Anda di halaman 1dari 11

UJI METABOLISME BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Mikrobiologi
Yang dibina oleh Bapak Agung Witjoro, S.Pd, M.Kes

Oleh
Oki Osaka Herlinawati ( 140341600030 )
Riska May Habibi ( 140341603362 )
R. Putri Ramadhani (140341605271 )
Sofiyatul M. ( 140341606582 )
Thesa Ihtiar Dikmalangtika ( 140341605862 )
Yunita Dewy ( 140341605176 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

A. Topik

Uji Metabolisme bakteri


B. Tujuan
:
1. Untuk menguji kemampuan menghidrolisi amilum
2. Untuk menguji kemampuan menghidrolisis protein
3. Untuk menguji kemampuan menghidrolisi lemak
C.Dasar Teori

Dalam kehidupan, makhluk hidup tentu saja membutuhkan energi yang berasal dari
proses metabolisme. Proses metabolisme ini tidak hanya terjadi pada manusia, hewan
maupun tumbuhan saja namun juga terjadi pada bakteri. Metabolisme sendiri terbagi atas
anabolisme dan katabolisme.
Dalam prosesnya, metabolisme membutuhkan beberapa reaksi berantai yang
melibatkan berbagai macam enzim. Dari kegiatan ini akan dihasilkan nutrient sederhana
seperti glukosa, asam lemak berantai panjang ataupun senyawa aromatic lainnya yang dapat
digunakan demi kelangsungan sel-sel dan jaringan.
Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama metabolism,energi yang
dilepaskan akan digunakan untuk melangsungkan kerja biologis. Selama masa hidup sel,
kerja ini bersifat ekstensif dan beragam. Mikroorganisme heterotrofik nonfotosintesik
memperoleh energinya dari oksidasi (pelepasan elektron atau atom hidrogen) senyawasenyawa anorganik (Pelezer, 2006).
Dalam prosesnya, kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni konsentrasi
substrat, pH, konsentrasi enzim serta suhu. Aktivitas enzim diatur melalui 2 cara yaitu,
pengendalian katalis secara langsung pengendalian genetik. Proses metabolisme akan
menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari
hasil metabolisme yang berguna sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen
sel menghasilkan dan menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan
fosfat. Energi ini sangat penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa
berlangsung kalau tersedia energi (Darkuni,2001).
Aktivitas enzim diatur melalui 2 cara yaitu, pengendalian katalis secara langsung
pengendalian genetik. Proses metabolisme akan menghasilkan hasil metabolisme yang
berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari hasil metabolisme yang bergun
sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen sel menghasilkan dan
menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan fosfat. Energi ini sangat

penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa berlagsung kalau
tersedia energy (Tarigan,1988)
D.Alat dan Bahan

Alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jarum inokulasi lurus


Pipet
Gelas ukur 10 ml
Beaker glass 400 ml
Lampu spiritus
Inkubator
Rak tabung reaksi
Tabung reaksi

Bahan:
1. Biakan murni Escherichia coli
2. Biakan murni Bacillus subtilis
3. Biakan murni Staphyllococcus aureus.
4. Medium Amilum Agar
5. Medium Skim Milk Agar
6. Medium NA yang mengandung 1% minyak zaitun dan neutral red
7. Medium nutrien cair
8. Lisol
9. Sabun cuci
10. Lap
11. Larutan Iodium
12. Korek api
13. Alkohol 70%
E.Cara kerja
1. Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Amilum

Menyediakan 3 buah medium lempeng amilum agar, memberi kode A, B, dan C.


Tiap medium dibagi atas 2 bagian dan membuat garis tengah pada bagian dasar
cawan petri.
Menginokulasikan dengan menggunakan
jarum inokulasi biakan murni bakteri E.
coli pada setengah bagian medium A, biakan murn bakteri B. subtilis pada setengah
bagian medium B, biakan murni bakteri S. aureus pada setengah bagian medium C
sedangkan setengah bagian yang tersisa dipakai untuk control. Kemudian
menginkubasikan pada suhu 37C selama 2x24 jam.
Menuangkan larutan iodium ke permukaan medium dan perhatikan warna yang
terjadi di sekeliling goresan garis inokulasi. Bagian jernih di sekeliling koloni bakteri
menunjukkan adanya hidrolisis amilum oleh bakteri tersebut, sedangkan bagian
lainnya berwarna biru kehitaman.

2. Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Protein

Menyediakan 3 buah medium lempeng Skim Milk Agar beri kode A, B, dan C.

Menginokulasikan biakkan murni bakteri E. coli pada setengah bagian medium A,


biakkan murni bakteri B. subtilis pada setengah bagia medium B, biakkan murni S.
aureus pada setengah bagian medium C. Setengah bagian yang tersisa dipakai untuk
kontrol. Kemudian menginkubasikan pada suhu 37C selama 2 x 24 jam.

Mengamati warna medium. Koloni bakteri yang dapat mengindrolisis casein akan
dikelilingi oleh daerah yang jernih, sedangkan bagian lainnya akan nampak tetap
berwarna putih susu.

3.Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Lemak

Menyediakan 2 buah medium lempeng NA yang mengandung 1% lemak mentega


atau minyak zaitun dan indicator Neutral Red

Mengamati warna medium. Koloni bakteri yang dapat menghidrolisis lemak akan
menyebabkan penurunan pH medium, sehingga terbentuk warna merah pada bagian
bawah koloni bakteri. Jika tidak terjadi hidrolisis lemak, maka mediu tetap dalam
pH mendekati
netraldan
warna
kuning
pada bagian
bawah kedua
kolonipada
bakteri.
Melakukan
seperti langkah
kedua
pada
uji pertama
dan langkah
uj kedua.

F. Data Hasil Pengamatan


Suspensi Bakteri

Kemampuan Menghidrolisis
Amilum

Protein

Lemak

Escherichis coli

++

Staphyllococcus aureus

Keterangan
+++
++
+
_

: Kemampuan menghidrolisis tinggi


: Kemampuan menghidrolisis sedang
: Kemampuan menghidrolisis rendah
: Tidak mampu menghidrolisis

G. Analisis Data
Praktikum kali ini menggunakan suspensi 2 bakteri yaitu bakteri Escherichis coli dan
Staphyllococcus aureus. Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk menguji kemampuan bakteri
dalam menghidrolisis amilum, protein, dan lemak. Untuk uji amilum, bakteri yang sudah
diinokulasikan dalam medium Amilum Agar diinkubasi pada suhu 370C selama 2x24 jam.
Kemudian dimulai uji dengan menambahkan larutan iodium ke permukaan medium lalu
memperhatikan warna yang terbentuk di sekeliling goresan inokulasi. Iodium merupaka
larutan yang berfungsi sebagai indicator adanya amilum. Berdasarkan hasil praktikum yang
sudah dilakukan, terbentuk bagian yang jernih di sekeliling koloni bakteri Escherichis coli
dan amilum yang terhidrolisis jumlahnya sedang. Sedangkan pada bakteri Staphyllococcus
aureus jumlah amilum yang dihidrolisis sedikit (+) .

Pada uji protein, bakteri yang diinokulasikan pada medium Skim Milk Agar diinkubasi
dalam suhu 370C selama 2x24 jam. Setelah itu diamati, dan hasilnya yaitu tidak didapatkan
daerah di sekeliling goresan yang jernih pada kedua bakteri.
Pada uji lemak, bakteri yang diinokulasikan pada medium NA yang mengandung 15
lemak mentega dan indicator Neutral red diinkubasi dalam suhu 370C selama 2x24 jam.
Setelah itu diamati, dan hasilnya yaitu tidak didapatkan warna merah pada bagian bawah
koloni kedua bakteri.
H. PEMBAHASAN
Pada praktikum uji metabolisme bakteri ini digunakan dua jenis bakteri yaitu
Escherichia coli dan Staphillococcus aureus. Medium yang digunakan ada tiga macam yaitu
medium AA (Amilum Agar), SMA (Skim Milk Agar) dan medium NA yang mengandung 1%
lemak mentega atau lemak zaitun dan neutral red. Masing-masing medium diberikan dua
biakan murni kedua bakteri tersebut.
Mikrobia seperti bakteri dapat tumbuh pada beberapa tipe media, memproduksi tipe
metabolit tertentu yang dideteksi dengan interaksi mikroba dengan reagen test yang
menghasilkan warna reagen. Dengan melakukan pengujian tertentu, reaksi dalam sel dapat
teridentifikasi karena selakan merespon sesuai kemampuan yang dimilikinya, misalnya
dengan menghasilkan enzim katalase, gelatin aseatau menghidrolisis lemak (Pelezar, 1986).
1. Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Amilum
Pada uji ini digunakan medium AA (Amilum Agar) daerah medium dibagi
menjadi dua dengan member garis tengah pada bagian bawah cawan petri kemudian
kedua bakteri diinokulasikan dengan arah zig-zag, lalu diinkubasi pada suhu 37C
selama 2x24 jam.
Amilum merupakanp olisakarida dan merupakan makromolekul. Polisakarida
dapat berfungsi sebagai cadangan makanan yang akan dihidrolisis saat diperlukan
untuk menghasilkan gula bagi sel. Karena makromolekul, amilum tidak dapat langsung
digunakan sehingga bakteri harus menghidrolisis amilum terlebih dahulu menjadi
molekul sederhana dan masuk kedalam sel.
Berdasarkan data pengamatan, setekah medium diberi iodium terbentuk warna
jernih disekitar koloni bakteri, sedangkan pada bagian lain berwarna biru kehitaman.
Kedua bakteri dapat menghidrolisis amilum, hal ini menunjukkan bahwa kedua bakteri
menghasilkan enzim-amilase.
Hal ini didukung oleh literature yang menyatakan bahwa Larutan iodium
berfungsi sebagai indikatora dan yaamilum, apabila medium mengandung amilum bila

diberi iodium maka akan berwarna biru kehitaman. Namun bila amilum telah
terhidrolisis maka akan berwarna jernih atau bening. Warna jernih mengindikasikan
bahwa amilum telah terhidrolisis oleh koenzim bakteri(Hadioetomo, 1990).
Menurut Dwidjoseputro (1989) kemampuan bakteri menghidrolisis makanan
diluar selnya dikarenakan bakteri tersebut dapat mengeluarkan enzim dari dalam sel,
enzim tersebut disebut sebagai eksoenzim.
Bakteri Escherichia coli pada hasil pengamatan menunjukkan kemampuan
menghidrolisis amilum paling besar, setelah itu Staphillococcus aureus. Berdasarkan
luas daerah berwarna jernih disekitar koloni bakteri. Hal ini dipengaruhi oleh banyak
sedikitnya bakteri yang diinokulasikan pada medium, semakin banyak bakteri yang
diinokulasikan maka semakin luas daerah jernih disekitar koloni bakteri.
2. Uji Kemampuan Menghidrolisis Protein
Pada uji ini digenakan medium lempeng Skim Milk Agar (SMA), medium ini
mengandung kasein yang apabila terhidrolisis akan menjadi peptide dan asam amino.
Bakteri yang digunakan adalah Escherichia coli dan Staphillococcus aureus, kemudian
diinkubasi selama2x24 jam dalam suhu37C.
Hasil positif ditunjukkan dengan daerah yang jernih disekeliling koloni bakteri,
sedangkan bagian lainnya akan Nampak tetap berwarna putih susu (Hastuti, 2012).
Menurut Kaiser (2005), hidrolisis protein terjadi karena adanya reaksi enzimatis.
Bakteri yang mempunyai koenzim dapat menghidrolisis kasein dan meyebabkan
medium akan terbentuk daerah jernih disekeliling ggoresan koloni bakteri. Bakteri
melakukan hidrolisis berbagai protein menjadi asam amino tunggal yang akan
digunakan untuk sintesis protein sebagai sumber energy.
Berdasarkan hasil pengamatan kedua bakteri tidak menunjukkan adanya
kemampuan menghidrolisis protein. Seharusnya bakteri mampu melakukan hidrolisis
protein karena didalam tubuh bakteri dihasilkan koenzim yang mampu menghidrolisis
kkasein yaitu enzim protease.
Hal ini tidak sesuai dengan literature yang menyatakan Senyawa organic yang
dapat dipecahkan oleh bakteri antara lain protein, asam nukleat dan lemak. Pemecahan
senyawa-senyawa tersebut dibantu oleh enzim yang dihasilkan bakteri, enzim ini
disebut enzim hidrolase karena dapat menghidrolisis molekul besar menjadi molekul
yang lebih sederhana dan dapat digunakan. Pada bakteri, enzim-enzim ini disekresikan

keluar tubuhnya sehingga makromolekul yang tidak larut dapt dipecah menjadi molekul
yang larut dan dapat memasuki sel dan menjadi bahan makanan (Volk dan Wheeler,
1988).
Hal ini dapat dikarenakan saat menginokulasikan bakteri terlalu dalam,
menyebabkan pertumbuhan bakteri terhambat. Selain itu jumlah bakteri yang
diinokulasikan juga mempengaruhi aktivitas metabolism pada medium.
3. Uji Kemampuan Menghidrolisis Lemak
Pada uji ini medium yang digunakan adalah medium NA yang mengandung 1%
lemak mentega atau minyak zaitun dan neutral red. Bakteri yang digunakan adalah
Escherichia coli dan Staphillococcus aureus, kemudian diinkubasi selama 2x24 jam
dalam suhu 37C.
Adanya kemampuan menghidrolisis lemak menyebabkan penurunan PH medium,
sehingga terbentuk warna merah pada bagian bawah koloni bakteri (Hastuti, 2012).
Kemampuan bakteri menghidrolisis lemak disebabkan bakteri menghasilkan
enzim lipase. Enzim lipase termasuk dalam golongan ester, enzim ini mampu
menghidrolisi dan memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Berdasarkan hasil pengamatan baik bakteri Escherichia coli dan Staphillococcus
aureus tidak menunjuukan adanya kemampuan untuk menghidrolisis lemak. Hal ini
tidak sesuai dengan literature yang menyatakan Senyawa organic yang dapat
dipecahkan oleh bakteri antara lain protein, asam nukleat dan lemak. Pemecahn
senyawa-senyawa tersebut dibantu oleh enzim yang dihasilkan bakteri, enzim ini
disebut enzim hidrolase karena dapat menghidrolisis molekul besar menjadi molekul
yang lebih sederhana dan dapat digunakan. Pada bakteri, enzim-enzim ini disekresikan
keluar tubuhnya sehingga makromolekul yang tidak larut dapt dipecah menjadi molekul
yang larut dan dapat memasuki sel dan menjadi bahan makanan (Volk dan Wheeler,
1988).
Hal inidapat disebabkan karena bakteri yang diinokulasikan sedikit terlalu dalam.
Jumlah bakteri yang diinokulasikan juga dapat mempengaruhi, semakin banyak bakteri
maka semakin besar metabolism yang terjadi dalam medium, selain itu setiap bakteri
memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghidrolisis lemak.

I.

KESIMPULAN

1. Uji Amilum dengan menggunakan medium AA (Amilum Agar) menunjukkan bahwa


koloni bakteri Escherichia coli memiliki kemampuan menghidrolisis amilum yang
sedang sedangkan koloni bakteri Staphyllococcus memiliki kemampuan
menghidrolisis amilum yang rendah.
2. Uji Protein dengan menggunakan medium SMA (Skim Milk Agar) menunjukkan
bahwa kedua koloni bakteri Escherichia coli dan bakteri Staphyllococcus tidak
mampu menghidrolisis protein karena tidak memiliki enzim untuk menghidrolisis
protein.
3. Uji Lemak dengan menggunakan medium NAL (Lempeng NA) menunjukkan bahwa
kedua koloni bakteri Escherichia coli dan bakteri Staphyllococcus tidak mampu
menghidrolisis lemak karena tidak memiliki enzim untuk menghidrolisis lemak.

LAMPIRAN

Medium AA

Medium SMA

Medium NAL

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 1989. Dasar-DasarMikrobiologi.Malang : UMM Press
Hadioetomo, R.S. 1990. TeknikDan ProsedurDasarlaboratoriumMikrobiologi. Jakarta
:Gramedia.
Hastuti, Sri Utami. 2015. PetunjukPraktikumMikrobiologi. Malang : UMM Press.

Pelezar, Michael J. 1986. Dasar-DasarMikrobiologi.Jakarta : UI-Press


Volk, Wesley A., dan Wheeler, Margaret F,. 1988. MikrobiologiDasarJilid I. Jakarta
:Erlangga
Kaiser C, Van der Merwe R, Bekker TF, Labuschagne. 2005. In-vitro inhibition of mycelial
growth of several phytopathogenic fungi, including Phytophthora cinnamomi by
soluble silicon. South African Avocado Growers Association Yearbook. 28:70-74
Darkuni. 2001. Mikrobiologi (bakteriologi, virologi, dan mikologi). Malang: FMIPA UM.
Pelezar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tingkat
Kependidikan