Anda di halaman 1dari 20

[112] Larangan Duduk dalam

Majelis yang Mengolok-olok Alquran

Dan apabila kamu melihat orangorang memperolok-olokkan ayat-ayat


Kami, maka tinggalkanlah mereka
sehingga mereka membicarakan
pembicaraan yang lain. Dan jika
syaitan menjadikan kamu lupa (akan
larangan ini), maka janganlah kamu
duduk bersama orang-orang yang
dzalim itu sesudah teringat (akan
larangan itu) (TQS al-Anam [6]: 68).

Dalam menyikapi kemungkaran, seorang


harus memiliki sikap yang jelas, yakni
menolaknya dengan segenap kemampuan
yang dimilikinya. Tidak boleh ada sedikit pun
memberikan dukungan terhadapnya. Tidak
boleh pula terlihat ridha dan senang terhadap
kemungkaran itu. Ayat ini adalah di antara
yang mengharuskan sikap tegas tersebut.
Seorang Muslim tidak boleh duduk di sebuah
majelis yang mengolok-olok dan melecehkan
ayat-ayat Allah SWT

Menyikapi Pengolok Alquran


Allah SWT berfirman: Wa idz ra`ayta al-ladzna
yakhdhna f ytin (dan apabila kamu melihat
orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami).
Khithb (seruan) ayat ini ditujukan kepada Rasulullah
SAW. Ditegaskan al-Qurthubi, kaum Muslimin termasuk
dalam cakupan seruan ini. Dalam ayat sebelumnya
diberitakan tentang adanya kaum yang mendustakan
ancaman Allah SWT akan datangnya azab. Kepada
mereka, Rasulullah SAW diperintahkan untuk
menegaskan bahwa beliau bukan orang yang diserahi
untuk mengurus menjaga urusan mereka. Juga, semua
berita yang dibawa para rasul ada waktu terjadinya
dan mereka akan mengetahuinya.

Kemudian dalam ayat ini Rasulullah SAW dijelaskan


tentang sikap yang wajib dilakukan terhadap orangorang yang melakukan perbuatan: yakhdhna f
ytin. Dijelaskan juga oleh al-Zuhaili, kata
yakhdhna berarti panjang lebar dalam
pembicaraan. Di samping itu, Alquran juga
menggunakan untuk menunjuk bersekongkol dalam
kebatilan dengan para pelakunya. Pada asalnya, alkhawdh berarti masuk ke dalam air, baik dengan
cara berjalan atau berenang. Sedangkan makna
yakhdhna f ytin di sini adalah berbicara
tentang Alquran dengan mengolok-oloknya.

Penjelasan serupa juga disampaikan


para mufassir seperti alZamakhsyari, al-Baidhawi, al-Alusi,
al-Syaukani, dan lain-lain. Menurut
mereka, pengertian frasa
yakhdhna f ytin adalah
dengan membicarakan ayat-ayat
Allah dengan mendustakan,
mengolok-olok, dan mencemoohnya.

Ketika menyaksikan perbincangan


maksiat itu, maka Rasulullah SAW
dan umatnya diperintahkan: Fa aridh
anhum (maka tinggalkanlah
mereka). Artinya, janganlah kalian
duduk bersama mereka dan
tinggalkanlah mereka. Demikian
penjelasan al-Zamakhsyari dan alBaidhawi dalam tafsir mereka.

Perintah itu tetap berlaku hingga mereka menghentikan


perbuatan maksiat itu. Allah SWT berfirman: hatt
yakhdh f hadts[in] ghayrihi (sehingga mereka
membicarakan pembicaraan yang lain). Kata hatt
memberikan makna al-ghyah (batas akhir).
Sedangkan ghayrihi, menurut al-Alusi, berarti ghayri
ytin (selain ayat-ayat Kami). Dengan demikian,
larangan tersebut duduk dengan mereka itu tetap
berlaku hingga mereka menghentikan pembicaraannya
dan mengalihkan kepada tema lainnya. Dikatakan alZamakhsyari, jika mereka telah membicarakan tema
lainnyayang tidak mengolok-olok ayat-ayat Allah
maka ketika itu tidak masalah duduk bersama mereka.

Ditegaskan oleh al-Biqai dalam


Nazhm al-Durar, hukum berbicara
dengan mereka selain tema tersebut
juga masih terkatagori sebagai alkhawdh. Sebab, di dalamnya
terdapat yang pembicaraan yang
tidak beraturan lantaran tidak terikat
dengan hukum syara.

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa imm


yunsiyannaka al-syaythn (dan jika syaitan
menjadikan kamu lupa [akan larangan ini]). Yakni,
setan itu membuatmu sibuk sehingga lupa
terhadap perintah untuk meninggalkan mereka
dan kamu pun duduk bersama mereka mulai
permulaan atau tetap demikian. Demikian
keterangan al-Alusi. Dikatakan juga oleh Imam alQurthubi, frasa ini berarti: Wahai Muhammad,
jika setan membuatmu lupa beranjak dari mereka
dan duduk bersama mereka setelah larangan
Kami. Demikian penjelasan al-Qurthubi.

Kemudian disebutkan: Fal taqud bada al-dzikr maa


al-qawm al-zhlimin (maka janganlah kamu duduk
bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat
(akan larangan itu). Menurut al-Qurthubi, Jika kamu
telah ingat, janganlah kamu duduk bersama orangorang zalim, yakni orang-orang musyrik. Dijelaskan
pula oleh al-Thabari, ini memberikan pengertian bahwa:
Jika setan membuat kamu lupa mengenai larangan
Kami untuk duduk bersama mereka dan berpaling dari
pembicaraan ketika memperolok-olok ayat Kami, lalu
kamu ingat larangan tersebut, maka jauhilah mereka.
Maka setelah kamu ingat, janganlah kamu duduk
bersama dengan orang-orang zalim.

Menurut Ibnu Katsir, kandungan ayat ini


sebagaimana firman Allah SWT: Dan sungguh Allah
telah menurunkan kepada kamu di dalam Alquran
bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah
diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang
kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka,
sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.
Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat
demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka
(TQS al-Nisa [4]: 140). Artinya, jika kamu duduk
bersama mereka dan menyetujui hal itu, maka akan
disamakan dengan mereka dalam perkara tersebut.

Dijelaskan al-Syaukani, maksud dari ayat ini


adalah jika kamu melihat orang-orang yang
membicarakan ayat-ayat Allah, dengan
melakukan pendustaan, penolakan, dan
memperolok-oloknya, maka tinggalkanlah
mereka. Janganlah kamu duduk bersama mereka
untuk mendengarkan kemungkaran besar
seperti itu hingga mereka mengalihkan
pembicaraan lainnya. Allah SWT memerintahkan
untuk berpaling dari majelis yang merendahkan
ayat-ayat Allah, hingga membahas lainnya.

Masih menurut al-Syaukani, dalam ayat ini


terdapat nasihat agung terhadap orang yang
bersikap ramah terhadap majelis-majelis bidah
yang menyimpangkan firman Allah,
mempermainkan Kitab dan sunnah Rasul-Nya,
dan mengembalikan kepada hawa nafsu mereka
yang menyesatkan dan bidah mereka yang
rusak. Apabila mereka tidak diingkari dan tidak
diubah keadaannya, maka tindakan minimal yang
harus dilakukan atas mereka adalah
meninggalkan majelis mereka. Tindakan tersebut
tentu amat mudah dan tidak sulit.

Beberapa Perkara Penting


Ada beberapa perkara penting yang dapat
diambil dari ayat ini. Pertama, larangan
menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai bahan
ejekan dan olok-olokan. Tindakan tersebut
termasuk dosa besar, bahkan dapat
mengantarkan pelakunya kepada kekufuran.
Allah SWT: Katakanlah, "Apakah dengan
Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu
selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta
maaf, karena kamu kafir sesudah beriman
(TQS al-Taubah [9]: 65-66).

Kedua, larangan duduk di majelis yang di


dalamnya terdapat pembicaraan yang
mengolok-olok dan mempermainkan Alquran.
Sebagaimana telah dipaparkan, setiap Muslim
wajib mengingkari kemunkaran yang dilihatnya
sesuai dengan batas kemampuannya. Tidak
boleh menampakkan dukungan dan keridhaan.
Duduk bersama dalam satu majelis dengan
orang-orang yang sedang melakukan
kemungkaran bisa dikategorikan sebagai
sebagai salah satu keridhaan.

Oleh karena itu, larangan duduk bersama itu


bukan hanya dalam majelis yang mengolokolok Alquran, namun semua majelis yang di
dalamnya terdapat kemungkaran dan
kemaksiatan. Kesimpulan ini diperkuat
dengan hadits dari Jabir ra, Rasulullah SAW
bersabda: Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah
dia duduk di tempat hidangan yang
disediakan khamar (HR. Tirmidzi).

Patut ditegaskan, teman duduk sedikit banyak


memberikan pengaruh terhadap pelakunya. Dari
Abu Musa al-Asyari, Rasulullah SAW bersabda:
Permisalan teman duduk yang shalih dan teman
duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai
besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia
memberimu misik, engkau membeli darinya, atau
setidaknya engkau akan mencium bau harumnya.
Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat
bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang
tidak enak (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, batilnya ide kebebasan berbicara (freedom of


speech). Telah maklum, kebebasan berpendapat
merupakan ide Barat yang lahir dari ideologi
kapitalisme. Ide ini memberikan kebebasan kepada
manusia untuk berbicara dan mengeluarkan
pendapatnya. Termasuk bebas untuk melecehkan dan
memengolok-olok ayat-ayat Allah. Maka atas alasan
kebebasan berbicara, pemerintah Inggris melindungi
Salman Rusydi yang menghina Alquran, Rasulullah
SAW, dan Islam. Ayat ini memberikan penjelasan yang
amat terang bahwa ide kebebasan bebicara merupakan
ide batil yang tidak boleh diadopsi. Wal-Lh alam bi alshawb.

Ikhtisar:
Larangan menjadikan ayat-ayat Alquran
sebagai bahan ejekan dan olok-olokan.
Larangan duduk di majelis yang di dalamnya
terdapat pembicaran yang mengolok-olok
Alquran dan kemaksiatan lainnya
Ide kebebasan berbicara (freedom of
speech) merupakan ide yang batil dan
bertentangan dengan Islam