Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Christina Gabriella Rawing


NIM/Kelas : 158115134/PSPA B

DTC performance and impact


1. Apakah ada dokumen DTC yang menunjukan kerangka acuan, termasuk tujuan, sasaran,
fungsi, dan keanggotaan ?
Jawab :
Ya, hal ini sudah diatur dan dapat dilihat pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah
Sakit yang memuat mengenai kerangka acuan, tujuan, sasaran, dungsi, dan keanggotaan
dari DTC.
2. Apakah DTC termasuk dalam bagan organisasi rumah sakit ?
Jawab :
Ya, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, mengatakan dalam
pengorganisasian Rumah Sakit dibentuk Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang merupakan
unit kerja dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit mengenai
kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit yang anggotanya terdiri dari dokter yang
mewakili semua spesialisasi yang ada di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta
tenaga kesehatan lainnya apabila diperlukan. TFT harus dapat membina hubungan kerja
dengan komite lain di dalam Rumah Sakit yang berhubungan/berkaitan dengan
penggunaan Obat. Ketua TFT dapat diketuai oleh seorang dokter atau seorang Apoteker,
apabila diketuai oleh dokter maka sekretarisnya adalah Apoteker, namun apabila diketuai
oleh Apoteker, maka sekretarisnya adalah dokter.
3. Apakah ada anggaran yang dialokasikan untuk fungsi DTC ?
Jawab :
Ya, DTC memiliki anggaran khusus untuk melaksanakan fungsinya
Melihat dari tugas dan fungsi DTC yang salah satunya adalah merencanakan,
mengusulkan sarana prasarana dan alat yang dperlukan, mengelola fasilitas yang
digunakan oleh komite farmasi, sehingga dibutuhkan anggaran tersendiri agar DTC bisa
melakukan tugas dan fungsinya dengan baik.
4. Apakah DTC telah menetapkan kriteria dan otoritas terkait pemilihan obat ?
- Berapa banyak obat-obatan yang ada di formularium rumah sakit ?
Jawab :
Tergantung dengan rumah sakit yang bersangkutan, namun suatu formularium yang
dianjurkan adalah harus tersedia untuk semua penulis Resep, pemberi Obat, dan
penyedia Obat di Rumah Sakit yang bersangkutan. Jumlah obat yang ada di
formularium RS mengacu pada formularium nasional adalah sebanyak 574 item obat
dalam 1060 bentuk sediaan/kekuatan.
-

Apakah ada kriteria untuk penambahan dan penghapusan obat dari list dan
pemesanan untuk digunakan terhadap obat non-formularium ?

Nama
: Christina Gabriella Rawing
NIM/Kelas : 158115134/PSPA B

Jawab :
Penggunaan obat non-formularium biasanya untuk :
o Kasus tertentu yang jarang terjadi, misal kelainan hormon pada anak, penyakit
kulit langka.
o Perkembangan terapi yang memerlukan obat baru yang belum terakomodir.
o Obat yang sangat mahal dan penggunaannya dikendalikan secara ketat, misal
sitostatika baru, antibiotika yang dicadangkan ( reserved antibiotics).
o Prosedur dengan formulir yang diusulkan oleh dokter, disetujui kepala SMF,
penilaian usulan oleh DTC baru setelah disetujui disampaikan ke IFRS untuk
diadakan.
Ketika ingin melakukan penghapusan obat, permohonan harus diajukan secara resmi
melalui SMF kepada DTC.
Permohonan yang diajukan memuat informasi :
o Mekanisme farmakologi obat dan indikasi yang diajukan.
o Alasan mengapa obat yang diajukan lebih baik dari yang sudah ada.
o Bukti ilmiah dari pustaka yang mendukung perlunya obat dimasukkan.
Krieria penghapusan obat :
Obat tidak beredar lagi dipasaran.
Obat tidak ada yang menggunakan lagi.
Sudah ada obat baru yang lebih cost effective.
Obat setelah dievaluasi memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan
manfaatnya.
-

Berapa persentase obat yang diresepkan sesuai formularium rumah sakit ?


Jawab :
Formularium RS di salah satu rumah sakit di Sleman adalah sebesar 99,81%.

5. Apakah DTC aktif dalam pengembangan dan implementasi STGs ?


- Apakah rumah sakit dikembangkan/mengadopsi STGs ?
Jawab :
Ya, karena proses formularium adalah landasan manajemen farmasi yang baik dan
penggunaan obat secara rasional yang meliputi mempersiapkan, menggunakan, dan
memperbaharui daftar formularium , dan melakukan pedoman pengobatan standar.
Kepatuhan terhadap daftar formularium saja tidak akan meningkatkan praktek
pengobatan, jika dikethui bahwa pengobatan tidak berdasarkan STGs (yaitu jika tidak
ada kekonsistenan antara daftar formularium dan STGs). Idealnya, daftar

Nama
: Christina Gabriella Rawing
NIM/Kelas : 158115134/PSPA B

formularium harus dikembangkan setelah merumuskan pedoman pengobatan yang


tepat untuk penyakit umum.
Apakah penelitian pemanfaatan obat telah dilakukan untuk menilai kepatuhan STGs ?
Jawab :
Ya, harus dilakukan penelitian pemanfaatan obat untuk menilai kepatuhan STGs.
Dapat melalui meeting setiap 2 bulan sekali untuk melakukan evaluasi, dengan kasus
yang berasal dari bangsal yang diharapkan juga dapat mengontrol kepatuhan
keseluruhan tenaga kesehatan khususnya dokter dan apoteker dalam penentuan
kepatuhan pemilihan jenis terapi terhadap STGs yang telah disepakati.

6. Apakah DTC menyelenggarakan kegiatan pendidikan tentang obat-obatan ?


- Apakah ada pelatihan terorganisir untuk staf perawatan kesehatan ?
Jawab :
Ya, tersedia pelatihan terorganisir untuk staf perawatan kesehatan
Sesuai dengan point kewajiban Panitia Farmasi dan Terapi yaitu Panitia Farmasi dan
Terapi memiliki kewajiban untuk melaksanakan pendidikan dalam bidang
pengelolaan dan penggunaan obat terhadap pihak yang terkait. Contohnya dalam
guideline DTC menyebutkan bahwa DTC mengorganisir training staff yang berkaitan
dengan prosedur penyimpanan obat steril.
- Apakah ada perpustakaan yang didirikan untuk staf ?
Jawab :
mungkin tidak semua Rumah sakit memiliki perpustakan yang dapat memuat
informasi, namun Rumah sakit memiliki Pelayanan Informasi Obat (PIO) yang dapat
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh staf rumah sakit, pasien rumah sakit,
dan bahkan pihak diluar dari rumah sakit.
- Apakah ada keterlanjutan pendidikan medis ?
Jawab :
Perlu dipertimbangankan mengenai keterlanjutan pendidikan medis, hal ini bertujuan
untuk berbagi informasi terkini, sehingga pengetahuan staff selalu up to date.
- Apakah ada layanan informasi obat yang tersedia untuk staf ?
Jawab :
Selain dari perpustakaan yang disarankan untuk ada, informasi bisa diakses melalui
Pelayanan Informasi Obat yang mneyediakan informasi untuk membuat kebijakan
yang berhubungan dengan obat/sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai terutama bagi tim Farmasi dan Terapi.
7. Apakah ada studi intervensi untuk meningkatkan penggunaan obat yang telah dilakukan ?
Jawab :
Ya, seharusnya diberikan studi intervensi untuk meningkatkan penggunaan obat dan
meningkatkan kualitas pelayanan. Selain itu, untuk memperbaiki jika ada hal yang
keliru dalam penggunaan obat yang selama ini dilakukan serta meningkatkan
efektifitas terapi.
8. Apakah DTC terlibat dalam alokasi anggaran obat ?

Nama
: Christina Gabriella Rawing
NIM/Kelas : 158115134/PSPA B

Apakah DTC melakukan konsultasi selama alokasi anggaran obat ?


Jawab :
Ya, DTC harus melakukan konsultasi kepada pihak administrasi keuangan.
Administrasi keuangan merupakan pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa
biaya, pengumpulan informasi keuangan, penyiapan laporan, penggunaan laporan
yang berkaitan dengan semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak
rutin dalam periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan
Apakah izin DTC diperlukan sebelum persetujuan anggaran obat ?
Jawab :
Ya, perlu ijin DTC sebelum persetujuan anggaran obat.
Sesuai dengan ruang lingkup dan fungsi dari DTC yang menyatakan bahwa panitia
farmasi dan terapi harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat
baru atau dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.

9. Apakah DTC mengembangkan kebijakan untuk mengendalikan akses drug


representatives dan promosi literartur untuk staf rumah sakit ?
Jawab :
Ya, DTC diharapkan untuk selalu mengendalikan akses drug representatives yang
diaplikasikan pada evaluasi formularium rumah sakit yang harus dilakukan secara rutin
dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit. Selain itu, salah satu
tugas dan fungsi DTC adalah mengembangkan pedoman pengobatan standar,
mengevaluasi dan memilih obat-obatan untuk daftar formularium, melakukan
pengembangan kebijakan obat, menjadi komite penasihat untuk staf medis, administrasi
dan farmasi. DTC berperan dalam melakukan pengembangan peraturan tentang
pemilihan obat yang tepat untuk rumah sakit (kaitannya dengan selektif dalam memilih
supplier obat (drug representative)).