Anda di halaman 1dari 95

A-PDF Merger DEMO : Purchase from www.A-PDF.

com to remove the watermark

PENATALAKSANAAN SHORT WAVE DIATHERMY (SWD) DAN


TERAPI LATIHAN WILLIAM FLEXION EXERCISE PADA
LOW BACK PAIN KARENA SPONDYLOLISTHESIS L4-5

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat


untuk menyelesaikan pendidikan Program
Diploma III Jurusan Fisioterapi

Disusun Oleh :
AMBAR IKA SAFITRI
J 100 060 049

JURUSAN FISIOTERAPI D-III


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
HALAMAN PENGESAHAN

Dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa

Program Studi Fisioterapi Diploma III Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Muhammadiyah Surakarta dan diterima untuk melengkapi tugas-tugas dan

memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III

Fisioterapi.

Hari : Kamis

Tanggal : 16 Juli 2009

Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah


(Nama Terang) (Tanda Tangan)

Penguji I : Agus Widodo, SST.FT,SKM. (……………………….)

Penguji II : Totok Budi S, SST.FT,S.Pd. (……………………….)

Penguji III : Andry Ariyanto, SST.FT (……………………….)

Disahkan oleh:
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Arif Widodo, A.Kep., M.Kes.

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah disetujui pembimbing untuk dipertahankan di hadapan Dewan

Penguji Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Diploma III

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembimbing

Dwi Rosella K, SSTFT

iii
MOTTO

“Siapa yang berjalan di suatu jalan untuk ilmu pengetahuan, Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga.”
(HR. Muslim)

“Dunia adalah perhiasan dan seindah‐indahnya perhiasan dunia adalah wanita


sholekhah.”
(HR. Ibnu Majah dan Nasa’i)

“Sesunguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada dirinya.”
(Q.S. Ar Ra’d : 11)

“Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir,
melainkan dari proses perjuangannya.”
(Penulis)
“Jadikanlah Sabar dan Sholat sebagai penolongmu,Sesungguhnya Allah beserta
orang‐orang yang sabar.”
(Q.S. AlBaqoroh:153)

iv
PERSEMBAHAN

Karya Tulis ilmiah ini aku persembahkan untuk:

1. Bapak dan Ibu’aK tercinta,yang telah membesarkan dan mendidik

penulis.Terima kasih buat do’a,cinta dan pengorbanannya.

2. Diri’ak sendiri.

3. Adik’Q teRsayaNg.

4. Buat caLOn iMam’aK keLak.

5. Keluarga Besar’ak.

6. Teman-teman seperjuangan AKFIS’06.

7. Almamater’ak.

v
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur selalu penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis sampai saat ini masih

diberi kesempatan dan kesehatan.Sehingga dapat menyelesaikan KaryaTulis

Ilmiah dengan judul”PENATALAKSANAAN SHORT WAVE

DIATHERMY(SWD) DAN TERAPI LATIHAN WILLIAM FLEXION

EXERCISE PADA LOW BACK PAIN KARENA SPONDYLOLISTHESIS L4-

5.Tak lupa sholawat serta salam selalu tercurah pada junjungan kita Nabi

Muhammad SAW.

Dalam Karya Tulis Ilmiah ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya peran

serta dari pihakyang telah membantu baik berupa tenaga,pikiran,maupun waktu

yang telah diberikan.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Arif Widodo,A.Kep,M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Surakarta.

2. Ibu Umi Budi Rahayu,SST.FT, selaku Ketua Program Studi Fisioterapi

Universitas Muhammadiyah Surakarta.

3. Ibu Dwi Rosella K,SST.FT, selaku pembimbing yang telah memberikan

bimbingan,arahan dan petunjuk kepada penulis.

vi
4. Bapak dan Ibu dosen serta segenap karyawan jurusan Fisioterapi Universitas

Muhammadiyah Surakarta yang telah mendidik penulis.

5. Dr.Eka Poerwanto,SpRM, selaku pembimbing lahan di RSAL.dr.Ramelan

Surabaya yang telah membimbing penulis.

6. Bapak dan Ibu pembimbing lahan di RSAL.dr.Ramelan Surabaya,RSO

Dr.Soeharso Surakarta,RS.Karyadi Semarang,RSUD Dr.Moewardi

Surakarta,RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta,RS PKU Muhammadiyah

Yogyakarta yang telah membimbing dan memberikan ilmunya pada penulis.

7. Bapak,Ibu dan aDek’ak tercinta yang selalu memberikan cinta

kasihnya,dukungan serta do’anya kepada penulis hingga terselesainya Karya

Tulis Ilmiah ini.

8. Buat keluarga Besar’aK & ponakan-ponakan’Q yang selalu memberikan

semangat serta do’anya kepada penulis.

9. CaLon Imam’Ak keLak,yang selalu memberikan warna dalam

hidup’aK.SelaLu memberikan semangat,do’a dan bantuannya hingga Karya

Tulis Ilmiah ini selesai.

10. “Mz_diQ” yang banyak membantu penulis dalam penyelesaian Karya Tulis

Ilmiah ini.

11. ”My Best Prend_Z”..dEw_oLive,Kie2,in@,r@tiH,Li@,QiQi.Terima kasih u/

kebersamaan dan bantuannya selama ini.SukSez untuk kita semua n Don’t

Forget Me…

12. Teman 1 kelompok praktek klinis:LaiL@,Edwin,iRma&otOk.

vii
13. Teman-teman seperjuangan di Rumah Sakit, D4 Fisioterapi UMS, Akfis

Poltekes Surakarta, Akfis”YAB” Yogyakarta, Akfis Widya Husada Semarang

dan Akfis IIK Bhakti Wiyata Kediri.Terima kasih untuk bantuannya…

14. Teman-teman Akfis”06 yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu;tEtap

sEmangat dan sukseZ???!!!!

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari

kesempurnaan.Untuk itu,saran dan kritik yang membangun sangat penulis

harapkan untuk membuat Karya Tulis Ilmiah ini menjadi lebih baik

lagi.Akhirnya,penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat

bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Surakarta, Juli 2009

Penulis

viii
PENATALAKSANAAN SHORT WAVE DIATHERMY (SWD) DAN
TERAPI LATIHAN WILLIAM FLEXION EXERCISE PADA
LOW BACK PAIN KARENA SPONDYLOLISTHESIS L4-5

Ambar Ika Safitri


J 100 060 049

ABSTRAK

Penatalaksanaan Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion


Exercise pada Nyeri Punggung Bawah karena Spondylolisthesis L4-5. Di dalam
pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini dimaksudkan untuk memberikan informasi
pengetahuan dan pemahaman tentang nyeri punggung bawah pada daerah tulang-
tulang Lumbal sampai sacrum dan otot-otot sekitarnya, sehingga meyebabkan
timbulnya problematika. Dan modalitas yang digunakan adalah Short Wave
Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise.
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah
ini adalah studi kasus. Untuk memberikan penanganan yang efektif dan efisien,
maka dilkukan suatu metode penelitian. Nyeri dengan Visual Analoque Scale
(VAS), spasme dengan palpasi, keterbatasan LGS trunk dengan midline, kekuatan
otot dengan MMT. Dari modalitas yang digunakan didapatkan hasil yang berarti
yaitu nyeri berkurang, spasme otot berkurang, peningkatan LGS trunk,
peningkatan kekuatan otot.
Hasil yang didapatkan SFL 6x terapi yaitu: (1) nyeri berkurang yaitu nyeri
diam T1= 0 mm setelah dilakukan terapi 6x T6= 0 mm, nyeri tekan otot
paravertebra lumbal (S) T1= 20 mm setelah dilakukan terapi 6x menjadi T6= 10
mm, nyeri gerak saat flexi trunk aktif T1= 40 mm setelah 6x terapi T6= 30 mm,
nyeri gerak saat extensi trunk aktif T1 = 20 mm setelah 6x terapi T6= 10 mm. (2)
Peningkatan LGS trunk yaitu Flexi trunk T1= 6 cm menjadi T6= 7 cm, extensi
trunk T1= 4 cm menjadi T6= 5 cm, Lateral Flexi trunk (D) T1= 9 cm menjadi T6=
10 cm, Lateral Flexi trunk (S) T1= 8 cm menjadi T6= 9 cm. (3) Peningkatan
kekuatan otot trunk yaitu Flexor trunk T1= 4- menjadi T6= 4, extensor trunk T1=
4- menjadi T6= 4.

Kata kunci: Penatalaksanaan, Short Wave Diathermy (SWD), William Flexion


Exercise, Low Back Pain dan Spondylolisthesis L4-5.

ix
PENATALAKSANAAN SHORT WAVE DIATHERMY (SWD) DAN
TERAPI LATIHAN WILLIAM FLEXION EXERCISE PADA
LOW BACK PAIN KARENA SPONDYLOLISTHESIS L4-5

RINGKASAN
(Ambar Ika Safitri, Karya Tulis Ilmiah)

Low Back Pain adalah yeri pada punggugn tulag belakang L1 – seluruh
sacrum dan otot-otot sekitarnya. Low Back Pain karena Spondylolisthesis adalah
nyeri pada punggung yang dikarenakan pergeseran kedudukan Corpus vertebrae
terhadap vertebrae yang di sebelah atas atau di sebelah bawahnya.
Permasalahan yang timbul pada Low Back Pain karena Spondylollisthesis
L4-5 yaitu nyeri pada punggung bawah, spasme otot paravertebrae lumbal,
keterbatasan LGS lumbal, penurunan kekuatan otot trunk.
Untuk mengatasi permasalahan yang timbul pada kondisi tersebut,
modalitas fisioterapi yang diberikan Short Wave Diathermy dan William Flexion
Exercise, juga edukasi pada pasien. Setelah 6 kali terapi didapatkan hasil sebagai
berikut: (1) nyeri berkurang yaitu nyeri diam T1= 0 mm setelah dilakukan terapi
6x T6= 0 mm, nyeri tekan otot paravertebra lumbal (S) T1= 20 mm setelah
dilakukan terapi 6x menjadi T6= 10 mm, nyeri gerak saat flexi trunk aktif T1= 40
mm setelah 6x terapi T6= 30 mm, nyeri gerak saat extensi trunk aktif T1 = 20 mm
setelah 6x terapi T6= 10 mm. (2) Peningkatan LGS trunk yaitu Flexi trunk T1= 6
cm menjadi T6= 7 cm, extensi trunk T1= 4 cm menjadi T6= 5 cm, Lateral Flexi
trunk (D) T1= 9 cm menjadi T6= 10 cm, Lateral Flexi trunk (S) T1= 8 cm menjadi
T6= 9 cm. (3) Peningkatan kekuatan otot trunk yaitu Flexor trunk T1= 4- menjadi
T6= 4, extensor trunk T1= 4- menjadi T6= 4.

x
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iii

HALAMAN MOTTO ..................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... v

KATA PENGANTAR .................................................................................... vi

ABSTRAK ...................................................................................................... ix

RINGKASAN ................................................................................................. x

DAFTAR ISI ................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv

DAFTAR GRAFIK ........................................................................................ xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

A. Latar Belakang ....................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................. 3

C. Tujuan Penulisan .................................................................... 3

D. Manfaat Penulisan .................................................................. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5

A. Diskripsi Kasus ..................................................................... 5

B. Biomekanik Lumbal ............................................................... 19

C. Patologi .................................................................................. 22
xi
D. Diskripsi Problematika Fisioterapi ......................................... 27

E. Objek yang Dibahas ................................................................ 27

F. Teknologi Intervensi Fisioterapi ............................................ 31

G. Kerangka Berpikir .................................................................. 35

BAB III METODELOGI PENELITIAN ................................................... 36

A. Rancangan Penelitian ............................................................. 36

B. Kasus Terpilih ........................................................................ 36

C. Instrumen Penelitian .............................................................. 36

D. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................. 37

E. Prosedur Pengambilan Data ................................................... 37

F. Cara Analisa Data .................................................................. 38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 39

A. Penatalaksanaan Studi Kasus ................................................. 39

B. Hasil Penelitian ..................................................................... 67

C. Pembahasan ............................................................................ 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 75

A. Kesimpulan ............................................................................ 75

B. Saran ....................................................................................... 76

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 75

LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Daftar Peningkatan Tekanan Interdiskus Berbagai Sikap .............. 22

Tabel 2.2 Kriteria Penilaian Kekuatan Otot ................................................... 30

Tabel 4.1 Data Pemeriksaan Gerak Aktif ....................................................... 43

Tabel 4.2 Data Pemeriksaan Gerak Pasif ........................................................ 43

Tabel 4.3 Data Pemeriksaan Gerak Isometrik Melawan Tahanan .................. 44

Tabel 4.4 Data Pemeriksaan Nyeri dengan VAS 1 ......................................... 45

Tabel 4.5 Data Pemeriksaan LGS 1 dengan Midline....................................... 46

Tabel 4.6 Data Pemeriksaan Kekuatan Otot 1 dengan MMT.......................... 46

Tabel 4.7 Data Pemeriksaan Spasme Otot 1 dengan Palpasi........................... 46

Tabel 4.8 Data Pemeriksaan Gerak Aktif ........................................................ 58

Tabel 4.9 Data Pemeriksaan Gerak Pasif ........................................................ 59

Tabel 4.10 Data Pemeriksaan Gerak Isometrik Melawan Tahanan................. 59

Tabel 4.11 Pengukuran LGS trunk (aktif)........................................................ 61

Tabel 4.12 Pengukuran Spasme…………………………………………....... 62

Tabel 4.13 Hasil Pemeriksaan Nyeri dengan VAS .......................................... 67

Tabel 4.14 Hasil Pemeriksaan LGS dengan Midline ....................................... 67

Tabel 4.15 Hasil Pemeriksaan Kekuatan Otot dengan MMT (Secara aktif).... 67

Tabel 4.16 Hasil Pemeriksaan Spasme dengan Palpasi ................................... 68

xiii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Vertebra dilihat dari anterior–posterior–lateral .......................... 12

Gambar 2.2 Anatomi vertebra lumbal ............................................................ 13

Gambar 2.3 Diskus intervertebralis vertebra .................................................. 13

Gambar 2.4 Segmen pergerakan lumbal, skema potongan median................ 14

Gambar 2.5 Vertebra Lumbal IV tampak dari cranial.................................... 15

Gambar 2.6 Otot-otot perut............................................................................. 16

Gambar 2.7 Otot – otot punggung .................................................................. 17

Gambar 2.8 Klasifikasi Spondylolisthesis ...................................................... 18

Gambar 4.1 Tes Laseque ................................................................................ 47

Gambar 4.2 Tes Bragard................................................................................. 48

Gambar 4.3 Tes Neri....................................................................................... 48

Gambar 4.4 Gerakan awal (A) & gerakan akhir (B) william Flexi No.1 ....... 53

Gambar 4.5 Gerakan awal (A) & gerakan akhir (B) william Flexi No.2 ....... 53

Gambar 4.6 Gerakan william Flexi No. 3....................................................... 53

Gambar 4.7 Gerakan william Flexi No. 4…………… ................................... 54

xiv
DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 4.1 Hasil Pemeriksaan Nyeri dengan VAS ....................................... 69

Grafik 4.2 Hasil Pemeriksaan LGS trunk dengan Midline (secara aktif)..... 71

Grafik 4.3 Hasil Pemeriksaan Kekuatan Otot Trunk dengan MMT (secara

aktif)............................................................................................ 72

Grafik 4.4 Hasil Pemeriksaan spasme m. paravertebra lumbal (S) dengan

palpasi ......................................................................................... 73

xv
1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam Pembukaan UUD 1945 tercantum dengan jelas cita-cita bangsa yang

sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan

nasional tersebut diselenggarakan upaya pembangunan yang berkesinambungan

dalam rangkaian program pembangunan yang menyeluruh, terarah dan terpadu.

Penyelenggaraan upaya tersebut merupakan tekad bangsa Indonesia untuk

memajukan kesejahteraan umum. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat dicapai

melalui berbagai aspek termasuk aspek kesehatan (Depkes RI, 1999).

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan

masyarakat yang optimal. Upaya kesehaan yang semula menitikberatkan pada upaya

menyembuhkan pasien secara berangsur-angsur berkembang kearah keterpaduan

upaya kesehatan yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (promotif),

pencegahan kesehatan (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan

kesehatan (rehabilitatif) harus dilaksanakan bersama antara pemerintah dan

masyarakat (UU RI no. 23 Tentang Kesehatan, 1992).

A. Latar Belakang Masalah

Low Back Pain (LBP) atau Nyeri Pinggang Bawah (NPB) merupakan kondisi

yang sering dikeluhkan pasien, dan banyak menyerang penduduk dunia. Sebagian

besar LBP disebabkan oleh gangguan struktur jaringan lunak. Di Amerika Serikat,

1
2

keluhan ini merupakan salah satu keluhan pasien terbanyak kurang lebih 60%-80%

populasi orang dewasa pernah mengalami kondisi ini dalam hidupnya. Keluhan ini

dimulai pada usia 25 tahun dan paling banyak usia antara 40 tahun dan 45 tahun.

Sehingga keluhan LBP paling sering menyebabkan kehilangan hari kerja pada umur

kurang dari 45 tahun (Soedomo, 2002).

Dari semua kasus, yang dapat ditemukan kelainan anatomisnya, antara lain ;

Hernia Nucleus Pulposes (HNP), Stenosis canalis spinalis, spondyloarthosis dan

spondylolisthesis. Sisanya sebanyak 70%-80% tidak diketahui penyebabnya

(idiopatik) (Yanuar, 2002).

Spondylolisthesis merupakan subluksasi tulang belakang yang sering

dijumpai pada individu muda. Keadaan ini sering terjadi pada tulang vertebrae

spinalis bawah (85% pada L5 ; 10% pada L4 ; 4% pada semua vertebrae lumbalis

bagian lainnya dan jarang dijumpai pada segmen vertebrae lain) (Yuziana, 2006).

Low Back Pain karena spondylolisthesis akan menimbulkan permasalahan,

baik kapasitas fisik berupa nyeri pada punggung bawah, spasme otot paravertebrae

lumbal, keterbatasan lingkung gerak sendi (LGS) lumbal, penurunan kekuatan otot

penggerak trunk dan permasalahan kemampuan fungsional berupa pasien kesulitan

dari tidur ke bangun, duduk terlalu lama terasa pegal, untuk membungkuk sakit

(Sidharta, 1984).

Spondylolisthesis biasanya disertai nyeri atau tanpa nyeri. Nyeri karena

spondylolisthesis dibedakan dalam 3 kelompok umur, yaitu kelompok umur di

bawah 26 tahun hanya 10% timbul nyeri, pada kelompok umur 26-39 tahun

kemungkinan besar didapat nyeri dan di atas 40 tahun selalu didapat nyeri (Cox,

1990). Nyeri merupakan keluhan yang sering mendorong pasien mencari pertolongan
3

pelayanan kesehatan termasuk pelayanan fisioterapi. Berbagai modalitas fisioterapi

dapat digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri (Mardiman, 2001).

Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada

individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak

dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara

manual, peningkatan gerak, peralatan fisik (fisik elektroterapeutis dan mekanis),

pelatihan fungsi, komunikasi (Menkes. 2001).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang timbul pada LBP akibat spondylolisthesis,

maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat

mengurangi nyeri pada Low Back Pain karena Spondylolisthesis L4 – 5.

2. Apakah Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat

meningkatkan kekuatan otot trunk pada Low Back Pain karena Spondylolisthesis

L4 – 5.

3. Apakah Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat

meningkatkan lingkup gerak sendi trunk pada Low Back Pain karena

Spondylolisthesis L4 – 5.

4. Apakah Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat

mengurangi spasme pada Low Back Pain karena Spondylolisthesis L4 – 5.

C. Tujuan Penulisan

5. Tujuan penulisan dalam Karya Tulis Ilmiah dengan pelaksanaan Short Wave

Diathermy dan Terapih Latihan William Flexion Exercise pada Low Back Pain

karena Spondylolisthesis L4-5 adalah: (1) Untuk mengetahui apakah Short Wave
4

Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat mengurangi nyeri pada

Low Back Pain karena Spondylolisthesis L4 – 5. (2) Untuk mengetahui apakah

Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat meningkatkan

kekuatan otot trunk pada Low Back Pain karena Spondylolisthesis L4 – 5. (3)

Untuk mengetahui apakah Short Wave Diathermy (SWD) dan William Flexion

Exercise dapat meningkatkan lingkup gerak sendi trunk pada Low Back Pain

karena Spondylolisthesis L4 – 5. (4) Untuk mengetahui apakah Short Wave

Diathermy (SWD) dan William Flexion Exercise dapat mengurangi spasme pada

Low Back Pain karena Spondylolisthesis L4 – 5.

D. Manfaat

1. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan tentang nyeri pinggan bawah karena

spondylolisthesis dan penatalaksanaannya sehingga dapat menjadi bekal untuk

penulis setelah lulus.

2. Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi yang benar pada pasien, keluarga dan

masyarakat sehingga dapat lebih mengenal mengenai gambaran nyeri pinggang

bawah karena spondylolisthesis.

3. Bagi Institusi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi objektif mengenai

nyeri pinggang bawah karena spondylolisthesis kepada tenaga medis baik yang

bekerja di Rumah Sakit atau Puskesmas.

4. Bagi Pendidikan

Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk lebih mengembangkan

ilmu pengetahuan dan menyebarkan informasi mengeni nyeri pinggang bawah

karena spondylolisthesis.
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Kasus

1. Definisi Spondylolisthesis

Spondylolisthesis adalah penggeseran korpus vertebrae setempat karena

fraktur bilateral dari istmus pars interartikularis vertebrae. (Sidharta, 1984).

Spondylolisthesis merupakan pergeseran tulang belakang ke arah depan. Pergeseran

itu hampir selalu antara L4 dan L5, atau antara L5 dan sacrum. Lamina yang normal

dan permukaan sendi merupakan mekanisme penguncian yang mencegah tulang

belakang bergerak ke depan di atas tulang belakang yang lain. Pergeseran ke depan

(atau slip) hanya terjadi bila mekanisme ini gagal (Apley, 1995). Spondylolisthesis

berasal dari kata Yunani Spondylo yang berarti tulang punggung dan Listhesis yang

berarti bergeser atau slip.

Spondylolisthesis dapat terjadi karena trauma atau merupakan kelainan

kongenital. Tetapi kebanyakan adalah akibat trauma atas dasar kelemahan pada

Istmus pars interartikularis vertebrae yang bersifat genetik. Walaupun kelainan

tersebut kongenital, namun keluhan sakit punggung bawah baru timbul setelah usia

35 tahun ke atas. Hal ini disebabkan oleh kelainan sekunder yang terjadi dalam masa

itu. Sakit punggung bawah tersebut bersifat pegal difus di daerah sacro lumbal

(Sidharta, 1984).

5
6

2. Anatomi Vertebra

a. Osteologi Vertebra Lumbalis

Secara anatomis kolumna vertebralis merupakan penyusun rangka axial yang

utama. Rangka ini terbagi menjadi 5 regio, yaitu: 7 vertebra cervical, 12 vertebra

thorakal, 5 buah vertebra lumbal, 5 vertebra sakral, 3-5 vertebra coccigeal – stabilitas

kolumna vertebralis ditentukan oleh bentuk dan kekuatan masing-masing vertebra,

ligamen dan otot-otot (Yanuar, 2002).

Vertebra lumbal terletak di regio punggung bawah antara regio thorax dan

sacrum. Ditandai dengan corpus yang besar, laminanya besar, kuat dan tidak ada

costal facet. Bentuk foramen vertebralisnya bervariasi mulai dari oval sampai

triangular. Lumbal sendiri tersusun atas lima vertebra lumbal yang setiap ruas

dipisahkan oleh discus intervertebralis, corpus dan proccesus spinosus yang tebal dan

lebar mengarah ke posterior. Proccesus articularis vertebra lumbalis memungkinkan

terjadinya gerakan fleksi ekstensi kolumna vertebralis. Processus transversus

mengarah ke latero posterior (Yanuar, 2002).

Karakteristik vertebra lumbal terdiri atas korpus dan procesus serta lamina

yang kuat berfungsi untuk menumpu berat badan. Vertebra lumbalis memiliki

mobilitas dan beban paling besar.

Bentuk Corpus pada vertebra lumbalis, dataran depan lebih tinggi daripada

dataran belakangnya. Bentuknya jika dilihat dari atas tampak seperti ginjal

melintang. Corpus Vertebra Lumbalis memiliki permukaan cekung pada bagian

lateral anterior disambungkan oleh adanya pedicle. Bila dilihat irisan melintang
7

bentuk pedicle vertebra lumbal adalah oval. Pedicle akan diproyeksikan ke posterior

dan bertemu dengan 2 lempengan tipis tulang yaitu Lamina.

Processus Spinosus dan transversus memiliki ukuran yang lebih besar dari

processus yang dimiliki vertebra cervical dan thoracal. Pada batas antara radix dan

arcus vertebra terdapat 2 pasang tonjolan vertical, disebabkan caudal terdapat

processus anticularis superior (Pujiastuti, 1993).

Pada permukaan posterior processus tranversus dijumpai processus

accesorius, yang menjadi tempat perlekatan otot inter transversum lumborum

medialis. Pada permukaan posterior processus articularis superior dijumpai

processus mamilaris yang memiliki ukuran dan posisi yang bervariasi (Pujiastuti,

1993)

Discus Intervertebralis merupakan suatu bantalan penghubung antar dua

corpus vertebralis yang didesain untuk menahan beban. Pada potongan segitiga

tampak berbentuk kerucut. Permukaan discus intervertebralis meliputi tulang rawan

atau epifisis corpus vertebra dan secara sycondrosus bersatu dengan vertebra.

Setiap Discus Intervertebralis tersusun dari: Annulus Fibrosus yang terletak

di luarnya dan nucleus pulposus yang terletak di dalamnya.

Annulus Fibrosis merupakan suatu cincin yang tersusun oleh lamella

fibrocartilaginea yang konsentris. Cincin tersebut diselipkan di cincin epiphysis pada

facies articularis corpus vertebra. Serabut-serabut yang menyusun tiap lamella

berjalan miring (oblique) dari satu vertebra ke vertebra lainnya. Pola yang seperti ini,

walaupun memungkinkan terjadinya gerakan antar dua vertebra yang berdekatan

juga berfungsi sebagai pengikat yang erat antar dua vertebra tersebut.
8

Nucleus Pulposus merupakan inti dari Discus intervertebralis yang berupa

suatu massa gelatinosa. Nucleus pulposus terletak agak ke belakang tidak dapat di

tengah-tengah oleh karena lamellae annulus fibrosus di daerah posterior tipis dan

jumlahnya sedikit. Nucleus pulposus mengandung air dalam jumlah yang banyak

saat lahir tetapi akan terus berkurang seiring bertambahnya usia. Peranannya

menyerupai peredam getaran (shock absorber) jika ada gaya axial dan menyerupai

bola semifluida saat menahan gerakan flexi, extensi, rotasi dan lateral flexi columna

vertebralis (Yanuar, 2002).

Fungsi discus intervertebralis yaitu: (a) sebagai bantalan agar tidak terjadi

gerakan antar corpus vertebra saat bergerak, (b) sebagai penyangga corpus dalam

menumpu berat badan, (c) sebagai pengikat vertebra yang satu dengan vertebra yang

lain.

b. Struktur Otot Vertebra

Otot yang terletak sebelan anterior dan lateral yaitu yang berfungsi sebagai

fleksi lumbal a) m. rectus abdominalis, obliqus abdominis externus dan obliqus

internus yang bekerja bilateral, b) m. psoas major dan m. quadratus lumborum

sebagai pembentuk dinding perut bagian belakang. Bila bekerja bilateral, otot yang

berfungsi lateral fleksi yaitu m. obliqus externus bila bekerja unilateral ke samping

searah.

Otot-otot yang terletak di sebelah posterior yaitu otot yang berfungsi sebagai

ekstensi lumbal antara lain: a) m. transverso spinalis yang terdiri dari m. semi

spinalis, m. multifidus, m. rotatores yang sekaligus berfungsi lateral fleksi yang tediri

dari b) m. mesocostalis lumborum, m. longisimusdorsi, m. spinalis. Semua otot-otot


9

tersebut berfungsi untuk gerak ekstensi lumbal dan bila bekerja unilateral sebagai

latero fleksi lumbal. (Sobotta, 2000).

c. Persendian Vertebra

Sistem persendian yang terdapat pada VL1-5 yaitu:

1. Articulatio Intercorpus Vertebralis

Persendian ini dibentuk oleh corpus vertebra yang saling berbatasan,

diantaranya terdapat bantalan sendi yang disebut discus intervertebralis. Macam

persendian adalah amphiarthrosis. Articulatio ini diperkuat dengan ligamentum

longitudinal anterior dan posterior.

2. Articulatio Interarcus Vertebralis

Persendian ini dibentuk oleh processus articularis inferior vertebra yang di

sebelah atas dengan processus articularis superior vertebra yang dibawahnya.

Macam persendian adalah diarthrosis. Kapsul articularis di daerah cervical

lebih kendor dibanding lumbal atau thoracal. Articulatio ini diperkuat dengan

ligamentum intertransversarium, ligamentum flavum, ligamentum interspinale,

ligamentum supraspinale.

d. Sistem Persarafan Lumbal

Nervus spinalis adalah akar-akar syaraf yang dimulai dari radiks anterior

medula spinal kemudian keluar melalui foramen intervertebralis. Secara topografi

saraf-saraf spinalis terdiri dari 31 pasang, ini dibagi menjadi 8 pasang nervi cervical,

12 pasang nervi thorcal, 5 pasang nervi lumbalis, 5 pasang nervi sacralis, sepasang

nervi coccygeal.
10

Daerah lumbal terdapat 2 plexus yaitu lumbalis dan sacralis. Di sini penulis

akan menguraikan plexus lumbalis yang berhubungan dengan kondisi nyeri pinggang

bawah. Plexus lumbalis dibentuk oleh cabang-cabang anterior saraf lumbal. Segmen

lumbal I-IV dan mendapat serabut tambahan dari thorak 12 dan lumbalis. Cabang-

cabang lumbalis adalah:

1. Nervus Iliohypogastricus (Th12 – L1)

Saraf ini mula-mula terdapat pada permukaan dalam musculus quadratus

lumborum melalui permukaan dorsal dan kemudian diantara musculus tranversus

abdominis dan musculus obliqus internus abdominis. Mensyarafi otot-otot abdomen

dan juga memberi cabang-cabang cutaneus lateral pada paha. (Chusid, 1982).

2. Nervus Genitofemoralis (L1- 2)

Saraf ini muncul dari permukaan anterior m. psoas, berjalan oblique ke

bawah, pada permukaan otot ini, dan berjalan menjadi nervus spernaticus internus

yang menuju m. cremaster dan kulit scrotum atau labia serta nervus lumboinguinalis

yang menuju ke otot bagian pertengahan atas paha. (Chusid, 1982).

3. Nervus Cutaneus Femoralis Lateralis (L2-3)

Saraf ini berjalan di atas musculus illiacus sampai tepat di bawah, spina

iliaca anterior superior, kemudian berjalan di bawah ligamentum inguinalis melalui

bagian lateral lacuna otot ke permukaan lateral paha dan menembus fascia latae,

mensyarafi bagian lateral articularis genu. (Chusid, 1982).


11

4. Nervus Femoralis (L2, 3, 4)

Saraf ini merupakan cabang yang terbesar dari plexus lumbalis. Saraf ini

mensarafi otot-otot m.illiopsoas, m. sartorius, m. pectineus, m. quadriceps femoris.

(Chusid, 1982).

5. Nervus Obturatorius (L2-5)

N. Obturatorius timbul dari plexus lumbalis dengan bersatunya 3 bagian

anterior plexus, yang asalnya dari nervus lumbalis ke 2, 3 dan 4. Saraf ini mensarafi

m. obturator externus, m. adductor magnus, m. adductor longus, m. adductor brevis

dan m.gracilis. (Chusid, 1982).

e. Sistem Peredaran Darah Lumbalis

Sistem peredaran darah vena dan arteri pada daerah lumbal umumnya

berjalan berdampingan sehingga mempunyai nama yang sama, dimana vena letaknya

lebih superfisial dibandingkan arteri. Pembuluh darah vena mengembalikan darah

dari struktur-struktur punggung membentuk plexus majemuk yang terbesar sepanjang

columna vertebralis dari cranium sampai cocygeus. Vena-vena ini dapat dibagi

menjadi: (1) yang terletak di luar columna vertebralis dan mengelilinginya,

membentuk plexus venosus vertebralis externus dan, (2) yang terdapat di dalam

kanalis vertebralis dan membentuk plexus venosus vertebralis internus.

Peredaran darah arteri terdiri dari: a) aorta abdominal yang bercabang

menjadi 2 yaitu arteri iliaka comuni dextra dan sinistra, b) arteri lumbalis akan

bercabang menjadi articularis dan ramus posterior yang menuju ke otak dan kulit

medial punggung. c) arteri sacralis medial, mempercabangkan arteri lumbalis yag

bercabang lagi.
12

Gambar 2.1 Vertebra dilihat dari anterior–posterior–lateral (Sobotta, 2002)

Keterangan gambar 2.1 :

1. Vertebra cervical

2. Vertebra thoracal

3. Vertebra lumbal

4. Vertebra sacral

5. Vertebra coccygeus
13

Keterangan gambar 2.2 :


1. Processus spinosus
2. Lamina arcus
vertebrae
3. Processus articularis
superior
4. Processus transverses
5. Foramen vertebrale
6. Corpus vertebrae

Gambar 2.2 Anatomi vertebra lumbal (Sobotta, 2002)

1
2

Keterangan gambar 2.3 :


1. Anulus fibrosus
2. Nucleus pulposus
3 3. Lig.longitudinal anterior
4 4. Lig.longitudinal posterior
5. Nucleus pulposus
6. Anulus fibrosus

5 6

Gambar 2.3 Diskus intervertebralis vertebra (Sobotta, 2002)


14

Gambar 2.4 Segmen pergerakan lumbal, skema potongan median (Sobotta, 2000)

Keterangan gambar 2.4 :


1. Ligament longitudinal posterior 10. Processus articularis inferior
2. Anulus fibrosus 11. Foramen intervertebrale
3. Nucleus pulposus
4. Ligament longitudinal anterior
5. Ligament flavum
6. Processus articularis superior
7. Ligament supraspinale
8. Processus spinosus
9. Ligament interspinale
15

2 7

5
3

4
8
5
5

Gambar 2.5 Vertebra Lumbal IV tampak dari cranial ( Sobotta, 1995 ).

Keterangan gambar 2.5 :

1. Body 5. Lamina

2. Pedicle 6. Processus Spinosus

3. Processus Transversus 7. Foramen Vertebrae

4.Facies Articularis Superior 8. Facies Articularis Inferior


16

1
1

Gambar 2.6 Otot-otot perut (Sobotta, 2002)

Keterangan gambar 2.6 :

1. M. rectus abdominis

2. M. obliquus externus abdominis

3. M. obliquus internus abdominis


17

Gambar 2.7 Otot – otot punggung (Sobotta, 1995)

Keterangan Gambar 2.7 :


1. M. Illiocostalis thoracic 7. M. Illiocostalis
2. M. Latisimus dorsi 8. Obliqus internus abdominis
3. M. Illiocostalis thoracic
4. M. Erector spine
5. M. Spinalis thoracic
6. M. Longisimus dorsi
18

Gambar 2.8 Klasifikasi Spondylolisthesis ( www. Google.com, Maret 2009)

Keterangan gambar 2.8 :

1. Vertebra normal

2. Pergeseran Corpus Vertebra derajat 1

3. Pergeseran Corpus Vertebra derajat 2

4. Pergeseran Corpus Vertebra derajat 3

5. Pergeseran Corpus Vertebra derajat 4


19

B. Biomekanik Lumbal

Facet joint adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan pada

axis vertebra dimana regio lumbal facet jointnya memiliki arah sagital dan medial

sehingga terjadi gerakan fleksi ekstensi dan lateral fleksi serta terjadi gerakan rotasi

yang sangat minimal. (de Wolf, 1994).

Bio mekanika tulang punggung selain dipengaruhi oleh faktor ligamen dan

otot juga ditentukan oleh struktur mekanis normal dari tulang vertebra dan

persendian termasuk diskus intervertebralis.

Facet joint merupakan suatu persendian yang memungkinkan untuk

terjadinya pergerakan pada axis vertebra. Arah dari facet joint ini bervariasi sesuai

dengan processus articularis vertebralis regio yang bersangkutan. Arah facet joint

ini yang akan menentukan gerakan columna vertebralis diregio tersebut. (Yanuar,

2002).

Pada Regio lumbal, facet jointnya memiliki arah sagital dan medial, sehingga

memungkinkan gerakan fleksi, ekstensi dan lateral fleksi. Dimana saat gerakan fleksi

facet joint terbuka dan saat ekstensi celahnya merapat, sedangkan facet joint

ipsilateral saling mendekat dan yang kontralateral terbuka saat gerakan lateral fleksi.

(Yanuar, 2002).

1. Osteokinematika

a. Fleksi

Gerakan yang terjadi pada fleksi lumbal yaitu pada posisi berdiri tegak,

kemudian membungkukkan badan ke depan. Gerakan terjadi pada bidang sagital dan
20

pada axis transversal. Sudut normal fleksi lumbal sekitar 65-85 cm (dengan midline),

dengan patokan ukuran dimulai dari cervical 7 sampai sakrum.

Sebagai penggerak utamanya adalah m. obliqus abdominis internus dan

m.obliqus abdominis externus dibantu oleh m. psoas major, otot-otot tersebut bekerja

secara sistematis.

Gerakan ini dihambat oleh ligamentum supraspinosus, ligamentum

longitudinal psoterior. (Kapandji, 1990).

b. Ekstensi

Gerakan ini bekerja pada posisi awal berdiri tegak, kemudian menarik badan

ke belakang. Gerakan ini terjadi pada bidang sagital dan aksis frontal. Luas gerak

sendi untuk gerakan ekstensi lumbal normal sekitar 40-50 cm (dengan midline),

dengan patokan ukuran dimulai dari cervical 7 sampai sakrum 1.

Sebagai penggerak utamanya, otot interspinale, otot illiocostalis lumborum,

otot longisimus thoracalis, otot spinalis thoracalis yang bekerja secara simetris.

Gerakan ini dibatasi oleh struktur tulang arkus vertebra dan ketegangan

ligamentum longitudinal anterior.

c. Lateral Fleksi

Gerakan ini dapat dikerjakan pada posisi awal tegak, badan ditekuk ke kanan

atau ke kiri yang terjadi pada bidang frontal dengan aksis sagital horizontal. Selama

gerak lateral fleksi, sendi faset dari processus articularis kedua vertebra bergerak

relatif antara satu dengan yang lain. Pada posisi kontralateral faset akan bergeser,

pada gerakan ini terjadi peregangan annulus fibrosus pada sisi ipsilateral sehingga

nucleus pulposus bergeser ke arah kontralateral.


21

Penggerak utama gerakan ini adalah: otot obliqus abdominis externus dan

internus, otot quadratus lumborum dan otot illiopsoas. Besarnya sudut normal

gerakan lateral fleksi 25 cm (dengan midline), dengan patokan ukuran dimulai dari

ujung jari paling panjang (phalank 3) tarik garis lurus sampai lantai (Kapandji,

1990).

d. Rotasi

Rotasi dikerjakan pada posisi awal duduk, berdiri atau terlentang. Gerakan

terjadi pada bidang horizontal dengan aksis vertikal. Sudut geraknya 45°C.

Otot-otot yang berfungsi pada gerakan ini adalah otot obliqus abdominis

internus dan externus, otot rotator langus, otot rotator brevis dan otot multifidus

(Kapandji, 1990).

2. Arthokinematika

Gerakan fleksi lumbal terjadi gerakan luncur ke ventral korpus bawahnya.

Processur articularis inferior bergerak ke cranio vertikal dan timbul “Gapping” atau

celah pada gerakan fleksi juga terjadi pelebaran fragmen discus intervetebralis

sehingga dapat terjadi benturan processus articularis dengan arcus vertebra. Pada

gerakan lateral fleksi, korpus sisi konkaf saling merapat dan terjadi gerakan luncur ke

cranio medial. Karena posisi faset di bidang frontal sagital, gerakan lateral fleksi

memaksa terjadinya gerakan rotasi satu sisi. Rotasi penyerta ini tidak terjadi pada

gerakan ekstensi. Gerakan rotasi paling besar pada L3-4 dan paling kecil L5-S1.

Lingkup gerakan rotasi dari lumbal hanya 3-5 (Kapandji, 1990).

Gerakan rotasi lumbal, corpus vertebra superior bergerak di atas corpus

vertebra inferior berlawanan arah dengan processus articularis dan processus


22

spinosus sehingga terjadi penekanan pada nukleus dan renggang dengan arah

menyilang (oblique).

Tabel 2.1

Daftar Peningkatan tekanan interdiskus Berbagai Sikap

Sikap/keadaan Tekanan intradiskal

1. Berdiri 0 (standar)

2. Duduk + 30%

3. Berjalan + 15%

4. Batuk + 50%

5. Loncat + 50%

6. Membungkuk 20° ke depan + 8%

7. Mengangkat benda seberat 20 kg dengan lutut + 300%

sedikit menekuk

8. Mengangkat benda seberat 20 kg dengan lutut lurus + 500%

9. Duduk bersandar lebih dari 90° -10½ - 20%

(Sidharta, 1984)

C. Patologi

1. Etiologi

Etiologi spondylolisthesis adalah multifaktorial. Predisposisi kongenital

tampak pada spondylolisthesis displatik dan litik, postur, tekanan rotasional dan

stress atau tekanan konsentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting dalam

terjadinya pergesearan.
23

Spondylolisthesis sebagian besar menggambarkan suatu pergeseran vertebra

terhadap vertebra bawahnya. Spondylolisthesis dapat terjadi karena trauma atau

kelainan kongenital. Tetapi kebanyakan adalah akibat suatu trauma atas dasar

kelemahan pada istmus pars interartikularis vertebrae yang bersifat genetik.

(Sidharta, 1984).

2. Patofisiologi

Spondylolisthesis umumnya terjadi karena trauma dan pergeseran yang

terjadi antero-posterior, juga ke lateral kanan atau kiri, Spondylolisthesis paling

sering terjadi pada sendi lumbosakral, karena beban yang paling banyak pada tulang

punggung terletak pada pesendian ini. (Prasodjo, 2002).

Pada kondisi normal titik berat tulang punggung terletak pada promontorium,

dan keadaan ini disebut sendi lumbosakral yang stabil. Stabilitas sendi lumbosakral

ini disebut sendi lumbosakral yang stabil. Stabilitas sendi lumosakral ini ditopang

oleh beberapa kondisi diantaranya adalah besarnya sudut yang terbentuk pada

permukaan atas vertebra sakral satu dan kondisi lengkung vertebra atasnya, dimana

normalnya 30-34 derajat. Apabila sudut ini terlalu besar berarti kemiringan

permukaan vertebra sakral satu juga lebih besar sehingga makin besar pula yang

akan diterima oleh lumbosakral. Hal ini menyebabkan vertebra diatas promontorium

akan lebih mudah tergelincir ke depan. Kondisi ini disebut instabil lumbo sakral.

Akan tetapi dapat juga terjadi keadaan dimana sudutnya normal, namun lengkung

vertebra lumbal terlalu ke arah depan sehingga titik berat berada di depan

promontorium, keadaan ini disebut juga instabil lumbosakral. Pada prinsipnya yang

disebut instabil lumbosakral adalah apabila titik berat (garis vertikal dari pusat
24

lumbal 3 ke kaudal jatuh di depan promontorium). Bila semakin instabil, semakin

besar resiko terjadinya listhesis (Prasodjo, 2002)

Menurut Apley (1995), Low Back Pain karena Spondylolisthesis

dikelompokkan ke dalam 6 tipe utama, antara lain: displatik, litik atau istmik,

degeneratif, pasca trauma, patologi, pasca operasi.

(1) Tipe I spondylolisthesis displatik merupakan defek permukaan sakrum posterior

karena kongenita, slip ke depan yang lambat pasti akan mengakibatkan

pergeseran yang berat.

(2) Tipe II spondylolisthesis litik atau istmik jenis yang biasa ditemui ada defek

pada pars interartikularis, atau robekan berulang-ulang dan penyembuhan dapat

mengakibatkan perpanjangan pars.

(3) Tipe III spondylolisthesis degeneratif yang terjadi akibat degerasi permukaan

sendi lumbal dan diskus yang memungkinkan pergeseran ke depan, umumnya

terjadi pada L4 dan L5.

(4) Tipe IV spondylolisthesis pasca trauma, fraktur yang tidak lazim,

mengakibatkan tidak stabilnya tulang belakang lumbal.

(5) Tipe V spondylolisthesis patologi, yang terjadi karena kelemahan struktur

tulang sekunder akibat proses penyakit seperti penyakit tumor atau penyakit

ulang lain.

(6) Tipe VI spondylolisthesis pasca operasi, penghilangan tulang dengan operasi

mengakibatkan ketidakstabilan progresif.

Tingkat pergeseran diukur dengan tingkat tumpang tindih corpus vertebra

yang berdekatan dan biasanya dinyatakan dengan suatu presentase, yaitu:


25

(a) grade I : 25%, (b) grade II: 25%-50%, (c) grade III: 50%-70% (d) grade II: 70%-

100%

Pada spondylolisthesis derajat tinggi nyeri diakibatkan adanya iritasi dari akar

saraf dan tertariknya akar saraf sehingga menghasilkan nyeri sciatica (Sidharta,

1984).

3. Tanda dan Gejala Klinis

Gambaran klinis spondylolisthesis sangat bervariasi dan tergantung pada tipe

pergeseran. Gejala utamanya adalah terdapatnya nyeri punggung bawah, nyeri paha

dan tungkai, kelemahan otot tungkai bawah, keterbatasan lingkup gerak sendi trunk,

kekakuan otot hamstring.

Tanda-tanda spondylolisthesis secara tidak sengaja dapat ditemukan sewaktu

pemeriksaan rutin dengan sinar x. Pada anak-anak keadaannya tanpa rasa sakit,

tetapi dapat dilihat bahwa perutnya terlalu menonjol dan cara berdirinya ganjil

(Apley, 1995).

4. Diagnosa Medis

Sinar – X memperlihatkan, pergeseran, ke depan dari kolumna spinalis di atas

vertebra yang stabil dibawahnya, perpanjangan lengkungan atau permukaan yang

defek mungkin terlihat. Celah pada pars interartikularis paling baik dilihat pada foto

oblik. Pada kasus yang meragukan, CT Scan dapat membantu (Apley, 1995).

5. Diagnosa Banding

Low Back Pain selain disebabkan oleh spondylolisthesis bisa juga

disebabkan oleh: Hernia Nucleus Pulposus (HNP), ischialgia, tumor dan trauma.
26

Dengan pemeriksaan sinar x yang jelas dapat membantu menegakkan diagnosis yang

tepat sebagai diagnosa banding terhadap Low Back Pain (Prasodjo, 2002).

6. Komplikasi

Spondylolisthesis akan menimbulkan nyeri di daerah punggung bawah dan

adanya hiperlordosis. Manifestasi nyeri tergantung derajat pergeseran. Derajat

pergeseran dapat menimbulkan tekanan pada kauda ekuina, atau pada akar saraf

yang muncul. Akar ini mungkin juga mengalami kompresi pada foramen

intervertebralis yang menyempit. Sehingga menimbulkan nyeri di daerah yang

disarafi. Hal tersebut dapat mengakibatkan timbulnya kelemahan otot kedua tungkai,

gangguan spinkter ani dan uretrae berikut dengan hipestesia (Sidharta, 1984).

Spondylolisthesis kongenital muncul pada usia dini, sering berlanjut pada

pergeseran yang berat dan membawa resiko komplikasi neurologis yang berat

(Apley, 1995)

7. Prognosis

Prognosis adalah kunci untuk terapi, sasarannya untuk mencegah deformitas

yang berat. Spondylolisthesis litik (istmik) dengan pergeseran kurang dari 10%

biasanya asimptomatik, tidak berkembang setelah dewasa, bukan merupakan

presdiposisi pasien untuk timbulnya masalah punggung di belakang hari dan bukan

merupakan kontraindikasi untuk pekerjaan yang berat. Pada pergeseran yang lebih

dari 25% terdapat peningkatan resiko nyeri punggung di kemudian hari (Apley,

1995).
27

D. Diskripsi Problematika Fisioterapi

Problematik yang dihadapi pada kasus nyeri punggung bawah akibat

spondylolisthesis meliputi:

1. Impairment

Dalam kasus ini impairment yang ditimbulkan bisa berupa adanya rasa nyeri

pada pinggang, spasme otot-otot paravertebra, keterbatasan lingkup gerak sendi

(LGS) trunk, penurunan kekuatan otot dan kelainan postur.

2. Function Limitation

Function limitation merupakan gangguan keterbatasan atau penurunan

fungsional. Kondisi ini bisa menimbulkan adanya gangguan dalam beraktivitas

membungkuk, jongkok, kesulitan dari tidur ke bangun dan berjalan jauh.

3. Participation Restriction

Pasien akan menemui hambatan atau ketidakmampuan dalam melakukakn

pekerjaanya dan juga dalam bersosialisasi dengan masyarakat sehingga pasien

merasa kurang berguna dalam masyarakat.

E. Objek yang Dibahas

1. Nyeri

Nyeri adalah suatu rasa yang tidak menyenangkan dan merupakan

pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual dan

terkadang nyeri digunakan untuk menyatakan adanya kerusakan jaringan (Parjoto,

2006).
28

1. Nyeri diam: jika pasien diam, pasien merasakan sakit pada pinggang.

Kemudian pasien disuruh menunjukkan seberapa derajat nyerinya dengan VAS

(Visual Analogue Scale).

2. Nyeri tekan: palpasi dengan ditekan pada daerah yang diduga timbul sakit

dan pasien diminta menunjuk seberapa derajat nyerinya.

3. Nyeri gerak: terapis dapat melakukan saat pemeriksaan gerak kemudian

pasien diminta menunjukkan seberapa derajat nyerinya.

a. Parameter Nyeri

Parameter yang digunakan dalam kasus ini adalah skala Visual Analogue

Scale (VAS).

Cara pengukuran dengan menunjuk 1 titik pada garis skala nyeri (0-10 cm). Salah

satuya ujung menunjukkan tidak nyeri dan ujung yang lain nyeri tak tertahankan.

Panjang garis mulai dari titik tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan

besarnya nyeri. Besarnya dalam mm. misal 10 – 20 – 30 dan seterusnya.

0 mm 100 mm

b. Mekanisme Nyeri Pinggang

Nyeri pinggang merupakan suatu nyeri lokal atau nyeri radikular atau

keduanya. Nyeri yang berasal dari pinggang dapat terujuk ke daerah lain, atau

sebaliknya nyeri berasal dari daerah lain dapat dirasakan dipinggang (Sidharta,

1984).
29

Nyeri pinggang bukanlah diagnosis tetapi gejala dari penyebab yang sangat

beragam, yaitu infeksi, trauma, proses degeneratif, neoplastik, peradangan. Akut bila

nyeri < 1 bulan, subakut antara 1 bulan – 3 bulan, kronik lebih dari 3 bulan.

2. Lingkup Gerak Sendi (LGS)

Pemeriksaan LGS adalah cara pengukuran lingkup gerak sendi, yang bisa

dilakukan oleh suatu sendi.

Tujuan: (a). Untuk mengetahui besarnya lingkup gerak sendi yang ada pada suatu

sendi, (b) membantu diagnosa dan menentukan fungsi sendi pasien, (c) Evaluasi

terhadap pasien sebelum dan sesudah terapi.

Prosedur pengukurannya dalam memposisikan pasien dalam posisi anatomis,

pengukuran pada flexi dan extensi dilakukan dengan midline dengan patokan

pengukuran diawali dari cervical 7 sampai sacrum 1, lateral fleksi diukur dari ujung

jari paling panjang (phalank 3) tarik garis lurus sampai lantai (Kapandji, 1990).

3. Kekuatan Otot

Kekuatan otot adalah kemampuan seseorang dalam mengkontraksikan otot

atau group otot secara disadari. Untuk mengetahui kekuatan otot dapat dengan cara

manual atau mekanik.

Parameter yang digunakan adalah “Manual Muscle Testing” yaitu suatu usaha

untuk menentukan kemampuan seseorang dalam mengkonstrasikan otot atau group

otot secara disadari.


30

Tabel 2.2

Kriteria Penilaian Kekuatan Otot

Nilai Kriteria

5 N (normal) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi


dan melawan tahanan maximal
4+ G+ (good plus) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan
gravitasi dan tahanan hampir maksimal
4 G (good) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi dan
tahanan sedang moderat
4- G- (good minus) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan
gravitasi dan tahanan minimal
3+ F+(fair plus) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi
tanpa melawan tahanan
3 F (fair) subyek bergerak dengan LGS penuh melawan gravitasi
tanpa melawan tahanan
3- F- (Fair minus) subyek bergerak mealawan tahanan denan LGS lebih
besar dari posisi middle range
2+ P+ (Poor plus) subyek bergerak sedikit dengan melawan gravitasi
atau bergerak dengan LGS penuh dengan tahnan tanpa melawan
gravitasi
2 P (Poor) subyek bergerak dengan lgs penuh tanpa melwan gravitasi
2- P- (Poor minus) subyek bergerak dengan LGS tidak penuh tanpa
melawan gravitasi
1 T (Trace) kontraksi otot bisa dipalpasi tetapi tidak ada gerakan sendi
0 0 (Zero) kontraksi otot tidak terdeteksi dengan dilakukan palpasi
31

4. Spasme

Spasme otot terjadi akibat proteksi terhadap nyeri, proteksi yang lain adalah

penderita berusaha menghindari gerakan yang menyebabkan nyeri. Pada spasme otot

dapat diperiksa dengan mempalpasi pada daerah yang menyalami spasme. Dengan

palpasi kita dapat mengetahui ada tidaknya spasme. Cara menentukan

pengukurannya belum ada ketentuan secara pasti tetapi untuk lebih mudahnya

digunakan pengukuran spasme dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

0 = tidak ada spasme

1 = ada spasme .

F. Teknologi Intervensi Fisioterapi

Teknologi intervensi yang digunakan adalah Short Wave Diathermy (SWD)

dan terapi latihan dengan William Flexion Exercise pada Low Back Pain karena

Spondylolisthesis L4-5.

1. Short Wave Diathermy (SWD)

SWD merupakan modalitas fisioterapi yang berupa generator yang dapat

memancarkan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus bolak-balik

frekuensi tinggi. Frekuensi SWD yang digunakan yaitu 13,66 MHz, 27, 12 MHz, dan

40,98 MHz. Panjang gelombang yang sesuai dengan frekuensi ini, yaitu 22 m, 11 m

dan 7,5 m. Frekuensi yang sering digunakan untuk pengobatan adalah 27,12 MHz

dan panjang gelombang 11 meter. Arus tersebut tidak menimbulkan aksi potensial

terhadap serabut saraf motorik maupun sensorik, dengan kata lain tidak merangsang

saraf motorik untuk berkontraksi (Sujatno, et.al. 1993).


32

Dosis untuk mengurangi nyeri pada kondisi akut digunakan intensitas rendah

(sub mitis), waktu 10 menit dengan frekuensi terapi 2-3 kali sehari, sedangkan untuk

kondisi kronis dosis yang digunakan dengan intensitas tinggi (normalis-fortis) waktu

10-20 menit, dengan frekuensi terapi 2-3 kali perminggu. SWD menghasilkan 2

medan yaitu: medan listrik dan medan magnet, maka dengan kedua medan tersebut,

SWD dapat digunakan dengan intermitten dan continous (Michlovits, 1995).

a. Efek Fisiologis

Efek fisiologis dari Short Wave Diathermy antara lain: (1) meningkatkan

metabolisme sel-sel lokal, (2) meningkatkan elastisitas jaringan ikat dan otot,

ligamen dan tendon, (3) meningkatkan ambang rangsang (Sujatno, et.al. 1993).

b. Efek Terapeutik

Efek Terapeutik dari Short Wave Diathermy antara lain: (1) penyembuhan

luka/trauma pada jaringan lunak, yaitu dengan meningkatkan proses reparasi jaringan

secara fisiologis, (2) mengurangi nyeri, (3) pembuangan siswa metabolisme,

(4) peningkatan elastisitas jaringan lunak, sehingga mengurangi proses kontraktur

jaringan sebagai persiapan terapi latihan, (5) pembuangan sisa metabolisme,

(6) meningkatkan sirkulasi darah (Sujatno, et.al. 1993)

c. Indikasi dan Kontra Indikasi

Indikasi dari SWD antara lain: (1) Nyeri post trauma, (2) penyakit degeneratif

sendi, bursitis, (4) spasme otot, (5) perbaikan peradangan, (6) kelainan pada saraf

perifer.

Kontra Indikasi dari SWD antara lain: (1) logam dalam tubuh, (2) alat-alat

elektrolis, (3) gangguan peredaran darah/pembuluh darah, (4) bahan yang tidak
33

menyerap keringat, (5) jaringan dan organ yang mengandung banyak cairan,

(6) gangguan sensibilitas, (7) wanita hamil, (8) menstruasi, (9) infeksi akut.

Pengaruh pemberian terapi Short Wave Diathermy (SWD) pada kasus ini

untuk pengurangan nyeri. Mekanisme pengurangan nyeri sendiri didapatkan dari

modulasi nyeri pada level sensoris akibat peningkatan metabolisme sebesar 13% tiap

kenaikan suhu 1° C. Akibatnya akan terjadi pembukaan sphincter pre kapiler yang

menyebabkan vasodilatasi lokal dan diikuti peningkatan aliran darah kapiler

sehingga pasokan nutrisi dan pembuangan zat-zat iritan penyebab nyeri akan

meningkat dan semakin lancar. Rasa nyeri ditimbulkan oleh adanya akumulasi sisa-

sisa hasil metabolisme yang disebut subtance “P” yang disebabkan karena

kerusakan jaringan, subtance “P” akan membebaskan prostaglandin E1 (PG) yang

diikuti pembebasan Bradikinin subtance “P” pada receptive neuron yang akan

meningkatkan permiabilitas pembuluh darah dengan lancarnya sirkulasi darah, maka

zat “P” juga ikut terbuang, sehingga terjadi rileksasi otot dan nyeri akan berkurang

(Mardiman, 2001). Short Wave Diathermy (SWD) juga untuk mengurangi spasme.

Mekanisme pengurangan spasme sendiri dari efek panas yang memberikan

vasodilatasi pembuluh darah sehingga peredaran darah lancar dan meningkatkan

suplai nutrisi. Akhirnya dapat memperbaiki peredaran darah kenaikan suhu jaringan

dan memberikan relaksasi pada otot akibatnya spasme dapat berkurang (Michlovits,

96).

2. William Flexion Exercise

Terapi latihan metode William Flexion Exercise adalah terapi latihan yang

terdiri dari beberapa gerakan, pada dasarnya, tujuan latihan adalah: (1) latihan

penguatan otot-otot punggung, otot dinding perut, otot gluteus maksimus. (2) Latihan

peregangan (Stretching Exercise) pada otot-otot dinding abdomen, otot-otot

punggung dan hamstring (Rachma, 2002).


34

Terapi latihan merupakan salah satu upaya fisioterapi yang pelaksanaannya

menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif sehingga

dapat mempercepat penyembuhan dari cidera atau penyakit lainnya yang telah

merubah pola hidup yang normal (Kisner, 1996).

Pengaruh pemberian terapi latihan Willian Flexion Exercise pada kasus ini

untuk pengurangan nyeri, peningkatan LGS trunk dan kekuatan otot trunk.

Mekanisme pengurangan nyeri sendiri berasal dari gerakan yang disadari yang

dilakukan secara perlahan dan berirama. Gerakan tersebut diilhat dari sistem

neurofisiologis, yang akan menstimulasi afferent (serabut saraf sensoris)

berpenampang tebal atau type II/IIIA untuk menghambat aktivasi receptor nyeri

(nociceptor) dan aspek lain, gerak yang dilakukan dapat membantu memberikan

“pumping action” sehingga aliran darah menjadi lancar dan nyeri akan berkurang

(Mardiman, 2001). Sedangkan, mekanisme William Flexion Exercise dalam

peningkatan kekuatan otot trunk didapatkan dari gerak aktif yang dilakukan akan

meningkatkan kekuatan otot karena gerakan tubuh selalu disertai oleh kontraksi otot.

Sedangkan, kontraksi otot tergantung dari motor unit. Apabila tahanan diberikan

pada otot yang berkontraksi, otot akan beradaptasi dan memaksa otot bekerja

sehingga bergerak untuk melawan gerakan tersebut dan secara tidak langsung

kekuatan otot akan meningkat. Hal ini juga didukung dengan adanya pengurangan

nyeri, maka kerja otot untuk berkontraksi semakin kuat (Kisner, 1996). Sedangkan,

mekanisme dalam peningkatan LGS trunk pada latihan ini didapatkan karena gerak

aktif pasif akan merangsang propioseptif dengan perubahan panjang otot saat terjadi

kontraksi otot, darah akan mengalir ke jaringan tubuh. Sehingga, sendi terjadi

penambahan nutrisi makanan dan zat atau enzim, yang berakibat mencegah

timbulnya perlengketan jaringan pada daerah sekitar sendi dan dapat meningkatkan

lingkup gerak sendi (Kottle, 1994).


35

G. Kerangka Berpikir

Low Back Pain akibat Spondylolisthesis L4-5

Gangguan :
- Adanya nyeri pinggang bawah Terapi Latihan
Diathermy (Short - Adanya spasme otot
Wave Diathermy) William Flexion Exercise
- Adanya penurunan kekuatan otot
- Adanya keterbatasan LGS

Hasil Evaluasi
- Adanya pengurangan nyeri
pinggang bawah
- Adanya pengurangan spasme otot
- Adanya peningkatan kekuatan otot
- Adanya peningkatan LGS
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah

studi kasus.

B. Kasus Terpilih

Kasus yang digunakan dalam penelitian Karya Tulis Ilmiah adalah Low

Back Pain akibat Spondylolisthesis VL4-5.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data pada

penelitian ini adalah :

Ada 2 macam :

1. Variabel terikat

a. Nyeri dengan Visual Analogue Scale (VAS)

b. Kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing

c. Lingkup gerak sendi dengan Midline.

2. Variabel bebas

a. Short Wave Diathermy (SWD)

b. Terapi latihan.

36
37

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di RS AL dr. Ramelan Surabaya, pada tanggal 03

sampai 31 Desember 2008.

E. Prosedur Pengambilan Data

Proses pengambilan atau pengumpulan data dalam penyusunan Karya

Tulis Ilmiah ini mencakup :

1. Data Primer

a. Pemeriksaan Fisik

Bertujuan untuk mengetahui keadaan fisik pasien. Pemeriksaan fisik terdiri

dari vital sign, inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, pemeriksaan gerak

dan pemeriksaan spesifik.

b. Interview

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yaitu dengan jalan tanya

jawab antara terapis dengan sumber daya manusia yaitu secara

autoanamnesis.

c. Observasi

Dilakukan untuk mengamati perkembangan pasien selama diberikan

terapi.

2. Data Sekunder

a. Studi Dokumentasi

Dalam studi dokumentasi ini penulis mengamati dan mempelajari data

status pasien di RS. AL dr. Ramelan Surabaya.


38

b. Data Pustaka

Pengambilan data juga didapat dari buku-buku, makalah-makalah,

internet, majalah yang berkaitan dengan kondisi Low Back Pain akibat

Spondylolisthesis VL4-5.

F. Cara Analisa Data

Data-data yang diperoleh dari hasil tanya jawab, catatan medis dan

pemeriksaan umum dan khusus semua dikumpulkan untuk menegakkan diagnosa.

Dari diagnosa tersebut akan didapatkan data oleh terapis untuk menentukan tindak

lanjut dari permasalahan yang ada selanjutnya digambarkan secara deskriptif.


39

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Penatalaksanaan Studi Kasus

Penatalaksanaan studi kasus dalam kondisi Low Back Pain akibat

Spondylolisthesis VL4-5 dengan melakukan assessment yang terdiri dari

pengumpulan data, pemeriksaan dasar, pemeriksaan khusus, dan pemeriksaan

yang lain diperlukan untuk mendukung dalam pelaksanaan dan pemecahan

masalah.

1. Pengkajian Data

Pengkajian data meliputi teknik dan subjek yang diukur dan

dikumpulkan datanya. Sedangkan pemeriksaan fisioterapi yang akan

dilaksanakan penulis meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kapasitas

fisik dan kemampuan fungsional.

a. Anamnesis

Tindakan pemeriksaan dengan cara melakukan tanya jawab

langsung dengan pasien (autoanamnesis) atau dengan cara tidak langsung

(heteroanamnesis).

1) Anamnesis Umum

Informasi yang diperoleh pada anamnesis umum merupakan

keterangan identitas diri pasien. Pada kasus ini nama pasien:

Ny. Susiani, Umur : 53 tahun, agama : Islam, pekerjaan : Ibu Rumah

Tangga, alamat : Jl. Bumiarjo gang 4 no. 7 Surabaya.

39
40

2) Anamnasesis Khusus

a) Keluhan Utama

Keluhan utama merupakan salah satu atau lebih gejala yang

dirasakan pasien untuk mencari pertolongan atau pengobatan. Pada

kasus ini, pasien mengeluh nyeri pinggang kiri saat berjalan lama

dan berdiri lama.

b) Riwayat penyakit sekarang

Memuat tentang keluhan dan menggambarkan riwayat penyakit

penyerta secara lengkap. Pada kasus ini, pasien merasakan nyeri

pinggang kiri dan kemeng-kemeng sejak 1 tahun yang lalu, nyeri

bertambah berat saat berjalan jauh dan berdiri lama. Dan nyeri

berkurang saat beristirahat. Pada tanggal 24 Februari 2008 pasien

ke RS AL dr. Ramelan Surabaya di poli saraf kemudian foto Rö

dan dirujuk ke fisioterapi.

c) Riwayat Penyakit Dahulu

Berisi tentang penyakti-penyakit yang dialami pasien yang

berkaitan dengan penyakit sekarang. Pada kasus ini, kira-kira 14

tahun yang lalu pasien pernah jatuh dari tangga posisi duduk.

d) Riwayat Penyakit Penyerta

Riwayat penyakit lain yang kemungkinan bisa memburuk kondisi

pasien. Pada kasus ini hipertensi (-), DM (-).

e) Riwayat Pribadi

Beberapa hal yang berhubungan dengan personal yang

kemungkinan berkaitan dengan penyakit yang dideritanya


41

diperoleh informasi, pasien seorang ibu rumah tangga yang setiap

harinya memasak dan mengurus rumah.

f) Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga merupakan penelusuran adanya penyakit yang

bersifat menurun dari orang tua atau anggota keluarga lain. Di sini

diperoleh informasi, tidak ada keluarga pasien yang menderita

penyakit serupa dengan pasien.

g) Anamnesis Sistem

Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya keluhan atau gangguan

yang berhubungan dengan sistem yang lain di dalam tubuh. Pada

sistem kepala dan leher, kardiovaskuler, respirasi,

gastrointestinalis, urogenitalis tidak ada keluhan. Pada

muskuloskeletal, pasien mengeluh adanya kaku otot-otot pinggang

kiri, nyeri pada pinggang saat digunakan untuk berdiri lama dan

berjalan jauh ± 500 M. Nervarum tidak ada keluhan rasa

kesemutan dan nyeri menjalar di sepanjang tungkai.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan tersebut terdiri dari :

1) Pemeriksaan vital sign

Pemeriksaan vital sign meliputi: (a) tekanan darah, (b) denyut nadi,

(c) pernapasan, (d) temperatur, (e) tinggi badan, (f) berat badan. Pada

kasus ini, (a) tekanan darah: 90/60 mmHg, (b) denyut nadi 80X/menit,
42

(c) pernapasan : 22 X/menit, (d) temperatur : 36° C, (e) tinggi badan = 169

cm, (f) berat badan : 55 kg.

2) Inspeksi

Pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Inspeksi dilakukan

dengan 2 cara yaitu statis dan dinamis. Inspeksi statis merupakan inspeksi

yang dilakukan dimana pasien dalam keadaan diam. Diperoleh informasi

dimana pasien dalam keadaan diam. Diperoleh informasi kondisi umum

pasien baik, pasien menggunakan korset lumbal, pasien tidak

menggunakan alat bantu jalan. Inspeksi dinamis merupakan inspeksi yang

dilakukan dimana pasien dalam keadaan bergerak. Dari pemeriksaan

inspeksi dinamis diperoleh informasi, wajah pasien tampak menahan nyeri

saat berjalan dan berdiri lama.

3) Palpasi

Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan cara menyentuh, menekan dan

memegang bagian tubuh yang sakit. Untuk mengetahui adanya spasme

otot, nyeri tekan, suhu. Pada kasus ini diperoleh informasi, suhu lokal

normal, spasme otot paravertebra lumbal sinistra, nyeri tekan pada otot

paravertebra lumbal sinistra.

4) Perkusi

Pemeriksaan dengan cara mengetuk bagian tubuh pasien. Pada kasus ini

tidak dilakukan pemeriksaan perkusi.

5) Auskultasi

Pemeriksaan dengan cara menggunakan indera pendengaran dan biasanya

menggunakan alat bantu stetoskop. Pada kasus ini tidak dilakukan

pemeriksaan auskultasi.
43

6) Pemeriksaan Gerak

(a) Gerak Aktif

Suatu cara pemeriksaan gerakan dimana pasien diminta untuk

menggerakkan anggota gerak yang diperiksa secara aktif. Pada kasus

ini diperoleh informasi gerak aktif dengan data sebagai berikut:

Tabel 4.1
Data Pemeriksaan Gerak Aktif

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, ada nyeri
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada nyeri

(b) Gerak Pasif

Suatu cara pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh terapis pada

pasien sementara pasien dalam keadaan pasif dan rileks. Pada kasus ini

diperoleh informasi gerak pasif dengan data sebagai berikut:

Tabel 4.2
Data Pemeriksaan Gerak Pasif

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, tidak nyeri, end
feel elastic
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic

(c) Gerakan Isometrik Melawan Tahanan

Suatu cara pemeriksaan gerakan yang dilakukan pasien secara aktif

sementara terapis memberikan tahanan yang berlawanan arah dengan


44

gerakan yang dilakukan pasien. Pada kasus ini diperoleh informasi

gerak isometrik melawan tahanan sebagai berikut:

Tabel 4.3
Data Pemeriksaan Gerak Isometrik Melawan Tahanan

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, tidak nyeri, tahanan
minimal
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal

3. Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktifitas

a) Fungsional Dasar

Hasil pemeriksaan ini adalah: pasien mampu tidur tengkurap, bangun dari

tidur, miring ke kanan dan ke kiri secara mandiri, pasien mampu secara

mandiri, pasien mampu secara mandiri dari posisi jongkok ke berdiri.

b) Aktivitas Fungsional

Dari pemeriksaan ini diperoleh informasi: pasien mampu secara mandiri

melakukan aktivitas sehari-hari pasien mampu makan, minum, BAK,

BAB, kebersihan diri secara mandiri.

c) Lingkungan Aktifitas

Lingkungan rumah pasien kurang mendukung kesembuhan pasien karena

terdapat tangga atau trap-trapan.

4. Pemeriksaan Spesifik

Pemeriksaan spesifik meliputi :


45

a) Memberikan Derajat Nyeri

Pemeriksaan derajat nyeri salah satunya dengan menggunakan alat ukur

Visual Analoque Scale (VAS). Cara pengukuran derajat nyeri dengan

menunjukkan satu titik pada garis skala nyeri (0 – 100 mm). Salah satu

ujung menunjukkan tidak nyeri dan yang lain nyeri tak tertahankan.

Panjang garis mulai dari titik tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk

besarnya nyeri.

Tabel 4.4
Data Pemeriksaan Nyeri dengan VAS 1
Tanggal 04 Desember 2008

Objek Nilai
1 Nyeri diam pasien tidur terlentang 0 mm
2 Nyeri tekan pada otot paravertebra lumbal (S) 20 mm
3 Nyeri gerak flexi trunk secara aktif 40 mm
4 Nyeri gerak extensi trunk secara aktif 20 mm

b) Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi (LGS)


Jarak yang terjadi atau jarak yang ditempuh pada gerak sendi. Pemeriksaan
ini dilakukan untuk mengetahui seberapa luas LGS yang bisa dilakukan
suatu sendi terhadap suatu gerakan. Disini penulis menggunakan midline
sebagai alat untuk mengetahui besarnya LGS yang ada. Untuk LGS trunk
diukur dengan midline posisi anatomis dari VC7 – S1 untuk pengukuran
flexi dan extensi. Sedangkan untuk lateral flexi baik kanan atau kiri dimulai
dari ujung jari paling panjang (Phalank 3) tarik garis lurus kelantai,
kemudian pasien diminta bergerak ke lateral flexi dextra dan sinistra
kemudian diukur selisihnya.
46

Tabel 4.5
Data Pemeriksaan LGS 1 dengan Midline
Tanggal 04 Desember 2008
(Gerak secara aktif)

Objek Awal Akhir Hasil


1 Flexi 51 cm 57 cm 6 cm
2 Extensi 51 cm 47 cm 4 cm
3 Lateral flexi dextra 60 cm 51 cm 9 cm
4 Lateral flexi sinistra 60 cm 52 cm 8 cm
c) Pemeriksaan Kekuatan Otot

Pada penilaian kekuatan otot untuk kondisi ini menggunakan MMT

(Manual Muscle Testing) untuk mengetahui seberapa kemampuan ototnya.

Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil :

Tabel 4.6
Data Pemeriksaan Kekuatan Otot 1 dengan MMT
Tanggal 04 Desember 2008

Gerak aktif Nilai


1 Flexor trunk 4-
2 Extensor trunk 4-

d) Pemeriksaan Nilai Spasme

Pada penilaian spasme otot untuk kondisi ini menggunakan

parameter dengan palpasi.

Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil:

Tabel 4.7
Data Pemeriksaan Spasme Otot 1 dengan Palpasi
Tanggal 04 Desember 2008

Nama Otot Hasil


m. Paravertebra lumbal (S) 1

e) Pemeriksaan Provokasi Nyeri

(1) Test Laseque


47

Test Laseque digunakan untuk mengetahui apakah ada nyeri

yang amat sangat, maka kemungkinan ada gangguan pada akar saraf

L1 – S2. Tes ini dilakukan dalam keadaan pasien tidur terlentang

kemudian tungkai diangkat dalam posisi lurus, agar tungkainya lurus

maka tangan terapis yang satu mengangkat tungkai dengan memegang

pada tumit pasien, tes dinyatakan positif jika rasa sakit sebelum

tungkai mencapai 70° C dan nyeri menjalar di sepanjang distribusi

nervus ischiadicus (de Wolf, 1990). Setelah dilakukan pemeriksaan

hasilnya negatif, pasien tidak merasakan nyeri bertambah sepanjang

nervus ischiadicus.

Gambar 4.1 Tes Laseque (De Wolf, 1990)

(2) Test Bragard

Test Bragard digunakan untuk mengetahui apakah ada nyeri

yang amat sangat, maka kemungkinan ada gangguan pada akar saraf

L1 – S2. Test ini hampir sama dengan Test Laseque hanya disertai

mendorsiflexikan ankle secara pasif. Hasil positif bila saat dites timbul

nyeri di sepanjang distribusi nervus ischiadicus (de Wolf, 1990).

Setelah dilakukan pemeriksaan hasilnya negatif, pasien tidak

merasakan nyeri bertambah sepanjang perjalanan nervus ischiadicus.


48

Gambar 4.2 Tes Bragard (De Wolf, 1990)

(3) Test Neri

Test ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada nyeri yang amat

sangat, maka kemungkinan ada gangguan pada akar saraf L1 – S2. Tes

ini dilakukan dengan mengangkat tungkai yang sakit dalam posisi

tungkai yang lurus dikombinasikan dengan dorsi flexi ankle ditambah

angkat kepala. Hasil positif jika pasien merasakan nyeri bertambah (de

Wolf, 1990). Setelah dilakukan pemeriksaan diperoleh hasil negatif,

pasien tidak merasakan nyeri sepanjang nervus ischiadicus.

Gambar 4.3 Tes Neri (De Wolf, 1990)

f) Pemeriksaan Neurologi

(1) Untuk Gait

a) Jalan dengan tumit , Inervasi L5

b) Jalan jinjit , Inervasi S1


49

(2) Kekuatan Otot

Tes Otot Inervasi

a) Fleksi Hip ditahan m.Illiopsoas L1

b) Abduksi Hip ditahan m.Piriformis L5

c) Extensi Knee ditahan m.Quadriceps L3

d) Flexi Knee ditahan m.Hamstring S1-S2

e) Dorsi Flexi ditahan m.Tibialis Anterior L4

(3) Tendon Refleks

a) Refleks Tendon Patella, Inervasi L4

b) Refleks Tendon Achilles Inervasi S1

c) Plantar Fleksi Inervasi S1

(4) Sensibilitas

a) Medial Foot Inervasi L4

b) Lateral Foot Inervasi L1

c) Dorsal Foot Inervasi L5

5. Diagnosa Fisioterapi

Problematik fisioterapi pada Low Back Pain akibat spondylolisthesis

VL4-5 meliputi: (1) impairment: adanya nyeri pinggang sebelah kiri, adanya

spasme m. paravertebra lumbal sinistra, adanya keterbatasan LGS trunk,

penurunan kekuatan otot flexor dan extensor trunk. (2) Fungtional limitations:

pada saat sholat gerakan membungkuk nyeri, nyeri pada pinggang saat jalan

lama dan duduk lama. (3) Disability: terganggunya pekerjaan pasien sebagai
50

ibu rumah tangga, dalam bersosialisasi dengan masyarakat (misal, arisan dan

pengajian), dikarenakan adanya nyeri pinggang bawah.

6. Tujuan Fisioterapi

(a) Jangka pendek

(1) Mengurangi nyeri

(2) Mengurangi spasme otot-otot paravertebra lumbal

(3) Meningkatkan lingkup sendi (LGS) trunk

(4) Meningkatkan kekuatan otot flexor dan extensor trunk

(b) Jangka panjang

Melanjutkan tujuan jangka pendek.

7. Penatalaksaaan

(a) Short Wave Diathermy (SWD)

(1) Persiapan Alat

Perlu dipersiapkan alat dan pemeriksaan alat, meliputi electrode

yang digunakan, kabel elektrodenya supaya tidak bersilangan,

menyentuh lantai atau bagian tubuh pasien, serta semua saklar dalam

keadaan nol. Alat sebelum digunakan dipanasi selama 5 menit yang

bertujuan agar electron dan magnetron dapat berpijak sehingga arusnya

dapat mengalir untuk menuju ke output yang sudah ada energi.

(2) Persiapan Pasien

Pertama-tama pasien diberi penjelasan, tentang prosedur terapi

yang akan diberikan adalah hangat dan nyaman bukan rasa panas yang

menyengat tetapi akan tetap menimbulkan reaksi jaringan yang diobati,

apabila pasien merasa terlalu panas, pusing dan rasa tidak enak diminta

untuk memberitahu terapis. Lakukan tes sensibilitas panas dingin


51

apakah pasien dapat membedakannya. Kemudian posisikan pasien

senyaman mungkin (posisi comfortable), posisi tidur tengkurap, kedua

tungkai lurus dan pergelangan kaki diganjal bantal. Daerah pinggang

terbebas dari pakaian, semua barang-barang dari metal atau logam

dijauhkan dari alat dan pasien. Lalu electrode dipasang, pada kasus ini

electrode glass dipasang pada punggung bawah kanan dan kiri yang

sebelumnya dilapisi dahulu dengan handuk. Jarak antara electrode dan

kulit berkisar 3 centimeter. Untuk mencapai jarak tersebut, maka dapat

diberikan handuk kering dengan ketebalan sekitar 3 cm, sehingga jarak

antara inti kabel dengan kulit berjarak 5 cm.

(3) Pelaksanaan Terapi

a. Terhadap Alat

Alat ini dilengkapi dengan bermacam-macam parameter

pengobatan. Penyesuaian (tuning) energi elektromagnetik terhadap

sirkuit pasien dapat dikontrol atau dilihat oleh terapis dengan

lampu detektor.

b. Terhadap pasien

Selama terapi, terapis harus mengontrol rasa panas yang

dirasakan pasien secara subjektif. Jika selama terapi merasa nyeri

atau terlalu panas, maka intensitasnya dapat dikurangi atau

pengobatan diakhiri sebelum waktunya.

c. Intensitas

Adapun tingkatan intensitas yaitu: (1) submitis, dimana pasien

hampir tidak merasa hangat, (2) mitis, dimana pasien hampir

merasa hangat, (3) normalis, dimana pasien merasa hangat dan


52

nyaman, (4) fortis, dimana pasien merasa hangat tapi masih dalam

batas toleransi. Pada kasus ini intensitas yang digunakan fortis.

d. Waktu Terapi

Waktu yang digunakan adalah 15 menit agar diperoleh efek

terapeutiknya.

(4) Evaluasi sesaat setelah terapi

a) Terhadap Pasien

Terapis memeriksa reaksi yang ditemukan dan efek

terapeutiknya. Jika timbul reaksi umum sesudah pengobatan misal

mual atau pusing maka pasien diistirahatkan.

b) Terhadap Alat

Semua tombol dimatikan dan diposisikan ke posisi nol.

(b) Terapi Latihan

(1) Persiapan Alat

Siapkan matras dari bahan yang agak keras tetapi yang nyaman

saat digunakan untuk pasien.

(2) Persiapan Pasien

Lakukan pemeriksaan vital sign terlebih dahulu, tanyakan apakah

pasien merasakan pusing, mual dan lain-lain. Usahakan pasien agar

rilek.

(3) Pelaksanaan Terapi

Bentuk Latihan William Flexion yang digunakan gerakan no 1-2-3-4:

a) Gerakan pertama

Pasien tidur terlentang di atas matras, kedua lutut ditekuk dan kaki

menumpu rata. Kemudian pasien diminta menekan punggungnya


53

ke matras dengan mengontraksikan otot perut. Tahan 5 hitungan

dan rileks, dengan dosis 8X pengulangan.

Gambar 4.4 Gerakan awal (A) & gerakan akhir (B) william Flexi No.1
(Basmajian, 1987)

b) Gerakan kedua

Posisi pasien sama, pasien diminta untuk mengkontraksikan otot

perut bersamaan dengan mengangkat kepala hingga dagu hampir

menyentuh dada. Tahan 5 hitungan dan rileks, dengan dosis 8X

pengulangan.

A B
Gambar 4.5 Gerakan awal (A) & gerakan akhir (B) william Flexi No.2
(Basmajian, 1987)

c) Gerakan ketiga

Posisi sama tetapi pasien diminta menarik salah satu kakinya ke

arah dda dengan bantuan tangan sambil kepala diangkat, gerakan

ini ditahan 5 hitungan kanan dan kiri diulangi 8X.

A B
Gambar 4.6 Gerakan william Flexi No. 3 (Basmajian, 1987)
54

d) Gerakan keempat

Posisi sama dan gerakan sama dengan no 3, tetapi kaki yang ditarik

ke arah dda dua-duanya, ditahan 5 hitungan kanan dan kiri diulangi

8X.

A B
Gambar 4.7 Gerakan william Flexi No. 4 (Basmajian, 1987)

8. Evaluasi

Evaluasi pada kondisi ini adalah :

a) Pengurangan derajat nyeri

- Nyeri diam saat pasien tidur terlentang yaitu tetap 0 mm.

- Nyeri tekan pada otot paravertebra lumbal (S) dari 20 mm menjadi

10 mm.

- Nyeri gerak saat flexi trunk aktif dari 40 mm menjadi 30 mm.

- Nyeri gerak saat extensi trunk aktif dari 20 mm menjadi 10 mm.

b) Peningkatan lingkup gerak sendi

- Gerak flexi trunk dari 6 cm menjadi 7 cm

- Gerak extensi trunk dari 4 cm menjadi 5 cm

- Gerak lateral flexi dextra dari 9 cm menjadi 10 cm

- Gerak lateral flexi sinistra dari 8 cm menjadi 9 cm

c) Peningkatan nilai kekuatan otot secara aktif

- Extensor trunk dari 4- menjadi 4.


55

- Flexor trunk dari 4- menjadi 4.

d) Pengurangan nilai spasme

- M. paravertebra lumbal (S) dari 1 menjadi 0.

9. Dokumentasi

Seorang perempuan berusia 53 tahun dengan kondisi Low Back Pain

akibat Spondylolisthesis VL4-5 dengan keluhan nyeri pinggang kiri saat

berjalan lama dan duduk lama. Adanya nyeri pinggang, penurunan lingkup

gerak sendi trunk, penurunan kekuatan otot flexor dan extensor trunk. Setelah

mendapat penanganan fisioterapi sebanyak 6 kali diperoleh hasil pengurangan

nyeri pinggang, peningkatan LGS trunk, peningkatan kekuatan otot flexor

extensor trunk dan pengurangan spasme.

PROTOKOL STUDI KASUS

Nama : AMBAR IKA SAFITRI


NIM : J 100 060 049
Tempat Praktik : RS AL Dr. Ramelan Surabaya
Pembimbing : Dr. Eka Poerwanto, Sp RM

Tanggal pembuatan laporan : 13 Desember 2008

Kasus : FT B

I. Identitas Pasien

Nama : Ny. SS

Umur : 53 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam
56

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. Bumiarjo gang 4 no. 7 Surabaya

Diagnosis Medis : Low Back Pain akibat Spondylolisthesis VL4-5

II. Data Kefisioterapian Pasien

A. Anamnesis (autoanamnesis tanggal 04 Desember 2008)

1. Keluhan Utama

Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri saat berjalan lama dan berdiri

lama.

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien merasakan nyeri pinggang kiri dan rasa kemeng-kemeng

sejak 1 tahun yang lalu. Nyeri bertambah berat saat berjalan jauh dan

berdiri lama. Dan akan berkurang saat beristirahat.

Pada tanggal 24 Februari 2008 pasien berobat ke RS AL Dr.

Ramelan Surabaya di Poli Saraf kemudian dirujuk ke arthropi untuk

kota Rontgen kemudian dirujuk ke fisioterapi.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Ada riwayat trauma 14 tahun yang lalu jatuh dari tangga posisi

duduk.

4. Riwayat penyakit penyerta

- Hipetensi ( - )

- Diabetes Mellitus ( - )

- Alergi ( - )
57

5. Riwayat pribadi

Pasien seorang Ibu Rumah Tangga.

6. Riwayat Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang serupa

dengan pasien.

7. Anamnesis Sistem

Kepala dan leher, kardiovaskuler, respirasi, gastrointestinalis,

urogenitalis tidak ada keluhan. Musculoskeletal: adanya kaku otot-

otot pinggang kiri, nyeri pada pinggang saat digunakan untuk

berjalan jauh kira-kira 500 m dan duduk lama. Nervoru tidak ada

keluhan kesemuatan atau nyeri menjalar.

B. Pemeriksaan

1. Pemeriksaan Fisik

Tanda-tanda Vital :

a) Tekanan darah : 90/60 mmHg

b) Denyut Nadi : 80 X/menit

c) Pernapasan : 22 X/menit

d) Temperatur : 36 °C

e) Tinggi Badan : 166 cm

f) Berat Badan : 55 kg

2. Inspeksi

a) Inspeksi Statis

- Kondisi umum pasien baik


58

- Pasien menggunakan korset lumbal

- Tidak menggunakan alat bantu

b) Inspeksi Dinamis

- Wajah pasien tampak menahan nyeri saat berjalan memasuki

kamar terapi.

3. Palpasi

- Suhu lokal normal

- Adanya nyeri tekan pada pinggang sebelah kiri

- Adanya spasme otot-otot paravertebra lumbal sinistra

4. Perkusi

- Tidak dilaukkan

5. Auskultasi

- Tidak dilakukan

6. Gerak Dasar

a) Gerak Aktif

Pada kasus ini diperoleh informasi gerak aktif dengan data

sebagai berikut:

Tabel 4.8
Data Pemeriksaan Gerak Aktif

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS Tidak Full ROM, ada
nyeri
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada
nyeri
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, ada
nyeri
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada
nyeri
59

b) Gerak Pasif

Pada kasus ini diperoleh informasi gerak pasif dengan data

sebagai berikut:

Tabel 4.9
Data Pemeriksaan Gerak Pasif

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS Tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, tidak nyeri, end
feel elastic
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada nyeri, end feel
elastic

c) Gerak Isometrik Melawan Tahanan

Pada kasus ini diperoleh informasi gerak isometrik melawan

tahanan sebagai berikut:

Tabel 4.10
Data Pemeriksaan Gerak Isometrik Melawan Tahanan

Gerakan Hasil
1. Flexi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal
2. Extensi trunk LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal
3. Lateral Flexi dextra LGS tidak Full ROM, tidak nyeri, tahanan
minimal
4. Lateral Flexi sinistra LGS tidak Full ROM, ada nyeri, tahanan
minimal

7. Kognitif, Intra Personal dan Inter Personal

a) Kognitif: Baik, pasien mampu berorientasi dengan ruang dan

waktu dan memori normal.

b) Intra personal: Baik, pasien mempunyai semangat untuk sembuh.


60

c) Inter personal: Baik, pasien mampu berkomunikasi dengan baik

dengan dokter, terapis dan keluarga.

8. Kemampuan Fungsional dan Lingkungan Aktivitas

a) Kemampuan Fungsional Dasar

- Pasien mampu tidur tengkurap, bangun dari tidur, miring ke

kanan dan ke kiri secara mandiri.

- Pasien mampu secara mandiri dari posisi jongkok ke berdiri

dan berjalan jauh.

b) Aktivitas Fungsional

- Pasien mampu secara mandiri melakukan aktivitas sehari-

hari.

- Pasien mampu makan, minum, BAK, BAB, kebersihan diri

secara mandiri.

c) Lingkungan Aktivitas

Lingkungan rumah pasien kurang mendukung untuk

kesembuhan pasien karena terdapat tangga atau trap-trapan.

9. Pemeriksaan Spesifik (FT B)

a) Tes Provokasi Nyeri

Tes Dextra Sinistra

- Tes Laseque (-) (-)

- Tes Bragard (-) (-)

- Tes Neri (-) (-)

b) Kekuatan otot dengan MMT

- Flexor trunk : 4-
61

- Extensor trunk : 4-

c) Nyeri dengan VAS

(1)
0 mm 100 mm
Tidak nyeri Nyeri tak tertahankan
a. Nyeri diam saat tidur terlentang : 0 mm

(2)
0 mm 20 mm 100 mm
Tidak nyeri Nyeri tak tertahankan
b. Nyeri tekan pada otot pinggang kiri : 20 mm
(3)
0 mm 40 mm 100 mm
Tidak nyeri Nyeri tak tertahankan
c. Nyeri gerak saat flexi trunk aktif : 40 mm

(4)
0 mm 20 mm 100 mm
Tidak nyeri Nyeri tak tertahankan
d. Nyeri gerak saat extensi trunk aktif : 20 mm

d) LGS trunk dengan midline

Tabel 4.11
Pengukuran LGS trunk (aktif)

Objek Awal Akhir Hasil


1 Flexi trunk 51 cm 57 cm 6 cm
2 Extensi trunk 51 cm 47 cm 4 cm
3 Lateral flexi dextra 60 cm 51 cm 9 cm
4 Lateral flexi sinistra 60 cm 52 cm 8 cm
62

e) Nilai Spasme
Tabel 4.12
Pengukuran Spasme
Nama Otot Hasil
m.Paravertebra Lumbal 1

10. Diagnosa Fisioterapi

a) Impairment

(1) adanya nyeri pinggang bagian sinistra

(2) adanya spasme otot-otot paravertebra lumbal sinistra

(3) adanya keterbatasan LGS trunk

(4) adanya penurunan kekuatan otot flexor dan extensor trunk

b) Fungsional Limitation

(1) saat sholat gerakan membungkuk terasa nyeri

c) Disability

Terganggunya pekerjaan pasien sebagai ibu rumah tangga dan

sosialisasi di masyarakat (misal: arisan, pengajian) dikaernakan

adanya nyeri pinggang.

11. Program/Rencana Fisioterapi

Tujuan

a) Jangka Pendek

- Mengurangi nyeri

- Mengurangi spasme otot-otot paravertebra lumbal

- Meningkatkan LGS

- Meningkatkan kekuatan otot


63

b) Jangka Panjang

- Melanjutkan tujuan jangka pendek.

12. Teknologi yang digunakan dan edukasi

a) Short Weave Diathermy (SWD)

Posisi pasien : Tidur tengkurap senyaman mungkin

Metode : Coplanar dengan elektroda glass

Intensitas : 5 mA atau fortis

Arus : Continue

Waktu : 15 menit

b) Terapi latihan “William Flexion Exercise”

Posisi : Pasien tidur terlentang di atas matras

Waktu : 10 – 15 menit

Frekuensi : 2 – 3 X sehari

Gerakan yang digunakan no. 1 – 2 – 3 – 4:

(1) Gerakan Pertama

Posisi pasien tidur terlentang di atas matras, kedua lutut

ditekuk dan kaki menumpu rata. Kemudian pasien diminta

menekan punggungnya ke matras dengan mengkontraksikan

otot perut, tahan 5 hitungan dan rileks, dengan dosis 8 X

pengulangan.
64

(2) Gerakan Kedua

Posisi pasien sama, pasien diminta untuk

mengkontraksikan otot perut bersamaan dengan mengangkat

kepala hingga dagu hampir menyentuh dada. Tahan 5

hitungan dan rileks, dengan dosis 8 X pengulangan.

(3) Gerakan Ketiga

Posisi sama tetapi pasien diminta menarik salah satu

kakinya ke arah dda dengan bantuan tangan sambil kepala

diangkat, gerakan ini ditahan 5 hitungan kanan dan kiri

diulangi 8X.

(4) Gerakan Keempat

Posisi sama dan gerakan sama dengan no 3, tetapi kaki

yang ditarik ke arah dda dua-duanya, ditahan 5 hitungan

kanan dan kiri diulangi 8X.

c) Edukasi

Adapun edukasi diberikan antara lain:

(1) Selalu menggunakan korset lumbal saat beraktifitas.

(2) Latihan secara rutin seperti latihan yang diajarkan oleh

terapis secara mandiri di rumah.

(3) Menerapkan cara mengangkat barang yang benar, yaitu

posisi punggung harus lurus dan dengan menekuk lutut serta

mendekatkan barang dekat dengan dada.

(4) Bila bangun dari tidur jangan langsung bangun, melainkan

miring terlebih dahulu baru bangun dengan kekuatan tangan.


65

d) Rencana Evaluasi

- Peningkatan LGS trunk dengan midline

- Peningkatan kekuatan otot dengan MMT

- Pengurangan nyeri dengan VAS

- Pengurangan spasme dengan palpasi

13. Prognosis

a) Quo Ad Vitam : Baik

b) Quo Ad Sanam : Baik

c) Quo Ad Fungsionam : Baik

d) Quo Ad Cosmeticam : Baik

14. Pelaksanan Fisioterapis

a) Hari : Kamis tangal 4 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

- Pasien tidur tengkurap dengan posisi senyaman mungkin,

kemudian dilakukan tes sensibilitas

- Pasang elektroda glass pada punggung bawah secara

coplanar yang sebelumnya dilapisi dengan handuk

terlebih dahulu.

- Atur waktu 15 menit, intensitas : 5 mA atau fortis, arus:

continue

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”

b) Hari : Jum’at tangal 5 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”


66

c) Hari : Selasa tangal 9 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”

d) Hari : Kamis tangal 11 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”

e) Hari : Selasa tangal 16 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”

f) Hari : Kamis tangal 18 – 12 – 2008

(1) SWD (Short Wave Diathermy)

(2) Terapi latihan “William Flexion Exercise”


67

B. Hasil Penelitian

Tabel 4.13

Hasil Pemeriksaan Nyeri dengan VAS

(dalam satuan mm)

Skala VAS T1 T2 T3 T4 T5 T6

Nyeri diam saat tidur terlentang 0 0 0 0 0 0

Nyeri tekan pada otot paravertebra lumbal (S) 20 20 20 20 10 10

Nyeri gerak saat flexi trunk aktif 40 40 40 30 30 30

Nyeri gerak saat extensi trunk aktif 20 20 20 10 10 10

Tabel 4.14

Hasil Pemeriksaan LGS dengan Midline

Gerakan aktif T1 T2 T3 T4 T5 T6

- Flexi trunk 6 cm 6 cm 6 cm 6 cm 7 cm 7 cm

- Extensi trunk 4 cm 4 cm 4 cm 5 cm 5 cm 5 cm

- Lateral Flexi dextra 9 cm 9 cm 9 cm 9 cm 10 cm 10 cm

- Lateral Flexi Sinistra 8 cm 8 cm 9 cm 9 cm 9 cm 9 cm

Tabel 4.15

Hasil Pemeriksaan Kekuatan Otot dengan MMT (Secara aktif)

Gerakan T1 T2 T3 T4 T5 T6

- Flexor trunk 4- 4- 4- 4 4 4

- Extensor trunk 4- 4- 4- 4 4 4
68

Tabel 4.16

Hasil Pemeriksaan Spasme dengan Palpasi

Nama Otot T1 T2 T3 T4 T5 T6

m. Paravertebra lumbal (S) 1 1 1 1 0 0

Keterangan

T1 : Tanggal 4 Desember 2008

T2 : Tanggal 5 Desember 2008

T3 : Tanggal 9 Desember 2008

T4 : Tanggal 11 Desember 2008

T5 : Tanggal 16 Desember 2008

T6 : Tanggal 18 Desember 2008


69

C. Pembahasan

Dalam sub bab ini penulis akan membahas bagaimana program latihan

yang diberikan pada pasien, apakah hasilnya cukup bagus, atau memperburuk

keadaan pasien itu sendiri.

Kondisi Low Back Pain dapat menimbulkan masalah yaitu nyeri, spasme

otot, keterbatasan gerak, penurunan kekuatan otot. Setelah dilaukkan 6X terapi

didapatkan hasil:

1. Nyeri

Permasaahan yang timbul dri Low Back Pain akibat Spondylolisthesis

VL4-5 salah satunya adalah nyeri. Untuk mengatasi nyeri yang digunakan

adalah SWD, didapatkan hasil sebagai berikut :

Grafik 4.1

Hasil Pemeriksaan Nyeri dengan VAS

45
40 Nyeri diam saat tidur
35 terlentang
30 Nyeri tekan pada otot
25 paravertebra lumbal (S)
Nyeri

20 Nyeri gerak saat flexi


15 trunk aktif
10 Nyeri gerak saat extensi
5 trunk aktif
0
T1 T2 T3 T4 T5 T6
Terapi
70

Disini dapat kita lihat bagaimana perubahan hasil sebelum dan sesudah

dilakukan terapi, nyeri mulai berkurang. Bisa kita lihat nyeri diam T1= 0 mm

setelah dilakukan terapi 6x T6= 0 mm, nyeri tekan otot paravertebra lumbal

(S) T1= 20 mm setelah dilakukan terapi 6x menjadi T6= 10 mm, nyeri gerak

saat flexi trunk aktif T1= 40 mm setelah 6x terapi T6= 30 mm, nyeri gerak saat

extensi trunk aktif T1 = 20 mm setelah 6x terapi T6= 10 mm. Dengan demikian

dapat kita simpulankan bahwa setelah 6x terapi dengan menggunakan 2

modalitas Fisioterapi yaitu Short Wave Diathermy dan William Flexion

Exercise mulai berkurang.

Pengaruh SWD dalam mengurangi nyeri sendiri adalah dengan adanya

panas yang dihasilkan oleh SWD akan menyebabkan terjadinya peningkatan

suhu pada area yang diterapi. Dengan demikian akan terjadi vasodilatasi yang

diikuti peningkatan aliran darah sehingga pembuangan sisa-sisa hasil

metabolisme yaitu substance “P” yang menumpuk pada jaringan akan ikut

terbuang sehingga terjadi rileksasi pada otot maka spasme dan nyeri akan

berkurang.

Diperkirakan efek ini akibat meningkatnya kecepatan hantar saraf

(KHS) dan menurunnya Treshold saraf. Tetapi perlu diingat bahwa serabut

saraf tipe VI (nyeri) juga mendapat efek yang sama, sehingga efek ”remming”

melalui Gate-control di medulla spinalis (Gate control theory of pain,

Melzak) diperkirakan hanya sedikit memberikan pengaruh pengurangan nyeri.

Para ahli lebih sepakat bahwa pengurangan nyeri itu adalah hasil dari

perbaikan sirkulasi darah dan metabolisme (Sujono, 2001).


71

Sedangkan, terapi latihan merupakan gerakan pasif dan aktif yang

dilakukan berulang-ulang dan perlahan-lahan secara ritmis dapat mengaktivasi

serabut saraf berpenampang kecil (A-delta) dan akan menginhibisi serabut

saraf beta berarti rasa nyeri tidak akan dikeluarkan (Gardiner, 1981).

2. Lingkup Gerak Sendi

Permasalahan yang timbul dari Low Back Pain akibat Spondylolisthesis

L4-5 salah satunya penurunan Lingkup Gerak Sendi (LGS) trunk. Untuk

mengatasi masalah tersebut modalitas yang digunakan adalah Short Wave

Diathermy dan William Flexion Exercise. Didapatkan hasil sebagai berikut:

Grafik 4.2

Hasil Pemeriksaan LGS trunk dengan Midline (secara aktif)

12

10

8 Flexi trunk
Extensi trunk
LGS

6
Lateral Flexi dextra
4 Lateral Flexi Sinistra
2

0
T1 T2 T3 T4 T5 T6
Terapi

Disini kita dapat melihat bagaimana perubahan hasil sebelum dan

sesudah dilakukan terapi, LGS trunk mulai meningkat. Bisa kita lihat Flexi

trunk T1= 6 cm menjadi T6= 7 cm, extensi trunk T1= 4 cm menjadi T6= 5 cm,

Lateral Flexi trunk (D) T1= 9 cm menjadi T6= 10 cm, Lateral Flexi trunk (S)

T1= 8 cm menjadi T6= 9 cm.


72

Hal ini disebabkan Gerak aktif pasif akan merangsang propioseptif

dengan perubahan panjang otot saat terjadi kontraksi otot, darah akan mengalir

ke jaringan tubuh. Sehingga sendi akan terjadi penambahan nutrisi, yang

berakibat mencegah perlengketan jaringan pada daerah sekitar sendi, maka

Lingkup Gerak Sendi dapat meningkat (Kottle, 1994).

Sedangkan SWD sendiri dapaty memperlancar sirkulasi darah,karena

zat “P” penyebab nyeri akan terbuang sehingga nyeri dapat terbuang dan LGS

dapat ditingkatkan.(Sujatno.el.al,1998)

3. Kekuatan Otot

Permasalahan yang timbul dari Low Back Pain akibat Spondylolisthesis

L4-5 salah satunya penurunan kekuatan otot trunk. Untuk mengatasi masalah

tersebut modalitas yang digunakan adalah Short Wave Diathermy dan William

Flexion Exercise. Didapatkan hasil sebagai berikut:

Grafik 4.3

Hasil Pemeriksaan Kekuatan Otot Trunk dengan MMT (secara aktif)

4
Kekuatan Otot

3
Flexor trunk

2 Extensor trunk

0
T1 T2 T3 T4 T5 T6
Terapi
73

Dengan William Flexion Exercise didapatkan hasil peningkatan

kekuatan otot trunk. Bisa kita lihat Flexor trunk T1= 4- menjadi T6= 4,

extensor trunk T1= 4- menjadi T6= 4.

Dalam peningkatan kekuatan otot dilakukan Terapi Latihan dengan

aktif William Flexion Exercise karena dengan latihan ini berusaha untuk

mengkontraksikan otot-ototnya. Otot yang berkontraksi secara langsung

berhubungan dengan besarnya ketegangan dari serabut otot, jika kontraksi

tersebut ditahan akan meningkatkan tonus. Maka kekuatan otot akan

meningkat (Gardiner, 1981).

Sedangkan dengan SWD akan terjadi kenaikan suhu yang akan

menimbulkan vasodilatasi yang akan menyebabkan terjadi peningkatan aliran

darah ke jaringan setempat,sehingga nyeri berkurang dan kekuatan otot dapat

meningkat.(Sujatno,et.al,1998)

4. Spasme

Permasalahan yang timbul dari Low Back Pain akibat Spondylolisthesis

L4-5 salah satunya spasme m. paravertebra lumbal (S). Modalitas yang

digunakan adalah Short Wave Diathermy. Didapatkan hasil sebagai berikut:

Grafik 4.4

Hasil Pemeriksaan spasme m. paravertebra lumbal (S) dengan palpasi

2
Spasme

1 m. Paravertebra lumbal (S)

0
T1 T2 T3 T4 T5 T6
Terapi
74

Di sini dapat dilihat bagaimana perubahan hasil sebelum dan sesudah

terapi, spasme mulai berkurang. Bisa kita lihat T1 = 1 menjadi T6 = 0.

Hal ini disebabkan pengaruh SWD mengeluarkan panas dimaa arus

yang akan keluar berupa medan elektromagnetik dan pemanasannya tertigngi

di jaringan lemak. Selain itu SWD bisa merangsang relaksasi otot CO2

kenaikan suhu yang terjadi pada otot serta jaringan sekitar, maka spasme

berkurang (Melzack & Wall, 2001).


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Low Back Pain adalah perasaan nyeri yang terbatas pada regio lumbal,

tetapi gejalanya lebih merata dan tidak hanya terbatas pada satu radiks saraf

(Soedomo, 2002). Spondylolisthesis adalah pergeseran kedudukan corpus

vertebrae terhadap vertebrae yang di sebelah atas atau di sebelah bawahnya

(Prasodjo, JB, 2002).

Permasalahan yang timbul akibat Low Back Pain akibat Spondylolisthesis

VL4-5 adalah nyeri pinggang kiri saat berjalan lama dan berdiri lama. Adapun

problematika fisioterapi adalah: Impairment, (1) Adanya nyeri pinggang sebelah

kiri, adanya spasme m. paravertebra lumbal sinistra, adanya keterbatasan LGS

trunk, penurunan kekuatan otot flexor dan extensor trunk. (2) Fungtional

Limitation, pada saat sholat gerakan membungkuk nyeri, nyeri pada pinggang saat

jalan lama dan duduk lama. (3) Disability, terganggunya pekerjaan pasien sebagai

ibu rumah tangga, dalam bersosialisasi dengan masyarakat (misal, arisan dan

pengajian) dikarenakan adanya nyeri pinggang bawah.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan terapi yang ingin dicapai,

yaitu (1) mengurangi nyeri pinggang dan spasme otot, (2) meningkatkan LGS

trunk, (3) meningkatkan kekuatan otot trunk. Dalam kasus ini tindakan fisioterapi

yang dilakukan berupa: Short Wave Diathermy (SWD) dan terapi latihan “William

Flexion Exercise”

75
76

Setelah dilakukan terapi selama 6 kali dengan modalitas tersebut di atas

didapatkan hasil sebagai berikut: (1) nyeri berkurang yaitu nyeri diam T1= 0

mm setelah dilakukan terapi 6x T6= 0 mm, nyeri tekan otot paravertebra

lumbal (S) T1= 20 mm setelah dilakukan terapi 6x menjadi T6= 10 mm, nyeri

gerak saat flexi trunk aktif T1= 40 mm setelah 6x terapi T6= 30 mm, nyeri

gerak saat extensi trunk aktif T1 = 20 mm setelah 6x terapi T6= 10 mm.

(2) Peningkatan LGS trunk yaitu Flexi trunk T1= 6 cm menjadi T6= 7 cm,

extensi trunk T1= 4 cm menjadi T6= 5 cm, Lateral Flexi trunk (D) T1= 9 cm

menjadi T6= 10 cm, Lateral Flexi trunk (S) T1= 8 cm menjadi T6= 9 cm.

(3) Peningkatan kekuatan otot trunk yaitu Flexor trunk T1= 4- menjadi T6= 4,

extensor trunk T1= 4- menjadi T6= 4.

B. Saran

Sebagai seorang fisioterapi yang profesional dan berkompeten hendaknya

sebelum melakukan terapi diawali dengan pemeriksaan yang teliti, sistematis dan

terarah sehingga diperoleh permasalahan dan cara penanganan yang tepat dan

hasil yang memuaskan. Selain itu diperlukan juga mengetahui pengoperasian

modalitas sercara tepat. Diperlukan juga adanya kerjasama yang baik dengan

tenaga kesehatan yang lain, sehingga akan tercapai hasil terapi yang optimal.

Perlu diingat juga suatu keberhasilan terapi ditentukan pula oleh sikap

pasien itu sendiri. Oleh karena itu, kerjasama yang baik antara fisioterapis dan

pasien sangat diharapkan. Untuk mengoptimalkan hasil terapi yang diberikan

maka disarankan kepada pasien untuk melakukan home program seperti yang

telah dianjurkan oleh terapis meliputi: pasien mengurangi aktivitas yang dapat
77

memperberat keluhan seperti jalan terlalu jauh, duduk dan berdiri terlalu lama,

untuk menggunakan WC model duduk, usahakan kalau mau bangun tidur miring

dahulu, kemudian bangun dengan kekuatan tangan. Apabila mengangkat barang

sebaiknya jangan langsung membungkuk, tetapi dengan menekuk lutut terlebih

dahulu sebagai tumpuan guna mengurangi nyeri, kemudian barang atau benda

didekatkan ke dada. Pasien diminta menggunakan korset lumbal pada saat

melakukan aktivitas.
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham dan Solomon Louis. (1995). Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur
Sistem Apley. Edisi 7. Widya Medica: Jakarta.

Basmajian, John V. (1987). Therapeutic Exercise. Second Edition. USA.

Chusid, J.G. (1982). Neuro Anatomi Korelatif dan Neurologi Bagian I. Gajah
Mada University Press: Yogyakarta.

De Wolf, AN dan J.M.A. Mens. (1994). Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh.


Cetaka Kedua. Houten/Zaventen: Netherland.

Depkes RI. (1999). Indonesia Sehat 2010, Visi Baru, Misi Kebijaksanaan dari
Strategi Pembangunan Kesehatan. Depkes RI. Jakarta.

Gardiner, M. Dene. (1981). The Principle of Exercise Theraphy. 4 Edition. Bell


and Nyman: London.

Kapandji, I. A. (1990). The Physiologi of Joints. Volume Three, Churchill


Livingstone, USA.

Kisner, Carolyn. (1996). Therapeutic Exercise Foundations and Technique. F.A.


Davis Company: Philadelphia.

Mardiman, Sri. (2001). Pelatihan Penatalaksanaan Fisioterapi Komprehensif


pada Nyeri. Pertemuan TITAFI XV. Surakarta 7-10 Maret 2001.

Parjoto, Slamet. (2006). Terapi Listrik untuk Modulasi NYeri. IFI. Semarang.

Prasojo, JB. (2002). Modalitas Diagnostik Radiologik Nyeri Punggung Bawah.


Simposium Pelantikan Dokter Periode 142. Solo.

Pujiastuti. (1993). Buku Pegagan Kuliah: Anatomi Upper Lower Exstermitas.


Bagian I. Depkes RI. Akademi Fisioterapi Surakarta.

Rachma, Noer. (2002). Nyeri Punggung Bawah dan Penatalaksanaan


Rehabilitasi Medik. Simposium Pelantikan Dokter Periode 142. Solo.

Sidharta, Priguna. (1984). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat.
Jakarta.

Sobotta. (2000). Atlas Anatomi Manusia, Edisi 21. EGC Penerbit Buku
Kedokteran: Jakarta.

78
79

Soedomo, Agus. (2002). Aspek Klinis Neurologik Nyeri Punggung Bawah.


Simposium Pelantikan Dokter Periode 142. Solo.

Sujatno, et. Al. (1993). Buku Ajar Sumber Fisis. Akademi Fisioterapi Surakarta.

Sujono, Agus. (2001). Penatalaksanaan Fisioterapi pada Nyeri dengan Modalitas


Panas. Pertemuan TITAFI XV. Surakarta 7-10 Maret 2001.

Yanuar, Andre . (2002). Anatomi, Fisiologi dan Biomekanika Tulang Belakang.


Simposium Pelantikan Dokter Periode 142. Solo.

Yuziana, S.Ked. (2006). Spondylolisthesis. Diakses tanggal 01/03/09


http//www.oneindoskripsi.com//
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ambar Ika Safitri

Tempat,tanggal lahir : Sukoharjo, 26 Februari 1988

Alamat rumah : Krenen RT.01/06,Kel.Kriwen,Sukoharjo

Pendidikan :

1.MI Muhammadiyah Krenen,Kriwen ,Sukoharjo: tahun lulus 2000

2.SLTP Negeri 5 Sukoharjo: tahun lulus 2003

3.SMA Negeri 3 Sukoharjo: tahun lulus 2006

4.Program Studi D3 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah

Surakarta