Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
Puisi Baru. Dengan pembahasan yang sederhana agar dapat mudah
dimengerti dan pahami. Dalam waktu yang singkat ini mungkin kami tidak
dapat mencari bahan dan materi yang memuaskan tapi insya Allah dapat
memberikan manfaat yang membacanya, amin.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas bahasa Indonesia dan
untuk

disajikan

kepada

pembaca

agar

pembaca

menambah

ilmu

pengetahuan mengenai puisi baru. Kami menyadari bahwa penyusunan


makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran
yang membangun akan kami terima dengan senang hati.

Medan, 12 September 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
1.2Tujuan
1.3Manfaat
1.4Metodologi
BAB II PERMASALAHAN
BAB III PEMBAHASAN
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Puisi selalu

memduduki tempat yang tinggi dalam setiap kebudayaan. Pada


awalnya istilah puisi berasal dari kata Yunani, poites yang berarti
pembangun, pembentuk, dan pembuat. Selanjutnya, makna kata
tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya
disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak,
dan kadang-kadang kata kiasan. Puisi juga disebut karangan terikat.
Pada zaman dahulu puisi menjadi bagia hidup dari masyarakat
tradisonal berupa puisi lisan seperti mantra dan pantun. Berdasarkan
kurun waktu penciptaannya, puisi dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Puisi lama, puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Terdiri dari pantun, karmina, seloka,
syair, talibun, gurindam dan sebagainya.
2. Puisi baru, puisi yang tidak terikat oleh aturan. Terdiri dari balada, himne, ode,
epigram, romansa, kuatrin, terzina dan sebagainya.
Puisi baru sering menjadi bahan perbincangan di kalangan kaum terpelajar saat ini. Puisi
modern mengalami perkembangan yang cukup berarti, ide-ide yang dituangkan dalam puisi
modern sangat beragam serta tema-tema yang digunakan lebih kompleks. Seiring dengan
perkembangan zaman saat ini, puisi modern menjadi suatu pengetahuan yang harus dimiliki
oleh masyarakat indonesia sebagai modal untuk melestarikan suatu pengetahuan yang sudah
diwariskan oleh nenek moyang kita.
Menurut Jalil (1990) puisi modern muncul sejak kehadiran Jepang di Indonesia.
Walaupun kehadiran Jepang di Indonesia memberikan kesengsaraan bagi masyarakat, namun
bagi penyair memberikan kandungan keuntungan yang sangat besar, yaitu adanya kebebasan
menggunakan bahasa indonesia. Kebebasan menggunakan bahasa Indonesia oleh penyair,
digunakan sebagai alat untuk menghembuskan nafas kebencian pada Jepang. Penyair

angkatan ini dikategorikan sebagai penyair angkatan 1945, dan karya-karya puisinya
termasuk dalam kelompok puisi modern.
Puisi pada umumnya merupakan luapan ekspresi perasaan seorang sastrawan yang
dituangkan ke dalam kata-kata yang indah. Kata-kata tersebut yang nantinya mampu
membuat pembaca terhipnotis oleh keindahannya. Namun dengan adanya kebebasan inilah
para sastrawan sudah jarang yang mempertimbangkan pesan atau isi dari puisi tersebut,
bahkan tidak sedikit dari puisi modern yang temanya tentang sindiran atau yang lainnya yang
sangat sedikit sekali mengandung pesan moral yang mendidik.
Pengetahuan saja belum cukup untuk dapat memahami suatu karya sastra. Pengetahuan
itu perlu diterapkan dalam kenyataan misalnya dengan mencoba membuat puisi kita bisa
aplikasikan dengan menerapkan teori yang telah kita dapatkan secara langsung. Hadirnya
suatu puisi modern ini memberikan suatu kekayaan tersendiri yang dimiliki oleh karya sastra
pada masa kini. Hal-hal yang akan diuraikan secara terperinci mengenai pengertian puisi
modern, ciri-ciri puisi modern dan macam-macam puisi modern.

1.2

Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

1.3

Tujuan dari penulisan makalah mengenai Puisi Baru ini adalah sbb:
Mengetahui apa yang dimaksud dengan puisi baru
Mengetahui ciri-ciri puisi baru
Mengetahui jenis-jenis atau bentuk-bentuk dari puisi baru
Mampu membedakan antara puisi lama dan puisi baru
Memahami bagaimana terbentuknya puisi baru di Indonesia

Manfaat
Beberapa manfaat dalam penyusunan makalah ini antara lain:
1. Melatih kreatifitas kami sebagai siswa dalam menuangkan ide-idenya tentang
suatu kajian atau suatu topik. Kami juga secara tidak langsung sudah melatih
kemampuan berpikir secara logis-sistematis, kemampuan berbahasa dalam suatu
karya tulis, dan kemampuan menganalisis-kritik.
2. Karya tulis atau makalah ini tidak hanya bermanfaat untuk penyusun saja, tetapi
juga bermanfaat untuk para pembaca.

1.4

Metodologi

A. Alat Pengumpulan Data


1. Metode yang digunakan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskriptif.
Suatu metode yang dapat menggambarkan suatu fenomena dari suatu keadaan
tertentu baik yang berupa keadaan sosial, sikap, pendapat, dll. Dengan metode
deskriptif ini juga bisa diketahui perbedaan-perbedaan dan dapat menemukan
sebab-sebab dari suatu akibat.
2. Pendekatan penelitian.
Dalam penelitian menyusun makalah ini, pendekatan penelitian yang kami
gunakan

adalah

pendekatan

kualitatif.

Pendekatan

kualitatif

ini

lebih

mengutamakan kualitas data.

B. Teknik Pengumpulan Data


Dalam menyusun makalah ini, untuk mendapatkan data dan informasi yang
diperlukan, kami menggunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka atau literatur ini
dilakukan dengan cara mendapatkan data dari buku dan berbagai artikel dari internet yang
menurut kami dapat mendukung makalah ini.
Berikut adalah berbagai referensi yang kami jadikan sebagai acuan dalam menyusun
makalah mengenai puisi baru ini :
1. Buku Kesusastraan Sekolah
Penulis : Asul Wiyanto
Buku ini menjelaskan tentang bentuk-bentuk dan hakikat dari puisi baru.
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi.
Dalam artikel ini dijelaskan tentang pengertian puisi baru dan bentukbentuknya.

3. http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/23/pengertian-macam-macam-dancontoh-puisi-503626.html

4. http://www.bimbingan.org/sejarah-puisi-baru.html

BAB II

PERMASALAHAN

Judul

: Puisi Baru

Rumusan masalah

Apa yang dimaksud dengan puisi baru?


Apa saja ciri-ciri puisi baru?
Apa saja bentuk-bentuk puisi baru?
Apa perbedaan puisi baru dan puisi lama?
Apa saja contoh-contoh dari puisi baru?
Apa yang menyebabkan terbentuknya puisi baru?

BAB III
PEMBAHASAN

Puisi baru merupakan jenis puisi yang bentuknya bebas Jenis puisi modern tidak
lagi terikat oleh aturan jumlah baris, rima atau ikatan lain yang biasa digunakan
pada puisi lama (Suroto, 1989: 58). Menurut Sutan Takdir Alisyahbana (dalam
Suroto, 1989: 40), puisi baru adalah puisi-puisi yang timbul ketika masyarakat
telah mendapat pengaruh kebudayaan dunia, jadi tidak hanya kebudayaan yang
berasal dari Barat tetapi juga kebudayaan Rusia, Perancis, Cina dan lain-lain.
Puisi baru atau puisi bebas muncul pada angkatan 45, dipelopori oleh Chairil
Anwar. Puisi baru atau puisi bebas tidak mengutamakan bentuk atau banyak
baris dalam satu bait dan irama atau persajakan tetapi lebih mengutamakan isi
puisi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi baru adalah puisi yang tidak lagi
terikat oleh aturan jumlah baris, lebih mengutamakan isi serta puisi modern ini
mendapat pengaruh kebudayaan dunia.

Adapun ciri ciri puisi baru, yaitu:

Bentuk dan isinya rapi, bebas dan simetris


Mempunyai persajakan akhir (yang teratur)
Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain
Sebagian besar puisi empat seuntai
Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) 4-5 suku kata.
Prosa baru dinamis (selalu berubah dengan perkembangan masyarakat)
Masyarakat sentris (mengambil bahan dan kehidupan sehari-hari)
-Pengarangnya diketahui dengan jelas

Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru, yaitu:
-Puisi lama terikat pada aturan tata bahasa sedangkan puisi baru tidak terikat pada aturan
apapun

-Puisi lama tidak menyebutkan nama pengarang sedangkan puisi baru nama pengarangnya
disebutkan
-Puisi lama dibicarakan dari mulut ke mulut sedangkan puisi baru didistribusikan dalam
sebuah buku
-Puisi baru lebih bebas dari pada puisi lama
-Puisi lama terikat pada rima sedangkan puisi baru tidak

Berdasarkan isinya, puisi baru dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti berikut ini.

a. Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 bait, masing-masing
dengan 8 larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi
a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait
berikutnya.
Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Balada Matinya Seorang
Pemberontak.

b. Himne adalah puisi baru yang berisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan,
tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi
berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu
yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
Contoh:
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat nama-Mu penuh seluruh
Cahayamu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Tuhanku
Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu


Biar susah sungguh
Mengingat nama-Mu penuh seluruh
Cahayamu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
(Chairil Anwar)

c. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi
(metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung
baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Contoh:
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantun keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)

d. Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani
epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran
untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Contoh:
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)

e. Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis
Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta
kasih mesra.
f. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang
mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena
kematian/kepergian seseorang.
Contoh:
Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)

g. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti
sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas
pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim, dan lain-lain.
Contoh:
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
(WS Rendra)

Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:


a. Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
Contoh:
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

b. Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).
Contoh:
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bahgia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Sanusi Pane)

c. Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua


Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d. Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

e. Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Contoh:
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung gemunung bagus rupanya


Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Mohammad Yamin)

f. Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris.
Cth:
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

g. Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait
pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta
berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara. Jadi
soneta adalah puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari negeri Belanda
diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itulah mereka berdualah
yang dianggap sebagai Pelopor/Bapak Soneta Indonesia. Bentuk soneta Indonesia tidak
lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan
dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas
baris).
Contoh:
Gembala
Perasaan siapa ta kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )

Tiada berbaju buka kepala ( a )


Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

Ada beberapa macam puisi baru yang dikemukakan oleh Waluyo


(dalam Suroto, 1989: 74) puisi-puisi tersebut adalah sebagai berikut.
a. Puisi kamar, ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu
dua orang pendengar saja di kamar.
b. Puisi auditorium, ialah puisi yang cocok untuk dibaca di auditorium,
di mimbar yang jumlah pendengarnya bisa ratusan orang.
c. Puisi fisikal, puisi yang bersifat realitas artinya menggambarkan
kenyataan apa adanya.
d. Puisi platonik, ialah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang
bersifat spiritual kejiwaan.
e. Puisi metafisikal, ialah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak
pembaca untuk merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan.
f.Puisi subjektif, ialah puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran,
perasaan dan suasana dalam diri penyair sendiri.
g. Puisi objektif, ialah puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri
penyair itu sendiri.
h. Puisi diafan,

ialah

puisi

yang

sedikit

sekali

menggunakan

pengimajinasian kata-kata yang digunakan sangat konkret dan bahasa


bersifat figuratif, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari.
i. Puisi prismatis, ialah puisi yang memunculkan berbagai macam
makna berkat kemampuan penyair yang mampu menciptakan majas,
versifikasi, diksi dan pengimajinasian secara serasi dan seimbang. Dengan

demikian puisi tersebut seolah memancarkan sinar makna dari sebuah


prisma.
j. Puisi parnaisan, ialah puisi yang mengandung nilai-nilai keilmuan.
Puisi ini diciptakan dengan dasar pertimbangan ilmu dan pengetahuan
bukan inspirasi.
k. Puisi inspiratif, ialah puisi yang diciptakan berdasarkan mood atau
passion.

Suasana batin benar-benar terlibat dalam puisi ini. Misalnya,

Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar.


l. Puisi demonstratif, ialah puisi yang melukiskan dan merupakan hasil
refleksi demonstrasi. Puisi jenis ini pada umumnya bersifat kelompok, jadi
bukan menyuarakan gejolak individu. Misalnya puisi demonstrasi yang
muncul tahun 66 yang berjudul Hati Nurani karangan Sandy Tyas.
m. Puisi pamflet, ialah puisi yang mengungkapkan protes sosial. Puisi
jenis satire masuk dalam jenis puisi ini.

Menurut Jalil (1990) puisi modern muncul sejak kehadiran Jepang di Indonesia.
Walaupun kehadiran Jepang di Indonesia memberikan kesengsaraan bagi masyarakat, namun
bagi penyair memberikan kandungan keuntungan yang sangat besar, yaitu adanya kebebasan
menggunakan bahasa indonesia. Kebebasan menggunakan bahasa Indonesia oleh penyair,
digunakan sebagai alat untuk menghembuskan nafas kebencian pada Jepang. Penyair
angkatan ini dikategorikan sebagai penyair angkatan 1945, dan karya-karya puisinya
termasuk dalam kelompok puisi modern. Namun dengan adanya kebebasan inilah para
sastrawan sudah jarang yang mempertimbangkan pesan atau isi dari puisi tersebut, bahkan
tidak sedikit dari puisi modern yang temanya tentang sindiran atau yang lainnya yang sangat
sedikit sekali mengandung pesan moral yang mendidik.

BAB IV
PENUTUP

4.1

Kesimpulan
Dari semua yang telah kami paparkan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa puisi

baru adalah puisi yang tidak terlalu terikat oleh aturan-aturan tertentu. Puisi baru memiliki
jenis-jenis yang beragam dengan berdasarkan bentuk dan isinya. Penyair mulai menggunakan

puisi baru pada saat penjajahan Jepang di Indonesia karena Jepang memperbolehkan
menggunakan bahasa Indonesia dengan bebas. Hal ini dijadikan penyair sebagai kesempatan
meluapkan kebencian mereka terhadap penjajahan Jepang. Sehingga puisi baru pada saat itu
lebih bersifat sebagai sindiran dan tidak mendidik. Penyair pada masa itu dinamakan
angkatan 1945.

4.2

Saran

Dengan tersusunnya makalah ini kami berharap para pembaca lebih memperhatikan puisipuisi yang telah berkembang sampai saat ini. Khusunya para anak muda, seharusnya
melestarikan karya-karya yang telah diwariskan para penyair agar menjadi karya yang abadi
dan terkenang sepanjang masa.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi.
http://rizqiputri11bahasa17.blogspot.com/2012/11/makalah-puisi-lama-puisi-baru.html
http://www.bimbingan.org/sejarah-puisi-baru.html
http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/23/pengertian-macam-macam-dan-contoh-puisi503626.html