Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua komponen kata
yaitu oikos berarti rumah tangga atau lingkungan yang berfungsi sebagai tempat
kehidupan organisme dan logos berarti ilmu sehingga menurut Ernst Haeckel
ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
organisme dengan lingkungannya (Ramli, 1989). Hubungan timbal balik di sini
menekankan pada kelompok organisme yaitu populasi yang merupakan kumpulan
dari spesies dan komunitas.
Dalam ekologi terdapat organisasi kehidupan yang saling berkaitan antara
satu dengan yang lainnya. Setiap mahkluk hidup akan saling berinteraksi dengan
mahkluk hidup yang lainnya dalam satu lingkup, dinamakan dengan komunitas.
Setiap komunitas akan memciptakan sebuah ekosistem yang memiliki ciri khas
tersendiri. Ada banyak komponen yang saling berhubungan dalam berjalannya
organisasi kehidupan dalam suatu komunitas maupun ekosistem.
Kajian komunitas berusaha mengetahui keseimbangan yang tergambarkan
dalam struktur dan komposisi populasi penyusunnya, mengetahui pola sebaran
dan perubahan sebagai hasil interaksi semua komponen yang bekerja dalam
komunitas tersebut (Dharmawan, 2005).
Makalah ini akan membahas tentang komunitas sebagai salah satu
tingkatan dalam spektrum organisme.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ada dikaitkan dengan pemahaman materi yang
akan dicapai maka rumusan masalah adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana konsep ekologi komunitas?
2. Bagaimana hubungan struktur trofik dengan spesies kunci?

C. Tujuan
1

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.


1. Mengetahui konsep ekologi komunitas, dan
2. Mengetahui hubungan struktur trofik dengan spesies kunci.
D. Batasan Masalah
Adapun faktor beragamnya sumber rujukan hingga menghasilkan sub
topik yang bervariasi dan tidak menutup kemungkinan satu sama lain terdapat
perbedaan cakupan pembahasan maka penulis mengerucutkan kajian yang dibahas
dalam makalah ini hanyalah mengenai konsep komunitas dan struktur trofik yang
dikaitkan dengan spesies kunci.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Komunitas
1. Pengertian Komunitas
Tidak ada suatu populasi organisme atau spesies yang dapat hidup sendiri
di alam, melainkan mereka akan berkumpul dari berbagai populasi dan hidup
secara bersamaan. Kumpulan dari beberapa populasi organisme, hidup di suatu
habitat disebut dengan komunitas (Krebs, 1978). Berdasarkan Resosoedarmo
(1990) komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama
dalam suatu tempat yang bersamaan, misalnya populasi semut, populasi kutu
daun, dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu
komunitas. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapatlah
diperoleh gambaran

tentang kedewasaan organisasi komunitas

tersebut.

Komunitas dengan populasi ibarat makhluk dengan sistem organnya, tetapi


dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi sehingga memiliki sifat yang khusus
atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi
hidup lainnya.
Menurut Odum (1996), mendeskripsikan tentang komunitas biotik sebagai
kumpulan populasi apa saja yang hidup dalam daerah atau habitat fisik yang telah
ditentukan, hal tersebut merupakan satuan yang di organisir sedemikian bahwa dia
mempunyai sifat tambahan terhadap komponen individu dan fungsi sebagai unit
melalui transformasi metabolik yang bergandengan. Komunitas utama adalah
mereka yang cukup besar hingga mereka relatif tidak tergantung dari masukkan
dan hasil dari komunitas didekatnya sedangkan komunitas minor adalah mereka
yang kurang bergantung pada kumpulan tetangganya.
Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi makhluk hidup lain, juga
mengalami serta menjalani siklus hidup. Komunitas, ditinjau dari segi fungsi,
tumbuhan dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat
membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan
lingkungan yang dapat memunuhi kebutuhan hidupnya dalam kumpulanya ini
terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan

hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini


terbentuk suatau derajat keterpaduan. Kelompok seperti itu yang tumbuhan dan
hewannya secara bersama telah menyesuaikan diri dan mempunyai suatu tempat
alami disebut komunitas. Konsep komunitas cukup jelas, tetapi sering kali
pengenalan dan penentuan batas komunitas tidaklah mudah. (Heddy, 1986). Suatu
gambaran mengenai komunitas (lingkaran kuning) dapat dilihat pada gambar 2.1
berikut.

Gambar 2.1 Komunitas Tumbuhan


Sumber: http://www.merbabu.com/artikel/ekologi.php
2. Karakteristik dan Pemberian Nama Komunitas
Komunitas dapat beraneka macam bentuk dan besarnya, seperti halnya
komunitas hewan avertebrata yang hidup di batang kayu atau komunitas
tumbuhan di hutan yang luasnya hampir dalam satu benua, pulau, atau propinsi
(Soedjipta, 1993).
Berdasarkan Krebs (1978), karakteristik komunitas tidak dimiliki oleh
masing-masing spesies sebagai komponennya. Setiap komunitas hanya memiliki
arti dalam kaitan sebagai anggota komunitas secara keterpaduan. Lima
karakteristik yang telah diukur dan dikaji yaitu sebagai berikut:
a) Keragaman spesies, daftar spesies tumbuhan dan hewan merupakan ukuran
sederhana dari kekayaan spesies, atau disebut keragaman spesies.
b) Bentuk dan struktur pertumbuhan, tipe komunitas dapat dideskripsikan oleh
kategori utama dari bentuk pertumbuhan, misalnya pohon yang selanjutnya
bentuk pertumbuhan dapat diperinci dalam beberapa kategori seperti pohon

berdaun lebar atau pohon berdaun jarum. Perbedaan bentuk pertumbuhan


tersebut dapat menentukan stratifikasi suatu komunitas.
c) Dominansi, tidak semua spesies dalam komunitas kedudukannya sama
penting dalam menentukan sifat komunitas. Secara ekologik spesies yang
berpengaruh dalam hal besar, jumlah maupun aktifitas mampu menentukan
kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhannya.
d) Kelimpahan relatif, ukuran proporsi dari tiap spesies dalam komunitas.
e) Struktur trofik, hubungan memberi makan spesies dalam komunitas akan
mempengaruhi aliran energi dan tumbuhan ke herbivor ke karnivor.
Merujuk pada karakteristik komunitas, menurut Irwan (1992),
pemberian nama komunitas dapat berdasarkan:
a) Bentuk atau struktur utama seperti sifat dominan, jenis dominan, bentuk
hidup, atau indikator lainnya misal hutan pinus, hutan agathis, hutan jati,
hutan dipterocarpaceae, maupun hutan hutan sklerofil yang ada di Flores.
b) Berdasarkan habitat fisik komunitas seperti komunitas hamparan lumpur,
komunitas pantai pasir, komunitas lautan dan sebagainya.
c) Berdasarkan sifat atau tanda fungsional misal tipe metabolisme komunitas,
berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim di daerah tropik terdapat
curah hujan tertinggi dan seringkali disebut sebagai hutan hujan tropik.
Di antara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya
beberapa spesies atau grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata
dalam memfungsikan keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif organisme
dalam suatu komunitas tidak ditentukan oleh posisi taksonominya, namun oleh
jumlah, ukuran, produksi dan hubungan lainnya. Tingkat kepentingan suatu
spesies biasanya dinyatakan oleh indeks keunggulannya (Michael, 1994).
3. Struktur Komunitas
Komunitas yang berbeda akan dapat diamati dalam setiap habitat yang
berbeda dan satuan lingkungan yang berbeda pula. Komposisi dan sifat komunitas
merupakan indikator paling baik untuk mengetahui komunitas tersebut.
Komunitas dapat dibedakan menjadi komunitas mayor komunitas

bersama

habitatnya yang merupakan satuan dapat melengkapi dan melestarikan komunitas


itu sendiri, kecuali energi matahari sebagai masukan harus ada dan komunitas

minor komunitas menjadi kelompok sekunder dalam komunitas mayor, jadi


bukan satuan bebas sepenuhnya mengenai sirkulasi energi.
Struktur yang diakibatkan oleh penyebaran organisme di dalam, dan
interaksinya dengan lingkungannya dapat disebut pola. Struktur suatu komunitas
tidak hanya dipengaruhi oleh hubungan antar spesies, tetapi juga oleh jumlah
individu dari setiap spesies organisme. Hal yang demikian itu menyebabkan
kelimpahan relatif suatu spesies dapat mempengaruhi fungsi suatu komunitas,
bahkan dapat memberikan pengaruh pada keseimbangan sistem dan akhirnya
berpengaruh pada stabilitas komunitas itu sendiri (Heddy, 1986). Berdasarkan
pembentukannya struktur komunitas dibagi menjadi struktur fisik dan struktur
biologi.
a) Struktur fisik, suatu komunitas tampak jika komunitas diamati, misalnya
jika mengunjungi hutan deciduosa akan tampak suatu struktur primer secara
musiman dan suatu struktur sekunder berupa pepohonan kecil.
b) Struktur biologi, komposisi perubahan temporal dalam komunitas yang
merupakan hubungan antara spesies dalam suatu komunitas sehingga
sebagiannya bergantung pada struktur fisik.
Kedua struktur komunitas berpengaruh kuat pada fungsi suatu komunitas.
Fungsi komunitas yaitu kerja suatu komunitas sebagai pemroses energi dan zat
hara. Struktur aupun fungsi komunitas telah dimodifikasi oleh seleksi alam yang
bertindak pada para individu yang menyusun komunitas.
4. Keanekaragaman jenis
Keragaman jenis menjadi suatu sifat komunitas yang memperlihatkan
tingkat jenis keragaman organisme yang dinyatakan dengan indeks keragaman.
Indeks keragaman dihitung secara matematik dan dapat digunakan untuk
mengetahui baik buruknya kualitas suatu wilayah tertentu. Komunitas yang
memiliki keragaman jenis yang tinggi akan terjadi interaksi jenis yang melibatkan
transfer energi, predasi, kompetisi, dan bagian relung lebih kompleks (Odum,
1996).
Keanekaragaman kecil biasanya terdapat pada komunitas di daerah
ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sedangkan
keanekaragaman besar biasanya terdapat di daerah lingkungan optimum, misalnya
hutan tropika (Rososoedarmo, 1990).

Dalam suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, beberapa di


antaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari
komunitas itu. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang berasal dari
hubungan positif (berguna) sampai interaksi negative (berbahaya). Bilamana
sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi.
Persaingan demikian dapat terjadi antar anggota spesies berbeda (persaingan
interspesifik) maupun antar anggota yang sama (intraspesifik). Tinggi rendahnya
derajat kenakaragaman jenis dipengaruhi oleh beberapa hal, menurut (Krebs,
1978) yaitu:
a) Waktu, keragaman komunitas bertambah sejalan dengan waktu, berarti
semakin tua suatu komunitas maka semakin berkembang dan melimpahlah
organisme yang ada. Keragaman jenis suatu komunitas bukan hanya
bergantung pada kecepatan penambahan jenis melalui evolusi tetapi
bergantung pula pada kecepatan hilang dan emigrasi.
b) Heterogenitas ruang, semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin
kompleks komunitas tumbuhan dan hewan yang ada dan semakin tinggi
keragaman jenisnya pada skala makro maupun mikro.
c) Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme (dari spesies yang sama
ataupun berbeda) menggunakan sumber makanan yang sama namun
ketersediaannya kurang
d) Pemangsaan, mempertahankan komunitas populasi dari jenis bersaing yang
berbeda di bawah daya dukung masing-masing selalu memperbesar
kemungkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman.
e) Kestabilan lingkungan, semakin stabil keadaan suhu, kelembaban, salinitas,
pH dan faktor abiotik lainnya dalam suatu lingkungan maka akan lebih
banyak spesies yang hadir.
f) Produktifitas, syarat mutlak untuk keanekaragaman yang tinggi.
Berbeda halnya jika menurut Soedjipta (1993), keanekaragaman jenis
cenderung menjadi rendah dalam suatu ekosistem yang dikendalikan oleh faktor
fisik dan cenderung tinggi dalam ekosistem yang terkendali secara biologis.
Keanekaragaman jenis dapat berbeda kerena beberapa hal:
a) Besarnya sumberdaya hidup yang dapat dimanfaatkan
b) Luasnya relung ekologi yang dapat dimanfaatkan oleh spesies penyusunnya

c) Dua komunitas yang relungnya berbeda, keanekaragaman jenisnya berbeda.


d) Komunitas yang belum jenuh dengan jenis, keanekaragamannya dapat
bervariasi dengan banyaknya sumberdaya yang dapat dimanfaatkan.
Dalam Soedjipta (1993) analisis ekologi komunitas pertama kali dilakukan
Margalef pada fitoplankton dalam tahun 1957 dan oleh Arthur untuk burung
dalam tahun 1961. Indeks keragaman Shannon-Weaver sebagai berikut:
H= H
s
pi

(pi log2pi)

= indeks keragaman spesies


= jumlah cacah spesies dalam suatu cuplikan
= bilangan pecahan cacah individu dalam suatu spesies (i) dibagi jumlah
individu dalam populasi (jadi pi = ni/N, artinya ni= nilai kepentingan
tiap-tiap spesies (cacah individu, biomassa, produksi dan sebagainya),
dan N= jumlah nilai kepentingan).
Makin tinggi nilai H makin besar diversitas spesies dalam komunitas,

mungkin ada cacah spesies yang besar atau again individu yang merata dalam
komunitas atau keduanya. Misalnya jika digunakan loge atau ln dan diandaikan
ada 100 individu dalam suatu populasi, sehingga:
1.
2.
3.
4.

Jika hanya ada 1 spesies, maka H = 0.


Jika ada 5 spesies dengan 20 individu dalam tiap jenis, maka H = 1,61.
Jika ada 10 spesies dengan 10 individu dalam tiap jenis, maka Hi = 2,30.
Jika ada 100 spesies dengan 1 individu dalam tiap jenis, maka H= 4, 61.
Sesungguhnya, jika terjadi akan sangat langka bahwa tiap jenis sama cacah
individunya, biasanya jenis dapat disusun menurut beberapa jenis dengan

cacah individu yang besar, diikuti cacah individunya makin kecil. Misalnya:
5. Jika ada 5 spesies dengan masing-masing bercacah individu 50, 20, 15, 8,
dan 2, maka H= 1,26, yang ternyata memberi index keragaman lebih rendah
dari pada no 2.
6. Jika ada 10 spesies yang masing-masing dengan individu 45, 25, 15, 8, dan
2, maka H = 1,50.
Dalam poin b ternyata index keragaman tidak sebesar dalam nomor 3 karena
again individu kurang beragam, tetapi masih lebih besar dari pada poin a
karena cacah spesies lebih besar dan susunan individu berbeda walaupun hanya
menyangkut 5 individu. Index diversitas telah dipergunakan sedemikian jauh,
terutama untuk membandingkan komposisi, dalam komunitas berbeda,
kelompok taksonomik yang sama bentuk kehidupannya.

Di samping keanekaragaman jenis juga ada keanekaragaman yang lain


yakni keanekaragaman genetis dan keanekaragaman ekosistem dimana ketiganya
saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, maka dipandang sebagai satu
keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati
menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan
sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem
(Wolf, 1992).
5. Organisasi Komunitas
Komunitas dapat diatur melalui tiga proses yaitu kompetisi, predasi, dan
simbiosis. Kompetisi di antara tumbuhan, herbivor, karnivor dapat mengontrol
keanekaragaman dan kelimpahan spesies di suatu komunitas. Predasi dapat
mengatur komunitas yaitu berperan sebagai pemangsa, sehingga kerangka
organisasi komunitas ditentukan oleh hewan. Simbiosis juga termasuk proses
yang penting seperti hubungan mutualisme, yaitu menghubungkan antara spesies
dan meningkatkan organisai komunitas melalui jalan yang baik. Gambaran
mengenai predasi dapat dilihat pada gambar 2.2, komunitas pada gambar 2.3, dan
simbiosis pada gambar 2.4. Pembelajaran organisasi komunitas memerlukan
pengetahuan mengenai komponen spesies dan ketiga proses yang terikat menjadi
satu. Komunitas mengandung berbagai jenis spesies, sehingga kita tidak dapat
mempelajari setiap spesies secara terpisah (Krebs, 1978).

Gambar 2.2 Kompetisi


Sumber: Setiawan, 2014

Gambar 2.3 Predasi


Sumber: Setiawan, 2014

10

Gambar 2.4 Simbiosis Mutualisme


Sumber: Setiawan, 2014
6. Sebaran Komunitas
Aktivitas pada tingkat populasi mempunyai konsekuensi pada interaksi
antar populasi yang disebutkan pada tingkat komunitas. Komunitas secara umum
diartikan sebagai masyarakat yang mempunyai pengertian kumpulan dari
beberapa kelompok individu dimana masing-masing kelompok memiliki karakter
spesifik. Di dalamnya terjadi interdependensi yang dinamis pada skala ruang dan
waktu tertentu (Begon dalam Dharmawan, 2005). Sehingga dalam kajian ekologi,
komunitas merupakan kumpulan populasi yang saling berinteraksi pada ruang dan
waktu secara bersamaan (Dharmawan, 2005).
Untuk membedakan komunitas satu dengan komunitas lainnya perlu
mengamati kondisi lingkungan dimana perbedaan atara satu dan lainnya relatif
tajam (Dharmawan, 2005). Apabila kondisi lingkungan berubah secara gradual,
maka struktur dan komposisi berubah secara berangsur-angsur dan dapat
menimbulkan tumpang tindih antar komunitas tanpa ada batas yang tajam
(continuum).
Pola sebaran komunitas kontinum dapat diilustrasikan secara makro
dengan melihat struktur dan komposisi hewan dari daerah kutub ke arah equator.
Dalam lingkup yang lebih kecil dapat dilihat pada perubahan struktur dan
komposisi hewan dari puncak gunung ke arah pantai (Dharmawan, 2005).
7. Perubahan Komunitas
Organiseme tidaklah diam atau statis seperti ornamen plastik. Perubahan
selalu terjadi seiring kepekaan organisme tersebut terhadap lingkungan sekitarnya,
mengubah materi atau energi yang tersedia menjadi salah satu contoh kongkrit

11

perubahan pada organisme. Jika kedudukan organisme dipengaruhi oleh keadaan


sekitarnya maka sebaliknya suatu organisme dapat pula mengubah lingkungan
sekitar itu.
Konsep mempengaruhi dan dipengaruhi baik dari tumbuh-tumbuhan
maupun dari hewan prosesnya dapat kita amati sebagai penerima energi dan
pengambil energi untuk kelangsungan hubungan timbal balik. Ahli ekologi
mempelajari hubungan individu dan lingkungannya dengan mengontrol kondisi
lapangan percobaan sesuai kriteria (Ramli, 1989) untuk menunjang pemahaman
mengenai perubahan komunitas.
Dari titik pandang ekologi, tidaklah mudah untuk menunjukkan arti
individu. Biasanya suatu individu diartikan sebagai suatu sel tunggal yang hidup
atau suatu kelompok dari sel yang secara fisik berhubungan satu dengan lainnya.
Namun pengertian tersebut tidak cocok untuk beberapa organisme seperti jenis
Sponge yang sering terlihat dalam bentuk koloni. Karena banyaknya variasi di
antara spesies maka arti individu tergantung situasinya (Ramli, 1989).
Lingkungan yang mewadahi individu memiliki definisi lain yakni elemen
dalam organisme yang mengelilingi organisme dan dapat mempengaruhi tingkah
laku, daya perkembangbiakan, dan kelangsungan hidupnya. Jika ditinjau dari
lingkungannya maka ada lingkungan abiotik sifat fisik dari suatu tempat dimana
organisme hidup dan lingkungan biotik organisme lain.
B. Struktur Trofik
Hubungan makanan dalam suatu ekosistem dapat dinyatakan sebagai
tingkat/struktur trofik atau tingkat makanan. Tingkatan trofik pertama diduduki
oleh produsen, yang kemudian di tingkat kedua ditempati herbivor dan
selanjutnya diikuti karnivor.
Perpindahan energi makanan dari sumbernya yaitu tumbuhan menuju
herbivor menuju karnivor, dinamakan dengan rantai makanan. Setiap kelompok
organism memiliki peranan masing masing di suatu tingkatan trofik. Tingkatan
trofik dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Tingkatan Trofik
Peran
Produsen
Konsumen primer
Konsumen sekunder

Kelompok Organisme
Tumbuhan hijau
Herbivora
Karnivora, serangga

Tingkatan trofik
Trofik tingkat pertama
Trofik tingkat kedua
Trofik tingkat ketiga

12

Konsumen tersier

parasit
Karnivor tingkat tinggi,

Trofik tingkat keempat

serangga sangat parasit


Dari tabel 2.1 di atas selain mempelajari struktur trofik dalam komunitas,
juga menunjukkan mengenai spesies kunci atau keystone species yang memegang
peranan sangat penting dalam suatu komunitas. Hal itu ditunjukkan pada posisi
konsumen tersier dimana setelahnya tidak ada lagi pemangsa.
Spesies kunci (keystone species) merupakan suatu spesies yang
menentukan kelulusan hidup sejumlah spesies lain. Dengan kata lain,
keberadaannya menyumbangkan suatu keragaman hidup dan di samping itu
kepunahannya secara konsekuen menimbulkan kepunahan bentuk kehidupan lain
(Power & Mills, 1995 dalam Prianto, 2007).
Misal pada ekosistem pesisir, seluruh fauna yang hidup di dalam ekositem
tersebut mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekologi.
Salah satu spesies tersebut adalah kepiting. Kepiting diusulkan sebagai keystone
species di kawasan pesisir karena setiap aktivitasnya mempunyai pengaruh utama
pada berbagai proses paras ekosistem. Peran kepiting di dalam ekosistem
diantaranya mengkonversi nutrien dan mempertinggi mineralisasi, meningkatkan
distribusi oksigen di dalam tanah, membantu daur hidup karbon, serta tempat
penyedia makanan alami bagi berbagai jenis biota perairan (Prianto, 2007).
Struktur trofik dapat dilihat pada gambar 2.5 di bawah ini.

Gambar 2.5 Struktur Trofik

13

Sumber: Campbell, 2004


Secara tindak langsung melalui pola tingkah laku dan kebiasaannya,
kepiting telah memberikan manfaat yang besar terhadap keberlangsungan proses
biologi di dalam ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove. Menurut Prianto
(2007), beberapa peran kepiting di dalam ekosistem pesisir, sebagai berikut :
a) Konversi nutrien dan mempertinggi

mineralisasi;

Kepiting berfungsi

menghancurkan dan mencabik-cabik daun/serasah menjadi lebih kecil (ukuran


detritus) sehingga mikrofauna dapat dengan mudah menguraikannya. Hal ini
menjadikan adanya interaksi lintas permukaan, yaitu antara daun yang gugur
akan berfungsi sebagai serasah (produsen), kepiting sebagai konsumen dan
detrivor, mikroba sebagai pengurai;
b) Meningkatkan distribusi oksigen dalam tanah; Lubang yang dibangun berbagai
jenis kepiting mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai tempat
perlindungan dari predator, tempat berkembang biak dan bantuan dalam
mencari makan. Disamping itu, lubang-lubang tersebut berfungsi untuk
komunikasi antar vegetasi misalnya mangrove, yaitu dengan melewatkan
oksigen yang masuk ke substrat yang lebih dalam sehingga dapat memperbaiki
kondisi anoksik;
c) Membantu daur hidup karbon; Dalam daur hidup karbon, unsur karbon
bergerak masuk dan keluar melewati organisme. Kepiting dalam hal ini sangat
penting dalam konversi nutrien dan mineralisasi yang merupakan jalur
biogeokimia karbon, selain dalam proses respirasinya;
d) Penyedia makanan alami; Dalam siklus hidupnya kepiting menghasilkan
ratusan bahkan pada beberapa spesies dapat menghasilkan ribuan larva dalam
satu kali pemijahan. Larva-larva ini merupakan sumber makanan bagi biotabiota perairan, seperti ikan. Larva kepiting bersifat neuston yang berarti
melayang-layang dalam tubuh perairan, sehingga merupakan makanan bagi
ikan-ikan karnivor.

14

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan tujuan dari pembuatan makalah dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut.
1. Kumpulan dari beberapa populasi organisme, hidup di suatu habitat disebut
dengan komunitas. Lima karakteristik komunitas antara lain keragaman
spesies, bentuk dan struktur pertumbuhan, dominansi, kelimpahan relatif,
struktur trofik. Keragaman jenis menjadi suatu sifat komunitas yang
memperlihatkan tingkat jenis keragaman organisme yang dinyatakan dengan
indeks keragaman. Komunitas dapat diatur melalui tiga proses yaitu
kompetisi, predasi, dan simbiosis.
2. Hubungan makanan dalam suatu ekosistem dapat dinyatakan sebagai
tingkat/struktur trofik atau tingkat makanan. Perpindahan energi makanan dari
sumbernya yaitu tumbuhan menuju herbivor menuju karnivor, dinamakan
dengan rantai makanan.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa lebih memahami dan mempelajari mengenai
bagaimana pengertian komunitas, karakteristik dan pemberian nama komunitas,
struktur komunitas, keanekaragaman jenis, organisasi komunitas, sebaran
komunitas, perubahan komunitas, sehingga bagi mahasiswa agar lebih dapat
menambahkan materi mengenai konsep komunitas dan struktur trofik.

15

15

DAFTAR RUJUKAN
Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.
Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. Jakarta: CV Rajawali.
Irwan, Z. O.1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem, Komunitas,
Di Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Krebs, Charles J. 1978. The Experimental Analysis of Distribution and
Abundance Second Edition. New York: Harper International Edition.
Michael,

P.1994.

Metode

Ekologi

untuk

Penyelidikan

Lapangan

dan

Laboratorium. Jakarta: UI Press.


Odum, E. P. 1996. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.
Resosoedarmo, S. 1989. Pengantar Ekologi. Bandung: CV Remadja Karya
Ramli, Dzaki. 1989. Ekologi. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (P2LPTK).
Soedjipta. 1993. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta:UGM Press
Wolf, L. 1992. Ekologi Umum. Yogyakarta: UGM Press.

16