Anda di halaman 1dari 14

GEOKIMIA BATUBARA

Ridh Rizky Amanda 03071181320024


Oke Aflatun 0307181320010

Abstract
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisasisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri
dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Tingkatan biokimia (atau biogenetik) daripada metamorfisme organik adalah aksi
orgasnisme hidup, khususnya dominan bakteri. Bakteri yang berperan yaitu bakteri aerob dan
bakteri anaerob serta jamur, Bakteri aerob menguraikan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan
karbon dioksida (CO2) pada material tumbuhan, sedangkan bakteri anaerob menguraikan
unsure hidrokarbon (CH), asam (acid) serta alkohol (C2H5OH) pada material tumbuhan,
proses ini berlangsung di bawah permukaan.
Fase geokimia didominasi oleh pengaruh peningkatan temperatur dan tekanan,
disebabkan oleh peningkatan kedalaman penimbunan unsur organik di bawah tutupan
sedimen (sedimentary overburden).
Pada tahapan geokimia, terjadi peningkatan rank pada batubara mulai dari lignite
sampai pada tahap anthracite, seiring dengan kenaikan rank, maka terjadi pula kenaikan unsur
karbon, nilai reflectan (Rmax) dan CV (Caloric Value) atau nilai kalori, serta terjadi
penurunan kandungan air (H2O), Vollatil Matter (VM), Hidrogen (H) dan Oksigen (O).
Pendahuluan
Geokimia dapat diartikan secara luas sebagai pengukuran jumlah relatip yang absolut
dari unsur-unsur kimia pada bagian bagian bumi.Tujuan mempelajari Geokimia batubara
untuk mengetahui prinsip-prinsip yang mengatur penyebaran dan migrasi dari unsur-unsur
sepanjang siklus

geologi. Pada makalah ini akan membahas pembentukan batubara,

lingkungan pengendapan batubara, Selulosa lignit gas metan, klasifikasi batubara, kualitas

batubara. Metode yang digunakan untuk mengalisa geokimia batubara menggunakan analisa
Proksimat, dan analisa ultimate.
Pembahasan
Batubara adalah bahan bakar fosil. Batubara dapat terbakar, terbentuk dari endapan,
batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara terbentuk
dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh
kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan
batubara. Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam dengan
komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk
batubara, yaitu :
1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat dibakar/dioksidasi oleh
oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari :
karbon padat (fixed carbon)
senyawa hidrokarbon
senyawa sulfur
senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.
2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat
dibakar/dioksidasi
oleh oksigen. Material tersebut umumnya terediri dari aenvawa anorganik (Si02,
A1203, Fe203, Ti02, Mn304, CaO, MgO, Na20, K20, dan senyawa logam lainnya dalam
jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non
combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan
kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan menjadi lignit,
subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini dapat digambarkan dengan
persamaan reaksi sebagai berikut
5(C6Hlo05) C20H2204 + 3CH4 + 8H,0 + 6C02 + CO
Selulosa lignit gas metan
6(C6H1005) C22H2003 + 5CH4 + 1OH20 + 8C02 + CO
Cellulose bituminous gas metan
Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan
bantuan pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan bertambah
sehingga grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini hidrogen yang terikat pada
air yang terbentuk akan menjadi semakin sedikit.

Pembentukan Batubara
Komposisi batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan,
keduanya mengandung unsur utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini dapat
dipahami, karena batubara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah mengalami
coalification. Pada dasarnya pembentukkan batubara sama dengan cara manusia membuat
arang dari kayu, perbedaannya, arang kayu dapat dibuat sebagai hasil rekayasa dan inovasi
manusia, selama jangka waktu yang pendek, sedang batubara terbentuk oleh proses alam,
selama jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun. Karena batubara terbentuk oleh proses
alam, maka banyak parameter yang berpengaruh pada pembentukan batubara. Makin tinggi
intensitas parameter yang berpengaruh makin tinggi mutu batubara yang terbentuk.
Ada dua teori yang menjelaskan terbentuknya batubara, yaitu teori insitu dan teori
drift. Teori insitu menjelaskan, tempat dimana batubara terbentuk sama dengan tempat
terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dmana tumbuhan tersebut berkembang.
Teori drift menjelaskan, bahwa endapan batubara yang terdapat pada cekungan
sedimen berasal dari tempat lain. Bahan pembentuk batubara mengalami proses transportasi,
sortasi dan terakumulasi pada suatu cekungan sedimen. Perbedaan kualitas batubara dapat
diketahui melalui stratigrafi lapisan. Hal ini mudah dimengerti karena selama terjadi proses
transportasi yang berkaitan dengan kekuatan air, air yang besar akan menghanyutkan pohon
yang besar, sedangkan saat arus air mengecil akan menghanyutkan bagian pohon yang lebih
kecil (ranting dan daun). Penyebaran batubara dengan teori drift memungkinkan, tergantung
dari luasnya cekungan sedimentasi.
Lingkungan Pengendapan Batubara
1. Interpretasi Lingkungan Pengendapan dari Litotipe dan Viikrolitotipe
Tosch (1960) dalam Bustin dkk. (1983), Teichmuller and Teichmuller (1968) dalam
Murchissen (1968) berpendapat bahwa litotipe dan mikrolitotipe batubara berhubungan
erat dengan lingkungan pengendapannya. Lingkungan pengendapan dari masing-masing
litotipe adalah sebagi berikut :
1. Vitrain dan Clarain, diendapkan di daerah pasang surut dimana terjadi perubahan muka
air laut.
2. Fusain, diendapkan pada lingkungan dengan kecepatan pengendapan rendah, yaitu
lingkungan air dangkal yang dekat dengan daratan.

3. Durain, diendapkan dalam lingkungan yang lebih dalam lagi, diperkirakan lingkungan
laut dangkal.
Sedangkan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan mikrolitotipe adalah
sebagai berikut :
1. Vitrit, berasal dari kayu-kayuan seperti batang, dahan, akar, yang menunjukkan
lingkungan rawa berhutan.
2. Clarit, berasal dari tumbuhan yang mengandung serat kayu dan diperkirakan terbentuk
pada lingkungan rawa.
3. Durit, kaya akan jejak jejak akar dan spora, hal ini diperkirakan terbentuk pada
lingkungan laut dangkal.
4. Trimaserit, yang kaya akan vitrinit terbentuk di lingkungan rawa, sedangkan yang kaya
akan liptinit terbentuk di lingkungan laut dangkal clan yang kaya akan inertinit
terbentuk dekat daratan.
2. Lingkungan Pengendapan Batubara
Pembentukan batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa lebih dari
90% batubara di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah seperti ini dapat
dijumpai di dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil. Di dataran pantai, pengendapan
batubara terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang pasir pantai yang berasosiasi
dengan sistem laguna ke arah darat. Di daerah ini tidak berhubungan dengan laut terbuka
sehingga efek oksidasi au laut tidak ada sehingga menunjang pada pembentukan batubara
di daerah rawa-rawa pantai. Pada lingkungan delta, batubara terbentuk di backswamp clan
delta plain. Se-dangkan di delta front dan prodelta tidak terbentuk batubara disebabkan
oleh adanya pengaruh air laut yang besar clan berada di bawah permulcaan air laut. Pada
lingkungan fluviatil terjadi pada rawa-rawa dataran banjir atau ,th.-alplain dan belakang
tanggul alam atau natural levee dari sistem sungai yang are-ander. Umumnya batubara di
lingkungan ini berbentuk lensa-lensa karena membaii ke segala arah mengikuti bentuk
cekungan limpahnya.
1. Endapan Batubara Paralik
Lingkungan paralik terbagi ke dalam 3 sub lingkungan, yakni endapan lmuhara
belakang pematang (back barrier), endapan batubara delta, endapan Dwubara antar
delta dan dataran pantai (Bustin, Cameron, Grieve, dan Kalkreuth. Ketiganya
mempunyai bentuk lapisan tersendiri, akan tetapi pada , wnumnya tipis-tipis, tidak
menerus secara lateral, mengandung kadar sulfur, abu dar. nitrogen yang tinggi.

2. Endapan Batubara Belakang Pematang (back barrier)


Batubara belakang pematang terakumulasi ke arah darat dari pulau-pulau pcmatang
(barrier island) yang telah ada sebelumnya dan terbentuk sebagai ai.:hat dari pengisian
laguna. Kemudian terjadi proses pendangkalan cekungan antar pulau-pulau bar
sehingga material yang diendapkan pada umumnya tergolong ke dalam klastika halus
seperti batulempung sisipan batupasir dan batugamping. Selanjutnya terbentuk rawarawa air asin dan pada keadaan ini cn.iapan sedimen dipengaruhi oleh pasang surut air
laut sehingga moluska dapat berkembang dengan baik sebab terjadi pelemparan oleh
ombak dari laut terbuka le laguna yang membawa materi organik sebagai makanan
yang baik bagi penghuni laguna. Sedangkan endapan sedimen yang berkembang pada
umumnya tcrdiri dari perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara
dan batugamping. Struktur sedimen yang berkembang ialah lapisan bersusun, silang
siur dan laminasi halus. Endapan batubara terbentuk akibat dari meluasnya Nrmukaan
rawa dari pulau-pulau gambut (marsh) yang ditumbuhi oleh tumbuhan air tawar.
3. Endapan Batubara Delta
Berdasarkan bentuk dataran deltanya, batubara daerah ini terbentuk pada beberapa sub
lingkungan yakni delta yang dipengaruhi sungai, gelombang pasang surut. dataran delta
bawah dan atas, dan dataran aluvium. Kecepatan pengendapan sangat berpengaruh pada
penyebaran dan ketebalan endapan batubara. Batubara daerah ini tidak menerus secara
lateral akibat dari perubahan fasies yang relatif pendek dan cepat yang disebabkan oleh
kemiringan yang tajam sehingga ketebalan dan kualitasnya bervariasi. Pada umumnya
batubara tersebut berasal dari alang-alang dan tumbuhan paku.
4. Endapan Batubara Antar Delta dan Dataran Pantai
Batubara daerah ini terbentuk pada daerah rawa yang berkembang di :jerah pantai yang
tenang dengan water table tinggi dan pengaruh endapan liaaik sangat kecil. Daerah
rawa pantai biasanya banyak ditumbuhi oleh :umbuhan air tawar dan air payau.
Batubara ini pada umumnya tipis-tipis dan secara lateral tidak lebih dari 1 km. Batubara
lingkungan ini kaya akan abu, sulfur, nitrogen, dan mengandung fosil laut. Di daerah
tropis biasanya terbentuk dari bakau dan kaya sulfur. Kandungan sulfur tinggi akibat
oleh naiknya ion sulfat dari air laut dan oleh salinitas bakteri anaerobik.
Selulosa lignit gas metan
Dalam proses pembentukkan selulosa sebagai senyawa organik yang merupakan
senyawa pembentuk batubara, semakin banyak unsur C pada batubara, maka semakin baik

kualitasnya, sebaliknya semakin banyak unsur H, maka semakin rendah kualitasnya, dan
senyawa kimia yang terbentuk adalah gas metan, semakin besar kandungan gas metan, maka
semakin baik kualitasnya.
Klasifikasi Batubara
Menurut American Society for Testing Material (ASTM), secara umum batubara
digolongkan menjadi 4 berdasarkan kandungan unsur C dan H2O yaitu: anthracite,
bituminous coal, sub bituminous coal, lignite dan peat (gambut).
a. Anthracite
Warna hitam, sangat mengkilat, kompak, kandungan karbon sangat tinggi,
kandungan airnya sedikit, kandungan abu sangat sedikit, kandungan sulfur sangat
sedikit.
b. Bituminous/subbituminous coal
Warna hitam mengkilat, kurang kompak, kandungan karbon relative tinggi, nilai
kalor tinggi, kandungan air sedikit, kandungan abu sedikit, kandungan sulfur
sedikit.
c. Lignite
Warna hitam, sangat rapuh, kandungan karbon sedikit, nilai kalor rendah,
kandungan air tinggi, kandungan abu banyak, kandungan sulfur banyak.
Kualitas Batubara
Batubara yang diperoleh dari hasil penambangan mengandung bahan pengotor
(impurities). Hal ini bisa terjadi ketika proses coalification ataupun pada proses penambangan
yang dalam hal ini menggunakan alat-alat berat yang selalu bergelimang dengan tanah. Ada
dua jenis pengotor yaitu:
a. Inherent impurities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara yang sudah
dibakar memberikan sisa abu. Pengotor bawaan ini terjadi bersama-sama pada
proses

pembentukan

batubara.

Pengotor tersebut

dapat

berupa gybsum

(CaSO42H2O), anhidrit (CaSO4), pirit (FeS2), silica (SiO2). Pengotor ini tidak
mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi dengan melakukan
pembersihan.
b. Eksternal impurities

Merupakan pengotor yang berasal dari uar, timbul pada saat proses penambangan
antara lain terbawanya tanah yang berasal dari lapisan penutup.
Sebagai bahan baku pembangkit energi yang dimanfaatkan industri, mutu batubara
mempunyai peranan sangat penting dalam memilih peralatan yang akan
dipergunakan dan pemeliharaan alat. Dalam menentukan kualitas batubara perlu
diperhatikan beberapa hal, antara lain:
a. Heating Value (HV) (calorific value/Nilai kalori)
Banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh batubara tiap satuan berat
dinyatakan dalam kkal/kg. semakin tingi HV, makin lambat jalannya batubara yang
diumpankan sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga kecepatan umpan
batubara perlu diperhatikan. Hal ini perlu diperhatikan agar panas yang
ditimbulkan tidak melebihi panas yang diperlukan dalam proses industri.
b. Moisture Content (kandungan lengas).
Lengas batubara ditentukan oleh jumlah kandungan air yang terdapat dalam
batubara. Kandungan air dalam batubara dapat berbentuk air internal (air
senyawa/unsur), yaitu air yang terikat secara kimiawi.
Jenis air ini sulit dihilangkan tetapi dapat dikurangi dengan cara memperkecil
ukuran butir batubara. Jenis air yang kedua adalah air eksternal, yaitu air yang
menempel pada permukaan butir batubara. Batubara mempunyai sifat hidrofobik
yaitu ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air,
sehingga tidak akan menambah jumlah air internal.
c. Ash content (kandungan abu)
Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik dan senyawa
anorgani, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada di sekitarnya,
bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses pembatubaraan. Abu
hasil dari pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai ash content. Abu ini
merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara yang tidak dapat
terbaka atau yang dioksidasi oleh oksigen. Bahan sisa dalam bentuk padatan ini
antara lain senyawa SiO2, Al2O3, TiO3, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O,
P2O, SO3, dan oksida unsur lain.
d. Sulfur Content (Kandungan Sulfur)
Belerang yang terdapat dalam batubara dibedakan menjadi 2 yaitu dalam bentuk
senyawa organik dan anorganik. Beleranga dalam bentuk anorganik dapat dijumpai

dalam bentuk pirit (FeS2), markasit (FeS2), atau dalam bentuk sulfat. Mineral pirit
dan makasit sangat umum terbentuk pada kondisi sedimentasi rawa (reduktif).
Belerang organik terbentuk selama terjadinya proses coalification. Adanya
kandungan sulfur, baik dalam bentuk organik maupun anorganik di atmosfer dipicu
oleh keberadaan air hujan, mengakibatkan terbentuk air asam. Air asam ini dapat
merusak bangunan, tumbuhan dan biota lainnya.
Analisa Proksimat
Analisa Proksimat Batubara digunakan untuk mengetahui karakteristik dan kualitas
batubara dalam kaitannya dengan penggunaan batubara tersebut, yaitu untuk mengetahui
jumlah relatif air lembab (moisture content), zat terbang (VM), abu (ash), dan karbon
tertambat (FC) yang terkandung didalam batubara. Analisa proksimat ini merupakan
pengujian yang paling mendasar dalam penentuan kualitas batubara.

Kandungan Air (Moisture content)


Dalam batubara, moisture content paling sedikitnya terdiri atas satu senyawa
kimia tunggal. Wujudnya dapat berbentuk air yang dapat mengalir dengan cepat dari
dalam sampel batubara, senyawa teradsorpsi, atau sebagai senyawa yang terikat
secara kimia. Sebagian moisture merupakan komponen zat mineral yang tidak terikat
pada batubara. Dalam ilmu perbatuan, dikenal istilah moisture dan air. Moisture
didefinisikan sebagai air yang dapat dihilangkan bila batubara dipanaskan sampai
suhu 105C. Sementara itu, air dalam batubara ialah air yang terikat secara kimia pada
lempung.
Semua batubara mempunyai pori-pori berupa pipa-pipa kapiler, dalam keadaan
alami pori-pori ini dipenuhi oleh air. Didalam standar ASTM, air ini disebut moisture
bawaan (inherent moisture). Ketika batubara ditambang dan diproses, air dapat
teradsorpsi pada permukaan kepingan batubara, menurut standar ASTM air ini disebut
moisture permukaan (surface moisture). Air yang terbentuk dari penguraian fraksi
organik batubara atau zat mineral secara termis bukan merupakan bagian dari
moisture dalam batubara.
Moisture yang datang dari luar saat batubara itu ditambang dan diangkut atau
terkena hujan selama penyimpanan disebut free moisture (standar ISO) atau air-dry
loss (standar ASTM). Moisture jenis ini dapat dihilangkan dari batubara dengan cara
dianginkan atau dikering-udarakan. Moisture in air-dried sample (ISO) atau residual
moisture (ASTM) ialah moisture yang hanya dapat dihilangkan bila sampel batubara
kering-udara yang berukuran lebih kecil dari 3 mm (-3 mm) dipanaskan hingga

105C. Penjumlahan antara free moisture dan residual moisture disebut total moisture.
Data moisture dalam batubara kering-udara ini digunakan untuk menghitung besaran
lainnya dari basis kering-udara (adb), bebas- ash (daf) dan basis kering, bebas-mineral
matter (dmmf).
Kandungan air total merupakan dasar penilaian yang sangat penting. Secara
umum, tinggi rendahnya kandungan air berpengaruh pada beberapa aspek teknologi
penggunaan batubara terutama dalam penggunaan untuk tenaga uap. Dalam
penggerusan, kelebihan kandungan air akan berakibat pada komponen mesin
penggerus karena abrasi. Parameter lain yang terpengaruh oleh kandungan air adalah
nilai kalor. Semakin besar kadar air yang terkandung oleh batubara maka akan
semakin besar pula nilai kalor dalam pembakaran.
Penentuan kandungan air didalam batubara bisa dilakukan melalui proses satu
tahap atau proses dua tahap. Proses dilakukan dengan cara pemanasan sampel sampai
terjadi kesetimbangan kandungan air didalam batubara dan udara. Penentuan
kandungan air dengan cara tersebut dilakukan pada temperatur diatas titik didih air

(ASTM 104-110o C).


Kandungan Abu (Ash content)
Coal ash didefinisikan sebagai zat organik yang tertinggal setelah sampel
batubara dibakar (incineration) dalam kondisi standar sampai diperoleh berat yang
tetap. Selama pembakaran batubara, zat mineral mengalami perubahan, karena itu
banyak ash umumnya lebih kecil dibandingkan dengan banyaknya zat mineral yang
semula ada didalam batubara. Hal ini disebabkan antara lain karena menguapnya air
konstitusi (hidratasi) dan lempung, karbon dioksida serta karbonat, teroksidasinya
pirit menjadi besi oksida, dan juga terjadinya fiksasi belerang oksida. Ash batubara,
disamping ditentukan kandungannya (ash content), ditentukan pula susunan
(komposisi) kimianya dalam analisa ash dan suhu leleh dalam penentuan suhu leleh
ash.
Abu merupakan komponen non-combustible organic yang tersisa pada saat
batubara dibakar. Abu mengandung oksida-oksida logam seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3,
dan CaO, yang terdapat didalam batubara. Kandungan abu diukur dengan cara
membakar dalam tungku pembakaran (furnace) pada suhu 815C. Residu yang
terbentuk merupakan abu dari batubara. Dalam pembakaran, semakin tinggi
kandungan ash batubara, semakin rendah panas yang diperoleh dari batubara tersebut.

Sebagai tambahan, masalah bertambah pula misalnya untuk penanganan dan


pembuangan ash hasil pembakaran.

Kandungan Fixed carbon


Fixed Carbon (FC) menyatakan banyaknya karbon yang terdapat dalam
material sisa setelah volatile matter dihilangkan. FC ini mewakili sisa penguraian dari
komponen organik batubara ditambah sedikit senyawa nitrogen, belerang, hidrogen
dan mungkin oksigen yang terserap atau bersatu secara kimiawi. Kandungn FC
digunakan sebagai indeks hasil kokas dari batubara pada waktu dikarbonisasikan, atau
sebagai suatu ukuran material padat yang dapat dibakar di dalam peralatan
pembakaran batubara setelah fraksi zat mudah menguap dihilangkan. Apabila ash atau
zat mineral telah dikoreksi, maka kandungan FC dapat dipakai sebagai indeks rank
batubara dan parameter untuk mengklasifikasikan batubara.
Fixed Carbon ditentukan dengan perhitungan : 100% dikurangi persentase
moisture, VM, dan ash (dalam basis kering udara (adb)). Data Fixed Carbon
digunakan dalam mengklasifikasikan batubara, pembakaran, dan karbonisasi batubara.
Fixed Carbon kemungkinan membawa pula sedikit presentase nitrogen, belerang,
hidrogen, dan mungkin pula oksigen sebagai zat terabsorbsi atau bergabung secara
kimia.
Fixed Carbon merupakan ukuran dan padatan yang dapat terbakar yang masih
berada dalam peralatan pembakaran setelah zat-zat mudah menguap yang ada dalam
batubara keluar. Ini adalah salah satu nilai yang digunakan didalam perhitungan
efesiensi peralatan pembakaran.

Volatile Matter
Definisi volatile matter (VM) ialah banyaknya zat yang hilang bila sampel
batubara dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditentukan (setelah dikoreksi
oleh kadar moisture). Suhunya adalah 900oC, dengan waktu pemanasan tujuh menit
tepat. Volatile yang menguap terdiri atas sebagian besar gas-gas yang mudah terbakar,
seperti hidrogen, karbon monoksida, dan metan, serta sebagian kecil uap yang dapat
mengembun seperti tar, hasil pemecahan termis seperti karbon dioksida dari karbonat,
sulfur dari pirit, dan air dari lempung.
Moisture berpengaruh pada hasil penentuan VM sehingga sampel yang
dikeringkan dengan oven akan memberikan hasil yang berbeda dengan sampel yang
dikering-udarakan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil penentuan VM ini

adalah suhu, waktu, kecepatan pemanasan, penyebaran butir, dan ukuran partikel.
VM yang ditentukan dapat digunakan untuk menentukan rank suatu batubara,
klasifikasi, dan proporsinya dalam blending. Volatile matter juga penting dalam
pemilihan peralatan pembakaran dan kondisi efisiensi pembakaran.
Analisa Ultimat
Analisa Ultimat (analisa elementer) adalah analisa dalam penentuan jumlah unsur
Karbon (Carbon atau C), Hidrogen (Hydrogen atau H), Oksigen (Oxygen atau O), Nitrogen
(Nytrogen atau N) dan Sulfur (Sulphur atau S). Komponen organik batubara terdiri atas
senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen
dan sulfur. Analisa ultimat merupakan analisa kimia untuk mengetahui presentase dari
masing-masing senyawa. Dari hasil analisa tersebut, penggunaan batubara khususnya PLTU
dapat memperkirakan secara stoikiometri udara yang akan dibutuhkan dalam pembakaran
batubara nanti.
Karbon dan Hidrogen
Karbon dan hidrogen dalam batubara merupakan senyawa kompleks hidrokarbon yang
dalam proses pembakaran akan membentuk CO2 dan H2O. Selain dari karbon, mineral
karbonat juga akan membebaskan CO2 selama proses pembakaran batubara berlangsung,
sedangkan H2O diperoleh dari air yang terikat pada tanah liat. Analisa ini sangat penting
untuk menentukan proses pembakaran, terutama untuk penyediaan jumlah udara yang
dibutuhkan.
Untuk penentuan karbon dan hidrogen dalam batubara yang mempunyai rank rendah
digunakan cara Liebig, karena batubara yang banyak mengandung volatile matter tinggi
dapat meledak bila dipanaskan sampai suhu tinggi. Namun, penetapan kadar karbon dan
hidrogen sesuai metode ASTM D 5373-02 adalah dengan menggunakan Teknik Infra Red
(IR). Pada metode ASTM D 5373-02, contoh batubara dibakar pada temperatur tinggi
dalam aliran oksigen sehingga seluruh hidrogen diubah menjadi uap air dan karbon
menjadi karbondioksida. Uap air dan karbondioksida ditangkap oleh detektor infra red.
Melalui detektor inilah kandungan karbon dan hidrogen dapat dibaca.
Nitrogen

Nitrogen dalam batubara hanya terdapat sebagai senyawa organik. Tidak dikenal
adanya mineral pembawa nitrogen dalam batubara, hanya ada beberapa senyawa nitrogen
dalam air kapiler, terutama dalam batubara muda. Pada pembakaran batubara, nitrogen
akan berubah menjadi nitrogen oksida yang bersama gas buangan akan bercampur dengan
udara. Senyawa ini merupakan pencemar udara sehingga batubara dengan kadar nitrogen
rendah lebih disukai. Prinsip penentuan nitrogen dalam batubara semuanya dengan cara
mengubah nitrogen menjadi amonium sulfat melalui destruksi terhadap zat organik
pembawa nitrogen dalam batubara. Dalam metode ini, digunakan asam sulfat dan
katalisator. Banyaknya amonium sulfat yang terbentuk ditentukan dengan cara titrimetri.
Selain itu, seperti juga pada penentuan kadar karbon dan hidrogen, dalam metode
ASTM D 5373-02 kadar nitrogen dapat diketahui dengan menggunakan Thermal
Conductivity (TC) pada alat yang sama dengan penentuan kadar karbon dan hidrogen di
atas. TC inilah yang akan menangkap kadar nitrogen dalam nitrogen oksida. Data nitrogen
digunakan untuk membandingkan batubara dalam penelitian. Jika oksigen diperoleh dari
perhitungan, maka nitrogen diperoleh dari sampel yang ditentukan. Dalam pembakaran
pada suhu tinggi, nitrogen akan diubah menjadi NOx yang merupakan salah satu senyawa
pencemar udara.
Sulfur
Dalam proses pembakaran, sulfur dalam batubara akan membentuk oksida yang
kemudian terlepas ke atmosfir sebagai emisi. Ada tiga jenis sulfur yang terikat dalam
batubara, yaitu :
1. Sulfur organik, dimana satu sama lain terikat ke dalam senyawa hidrogen sebagai
substansi dari batubara.
2. Mineral sulfida, seperti pirit dalam fraksi organic (pyritic sulfur).
3. Mineral sulfat, seperti kalsium sulfat atau hidrous iron.
Sulfur kemungkinan merupakan pengotor utama nomor dua (setelah ash) dalam
batubara, karena :
1. Dalam batubara bahan bakar, hasil pembakarannya mempunyai daya korosif dan
sumber polusi udara.
2. Moisture dan sulfur (terutama sebagai pirit) dapat menunjang terjadinya
pembakaran spontan.
3. Semua bentuk sulfur tidak dapat dihilangkan dalam proses pencucian.

Batubara dengan kadar sulfur yang tinggi menimbulkan banyak masalah dalam
pemanfaatannya. Bila batubara itu dibakar, sulfur akan menyebabkan korosi dalam ketel
dan membentuk endapan isolasi pada tabung ketel uap (yang disebut slagging). Disamping
itu juga menimbulkan pencemaran udara. Sebagian sulfur akan terbawa dalam hasil
pencairan batubara, gasifikasi, dan pembuatan kokas. Jadi harus dihilangkan dulu sebelum
dilakukan proses-proses tersebut.
Oksigen
Oksigen merupakan komponen pada beberapa senyawa organik dalam batubara.
Oksigen ini didapatkan pula dalam moisture, lempung, karbonat, dan sebagainya. Oksigen
juga memiliki peranan penting sebagai penunjuk sifat-sifat kimia dengan derajat
pembentukan batubara. Unsur oksigen dapat ditemukan hampir pada semua senyawa
organik dalam batubara. Dalam batubara kering unsur oksigen akan ditemukan pada besi
oksida, hidroksida dan beberapa mineral sulfat. Oksigen juga sebagai indikator dalam
menentukan peringkat batubara.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.

Batubara.

http://info-pertambangan.blogspot.co.id/2012/10/batubara.html.

diakses pada tanggal 11 November 2015.


Yuliansyah,

Feri.

2012.

ANALISA

PROKSIMAT

BATUBARA.

http://feriyuliansyah.blogspot.co.id/2012/10/analisa-proksimat-batubara.html.

diakses

pada tanggal 11 November 2015.


Yuliansyah,

Feri.

2012.

ANALISA

ULTIMAT

BATUBARA.

http://feriyuliansyah.blogspot.co.id/2012/10/analisa-ultimat-batubara.html. diakses pada


tanggal 11 November 2015.
Simanjuntak,

Rendy

Junedo.

2011.

Komposisi

Kimia

Batubara.

http://rendyjunedosimanjuntak.blogspot.co.id/2011/11/komposisi-kimia-batubara.html.
diakses pada tanggal 11 November 2015.