Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA PELVIK

OLEH
KELOMPOK 4:
RHADIATUL AULIA SARI JUNAIDI

1311311049

ATIKA DIYANTI

1311311055

PUTI KULINDAM SUTO

1311311053

SONIA MESTIKA HERNANDEZ

1311311053

PRATIWI WULANDARI

1311311051

MELYA PERMATA

1311311045

VANECHIA SEPTI

1311311047

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, Karena berkat rahmat dan
Hidayah Nya, penulis dapat menyusun Makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan, namun demikian
penulis berharap makalah ini dapat menjadi bahan rujukan dan semoga dapat menambah
pengetahuan mahasiswamahasiswi dengan judul Asuhan Keperawatan Trauma Pelvik
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah ini terutama kepada Ibu Reni Prima Gusti., S.Kp
M.kes selaku dosen mata kuliah Perawatan Trauma.
Dengan segala hormat penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini.

Padang, 30 Februari 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................4
B. Rumusan Masalah ...............................................................................5
C. Tujuan .................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi trauma pelvik .........................................................................6
B. Etiologi ................................................................................................6
C. Manifestasi Klinis ...............................................................................7
D. Patofisiologi ........................................................................................7
E. Komplikasi ..........................................................................................8
F. Penatalaksanaan ..................................................................................9
G. Pemeriksaan Diagnostik .....................................................................10
H. Asuhan Keperawatan ..........................................................................10
a) Pengkajian ...................................................................................10
b) Pemeriksaan Fisik .......................................................................12
c) Diagnosa keperawatan .13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fraktur pada pelvis terjadi akibat trauma tumpul dan berhubungan dengan angka
mortalitas antara 6% sampai 50%. Walaupun hanya terjadi pada 5% trauma,
penderita biasanya mempunyai angka ISS (injury severity score) yang tinggi dan
sering juga terdapat trauma mayor di organ lain, karena kekuatan yang dibutuhkan
untuk terjadinya fraktur pelvis cukup signifikan. Sebagai contoh, insidensi robekan
aorta thoracalis meningkat secara signifikan pada pasien dengan fraktur pelvis
terutama tipe AP kompresi.
Pada pasien dengan trauma pelvis dapat terjadi hemodinamik yang tidak stabil,
dan dibutuhkan tim dari berbagai disiplin ilmu. Status hemodinamik awal pada
pasien dengan fraktur pelvis adalah faktor prediksi utama yang dihubungkan dengan
kematian. Fangio P,et al (2005) mempublikasikan pada penelitiannya bahwa angka
kematian pada pasien dengan hemodinamik stabil adalah 3,4% yang dibandingkan
dengan yang hemodinamik tidak stabil adalah sebesar 42%.
Karena trauma multipel biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur pelvis,
hipotensi yang terjadi belum tentu berasal dari fraktur pelvis yang terjadi. Walaupun
demikian, pada pasien fraktur pelvis yang meninggal, perdarahan pelvis terjadi pada
50% pasien yang meninggal. Pasien dengan fraktur pelvis mempunyai 4 daerah
potensial perdarahan hebat, yaitu : Permukaan tulang yang fraktur, trauma pada arteri
di pelvis, trauma pada plexus venosus pelvis, sumber dari luar pelvis.
Diagnosa fraktur pelvis memerlukan pemeriksaan klinis dan radiolologi yang
teliti, terutama pada penderita yang tidak sadar agar diperiksa secara menyeluruh.
Dalam penanganan fraktur pelvis, selain penanganan fraktur, juga penanganan
untuk komplikasinya yang menyertainya yang dapat berupa perdarahan besar, ruptur
kandung kemih, atau cedera uretra.

B. Rumusan Masalah
-

Apa pengertian trauma pelvic?

Apa etiologi dari trauma pelvic?

Bagaimanakah patofisiologi trauma pelvic?

Bagaimanakah manifestasi klinis trauma pelvic?

Apa saja pemeriksaan diagnostik pada pasien trauma pelvic?

Bagaimana penatalaksanaan medis pada pasien trauma pelvic?

Apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh trauma pelvic?

Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien trauma pelvic?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin kelompok capai adalah :
- Mengetahui dan memahami pengertian trauma pelvic
- Mengetahui dan memahami etiologi dar trauma pelvic
- Mengetahui dan memahami patofisiologi trauma pelvi beserta Woc
- Mengetahui dan memahami manifestasi klinis trauma pelvic
- Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik pada pasien trauma pelvic?
- Mengetahui dan memahami penatalaksanaan medis pada pasien trauma pelvic
- Mengetahui dan memahami komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pasien
-

trauma pelvic
Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada pasien trauma pelvic

BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi
Fraktur pelvis berhubungan dengan injury arteri mayor,saluran kemih bagian bawah,
uterus, testis, anorektal dinding abdomen dan tulang belakang. Dapat menyebabkan
hemoragi ( pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah ) dan umumnya timbul
manifestasi klinis seperti hipotensi ,nyeri dengan penekanan pada pelvic, perdarahan
peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis berkekuatan tinggi merupakan cidera yang membahayakan jiwa.
Perdarahan luas sehubungan dengan fraktrur pelvis relative umum namun terutama lazim
dengan fraktur berkekuatan tinggi. Kira kira 15-30% pasien dengan cidera pelvis
berkekuatan tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung
dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan
penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka
kematian 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan tinggi rangkaian besar. Truma pelvic
yang komplek berkaitan dengan mortalitas yang tinggi. Trauma pelvis adalah Keadaan
darurat bedah yang membutuhkan penangan segera.
Trauma pelvis adalah terputusnya hubungan tulang pelvis, baik tulang pubis maupun
tulang ilium yang disebabkan oleh suatu trauma.
Jadi, Trauma pelvis adalah trauma tulang rawan pada pelvis yang disebabkan oleh
ruda paksa, misalnya kecelakaan, benturan hebat yang ditandai oleh rasa nyeri,
pembengkakan, deformitas, dan lain lain.
B. Etiologi
Trauma langsung : Brnturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat
tersebut, misal: Kecelekaaan lalu lintas atau kecelakaan kerja
Trauma tidak langsung : Bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan.
Trauma iatrogenic, seperti operasi ginekologik dan operasi daerah pelvic atau
akibat tindakan endoskopi ,seperti operasi transurethral.
Trauma tumpul
Trauma tajam akibat luka tusuk atau tembak.
Patologis :metastase dari tulang

Degenerasi
Spontan,terjadi tarikan otot yang sangat kuat
Proses penyakit : kanker dan riketsia
Compresion force : klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat
mengakibatkan fraktur kompesi tulang belakang.
Muscle ( otot ) akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat
menyebbakakan

fraktur

misal:

elektrik

shock

dan

tetani

C. Manifestasi klinis
Manifestasi Klinis
Pada trauma pelvis akan ditemukan tanda dan gejalaseperti:
Jejas pada pelvis
Nyeri tekan pada pelvis
Ketidakstabilan pada perabaan
Perbedaan panjang kedua tungkai
Rectal examination & darah pada mue
Hipotensi dan tachycardia
D. Patofisiologi
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang
besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan
osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis.
Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:
1. Kompresi anteroposterior Hal ini biasanya akibat tabrakan antara seorang pejalan
kaki dengan kendaraan. Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata
terbelah dan mengalami rotasi eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini
disebut sebagai open book injury
2. Kompresi lateral Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami
keretakan. Hal ini terjadi apabila ada trauma samping karena kecalakaan lalu
lintas atau jatuh dari ketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada
kedua sisinya mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi
sakroiliaka atau fraktur ilium atau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang
sama.

3. Trauma vertikal Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara
vertikal disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakroiliaka pada sisi yang
sama. Hal ini terjadi apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai
4. Trauma kombinasi Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan
diatas
E. WOC Terlampir
F. Komplikasi
Trauma pelvis akan menyebabkan kerusakan lada tulang pelviid, kerusakan pada
jaringan lunak dan panggul, kerusakan pada organ bagian dalam panggul. Kerusakan
atau komplikasi dari cedera pelvis meliputi komplikasi segera dan lanjut.
Komplikasi segera meliputi :
-

Trombosis vena ilio-femoral


Komplikasi ini sering ditemukan dan sangat berbahaya. Apabila ada
keraguan, sebaiknya diberikan antikoagulan secara rutin atau profilaktik

Robekan kandung kemih.


Robekan dapat terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan dari
pagian tulang punggung yang tajam.

Robekan uretra
Robekan uretra terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah
uretra pars mambronosa.

Trauma rectum dan vagina

Trauma pembuluh darah besar, yang akan menyebabkan perdarahan massif


sampai syok.

Trauma pada saraf


Lesi saraf skiatik dapat terjadi pada saat trauma atau pada sat operasi. Lesi
pleksus lumbosakralis biasanya terjadi pada fraktur sacrum yang bersifat vertical
disertai pergeseran. Erjadi gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat
saraf.
Komplikasi lanjut meliputi :

- Pembentukan tulang heterotrofik


biasanya terjadi setelah trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah
diseksi operasi
- Nekrosis avaskular
Terjadi pada kaput femur pasca-trauma.
- Gangguan pergerakan sendi dan osteoarthritis sekunder.
G. Penatalaksanaan
a) Rekognisi menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan
kemudian di rumah sakit. Misal riwayat kecelakaan, parah tidaknya luka,
diskripsi kejadian oleh pasien, serta menentukan kemungkinan tulang yang
patah, dan krepitus.
b) Reduksi reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya.
Reduksi terbagi menjadi dua yaitu:
1.

Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan


traksi atau gips.

2.

Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui


pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya;
pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.

c) Retensi menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan


fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)
d) Rehabilitasi: Langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan
dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program
pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). Pada
fraktur pelvis penatalaksanaan yang baik yaitu dengan tirah baring untuk
menambah digiditas, sampai nyeri dan ketidaknyamanan hilang
H. Pemeriksaan Diagnostik
-

Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur


Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multipel), Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah

trauma.
Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan

mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak


I. Asuhan keperawatan Teoritis
a) Pengkajian
Adanya riwayat trauma mengenai panggul akibat kecelakaan lalu lintas,
kecelakaan industry, kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau jatuh dari sebuah
bangunan. Pengkajian yang didapat meliputinyeri, paralisis ekstremitas bawah,
perdarahan sampai syok, kerusakan alat kelamin dan rectum, ileus paralitik, retensi
urin, dan pada keadaan tertentu klien sudah asuk pada ARDS (adult respiratory
distress syndrome).
a. Pengkajian umum
1. Identitas Klien (Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan,
Agama, Alamat, Tanggal masuk, Jam Masuk)
2. Type rujukan
3. Jenis kasus
4. Identitas Penanggung Jawab
b. Pengkajian Fokus
1. Look
Sering dijumpai kondisi klien sangat parah dengan penurunan kesadaran
umum. Pada status local terlihat adanya memar yang luas pada area panggul,
inspeksi skrotum dan perineum biasanya didapatkan adanya perdarahan,
pembengkakan, dan deformitas pada panggul dan alat kelamin luar.
2. Feel
Didapatkan adanya nyeri tekan pada panggul. Terdapat derajat ketidakstabilan
cincin panggul dengan palpasi pada ramus simfis pubis
3. Move
Hambatan dalam melakukan aktivitas duduk. Disfungsi motorik paling umum
adalah kelemahan dan kelumpuhan pada ekstremitas bawah.
c. Primary survey
Penatalaksanaan awal pada primary survey dilakukan pendekatan melalui
ABCDE yaitu :
A. Airway, menjaga airwaydengan kontrol servikal (cervical spine
B.
C.
D.
E.

control)
Breathing, menjaga pernafasan dengan ventilasi
Circulation dengan kontrol perdarahan (hemorrage control)
Disability, status neurologis
Exposure/environmental control, membuka baju penderita, tetapi

cegah hipotermia
d. Secondary survey
Tindakan ini dilakukan secara cepat untuk memeriksa cedera seutuhnya,
yang terlihat maupun yang tersembunyi. Pemeriksaan ini berguna untuk
menentukan tindakan-tindakan yang perlu dikerjakan. Semua penemuan dicatat.
Pada penderita kritis, secondary survey dikerjakan selama transportasi. Jika pada
primary survey tidak ditemukan kondisi kritis,secondary survey langsung
dikerjakan di tempat kejadian. Walaupun pasien dalam keadaan stabil, secondary
survey di tempat kejadian sebisanya jangan lebih dari 3 menit.
Prioritas pemeriksaan pada secondary survey:
a.

Tanda vital

b.

Riwayat dan kejadian trauma

c.

Pemeriksaan dari kepala sampai kaki

d.

Balut Bidai

e.

Monitor terus-menerus

b) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik klien yang mengalami fraktur pelvis sebaiknya dilakukan
dengan pendekatan persistem karena pada kondisi klinis, keadaan fraktur pelvis
dapat menggannggu multi-organ.
B1 (Breathing)
Perubahan system pernapasan terutama pada klien trauma panggul berat disertai
perdarahan hebat dan syok, klien biasanya akan jatuh pada kondisi ARDS atau
gagal napas akut.
B2 (Blood)
Pada pengkajian system kardivaskular didapatlkan renjatan (syok hipovolemik
atau syok hemoragic) yang sering terjadi pada klien cedera panggul sedang dan
berat. Hasil pemeriksaan kardiovaskular klien cedera panggul pada beberapa
keadaan dapat berupa tekanan darah menurun, nadi bradikardia, berdebar-debar,
pusing saat melakukan perubahan posisi, bradikardia ekstremoitas dingin atau

pucat. Nadi bradikardia merupakan tanda perubahan perfusi jaringan otak. Kulit
pucat menandakan adanya penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Hipotensi
menandakan adanya perubahan perfusi jaringandan tanda awal dari suatu renjatan.
B3 (Brain)
Tingkat kesadaran dapat berubah sesuai komplikasi yang dapat mengganggu
organ vital. Lesi saraf skiatik dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat
operasi. Lesi pleksus Lumbosakralis biasanya terjadi pada fraktur sacrum yang
bersifat vertical disertai pergeseran. Terjadi gangguan fungsi seksual apabila
mengenai pusat saraf.
B4 (Bladder)
Pada klien trauma panggul anterolateral yang mengenai kandung kemih akan
didapatkan hematuria, nyeri berkemih, deformitas pada pubis sampai kelainan
pada alat kelamin yang sangat mengganggu proses miksi. Pada pemeriksaan,
haluan urin kadang tidak ditemukan , perawat harus waspada terhadap adanya
rupture kandung kemih dan rupture uretra sehingga urin keluar ke rongga
peritoneum. Sangat penting bagi perawat agar jangan melakukan pemasangan
kateter pada kondisi ini karena merupakan kontraindikasi pemasangan kateter
apabila klien mengalami ruptur uretra.
B5 (Bowel)
Pada keadaan trauma panggul kombinasi yang mencederai alat dalam abdomen
sering didapatkan adanyaileus paralitik, dengan gambaran klinishilangnya bising
usus, kembung dan defekasi tidak terjadi. Pemenuhan nutrisi berkurang karena
adanya mual dan asupan nutrisi yang kurang.
B6 (Bone)
Paralisis motorik ekstremitas bawah biasanya terjadi apabila trauma panggul juga
mengompresi sacrum. Gejala gangguan motorik sesuai dengan distribusi
segmental dari saraf yang terkena. Keluhan berupa gejala pembengkakan ,
deformitas, dan perdarahan subkutan disekitar panggul. Terdapat gangguan fungsi
anggota gerak bawah.
c) Diagnosa keperawatan
No
1.

Diagnosa
(NANDA)
Nyeri akut

NOC

NIC

Kontrol Nyeri

Manajemen Nyeri

Indikator:

Aktivitas:

Mampu

mengontrol

nyeri (tahu penyebab

secara komprehensif dimulai

nyeri,

dari lokasi, karakteristik,

mampu

menggunakan tehnik

durasi, frekuensi, kualitas,

nonfarmakologi

intensitas dan penyebab.

untuk

mengurangi

nyeri,

mencari

bantuan)
Melaporkan
nyeri

bahwa

berkurang

dengan menggunakan

manajemen nyeri
Mampu
mengenali
nyeri

(skala,

Kaji ketidaknyamanan secara


nonverbal, terutama untuk
pasien yang tidak bisa
mengkomunikasikannya
secara efektif
Pastikan pasien mendapatkan
perawatan dengan analgesic
Gunakan komunikasi yang

frekuensi

terapeutik agar pasien dapat

dan tanda nyeri)


Menyatakan
rasa

menyatakan pengalamannya

nyaman setelah nyeri

dalam merespon nyeri

intensitas,

Lakukan penilaian nyeri

berkurang
Tanda vital

rentang normal
Tidak
mengalami
gangguan tidur

dalam

terhadap nyeri serta dukungan


Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap respon nyeri
Tentukan dampak nyeri
terhadap kehidupan seharihari (tidur, nafsu makan,
aktivitas, kesadaran, mood,
hubungan sosial, performance
kerja dan melakukan tanggung
jawab sehari-hari)
Evaluasi pengalaman pasien
atau keluarga terhadap nyeri
kronik atau yang
mengakibatkan cacat

Evaluasi bersama pasien dan


tenaga kesehatan lainnya
dalam menilai efektifitas
pengontrolan nyeri yang
pernah dilakukan
Bantu pasien dan keluarga
mencari dan menyediakan
dukungan.
Gunakan metoda penilaian
yang berkembang untuk
memonitor perubahan nyeri
serta mengidentifikasi faktor
aktual dan potensial dalam
mempercepat penyembuhan
Tentukan tingkat kebutuhan
pasien yang dapat
memberikan kenyamanan
pada pasien dan rencana
keperawatan
Menyediakan informasi
tentang nyeri, contohnya
penyebab nyeri, bagaimana
kejadiannya, mengantisipasi
ketidaknyamanan terhadap
prosedur
Kontrol faktor lingkungan
yang dapat menimbulkan
ketidaknyamanan pada pasien
(suhu ruangan, pencahayaan,
keributan)

Pemberian Analgetik/ Analgesic


Administration
Aktivitas:

Tentukan lokasi nyeri,


karakteristik, kualitas,dan
keparahan sebelum

pengobatan
Berikan obat dengan prinsip

5 benar
Cek riwayat alergi obat
Pilih analgetik secara tepat
/kombinasi lebih dari satu
analgetik jika telah

diresepkan
Tentukan pilihan analgetik
(narkotik, non narkotik,
NSAID) berdasarkan tipe

dan keparahan nyeri


Monitor tanda-tanda vital,
sebelum dan sesuadah

pemberian analgetik
Monitor reaksi obat dan

efeksamping obat
Dokumentasikan respon
setelah pemberian analgetik
dan efek sampingnya

Manajemen Lingkungan:
Kenyamanan
Aktivitas:

Pilihlah

ruangan

lingkungan yang tepat

dengan

Kerusakan

I.

berhubungan

hasil

II.

yang paling nyaman


Sediakan lingkungan yang

tenang
Perhatikan hygiene pasien

untuk menjaga kenyamanan


Atur posisi pasien yang

Menyediakan

kasur

yang

Berat badan normal


Berjalan secara

dianjurkan
Jelaskan kepada pasien bahwa

efektif/normal
Berjalan sampai

untuk rubah posisi yang sesuai


Memantau status oksigenasi

tujuan
Berjalan disekitar

ruangan
Berjalan disekitar

tempat tinggal
Sesuaikan dengan

sebelum dan setelah perubahan


posisi
Premedicate

pasien

sebelum

berbalik, pada posisi yang sesuai


Tempatkan di posisi theraupetic

tekstur permukaan

yang dianjurkan
Posisi dalam kesejajaran tubuh

yang berbeda
Mobilisasi

yang tepat
Immobilisasi

Kriteria

hasil

yang

diharapkan :

nyaman dan bersih


Tentukan temperatur ruangan

yang Aktivitas:

diharapkan:

dengan nyeri

Sediakan tempat tidur yang

membuat nyaman
Mengatur posisi

Ambulasi

mobiltas fisik Kriteria

Keseimbangan membaik
Cara Berjalan normal
Gerakan Otot normal
Gerakan Sendi normal
Tampilan Posisi Tubuh
Kemampuan Untuk
Berpindah Posisi

atau

tempatkan

bagian tubuh yang cidera pada


posisi yang sesuai
Tinggikan bagian tubuh yang
cidera pada posisi yang sesuai
Mendorong latihan aktif atau
pasif sesuai rentang gerak
Hindari menempatkan pasien
dalam posisi yang meningkatkan

Mampu Berjalan
Leluasa Bergerak

rasa sakit
Anjurkan

pasien

bagaimana

menggunakan postur yang baik


dan mekanika tubuh yang baik
saat melakukan aktivitas apapun
Gunakan perangkat yang tepat
untuk

mendukung

anggota

badan ( misalnya , gulungan


tangan dan trokanter roll)
Tempatkan benda-benda yang
sering

digunakan

dalam

jangkauan
Posisikan tempat tidur dekat
saklar yang mudah dijangkau
Tempatkan lampu panggilan
dalam jangkauan
Promosi mekanika tubuh
Aktivitas:
Tentukan komitmen pasien
untuk belajar dan
menggunakan postur tubuh

yang benar
Berkolaborasi dengan terapi
fisik dalam mengembangkan
rencana mekanika tubuh
promosi , seperti yang

ditunjukkan
Tentukan pemahaman petient
tentang mekanika tubuh dan
olahraga ( misalnya
demonstrasi teknik yang
benar kembali ketika
melakukan kegiatan /

olahraga )
Anjurkan pasien pada
struktur dan fungsi tulang
belakang dan postur optimal
untuk bergerak dan

menggunakan tubuh
Anjurkan pasien tentang
kebutuhan untuk postur
tubuh yang benar untuk
mencegah kelelahan ,
ketegangan , starin , atau

cedera
Anjurkan pasien bagaimana
menggunakan pusture dan
mekanika tubuh untuk
mencegah cedera saat

melakukan kegiatan fisik


Tentukan kesadaran pasien
kelainan muskuloskeletal
sendiri dan dampak potensial
dari postur tubuh dan

jaringan otot
Anjurkan untuk
menggunakan hal-hal
perusahaan / kursi atau

bantal , jika sesuai


Instruksikan untuk

menghindari tidur rentan


Membantu untuk
menunjukkan posisi tidur

yang tepat
Membantu untuk
menghindari duduk di posisi

yang sama untuk waktu yang

lama
Menunjukkan bagaimana
untuk menggeser berat badan
dari satu kaki ke kaki lain

sambil berdiri
Anjurkan pasien untuk
menggerakkan kaki pertama
dan tubuh saat berbalik
untuk berjalan dari posisi

berdiri
Gunakan prinsip-prinsip
mekanika tubuh dengan
meletakan penanganan
pasien yang aman dan bantu

movment
Membantu pasien , keluarga
untuk mengidentifikasi

latihan postur yang sesuai


Membantu pasien untuk
memilih kegiatan pemanasan
sebelum latihan atau bekerja
tidak dilakukan secara rutin

mulai
Membantu pasien untuk
melakukan latihan fleksi
untuk memfasilitasi kembali
mobilitas , seperti yang

ditunjukkan
Anjurkan pasien / keluarga
tentang frekuensi dan jumlah
pengulangan untuk setiap
latihan

Peningkatan Monitor dalam


mekanika postur / body

pasien
Memberikan informasi
tentang penyebab posisi
kemungkinan muccle atau
bergabung nyeri

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trauma pelvis sering terjadi terutama disebabkan trauma tumpul yang mana
sering terjadi pada kecelakaan saat berkendara ataupun orang yang tertabrak
kendaraan. Angka kematian pada trauma pelvis cukup tinggi bila tidak disertai
penanganan yang baik. Kejadian trauma terhadap pelvis didominasi oleh fraktur
pelvis yang mana mencapai angka 44%. Perdarahan arteri adalah salah satu masalah

yang paling serius yang berhubungan dengan patah tulang panggul, dan tetap
menjadi penyebab utama kematian disebabkan fraktur panggul dengan keseluruhan
angka kematian antara 6-35 % pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi. Perdarahan
mengancam jiwa yang berkaitan dengan fraktur panggul berasal dari tulang yang
patah, pleksus vena panggul, pembuluh darah panggul besar, dan atau cabang-cabang
arteri iliaka. Perdarahan pada fraktur panggul disebabkan oleh cedera vena dan
bagian yang patah dapat diobati secara efektif dengan fiksasi eksternal dengan
mengurangi volume perdarahan dan menstabilkan fraktur.

DAFTAR PUSTAKA
Hudak, Carolyn M.1996. Keperawatan kritis:pendekatan holistic. Jakarta:EGC
https://www.academia.edu/10017104/ASKEP_TRAUMA_PELVIS
Patofisiologi trauma pelvis
Arif Muttaqin. 2011 Buku Saku Gangguan Muskuleskeletal : Aplikasi pada Praktik
Klinik

Keperawatan, Jakarta : EGC

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37618/4/Chapter%20II.pdf

WOC FRAKTUR
Trauma langsung

trauma tidak langsung

FRAKTUR PELVIS

kondisi patologis

Diskontinuitas tulang

kerusakan frakmen
tulang

pergeseran frakmen
tulang

Nyeri akut
Perub jaringan
sekitar

tek. Ssm tlg > tinggi dr


kapiler
reaksi stres klien

Perub jaringan
sekitar

laserasi kulit:

Spasme otot
Pergeseran
frag Tlg

putus vena/arteri

melepaskan
katekolamin

perdarahan

pelepasan histamin

memobilisai
asam lemak

kehilangan
volume cairan

protein plasma hilang

bergab dg
trombosit

deformitas

gg. fungsi
tubuh

Shock
hipivolemik
Gg mobilitas
fisik
Kerusakan
integritas

edema

penekn pem. drh

menyumbat pemb
drh

penurunan perfusi
jaringan

gg.perfusi jar

Defisit Volume
Cairan

kulit

Resiko Infeksi

emboli