Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Reaksi Uji Protein

DISUSUN OLEH KELOMPOK E4


10060311162

Djati Wulan Kusumo

10060311165

Fathimah Azzahra

10060311166

Kiki Ayumela

10060311167

Elvira Putri A

100060311168

Anita Sarah H

10060311169

Gina Nurhadijah

ASISTEN KELOMPOK:
Ina Amalia
LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2012

I. Tujuan Percobaan
Memahami metode identifikasi protein secara kualitatif
II. Prinsip Percobaan
1. Uji Biuret : Pembentukan senyawa kompleks koordinat yang berwarna yang di
bentuk oleh Cu++ dengan gugus Co dan NH pada ikatan peptide dalam larutan suasana
basa.
2. Pengendapan dengan logam : pembentukan senyawa tak larut antara protein
dengan logam berat.
3. Pengendapan dengan garam : pembentukan senyawa tak larut antara
ammonium sulfat dengan protein.
4. Pengendapan dengan alcohol : pembentukan senyawa antara protein dengan
alcohol.
5. Uji koagulasi : perubahan bentuk yang irreversible dari protein akibat pengaruh
pemanasan.
6. Denaturasi protein : perubahan pada suatu protein akibat dari kondisi
lingkungan yang ekstrim.
III. Teori Dasar
Kata protein berasal dari kata yunani protos atau proteos yang berarti pertama atau
utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau
manusia.Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang
terdapat

dalam

makanan

dan pertumbuhan tubuh.

berfungsi sebagai

zat

utama

dalam

pembentukkan

Larutan protein yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan albumin.
Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas.
Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur (Poedjiadi, 1994).
Protein yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ,
sebagaienzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat
ketikamelalui biomembran sel dan sebagai zat pengatur.protein merupakan suatu zat
makanan yang sangat penting bagi tubuh karenazat ini berfungsi sebagai sumber energi
dalam tubuh serta sebagai zat pembangun dnpengatur. Protein adalah polimer dari asam
amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung unsurumsur C, H, O, N, P, S, dan terkadangmengandung unsur logam seperti besi dan tembaga
(Winarno, 1992).
Protein merupakan suatu polipeptida dengan BM yang sangat bervariasi dari 5000
sampai lebih dari satu juta karena molekul protein yang besar, protein sangatmudah
mengalami perubahan fisis dan aktivitas biologisnya. Banyak agensia yangmenyebabkan
perubahan sifat alamiah dari protein seperti panas, asam, basa, solvenorganik, garam,
logam berat, radiasi sinar radioaktif (Sudarmadji, 1996)
Selain itu protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah didalam
sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semuaorganisme. Protein
merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik.
Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain menyediakan bahan-bahan
yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh,mengatur
kelangsungan proses di dalam tubuh, dan memberi tenaga jika keperluannyatidak dapat
dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak.Struktur asam amino digambarkan sebagai berikut:
(Lehninger, 1995).
Klasifikasi Protein
Berdasarkan kelarutannya :
a. Protein fibrosa : tidak larut dalam pelarut biasa namun larut dalam asam dan basa.

b. Protein globular : larut dalam air, larutan asam, basa, bahkan garam.
Berdasarkan komplekan strukturnya :
a. Protein sederhana : hidrolisisnya menghasilkan asam amino. contoh : albumin,
globular.
b. Protein konjugasi : memilik gugus bukan protein yaitu gugus prostetik. contoh : neuro
protein, kromoprotein. (Sumardjo 1998)

Jenis- jenis protein :


Kolagen, protein struktur yang diperlukan untuk membentuk kulit, tulang,dan ikatan tisu.
Antibodi, protein system pertahanan yang melindungi badan dari pada serangan penyakit.
Dismutase superoxide, protein yang membersihkan darah kita. Ovulbumin, protein
simpanan yang memelihara badan. Hemoglobin, protein yang berfungsi membawa
sebagai pembawa oksigen. Toksin, protein racun yang digunakan untuk membunuh
kuman.insulin, protein hormone yang mengawal arah glukosa dalam darah Tripsin,
protein yang mencernakan makanan protein.
Penggolongan protein berdasarkan Struktur molekulnya :
1. Struktur Primer ( struktur utama) struktur ini terdiri dari asam-asam amino yang
dihubungkan satusama lain secara kovalen melalui ikatan peptida.

2.

Struktur Sekunder protein sudah mengalami interaksi intermolekul, melalui rantai


samping asam amino.

3. Struktur Tersier adalah struktur yang terbentuk karena adanya pelipatan

4. Struktur Kuartener terbentuk dari beberapa bentuk tersier, dengan kata lain multi
subunit. Interaksi intermolekul antar sub unit protein ini membentuk struktur
keempat/kuartener.
Fungsi dan Peranan Protein Protein memegang peranan penting dalam berbagai
proses biologi. Peran-peran tersebut antara lain:
1. Katalisis enzimatik hampir semua reaksi kimia dalam sistem biologi
dikatalisis oleh enzim danhampir semua enzim adalah protein.
2. Transportasi dan penyimpanan berbagai molekul kecil dan ion-ion ditansport
oleh protein spesifik. Misalnya transportasi oksigen di dalam eritrosit oleh
hemoglobin dan transportasi oksigen di dalam otot oleh mioglobin.
3. Koordinasi gerak kontraksi otot dapat terjadi karena pergeseran dua filamen
protein. Contoh lainnya adalah pergerakan kromosom saat proses mitosis dan
pergerakan sperma oleh flagela.
4. Penunjang mekanis ketegangan kulit dan tulang disebabkan oleh kolagen yang
merupakan protein fibrosa.
5. Proteksi imun antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan dapat
mengenal serta berkombinasi dengan benda asing seperti virus, bakteri dan sel
dari organisme lain.
6. Membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf respon sel saraf terhadap
rangsang spesifik diperantarai oleh oleh protein reseptor. Misalnya rodopsin
adalah protein yang sensitif terhadap cahayaditemukan pada sel batang retina.
Contoh lainnya adalah protein reseptor padasinapsis.
7. Pengaturan pertumbuhan dan diferensiasi
8. Pada organisme tingkat tinggi, pertumbuhan dan diferensiasi diatur faktor
pertumbuhan. Misalnya faktor pertumbuhan.
9. saraf mengendalikan pertumbuhan jaringan saraf. Selain itu, banyak hormon
merupakan protein. Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu
dengan reaksi ujiasam amino dan reaksi uji protein. Reaksi uji asam amino
sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang,
uji xantroproteat, dan uji biuret.Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada

uji biuret, pengendapan oleh garam,pengendapan oleh logam dan alkohol.


Serta uji koagulasi dan denaturasi protein.

IV. Alat dan Bahan


Alat :
1. Tabung reaksi
2. Pipet tetes
3. Gelas ukur
4. Batang pengaduk
5.Kertas saring
6.Stopwatch
7.pH meter
8.Termometer
Bahan :
1. Natrium hidroksida 2,5 N
2. Larutan protein
3. Larutan tembaga sulfat (CuSo4) 0,01 M
4. Larutan protein
5. Merkuri ( III ) klorida atau HgCl2 0,2 M
6. Timbal asetat 0,2 M
7. Larutan ( NH4)2SO4

8. Reagen millon
9. Reagen uji biuret
10. Larutan albumin
11. Buffer asetat 1M
12. Buffer asetat pH 4,7 ( 1 M )
13. Asam klorida 0,1 M
14. Etil alcohol 95%
15. Natrium hidroksida 0,1 M
16. HCl 0,1 M
17. NaOH 0,1 M

V. Prosedur
Uji biuret
1. 3 ml larutan protein ditempatkan pada tabung reaksi
2. 1 ml larutan natrium hidroksida 2,5 N ditambahkan dan di aduk
3. Setetes larutan tembaga sulfat 0,01M ditambahkan dan diaduk
4. Jika tidak timbul warna, setetes atau 2 tetes larutan tembaga sulfat ditambahkan.
Pengendapan dengan logam
1. 3 ml larutan protein ditempatkan pada tabung reaksi
2. 5 tetes HgCl 0,2 M ditambahkan
3. Percoban diulangi dengan cara pb asetat 0,2 M ditambahkan

Pengendapan dengan garam


1. 10 ml larutan protein dijenuhkan dengan ammonium sulfat dilakukan dengan
cara:
Pertama sedikit garam ditambahkan kedalam larutan protein aduk hingga larut
kemudian sedikit

ammonium sulfat ditambahkan hal ini dilakukan sampai sedikit

garam tertinggal tidak terlarut.


2. Larutan disaring setelah jenuh
3. Kelarutan endapan di dalam air di uji
4. Endapan diuji dengan reagen millon
5. Larutan di filtrate dengan uji biuret
Pengendapan dengan alcohol
1. Tabung pertama

: larutan albumin 5 ml + buffer asetat pH 4,7 ( 1 M ) + etil


alkohol 95 %

2. Tabung kedua

: larutan albumin 5 ml + HCl 0,1 M ( 1 ml ) + etil alcohol 6 ml

3.Tabung ketiga

: Larutan albumin 5 ml + NaOH 0,1 M ( 1 ml ) + etil alcohol 6 ml

Uji koagulasi
1. 5 ml larutan protein di tempatkan kedalam tabung reaksi
2. 2 tetes asam asetat 1 M ditambahkan
3. Tabung diletakan dalam air mendidih selama 5 menit
4. Endapan diambil dengan batang pengaduk
5. Endapan didalam air diuji kelarutannya
6. Endapan diuji dengan reagen millon

Denaturasi protein
1. 3 tabung reaksi disiapkan
Tabung pertama : larutan albumin 9 ml + HCl 0,1 M ( 1 ml )
Tabung kedua

: larutan albumin 9 ml + NaOH 0,1 M ( 1 ml )

Tabung ketiga

: larutan albumin 9 ml + buffer asetat pH 4.7 ( 1 ml )

2. Ketiga tabung ditempatkan di dalam air mendidih selama 15 menit dan didinginkan
3. Tabung diperhatikan ada atau tidaknya endapan
4. Pada tabung 1 dan 2 ditambahkan 10 ml buffer asetat pH 4,7 .

VI. Hasil pengamatan


No Perlakuan

Hasil pengamatan

Gambar hasil
percobaan

Uji biuret
3 ml larutan protein + 1 ml natrium

Terjadi perubahan

hidroksida + 1 tetes larutan tembaga

warna di

sulfat + 1 atau 2 tetes larutan

permukaan atas

tembaga sulfat sampai timbul warna

tabung reaksi yaitu


berwarna ungu
sedangkan pada
permukaan bawah
tabung tidak terjadi
perubahan warna

Pengendapan dengan logam


Albumin + 5 tetes HgCl 0,2 M

Terjadi

Albumin+5 tetes

pengendapan berupa HgCl 0,2 M


endapan putih diatas
permukaan

Albumin + 5 tetes pb asetat 0,2 M

Terjadi
pengendapan berupa
endapa puih tidak
hanya diatas
permukaan tetapi

Gambar albumin+5
tetes pb asetat 0,2 M

juga di bawah
permukaan jadi
endapan pada pb
lebih banyak
dibandingkan
dengan HgCl

Pengendapan dengan garam

Terjadi endapan

Endapan putih di

Larutan albumin + garam+

putih di bawah

bawah permukaan

ammonium sulfat + uji kelarutan

permukaan setelah
endapan

Setelah ditambah
+ uji endapan dengan reagen millon

diambil dan +

reagen millon

reagen millon maka


terjadi peubahan
warna menjadi
orange

Pengendapan dengan alcohol


Tabung pertama :
5 ml albumin + 20 tetes buffer asetat

Terjadi gelembung

+ etil alcohol 95 %

diatas permukaan +
dengan etil alcohol

Tabung pertama:

terjadi pengendapan
berupa endapan
putih diatas
permukaan.

Tabung kedua:

Terjadi

5 ml albumin + HCl 0,1 M + 6 ml

pengendapan berupa

etil alcohol

endapan putih di

Tabung kedua:

tengah permukaan
tabung

Tabung ketiga:

Terjadi

5 ml albumin + NaOH 0,1 M ( 1

pengendapan berupa

ml ) + 6 ml etil alcohol 95%

endapan berwarna
kuning di bawah
permukaan tabung

Uji koagulasi
Dimasukan 5 ml larutan protein + 2

Endapan berwarna

tetes asam asetat 1

putih

Pendinginan selama 5 menit

Uji kelarutan di dalam air

Endapan tidak
mengendap dan
tidak terjadi
perubahan warna

Tabung ketiga :

dan endapan
-

Uji endapan dengan reagen

Endapan mengapng

millon

dan terjadi
perubahan warna
pada endapan
menjadi merah bata

Denaturasi protein
Dimasukan 9 ml albumin kedalam 3
tabung reaksi :
-

Tabung prtama :9 ml

Tabung pertama :

albumin + 1 ml HCl 0,1 M +

terdapat endapan

10 ml buffer asetat ph 4,7

dengan sedikit

Tabung kedua : 9 ml

gelembung

albumin+ 1 ml NaOH 0,1 +

Tabung kedua:

10 ml buffer asetat pH 4,7

Terdapan endapan

Tabung ketiga : 9 ml albumin dengan banyak


+ 1 ml buffer asetat pH 4,7

gelembung
Tabung ketiga :
terdapat banyak
endapan

VII. Pembahasan
Pada berbagai uji kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam protein,
semuanya mengacu pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein,yaitu
asam amino. Gugus amino dan gugus karboksil yang ada pada asam amino akan
menunjukkan sifat-sifat spesifiknya pada reaksi kimia yang dilakukan. Asam amino juga
bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa
kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari asam kuat. Semua asam
amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama,yaitu gugus karboksil dan

amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu dengan yang
lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur,ukuran, muatan listrik, dan
kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus
R-nya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu protein.
Pada praktikum Biokimia Reaksi Uji Protein ini akan dipelajari cara identifikasi
protein dengan memanfaatkan ikatan yang khas pada protein, yaitu ikatan peptida dan
juga akan diamati pengaruh perubahan fisik seperti suhu, pH, dan zat-zat kimia terhadap
struktur protein.
Uji biuret:
Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional
karboksil (-COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali
pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama
(disebut atom C "alfa" atau ). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina
memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik. Uji biuret
adalah salah satu cara pengujian yang memberikan hasil positif pada senyawa-senyawa
yang memiliki ikatan peptida. Oleh karena itu, uji Biuret ini sering digunakan untuk
menunjukkan adanya senyawa protein. Pengujiannya dapat dilakukan dengan cara
berikut. Larutan yang mengandung protein ditetesi larutan NaOH, kemudian diberi
beberapa tetes larutan CuSO4 encer. Terbentuknya warna ungu, menunjukkan hasil
positif adanya protein.
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh. Karena zat
ini disamping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat
pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung
unsure-unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Faktor-faktor
yang mempengaruhi rusaknya protein :
1. Panas
Panas merupakan agen fisik umum yang dapat mendenaturasi protein.
2. pH (derajat keasaman)

Dalam larutan encer, denaturasi yang dipengaruhi oleh pH dan suhu sangat
dekat hubungannya dengan proses denaturasi yang jarang halnya yang dapat
digunakan dengan panas saja.
3. Ion Logam
Kedua pH dan kekuatan ion larutan menetukan beban sepenuhnya molekul
protein dan kerentanan mereka terhadap denaturasi panas
4. Gula dan Polyols
Gula dan polyols dapat menunjukan pengaruh stabilitas panas pada protein
makanan.
5. Sifat Protein
Penambahan bahan kimia seperti Urea, Guadinin, Klorida dan detergen tidak
bemuatan ion dapat mengubah struktur dan mempengaruhi jalannya panas
Pada uji biuret, baik pada larutan protein gelatin dan albumin yang diujikan memberikan
hasil positif, ditandai dengan terbentuknya warna ungu pada permukaan larutan setelah
ditambah NaOH dan CuSO4. Uji biuret hanya akan memberikan hasil positif pada
protein yang memiliki ikatan peptida, artinya jika hanya terdiri dari satu asam amino saja
(contoh: Glisin, alanin, valin), uji biuret akan memberikan hasil negatif. Larutan albumin
memiliki rumus bangunan yang kompleks dan mengikat dua atau lebih asam amino
esensial, sehingga terbentuk ikatan peptida. Albumin merupakan protein globular yang
terdiri atas rantai polipeptida yang berlipat).Jadi, dengan adanya ikatan peptida
(polipeptida) inilah, hasil uji biuret pada albumin positif. Pada uji Biuret, maksud
ditambahkannya NaOH dalam larutan uji adalah untuk mengkondisikan suasana basa,
sehingga Cu dapat bereaksi dengan larutan protein. NaOH mencegah endapan Cu(OH)2,
memecah ikatan protein sehingga terbentuk urea, sebagai katalisator Reaksi
menghasilkan warna violet pada permukaan larutan protein yang menandakan
terbentuknya senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam
protein. Biuret merupakan senyawa dengan dua ikatan peptida yang berbentuk pada

pemanasan dua molekul urea dan mempunyai struktur mirip dengan struktur peptida dari
protein sehingga ion Cu2+ dari pereaksi biuret dalam suasana basa akan bereaksi dengan
polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa
kompleks berwarna ungu
Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi
dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino
dalam protein.
pH larutan protein diatas titik isolistriknya (pH isolistrik pada albumin telur
adalah 4,55 4,90), namun pH yang diatas titik isolistrik menjadikan protein bersifat
negatif. Oleh karena itu putih telur dapat digunakan sebagai antidotum atau penawar
racun apabila orang keracunan logam. Denaturasi protein ini dapat disebabkan oleh suhu
yang tinggi (akibat pemanasan) keasaman (perubahan pH yang ekstrim), pengaruh dari
logam, dan karena adanya pengaruh goncangan. Pengaruh goncangan pada percobaan ini
adalah dua larutan yang dicampur dan dikocok. Dalam hal ini pengocokan adalah proses
pengguncangan. Sedangkan penambahan NaOH pada percobaan ini dapat mengendapkan
larutan albumin selain ity sebagi uji identifikasi protein pada albumin telur. Penambahan
CuSo4 yang berlebih pada larutan albumin akan merusak dan dapat menyebabkan protein
sulit untuk diamati.

Pengendapan Logam
Pada uji pengendapan logam dihasilkan endapan berwarna putih dan larutan
keruh. Endapan yang terbentuk merupakan endapan yang berasal dari protein yang diuji,
endapan ini terjadi karena adanya reaksi logam Pb dngan protein. Logam Pb ini
merupakan logam yang mengandung ion positif. Dimana salah satu sifat dari logam yang
mengandung ion positif dapan menghasilkan endapan jika direaksikan dengan
protein.Sama halnya dengan Hg yang juga merupakan logam yang mengandung ion
positif yang juga dapat menghasilkan endapan jika direaksikan dengan protrein dasar
reaksi pengendapan oleh logam berat adalah penetralan muatan. Dimana pengendapan
akan terjadi bila protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif, dengan
adanya muatan positif dari logam berat akan terjadi reaksi netralisasi dari protein dan

dihasilakan garam proitein yang mengendap. Endapan ini akan melarut kembali dengan
penambahan alkali yang sifat pengendapan ini adalah reversibel.
Pada percobaan pengendapan dengan logam yaitu 2 tabung yang berisi larutan
albumin, pada tabung pertama ditambahkan HgCl2 dan tabung kedua ditambahkan
PbSO4, penambahan larutan HgCl2 dan PbSO4 pada larutan albumin secara bersamaan,
supaya dapat dibandingkan larutan mana yang lebih cepat bereaksi dan yang lebih
bereaksi adalah larutan albumin yang ditambahkan HgCl2. Warna albumin yang
ditambahkan HgCl2 yaitu putih, sedangkan pada albumin yang ditambahkan PbSO4
berwarna putih keruh. Warna semula laruta albumin yaitu putih kental.
Dari percobaan diatas, larutan protein albumin yang ditambahkan HgSO4 lebih
cepat bereaksi dibandingkan PbSO4. Larutan protein yang ditambahkan HgSO4 lebih
cepat bereaksi karena apabila protein direaksikan dengan logam akan terjadi ikatan lebih
kuat dan itu yang menyebabkan terjadi reaksi lebih cepat, sehingga akan mempengaruhi
logam berat terhadap larutan protein. Dan hal ini juga terjadi karena tetapan disosiasi
HgCl2 lebih besar daripada PbSO4. Pada saat ditambahkan ke dalam larutan protein,
HgCl2 akan terionisasi dan lebih banyak dalam bentuk Hg2+ sehingga protein lebih cepat
bereaksi dengan Hg2+ tersebut dan menghasilkan endapan dalam jumlah yang lebih
banyak ketimbang pengendapan oleh logam PbSO4 yang memiliki tetapan disosiasi lebih
kecil dari Hg.
Ikatan yang amat kuat dari reaksi protein yang ditambahkan dengan HgCl2 akan
memutuskan ikatan jembatan garam, sehingga akan terjadi denaturasi, secara bersama
gugus COOH dan gugus NH2 yang terdapat pada protein dapat bereaksi dengan ion
logam berat dan dapat membentuk senyawa kelat. Ion-ion yang dapat membentuk
endapan logam dengan protein antara lain adalah Ag, Ca, Zn, Hg, Fe, Cu, Co, Mn, dan
Pb. Selain gugus COOH dan gugus NH2, gugus R pada molekul asam amino tertentu
dapat pula mengadakan reaksi dengan ion atau senyawa lain. Gugus SH pada molekul
akan bereaksi dengan dengan ion Hg. Jumlah endapan yang dihasilakan dipengaruhi oleh
kereaktifan logam berat yang ditambahkan. Logam Hg lebih reaktif daripada logam Pb
karena merupakan logam transisi pada sistem periodik.

Persamaan Reaksi :
Pengendapan dengan Logam
NH3+
R CH COO- + Hg2+

NH3+
NH3+
R CH COO Hg COO CH R

NH3+
R CH COO- + Pb2+

NH3+
NH3+
R CH COO Pb COO CH R

Pengendapan Garam
Untuk percobaan pada uji pengendapan dengan garam itu hasil yang diperoleh
yaitu endapan yang bewarna merah. Endapan ini menunjukkan atau merupakan hasil dari
garam-garam organik dalam persentase tinggi yang dapat mempengaruhi sifat kelarutan
protein. Pengendapan yang dikarenakan penambahan ammonium sulfat menyebabkan
terjadi dehidrasi protein atau sering dikenal dengan kehilangan air sehingga proses
dehidratasi ini molekul protein yang mempunyai kelarutan paling kecil akan mudah
mengendap. Hasil pencampuran antara serbuk ammonium sulfat dengan protein
menghasilkan endapan dan filtrate, untuk endapan dilakukan uji millon dan menghasilkan
larutan dengan endapan merah, hal ini dikarenakan karena pereaksi millon adalah larutan
merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrit. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada
larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat menjadi merah pada
pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol dikarenakan terbentuknya
senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang bewarna, protein yang mengandung
tirosin akan memberikan uji positif.
Tujuan dilakukan percobaan ini adalah mengetahui sifat garam pada pengaruh
larutan protein amonium sulfat (garam anorganik). Terdapat endapan putih dilapisan
bawah, endapan putih itu adalah endapan garam yang tidak larut akibat ditambahkan
dengan ammonium sulfat, peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Hal ini
terjadi karena ammonium sulfat memiliki tingkat kelarutan yang lebih tinggi daripada
protein. Sehingga pada saat penambahan ammonium sulfat, ammounium sulfat akan

melarut dalam air atau pelarutnya dan mendesak protein keluar, kembali dalam bentuk
solidnya sehingga terbentuklah protein yang terendapkan. Dan endapan putih tersebut
juga di saring menggunakan kertas saring, kemudian masing-masing hasil saring dari
protein tersebut (albumin) dilarutkan menggunakan air, dilarutkan menggunakan reagen
Millon. Pada endapan garam yang dilarutkan dengan air yaitu semua endapan larut,
karena sifat garam yang hidrofobik, jadi saat garam dilarutkan pada air, garam akan
menyerap air sehingga garam mudah larut dalam air. Bila garam netral yang ditambahkan
berkonsentrasi tinggi, maka protein akan mengendap. Pengendapan terus terjadi karena
kemampuan ion garam untuk mengdehidrasi sehingga terjadi kompetisi antara garam
anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih
menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang.
Pada hasil endapan albumin yang ditambahkan amonium sulfat dilarutkan dengan
reagen millon yaitu endapan tidak larut pada reagen millon dan endapannya berwarna
orange, padahal mulanya endapan tersebut berwarna putih. Prinsip reagen millon itu
sendiri bembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam
amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam
merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa protein albumin
mengandung Tirosin sebagai salah asam amino penyusunnya. Tirosin memiliki molekul
fenol pada gugus R-nya.
Reaksi millon ini dapat menunjukkan adanya kondensasi dua indol dari triptofan
(senyawa fenol) dengan aldehid yang dapat ditunjukkan dengan terbentuknya warna
merah. Larutan protein telur dan susu saat ditambah dengan larutan merkurisulfat
membentuk endapan yang kemudian saat dipanaskan larutan menjadi berwarna merah
dan saat penambahan NaNO2 dan dipanaskan kembali warna merahnya semakin terlihat
semakin jelas. Hal ini membuktikan bahwa dalam larutan protein telur maupun susu
asam amino penyusunnya mengandung senyawa fenolik seperti tirosin atau triptofan.
Pembuatan reagen millon dilakukan dengan cara ( 1 : 1 Hg : asam asetat )
Pada pengendapan garam garam anorganik dapat menurunka kelarutan protein
dan berhubungan dengan saltin in dan salting out , jika dalam pengendapan garam tidak

dihasilkan pengendapa hal ini disebabkan karena konsentrasi garam kecil sehingga
pengendapan tidak sempurna.

Pengendapan Alkohol
3 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan larutan albumin, pada tabung
pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer aetat pH 4,7 (1 M),
setelah ditambahkan Buffer asetat pH 4,7 (1 M) pada larutan albumin tidak reaksi apaapa pada larutan, yaitu larutan tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan
tersebut ditambahkan juga larutan etil alkohl 95 %, dan reaksi yang didapat pada larutan
tersebut adalah terdapat 3 lapisan pada larutan yaitu pada lapisan atas berwarna jernih,
lapisan tengah berwarna putih keruh, dan lapisan bawah berwarna keruh. Pada pH buffer
asetat 4,7 dan pH albumin 4,5-4,8 hal inilah yang membuat ikatannya lebih cepat,
sehingga akan membentuk endapan lebih banyak.
Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan HCl 0,1 M,
reaksi yang di dapat setelah penambahan HCl pada larutan albumin yaitu warnanya tetap
putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga ditambahkan larutan etil alcohol 95 %,
reaksi yang didapat pada larutan tersebut adalah warna larutan putih keruh dan terdapat 2
cincin putih ditenggah-tengah larutan, cincin pertama agak lebih tipis sedangkan cincin
kedua agak lebih putih keruh.
Tujuan reaksi pengendapan dengan alkohol pada reaksi diatas yaitu untuk
mengetahui pengaruh alkohol terhadap larutan protein. Dan berfungsi juga untuk
menurunkan konstanta dielektrik pada larutan sehingga gaya tarik-menarik antar molekul
jadi semakin kuat. Kemudian alkohol akan mengkondisikan gugus positif pada asam
amino untuk bereaksi dengan gugus negatif yang ada dalam larutan, sehingga pada
suasana tertentu mampu membentuk endapan. Albumin yang ditambah larutan penyangga
(buffer) pH 4,7 paling banyak menghasilkan endapan, hal ini terjadi karena pH tersebut
merupakan titik isoelektrik protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan jumlah
yang paling maksimal. Albumin yang ditambahkan HCl juga menghasilkan endapan,
namun dengan kuantitas yang lebih sedikit, ini terjadi karena gugus positif pada protein

berikatan dengan gugus Cl- dan gugus negatif yang ada pada larutan sehingga terbentuk
endapan pada suasana asam. Sebaliknya, protein tidak terendapkan oleh alkohol pada
suasana basa karena pH nya terlampau jauh dari titik isoelektrik protein. Protein juga
disebut amfoter karena pada ujung rantai protein terdapat gugus asam amino dan
karboksilat, sehingga mudah larut tetapi susah larut dalam lemak.
Pada uji pengendapan oleh alkohol, hanya tabung-tabung yang mengandung asam
(ber-pH rendah) yang menunjukkan pengendapan protein. Pada protein, ujung C asam
amino yang terbuka dapat bereaksi dengan alkohol dalam suasana asam membentuk
senyawa protein ester. Pembentukan ester ini ditunjukkan oleh adanya endapan yang
terbentuk. Protein akan terdenaturasi atau mengendap bila berada pada titik isolistriknya,
yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya. Pada uji
denaturasi, protein yang dilarutkan dalam buffer asetat pH 4,7 menunjukkan adanya
endapan. Protein yang dilarutkan dalam HCl maupun NaOH, keduanya tidak
menunjukkan adanya pengendapan, namun setelah ditambahkan buffer asetat dengan
volume berlebih, protein pun mengendap hal ini menunjukkan bahwa protein albumin
mengendap pada titik isolistriknya, yaitu sekitar pH 4,7.
Uji koagulasi
Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid, suspended solid
halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk
mendispersikan bahan kimia secara merata. Dalam suatu suspensi, koloid tidak
mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan terdispersi, karena mempunyai
gaya elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi bagian permukaan serta adsorpsi ionion dari larutan sekitar. Pada dasarnya koloid terbagi dua, yakni koloid hidrofilik yang
bersifat mudah larut dalam air (soluble) dan koloid hidrofobik yang bersifat sukar larut
dalam air (insoluble).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain:
1. Kualitas air meliputi gas-gas terlarut, warna, kekeruhan, rasa, bau, dan kesadahan;

2. Jumlah dan karakteristik koloid;


3. Derajat keasaman air (pH);
4. Pengadukan cepat, dan kecepatan paddle;
5. Temperatur air;
6. Alkalinitas air, bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur;
7. Karakteristik ion-ion dalam air.
Prinsip kerja koagulasi yaitu merusak ikatan peptida atau memutus ikatanprotein
menjadi asam amino dan merupakan suatu sistem irrevesible yang tidak dapat kembali ke
bentuk semula. Protein akan mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC
atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isolistriknya. PH
isoelektrik albumin adalah 4,55-4,90 sedangkan pH isoelektrik 4,80-4,85. Pada pH
isoelektrik,kelarutan protein sangat menurun atau mengendap. Pada uji koagulasi,
penambahan asam asetat bertujuan agar larutan protein mencapai pH isolistriknya
sehingga bisa terkoagulasi. asam asetat berfungsi untuk mengkondisikan atau merusak
protein dan memberikan hasil positif ketika direaksikan dengan pereaksi millon. Pada
larutan albumin, setelah penambahan asam asetat dan dididihkan dalam air mendidih
selama 5 menit, terbentuk gumpalanberwarna putih yang menunjukkan albumin
terkoogulasi, Pada endapan albumin yang terbentuk dilakukan uji endapan dalam air dan
uji endapan dengan reagent Millon. Untuk uji kelarutan endapan dengan air menunjukkan
hasil negatif, sedangkan endapan yang direaksikan dengan pereaksi millon memberikan
hasil positif, ditandai dengan warna endapan berubah menjadi merah bata yang artinya
ada kandungan tirosin. Pada uji koagulasi, endapan albumin yang terjadi setelah
penambahan asam asetat dan dipanaskan, menunjukkan bahwaendapan tersebut masih
bersifat sebagai protein, hanya saja telah terjadi perubahanstruktur tersier ataupun
kwartener sehingga protein tersebut mengendap. Perubahan struktur tersier albumin ini
tidak dapat diubah kembali ke bentuk semula, ini bisa dilihat dari tidak larutnya endapan
albumin itu dalam air

Pada uji koagulasi, endapan albumin yang terjadi setelah penambahan asam
asetat, bila direaksikan dengan pereaksi millon memberikan hasil positif. Hal ini
menunjukkan bahwa endapan tersebut masih bersifat sebagai protein, hanya saja telah
terjadi perrubahan struktur tersier ataupun kwartener sehingga protein tersebut
mengendap. Perubahan struktur tesier albumin ini tidak dapat diubah kembali ke bentuk
semula, ini bisa dilihat dari tidak larutnya endapan albumin itu dalam air.
Protein dan asam amino memberikan reaksi yang bersifat khas, bukan hanya bagi
gugus amino dan gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi gugus R yang terkandung di
dalamnya. Protein dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi lain seperti juga asam amino
yang menjadi penyusunnya. Protein dapat mengendap atau terdenaturasi oleh logam
berat, garam-garam anorganik, rusaknya struktur tersier dan kwartener, serta karena
berada pada titik isolistriknya.

Denaturasi Protein
Denaturasi protein dapat diartikan sebagai suatu perubahan terhadap struktur
sekunder, tersier, dan kuarterner molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatanikatan kovalen. Denaturasi terjadi karena terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi
hidrifobik, ikatan garam, dan terbentuknya lipatan molekul protein. Pada pengujian
denaturasi protein ini yaitu : 3 tabung rekasi yang berisi 9 mL larutan albumin masingmasing pada tabung pertama yang berisi larutan albumin ditambahkan dengan 1 mL HCl
0,1 M, setelah ditambahkan 1 mL HCl 0,1 M pada larutan albumin, yaitu larutan tetap
berwarna putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanaskan, setelah dipanaskan terjadi
reaksi yaitu pada larutan terdapat endapan berwarna putih Setelah larutan tersebut
didinginkan lalu ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (1 M), dan reaksi yang terjadi
yaitu terdapat endapan putih padat. Pada hal ini terjadi proses denaturasi karena terjadi
endapan. Pada pH buffer 4,5 dan pH albumin 4,5 hal inilah yang membuat ikatan lebih
cepat, dan membentuk endapan lebih banyak.

Pada tabung yang kedua berisi larutan albumin ditambahkan dengan NaOH 0,1
M, reaksi yang di dapat setelah penambahan NaOH pada larutan albumin yaitu warnanya
tetap putih keruh. Kemudian larutan tersebut dipanaskan selama, setelah dipanaskan
terjadi reaksi yaitu pada larutan terdapat 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening kuning
dan lapisan bawah berwarna putih susu padat. Setelah larutan tersebut didinginkan lalu
ditambahkan dengan Buffer asetat pH 4,7 (1 M) dan reaksi yang terjadi yaitu terdapat
endapan dan gelembung. Pada larutan ini juga lebih larut saat diaduk. Dibandingkan
larutan albumin pada tabung yang pertama.
Pada tabung yang ketiga berisi larutan albumin ditambahkan dengan Buffer asetat
pH 4,5 (1 M), reaksi yang didapat setelah penambahan Buffer asetat yaitu pada larutan
albumin tetap berwarna putih keruh. Kemudian pada larutan tersebut juga di panaskan
selama dan reaksi yang terjadi pada larutan terebut adalah seluruh bagian larutan terdapat
endapan putih.

Endapan yang paling banyak dihasilkan oleh HCl, dan yang paling sedikit pada
NaOH. Buffer asetat menghasilkan endapan karena memiliki pH 4,7 yang sama dengan
pH albumin yaitu 4,5-4,9. setiap protein mempunyai isoelektrik yang berbeda-beda. Titik
isoelektrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kimia
erat hubungannya dengan pH isoelektrik. Pada pH diatas titik isoelektrik protein
bemuatan negatif, sedangkan dibawah titik isolistrik, protein bermuatan positif. Titik
isoelektrik pada albumin adalah pH 4,5-4,9. berdasarkan percobaan albumin
berdenaturasi lebih banyak pada penambahan HCl, dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pada protein albumin, asam amino yang mendominasi adalah asam amino yang
bersifat asam.
Denaturasi protein meliputi ganguan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada
struktur sekunder dan sruktur tersier protein. Pada struktur protein tersier terdapat empat
jenis interaksi yang membentuk ikatan pada rantai samping seperti ikatan hydrogen,
jembatan garam, ikatan disulfide dan interaksi hidrofobik non polar, yang kemungkinan

mengalami gangguan. Denaturasi yang umum ditemukan adalah proses presipitasi dan
koagulasi protein seperti asam amino, protein yang larut dalam air akan membentuk ion
yang mempunyai muatan positif dan negatif. Dalam suasana asam molekul protein akan
membentuk muatan positif, sedangkan dalam suasana basa akan membentuk ion negatif .
pada titik isoelektrik protein mempunyai muatan psitif dan negatif yang sama, sehingga
tidak bergerak kearah elektroda positif maupun negatif, apabila ditempatkan diantara dua
elektroda tersebut.
Protein akan terdenaturasi atau mengendap bila berada pada titik isoelektriknya,
yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya.
Pemanasan yang berlangsung selama 15 menit, pada ketiga tabung yang masing-masing
berisi albumin dan pereaksinya berguna untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan
interaksi hidrofobik non polar, hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan
energikinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak sangat cepat
sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut.
Pada uji denaturasi, protein yang dilarutkan dalam buffer asetat pH 4,7 ( tabung 3)
dan dipanaskan selama 15 menit menunjukkan adanya banyak endapan. Proteinyang
ditambahkan HCl 0,1 M ( tabung 1) dan dipanaskan selama 15 menit, masih
menghasilkan endapan karena dengan penambahan HCl 0,1 M larutan jadi memilikipH 1,
masih mendekati titik isoelektrik albumin, sehingga albumin dapat mengendap atau
terdenaturasi. Protein yang ditambahkan NaOH 0,1 M ( tabung 2) dan dipanaskan selama
15 menit, tidak menghasilkan endapan karena pada penambahan NaOH 0,1 M, pH
larutan jadi memiliki pH 13, sangat jauh dari titik isoelektrik albumin, sehingga albumin
tidak mengendap. Setelah ditambahkan buffer asetat pH 4,7 dengan volume berlebih pada
tabung 1 dan 2, terjadi perubahan. Endapan yang terdapat pada tabung yang 1 menjadi
lebih banyak berisi endapan, sedangkan pada tabung 2 yang semula tidak ada endapan,
dengan penambahan buffer asetat ini protein pun mengendap. Penambahan buffer asetat
dengan volume yang berlebih akan membentuk dan merubah albumin kepada titik
isoelektriknya yaitu pH 4,7 hal ini menunjukkan bahwa proteinalbumin mengendap pada
titik isoelektriknya, yaitu sekitar pH 4,7.

Perubahan kimia pada denaturasi yaitu ditandai dengan adanya pemutusan ikatan ikatan
pada protein.
VIII. Kesimpulan
1.

Protein terendapkan oleh logam berat seperti Pb dan

Hg. Dan yang lebih cepat bereaksi adalah larutan yang ditambahkan Hg, karena tetapan
disosiasi HgCl2 lebih besar daripada PbSO4.
2.

Albumin yang mempunyai pH 4,5-4,9 yang ditambah

larutan penyangga (buffer) pH 4,7 akan banyak menghasilkan endapan, karena pH


tersebut merupakan titik isolistrik protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan
jumlah yang paling maksimal.
3.

Pada uji biuret, pada larutan albumin menunjukkan

hasil positif, ditandai dengan terbentuknya warna ungu pada permukaan larutansetelah
ditambahkan NaOH dan CuSO4.
4.

Pada uji Biuret, maksud ditambahkannya NaOH dalam

larutan uji adalah untuk mengkondisikan suasana basa, sehingga Cu dapat bereaksi
dengan larutan protein.

Reaksi menghasilkan warna violet pada permukaan larutan

protein yang menandakan terbentuknya senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada
asam amino dalam protein.
5.

Pada larutan albumin yang memiliki struktur lebih

komplek daripada gelatin, makapada saat uji pengendapan dengan garam amonium sulfat,
endapan yang terbentuk lebih banyak. protein albumin mengandung tirosin sebagai salah
satu asam amino penyusunnya, karena hasil reaksinya dengan reagent Millon positif,
ditandai endapan berwarna kuning kemerahan.
6.

Pada denaturasi, yang dirusak adalah ikatan hidrogen

dan ikatan tiol, proses denaturasi ini kadang-kadang dapat berlangsung secara reversible.

7.

Pada koagulasi, yang dirusak adalah ikatan peptida dan

perubahan protein irreversibel akibat dari pengaruh pemanasan. Jika suatu enzim
terkoagulasi, makaenzim tersebut tidak dapat berfungsi lagi.
8.

Faktor-faktor yang menyebabkan denaturasi protein,

seperti :
a. Suhu yang tinggi.
b. Pengaruh pH.
c. Pengaruh zat-zat kimia tertentu

IX. Daftar Pustaka


Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara.
Jakarta
Hart,H, 1983, Organic Chemistry-A Short Course, edisi ke 5, Houghton Miffin Company,
Boston
Poedjiadi, Anna dan Suprianti, Titin. 2009.Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia :
Jakarta
Page,D.S., 1981, Prinsip-prinsip Biokimia, Erlangga, Jakarta
Wirahadikusummah, M., 1985. Biokimia: Protein, Enzim, dan Asam Nukleat.
ITB: Bandung
Anonim dalam http://www.gudangmateri.com/2010/02/biokimia-protein.html
diakses pada 21 Oktober 2012, jam 19.00
Zahira Uji Kualitatif Protein dalam http://zahirrazuka.wordpress.com/2011/02/10/ujikualitatif-protein/ diakses pada 21 Oktober 2012, jam 21.00