48.52      
Kab. Manokwari 15.60       14.52       13.84       .99       .94       4.13       .50       10.43      
Kab. Sorong Selatan 8.63       21.07       31.34       1.03       6.17       2.01       3.32       2.67      
Kab. Sorong 11.85       13.21       12.76       1.20       1.05       5.56       1.05       9.77      
Kab. Raja Ampat 4.73       5.32       4.85       .74       .61       1.71       .25       4.12      
Kota Sorong 16.77       20.44       19.22       2.16       1.74       10.12       2.21       13.36      
Prov. Papua Barat 12.99       14.17       13.68       1.38       1.26       5.84       1.60       10.90      

Sumber data: Susenas 2008

Data Susenas (lampiran 6) menunjukkan bahwa sebanyak


61,25 persen penduduk di Provinsi Papua Barat melakukan
pengobatan sendiri ketika menderita keluhan sakit yaitu dilakukan
dengan tiga macam yaitu pengobatan tradisional, modern, dan
lainnya.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 41


Data Mencerdaskan Bangsa
B

¾ Penggunaan Air
A Bersih
Selain dilihat dari tingkat pesaakitan, derajat kessehatan
m
masyarakat juga dapat
d diamati dari pola hidup. Polaa hidup
m
mempengaruhi tingkaat kesehatan. Pola hhidup yang bersih daan sehat
t
tentunya lebih dapat menjamin kesehataan jika dibandingkan dengan
p hidup yang tidak bersih. Penggunaaan air bersih baik itu sumber
pola
a minum maupun yang lainnya mennentukan kondisi kessehatan
air
s
seseorang. Karena sumber air minum
m menentukan kualitas air
m
minum. Hasil Susennas 2008 menunjukkkan bahwa sebesar 40,44
p
persen rumah tanggga di Papua Barat m
memiliki fasilitas air minum
s
sendiri; 23,82 persenn milik bersama; 29,05 persen milik umuum, dan
6 persen tidak adaa fasilitas air minum (lihat Gambar 3.10).
6,68

50
40.44
40
29.05
30 23.82

20
6.68
10
Gambaar 3.10 Persentase 
Penggu unaan Fasilitas Air  0
Bersih  Pro
ovinsi Papua Barat  Sendiri Bersama Umum
m Tidak ada
Tahun 2005‐2008 

Kabupaten Soroong menduduki posissi tertinggi jika dibanddingkan


d
dengan kabupaten/kkota di Papua Baraat sebagai kabupateen yang
r
rumah tangganya tiddak ada fasilitas airr minum (34,96%). Rumah

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 42
Data Mencerdaskan Bangsa

tangga di Kota Sorong kebanyakan memiliki fasilitas air minum


sendiri (66,69%), sedangkan Kabupaten Sorong Selatan adalah
yang terendah diantara kabupaten/kota lainnya yang rumah
tangganya yang memiliki fasilitas air minum sendiri yaitu sebesar
10,74 persen (lihat Tabel 3.8).

Tabel 3.8 Persentase Penggunaan Fasilitas Air Minum Menurut 
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008 

Fasilitas Air Minum


Kabupaten/kota Jumlah
Tidak
Sendiri Bersama Umum
ada
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 56.71 22.03 15.33 5.93 100.00
Kab. Kaimana 33.26 28.05 36.73 1.96 100.00
Kab. Teluk Wondama 21.97 18.87 56.01 3.14 100.00
Kab. Teluk Bintuni 55.53 27.98 13.57 2.92 100.00
Kab. Manokwari 32.64 24.36 30.48 12.52 100.00
Kab. Sorong Selatan 10.74 40.91 29.23 19.12 100.00
Kab. Sorong 43.53 17.81 3.70 34.96 100.00
Kab. Raja Ampat 29.05 52.49 17.93 0.52 100.00
Kota Sorong 66.69 18.50 13.58 1.23 100.00
Prov. Papua Barat 40.44 23.82 29.05 6.68 100.00

Sumber: Susenas, 2008

¾ Penggunaan Pembuangan Tinja


Selain fasilitas air minum, sanitasi menjadi sebuah kebutuhan
yang tidak bisa diabaikan. Hal yang sangat penting adalah
penggunaan pembuangan tinja, dimana tinja sebagai kotoran
manusia harus memiliki tempat pembuangan tersendiri. Sebanyak
19,63 persen dari semua rumah tangga di Papua Barat tidak ada

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 43


Data Mencerdaskan Bangsa

atau tidak memiliki tempat pembuangan tinja. Sedangkan yang


lainnya yaitu sebesar 49,52 persen memiliki fasilitas pembuangan air
besar sendiri; 19,29 persen milik bersama; dan 11,56 persen milik
umum.
Menurut data pada Tabel 3.9 menunjukkan bahwa sebesar
49,52 persen rumah tangga di Provinsi Papua Barat memiliki fasilitas
tempat buang air besar sendiri; 19,29 persen milik bersama; 11,56
persen milik umum; dan 19,63 persen tidak ada fasilitas tempat
buang air besar. Masih tingginya persentase rumah tangga yang
tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar menunjukkan bahwa
perlu adanya perbaikan sistem sanitasi di Provinsi Papua Barat.
Rumah tangga di Kabupaten Teluk Wondama sebagian besar tidak
memiliki fasilitas tempat buang air besar (49,99%); 18,86 persen
milik sendiri; 27,37 persen milik bersama; dan 3,77 persen milik
umum. Sedangkan kabupaten/kota yang sebagian besar rumah
tangganya telah memiliki fasilitas tempat buang air besar sendiri
adalah Kota Sorong (72,83%), Kabupaten Sorong (72,18%),
Kabupaten Teluk Bintuni (59,25%), dan Kabupaten Fakfak
(57,06%).

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 44


Data Mencerdaskan Bangsa

Tabel 3.9 Persentase Penggunaan Fasilitas Tempat Buang Air Besar 
Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2008 
 
Fasilitas Tempat Buang Air Besar
Kabupaten/kota Total
Tidak
Sendiri Bersama Umum
ada
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 57,06 18,09 12,91 11,93 100,00
Kab. Kaimana 36,54 14,25 32,23 16,98 100,00
Kab. Teluk Wondama 18,86 27,37 3,77 49,99 100,00
Kab. Teluk Bintuni 59,25 20,98 7,96 11,81 100,00
Kab. Manokwari 51,54 12,74 3,61 32,11 100,00
Kab. Sorong Selatan 19,17 32,39 14,93 33,50 100,00
Kab. Sorong 72,18 15,37 0,59 11,86 100,00
Kab. Raja Ampat 26,89 26,08 28,48 18,55 100,00
Kota Sorong 72,83 16,48 9,20 1,49 100,00
Prov. Papua Barat 49,52 19,29 11,56 19,63 100,00
Sumber: Susenas, 2008

Menurut tempat pembuangan akhir tinja, sebanyak 52,13


persen rumah tangga di Papua Barat menggunakan tangki/spal
sebagai tempat pembuangan akhir tinja; 1,23 persen kolam/sawah;
16,40 persen sungai/danau/laut; 15,36 persen lobang tanah; 10,00
persen pantai/tanah lapang/kebun, dan 4,89 persen lainnya.
Sedangkan di Kabupaten Sorong sebanyak 47,95 persen
menggunkaan lobang tanah. Pemakaian lobang tanah di
Kabuapaten Sorong sebagai tempat pembuangan akhir tinja
disebabkan menggunakan kloset berjenis cemplung/cubluk. Rumah
tangga di Kabupaten Manokwari adalah yang tertinggi dalam
penggunaan pantai/tanah lapang/kebun sebagai tempat

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 45


Data Mencerdaskan Bangsa

pembuangan akhir tinja (26,2%). Sebagian besar rumah tangga di


teluk Wondama menggunakan sungai/danau/laut (43,4%).
3.3 Kondisi Pendidikan

Dalam pembukaan UUD 1945 telah diamanahkan kepada


pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia sebuah pesan penting
terkait dengan kemajuan bangsa Indonesia. Pesan yang terkandung
dalam tujuan bangsa Indonesia itu ialah mencerdaskan kehidupan
bangsa. Dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa diperlukan
sebuah perjuangan dan usaha melalui kegiatan pendidikan. Pasal 31
UUD 1945 juga telah jelas mengaturnya bahwa setiap warga negara
berhak mendapatkan pengajaran. Selain itu lebih khusus dalam UU No.
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab IV
Bagian 1 pasal 5 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara
berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang
hayat. Kedua ayat ini secara jelas memberikan kesempatan yang sama
kepada semua pihak untuk mendapatkan pendidikan yang seluas-
luasnya.

Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah dalam upaya


memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Diantaranya adalah dengan
menyelenggarakan program wajib belajar 9 tahun. Maksud dan tujuan
pelaksanaan wajib belajar adalah memberikan pelayanan kepada
masyarakat untuk memasuki sekolah dengan biaya murah dan terjangkau
oleh kemampuan masyarakat.

Selanjutnya dalam UU Sisdiknas 2003 pasal 6 disebutkan bahwa


setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 46


Data Mencerdaskan Bangsa

wajib mengikuti pendidikan dasar. Pendidikan dasar adalah pendidikan


yang berbentuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain
yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat (pasal 17 UU
Sisdiknas 2003).

Upaya mempercepat tercapainya gerakan pendidikan wajib belajar


sembilan tahun terus dilakukan. Pada tahun 2006 pemerintah
mengeluarkan Instruksi Presiden RI Nomor 5 Tahun 2006 tentang
Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan
Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (PWPPBA).
Berbagai lini institusi terkait dilibatkan dalam upaya gerakan pendidikan
dasar sembilan tahun dan pemberantasan buta aksara.

Target yang ingin dicapai dalam Inpres No. 5 tahun 2006 antara lain
adalah:

a. Meningkatkan persentase peserta didik Sekolah Dasar/Madrasah


Ibtidaiyah/ pendidikan yang sederajat terhadap penduduk usia 7-12
tahun atau Angka Partisipasi Murni sekurang-kurangnya menjadi 95
persen pada akhir tahun 2008.

b. Meningkatkan persentase peserta didik Sekolah Menengah


Pertama/Madrasah Tsanawiyah/pendidikan yang sederajat terhadap
penduduk usia 13-15 tahun atau Angka Partisipasi Kasar (APK)
sekurang-kurangnya menjadi 95 persen pada akhir tahun 2008.

c. Menurunkan persentase penduduk buta aksara usia 15 tahun ke


atas atau sekurang-kurangnya menjadi 5 persen pada akhir tahun
2009.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 47


Data Mencerdaskan Bangsa

Pemerintah juga telah melakukan sebuah langkah konkret dalam


upaya mensukseskan pendidikan di Indonesia dengan mencantumkan
anggaran pendidikan minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) seperti yang dicantumkan dalam amanat konstitusi
amandemen UUD 1945 yang kemudian ditegaskan lagi dalam UU No. 20
Tahun 2003 pasal 49 ayat (1) bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik
dan biaya pendidikan kedinasan, dialokasikan minimal 20 persen dari
APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari APBD. Suatu
angka yang fantastik yang sebelumnya angka tersebut tidak pernah lebih
dari lima persen. Meskipun telah di-Undang-undangkan dari tahun 2003
namun sampai tahun 2008 realisasi untuk menganggarkan jumlah
minimal 20 persen dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara
belum tercapai, walaupun begitu besarnya anggaran berangsung-angsur
telah mendekati target. Dan kemungkinan di tahun 2009, rencana
menganggarkan 20 persen dari total anggaran untuk keperluan
pembiayaan pendidikan akan dapat tercapai.
Langkah-langkah tersebut diatas merupakan semata-mata dilakukan
pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan dalam upaya untuk
mencapai tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa.

3.3.1 Angka Melek Huruf

Salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat


pendidikan adalah angka melek huruf. Angka melek huruf
mengindikasikan kemampuan penduduk untuk membaca dan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 48


Data Mencerdaskan Bangsa

menulis. Bagaimanapun juga kemampuan dasar pertama kali yang


dimiliki seseorang untuk dapat menambah dan mengasah ilmu
pengetahuan adalah dengan membaca dan menulis. Dalam hal ini
angka melek huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun ke
atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan atau huruf
lainnya.
Angka melek huruf Provinsi Papua Barat tahun 2008 adalah
sebesar 92,15 persen, mengalami peningkatan dibandingkan tahun
2006 dan 2007 yaitu sebesar 88,55 persen dan 90,32 persen.
semakin tinggi angka melek huruf maka kenaikan persentase angka
melek huruf ini akan cenderung semakin lambat. Dalam artian
pertumbuhan angka melek hurufnya semakin kecil atau mengalami
perlambatan. Angka melek huruf menurut jenis kelamin menunjukkan
kecenderungan bahwa penduduk laki-laki mempunyai angka melek
huruf yang lebih baik dari pada angka melek huruf penduduk
perempuan pada tahun 2006-2008. Hal ini menggambarkan belum
adanya kesetaraan gender dalam hal kemampuan membaca dan
menulis huruf latin dan huruf lainnya di Provinsi Papua Barat.
Angka melek huruf penduduk laki-laki tahun 2007 sebesar
92,69 persen atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan
kondisi tahun 2006 yaitu sebesar 91,23 persen. Angka melek huruf
penduduk laki-laki kembali mengalami peningkatan pada tahun 2008
menjadi 93,01 persen terhadap tahun 2007, atau mengalami
peningkatan sebesar 0,32 persen. Sementara angka melek huruf
perempuan walaupun selalu lebih rendah dari angka melek huruf
penduduk laki-laki juga menunjukkan tren peningkatan yang serupa
dengan penduduk laki-laki. Angka melek huruf perempuan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 49


Data Mencerdaskan Bangsa
B

m
mengalami peningkkatan menjadi 88,335 persen di tahunn 2008
d
dibandingkan tahun 2006 dan 2007 yanng masing-masing besarnya
8
85,86 persen dan 87,86 persen.

92.69 93.01
92.15
91.23
90.32
88.55 88.35
87.86
85.86

Gambar 3.11 
Angka Melek Huruf 
urut Jenis Kelamin 
Menu 2006 2007 2008
Pro
ovinsi Papua Barat 
Tahun 2006‐2008  Laki‐laki Perempuan L + P

Dalam penghhitungan Indeks Pem


mbangunan Manusiaa angka
m
melek huruf digunakan sebagai salah saatu indikator yang diggunakan
u
untuk mengukur tingkat pembangunan m
manusia di bidang penndidikan
b
bersama dengan inddikator rata-rata lam
ma sekolah. Indikator angka
m
melek huruf ini mem
mpunyai bobot dua kaali lebih besar dari indikator
r
rata-rata lama sekolaah.
mampuan membaca dan menulis huruf laatin dan
Sebaran kem
h
huruf lainnya menurrut kabupaten/kota ddan angka buta huruuf dapat
d
dilihat pada Tabel 3.10. Secara agreggat, kemampuan membaca
h
huruf latin, huruf araab dan huruf lainnyaa berturut-turut adalaah 90,37
p
persen; 12,34 perseen; dan 6,04 perseen. Kemampuan peenduduk
m
membaca huruf latinn tertinggi berada di Kota Sorong yakni sebesar

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 50
Data Mencerdaskan Bangsa

98,82 persen dan yang terendah berada di Kabupaten Teluk


Wondama sebesar 82,02 persen.
Angka buta huruf diperoleh dari banyaknya penduduk berusia
10 tahun keatas yang tidak mampu membaca huruf latin dan atau
huruf lainnya dibagi dengan jumlah penduduk usia 10 tahun keatas
atau seratus persen jumlah penduduk dikurangi dengan persentase
angka melek huruf maka diperoleh angka buta huruf. Pada angka
buta huruf batasan umur yang digunakan juga penduduk yang
berumur 15 tahun keatas. Angka buta huruf tertinggi terjadi di
Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Teluk Wondama yaitu
sebesar 17,46 persen dan 17,02 persen. Sementara angka buta
huruf terendah berada di Kota Sorong yaitu sebesar 1,18 persen.

Tabel 3.10  Persentase Kemampuan Penduduk Usia 10 Tahun Keatas 
membaca Huruf Latin, Huruf Arab, Huruf Linnya dan  
Angka Buta Huruf Provinsi Papua Barat Tahun 2008 
  
Huruf Huruf Buta
Kabupaten/kota Huruf Latin
Arab Lainnya Huruf
(1) (2) (3) (4) (5) 
Kab. Fakfak 97,18 13,15 0,39 2,73
Kab. Kaimana 93,70 28,85 0,14 6,16
Kab. Teluk Wondama 82,02 4,26 16,75 17,02
Kab. Teluk Bintuni 87,53 4,12 7,49 12,33
Kab. Manokwari 82,08 10,55 3,35 17,46
Kab. Sorong Selatan 95,35 1,75 4,84 4,65
Kab. Sorong 91,17 19,52 0,38 8,44
Kab. Raja Ampat 92,54 7,09 2,19 7,46
Kota Sorong 98,82 15,59 3,08 1,18

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 51


Data Mencerdaskan Bangsa
B

Pro
ov. Papua Barat 90,37 112,34 6,04 9,27

Sum
mber:Survei Sosial Ekonom
mi Nasional, 2008

3
3.3.2 Rata-rata Lam
ma Sekolah

Salah satu indikator pendidikan yyang digunakan sebaagai alat


u
ukur keberhasilan pembangunan
p manuusia di bidang penndidikan
a
adalah rata-rata lamaa sekolah. Rata-rata lama sekolah menuunjukkan
k
kemampuan jenjang pendidikan yang teelah dicapai oleh peenduduk
u
umur 15 tahun keatas. Dalam penghitungan Indeks Pembaangunan
M
Manusia indikator ini merupakan salah satu parameterr untuk
m
mengukur indeks peendidikan bersama-ssama dengan angkaa melek
h
huruf.

7.65 7..67

7.20
7

G
Gambar 3.12 
Rata‐rata Laama Sekolah 
Provinsi Papua Barat 
Tahun n 2006‐2008  2006
2 2007 20008

Berdasarkan Gambar 3.12, rata--rata lama sekolah Provinsi


P
Papua Barat terus mengalami
m peningkatan. Pada tahun 20008 rata-
r
rata lama sekolah penduduk
p usia 15 ttahun keatas sebessar 7,67

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 52
Data Mencerdaskan Bangsa

tahun atau mengalami peningkatan dari tahun 2006 dan 2007 yakni
sebesar 7,20 tahun dan 7,65 tahun.
Rata-rata lama sekolah Provinsi Papua Barat tahun 2008
sebesar 7,67 artinya rata-rata penduduk Provinsi Papua Barat baru
mampu menempuh pendidikan sampai kelas 1 SLTP atau putus
sekolah di kelas 2 SLTP.
3.3.3 Angka Partisipasi Sekolah

Untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah


yang telah memanfaatkan fasilitas pendidikan dapat dilihat dari
penduduk yang masih sekolah pada umur tertentu yang biasa
disebut dengan angka partisipasi sekolah (APS). Peningkatan APS
menunjukkan adanya keberhasilan dibidang pembangunan,
khususnya berkaitan dengan upaya memperluas jangkauan
pelayanan pendidikan.
APS penduduk usia 7-12 tahun mengalami peningkatan dari
92,64 persen di tahun 2007 menjadi 93,18 persen di tahun 2008.
Kondisi yang sama terjadi pada penduduk usia 13-15 tahun. Pada
kondisi ini APS juga mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke
tahun 2008 yaitu dari 87,58 persen menjadi 88,75 persen. Hal yang
berbeda terjadi pada APS penduduk usia 16-18 tahun dan 19-24
tahun, kedua kelompok umur ini justru mengalami penurunan APS.
APS Penduduk usia 16-18 mengalami penurunan dari 57,84 persen
di tahun 2007 menjadi 57,53 persen di tahun 2008. Dan APS
penduduk usia 19-24 tahun mengalami penurunan dari 14,46 persen
di tahun 2007 menjadi 12,25 persen di tahun 2008.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 53


Data Mencerdaskan Bangsa
B

14.46
19 ‐ 24
12.25

557.84
16 ‐ 18
557.53

87.58
13 ‐ 15
88.75

92.64
7‐12
93.18

0 20 40 60 80 100

2007 2008

Peningkatan APS penduduk usia 7-12 dan 13-15


m
mengindikasikan bahhwa partisipasi pendduduk untuk bersekoolah SD
d SLTP mengalaami peningkatan. Sedangkan penurunaan APS
dan
p
penduduk usia 16-188 dan 19-24 menunjjukkan partisipasi peenduduk
u
untuk bersekolah SLLTA atau sederajat dan perguruan tingggi atau
s
sederajat mengalamii penurunan.

Gambar 3.13 3 
Angkka Partisipasi Sekolah

Provinsi Papua Barat 
 Tahun 2007‐2008 8 
Indeeks Pembangunan Manusia
Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 54
Data Mencerdaskan Bangsa

APS penduduk usia 7-12 tahun mencapai 93,18 persen


berarti masih ada sekitar 6,82 persen penduduk usia 7-12 tahun
yang tidak dapat mengenyam pendidikan atau putus sekolah.
Demikian pula pada penduduk usia 13-15 dan 16-18 persen,
terdapat 11,25 persen dan 42,47 persen pada kelompok umur
tersebut yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Sementara pada
penduduk usia 19-24 hanya 12,25 persen saja yang melanjutkan
sekolah.
Indikator lain yang digunakan untuk mengukur partisipasi
sekolah adalah Angka Partisipasi Kasar (APK). Indikator ini
digunakan untuk mengukur seberapa besar penduduk yang
bersekolah pada tingkat pendidikan tertentu pada interval usia di
tingkat sekolah tersebut.

Tabel 3.11  Angka Partisipasi Kasar (APK) menurut Kabupaten/Kota 
dan Jenjang Pendidikan Tahun 2007‐2008 
 
Jenjang Pendidikan
Kabupaten/Kota
Perguruan
SD/MI SLTP/MTs SMU/MA
Tinggi
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 114,18 72,59 91,12 6,19

Kaimana 112,18 56,19 72,81 4,13

Teluk Wondama 117,16 58,25 45,18 3,75

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 55


Data Mencerdaskan Bangsa

Teluk Bintuni 104,78 62,07 40,69 1,91

Manokwari 100,45 61,19 83,84 17,65

Sorong Selatan 123,91 54,95 86,10 26,84

Sorong 119,13 71,84 22,14 20,95

Raja Ampat 122,85 24,55 47,49 2,80

Kota Sorong 104,58 103,24 90,71 11,36

Papua Barat (2008) 114,18 72,59 91,12 6,19

Papua Barat (2007) 116,05 70,10 60,78 7,71

Sumber:Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2008

Secara agregat, terjadi peningkatan APK tahun 2008 pada


jenjang pendidikan SLTP/MTs dan SMU/MA serta terjadi penurunan
APK pada jenjang pendidikan SD/MI dan perguruan tinggi
dibandingkan dengan tahun 2007. APK SD tahun 2008 sebesar
114,18 persen artinya terdapat penduduk diluar usia sekolah SD/MI
(7-12 tahun) yang telah/masih bersekolah SD/MI karena APK berada
diatas 100 persen. APK SD/MI tahun 2008 mengalami penurunan
dibandingkan dengan tahun 2007 yaitu dari 116,05 persen menjadi
114,18 persen. APK SD/MI Kabupaten Sorong Selatan adalah APK
tertinggi diantara kabupaten/kota lainnya di Provinsi Papua Barat
yakni sebesar 123,91 persen. APK SD/MI terendah berada pada
Kabupaten Manokwari sebesar 100,45 persen.
APK SLTP/MTs Papua Barat tahun 2007 sebesar 70,10
persen mengalami peningkatan menjadi 72,59 persen dibandingkan
dengan tahun 2008. APK SLTP/MTs sebesar 72,59 persen
mengandung arti banyaknya penduduk yang sedang bersekolah di

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 56


Data Mencerdaskan Bangsa

SLTP/MTs diantara penduduk berumur 13-15 tahun hanya sebesar


72,59 persen. Distribusi APK SLTP/MTs menurut kabupaten/kota
menunjukkan bahwa Kota Sorong memiliki APK yang tertinggi
dibandingkan dengan kabupaten lainnya yakni sebesar 103,24
persen, sementara Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah
dengan APK SLTP/MTs terendah yaitu sebesar 24,55 persen.
Diduga rendahnya APK SLTP/MTs di Kabupaten Raja Ampat terjadi
karena tidak semua kecamatan memiliki sekolah SLTP/MTs
sehingga diperkirakan penduduk usia sekolah pada jenjang
pendidikan tersebut bersekolah ke Kota Sorong. Kondisi ini sejalan
dengan tingginya APK SLTP/MTs di Kota Sorong.

Tabel 3.12  Angka Partisipasi Murni (APM) menurut Kabupaten/Kota 
dan Jenjang Pendidikan Tahun 2007‐2008 
 
Jenjang Pendidikan
Kabupaten/Kota Perguruan
SD/MI SLTP/MTs SMU/MA
Tinggi
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 95,77 68,15 68,21 5,14
Kaimana 95,01 52,99 51,75 1,72
Teluk Wondama 86,98 31,63 32,85 2,50

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 57


Data Mencerdaskan Bangsa

Teluk Bintuni 84,91 41,32 14,25 0,00

Manokwari 87,32 48,69 45,44 10,63

Sorong Selatan 96,95 49,62 55,78 16,16

Sorong 94,68 53,86 18,46 12,86

Raja Ampat 89,23 15,77 23,82 0,00

Kota Sorong 92,77 77,53 64,38 8,05

Papua Barat (2008) 90,71 48,92 43,61 6,06

Papua Barat (2007) 89,97 52,32 44,80 7,36

Sumber:Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2008

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah indikator pendidikan


yang digunakan untuk mendeteksi partisipasi penduduk yang
bersekolah tepat pada waktunya. APM dibagi menjadi kelompok
APM SD untuk penduduk yang berusia 7-12 tahun, APM SLTP untuk
penduduk yang berusia 13-15 tahun dan APM SLTA untuk penduduk
yang berusia 16-18 tahun serta APM perguruan tinggi untuk
penduduk yang berusia 19-24 tahun.
Angka partisipasi murni Provinsi Papua Barat tahun 2008
yang mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2007 hanya terjadi
pada jenjang pendidikan SD/MI, sedangkan pada jenjang pendidikan
SLTP/MTs, SLTA/MA dan perguruan tinggi mengalami penurunan.
APM SD/MI meningkat menjadi 90,71 persen pada tahun 2008
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 89,97 persen. APM SD/MI
sebesar 90,71 persen mempunyai makna diantara 100 orang yang
berumur 7-12 tahun 91 orang diantaranya sedang bersekolah SD
dan berumur 7-12 tahun.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 58


Data Mencerdaskan Bangsa

APM SLTP/MTs terjadi penurunan menjadi 48,92 persen di


tahun 2008 setelah pada tahun sebelumnya sebesar 52,32 persen.
APM SLTP/MTs jauh lebih kecil dibandingkan dengan APM SD/MI
hal ini memberikan gambaran bahwa jumlah penduduk usia 13-15
tahun yang ikut berpartisipasi sekolah SLTP/MTs dibandingkan
dengan penduduk yang bersekolah SD/MI pada usia 7-12 tahun
sangat rendah atau dengan kata lain lebih banyak penduduk yang
tidak melanjutkan pendidikan pada jenjang SLTP/MTs pada
penduduk berusia 13-15 tahun.
Pada jenjang pendidikan SLTA/MA di Provinsi Papua Barat
tahun 2008, APM-nya lebih rendah dari APM SLTP/MTs. Artinya
tingkat partisipasi penduduk usia 16-18 tahun yang bersekolah
SLTA/MA tepat pada umur 16-18 tahun lebih rendah dibandingkan
partisipasi penduduk usia 13-15 tahun yang bersekolah SLTP/MTs
tepat pada usia 13-15 tahun. Dapat diartikan pula proporsi penduduk
yang berusia 16-18 tahun untuk melanjutkan sekolah di SLTA/MA
lebih kecil dibandingkan dengan proporsi penduduk usia 13-15 tahun
untuk melanjutkan pendidikan SLTP/MTs. APM SLTA//MA mencapai
43,61 persen atau mengalami penurunan dibandingkan dengan
kondisi tahun 2007 sebesar 44,60 persen.
Kecenderungan yang terlihat dari APM untuk jenjang
pendidikan SD sampai dengan perguruan tinggi adalah bahwa
semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang maka
tingkat partisipasinya semakin rendah. Dengan demikian semakin
tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh maka angka putus
sekolahnya semakin besar.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 59


Data Mencerdaskan Bangsa

Berdasarkan sebarannya menurut kabupaten/kota, APM


tertinggi untuk jenjang pendidikan SD/MI berada di Kabupaten
Sorong Selatan yaitu sebesar 96,95 persen; APM SLTP/MTs berada
di Kabupaten Kota Sorong sebesar 77,53 persen; APM SLTA/MA di
Kabupaten Fakfak sebesar 68,21 persen; dan APM Perguruan Tinggi
berada di Kabupaten Sorong Selatan sebesar 16,16 persen.

3.3.4 Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan

Gambaran mengenai peningkatan sumber daya manusia


dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan penduduk usia 10 tahun
keatas. Level pendidikan penduduk diketahui dari tingkat pendidikan
yang ditamatkan dengan diidentifikasi melalui ijazah/STTB tertinggi
yang dimiliki. Indikator ini dapat pula digunakan untuk melihat
perkembangan kualitas sumber daya manusia dengan mengetahui
level tertinggi pendidikan antar waktu dan antar wilayah.
Semakin tinggi tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan
maka menggambarkan semakin baik pula kualitas pendidikan
manusianya. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya persentase
penduduk yang berpendidikan tinggi (SLTA keatas). Biasanya
terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan
yang ditamatkan maka semakin kecil persentase penduduk yang
lulus pada level pendidikan tersebut.

Tabel 3.13 Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Menurut Tingkat 
Pendidikan yang Ditamatkan Provinsi Papua Barat 2008 
 
Kabupaten/kota  Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki 

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 60


Data Mencerdaskan Bangsa

Tidak  Perguru
SMA/
punyai  SD  SMP  an  Total 
SMK 
ijazah  Tinggi 
(1) (2) (3) (4) (5) (5) (7) 
 Fakfak   27,06 29,79 20,58 17,71 4,86 100
 Kaimana   37,78 27,37 15,00 16,77 3,08 100
 Teluk Wondama   38,27 28,68 15,63 13,44 3,98 100
 Teluk Bintuni   33,30 23,21 21,52 18,93 3,04 100
 Manokwari   41,66 19,07 17,33 16,48 5,46 100
 Sorong Selatan   30,08 30,24 24,18 13,52 1,98 100
 Sorong   41,77 24,90 16,85 13,99 2,49 100
 Raja Ampat   28,89 45,08 15,54 9,05 1,44 100
 Kota Sorong   16,85 17,49 21,17 34,20 10,28 100
Papua Barat 
32,84 25,68 18,16 18,54 4,79 100
(2008)  
Papua Barat 
31,14 28,02 17,60 18,79 4,46 100
(2007)  
Sumber:Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2008 

Dalam Tabel 3.13 secara umum di Provinsi Papua Barat


masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini tampak pada
besarnya persentase penduduk yang berpendidikan SD kebawah.
Pada tahun 2007 persentase penduduk yang berpendidikan SD
kebawah sebesar lebih dari separuh penduduk di Papua Barat atau
sebesar 59,16 persen. Persentase penduduk yang berpendidikan SD
kebawah sedikit mengalami penurunan pada tahun 2008 yaitu
menjadi 58,52 persen. Sementara penduduk yang berpendidikan
tinggi (SLTA keatas) pada tahun 2007 adalah sebesar 23,25 persen
dengan rincian 18,79 persen berpendidikan SLTA/sederajat dan 4,46
persen berpendidikan perguruan tinggi. Kondisi penduduk yang

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 61


Data Mencerdaskan Bangsa

berpendidikan tinggi pada tahun 2008 masih sedikit lebih baik


dibandingkan dengan tahun 2007. Pada tahun 2008 penduduk yang
berpendidikan SLTA keatas sebesar 23,33 persen (18,54 persen
berpendidikan SLTA dan 4,79 persen berpendidikan perguruan
tinggi) atau mengalami peningkatan sebesar 0,08 persen.
Kualitas pendidikan dilihat dari tingkat pendidikan yang
ditamatkan menurut sebaran kabupaten/kota menunjukkan bahwa
Kota Sorong memiliki kualitas sumber daya manusia dengan tingkat
pendidikan tertinggi yang paling baik. Kota Sorong mempunyai
persentase penduduk dengan pendidikan tinggi terbesar diantara
kabupaten lainnya, yaitu sebesar 44,48 persen. Disamping itu, Kota
Sorong juga memiliki persentase penduduk yang berpendidikan
rendah yang paling kecil yaitu hanya 34,34 persen. Disisi lain,
Kabupaten Raja Ampat menjadi kabupaten dengan kualitas
pendidikan sumber daya manusia paling rendah diantara
kabupaten/kota lainnya. Persentase penduduk yang berpendidikan
rendah di Kabupaten Raja Ampat mencapai 73,97 persen dengan
rincian 28,89 persen tidak punya ijazah (tidak pernah sekolah/tidak
tamat SD) dan 45,08 persen hanya tamatan SD. Sedangkan
persentase penduduk yang berpendidikan tinggi hanya 9,05 persen
berpendidikan tertinggi SLTA dan 1,44 persen berpendidikan
perguruan tinggi.
3.3.5 Angka Mengulang dan Putus Sekolah

Angka mengulang dan putus sekolah merupakan salah satu


indikator keberhasilan pendidikan. Angka mengulang mencerminkan
ketidakmampuan siswa dalam menyelesaikan proses belajar

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 62


Data Mencerdaskan Bangsa

mengajar pada tingkat tertentu dalam sebuah jenjang pendidikan


sehingga mengharuskan siswa tersebut untuk mengulang kembali
proses belajar mengajar pada tingkat yang sama pada tahun
berikutnya. Angka putus sekolah mencerminkan anak-anak usia
sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak
menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu dan sering pula
digunakan sebagai indikator berhasil/tidaknya pembangunan di bidang
pendidikan. Penyebab utama putus sekolah antara lain karena
kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak,
kondisi ekonomi orang tua yang miskin dan keadaan geografis yang
kurang menguntungkan.
Tabel 3.14 Jumlah Siswa Mengulang dan Persentase Siswa  
Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
SD SLTP SLTA
Tahun Siswa Siswa Siswa
Jumlah Jumlah Jumlah
meng- % meng- % meng- %
Siswa Siswa Siswa
ulang ulang ulang
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
2006 6.865 99.518 6,90 251 21.749 1,15 285 21.737 1,31
2007 4.096 103.272 3,97 210 24.268 0,87 314 23.813 1,32
2008 4.375 109.246 4,00 86 26.658 0,32 357 27.114 1,32

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Berdasarkan Tabel 3.14 persentase siswa yang mengulang


tertinggi berada pada jenjang pendidikan SD. Pada tahun 2006 jumlah
siswa yang mengulang sebesar 6.865 siswa (6,90 persen). Kondisi
tahun 2007 jumlah dan persentase siswa yang mengulang turun
menjadi 4.096 siswa atau 3,97 persen. Namun pada tahun 2008

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 63


Data Mencerdaskan Bangsa

angka mengulang kembali mengalami peningkatan menjadi 4,00


persen atau terdapat 4.375 siswa yang mengulang.
Pada jenjang pendidikan SLTP angka mengulang cenderung
lebih kecil dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya.
Persentase siswa mengulang pada jenjang pendidikan ini berturut-
turut mengalami penurunan pada tahun 2006-2008 yaitu 1,15 persen;
0,87 persen dan 0,32 persen.
Angka mengulang di jenjang pendidikan SLTA secara
persentase menunjukkan angka yang hampir sama yaitu 1,31 persen
di tahun 2006 serta 1,32 persen di tahun 2007 dan 2008. Namun
secara absolut, jumlah siswa yang mengulang pada tahun 2006-2008
terus mengalami peningkatan. Semula pada tahun 2006 jumlah siswa
yang mengulang sebesar 285 siswa, kemudian pada tahun 2007
jumlah siswa yang mengulang mengalami peningkatan menjadi 314
siswa. Selanjutnya di tahun 2008 jumlah siswa yang mengulang
kembali meningkat menjadi 357 siswa.

Tabel 3.15 Jumlah Siswa Putus Sekolah dan Persentase Siswa Putus Sekolah 
Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
Tahun SD SLTP SLTA

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 64


Data Mencerdaskan Bangsa

Siswa Siswa Siswa


jumlah jumlah jumlah
putus % putus % putus %
siswa siswa siswa
sekolah sekolah sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
2006 5.292 99.518 5,32 78 21.749 0,36 1.990 21.737 9,15
2007 5.254 103.272 5,09 873 24.268 3,60 906 23.813 3,80
2008 3.815 109.246 3,49 463 26.658 1,74 760 27.114 2,80

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Jumlah siswa putus sekolah pada pembahasan ini adalah


jumlah siswa yang putus atau tidak melanjutkan sekolahnya pada saat
sedang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu. Jadi angka
putus sekolah disini tidak dapat mendeteksi jumlah siswa putus
sekolah lainnya yang terjadi ketika siswa telah lulus dari jenjang
pendidikan tertentu dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan
selanjutnya karena yang digunakan sebagai pembagi adalah jumlah
siswa pada jenjang pendidikan tertentu pada tahun tertentu.
Berdasarkan Tabel 3.15 terdapat kecenderungan bahwa
angka putus sekolah mengalami penurunan. Pada jenjang pendidikan
SD, baik secara absolut maupun persentase siswa yang putus
sekolah mengalami penurunan. Semula persentase siswa putus
sekolah di tahun 2006 sebesar 5,32 persen, kemudian pada tahun
2008 persentase siswa putus sekolah menurun menjadi 3,49 persen.
Sejalan dengan penurunan persentase siswa putus sekolah, secara
absolut jumlah siswa yang putus sekolah juga mengalami penurunan.
Pada tahun 2006 jumlah siswa putus sekolah sebesar 5.292 siswa.
Pada tahun 2008 jumlah siswa putus sekolah berkurang menjadi
3.815 siswa.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 65


Data Mencerdaskan Bangsa

Pada jenjang pendidikan SLTP pada tahun 2007 justru


jumlah siswa putus sekolah mengalami peningkatan. Semula di tahun
2006 jumlah siswa putus sekolah hanya berjumlah 78 siswa (0,36
persen), namun di tahun 2007 jumlah siswa putus sekolah meningkat
sangat signifikan menjadi 873 siswa (3,60 persen). Jumlah siswa
putus sekolah kembali mengalami penurunan menjadi 463 siswa atau
sebesar 1,74 persen di tahun 2008.
Seperti halnya dengan angka putus sekolah SD, pada jenjang
pendidikan SLTA jumlah siswa maupun persentase siswa putus
sekolah terus mengalami penurunan. Di tahun 2008 jumlah siswa
putus sekolah sebesar 760 siswa (2,80 persen), turun dibandingkan
tahun 2007 yang semula sebesar 906 siswa (3,80 persen). Jumlah
siswa putus sekolah 2007 juga turun sangat signifikan dibandingkan
dengan tahun 2006 yang mencapai 1990 siswa (9,15 persen).

3.3.6 Rasio-rasio Pendidikan

Terdapat banyak sekali indikator-indikator yang bisa


digunakan dalam mengukur kinerja pendidikan. Diantaranya
digunakan rasio-rasio dari variabel-variabel pendidikan. Sebagai
contoh adalah rasio guru-murid, guru-kelas, murid-kelas, murid-
sekolah, dan kelas-sekolah.

Tabel 3.16 Tabel Rasio‐rasio Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
Siswa/Guru Siswa/Kelas Kelas/Guru Siswa/Sekolah Kelas/Sekolah
Tahun
SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA SD SLTP SLTA

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 66


Data Mencerdaskan Bangsa

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

2006 20 9 12 23 22 30 0,86 0,40 0,39 128 165 345 5,59 7,35 11,51

2007 21 10 12 33 36 33 0,64 0,29 0,36 133 190 355 4,03 5,23 10,64

2008 20 9 12 29 27 35 0,68 0,34 0,36 141 200 382 4,84 7,34 10,99

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Rasio siswa-guru digunakan untuk melihat perbandingan


antara jumlah siswa dengan jumlah guru. Rasio ini untuk mengetahui
berapa beban seorang guru mengajar sejumlah siswa. Terlihat bahwa
beban guru SD, SLTP dan SLTA masih pada batas yang wajar. Beban
seorang guru SD rata-rata mengajar sekitar 20 orang siswa, beban
seorang guru SLTP rata-rata mengajar sekitar 10 siswa dan beban
seorang guru SLTA rata-rata mengajar 12 orang siswa. Walaupun
terlihat sangat wajar dan tidak menanggung beban yang berlebih
namun indikator ini hanya mewakili beban secara umum meskipun
pada kenyataannya terutama di daerah pedalaman kadang-kadang
seorang guru harus mengajar beberapa kelas sekaligus.
Rasio siswa terhadap kelas menggambarkan rata-rata daya
tampung siswa dalam satu kelas. Rata-rata daya tampung kelas siswa
pada jenjang pendidikan SD tahun 2006-2008 sekitar 23-29 siswa
dalam satu kelas. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SLTP berkisar
antara 22-36 siswa dalam satu kelas. Rasio siswa-kelas pada jenjang
pendidikan SLTA berkisar antara 30-35 siswa per kelas. Bila dilihat
dari sebaran siswa per kelas masih didalam batas kewajaran.
Rasio kelas-guru digunakan untuk melihat perbandingan
jumlah guru dengan jumlah kelas. Rasio ini menggambarkan
ketersediaan guru terhadap jumlah ruangan yang ada di sekolah
tersebut. Bila nilai rasio ada di atas satu maka dapat dikatakan bahwa

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 67


Data Mencerdaskan Bangsa

banyaknya guru yang ada tidak cukup untuk didistribusikan ke dalam


kelas yang tersedia. Hal ini mengandung arti bahwa seorang guru
dapat mengajar lebih dari satu kelas karena keterbatasan jumlah guru.
Pada jenjang pendidikan SD nilai rasio kelas-guru seluruhnya
berada dibawah satu. Berarti jumlah guru SD yang tersedia cukup
untuk didistribusikan ke dalam banyaknya kelas. Namun jumlah guru
yang digunakan sebagai pembagi dalam rasio ini termasuk kepala
sekolah, guru olah raga, guru agama, guru kesenian dan guru lainnya
yang mengajar pelajaran-pelajaran khusus disamping guru yang
mengajar setiap harinya.
Hal senada juga terjadi pada jenjang pendidikan SLTP.
Seluruh nilai rasio berada di bawah satu. Namun bedanya pada
jenjang pendidikan ini nilai rasionya sangat kecil, bahkan lebih kecil
dari nilai rasio pada jenjang pendidikan SD yakni berada diantara
0,29-0,40. Nilai rasio yang semakin kecil menunjukkan ketercukupan
jumlah guru dalam memenuhi kuota kelas yang ada. Perlu diketahui
bahwa mulai jenjang pendidikan SLTP setiap mata pelajaran diajar
oleh guru yang berbeda. Kelemahan dari rasio ini bila diterapkan pada
jenjang SLTP maupun SLTA tidak dapat mendeteksi ketidakcukupan
guru terhadap kelas tanpa membaginya dengan jumlah mata
pelajaran yang diajarkan kepada siswa. Jadi masih terjadi
kemungkinan seorang guru dapat mengajar beberapa mata pelajaran
yang berbeda meskipun bukan keahliannya mengajar pada mata
pelajaran tersebut.
Pada rasio kelas-sekolah dapat dibandingkan berapa rata-
rata jumlah kelas di setiap sekolah. Niali rasio kelas-sekolah bila

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 68


Data Mencerdaskan Bangsa

dibandingkan lagi dengan jumlah tingkat maka dapat diketahui rata-


rata ada berapa kelas dalam satu tingkat dalam sekolah.
Rasio kelas-sekolah pada jenjang pendidikan SD bernilai
5,59 pada tahun 2006. Kemudian terjadi penurunan pada tahun 2007
sehingga rasio kelas-sekolah menjadi 4,03 dan pada tahun 2008 rasio
kelas-sekolah kembali meningkat menjadi 4,84. Selama tahun 2006-
2008 rasio kelas-sekolah untuk jenjang pendidikan SD selalu dibawah
enam. Padahal jumlah tingkat untuk jenjang pendidikan SD ada enam,
di mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Bila nilai rasio
berada dibawah nilai enam berarti bahwa rata-rata jumlah kelas di
sebuah sekolah hanya sekitar 4-5 unit saja. Hal ini membuktikan
bahwa masih terdapat kekurangan jumlah kelas di Provinsi Papua
Barat pada jenjang pendidikan SD. Implikasi dari kurangnya ruangan
kelas ini adalah ruang kelas di pakai secara bergantian untuk
menampung siswa yang tidak mempunyai ruang kelas. Atau
kemungkinan dalam sebuah sekolah jumlah tingkatnya tidak sampai
dengan kelas enam. Jadi pihak sekolah hanya menyelenggarakan
sekolah hanya sampai tingkat sebelum tingkat enam (kelas enam).
Rasio kelas-sekolah pada jenjang pendidikan SLTP diperoleh
nilai rasio antara 5-7 artinya rata-rata setiap sekolah mempunyai
sekitar 5-7 kelas. Bila jumlah tingkat pada jenjang pendidikan SLTP
sampai pada kelas tiga, berarti tiap tingkat rata-rata mempunyai
sekitar dua kelas di sekolah tersebut.
Untuk jenjang pendidikan SLTA, rasio kelas-sekolah berkisar
antara 10-11 kelas per sekolah. Bila tingkat pada jenjang ini sampai
pada kelas tiga, berarti rata-rata tiap tingkat di setiap sekolah
mempunyai 3-4 ruang kelas.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 69


Data Mencerdaskan Bangsa

3.3.7 Tingkat Kelulusan Siswa

Disetiap menjelang akhir tahun ajaran sekolah seringkali di


media ramai dibicarakan tentang nasib siswa yang telah mengikuti
ujian akhir nasional. Pengumuman kelulusan dari hasil nilai ujian
nasional diberitakan membawa kegembiaraan bagi yang merasa
lulus ujian dan kesedihan bagi yang gagal dalam menempuh ujian.
Dari sekian banyak siswa yang mengikuti ujian nasional tentunya
ada yang sukses dengan lulus ujian dan gagal ujian atau dinyatakan
tidak lolos.
Tingkat kelulusan adalah proporsi siswa kelas enam SD atau
siswa kelas tiga SLTP dan SLTA yang dinyatakan lulus ujian akhir
nasional terhadap jumlah siswa pada kelas tersebut yang mengikuti
ujian akhir nasional.
Tabel 3.17 Tingkat Kelulusan Siswa Menurut Jenjang Pendidikan  
Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008

SD SLTP SLTA
Tahun
Tidak % Tidak % Tidak %
Lulus Lulus Lulus
Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
2006 10.898 290 97,41 6.901 132 98,12 5.999 237 96,20

2007 11.418 630 94,77 5.770 1.479 79,60 5.901 444 93,00

2008 11.280 555 95,31 7.252 239 96,81 6.318 287 95,65

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008


Tabel 3.17 memberikan informasi bahwa meskipun bila dilihat
secara persentase tingkat kelulusan menunjukkan angka yang tinggi,
namun bila dilihat secara absolut, maka jumlah siswa yang tidak
lulus termasuk sangat tinggi untuk semua jenjang pendidikan karena
masih ratusan jumlahnya. Selain itu tren kelulusan juga mempunyai

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 70


Data Mencerdaskan Bangsa

keseragaman pada semua jenjang pendidikan yaitu menurun pada


tahun 2007 dan kemudian mengalami peningkatan kembali pada
tahun 2008.
Tingkat kelulusan SD pada tahun 2006 mencapai 97,41
persen dengan jumlah siswa yang tidak lulus sebanyak 290 siswa.
Pada tahun 2007 persentase kelulusan siswa turun menjadi 94,77
persen dengan jumlah siswa yang tidak lulus mencapai 630 siswa
atau sekitar lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah
siswa yang tidak lulus di tahun 2006. Persentase kelulusan siswa SD
kembali mengalami peningkatan di tahun 2008 menjadi sebesar
95,31 persen dibandingkan dengan tahun 2007. Jumlah siswa yang
tidak luluspun berkurang menjadi 555 siswa.
Pada jenjang pendidikan SLTP persentase kelulusan siswa
pada tahun 2006 mencapai 98,12 persen dengan jumlah siswa yang
tidak lulus mencapai 132 siswa. Selanjutnya di tahun 2007
persentase kelulusan menurun dengan sangat drastis menjadi
sebesar 79,60 persen, dengan jumlah siswa yang tidak lulus
mencapai lebih dari sepuluh kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi
1.479 siswa. Di tahun 2008 persentase kelulusan siswa kembali
membaik. Angka kelulusan kembali mengalami peningkatan menjadi
96,81 persen dengan jumlah siswa yang tidak lulus mencapai 239
siswa.
Persentase kelulusan di jenjang pendidikan SLTA di tahun
2006 mencapai 96,20 persen dengan jumlah siswa yang tidak lulus
sebesar 237 siswa. Kemudian di tahun 2007 tingkat kelulusan
mengalami penurunan menjadi 93,00 persen dengan jumlah siswa
yang tidak lulus bertambah menjadi 444 siswa. Kondisi di tahun 2008

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 71


Data Mencerdaskan Bangsa

tingkat kelulusan siswa kembali membaik seiring dengan


meningkatnya persentase kelulusan siswa menjadi 95,65 persen
dengan jumlah siswa yang tidak lulus sebanyak 287 siswa.

3.3.8 Fasilitas pendidikan

Keberhasilan dalam kegiatan pendidikan tidak semata-mata


proses transfer ilmu pengetahuan satu arah yang dilakukan oleh
seorang guru dengan hanya menerangkan mata pelajaran dan
menuliskannya di atas papan tulis. Diperlukan sarana dan fasilitas
penunjang yang dapat membuat siswa yang dididik merasa nyaman
dan mudah dalam menerima proses belajar mengajar.
Di era moderen dewasa ini sekolah-sekolah mulai menata diri
dengan melengkapi fasilitas sekolah dengan perpustakaan dan
laboratorium-laboratorium. Perpustakaan adalah gudang ilmu yang
didalamnya tersimpan buku-buku yang bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan para siswa. Perpustakaan tidak
hanya berisi buku-buku referensi yang dapat dipakai untuk
menunjang aktivitas kegiatan belajar mengajar namun juga tersedia
sumber-sumber bacaan yang dapat menambah kekayaan ilmu
pengetahuan.
Fasilitas lainnya yang juga penting adalah laboratorium.
Untuk mengembangkan skill dan daya kreasi siswa, laboratorium
dapat dipakai untuk melakukan eksperimen dan penelitian. Untuk
menambah kemampuan berbahasa terdapat laboratorium bahasa.
Untuk menambah kemampuan mengoperasikan komputer dengan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 72


Data Mencerdaskan Bangsa

software-software tertentu dan internet diperlukan fasilitas


laboratorium komputer yang memadai.

Tabel 3.18 Persentase Fasilitas Perpustakaan Terhadap Jumlah 
Sekolah SLTP dan SLTA di Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
SLTP SLTA
Tahun
Sekolah perpustakaan % Sekolah perpustakaan %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
2006 132 42 31,82 63 30 47.62
2007 128 49 38.28 67 36 53.73
2008 133 54 40,6 71 37 52,11

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Berdasarkan Tabel 3.18 meskipun mengalami perkembangan


jumlah, fasilitas perpustakaan untuk jenjang pendidikan SLTP hanya
dimiliki oleh kurang dari setengah total sekolahan yang ada. Semula
jumlah perpustakaan pada tahun 2006 hanya berjumlah 42 buah
(31,82 persen), tetapi pada tahun 2007 terjadi penambahan fasilitas
perpustakaan menjadi 49 buah (38,28 persen). Kemudian fasilitas
perpustakaan tersebut kembali bertambah menjadi 54 buah (40,60
persen) pada tahun 2008.
Secara proporsi fasilitas perpustakaan di jenjang pendidikan
SLTA dapat dikatakan lebih baik dari pada di SLTP. Pada tahun
2006 jumlah fasilitas perpusatakaan hanya berjumlah 47,62 persen.
Kemudian pada tahun 2007 jumlahnya bertambah menjadi 36 unit
(53,73 persen). Dan di tahun 2008 jumlahnya kembali meningkat
menjadi 37 unit, namun bila dibandingkan dengan jumlah sekolah

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 73


Data Mencerdaskan Bangsa

yang juga bertambah justru proporsinya mengalami penurunan


menjadi 52,11 persen.
Walaupun jumlah fasilitas perpustakaan mengalami
penambahan tetapi tidak diketahui apakah fasilitas tersebut memadai
dari sisi tempat, jumlah buku, jumlah judul buku dan kualitas buku
yang dikoleksi. Disamping itu minat baca siswa juga tidak dapat
diketahui dengan pasti. Akan sangat disayangkan bila ada fasilitas
perpustakaan yang baik tetapi minat baca siswanya rendah.

Tabel 3.19 Persentase Fasilitas Laboratorium Terhadap Jumlah 
Sekolah SLTP dan SLTA di Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
SLTP SLTA
Tahun
Sekolah Laboratorium % Sekolah Laboratorium %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
2006 132 68 51,52 63 57 90,48
2007 128 21 16,41 67 82 122,39
2008 133 30 22,56 71 91 128,17

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional, 2008

Pada jenjang pendidikan SLTP terlihat sebuah keadaan yang


memprihatinkan dari sisi kondisi fasilitas laboratorium yang dimiliki
oleh sekolah-sekolah. Dari tahun 2006-2008 jumlahnya semakin
menurun. Semula pada tahun 2006 dari 132 sekolah 68 diantaranya
mempunyai fasilitas laboratorium, namun pada tahun 2007
jumlahnya berkurang hingga tinggal 16 buah laboratorium atau
sebesar 16,41 persen. Pada tahun 2008 jumlah fasilitas laboratorium
mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007
menjadi 22,56 persen.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 74


Data Mencerdaskan Bangsa

Situasi yang berbeda terjadi pada jumlah fasilitas


laboratorium di jenjang pendidikan SLTA. Jumlah laboratorium di
SLTA mengalami peningkatan menjadi 91 unit (128,17 persen)
setelah sebelumnya di tahun 2006 dan 2007 masing-masing
berjumlah 57 unit dan 82 unit atau sebesar 90,48 persen dan 122,39
persen.
Proporsi laboratorium yang mencapai lebih dari 100 persen
diduga karena terdapat sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium
lebih dari satu buah. Namun tidak menutup kemungkinan masih
terdapat sekolah yang belum memiliki laboratorium.

3.4 Kondisi Perekonomian

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 75


Data Mencerdaskan Bangsa

Situasi perekonomian secara makro Provinsi Papua Barat diukur


dengan besarnya Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari kumulatif
seluruh kegiatan ekonomi selama satu tahun atau biasa dikenal sebagai
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sedangkan kinerja
perekonomian diukur dari kenaikan PDRB terhadap tahun sebelumnya
berdasarkan harga konstan 2000. Sementara struktur perekonomian
ditunjukkan melalui distribusi persentase nilai tambah atas dasar harga
berlaku per sektor.
PDRB Provinsi Papua Barat dihitung atas dasar harga berlaku
(ADHB) dan atas dasar harga konstan 2000 (ADHK). Penghitungan juga
dibedakan dengan menyertakan minyak dan gas (dengan migas) dan
tanpa minyak dan gas (tanpa migas).

3.4.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Total PDRB Provinsi Papua Barat tahun 2008 sebesar Rp.


12,47 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp. 6,37 triliun atas dasar
harga konstan. PDRB tahun 2008 tersebut mengalami peningkatan
dari tahun 2007 yaitu Rp. 10,37 triliun atas dasar harga berlaku dan
Rp. 5,93 triliun atas dasar harga konstan 2000.
Bila tanpa memperhitungkan subsektor migas, besarnya
PDRB Provinsi Papua Barat tahun 2008 mencapai Rp. 8,74 triliun
atas dasar harga berlaku dan Rp. 4,96 triliun atas dasar harga
konstan 2000. PDRB tanpa migas juga mengalami peningkatan
dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar Rp. 7,45 triliun atas dasar
harga berlaku dan Rp. 4,57 triliun atas dasar harga konstan.
Perbedaan nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan
migas dan tanpa migas sebesar Rp. 3,74 triliun atau sekitar 29,95

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 76


Data Mencerdaskan Bangsa

persen terhadap total PDRB. Hal ini membuktikan bahwa kontribusi


subsektor migas dalam PDRB Papua Barat cukup signifikan.
PDRB menurut kabupaten/kota dengan migas tercatat atas
dasar harga berlaku tahun 2008 tertinggi berada di Kabupaten
Sorong sebesar Rp. 4,28 triliun. Sedangkan atas dasar harga
konstan dengan migas PDRB tertinggi juga berada di Kabupaten
Sorong sebesar Rp. 1,71 triliun.
Tabel 3.20 PDRB Menurut Kabupaten/Kota ADHB dan ADHK Provinsi 
Papua Barat Tahun 2006‐2008 
(Juta Rupiah) 
 
Dengan Migas Tanpa Migas
Kabupaten/Kota
ADHB ADHK ADHB ADHK
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 1.041.070,69 551.407,09 1.041.070,69 551.407,09
Kaimana 601.591,25 329.353,59 601.591,25 329.353,59
Teluk Wondama 270.482,75 161.994,55 270.482,75 161.994,55
Teluk Bintuni 889.339,71 543.862,72 872.540,85 534.295,83
Manokwari 2.032.115,88 995.173,58 2.032.115,88 995.173,58
Sorong Selatan 361.211,81 219.370,38 361.211,81 219.370,38
Sorong 4.276.789,55 1.709.866,77 1.034.401,65 617.947,04
Raja Ampat 853.280,08 544.195,78 382.865,73 238.596,64
Kota Sorong 2.148.580,20 1.303.022,20 2.148.580,20 1.303.022,20
Papua Barat
12.471.605,76 6.369.374,22 8.735.911,05 4.962.288,45
(2008)
Papua Barat
10.369.836,11 5.934.315,82 7.452.203,55 4.566.066,15
(2007)
Papua Barat
8.945.539,50 5.548.900,50 6.367.572,45 4.204.030,38
(2006)
Sumber: PDRB Menurut Lapangan Usaha BPS Prov Papua Barat 2008
Sementara bila unsur migas tidak diperhitungkan dalam
penghitungan PDRB, maka Kota Sorong memiliki nilai PDRB atas

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 77


Data Mencerdaskan Bangsa

dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 tertinggi
diantara kabupaten lainnya. Besarnya PDRB Kota Sorong masing-
masing Rp. 2,15 triliun dan Rp. 1,30 triliun. PDRB tahun 2008
terendah atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan
2000 ditempati oleh Kabupaten Teluk Wondama dengan besaran
PDRB Rp. 0,27 triliun dan Rp. 0,16 triliun.

3.4.2 Struktur Ekonomi Regional

Struktur perekonomian Papua Barat ditunjukkan melalui


distribusi persentase nilai tambah atas dasar harga berlaku per
sektor. Struktur ini memperlihatkan sektor-sektor utama yang
berkontribusi besar dalam perekonomian.
Pada tahun 2008, sektor pertanian memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDRB Papua Barat sebesar 24,91 persen.
Kemudian sektor industri pengolahan memberikan kontribusi 22,74
persen, sektor pertambangan dan penggalian menyumbangkan
14,81 persen, sektor perdagangan-hotel-restoran memberikan
kontribusi 10,35 persen, dan sektor lainnya memberikan sumbangan
terhadap PDRB masing-masing kurang dari 10 persen.
Berdasarkan Tabel 3.20 terdapat empat sektor unggulan
yang memberikan kontribusi masing-masing diatas 10 persen
terhadap total PDRB dari tahun 2006-2008. Keempat sektor tersebut
adalah sektor pertanian, industri pengolahan, pertambangan-
penggalian, dan perdagangan-hotel-restoran. Sektor pertanian selalu
memberikan kontribusi terbesar PDRB dari tahun 2006-2008, namun
besarnya sumbangan senantiasa mengalami penurunan setiap

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 78


Data Mencerdaskan Bangsa

tahunnya. Kontribusi sektor pertanian tahun 2006 sebesar 27,15


persen terus menurun menjadi 26,64 persen di tahun 2007 dan
24,91 persen di tahun 2008.

Tabel 3.21 Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga 
Berlaku Provinsi papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
Lapangan Usaha 2006 2007 2008

(1) (2) (3) (4)


Pertanian 27,15 26,64 24,91
Pertambangan dan Penggalian 17,36 15,98 14,81
Industri Pengolahan 19,47 20,10 22,74
Listrik, Gas & Air Bersih 0,54 0,56 0,53
Bangunan 8,00 8,61 9,23
Perdagangan, Hotel dan Restoran 10,35 10,58 10,35
Pengangkutan dan Komunikasi 7,22 7,44 6,95
Keuangan, Persewaan & Jasa
1,69 2,07 2,42
Perusahaan
Jasa-jasa 8,21 8,03 8,06
PDRB 100,00 100,00 100,00

Sumber: PDRB Menurut Lapangan Usaha BPS Prov Papua Barat 2008 

Demikian pula dengan sektor pertambangan dan penggalian,


sektor ini memberikan kontribusi terbesar ketiga selama tahun 2006-
2008. Sama halnya dengan sektor pertanian, pada sektor
pertambangan dan penggalian juga terus mengalami penurunan
persentase sumbangan terhadap PDRB.
Sektor industri pengolahan selalu konsisten memberikan
kontribusi terbesar kedua selama tahun 2006-2008, bahkan
persentase sumbangan terhadap PDRB terus mengalami

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 79


Data Mencerdaskan Bangsa

peningkatan dari tahun 2006-2008. Kontribusi sektor industri


pengolahan tahun 2006 sebesar 19,47 persen, kemudian tahun 2007
mengalami peningkatan menjadi 20,10 persen. Pada tahun 2008
kembali mengalami peningkatan menjadi 22,74 persen.

Penurunan secara berangsur-angsur sektor pertanian dan


kenaikan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun pada sektor
industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel, dan restoran;
dan jasa-jasa di dalam memberikan nilai tambah pada PDRB
menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran struktur ekonomi
dari sektor primer ke sektor sekunder atau sektor tersier.

3.4.3 Pertumbuhan Ekonomi

Pendekatan yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan


ekonomi disuatu daerah biasanya dengan membandingkan besarnya
nilai tambah antar waktu menurut harga konstan. Dengan
menggunakan dasar harga konstan dapat diketahui sejauh mana
pertumbuhan riil dari suatu daerah yang menggambarkan kondisi
perekonomian yang dapat diperbandingkan antar waktu dan antar
daerah.
Pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2008 dengan
migas sebesar 7,33 persen. Kondisi ini mengalami peningkatan
dibandingkan dengan tahun 2006 dan 2007 sebesar 4,55 persen dan
6,95 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun
dengan migas dari tahun 2002-2008 sebesar 6,54 persen.
Dengan tanpa memperhitungkan subsektor migas (tanpa
migas), pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2008 sebesar 8,68
persen. Kondisi ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 80


Data Mencerdaskan Bangsa

2007 sebesar 8,61 persen maupun tahun 2006 sebesar 7,36 persen.
Pertumbuhan ekonomi rata-rata dari tahun 2002-2008 tanpa migas
Papua Barat mencapai 7,47 persen.

10.00

Pertumbuhan Ekonomi (%) 8.00

6.00

4.00

2.00

Gambar 3.15   0.00
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Pertumbuhan Ekonomi 
Provinsi Papua Barat  Dengan Migas 5.07 7.68 7.39 6.80 4.55 6.95 7.33
Tahun 2002‐2008 (%)   Tanpa Migas 7.49 7.06 6.29 6.83 7.36 8.61 8.68

3.4.4 PDRB per Kapita

Sebuah nilai yang cukup relevan dalam menggambarkan


tingkat kemakmuran penduduk secara makro ekonomi adalah
dengan menggunakan pendekatan PDRB per kapita. Pada PDRB
per kapita, besaran nilai PDRB telah dibagi dengan jumlah penduduk
dari wilayah tersebut. Jadi besarnya PDRB telah tertimbang dengan
jumlah penduduk pada masing-masing wilayah, sehingga tingginya
PDRB tidak lagi dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang besar.
PDRB per kapita Papua Barat dengan migas tahun 2008
mencapai Rp. 17,09 juta atas dasar harga berlaku dan Rp. 8,73 juta
atas dasar harga konstan 2000. Kondisi ini meningkat dibandingkan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 81


Data Mencerdaskan Bangsa

dengan keadaan tahun 2007 sebesar Rp. 14,48 juta atas dasar
harga berlaku dan Rp. 8,29 juta atas dasar harga konstan 2000.
Sedangkan PDRB per kapita Papua Barat tanpa migas tahun 2008
mencapai Rp. 11,97 juta atas dasar harga berlaku dan Rp. 6,80 juta
atas dasar harga konstan 2000. Kondisi tersebut juga lebih baik jika
dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar Rp. 10,41 juta atas dasar
harga berlaku dan Rp. 6,38 juta atas dasar harga konstan 2000.

Tabel 3.22 PDRB Per Kapita ADHB dan ADHK Menurut 
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
(Rupiah) 

Dengan Migas Tanpa Migas


Kabupaten/Kota
ADHB ADHK ADHB ADHK
(1) (2) (3) (4) (5)
Fakfak 15.569.973,17 8.246.696,13 15.569.973,17 8.246.696,13
Kaimana 14.307.930,56 7.833.172,86 14.307.930,56 7.833.172,86
Teluk Wondama 11.688.969,24 7.000.628,75 11.688.969,24 7.000.628,75
Teluk Bintuni 16.309.780,39 9.974.008,21 16.001.702,71 9.798.559,09
Manokwari 11.720.454,72 5.739.774,47 11.720.454,72 5.739.774,47
Sorong Selatan 5.876.898,43 3.569.145,32 5.876.898,43 3.569.145,32
Sorong 43.600.223,80 17.431.433,74 10.545.326,76 6.299.732,26
Raja Ampat 20.725.773,16 13.218.260,44 9.299.628,98 5.795.400,46
Kota Sorong 12.692.613,34 7.697.528,31 12.692.613,34 7.697.528,31
Papua Barat
17.085.280,82 8.725.624,37 11.967.624,42 6.798.009,27
(2008)
Papua Barat
14.483.031,55 8.288.162,16 10.408.120,05 6.377.196,27
(2007)
Papua Barat
12.741.826,57 7.903.729,88 9.069.827,91 5.988.126,93
(2006)
Sumber: PDRB Menurut Lapangan Usaha BPS Prov Papua Barat 2008 

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 82


Data Mencerdaskan Bangsa

PDRB per kapita dengan migas tertinggi menurut


kabupaten/kota berdasarkan Tabel 3.22 adalah Kabupaten Sorong
yakni sebesar Rp. 43, 60 juta atas dasar harga berlaku dan Rp
17,43 juta atas dasar harga konstan 2000. Sedangkan PDRB per
kapita tanpa migas tertinggi berada di Kabupaten Teluk Bintuni yakni
mencapai Rp.16,00 juta atas dasar harga berlaku dan Rp. 9,80 juta
atas dasar harga konstan 2000.
Sedangkan PDRB per kapita dengan migas terendah berada
di Kabupaten Sorong Selatan sebesar Rp. 5,88 juta atas dasar
harga berlaku dan Rp. 3,57 juta atas dasar harga konstan 2000. Bila
tanpa memperhitungkan subbsektor minyak dan gas (tanpa migas)
PDRB per kapita terendah masih tetap ditempati Kabupaten Sorong
Selatan sebesar Rp. 5,88 juta atas dasar harga berlaku dan Rp. 3,57
juta atas dasar harga konstan 2000.
Hal menarik terjadi ketika membandingkan PDRB per kapita
dengan migas dan tanpa migas terutama bagi kabupaten penghasil
migas terbesar seperti Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja
Ampat. Dengan menyertakan migas, Kabupaten Sorong dan
Kabupaten Raja Ampat semula memiliki PDRB per kapita atas dasar
harga berlaku tertinggi pertama dan kedua sebesar Rp. 43,60 juta
dan Rp. 20,72 juta, namun ketika unsur migas tidak disertakan
dalam penghitungan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku
maka peringkatnya langsung anjlok ke posisi terendah ketiga dan
kedua di bawah Kabupaten Sorong Selatan. PDRB per kapita
kabupaten tersebut menjadi Rp. 10,54 juta di Kabupaten Sorong dan
Rp. 9,30 juta di Kabupaten Raja Ampat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 83


Data Mencerdaskan Bangsa

BAB IV
PERKEMBANGAN KOMPONEN
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 2006-2008

IPM tersusun atas tiga aspek mendasar pembangunan manusia.


Aspek kesehatan yang bermakna mempunyai umur panjang diwakili oleh
indikator harapan hidup, aspek pendidikan yang direpresentasikan oleh
indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta dimensi
perekonomian yang bermakna kehidupan yang layak digambarkan
dengan kemampuan daya beli (paritas daya beli). Ketiga aspek tersebut
dianggap mampu untuk merepresentasikan pembangunan manusia
sehingga sampai saat ini penghitungan IPM masih menjadi rujukan
negara-negara di dunia dalam mengukur perkembangan pembangunan
manusia.
Perkembangan IPM dari tahun ke tahun sangat dipengaruhi oleh
komponen-komponen yang menyusunnya. Sedangkan komponen-
komponen tersebut bervariasi dalam tiap kabupaten/kota. Kemajuan ini
sangat tergantung pada komitmen penyelenggara pemerintah daerah
dalam meningkatkan kapasitas dasar penduduk yang berdampak pada
peningkatan kualitas hidup.
Perkembangan komponen-komponen penyusun IPM selanjutnya
akan dibahas untuk melihat komponen-komponen mana yang
berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan capaian IPM
kabupaten/kota maupun Provinsi Papua Barat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 84


Data Mencerdaskan Bangsa

4.1 Perkembangan Kesehatan

Perkembangan komponen kesehatan digambarkan dengan indikator


angka harapan hidup. Angka harapan hidup adalah perkiraan banyaknya
tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup (secara rata-
rata). Indikator ini seringkali digunakan untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam hal kesejahteraan rakyat di bidang kesehatan.
Berdasarkan Tabel 4.1, secara umum angka harapan hidup di
masing-masing daerah selalu mengalami kemajuan. Di tahun 2008,
angka harapan hidup Provinsi Papua Barat mencapai 67,90 tahun artinya
rata-rata penduduk Provinsi Papua Barat dapat menjalani hidup selama
67 tahun. Sementara rata-rata angka harapan hidup sebesar 67,89 tahun
dengan angka harapan hidup tertinggi berada di Kota Sorong sebesar
71,12 tahun dan angka harapan hidup terendah di Kabupaten Raja Ampat
sebesar 65,43 tahun.
Kemajuan angka harapan hidup dapat digambarkan dengan
membandingkannya antar tahun. Kemajuan terbesar di tahun 2006-2007
terjadi di Kota Sorong dengan angka harapan hidup meningkat sebesar
0,45 tahun, sedangkan Kabupaten Fakfak memiliki kemajuan peningkatan
angka harapan hidup terkecil yaitu sebesar 0,17 tahun. Perkembangan
angka harapan hidup tahun 2007-2008 Provinsi Papua Barat tercatat
hanya mengalami kemajuan 0,30 tahun selama satu tahun. Peningkatan
angka harapan hidup tertinggi terjadi di Kabupaten Fakfak sebesar 0,54
tahun dalam waktu satu tahun. Sementara angka harapan hidup terendah
sebesar 0,14 tahun terjadi di Kabupaten Sorong Selatan.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 85


Data Mencerdaskan Bangsa

Tabel 4.1 Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota di 
Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008


(1) (2) (3) (4)
Fak-Fak 69,10 69,27 69,81
Kaimana 68,80 69,06 69,26
Teluk Wondama 66,50 66,78 67,00
Teluk Bintuni 66,90 67,26 67,55
Manokwari 66,80 67,12 67,38
Sorong Selatan 66,00 66,19 66,33
Sorong 66,40 66,71 67,12
Raja Ampat 64,80 65,15 65,43
Kota Sorong 70,30 70,75 71,12
Papua Barat 67,30 67,60 67,90

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

Fakta perkembangan angka harapan hidup per tahun di Provinsi


Papua Barat tercatat tidak melebihi dari satu tahun dalam satu periode
jangka waktu satu tahun. Hal ini berarti bahwa kondisi angka kematian
bayi (infant mortality rate) di Provinsi Papua Barat termasuk dalam
kategori Hardrock, artinya dalam waktu satu tahun penurunan angka
kematian bayi yang tajam sulit terjadi. Sehingga implikasinya adalah
angka harapan hidup yang dihitung berdasarkan harapan hidup waktu
lahir menjadi lambat untuk mengalami kemajuan. Hal ini terlihat dari
perkembangan angka harapan hidup yang tidak melebihi satu digit dalam
kurun waktu satu tahun. Kondisi tersebut juga terjadi untuk kondisi
nasional, penurunan angka kematian bayi terjadi secara gradual bahkan
mengarah melambat.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 86


Data Mencerdaskan Bangsa

4.2 Perkembangan Pendidikan

Perkembangan komponen pendidikan direpresentasikan oleh angka


melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Angka melek huruf
menggambarkan persentase penduduk umur 15 tahun keatas yang dapat
membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya, sedangkan rata-rata
lama sekolah menggambarkan rata-rata jumlah tahun yang dijalani oleh
penduduk untuk menempuh pendidikan formal. Bobot kedua indikator ini
dalam membentuk komponen pendidikan adalah 2:1 atau dua per tiga
bagian adalah angka melek huruf dan sepertiga bagian adalah rata-rata
lama sekolah.

4.2.1 Perkembangan Angka Melek Huruf

Angka melek huruf Provinsi Papua Barat tahun 2008


mencapai 92,15 persen atau mengalami peningkatan dibandingkan
dengan kondisi tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar 88,55
persen dan 90,32 persen. Selama tahun 2006-2007 angka melek
huruf Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan sebesar 1,83
persen, sedangkan selama periode 2006-2008 mengalami
peningkatan sebesar 3,60 persen.
Berdasarkan Tabel 4.2, diperoleh informasi bahwa selama
kurun waktu tiga tahun Kota Sorong memiliki angka melek huruf
tertinggi diantara kabupaten lainnya, yaitu sebesar 99,10 persen.
Angka melek huruf Kota Sorong mengalami stagnasi karena AMH
Kota Sorong sudah tergolong dalam AMH tinggi sehingga sangat
sulit untuk mengalami peningkatan. Hal ini seringkali disebabkan
angka buta huruf terjadi pada penduduk usia lanjut yang sudah

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 87


Data Mencerdaskan Bangsa

enggan untuk belajar membaca dan menulis huruf latin maupun


huruf lainnya.

Tabel 4.2 Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota di 
Provisni Papua Barat Tahun 2006‐2008 

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008


(1) (2) (3) (4)
Fak-Fak 95,98 97,17 97,17
Kaimana 91,20 95,48 95,48
Teluk Wondama 80,43 81,02 82,85
Teluk Bintuni 78,53 80,84 82,67
Manokwari 83,54 83,54 85,37
Sorong Selatan 87,90 87,90 88,07
Sorong 91,39 91,39 91,39
Raja Ampat 89,93 89,93 92,69
Kota Sorong 99,10 99,10 99,10
Papua Barat 88,55 90,32 92,15

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

Sementara angka melek huruf terendah selama kurun


waktu tiga tahun terakhir terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni, yakni
masing-masing sebesar 78,53 persen (2006); 80,84 persen (2007);
dan 82,67 persen (2008). Dalam hal perkembangan peningkatan
capaian angka melek huruf Kabupaten Teluk Bintuni menunjukkan
progres yang sangat baik. Selama tahun 2006-2008 kabupaten ini
mampu meningkatkan persentase angka melek huruf sebesar 4,14
persen atau berada di urutan ke dua setelah kabupaten Kaimana
sebesar 4,28 persen. Capaian angka melek huruf Kabupaten Teluk

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 88


Data Mencerdaskan Bangsa

Bintuni yang relatif masih rendah ini membuat lebih mudah


didongkrak naik dari pada untuk menaikkan angka melek huruf di
Kota Sorong. Contoh lainnya adalah Kabupaten Fakfak, Kaimana
dan Sorong yang mengalami stagnasi karena capaian angka melek
huruf daerah tersebut telah mencapai di atas 90 persen.

4.2.2 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah

Indikator rata-rata lama sekolah sangat dipengaruhi oleh


partisipasi sekolah untuk semua kelompok umur. Bila angka
partisipasi sekolah di Provinsi Papua Barat rendah maka
kemungkinan besar angka rata-rata lama sekolahnya juga akan
rendah.
Angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua bergerak
sangat lambat. Pada tahun 2008 rata-rata lama sekolah Provinsi
Papua Barat mencapai 7,67 tahun atau hanya mengalami
peningkatan sebesar 0,02 tahun dalam waktu satu tahun
dibandingkan dengan tahun 2007. Sedangkan bila dibandingkan
dengan tahun 2006, angka rata-rata lama sekolah hanya meningkat
sebesar 0,47 tahun dalam kurun waktu dua tahun.
Angka rata-rata lama sekolah sebesar 7,67 tahun
mengandung arti rata-rata penduduk Provinsi Papua Barat hanya
mengenyam pendidikan sampai dengan kelas 1 SLTP atau putus
sekolah pada kelas 2 SLTP. Kondisi ini bahkan hampir dapat
dikatakan tidak terjadi perubahan selama kurun waktu dua tahun
yaitu periode tahun 2006-2008.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 89


Data Mencerdaskan Bangsa

Tabel 4.3 Rata‐rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota 
di Provisni Papua Barat Tahun 2006‐2008 

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008


(1) (2) (3) (4)
Fak-Fak 8,36 8,93 8,93
Kaimana 7,10 7,10 7,10
Teluk Wondama 5,80 5,99 6,39
Teluk Bintuni 5,84 6,44 6,85
Manokwari 6,20 7,19 7,59
Sorong Selatan 7,00 7,90 7,90
Sorong 8,00 8,00 8,00
Raja Ampat 7,00 7,00 7,00
Kota Sorong 10,10 10,10 10,52
Papua Barat 7,20 7,65 7,67

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

Berdasarkan Tabel 4.3, di tahun 2008, Kota Sorong


mempunyai rata-rata lama sekolah tertinggi dibandingkan dengan
kabupaten lainnya. Rata-rata lama sekolah di Kota Sorong mencapai
10,52 tahun, atau rata-rata penduduk Kota Sorong mampu
mengenyam pendidikan sampai dengan kelas 1 SLTA. Sementara
rata-rata lama sekolah terendah terjadi di Kabupaten Teluk
Wondama sebesar 6,39 tahun. Di kabupaten ini rata-rata penduduk
hanya mampu bersekolah sampai dengan kelas 6 SD atau putus
sekolah setelah kelas 1 SLTP.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 90


Data Mencerdaskan Bangsa

4.3 Perkembangan Paritas Daya Beli

Komponen terakhir yang digunakan untuk penghitungan


IPM adalah dimensi ekonomi yaitu kemampuan untuk hidup layak.
Komponen ini digambarkan dengan paritas daya beli. Daya beli
merupakan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uang
untuk barang dan jasa. Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh
harga-harga riil antar wilayah karena nilai tukar yang digunakan
dapat menaikkan atau menurunkan daya beli.

Untuk itu dalam penghitungan daya beli ini telah


menggunakan harga yang telah distandarkan dengan kondisi
Jakarta Selatan sebagai rujukannya. Penggunaan standar harga ini
untuk mengeliminasi perbedaan harga antar wilayah sehingga
perbedaan kemampuan daya beli masyarakat antar wilayah dapat
diperbandingkan.

Paritas daya beli Provinsi Papua Barat tahun 2008 adalah


sebesar Rp. 593.130,- meningkat seiring dengan semakin tingginya
kebutuhan hidup dibandingkan tahun 2007 yang mencatat paritas
daya beli sebesar Rp. 592.070,-. Kondisi tersebut juga meningkat
dibandingkan dengan situasi pada tahun 2006 yang mempunyai
paritas daya beli masyarakat sebesar Rp. 588.040,-. Kenaikan
paritas daya beli ini diperkirakan dipengaruhi oleh semakin
membaiknya kondisi ekonomi penduduk sehingga dengan adanya
kenaikan pendapatan tersebut mengakibatkan kemampuan
masyarakat untuk mengakses pendidikan untuk melanjutkan sekolah
dan mengakses fasilitas kesehatan menjadi semakin baik.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 91


Data Mencerdaskan Bangsa

Tabel 4.4 Paritas Daya Beli Menurut Kabupaten/Kota di 
Provisni Papua Barat Tahun 2006‐2008 
(Ribu Rupiah) 

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008


(1) (2) (3) (4)
Fak-Fak 571,45 577,90 582,51
Kaimana 584,00 591,70 596,37
Teluk Wondama 584,00 590,40 597,65
Teluk Bintuni 592,03 596,10 596,30
Manokwari 576,34 579,20 584,87
Sorong Selatan 572,74 582,10 585,70
Sorong 580,24 591,10 596,11
Raja Ampat 554,56 554,60 558,87
Kota Sorong 622,54 628,30 633,78
Papua Barat 588,04 592,07 593,13
Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

Menurut Tabel 4.4, Kota Sorong mempunyai paritas daya


beli tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, yaitu 622,54 ribu
(2006); 628,30 ribu (2007); dan 633,78 ribu (2008). Sementara
Kabupaten Raja Ampat memiliki paritas daya beli terendah selama
kurun waktu tiga tahun terakhir, yaitu 554,56 ribu (2006); 554,30 ribu
(2007); dan 558,87 ribu (2008).
Kenaikan paritas daya beli Provinsi Papua Barat ternyata
juga diikuti oleh kenaikan indeks daya beli. Indeks daya beli pada
tahun 2008 Provinsi Papua Barat sebesar 53,88 poin atau kondisi ini
lebih baik bila dibandingkan dengan indeks daya beli tahun 2006 dan

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 92


Data Mencerdaskan Bangsa

2007 yang masing-masing mempunyai nilai indeks sebesar 52,70


poin dan 53,63 poin.
4.4 Perkembangan IPM

Secara umum besarnya capaian IPM Provinsi Papua Barat selalu


mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Demikian pula dengan
daerah tingkat II di Provinsi Papua Barat tidak satupun yang mengalami
penurunan angka IPM. Perkembangan capaian nilai IPM menandakan
usaha-usaha pembangunan manusia telah berjalan, meskipun ada yang
mengalami kemajuan yang pesat dan ada juga yang lambat berkembang.

Tabel 4.5 IPM dan Perubahan Menurut Kabupaten/kota di 
Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
IPM Perubahan (poin)
Kabupaten/Kota 2006- 2007- 2006-
2006 2007 2008
2007 2008 2008
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Fak-Fak 68,31 69,58 70,24 1,27 0,66 1,93
Kaimana 67,11 68,80 69,27 1,69 0,47 2,16
Teluk Wondama 62,48 63,40 64,79 0,92 1,39 2,31
Teluk Bintuni 62,93 64,40 65,29 1,47 0,89 2,36
Manokwari 63,04 64,17 65,46 1,13 1,29 2,42
Sorong Selatan 63,88 65,38 65,77 1,50 0,39 1,89
Sorong 66,20 67,21 67,82 1,01 0,61 1,62
Raja Ampat 62,27 62,47 63,57 0,20 1,10 1,30
Kota Sorong 74,89 75,59 76,52 0,70 0,93 1,63
Papua Barat 66,08 67,28 67,95 1,20 0,67 1,87

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 93


Data Mencerdaskan Bangsa

IPM Provinsi Papua Barat pada tahun 2006 sebesar 66,08 poin,
kondisi ini mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 67,28 poin
atau mengalami pertumbuhan sebesar 1,2 poin selama setahun. Di tahun
2008 IPM Provinsi Papua Barat kembali mengalami peningkatan
dibandingkan dengan tahun 2007 menjadi 67,95 poin. Meskipun
mengalami peningkatan tetapi capaian IPM tahun 2008 pertumbuhannya
melambat dibandingkan dengan tahun 2006-2007. Selama periode 2006-
2008 capaian IPM Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan sebesar
1,87 poin.
Dari hasil capaian IPM, Kota Sorong menduduki peringkat terbaik di
Papua Barat tahun 2006-2008. Capaian nilai IPM-nya pun jauh lebih baik
dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Papua Barat.
Capaian IPM Kota Sorong berturut-turut 74,89 poin (2006); 75,59 poin
(2007) dan 76,52 poin (2008). Sementara Kabupaten Raja Ampat selama
tahun 2006-2008 selalu menjadi peringkat terakhir dalam rangking
capaian IPM Provinsi Papua Barat.
Hasil capaian IPM setiap kabupaten/kota setiap tahun selalu
mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan capaian IPM
bervariasi setiap daerah. Beberapa daerah memiliki pertumbuhan yang
pesat, sementara beberapa daerah lainnya pertumbuhannya terkesan
lambat. Pada tahun 2006-2007, diantara kabupaten/kota tersebut yang
memiliki pertumbuhan yang relatif cepat adalah Kabupaten Kaimana
(1,69 poin), Kabupaten Sorong Selatan (1,50 poin), Kabupaten Teluk
Bintuni (1,47 poin), Kabupaten Fakfak (1,27 poin), dan Manokwari (1,01
poin). Daerah lainnya memiliki pertumbuhan capaian IPM dibawah satu
digit.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 94


Data Mencerdaskan Bangsa

Di tahun 2007-2008, ada beberapa daerah yang memiliki


pertumbuhan di atas satu digit, diantaranya Kabupaten Teluk Wondama
(1,39 poin), Kabupaten Manokwari (1,29 poin), dan Kabupaten Raja
Ampat (1,10 poin). Meskipun selalu tumbuh positif namun lima dari
sembilan kabupaten/kota mengalami perlambatan pertumbuhan terhadap
periode sebelumnya. Kabupaten yang mengalami perlambatan
pertumbuhan adalah Kabupaten Fakfak, Kaimana, Teluk Bintuni, Sorong
Selatan dan Sorong. Termasuk yang mengalami perlambatan
pertumbuhan adalah capaian IPM Provinsi Papua Barat.
Selama periode 2006-2008, Kabupaten Manokwari memiliki
pertumbuhan capaian IPM yang tertinggi yaitu mencapai 2,42 poin.
Selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Teluk Bintuni (2,36 poin), Kabupaten
Teluk Wondama (2,31 poin), dan Kabupaten Kaimana (2,16 poin).

Pada penjelasan di atas terlihat bahwa besaran IPM Provinsi Papua


Barat merepresentasikan besaran IPM keseluruhan kabupaten/kota. Oleh
karena itu, besar atau kecilnya besaran IPM kabupaten/kota sangat
mempengaruhi besaran IPM provinsi.
Jika selama periode tahun 2006-2008 besaran IPM kabupaten/kota
dibandingkan dengan besaran IPM provinsi, maka terdapat tiga
kabupaten/kota yang besarannya relatif lebih tinggi terhadap IPM
provinsi. Ketiga kabupaten/kota itu adalah Kabupaten Fakfak, Kabupaten
Kaimana dan Kota Sorong.

4.5 Reduksi Shortfall

Reduksi shortfall ditujukan untuk melihat kemajuan atau kemunduran


dari pencapaian sasaran pembangunan manusia di suatu daerah selama

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 95


Data Mencerdaskan Bangsa

kurun waktu tertentu. Dengan kata lain, melalui reduksi shortfall ini dapat
dilihat kecepatan perkembangan IPM suatu daerah.
Terdapat sebuah kecenderungan dalam pencapaian IPM, jika nilai
IPM semakin mendekati nilai maksimumnya (100), maka
pertumbuhannya akan semakin lambat. Sebaliknya jika angka capaian
IPM masih berada pada level yang rendah maka kemampuan untuk
memacu pertumbuhan yang tinggi dalam capaian IPM akan lebih mudah.
Pada tahun 2005-2006 reduksi shortfall Papua Barat mencapai 3,54
poin, begitu pula pada tahun 2006-2007. Capaian besaran shortfall sama
pada dua tahun yang berbeda. Walaupun sama capaian reduksi shortfall-
nya, namun besaran reduksi shortfall di masing-masing kabupaten/kota
berbeda untuk tiap tahunnya. Kemudian pada tahun 2007-2008 reduksi
shortfall Provinsi Papua Barat mengalami perlambatan menjadi 2,05 poin.
Reduksi shortfall kabupaten/kota pada tahun 2005-2006 bervariasi
besarnya. Kabupaten Teluk Bintuni memiliki reduksi shortfall yang peling
tinggi untuk periode ini, yaitu mencapai 7,07 persen. Kabupaten Teluk
Bintuni yang mempunyai peringkat terendah pada tahun 2005 berupaya
untuk mengejar ketertinggalannya dengan daerah lain. Kabupaten hasil
pemekaran Kabupaten Manokwari ini memang sangat pesat membangun,
terutama didukung oleh adanya sumber daya alam berupa minyak bumi
dan gas alam cair. Kabupaten Teluk Wondama yang juga merupakan
kabupaten pemekaran memiliki reduksi shortfall yang tinggi. Capaian
reduksi shortfall-nya mencapai 5,95 poin. Untuk daerah yang mempunyai
capaian IPM rendah seperti kedua kabupaten tadi memang lebih mudah
untuk memacu pertumbuhan IPM lebih cepat. Hal ini terlihat dari tingginya
capaian reduksi shortfall dari kedua kabupaten tersebut. Tahun 2005-
2006, Kabupaten Kaimana memiliki reduksi shortfall yang paling rendah

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 96


Data Mencerdaskan Bangsa

yaitu 0,69 poin, hal ini berarti upaya peningkatan capaian IPM kabupaten
tersebut yang paling lemah diantara kabupaten lainnya.
Di tahun 2006-2007 ditandai dengan meningkatnya reduksi shortfall
lima dari sembilan kabupaten/kota, sedangkan empat kabupaten lainnya
mengalami perlambatan. Reduksi shortfall tertinggi kali ini dicapai oleh
Kabupaten Kaimana yang pada tahun sebelumnya justru memiliki
perkembangan reduksi shortfall yang paling rendah. Reduksi Shortfall
Kabupaten Kaimana mencapai 5,14 poin dan reduksi shortfall terendah
berada pada Kabupaten Raja Ampat dengan capaian sebesar 0,52 poin.

Tabel 4.6 Reduksi Shortfall Menurut Kabupaten/Kota  
di Provisni Papua Barat Tahun 2006‐2008 

Kabupaten/Kota 2005-2006 2006-2007 2007-2008


(1) (2) (3) (4)
Fak-Fak 1,86 4,02 2,16
Kaimana 0,69 5,14 1,50
Teluk Wondama 5,95 2,46 3,79
Teluk Bintuni 7,07 3,98 2,48
Manokwari 5,47 3,07 3,58
Sorong Selatan 2,11 4,14 1,13
Sorong 2,06 2,98 1,88
Raja Ampat 3,44 0,52 2,93
Kota Sorong 2,34 2,79 3,83
Papua Barat 3,54 3,54 2,05

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008


Di tahun 2007-2008 reduksi shortfall Provinsi Papua Barat
mengalami perlambatan. Semula reduksi shortfall-nya sebesar 3,54 poin
mengalami perlambatan menjadi 2,05 poin. Pada periode 2007-2008

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 97


Data Mencerdaskan Bangsa

seluruh kabupaten/kota memiliki reduksi shortfall diatas dua poin, dengan


reduksi shortfall tertinggi berada di Kota Sorong sebesar 3,83 poin dan
reduksi shortfall terendah berada di Kabupaten Sorong Selatan sebesar
1,13 poin.
BAB V
DISPARITAS IPM ANTAR WILAYAH

Paradigma pembangunan manusia telah mendapatkan perhatian


bagi para pembuat kebijakan. Pemerintah daerah kini tidak lagi hanya
berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi semata. Pengalaman
beberapa negara yang telah sukses, keberhasilan pembangunan
manusia biasanya juga akan diikuti oleh keberhasilan dalam
pembangunan ekonomi.
Pembangunan manusia tentunya sangat terkait dengan masalah
kependudukan. Jumlah penduduk yang besar dan atau pertumbuhan
penduduk yang tinggi dapat mendatangkan permasalahan dalam kinerja
pembangunan manusia karena yang dibangun adalah manusia atau
penduduk. Jadi ketika jumlah penduduk besar atau pertumbuhan
penduduknya tinggi maka penanganan dalam pembangunan manusia
yang mempunyai objek pembangunan manusia/penduduk akan lebih
kompleks dibandingkan dengan jumlah penduduk yang relatif lebih kecil
dan pertumbuhan penduduk yang relatif rendah.
Provinsi Papua Barat memiliki salah satu dari permasalahan
tersebut, yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi. Sebagai daerah yang
“baru”, Provinsi Papua Barat adalah provinsi termuda di Indonesia.
Dengan predikat sebagai daerah yang termuda tentu saja provinsi ini

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 98


Data Mencerdaskan Bangsa

sedang dalam kondisi membangun secara pesat karena harus mengejar


ketertinggalan dari provinsi-provinsi lainnya.
Secara ekonomi, pembangunan Papua Barat tergolong cukup
bagus. Hal ini ditunjukkan dengan angka pertumbuhan ekonomi di tahun
2008 yang mencapai 7,33 persen. Kondisi ini lebih bagus dibandingkan
dengan angka pertumbuhan nasional hanya mencapai 6,06 persen pada
tahun yang sama. Lantas bagaimana kondisi pembangunan manusia
Provinsi Papua Barat dan kabupaten/kota diantara provinsi-provinsi dan
kabupaten/kota lainnya di Indonesia?.
Sebelum membahas kondisi maupun posisi Papua Barat dan
kabupaten/kotanya terhadap daerah lainnya di Indonesia perlu diketahui
terlebih dahulu kondisi antar wilayah di Provinsi Papua Barat.

5.1 Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat

Posisi relatif IPM kabupaten/kota di sini adalah keterbandingan relatif


antar masing-masing besaran IPM kabupaten/kota se-Provinsi Papua
Barat pada tahun 2006-2008.
Adapun posisi relatif masing-masing IPM kabupaten/kota akan
diukur melalui kesamaan capaian IPM atau dengan mengukur jarak posisi
IPM terhadap suatu besaran relatif yang telah ditentukan sebelumnya.
Pada gambar boxplot berikuti ini akan memberikan gambaran
sebaran angka IPM Provinsi Papua Barat 2006-2008. Gambar tersebut
menunjukkan apakah sebaran IPM antar wilayah telah terdistribusi
dengan baik dan mempunyai kesenjangan yang rendah.
Kotak pada boxplot memuat 50 persen data atau mempunyai batas
persentil ke-25 dan ke-75 sedangkan garis yang ada ditengah kotak

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 99


Data Mencerdaskan Bangsa

adalah nilai median data (nilai tengah). Rata-rata IPM tahun 2008 adalah
paling tinggi, kemudian disusul oleh IPM tahun 2007 dan 2006. Hal ini
ditunjukkan oleh letak bidang kotak tahun 2008 yang paling tinggi
dibandingkan dengan tahun 2007 dan tahun 2006.
Untuk melihat sebaran IPM antar kabupaten/kota dapat diketahui
dari gambar boxplot. Bila tanda garis horizontal di dalam kotak tepat
persis berada ditengah boxplot, distribusi dapat dikatakan normal atau
sebaran IPM antar kabupaten/kota merata. Jika garis horizontal ada disisi
agak keatas tandanya distribusi menceng ke kiri dan sebaliknya bila garis
horizontal berada agak ke bawah, tandanya distribusi menceng ke kanan.
Semakin tanda garis horizontal mendekati atap atau alas boxplot maka
kemencengan distribusi semakin ekstrim dan sebaran semakin tidak
merata.
Dari ketiga boxplot (IPM 2006-2008) terlihat bahwa posisi garis pada
boxplot berada disebelah agak kebawah. Sehingga dapat dikatakan
sebaran IPM Papua Barat dari tahun 2006-2008 mempunyai distribusi
menceng ke kanan. Artinya sebagian besar IPM kabupaten/kota berada
di bawah rata-rata nilai rata-rata IPM seluruh kabupaten/kota se-Papua
Barat. Hal ini dapat terlihat dari jarak antara nilai minimum IPM dengan
rata-rata IPM lebih kecil dibanding jarak maksimum IPM dan rata-rata
IPM. Sebagai contoh IPM tahun 2008, jarak nilai minimum IPM dengan
rata-rata IPM hanya 4,07 poin sementara jarak IPM maksimum dengan
rata-rata IPM sebesar 8,88 poin (rata-rata IPM 2008 sebesar 67,64 poin).
Selain itu jumlah kabupaten/kota yang nilai IPM-nya dibawah rata-rata
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang nilai IPM-
nya diatas rata-rata, padahal jarak nilai minimum IPM terhadap rata-rata

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 100


Data Mencerdaskan Bangsa

IPM-nya lebih pendek dibandingkan dengan jarak rata-rata IPM dengan


nilai maksimum IPM.
Dari penjelasan tersebut dapat ditarik benang merah bahwa sebaran
IPM antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat dilihat dari
besaran nilainya masih belum merata (Gambar 5.1).

Boxplot IPM Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2008


78
76.52
76 75.69
74.89
74

72
Data

70.24
70
69.58
69.27
68.8
68.31
68 67.82
67.11 67.21

66 66.2
65.77
65.38 65.46
65.29
64.79
64.4
64.17
64 63.88
63.4 63.57
Gambar 5.1 Boxplot IPM  63.04
62.93
62.27 62.48 62.47
Provinsi Papua Barat  62

Tahun 2006‐2008  2006 2007 2008

Posisi relatif IPM lainnya dapat diketahui dari kesamaan capain


yang telah diraih oleh masing-masing kabupaten/kota. Kabupaten/kota
yang memiliki capaian IPM yang relatif sama dapat digabungkan ke
dalam satu kelompok. Melalui proses ini diharapkan dapat membentuk
lebih dari satu kelompok capaian IPM kabupaten/kota, sehingga nantinya
dapat berguna untuk melihat posisi relatif capaian IPM.

Dilihat berdasarkan kesamaan capaian IPM, posisi relatif


kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat dapat dikelompokkan ke dalam
tiga kelompok. Pertama, kelompok IPM bawah. Kelompok ini terdiri dari

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 101


Data Mencerdaskan Bangsa

Kabupaten Teluk Wondama (3), Teluk Bintuni (4), Manokwari (5), Raja
Ampat (8) dan Sorong Selatan (6). Capaian rata-rata IPM 2006-2008 di
kelima kabupaten tersebut 65 kebawah. Kelompok IPM Menengah terdiri
dari Kabupaten Fakfak (1), Kaimana (2) dan Sorong(7). Capaian rata-rata
IPM 2006-2008 di ketiga kabupaten ini antara 66 hingga 75. Kelompok
IPM atas adalah IPM Kota Sorong (9). Capaian IPM Kota Sorong pada
tahun 2005 – 2007 lebih dari 75.

Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat 2006-2008

51.84

67.89
Similarity

83.95
Gambar 5.2 Dendogram 
Posisi Relatif IPM 
Kabupaten/Kota di 
100.00
Provinsi Papua Barat  1 2 7 3 4 5 6 8 9
Tahun 2006‐2008  Observations

Dari ketiga kelompok tersebut, kelompok pertama terdiri dari


Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Sorong. Terlihat
disini Kabupaten Kaimana yang merupakan pemekaran dari Kabupaten
Fakfak ternyata mampu mengikuti perkembangan daerah induknya dan
mempunyai kesamaan ciri dengan daerah induknya. Sementara
Kabupaten Sorong yang merupakan kabupaten induk dari Kabupaten
Sorong Selatan dan Kabupaten Raja Ampat masih ternyata terlalu jauh
posisinya dan mempunyai perbedaan ciri dari kabupaten pecahannya.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 102


Data Mencerdaskan Bangsa

Kabupaten ini justru lebih mempunyai kesamaan ciri capaian IPM dengan
Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana.
Kelompok kedua terdiri dari Kabupaten Manokwari, Teluk Bintuni,
Teluk Wondama, Sorong Selatan, dan Raja Ampat. Ketiga kabupaten
yang disebutkan diawal merupakan kabupaten yang ‘serumpun’.
Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Teluk Bintuni merupakan
kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Manokwari. Ternyata capaian
IPM ketiga kabupaten ini masih memiliki kesamaan ciri. Kelompok ke-dua
ini ditambah dengan Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Raja
Ampat yang masih tertinggal dari kabupaten induknya, Kabupaten
Sorong. Kedua kabupaten tersebut justru memiliki kesamaan ciri dengan
Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten
Sorong.
Kelompok ketiga hanya terdiri dari Kota Sorong. Sebagai daerah
yang memilki status wilayah administrasi sebagai satu-satunya kota,
tentunya Kota Sorong lebih maju dibandingkan dengan kabupaten
lainnya. Kemajuan ini ternyata diikuti pula oleh kemajuan pembangunan
manusianya. Sehingga Kota Sorong menjadi daerah di Papua Barat yang
memiliki angka IPM tertinggi dan mempunyai perbedaan ciri dengan
kabupaten lainnya. Oleh karena itu Kota Sorong sendirian berada di
kelompok yang berbeda dengan kabupaten lainnya.

5.2 Posisi Relatif IPM Kabupaten/Kota Secara Nasional

Dari hasil capaian IPM tahun 2006-2008 tampaknya Provinsi


Papua Barat selalu ada di posisi urutan ke-30 dari 33 provinsi di
Indonesia diatas Provinsi Papua, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan
Nusa Tenggara Timur. Posisi ini tidak pernah bergerak naik untuk

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 103


Data Mencerdaskan Bangsa

menggeser posisi provinsi diatas terdekatnya. Provinsi yang


peringkatnya sedikit berada diatas Papua Barat adalah Provinsi
Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat.
Rendahnya peringkat Provinsi Papua Barat karena posisi
kabupaten/kota didalamnya juga relatif rendah. Sebagian besar
kabupaten di Papua Barat mempunyai peringkat diatas 400 dari
sekitar 450-an kabupaten/kota. Posisi terbaik IPM di Provinsi Papua
Barat tahun 2006-208 selalu ditempati oleh Kota Sorong dan posisi
terburuk ditempati oleh Kabupaten Raja Ampat.
Tabel 5.1 IPM dan Peringkat Nasional IPM Menurut 
Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2006‐2008 
 
IPM Peringkat Nasional
Kabupaten/Kota
2006 2007 2008 2006 2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Fak-Fak 68,31 69,58 70,24 284 242 -
Kaimana 67,11 68,80 69,27 335 295 -
Teluk Wondama 62,48 63,40 64,79 432 430 -
Teluk Bintuni 62,93 64,40 65,29 429 421 -
Manokwari 63,04 64,17 65,46 428 423 -
Sorong Selatan 63,88 65,38 65,77 419 410 -
Sorong 66,20 67,21 67,82 371 360 -
Raja Ampat 62,27 62,47 63,57 433 437 -
Kota Sorong 74,89 75,59 76,52 41 36 -
Papua Barat 66,08 67,28 67,95 30 30 30

Sumber: Diolah dari Susenas 2006-2008

5.3 Perbandingan Absolut Antar Daerah Dalam Diagram Kuadran

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 104


Data Mencerdaskan Bangsa

Keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh


keberhasilan dalam pembangunan ekonomi. Keberhasilan ekonomi yang
diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tidak selamanya efisien
bila tidak dibarengi dengan distribusi pendapatan yang merata.
Kemunculan paradigma pembangunan manusia seakan memberi
pencerahan kepada pemerintah bahwa keberhasilan pembangunan tidak
hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi tapi pencapaian kualitas
sumber daya manusia dari sisi kesehatan, pendidikan dan kemampuan
ekonomi juga wajib diperjuangkan. Baik pembangunan ekonomi maupun
pembangunan manusia mestinya berjalan secara sinergis untuk
mewujudkan tujuan akhir yaitu mensejahterakan kehidupan masyarakat.
Gambaran keberhasilan pembangunan ekonomi dan pembangunan
manusia di Papua Barat dapat diketahui dengan cara membuat diagram
kuadran dengan mengkombinasikan capaian nilai IPM sebagai
perwakilan keberhasilan pembangunan manusia dan sebagai
representasi dari pembangunan ekonomi digunakan indikator
pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita. Pertumbuhan ekonomi yang
dipakai adalah atas dasar harga konstan 2000 tanpa menyertakan
subsektor migas (tanpa migas) sedangkan PDRB per kapita yang
digunakan adalah PDRB per kapita atas dasar harga berlaku tanpa
migas.

5.3.1 IPM Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Diagram kuadran yang pertama adalah mengkombinasikan


antara capaian IPM dengan pertumbuhan ekonomi. Benchmark yang

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 105


Data Mencerdaskan Bangsa
B

d
digunakan adalah niilai agregat IPM Proovinsi Papua Barat dan
d nilai
a
agregat pertumbuhann ekonomi Provinsi P
Papua Barat.
Pembentukan kuadran merupakan perpotongan antaraa sumbu
a
absis atau sumbu X (IPM) dan sumbbu ordinat atau suumbu Y

20

Tlk Wondama

16

Teluk Bintuni
12

Sorongg  Sltn
Kota So
orong
Raja Ampat
8 Mano
okwari Kaimana
Fakfaak
Sorong
4
60 64 68 72 76

(
(pertumbuhan ekonnomi) dari angka agregat provinsii. Dari
p
perpotongan dua suumbu koordinat terseebut diperoleh empaat buah
a
area yang menjadi kuadran-kuadran. Dimana kuadran-kkuadran
t
tersebut terbagi menjjadi beberapa kriteriaa:
K
Kuadran I : IPM tinggi dan pertumbuhhan ekonomi tinggi
K
Kuadran II : IPM rendah dan pertumbbuhan ekonomi tinggi
K
Kuadran III : IPM rendah dan pertumbbuhan ekonomi rendaah
K
Kuadran IV : IPM tinggi dan pertumbuhhan ekonomi rendah

Gambar 5.3 adalah


a diagram kuaddran yang menggam
mbarkan
k
kombinasi capaian nilai
n IPM tahun 2006 dan pertumbuhan ekonomi
e

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 106
Data Mencerdaskan Bangsa
B

t
tahun 2006. Pada kondisi
k tahun 2006 yyang menjadi startingg point,
K Sorong dan Kabupaten Kaimana beerada di kuadran I. Kuadran
Kota K
i mempunyai ciri IPM tinggi dan pertumbuhan ekonomii tinggi.
ini
S
Sementara di kuadrran II yang mempuunyai ciri IPM rendah dan
p
pertumbuhan ekonoomi tinggi ditempaati oleh lima kabbupaten
s
sekaligus, yaitu Kabupaten Teluk Wondaama, Teluk Bintuni, Sorong

20
0
Teluk 
Wondama

15
Teluk Binttuni

10
0 Manokwari

Sorrong Sltn Kaimana Kota Sorong


Fakkfak
Raja Ampat Sorong
5
60 66 72 78

S
Selatan, Manokwari, dan Raja Ampat. D
Di kuadran III, tidak satupun
s
k
kabupaten/kota yangg berada di kuadran ini. Hal ini mengindikasikan
s
situasi yang menggeembirakan, karena kkuadran ini mempunnyai ciri
I
IPM rendah dan pertumbuhan
p ekonom
mi rendah. Selanjutnya di
k
kuadran IV yang meempunyai karakterisstik capaian IPM tingggi dan
p
pertumbuhan ekonom
mi rendah ditempati ooleh Kabupaten Soroong dan
K
Kabupaten Fakfak.

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 107
Data Mencerdaskan Bangsa

Kondisi pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia


mengalami perubahan di tahun 2007. Seluruh kabupaten/kota
mengalami pertumbuhan yang positif dalam capaian IPM dan
pertumbuhan ekonomi, membuat nilai benchmark menjadi lebih
tinggi dari tahun 2006. Hal ini mempengaruhi pergeseran posisi
masing-masing kabupaten/kota dalam diagram kuadran.
Berdasarkan Gambar 5.4, kuadran I yang mempunyai ciri
capaian IPM tinggi dan pertumbuhan ekonomi tinggi ternyata tidak
ditempati oleh satupun kabupaten/kota. Hal ini berarti terjadi
kemunduran dalam capaian pembangunan manusia dan
pembangunan ekonomi secara simultan. Semula kuadran I ditempati
oleh Kota Sorong dan Kabupaten Kaimana, sekarang kedua daerah
tersebut bergeser posisi ke kuadran IV. Kuadran II keadaannya
hampir sama dengan kondisi tahun 2006 kecuali terjadi pergeseran
Kabupaten Raja Ampat ke kuadran III.
Sementara di kuadran III yang semula kosong, sekarang
ditempati oleh Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Sorong.
Pergeseran Kabupaten Raja Ampat ke kuadran III tentu saja sebuah
kemunduran karena meskipun capaian IPM dan pertumbuhan
ekonominya tumbuh secara positif tetapi mengalami perlambatan
dari tahun sebelumnya. Begitu pula dengan Kabupaten Sorong,
meskipun ekonominya mengalami pertumbuhan namun capaian
IPM-nya mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Di kuadran IV ditempati oleh Kabupaten Kaimana, Kabupaten Fakfak
dan Kota Sorong. Setelah sebelumnya di tahun 2006 Kota Sorong
Dan Kabupaten Kaimana berada di kuadran I, sekarang posisinya

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 108


Data Mencerdaskan Bangsa
B

b
bergeser ke kuadraan IV. Pergeseran pada Kota Sorong terjadi
k
karena terjadi perlam
mbatan pada pertumbuhan ekonomi, seddangkan
p
pada Kabupaten Kaimana terjadi karenaa pertumbuhan ekonnominya
m
masih kalah tinggi dengan
d pertumbuhaan ekonomi Provinsi Papua
B
Barat sebagai bennchmark. Oleh karrena itu posisi kooordinat
K
Kabupaten Kaimanaa masih berada dibawah garis pertum
mbuhan
e
ekonomi benchmark..

18

Teluk 
15 Wondamaa

Teluk Binttuni
12

Manokkwari
9
Gambarr 5.5 Sebaran  Sorong
Posisi Kabupaten/Kota  Raja Ampat Fakfak
Kota Sorong
6
Menuurut IPM dan  Kaimana
Pertumbuh han Ekonomi  Soron
ng Sltn
di Provinsi Papua Barat 
3
Tahun 2008 
60 65 70 75 80

Gambar 5.5 meenjelaskan posisi abbsolut kabupaten/kotaa tahun


2
2008 pada diagram kuadran. Di tahun 2008 tidak banyakk terjadi
p
perubahan yang siggnifikan. Kuadran I yang memiliki karakteristik
c
capaian IPM tinggi dan pertumbuhan ekonomi tinggi konndisinya
m
masih sama seperti pada tahun 2007, tiddak satupun kabupatten/kota
m
menempati kuadran ini. Artinya bahwaa selama tahun 20007-2008
t
tidak satupun kaabupaten/kota yanng mampu menjaalankan

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 109
Data Mencerdaskan Bangsa

pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia secara simultan


yang efisien karena tidak mampu untuk mengimbangi pertumbuhan
dan capaian Provinsi Papua Barat.
Di kuadran II posisinya hampir sama dengan kondisi pada
tahun 2007, perbedaannya posisi Kabupaten Sorong Selatan
sekarang telah mengalami pergeseran ke kuadran III. Pergeseran
Kabupaten Sorong Selatan disebabkan oleh perlambatan
pertumbuhan ekonomi yang hampir setengahnya dibandingkan
dengan tahun 2007. Bersama dengan Kabupaten Sorong Selatan
terdapat Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Sorong yang
posisinya tidak bergeser dari dari kuadran III dari tahun 2007.
Kuadran IV pada tahun 2008 tidak mengalami perubahan posisi
dibandingkan tahun 2007. Kuadran ini masih ditempati oleh
Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana dan Kota Sorong.
Perubahan posisi kabupaten/kota yang terjadi pada tahun 2008
hanya terjadi di Kabupaten Sorong Selatan, itu pun mengalami
pergerakan ke arah yang lebih buruk dari posisi tahun sebelumnya.
Hal ini mengandung arti bahwa seluruh kabupaten/kota tidak
satupun yang mengalami perubahan ke posisi yang lebih baik dalam
distribusi antar kuadran. Namun kondisi ini bukan berarti seluruh
kabupaten/kota tidak mengalami kemajuan dalam pembangunan
ekonomi dan pembangunan manusia karena perubahan posisi antar
kuadran kabupaten/kota sangat dipengaruhi oleh besarnya IPM dan
pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat yang digunakan
sebagai benchmark.

5.3.2 IPM Terhadap PDRB Per Kapita

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 110


Data Mencerdaskan Bangsa

Diagram kuadran yang kedua adalah mengkombinasikan


antara capaian IPM dengan PDRB per kapita. Benchmark yang
digunakan adalah nilai agregat IPM Provinsi Papua Barat dan nilai
agregat PDRB per kapita Provinsi Papua Barat.
Pembentukan kuadran merupakan perpotongan antara sumbu
absis atau sumbu X (IPM) dan sumbu ordinat atau sumbu Y (PDRB
per kapita) dari angka agregat provinsi. Dari perpotongan dua sumbu
koordinat tersebut diperoleh empat buah area yang menjadi
kuadran-kuadran. Dimana kuadran-kuadran tersebut terbagi menjadi
beberapa kriteria:
Kuadran I : IPM tinggi dan PDRB per kapita tinggi
Kuadran II : IPM rendah dan PDRB per kapita tinggi
Kuadran III : IPM rendah dan PDRB per kapita rendah
Kuadran IV : IPM tinggi dan PDRB per kapita rendah

Gambar 5.6 Sebaran 
Posisi Kabupaten/Kota 
Menurut IPM dan PDRB 
per Kapita di Provinsi 
Papua Barat Tahun 2006 

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 111


Data Mencerdaskan Bangsa
B

Gambar 5.6 menjelaskan possisi kabupaten/kotaa yang


t
terdistribusi ke dalam
m area-area kuadran dengan mengkombinasikan
a
antara capaian IPM dengan PDRB per kkapita di tahun 2006. Tahun
2
2006 menjadi starrting point untuk aanalisis kuadran teerhadap
p
pergeseran-pergeser
ran posisi kabupatenn/kota dibandingkan dengan
t
tahun-tahun berikutnya.
Kuadran I meemiliki ciri capaian IPM tinggi dan PDRB per

16
6

Teluk Bintu
uni Fakfaak
12
2
Kaimana
ong
Kota Soro

Manookwari Sorong
8 Raja Ampat
Teluk 
Wondama
Soron
ng Sltn

4
60 64 68 72 76

k
kapita tinggi. Kuaddran ini ditempati oleh Kabupaten Fakfak,
K
Kabupaten Kaimanaa dan Kota Sorong. Kuadran II hanya diitempati
o Kabupaten Teluuk Bintuni. Sementaraa yang berada di Kuaadran III
oleh
a
adalah Kabupaten Manokwari,
M Kabupateen Raja Ampat, Kabbupaten
T
Teluk Wondama, dan Kabupaten Sorongg Selatan. Kuadran III yang
m
mempunyai karakterristik yang paling bburuk justru paling banyak
d
ditempati, ini meruppakan indikasi yangg kurang baik dari proses
p
pembangunan ekonomi dan pembanguunan manusia. Kuaddran IV

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 112
Data Mencerdaskan Bangsa
B

s
sama halnya seperti kuadran II hanya ditempati oleh satu daerah
s yaitu Kabupatenn Sorong.
saja

Berdasarkan Gambar 5.7 terlihhat bahwa hanya sedikit


p
perbedaan dibandinngkan dengan tahhun 2006. Posisi absolut
k
kabupaten/kota tahuun 2007 tidak banyyak mengalami perggeseran
b di dalam kuadraan maupun antar kuaadran. Kuadran I konndisinya
baik
m
masih sama dibanddingkan dengan tahuun 2006. Kuadran I masih
t
tetap diduduki oleh Kabupaten Fakfak,, Kabupaten Kaimaana dan
K Sorong. Kuadraan II juga posisinya ttidak mengalami perggeseran
Kota
Gambarr 5.7 Sebaran  t
terhadap tahun 20066. Kuadran ini masihh ditempati oleh Kabbupaten
Posisi Kabupaten/Kota 
Menurut IPPM dan PDRB 
per Kapitta di Provinsi 
16
6
Papua Baratt Tahun 2007 
Teluk Binttuni
14
4 Fakkfak
Kaimaana
12 Kota Sorongg

0
10 Manokwari
Tlk Wondama
Sorong
8
Raja Ampat
Sorong 
6 Selatan

4
60 66 72 78

T
Teluk Bintuni. Perbbedaan kondisi kuaadran hanya terjaddi pada
k
kuadran III dan kuadran IV. Kuadran III yang merupakan kuadran
k
d
dengan karakteristikk terburuk pada taahun 2007 justru semakin
s
b
bertambah penghuniinya. Kabupaten Sorrong yang semula beerada di

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 113
Data Mencerdaskan Bangsa

kuadran IV mengalami pergeseran ke kuadran III. Kuadran III tahun


2007 ditempati oleh lima kabupaten sekaligus, yaitu Kabupaten
Manokwari, Teluk Wondama, Raja Ampat, Sorong Selatan dan
Kabupaten Sorong.
Kuadran IV yang semula ditempati oleh Kabupaten Sorong
pada tahun 2006 sekarang tidak ada yang menempati. Sebenarnya
Kabupaten Sorong mengalami percepatan pertumbuhan dalam
capaian IPM, tetapi yang menjadi penyebab terjadinya pergeseran
kabupaten tersebut ke kuadran III adalah pertumbuhan capaian IPM
Kabupaten Sorong tidak secepat pertumbuhan capaian IPM Provinsi
Papua Barat yang digunakan sebagai benchmark. Padahal posisi
capaian Kabupaten Sorong ketika tahun 2006 masih berada diatas
capaian IPM Provinsi Papua Barat, namun karena posisinya berada
dekat sekali dengan batas ambang benchmark maka ketika
benchmark bergerak lebih cepat akibatnya posisi Kabupaten Sorong
tersusul dan posisinya berbalik berada di bawah benchmark.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 114


Data Mencerdaskan Bangsa
B

19
9

Teluk Bintuni
16
6 Fakfak

Kaimana
Kota Sorong
13
3
Tlk Wondama
Manokwari
M
Sorong
10
0

Raja Ampat
Gambarr 5.8 Sebaran 
7
Posisi Kabu
upaten/Kota  Soro
ong Sltn
Menurut IPPM dan PDRB 
per Kapitta di Provinsi 
4
Papua Baratt Tahun 2008 
60 65 70 75 80

Sebaran posisi absolut antar kuaddran kabupaten/kotaa tahun


2008 tidak mengalami peerubahan dari kondiisi tahun 2007. Peruubahan-
perubbahan kecil hanya teerjadi dalam kuadraan, seperti contoh teerjadi di
Kabupaten Teluk Wondama. Kabupaten inni mengalami peninngkatan
B per kapita cukup signifikan, disam
PDRB mping itu juga menngalami
pertumbuhan capaian IP
PM. Posisi Kabupateen Teluk Wondamaa dalam
kuadrran III telah mendekati Kabupaten Mannokwari dalam hal capaian
c
PDRB
B per kapita, dan kedua
k kabupaten inii telah memiliki jaraak yang
sangaat dekat dengan bennchmark PBRB per kkapita sehingga mem
mpunyai
peluaang yang besar terjaddi pergeseran ke kuadran II tahun depan.

Indeeks Pembangunan Manusia


Ma Provinsi Papuaa Barat Tahun 20088 115
Data Mencerdaskan Bangsa

BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan
Situasi Pembangunan Manusia:
Kesehatan
1. Angka harapan hidup Provinsi Papua Barat dari tahun 2006-
2008 cenderung mengalami peningkatan.
2. Angka harapan hidup tertinggi di Kota Sorong sebesar 71,12
tahun dan terendah di Kabupaten Raja Ampat sebesar 65,43
tahun.
3. Indeks derajat kesehatan Provinsi Papua Barat Tahun 2008
sebesar 71,50 poin.
Pendidikan
1. Angka melek huruf selama periode 2006-2008 terus
menunjukkan peningkatan.
2. Peningkatan angka melek huruf hampir terjadi di seluruh
kabupaten/kota.
3. Perkembangan rata-rata lama sekolah selama periode 2006-
2008 meningkat dari 7,20 tahun pada tahun 2006 menjadi 7,65
tahun pada tahun 2007 dan menjadi 7,67 tahun pada tahun
2008. Meskipun demikian, rata-rata lama sekolah termasuk
rendah karena rata-rata lama sekolah hanya mencapai kelas 1
SMP.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 116


Data Mencerdaskan Bangsa

4. Indeks pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2008 sebesar


78,48 poin.
Kemampuan Daya Beli
1. Paritas daya beli Provinsi Papua Barat tahun 2008 adalah
sebesar Rp. 593.130,- meningkat seiring dengan semakin
tingginya kebutuhan hidup dibandingkan tahun 2007 yang
mencatat paritas daya beli sebesar Rp. 592.070,-.
2. Indeks paritas daya beli Tahun 2008 sebesar 53,88 poin.

Gambaran IPM Papua Barat Tahun 2008:


1. IPM Provinsi Papua Barat tahun 2008 meningkat dari tahun
sebelumnya.
2. Peningkatan IPM Provinsi Papua Barat disebabkan oleh
peningkatan ketiga dimensi IPM yaitu umur panjang,
pengetahuan, dan kemampuan daya beli.
3. IPM Provinsi Papua Barat tahun 2008 menempati peringkat 30
dari 33 provinsi di Indonesia.
4. IPM Provinsi Papua Barat termasuk dalam kategori menengah
atas dengan capaian 67,1 poin dalam skala 0 – 100.
5. IPM tertinggi di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat
tahun 2008 diraih oleh Kota Sorong dengan indeks 76,52 poin
dalam skala 0 – 100.
6. IPM terendah di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat
tahun 2008 diraih oleh Kabupaten Raja Ampat dengan indeks
63,57 poin dalam skala 0 – 100.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 117


Data Mencerdaskan Bangsa

7. Berdasarkan kriteria UNDP, kabupaten/kota di Provinsi Papua


Barat terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok menengah
bawah dan menengah atas.
8. Kelompok IPM menengah bawah terdiri dari Kabupaten
Manokwari, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, Teluk Wondama dan
Raja Ampat.
9. Kelompok IPM menengah atas terdiri dari Kota Sorong,
Kabupaten Sorong, Fakfak dan Kaimana.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 118


Data Mencerdaskan Bangsa

DAFTAR PUSTAKA

Bakrie, Aburizal, (2006), “Mengapa Pembangunan Manusia?” Kompas,


24 Mei 2006.

BPS. 2005. Indikator Statistik Bidang Sosial Menurut Jenis dan


Penggunaannya. Jakarta: Badan Pusat Statistik

--------. 2006. Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 Buku 2


(Kabupaten). Jakarta: Badan Pusat Statistik

--------. 2008. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2007. Jakarta : Badan


Pusat Statistik

--------, (1996), Indonesia Laporan Pembangunan Manusia 1996, Jakarta.

--------, (2001), Indonesia Laporan Pembangunan Manusia 2001, Jakarta.

---------, (2004), Indonesia Laporan Pembangunan Manusia 2004, Jakarta.

--------. 2006. Statistik Pendidikan 2006. Jakarta : Badan Pusat Statistik

--------, Bappenas, dan UNDP, (1990), Laporan Pembangunan Manusia


1990, Jakarta.

--------. 2007. Memahami Data Strategis yang Dihasilkan BPS. BPS:


Jakarta.

--------. 2008. Indeks Pembangunan Manusisa 2006-2007. BPS: Jakarta.

BPS Provinsi Papua Barat, (2008), Indeks Pembangunan Manusia


Provinsi Papua Barat Tahun 2007, Manokwari

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 119


Data Mencerdaskan Bangsa

--------. (2008), Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Barat


Tahun 2007, Manokwari

--------, (2008), Papua Barat dalam Angka Tahun 2008. BPS Provinsi
Papua Barat: Manokwari.

--------. 2008. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat


Menurut Lapangan Usaha 2008. BPS Provinsi Papua Barat:
Manokwari.

--------. 2008. Profil Kesehatan Provinsi Papua Barat Tahun 2007. BPS
Provinsi Papua Barat: Manokwari.

--------. 2008. Profil Pendidikan Provinsi Papua Barat Tahun 2007. BPS
Provinsi Papua Barat: Manokwari.

--------. 2007. Tingkat Keparahan Kemiskinan Provinsi Papua Barat 2007.


BPS Provinsi Papua Barat: Manokwari.

Depdiknas. 2005. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas

--------. 2006. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006


Tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar
Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantassan Buta
Aksara. Jakarta: Depdiknas.

--------. 2009. www.depdiknas.go.id

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan


Perencanaan Pembangunan Nasional. 2007. Laporan
Perkembangan Pencapaian Millenium Development Goal
Indonesia 2007. Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional: Jakarta.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 120


Data Mencerdaskan Bangsa

LAMPIRAN
 

Lampiran 1. Indikator dan Sumber Data Pendukung yang Digunakan


Dalam Penghitungan IPM

Indikator Sumber Data


(1) (2)
A. Kesehatan
1. Angka Harapan Hidup Susenas 2006-2008
2. Persentase Penduduk dengan Keluhan Kesehatan Susenas 2006-2008
3. Angka Kematian Bayi Susenas 2006-2008
4. Penolong Kelahiran Susenas 2006-2008
5. Persentase Balita yang Diimunisasi Susenas 2006-2008
6. Jumlah Tenaga Kesehatan Dinkes Papua barat 2008
7. Jumlah Sarana Kesehatan Dinkes Papua barat 2008
8. Persentase Penggunaan Fasilitas Air Minum Susenas 2006-2008
9. Persentase Penggunan fasilitas Tempat Buang Air Susenas 2006-2008
B. Pendidikan
1. Angka Melek Huruf Susenas 2006-2008
2. Rata-rata Lama Sekolah Susenas 2006-2008
3. Angka Partisipasi Sekolah Susenas 2006-2008
4. Tingkat Pendidikan Susenas 2006-2008
5. Angka Putus Sekolah Depdiknas 2008
6. Rasio-rasio Pendidikan Depdiknas 2008
7. Tingkat Kelulusan Siswa Depdiknas 2008
C. Perekonomian
1. PDRB ADHB dan ADHK PDRB 2008
2. PDRB per Kapita PDRB 2008
3. Pertumbuhan Ekonomi PDRB 2008
4. Struktur Ekonomi PDRB 2008

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 121


Data Mencerdaskan Bangsa

Lampiran 2. Konversi Tingkat Pendidikan Menjadi Rata-rata Lama


Sekolah

Lampiran 3. Skor Variabel Kualitas dan Fasilitas Rumah dalam


Penghitungan Paritas Daya Beli

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 122


Data Mencerdaskan Bangsa

Lampiran 4. Daftar Paket Komoditi yang Digunakan untuk Menghitung


Paritas Daya Beli

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 123


Data Mencerdaskan Bangsa

Lampiran 5. Rata-rata Jumlah Hari Sakit pada Penduduk yang Mengalami


Keluhan Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat
Tahun 2008.

Lama hari sakit (hari)


Kabupaten/kota Total
<= 3 4-7 8 - 14 > 15
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab. Fakfak 41,80 39,41 13,23 5,56 100,00
Kab. Kaimana 51,44 32,90 9,78 5,89 100,00
Kab. Teluk Wondama 37,94 47,17 8,52 6,38 100,00
Kab. Teluk Bintuni 67,99 28,42 1,96 1,63 100,00
Kab. Manokwari 57,06 34,18 2,41 6,35 100,00
Kab. Sorong Selatan 82,61 14,76 2,62 0,00 100,00
Kab. Sorong 51,76 38,94 2,32 6,98 100,00
Kab. Raja Ampat 60,09 38,43 1,49 0,00 100,00
Kota Sorong 47,40 41,09 6,91 4,60 100,00
Prov. Papua Barat 49,68 38,89 6,36 5,07 100,00

Lampiran 6. Persentase Cara Pengobaan yang Dilakukan Penduduk yang


Mengalami Keluhan Kesehtan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua
Barat Tahun 2008.

Καβυπατεν/Κοτ Πενγοβαταν Σ Πενγοβαταν κε Σαρανα Κ


Τοταλ
α ενδιρι εσεηαταν
(1) (2) (3) (4)
Καβ. Φακφακ 64,34 35,66 100,00
Καβ. Καιμανα 60,45 39,55 100,00
Καβ. Τελυκ Ωο
61,91 38,09 100,00
νδαμα
Καβ. Τελυκ Βιν
43,07 56,93 100,00
τυνι
Καβ. Μανοκωα
66,60 33,40 100,00
ρι
Καβ. Σορονγ Σε
57,02 42,98 100,00
λαταν
Καβ. Σορονγ 70,58 29,42 100,00
Καβ. Ραϕα Αμπ
41,97 58,03 100,00
ατ

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 124


Data Mencerdaskan Bangsa

Κοτα Σορονγ 67,24 32,76 100,00


Προϖ. Παπυα
61,25 38,75 100,00
Βαρατ

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat Tahun 2008 125