Anda di halaman 1dari 3

Etiologi

Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan factor autonomy, imunologis,


infeksi, endokrin dan psikologis dalam berbagai tingkat pada berbagai individu. Pengendalian
diameter jalan napas dapat dipandang sebagai suatu keseimbangan gaya neural dan humoral.
Aktivitas bronkokonstriktor neural diperantarai oleh bagian kolinergik system saraf otonom.
Ujung sensoris vagus pada epitel jalan napas, disebut reseptor batuk atau iritan, tergantung pada
lokasinya, mencetuskan reflex arkus cabang aferens, yang pada ujung eferens merangsang
kontraksi otot polos bronkus. Neurotransmisi peptide intestinal vasoaktif (PIV) memulai
relaksasi otot polos bronkus. PIV mungkin merupakan suatu neuropeptide dominan yang
dilibatkan pada pemeliharaan terbukanya jalan napas. Factor humoral membantu bronkodilatasi
termasuk katekolamin endogen yang bekerja pada reseptor beta adrenergic menghasilkan
relaksasi otot polos bronkus. Bila substansi humoral local seperti histamine dan leukotriene
dilepaskan melalui reaksi yang diperantarai proses imunologis, mereka menghasilkan
bronkokonstriksi, dengan cara bekerja langsung pada otot polos atau dengan ransangan reseptor
sensoris vagus. Adenosine yang dihasilkan setempat, yang melekat pada reseptor spesisfik dapat
turut menyebabkan bronkokonstriksi. Metilsantin merupakan antagonis adenosine secara
kompetitif.9
Asma dapat disebabkan oleh kelainan fungsi reseptor adenilat siklase beta adrenergic,
dengan penurunan respons adrenergic. Laporan penurunan jumlah reseptor beta adrenergic pada
leukosit penderita asma dapat memberi dasar structural hiporesponsivitas terhadap beta agonis.
Cara lain, bertambahnya aktivitas kolinergik pada jalan napas diusulkan sebagai defek pada
asma, kemungkinan diakibatkan oleh beberapa kelainan pada reseptor iritan, baik instrinsik
ataupun didapat, yang pada penderita asma agaknya mempunyai nilai ambang yang rendah
dalam responsnya terhadap ransangan, daripada individu normal. Tida ada teori yang cocok
dengan semua data. Pada penderita-penderita perseorangan biasanya sejumlah factor turut
membantu aktivitas proses asmatis pada berbagai tingkat.9

Epidemiologi

Asma adalah penyebab tunggal terpenting untuk morbiditas penyakit pernapasan dan
menyebabkan 2000 kematian per tahun. Prevalensinya, sekarang sekitar 10-15%, semakin
meningkat di masyarakat Barat. Insidensi mengi tertinggi pada anak-anak (satu dari tiga anak
mengalami mengi dan satu dari tujuh anak sekolah terdiagnosis asma). Asma dikelompokkan
sebagai:10
-

Ekstrinsik : asma anak-anak, berhubungan dengan atopi. Seringkali seumbuh saat

memasuki usia remaja, walaupun bisa timbul kembali saat dewasa


Intrinsic : berkembang dalam tahap kehidupan selanjutnya, lebih jarang disebabkan oleh

alergi, bisa lebih progresif dan respons terhadap terapi tidak begitu baik
Berhubungan dengan pekerjaan : bila berhubungan dengan allergen industry/tempat
kerja.10

Diagnosa banding
PPOK: Bronkitis Kronik dan Emfisema
Penyakit paru obstruktif kronik adalah istilah yang disadari kurang tepat dan digunakan untuk
mencirikan suatu proses yang ditandai dengan adanya bronkitis kronik dan emfisema yang dapat
menyebabkan terjadinya obstruksi saluran napas. Obstruksi mungkin sebagian reversibel.
Meskipun sering dianggap sebagai proses yang independen, bronkitis kronik dan emfisema
memiliki faktor etiologis yang sama dan sering dijumpai pada satu pasien. 7
a.

Bronkitis Kronik

Bronkitis kronis didefinisikan sebagai riwayat klinis batuk produktif selama 3 bulan
setahun untuk 2 tahun berturut-turut. Dispnea dan obstruksi saluran napas, sering dengan
elemen reversibilitas, terjadi secara intermitten atau terus menerus. Merokok sejauh ini adalah
kausa utama, meskipun iritan inhalan lain mungkin dapat

menimbulkan proses yang sama.

Proses patologis yang predominan adalah proses peradangan saluran napas, disertai penebalan
mukosa dan hipersekresi mukus sehingga terjadi obstruksi difus. 8
Pada bronkitis kronik, terdapat sejumlah kelainan patologis saluran napas, meskipun
tidak ada yang benar-benar khas untuk penyakit ini. Gambaran klinis bronkitis kronik dapat
dikaitkan dengan cedera dan penyempitan kronik saluran napas.
Gambaran patologis utama adalah peradangan saluran napas, terutama saluran napas
yang halus, dan hipertrofi kelenjar saluran napas besar, disertai peningkatan sekresi mukus dan

obstruksi saluran napas oleh mukus tersebut. Mukosa saluran napas biasanya disebuki oleh sel
radang , termasuk leukosit polimorfonukleus dan limfosit. Peradangan mukosa dapat secara
substansial mempersempit lumen bronkus. Akibat

peradangan kronik, lapisan normal epitel

kolumnar berlapis semu bersilia sering diganti oleh bercak-bercak metaplasia skuamosa. Tanpa
adanya epitel bronkus bersilia normal, fungsi pembersihan oleh mukosilia sangat berkurang atau
bahkan lenyap sama sekali. 8