Anda di halaman 1dari 178

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS

I
PENGENALAN GPS TIPE NAVIGASI DAN GEODETIK

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

BAB I
LAPORAN PRAKTIKUM I

GPS LEICA SR20


A. Jenis Alat
Pada satu set peralatan GPS Leica SR20 terdapat beberapa jenis alat yaitu
sebagai berikut.
1. Hardcase
5. Leica SR20 controller
2. Leica receiver
(Antena eksternal AT501)
6. Pole bracket
3. Tribach dan carrier
7. Kabel antenna
4. Baterai tipe GEB90
8. Power supply
B. Fungsi
GPS Leica SR20 termasuk tipe GPS Geodetic tipe survey dengan ketelitian
tinggi yang sangat membantu proses pengumpulan data untuk keperluan
pemetaan. GPS ini telah dilengkapi dengan receiver GPS, antenna, dan data
collector yang telah terintegrasi dalam satu system sehingga mempermudah
penggunaanya pada saat dilakukan perekaman data maupun pengeolahan
data.
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Leica SR20.
1. Hardcase
Hardcase
memiliki
fungsi
sebagai
tempat
penyimpanan
komponen/bagian dari GPS.
2. Antenna Eksternal AT501
Antenna eksternal AT501 memiliki fungsi sebagai media penerima
(receiver) dari sinyal yang dipancarkan oleh satelit.
3. Tribach
Tribach memiliki fungsi sebagai tempat dipasangnya/berdirinya receiver
(antenna eksternal).
4. Baterai
Baterai memiliki fungsi sebagai sumber energy (daya) utama bagi
controller dengan menggunakan batu baterai A3.
5. Leica SR20 Controller
Leica SR20 Collector memiliki fungsi sebagai alat untuk mengatur GPS
sebelum

digunakan

maupun

sebagai

media

penyimpanan

hasil

perekaman data. Dalam penggunaannya, alat ini dilengkapi dengan


beberapa tombol seperti gambar berikut.

Gambar 2.1 Antenna Eksternal AT501


a. Tombol menu, berfungsi untuk membuka menu utama pada controller.
b. Tombol escape, berfungsi untuk kembali ke menu sebelumnya.
c. Tombol power, berfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan
controller.
d. Tombol page, berfungsi untuk berpindah dari suatu halaman ke
halaman berikutnya.
e. Tombol enter, berfungsi untuk memilih sebuah pilihan maupun
menuju menu berikutnya.
6. Pole Bracket
Pole bracket memiliki fungsi sebagai tempat berdirinya receiver GPS
(Antenna Eksternal AT501).
7. Kabel Antenna
Kabel antenna memiliki sebagai penghubung antara antenna eksternal
dengan controller.
C. Cara Penggunaan
1. Mendirikan statif

dan

memasangkannya

tribach/dudukan

antenna

eksternal pada statif tersebut dan melakukan sentering optis terlebih


dahulu.
2. Memasangkan antenna eksternal pada tribach.
3. Menghidupkan receiver dengan menggunakan tombol power.
Setelah muncul tampilan menu utama, kemudian memilih menu Setup
dan memilih pilihan Config Sets. Membuat pengaturan baru untuk
pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan nama pekerjaan tersebut
(misal GNSS_B) dengan memilih pilihan New.

Gambar 3.1 Proses Pembuatan Job Baru


4. Pada jedela setup, memilih Config Set Name GNSS_B kemudian
menekan tombol Enter.
5. Memilih pilihan GPS kemudian menekan tombol Enter. Memilih pilihan
tracking untuk melakukan proses pengaturan perekaman data kemudian
menekan tombol Enter. Kemudian memasukkan parameter-parameter
pengukuran GPS seperti gambar berikut ini.

Gambar 5.1 Pengaturan GPS Tracking


6. Menekan tombol Menu kemudian memilih pilihan Save yang diikuti dengan
menekan tombol Enter untuk menyimpan pengaturan yang telah dibuat
sebelumnya.
7. Melakukan pengukuran terhadap objek yang telah ditentukan sebelumnya.
D. Lampiran
Nama Alat

Foto

Antenna Eksternal
(Receiver) AT501

Baterai

Leica SR20 Controller

Pole Bracket

Kabel Antenna

Power Supply (Adaptor)

GPS LEICA SR9400


A. Jenis Alat
Pada satu set peralatan GPS Leica SR9400 terdapat beberapa jenis alat
yaitu sebagai berikut.
1. Hardcase

5. Tribach

2. Receiver Wild AT201


3. Controller CR-333
4. Leica GZS4 Height Measuring Tape

6. Baterai SR9400
7. Pole + statif
8. Kabel konektor

B. Fungsi
GPS Leica SR9400 termasuk tipe GPS Geodetic yang merupakan GPS
model lama namun telah dilangkapi dengan receiver GPS, antenna, dan data
controller yang telah terintegrasi dalam satu system . Walaupun demikian,
untuk saat ini tidak mudah untuk mencari buku manual penggunaannya.
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Leica SR9400.
1. Hardcase
Hardcase
memiliki
fungsi
sebagai
tempat
penyimpanan
komponen/bagian dari GPS.
2. Receiver Wild AT201
Antenna eksternal memiliki fungsi sebagai media penerima dari sinyal
yang dipancarkan oleh satelit.
3. Controller CR-333
Controller memiliki fungsi sebagai alat untuk mengatur GPS sebelum
digunakan maupun sebagai media penyimpanan hasil perekaman data.
4. Leica GZS4 Height Measuring Tape
Leica GZS4 height measuring tape memiliki fungsi untuk mengukur
ketinggian receiver setelah didirikan di atas statif. Alat ini juga dilengkapi
dengan meteran yang tersembunyi di bagian dalamnya.

Gambar 4.1 Meteran Leica GZS4


5. Tribach
Tribach memiliki fungsi sebagai tempat dipasangnya/berdirinya receiver
GPS.
6. Baterai SR9400
Baterai SR9400 memiliki fungsi sebagai sumber energy (daya) utama
bagi receiver maupun controller.
7. Pole dan Statif
Pole dan statif memiliki fungsi untuk mendirikan alat (receiver).
8. Kabel Konektor
Kabel konektor memiliki fungsi sebagai alat penghubung
conteroller dengan receiver maupun dengan baterai.

antara

C. Cara Penggunaan
1. Mendirikan statif kemudian memasangkan receiver pada statif tersebut.
2. Menghubungkan baterai ke controller maupun ke receiver sesuai dengan
kebutuhan dengan menggunakan kabel konektor.
3. Menghubungkan controller dan receiver dengan menggunakan kabel
4.
5.
6.
7.

konektor.
Menghidupkan GPS apabila semua alat telah siap digunakan.
Pada menu Main Menu memilih Missions dengan memencet cont (F1).
Memilih Stsdef Static Survey Default Sts dengan memilih Run/F1.
Untuk menampilkan informasi dari pekerjaan yang dipilih menekan

tombol cont/F1 kemudian menunggu untuk beberapa saat.


8. Memilih menu Select Project/Job untuk menerima data yang dipilih
dengan menekan tombol cont/F1.
9. Setelah memilih menu Job, melakukan pengaturan operasi dengan
memilih menu Static.
10.Memasukkan inisialisasi
pengontrol.
11.Melakukan pengaturan

posisi

dan

melakukan

parameter-parameter

dan

pengaturan
pengaturan

identitas parameter.
12.Memilih menu Meas untuk memulai proses perekaman data.

D. Lampiran
Nama Alat

Hardcase

Foto

satelit
point

Receiver Wild AT201

Controller CR-333

Leica GZS4 Height


Measuring Tape

Tribach

Baterai SR9400

Pole dan Statif

Kabel Konektor

GPS LEICA CS10/CS15


A. Jenis Alat
Pada satu set peralatan GPS Leica CS10/CS15 terdapat beberapa jenis alat
yaitu sebagai berikut.
1. Hardcase
2. Leica receiver

5. Kabel USB
6. Bracket + tali bracket

3. Controller + Pen Stylus


4. Baterai

7. Pengancing Pull
8. CD, buku panduan

B. Fungsi
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Leica CS10/CS15.
1. Hardcase
Hardcase memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan komponen/bagian
dari GPS.
2. Leica Receiever
Leica receiver memiliki fungsi sebagai media penerima (receiver) dari
sinyal yang dipancarkan oleh satelit. Dalam penggunaannya, alat ini
dilengkapi dengan beberapa tombol dan lampu indicator seperti gambar
berikut.

a. Tombol

On/Of

Gambar 2.1 Leica Mini Pad


yang berfungsi untuk menghidupkan

maupun

mematikan receiver.
b. Lampu indicator yang terdiri dari Tracking LED, Blutooth LED, dan
-

Power LED.
Tracking LED; merupakan lampu indicator yang menunjukkan ada
atau tidaknya satelit yang berhasil dideteksi. Warna dari lampu
indicator memiliki arti tersendiri, yaitu:
Tidak menyala, berarti tidak ada satelit yang terdeteksi.
Hijau (berkedip), berarti kurang dari 4 satelit yang terdeteksi.
Hijau, berarti jumlah satelit terdeteksi telah mencukupi untuk

dilakukan perekaman data.


Merah, berarti insterumen sedang dalam persiapan.
- BT LED; merupakan lampu indicator indicator yang menunjukkan
status dari Bluetooth pada receiver. Warna dari lampu indicator
memiliki arti tersendiri, yaitu:
Hijau, berarti Bluetooth siap untuk digunakan.
Ungu, berarti Bluetooth sedang terkoneksi.
Biru, berarti Bluetooth telah terkoneksi.
Biru (berkedip), berarti data sedang tertransfer.
- PWR LED; merupakan lampu indicator yang menunjukkan status
dari daya receiver. Warna dari lampu indicator memiliki arti
tersendiri, yaitu:
Tidak menyala, berarti receiver dalam keadaan mati.

Hijau, berarti status daya receiver dalam keadaan baik.


Hijau (berkedip), berarti daya receiver dalam keadaan lemah.
3. Controller + Pen Stylus
Controller memiliki fungsi sebagai alat untuk mengatur GPS sebelum
digunakan maupun sebagai media penyimpanan hasil perekaman data.
Sedangkan

pen

stylus

memiliki

fungsi

untuk

mempermudah

pengoperasian dari controller yang telah dilengkapi oleh fitur layar


sentuh.
Dalam penggunaannya, alat ini dilengkapi dengan beberapa tombol
seperti gambar berikut.

Gambar 3.1 Tombol Leica Controller


a. Home, berfungsi untuk menuju menu awal.
b. ON/OFF, berfungsi untuk menghidupkan

maupun

mematikan

controller.
c. Tombol panah & OK, berfungsi untuk menggerakan kursor dan
memindahkan focus layar dan berfungsi untuk memilih pilihan yang
d.
e.
f.
g.

tersedia.
Fn, berfungsi untuk berpindah dari fungsi satu ke fungsi dua.
Tombol
Brightness, berfungsi untuk mengatur kecerahan dari layar controller.
Keyboard illumination, berfungsi untuk menghidupkan maupun

mematikan keyboard illumination.


h. Tombol favorit, berfungsi untuk menuju sebuah website yang telah
i.

diinput sebelumnya.
ESC, berfungsi untuk kembali ke menu sebelumnya tanpa menyimpan

j.

perubahan yang dilakukan.


Enter, berfungsi untuk masuk ke menu beikutnya maupun memilih

pilihan yang ada.


k. Backspace, berfungsi untuk menghapus seluruh/karakter terakhir dari
l.

data masukan.
Tombol volume, berfungsi untuk menambah maupun mengurangi
volume dari suara peringatan.

m. Numeric keys, berfungsi untuk menginput data masukan angka


maupun huruf.
Selain dilengkapi dengan beberapa tombol, controller juga dilengkapi
dengan beberapa lampu indicator seperti gambar berikut.

a. Bluetooth

Gambar 3.2 Lampu Indikator Leica Controller


LED; merupakan lampu indicator indicator

yang

menunjukkan status dari Bluetooth pada conteroller. Warna dari lampu


indicator memiliki arti tersendiri, yaitu:
Hijau, berarti Bluetooth siap untuk digunakan.
Ungu, berarti Bluetooth sedang terkoneksi.
Biru, berarti Bluetooth telah terkoneksi.
Biru (berkedip), berarti data sedang tertransfer.
b. Power LED; merupakan merupakan lampu indicator yang menunjukkan
status dari daya receiver. Warna dari lampu indicator memiliki arti
tersendiri, yaitu:
Tidak menyala, berarti controller dalam keadaan mati.
Hijau, berarti Hijau, berarti status daya controller dalam keadaan

baik.
Hijau (berkedip), berarti daya controller dalam keadaan baik dan

sedang dalam keadaan diisi ulang.


Kuning, berarti daya controller dalam keadaan lemah.
Kuning (berkedip), berarti daya controller dalam keadaan lemah.
Merah, berarti daya controller dalam keadaan sangat lemah dan

harus segera diisi ulang.


4. Baterai
Baterai berfungsi sebagai sumber tenaga (daya) utama bagi receiver
maupun controller.
5. Kabel USB
Kabel USB berfungsi untuk menghubungkan perangkat ke perangkat
eksternal.
6. Pengancing Pull
Pengancing pull merupakan alat untuk mengunci pull yang digunakan
pada receiver.
C. Cara Penggunaan
1. Prosedur Penggunaan Untuk Pengukuran RTK-NTRIP
a. Menghidupkan alat pada receiver terlebih dahulu baru kemudian pada
controller dengan menekan tombol power selama 1-2 detik.

b. Untuk membuat job, maka masuk ke menu Jobs & data kemudian
memilih New Job. Lalu mengisi nama job, deskripsi, creator, codelist,
coord system dan memilih pilihan Store.
c. Dari menu Instrument memilih menu GPS settings kemudian memilih
RTK rover wizard. Di dalam RTK rover wizard ini, user dapat melakukan
setting tidak hanya NTRIP saja, namun RTK menggunakan media lain
juga dapat dilakukan.
d. Memilih Create a new profile, kemudian memberi nama dan deskripsi
setting. Deskripsi setting bisa dikosongkan. Kemudian menekan pilihan
Next. Pada RTK rover wizard terdapat 3 pilihan, memilih Internet (e.g
NTRIP) untuk melakukan setting NTRIP.
e. Konfirmasi mengenai koneksi akan keluar yang menunjukkan bahwa
koneksi ke receiver dibutuhkan. Kemudian memilih Next. Pada pilihan
port memilih Internal 3.5G modem untuk mendefinisikan koneksi
antara GNSS ke server. Kemudian memilih Next. Pilih GSM/GPRS/UMTS
device dan memilih name of device sesuai dengan handphone yang
digunakan. Jika menggunakan provider yang berbasis pada CDMA
f.

maka memilih CDMA device. Kemudian menekan Next.


Pada halaman Bluetooth device connection memilih Next kemudian
memilih nama device yang akan digunakan. Kemudian menekan Next.
Jika device yang digunakan belum ada pada daftar bluetotth device,
menekan Search untuk melakukan pencarian otomatis. Pilih Using
GPRS/CDMA internet connection untuk mendefinisikan bahwa media
internet yang digunakan bukan melalui dial-up. Kemudian menekan

Next.
g. Memasukkan parameter-parameter server seperti nama server (tidak
harus sama), addres ip server (harus sama), dan port. Untuk
menggunakan data koreksi beri tanda centang pada use NTRIP with
this server. Masukkan used ID dan password. Kemudian menekan Next.
h. Jika menggunakan network CORS, maka receive RTK corrections from
RTK network dicentang. Jika hanya menggunakan single base CORS
maka dibiarkan tidak diberi tanda cek pada kedua pilihan. Pilihan RTK
data format adalah RTCM v3, kemudian pilihan sensor at base dan
antenna at base pada automatically detect. Kemudian use auto
coordinate system dan receive RTK network information diberi tanda
i.

cek.
Jika semua setting telah benar, maka ketika dipilih Yes, test my
connection akan keluar konfirmasi bahwa settingan telah benar dan
telah terhubung dengan server CORS.

2. Pengukuran Kadaster (Pengukuran Bidang)


a. Pengukuran Titik
Dari menu Utama memilih Go to work kemudian memilih menu
Survey. Untuk melakukan pengukuran tinggal menekan Meas. Sebelum
melakukan pengukuran memberi nama dan kode titik sebagai
pelengkapan data. Perhatikan nilai 3DCQ, untuk pengukuran RTK
NTRIP nilai 3DCQ berkisar 1-5 cm merupakan hasil yang teliti.
b. Pengukuran Bidang atau Luasan
Dari menu utama memilih Go to work kemudian memilih menu
COGO lalu memilih Area division. Di dalam area to use memilih survey
new area. Maksudnya adalah melakukan perekaman titik terlebih
dahulu baru kemudian dihitung luasnya. Melakukan perekaman titiktitik batas luasan dengan menekan Meas hingga selesai satu bidang.
Jika sudah selesai menekan Done. Kemudian memilih store pada
halaman edit area kemudian memilih OK.
c. Pengukuran Menggunakan Hidden Point dan Distometer
Dari menu utama memilih Go to work kemudian memilih pilihan
Survey. Untuk melakukan pengukuran tinggal memilih HdnPt.Setelah
masuk ke halaman hidden point melakukan setting pada titik awal
arahkan Disto ke titik yang diamat. Kemudian memindahkan alat ke
titik bantu lakukan pengamatan yang sama lalu mentransfer data dari
disto menggunakan Bluetooth.
d. Rekontruksi Batas
Untuk melakukan rekonstruksi batas, dari menu utama memilih Go to
work kemudian memilih Stakeout dan memberi pilihan job kemudian
seleksi titik yang akan direkonstruksi. Kemudian dengan mengikuti
petunjuk arah dan akan ada petunjuk posisi rover terhadap titik yang
direkonstruksi.
3. Pengukuran Situasi
a. Pengukuran Planimetrik
Dari menu Utama memilih Go to work kemudian memilih menu
Survey. Untuk melakukan pengukuran tinggal menekan Meas. Sebelum
melakukan pengukuran memberi nama dan kode titik sebagai
pelengkapan data. Perhatikan nilai 3DCQ, untuk pengukuran RTK
NTRIP nilai 3DCQ berkisar 1-5 cm merupakan hasil yang teliti.
b. Pengukuran Tinggi/DTM
Untuk melakukan pengukuran tinggi langkahnya sama dengan
pengukuran planimetrik pada langkah di atas.
c. Stake Out

Untuk melakukan stake out, memilih menu Stake out pada menu Go to
work. Memilih job yang digunakan kemudian memilih OK. Di dalam
layar terdapat petunjuk untuk mencari titik yang akan di stake out.
4. Pengukuran Post-Processing Statik dan Kinematik
a. Pengukuran Post-Processing Statik
Untuk melakukan setting post-processing

pada

GNSS

Leica

dibutuhkan pembuatan profile. Dari menu Instrument memilih GPS


settings kemudian memilih Raw data logging. Di dalam Raw data
logging ini, klik log data post-processing, kemudian memilih log data
lalu memilih static dengan sampling rate 1. Dari menu Utama
memilih Go to work kemudian memilih menu Survey. Untuk melakukan
pengukuran tinggal menekan Meas. Sebelum melakukan pengukuran
memberi nama dan kode titik sebagai pelengkapan data.
b. Pengukuran Post-Processing Kinematik
Untuk melakukan setting post-processing pada GNSS

Leica

dibutuhkan pembuatan profile. Dari menu Instrument memilih GPS


settings kemudian memilih Raw data logging. Dari menu utama
memilih Go to work kemudian memilih menu Survey. Untuk melakukan
pengukuran tinggal menekan Meas. Sebelum melakukan pengukuran
memberi nama dan kode titik sebagai pelengkapan data.

D. Lampiran
Nama Alat

Hardcase

Leica Receiver

Foto

Controller + Pen Stylus

Baterai

Kabel USB

Pengancing Pull

GPS JAVAD TRIUMPH-1

A. Jenis Alat
Pada satu set peralatan GPS Javad Triumph-1 terdapat beberapa jenis alat
yaitu sebagai berikut.
1. Hardcase
2. Triumph receiver
3. Victor data collector + pen stylus
4. Antenna uhf/gsm
5. Rol meter
6. Power supply (receiver + collecetor)

8. Kabel aki
9. Victor braket
10. Kunci l
11. Kabel power cadangan
12. Kabel usb
13. Kabel konektor

cadangan
7. Tribach

14. Steker cadangan

B. Fungsi
GPS Javad Triumph-1 merupakan tipe GPS Geodetic yang memiliki fitur
receiver, radio modem, modul GSM/GPRS, antenna, dan baterai yang sudah
terintegrasi dalah satu system sehingga memberikan kemudahan bagi
pengguna dalam pengukuran maupun perolehan data secara akurat. Berikut
ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Javad Triumph-1.
1. Hardcase
Hardcase memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan komponen/bagian
dari GPS.
2. Triumph Receiver
Triumph receiver memiliki fungsi sebagai media penerima (receiver) dari
sinyal yang dipancarkan oleh satelit. Dalam penggunaannya, alat ini
dilengkapi dengan beberapa tombol dan lampu indicator seperti gambar
berikut.

Gambar 2.1 Triumph-1 Mini Pad


a. BAT; merupakan lampu indicator yang menunjukkan status dari baterai
pada receiver tersebut. Warna dari setiap lampu indicator memiliki arti
-

tersendiri, yaitu:
Hijau, berarti baterai masih dalam keadaan penuh.
Kuning, berarti baterai tinggal setengah penuh.
Merah, berarti baterai hampir kosong.
Tidak menyala, berarti tidak ada sumber tenaga atau receiver dalam

keadaan mati.
Berkedip cepat, berarti baterai sedang diisi ulang.
Bekedip lambat, berarti receiver dalam keadaan sleep mode.

b. BT; merupakan lampu indicator yang menunjukkan status dari


teknologi bluetooth dari receiver tersebut. Warna dari lampu indicator
-

memiliki arti tersendiri, yaitu:


Hijau, berarti modul bluetooth dalam keadaan aktif dan siap untuk

dikoneksikan.
Kuning, berarti modul bluetooh dalam keadaam aktif dan sedang

terkoneksi dengan perangkat lain.


Merah, berarti koneksi dalam keadaan mati.
Tidak menyala, berarti modul bluetooth dalam keadaan mati.
c. MOD; merupakan lampu indicator yang menunjukkan status dari
-

modem. Warna dari lampu indicator memiliki arti tersendiri, yaitu:


Hijau, berarti modem UHF/modul GSM dalam keadaan aktif dan siap

dalam keadaan terkoneksi.


Kuning, berarti koneksi dari modem dalam keadaan marjinal.
Merah, berarti modem UHF/modul GSM dalam keadaan mati.
d. SAT; merupakan lampu indicator yang menunjukkan jumlah dari satelit
-

yang berhasil dideteksi. Warna dari lampu indicator memiliki arti


tersendiri, yaitu:
- Hijau, berarti terdapat delapan satelit atau lebih.
- Kuning, berarti terdapat lima hingga tujuh satelit.
- Merah, berarti terdapat kurang dari lima satelit.
- Tidak menyala, berarti tidak ada satelit yang berhasil dideteksi.
e. POS; merupakan lampu indicator yang menunjukkan jenis posisi saat
survey dilakukan. Warna dari lampu indicator memiliki arti tersendiri,
yaitu:
Hijau, berarti diperoleh posisi yang tetap.
Kuning, berarti diperoleh posisi yang menyebar.
Merah, bearti tidak dalam posisi.
Tidak menyala, berarti tidak ada satelit.
REC; merupakan lampu indicator yang menunjukkan status perekaman

f.

data yang sedang dilakukan. Warna dari lampu indicator memiliki arti
tersendiri, yaitu:
Hijau, berarti perekaman data sedang berlangsung.
Kuning, berarti perekaman kurang dari 10 menit tersisa.
Merah, berarti memori telah penuh.
Tidak menyala, berarti dalam keadaan mati.
g. Tombol On/Of berfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan
-

receiver.
h. Tombol FN
pengolahan

berfungsi
dan

untuk

pencatatan

mengubah
data,

receiver

memulai

dan

antara

mode

menghentikan

perekaman data, dan mengubah laju serial port menjadi 9600.


Menekan tombol FN dan tombol On/Of secara bersamaan selama 4
hingga 8 detik akan menghapus NV RAM. Menekan tombol FN dan

tombol On/Of secara bersamaan lebih dari 30 detik akan mereset


receiver.
Selain itu, terdapat beberapa port yang tersedia pada receiver tersebut
yaitu sebagai berikut.

Gambar 2.2 Triumph-1 Ports


Keterangan:
a. Power, digunakan untuk menghubungkan receiver dengan sumber
tenaga eksternal (power supply).
b. Serial, digunakan untuk menghubungkan receiver dengan perangkat
eksternal.
c. Ethernet, digunakan untuk menghubungkan receiver dengan jaringan
local.
d. USB, digunakan untuk mentransfer data dengan kecepatan tinggi dari
receiver ke perangkat eksternal.
3. Victor Data Collector + Pen Stylus
Victor Data Collector memiliki fungsi sebagai alat untuk mengatur GPS
sebelum

digunakan

perekaman

data.

maupun

Sedangkan

sebagai
pen

media

stylus

penyimpanan

memiliki

fungsi

hasil
untuk

mempermudah pengoperasian dari Victor data collector yang telah


dilengkapi oleh fitur layar sentuh.
4. Antenna UHF/GSM
Antenna UHF/GSM memiliki fungsi sebagai pendeteksi dan penerima
gelombang elektromagnetik dari satelit yang terdeteksi oleh GPS serta
mengubah gelombang elektromagnetik tersebut menjadi arus listrik.
Kemudian arus listrik tersebut diperkuat dan diteruskan ke receiver untuk
diproses lebih lanjut.
Dalama penggunaannya, antenna ini tinggal dipasangkan pada receiver
bagian bawah dengan cara memutarnya hingga terpasang dengan benar.

Gambar 4.1 Pemasangan Antenna UHF/GSM ke Receiver


5. Rol Meter
Rol meter memiliki fungsi sebagai alat pengukur ketinggian receiver dari
permukaan tanah setelah didirikan di atas statif.

Gambar 5.1 Rol Meter


6. Power Supply (Receiver + Collector)
Power supply berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk mengisi ulang
daya pada receiver maupun collector.
7. Tribach
Tribach berfungsi sebagai tempat berdirinya/dipasangnya alat (receiver
dan antenna).
8. Kabel
Pada set peralatan GPS Jacad Triumph-1 terdapat beberapa jenis kabel
yang memiliki fungsi tersendiri, antara lain sebagai berikut.
a. Kabel aki, yang memiliki fungsi untuk mengisi ulang daya baterai
langsung dengan menggunakan aki.
b. Kabel power, yang memiliki fungsi untuk menghubungkan receiver
maupun collector ke sumber listrik guna proses pengisian daya.
c. Kabel USB, yang memiliki fungsi untuk menghubungkan receiver ke
perangkat eksternal untuk mentransfer data dengan kecepatan tinggi.
d. Kabel konektor, yang memiliki fungsi untuk menghubungkan receiver
dengan perangkat eksternal.
C. Cara Penggunaan
Untuk mengatur basis dari receiver dilakukan langkah-langkah sebagai
-

berikut.
Memasang statif di atas titik BM yang telah ditentukan.
Memasangkan tribach di atas statif dengan cara mengencangkan sekrup

pada statif.
Melakukan sentering optis pada tribach dan statif tersebut.
Memasangkan antenna UHF/GSM ke Triumph Receiver dengan cara

memutarnya.
Kemudian memasangkan set receiver+antenna ke tribach yang telah

disentering sebelumnya.
Mengukur ketinggian dari receiver tersebut dari permukaan tanah (titik
BM) dengan mengunakan rol meter.
Untuk memulai proses perekaman data maka dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut.

Menyalakan receiver dengan menekan tombol On/Off yang ada di bagian


bawa receiver sehingga lampu indicator SAT akan berwarna merah pada

awalnya
Apabila lampu indicator SAT telah berwarna hijau maka receiver telah aktif

dan siap untuk digunakan.


Mengatur opsi-opsi pada Victor data collector sesuai dengan yang telah
ditentukan sebelumnya (tinggi alat, waktu total survey, waktu per

perekaman data).
Setelah lampu indicator POS berwarna hijau maka maka pekerjaan survey
dapat dilakukan. Hal tersebut dikarenakan receiver telah terkunci pada
satelit sehingga siap untuk memperoleh data yang berkualitas. Untuk
menunggu warna lampu indicator berubah menjadi hijau biasanya
memakan waktu minimal satu menit. Hal ini tergantung dari kondisi
sekitar, misal pada daerah yang tertutupi pepohonan maka akan

memakan waktu yang lebih lama.


Untuk memulai perekaman data, menekan tombol FN dan menahannya
sekitar 1 hingga 5 detik. Kemudian melepaskannya saat lampu indicator
REC berubah menjadi warna hijau. Hal ini menandakan bahwa perekaman
data telah dimulai. Lampu indicator REC akan berkedip setiap ada data

yang terekam.
Setelah perekaman data selesai dilakukan maka menekan dan menahan

tombol FN hingga lampu indicator REC padam.


Untuk melepaskan receiver dari antenna, menekan dan menahan tombol
On/Off hingga seluruh lampu indicator padam.

D. Lampiran
Nama Alat

Hardcase

Triumph Receiver

Foto

Victor Data Collector +


Pen Stylus

Antenna UHF/GSM

Rol Meter

Power Supply

Kabel

GPS GARMIN ETREX VISTA HCx


A. Jenis Alat
GPS Garmin Etrex Vista HCx merupakan salah satu jenis receiver GPS
navigasi dengan tipe handheld yang yang mempunyai fungsi seperti GPS
navigasi pada umumnya yaitu memberikan suatu posisi koordinat suatu titik.
B. Fungsi
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian dari GPS Garmin Etrex
Vista HCx.

Gambar B.1 Tampilan Depan GPS Garmin Etrex Vista HCx


1. Tombol Zoom In/Out, berfungsi untuk memperbesar maupun memperkecil
tampilan pada layar GPS. Sedang untuk tampilan lainnya, tombol ini
berguna untuk scroll ke atas maupun ke bawah sebuah daftar atau
berpindah ke menu yang lain.
2. Tombol Menu/Find, berfungsi untuk menuju menu utama pada GPS
maupun berfungsi untuk melakukan pencarian terhadap sebuah lokasi.
3. Tombol Quit/Page, berfungsi untuk kembali ke menu utama maupun
kembali ke menu sebelumnya. Tombol ini juga berfungsi untuk mematikan
kompas.
4. Tombol Power, berfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan GPS.
5. Tombol Enter/Rocket Key, berfungsi untuk menggerakkan kursor pada
layar GPS maupun memberi tanda (mark) pada sebuah lokasi yang
diinginkan.
C. Cara Penggunaan
1. Menghidupkan GPS terlebih dahulu dengan menekan tombol Power.
2. Kemudian masuk ke Main Menu untuk melakukan penandaan lokasi
(mark) diamana kita berada kemudian menekan tombol Mark.
3. Memberikan nama/keterangan lokasi yang telah ditandai kemudian
memilih pilihan OK lalu menekan tombol Enter.

4. Untuk melihat maupun mencari koordinat yang telah ditandai, pada Main
Menu menekan tombol Find kemudian memilih tombol Waypoints. Pada
menu Find bisa dilakukan pencarian berdasarkan nama (by name)
maupun berdasarkan titik terdekat (nearest point) dari posisi GPS berada
kemudian menekan tombol Enter.
D. Lampiran

GPS Garmin Etrex Vista HCx

GPS GARMIN RINO 530 HCx


A. Jenis Alat
GPS Garmin Rino mempunyai fungsi seperti GPS pada umumnya yaitu
memberikan informasi terkait dengan posisi atau koordinat suatu objek
dipermukaan bumi. Selain itu GPS Garmin Rino ini juga mempunyai fungsi
lain yaitu dapat mengetahui kecepatan dan waktu kepada pengguna dan
sebagai track-log atau untuk merekan posisi sebelumnya. Di dalam GPS ini

juga terdapat fitur-fitur yang dapat menunjang dalam kegiatan positioning


seperti dapat mengetahui posisi peer to peer, mengirim lokasi, menandai
waypoint, fitur navigasi, bahkan fitur radio yang sudah tersedia di dalam GPS
tipe ini.
B. Fungsi
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Garmin Rino 530
HCx.

Gambar B.1 Tampilan Depan GPS Garmin Rino 530 HCx


1. Power button, berfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan GPS.
2. Call button, berfungsi untuk mengirimkan sinyal suara maupun
mengirimkan koordinat GPS saat itu apabila memungkinkan.
3. Talk button, berfungsi sebagai tombol untuk memulai percakapan dengan
GPS Garmin Rino lainnya yang telah terkoneksi.
4. Page/Quit button, berfungsi untuk menuju

menu

utama

maupun

kembali/keluar ke menu sebelumnya.


5. Volume (V) button, berfungsi untuk mengatur volume suara maupun
menonaktifkan speaker GPS.
6. Enter/Rocker button Thumb Stick, berfungsi untuk menggerakkan kursor
pada layar GPS maupun membuka menu shortcut.
7. Zoom/Map (Z) button, berfungsi untuk memperbesar
memperkecil tampilan pada layar GPS.

maupun

Gambar B.2 Tampilan Belakang GPS Garmin Rino 530 HCx


1. GPS antenna, berfungsi untuk menerima sinyal yang dipancarkan oleh
satelit yang berhasil terdeteksi.
2. Mini USB port, berfungsi sebagai port untuk menghubungkan antara GPS
dengan perangkat eksternal.
3. Headset connector, berfungsi sebagai port untuk menghubungkan antara
GPS dengan headset pada saat akan berkomunikasi dengan user lain.
4. Battery charger contacts, berfungsi sebagai port untuk mengisi ulang
daya baterai GPS.
5. Battery pack locking, berfungsi untuk mengunci wadah baterai GPS agar
tidak mudah lepas dari wadahnya pada saat digunakan.
C. Cara Penggunaan
Berikut ini merupakan cara penggunaan dari GPS Garmin Rino 530 HCx.
1. Tempatkan GPS diluar ruangan yang cerah dan tidak tertutup suatu
halangan seperti vegetasi yang dapat mengganggu pancaran sinyal, lalu
menyalakan GPS.
2. GPS akan mulai mencari sinyal dari satelit yang dapat terdeteksi. Grafik
sinyal GPS akan muncul di tampilan, atau untuk menampilkan yang lebih
detail dapat dilakukan dengan mengakses halaman satelit pada Menu
Utama.
3. Ketika inisialisasi GPS siap untuk navigasi, tiga atau lebih bar sinyal GPS
akan muncul.
4. Apabila hal di atas telah terpenuhi, maka pengukuran dapat segera
dilaksanakan.
D. Lampiran

GPS Garmin Rino 530 HCx

GPS GARMIN GPS 60


A. Jenis Alat
GPS Garmin merupakan salah satu jenis receiver GPS navigasi dengan tipe
handheld yang yang dilengkapi dengan kompas digital. GPS tipe ini
dilengkapi dengan fitur anatar lain seperti dapat menentukan ketinggian
suatu

tempat,

dapat

menentukan

waktu/kecepatan/arah,

menentukan

koordinat sebanyak 3000 buah, maupun dapat menyimpan koordinat secara


otomatis sebanyak 10000 titik.
B. Fungsi
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Garmin GPS 60.

Gambar B.1 Tampilan Depan GPS Garmin GPS 60


1. On/Off, berfungsi untuk menghidupkan atau mematikan GPS maupun
mengatur tingkat kecerahan layar dari GPS.
2. Zoom in/out, berfungsi untuk memperbesar maupun memperkecil
tampilan pada layar.
3. Find, berfungsi untuk melakukan pencarian posisi titik yang telah
diketahui koordinatnya.
4. Mark, berfungsi untuk menyimpan atau menandai posisi suatu titik pada
system GPS Garmin GPS 60.
5. Quit, berfungsi untuk keluar dari sebuah tampilan menu maupun kembali
ke menu sebelumnya.
6. Roker, berfungsi untuk

memilih

suatu

pilihan

menu

maupun

menggerakan kursor pada tampilan di layar.


7. Page, berfungsi untuk berpindah dari halaman 1 ke halaman berikutnya.
8. Menu, berfungsi untuk menampilkan opsi pada setiap tampilan halaman
maupun kembali ke menu utama apabila ditekan sebanyak 2 kali.
9. Enter, berfungsi untuk memilih suatu pilihan ataupun suatu perintah
masukan data.

Gambar B.2 Tampilan Belakang GPS Garmin GPS 60

1. Antenna GPS, berfungsi untuk mendapatkan sinyal dari satelit yang


dapat terdeteksi.
2. Konektor kabel ke antenna eksternal, berfungsi sebagai port kabel yang
menghubungkan GPS ke antenna eksternal.
3. Konektor kabel USB ke computer, berfungsi sebagai port kabel yang
menghubungkan GPS ke computer.
4. Kunci penutup baterai, berfungsi sebagai pengunci tutup baterai agar
baterai tidak mudah lepas.
5. Tempat baterai, berfungsi sebagai wadah memasangkan baterai pada
GPS.
C. Cara Penggunaan
1. Menghidupkan GPS Garmin GPS 60
Untuk menghidupkan receiver dapat dilakukan dengan menekan
tombol On/Off. Setelah dihidupkan receiver akan melakukan inisialisasi
(acquiring satellite atau mencari sinyal satelit) dan setelah menerima 4
satelit akan muncul tampilan halaman informasi satelit beserta koordinat
sebagai berikut.

Gambar 1.1 Tampilan Informasi Satelit


Informasi kanan atas menunjukkan koordinat geografi posisi alat saat itu,
bagian kiri atas menunjukkan ketelitan koordinat tersebut (makin kecil
nilainya makin baik). Bagian diagram batang menunjukkan informasi
jumlah satelit dan kuat sinyal satelit yang diterima.
Catatan :
Apabila receiver tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama (3 bulan)
dan dalam keadaan batterai dilepas, maka perlu dilakukan inisialisasi
-

seperti berikut.
Menghidupkan receiver (menekan tombol On/Off).
Setelah mucul halaman satellites, menekan tombol menu 1 kali maka
akan muncul satellite option sebagai berikut.

Gambar 1.2 Tampilan Satelite Option


Dengan menggunakan tombol Rocker memilih New Location, kemudian
menekan tombol Enter. Setelah itu memilih Automatic lalu menekan

tombol Enter. Untuk kondisi seperti ini perlu waktu inisialisasi sekitar 15
menit.
2. Pengaturan Receiver Garmin
Sebelum Receiver GPS digunakan perlu dilakukan pengaturan receiver
(setting) agar sesuai dengan kebutuhan pengguna antara lain sebagai
berikut.
a. Pengaturan Unit
Langkah-langkah untuk mengatur unit dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut.
- Menghidupkan alat terlebih dahulu kemudian memilih. Main Menu
-

dengan menekan tombol menu sebanyak dua kali.


Dengan menggunakan tombol Rocker, memilih menu Setting

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Selanjutnya menggunakan tombol Rocker memilih item Menu Units

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Menggunakan tombol Rocker, memindahkan kursor ke Position
Format. Kemudian menekan tombol Enter selanjutnya memilih
pilihan sebagai berikut.
Memilih format ddd mm ss.ss kemudian menekan tombol

Enter untuk koordinat geografi.


Memilih UTM/UPS kemudian menekan tombol Enter untuk

koordinat UTM.
Memindahkan kursor ke Map Datum, kemudian memilih WGS 84.
Selanjutnya memindahkan kursor ke Distance/Speed, menekan
Enter kemudian memilih Metric diikuti dengan menekan tombol

Enter.
Memindahkan kursor ke Elevation (Vert Speed), menekan Enter
kemudian memilih Meters (m/sec) diikuti dengan menekan tombol

Enter.
Memindahkan kursor ke Depth lalu menekan Enter. Kemudian

memilih Meters dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Memindahkan kursor ke Temperature lalu menekan Enter. Kemudian
memilih Celcius dilanjutkan dengan menekan tombol Enter. Setelah

selesai menekan tombol Quit.


b. Pengaturan Waktu
Langkah-langkah untuk mengatur unit dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut.
- Menghidupkan GPS kemudian memilih Main Menu dengan cara
-

menekan tombol Menu sebanyak dua kali.


Dengan menggunakan tombol Rocker, memilih menu Setting

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Selanjutnya menggunakan tombol Rocker memilih item pilihan Time
dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.

Menggunakan tombol Rocker, memindahkan kursor ke Time Format,


menekan tombol Enter. Selanjutnya memilih 12 hour atau 24 hour

dan diikuti dengan menekan tombol Enter.


Selanjutnya pindahkan kursor ke Time Zone, menekan tombol Enter.

Kemudian memilih Other diikuti dengan menekan tombol Enter.


Selanjutnya memindahkan kursor ke UTC Offset, lalu menekan
tombol Enter. Kemudian mengisi +07.00 untuk WIB, +08.00 untuk
WITA, dan +09.00 untuk WIT dilanjutkan dengan menekan tombol

Enter. Setelah selesai menekan tombol Quit.


c. Pengaturan Interface
Pengaturan Interface perlu dilakukan agar GPS dapat berubungan
dengan computer guna proses pemindahan data hasil pengukuran di
lapangan. Langkah-langkah untuk mengatur interface dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut.
- Menghidupkan GPS terlebih dahulu kemudian memilih Main Menu
-

dengan menekan tombol Menu sebanyak dua kali.


Dengan menggunakan tombol Rocker, memilih menu Setting

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Selanjutnya menggunakan tombol Rocker memilih item menu

Interface dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Dengan menggunakan tombol Rocker, memindahkan kursor ke
Tserial Data Format kemudian menekan tombol Enter. Selanjutnya
memilih Garmin, diikuti dengan menekan tombol Enter. Setelah

selesai menekan tombol Quit.


d. Pengaturan Tampilan Informasi pada page Trip Computer
Pengaturan tampilan informasi ini dibutuhkan agar informasi yang
muncul di layar trip computer sesuai dengan kebutuhan. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut.
- Menghidupkan GPS terlebih dahulu kemudian memilih Trip Komputer
Page dengan cara menekan tombol page beberapa kali sampai
-

muncul halaman trip komputer.


Selanjutnya menekan tombol Menu sebanyak satu kali. Dengan
menggunakan tombol Rocker, memilih menu Change Data Field

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Dengan menggunakan tombol Rocker, memilih item menu Data
Field yang akan dirubah tampilan informasinya (misalnya Field
Odometer

mau

diganti

dengan

informasi

posisi/koordinat)

dilanjutkan dengan menekan tombol Enter.


Dengan menggunakan tombol Rocker memilih Location (selected),
diikuti dengan menekan tombol Enter sehingga informasi Odometer

telah berubah menjadi informasi koordinat. Setelah selesai menekan


tombol Quit.
3. Pengukuran Posisi/Koordinat Objek Berbentuk Titik di Lapangan
Langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan pengukuran
posisi/koordinat objek berbentuk titik adalah sebagai berikut.
a. Menghidupkan GPS terlebih dahulu kemudian menunggu beberapa
saat hingga terdeteksi minimal 4 buah satelit hingga muncul informasi
koordinat.
b. Mencatat atau merekam data ke dalam memori GPS (waypoint) dengan
cara sebagai berikut.
- Menekan tombol Mark.
- Dengan menggunakan tombol Rocker memilih pilihan Avg/rata-rata,
dilanjutkan dengan menekan tombol Enter. Setelah Estimated
-

Accuracy terpenuhi misalnya 2 meter, maka menekan tombol Enter.


Apabila diperlukan memberi nama titik pada bagian baris paling

atas.
- Memindahkan kursor ke tombol OK selanjutnya menekan Enter.
c. Sebaiknya pada saat melakukan perekaman data, no urut dari titik
yang diukur dicatat maupun besarnya koordinat titik tersebut beserta
keterangan objek disekitarnya apabila diperlukan.
d. Melakukan yang sama untuk titik lainnya
4. Pengukuran Posisi/Koordinat Objek Berbentuk Garis di Lapangan
Langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan pengukuran
posisi/koordinat objek berbentuk garis adalah sebagai berikut.
a. Datang ke titik awal jalan yang akan diukur.
b. Menghidupkan GPS terlebih dahulu kemudian menunggu beberapa
saat hingga terdeteksi minimal 4 buah satelit hingga muncul informasi
koordinat.
c. Menekan tombol Page beberapa kali sampai muncul halaman Main
Menu.
d. Dengan menggunakan tombol Rocker, memindahkan kursor ke Tracks
dan diikuti dengan menekan tombol Enter.
e. Dengan menggunakan tombol Rocker

memilih

pilihan

Setting,

kemudian mengisikan parameter sebagai berikut.


- Mengisikan Wrap When Full
- Record Methode : Distance
- Interval : Sesuai keinginan pengguna (misal 0.01 km).
Selesai mengisisikan parameter ukuran, menekan tombol Quit.
f. Mengisikan option Track Log : On (memindah kursor ke On dan
menekan tombol Enter).
g. Mulai berjalan mulai dari awal sampai akhir segmen jalan yang hendak
diukur posisinya sesuai rute yang telah ditentukan sebelumnya.
Setelah selesai sampai di ujung jalan set Track Log pada option

menjadi Off dengan memindahkan kursor ke Off lalu menekan tombol


Enter.
h. Melakukan tahapan yang sama dimulai dari a hingga g untuk segmen
jalan berikutnya.
Catatan:
a. Perhatikan % memory alat. Apabila telah terisi sebanyak 95%, maka
memindahkan kursor ke Save diikuti menekan tombol Enter. Kemudian
memilih pilihan Yes bila muncul pertanyaan Do you want to save the
entire track?
b. Mengisikan nama

file

atau

menggunakan

nama

berdasarkan tanggal-bulan-tahun dan sesi pengukuran.

D. Lampiran

GPS Garmin GPS 60

file

otomatis

GPS MAGELLAN TRITON 1500


A. Jenis Alat
GPS Magellan Triton 1500 merupakan salah satu jenis GPS dengan tipe
handheld yang yang didesain untuk penggunaan di luar ruangan/di
lapangan. GPS tipe ini dilengkapi dengan fitur senter yang mempermudah
penerangan saat di kegelapan maupun fitur alarm yang dapat diaktifkan
sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
B. Fungsi
Berikut ini merupakan fungsi dari beberapa bagian GPS Magellan Triton
1500.

Gambar B.1 Bagian-Bagian dari GPS Magellan Triton 1500


A. Backlight/Flashlight button, berfungsi untuk mengubah tingkat kecerahan
pada layar GSP Magellan Triton 1500.
B. Hold switch, berfungsi untuk mengunci tombol-tombol yang ada untuk
menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
C. Connector for optional external antenna, berfungsi sebagai port untuk
menyambungkan GPS dengan antenna eksternal.
D. Flashlight, berfungsi untuk menyalakan lampu senter yang telah tersedia.
E. Stylus, berfungsi untuk mempermudah untuk pengoperasian dari GPS
yang telah dilengkapi oleh fitur layar sentuh
F. Zoom out button, berfungsi untuk memperkecil tampilan pada layar.
G. Page/Goto, berfungsi untuk menuju tampilan navigasi maupun
mengakses fungsi GO TO secara cepat.

H. Escape or cancel button, berfungsi untuk kembali ke menu sebelumnya


maupun membatalkan perintah yang telah diinput.
I. Zoom in button, berfungsi untuk memperbesar tampilan pada layar.
J. Menu button, berfungsi untuk menuju menu utama.
K. Enter button and cursor control pad, berfungsi untuk memilih sebuah
pilihan/menuju menu berikutnya maupun untuk menggerakkan kursor
pada menu GPS.
L. On/Off button, beerfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan GPS.
M. SD card slot, berfungsi sebagai port/tempat memasangkan memori
eksternal.
N. Headphone connector, berfungsi untuk memasangkan headphone.
O. Reset, berfungsi untuk mengatur ulang pengaturan dari GPS.
C. Cara Penggunaan
Berikut ini merupakan cara penggunaan dari GPS Garmin Rino 530 HCx.
1. Tempatkan GPS diluar ruangan yang cerah dan tidak tertutup suatu
halangan seperti vegetasi yang dapat mengganggu pancaran sinyal, lalu
menyalakan GPS.
2. GPS akan mulai mencari sinyal dari satelit yang dapat terdeteksi. Grafik
sinyal GPS akan muncul di tampilan, atau untuk menampilkan yang lebih
detail dapat dilakukan dengan mengakses halaman satelit pada Menu
Utama.
3. Ketika inisialisasi GPS siap untuk navigasi, tiga atau lebih bar sinyal GPS
akan muncul. Apabila hal di atas telah terpenuhi, maka pengukuran dapat
segera dilaksanakan.
D. Lampiran

GPS Magellan Triton 1500

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


II
PENDESKRIPSIAN KELAYAKAN DAN PENGAMATAN OBSTRUKSI
TITIK KONTROL GEODESI

JURUSAN TEKNIK GEODESI

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013
II.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengetahui posisi base station yang jelek
menangkap sinyal dan posisi yang baik untuk menangkap sinyal.
2. Mahasiswa mampu menggunakan alat BTM (Boussole Tranch
Montagne).
3. Mahasiswa mampu menggambar peta obstruksi daerah disekitar
titik BM.
4. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan koordinat geodetik.
II.B. LANDASAN TEORI
Titik Kontrol Geodesi adalah posisi di muka bumi yang ditandai
dengan bentuk fisik tertentu yang dijadikan sebagai kerangka acuan
posisi untuk IG. (Pasal 1 Angka 8 UU Nomor 4 Tahun 2011 Tentang
Informasi Geospasial).
Oleh karenanya posisi base station dibumi harus memperhatikan
daerah disekitar posisinya berdiri, itu dikarenakan ada daerah-daerah
tertentu dimana base station tidak dapat menangkap sinyal yaitu
seperti daerah yang banyak pepohonan, bangunan, dan sebaginya.
Oleh karena itu, pada praktikum kali ini, survey pengukuran yang
dilakukan agar mahasiswa mampu mengetahui posisi base station
mana yang dapat dan tidak dapat menangkap sinyal.
II.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. 1 buah BTM (Boussole Tranch Montagne)
2. 1 buah statif kayu
3. 1 buah unting-unting
4. 1 buah rambu ukur
5. 1 buah pita ukur
6. Alat tulis
II.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Tanggal : Selasa, 17&20 September 2013
Tempat : Wilayah Rektorat UGM
Waktu

: 08.00 s.d. 09.30 WIB

II.E. LANGKAH KERJA

1. Lakukan survei pendahuluan pada tugu BM yang telah ditentukan


(BM 18 terletak di halaman rektorat Universitas Gadjah Mada,
tepatnya berada di sebelah timur laut gedung rektorat)
2. buat sketsa pada daerah disekitar tugu BM dan lakukan
pemgambilan gambar tugu BM
3. Dirikan statif pada BM, lakukan sentering menggunakan untingunting, sentering dilakukan dengan cara:
a. Buka ketiga klem kaki statif, dirikan statif di atas patok dengan
merentangkan ketiga kaki statif hingga ketiga ujung kaki statif
membentuk segitiga sama sisi dengan patok sebagai pusatnya.
b. Tarik statif bagian atas hingga tinggi kepala statif kira-kira sedikit
di bawah dada pengukur dan buat hingga kepala statif mendatar.
Gantungkan unting-unting pada baut instrumen, hingga untingunting tepat berada di atas patok dengan mengatur ketinggian
kaki statif. Kokohkan kedudukan statif dengan menginjak pijakan
di ujung bawah statif, kemudian kencangkan ketiga baut kaki
statif.
c. Pasang alat/instrumen Boussole Tranch Montagne (BTM) di atas
statif, hubungkan dengan cara memutar baut instrumen di
lubang dratnya pada plat dasar instrumen, namun tidak kencang.
d. Perhatikan apakah ujung unting-unting sudah tepat berada di
atas titik (tugu) BM. Bila belum, geser instrumen dengan cara
menekan plat dasarnya yang menempel di atas kepala statif,
sedemikian hingga ujung unting-unting tepat di atas tanda titik
(tugu) BM.
e. Kencangkan baut instrumen secukupnya (jangan terlalu keras,
karena akan menyulitkan saat melepasnya kembali).
4. Setelah sentering statif dilakukan, dan alat/instrumen telah
terpasang diatas statif, maka lakukan sentering dengan pendekatan
menggunakan nivo kotak yang dilakukan dengan cara memutar
sedemikian rupa skrup ABC pada alat/ instrumen sehingga
gelembung nivo berada tepat ditengah.
5. Setelah sentering dilakukan dengan baik, mulai lakukan pengukuran
titik yang sekiranya tidak dapat tertangkap sinyal receiver dengan
pertama-tama membidik ujung (daun) tertinggi dari pohon atau
bangunan, kemudian baca piringan vertikal dengan cara:
a. Pada piringan vertikal terdapat 2 piringan (kanan dan kiri).
b. Cari nilai vertikal yang terdekat dari angka nol pada piringan
sebelah kanan, itu merupakan nilai dari derajat vertikal.
c. Kemudian cari garis yang berhimpit antara garis kanan dan
garis kiri. Satu garis pada piringan kanan bernilai 6 menit.
6. Cari nilai azimuth titik dengan cara membaca kompas pada BTM
dengan cara melihat nilai jarum kompas ke arah utara. Baca dari N
ke jarum kompas.

7. Kemudian pemegang rambu berdiri tepat di bawah pohon tersebut,


lalu bidik rambu ukur berupa benang bawah, benang tengah serta
benang bawahnya, kemudian sudut vertikalnya.
8. Ulangi langkah 5 dan 6 pada titik lainnya.
II.F. HASIL
TITIK

VERTIKA
L

AZIMUT
H

BENANG
ATAS

BENANG
TENGAH

BENANG
BAWAH

JARAK

39 24

34830

1,815

1,87

1,925

11 m

53 36

313 30

1,79

1,905

2,02

23 m

38 18

302 0

1,31

1,5

1,69

38 m

20 24

250

0,74

0,94

1,14

40 m

35 18

198 30

0,41

0,495

0,58

17 m

33 24

107

1,24

1,43

1,62

38 m

61 0

113

1,28

1,32

1,36

8m

*catatan : Formulir obstruksi terlampir


II.G. KESIMPULAN
Posisi base station dibumi harus memperhatikan daerah disekitar
posisinya berdiri, itu dikarenakan ada daerah-daerah tertentu dimana
base station tidak dapat menangkap sinyal yaitu seperti daerah yang
banyak pepohonan, bangunan, dan sebaginya. Oleh karena itu, pada
praktikum kali ini, survey pengukuran yang dilakukan agar mahasiswa
mampu mengetahui posisi base station mana yang dapat dan tidak
dapat menangkap sinyal.

LAMPIRAN II.1

PRAKTIKUM SURVEI GPS


JURUSAN TEKNIK GEODESI
UNIVERSITAS GADJAH MADA

NO. TITIK
18

DESKRIPSI LOKASI TITIK KONTROL GEODESI

01. DESA/KAMPUNG

: Sinduadi

03. KABUPATEN

: Sleman

02. KECAMATAN

: Mlati

04. PROPINSI

: Yogyakarta

05. URAIAN LOKASI TITIK :


Lokasi Titik BM 18 terletak di lahan kosong di selatan Fakultas Geografi UGM yang terletak di lingkungan
halaman Gedung Rektorat UGM. Dimana, Gedung Rektorat UGM tersebut terletak di sebelah timur jalan
Kaliurang km 2.5.
06. KENAMPAKAN YANG MENONJOL :
Titik BM 18 tersebut berupa tugu berbentuk kubus padat yang berwarna biru tua dengan ukuran 20x20x20cm
07. JALAN MASUK LOKASI :
Jalan untuk menuju lokasi titik BM dapat diakses melalui Jalan Kaliurang kemudian belok ke arah timur ke daerah
GSP.Lokasi tepatnya di halaman Gedung Rektorat UGM yang berupa Jalan Raya beraspal. Untuk menuju halaman
lokasi Gedung Rektorat UGM dapat digunakan kendaraan seperti mobil, sepeda motor atau sepeda.

08. TRANSPORTASI/AKOMODASI :
Dari Jurusan Teknik Geodesi Geomatika kami mengendarai motor ke arah selatan melewati Jl. Sains hingga di Jl.
Kaliurang, kemudian belok ke arah selatan sampai ke lampu merah pertama, belok ke arah Timur sampai ketemu
Bundaran UGM.Dari bundaran UGM, masuk lewat gerbang menuju arah GSP, kemudian motor diparkir di utara
GSP karena untuk ke halaman rektorat hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki.Dari area parkir GSP, jalan ke arah
Utara sekitar 1 km ke halaman rektorat.Lokasi Tugu BM 18 berada di halaman tersebut di sebelah selatan Fakultas

Geografi UGM.Lebih tepatnya di lahan kosong sebelah barat Pos satpam.

09. DIBUAT OLEH : Kelompok 9

10. TANGGAL : 20 September 2013

11. DIPERIKSA OLEH : Dr. Ir. T. Aris Sunantyo

12. TANGGAL :

PRAKTIKUM SURVEI GPS


JURUSAN TEKNIK GEODESI
UNIVERSITAS GADJAH MADA

NO. TITIK
18

SKETSA LOKASI TITIK KONTROL GEODESI

SKETSA UMUM LOKASI TITIK

Kehutanan

BM 18
Jalan
Kaliuran

Rektorat

SKETSA DETAIL LOKASI TITIK

Kehutana
n
BM 18

Jalan
Kaliuran

Rektorat
01. DIBUAT OLEH

: Kelompok 9

02. DIPERIKSA OLEH

: Dr. Ir. T. Aris Sunantyo

03. TGL. PEMERIKSAAN:

PRAKTIKUM SURVEI GPS


JURUSAN TEKNIK GEODESI
UNIVERSITAS GADJAH MADA

NO. TITIK
18

FOTO LOKASI TITIK KONTROL GEODESI

ARAH PANDANG KE UTARA

ARAH PANDANG KE TIMUR

ARAH PANDANG KE SELATAN

ARAH PANDANG KE BARAT

01. DIBUAT OLEH

: Kelompok 9

03. DIPERIKSA OLEH : Dr. Ir. T. Aris Sunantyo

02. TANGGAL PEMBUATAN

: 20 September 2013

04. TANGGAL PEMERIKSAAN :

PRAKTIKUM SURVEI GPS


JURUSAN TEKNIK GEODESI
UNIVERSITAS GADJAH MADA

NO. TITIK
18

KOORDINAT LOKASI TITIK KONTROL GEODESI

01. MERK ALAT

: Fennel Kessel

04. PERANGKAT LUNAK

: CorelDraw

02. JENIS/TIPE

: BTM

05. TGL. PENGHITUNGAN

: 20 September 2013

03. METODE PENGAMATAN

: Tachymetri

KOORDINAT GEODETIK
06. LINTANG

= 00 0 42,06 E

07. BUJUR

= 870 17 48,83 S

OBSTRUKSI TITIK

08. TINGGI ELLIPSOID = 2774030,844 meter


09. TINGGI ORTHOMETRIK = KOORDINAT UTM
10. X (meter)

= 431591,8245 N

11. Y (meter)

= 9141363,078 E

12. Z (meter)

1394,427 m

13. KETERANGAN KONDISI TITIK KONTROL


Kondisi titik kontrol BM 18 tergolong baik dan tidak terdapat kerusakan yang mempengaruhi fungsinya sebagai
titik BM. Titik BM pada tugu juga masih dalam keadaan baik dan terlihat dengan jelas sehingga dapat digunakan
sebagai base station.

14. DIBUAT OLEH

: Kelompok 9

15. DIPERIKSA OLEH

: Dr. Ir. T. Aris Sunantyo

16. TGL. PEMERIKSAAN :

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


III
PENDESKRIPSIAN DAN PENGAMATAN OBSTRUKSI TITIK KONTROL
GEODESI

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

III.1. BAB I
PENDAHULUAN (Pengenalan Alat)
III.1.i.

GPS GEODETIC LEICA CS10


i.A.
Jenis Alat
GPS GEODETIC LEICA CS10 terdiri dari:
1.
2.
3.
4.

Hardcase
Leica Receiver
Kabel USB
Bracket
&
tali
bracket

5. Controller

&

Pen

Stylus
6. Pengancing Pull
7. Baterai
8. CD
&
Buku
Panduan

i.B.
Fungsi
1. Hardcase
i.C.
Hardcase berfungsi untuk tempat penyimpanan
komponen-komponen dari GPS.
2. Leica Receiver
i.D.
Leica receiver berfungsi sebagai media penerima
dari sinyal yang dipancarkan oleh satelit. Alat ini dilengkapi
dengan beberapa tombol dan lampu indicator seperti
gambar berikut.
i. Leica Mini Pad

i.E.
i.F.

Gambar 2.1 Leica Mini Pad


c. Tombol
On/Of
yang

berfungsi

untuk

menghidupkan dan mematikan receiver.


d. Lampu indicator terdiri dari Tracking LED, Blutooth
LED, dan Power LED.
Tracking LED lampu indikator menunjukkan ada
atau tidaknya satelit yang terdeteksi.
Tidak menyala - tidak ada satelit terdeteksi.
Hijau (berkedip) - kurang dari 4 satelit
terdeteksi.
Hijau - satelit terdeteksi sudah mencukupi.
Merah - sedang dalam persiapan.
BT LED lampu indikator yang menunjukkan
status Bluetooth
Hijau - Bluetooth siap digunakan.
Ungu - Bluetooth sedang terkoneksi.
Biru - Bluetooth telah terkoneksi.
Biru (berkedip) sedang mentransfer data
PWR LED lampu indikator yang menunjukkan

i.G.

status daya receiver


Tidak menyala - receiver mati.
Hijau - daya receiver baik.
Hijau (berkedip) - daya receiver lemah.

3. Kabel USB
i.H.
Kabel USB berfungsi untuk menghubungkan serta
memindahkan

data

hasil

rekaman

dari

receiver

ke

komputer.
4. Controller & Pen Stylus
i.I.Controller berfungsi untuk mengatur GPS sebelum
digunakan maupun sebagai media penyimpanan hasil
perekaman data. Sedangkan pen stylus berfungsi untuk
memudahkan

pengoperasian

Controller

dilengkapi oleh fitur layar sentuh.


5. Pengancing Pull
i.J.Pengancing pull berfungsi untuk

yang

telah

mengunci

atau

mengencangkan pull dengan receiver.


6. Baterai
i.K.
Baterai berfungsi sebagi sumber utama daya
untuk receiver dan controller.
i.L.
i.M.
Cara Menggunakan
5. Pengukuran RTK-NTRIP
j. Hidupkan receiver kemudian

controller

dengan

menekan tombol power.


k. Buat job dengan masuk ke menu Jobs & data kemudian
pilih New Job. Isi nama job, deskripsi, creator, codelist,
coord system dan memilih pilihan Store.
l. Pilih menu GPS settings kemudian pilih RTK rover wizard.
m. Pilih Create a new profile, beri nama dan deskripsi
setting. Deskripsi Tekan Next. Pada RTK rover wizard
terdapat 3 pilihan, pilih Internet (e.g NTRIP) untuk
melakukan setting NTRIP.
n. Konfirmasi akan keluar

yang

menunjukkan

bahwa

koneksi ke receiver dibutuhkan. Tekan Next. Pada pilihan


port memilih Internal 3.5G modem untuk mendefinisikan
koneksi antara GNSS ke server. Tekan Next. Pilih
GSM/GPRS/UMTS device dan memilih name of device yg
sesuai. Jika menggunakan provider yang berbasis pada
CDMA maka memilih CDMA device. Tekan Next.
o. Pada Bluetooth device connection pilih Next kemudian
pilih nama device yang akan digunakan. Tekan Next. Jika

device yang digunakan belum ada pada daftar bluetotth


device,

tekan

Search

untuk

melakukan

pencarian

otomatis. Pilih Using GPRS/CDMA internet connection.


Tekan Next.
p. Masukkan

parameter-parameter

server.

Untuk

menggunakan data koreksi beri tanda centang pada use


NTRIP with this server. Masukkan used ID dan password.
Tekan Next.
q. Jika menggunakan network CORS, maka receive RTK
corrections from RTK network dicentang. Jika hanya
menggunakan single base CORS maka dibiarkan tidak
diberi tanda cek pada kedua pilihan. Pilihan RTK data
format adalah RTCM v3, kemudian pilihan sensor at base
dan

antenna

at

base

pada

automatically

detect.

Kemudian use auto coordinate system dan receive RTK


network information diberi tanda cek.
r. Jika semua setting telah benar, maka ketika dipilih Yes,
test my connection akan keluar konfirmasi bahwa
settingan telah benar dan telah terhubung dengan
server CORS.
i.N.
6. Pengukuran Kadaster (Pengukuran Bidang)
e. Pengukuran Titik
i.O.
Dari menu Utama memilih Go to work kemudian
memilih menu Survey. Untuk melakukan pengukuran
tinggal menekan Meas. Sebelum melakukan pengukuran
memberi nama dan kode titik sebagai pelengkapan data.
Perhatikan nilai 3DCQ, untuk pengukuran RTK NTRIP nilai
3DCQ berkisar 1-5 cm merupakan hasil yang teliti.
f. Pengukuran Bidang atau Luasan
i.P.
Dari menu utama memilih Go to work
kemudian memilih menu COGO lalu memilih Area
division. Di dalam area to use memilih survey new area.
Maksudnya adalah melakukan perekaman titik terlebih
dahulu baru kemudian dihitung luasnya. Melakukan
perekaman titik-titik batas luasan dengan menekan

Meas hingga selesai satu bidang. Jika sudah selesai


menekan Done. Kemudian memilih store pada halaman
edit area kemudian memilih OK.
g. Pengukuran Menggunakan Hidden Point dan Distometer
i.Q.
Dari menu utama memilih Go to work kemudian
memilih pilihan Survey. Untuk melakukan pengukuran
tinggal memilih HdnP. Setelah masuk ke halaman hidden
point melakukan setting pada titik awal arahkan Disto ke
titik yang diamat. Kemudian memindahkan alat ke titik
bantu lakukan pengamatan yang sama lalu mentransfer
data dari disto menggunakan Bluetooth.
h. Rekontruksi Batas
i.R.
Untuk melakukan rekonstruksi batas, dari menu
utama memilih Go to work kemudian memilih Stakeout
dan memberi pilihan job kemudian seleksi titik yang
akan

direkonstruksi.

Kemudian

dengan

mengikuti

petunjuk arah dan akan ada petunjuk posisi rover


terhadap titik yang direkonstruksi.
7. Pengukuran Situasi
d. Pengukuran Planimetrik
i.S.
Dari menu Utama memilih Go to work kemudian
memilih menu Survey. Untuk melakukan pengukuran
tinggal menekan Meas. Sebelum melakukan pengukuran
memberi nama dan kode titik sebagai pelengkapan data.
Perhatikan nilai 3DCQ, untuk pengukuran RTK NTRIP nilai
3DCQ berkisar 1-5 cm merupakan hasil yang teliti.
e. Pengukuran Tinggi/DTM
i.T.
Untuk melakukan pengukuran tinggi
langkahnya sama dengan pengukuran planimetrik pada
langkah di atas.
f. Stake Out
i.U.
Untuk melakukan stake out, memilih menu
Stake out pada menu Go to work. Memilih job yang
digunakan

kemudian

memilih

OK.

Di

dalam

layar

terdapat petunjuk untuk mencari titik yang akan di stake


out.
8. Pengukuran Post-Processing Statik dan Kinematik

c. Pengukuran Post-Processing Statik


i.V.
Untuk melakukan setting post-processing pada
GNSS Leica dibutuhkan pembuatan profile. Dari menu
Instrument memilih GPS settings kemudian memilih Raw
data logging. Di dalam Raw data logging ini, klik log data
post-processing, kemudian memilih log data lalu memilih
static dengan sampling rate 1. Dari menu Utama
memilih Go to work kemudian memilih menu Survey.
Untuk melakukan pengukuran tinggal menekan Meas.
Sebelum melakukan pengukuran memberi nama dan
kode titik sebagai pelengkapan data.
d. Pengukuran Post-Processing Kinematik
i.W.
Untuk melakukan setting post-processing pada
GNSS Leica dibutuhkan pembuatan profile. Dari menu
Instrument memilih GPS settings kemudian memilih Raw
data logging. Dari menu utama memilih Go to work
kemudian memilih menu Survey. Untuk melakukan
pengukuran tinggal menekan Meas. Sebelum melakukan
pengukuran memberi nama dan kode titik sebagai
pelengkapan data.
i.X.
i.Y.
Lampiran
1. Hardcase

i.Z.
2. Leica Receiver

i.AA.

3. Kabel USB
i.AB.

4. Controller & Pen Stylus

i.AC.
5. Pengancing Pull
i.AD.

6. Baterai

i.AE.
7. Pull

i.AF.
8. Statif

i.AG.
i.AH.
III.1.ii. GPS NAVIGATION GARMIN ETREX VISTA HCX
i.AI.
ii.A. Jenis Alat
i.AJ. GPS Garmin Etrex Vista HCx merupakan salah satu jenis
receiver GPS navigasi dengan tipe handheld yang yang
mempunyai fungsi seperti GPS navigasi pada umumnya yaitu
memberikan suatu posisi koordinat suatu titik.
i.AK.
ii.B.
Fungsi
1. Tombol Zoom In/Out,
i.AL.
berfungsi
untuk
memperbesar

maupun

memperkecil tampilan pada layar GPS. Sedangkan untuk


tampilan lainnya, tombol ini berguna untuk scroll ke atas
maupun ke bawah sebuah daftar atau berpindah ke menu
yang lain.
2. Tombol Menu/Find,
i.AM. berfungsi untuk menuju menu utama pada GPS
maupun berfungsi untuk melakukan pencarian terhadap
sebuah lokasi.
3. Tombol Quit/Page,
i.AN.
berfungsi untuk kembali ke menu utama maupun
kembali ke menu sebelumnya. Tombol ini juga berfungsi
untuk mematikan kompas.
4. Tombol Power,
i.AO.

berfungsi

untuk

mematikan GPS.
5. Tombol Enter/Rocket Key,

menghidupkan

maupun

i.AP.

berfungsi untuk menggerakkan kursor pada layar

GPS maupun memberi tanda (mark) pada sebuah lokasi


yang diinginkan.
i.AQ.
ii.C. Cara Penggunaan
5. Hidupkan GPS terlebih dahulu dengan menekan tombol
Power.
6. Masuk ke Main Menu untuk melakukan penandaan lokasi
(mark) dimana kita berada kemudian Tekan tombol Mark.
7. Berikan nama/keterangan lokasi yang telah ditandai
kemudian memilih pilihan OK lalu menekan tombol Enter.
8. Untuk melihat maupun mencari koordinat yang telah
ditandai, pada Main Menu Tekan tombol Find kemudian Pilih
tombol Waypoints. Pada menu Find bisa dilakukan pencarian
berdasarkan nama (by name) maupun berdasarkan titik
terdekat (nearest point) dari posisi GPS berada kemudian
Tekan tombol Enter.
i.AR.
ii.D. Lampiran
i.AS. GPS NAVIGATION GARMIN ETREX VISTA HCX
i.AT.
i.AU.

i.AV.
III.2. BAB II
i.AW.

PRAKTIKUM PENGUKURAN MARKING GPS Handheld

III.2.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menggunakan GPS handheld.
2. Mahasiswa mampu melakukan fungsi marking pada GPS
handheld.
3. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan standar deviasi
dari data koordinat yang diperoleh.
i.AX.
III.2.B. PENDAHULUAN
i.AY.

Deteksi Posisi bukan lagi untuk kebutuhan militer

ataupun explorasi, di saat dunia demam wireless ataupun


komunikasi selular, penggunaan deteksi posisi menjadi sebuah
kebutuhan di dunia telekomunikasi. GPS menawarkan solusi
terakurat dari metode-metode yang ada.
i.AZ.

Global Positioning System (GPS) adalah suatu

sistem radio navigasi penentuan posisi dengan menggunakan


satelit. GPS dapat memberikan posisi suatu objek di muka bumi
dengan akurat dan cepat (tiga dimensi koordinat x, y, z) dan
memberikan informasi waktu serta kecepatan bergerak secara
kontinyu di seluruh dunia. Satelit GPS mempunyai konstelasi 24
satelit dalam enam orbit yang mendekati lingkaran. Setiap orbit
ditempati oleh 4 buah satelit dengan interval antara yang tidak
sama. Orbit satelit GPS berinklinasi 550 terhadap bidang equator
dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar 20.200
km. Satelit GPS memiliki berat lebih dari 800 kg, bergerak
dengan kecepatan sekitar 4 km/detik dan mempunyai periode 11
jam 58 menit.
i.BA.

Dengan adanya 24 satelit di angkasa, 4 sampai

dengan 10 satelit GPS setiap saat akan selalu dapat diamati di


seluruh permukaan bumi. Sinyal satelit GPS dipancarkan secara
broadcast oleh satelit GPS secara kontinyu. Dengan mengamati
sinyal satelit menggunakan receiver GPS seseorang dapat
menentukan posisi (lintang, bujur) di permukaan bumi. Informasi
lainnya yang didapat dari satelit GPS selain posisi adalah
kecepatan, arah, jarak, dan waktu.

i.BB.

Penggunaan satelit untuk penentuan posisi (dalam

pengertian lokasi ataupun ruang) memudahkan para pengguna


sistem informasi memperoleh informasi yang diinginkannya.
i.BC.

GPS dikembangkan pertama kali sebagai NAVSTAR

Global Positioning System (GPS) juga dikenal sebagai NAVigation


System with Timing And Ranging GPS.Sistem ini merupakan
sistem

penentuan

posisi

berbasis

satelit,

dan

sekaligus

merupakan tonggak revolusi bidang pengukuran posisi dan


navigasi.
i.BD.

Sistem GPS pada awalnya merupakan system

navigasi ketentaraan yang dirancang, dilaksanakan, dibiayai,


dan

dikelola

oleh

Jabatan

Pertahanan

Amerika

Serikat

(DoD). Sistem ini dirancang oleh Jabatan Amerika Serikat sejak


tahun 1973. Sistem ini adalah hasil gabungan program U.S.
Navys TIMATION dan proyek U.S. Air Forces 621B di bawah
tanggung jawab Joint Program Office (JPO). Satelit GPS yang
pertama telah diluncurkan pada tahun 1978. Pada awalnya,
penggunaan sistem ini ditujukan bagi pihak tentara Amerika
Serikat saja tetapi setelah diluluskan pada Kongres Amerika
Serikat, penggunaan sistem penentuan posisi ini terbuka untuk
umum.
i.BE.

Tujuan utama GPS adalah untuk mewujudkan

sistem penentuan posisi di darat, laut, dan udara bagi pihak


tentara Amerika Serikat dan sekutunya, namun kemudian sistem
ini bebas digunakan oleh semua pengguna. Sistem ini dirancang
untuk menggantikan berbagai sistem navigasi yang telah
digunakan.
i.BF.

GPS terdiri dari tiga segmen utama, segmen

angkasa (space segmen) yang terdiri dari satelit-satelit GPS,


segmen sistem kontrol (control segment) yang terdiri dari

stasion-stasion pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen


pemakai (user segment) yang terdiri dari pemakai GPS termasuk
alat-alat penerima dan pengolah sinyal data GPS.
i.BG.
i.BH.
Konsep dasar pada penentuan posisi dengan GPS
adalah reseksi (pengikatan kebelakang) dengan jarak, yaitu
dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit
GPS yang koordinatnya telah diketahui. Pada pelaksanaan
pengukuran penentuan posisi dengan GPS, pada dasarnya ada
dua jenis/tipe alat penerima sinyal satelit (receiver) GPS yang
dapat digunakan, yaitu :
1) Tipe Navigasi digunakan untuk penentuan posisi yang tidak
menuntut ketelitian tinggi.
2) Tipe Geodetik digunakan

untuk

penentuan

posisi

yang

menuntut ketelitian tinggi.


i.BI.
i.BJ. Kelebihan penentuan posisi dengan menggunakan GPS
antara lain :

GPS dapat digunakan setiap saat tanpa bergantung waktu dan

cuaca.
GPS dapat digunakan oleh banyak orang pada waktu yang
sama dan pemakaiannya tidak bergantung pada batas politik

dan alam.
Penggunaan GPS dalam penentuan posisi secara relatif tidak

bergantung dengan kondisi topografis daerah survey.


Posisi yang ditentukan dengan GPS mengacu ke datum global
yang dinamakan World Geodetic System 1984 (WGS84).
Dengan kata lain posisi yang diberikan oleh GPS akan selalu

mengacu ke datum yang sama.


Pemakaian sistem GPS tidak dikenakan biaya, setidaknya

sampai saat ini.


Receiver GPS cenderung lebih kecil ukurannya, lebih murah

harganya dan kualitas data yang diberikan lebih baik.


Pengoperasian alat GPS untuk penentuan posisi suatu titik

relatif lebih mudah dan tidak mengeluarkan biaya banyak.


Data pengamatan GPS sukar untuk dimanipulasi.

Semakin banyak bidang aplikasi yang dapat ditangani dengan


menggunakan GPS dan di Indonesia semakin banyak instansi

yang menggunakan GPS.


i.BK.
III.2.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
- 1 Unit GPS Handheld Garmin Etrex Vista Hcx
- Alat tulis
i.BL.
III.2.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
III.2.E. LANGKAH KERJA
1. Hidupkan GPS Handheld Garmin
2. Pada Main Menu pilih Setup kemudian pada Setup Menu pilih
Units untuk merubah koordinat yang dihasilkan pada GPS:
a. Koordinat UTM
Pada Unit Setup, ubah Position Format menjadi UTM
UPS untuk menghasilkan koordinat UTM (X, Y, Z)
Pilih WGS84 untuk Map Datum
Pilih Matric untuk Distance/speed
Pilih Meters (m/sec) untuk Elevation (vertical speed)
Pilih Meters untuk Depth
Pilih Milibars untuk Pressure
b. Koordinat Geodetik
Pada Unit Setup, ubah Position Format menjadi
hddd mm ss.s untuk menghasilkan koordinat
geodetik (, , h)
Pilih WGS84 untuk Map Datum
Pilih Matric untuk Distance/speed
Pilih Meters (m/sec) untuk Elevation (vertical speed)
Pilih Meters untuk Depth
Pilih Milibars untuk Pressure
3. Letakkan GPS pada tugu BM yang akan dilakukan pengukuran
4. Pada Main Menu GPS pilih Mark untuk menghasilkan koordinat
titik yang diukur serta merekam data yang tertera pada
display, meliputi:
a. Nama titik
b. Note, meliputi tanggal dan waktu perekaman
c. Location, meliputi nilai koordinat
d. Elevation
e. From map pointer, meliputi ketelitian pengukuran.
5. Kemudian pilih OK untuk merekam data pengukuran.
6. Lakukan langkah ke-4 dan 5 sebanyak 10 kali pada setiap titik
dengan interval waktu perekaman selama 30 detik pada
setiap sistem koordinat (UTM dan Geodetik).

7. Catat hasil pengukuran.


i.BM.
III.2.F. HASIL DAN PEMBAHASAN
i.BN.
*terlampir
i.BO.
III.2.G. KESIMPULAN
i.BP.

i.BQ.
i.BR.
i.BS.
i.BT.
i.BU.
i.BV.
i.BW.
i.BX.
i.BY.
i.BZ.
i.CA.
i.CB.
i.CC.
i.CD.
i.CE.
i.CF.

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.CG. IV

i.CH.

PENGENALAN GPS GEODETIK SERTA KONSEP


PENGUKURAN METODE STATIK

i.CI.

DAN RTK NTRIP


i.CJ.
i.CK.
i.CL.
i.CM.

i.CN.
i.CO.
i.CP.
i.CQ.

i.CR.
i.CS.
i.CT.

JURUSAN TEKNIK GEODESI


i.CU.

i.CV.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.CW.

YOGYAKARTA

i.CX.
IV.A.

2013

TUJUAN
1. Mahasiswa Mampu Menggunakan GPS Geodetik Tipe Javad Triumph-1
dan Leica SR 20
2. Mahasiswa mampu mengetahu konsep pengukuran metode RTK NTRIP
dan Statik
i.CY.

IV.B.

LANDASAN TEORI
i.CZ. GPS

(Global

Positioning

System)

adalah

sistem

satelit

navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika
Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tigadimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di seluruh dunia
tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan.
Pada saat ini, sistem GPS sudah sangat banyak digunakan orang di
seluruh dunia. Di Indonesia pun, GPS sudah banyak diaplikasikan,
terutama yang terkait dengan aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi
tentang posisi. Pada dasarnya GPS terdiri atas tiga segmen utama, yaitu
segmen angkasa (space segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS,
segmen sistem kontrol (control system segment) yang terdiri dari stationstation pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai (user
segment) yang terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan
pengolah sinyal dan data GPS. Ketiga segment GPS ini digambarkan
secara skematik di Gambar F.1.
i.DA.

i.DB.

i.DC.
i.DE.

i.DD.

Gambar IV.B.1. Sistem penentuan Global GPS

i.DF. Setiap satelit GPS secara kontinu memancarkan sinyal-sinyal


gelombang pada 2 frekuensi L-band yang dinamakan L1 and L2. Sinyal L1
berfrekuensi 1575.42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227.60 MHz. Sinyal
L1 membawa 2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (P-code, Precise
or Private code) dan kode-C/A (C/A-code, Clear Access or Coarse
Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A. Perlu dicatat
bahwa pada saat ini kode-P telah dirubah menjadi kode-Y yang strukturnya
dirahasiakan untuk umum. Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit
dalam jumlah dan waktu yang cukup, seseorang kemudian dapat
memrosesnya untuk mendapatkan informasi mengenai posisi, kecepatan,
dan waktu, ataupun parameter-parameter turunannya.

i.DG. Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan GPS


adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan
pengukuran

jarak

secara

simultan

ke

beberapa

satelit

GPS

yang

koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan oleh GPS adalah posisi
tigadimensi (X,Y,Z ataupun L,B,h) yang dinyatakan dalam datum WGS
(World Geodetic System) 1984. Dengan GPS, titik yang akan ditentukan
posisinya dapat diam (static positioning) ataupun bergerak (kinematic
positioning). Posisi titik dapat ditentukan dengan menggunakan satu
receiver GPS terhadap pusat bumi dengan menggunakan metode absolute
(point) positioning, ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui
koordinatnya (monitor station) dengan menggunakan metode diferential
(relative) positioning yang menggunakan minimal dua receiver GPS, yang
menghasilkan ketelitian posisi yang relatif lebih tinggi. GPS dapat
memberikan

posisi

secara

instan

(real-time)

ataupun

sesudah

pengamatan setelah data pengamatannya di proses secara lebih ekstensif


(post processing) yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan ketelitian
yang lebih baik. Secara umum kategorisasi metode dan system penentuan
posisi dengan GPS ditunjukkan pada Gambar F.2 berikut.
i.DH.
i.DI.

i.DJ.

Gambar IV.B.2. Metode dan sistem penentuan posisi


dengan GPS
i.DK.

Metode Real Time Kinematik (RTK)

i.DL. Sistem RTK merupakan prosedur DGPS (Differental Global


Positioning System) menggunakan data pengamatan fase, yang mana
data atau

koreksi fase dikirim secara seketika dari stasion referensi ke

receiver pengguna.
i.DM. Penggunaan data pengamatan fase membuat

informasi

posisi yang dihasilkan memiliki ketelitian tinggi. Sistem RTK berkembang


setelah diperkenalkannya suatu teknik untuk memecahkan ambiguitas
fase disaatreceiver dalam keadaan bergerak yang dikenal dengan metode
penentuan ambiguitas fase secara On The Fly ( OTF ). Dengan adanya
radio modem sehingga proses pengiriman data atau koreksifase dapat
dilakukan secara seketika, membuat informasi posisi yang dihasilkan oleh

sistem ini dapat diperoleh secara seketika (Rahmadi, 1997).


i.DN.
Metode Statik
i.DO. Set up alat seperti pemasangan GPS pada setiap titik
(sentering optis, dan kabel seluruhnya dipasang sesuai petunjuk)
untuk kedua titik yang akandiamat. Pada metode ini, baik titik yang
diketahui maupun titik yang tidak diketahui koordinatnya didirikan
alat GPS dan diukur (direkam) dalam w a k t u y a n g s a m a d a n
secara
Perbedaan

simultan
dengan

dianggap bergerak,

(bersamaan)
metode

RTK

untuk
adalah

sehingga setiap

setiap
tidak

pasang

p a s a n g titik.

ada

titik

titik

akan

yang
diukur

bersamaan dan salah satu GPS tidak dibiarkan secara terus


menerus

merekam

data,

sementarayang

lain

bergerak

untuk

merekam data pada titik-titik yang menyebar. Kemudian dimatikan


saat akan berjalan pada titik yang lain, dan alat yang satunya tidak
dimatikan.
i.DP. Biasanya pengukuran dengan metode static ini dilakukan
untuk mendapatkan posisi titik-titik yang saling berjauhan, seperti
penyebaran titik kontrol horizontal untuk BPN. Alat yang dibutuhkan pada
metode static ini adalah gps javad triumph yang memiliki gelombang radio

IV.C.

yang disetting sama antara base dan rover.


i.DQ.

ALAT YANG DIGUNAKAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

GPS Geodetik Javad Triumph 1 (receiver)


Antena UHF Javad Triumph 1
Controler Javad Triumph 1
GPS Geodetik Leica SR20 (receiver)
Antena UHF Leica SR20
Controler Leica SR20
Tribach

1
1
1
1
1
1
1

buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah

8. Statif
9. Meteran

1 buah
1 buah

i.DR.

IV.D.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN


i.DS.
Hari, Tanggal
: Selasa, 1 Oktober 2013
i.DT. Tempat
: Teknik Geodesi UGM
i.DU.
Pukul
: 07.00 11.00 WIB

IV.E.

LANGKAH KERJA
GPS Geodetic merk JAVAD
1. Dirikan statif di atas titik kontrol, lalu lakukan sentering dengan mengatur
kaki-kaki statif.
2. Pasang antenna receiver pada tribach di atas statif yang telah sentering,
lalu pasang receiver.
i.DV.
GPS yang siap digunakan :
i.DW.
i.DX.
Gambar IV.E.1 Ilustrasi GPS yang
i.DY.
3. Ukur ketinggian receiver.
siap digunakan
4. Tekan tombol power pada receiver hingga receiver tersebut menyala.
5. Gambar di bawah ini merupakan lamupu-lampu indukator yang berisi
informasi-informasi tentang fungsi-funsi yang tersedia dan posisinya
apakah dalam kedaan menyala atau tidak.
i.DZ.
i.EA.
i.EB.
i.EC.
i.ED.
i.EE.
i.EF.
a. Baterai
i.EG.

Gambar IV.E.2.Lampu indikator pada


GPS Geodetik
Tidak menyala = penerima tidak aktif, Hijau = penuh, Kuning

= sisi baterai sisa setengah, Merah = hampir habis.


b. Bluetooth
i.EH.

Tidak menyala = bluetooth tidak difungsikan, Hijau =

bluetooth muncul di controller, berhasil melakukan koneksi, Kuning =


koneksi bluetooth lemah, Merah = sambungan bluetooth lemah karena
jarak receiver dan controller terlalu jauh.
c. Modem
i.EI.

Tidak

ada

cahaya

UHF

modem/

GSM

model

tidak

difungsikan, Hijau = UHF modem/ model GSM aktif (koneksi sudah


tersambung), Kuning = konektivitas terbatas, Merah = sambungan
tidak terhubung.

d. Satellite
i.EJ.

Tidak ada cahaya = model satelit tidak difungsikan, Hijau =

terdapat 8 satelit atau lebih, Kuning = terdapat 5 hingga 7 satelit yang


terdeteksi, Merah = kurang dari 5 satelit atau tidak ada satelit yang
terdeteksi.
i.EK.
Jumlah efektif adalah jumlah satelit dilacak dikurangi jumlah
non-GPS system dilacak. Misalnya: jika ada 8 GPS dan GLONASS 5
dilacak jumlah efektif satelit adalah 12.
e. Position
i.EL.

Tidak ada cahaya = tidak ada satelit, Hijau = Fixed atau

solusi Diff posisi diperoleh, Kuning = Lampung atau No-Diff solusi


posisi diperoleh, Merah = Tidak berada pada posisinya.
f.

Record
i.EM.

Tidak ada cahaya = tidak aktif, Hijau = Data dapat direkam,

Kuning = sebelum 10 menit kemudian memory akan penuh, Merah =


memory penuh.
6. Hidupkan Controller dengan menekan tombol power pada bagian kanan
bawah Controller untuk membuat bluetooth terhubung antara receiver
dengan Controller. Apabila jarak antara Controller dengan receiver terlalu
jauh, maka bluetooth akan terganggu yang ditandai dengan bunyi
peringatan pada Controller.
7. Pilih PPK pada tampilan menu utama Controller. Lalu klik tombol
configuration kemudian akan muncul window PP, klik logo Bluetooth
sesuai dengan tipe receiver yang digunakan, lalu tekan Set.
8. Terdapat 5 menu utama pada GPS yaitu: Survey, Pengkodean, Sky Plot,
dan Option.
a. Survey
i.EN.
Pada menu ini, dapat memilih antena yang digunakan,
memasukkan tinggi receiver yang telah diukur sebelumnya dengan roll
meter. Ketika memasukkan ketinggian receiver terdapat dua pilihan
yaitu Vert dan Slant. Menu Vert dipilih ketika receiver didirikan pada
keadaan yang benar-benar tegak/ vertical sedangkan menu Slant
dipilih ketika receiver didirikan hanya menggunakan pole sehingga
kedudukannya tidak benar-benar tegak. Pada menu File, isikan nama
file yang dikehendaki, kemudian pada menu Point isikan nama point
yang diukur.
b. Skyplot
i.EO.
Digunakan untuk menunjukkan jumlah satelit yang dapat
terdeteksi oleh receiver. Warna biru dan kuning menunjukkan satelit

GPS dan GLONASS. Sebagai keterangan, untuk GPS Navigasi hanya


dapat menerima sinyal dari satelit GPS saja. Dalam layar juga dapat
diamati kekuatan sinyal satelit. Semakin tinggi histogram dari satelit
tersebut artinya sinyalnya makin kuat.
i.EP.
i.EQ.
i.ER.
i.ES.
i.ET.
i.EU.
i.EV.

Gambar

IV.E.3. Controller GPS

Geodetic merk

JAVAD

c. Option
i.EW. Digunakan untuk melakukan pengaturan apakah kita akan
menggunakan statik atau float.
9. Pilih Start, Static, lalu Workfile. Digunakan untuk penyimpanan data. Data
dapat disimpan pada controller, receiver, atau keduanya. Untuk menjaga
keamanan data supaya tidak hilang, umumnya data disimpan pada
receiver dan controller.
10.Untuk Setting Survey pada antena, pilih penggunaan radio atau triumph
internal. Apabila tidak ada sinyal GSM, maka kita menggunakan sinyal
radio. Demikian juga sebaliknya.
11.Terdapat parameter yang sangat penting untuk dipahami yaitu elevation
max degree. Contoh : apabila kita memasukkan nilai elevation max degree
100 maka:
i.EX.
i.EY.
i.EZ.
i.FA.
Gambar
IV.E.4.
Contoh
skema
i.FB. Artinya,
semua
obyek
yangelevation
berada di ketinggian 1 0 - 100 tidak bisa
max degree
terekam, sementara semua obyek dengan elevasi 11 0 - 1600 bisa terekam.
Jadi, jika elevasinya semakin besar, otomatis jumlah obyek yang terekam
semakin sedikit, dengan demikian obstruksi juga makin kecil, sehingga
data semakin teliti. Demikian juga sebaliknya.
12.Pilih menu File, Static, lalu pilih Auto finish. Apabila memilih menggunakan
menu Auto finish, maka ketika selesai dalam melakukan pengukuran, alat
otomatis akan berhenti bekerja.
13.Pilih menu Logging, lalu Occupation

untuk

menententukan

durasi

pengukuran. . Pada menu Occupation time dapat mengatur durasi waktu


yang akan digunakan selama mengukur. Setting jam, menit, detik
tergantung pada orde pengukuran yang akan digunakan. Logging rate

merupakan perekaman setiap berapa epok atau setiap berapa detik. Misal
mark setiap 30 selama 1 jam.
i.FC.

GPS Geodetic merk Leica SR 20


i.FD.

Pada pengukuran kali ini, menggunakan alat Leica CS 15

sebagai rover yang bergerak sebagai metode RTK Entrip. Pada RTK Entrip,
baik kartu GSM atau CDMA dipasang pada rover sehingga apabila
menggunakan salah satu dari kartu tersebut, maka harus memiliki IP
Address.
i.FE.
Teknis Pengukuran
1.
2.
3.
4.

Pasang baterai pada controller dan receiever Leica CS 10.


Lakukan pemasangan bagian-bagian alat seperti receiver pada pole.
Hidupkan tombol power pada receiver dan Controller.
Pastikan lampu indikator bluetooth pada receiver dan Controller telah

tersambung.
5. Pilih menu use GPS only, Next, Continue New Job, Next kemudian isi nama
dan store (Go to work) lalu pilih instrument, GPS setting, RTK Rover Wizard,
Create New Profile, Next, Internet Entrip Dial up, 3.5G modem, Next, using
GPRS, Next lalu pilih jenis kartu entrip yang digunakan (misal indosat GPRS
atau Telkomsel), pilih Next. Terdapat alamat IP address, pilih

Next,

Connecting, Select server, Next, kemudian ketikkan 139173112, pilih Next,


Next mount point, pilih JOG20, Next, RTCM V3, Next, Yes, Finish, Go to work,
pilih Survey.
6. Lakukan perpindahan untuk melakukan pengukuran. Yang dapat berpindah
tempat adalah receiver dengan Controllernya masing-masing sehingga
receiever tersebut bertindak sebagai rover.
7. Rekam data dengan meng-klik Store.
8. Lakukan editing data dapat menggunakan menu Job and Data. Pilih menu
View edit data, pilih data float kemudian delete untuk mendapatkan data fix
pilih Edit, pilih Point id untuk melakukan editing nama pada titik.
i.FF.

IV.E. KESIMPULAN
i.FG.
i.FH. Pada Praktikum minggu ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa :
1. Tidak semua tipe GPS bisa digunakan dalam metode pengukuran
statik.
2. Pengukuran Metode Statik lebih teliti dibanding dengan Real time
kinematik karena posisinya yang konsisten , tetapi memiliki kelemahan
jika digunakan untuk pengukuran detil.

3. Mahasiswa bisa menggunakan GPS Geodetik tipe Javad maupun Leica


baik dengan metode Statik ataupun RTK NTRIP.
i.FI.

i.FJ.
i.FK. LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS
i.FL. V
i.FM.

FINDING POINTS UNTUK SURVEI PENDAHULUAN


MENGGUNAKAN GPS NAVIGASI
i.FN.
i.FO.
i.FP.
i.FQ.

i.FR.
i.FS.
i.FT.
i.FU.

i.FV.
i.FW.
i.FX.
i.FY.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.FZ.
i.GA.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.GB.

YOGYAKARTA

i.GC.

2013

V.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menemukan titik sesuai koordinat yang telah
diinput
2. Mahasiswa mampu mengetahui koreksi/selisih jarak antara titik
BM yang dimaksud dengan titik nol hasil tracking
i.GD.
V.B. LANDASAN TEORI
i.GE. Global Positioning System (GPS) adalah sistem untuk
menentukan

letak

di

permukaan

penyelarasan

(synchronization)

menggunakan

24

satelit

yang

bumi

sinyal

dengan

satelit.

mengirimkan

bantuan

Sistem

ini

sinyal gelombang

mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan,


dan

digunakan

dan waktu.

untuk

Sistem

menentukan

yang

letak, kecepatan,

serupa

dengan

GPS

arah,
antara

lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India.

i.GF.
i.GG.
Gambar V.B.1. Gambaran satelit GPS di orbit
i.GH. GPS
Tracker atau
sering
disebut
dengan GPS
Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang
memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada
ataupun

mobil

memanfaatkan

dalam
kombinasi

keadaan

Real-Time.

teknologi

GSM

GPS

dan

GPS

Tracking
untuk

menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya


dalam bentuk peta digital.
i.GI. Beberapa kemampuan

GPS

antara

lain

dapat

memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara

cepat, akurat, murah, dimana saja di bumi ini tanpa tergantung


cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-satunya
sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa
abad ini yang memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian
dari GPS dapat mencapai beberapa mm untuk ketelitian posisinya,
beberapa
nanodetik

cm/s
untuk

untuk

ketelitian

ketelitian

kecepatannya

waktunya.

dan

Ketelitian

beberapa

posisi

yang

diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode


penentuan

posisi,geometri satelit,

metode pengolahan datanya.


i.GJ. Prinsip
penentuan

tingkat
posisi

ketelitian
dengan

data,
GPS

dan
yaitu

menggunakan metode reseksi jarak, dimana pengukuran jarak


dilakukan secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui
koordinatnya. Pada pengukuran GPS, setiap epoknya memiliki
empat parameter yang harus ditentukan : yaitu 3 parameter
koordinat X,Y,Z atau L,B,h dan satu parameter kesalahan waktu
akibat ketidaksinkronan jam osilator di satelit dengan jam di
receiver GPS. Oleh karena diperlukan minimal pengukuran jarak ke
empat satelit.

i.GK.
i.GL.
Gambar V.B.2 Cara Kerja GPS
i.GM.Secara umum ada tiga segmen dalam sistem GPS yaitu
segmen sistem kontrol, segmen satelit, dan segmen pengguna.
Satelit GPS dapat dianalogikan sebagai stasiun radio angkasa, yang
diperlengkapi dengan antena-antena untuk mengirim dan menerima
sinyal sinyal gelombang. Sinyal-sinyal ini selanjutnya diterima oleh
receiver GPS di/dekat permukaan bumi, dan digunakan untuk

menentukan informasi posisi, kecepatan, maupun waktu. Selain itu


satelit GPS juga dilengkapi dengan peralatan untuk mengontrol
attitude satelit. Satelit-satelit GPS dapat dibagi atas beberapa
generasi yaitu ; blok I, blok II, blok IIA, blok IIR dan blok IIF. Hingga
april 1999 ada 8 satelit blok II, 18 satelit blok II A dan 1 satelit blok II
R yang operasional. Segmen sistem kontrol berfungsi mengontrol
dan memantau operasional satelit dan memastikan bahwa satelit
berfungsi sebagaimana mestinya. Segmen pengguna terdiri dari
para pengguna satelit GPS di manapun berada. Dalam hal ini alat
penerima sinyal GPS ( GPS receiver ) diperlukan untuk menerima
dan memproses sinyal -sinyal dari satelit GPS untuk digunakan
dalam penentuan posisi, kecepatan dan waktu. Komponen utama
dari suatu receiver GPS secara umum adalah antena dengan preamplifier, bagian RF dengan pengidentifikasi sinyal dan pemroses
sinyal, pemroses mikro untuk pengontrolan receiver, data sampling
dan pemroses data ( solusi navigasi ), osilator presisi , catu daya,
unit perintah dan tampilan, dan memori serta perekam data.
i.GN. Terdapat berbagai jenis GPS navigasi yang telah dibuat
oleh berbagai perusahaan dengan fitur dan kelebihannya yang
berbeda-beda. Salah satunya GPS NAVIGATION GARMIN ETREX
VISTA HCX yang digunakan pada praktikum kali ini.
i.GO.

GPS NAVIGATION GARMIN ETREX VISTA HCX merupakan

salah satu jenis receiver GPS navigasi dengan tipe handheld yang
yang mempunyai fungsi seperti GPS navigasi pada umumnya yaitu
memberikan suatu posisi koordinat suatu titik.

i.GP.

i.GQ. Gambar V.B.3 GPS Navigation GARMIN ETREX VISTA HCX


i.GR.
GPS tipe ini memiliki beberapa tombol dengan fungsifungsi yang berbeda, yaitu:
6. Tombol Zoom In/Out
i.GS. Berfungsi untuk memperbesar maupun memperkecil
tampilan pada layar GPS. Sedangkan untuk tampilan lainnya,
tombol ini berguna untuk scroll ke atas maupun ke bawah
sebuah daftar atau berpindah ke menu yang lain.
7. Tombol Menu/Find
i.GT. Berfungsi untuk menuju menu utama pada GPS maupun
berfungsi untuk melakukan pencarian terhadap sebuah lokasi.
8. Tombol Quit/Page
i.GU. Berfungsi untuk kembali ke menu utama maupun
kembali ke menu sebelumnya. Tombol ini juga berfungsi untuk
mematikan kompas.
9. Tombol Power
i.GV. Berfungsi untuk menghidupkan maupun mematikan
GPS.
10.

Tombol Enter/Rocket Key


i.GW. Berfungsi untuk menggerakkan kursor pada layar GPS
maupun memberi tanda (mark) pada sebuah lokasi yang

diinginkan.
i.GX.
Cara Penggunaan
9. Hidupkan GPS terlebih dahulu dengan menekan tombol Power.
10.
Masuk ke Main Menu untuk melakukan penandaan lokasi
(mark) dimana kita berada kemudian Tekan tombol Mark.
11.
Berikan nama/keterangan lokasi yang telah ditandai
kemudian memilih pilihan OK lalu menekan tombol Enter.

i.GY.

Untuk melihat maupun mencari koordinat yang telah

ditandai, pada Main Menu Tekan tombol Find kemudian Pilih tombol
Waypoints. Pada menu Find bisa dilakukan pencarian berdasarkan
nama (by name) maupun berdasarkan titik terdekat (nearest point)
dari posisi GPS berada kemudian Tekan tombol Enter.
i.GZ.
V.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. 1 unit GPS Handheld (GPS Navigation Garmin Etrex Vista HCX)
2. Alat Tulis
i.HA.
V.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
i.HB. Hari, Tanggal

: Selasa, 5 November 2013

i.HC.

Tempat

: Wilayah sekitar Universitas Gadjah Mada

i.HD.

Waktu

: 08.00 s.d. 09.30 WIB

i.HE.
V.E. LANGKAH KERJA
1. Menyalakan GPS dengan menekan tombol ON
2. Pada Main Menu pilih Mark
3. Memasukkan nilai Easting dan Northing untuk setiap titik sesuai
dengan nilai yang diberikan pada masing-masing kelompok,
kemudian tekan OK
4. Kemudian pilih menu find lalu pilih titik yang sudah dimasukkan
sebelumnya. Nantinya akan muncul pilihan Of Road dan Follow
Road. Pilih Of Road. Maka untuk mencari titik tersebut dengan
mengikuti arahan peta yang ditunjukkan GPS.
5. Jika keterangan jarak pada GPS sudah mendekati 0 meter maka
pengguna sudah berada di titik yang dituju. Jika di area tersebut
tidak ditemukan tugu BM, maka cari titik BM di sekitar area
tersebut dengan radius 10 meter.
6. Setelah didapatkan tugu BM yang dituju, lakukan pengukuran
(marking) koordinat menggunakan GPS Navigasi sebanyak 5 kali
dengan interval waktu 15 detik setiap perekaman.
7. Mencatat nilai koordinat pada titik tersebut dan mengambill foto
dari tugu BM tersebut.
8. Lakukan langkah 2 hingga 7 pada titik-titik lainnya.
i.HF.
V.F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Titik 1

i.HG. Lokasi : Sendowo


i.HH.
i.HI. Penguku
ran
i.HM.1
i.HQ. 2
i.HU. 3
i.HY. 4
i.IC. 5

i.HJ. Easting
i.HN. 043090
1m
i.HR. 043090
1m
i.HV. 043090
1m
i.HZ. 043090
1m
i.ID. 043090
1m

i.HK. Northin
g
i.HO. 914097
5m
i.HS. 914097
5m
i.HW.914097
5m
i.IA. 914097
5m
i.IE. 914097
5m

i.IG.
i.IH. Gambar:
i.II. Utara
i.IJ.
i.IK.

i.IM. Selatan
i.IN.
i.IO.

i.IL.
i.IP. Barat
i.IQ.
i.IR.

i.IT. Timur
i.IU.
i.IV.

i.IS.
i.IW.

i.HL. Elevatio
n
i.HP. 156 m
i.HT. 157 m
i.HX. 157 m
i.IB. 157 m
i.IF. 156 m

Titik 2
i.IX. Lokasi : Depan Fakultas Ekonomika dan Bisnis
i.IY.
i.IZ. Penguku
ran
i.JD. 1
i.JH. 2
i.JL. 3
i.JP. 4
i.JT.

i.JA. Easting
i.JE. 043161
6m
i.JI. 043161
6m
i.JM. 043161
5m
i.JQ. 043161
6m
i.JU. 043161
6m

i.JB. Northin
g
i.JF. 914091
1m
i.JJ. 914091
1m
i.JN. 914091
1m
i.JR. 914091
1m
i.JV. 914091
1m

i.JX.
i.JY. Gambar:

i.JZ. Utara
i.KA.
i.KB.

i.KD. Selatan
i.KE.
i.KF.

i.KC.
i.KG. Barat
i.KH.

i.KJ. Timur
i.KK.

i.KI.
Titik 3
i.KL. Lokasi : Fakultas Kedokteran

i.JC. Elevatio
n
i.JG. 157 m
i.JK. 158 m
i.JO. 158 m
i.JS. 158 m
i.JW. 158 m

i.KM.
i.KN. Penguku
ran
i.KR. 1
i.KV. 2

i.KZ. 3

i.LD. 4

i.LH. 5

i.KO. Easting
i.KS. 043109
6m
i.KW. 043109
6m

i.KP. Northin
g
i.KT. 914107
2m
i.KX. 914107
3m

i.LA. 043109
6m

i.LB. 914107
4m

i.LE.

i.LF.

0431
0
9
7
m

9141
0
7
4
m

i.LI.

i.LJ.

0431
0
9
7
m

9141
0
7
4
m

i.LL.
i.LM. Gambar:
i.LN. Utara
i.LO.
i.LP.

i.LQ.

i.LR. Selatan
i.LS.
i.LT.

i.KQ. Elevatio
n
i.KU. 159 m
i.KY.

159
m
i.LC.

159
m
i.LG.

159
m

i.LK. 158 m

i.LU. Barat
i.LV.
i.LW.

i.LY. Timur
i.LZ.
i.MA.

i.LX.
i.MB.
Titik 4
i.MC. Lokasi : Fakultas Perikanan
i.MD.
i.ME. Penguku
ran
i.MI. 1
i.MM.

i.MQ.3

i.MU.4

i.MY. 5

i.MF. Easting
i.MJ. 043194
8m

i.MG.Northin
g
i.MK. 914139
3m

i.MN.

i.MO.

0431
9
4
8
m

9141
3
9
3
m

i.MR.

i.MS.

0431
9
4
8
m

9141
3
9
3
m

i.MV.

i.MW.

0431
9
4
8
m

9141
3
9
3
m

i.MZ.

i.NA.

0431
9
4

9141
3
9

i.MH.Elevatio
n
i.ML. 162 m
i.MP. 162 m

i.MT. 161 m

i.MX. 161 m

i.NB. 161 m

8
m

3
m

i.NC. Gambar:

i.ND. Utara
i.NE.
i.NF.

i.NH. Selatan
i.NI.
i.NJ.

i.NG.
i.NK. Barat
i.NL.
i.NM.

i.NO. Timur
i.NP.
i.NQ.

i.NN.
i.NR.
Titik 5
i.NS. Lokasi : Perempatan Jalan Kaliurang
i.NT.

i.NU. Penguku
ran
i.NY. 1
i.OC. 2

i.NV. Easting
i.NZ. 043147
0m

i.NW.Northin
g
i.OA. 914153
6m

i.OD.

i.OE.

0431
4
7
0
m

9141
5
3
6
m

i.NX. Elevatio
n
i.OB. 164 m
i.OF. 164 m

i.OG. 3

i.OK. 4

i.OO. 5

i.OH.

i.OI.

0431
4
7
0
m

9141
5
3
6
m

i.OL.

i.OM.

0431
4
7
0
m

9141
5
3
6
m

i.OP.

i.OQ.

0431
4
7
0
m

9141
5
3
6
m

i.OS.
i.OT. Gambar:
i.OU. Utara
i.OV.

i.OW.Selatan
i.OX.

i.OY. Barat
i.OZ.
i.PA.

i.PC. Timur
i.PD.
i.PE.

i.OJ. 163 m

i.ON. 164 m

i.OR. 164 m

i.PB.
i.PF.
i.PG.
V.G. KESIMPULAN
i.PH.
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa
koordinat titik yang diinput tidak selalu sesuai dengan
koordinat titik yang direkam karena terdapat beberapa faktor,
terutama faktor ketelitian alat GPS navigasi (handheld) yang
rendah, dapat dibuktikan dengan ketelitian GPS navigasi yaitu
3 - 10 meter.
i.PI.
i.PJ.
i.PK.
i.PL.
i.PM.
i.PN.
i.PO.
i.PP.
i.PQ.
i.PR.
i.PS.
i.PT.
i.PU.
i.PV.
i.PW.
i.PX.
i.PY.
i.PZ.
i.QA.
i.QB.
i.QC.
i.QD.
i.QE.
i.QF.

i.QG. LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.QH. VI
i.QI.

PEMBUATAN DESAIN JARING KONTROL


HORIZONTAL
i.QJ.
i.QK.
i.QL.

i.QM.

i.QN.
i.QO.
i.QP.
i.QQ.

i.QR.
i.QS.
i.QT.
i.QU.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.QV.
i.QW.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.QX.

YOGYAKARTA

i.QY.

2013

VI.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mendesain jaring kontrol horizontal memenuhi
kaidah SNI orde 3
2. Mahasiswa mampu membuat jaring kontrol horizontal memenuhi
kaidah SNI orde 3
i.QZ.
VI.B. LANDASAN TEORI
i.RA.
Jaring kontrol horisontal adalah sekumpulan titik kontrol
horisontal yang satu sama lain dikaitkan dengan data ukuran jarak
dan/atau sudut, dan koordinatnya ditentukan dengan metode

pengukuran/pengamatan tertentu dalam suatu sistem referensi


kordinat horisontal tertentu (BSN, 2002).
i.RB.
Kualitas dari koordinat titik-titik dalam suatu jaring
kontrol horisontal umumnya akan dipengaruhi oleh banyak faktor,
seperti
sistem
peralatan
yang
digunakan
untuk
pengukuran/pengamatan,
geometri
jaringan,
strategi
pengukuran/pengamatan, serta strategi pengolahan data yang
diterapkan. Pengadaan jaring titik kontrol horisontal di Indonesia
sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda, yaitu dengan
pengukuran triangulasi yang dimulai pada tahun 1862. Selanjutnya
dengan pengembangan sistem satelit navigasi Doppler (Transit),
sejak tahun 1974 pengadaan jaring titik kontrol juga mulai
memanfaatkan sistem satelit ini. Dengan berkembangnya sistem
satelit GPS, sejak tahun 1989, pengadaan jaring titik kontrol
horisontal di Indonesia umumnya bertumpu pada pengamatan satelit
GPS ini.
i.RC.
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit
navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika
Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan
tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di
seluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak
orang secara simultan. Pada saat ini, sistem GPS sudah sangat
banyak digunakan orang di seluruh dunia. Di Indonesia pun, GPS
sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan aplikasiaplikasi yang menuntut informasi tentang posisi. Pada dasarnya GPS
terdiri atas tiga segmen utama, yaitu segmen angkasa (space
segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen sistem kontrol
(control system segment) yang terdiri dari station-station pemonitor
dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai (user segment) yang
terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah
sinyal dan data GPS.

i.RD.
i.RE.
Gambar VI.B.1. Sistem penentuan global, GPS
i.RF.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) mulai pada tahun 1996
menetapkan penggunaan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN95) sebagai
datum rujukan pengukuran dan pemetaan di lingkungan BPN. Perwujudan
dari rujukan tersebut adalah pengadaan Jaring Kontrol Geodesi Nasional

(JKGN) yaitu orde-2, orde-3, dan orde-4. Orde jaring merupakan atribut

yang mengkarakterisasi tingkat ketelitian (akurasi) jaring, yaitu


tingkat kedekatan jaring tersebut terhadap jaring titik kontrol yang
sudah ada yang digunakan sebagai referensi; dan orde jaringan ini
akan bergantung pada kelasnya, tingkat presisi dari titiktitiknya
terhadap titik-titik ikat yang digunakan, serta tingkat presisi dari
proses transformasi yang diperlukan untuk mentransformasikan
koordinat dari suatu ke datum ke datum lainnya.
i.RG.
Titik - titik dasar teknik orde-2, orde-3, dan orde-4
diperlukan sebagai kerangka dasar referensi nasional yang digunakan untuk
pemetaan bidang tanah secara nasional. Dalam penyelenggaraan JKGN ini
sangat terkait dengan ketelitian, sehingga pada pelaksanaan pengukuran
titik dasar teknik, BPN mempunyai ketentuan tentang metode pengamatan
yang digunakan. Metode Pengamatan yang digunakan antara lain adalah
metode pengamatan satelit dan metode pengukuran terestris. Metode
pengamatan satelit dilakukan pada pengukuran orde-2 dan orde-3
sedangkan metode pengukuran terestris untuk orde-4. Pada pengukuran

orde-3 yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah BPN Propinsi yang


ditentukan dengan survei GPS.
i.RH.
i.RI.
VI.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
i.RJ.
1 buah GPS handheld atau telepon genggam ber-aplikasi
Navitel Navigator
i.RK.
Kamera
i.RL.
Alat Tulis
i.RM.
VI.D. LANGKAH KERJA
1. Membuka Google Earth dan mencari lokasi dimana akan kita desain
jaring GPS-nya, yaitu disekitar kampus UGM.
2. Mendesain jaring GPS dengan syarat yaitu :
- Jumlah titik 12 buah
- Sistem koordinat UTM
- Untuk rencana desain jaring pengukuran gelombang satelit GNSS
metode relatif statik
- Kriteria SNI orde 3
- Jaring tertutup
i.RN.
VI.E. HASIL DESAIN JARING AWAL
i.RO.
Koordinat Titik awal dalam UTM
i.RP.

i.RS.

i.RQ.
Easting
i.RT.
431467.
81 m
E

i.RR.
Northing
i.RU.
9141533
.72
mS

i.RV.

i.RY.

i.SB.

i.SE.

i.SH.

i.SK.

i.SN.

i.SQ.

i.ST.

i.SW.

i.SZ.

i.TC.
i.TD.
i.TE.

i.RW.
431531.
30 m
E
i.RZ.
431343.
00 m
E
i.SC.
431230.
80 m
E
i.SF.
431405.
90 m
E
i.SI.
431584.
00 m
E
i.SL.
431666.
00 m
E
i.SO.
431483.
24 m
E
i.SR.
431304.
42 m
E
i.SU.
431132.
82 m
E
i.SX.
431208.
74 m
E
i.TA.
431381.
14 m
E

i.RX.
9141375
.56
mS
i.SA.
9141407
.00
mS
i.SD.
9141264
.49
mS
i.SG.
9141234
.98
mS
i.SJ.
9141206
.00
mS
i.SM.
9141045
.00
mS
i.SP.
9141050
.30
mS
i.SS.
9141062
.17
mS
i.SV.
9141115
.85
mS
i.SY.
9140897
.75
mS
i.TB.
9140894
.52
mS

Jarak antar titik adalah 170-220 meter.

i.TF.

i.TG.

Gambar VI.E. 1. Hasil Desain Jaring Awal

i.TH.

i.TI.

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.TJ.

i.TK.

VII

SURVEI PENDAHULUAN DESAIN JARING KONTROL


HORIZONTAL
i.TL.
i.TM.

i.TN.
i.TO.

i.TP.
i.TQ.
i.TR.
i.TS.

i.TT.
i.TU.
i.TV.
i.TW.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.TX.
i.TY.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.TZ.

YOGYAKARTA

i.UA.

2013

VII.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mendesain jaring kontrol horizontal memenuhi
kaidah SNI orde 3
2. Mahasiswa mampu membuat jaring kontrol horizontal memenuhi
kaidah SNI orde 3
i.UB.
VII.B. LANDASAN TEORI

i.UC.
Jaring kontrol horisontal adalah sekumpulan titik kontrol
horisontal yang satu sama lain dikaitkan dengan data ukuran jarak
dan/atau sudut, dan koordinatnya ditentukan dengan metode
pengukuran/pengamatan tertentu dalam suatu sistem referensi
kordinat horisontal tertentu (BSN, 2002).
i.UD.
Kualitas dari koordinat titik-titik dalam suatu jaring
kontrol horisontal umumnya akan dipengaruhi oleh banyak faktor,
seperti
sistem
peralatan
yang
digunakan
untuk
pengukuran/pengamatan,
geometri
jaringan,
strategi
pengukuran/pengamatan, serta strategi pengolahan data yang
diterapkan. Pengadaan jaring titik kontrol horisontal di Indonesia
sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda, yaitu dengan
pengukuran triangulasi yang dimulai pada tahun 1862. Selanjutnya
dengan pengembangan sistem satelit navigasi Doppler (Transit),
sejak tahun 1974 pengadaan jaring titik kontrol juga mulai
memanfaatkan sistem satelit ini. Dengan berkembangnya sistem
satelit GPS, sejak tahun 1989, pengadaan jaring titik kontrol
horisontal di Indonesia umumnya bertumpu pada pengamatan satelit
GPS ini.
i.UE.
GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit
navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika
Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan
tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di
seluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak
orang secara simultan. Pada saat ini, sistem GPS sudah sangat
banyak digunakan orang di seluruh dunia. Di Indonesia pun, GPS
sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan aplikasiaplikasi yang menuntut informasi tentang posisi. Pada dasarnya GPS
terdiri atas tiga segmen utama, yaitu segmen angkasa (space
segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen sistem kontrol
(control system segment) yang terdiri dari station-station pemonitor
dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai (user segment) yang
terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah
sinyal dan data GPS.

i.UF.
i.UG.
Gambar VII.B.1. Sistem penentuan global, GPS

i.UH.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) mulai pada tahun 1996


menetapkan penggunaan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN95) sebagai
datum rujukan pengukuran dan pemetaan di lingkungan BPN. Perwujudan
dari rujukan tersebut adalah pengadaan Jaring Kontrol Geodesi Nasional
(JKGN) yaitu orde-2, orde-3, dan orde-4. Orde jaring merupakan atribut

yang mengkarakterisasi tingkat ketelitian (akurasi) jaring, yaitu


tingkat kedekatan jaring tersebut terhadap jaring titik kontrol yang
sudah ada yang digunakan sebagai referensi; dan orde jaringan ini
akan bergantung pada kelasnya, tingkat presisi dari titiktitiknya
terhadap titik-titik ikat yang digunakan, serta tingkat presisi dari
proses transformasi yang diperlukan untuk mentransformasikan
koordinat dari suatu ke datum ke datum lainnya.
i.UI.
Titik - titik dasar teknik orde-2, orde-3, dan orde-4
diperlukan sebagai kerangka dasar referensi nasional yang digunakan untuk
pemetaan bidang tanah secara nasional. Dalam penyelenggaraan JKGN ini
sangat terkait dengan ketelitian, sehingga pada pelaksanaan pengukuran
titik dasar teknik, BPN mempunyai ketentuan tentang metode pengamatan
yang digunakan. Metode Pengamatan yang digunakan antara lain adalah
metode pengamatan satelit dan metode pengukuran terestris. Metode
pengamatan satelit dilakukan pada pengukuran orde-2 dan orde-3
sedangkan metode pengukuran terestris untuk orde-4. Pada pengukuran

orde-3 yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah BPN Propinsi yang


ditentukan dengan survei GPS.
i.UJ.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketetelitan
dalam penentuan posisi
GPS antara lain;
ketelitian data,
strategi pengamatan,
geometri pengamatan,
dan
strategi
pengolahan data. Dalam survei GPS, pengolahan data GPS
dimaksudkan untuk menghitung koordinat dari titik-titik dalam suatu
jaringan berdasarkan data-data pengamatan, sehingga mendapatkan
koordinat titik orde-3 yang memenuhi spesifikasi teknis dan hal ini
merupakan suatu proses yang cukup ekstensif.
i.UK.
Terkait dengan ketelitian yang ingin dicapai pada suatu
pengukuran, saat pengambilan data di lapangan diberikan ukuran
lebih, yaitu pengukuran yang melebihi batas ketentuannya. Hal ini
bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan ketelitian yang
baik sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu diperlukan optimasi
jaring pada pengukuran orde-3. Optimasi jaring ini dapat dilakukan
dengan pemilihan baseline-baseline dari suatu pengukuran orde-3
yang telah dilakukan. Hal ini karena banyak data ukuran yang
diperoleh dan belum tentu semua data ukuran tersebut mendekati
nilai sebenarnya. Selain itu optimasi jaring ini juga dapat
meminimalisir kesalahan pengukuran. Untuk menentukan nilai
terbaik dari beberapa kali pengukuran diperlukan suatu metode
hitungan tertentu. Salah satu metode hitungan yang dapat digunakan

untuk menghitung ukuran lebih yaitu metode kuadrat terkecil dengan


perataan parameter.
i.UL.
Berkaitan dengan baseline, maka dalam survei dengan
GPS, pengertian menyangkut baseline trivial dan non-trivial (bebas)
cukup penting untuk dimengerti. Pada perataan jaringan GPS, hanya
baseline-baseline bebas (non-trivial) saja yang boleh diikut sertakan.
Baseline trivial adalah baseline yang dapat diturunkan (kombinasi
linear) dari baseline-baseline lainnya dari satu sesi pengamatan.
Baseline yang bukan trivial dinamakan baseline non-trivial (baseline
bebas). Dalam hal ini, seandainya ada n receiver yang beroperasi
secara simultan pada satu sesi pengamatan maka akan ada (n-1)
baseline bebas yang boleh digunakan untuk perataan jaringan. Pada
prinsipnya akan ada beberapa kombinasi dari (n-1) baseline bebas
yang digunakan akan mempengaruhi kualitas dari posisi titik dalam
jaringan yang diperoleh. Pada survei dengan GPS, ada beberapa hal
yang menyangkut karakteristik baseline yang sebaiknya diperhatikan
yaitu antara lain :
Amati baseline antara titik-titik yang berdampingan. Ini dapat
menjaga panjang baseline yang relatif pendek, yang nantinya akan
membantu untuk mendapatkan baseline yang relatif teliti. Secara
umum, baseline-baseline sebaiknya tidak terlalu panjang (< 20
km); karena semakin panjang baseline pengaruh kesalahan orbit
dan refraksi ionosfir akan semakin besar
Untuk kontrol kualitas dan menjaga kekuatan jaringan, sebaiknya
baseline yang diamati saling menutup dalam suatu loop (jaringan)
dan tidak terlepas begitu saja (radial)
i.UM.

i.UN.
i.UO.

Gambar VII.B. 2. Metode jaringan dan metode


radial
i.UP.
i.UQ.
i.UR.
Selain itu juga patut diingat bahwa sebatas tahap
perhitungan baseline, bentuk jaring titik-titik GPS bukanlah suatu isu
yang krusial dibandingkan dengan ukuran (besar) jaringan. Dengan

kata lain panjang baseline lebih berpengaruh dibandingkan letak dan


orientasi nya. Sedangkan untuk keperluan penentuan cycle
ambiguity, panjang baseline dalam suatu jaring GPS sebaiknya
bervariasi secara gradual dari pendek ke panjang (bootstraping
method). Tapi dari segi menjaga tingkat dan konsistensi ketelitian
titik-titik dalam jaringan, jarak antar titik sebaiknya tidak terlalu
panjang dan juga titik-titik tersebut sebaiknya terdistribusi secara
merata dan teratur. Patut juga dicatat di sini bahwa bentuk dan besar
jaringan GPS akan mempengaruhi jumlah dan distribusi dari titik
tetap GPS yang diperlukan.

i.US.
i.UT.

Gambar VII.B. 3. Penempatan titik-titik tetap pada


jaringan melebar
i.UU.
dan jaringan koridor
i.UV.
i.UW. Dari segi bentuk, jaringan GPS yang berbentuk melebar
dan ada yang berbentuk memanjang (jaringan koridor). Untuk
jaringan melebar, titik-titik tetap sebaiknya ditempatkan minimal
pada tiga kuadran yang sumbu-sumbu koordinatnya berpusat di
tengah jaringan; dan pada jaringan koridor, titik-titik tetap
ditempatkan di sepanjang jaringan.
i.UX.
i.UY.
VII.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
i.UZ.
1 buah GPS handheld atau telepon genggam ber-aplikasi
Navitel Navigator
i.VA.
Kamera
i.VB.
Alat Tulis
i.VC.
VII.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
i.VD.

Tanggal

: Minggu, 24 November 2013

i.VE.

Tempat

: Wilayah UGM

i.VF.

Waktu

: 08.00 s.d. 09.30 WIB

i.VG.
VII.E.LANGKAH KERJA
1. Membuka Google Earth dan mencari lokasi dimana akan kita desain
jaring GPS-nya, yaitu disekitar kampus UGM.
2. Mendesain jaring GPS dengan syarat yaitu :
- Jumlah titik 12 buah
- Sistem koordinat UTM
- Untuk rencana desain jaring pengukuran gelombang satelit GNSS
metode relatif statik
- Kriteria SNI orde 3
- Jaring tertutup
3. Melakukan tracking jaring GPS di lapangan:
a. Menyalakan GPS dengan menekan tombol ON
b. Pada Main Menu pilih Mark
c. Memasukkan nilai koordinat (UTM) Easting dan Northing untuk
setiap titik yang telah ditandai pada Google Earth sesuai pada
jaring GPS yang telah buat, kemudian tekan OK
d. Kemudian pilih menu find lalu pilih titik yang sudah dimasukkan
sebelumnya. Nantinya akan muncul pilihan Of Road dan Follow
Road. Pilih Of Road. Maka untuk mencari titik tersebut dengan
mengikuti arahan peta yang ditunjukkan GPS.
e. Jika keterangan jarak pada GPS sudah mendekati 0 meter maka
pengguna sudah berada di titik yang dituju.
f. Setelah didapatkan titik yang sesuai dengan koordinat yang
telah dimasukkan, maka lakukan identifikasi kelayakan titik
tersebut termasuk obstraksi, keadaan tanah dan akses menuju
titik tersebut.
g. Jika sekiranya titik tersebut layak untuk dilakukan pengukuran
maka tandai titik tersebut, kemudian lakukan marking.
h. Namun jika titik tersebut kurang memenuhi syarat kelayakan
maka cari titik lain disekitar lokasi tersebut yang memenuhi
standar kelayakan pengukuran, lalu tandai, dan lakukan marking
atau catat koordinat titik tersebut.
i. Melakukan dokumentasi dan pembuatan deskripsi titik tersebut.
j. Lakukan pada 11 titik lainnya sesuai dengan jaring GPS yang
telah dibuat.
4. Jika terdapat perubahan titik saat tracking, maka yang selanjutnya
dilakukan adalah pembuatan ulang desain jaring GPS

yang

dilakukan dengan memplot koordinat titik baru (pada saat tracking)


pada Google Earth.
i.VH.
VII.F.HASIL DESAIN JARING AWAL
i.VI.
Koordinat Titik awal dalam UTM
i.VJ.

i.VM.

i.VP.

i.VS.

i.VV.

i.VY.

i.WB.

i.WE.

i.WH.

i.WK.

i.WN.

i.WQ.
i.WT.

i.VK.
Easting
i.VN.
431467.
81 m
E
i.VQ.
431531.
30 m
E
i.VT.
431343.
00 m
E
i.VW.
431230.
80 m
E
i.VZ.
431405.
90 m
E
i.WC.
431584.
00 m
E
i.WF.
431666.
00 m
E
i.WI.
431483.
24 m
E
i.WL.
431304.
42 m
E
i.WO.
431132.
82 m
E
i.WR.
431208.
74 m
E
i.WU.

i.VL.
Northing
i.VO.
9141533
.72
mS
i.VR.
9141375
.56
mS
i.VU.
9141407
.00
mS
i.VX.
9141264
.49
mS
i.WA.
9141234
.98
mS
i.WD.
9141206
.00
mS
i.WG.
9141045
.00
mS
i.WJ.
9141050
.30
mS
i.WM.
9141062
.17
mS
i.WP.
9141115
.85
mS
i.WS.
9140897
.75
mS
i.WV.

431381.
14 m
E

i.WW.
i.WX.
i.WY.

9140894
.52
mS

Jarak antar titik adalah 170-220 meter.


i.WZ.

i.XA.

Gambar E. 1. Hasil Desain Jaring Awal

i.XB.
VII.G.

PEMBAHASAN
Titik 1
i.XC.
i.XD.
Lokasi : Perempatan Jalan Kaliurang

i.XE.
i.XF.
i.XG.
i.XH.
i.XI.

Koordinat Awal
Easting : 431467.81
Northing : 9141533.72
i.XJ.
i.XK.
Keterangan :
i.XL.
Titik ke 1 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal berada pada jalan
utama/jalan raya yang tidak dapat dijadikan tempat pengukuran
survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke wilayah sekitar
lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.XM.
i.XN.
Koordinat Titik Baru
i.XO.
Easting : 431467
i.XP.
Northing : 9141541
i.XQ.
i.XR.
Gambar:
i.XS. Utara
i.XT.

i.XU. Selatan
i.XV.

i.XW. Barat
i.XX.

i.XY. Timur
i.XZ.

i.YA.
Titik 2

i.YB.
i.YC.

Lokasi : Wilayah Rektorat UGM

i.YD.
i.YE.
i.YF.
Koordinat Awal
i.YG.
Easting : 431531.30
i.YH.
Northing : 9141375.56
i.YI.
i.YJ.
Keterangan :
i.YK.
Titik ke 2 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal berada pada jalan
utama/jalan raya yang tidak dapat dijadikan tempat pengukuran
survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke wilayah sekitar
lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.YL.
i.YM.
Koordinat Titik Baru
i.YN.
Easting : 431530
i.YO.
Northing : 9141379
i.YP.
i.YQ.
Gambar:
i.YR. Utara
i.YS.

i.YT. Selatan
i.YU.

i.YV. Barat
i.YW.

i.YX. Timur
i.YY.

i.YZ.
Titik 3
i.ZA.
i.ZB.

Lokasi : Wilayah FMIPA UGM

i.ZC.
i.ZD.
i.ZE.
Koordinat Awal
i.ZF.
Easting : 431343.00
i.ZG.
Northing : 9141407.00
i.ZH.
i.ZI.
Keterangan :
i.ZJ.
Titik ke 3 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal terdapat obstruksi
yang menyebabkan titik tersebut tidak dapat dijadikan tempat
pengukuran survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke
wilayah sekitar lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.ZK.
i.ZL.
Koordinat Titik Baru
i.ZM.
Easting : 431347
i.ZN.
Northing : 9141424
i.ZO.
i.ZP.
Gambar:

i.ZQ. Utara
i.ZR.

i.ZS. Selatan
i.ZT.

i.ZU. Barat

i.ZV. Timur

i.ZW.
Titik 4
i.ZX.
i.ZY.

Lokasi : Wilayah FK UGM

i.ZZ.
i.AAA.
i.AAB.
Koordinat Awal
i.AAC.
Easting : 431230.80
i.AAD. Northing : 9141264.49
i.AAE.
i.AAF.
Keterangan :
i.AAG. Titik ke 4 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal terdapat obstruksi
yang menyebabkan titik tersebut tidak dapat dijadikan tempat
pengukuran survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke
wilayah sekitar lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.AAH.
i.AAI.
Koordinat Titik Baru
i.AAJ.
Easting : 431225
i.AAK.
Northing : 9141246
i.AAL.

i.AAM.

Gambar:

i.AAN.
i.AAO.

Utara

i.AAP.
i.AAQ.

Selatan

i.AAR.

Barat

i.AAS.

Timur

i.AAT.
Titik 5
i.AAU.
i.AAV.

Lokasi : Wilayah Rektorat UGM

i.AAW.
i.AAX.
i.AAY.
Koordinat Awal
i.AAZ.
Easting : 431405.90
i.ABA.
Northing : 9141234.98
i.ABB.
i.ABC.
Keterangan :
i.ABD. Titik ke 5 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal terdapat obstruksi
yang menyebabkan titik tersebut tidak dapat dijadikan tempat
pengukuran survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke
wilayah sekitar lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.ABE.
i.ABF.
Koordinat Titik Baru
i.ABG. Easting : 431401
i.ABH. Northing : 9141235

i.ABI.
i.ABJ.

Gambar:

i.ABK.
i.ABL.

Utara

i.ABM.
i.ABN.

Selatan

i.ABO.
i.ABP.

Barat

i.ABQ.
i.ABR.

Timur

i.ABS.
Titik 6
i.ABT.
i.ABU.

Lokasi : Wilayah FTP UGM

i.ABV.
i.ABW.
i.ABX.
Koordinat Awal
i.ABY.
Easting : 431584.00
i.ABZ.
Northing : 9141206.00
i.ACA.
i.ACB.
Keterangan :
i.ACC.
Titik ke 6 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karena pada lokasi titik awal terdapat obstruksi
yang menyebabkan titik tersebut tidak dapat dijadikan tempat
pengukuran survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke
wilayah sekitar lokasi sebelumnya pada tepi jalan.
i.ACD.

i.ACE.
i.ACF.
i.ACG.
i.ACH.
i.ACI.

Koordinat Titik Baru


Easting : 431601
Northing : 9141184
Gambar:

i.ACJ.
i.ACK.

i.ACN.
i.ACO.

Utara

Barat

i.ACL.
i.ACM.

Selatan

i.ACP.
i.ACQ.

Timur

i.ACR.
Titik 7
i.ACS.
i.ACT.

Lokasi : Wilayah FISIPOL UGM

i.ACU.
i.ACV.
i.ACW. Koordinat Awal
i.ACX.
Easting : 431666.00
i.ACY.
Northing : 9141045.00
i.ACZ.
i.ADA. Keterangan :
i.ADB. Lokasi Titik ke 7 pada desain jaring awal terdapat
obstruksi sehinga ttik tersebut di pindahkan posisinya sekitar
lokasi awal yang tidak terdapat obstruksi.
i.ADC.

i.ADD.
i.ADE.
i.ADF.
i.ADG.
i.ADH.

Koordinat Titik Baru


Easting : 431615
Northing : 9141058
Gambar:

i.ADI.
i.ADJ.

Utara

i.ADK.
i.ADL.

Selatan

i.ADM.
i.ADN.

Barat

i.ADO.
i.ADP.

Timur

i.ADQ.
Titik 8
i.ADR.
i.ADS.

Lokasi : Wilayah GSP UGM

i.ADT.
i.ADU.
i.ADV.
Koordinat Awal
i.ADW. Easting : 431483.24
i.ADX. Northing : 9141050.30
i.ADY.
i.ADZ.
Keterangan :
i.AEA.
Titik H pada desain jarang awal terdapat obstruksi
sehingga titik tersebut dipindahkan ke lokasi yang tidak ada
obstruksinya
i.AEB.

i.AEC.
i.AED.
i.AEE.
i.AEF.
i.AEG.

Koordina Titik Baru


Easting : 431465
Northing : 9141055
Gambar:

i.AEH.
i.AEI.

Utara

i.AEJ.Selatan
i.AEK.

i.AEL.
i.AEM.

Barat

i.AEN.
i.AEO.

Timur

i.AEP.
Titik 9
i.AEQ.
i.AER.

Lokasi : Wilayah GSP UGM

i.AES.
i.AET.
i.AEU.
Koordinat Awal
i.AEV.
Easting : 431304.42
i.AEW. Northing : 9141062.17
i.AEX.
i.AEY.
Keterangan :
i.AEZ.
Adanya obstruksi pada Titik ke 9 pada desain jaring awal
sehingga posisi titik tersebut dipindahkan sekitar lokasi awal di
tempat yang tidak ada osbtruksi.

i.AFA.
i.AFB.
i.AFC.
i.AFD.
i.AFE.
i.AFF.

Koordinat Titik Baru


Easting : 4313308
Northing : 9141072
Gambar:

i.AFG.
i.AFH.

Utara

i.AFI.Selatan
i.AFJ.

i.AFK.
i.AFL.

Barat

i.AFM.
i.AFN.

Timur

i.AFO.
Titik 10
i.AFP.
i.AFQ.

Lokasi : Wilayah FK UGM

i.AFR.
i.AFS.
i.AFT.
Koordinat Awal
i.AFU.
Easting : 431132.82
i.AFV.
Northing : 9141115.85
i.AFW.
i.AFX.
Keterangan :
i.AFY.
Titik ke 10 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan karenatitik tersebut berada pada jalan utama
sehingga titik tersebut dipindahkan ke tepi jalan dari jalan utama.

i.AFZ.
i.AGA.
i.AGB.
i.AGC.
i.AGD.
i.AGE.

Koordinat Titik Baru


Easting : 431136
Northing : 9141119
Gambar:

i.AGF.
i.AGG.

Utara

i.AGH.
i.AGI.

Selatan

i.AGJ.
i.AGK.

Barat

i.AGL.
i.AGM.

Timur

i.AGN.
Titik 11
i.AGO.
i.AGP.

Lokasi : Pertigaan FKG UGM

i.AGQ.
i.AGR.
i.AGS.
Koordinat Awal
i.AGT.
Easting : 431208.74
i.AGU. Northing : 9140897.75
i.AGV.
i.AGW. Keterangan
i.AGX. Titik ke 11 pada desain jaring awal tidak memenuhi
standar kelayakan dikarenakan posisi titik tersebut tepat di

teangah jalan raya sehingga posisi titik tersebut dipindahkan


sekitar lokasi awal.
i.AGY.
i.AGZ.
Koordinat Titik Baru
i.AHA. Easting : 431213
i.AHB. Northing :9140907
i.AHC.
i.AHD. Gambar:
i.AHE.
i.AHF.

Utara

i.AHG.
i.AHH.

Selatan

i.AHI.
i.AHJ.

Barat

i.AHK.
i.AHL.

Timur

i.AHM.
Titik 12
i.AHN.
i.AHO.

i.AHP.
i.AHQ.
i.AHR.
i.AHS.
i.AHT.
i.AHU.
i.AHV.

Lokasi : Wilayah GSP UGM

Koordinat Titik Awal


Easting : 431381.14
Northing : 9140894.52
Keterangan:

i.AHW. Titik ke 12 pada desain jaring awal tidak memenuhi


standar kelayakan karena pada titik awal berada pada lapangan
bermain yang tidak kondusif untuk dijadikan tempat pengukuran
survei GPS, oleh karena itu titik ini dipindahkan ke wilayah sekitar
lokasi sebelumnya.
i.AHX.
i.AHY.
Koordinat Titik Baru
i.AHZ.
Easting : 431424
i.AIA.
Northing : 9140881
i.AIB.
i.AIC.
i.AID.
Gambar:
i.AIE.Utara
i.AIF.

i.AIG.
i.AIH.

i.AII. Barat

i.AIJ.

i.AIK.
VII.H. HASIL DESAIN JARING BARU
i.AIL.
Koordinat Titik baru dalam UTM
i.AIM.
i.AIP.
i.AIS.
i.AIV.

i.AIN.
Easting
i.AIQ.
431467
mE
i.AIT.
431530
mE
i.AIW.

i.AIO.
Northing
i.AIR.
9141541
mS
i.AIU.
9141379
mS
i.AIX.

Selatan

Timur

i.AIY.
i.AJB.
i.AJE.
i.AJH.
i.AJK.
i.AJN.
i.AJQ.
i.AJT.
i.AJW.

431347
mE
i.AIZ.
431225
mE
i.AJC.
431401
mE
i.AJF.
431601
mE
i.AJI.
431615
mE
i.AJL.
431465
mE
i.AJO.
431308
mE
i.AJR.
431136
mE
i.AJU.
431213
mE
i.AJX.
431424
mE

9141424
mS
i.AJA.
9141246
mS
i.AJD.
9141235
mS
i.AJG.
9141184
mS
i.AJJ.
9141058
mS
i.AJM.
9141055
mS
i.AJP.
9141072
mS
i.AJS.
9141119
mS
i.AJV.
9140907
mS
i.AJY.
9140881
mS

i.AJZ.
i.AKA. Jarak antar titik adalah 140-220 meter.

i.AKB.

i.AKC. Gambar VII.H. 1. Hasil Desain Jaring Baru

Gambar VII.H. 2. Perbandingan Hasil Desain Jaring Awal dan


Baru
i.AKD.
VII.I. KESIMPULAN
1. Dalam pembuatan jaring kontrol GPS, titik awal desain dapat
berada pada wilayah dimana tidak memenuhi syarat atau kaidah
SNI orde-3 dimana disebabkan oleh adanya obstruksi atau berada
pada jalan utama.
2. Jika titik awal tidak memenuhi syarat kelayakan, maka titik dapat
dipindahkan ke lokasi terdekat sekitar wilayah tersebut.
3. Adanya perpindahan titik, akan menyebabkan adanya desain baru
jaring kontrol.

i.AKE.
i.AKF.
i.AKG.
i.AKH.
i.AKI.
i.AKJ.
i.AKK.
i.AKL.

i.AKM.

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI


GNSS
i.AKN.

i.AKO.

PENGUKURAN JARING KONTROL HORIZONTAL


METODE RELATIVE STATIC
i.AKP.
i.AKQ.
i.AKR.
i.AKS.

i.AKT.
i.AKU.
i.AKV.
i.AKW.

i.AKX.
i.AKY.

VIII

i.AKZ.
i.ALA.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.ALB.
i.ALC.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.ALD.

YOGYAKARTA

i.ALE.

2013

VIII.A.
TUJUAN
i.ALF.
Mahasiswa mampu melakukan pengukuran posisi titik Jaring
Kerangka Kontrol Horiontal dengan menggunakan GPS Geodetik
metode Relatif statik
i.ALG.
VIII.B.
LANDASAN TEORI
i.ALH.
i.ALI. Penentuan posisi secara relatif statik adalah penentuan
posisi dari titik yang static (diam). Penentuan posisi ini dapat
dilakukan

dengan

menggunakan

data

pseudorange/phase.

Dibandingkan denga metode relatif kinematik ukuran lebih kepada


suatu titik pengamatan yang diperoleh dengan metode static
biasanya lebih banyak.
i.ALJ. Hal ini menyebabkan keandalan dan ketelitian posisi
yang diperoleh umumnya relative lebih tinggi (dalam mm dan cm).
Salah satu bentuk implementasi dari metode penentuan posisi static
yang popular adalah survey GPS untuk penentuan dari titik-titik
control untuk keperluan pemetaan ataupun pemantauan deformasi
dan geodinamika.
i.ALK. Pada prinsipnya, survey GPS bertumpu pada metodemetode

penentuan

posisi

static

secara

diferensial

dengan

menggunakan datafase. Dalam hal ini pengamatan satelit GPS


umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu
tertentu dalam suatu jarring kerangka titik-titik akan ditentukan
posisinya.
i.ALL.
VIII.C.
ALAT YANG DIGUNAKAN
i.ALM.

3 Buah GPS Geodetik


3 Buah Statif
Formulir Lapangan
Alat Tulis
i.ALN.
VIII.D.
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
i.ALO.
i.ALP.

Tanggal

: Selasa, 26 November 2013

i.ALQ. Tempat

: Wilayah UGM

i.ALR. Waktu

: 08.00 s.d. 09.30 WIB

i.ALS.
VIII.E.
LANGKAH KERJA
i.ALT.
1. Siapkan Dsign Jaring KKH yang sudah kita buat dengan telah
dilakukan survey pendahuluan.
2. Menyiapkan 3 buah alat masing-masing di 3 titik berbeda yang
sudah ditentukan
3. Dirikan statif diatas titik kontrol. Kemudian lakukan sentering
untuk menyeimbangkan nivo kotak dengan mengatur kaki-kaki
statif.
4. Memasang antena pada receiver kemudian pasang antena dan
receiver pada tribach.
i.ALU.
i.ALV. GPS yang siap digunakan :
i.ALW.
i.ALX.
i.ALY.
i.ALZ.
i.AMA.
i.AMB.
i.AMC.
i.AMD.
i.AME.
i.AMF.
5. Mengukur Gambar VIII.E.1. Ilustrasi GPS tinggi receiver
siap GPS
digunakan
6. Menyalakan yang
receiver
dengan menekan tombol ON pada
receiver
7. Apabila lampu pada bagian bawah satelit telah menyala hijau,
berarti receiver telah menangkap sinyal dari satelit yang berada
di atas.

8. Kemudian hidupkan Controler dengan menekan Tombol Power


pada bagian kanan bawah Controler untuk membuat bluetooth
terhubung antara receiver dengan Controler.
i.AMG.
i.AMH.
i.AMI.
i.AMJ.
i.AMK.
i.AML.
i.AMM.
i.AMN. Gambar VIII.E.2. Controller Javad
i.AMO.
9. Pada tampilan menu utama Controler, pilih PPK. Kemudian klik
tombol configuration (ditandai dengan lingkaran warna merah),
maka akan muncul window PP, Klik logo Bluetooth sesuai dengan
tipe receiver yang digunakan tekan Set
i.AMP.
10. Masuk ke menu PP kemudian pilih :
i.AMQ.
i.AMR.
i.AMS.
i.AMT.
i.AMU.
i.AMV.
i.AMW.
i.AMX.
a. Survey Tab
Antenna : Pilih Triumph Internal
Height : Masukkan tinggi receiver
Type
: Pilih slant karena antena didirikan pada statif
File
: Memberi nama pada file pengukuran
Point
: Memberi nama pada titik yang diukur
i.AMY.

i.AMZ.
i.ANA.

b. Style Tab
i.ANB.
Style Survey

: Pilih metode Static , kemudian centang

Auto finish

surveying point . Apabila

Autofinish ini tercentang, maka

apabila

kita sudah selesai mengukur, alat otomatis akan

berhenti.
File destination
: Pilih To Receiver untuk menyimpan
data di receiver
Logging
:
-

Occupotion time

total

waktu

pengukuran . Pada
praktikum ini menggunakan interval
waktu selama 33 menit
i.ANC.
-

Logging rate :

interval

waktu

perekaman . Pada
praktikum ini , interval waktu

11.

pengukuran setiap 15 detik


i.AND.
Terdapat parameter yang sangat penting untuk kita pahami

yaitu elevation max degree. Contoh : apabila kita memasukkan


nilai elevation max degree 100
maka :
i.ANE.
i.ANF.
i.ANG.
i.ANH.
Gambar. Contoh skema elevation max
i.ANI. Artinya, semua obyek yang berada di ketinggian 10 - 100
degree

tidak bisa terekam, sementara semua obyek dengan elevasi 11 0


- 1600 bisa terekam. Jadi, jika elevasinya semakin besar, otomatis
jumlah obyek yang terekam semakin sedikit, dengan demikian
obstruksi

juga

makin

kecil,

sehingga

data

semakin

Demikian juga sebaliknya.


12.

i.ANJ.
Tekan Start <<static>> Survey secara bersama untuk

memulai pengukuran

teliti.

i.ANL.

i.ANK.
Gambar VIII.E.3. Tampilan Controller saat
perekaman data
i.ANM.

VIII.F.
HASIL
i.ANN.
i.ANO.
i.ANP.

i.ANQ.

PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.ANR.
KELOMPOK 9
i.ANS.
S1 REGULER TEKNIK GEODESI
i.ANT.
UNIVERSITAS GADJAH MADA
i.ANU.
i.ANV.
DESKRIPSI LOKASI TITIK
KONTROL GEODESI

i.ANW.
i.ANX.
NOMO
R
TITI
K
i.ANY.
i.ANZ.
GCP 11
i.AOA.

i.AOB.
1. DESA/KAMPUNG
2. KECAMATAN

i.AOE.

: Sinduadi
: Mlati
i.AOC.

KABUPATEN : Sleman
4. PROPINSI
: D.I.Yogyakarta

i.AOD.
05. URAIAN LOKASI TITIK :
Lokasi titik GCP 11 berada didalam Fakultas Farmasi, di selatan parkiran fakultas farmasi dan di

barat jalan kaliurang


i.AOF.
i.AOG. 06. KENAMPAKAN YANG MENONJOL :
i.AOH.
Titik tersebut berupa paku yang di kelilingi cat merah yang ditancapkan di konblok jalan selatan
fakultas farmasi, berada didekat pinggir jalan jalan kaliurang tapi berada di dalam pagar.
i.AOI.
i.AOJ.
07. JALAN MASUK LOKASI :
i.AOK.
Untuk menuju lokasi dari kampus, melewati jalan medika kemudiaan masuk fakultas farmasi
lewat pintu selatan lalu ikuti jalan keluar sampai di daerah dekat jalan kaliurang . GCP berada di parkiran

farmasi .
i.AOL.
i.AOM. 08. TRANSPORTASI :
i.AON.
Lokasi titik tersebut bisa diakses menggunakan sepeda motor
i.AOO.
i.AOP.
9. DIBUAT OLEH
11. DIPERIKSA OLEH
i.AOQ.

: KELOMPOK 9
:
i.AOR.

10. TANGGAL
: 2-12-2013
12. TANGGAL
:
PRAKTIKUM SURVEI GNSS
i.AOS.
KELOMPOK 9
i.AOT.
S1 REGULER TEKNIK GEODESI
i.AOU.
UNIVERSITAS GADJAH MADA
i.AOV.
i.AOW. SKETSA LOKASI TITIK KONTROL
GEODESI

i.AOX.
i.AOY.
NOMO
R
TITI
K
i.AOZ.
i.APA.
GCP 11
i.APB.

i.APC.
i.APD.

i.APS.
i.APT.
i.APU.
i.APV.
i.APW.
i.APX.
i.APY.
i.APZ.
i.AQA.
i.AQB.
i.AQC.

SKETSA UMUM LOKASI TITIK


i.APE.
i.APF.
i.APG.
i.APH.
Fakultas
i.API.
Farmasi
i.APJ.
REKTORAT
GCP 11 Jalan
i.APK.
Kaliurang
i.APL.
i.APM.
i.APN.
i.APO.
i.APP.
GSP
i.APQ.
i.APR.

SKETSA DETAIL LOKASI TITIK


Fakultas Farmasi

Gedung

Gedung

Parkira
n

i.AQD.
i.AQE.
i.AQF.
i.AQG.
i.AQH.
i.AQI.
i.AQJ.
i.AQK.
i.AQL.

Taman

GCP 11

Taman
Jalan Kaliurang

1. DIBUAT OLEH

: KELOMPOK 9

2. DIPERIKSA OLEH

3. TANGGAL PEMERIKSAAN :
i.AQM.

i.AQN.

PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.AQO. KELOMPOK 9
i.AQP.
S1 REGULER TEKNIK GEODESI
i.AQQ. UNIVERSITAS GADJAH MADA
i.AQR.
i.AQS.
FOTO LOKASI TITIK KONTROL
GEODESI

i.AQT.
i.AQU.
NOMOR
TITI
K
i.AQV.
i.AQW.
GCP 11
i.AQX.

i.AQY.
i.AQZ.

ARAH PANDANG KE
UTARA

i.ARA.

i.ARE.
i.ARG.

i.ARB.

i.ARC.

ARAH PANDANG KE TIMUR


i.ARF.

i.ARH.

i.ARD.
ARAH PANDANG KE
SELATAN
i.ARI.
i.ARJ.

i.ARM.

ARAH PANDANG KE BARAT


i.ARN.
i.ARO.

i.ARK.
i.ARL.
i.ARP.
i.ARQ.

i.ARR.

PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.ARS.
KELOMPOK 12
i.ART.
S1 REGULER TEKNIK GEODESI
i.ARU.
UNIVERSITAS GADJAH MADA
i.ARV.
i.ARW. KOORDINAT LOKASI TITIK
KONTROL GEODESI

i.ARX.
i.ARY.
NOMO
R
TITI
K
i.ARZ.
i.ASA.
GCP 11
i.ASB.

i.ASC.
1. MERK ALAT

: Javad -

Triumph 1
2. JENIS/TIPE
: Geodetik
3. METODE PENGAMATAN :
i.ASF.
i.ASG.

KOORDINAT GEODETIK

i.ASD.

04. PERANGKAT LUNAK

i.ASE.

05. TGL. PERHITUNGAN

i.ASH.

OBSTRUKSI TITIK

i.ASI.

06. LINTANG

= 7 46' 09"
i.ASJ.

i.ASO.
i.ASP.

07. BUJUR

= 110 22' 37.4"


i.ASK.
08. TINGGI ELLIPSOID
=
i.ASL.

09. TINGGI

ORTHOMETRIK =
i.ASM.
i.ASN.
i.ASQ.
i.ASS.

KOORDINAT UTM

10. UTARA (meter)

= 431312.66 m E
i.AST.
11. TIMUR (meter)
= 9141170.51 m S
i.ASU.
12. ZONE
= 49S
i.ASV.
i.ASW.
i.ASY.
13. KETERANGAN KONDISI TITIK KONTROL
i.ASZ.
Titik Kontrol dalam keadaan tidak rusak dengan paku baru yang tertancap.
i.ATA.
i.ATB.
14. DIBUAT OLEH
: KELOMPOK 9
i.ATC.
15. DIPERIKSA OLEH
:
i.ATD.
16. TGL. PEMERIKSAAN :
i.ATE.
i.ATF.
VIII.G.
KESIMPULAN
i.ATG.
i.ATH.
Pada praktikum kali ini pengukuran menggunakan GPS
Geodetik menggunakan metode relatif statik . metode ini digunakan
untuk dapat mengoreksi kesalahan pada koordinat titik dengan
pertampalan waktu pengukuran yang disebut differensial
i.ATI.
i.ATJ.
i.ATK.
i.ATL.

i.ATM.
i.ATN.
i.ATO.
i.ATP.
i.ATQ.
i.ATR.
i.ATS.
i.ATT.
i.ATU.
i.ATV.
i.ATW.
i.ATX.
i.ATY.
i.ATZ.
i.AUA.
i.AUB.
i.AUC.
i.AUD.

i.AUE.LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.AUF. IX
i.AUG.

DOWNLOAD DATA DAN PENGOLAHAN DATA HASIL


PENGUKURAN GPS (BASELINE)
i.AUH.
i.AUI.
i.AUJ.
i.AUK.

i.AUL.
i.AUM.
i.AUN.
i.AUO.

i.AUP.
i.AUQ.
i.AUR.
i.AUS.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.AUT.
i.AUU.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.AUV.

YOGYAKARTA

i.AUW. 2013
IX.A. TUJUAN
i.AUX.

1. Mahasiswa mampu mendownload data dari kontroler GPS


kedalam laptop.
2. Mahasiswa dapat mengetahui data apa saja yang sudah
didownloa dari kontroler GPS kedalam laptop.
3. Mahasiswa mampu mengubah format data yang didownload
dari kontroler GPS kedalam laptop menjadi format Rinex
(convert to Rinex) dengan menggunakan software JPS2RIN.
4. Mahasiswa mampu mengolah data yang sudah didownload

dan

sudah

dirubah formatnya menjadi rinex dalam laptop

menggunakn software Geogenius.


i.AUY.
IX.B. LANDASAN TEORI

i.AUZ.

i.AVA. Pada

dasarnya

konsep

penentuan

posisi

dengan GPS adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak,


yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa
satelitGPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan
oleh GPS adalah posisi 3 dimensi (x,y,z atau j,l,h) yang dinyatakan
dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984, sedangkan inggi
yang diperoleh adalah tinggi ellipsoid.
i.AVB. Dengan GPS, titik yang akan ditentukan posisinya pada
kedudukan diam (staticpositioning) ataupun bergerak (kinematic
positioning). Posisi titik dapat ditentukan dengan menggunakan
metode absolut (point positioning) ataupun terhadap titik lainnya
yang

telah

diketahui

mengguakan

metode

koordinatnya
differensial

(monitor
(relative

station)

dengan

positioning)

yang

menggunakan minimal dua receiver GPS. GPS dapat memberikan


posisi secara instan (real time) ataupun sesudah pengamatan
setelah data pengamatannya diproses secara lebih ekstentif (post
positioning) yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan ketelitian
yang lebih baik.
i.AVC. Metode differential global positioning system sering juga
disebut dengan penentuan posisi secara relatif. Pada penentuan
posisi differensial ini, posisi suatu titik ditentukan relatif terhadap
titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya. Pada metode ini,
dengan mengurangkan data yang diamati oleh dua receiver GPS
pada waktu yang bersamaan, maka beberapa jeis kesalahan dan
bias dari data dapat dihilangkan. Dalam hal ini, kesalahan jam
receiver dan jam satelit dapat dihilangkan, kesalahan bias dan
ionosfer, troposfer, dan efemeris dapat direduksi, sedangkan
kesalahan

multipath

yang

bersifat lokal tidak dapat dieliminir

maupun direduksi. Perlu dicatat, bahwa efektivitas pengurangan ini


sangat

bergantung

pada

jarak

antara

titik

yang

diketahui

koordinatnya dengan titik yang akan ditentuka koordinatnya.


Semakin pendek jarak tersebut, maka akan semakin efektif dan
sebaliknya.
i.AVD.Metode Relatif Statik adalah metode pengukuran sinyal
GPS bersifat tergantung kepada receiver yang lain. Pada metode
relatif statik, penentuan posisinya tergantung dengan receiver
yang lain maksudnya: semisal kita melakukan pengukuran di
lapangan, kita harus buat suatu kesepakatan dengan kelompok
lain, mulai pegukuran jam berapa, berapa lama waktu
pengukuran, dan lain-lain.
i.AVE. Pada prinsipnya, survei GPS bertumpu pada metodemetode penentuan posisi statik secara diferensial dengan
menggunakan data fase. Dalam hal ini pengamatan satelit GPS
umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu
tertentu (beberapa puluh menit sampai beberapa jam tergantung
tingkat ketelitian yang diinginkan) dalam suatu jaringan
(kerangka) dari titik-titik yang akan ditentukan posisinya.
i.AVF. Terkait dengan ketelitian yang ingin dicapai pada suatu
pengukuran, saat pengambilan data di lapangan diberikan ukuran
lebih, yaitu pengukuran yang melebihi batas ketentuannya. Hal ini
bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan ketelitian
yang baik sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu diperlukan
optimasi jaring pada pengukuran orde-3. Optimasi jaring ini dapat
dilakukan dengan pemilihan baseline-baseline dari suatu
pengukuran orde-3 yang telah dilakukan. Hal ini karena banyak data
ukuran yang diperoleh dan belum tentu semua data ukuran
tersebut mendekati nilai sebenarnya. Selain itu optimasi jaring ini
juga dapat meminimalisir kesalahan pengukuran. Untuk
menentukan nilai terbaik dari beberapa kali pengukuran diperlukan
suatu metode hitungan tertentu. Salah satu metode hitungan yang

dapat digunakan untuk menghitung ukuran lebih yaitu metode


kuadrat terkecil dengan perataan parameter.
IX.C. WAKTU PELAKSANAAN

i.AVG.
i.AVH.

Hari, tanggal

: Senin, 9 Desember

Waktu

: Pukul 17.00 sampai

Tempat

: Kampus Teknik

2013
i.AVI.
selesai.
i.AVJ.

Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.


i.AVK.
IX.D. ALAT YANG DIGUNAKAN

i.AVL.
1. Controler GPS Geodetik Javad Triumph

1 Buah

2. Laptop

1 Buah

3. Software convert to rinex JPS2RIN

1 Buah

4. Software Geogenius

1 Buah

i.AVM.
IX.E. LANGKAH KERJA

i.AVN.
I.

Mendownload data dari kontroler GPS ke dalam laptop.


1. Siapkan dan aktifkan kontroler GPS yang akan
didownload datanya.
2. Pilih menu Start yang ada pada kontroler GPS
lalu klik File Explores.
3. Pilih My Device/Storage kemudian tekan enter.
4. Pada Program Files pilih Tracy Prosprosesing.
5. Pilih Log File.
6. Pilih data (sort by).
7. Pada tampilan menu pilih Bim File lalu Send.
8. Maka

pada

laptop

secara

otomatis

akan

mendownload data GPS yang ada dikontroler

yang mau didownload. Data tersebut masih


berformat

Raw,

sehingga

harus

dikonversi

menjadi data yang berformat Rinex (convert to


rinex), agar dapat

diolah dengan software

Geogenius.
i.AVO.
II.

Mengubah format data menjadi Rinex

1. Membuka software JPS2RIN

i.AVP.
i.AVQ.
i.AVR.
i.AVS.
i.AVT.
i.AVU.
i.AVV.
i.AVW.
i.AVX.

i.AVY.
i.AVZ.
i.AWA.
2. Kemudian klik Input File, pilih data yang akan dikonvert ke data
rinex, lalu pilih Open.
i.AWB.

i.AWC.
i.AWD.
i.AWE.
i.AWF.
i.AWG.
i.AWH.
i.AWI.
3. Setelah di Open, lalu klik Convert

i.AWJ.
i.AWK.
i.AWL.
i.AWM.
i.AWN.
i.AWO.

i.AWP.
i.AWQ.
i.AWR.
4.

Maka akan muncul tampilan seperti ini, JAVAD GNSS Tools


Collection. Kemudian klik Convert to RINEX.
i.AWS.

5. Akan muncul tampilan seperti berikut yang berarti konversi


sudah berhasil. Lalu klik Ok.

i.AWT.

6. Lakukan

konversi

ke

format

Rinex,

pada

semua

data

yang lain yang telah didownload dari kontroler GPS tadi


dengan cara yang sama seperti langkah sebelumnya.
7. Setelah semua data selesai dikonvert, buka data tersebut yang
bertipe 12O File ke dalam Note Pad.

i.AWU.

8. Ubah Unknown pada Marker Name dan Marker Number yang


dibuka pada Note Pad tadi sesuai dengan nama titik yang sudah
kita amat dengan GPS sebelumnya.

i.AWV.

9. Kemudian simpan data tersebut dengan klik File lalu Save. Lalu
Close.

i.AWW.

10.

Lakukan

hal

yang

sama pada data yang bertipe 12O File dengan cara seperti
langkah

yang

sebelumnya

sesuai

dengan

nama

yang telah dilakuan pengamatan sebelumnya.


11.
Setelah
selesai

diubah

namanya,

maka

data

siap

titik

semua
diolah

software Geogenius.
i.AWX.
III.
Pengolahan data dengan software Geogenius
1. Membuka software Geogenius.

pada

i.AWY.

2. Masukkan data yang sudah diolah sebelumnya, dengan mengklik Project lalu pilih Files into Project.
i.AWZ.

3. Akan muncul tampilan Insert Files into Project.

i.AXA.

4. Pilih data yang akan diolah, klik Select All lalu pilih Add to
Project. Kemudian klik Close.
i.AXB.

5. Akan muncul hasil seperti berikut.

i.AXC.

6. Ubah titik GCP 12 menjadi titk acuan dengan cara klik


kanan

pada

titik

GCP 12 lalu pilih Fix.


7. Hilangkan tanda titik acuan pada titik GCP 11dengan cara klik
kanan pada titik GCP 11 lalu pilih Fix.
8. Kemudian klik icon Process All. Lalu tunggu sampai proses
Process All selesai.
9. Akan muncul hasil seperti berikut.
i.AXD.
i.AXE.
i.AXF.
i.AXG.
i.AXH.
i.AXI.
10.

L
a

kukan perbaikan data dengan cara klik kanan pada garisnya,


lalu pilih Scan.
i.AXJ.
i.AXK.
i.AXL.
i.AXM.
i.AXN.
11.

Akan

muncul

Scan

Satellites,

lakukan

perbaikan data, hapus data yang rusak parah atau data yang
tinggal sedikit

dengan menghilangkan

Perbaiki

yang

data

rusak

tidak

tanda centangnya.

terlalu

parah

dengan

menyambungkan data tersebut. Lalu klik Ok.

i.AXO.
12.
sampai

Lakukan hal yang sama pada garis data yang lain


data

selesai

diperbaiki

seperti

langkah

yang

sebelumnya.
13.

Setelah semua data selesai diperbaiki, lakukan

perataan dengan cara klik tool Adjust pilih Adjust (Free) dan
tunggu sampai proses selesai.
14.
diolah.

Hasilnya akan seperti berikut, data telah selesai

i.AXP.
i.AXQ.
i.AXR.
i.AXS.
i.AXT.
i.AXU.
i.AXV.
i.AXW.
i.AXX.
i.AXY.
i.AXZ.
IX.F. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Data yang digunakan
i.AYA.

Data yang digunakan adalah data yang berformat

Raw dan Rinex, salah satu data berformat Rinex adalah sebagai
berikut.
i.AYB.

i.AYC.
i.AYD.
i.AYE.
i.AYF.
i.AYG.
i.AYH.
2.

H
a
s
i
l
dari pengolahan data dengan software Geogenius

i.AYI.
3.

Tampilan dari Informasi Vektor Baseline.


i.AYJ.

Untuk

mengetahui

informasi dari Vektor Baseline, dengan cara klik Baseline


kemudian klik kanan pada nama datanya pilih Properties.
-

Tampilan dari Informasi Vektor Baseline


GCP 11 GCP 3

i.AYK.

i.AYL.
i.AYM.
i.AYN.
i.AYO.
i.AYP.
i.AYQ.
i.AYR.
i.AYS.
i.AYT.
i.AYU.
i.AYV.
i.AYW.
i.AYX.
i.AYY.
i.AYZ.
-

Tampilan dari Informasi Vektor Baseline


GCP 12 GCP 3
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.
i.AZA.

i.AZB.
-

Tampilan dari Informasi Vektor Baseline


GCP 12 GCP 11

i.AZC.

i.AZD.
i.AZE.
i.AZF.
i.AZG.
i.AZH.
i.AZI.
i.AZJ.
i.AZK.
i.AZL.
i.AZM.
i.AZN.
i.AZO.
i.AZP.
i.AZQ.
i.AZR.
i.AZS.
i.AZT.
i.AZU.
i.AZV.
i.AZW.
4. Informasi koodinat Definity
-

GCP 12 GCP 11

i.AZX.
-

GCP 3 GCP 12

GCP 3 GCP 11

i.AZY.

i.AZZ.
i.BAA.

5.

Kesalahan Elips
-

GCP 11 GCP 3
i.BAB.

GCP12 GCP3
i.BAC.

i.BAD.

GCP12 GCP11

i.BAE.
i.BAF.
i.BAG.
i.BAH.
i.BAI.
i.BAJ.
i.BAK.
i.BAL.
i.BAM.
i.BAN.
6. Ketelitian Linier
i.BAO.
i.BAP.
i.BAQ.
i.BAR.
i.BAS.
i.BAT.
i.BAU.
i.BAV.
i.BAW.
KETELITIAN LINIER:
i.BAX.

HORIZONTAL 50,6 MM

i.BAY. VERIKAL 108.1 MM

IX.G. KESIMPULAN
i.BAZ.
i.BBA.

Pada pengukuran GPS

yang kami lakukkan timbul sebuah kendala dimana ketelitian yang


didapat tidak memenuhi tor yaitu dengan ketelititan horizontal 50, 6
mm dan ketelitian vertikal 108,1 mm yang dikarenakan buruknya
penerimaan sinyal pada salah satu vektor atau garis, yang

menyebabkan data yang diperoleh memiliki RMS atau ketelitian yang


buruk.
i.BBB.
i.BBC.
i.BBD.
i.BBE.
i.BBF.
i.BBG.
i.BBH.
i.BBI.

i.BBJ. LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI GNSS


i.BBK.
i.BBL.

DOWNLOAD DATA DAN PENGOLAHAN DATA HASIL


PENGUKURAN GPS
i.BBM. (JARING KONTROL HORIZONTAL)
i.BBN.
i.BBO.
i.BBP.
i.BBQ.

i.BBR.

i.BBS.
i.BBT.

i.BBU.
i.BBV.
i.BBW.
i.BBX.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.BBY.
i.BBZ.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.BCA.

YOGYAKARTA

i.BCB.

2013

X.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengunduh data dari receiver atau controller ke
perangkat keras (laptop)
2. Mahasiswa mampu mengolah data

hasil

pengukuran dengan

menggunakan GPS tipe Geodetik dengan menggunakan software.


3. Mahasiswa mampu menganalisis penyebab kesalahan data hasil
pengukuran.
4. Mahasiswa mampu
i.BCC.
X.B. LANDASAN TEORI
i.BCD. Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS
adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan
pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelitGPS yang
koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan oleh GPS adalah
posisi 3 dimensi (x,y,z atau j,l,h) yang dinyatakan dalam datum WGS
(World Geodetic System) 1984, sedangkan inggi yang diperoleh adalah
tinggi ellipsoid.
i.BCE.
Metode differential global positioning system sering juga
disebut dengan penentuan posisi secara relatif. Pada penentuan posisi
differensial ini, posisi suatu titik ditentukan relatif terhadap titik
lainnya yang telah diketahui koordinatnya. Pada metode ini, dengan
mengurangkan data yang diamati oleh dua receiver GPS pada waktu
yang bersamaan, maka beberapa jeis kesalahan dan bias dari data

dapat dihilangkan. Dalam hal ini, kesalahan jam receiver dan jam
satelit dapat dihilangkan, kesalahan bias dan ionosfer, troposfer, dan
efemeris dapat direduksi, sedangkan

kesalahan

multipath

yang

bersifat lokal tidak dapat dieliminir maupun direduksi. Perlu dicatat,


bahwa efektivitas pengurangan ini sangat bergantung pada jarak
antara titik yang diketahui koordinatnya dengan titik yang akan
ditentuka koordinatnya. Semakin pendek jarak tersebut, maka akan
semakin efektif dan sebaliknya.
i.BCF.
Metode Relatif Statik adalah metode pengukuran sinyal
GPS bersifat tergantung kepada receiver yang lain. Pada metode relatif
statik, penentuan posisinya tergantung dengan receiver yang lain
maksudnya: semisal kita melakukan pengukuran di lapangan, kita
harus buat suatu kesepakatan

dengan

kelompok

lain,

mulai

pegukuran jam berapa, berapa lama waktu pengukuran, dan lainlain. Penentuan posisi secara relatif statik adalah penentuan posisi dari
titik yang static (diam). Penentuan posisi ini dapat dilakukan dengan
menggunakan data pseudorange/phase. Syarat pengukuran dengan
metode relatif yaitu minimal menggunakan 2 receiver GPS Geodetic.
i.BCG.

i.BCH.

Gambar X.B.1. Metode Relatif dengan


menggunakan GPS Geodetik
i.BCI.

i.BCJ.

Setiap pengukuran 3 titik akan membentuk 2 baseline

non-trivial dan 1 baseline trivial. Baseline trivial adalah baseline


resultante dari 2 baseline yang lain (dependen). Sedangkan baseline
non trivial adalah baseline yang independent. Jaring survei GPS
dibentuk oleh titik-titik yang diketahui koordiantnya. Titik titik tersebut
dihubungkan dengan baseline-baseline non trivial.
i.BCK. Dibandingkan
dengan
metode

relatif

kinematik

pengukuran lebih kepada suatu titik pengamatan yang diperoleh


dengan metode static biasanya lebih banyak. Hal ini menyebabkan
keandalan dan ketelitian posisi yang diperoleh umumnya relative lebih
tinggi (dalam mm). Salah satu bentuk implementasi dari metode
penentuan posisi static yang popular adalah survey GPS untuk
penentuan dari titik-titik control untuk keperluan pemetaan ataupun
pemantauan deformasi dan geodinamika.
i.BCL.
Pada prinsipnya, survei GPS bertumpu pada metodemetode

penentuan

posisi

statik secara

diferensial

dengan

menggunakan data fase. Dalam hal ini pengamatan satelit GPS


umumnya dilakukan baseline per baseline selama selang waktu
tertentu (beberapa puluh menit sampai

beberapa

jam tergantung

tingkat ketelitian yang diinginkan) dalam suatu jaringan (kerangka)


dari titik-titik yang akan ditentukan posisinya.
i.BCM. Terkait dengan ketelitian yang ingin dicapai pada suatu
pengukuran, saat pengambilan data di lapangan diberikan ukuran
lebih, yaitu pengukuran yang melebihi batas ketentuannya. Hal ini
bertujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan ketelitian yang
baik sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu diperlukan optimasi
jaring pada pengukuran orde-3. Optimasi jaring ini dapat dilakukan
dengan pemilihan baseline-baseline dari suatu pengukuran orde-3
yang telah dilakukan. Hal ini karena banyak data ukuran yang
diperoleh dan belum tentu semua data ukuran tersebut mendekati
nilai

sebenarnya.

Selain

itu

optimasi

jaring

ini

juga

dapat

meminimalisir kesalahan pengukuran. Untuk menentukan nilai terbaik


dari beberapa kali pengukuran diperlukan suatu metode hitungan
tertentu. Salah satu metode hitungan yang dapat digunakan untuk

menghitung ukuran lebih yaitu metode kuadrat terkecil dengan


perataan parameter.
i.BCN.
X.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. 3 set GPS Geodetik (antenna receiver, controller, kabel penghubung,
baterai)
2. 3 buah Statif.
3. 1 set alat tulis
4. 3 buah kamera
5. 3 buah aki basah.
i.BCO.
X.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
i.BCP.

Hari, tanggal

: Kamis, 12 Desember

Waktu

: Pukul 17.00 sampai

Tempat

: Kampus Teknik

2013
i.BCQ.
selesai.
i.BCR.

Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.


i.BCS.
X.E. LANGKAH KERJA
i.BCT. Download data
i.BCU. Melakukan proses download data perekaman satelit dari
receiver GNSS yang digunakan dalam praktikum sebelumnya dengan
cara mengupload terlebih dahulu data perekaman dari receiver ke
controller GPS Javad Triumph kemudian ke perangkat keras lain
dengan cara sebagai berikut :
a. Menyalakan instrumen

receiver

dan

controller

dengan

menekan tombol power.


b. Mengkoneksikan antara receiver dan controller sehingga
kedua instrumen tersebut saling terhubung. Caranya dengan :
i.BCV.
Memilih PPK Setting Find memilih receiver
Connect

i.BCW.

c. Melakukan

transfer

data

pengukuran

dari

receiver

ke

controller dengan cara :


i.BCX.

Masuk ke menu

memilih Logfiles

centang file yang akan di kirim upload .

i.BCY.
d. Selanjutnya adalah proses pengiriman dari controller ke
laptop. Caranya mirip dengan metode diatas, namun untuk
melihat file yang akan dikirim dapat dengan :
i.BCZ.
Start Programs File Explorer

i.BDA.
i.BDB.
i.BDC.

Kemudian pilih file yang akan dikirim Menu

Beam File

i.BDD.
i.BDE.
i.BDF.

Kemudian pilih device bluetooth yang diinginkan

Tap to send.

i.BDG.
i.BDH.

Apabila data hasil perekaman telah berada pada

controller GPS Javad, maka mengirimkan data tersebut ke Android


device

maupun

ke

laptop

secara

langsung

menggunakan

Bluetooth dengan langkah yang sama seperti point d.


i.BDI.
i.BDJ. Pengolahan data

i.BDK. Menginstall kemudian melakukan pengolahan data dengan


menggunakan software pengolah data GNSS yaitu JPS2RIN dan
GeoGenius sebagai berikut.
a. Melakukan proses konversi data dari data hasil download GPS
(dengan format *.jps) ke data Rinex (dengan format *.rin) dengan
menggunakan software JPS2RIN)

i.BDL.
i.BDM. Menginput data yang akan dikonvert dengan memilih
Input File(s) kemudian memilih semua data hasil pengukuran

i.BDO.

i.BDN.
Blok semua data masukan kemudian memilih pilihan

Convert sehingga muncul tampilan sebagai berikut.

i.BDP.
b. Mengedit data Rinex hasil convert sebelumnya yang berekstensi
.0 dengan menggunakan Notepad. Editing yang dilakukan
berupa perubahan nama Unknown pada bagian Marker Name

dan Marker Number menjadi nama file yang diinputkan pada


controller GPS pada saat perekaman data di lapangan.

i.BDQ.
i.BDR. Melakukan hal yang sama untuk semua data hasil
perekaman titik yang didapatkan kemudian menyimpan data
yang sudah diedit.
c. Membuka software GeoGeonius.

i.BDS.
d. Memilih icon Insert File
telah diedit sebelumnya.

kemudian memilih file data yang

i.BDT.
i.BDU.
i.BDV. Memilih file kemudian memilih Add to Project.

i.BDW.
i.BDX. Berikut
GeoGenius

ini

setelah

merupakan
data

hasil

tampilan
perekaman

pada
data

software
berhasil

diinputkan.
i.BDY.

i.BDZ.
i.BEA.
e. Melakukan merging untuk mengoreksi kesalahan pada titik
pengukuran karena titik diukur lebih dari satu kali.
i.BEB. Mengklik kanan pada titik yang akan di merge
memilih Merge. Kemudian memilih salah satu titik untuk point
Number mengklik Merge

i.BEC.

i.BEE.

i.BED.
Hasil :

i.BEF.

f. Lalu dilakukan proses memblok semua daerah yang kosong


(tidak terdapat hasil perekaman data) pada hasil perekaman data
satelit

i.BEG.

i.BEH.

memilih OK. Melakukan hal yang sama untuk semua

baseline yang terbentuk.


g. Mengklik icon Process All

pada toolbar GeoGenius sehingga

mencul tampilan sebagai berikut.

i.BEI.
i.BEJ.
Pada tampilan di atas terdapat elips kesalahan yang
menunjukkan besarnya angka kesalahan yang terjadi pada jaring

kontrol horizontal yang terbentuk. Untuk memperkecilnya maka


dilakukan proses pengulangan dari butir e dan butir f di atas.
h. Mengklik pada Adjust memilih Adjust Free

i.BEL.

i.BEK.
Maka hasilnya ialah :

i.BEM.
i. Untuk mengetahui koordinat setiap titik BM, maka perlu
melakukan Adjust Biased. Memilih menu Adjust Adjust ( Biased)

i.BEN.
i.BEO.
j. Kemudian mengklik kanan pada Point fix memilih property

i.BEP.

i.BEQ.

muncul kotak dialog seperti dibawah ini :

i.BER.
i.BES. Selanjutnya mengklik assign
k. Kemudian untuk melihat koordinat setiap titik BM, mengklik
menu Adjust report. Maka akan muncul tampilan report semua
koordinat titik BM yang diukur.
i.BET. Hasil :

i.BEU.

i.BEV.
X.F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Koordinat titik dalam proyeksi UTM
i.BEW.
i.BEX.

Nama

i.BEY.

Nilai

Titik
i.BFA.

Kel10_r3

(UTM)
i.BFB.

431444.45

(UTM)
i.BFC.

9140414.53

Kel12_r1

6 mE
i.BFE.

431152.69

3 mU
i.BFF.

9140961.59

Kel3_r1

7 mE
i.BFH.

431596.29

4 mU
i.BFI.9140605.159 mU

i.BFJ.Kel3_r2

6 mE
i.BFK.

431285.18

i.BFL.

9140656.99

i.BFM.

Kel3_r3

9 mE
i.BFN.

431442.51

9 mU
i.BFO.

9140913.47

i.BFP.

Kel5_r2

7 mE
i.BFQ.

431314.69

3 mU
i.BFR.

9141167.96

i.BFS.

Kel5_r3

3 mE
i.BFT.

431002.30

6 mU
i.BFU.

9140402.87

i.BFV.

Kel6_r1

6 mE
i.BFW.

431105.40

4 mU
i.BFX.

9140402.87

i.BFD.
i.BFG.

2 mE

X i.BEZ.

4 mU

Nilai

i.BFY.

Kel6_r3

i.BFZ.

430964.43

i.BGA.

9140696.89

i.BGB.

Kel7_r2

1 mE
i.BGC.

431749.02

7 mU
i.BGD.

9140883.37

i.BGE.

Kel8_r2

1 mE
i.BGF.

430864.25

1 mU
i.BGG.

9140906.17

Kel9_r1

7 mE
i.BGI.

431560.62

2 mU
i.BGJ.

9141199.50

i.BGH.

5 mE
i.BGK.
i.BGL.

i.BGN.

Gambar Jaring pada Software GeoGenius


i.BGM.

Ketelitian Titik

3 mU

i.BGO.

i.BGP.
i.BGQ. Ketelitian Vertikal
: 184.4 mm
i.BGR. Ketelitian Horisontal : 75.7 mm
Ketelitian Baseline
i.BGS.

i.BGT.
i.BGU. Ketelitian Vertikal
: 19.8 mm
i.BGV. Ketelitian Horisontal : 27.3mm
i.BGW.
X.G. KESIMPULAN

1. Menurut hasil pengukuran kelompok kami tingkat ketelitian yang


dihasilkan masih kurang baik karena masih banyaknya kesalahan.
2. Data yang dihasilkan kurang baik dapat dikarenakan beberapa hal
antara lain :
a) Antenna receiver yang bermasalah.
b) Controller yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga logging
rate dari GPS Geodetiknya adalah default
c) Terdapat obstruksi.
d) Kesalahan pada saat pengaturan GPS, yaitu saat sentering
termasuk dalam pengaturan nivo kotak dan tabung
e) Pengukuran yang dilakukan tidak seara bersamaan, sehingga
pada saat Scan data pada baseline terdapat banyak bar
pengukuran yang kosong
3. Karena masih terdapat kesalahan pada 1 baseline (kel2_r2
kel6_r3 ), diharapkan untuk pengukuran ulang pada sesi tersebut,
sehingga didapatkan data pengukuran yang baik dengan tingkat
kesalahan yang kecil
4. Melihat masih banyaknya kesalahan data atau data yang tidak
terpakai, seharusnya durasi untuk 1 sesi pengukuran ditambah,
misal menjadi 1 jam (60 menit), semakin banyak data yang diambil,
semakin banyak data yang dikoreksi oleh satelit sehingga dapat
menghasilkan data dengan kualitas baik (Ketelitian tinggi)
i.BGX.
i.BGY.
i.BGZ.
i.BHA.
i.BHB.
i.BHC.
i.BHD.
i.BHE.
i.BHF.
i.BHG.
i.BHH.
i.BHI.

i.BHJ.
i.BHK.
i.BHL.
i.BHM.
i.BHN.
i.BHO.
i.BHP.
i.BHQ.
i.BHR.
i.BHS.
i.BHT.
i.BHU.
i.BHV.
i.BHW.

i.BHX.

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI


GNSS
i.BHY. XI

i.BHZ.

PENGUKURAN PENENTUAN POSISI METORE REAL


TIME KINEMATIK
i.BIA.

MENGGUNAKAN SINYAL RADIO


i.BIB.
i.BIC.
i.BID.
i.BIE.

i.BIF.
i.BIG.
i.BIH.

i.BII.
i.BIJ.
i.BIK.
i.BIL.

JURUSAN TEKNIK GEODESI

i.BIM.
i.BIN.

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA


i.BIO.

YOGYAKARTA

i.BIP.

2013

XI.A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu memahami konsep metode penentuan posisi
Real Time Kinematik
2. Mahasiswa mampu melakukan pengaturan GPS menggunakan
metode RTK via frekuensi radio (single base RTK)
3. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran GPS menggunakan
metode RTK via frekuensi radio (single base RTK)
i.BIQ.
XI.B. LANDASAN TEORI
i.BIR.

GPS (Global Positioning System) adalah sistem satelit

navigasi dan penetuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika
Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan

tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di


seluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca.
i.BIS.Pada saat ini konstelasi satelit yang membawa gelombanggelombang di atas terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam enam
bidang orbit sedemikian rupa sehingga untuk setiap posisi dimuka
bumi dapat menerima minimal 4 buah satelit pada saat yang
bersamaan sehingga memungkinkan untuk menentukan posisi setiap
saat dan dalam kondisi bagaimanapun juga.
i.BIT. Berdasarkan
mekanisme
pengaplikasiannya,

metode

penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokkan atas beberapa


metode yaitu:
i.BIU. 1. Metode Penentuan Posisi Absolut
i.BIV. 2. Metode Penentuan Posisi Diferensial
i.BIW.
i.BIX.

i.BIY.

Gambar XI.B.1. Metode Penentuan Posisi


Diferensial

i.BIZ.
i.BJA.

Antara kedua metode tersebut metode penentuan posisi

absolut memiliki ketelitian yang paling rendah yaitu mencapai tingkat


meter. Ketelitian penentuan posisi absolut dapat ditingkatkan dengan
menggunakan penentuan posisi secara diferensial, dimana posisi
suatu tititk ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah
diketahui koordinatnya. Penentuan posisi secara diferensial dapat
diapliaksikan secara statik maupun kinematik dengan menggunakan
data pseudorange dan/ataupun fase.

i.BJB.

Perkembangan

teknologi

penentuan

posisi

dengan

satelit Global Navigation Satellite System (GNSS) memunculkan sistem


pengadaan titik kontrol dasar moderen sebagai referensi penentuan
posisi untuk pengukuran dan pemetaan yang bersifat aktif, terus
menerus dan dapat diakses secara real time. Untuk melayani aplikasiaplikasi tersebut maka pada awalnya tersedianya dua sistem yang
umumnya dikenal dengan nama DGPS (Differential GPS) dan RTK (Real
Time Kinematik). Pada praktikum kali ini akan dijelaskan mengenai
sistem RTK.
i.BJC.
i.BJD.

RTK (Real-Time-Kinematik)
Sistem RTK (Real-Time-Kinematik) adalah suatu akronim

yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-time


secara differensial menggunakan data fase. Untuk merealisasikan
tuntutan real time nya, stasiun referensi harus mengirimkan data fase
dan psedorange-nya ke pengguna secara real-time menggunakan
sistem komunikasi data tertentu. Stasiun referensi dan pengguna
harus dilengkapi dengan perangkat pemancar dan penerima data.
i.BJE. Ketelitian tipikal posisi yang diberikan oleh sistem RTK adalah
sekitar 1-5 cm, dengan asumsi bahwa ambiguitas fase dapat
ditentukan secara benar. Untuk mencapai tingkat ketelitian tersebut,
sistem

RTK

harus

dapat

menentukan

ambiguitas

fase

dengan

menggunakan jumlah data yang terbatas dan juga selagi receiver


bergerak.

Mekanisme

penentuan

ambiguitas

fase

yang

kerap

dinamakan on the fly ambiguity ini bukanlah hal yang mudah


dilaksanakan. Dalam hal ini untuk dapat menentukan ambiguitas
secara cepat dan benar umumnya diperlukan penggunaan data fase
dan pseudorange dua frekuensi, geometri satelit yang relatif baik,
algoritma perhitungan yang relatif handal dan mekanisme eliminasi
kesalahan dan bias yang relatif baik dan tepat.
i.BJF.
i.BJG.
Sistem RTK dapat digunakan untuk penentuan posisi
obyek-obyek yang diam maupun bergerak, sehingga sistem RTK tidak
hanya dapat merealisasikan survei GPS real time, tetapi juga navigasi
berketelitan tinggi. Aplikasi-aplikasi yang dapat dilayani oleh sistem ini
cukup beragam, antara lain staking out, penentuan dan rekonstruksi

batas persil tanah, survei pertambangan, survei rekayasa dam utilitas,


serta aplikasi-aplkasi lainnya yang memerlukan informasi posisi
horisontal secara cepat (real-time) dengan ketelitian yang relatif tinggi
dalam orde beberapa cm.
i.BJH.
Metoda Penentuan Posisi secara Real Time Kinematik
dibagi dalam dua bagian yaitu Single Base RTK dan Network RTK,
namun pada praktikum kali ini akan dibahas Penentuan Posisi RTK
Single Base RTK.
i.BJI.
Single base RTK
i.BJJ. Pengamatan yang dilakukan pada metode single base RTK
adalah pengamatan secara diferensial dengan menggunakan minimal
dua

receiver

GNSS

yang

bekerja

secara

simultan

dengan

menggunakan data phase, dengan fungsi sebagai :


a. Base
Pada alat GPS yang berfungsi sebagai base, maka alat GPS tidak
digerakkan posisinya (diam). Base didirikan diatas titik yang sudah
diketahui secara pasti nilai koordinatnya (misal: didirikan diatas titik
Bakosurtanal Orde 0) dan koordinat titik bakosurtanal tersebut
diinputkan dalam alat GPS base.
b. Rover
Pada alat GPS yang berfungsi sebagai rover, posisi GPS dapat
digerakkanv sesuai dengan detil yang diinginkan oleh surveyor
(misal pada pengukuran persil tanah, maka rover didirikan pada
pojok pojok bidang tanah). Yang menghubungkan antara base dan
rover

adalah

Sinyal

radio.

Sinyal

radio

berfungsi

untuk

memancarkan nilai koreksi dari base ke rover. Saat ini, sinyal radio
bisa

dipancarkan

menggunakan

berbagai

macam

cara

yaitu

menggunakan Antena radio, GSM, ataupun sinyal internet. Jika


menggunakan Antena radio, maka diusahakan sebelum pengukuran,
frekwensi radio di base dan rover sudah disamakan terkebih dahulu.
Antenna radio hanya mampu memancarkan sinyal sejauh 3 km saja
( Jika lebih jauh maka bisa digunakan alat repeater).
i.BJK.

i.BJL.

i.BJM.
i.BJN.
i.BJO.

Gambar XI.B.2. Single Base RTK

Koreksi data dikirimkan secara satu arah dari base

station kepada rover melalui transmisi radio. Keterbatasan dari


metode RTK ini adalah semakin panjang base line antara rover dengan
stasiun referensi, maka tingkat ketelitiannya akan semakin berkurang.
Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan distance dependent (seperti
perlambatan sinyal satelit GNSS akibat pengaruh ionosfer) yang
semakin tinggi, karena semakin jauh jarak antara rover dengan stasiun
referensi sehingga proses pemecahan resolusi ambiguitas (ambiguity
resolution) antara base station dengan rover sukar untuk dilakukan.
i.BJP.
XI.C. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. 2 unit GPS Navigasi javad
2. 1 unit Controller Javad
3. 1 buah Statif
4. 1 buah Pull

5. Alat tulis
i.BJQ.
XI.D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
i.BJR.

Tanggal : 17 Desember 2013

i.BJS.

Tempat

i.BJT.

Waktu

: Parkiran Bus Fakultas Teknik UGM


: 08.00 s.d. 09.30 WIB

i.BJU.
XI.E. LANGKAH KERJA
i.BJV.
Untuk pengukuran dengan metode RTK menggunakan
UHF Radio memerlukan minimal 2 receiver dimana 1 receiver dijadikan
sebagai base station, sedangkan receiver yang lainnya dijadikan
sebagai rover. Langkah-langkahnya adalah sebgai berikut.
1. Posisikan Javad Triumph-1 diatas sebuah titik untuk dijadikan
sebagai base, station.
2. Dirikan statif diatas titik tersebut. Kemudian lakukan centering
dengan mengatur kaki statif.
3. Atur sumbu I vertikal dengan menyeimbangkan nivo kotak
yang terdapat di Tribach, dengan cara memutar skrup A, B, C.
4. Pasang antena pada Tribach, kemudian pasang receiver diatasnya.
5. Ukur tinggi receiver.
6. Kemudian nyalakan antena receivernya dengan menekan tombol

power

7. Tunggu hingga
berwarna hijau.

lampu

indicator

satelit

dan

posisi

8. Nyalakan kontroler (Victor Data Collector) dengan menekan


tombol power.
9. Pilih menu RTK dari main window.

i.BJW.
10.

Akan muncul dialog RTK (Lite View) seperti dibawah ini.

i.BJX.
11. Koneksikan antena receiver dengan victor data collector
dengan meng-klik icon Bluetooth dan pilih antenna receiver
sesuai dengan paired Bluetooth pada antenna receiver sehingga
lampu indicator bluetooth menjadi berwarna hijau.

i.BJY.
12. Jika Bluetooth sudah terkoneksi tampilan pada victor data
collector akan tampak seperti dibawah ini.

i.BJZ.
13.

Pilih ikon

untuk memilih mode Extended. Kemudian pilih

ikon
untuk masuk ke menu pengaturan RTK. Tampilan pada
display adalah seperti dibawah ini.

i.BKA.
14. Pilih ikon
untuk masuk ke menu pengaturan style baru.
Isikan nama style yang akan dibuat.

i.BKB.
15. Untuk correction source, pilih Modem (GSM, Radio) karena
sinyal koreksi akan dikirim melalui sinyal radio. Lalu pilih Next.

i.BKC.
16. Kemudian muncul kotak dialog untuk pengaturan base
modem. Pada modem type, pilih TRIUMPH UHF Modem. Pada
isian connected to dan corrections (pilih koreksi RTK) isikan
sesuai dengan antenna receiver yang digunakan sebagai base.

i.BKD.
17. Pada UHF Modem settings masukkan parameter protocol
modem dan frequency channel yang diinginkan. Frequency
channel ini harus sama antara base modem dan rover modem.
Kemudian klik Next.

i.BKE.
18. Pada base antenna pilih tipe anenna sesuai alat yang
digunakan (misal : Triumph 1 internal with Radio), klik Next.
Lakukan hal yang sama pada Rover Antenna.

i.BKF.
19.

Untuk pengaturan rover pilih seperti dibawah ini.

i.BKG.
20.

Klik kembali tanda

untuk kembali ke mode Lite View.

21.

Koneksikan data collector pada Triumph Base kemudian klik

pada ikon
dan pilih RTK Base dan pilih sesuai nama setting
yang sudah dibuat sebelumnya.

i.BKH.
22. Selanjutnya pilih Base Coords, inputkan koordinat ENZ base
stations atau cari dengan Coordinat Sources serta inputkan tinggi
alat.

i.BKI.
23.

Kembali ke main window, tunggu beberapa saat hingga ikon

menunjukkan
koreksinya.

yang berarti base sudah memancarkan

24. Koneksikan data collector ke rover dan lakukan setting yang


sama pada rover. Perbedaannya pada rover dipilih RTK Rover.

i.BKJ.
25. Tunggu hingga tampilan victor data collector ready seperti
gambar dibawah ini dan tunggu hingga LQ (Link Quality) 100%.

i.BKK.
26.

Pengukuran sudah dapat dilakukan.

i.BKL.
XI.F. HASIL DAN PEMBAHASAN
i.BKM.

i.BKN.
i.BKO.
i.BKP.

Gambar XI.F.1. Contoh hasil file download


i.BKQ.

i.BKR. Gambar XI.F.2. Contoh data hasil ukuran


i.BKS.
XI.G. KESIMPULAN
i.BKT.
1. Pada pengukuran posisi menggunakan GPS dengan metode RTK
maka salah satu titik harus menjadi titik control yang telah
diketahui koordinatnya sehingga titik tersebut dapat menjadi

pengoreksi
2. Pada RTK UHF Receiver GPS untuk menjadi Base maupun Rover
pengaturannya sama, hanya dibedakan pada pilihan RTK UHF
kemudian kita pilih sesuai keperluan akan dijadikan Base atau
Rover.
3. Pada pengukuran

titik

yang

kita

lakukan,

harus

selalu

memperhatikan titik yang kita ukur tersebut apakah titik tersebut


titik Fix atau titik Float.

i.BKU.
i.BKV.
i.BKW.
i.BKX.
i.BKY.
i.BKZ.
i.BLA.
i.BLB.
i.BLC.
i.BLD.
i.BLE.
i.BLF.

DAFTAR PUSTAKA

i.BLG.
Anonim (2013). Sisitem Pemosisi Global. [Online]. Tersedia:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Pemosisi_Global. [10 November
2013].
i.BLH.
i.BLI.
Anonim.
Teknologi
GPS.
[Online].
Tersedia:
http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=498. [10 November 2013].

i.BLJ. Anonim (2013). Penentuan Posisi Relatif. [Online]. Tersedia:


http://id.scribd.com/doc/172886449/penentuan-posisi-relatif
i.BLK.
i.BLL.
Badan Standardisasi Nasional (BSN).SNI 19-67242002.2002.
i.BLM.
i.BLN.

BSN

(Badan

Standardisasi

Nasional Indonesia Jaring Kontrol


Standardisasi Nasional.

Nasional).

2002.Standar

Horisontal.Jakarta:

Badan

i.BLO.
i.BLP.
i.BLQ.

BPN (2011). Pengenalan CORS. [22 Desember 2013].

i.BLR.
Modul 7 Pendahuluan Survei GPS oleh Hasanuddin Z Abidin di
Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat.
i.BLS.
i.BLT.
Noor,
Aji
(2013).
[Online].
Tersedia
:
http://www.hermantolle.com/class/2013/09/cara-kerja-gps/.
[10
November 2013]
i.BLU.
i.BLV.
Pascasakti, Deni (2010). Konsep Dasar GPS RTK. [Online].
Tersedia:
http://dennipasca.blogspot.com/2010/04/konsep-dasargps-rtk.html [ 22 Desember 2013].
i.BLW.
i.BLX.
Prasetyo (2010). Konsep Dasar GPS RTK dalam menunjang
JRSP (Jaringan Referensi Satelit Pertanahan). [Online]. Tersedia :
http://kab-gresik.bpn.go.id/Propinsi/Jawa-Timur/KabupatenGresik/Berita/Konsep-Dasar-GPS-RTK-dalam-menunjang-JRSP(Jaringa.aspx. [22 Desember 2013].
i.BLY.
i.BLZ.
Suryadi
(2010).
GPS
RTK.
[Online].
Tersedia:
http://penjelajah.babelred.com/categoria.asp?idcat=24
.
[22
Desember 2013].
i.BMA.
i.BMB.
Wild.Heinrich.S.Leica
Viva
CS10
User
Manual.
http://www.surveyequipment.com/PDFs/Leica_Viva_CS10_CS15_User_Manu
al.pdf (diakses pada Sabtu, 5 Oktober 2013 pukul 15.00)
i.BMC.
i.BMD.

Yeni

(2011).

Optimasi

Jaring

Menggunakan Perataan Parameter


i.BME. .
[Online].

Pada

Pengukuran

Orde3

Tersedia:

http://yenigeomaticits07.blogspot.com/2011/01/bab-i-pendahuluan1.html [25 November 2013].


i.BMF.
i.BMG.