Anda di halaman 1dari 8

Tugas 1

1.Struktu berpola IMRD


2. POla penulisan esai sesuai menuruti pola tema, waktu geografis dan solusi
3. Di dalam paper ini abstrart terdiri 2 langkah yaitu langkah ke satu dan dan ketiga dan tidak
menuliskan langkah 2
langkah 1 Menciptakan ruang penelitian
Cekungan Bengkulu di kenal sebagai cekungan busur muka yang berlokasi di bagaian darat dari
Pulau Sumatera.
Langkah 3 Merangkum hasil pokok penelitian
Secara megaskopik lapisan batubara di daerah Ketaun berwarna hitam agak kusam (dull dull
banded) dengan gores warna hitam kecoklatan, sementara itu lapisan batubara di daerah
Bengkulu dan Seluma menunjukkan warna hitam mengkilap (bright banded) dengan gores warna
hitam. Lapisan batubara di daerah Ketaun mempunyai nilai reflektan vitrinit rata-rata (Rv) antara
0,41 - 0,49%, sedangkan lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma nilai reflektan vitrinit
rata-rata (Rv) batubara berkisar antara 0,44 - 1,12%. Tingginya reflektan vitrinit pada batubara
daerah Bengkulu dan Seluma diduga akibat pengaruh terobosan sill andesit.
Langakah 4 Mengevaluasi hasil penelitian
lapisan batubara di daerah Ketaun terbentuk di lingkungan yang relatif lebih ke arah laut atau
limited influx clastic marsh atau lower delta plain, dengan kerapatan pepohonan yang berkurang.
Sebaliknya lapisan batubara daerah Bengkulu dan Seluma, secara umum relatif lebih ke arah
darat atau telmatic atau upper delta plain atau wet forest swamp dengan kerapatan pepohonan
bertambah

Tugas 2
Pada jurnal Karakteristik batubara di cekungan Bengkulu, dimana bersarkan Pola cars Pada
tahap 1, penulis juranal tersebut telah mmenuhi tahap 1 ini yaitu menetapkan wilayah pnelitiian
atau bidang kajian dimana pada pendahuluan penulis menuliskan Penelitian ini merupakabn
bagian dari penelitiitan sumber daya minyak bumi di cekungan Bengkulu, Provinsi Bengkulu .
Tetapi Penulis tidak memenuhi tahap 2 sari pola cars karena tidak ada di temukan langakahlangkah seperti tahap 2 pada pola cars . Penulis menuhi Tahap 3 dari pola cars menggambarkan
kajian sendiri dimana pada langakah 1 meneyebutkan garis besar tujuan yaitu Mengetahui
karekteristik batubara di cekungan Bengkulu dan juga menyatakan studi yang sedang dilakukan
yaitu penampang teperinci dan terukur, serta pengamatan terpericci, yang di fokuskan pada
sejumlah horizon pembawa batuabara. Langkah ke dua dari tahap 3 ini menyebebutkan temuantemuan utama seperti kangdungan organic , mengidenfikasi jenis dan karekteristik batubara, serta
maseral peyusunnya.

2. Climatic and tectonic controls during development of the Late Eocene Kiliran lake, Central
Sumatra Basin, Indonesia
TUGAS 1
1. Struktur berpola IMRD
2. Pola penulisan jurnal menurut pola tematik
3. Didalam jurnal ini berdasarkan abstractnya terdapat 2 langkah :
Langkah I : Menciptakan ruang penelitian
Ex: A 102 m long core section of the Late Eocene Kiliran oil shale has been studied by
means of palynofacies and geochemistry to reconstruct the development of the former
Kiliran lake.
Langkah III : Menerangkan hasil pokok penelitian .
Ex: Climatic changes during deposition of the studied oil shale are interpreted from the
abundance variation of fungal remains (0-3% of organic matter). Higher abundance of
fungal remains in the middle part of the oil shale profile likely indicates relatively
warmer climate during deposition. The warmer climate is regarded to be the cause of
paleoenvironmental changes with respect to lake productivity and water salinity. Carbon
isotopic compositions of bulk organic matter (13C) range from -27.0 to -30.5. They are
generally more depleted in the middle part of the profile indicating lower primary
productivity of the lake during the deposition. B. braunii varies from 3 to 16% of organic
matter and is generally more abundant in the middle part of the profile. This alga is
consistent with the less trophic preference of this algal blooming. Water salinity inferred
from the ratio of total organic matter to sulfur contents (TOC/S) exhibit slightly less
saline environments during deposition of the middle part of the profile. The warmer
climate is thought to induce thermocline establishment, limiting the reintroduction of
recycled nutrients to epilimnion and thus reducing the lake productivity. The warmer
climate would also decrease the lake water salinity. Tectonic is also thought to have
influenced the development of the Kiliran lake. Tectonic subsidence is interpreted
froperiodic rapid changes to finer grain size along the oil shale profile, as indicated by the
Zr/Rb ratios. The succession of the lake development is also discussed with respect to the
interactionof climatic changes and periodic subsidence.
Tugas II

Judul jurnal Chapter 2: Climatic and tectonic controls during development of the Late Eocene
Kiliran lake, Central Sumatra Basin, Indonesia
1.Pada jurnal ini terdapat 3 tahapan yaitu
Tahap 1 : menentukan wilayah penelitian / bidang kajian.
Dimana pada tahap ini telah memenuhi langkah 1- 3 , yaitu dari pembuatan klaim sentral ,
generalisasi dan meninjau hasil studi sebelumnya.
Ex: The development of lakes is strongly influenced by the interplay between subsidence rates,
to create accommodation space, and sediment and water supply rates (Carroll and Bohacs,
1999).This interaction determines water level fluctuation during development of lakes and thus
characterizes the associated depositional environment and organic matter facies (Carroll and
Bohacs, 1999; Bohacs et al., 2000). Relatively higher subsidence rates than sediment and water
supply rates would lead to a lower water level of a lake and a higher proportion of autochtonous
compared to terrigenous organic matter deposited in the sediments. On the other hand, when
subsidence rates are lower than sediment and water supply rates, relatively higher lake water
levels and higher terrigenous organic matter input into the sediments will be promoted.
Tahap 2 : Menetapkan daerah khusus atau topic kajian .
Dimana pada tahap ini hanya ada langkah I C yaitu mengajukan pertanyaan terhadap topic
permasalahannya .
Ex: The Late Eocene Kiliran oil shale is an immature organic-rich shale which was deposited in
the Central Sumatra Basin. Sedimentological investigations of the oil shale revealed an overall
shallowing upwards depositional environment as the result of higher sediment and water supply
rates than subsidence rates (Carnell et al., 1998). However, the development of the former
Kiliran lake has so far not been studied in detail.
Tahap 3: Menggambarkan kajian sendiri.
Dimana pada tahap ini dituliskan hanya langkah I B , dikarenakan penulis tidak membuat secara
langsung tujuan penelitian tetapi menjelasakan apayang dilakukannya.

Ex : The depositional environment and organic matter facies of the Kiliran oil shale are
investigated in the present study. Palynofacies and geochemical analyses are carried out to
characterize the organic matter and geochemical composition. The interaction between climatic
and tectonic controls during the Kiliran lake development will be discussed.
Berdasarkan kedua jurnal diatas terdapat perbedaan dalam pendahuluan yang dianalisis dengan
pola CARS . Perbedaan tersebut terdapat pada jurnal 1 ,di tahap I tidak menjelaskan langkah I
dan langkah III yaitu membuat klaim sentral dan meninjau hasil studi sebelumnya . Berbeda
dengan jurnal 2 yang menjelaskan keseluruhann langkahnya dari langkah 1 -3 . Untuk tahap 2
dan 3 memiliki perbedaan , jika jurnal 1 tidak ada tahap II yang menetapkan daerah khusus atau
topic kajian dan langkah III hanya terdapat langkah IA menyebutkan garis besar
tujuannya.Sedangkan Jurnal 2 itu menjelaskan Tahap II Menetapkan daerah khusus atau topic
kajian . Dimana pada tahap ini hanya ada langkah I C yaitu mengajukan pertanyaan terhadap
topic permasalahannya . Tahap 3 jurnal pertama mengambarkan Menggambarkan kajian sendiri
pada tahap ini dituliskan hanya langkah I A dan B , dan langkah II sedangkan jurnal kedua hanya
ada langka I B.

Tugas 1 Jurnal Keterdapatan Dan Tipe Mineral Pada Batubara Serta Metode Analisisnya

1. Struktur berpola IMRD


2. Pola penulisan jurnal menurut pola tematik
3. Didalam jurnal ini berdasarkan abstractnya terdapat 2 langkah :
Langkah 1 menciptakan ruang penelitian :
Ex : Batubara adalah sedimen yang terdiri dari bahan organik dan anorganik. Batubara
mengandung lebih 50% bahan organic
Langkah 2 merangkum hasil pokok penelitiian
Ex Berdasarkan kelimpahan mineral yang terkandung di dalamnya, maka
terdapat mayor elemen, minor elemmen dan mineral jejak. Mineral- mineral mayor antara
lain lempung dan kuarsa, sedangkan mineral minor antara lain karbonat, sulfida dan
sulfat.

Tugas 2
Pada jurnal ini terdapat 3 tahap
Tahap 1 Menetepkan wilayah penelitian atau bidang kajian

Batubara adalah suatu material yang tersusun dari bahan organik dan anorganik dengan
kandungan organic pada batubara dapat mencapai 50 % dan bahkan lebih dari 75 %
Langkah III
Keterdapatan mineral dalam batubara bermanfaat dalam mempelajari genesanya (Finkelman,
1993)
Tahap 3 Mengambarkan kajian sendiri
Langkah 2 Menyebutkan kajian sendiri
Karena proses pembatubaraan ini akan menghasilkan batubara dengan berbagai peringkat yang
sesuai dengan tingkat kematangan pada bahan organiknya yaitu mulai dari lignit
yangsubbituminous, semi antrasit, antarasit dan meta antrasit.

Berdasarkan kedua jurnal diatas terdapat perbedaan dalam pendahuluan yang dianalisis dengan
pola CARS . Perbedaan tersebut terdapat pada jurnal 1 ,di tahap I tidak menjelaskan langkah I
dan langkah III yaitu membuat klaim sentral dan meninjau hasil studi sebelumnya . Berbeda
dengan jurnal 2 pada tahap 1 hanya melakukan langkah 3, pada kedua jurnal tidak ada tahap II
yang menetapkan daerah khusus atau topic kajian.. Tahap 3 jurnal pertama mengambarkan
Menggambarkan kajian sendiri pada tahap ini dituliskan hanya langkah I A dan B , dan langkah
II sedangkan jurnal kedua hanya ada langka 2. Dapat disimpulkan bahwa dari kedua jurnal pada
pembuatan pendahuluan hanya memenuhi beberapa tahap dan langkah dari Pola Cars.