Anda di halaman 1dari 5

No

Evaluasi
Uji Preformulasi tablet
1.
Waktu alir
2.
Sudut diam
3.
Indeks tap

Indikator

Hasil

Menggunakan corong alir


Menggunakan corong alir
Menggunakan alat
mechanical tapping device.

Uji fisik tablet


1.
Uji keseragaman ukuran

Menggunakan alat jangka

tablet
Uji Keseragaman bobot

sorong
Menggunakan timbangan

3.

Uji Waktu Hancur

digital
Menggunakan disintegration

4.

Uji Kerapuhan

tester
Menggunakan friabilator

5.
6.

(friabilitas)
Uji Kekerasan
Uji Disolusi

Menggunakan hardness tester


Menggunakan Kalibrator

2.

Disolusi FI jenis disintegrasi


dan Kalibrator Disolusi FI
jenis bukan disintegrasi
Uji Sediaan Tablet

Uji Preformulasi tablet


1). Waktu alir
Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet adalah pemeriksaan laju alirnya.
Massa tablet dimasukkan sampai penuh ke dalam corong alat uji waktu alir dan diratakan.
Waktu yang diperlukan seluruh massa untuk melalui corong dan berat massa tersebut dicatat.
Laju alir dinyatakan sebagai jumlah gram massa tablet yang melalui corong perdetik
(Lachman et al, 1994).
2). Sudut diam
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut
dengan bidang horizontal. Jika sejumlah granul atau serbuk dituang ke dalam alat pengukur,
besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk ukuran dan kelembaban serbuk. Bila
sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30 menunjukkan bahwa serbuk dapat mengalir

bebas, bila sudut lebih besar atau sama dengan 40 biasanya daya mengalirnya kurang baik
(Lachman et al, 1994).
3). Pengetapan serbuk
Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan/tapping terhadap sejumlah serbuk dengan
menggunakan alat volumeter/mechanical tapping device. Pengetapan dilakukan dengan
mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah konstan (Vt)
(Sulaiman,2007).

Uji Fisik Tablet


1. Uji Keseragaman ukuran tablet
Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3
tebal tablet. Alat yang digunakan adalah jangka sorong (Depkes, 1979).
2. Uji Keseragaman bobot
Ditimbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-ratanya dan penyimpangan bobot
rataratanya. Persyaratan keseragaman bobot terpenuhi jika tidak lebih dari dua tablet yang
masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang
ditetapkan pada kolom A, dan tidak satu pun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot
rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom B. Apabila tidak mencukupi
dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang
lebih dari bobot rata-rata yang ditetapkan pada kolom B (Depkes, 1979).

3. Uji Waktu Hancur


Suatu sediaan tablet yang diberikan peroral, agar dapat diabsorbsi maka tablet tersebut harus
terlarut (terdisolusi) atau terdispersi dalam bentuk molekular. Tahap pertama untuk tablet agar
dapat terdisolusi segera adalah tablet harus hancur (Sulaiman, 2007).

Waktu hancur tablet tidak bersalut enterik; Alat tabung gelas panjang 80 mm samapi 100
mm, diameter dalam 28 mm, diameter luar 30 mm hingga 31 mm, ujung bawah dilengkapi
kasa kawat tahan karat, lubang sesuai dengan pengayak nomor 4, berbentuk keranjang.
Keranjang disisipkan searah di tengah-tangah tabung kaca diameter 45 mm, dicelupkan ke
dalam air bersuhu antara 36 C dan 38 C sebanyak 1000 ml, sedalam tidak kurang dari 15
cm sehingga dapat dinaik turunkan dengan teratur. Kedudukan kawaw kasa pada posisi
tertinggi tepat di atas permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat dibawah
permukaan air.Cara: masukan 5 tablet kedalam keranjang, turun-naikkan keranjang secara
teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal
di atas kasa, kecuali fragmen yang berasal dari zat penyalut. Kecuali dinyatakan lain, waktu
yang diperlukan untuk menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet
tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan bersalut selaput. Jika
tablet tidak memenuhi syarat ini, ulangi pengujian menggunakan tablet satu persatu, kemudian
ulangi lagi menggunakan 5 tablet dengan cakram penuntun. Dengan cara pengujian ini tablet
harus memenuhi syarat di atas (Depkes, 1979).
4. Uji Kerapuhan (friabilitas)
Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam
melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Kerapuhan
dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator. Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet,
terlebih dahulu dibebas debukan dan ditimbang. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke
dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran (4 menit). Tablet tersebut selanjutnya
ditimbang kembali, dan dihitung prosentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan.
Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1 % (Sulaiman, 2007).
5. Kekerasan
Uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur
dengan memberikan tekanan pada tablet dengan alat hardness tester (Sulaiman,2007).
6. Uji disolusi
Disolusi adalah suatu proses larutnya zat aktif dari suatu sediaan dalam medium. Hal ini
berlaku untuk obat-obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padat seperti tablet. Uji ini
dimaksudkan untuk mengetahui banyaknya zat aktif yang terabsorbsi dan memberikan efek
terapi di dalam tubuh (Ansel, 1989).
Dua sasaran dalam mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk menunjukkan
pelepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100% dan laju pelepasan obat seragam pada
setiap batch dan harus sama dengan laju pelepasan dari batch yang telah dibuktikan

mempunyai bioavailabilitas dan efektif secara klinis (Lachman, dkk.,1994).


Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI Press. Jakarta.
Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta
Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka Laboratorium Teknologi
Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.

Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Depkes. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Kloe. 2010. Metode
granulasi
kering. Available
online
at
:
http://duniafarmasi.com/farmasetika/metode-granulasi-kering [diakses 27 April 2013]
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta
Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka Laboratorium Teknologi
Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.
Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi, Edisi V. diterjemahkan oleh Soewandhi, S. N., Edisi 5.
UGM Press. Yogyakarta.